Perpisaham Meja Dan Ranjang Dalam Perkawinan Di Tinjau Dari Hukum Perdata (BW)

PERPISAHAN MEJA DAN RANJANG DALAM
PERKAWINAN DITINJAU DARI HUKUM PERDATA (BW)

TESIS

OLEH

EPI SULASTRI
097011075/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERPISAHAN MEJA DAN RANJANG DALAM
PERKAWINAN DITINJAU DARI HUKUM PERDATA (BW)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh
EPI SULASTRI
097011075/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

:

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

:
:
:

PERPISAHAN MEJA DAN RANJANG DALAM
PERKAWINAN DITINJAU DARI HUKUM
PERDATA (BW)
Epi Sulastri
097011075
Kenotariatan

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum)

Pembimbing

(Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn)

Pembimbing

(Chairani Bustami, SH, SpN, MKn)

Ketua Program Studi,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Dekan,

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 07 Juli 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 07 Juli 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

Anggota

:

1. Notaris Syahril Sofyan, SH, MKn
2. Chairani Bustami, SH, SpN, MKn
3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
4. Notaris Syafnil Gani, SH, MHum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Perpisahan meja dan ranjang pada hakikatnya adalah perpisahan antara suami
dan isteri tampa mengakhiri ikatan perkawinan. Akibat hukum terpenting dari
perpisahan meja dan ranjang antara pasangan suami isteri tersebut adalah
ditiadakannya kewajiban bagi suami isteri untuk tinggal bersama, dan dibidang harta
perkawinan akibat hukumnya sama dengan perceraian. Hal ini ditegaskan oleh Pasal
243 KUH Perdata (BW) yang menyatakan, “Perpisahan meja dan ranjang selamanya
mengakibatkan perpisahan harta kekayaan dan karenanya merupakan alasan untuk
mengadakan perpisahan persatuan, seolah-olah perkawinan telah dibubarkan”.
Pengaturan perpisahan meja dan rajang dalam KUH Perdata (BW) diatur dalam bab
kesebelas buku ke satu tentang orang, Pasal 233 sampai dengan Pasal 249 KUH
Perdata (BW).
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pengaturan
mengenai pisah meja dan ranjang dalam KUH Perdata (BW) khususnya dalam bidang
perkawinan, akibat hukum terjadinya peristiwa pisah meja dan ranjang dan prosedur
hukum pengajuan permohonan tuntutan pisah meja dan ranjang.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan
yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif,
yang berawal dari premis umum dan berakhir pada suatu kesimpulan khusus.
Kumpulan data diperoleh dari bahan hukum primer yang terdiri dari norma atau
kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan terkait dengan
pengaturan perpisahan meja dan ranjang. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari
hasil-hasil penelitian, laporan-laporan serta artikel-artikel yang berkaitan dengan
penelitian ini. Bahan hukum tersier terdiri dari kamus hukum, kamus umum, jurnal
ilmiah, majalah yang terkait dengan penelitian ini. Sebagai data penunjang dalam
penelitian ini juga didukung dengan penelitian lapangan (field research) yang berupa
wawancara langsung dengan Panitera Pengadilan Negeri Medan dan juga beberapa
orang pasangan suami isteri dari golongan timur asing Tiong Hoa dimana kehidupan
perkawinannya sedang dalam masalah perceraian, yang dalam penelitian ini memiliki
kapasitas sebagai narasumber.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan pisah meja dan ranjang
dalam perkawinan menurut KUH Perdata (BW) dimaksudkan untuk mempersulit
terjadinya suatu perceraian. Hal ini sejalan dengan asas yang terkadung didalam KUH
Perdata (BW) yakni tidak menginginkan terjadinya suatu perceraian dalam
perkawinan. Disamping itu akibat hukum yang timbul dari terjadinya pisah meja dan
ranjang adalah sama dengan terjadinya perceraian. Perbedaanya hanya terletak pada
masih utuhnya ikatan perkawinan dalam suatu perbuatan hukum pisah meja dan
ranjang tersebut. Hasil penelitian lainnya adalah bahwa prosedur hukum tuntutan
pisah meja dan ranjang adalah sama dengan prosedur hukum tuntutan perceraian.
Perbedaanya adalah bahwa dalam pisah meja dan ranjang dibenarkan dilakukan
i

Universitas Sumatera Utara

berdasarkan kesepakatan bersama antara pasangan suami isteri, sedangkan dalam
perceraian tidak dibenarkan menurut KUH Perdata (BW) dilakukan berdasarkan
kesepakatan bersama antara suami isteri. Oleh karena itu pisah meja dan ranjang
yang diatur dalam KUH Perdata (BW) agar dapat memperoleh kepastian hukum
harus dikuatkan ruang lingkup pemberlakuannya melalui suatu peraturan perundangundangan yang baru mengingat KUH Perdata (BW) tidak lagi dipandang sebagai
undang-undang. Lembaga pisah meja dan ranjang agar lebih disosialisasikan di
pengadilan oleh hakim kepada para pasangan suami isteri yang hendak bercerai, agar
tujuan pengaturan pisah meja dan ranjang dalam KUH Perdata (BW) sebagai
pencegah terjadinya perceraian dapat tercapai. Disamping itu agar lebih jelas dan
lebih terperinci prosedur hukum pengajuan tuntutan maupun permohonan pisah meja
dan ranjang tersebut dalam hal tata caranya maka sebaiknya diatur dalam suatu
produk peraturan perundang-undangnya yang khusus sehingga menimbulkan
kejelasan dan kepastian hukum bagi para pihak yang melaksanakannya.

