Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

(1)

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PATRON KLIEN ANTARA PEMILIK LAHAN DAN BURUH TANI (Studi pada Desa Sipangan Bolon Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten

Simalungun)

SKRIPSI Diajukan oleh:

110901045

ANDRIANI SAPUTRI AMBARITA

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Departemen Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara


(2)

ABSTRAKSI

Indonesia merupakan negara pertanian, itu artinya sebagaian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani.Hubungan yang terjalin diantara para petani tidak hanya sebatas hubungan kerja tapi meluas pada hubungan sosial. Sama halnya dengan jenis mata pencaharian lain, ada kalanya petani juga mengalami masa krisis seperti gagal panen. Namun harus tetap memberikan apa yang menjadi kewajiban. Namun buruh tani mampu melewati itu semua karena pada umumnya hubungan petani pemilik tanah dengan buruh tani bukanlah hanya sekedar hubungan kerja saja namun ada hubungan yang lain yaitu hubungan patron klien. Atas dasar tersebut, peneliti ingin mencoba untu mengangkat topik permasalahan mengenai Bagaimana hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani.

Hubungan patron klien merupakan salah satu bentuk hubungan pertukaran khusus.Dua pihak yang terlibat dalam hubungan pertukaran mempunyai kepentingan yang hanya berlaku dalam konteks hubungan mereka.Hubungan patron-klien dicirikan sebagai hubungan dimana patron yang berkuasa dan kaya memberikan pekerjaan, perlindungan, infrastuktur, dan berbagai manfaat lainnya kepada klien yang tidak berdaya dan miskin.Imbalannya, klien memberikan berbagai bentuk kesetiaan, pelayanan, dan bahkan dukungan politik kepada patron.

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan nilai – nilai secara holistik dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Sedangkan pendekatan deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan, memahami, dan menafsirkan makna suatu peristiwa tingkah laku manusia dalam situasi tertentu serta menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya. Penelitian ini dilakukan di Desa Sipangan Bolon, kecamatan Girsang Sipangan Bolon, kabupaten Simalungun.

Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa hubungan patron dan klien sama – sama memiliki sifat ketergantungan terhadap keduanya. Patron tergantung pada klien karena Ia membutuhkan tenaga kerja untuk mengelolah lahannya sedangkan klien tergantung pada patronnya karena Ia membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain itu Ia juga membutuhkan seorang patron yang dapat melindunginya ketika buruh tani mengalami kesulitan. Itu lah yang membuat keduanya saling ketergantungan sehingga hubungan keduanya berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.Namun seiring berjalannya waktu alasan mengapa buruh tani tergantung pada pemilik lahan mulai berubah.Apa yang diungkapan oleh Scott sudah tidak sesuai dengan yang terjadi di Desa Sipangan Bolon. Di Desa Sipangan Bolon seorang buruh tergantung pada pemilik lahan bukan karena Ia merasa berhutang budi pada pemilik lahan, namun sebenarnya buruh tani merasa dirinya telah dieksploitasi oleh pemilik lahan namun karena tidak memiliki


(3)

pekerjaan lain maka buruh tani akan tetap bertahan bekerja pada pemilik lahan untuk bertahan hidup selain itu buruh tani juga telah terikat pada pemilik lahan karena Ia memiliki sejumlah hutang yang harus dibayar pada pemilik lahan dan untuk membayar itu maka buruh tani harus bekerja pada pemilik lahan tersebut.


(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan, atas berkat dan rahmatNya yang senantiasa menyertai dan memberkati penulis dalam menyelesaikan perkuliahan dan juga penyelesaian dalam menyusun skripsi ini yang berjudul “Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)”.Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna untuk memperoleh gelar sarjana dari Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara.

Dalam penulisan skripsi ini penulisan banyak menghadapi berbagai hambatan.Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, pengalaman, kepustakaan dan materi penulis.Namun, berkat pertolongan Tuhan ang memberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan kepada penulis dan juga para teman – teman yang selalu memberikan motivasi dan dukungan pada saat – saat penulis mengalami kesulitan selama penulisan skripsi ini. Penulis banyak menerima bantuan, kritik, saran, motivasi serta dukungan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi penulis dalam penyelesaian skripsi penulis dalam menulisan skripsi ini.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak memperoleh dukungan, bimbingan dan fasilitas dari berbagai pihak baik berupa bantuan moral maupun bantuan materi.Pada kesempatan ini penulis. Pada kesempatan ini penulis


(5)

mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya dengan ketulusan hati kepada orang tua penulis, Ayahanda Bernad Bernandus Ambarita dan Ibunda tercinta Nurhasian Sijabat yang telah begitu banyak berkorban, terima kasih atas doa – doa kalian saya dapat menyelesaikan ini semua dengan lapang dada, dan banyak memberikan tantangan hidup pada pribadiku sendiri. Terimakasih banyak buat adik – adik ku tersayang Dedy Setiawan Ambarita dan Judika Ambarita yang selalu mendoakan dan memberi semangat yang luar biasa dalam penyelesaian skripsi ini.

Selanjutnya, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara

2. Ibu Dra. Lina Sudarwati,M.Si selaku Ketua Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara

3. Bapak Dr. Sismudjito, M.Si, rasa terima kasih yang sebesar – besarya karena Beliau merupakan dosen wali sekaligus dosen pembimbing skripsi, yang telah banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dengan penuh kesabaran serta ditengah – tengah kesibukan Beliau tetap meluangkan waktu untuk membimbing penulis.

4. Seluruh dosen Departemen Sosiologi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis selama menjalani perkuliahan serta kepada seluruh staf


(6)

pegawai FISIP USU yang telah banyak membantu penulis selama perkuliahan hingga saat ini.

5. Sahabat – sahabatku Febryshanti Margaretha Tambunan, S.S, Sara Margareth Purba, Emilia Simangungsong, Angela Manihuruk dan Sivia Maria Goretti Purba terima kasih karena kalian selalu ada untukku dalam kondisi apapun baik suka maupun duka dan selalu menyemangati satu sama lain untuk tetap mengerjakan skripsi masing – masing

6. Teman – teman kelompok kecil ku KK Okuli Letare: Valencia Purba, Lidya Nainggolan, Immanuel Pasaribu, bang Joy tambunan dan Pkk Bang Roland Hutagalung dan Kak Marlina Marbun terima kasih untuk doa – doa kalian dan motivasi yang kalian berikan agar aku tetap sabar dan terus berpengharapan pada Tuhan dalam mengerjakan skripsi

7. Teman – teman koordinasi PD Maranatha periode 2014/2015 (Caesario, Marluhut, Winda, Nova T, Nova M, Rizal, Romulus, Gomal, Nova G, Riwando, Faomasi, Yosua, Yesika) terima kasih untuk dukungan kalian selama ini baik dukungan doa dan lainnya, terima kasih juga untuk selalu mengingatkan ku agar segera menyelesaikan perkuliahan dan buat komponen PD Maranatha yang lainnya

8. Orang terkasih Gomal Salomo Rajagukguk terima kasih buat kasih sayang, perhatian dan kepedulian mu selama ini yang selalu mendukungku dan selalu ada untukku dalam kondisi apapun sehingga mampu menambah semangat dalam menyelesaikan skripsi ini bahkan terima kasih juga sudah mau menerimaku apa adanya.


