MAKALAH MENGELOLA SUMBER DAYA KELUARGA (1)

MAKALAH MENGELOLA SUMBER DAYA KELUARGA
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pengembangan Sumber Daya Keluarga

Disusun Oleh :

Nurul Warits Marinsa Putri

(5545153561)

Ranita Sari

(5545152322)

Rizka Amalia Ramadhana

(5545152288)

Zara Chairany

(5545154146)

Dosen Pengampu :
Dr. Uswatun Hasanah, M.Si

PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

|1

KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul @Mengelola Pengembangan
Sumber Daya Manusia” guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Sumber daya
Keluarga ini tepat pada waktunya. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
juga kepada teman-teman Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga yang telah
membantu dan memotivasi kami dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah kami
ini dapat menjadi acuan atau referensi yang digunakan dalam proses pembelajaran. Kami
juga mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna menjadi evaluasi kedepannya
dalam membuat makalah.

Jakarta, November
2017

PENULIS

1|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................1
DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB I.........................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................3
1.1

Latar Belakang............................................................................................................3

1.2

Rumusan Masalah........................................................................................................4

1.3

Tujuan Penulisan Makalah............................................................................................4

BAB II........................................................................................................................................5
PEMBAHASAN........................................................................................................................5
2.1 Sumber Daya Manusia...................................................................................................6
2.2

Pergeseran Populasi: Mengukur Sumber Daya Manusia.............................................6

2.3

Rumah Tangga Dan Keluarga.....................................................................................10

2.4

Perubahan Alami Keluarga........................................................................................10

2.5

Keluarga Dengan Dua Sumber Pendapatan Dan Karir.............................................13

2.6

Anak-anak dan Perawatan Anak...............................................................................15

2.6

Lanjut Usia dan Perawatan Lanjut Usia....................................................................19

2.7

Tuna Wisma...............................................................................................................22

2.8

Individu dengan Keterbatasan...................................................................................25

BAB III.....................................................................................................................................29
KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................29
3.1

Kesimpulan................................................................................................................29

3.2

Saran..........................................................................................................................31

2|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

DSDASDAADSASA
Pada saat ini banyak keluarga yang mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan
yang layak akibat krisi dan kenaikan harga bahan bakar, sehingga pembentukan sumber adya
manusia berkualitas menjadi tidak optimal. Program pemberdayaan merupakan salah satu
bentuk intervensi yang dilakukan berbagai pihak untuk menanggulangi permasalahan yang
dihadapi keluarga. Menurut Sumadiningrat (1999), inti pemberdayaan adalah pengembangan,
memperkuat potennsi atau daya, dan terciptanya kemandirian. Chamber (1995) menyatakan
bahwa pemberdayaan masyarakat yang bersifat people centred, participatory, empowering,
dan sustainable. Dalam pelaksanaannya program pemberdayaan tidak cukup hanya memberi
bantuan materi saja. Menurut Chamber (1995), salah satu upaya yang penting dalam strategi
pemberdayaan adalah proses pendidikan, baik yang bersifat formal maupun nonformal.
Berkaitan dengan pendapat tersebut maka penyuluhan sebagai suatu proses pendidikan
nonformal merupakan hal penting dalam strategi pemberdayaa. Aktivitas pemberdayaan tidak
terlepas dari fungsi-fungsi penyuluhan (Satria, 2009). Asngari (2001) menyatakan bahwa
penyuluhan adalah pendidikan nonformal untuk mengubah perilaku, dan membangunkan
orang untuk mengetahui ada peluang baru yang lebih baik untuk kehidupan yang lebih baik.
Selain adanya dukungan dari program pemberdayaan, hal penting yang harus
dilakukan agar keluarga dapat bertahan menjalani kehidupannya, adalah mengatur
sumberdaya yang terbatas melalui manajemen sumberdaya keluarga. Menurut Deacon &
Firebaugh (1988), manajemen sumberdaya keluarga adalah suatu proses yang dilakukan oleh
keluarga dan anggotanya dalam merencanaka dan melaksanakan penggunaan sumberdaya,
untuk mencapai tujuan. Aplikasi manajemen sumberdaya keluarga dapat diterapkan dalam
manajemen keuangan, manajemen waktu dan pekerjaan, serta strategi coping. Menurut Gross
et al (1980), manajemen sumberdaya keluarga merupakan hal penting bagi tercapainya tujuan
keluarga. Fuaida (2007) menyebutkan, bawa pencapaian tujuan pemberdayaan terkait juga
dengan kemampuan keluarga dalam melakukan manajemen sumberdaya keluarga.

3|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|4

sdsd
sdsadasdaddc

1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan populasi dan sumber daya manusia ?
2. Bagaimana perubahan natural yang terjadi dalam keluarga ?
3. Bagaimana keluarga memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan masyarakat ?
4. Bagaimana keluarga menyikapi kondisi memiliki anggota keluarga dengan
disabilitas, orang tua tunggal dan keluarga campuran, serta kemiskinan serta
berpenghasilan rendah?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1. Mengetahui keadaan populasi dan sumber daya manusia
2. Mengetahui perubahan natural yang terjadi dalam keluarga
3. Mengetahui cara keluarga memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan
masyarakat
4. Mengetahui cara keluarga menyikapi kondisi memiliki anggota keluarga dengan
disabilitas, orang tua tunggal dan keluarga campuran, serta kemiskinan dan
berpenghasilan rendah.

4|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|5

BAB II
PEMBAHASAN

Apakah anda tahu bahwa :
-

Satu dari empat anak di Amerika Serikat hidup dalam kemiskinan.

-

Pada tahun 2000, satu dari tiga orang di Amerika Serikat akan menjadi anggota
kelompok minoritas.