Kata kunci : Perpisahan Meja dan Ranjang, Hukum Perkawinan, KUH Perdata (BW)

ii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Separation from bed and board is actually the separation between husband
and wife without being divorced. The legal effect of the separation from bed and
board between husband and wife means the lack of their obligation to live together in
the same house, and this legal effect is also applicable to the joint property. This case
is stipuated in Article 243 of the Civil Code (BW) which says, The separation from
bed and board always causes the separation of property and this it is the reason for
the separation of the couple as if there were a divorce. “The regulations of the
separation from bed and board is stipulated in Chapter eleven, Book one about
persons, from Article 233 until Article 249 of the Civil Code (BW). The problems
which would be analyzed in this research were comprised of the regulations of the
separation from bed and board in the Civil Code (BW). The problems which would be
analyzed in this research were comprised of the regulations of the separation from
bed and board in the Civil Code (BW), especially of marital status, the legal effects of
the separation from bed and board, and the legal procedures of filing a claim for the
separation from bed and board.
The type of this research was descriptive analytic by using judicial normative
approach; it meant that this research referred to legal norms which were found in the
legal provisions as the normative based which began with the general premise and
ended in a special conclusion. The data were gathered from the primary law which
consisted of norms or basic principles, basic regulations, and legal provisions
concerning the separation from bed and board. The secondary law consisted of the
results studies, reports, and articles which were correlated with this research. The
tertiary law consisted of dictionaries of legal system, dictionaries, scientific journals,
and magazines which were gathered by doing field research with direct interviews
with the clerk of Medan District Court and with some people who had experienced
the separation from bed and board as the source persons.
The result of the research showed that the regulations of the separation from
bed and board in marriage, according to the Civil Code (BW) were intended to
hamper a divorce. This was in accordance with the legal principle in the Civil Code
(BW) which implicitly contained the prevention from a divorce. The emphasis was on
the unimpaired bonds of matrimory. Another result of the research was that the legal
procedure of filing a claim for the separation from bed and board was the same as
the filing a claim for the divorce.
The difference was that the separation from bed and board was allowed to be
claimed by the agreement between husband and wife, whereas a divorce, according
to the Civil Code (BW), was not allowed to be claimed by the agreement between
husband and wife, therefore, the separation from bed and board which was stipulated
in the Civil Code (BW), in order to obtain legal certainly, should be broaden in its
imposition through new legal provisions because the case of the separation from bed
and board in the Civil Code (BW) was considered obsolete. The committee of the
iii

Universitas Sumatera Utara

separation from bed and board should be socialized by judges in courts to the
couples who wanted to divorce so that the regulations of the separation from bed and
board in the Civil Code (BW) could be implemented. Besides that, in order that the
procedures of filing a claim for the separation from bed and board became clearer
and more detailed, it was recommended that these procedures should be regulated in
a special product of legal provisions so that the persons involved in the case would
obtain legal certainty.

Keywords : Separation from Bed and Board, Marriage Law, Civil Code (BW)

iv

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,
karena hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan
penulisan tesis ini tepat pada waktunya. Adapun judul tesis ini adalah “Perpisaham
Meja Dan Ranjang Dalam Perkawinan Di Tinjau Dari Hukum Perdata (BW)”.
Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk
memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan
dorongan baik berupa masukan maupun saran, sehingga penulisan tesis dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih
yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan
amat terpelajar Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Pembimbing
utama penulis, Bapak Notaris/PPAT Syahril Sofyan, SH, MKn, selaku Pembimbing II
penulis, Ibu Chairani Bustami, SH, SpN, MKn selaku selaku Pembimbing III penulis
yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk
kesempurnaan penulisan tesis ini.
Kemudian juga, kepada Dosen Penguji yang terhormat dan amat terpelajar
Bapak Prof. Dr Muhammad Yamin, SH, MS, CN dan Bapak Notaris/PPAT Syafnil
Gani, SH, M.Hum yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang
konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada
tahap ujian tertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah.
Dalam kesempatan ini penulis juga dengan tulus mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1.

Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSC (CTM), Sp.A (K), selaku
Rektor Universitas Sumatra Utara yang telah memberikan kesempatan dan
fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis
ini.
v

Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatra Utara, yang telah memberi kesempatan dan fasilitas kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus pembimbing
yang telah memberikan bimbingan serta saran yang membangun kepada penulis
Tesis ini.
4. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik
dan membimbing penulis sampai kepada tingkat Magister Kenotariatan.
5. Para pegawai/karyawan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu membantu kelancaran dalam hal
manajemen administrasi yang dibutuhkan.
Sungguh rasanya suatu kebanggaan tersendiri dalam kesempatan ini penulis
juga turut menghaturkan sembah sujud dan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada Ayahanda Bapak H. Sulaiman B dan Ibunda Hj. Cut Nursiah, yang telah
melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan penulis, Ayah dan Ibu mertua,
Bapak H. Rustam Rasyid Efendi SH, S.Pn dan Ibu Hj. Safni Rustam, yang telah
memberikan bimbingan, perhatian dan doa yang cukup besar selama ini, sehingga
penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada suami
tercinta H. Revino Rustam, SH, serta ananda tersayang Nazwa Aura Fadillah dan
serta kakanda H. Suheri, Hj. Linda Leni, dan aidinda Jupli serta sahabat terkasih
Amelia Silvani, Melissa Harahap, Desy Melaroza, Desy Viviani, Nasriel Iskandar,
Moses, Dani, juga kepada Staf bagian Pendidikan Magister Kenotariatan USU, Sari,
Bu Fatimah, Lisa, Winda, Afni, Bang Iken, Bang Aldy dan Bang Rizal, yang selama
ini telah memberikan semangat dan doa restu serta kesempatan untuk menimba ilmu

vi

Universitas Sumatera Utara

di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara.
Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan
kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu
dilimpahkan kebaikan, kesehatan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna,
namun tak ada salahnya jika penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan
manfaat kepada semua pihak.

Medan, Juli 2011
Penulis,

Epi Sulastri

vii

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I.

IDENTITAS PRIBADI
Nama Lengkap

: Epi Sulastri

Tempat/Tanggal Lahir

: Meunasah Mancang Lhoksukon Aceh Utara/17 Juli
1982

Status

: Kawin

Alamat

: Jln. Makmur No. 8 Sei Agul Medan

II. KELUARGA
Nama Suami

: H. Revino Rustam, SH

Pekerjaan

: Wiraswasta

Nama Anak Kandung

: 1. Nazwa Aura Fadillah

III. PENDIDIKAN
- SD

: Tahun 1991 s/d 1996
SD Negeri Mancang Ara

- SLTP

: Tahun 1996 s/d 1999
MTSN Lhokseumawe

-

SMU

: Tahun 1999 s/d 2001
SMU Negeri 12 Medan Helvetia Medan

- S1

: Tahun 2001 s/d 2006
Fakultas Hukum UMSU Medan

- S2

: Tahun 2009 s/d 2011Program Studi Magister Kenotariatan
FH USU

viii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ......................................................................................................
i
ABSTRACT .....................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR....................................................................................

v

RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ viii
DAFTAR ISI...................................................................................................

ix

DAFTAR ISTILAH .......................................................................................

xi

BAB I

PENDAHULUAN............................................................................