(7)

9. Teman – teman kos – kosan Terompet 35 (Elsabeth, Purnama, k’Debora, k’Suta, k’Nova, Bg hari, Beca dll) terima kasih untuk canda tawa bahkan semangat yang selalu kalian berikan pada penulis

10. Teman – teman seangkatanku Sosiologi 2011 (Erawati, Elisabet, Maiusna, Wawan, Jhon, Hendrikson, Rio, Victor, Samuel, Carlina, Siska, Elo, Khati, Devi, vera, Safrillah) dan teman – teman lain yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu persatu. Penulis sangat berterima kasih untuk semuanya selama ini. Terkhusus buat masukan – masukan yang telah diberikan guna menyelesaikan skripsi ini dan ilmu yang telah dibagikan selama kita kuliah. 11. Seluruh informan dan seluruh masyarakat Desa Sipangan Bolon yang telah

banyak membantu terkhusus dalam hal memberikan informasi terkait dengan penelitian penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan yang disebabkan keterbatasan – keterbatasan yang dimiliki penulis. Untuk itu dengan kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi ini sehingga dapat member manfaat kepada pembaca

Medan, Oktober 2015

Penulis


(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAKSI………..……….. i

KATA PENGANTAR………...…….……… ii

DAFTAR ISI………..……… iii

DAFTAR TABEL……….. iv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………...………. 1

1.2 Rumusan Masalah………...……… 7

1.3 Tujuan Penelitian………...…………. 7

1.4 Manfaat penelitian………..… 7

1.4.1 Manfaat Teoritis………...… 7

1.4.2 Manfaat Praktis………...……. 8

1.5 Definisi Konsep………..… 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Patron Klien Pada Masyarakat petani………..………. 10

2.2 Rasionalitas Petani………..……….. 14

2.3 Struktur Masyarakat Petani………...… 17

2.4 Teori Pertukaran Sosial………... 19

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian……….… 22

3.2 Lokasi Penelitian……….…. 22

3.3 Unit Analisis Informan………. 23


(9)

3.3.2 Informan………..….. 23

3.4 Teknik Pengumpulan Data………..…. 24

3.5 Interpretasi Data……… 25

3.6 Keterbatasan penelitian………... 25

3.7 Jadwal Kegiatan……….... 26

BAB IV TEMUAN DATA DAN ANALISIS DATA 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian………..…… 27

4.1.1 Lokasi dan Letak Geografis………..…. 28

4.1.2 Batas – Batas Wilayah………..…. 28

4.1.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin……….…... 29

4.1.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan……….... 29

4.1.5 Komsisi Penduduk Berdasarkan……….... 30

4.2 Profil Informan……….… 30

4.3 Analisis Data………..………... 46

4.3.1 Analisis Kondisi Masyarakat………. 46

4.3.2 Hubungan Patron Klien Pada Masyarakat Desa Sipangan Bolon……. 49

4.3.3 Perbedaan Perlakuan Patron terhadap Klien………..…… 63

4.3.4 Perubahan Hubungan Patron Klien Pada Masyarakat Desa Sipangan Bolon………... 65

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan………..………. 73

5.2 Saran………..………... 75 DAFTAR PUSTAKA


(10)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Komposisi masyarakat berdasarkan jenis

kelamin………...…29 Tabel 2 Komposisi masyarakat berdasarkan

agama………. 29 Tabel 3 Komposisi masyarakat berdasarkan mata pencaharian………... 30


(11)

ABSTRAKSI

Indonesia merupakan negara pertanian, itu artinya sebagaian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani.Hubungan yang terjalin diantara para petani tidak hanya sebatas hubungan kerja tapi meluas pada hubungan sosial. Sama halnya dengan jenis mata pencaharian lain, ada kalanya petani juga mengalami masa krisis seperti gagal panen. Namun harus tetap memberikan apa yang menjadi kewajiban. Namun buruh tani mampu melewati itu semua karena pada umumnya hubungan petani pemilik tanah dengan buruh tani bukanlah hanya sekedar hubungan kerja saja namun ada hubungan yang lain yaitu hubungan patron klien. Atas dasar tersebut, peneliti ingin mencoba untu mengangkat topik permasalahan mengenai Bagaimana hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani.

Hubungan patron klien merupakan salah satu bentuk hubungan pertukaran khusus.Dua pihak yang terlibat dalam hubungan pertukaran mempunyai kepentingan yang hanya berlaku dalam konteks hubungan mereka.Hubungan patron-klien dicirikan sebagai hubungan dimana patron yang berkuasa dan kaya memberikan pekerjaan, perlindungan, infrastuktur, dan berbagai manfaat lainnya kepada klien yang tidak berdaya dan miskin.Imbalannya, klien memberikan berbagai bentuk kesetiaan, pelayanan, dan bahkan dukungan politik kepada patron.

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan nilai – nilai secara holistik dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Sedangkan pendekatan deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan, memahami, dan menafsirkan makna suatu peristiwa tingkah laku manusia dalam situasi tertentu serta menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya. Penelitian ini dilakukan di Desa Sipangan Bolon, kecamatan Girsang Sipangan Bolon, kabupaten Simalungun.

Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa hubungan patron dan klien sama – sama memiliki sifat ketergantungan terhadap keduanya. Patron tergantung pada klien karena Ia membutuhkan tenaga kerja untuk mengelolah lahannya sedangkan klien tergantung pada patronnya karena Ia membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain itu Ia juga membutuhkan seorang patron yang dapat melindunginya ketika buruh tani mengalami kesulitan. Itu lah yang membuat keduanya saling ketergantungan sehingga hubungan keduanya berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.Namun seiring berjalannya waktu alasan mengapa buruh tani tergantung pada pemilik lahan mulai berubah.Apa yang diungkapan oleh Scott sudah tidak sesuai dengan yang terjadi di Desa Sipangan Bolon. Di Desa Sipangan Bolon seorang buruh tergantung pada pemilik lahan bukan karena Ia merasa berhutang budi pada pemilik lahan, namun sebenarnya buruh tani merasa dirinya telah dieksploitasi oleh pemilik lahan namun karena tidak memiliki


(12)

pekerjaan lain maka buruh tani akan tetap bertahan bekerja pada pemilik lahan untuk bertahan hidup selain itu buruh tani juga telah terikat pada pemilik lahan karena Ia memiliki sejumlah hutang yang harus dibayar pada pemilik lahan dan untuk membayar itu maka buruh tani harus bekerja pada pemilik lahan tersebut.


(13)

Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sampai saat ini Indonesia masih merupakan negara petanian, artinya petanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional.Kondisi ini dapat dibuktikan dari jumlah penduduk yang mengandalkan hidupnya bekerja pada sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari petanian (Sunarti, 1990:11).Jumlah rumah tangga usaha pertanian tahun 2013 sebanyak 26,14 juta rumah tangga. Subsektor Tanaman Pangan 17,73 juta rumah tangga, Hortikultura 10,60 juta rumah tangga, Perkebunan 12,77 juta rumah tangga, Peternakan 12,97 juta rumah tangga, Perikanan kegiatan budidaya ikan 1,19 juta rumah tangga, Perikanan kegiatan penangkapan ikan 0,86 juta rumah tangga, Kehutanan 6,78 juta rumah tangga, dan Jasa Pertanian 1,08 juta rumah tangga.Jumlah rumah tangga petani gurem tahun 2013 sebanyak 14,25 juta rumah tangga atau sebesar 55,33 persen dari rumah tangga pertanian pengguna lahan, mengalami penurunan sebanyak 4,77 juta rumah tangga atau turun 25,07 persen dibandingkan tahun 2003.Jumlah petani pada tahun 2013 sebanyak 31,70 juta orang, terbesar di Subsektor Tanaman Pangan sebanyak 20,40 juta orang.Jumlah rumah tangga menurut petani utama yang berusia diatas 54 tahun pada tahun 2013 relatif besar, yaitu sebanyak 8,56 juta rumah tangga (32,76 persen).Rata-rata luas lahan yang dikuasai rumah tangga usaha pertanian tahun 2013


(14)

seluas 0,89 ha, meningkat sebesar 118,80 persen dibandingkan tahun 2003 yang seluas 0,41 ha. (BPS Indonesia, 2013)

Besarnya peranan pertanian di Indonesia memberi motivasi masyarakat pedesaan untuk memiliki lahan pertanian yang dapat dijadikan sumber produksi. Oleh karena itu para petani berupaya dengan berbagai cara untuk memiliki lahan pertanian baik yang ada di wilayah tempat tinggalnya ataupun di luar desanya. Diharapkan dengan telah dimilikinya lahan pertanian tersebut, mereka akan dapat membiayai kebutuhan hidup bagi keluarganya. (Sunarti, 1990:2). Namun kenyataannya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh petani pada umumnya, banyak petani yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi ini dikarenakan petani hanya memiliki lahan pertanian yang sempit atau bahkan sama sekali tidak mempunyai lahan pertanian. Di desa sering kita jumpai para petani yang mengerjakan sebagaian dari tanah milik mereka sendiri, menyewakan sebagian kecil dari tanah mereka itu, dan menyewa tanah yang lain dan bahkan juga kadang – kadang menuai di sawah orang lain sebagai orang upahan.