2.1 Sumber Daya Manusia
Seratus tahun yang lalu, 1,5 juta orang menghuni bumi dan sebagian besar kota
terbesar berada di eropa barat. Populasi dunia telah berkembang menjadi 5,5 miliar,
dan Asia telah menjadi pusat konsentrasi masyarakat terbesar. Populasi dunia
berkembang dengan sangat cepat sehingga setiap tiga tahun planet ini harus
mengakomodasi peningkatan lebih pasti berarti lebih sedikit sumber daya - lebih
sedikit air murni, kayu, minyak batubara, udara bersih, dan ruang terbuka untuk setiap
individu dan keluarga. peningkatan populasi menjadi perhatian utama dalam studi
pengelolaan sumber daya.
SDM secara makro adalah jumlah penduduk usia produktif yang ada di sebuah
negara baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja.
Tiga kategori utama sumber daya manusia :
1. Kognitif: pengetahuan, kecerdasan, dan penalaran
2. Afektif: emosi dan perasaan.
3. Psikomotor: aktivitas otot yang terkait dengan proses mental dan kemampuan
melakukan pekerjaan fisik

5|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|6

2.2

Pergeseran Populasi: Mengukur Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia tertentu seperti kepercayaan, cinta, dan perhatian tidak
dapat diukur, namun jumlah orang dan pergeseran populasi dapat menjadi Sumber
utama data kependudukan adalah sensus nasional, yang diambil setiap 10 tahun oleh
Biro dari lembaga Sensus. Sensus tersebut mencoba menghitung setiap orang yang
tinggal di negara ini dan mengumpulkan informasi penting tentang ukuran keluarga
dan kondisi masyarakat dan perumahan. Berdasarkan informasi ini, pemerintah dapat
mengubah dan merumuskan kebijakan. Sensus pertama diambil pada 1790 saat
George Washington menjadi presiden. Saat itu, 3,9 juta orang dihitung. Pada tahun
2000, A.S. diprediksi mencapai 268,3 juta. Tingkat pertumbuhan diperkirakan hanya
di bawah 1 persen per tahun.

Mengukur Tingkat Populasi
 Demografi sebagai studi tentang karakteristik populasi manusia, yaitu ukuran,
pergerakan rata-rata, dan statistik vital lainnya.
 Demografi adalah data untuk menggambarkan populasi atau subkelompok.
Angka populasi dibedakan oleh tiga faktor utama:
1. Kelahiran/Fertilisasi
2. Kematian
3. Migrasi
1. Kelahiran/Fertilisasi
Fertilitas merupakan kemampuan berproduksi yang sebenarnya dari
penduduk (actual reproduction performance). Atau jumlah kelahiran hidup yang
dimiliki oleh seorang atau sekelompok perempuan.
6|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|7

Kelahiran yang dimaksud disini hanya mencakup kelahiran hidup, jadi bayi yang
dilahirkan menunjukan tanda-tanda hidup meskipun hanya sebentar dan terlepas
dari lamanya bayi itu dikandung.
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi
yang nyata dari seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain
fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas,
sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Jadi merupakan
lawan arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya
berbeda ruang lingkupnya.

Fertilitas mencakup peranan kelahiran

pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada
perubahan penduduk dan reproduksi manusia.
Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu
terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda
kehidupan, seperti bernapas, berteriak, bergerak, jantung berdenyut dan lain
sebagainya.
Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran
mortalitas (kematian) karena seorang wanita hanya meninggal sekali, tetapi dapat
melahirkan lebih dari seorang bayi. Kompleksnya pengukuran fertilitas ini karena
kelahiran melibatkan dua orang (suami dan istri), sedangkan kematian hanya
melibatkan satu orang saja (orang yang meninggal). Seseorang yang meninggal
pada hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak
mempunyai resiko kematian lagi. Sebaliknya, seorang wanita yang telah
melahirkan seorang anak, tidak berarti resiko melahirkan dari wanita tersebut
menurun.
2. Kematian/ Mortalitas
Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang
spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan.
Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000
individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi
100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas
yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode
waktu tertentu.

7|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|8

3. Migrasi
Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat
yang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang
merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara
lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang
berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah
perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada
yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun
internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas
penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari
suatu tempat ke tempat lain dengan melewati batas negara atau batas administrasi
dengan tujuan untuk menetap.
Tingkat kesuburan adalah jumlah kelahiran setiap 1.000 per 1.000 wanita
usia subur. Istilah teknis kematian adalah kematian. Imigrasi mengacu pada
jumlah orang yang masuk dan tinggal di daerah dimana mereka bukan penduduk
asli. Tanpa perkiraan peningkatan imigrasi dan kelahiran, dapat stagnan atau
menurun Meskipun ada ledakan populasi di seluruh dunia, beberapa negara,
negara bagian, dan daerah mengalami penurunan populasi.
Pada Abad ke-20, selama dua ratus tahun terakhir, penduduk Amerika
Serikat telah meningkat sebesar 50 persen, dari lonjakan pertumbuhan. Antara
1880 dan 1900, populasi didorong oleh imigran dari Eropa. Pada tahun 1900,
gelombang pertumbuhan mulai mengalami penurunan karena migrasi mulai agak
melambat, namun tingkat depresi pada tahun 1930an masih cukup tinggi.
Pertumbuhan berlanjut dan mengalami perlambatan. Pertumbuhan yang lambat
ketika tingkat kesuburan menurun dan upaya imigrasi berlanjut melalui Perang
Dunia II karena pria dan wanita ikut turun di medan perang.
Angka kelahiran A.S. terakhir telah berada di bawah tingkat yang
dibutuhkan

untuk

mempertahankan

tingkat

pergantian

populasi.

Untuk

mempertahankan pertumbuhan penduduk, 2100 anak-anak perlu dilahirkan ratarata setiap 1.000 wanita usia subur. Kecuali kelahiran meningkat secara
substansial dalam beberapa tahun ke depan, Amerika Serikat mungkin mengalami
penurunan populasi jangka panjang.
8|Mengelola Sumber Daya Keluarga

|9

Tiga faktor utama yang berkontribusi pada tingkat kesuburan menjadi lebih
rendah di negara ini (Wilkie, 1986) :
 Peningkatan akses terhadap metode pengendalian kelahiran
 Meningkatnya biaya untuk membesarkan keluarga
 Mengubah peran wanita.
Pada Abad ke-20 di ujung lain dari siklus hidup, sekitar dua juta orang
meninggal setiap tahunnya. Namun secara keseluruhan, tingkat kematian
telah menurun karena beberapa alasan,yaitu dengan adanya upaya
pemerintah terhadap :
 Perbaikan tingkat kematian bayi.
 Meningkatnya harapan hidup lebih baik nutrisi dan kebugaran dan kurang
merokok. Perbaikan dalam perawatan kesehatan preventif.

2.3 Rumah Tangga Dan Keluarga
Jumlah rumah tangga meningkat di Amerika Serikat, namun jumlah orang per
rumah tangga menurun. Ini berarti ada jutaan rumah tangga yang terdiri hanya dari satu
orang atau dua orang per rumah tangga. Hampir tiga dari lima rumah tangga tidak
memiliki anak, dan kecenderungan keluarga kecil ini diperkirakan akan terus berlanjut.
Salah satu alasan penurunan ukuran rumah tangga adalah rendahnya kesuburan. Alasan
lain adalah pertumbuhan jumlah orang lanjut usia.Rumah tangga yang dikepalai oleh
pria diharapkan menjadi tipe rumah tangga dengan pertumbuhan tercepat sampai tahun
2000. Prediksi lain adalah bahwa rumah tangga dengan orang tua tunggal akan
mewakili 25 persen dari semua keluarga-keluarga pada tahun 2000. Rumah tangga non
keluarga, terdiri dari dua atau lebih orang yang tidak terkait yang tinggal bersama, juga
sedang meningkat (Unit Way Strategic Institute, 1989).