1

A. Latar Belakang ...........................................................................

1

B. Perumusan Masalah ...................................................................

6

C. Tujuan Penelitian .......................................................................

7

D. Kerangka Teori dan Konsepsi....................................................

7

1. Kerangka Teori......................................................................

7

2. Konsepsi................................................................................ 23
E. Metode Penelitian........................................................................ 24
1. Sifat dan Jenis Penelitian ...................................................... 24
2. Alat Pengumpul Data ............................................................ 25
3. Analisis Data ......................................................................... 25
BAB II. TIMBULNYA LEMBAGA PISAH MEJA DAN RANJANG
DALAM PENGATURAN MENGENAI PERKAWINAN
MENURUT KUH PERDATA (BW) .............................................. 27
A. Pengertian Perpisahan Meja dan Ranjang Menurut KUH
Perdata (BW) .............................................................................. 27
B. Tujuan Diadakannya Lembaga Pisah Meja dan Ranjang dalam
Pengaturan Hukum Perkawinan Menurut KUH Perdata (BW) .. 31
C. Pembubaran Perkawinan Setelah Perpisahan Meja dan Ranjang 42
BAB III. AKIBAT HUKUM YANG TIMBUL DARI TERJADINYA
PERISTIWA PISAH MEJA DAN RANJANG MENURUT
KUH PERDATA (BW)…………………………………………… 53

ix

Universitas Sumatera Utara

A. Ruang Lingkup Lembaga Pisah Meja dan Ranjang Menurut
KUH Perdata (BW)……………………………………………. 53
B. Akibat Hukum Terjadinya Pisah Meja dan Ranjang Menurut
KUH Perdata (BW)……………………………………………. 63
BAB IV. PROSEDUR HUKUM TUNTUTAN PISAH MEJA DAN
RANJANG MENURUT KUH PERDATA (BW)………………... 76
A. Prosedur Hukum Tuntutan Pisah Meja dan Ranjang
Berdasarkan alasan –alasan yang Telah Ditetapkan Menurut
KUH Perdata (BW)…………………………………………….. 76
B. Prosedur Hukum Tuntutan Pisah Meja dan Ranjang
Berdasarkan Permintaan bersama Suami-Istri…………………. 96
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................103
A. Kesimpulan ....................................................................................103
B. Saran ..............................................................................................104
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 106
LAMPIRAN

x

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISTILAH

BW

: Burgerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata)

RBg

: Rechtsreglement Buitengewesten (Ketentuan Pengganti
Berbagai Peraturan yang Berlaku hanya suatu Daerah
Tertentu)

Rv

: Reglement op de Burgerlijkke Rechtsvordering

WvK

: Wetboek van Koophandel (Kitab Undang-undang Hukum
Dagang)

WvS

: Wetboek van Strafrecht (Kitab Undang-undang Hukum
Pidana

Stbl

: Staatsblad (Lembaran Negara)

IS

: Indische Staatsregeling
di Indonesia)

HIR

: Herziene Inlands Reglement (Ketentuan yang berlaku
untuk orang Indonesia)

Verstek

: Keputusan Hakim yang diambil tanpa dihadiri oleh
tergugat

Monogami

: Satu istri untuk satu suami

Poligami

: Seorang suami boleh beristri lebih dari satu

Incraht Van Gewijsde

: Keputusan hakim yang telah memiliki kekuatan hukum
yang tetap

Verzet

: Perlawanan yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam
beracara di Pengadilan

Feitelijke Groud

: Dasar fakta

(Peraturan

yang

berlaku

xi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Perpisahan meja dan ranjang pada hakikatnya adalah perpisahan antara suami
dan isteri tampa mengakhiri ikatan perkawinan. Akibat hukum terpenting dari
perpisahan meja dan ranjang antara pasangan suami isteri tersebut adalah
ditiadakannya kewajiban bagi suami isteri untuk tinggal bersama, dan dibidang harta
perkawinan akibat hukumnya sama dengan perceraian. Hal ini ditegaskan oleh Pasal
243 KUH Perdata (BW) yang menyatakan, “Perpisahan meja dan ranjang selamanya
mengakibatkan perpisahan harta kekayaan dan karenanya merupakan alasan untuk
mengadakan perpisahan persatuan, seolah-olah perkawinan telah dibubarkan”.
Pengaturan perpisahan meja dan rajang dalam KUH Perdata (BW) diatur dalam bab
kesebelas buku ke satu tentang orang, Pasal 233 sampai dengan Pasal 249 KUH
Perdata (BW).
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pengaturan
mengenai pisah meja dan ranjang dalam KUH Perdata (BW) khususnya dalam bidang
perkawinan, akibat hukum terjadinya peristiwa pisah meja dan ranjang dan prosedur
hukum pengajuan permohonan tuntutan pisah meja dan ranjang.
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan
yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pijakan normatif,
yang berawal dari premis umum dan berakhir pada suatu kesimpulan khusus.
Kumpulan data diperoleh dari bahan hukum primer yang terdiri dari norma atau
kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan terkait dengan
pengaturan perpisahan meja dan ranjang. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari
hasil-hasil penelitian, laporan-laporan serta artikel-artikel yang berkaitan dengan
penelitian ini. Bahan hukum tersier terdiri dari kamus hukum, kamus umum, jurnal
ilmiah, majalah yang terkait dengan penelitian ini. Sebagai data penunjang dalam
penelitian ini juga didukung dengan penelitian lapangan (field research) yang berupa
wawancara langsung dengan Panitera Pengadilan Negeri Medan dan juga beberapa
orang pasangan suami isteri dari golongan timur asing Tiong Hoa dimana kehidupan
perkawinannya sedang dalam masalah perceraian, yang dalam penelitian ini memiliki
kapasitas sebagai narasumber.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan pisah meja dan ranjang
dalam perkawinan menurut KUH Perdata (BW) dimaksudkan untuk mempersulit
terjadinya suatu perceraian. Hal ini sejalan dengan asas yang terkadung didalam KUH
Perdata (BW) yakni tidak menginginkan terjadinya suatu perceraian dalam
perkawinan. Disamping itu akibat hukum yang timbul dari terjadinya pisah meja dan
ranjang adalah sama dengan terjadinya perceraian. Perbedaanya hanya terletak pada
masih utuhnya ikatan perkawinan dalam suatu perbuatan hukum pisah meja dan
ranjang tersebut. Hasil penelitian lainnya adalah bahwa prosedur hukum tuntutan
pisah meja dan ranjang adalah sama dengan prosedur hukum tuntutan perceraian.
Perbedaanya adalah bahwa dalam pisah meja dan ranjang dibenarkan dilakukan
i