Kesulitan petani itu tampaknya tidak hanya disebabkan oleh relatif sempitnya tanah atau lahan yang mereka garap. Akan tetapi, dengan hasil yang diperolehnya mereka harus menyisihkan untuk berbagai macam dana, seperti: sewa tanah, penggantian, upacara dan pendidikan. Oleh karena itu, surplus yang mereka peroleh habis untuk menutupinya.Malahan sering sekali tidak cukup. Dalam kaitan ini, R. Wolf (1983) dalam Sunarti (1990:2) mengatakan bahwa lebih dari setengah dari seluruh yang diperoleh petani disisihkan untuk keperluan produksi. (Sunarti,


(15)

1990:2).Kebutuhan lain yang harus dipenuhi selain kebutuhan pangan, sandang dan papan ialah kebutuhan untuk upacara adat seperti pesta perkawinan selain itu biaya pendidikan anak juga merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh petani juga. Kondisi ini yang membuat kebutuhan para petani semakin terasa berat.

Salah satu provinsi di Indonesia yang penduduknya terdapat banyak petani yaitu Sumatra Utara, khususnya kabupaten Simalungun.Kabupaten Simalungun merupakan salah satu kabupaten yang memiliki daerah yang cukup luas, yaitu dengan luas 4.386,60 Km menjadikannya sebagaidaerah terluas ketiga setelah kabupaten Madina dan kabupaten Langkat.Kabupaten Simalungun terdiri dari 31 kecamatan dan kecamatanGirsang Sipangan Bolon merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten simalungun. Luas wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon adalah 12.039 Ha atau sekitar 2,74% dari total luas Kabupaten Simalungun. Desa Sipangan Bolon adalah salah satu diantara dua desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang memiliki luas wilayah 3975 Ha. Penggunaan lahan di Desa Sipangan Bolon adalah sebagian besar ladang gembala/hutan 1975 Ha dan kemudian penggunaan lahan perkebunan rakyat yaitu 1200 Ha, penggunaan lahan pertanian sawah yaitu 200 Ha, penggunaan lahan untuk bangunan/pekarangan yaitu 15 Ha, penggunaan lahan untuk permukiman 100 Ha dan luas prasarana umum lainnya 480 Ha. (Data Monografi Desa Sipangan Bolon, 2014).

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa sebagian besar luas wilayah Desa Sipangan Bolon digunakan untuk lahan ladang dan sawah. Dapat dilihat dari luas lahan yang digunakan untuk pertanian yaitu ladang gembala/hutan 1975 Ha, lahan


(16)

perkebunan rakyat 1200 Ha, dan lahan pertanian sawah yaitu 200 Ha maka kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Sipangan Bolon bermata pencaharian sebagai petani. Pada masyarakat Desa Sipangan Bolon terdapat pembagian jenis petani, diantaranya petani yang hanya menyewakan tanahnya, petani pemilik tanah sekaligus penggarap, petani penyewa lahan dan buruh tani. Yang dimaksud petani pemilik tanah disini ialah petani yang memiliki lahan luas dan petani tersebut tidak mengerjakan lahannya karena ia memiliki pekerjaan lain seperti: pengusaha atau pegawai negeri dan lahan pertaniannya disewakan untuk dikerjakan oleh petani lain yang tidak memiliki lahan. Jenis petani yang kedua ialah petani penyewa, petani penyewa disini ialah petani yang tidak memiliki lahan pertanian atau memiliki lahan pertanian namun sempit sehingga ia harus menyewa lahan namun dalam proses penggarappannya petani penyewa disini menggunakan jasa buruh tani karena ia menyewa lahan dengan ukuran yang cukup luas sehingga tidak mampu mengengola lahan pertanian sewaan tersebut sehingga membutuhkan jasa buruh tani. Dan jenis petani yang ketiga di desa Sipangan Bolon yaitu buruh tani. Buruh tani maksudnya disini ialah petani yang tidak memiliki lahan pertanian atau memiliki lahan pertanian sempit, dengan lahan pertanian tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga ia harus bekerja pada petani lain agar kebutuhan hidupnya terpenuhi. (Monografi Desa Sipangan Bolon)

Hubungan kerja antar petani terdapat hubungan pertukaran didalamnya.Petani pemilik lahan menggunakan jasa buruh tani dalam mengelola lahannya. Namun hubungan yang terjalin di antara para petani tidak hanya sebatas hubungan kerja tapi


(17)

meluas pada hubungan sosial seperti saling tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan kerja sama, kekerabatan, persaudaraan dan bahkan membentuk hubungan patronase. Petani pemilik lahan akan memberikan perlindungan ketika buruh tani mengalami masa krisis. Sebagai contoh pemilik lahan akan memberikan upah buruh tani diawal ketika buruh tani membutuhkan biaya mendadak. Petani pemilik lahan sudah memiliki kepercayaan bahwa buruh tani akan mengerjakan pekerjaan tersebut. Sebagai balasannya buruh petani akan menunjukkan loyalitasnya kepada pemilik tanah tersebut.Dengan sikap yang diberikan petani pemilik lahan maka buruh tani akan memberikan hasil kerja yang terbaik pada petani pemilik tanah tersebut. (Monografi Desa Sipangan Bolon)

Sama halnya dengan jenis mata pencaharian lain, ada kalanya petani juga mengalami masa krisis. Namun harus tetap memberikan apa yang menjadi kewajiban. Dalam Damsar (1997) James Scott mengungkapkan tentang Etika Subsistensi.Etika subsistensi merupakan perspektifdari mana petani yang tipikal memandang tuntutan – tuntutan yang tidak dapat dielakkan atas sumber daya yang dimilikinya dari pihak sesama warga desa, tuan tanah atau pejabat. Tuntutan – tuntutan tersebut yang dinilai, pertama bukanlah dari segi tingkat absolutnya, Ini berarti bahwa kriteria petani tentang etika subsistensi adalah apa yang tersisa setelah semua tuntutan dari luar terpenuhi apakah yang tersisa tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan pokoknya dan bukannya tingkat tuntutan – tuntutan itu sendiri. Etika subsistensi tersebut, dalam Damsar (1997) menurut James Scott, muncul dari