Status Perkawinan
Orang muda menunggu lebih lama untuk menikah, dan tingkat pernikahannya
sendiri menurun, Menurut Biro Sensus baru-baru ini pria dan wanita menunda
pernikahan, dengan usia rata-rata pernikahan pertama meningkat menjadi 26,5 tahun
9|Mengelola Sumber Daya Keluarga

| 10

untuk pria dan 24,5 tahun untuk wanita. (Holmes, 1994). Angka-angka ini mewakili
usia pernikahan rata-rata tertinggi untuk pria dan wanita sejak 1890 (Holmes, 1994).

2.4

Perubahan Alami Keluarga

Perubahan Dalam Keluarga
Individu dan keluarga pasti akan mengalami perubahan dalam kehidupannya.
Perubahan cuaca, musim, dan politik misalnya. Perubahan ini tidak dapat dihindari
dan menyebabkan perbedaan, perubahan, atau transformasi. Dengan begitu individu
dan keluarga harus dapat mengantisipasi dan mengatasi perubahan agar salah satu
tujuan pengelolaan sumber daya dapat terpenuhi. Kemampuan untuk mengatasi
perubahan disebut kemampuan beradaptasi. Kemampuan beradaptasi adalah contoh
sumber daya manusia yang dimiliki setiap orang, namun beberapa orang lebih mudah
beradaptasi atau fleksibel daripada yang lain.
Ada banyak jenis perubahan, dan manusia bereaksi berbeda terhadap mereka.
Perubahan dikatagorikan menjadi dua tipe umum internal dan ekstemal. Perubahan
internal berasal dari anggota keluarga. Kelahiran, perkawinan, perceraian dan
kematian adalah contoh perubahan internal. Sebaliknya, perubahan eksternal dipupuk
oleh masyarakat atau lingkungan luar. Tornado dan resesi adalah contoh perubahan
eksternal. Individu atau keluarga mungkin mengalami perubahan internal dan
ekstemal pada saat bersamaan. Selain itu, perubahan ekstemal seperti pengangguran
dapat menyebabkan perubahan internal seperti penurunan konsumsi dan ketegangan
perkawinan.

Mobilitas
Hampir semua individu dan keluarga harus mengatasi masalah dan keputusan
yang terkait dengan pergerakan atau pindah rumah. Istilah teknis untuk mengubah
tempat tinggal adalah mobilitas. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Biro
Sensus A.S., pindah rumah biasa terjadi setiap lima atau enam tahun dengan jarak
berpindah rata-rata 6 mil, dan lebih banyak menempati rumah yang disewakan dari
pada rumah milik pribadi.
10 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 11

Pindah rumah ini memberikan beberapa dampak bagi individu dan keluarga.
Pertama, mempengaruhi keuangan. Ketika pindah rumah, mereka menghabiskan uang
untuk membeli perabotan rumah tangga, mobil, dan uang jaminan. Kedua, pindah
rumah bisa menjadi penyebab stress. Banyak fasilitas, bentuk, ruang, alokasi dari
rumah yang diubah dan ditata ulang seperti merelokasi telepon, listrik, air, layanan
surat, mendaftarkan anak disekolah baru dan orangtua yang mengganti pekerjaan.
Ketiga, pindah rumah dapat mempengaruhi moral individu atau keluarga. Pindah
rumah membuat kebiasaan dirumah yang lama berubah.
Menurut penelitian yang diadakan oleh Cornell University, Amerika Serikat,
sering berpindah rumah dapat memberikan efek negatif bagi anak. Jika keluarga telah
berpindah tempat tinggal lebih dari tiga kali, anak pun memiliki kemungkinan untuk
mengalami gangguan perilaku. Selain itu, anak bisa mengalami cemas dan rasa tidak
aman. Penelitian dalam jurnal Epidemiology and Community Health menjelaskan,
seringnya berpindah rumah sebelum berusia 18 tahun dapat berpengaruh pada
masalah kesehatan, psikologi, bahkan memicu pula kemungkinan konsumsi narkoba.
Para ahli mengatakan, orang yang pindah rumah setidaknya satu kali berpengeluang
pula mengalami masalah kesehatan. Ini juga berlaku untuk anak-anak yang pindah
sekolah. Mereka yang pindah lebih dari tiga kali punya peluang dua kali lipat
mengonsumsi narkoba. Bahkan, tiga kali punya potensi untuk bunuh diri ketimbang
anak-anak yang terus tinggal dalam rumah yang sama. Dengan keadaan ini orangtua
diharapkan mampu menyiasati hal-hal yang dapat membantu anak agar tidak
mengalami gangguan perilaku dengan cara memberikan gambaran tentang keadaan
lingkungan tempat barunya, jaga kebiasan lama dalam keluarga misalnya membaca
dongeng sbelum tidur, ajak anak berkeliling lingkungan barunya, ajak anak bercerita
pengalamannya dari lingkungannya, dan berikan rasa aman.

Mengelola Perubahan
Masalah mungkin bersifat sementara atau jangka panjang dan mungkin
memerlukan pendekatan tunggal atau serangkaian keputusan yang lebih kompleks.
Dalam sebuah artikel dalam Marriage and Family Review, Kathryn Rettig mengamati:
Manajemen adalah adaptasi yang bijaksana terhadap peluang dan tuntutan hidup. Ini
melibatkan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, serta melakukan
11 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 12