Universitas Sumatera Utara

berdasarkan kesepakatan bersama antara pasangan suami isteri, sedangkan dalam
perceraian tidak dibenarkan menurut KUH Perdata (BW) dilakukan berdasarkan
kesepakatan bersama antara suami isteri. Oleh karena itu pisah meja dan ranjang
yang diatur dalam KUH Perdata (BW) agar dapat memperoleh kepastian hukum
harus dikuatkan ruang lingkup pemberlakuannya melalui suatu peraturan perundangundangan yang baru mengingat KUH Perdata (BW) tidak lagi dipandang sebagai
undang-undang. Lembaga pisah meja dan ranjang agar lebih disosialisasikan di
pengadilan oleh hakim kepada para pasangan suami isteri yang hendak bercerai, agar
tujuan pengaturan pisah meja dan ranjang dalam KUH Perdata (BW) sebagai
pencegah terjadinya perceraian dapat tercapai. Disamping itu agar lebih jelas dan
lebih terperinci prosedur hukum pengajuan tuntutan maupun permohonan pisah meja
dan ranjang tersebut dalam hal tata caranya maka sebaiknya diatur dalam suatu
produk peraturan perundang-undangnya yang khusus sehingga menimbulkan
kejelasan dan kepastian hukum bagi para pihak yang melaksanakannya.

Kata kunci : Perpisahan Meja dan Ranjang, Hukum Perkawinan, KUH Perdata (BW)

ii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Separation from bed and board is actually the separation between husband
and wife without being divorced. The legal effect of the separation from bed and
board between husband and wife means the lack of their obligation to live together in
the same house, and this legal effect is also applicable to the joint property. This case
is stipuated in Article 243 of the Civil Code (BW) which says, The separation from
bed and board always causes the separation of property and this it is the reason for
the separation of the couple as if there were a divorce. “The regulations of the
separation from bed and board is stipulated in Chapter eleven, Book one about
persons, from Article 233 until Article 249 of the Civil Code (BW). The problems
which would be analyzed in this research were comprised of the regulations of the
separation from bed and board in the Civil Code (BW). The problems which would be
analyzed in this research were comprised of the regulations of the separation from
bed and board in the Civil Code (BW), especially of marital status, the legal effects of
the separation from bed and board, and the legal procedures of filing a claim for the
separation from bed and board.
The type of this research was descriptive analytic by using judicial normative
approach; it meant that this research referred to legal norms which were found in the
legal provisions as the normative based which began with the general premise and
ended in a special conclusion. The data were gathered from the primary law which
consisted of norms or basic principles, basic regulations, and legal provisions
concerning the separation from bed and board. The secondary law consisted of the
results studies, reports, and articles which were correlated with this research. The
tertiary law consisted of dictionaries of legal system, dictionaries, scientific journals,
and magazines which were gathered by doing field research with direct interviews
with the clerk of Medan District Court and with some people who had experienced
the separation from bed and board as the source persons.
The result of the research showed that the regulations of the separation from
bed and board in marriage, according to the Civil Code (BW) were intended to
hamper a divorce. This was in accordance with the legal principle in the Civil Code
(BW) which implicitly contained the prevention from a divorce. The emphasis was on
the unimpaired bonds of matrimory. Another result of the research was that the legal
procedure of filing a claim for the separation from bed and board was the same as
the filing a claim for the divorce.
The difference was that the separation from bed and board was allowed to be
claimed by the agreement between husband and wife, whereas a divorce, according
to the Civil Code (BW), was not allowed to be claimed by the agreement between
husband and wife, therefore, the separation from bed and board which was stipulated
in the Civil Code (BW), in order to obtain legal certainly, should be broaden in its
imposition through new legal provisions because the case of the separation from bed
and board in the Civil Code (BW) was considered obsolete. The committee of the
iii

Universitas Sumatera Utara

separation from bed and board should be socialized by judges in courts to the
couples who wanted to divorce so that the regulations of the separation from bed and
board in the Civil Code (BW) could be implemented. Besides that, in order that the
procedures of filing a claim for the separation from bed and board became clearer
and more detailed, it was recommended that these procedures should be regulated in
a special product of legal provisions so that the persons involved in the case would
obtain legal certainty.

Keywords : Separation from Bed and Board, Marriage Law, Civil Code (BW)

iv

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa
perkawinan ialah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan
untuk waktu yang lama. Dari rumusan Pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat diketahui bahwa KUH Perdata
(BW) memandang perkawinan hanya dari hubungan keperdataan saja. Artinya adalah
bahwa suatu perkawinan yang sah, hanyalah perkawinan yang memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan dalam KUH Perdata (BW) dan syarat-syarat serta peraturan
agama dikesampingkan. Di samping itu KUH Perdata (BW) juga menganut asas
monogami absolut dan melarang polygami. Larangan ini termasuk ketertiban umum,
yang apabila dilanggar akan diancam dengan pembatalan perkawinan yang
dilangsungkan itu.1
Pasal 103 KUH Perdata (BW) menentukan tentang kewajiban suami-isteri
untuk saling setia, tolong-menolong dan bantu-membantu (helping bijstand), saling
setia berarti setia dalam perkawinan, sedangkan tolong-menolong dan bantumembantu bergantung pada peristiwa-peristiwa yang konkrit sehingga tidak dapat

1

R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 1985, hlm. 23.