(18)

kekhawatiran akan mengalami kekurangan pangan dan merupakan konsekuensi dari satu kehidupan yang begitu dekat dengan garis batas dari krisis subsistensi. Suatu panen yang gagal berarti bukan hanya kekurangan makanan tetapi juga makna pengorbanan rasa harga diri karena menjadi beban orang lain atau menjual apa yang tersisa dari miliknya yang ada, misalnya menjual sepersekian keping sawah dari luas tanah yang memang dimilikinya sedikit atau menjual satu – satunya ternak sebagai pembajak sawahnya atau apa saja yang dapat dijual (Damsar, 1997). Petani di Desa Sipangan Bolon juga mengalami kondisi yang sama seperti yang diungkapkan oleh Scott, dimana petani juga harus memenuhi tuntutan – tuntutan yang tidak bisa dihindari. Ketika buruh petani mengalami masa krisis, seperti muncul banyak kebutuhan mendadak yang harus segera dipenuhi. Mereka merasa khawatir akan mengalami kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Namun buruh tani mampu melewati itu semua karena pada umumnya hubungan petani pemilik tanah dengan buruh tani bukanlah hanya sekedar hubungan kerja saja namun ada hubungan yang lain. Menurut Scott, jaminan subsistensi mencakup pula pemberian subsidi untuk membantu buruh tani melalui masa krisis. Dengan demikian, maka satu jaminan krisis subsistensi yang lengkap mengimplikasikan satu komitmen pribadi dari pihak pemilik lahan untuk menanggung kebutuhan – kebutuhan kesejahtraan yang minimal dari buruh tani.(Scott, 1976:69).Seperti yang dikatakan oleh Scott, maka pemilik lahan dalam hal ini sebagai patron mempunyai tanggung jawab moral untuk menanggung kesejahtraan buruh tani yang sebagai kliennya. Tanggung jawab yang diberikan


(19)

patron dengan memberikan bantuan – bantuan kepada kliennya untuk dapat melewati masa krisis tersebut, bantuan berupa memberi pinjaman yang tidak ditentukan batas pengembalian pinjaman tersebut, atau buruh tani dapat bekerja di rumah pemilik tanah dan lain – lain.

Berdasarkan uraian dan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana hubungan patron klien antara pemilik tanah dengan buruh tani di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon kabupaten Simalungun.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian masalah di atas maka yang menjadi rumusan masalah ialah “Bagaimana hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani ?”

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani

2. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana buruh tani dapat bertahan hidup ketika mengalami kesulitan

1.4 Manfaat Penelitian


(20)

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu sosiologi pada khususnya sosiologi pedesaan dan kajian mengenai hubungan sosial.

2. Untuk menambah refrensi hasil penelitian yang juga dijadikan sebagai rujukan untuk penelitian bagi mahasiswa sosiologi selanjutnya, serta diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan memperluas cakrawala pengetahuan. 1.4.2 Manfaat Praktis

1. Menjadi sumbangan pemikiran untuk kelembagaan pertanian untuk meningkatkan kesejahtraan para petani dan buruh tani

2. Untuk memberikan masukan – masukan kepada pihak – pihak atau lembaga – lembaga yang membutuhkannya, terutama bagi petani dan buruh tani supaya memiliki kelompok tani yang bisa menjadi tenaga penghubug untuk menghilangkan kesenjangan antara pemilik lahan dengan buruh tani dan memberikan kontribusi bagi para LSM untuk meningkatkan produktivitas petani.

1.5 Definisi Konsep

Dalam sebuah penelitian ilmiah, definisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep – konsep yang penting dalam penelitian ini adalah:


(21)

Patron klien adalah sebuah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dikatakan sebagai pertukaran hubungan yang tidak seimbang atau setara dimana seorang individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya yang dimilikinya untuk menyediakan perlindungan dan keuntungan – keuntungan bagi seorang dengan status lebih rendah (klien).

2. Petani

Petani adalah seorang yang bergerak dibidang pertanian, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman, dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain. 3. Pemilik tanah

Pemilik tanah adalah petani yang memiliki lahan yang cukup luas dan biasanya dalam proses pengerjaan lahan tersebut akan menggunakan jasa buruh tani atau lahan tersebut akan disewakan kapada petani lain.

4. Buruh tani

Buruh tani adalah petani yang memperoleh penghasilan terutama dari bekerja yang mengambil upah untuk para pemilik tanah atau para petani penyewa tanah.


(22)

Bab II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Patron Klien pada Masyarakat Petani

Istilah patron berasal dari bahasa Latin “patronus” atau “ pater”, yang berarti ayah (father). Karenanya, Ia adalah seorang yang memberikan perlindungan dan manfaat serta mendanai dan mendukung terhadap kegiatan beberapa orang. Sedangkan klien juga berasal dari istilah Latin “cliens”yang berarti pengikut.Dalam literatur ilmu sosial patron merupakan konsep hubungan strata sosial dan penguasaan sumber ekonomi.Konsep patron selalu diikuti oleh konsep klien, tanpa konsep klien konsep patron tentu saja tidak ada.Karenanya kedua istilah tersebut membentuk suatu hubungan khusus yang disebut dengan istilah clientelism.Istilah ini merujuk pada sebuah bentuk organisasi sosial yang dicirikan oleh hubungan patron-klien, dimana patron yang berkuasa dan kaya memberikan pekerjaan, perlindungan, infrastuktur, dan berbagai manfaat lainnya kepada klien yang tidak berdaya dan miskin.Imbalannya, klien memberikan berbagai bentuk kesetiaan, pelayanan, dan bahkan dukungan politik kepada patron (Hefni, 2009).

Hubungan patron klien merupakan salah satu bentuk hubungan pertukaran khusus.Dua pihak yang terlibat dalam hubungan pertukaran mempunyai kepentingan yang hanya berlaku dalam konteks hubungan mereka. Dengan kata lain, kedua pihak memasuki hubungan patron klien karena terdapat kepentingan yang bersifat khusus atau pribadi, bukan kepentingan yang bersifat umum. Persekutuan semacam itu


(23)

dilakukan oleh dua pihak yang masing – masing merasa perlu untuk mempunyai sekutu yang mempunyai status, kekayaan dan kekuatan lebih tinggi (superior) atau lebih rendah (inferior)daripada dirinya.Persekutuan antara patron dan klien merupakan hubungan saling tergantung.Dalam kaitan ini, aspek ketergantngan yang cukup menarik adalah sisi ketergantungan klien dan patron.Sisi ketergantungan semacam ini karena adanya hutang budi klien kepada patron yang muncul selama hubungan pertukaran berlangsung.Patron sebagai pihak yang memiliki kemampuan lebih besar dalam menguasai sumber daya ekonomi dan politik cenderung lebih banyak menawarkan satuan barang dan jasa kepada klien, sementara klien sendiri tidak selamanya mampu membalas satuan barang dan jasa tersebut secara seimbang.Ketidakmampuan klien diatas memunculkan rasa utang budi klien kepada patron, yang pada gilirannya dapat melahirkan ketergantungan. Hubungan ketergantungan yang terjadi dalam salah satu aspek kehidupan sosial, dapat meluas keaspek – aspek kehidupan sosial lain. (Hefni, 2009)

Menurut Scott dalam Hakim, Abdul sebagai suatu mekanisme sosial, ikatan patron-klien bukan bersifat modern ataupun tradisional secara keseluruhan. Memang, dari satu segi, gaya hubungan patron klien bersifat patrikularistik, tersebar dan informal, sedangkan ikatan modern bersifat universal, spesifik dan kontraktual. Namun demikian, walaupun gayanya tradisional, jaringan patron klien berfungsi untuk menyatukan individu yang bukan kerabat dan sebagai sarana bagi terciptanya suatu integrasi vertical.Sebagai pola pertukaran terbesar, jasa dan barang yang dipertukarkan oleh patron dan klien mencerminkan kebutuhan yang timbul dari kedua


(24)

belah pihak dan sumberdaya yang dimiliki masing-masing.Hal ini tercermin dalam arus hubungan patron ke klien dan sebaliknya klien ke patron.Deskripsi dibawah ini diringkas dari tulisan Scott yang ditulis dalam bukunya perlawanan kaum petani.