tindakan untuk menerapkan keputusan. Kesadaran akan pertimbangan yang terjadi
sebelum keputusan tentang bagaimana menggunakan sumber daya dan pelaksanaan
keputusan yang terkendali untuk mencapai tujuan yang bernilai akan membedakan
manajemen dengan tanggapan lain. Kebutuhan akan pemecahan masalah secara sadar
dan pengambilan keputusan tercipta karena adanya perubahan yang diinginkan oleh
individu dan keluarga (manajemen proaktif) atau karena perubahan internal dan / atau
lingkungan terjadi yang memerlukan tanggapan yang berbeda (manajemen reaktif)
(1993, hal 191 )
Terdapat empat faktor yang mempengaruhi mengelola / manajemen sumber daya
keluarga yaitu:
1. Kompleksitas kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga yang sangat kompleks
memerlukan gaya manajemen yang berbeda daripada keluarga yang memiliki masalah
tidak terlalu kompleks.
2. Stabilitas/ketidakstabilan keluarga. Keluarga yang stabil cenderung dapat melakukan
manajemen sumber daya keluarga dengan lebih baik karena semua anggota keluarga
dapat difokuskan untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan.
3. Peran dan Perubahan Keluarga. Manajemen sumber daya keluarga juga dipengaruhi
oleh peran masing-masing anggota keluarga di masyarakat dan juga oleh perubahan
dalam keluarga, misalnya adanya keluarga yang meninggal atau baru lahir.
4. Teknologi. Dengan teknologi yang sudah semakin canggih, keluarga dapat melakukan
manajemen sumber dayanya dengan lebih terarah.
Kehidupan keluarga pengalami perubahan yang kompleks karena itu
menangani masalah dan mengambil keputusan harus diambil keluarga dengan tepat.
Misalnya, banyak fungsi yang dulunya merupakan domain rumah tangga dan
keluarga, seperti pengasuhan anak dan persiapan simpanan makanan yang saat ini
menjadi fungsi ekstrnal dengan membeli makanan siap saji dan menitipkan anak
dipenitipan anak. Padahal dulu orang tua dapat menghabiskan banyak awktu untuk
menghabiskan banyak waktu memasak dan merawat anaknya. Saat ini, interaksi
antara aktivitas indivudi di lingkungan (luar rumah) menjadi lebih banyak
dibandingkan didalam rumah. Dengan begitu keluarga harus memikirkan bagaimana
agar dapat mengelola sumber daya dengan trampil. Misalnya ibu memasakkan anak
dipagi hari dan menyimpannya agar dapat dipanaskan kembali disiang hari, dengan
12 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 13

begitu fungsi dan peran ibu terhadap anak terpenuhi meskipun membutuhkan waktu,
usaha, dan perencanaan yang cukup matang. Karena semakin banyak orang, layanan,
dan lingkungan yang terlibat membuat waktu menjadi semakin ketat dan penyelesaian
masalah serta penerapan keputusan yang kompleks perlu dilakukan.

2.5

Keluarga Dengan Dua Sumber Pendapatan Dan Karir
Masuknya perempuan ke dunia kerja telah mengubah cara keluarga tinggal,
produk yang dibeli, dan cara mereka mengkonsumsi atau menghabiskannya. Rata-rata
rumah tangga berpendapatan ganda memiliki uang lebih banyak daripada rumah
tangga yang berpendapatan tunggal. Namun, penting untuk ditunjukkan bahwa
banyak

keluarga

berpendapatan

ganda

membutuhkan

pendapatan

untuk

mempertahankan standar hidup minimum. Gagasan bahwa keluarga dual pendapatan
makmur dan menggunakan uang ekstra untuk kemewahan dan liburan. Jauh dari
kenyataan bahwa banyak keluarga ini berpenghasilan cukup untuk memenuhi
kebutuhan.
Terjunnya perempuan untuk ikut berpenghasilan dikarenakan beberapa faktor,
antara lain :
1. Menambah pendapatan keluarga (family income) terutama jika pendapatan suami
relative kecil,
2. Memanfaatkan berbagai keunggulan (pendidikan, keterampilan) yang dimilikinya
yang diharapkan oleh keluarganya,
3. Menunjukkan eksistensi sebagai manusia (aktualisasi diri) bahwa ia mampu
berprestasi dalam kehidupan masyarakat,
4. Untuk memperoleh status atau kekuasaan lebih besar didalam kehidupan keluarga
Istilah pendapatan ganda harus dibedakan dari dual career. Dalam keluarga
dual-karir, tidak hanya kedua pasangan bekerja di luar rumah, namun keduanya telah
melakukan

mitigasi

jangka

panjang

terhadap

serangkaian

pekerjaan

yang

direncanakan yang mengarah pada tujuan karir tertinggi. Tidak semua orang yang
bekerja menganggap dirinya sebagai orang karier, atau mungkin dia benar-benar ingin
bekerja. "Harus bekerja" dan "ingin bekerja” sangat berbeda. Keluarga yang
menerima kondisi kehidupan dan kuangan biasanya lebih bahagia dan puas (Run on &
Stewart, 1987). Sumber daya keluarga, seperti sebagai pasangan suami istri atau
dukungan pasangan dan kepekaan memainkan peran kunci dalam tingkat kepuasan
13 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 14

keluarga pencari nafkah ganda (Gilbert, 1993). Tahira Hira (1987) menemukan bahwa
keluarga berpenghasilan ganda yang puas versus keluarga dengan pencari nafkah
ganda yang tidak puas, memiliki lebih banyak uang di rekening tabungan mereka,
menghemat proporsi pendapatan tahunan mereka yang lebih besar, dan memiliki
pembayaran hutang bulanan yang lebih kecil. Keluarga tersebut juga cenderung
memiliki saldo pinjaman otomatis pada kartu kredit mereka. Memiliki dua pendapatan
juga mengurangi ketakutan akan pengangguran karena keluarga tersebut akan
memiliki satu pendapatan lainnya. Manajemen Keluarga dengan penghasilan ganda
juga lebih terdidik, lebih mobile, pembelanja yang lebih baik, dan lebih mungkin
untuk memiliki rumah sendiri. Namun generasi ganda juga melaporkan bahwa mereka
kurang waktu senggang dan sedikit waktu untuk anak-anak dan teman. Kecepatan
hidup mereka lebih cepat. Pekerjaan yang membutuhkan transfer perjalanan dan
transfer yang ekstensif akan meningkatkan stres bagi keluarga, terutama mereka yang
memiliki pasangan kecil dapat masuk ke hubungan komuter jarak jauh, tinggal di
tengah antara dua kota, atau pindah untuk jangka waktu yang singkat untuk
memanfaatkan kesempatan karir (Gilbert, 1993). Komunikasi terbuka dan berurusan
dengan perubahan sebelum kejadian menjadi luar biasa akan membantu keluarga
berpendapatan ganda bertahan dari beban kerja mereka. Lucia Gilbert mengatakan
dewasa muda yang ingin menikah dan bekerja untuk merencanakan kehidupan
kedepan, diharapkan mampu "memikirkan harapan untuk diri Anda dan pasangan
masa depan dan mengkomunikasikannya sejak awal dalam hubungan serius" (1993,
hal 75).