Universitas Sumatera Utara

dikatakan apakah isi dan makna kata bantu-membantu dan tolong-menolong tersebut
yang sebenarnya, sanksinya merupakan sanksi tidak langsung (indirect).2
Bilamana kesetiaan dalam perkawinan dilanggar oleh salah satu pihak maka
sanksinya secara tidak langsung dapat timbul, dengan permintaan pembatalan atau
perpisahan meja dan ranjang atas perkawinan yang ada oleh salah satu pihak baik
isteri maupun suami. Apabila pelanggaran kesetiaan itu sudah sedemikian rupa
besarnya maka akan dapat menjadi salah satu alasan untuk mengajukan tuntutan
perceraian menurut ketentuan yang disebutkan dalam Pasal 209 dan 233 KUH
Perdata (BW).
Pasal 209 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa: “alasan-alasan yang dapat
mengakibatkan perceraian adalah dan hanyalah sebagai berikut :
a. Zinah.
b. Meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad jahat
c. Penghukuman dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau dengan
hukuman yang lebih berat, yang diucapkan setelah perkawinan.
d. Melukai berat atau menganiaya, dilakukan oleh si suami atau si isteri terhadap
isteri atau suaminya, yang demikian sehingga membahayakan jiwa pihak yang
dilukai

atau

dianiaya

atau

sehingga

mengakibatkan

luka-luka

yang

membahayakan”.

2

Abdul Kadir Muhammad, Perkembangan Hukum Keluarga di Beberapa Negara Eropah,
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, hlm. 37.

Universitas Sumatera Utara

Pasal 233 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Dalam hal adanya
peristiwa-peristiwa yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menuntut perceraian
perkawinan suami dan isteri adalah berhak menuntut perpisahan meja dan ranjang.
Tuntutan untuk perpisahan yang demikian boleh juga dimajukan berdasar atas
perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, penganiayaan dan penghinaan kasar
yang dilakukan oleh pihak yang satu terhadap pihak yang lain”.
Pasal 234 KUH Perdata (BW) selanjutnya menyatakan bahwa:
“Tuntutan pisah meja dan ranjang tersebut dimajukan diperiksa dan
diselesaikan dengan cara yang sama seperti tuntutan perceraian perkawinan”. Dari
rumusan Pasal 234 KUH Perdata (BW) tersebut di atas dapat dikatakan bahwa
tuntutan pisah meja dan ranjang di majukan, diperiksa dan diselesaikan di Pengadilan
dengan cara yang sama dengan tuntutan perceraian. Pasal 235 KUH Perdata (BW)
menyatakan bahwa, “si suami atau si isteri yang telah memajukan tuntutan perpisahan
meja dan ranjang tak dapat diterima lagi dengan tuntutannya akan perceraian
perkawinan atas dasar dan alasan yang sama”. Dari rumusan Pasal 235 KUH Perdata
(BW) tersebut di atas maka dapat dijelaskan bahwa, alasan yang telah digunakan
untuk mengajukan tuntutan pisah meja dan ranjang tidak dapat lagi digunakan
terhadap tuntutan perceraian.3
Pasal 106 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “setiap isteri harus tunduk
patuh kepada suaminya. Ia berwajib tinggal bersama dengan si suami dalam satu
rumah, dan berwajib pula mengikutinya, barang dimanapun si suami memandang
3

J. Satrio, Hukum Harta Perkawinan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991, hlm. 197.

Universitas Sumatera Utara

berguna memusatkan tempat kediamannya”. Rumusan Pasal 106 KUH Perdata (BW)
di atas menjelaskan bahwa setiap suami berwajib menerima diri isterinya dalam
rumah yang ia diami. Pasal 107 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “setiap
suami berwajib menerima diri isterinya dalam rumah yang ia diami. Berwajiblah ia
pula melindunginya dan memberi padanya segala apa yang perlu dan berpatutan
dengan kedudukkan dan kemampuannya”. Rumusan Pasal 107 KUH Perdata (BW)
tersebut diatas menjelaskan kewajiban seorang suami pada isterinya dalam hal
menerima diri isterinya ditempat kediamannya dan juga memberikan perlindungan
serta memberikan nafkah baik lahir maupun batin seperlunya sesuai dengan
kedudukkan dan kemampuan suami tersebut.4
KUH Perdata (BW) tidak menyebutkan penjelasan tentang rumah kediaman
yang tidak layak atau tidak senonoh tersebut. pengertian tersebut bergantung
sepenuhnya kepada putusan hukum. Pandangan yang menyatakan bahwa isteri wajib
tinggal bersama suami atau wajib mengikuti suaminya kemanapun suaminya
memandang baik untuk bertempat tinggal adalah didasarkan kepada asas bahwa
suami adalah kepala rumah tangga/kepala keluarga dalam suatu ikatan perkawinan
sebagaimana yang dianut oleh KUH Perdata (Burgerlijk Wetboek (BW)5. Dengan
demikian bila terjadi pisah meja dan ranjang dalam suatu ikatan perkawinan antara
suami dan isteri itu berarti bahwa ada suatu permasalahan yang terjadi antara suami-

4

R. Soetojo Prawirohardjojo dan Asis Safioedin, Hukum Orang dan Keluarga, Alumni,
Bandung, 1986, hlm. 44.
5
Tan Thong Kie, Serba Serbi Praktek Notaris, Jilid I, Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2000,
hlm.17.

Universitas Sumatera Utara

isteri tersebut. Dengan terjadinya peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut telah
terjadi keretakan dalam satu perkawinan meskipun belum mencapai tahap perceraian.
Namun peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut menimbulkan akibat hukum bagi
pasangan suami-isteri tersebut. Keadaan yang paling nyata dapat dilihat dari
terjadinya peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut adalah dilanggarnya asas
perkawinan yang dianut KUH Perdata (BW) yakni suami-isteri wajib tinggal bersama
dalam satu rumah setelah dilangsungkannya perkawinan6.
Perpisahan meja dan ranjang ini oleh Vollmar disebut dengan istilah Perancis
Separation de corps atau perpisahan tubuh.7 Dalam bahasa Inggris disebut dengan
istilah Separated table and bed.
Suami-isteri dalam suatu ikatan perkawinan menurut KUH Perdata (BW)
merupakan satu tubuh. Hal ini disebabkan karena setelah terjadinya perkawinan maka
suami atau isteri secara fisik harus tinggal bersama pada satu tempat tinggal, menyatu
dalam hati, pikiran, tindakan termasuk dalam harta benda perkawinan apabila tidak
ditentukan dalam suatu perjanjian sebelum perkawinan dilangsungkan. Peristiwa
pisah meja dan ranjang yang terjadi pada suatu perkawinan secara KUH Perdata
(BW), merupakan suatu peristiwa berpisahnya secara fisik/tubuh antara suami dan
isteri untuk tidak lagi tinggal bersama yang merupakan kewajiban dari pasangan
suami-isteri tersebut. Namun peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut tidak
mengakhiri perkawinan. Ikatan perkawinan antara pasangan suami-isteri yang
6
7

Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Perdata, Sumur Bandung, 1961, hlm.59.
PNH Simanjuntak, Pokok-pokok Hukum Perdata Indonesia, Djambatan, Jakarta, 2007,

hlm. 176.

Universitas Sumatera Utara

melaksanakan perbuatan hukum, pisah meja dan ranjang masih tetap melekat dan
kedua pasangan suami-isteri tersebut masih tetap terikat dalam ikatan perkawinan
yang sah sebagai suami-isteri. Namun peristiwa pisah meja dan ranjang dalam suatu
perkawinan menyebabkan hak-hak dan kewajiban antara suami-isteri dalam suatu
perkawinan tidak lagi sama saat belum terjadinya peristiwa pisah meja dan ranjang8.
Sejauh mana peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut membawa dampak/akibat
hukum terhadap pengurangan hak-hak dan kewajiban pasangan suami-isteri tersebut
dalam suatu ikatan perkawinan dan akibat-akibat hukum lainnya yang terjadi pada
peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut akan diteliti secara seksama dan lebih
mendalam pada peristiwa ini. Adapun judul dari penelitian ini adalah “Perpisahan
Meja dan Ranjang dalam Perkawinan Ditinjau dari Hukum Perdata (BW)”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka
permasalahan yang dibahas secara seksama dan lebih mendalam dalam penelitian ini
adalah :
1. Mengapa timbul lembaga pisah meja dan ranjang dalam pengaturan mengenai
perkawinan?
2. Bagaimana akibat hukum yang timbul terhadap terjadinya peristiwa pisah meja
dan ranjang menurut KUH Perdata (BW) tersebut?

8

Ali Affandi, Hukum Keluarga Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlyk
Wetboek), Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Tanpa Tahun, hlm. 69.

Universitas Sumatera Utara

3. Bagaimanakah prosedur hukum pengajuan permohonan tuntutan pisah meja dan
ranjang menurut KUH Perdata (BW) tersebut?

C. Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui latar belakang timbulnya lembaga pisah meja dan ranjang
dalam pengaturan perkawinan yang terdapat di dalam KUH Perdata (BW).
2. Untuk mengetahui bagaimana akibat hukum yang timbul dengan terjadinya
peristiwa pisah meja dan ranjang tersebut menurut KUH Perdata (BW).
3. Untuk mengetahui bagaimanakah prosedur hukum perjanjian permohonan
tuntutan pisah meja dan ranjang menurut KUH Perdata (BW) tersebut.

D. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Kerangka teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang pengetahuan
yang berbeda pula tergantung pada metodologi dan konteks diskusi. Secara umum
teori merupaka analisis hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain pada
sekumpulan fakta-fakta9. Landasan teori merupakan ciri penting bagi penelitian
ilmiah untuk mendapatkan data. Teori merupakan alur penalaran atau logika (Flow Of

9

Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia pada akhir abad ke 20, Alumni
Bandung, 1994, hlm 24.

Universitas Sumatera Utara

Reasoning/Logic), terdiri dari seperangkat konsep atau variabel, definisi dan
proposisi yang disusun secara sistematis10. Penetapan suatu kerangka teori merupakan
suatu keharusan dalam penelitian. Hal ini disebabkan karena kerangka teori
digunakan sebagai landasan berfikir untuk menganalisis permasalahan yang dibahas
dalam penelitian ini, yaitu mengenai lembaga pisah meja dan ranjang, pelaksanaan
dan akibat hukumnya bagi golongan Timur Asing Cina dan orang-orang Indonesia
yang tunduk sukarela kepada Hukum Perdata dan Hukum Dagang Eropa baik
sebagian maupun secara keseluruhan.11
Menurut Tan Thong Kie perpisahan meja dan ranjang pada hakekatnya adalah
perpisahan antara suami dan isteri tanpa mengakhiri pernikahan tersebut. Akibat
terpenting perpisahan ini adalah ditiadakannya kewajiban bagi suami dan isteri untuk
tinggal bersama, walaupun akibatnya di bidang hukum harta benda adalah sama
dengan perceraian12.
Menurut Thorkish Pane, perpisahan meja dan ranjang adalah suatu peritiwa hukum
yang menimbulkan akibat hukum terhadap status perkawinan pasangan suami isteri
tersebut dimana kewajiban untuk bertempat tinggal yang sama antara suami isteri
tersebut menjadi hapus oleh karenanya dan juga dapat menimbulkan pengakhiran
percampuran harta benda perkawinan, namun tidak mengakibatkan putusnya ikatan
perkawinan tersebut.

10

J. Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hlm 194.
HR. Otje Salman, S, dan Anton F. Susanto, Teori Hukum (Mengingat, Mengumpulkan dan
Membuka Kembali), Refika Aditama, Bandung, 2005, hlm. 86.
12
Tan Thong Kie, Op.Cit. hlm 17.
11

Universitas Sumatera Utara

Menurut PNH Simanjuntak, yang dimaksud dengan perpisahan meja dan ranjang
adalah suatu keadaan dimana pasangan suami isteri yang masih terikat tali
perkawinan tidak mempunyai kewajiban lagi untuk tinggal bersama dalam satu
rumah sebagaimana layaknya pasangan suami-isteri, dan dapat pula menimbulkan
pemisahan percampuran harta benda perkawinan seolah-olah telah terjadi perceraian.
Menurut Ali Affandi, pisah meja dan ranjang adalah perpisahan tempat tinggal antara
suami dan isteri yang masih terikat tali perkawinan dan juga perpisahan percampuran
harta benda perkawinan antara pasangan suami isteri tersebut seolah-olah perkawinan
telah berakhir atau telah terjadi perceraian.
Dari defenisi para sarjana yang telah disebutkan di atas, maka dapat ditegaskan garis
besar dari definisi pisah meja dan ranjang tersebut yaitu:
1.