Beberapa barang dan jasa yang dipertukarkan oleh patron ke klien adalah sebagai berikut:

1. Penghidupan subsistensi dasar,. Pada banyak daerah agraris, jasa utama dapat berupa pemberian pekerjaan tetap atau tanah untuk bercocok tanam, dan juga mencakup penyediaan benih, peralatan, jasa pemasaran, nasehat teknis, dan sebagainya

2. Jaminan krisis subsistensi. Umumnya, patron diharapkan memberikan jaminan pada saat bencana ekonomi, membantu menghadapi keadaan sakit atau kecelakaan, atau membantu pada saat gagal panen

3. Perlindungan. Yang dimaksud disini adalah penyediaan jasa dari patron yang bertujuan untuk melindungi klien dalam hal terjadinya konflik sebagai akibat hubungan – hubungan yang dijalin oleh klien dengan “orang luar”

4. Jasa patron kolektif. Secara internal, patron sebagai kelompok dapat melakukan fungsi ekonomi secara kolektif. Mereka dapat memberikan subsidi atau sumbangan untuk tujuan – tujuan kolektif masyarakat desa, misalnya dalam bentuk sumbangan tanah untuk fasilitas umum.

Berbeda dengan arus patron ke klien, arus barang dan jasa dari klien ke patron amat sukar untuk digolongkan, karena seorang klien umumnya menyediakan tenaga dan


(25)

keahlian untuk kepentingan patron, apa pun bentuknya. Unsur tipikal dalam arus hubungn ini, antara lain mencakup jasa pekerjaan dasar (biasanya pekerjaan dalam usaha tani), dan pemberian jasa tambahan berupa bantuan dalam pekerjaan domestik (rumah tangga patron). (Hakim, Abdul)

Ikatan antara pelindung (patron) dan klien, satu bentuk asuransi sosial yang terdapat dimana – mana di kalangan petani, merupakan satu langkah jauh lainnya dalam jarak sosial dan seringkali moral, teristimewa apabila sang pelindung bukan warga desa. Apakah ia seorang tuan tanah, seorang pejabat kecil atau pedagang, seorang menurut definisinya adalah orang yang berada dalam posisi untuk membantu klien – kliennya. Meskipun klien – klien seringkali berusaha sebisa- bisanya untuk memberikan arti moral kepada hubungan itu, oleh karena kedudukan mereka dalam menghadapi patron seringkali lemah sekali.Patronase itu ada segi baiknya, bukan petama – tama karena dapat diandalkan melainkan mengingat sumberdayanya (Scott, 1976).

Hubungan terbalik antara sifat dapat diandalkan dan besarnya sumber daya menghadapkan petani, di satu pihak, dengan sesama saudara yang tidak akan segan – segan untuk memberikan kemeja yang sedang dipakainya sendiri namun yang biasanya sama – sama melarat dan, dilain pihak, dengan negara yang lebih mampu untuk membantu namun yang mungkin sekali tidak akan mengakui kebutuhan petani itu sebagai tanggung jawabnya. Jika boleh memilih, petani mungkin lebih suka memenuhi kebutuhannya dengan kekuatan sendiri atau dengan bantuan sanak saudara dan sesama warga desa yang dapat diandalkan, akan tetapi mungkin ia tidak dapat


(26)

memilih, apabila perlindungan yang diberikan oleh lingkungan terdekatnya tidak mencukupi (Scott, 1976).

Selanjutnya jelas pula bahwa, begitu seorang petani mengandalkan kepada sanak- saudaranya atau patronnya daripada kepada sumberdayanya sendiri, maka atas dasar timbal balik ia memberikan kepada mereka hak atas tenaga kerja dan sumberdayanya sendiri. Kerabat dan kawan yang telah menolongnya dari kesulitan akan mengharapkan perlakuan yang sama apabila ia mampu memberikan pertolongan. Begitu pula, dalam konteks desa, norma – norma desa yang menjamin bahwa seorang yang miskin akan mendapat bagian sebidang lahan dari tanah komunal serta makanan, juga mewajibkannya untuk menyumbangkan tenaganya apabila pejabat- pejabat atau pemuka – pemuka desa memerlukannya. Klien yang mengandalkan pada perlindungan dari seorang patron yang lebih berpengaruh, sekaligus juga berkewajiban untuk menjadi anak- buahnya yang setia dan selalu siap melakukan pekerjaan apa saja yang diberikan kepadanya (Scott, 1976).

2.2Rasionalitas petani

Teori rasional berasumsi bahwa setiap manusia pada dasarnya rasional dengan selalu mempertimbangkan prinsip efesiensi dan efektivitas dalam melakukan setiap tindakan. Dengan tetap mengakui adanya determinan factor solidaritas masyarakat petani yang kuat, subsistensi perekonomian (material) dan hubungan produksi masyarakat prakapitalis , namun pengaruh rasionalitas selalu dalam konteks beroperasinya mekanisme kepentingan rasional individu anggota komunitas.


(27)

Menurut Popkin dalam Sairin (2001), desa petani tradisional jauh dari kondisi harmonis dan penuh dengan eksploitasi.Menurut Popkin desa – desa petani lebih tepat dipandang sebagai korporasi, bukan sebagai konum, dan hubungan patron klien harus dilihat sebagai eksploitasi bukan sebagai hubungan paternal.Ketika kaum petani sampai pada kondisi desa yang sekarang ini mereka memiliki, maka desa itu adalah desa yang lebih baik keadaannya daripada desa tradisional, dengan mereka yang terdahulu. Dewasa ini, masyarakat petani tinggal di desa – desa terbuka yang bercirikan:

1. Tanggung jawab pembayaran pajak secara individual 2. Kekaburan batas desa dengan dunia luar

3. Tidak ada atau sedikitnya larangan pemilikan tanah bagi orang luar desa 4. Kekaburan perasaan sebagai warga desa

5. Privatisasi tanah milik

Sebagai kebalikan dari desa terbuka, dahulu kaum petani tinggal di desa – desa tertutup yang dicirikan:

1. Pajak dibayar secara kolektif sebagai tanggung jawab desa 2. Batas yang tegas antara desa dengan dunia luar

3. Adanya larangan pengusahaan tanah sebagai hak milik pribadi 4. Konsep kewargaan desa yang jelas

5. Tanah merupakan hak ulayat desa

Desa tertutup ini bukanlah desa seperti yang dibayangkan kaum ekonomi moral. Pembayaran pajak secara kolektif, ternyata bukan mekanisme untuk


(28)

meringankan beban golongan miskin sebagai aturan pembagian beban pajak diantara warga desa sama sekali tidak jelas. Golongan kaya didesa belum tentu membayar pajak dalam presentase yang lebih besar dari pada golongan miskin.Bahkan bisa jadi justru sebaliknya, golongan kaya memiliki pengaruh untuk memperkecil jatah pajaknya dan melimpahkan sisa pajaknya ke pundak golongan miskin (Sairin, 2001).

Idealisasi desa petani tertutup tidak bisa dipahami jika melaui ekonomi rasional, sebab petani dipandang sebagai makhluk yang rasional.Ia mempertimbangkan berbagai macam alternative yang ada, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahtraan mereka atau paling tidak dapat mempertahankan apa yang sedang dinikmati, baik bagi diri maupun bagi keluarganya. Oleh sebab itu, tidak setuju dengan asumsi ekonomi moral yang menyatakan bahwa para petani enggan mengambil resiko ketika mereka mengevaluasi strategi, dimana mereka lebih suka strategi kecil tapi mendatangkan hasil yang pasti daripada strategi yang bisa menghasilkan yang banyak tapi juga mungkin mendatangkan risiko yang lebih besar yang berupa kegagalan panenan total. Sebaliknya, dalam kenyataannya, menurut ekonomi rasional, para petani melakukan investasi, baik berjangka panjang maupun berjangka pendek, dan dengan demikian mereka melakukan baik investasi berisiko maupun investasi aman. Adapun alternative investasi yang bisa dipilih oleh petani meliputi bentuk anak, ternak, tanah dan bentuk benda milik pribadi atau bentuk milik keluarga atau dengan cara lain mengeluarkan surplus – surplus produksi mereka melalui


(29)

desa, pada program – program asuransi atau kesejahteraan, atau melalui perbaikan desa (Damsar: 2009).