2.6

Anak-anak dan Perawatan Anak
Pada perawatan anak merupakan masalah yang luas dengan berbagai
konsekuensi bagi keluarga tertentu dan masyarakat pada umumnya. Dalam
menyediakan fasilitas keuangan untuk anak-anak merupakan salah satu bentuk
penunjang perawatan anak. Perawatan meliputi perawatan fisik dan emosional. Saat
jedua orangtua semakin banyak yang bekerja di luar rumah, perawatan anak menjadi
isu yang lebih penting bagi banyak keluarga. Dalam lingkup keluarga, mengelola
perawatan ada beberapa cara :
 Salah satu orangtuanya tinggal di rumah, atau kerabat, tetanggan, temanteman, pengasuh yang dapat memberikan perawatan
14 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 15

 Adanya rumah penitipan anak yang terdapat di sekitar masyarakat atau di
lokasi pekerjaan orangtua, merupakan pilihan lain.
Jika anak-anak memasuki usia sekolah, orangtua dapat mendaftarkan anak mereka
atau sebelum memasuki usia sekolah, orang tua dapat mendaftarkan anak ke penitipan
anak, taman kanak-kanak, atau kemah musim panas yang telah di terapkan di luar
negeri.
Keluarga muda yang mempunyai anak sering mengalami permasalahan dalam
pengelolaan keluarga dibeberapa aspek seperti tuntutan terhadap pendapatan dan
waktu mereka yang tinggi, namun sumber daya dari kedua aspek ini terbatas. Studi
waktu menurut Walker Woods (1970) menunjukkan berulang kali bahwa keluarga
yang mempunyai anak memiliki masalah dalam manajemen waktu. Karena anak-anak
membutuhkan begitu banyak jam fisik seperti belajar dan aktivitas di sekolah serta
pemeliharaan dan perawatan. Masalah-masalah ini dapat diperburuk dalam keluarga
muda apabila orang tua sedang menempuh pendidikan mereka atau sedang
meluncurkan karier mereka pada saat yang sama mereka juga memiliki anak. Mereka
akan mencoba untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri secara pribadi, profesional
dan kebutuhan anak-anak mereka di saat yang sama-sama sulit. Pihak penguasaha,
menyadari bahwa orang tua yang berkerja membutuhkan dukungan, pihak penguasaha
biasanya menawarkan berbagai macam pilihan perawatan anak termasuk layanan
sumber daya dan rujukan perawatan anak di tempat. Pentingnya pilihan perawatan
anak saat bekerja dilansir dalam survei karyawan yang dilakukan di Perusahaan
Weyehaeuser di Federal Way, Washington. Survei ini mengungkapkan bahwa
karyawan di setiap tingkat mengatakan, mereka bersedia untuk menyerahkan berbagai
fasilitas seperti asuransi gigi, liburan, dan klub olahraga untuk menerima dukungan
perawatan anak (Haupt, 1993).
Secara nasional, pihak perempuan banyak menunda kehamilan anak. Peningkatan
dalam jumlah wanita di atas usia 30 yang melahirkan anak pertama mereka. Pada
tahun 1990, wanita yang berusia 30 ke atas menyumbang 30% dari total kelahiran,
dibandingkan dengan 20% dari bayi yang lahir dalam 30% dari total kelahiran,
dibandingkan dengan 20% dari bayi yang lahir dengan wanita berusia 30 keatas pada
tahun 1980 (Dortch, 1994). Ibu yang lebih tua cenderung berpendidikan tinggi,
15 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 16

menjadi anggota keluarga yang berpenghasilan tinggi, dan memiliki pekerjaan yang
profesional (Langer, 1985). Karir mereka berjalan dengan baik sebelum mereka miliki
anak pertama mereka. Selanjutnya, dalam keluarga memerlukan banyak pengelolaan
keuangan dan tugas-tugas rumah tangga yang telah dipenuhi sebelum anak mereka
hadir. Ketika anak mereka mulai hadir, pembagian kerja harus disusun dari awal,
namun kerangka pengelolaan awal telah ditetapkan.
Salah satu aspek yang kontroversial dari perawatan anak dan sumber daya
manusia yaitu jumlah kecil waktu anak-anak masyarakat Amerika menghabiskan
waktu di sekolah dibandingkan dengan anak-anak di negara lain.

Isu yang kontroversial karena beberapa orang tua dan guru percaya bahwa
sekolah harus libur di musim panas, karena hal itu sebuah tradisi yang awalnya
dimaksudkan untuk memberikan waktu pada anak-anak untuk membantu keluarga
dalam berkebun. Kurang dari 2% keluarga Amerika hidup di perternakan sekarang,
bagaimanapun, guru dan orang tua berpikir sudah waktunya untuk mengadakan
perubahan. Jumlah yang relatif rendah dari hari yang dihabiskan di sekolah mungkin
memiliki pengaruh pada kesejahteraan masyarakat, kika distrik sekolah di Amerika
Serikat bereksperimen dengan hari-hari sekolah lagi dan lebih sedikit hari liburan atau
jadwal yang tertukar. Dari perspektif manajemen waktu dan hubungan keluarga,
faktwa bahwa hari-hari sekolah anak-anak dan liburan sering tidak bertepatan dengan
jadwal kerja orang tua sehingga membuat sulit bagi keluarga untuk menghabiskan
waktu bersama-sama atau untuk menawarkan perawatan anak secara rumahan atau di
rumah dengan aman. Setiap perubahan yang dibuat dalam waktu yang panjang,
dimana hari-hari sekolah anak-anak harus menjadi fokus utama pada apa yang terbaik
16 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 17

untuk anak-anak dan pendidikan mereka diberikan kepada masyarakat global saat ini
dan menjad tuntutan tenaga kerja di masa depan.
Orang tua tidak hanya tertarik dalam jumlah waktu yang mereka habiskan
dengan anak-anak mereka, tetapi juga dalam kualitas waktu yang mereka miliki.
Seperti menikmati setip tahap perkembangan, hadir untuk pertunjukan dan kegiatan
sekolah, dan mendorong anak-anak untuk menuju kehidupan yang mandiri dan
mencapai tujuan orang tua. Mantan Ibu Negara yaitu Barbara Bush berbicara pada
saat berdirinya Wellesley College pada tahun 1990, beliau mengatakan pada para
lulusan.
“Selama beberapa tahun, Anda sudah terkesan pada pentinya karir Anda yang
berdedikasi dan bekerja keras. Hal ini tentu benar, tetapi sama pentingnya dengan
kewajiban Anda sebagai dokter, pengacara atau pemimpin bisnis, Anda merupakan
manusia yang berkoneksi dengan manusia lainnya, seperti dengan pasangan, dengan
anak-anak Anda kelak, dengan teman-teman Anda. Hal itu merupakan investasi yang
paling penting yang pernah Anda miliki. Pada akhir hidup Anda, Anda tidak akan
menyesal tidak lulus satu tes, tidak untung dalam membuat kesepakatan bisnis.
Namun Anda akan menyesal bila waktu Anda tidak dihabiskan dengan orang tua
Anda, pasangan Anda, anak-anak Anda, keluarga Anda, dan teman-teman Anda,
karena mereka harus menjadi yang utama. Anda harus membacakan cerita kepada
anak-anak Anda, Anda harus memeluk anak-anak Anda, Anda harus mencintai anakanak Anda. Karena keberhasilan Anda dimulai dari sebuah keluarga, keberhasilan
kami sebagai masyarakat ... tidak tergantung pada apa yang terjadi di Gedung
Putih.”
Meskipun orangtua dan kehidupan keluarga bermanfaat, tidak peduli seberapa
keras orang tua mencoba mereka sering mengalami masalah dengan anak-anak
mereka, terutama selama mereka masa remaja. Obat-obatan, alkohol, penelantaran
anak dan kekerasan merupakan contoh remaja dan keluarga bermasalah. Hal itu
berakar dari perilaku orang tua yang kasar di saat periode masa kanak-kanak, yang
dapat ditelusuri ke lima bidang yang luas (Azar & Siegal, 1990) :