Adanya perpisahan tempat tinggal antara pasangan suami-isteri

2.

Adanya perpisahan harta benda perkawinan

3.

Masih terikat dalam suatu ikatan perkawinan

Alasan-alasan yang dapat menjadi dasar tuntutan pisah meja dan ranjang tersebut
adalah sebagaimana tercantum dalam pasal 233 KUH Perdata (BW) yaitu:13
1. Semua alasan untuk meminta perceraian sebagaimana yang tercantum di dalam
pasal 209 KUH Perdata (BW) sebagaimana yang telah diuraikan pada pembahasan
di atas.

13

Zoelfiqri Mahmud, Sistem Hukum Perdata di Indonesia, Mitra Kencana, Jakarta, 1996,

hlm. 37.

Universitas Sumatera Utara

2. Perbuatan melampaui batas penganiayaan, dan penghinaan kasar yang dilakukan
oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya.
3. Tanpa alasan.
Alasan untuk menuntut pisah meja dan ranjang antara suami dan isteri adalah sama
dengan alasan untuk menuntut perceraian. Perbedaannya adalah bahwa perceraian
tidak boleh dilaksanakan atas persetujuan antara suami dan isteri. Hal ini diatur di
dalam pasal 208 KUH Perdata (BW) dimana dinyatakan bahwa, “Perceraian suatu
perkawinan tidak dapat dicapai dengan suatu persetujuan antara kedua belah pihak
yaitu suami dan isteri, sedangkan pada tuntutan pisah meja dan ranjang boleh
diperintahkan Hakim atas permintaan kedua suami-isteri bersama-sama dalam mana
tidak ada kewajiban bagi mereka mengemukakan alasan-alasan tertentu”.
Perpisahan meja dan ranjang atas permintaan suami-isteri secara bersamasama baru boleh diizinkan apabila perkawinan antara suami dan isteri tersebut telah
berlangsung minimal dalam jangka waktu 2 (dua) tahun. Hal ini dinyatakan dalam
pasal 236 KUH Perdata (BW).
Adapun pasal 236 KUH Perdata (BW) tersebut di atas menyatakan bahwa,
“Perpisahan meja dan ranjang boleh juga diperintahkan oleh hakim atas permintaan
kedua suami-isteri bersama-sama, dalam mana tidak ada kewajiban bagi mereka
mengemukakan alasan-alasan tertentu. Perpisahan yang demikian tak boleh diizinkan,
melainkan apabila suami dan isteri telah kawin selama dua tahun”.
Pasal 237 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Sebelum meminta
perpisahan meja dan ranjang, suami dan isteri berwajib dengan sebuah akta otentik
mengatur syarat-syarat perpisahan meja dan ranjang tersebut baik terhadap mereka
sendiri maupun mengenai penunaian kekuasaan orang tua dan usaha pemeliharaan
beserta pendidikan anak-anak mereka. Tindakan-tindakan yang telah mereka
rancangkan untuk dilakukan sepanjang pemeriksaan harus dikemukakan untuk
dikuatkan oleh pengadilan pun juga perlu untuk diatur oleh pengadilan sendiri”.
Pasal 238 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Permintaan perpisahan meja dan
ranjang kedua suami-isteri tersebut harus dimajukan kepada pengadilan negeri tempat
tinggal mereka dan harus pula dilampirkan dalam pengajuan tersebut lampiran akte
perkawinan maupun lampiran perjanjian yang memuat syarat-syarat pisah meja dan
ranjang yang dibuat dalam akta otentik (Notaril)”.

Universitas Sumatera Utara

Dalam perjanjian yang memuat syarat-syarat pisah meja dan ranjang yang dibuat
dalam bentuk akta otentik notaril dimuat mengenai perpisahan tempat tinggal (rumah)
dimana diantara suami dan isteri tersebut telah terpisah tempat tinggal dan isteri tidak
lagi punya kewajiban untuk mengikuti tempat tinggal suaminya. Pada perjanjian
tersebut juga dimuat mengenai status harta benda dari masing-masing pihak yang
tetap dimiliki oleh suami atau isteri tersebut. Mengenai kekuasaan orang tua terhadap
anak-anak belum dewasa yang dilahirkan dari perkawinan tersebut apabila terjadi
pisah meja dan ranjang adalah berdasarkan atas keputusan hakim.

Pasal 230a KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Jika kiranya anak-anak yang
belum dewasa itu tidak sesungguhnya telah berada dalam kekuasaan seorang, yang
menurut pasal 229 atau 230 KUH Perdata (BW) diwajibkan melakukan perwalian
atau dalam kekuasaan si suami, si isteri atau Dewan Perwalian kepada siapa anakanak itu dipercayakannya, menurut pasal 214 ayat kesatu KUH Perdata (BW), maka
dalam penetapan harus diperintahkan pula penyerahan anak-anak tersebut”.
Pasal 230a KUH Perdata (BW) ini memiliki makna bahwa apabila tuntutan pisah
meja dan ranjang antara suami dan isteri telah dikabulkan oleh Hakim pada
Pengadilan negeri maka kekuasaan orang tua terhadap anak-anak ditetapkan oleh
Hakim diantara suami atau isteri tersebut. Penetapan kekuasaan orang tua terhadap
anak-anak

bisa

dialihkan

oleh

hakim

kepada

pihak

ketiga

(Keluarga

Sedarah/Semenda) atau Dewan Perwalian apabila kedua suami-isteri tersebut telah
dibebaskan atau dipecat dari kekuasaan orang tua mereka. Penetapan ini berlaku
setelah hari keputusan pisah meja dan ranjang antara suami dan isteri memperoleh
kekuatan mutlak/kepastian Hukum.