Hubungan patron klien dalam masyarakat petani yang dipandang sebagai bentuk hubungan harmonis yang menjaga kepentingan petani miskin menurut ekonomi moral.Dalam kenyataannya, sebaliknya yang terjadi, kata Popkin, dimana hubungan tersebut ditandai dengan hubungan eksploitatif.Hubungan ini, sebenarnya lebih menguntungkan pihak patron dibandingkan klien. Karena sumberdaya yang diinvestasikan oleh patron bukan hanya untuk memperbaiki keamanan dan subsistensi klien, tetapi juga untuk menjaga hubungan tersebut tetap diadik serta menghambat petani, menghambat keterampilan yang bisa merubah keseimbangan kekuatan (Damsar: 2009).

Hubungan patron klien di desa – desa tertutup sama sekali bukan hubngan timbal balik yang melindungi kepentingan golongan miskin di desa seperti yang diasumsikan oleh aliran ekonomi moral. Hubungan patron klien dalam pendekatan ekonomi politik dianggap sebagai hubungan eksploitasi. Patron selalu berusaha mencegah agar para kliennya tetap terikat secara ekoomis kepadanya tanpa mereka memiliki kemampuan menawar terhadap segala tuntutan yang diajukan oleh patron.Patron bukanlah dewa pelindung golongan miskin (Sairin, 2001).


(30)

Menurut Betrand (1987) dalam Wisadiraha (2004) nilai budaya masyarakat merupakan dasar untuk membedakan kelas sosial secara vertikal. Seorang individu berada pada tingkat superior karena memiliki aktivitas, atribut dan kepemilikan mereka yang lebih bernilai dan sangat dihargai dibanding dengan orang lain. Dengan kata lain, posisi sosial yang lebih bergengsi di dalam masyarakat dan sukar untuk dicapai oleh setiap individu. Posisi pemilik dari suatu kebun yang luas telah ditetapkan untuk menempati posisi diatas pekerja harian. Sedangkan Walikota dari suatu kota berada pada posisi yang sangat bergensi dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya (Wisadiraha, 2004).

Lebih lanjut Betrand (1987) dalam Wisadiraha (2004) mengemukakan bahwa orang – orang yang dikelompokkan bersama oleh karena ranking sosial yang sama, terutama bagi mereka yang mempunyai hubungan akrab, disebut sebagai suatu kelas sosial atau lapisan sosial. Masyarakat terbagi kedalam beberapa kelas secara spesifik yaitu kelas tertinggi, kelas menengah, kelas rendah, kelas pekerja kantor, kelas bisnis, kelas pekerja, para professional dan para petani (Wisadiraha, 2004).

. Hierarki status yang konvensioanal di kalangan orang miskin di pedesaan biasanya adalah: petani-pemilik tanah kecil, petani penyewa, buruh. Sudah tentu kategori – kategori itu tidak bersifat ekslusif, oleh karena biasanya ada petani yang selain memiliki lahan sendiri juga menggarap lahan tambahan yang ia sewa, begitu pula ada buruh yang memiliki lahan sendiri. Meskipun demikian, kategori – kategori itu merupakan realitas sosial dalam hal – hal yang menyangkut preferensi dan status di pedesaan meskipun dalam kenyataannya, dari segi penghasilan, bisa terjadi, dan


(31)

memang terjadi, banyak tumpang – tindih di antara kategori – kategori itu. Petani kecil yang marginal, yang menggarap tanahnya sendiri, umpamanya sering kali lebih miskin dari petani – penyewa yang dapat menyewa lahan yang besar, begitu pula, petani penyewa yang marginal seringkali lebih miskin daripada buruh apabila ada pasaran yang baik untuk tenaga kerja (Scott, 1976).

Pemilik tanah dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada penyewa lahan, dan penyewa lahan dianggap lebih tinggi daripada buruh lepas oleh karena, meskipun dari segi penghasilan mungkin tidak, masing – masing mewakili satu loncatan kuantum dalam kepercayaan terhadap subsistensi.Oleh karena itu, jaminan terhadap krisis merupakan prinsip stratifikasi yang lebih aktif dalam pandangan petani dibandingkan dengan penghasilan.Selain itu, pembedaan – pembedaan di dalam kategori – kategori penyewa dan buruh pada umumnya di dasarkan atas kepastian hak sewa atau lapangan kerja dan besarnya jaminan sosial yang biasanya diberikan oleh pemilik tanah atau majikan (Scott, 1976).

2.4 Teori Pertukaran Sosial

Hubungan patron klien, menurut Scott adalah sebuah pertukaran hubungan antara kedua peran, petani lapisan bawah dan petani lapisan atas yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan dyadic(dua orang) yang terutama melibatkan persahabatan instrumental di mana seorang instrumental seorang individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya yang dimiliki untuk menyediakan perlindungan dan/atau keuntungan –


(32)

keuntungan bagi seseorang dengan status lebih rendah (klien). Pada gilirannya, membalasnya dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan, termasuk jasa pribadi, kepada patron.

Interaksi sosial dalam arus hubungan pertukaran antara patron dengan klien tidaklah berlangsung dalam posisi kesetaraan, karena dominasi kekuasaan dan kepemilikan sumberdaya ada pada patron. Dengan kata lain terdapat ketimpangan dalam hal kekuasaan dan sumberdaya pada kedua belah pihak, sehingga terjadilah pertukaran yang tidak seimbang.

Menurut Peter Blau dalam Ritzer (2004), interaksi sosial mula – mula terjadi di dalam kelompok sosial. Individu tertarik pada suatu kelompok tertentu karena merasa saling berhubungan menawarkan imbalan lebih banyak daripada yang ditawarkan oleh kelompok lain. Karena tertarik pada suatu kelompok tertentu, mereka ingin diterima. Untuk dapat diterima, mereka harus menawarkan imbalan kepada anggota kelompok yang lain. Imbalan ini termasuk pemberian kesan kepada anggota kelompok dengan menunjukkan bahwa anggota yang bergabung dengan anggota baru akan mendapat keuntungan.

Menurut Turner dalam Sunarto (2000), pokok pikiran teori pertukaran sebagai berikut:

1. Manusia selalu berusaha mencari keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan orang lain


(33)

2. Dalam melakukan transaksi social manusia melakukan perhitungan untung-rugi

3. Manusia cenderung menyadari adanya berbagai alternatif yang tersedia baginya

4. Manusia bersaing satu dengan yang lain

5. Hubungan pertukaran secara umum antar individu berlangsung dalam hampir semua konteks sosial dan individu pun mempertukarkan berbagai komoditas tak berwujud seperti perasaan dan jasa.

Menurut Peter Blau dalam Ritzer (2004:369) bila satu orang membutuhkan sesuatu dari orang lain, tetapi tidak memberikan apapun yang sebanding sebagai tukarannya, maka akan tersedia empat kemungkinan, yaitu :

1. Orang itu dapat memaksa orang lain untuk membantunya

2. Orang itu akan mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhannya

3. Orang itu dapat mencoba terus bergaul dengan baik tanpa mendapatkan apa yang dibutuhkan

4. Orang itu mungkin akan menundukkan diri terhadap orang lain dan dengan demikian memberikan orang lain itu “penghargaan yang sama” dalam antarahubungan mereka. Orang lain kemudian dapat menarik penghargaan yang diberikan itu ketika menginginkan orang yang ditundukkan itu untuk melakukan sesuatu.