17 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 18

“proses interpretatif maladatif, termasuk harapan yang tidak realistis dari
anak-anak, pemecahan masalah kemiskinan dan interprestasi negatif dari perilaku
anak. Aspek ini dipengaruhi dari : lemahnya strategi pengasuhan orang tua,
lemahnya pengelolaan implus, lemahnya dalam mengatasi stress, lemahnya
keterampilan sosial.
Kekerasan terhadap anak tidak terbatas hanya pada anak-anak. Para penelirit
memperkirakan bahwa 22-47% kasus penyimpangan sosial melibatkan remaja yang
disalahgunakan (Pagelow, 1989). Hal ini perlu dicatat bahwa stress orang tua dapat
terjadinya pelecehan anak (Azar & Siegal, 1990). Stres dapat menyebabkan masalah
lain. Seperti orang tua lekas marah apabila bayi menangis dan hal ini dikaitkan dengan
perasaan tingkat depresi orang tua, yang tak berdaya, marah, dan kelelahan serta
adanya ketegangan perkawinan (Wilkie & Amer, 1986).
Mengembangkan keterampilan manajemen yang lebih baik dapat membantu
orang tua menghadapi sters. Keterampilan manajemen dikembangkan dari penguasaan
perasaan yang terkendali. Orang tua yang telah mengembangkan keterampilan ini
akan lebih mudah untuk membentuk strategi, memecahkan masalah dana
menyesuaikan diri dengan perubahan.
Tren yang menarik terkait dengan perawatan anak adalah meningkatnya
jumlah usia dari 18 sampai 24 tahun yang masih tinggal dengan orang tua.
Pengasuhan aktif berawal dari saat lahir, hingga akhir yang kurang jelas saat menjadi
masa menjadi orang tua aktif berakhir. Dewasa mua lebih hidup dengan orang tua
mereka sekarang dari pada sejak terjadi Great Depressions di tahun 1930 (Richie,
1990).
Melalui analisis dari Biro Sensus Pendapatan dan Partisipasi Program,
demografi menemukan bahwa kebanyakan orang berusia 20 atau 21 tetap tinggal
bersama orang tua mereka, sementara sebagian besar orang yang berusia 22 hingga 24
mulai hidup secara mandiri. Pihak Wanita meninggalkan orang dewasa muda
bergerak masuk dan keluar dari rumah orang tua mereka, sedangkan pihak laki-laki
mungkin kembali setelah usia 25. Alasan utama anak-anak kembali ke rumah lebih
banyak karena kesulitan ekonomi, kegagalan perkawinan, pendidikan yang
18 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 19

berkepanjangan, dan ketidaknyamanan dalam pasar kerja. Menurut Richi (1990)
kembalinya anak-anak dewasa ke rumah orang tua mereka bisa disebut bumerang; hal
itu dianggap sebagai respon rasional untuk perubahan dalam masyarakat dan
ekonomi.

2.6

Lanjut Usia dan Perawatan Lanjut Usia
Banyak masyarakat Amerika yang berusia pada tahapan dewasa tengah, di
usia 45 hingga 64 (disebut sebagai generasi sandwich), karena merawat anak-anak
mereka dan juga orang tua mereka. Sementara kebutuhan untuk perawatan anak telah
dipublikasikan secara luas, namun kebutuhan perawatan lanjut usia kurang dikenal.
Jumlah pengasuh yang tersedia semakin berkurang karena banyak wanita dewasa
yang berada dalam angkatan kerja dan jumlah anak dalam keluarga mengalami
penurunan. Sekita tahun 1900, ada 13,6% orang dewasa berusia 18 hingga 64 untuk
setiap orang yang berusia 65 tahun ke atas, saat ini hanya ada sekita 4,8% (Schewe &
Balazs, 1990). Mayoritas dalam pengasuhan anak, istri, dan pihak wanita lainnya.
Peran pengasuh dapat membawa hal itu dengan campuran sukacita, rasa bersalah,
tuntutan laynan, dan beban emosional keuangan. Kesulitan peran tergantung pada
banyak faktor :
 Kesehatan orang lanjut usia tergantung dari individu tersebut
 Kepribadian antara orang lanjut usia dengan pengasuh
 Sumber daya bersama mereka
 Dukungan sosial yang mereka terima dari kerabat dan kelompok masyarakat,
Pengasuhan dapat berlangsung secara bertahap selama beberapa tahun dan hanya
membutuhkan beberapa panggilan telepon atau kunjungan, atau dapat menjadi
komitmen harian untuk perawatan fisik dan emosional. Dari sudut pandang
manajemen,

kebutuhan

pengasuhan

dapat

berkembang

secara

perlahan,

memungkinkan keluarga dapat menyesuaikan rencana untuk itu, atau dapat timbul
dari krisis mendadak yang benar0benar menguras cadangan emosional dan keuangan
keluarga.