Universitas Sumatera Utara

Pada umumnya keputusan Hakim atas hak pengasuhan anak apabila anak itu belum
dewasa jatuh ketangan ibunya (Isteri). Kecuali apabila kekuasaan ibu (isteri) tersebut
telah dibebaskan atau dipecat oleh hakim melalui suatu keputusan pengadilan.14
Mengenai harta benda yang dikuasai oleh isteri sejak terjadinya peristiwa
pisah meja dan ranjang diberikan izin dan kuasa yang tidak dapat dicabut kembali
oleh pihak suami untuk mengurus kepentingannya dengan tidak perlu mendapat
bantuan dari pihak suami. Demikian juga dalam hal melakukan segala tindakan
pengurusan dan pemilikan tidak terbatas pada hak untuk menjual, mengadaikan atau
mengadakan perjanjian dagang.15
Perjanjian yang memuat syarat-syarat perpisahan meja dan ranjang dalam
bentuk akta otentik notaril dilakukan sebelum diajukan tuntutan pisah meja dan
ranjang ke hadapan pengadilan. Pengadilan akan mensahkan perjanjian yang memuat
syarat-syarat perpisahan meja dan ranjang tersebut yang menjadi ketentuan mengikat
bagi pasangan suami-isteri tersebut.16
Permasalahan

ini

berbeda

dengan

perjanjian

perkawinan

(Huwelijk

Voorwarden). Perjanjian perkawinan dilakukan sebelum perkawinan tersebut
dilangsungkan dan dalam perjanjian perkawinan tersebut pada umumnya diatur
mengenai perpisahan harta bawaan masing-masing calon suami dan isteri. Hal ini
merupakan penegasan hukum secara tertulis bahwa harta bawaan masing-masing
14

Michael Halim. Tindakan Pisah Meja dan Ranjang Ditinjau Dari Hukum Katolik, Tesis,
UNIKA Atma Jaya, Jakarta , 2006. hlm 18.
15
Chairani Bustami Jusuf. Contoh-Contoh Akta Notaris Seri-2, Pustaka Bangsa Medan, 2009,
hlm. 196.
16
Thorkish Pane, Polemik Hukum Pisah Meja dan Ranjang, Media Pustaka Jakarta, 2006,
hlm. 39.

Universitas Sumatera Utara

pihak calon suami dan isteri tetap berada dibawah penguasaan masing-masing pihak
selama masa perkawinan berlangsung. Ini merupakan suatu pengecualian dari
konsekuensi sebuah perkawinan dimana harta bawaan masing-masing pihak setelah
terjadinya perkawinan menjadi harta bersama.
Pasal 245 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Putusan-putusan pisah
meja dan ranjang harus diumumkan seterang-terangnya di Lembaran Negara. Selama
pengumuman itu belum berlangsung keputusan pisah meja dan ranjang tersebut tidak
berlaku pada pihak ketiga”. Setelah perpisahan meja dan ranjang diucapkan oleh
Hakim dalam suatu persidangan, dan setelah mendengar dan memanggil dengan sah
akan kedua orang tua dan sekalian keluarga sedarah atau semenda dari anak-anak
yang belum dewasa, pengadilan negeri harus menetapkan terhadap masing-masing
anak, siapakah dari kedua orang tua itu kecuali kiranya keduanya telah dibebaskan
atau dipecat dari kekuasaan orang tua, harus melakukan kekuasaan orang tua dengan
mengindahkan keputusan-keputusan Hakim yang terdahulu, dengan mana mereka
kiranya pernah dipecat dari kekuasaan orang tua. Penetapan itu berlaku setelah hari
keputusan perpisahan meja dan ranjang memperoleh kekuatan mutlak (Kepastian
Hukum), sebelum hari keputusan pisah meja dan ranjang memperoleh kekuatan
hukum yang tetap tidak perlu ada pemberitahuan, perlawanan dari para pihak.
Terhadap penetapan pengadilan terhadap hak pengasuhan anak, si bapak atau si ibu
yang tidak mendapat kekuasaan orang tua boleh mangajukan perlawanan hukum
(banding), apabila ia, salah satu pihak bapak/ibu tidak datang menghadap.
Perlawanan Hukum itu harus dimajukan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah

Universitas Sumatera Utara

penetapan diberitahukan kepadanya. Si bapak atau si ibu yang telah datang
menghadap namun tidak diserahi kekuasaan orang tua atau yang perlawananya telah
ditolak oleh pengadilan negeri dapat mengajukan banding terhadap penetapan
tersebut dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah hari penetapan pengadilan negeri
tersebut.17
Pasal 246a KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “Berdasar atas hal-hal
yang telah terjadi setelah keputusan perpisahan meja dan ranjang memperoleh
kekuatan mutlak, pengadilan negeri boleh mengubah penetapan-penetapan yang
diberikan menurut ayat kedua pasal yang lalu atas permintaan kedua orang tua atau
salah seorang dari mereka, dan setelah mendengar atau memanggil dengan sah kedua
suami-isteri dan para keluarga sedarah dan semenda dari anak-anak yang belum
dewasa, penetapan ini boleh dikatakan segera dapat dilaksanakan kendati perlawanan
atau banding dengan atau tanpa jaminan. Apa yang ditentukan dalam ayat ke empat
dan kelima pasal 206 KUH Perdata (BW) berlaku dalam hal ini. Maksud dari pasal
246a KUH Perdata (BW) ini adalah penetapan hak asuh anak yang lahir dari
perkawinan suami-isteri yang mengajukan tuntutan pisah meja ranjang tersebut dapat
dilaksanakan secara serta merta kepada salah satu pihak orang tua dari anak-anak
tersebut meskipun pihak lainnya mengajukan perlawanan ataupun banding ke
pengadilan. Pasal 213 KUH Perdata (BW) menyatakan bahwa, “si isteri yang sedang
menjalani proses hukum pisah meja dan ranjang dengan suaminya berhak menuntut

17

Rony Mardianto. Hak dan Kewajiban Orang Tua Setelah Putusan Pisah Meja dan Ran
jang Berlaku, Media Pustaka Jakarta, 2007. hlm 39.

Universitas Sumatera Utara

tunjangan nafkah yang mana setelah ditentukan oleh hakim harus dibayar oleh suami
kepadanya selama perkara berjalan. Apabila si isteri tanpa izin hakim meninggalkan
rumah yang ditunjuk baginya, maka bergantunglah pada keadaan boleh atau tidaknya
ia dipecat dari segala hak