(34)

Homans berpendapat bahwa pertukaran yang berulang – ulang mendasari hubungan sosial yang berkesinambungan antara orang tertentu. Menurut proposisi ini seorang akan semakin cenderung melakukan suatu tindakan manakala tindakan tersebut makin sering disertai imbalan (Sunarto, 2000). Dalam pola – pola hubungan sosial atau hubungan patron klien antar petani terdapat unsur pertukaran barang atau jasa bagi piahk – pihak yang terlibat. Misalnya pemilik lahan akan memberikan bantuan dana apabila buruh tani tersebut mengalami kesulitan. Begitu pun sebaliknya, buruh tani akan menunjukkan kualitas kerjanya yang terbaik untuk pemilik lahan.


(35)

Bab III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan nilai – nilai secara holistik dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk kata – kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2006:6). Penelitian kualitatif digunakan untuk melihat secara utuh serta berusaha untuk menggambarkan fenomena yang terjadi, maka dengan metode kualitatif peneliti akan mendapatkan data dan informasi yang jelas, mendalam serta terperinci.

Sedangkan pendekatan deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan, memahami, dan menafsirkan makna suatu peristiwa tingkah laku manusia dalam situasi tertentu serta menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya. (Moelong, 2006:46)

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Sipangan Bolon, kecamatan Girsang Sipangan Bolon, kabupaten Simalungun. Adapun yang menjadi alasan peneliti


(36)

melakukan di lokasi ini adalah karena Desa Sipangan Bolon merupakan desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani selain itu Desa Sipangan Bolon merupakan tempat tinggal peneliti sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian karena peneliti sudah banyak mengenal lokasi ini.

3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah hal – hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian atau unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007:76).Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah para petani yang bertempat tinggal di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon kabupaten Simalungun.

3.3.2 Informan

Informan adalah orang – orang yang menjadi sumber informasi dalam melakukan penelitian. Informan penelitian adalah subyek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian (Bungin, 2007:76). Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah masyarakat petani di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon kabupaten Simalungun dengan kriteria sebagai berikut:

1. Petani yang mengolah lahannya sendiri sekaligus menggunakan jasa buruh tani minimal selama 5 tahun


(37)

2. Petani pemilik lahan yang hanya menggunakan jasa buruh tani tanpa ikut bekerja

3. Petani yang bekerja sebagai buruh tani minimal selama 5 tahun

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder

a) Teknik pengumpulan data primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dari lapangan oleh peneliti. Adapun cara memperoleh data primer adalah:

1. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam secara umum adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan social yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan. (Bungin, 2007:108)

2. Observasi

Observasi merupakan pengamatan yang menyeluruh terhadap gejala – gejala sosial yang dilihat dilapangan.Metode observasi adalah metode pengumpilan data


(38)

yang digunkan untuk menghimpun data peneliti melalui pengamatan dan penginderaan. (Bungi, 2007)

b) Teknik pengumpulan data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan data, jurnal, da mengambil bahan dari situs – situs internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan upaya untuk memperoleh arti dan makna yang lebih mendalam dan luas terhadap hasil penelitian yang sedang dilakukan.Pembahasan hasil penelitian dilakukan dengan meninjau hasil penelitian secara kritis dengan teori yang relevan dan informasi yang akurat yang diperoleh dari lapangan (Moleong, 2006:151).

Dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat mengumpulkan banyak data baik dari hasil wawancara, observasi maupun dari dokumentasi.Data tersebut semua umumnya masih dalam bentuk catatan lapangan.Oleh karena itu perlu diseleksi dan dibuat kategori – kategori.Data yang telah diperoleh dari hasil studi kepustakaan juga terlebih dahulu dievaluasi dan data dikelompokkan menjadi datuan yang dapat dikelola.Sedangkan hasil observasi dinarasikan sebagai pelengkap data penelitian. Akhir dari semua proses ini adalah penggambaran atau penuturan dalam bentuk


(39)

kalimat – kaliamat tentang apa yang telah diteliti sebagai dasar dalam pengambilan kesimpulan – kesimpulan (Faisal, 2007:257).

3.6 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian ini mencakup kemampuan dan pengalaman peneliti untuk melakukan penelitian ilmiah.Selain itu terkait erat dengan kelemahan instrument wawancara mendalam. Dalam hal ini terdapat keraguan akan jawaban yang diberikan informan. Kendala laian adalah keterbatasan waktu saat melakukan wawancara dengan informan, hal ini disebabkan oleh kegiatan informan yang sarat akan kesibukan, peneliti harus melakukan wawancara dengan informan pada sore hari setelah mereka selesai melakukan aktivitas mereka dan juga dalam menggunakan bahasa yaitu peneliti harus mengerti dalam bahasa batak toba yang merupakan bahasa keseharian para informan.

3.7 Jadwal kegiatan

Jadwal kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

No Kegiatan Bulan ke

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pra Observasi √

2 Acc Judul Penelitian √

3 Penyusunan Proposal Penelitian √ √ √

4 Seminar Proposal Penelitian √

5 Revisi Proposal penelitian √

6 Penelitian Lapangan dan Interpretasi

Data √ √ √ √

7 Penulisan Laporan Akhir √ √ √

8 Bimbingan √ √ √


(40)

Bab IV

TEMUAN DATA DAN ANALISIS DATA 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Lokasi dan Letak Geografis

Kabupaten Simalungun merupakan salah satu kabupaten yang memiliki daerah yang cukup luas, yaitu dengan luas 4.386,60 Km2 menjadikannya sebagai daerah terluas ketiga setelah kabupaten Madina dan kabupaten langkat.Kabupaten Simalungun terletak pada dataran tinggi, dengan ketinggian antara 200-1500 meter diatas permukaan laut, dengan topografi yang bervariasi antara datar, landai, miring dan terjal.Kabupaten Simalungun terdiri dari 31 kecamatan dan kecamatan Girsang Sipangan Bolon merupakan salah satu kecamatan yang langsung berbatasan dengan kabupaten Tobasa.

Kecamatan Girsang Sipangan Bolon merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten simalungun, Sumatera Utara yang merupakan dataran tinggi dengan ketinggian berkisar antara 600-1600 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon adalah 12.039 Ha atau sekitar 2,74% dari total luas Kabupaten Simalungun. Desa Sipangan Bolon adalah salah satu diantara dua desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang memiliki luas wilayah 3975 Ha dan berbatasan langsung dengan kabupaten Tobasa.

Penggunaan lahan di Desa Sipangan Bolon adalah sebagian besar ladang gembala/hutan 1975 Ha dan kemudian penggunaan lahan perkebunan rakyat yaitu


(41)

1200 Ha, penggunaan lahan pertanian sawah yaitu 200 Ha, penggunaan lahan untuk bangunan/pekarangan yaitu 15 Ha, penggunaan lahan untuk permukiman 100 Ha dan luas prasarana umum lainnya 480 Ha.

Sipanganbolon terdiri dari beberapa Paropo, Sibuttuon, Sitabu, Simandalahi, Simaibang, Suhutmaraja, Paras, Sosordolok, Sibaulangit, Sidasuhut, Porti, Sidahapintu, Sidallogan, Pussu dan Sosorpea. Penduduk asli adal

Sipangan Bolon adalah sebuah desa di kecamat km dari kota kabupaten dan sekitar 182 km dari kota

4.1.2 Batas – Batas Wilayah

Adapun batas – batas wilayah desa Sipangan Bolon adalah sebagai berikut:

• Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tanah Jawa

• Sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir • Sebelah barat bebatasan dengan Kelurahan Girsang


(42)

4.1.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 1

Komposisi Penduduk Berdasarkan jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

1 Laki - laki 440 41,70

2 Perempuan 614 58,19

Jumlah 1055 100

Sumber: Monografi Desa Sipangan Bolon, 2014

Berdasarkan data pada tabel 1 di atas diketahui bahwa komposisi penduduk desa Sipangan Bolon berdasarkan jenis kelamin ialah jumlah penduduk laki – laki sebanyak 440 orang dengan persentase 41, 70 % dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 614 orang dengan persentase sebanyak 58, 19 % dan jumlah penduduk secara keseluruh ialah 1055 orang.