19 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 20

Dari perspektif manajemen, pengasuhan lanjut usia bergantung pada
pengalokasian sumber daya. Seperti waktu, tenaga dan uang semua dapat krisis dalam
situasi pengasuhan. Selain itu, pengasuh harus menjaga rasa humor dan peka terhadap
keinginan orang lanjut usia. Peracikan kebutuhan ini adalah sulitnya orang tua lajut
usia yang memiliki anak untuk bertanggung jawab. Anak dewasa juga mungkin
merasa canggung dalam mengelolanya atau urusan orang tuanya dan menghindari
tugas ini sampai kesehatan dan keamanan orang tua yang diperlukan.
Memahami proses penuaan dan kebutuhan orang lanjut usia dapat membantu
pengasuh melakukan peran mereka secara lebih efektif. Proses penuaan ini memiliki
tugas aspek fisik yaitu, biologi, sosial, dan psikologis. Sampai saat ini, sebagian besar
penelitian gerontological (genrontologi adalah studi ilmiah dari proses penuaan) telah
di fokuskan pada aspek fisik, namun aspek yang lain juga sama pentingnya, penuaan
melibatkan penurunan pertumbuhan dan perkembangan (Cavanaugh, 1990).
Kebanyakan orang lanjut usia yang mandiri dan memerlukan sedikit atau tidak adanya
pengasuhan. Banyak yang mempertahankan diri secara aktif, dan hidup mandiri
dengan baik ke usia 90 tahun mereka. Kesehatan, kekayaan, dan sikap memiliki
banyak hubungannya dengan tingkat kemandirian mereka dapat dipertahankan.
Gagasan bahwa orang lanjut usia sering tertekan adalah sebuah mitos; pada
kenyataannya, bukti menunjukkan bahwa depresi menurun di usia tua (Cavanaugh,
1990). Banyak lagi mitos tentang penuaan akan terjadi, banyak ilmuwan yang
mempelajari lebih lanjut tentang proses penuaan.
Salah satu kehidupan yang paling penting pada perubahan individu adalah
menyesuaikan diri dari pensiun. Terlepas dari berapa banyak pekerja rencana dan
pengantisipasi perubahan dalam peran pekerjaan, masih sulit untuk bisa karena
pekerjaan memberikan individu rutinitas dan memberikan rasa prestasi. Orang
pensiunan bisa merasakan tanpa tujuan dan tidak berguna. Tanpa peran, orang akan
merasa kehilangan dan kurang terarah, serta hilangnya rutinitas kerja juga dapat
membingunkan. Untuk mengatasi perasaan ini, banyak pensiunan mengambil kerja
paruh waktu atau bekerja secara musiman. Jika mereka menjadi wiraswasta, mereka
tidak akan mengalami pensiun.

20 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 21

Banyak perusahaan, departemen personalia membantu karyawan yang lebih
tua di masa transisi untuk pensiun dan bantuan pekerja paru baya menemukan
perawatan kesehatan rumah untuk lanjut usia berusia mereka. Menurut sebuah artikel
di Demografi Amerika:
Rumah perawatan kesehatan menjadi perhatian penting dari pekerja paruh baya.
Kebanyakan penyediaan bantuan lansia menjaga independensi mereka. Pembantu
biasanya perempuuan, tetapi ada pembantu laki-laki yang melakukan perbelanjaan
dan membayar tagihan. Secara cash atau rekening pengeluaran tersebut untuk satu
pertiga dari industri $21 miliar, dan pengasuh juga menghadapi krisis waktu.
Sebagai penduduk lansia, majikan akan menawarkan fasilitas perawatan lansia untuk
mempertahankan pekerja yang baik (Braus, 1994, p .38)
Selain itu beberapa perusahaan menawarkan program perencanaan pensiun;
memungkinkan karyawan untuk bekerja paruh waktu utuk mempersiapkan diri ke
pensiun. Banyak pensiunan memilih untuk melakukan pekerjaan sukarela. Lainnya
perjalanan atau kembali ke sekolah untuk menyelesaikan program pendidikan atau
mengambil kembali program pendidikan yang berkelanjutan.
Seperti dengan semua kelompok lansia, lansia memiliki berbagai gaya hidup,
oleh karena itu mereka memiliki kebutuhan dan manajemen berbeda. Waktu yang
sedikit serta terlalu banyak waktu akan menjadi masalah bagi lansia. Sumber daya lain
yang mungkin akan terpengaruh dalam tahun kemudian meliputi emosional,
kesehatan, energi manusia, dan sumber daya keuangan untuk pengasuh dan
tanggungan hari tua. Uang adalah masalah khusus bagi banyak lansia karena
pedapatan tidak mengimbangi inflasi dan kenaikan biaya perawatan kesehatan. Lansia
kemungkinan besar menjadi miskin dan mereka hanya mengandalkan jaminan sosial
untuk pendapatan mereka. Sekitar 26% dari populasi lansia termasuk dalam kategori
ini, mayoritas dari mereka adalah perempuan (United Way Strategic Institute, 1989).
Selain menghormati independensi, lansia menghargai kenyamanan, keamanan,
dan tujuan (Schewe & Balazs, 1990). Mereka ingin menghilangkan masalah,
menerima laynan pribadi, dan merasa baik tentang diri mereka sendiri. Pengiklan
Airline dan mobil menarik bagi pasar lansia karena mungkin lebih menekankan
21 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 22

kenyamanan dari pada kecepatan dan penampilan. Karena lebih banyak penduduk kita
jatuh ke dalam kategori lansia, bisnis dan penyedia layanan harus menyesuaikan
pendekatan mereka untuk lebih memnuhhi kebutuhan lansia.

2.7

Tuna Wisma
Meskipun dari liputan media yang akan menganggap tunawisma adalah
masalah sosial baru. Ada orang tunawisma di Amerika Serikat sejak zaman kolonial.
Apa yang baru adalah bahwa mereka lebih banyak dari sebelumnya dan lebih terlihat
(Baum & Burnes, 1993). Para peneliti memprediksi bahwa pada tahun 2003, populasi
tunawisma AS akan mencapai 18 juta (United Way Strategic Institue, 1989).
Perkiraan saat ini jumlah kisaran tunawisma dari 350.000 sampai 3 juta jiwa.
Mayoritas tunawisma adalah anak tunggal laki-laki, meskipun jumlah tunaswisma
perempuan dan anak-anak juga bertambah (United Way Institue, 1989). Keluarga
merupakan 23% hingga 30% dari populasi tunawisma (Martin, 1991; Burt & Cohen
1989). Jumlah tunawisma bervariasi karena tunawisma dapat berkisar dari situasi
sementara beberapa hari ke situasi kronis beberapa tahun. Tunawisma kronis sangat
terikat dengan kemiskinan (Martin,1991). Namun, penting untuk membedakan antara
tunawisma dan orang miskin. Menurut Baum dan Burnes (1993) :
Tunawisma lebih daripada menjadi miskin dan tanpa rumah ; tunawisma adalah
kondisi pelepasan dari masyarakat biasa, dari keluarga, teman, lingkungan. Mungkin
yang paling penting, hal itu merupakan kerugian diri. Seorang pria tunawisma
mengatakan kepada kami, “Pertama kali, saya merasa bukan seperti diri saya. Saya
merasa kurang dari seorang pria.” Tunawisma berarti terputus dari segala fasilitas
hidup yang biasanya memberikan bantuan pada saat krisis lalu berubah menjadi tak
berstruktur dan sebatang kara. (23p).
Kenaikan jumlah tunawisma tidak terbatas pada Amerika Serikat hal itu
merupakan masalah di seluruh dunia. Satu studi dari penderitaan pendidikan anakanak tunawisma di Inggris menemukan bahwa pindah sekolah secara terus-menerus
akan mengancam stabilitas pendidikan, menghambat kemajuan pendidikan, karena
disebabkan ketidakstabilan emosional, dan dapat merugikan promosi pendidikan
22 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 23

(Lines, 1992). Penelitian ini merekomendasikan bahwa penghubungan terbetntuk
antara sekolah dan keluarga tunawisma sehingga masalah gabungan dari alkoholisme
dan skizofrenia atau demensia pada laki-laki tunawisma di Denmark (Nordentoft,
Knudsen, & Schulsinger, 1992). Dilema umum untuk para tunawisma di kedua negara
industri dan berkembang adalah tidak memadainya tempat tinggal dan lemahnya sifat
(Glasser, 1994).
Tingkat pertumbuhan kemiskinan, menurunnya pasokan perumahan yang
berpenghasilan rendah dan peningkatan kecanduan narkoba dan alkohol memiliki
pengaruh besar terhadap kenaikan tunawisma (Rubin, Wright, & Devine, 1992; Bauer
& Burnes, 1993). Diperkirakan 65 sampai 85% dari seluruh orang dewasa tunawisma
di Amerika Serikat menderita satu atau lebih kondisi menonaktifkan alkoholisme,
kecanduan obat, dan penyakit mental, dan menjadi masalah medis yang serius (Baum
& Burnes, 1993). Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenaikan jumlah tunawisma
di Amerika Serikat termasuk pemotongan di perumahan publik, kesehatan mental, dan
program-program sosial.
Keluarga menjadi tunawisma untuk berbagai alasan termasuk kebakaran
penggusuran karena kegagalan untuk membayar sewa, penggusuran karena
perumahan yang tidak laya, pemotogan program bantuan federal, kelangkaan
perumahan berpenghasilan rendah dan pengangguran (Martin, 1991). Tunawisma
dapat sangat berpengaruh bagi anak-anak yang menderita keamanan dan kerugian
pendidikan. Tentu, lamanya waktu yang dihabiskan dalam kondisi tunawisma akan
mempengaruhi tingkat keparahan efek ini. Anak-anak dalam keluarga tunawisma
cenderung memiliki interaksi rekan yang sukses, faktor yang juga dapat menyebabkan
sikap miskin terhadap sekolah (Winbrone & Murray, 1992). Sikap kurangnya
pendidikan biasanya berpengaruh dan berkaitan dari siklus kemiskinan.
Respon terhadap meningkatnya jumlah tunawisma telah sporadis di seluruh
masyarakat. Merekomendasikan langkah-langkah yang bisa membantu tunawisma
termasuk penitipann anak, menetapkan tujuan dan memberikan dukungan dengan
pelatihan kerja, rendah atau kesehatan tanpa biasaya mental dan klinik medis,
perubahan kebijakan publik, rumah sementara bagi mereka tempat meninggalkan
penampungan, koordinasi yang lebih baik dari pelyanan sosial, dan program-program
23 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 24

inovatif untuk menyediakan perumahan berpenghasilan rendah. Pada tahun 1992
laporan dari layanan federal yaitu : penilaian kebutuhan, diagnosis, dan manjemen
obat, 24 jam layanan respon krisis, habilitasi, dan pelatihan keterampilan sosial, dan
meningkatkan prosedur debit rumah sakit. Seperti telah ditunjukkan, masalah
tunawisma tidak dapat dipisahkan dari masalah lain termasuk kemiskinan,
pengangguran, dan penyakit mental. Setiap masalah perlu di kaitkan jika jumlah
tunawisma harus dikurangi. Sebuah studi yang dialporkan dalam American Journal of
Psychiarty menemukan bahwa tingkat tinggi tekanan mental yang terlalu umum
semua orang tunawisma dan menyarankan bahwa fokus pengobatan harus pada
pemberdayaan, konsumerisme, intervensi hak, tingkat masyarakat, dan aliansi lebih
dekat dengan pendukung lainnya untuk tunawisma (Cohen & Thompson ,1992).
Menurut studi lain, penyebab utama keluarga tunawisma adalah ketidakmampuan
relatif kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal (Flickson, 1990).
Beberapa upaya yang dilakukan untuk membantu keluarga kehilangan tempat
tinggal. Sebagai contoh, federal Stewart B. McKinney UU Bantuan Tunawisma
jaminan sosial anak-anak tunawisma untuk hak akses pendidikan (Eddowes &
Hranits, 1989). Selain undang-undang, masyarakat, rumah sakit, dan susbtansi pusat
perawatan penyalahgunaan kerja sama untuk menemukan cara-cara sukses untuk
membantu para tunawisma. Karena tidak semua oarng tunawisma meiliki masalah
yang sama, sedang upaya yang dilakukan untuk program alternatif bagi individu dan
keluarga.

2.8

Individu dengan Keterbatasan
Berdasarkan data yang dimiliki oleh World Health Organization (WHO),
individu dengan berkebutuhan khusus terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
a) Impairment
Merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami kehilangan atau abnormalitas
psikologis, fisiologis, atau fungsi struktur anatomis secara umum pada tingkat organ
tubuh. Contoh, seseorang yang mengalami amputasi satu kakinya, maka dia
mengalami kecacatan kaki.
b) Disabilitas

24 | M e n g e l o l a S u m b e r D a y a K e l u a r g a

| 25

Merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami kekurangmampuan yang
dimungkinkan karena adanya impairment seperti kecacatan pada organ tubuh.
Contoh, pada orang yang cacat pada kakinya, maka dia akan merasakan
berkurangnya fungsi kaki untuk melakukan mobilitas.
c) Handiccaped
Merupakan ketidakberuntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau
disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan pera yang normal pada
individu. Handicapped juga bisa diartikan suatu keadaan dimana individu
mengalami ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungan. Hal ini dimungkinkan karena adanya fungsi organ individu. Contoh,
orang yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas atau
berinteraksi dengan lingkungannya dia memerlukan kursi roda.
Hambatan atau dampak negatif yang berkaitan dengan performa atau kegiatan
rumah tangga disebut sebagai batasan fungsional. Wright (1980) menawarkan
beberapa contoh keterbatasan fungsional yang dapat mempengaruhi kinerja tugas:
1) Pembatasan aktivitas karena bahaya atas yang tidak terduga
2) Ketidakmampuan untuk mengikuti perubahan cepat atau cekat dalam mela

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2207 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 567 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 488 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 318 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 437 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 701 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 613 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 390 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 573 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 699 23