4.1.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Tabel 2

Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

No Agama Jumlah Persentase (%)

1 Protestan 873 83,22

2 Katolik 71 6,76

3 Islam 105 10

Jumlah 1049 100


(43)

Berdasarkan pada tabel 2 di atas dapat di lihat bahwa mayoritas penduduk desa Sipangan Bolon adalah beragama protestan, jumlah penduduk beragama Kristen protestan sebanyak 873 orang dengan persentase 83,22% , penduduk beragama katolik sebanyak 71 orang dengan persentase 6,76 % dan jumlah penduduk beragama islam sebanyak 105 orang sengan persentase 10 %.

4.1.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tabel 3

Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian No Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)

1 Bertani 418 78,71

2 Wiraswasta 78 14,68

3 PNS 24 4,51

4 DLL 11 2,07

Jumlah 531 100

Sumber: Monografi Desa Sipangan Bolon, 2014

Berdasarkan dari data tabel 3 di atas dapat kita lihat komposisi penduduk berdasrkan mata pencaharian. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian ialah, jumlah penduduk bermata pencaharian petani sebanyak 418 orang dengan persentase 78,71 %, wiraswasta sebanyak 78 orang dengan persentase 14,68 %, PNS (Pegawai Negeri Sipil) sebanyak 24 orang dengan persentase 4,51 % dan lain – lain sebanyak 11 orang dengan persentase 2,07 %. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani.


(44)

4.2 Profil Informan Informan 1

Nama : Erita Aritonang

Umur : 47 Tahun

Pendidikan terakhir : SMP

Pekerjaan : Petani buruh langganan

Ibu Erita merupakan salah satu buruh tani yang sudah bekerja selama 29 tahun di Desa Sipangan Bolon. Selain bekerja sebagai buruh tani, Ibu Erita juga sesekali akan bekerja dilahan sendiri yang tidak begitu luas. Ia merupakan buruh langganan maksudnya Ia sudah menjadi pekerja langganan bagi pemilik lahan tertentu tapi tidak menutup kemungkinan Ia bekerja pada pemilik lahan lain. Ia biasanya bekerja pada pemilik lahan seperti memanen kopi, jahe, jagung atau membersihkan lahan pertanian dari rumput. Dengan upah yang diperolehnya sebesar Rp 500.000,- per bulan dari bekerja sebagai buruh tani Ia merasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan jumlah tanggungan sebanyak 2 orang. Tetapi Ia berusaha untuk mencukupkan semuanya dengan ditambah penghasilan dari bekerja diladang sendiri. Menurut Ibu Erita, Ia berhubungan baik dengan majikan atau pemilik lahan yang biasa tempat Ia bekerja. Majikan tersebut telah menganggapnya sebagai bagaian dari keluarga mereka.Hal ini terlihat dari bantuan – bantuan diluar upah yang sering diberikan majikan pada Ibu Erita. Seperti makanan, barang – barang yang sudah tidak


(45)

dipakai oleh majikan namun masih layak pakai dan lain – lain. Begitu juga ketika Ibu Erita mengalami masa krisis dan sangat membutuhkan uang maka majikan akan membantunya dengan memberikan pinjaman atau memberikan upah buruh diawal.

“….orang itu sering ngajak makan sama – sama dirumahnya, mau juga ngasih baju yang bekas tapi masih bagus, kalo aku lagi gak punya uang orang itu maunya minjamin uang”

Dari perkataan Ibu Erita terlihat bahwa majikannya memberikan bantuan padanya. Ini menunjukkan bahwa majikan memiliki tanggung jawab kepada buruh taninya walaupun Ia menggunakan buruh tani langganan.

Informan 2

Nama : Marincen Girsang

Umur : 61 Tahun

Pendidikan terakhir : SD

Pekerjaan : Petani buruh langganan

Bapak Marincen sudah 13 tahun bekerja sebagai buruh tani, sebelumnya Ia bekerja sebagai buruh perusahaan dikota. Setiap bulannya Ia memperoleh penghasilan sebesar Rp 1.300.000,- dengan penghasilan tersebut Ia berusaha mencukupkan semua kebutuhan keluarga..Ia juga membuka lahan dihutan untuk menambah penghasilannya karena Ia tidak memiliki lahan pertanian. Tetapi saat ini untuk bekerja dihutan atau dapat dikatakan dilahan sendiri sudah berkurang karena


(46)

keluarga pak Marincen tidak memiliki tanggungan yang berat hanya 1 orang anak dan istrinya saja karena anak mereka yang lain sudah berkeluarga dan sebagaian lagi sudah memiliki pekerjaan sendiri. Jadi pak Marincen lebih banyak bekerja dilahan orang lain. Pak Marincen merupakan buruh tani langganan, Ia sudah menjadi langganan pemilik lahan tertentu. Menurut Bapak Marincen hubungannya dengan majikannya hanya sebatas hubungan pekerjaan saja. Seperti yang diungkapkannya:

“…..kalo sama pemilik tanah aku cuma sebatas hubungan kerja aja, kalo udah selesai kerja ya udah. Kalo ada kerjaan lagi, aku ditelpon biar kerja lagi”

Walaupun Bapak Marincen menganggap hubungannya dengan pemilik lahan hanya sebatas hubungan kerja namun ketika Bapak Marincen mengalami kesulitan, maka majikan akan membantu bapak Marincen dan keluarga. Bahkan terkadang majikan akan membayar upah Bapak Marincen diawal saat Bapak Marincen membutuhkannya.Hal ini menandakan bahwa pemilik lahan memiliki tanggung jawab terhadap buruh tani yang dipekerjakannya walaupun hanya sebatas buruh tani langganan. Upah Bapak Marincen sebagai buruh tani sebesar Rp 50.000,- per harinya, menurut Bapak Marincen upah tersebut tidak wajar untuk buruh tani karena pekerjaannya begitu berat tetapi Bapak Marincen tidak dapat menuntut karena upah tersebut sudah menjadi standard upah buruh tani di Desa Sipangan Bolon. Tetapi walaupun demikian Ia dan majikan tetap membangun rasa kepercayaan satu sama


(47)

lain. Hal ini dapat terlihat ketika Bapak Marincen bekerja tidak perlu diawasi oleh majikan karena majikan sudah percaya bahwa Bapak Marincen akan memberikan kualitas pekerjaannya yang baik walaupun sudah diberikan upah diawal. Demikian dengan Bapak Marincen juga percaya bahwa majikan akan memperlakukannya dengan baik walaupun Ia hanya buruh tani namun tidak ada unsur eksploitasi yang Ia rasakan.

Informan 3

Nama : Hesti Ambarita

Umur : 42 tahun

Pendidikan terakhir : SMK

Pekerjaan : Petani buruh tetap

Ibu Hesti sudah 34 tahun bekerja sebagai buruh tetap pada salah seorang pemilik lahan. Dengan upah sebesar Rp 50.000,- per hari Ia berusaha mencukupkan semua semua kebutuhan keluarga dengan jumlah tanggungan sebanyak 3 orang anak. Ketika merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, majikan tempat ia bekerja selalu memberikan pinjaman uang kepadanya. Majikan juga akan memberikannya bantuan berupa makanan atau barang – barang selain itu saat akhir tahun majikan akan memberikannya bonus dan memberikan hadiah untuk anaknya berupa baju baru. Diantara mereka sudah terbangun hubungan kepercayaan, ini terbukti saat bekerja mereka tidak diawasi oleh majikannya. Majikan sudah percaya


(48)

bahwa mereka akan mengerjakan dengan maksimal. Selain bekerja diladang sesekali Ibu hesti akan membantu bekerja dirumah majikan saat ada acara tertentu. Ibu Hesti telah merasa tergantung pada majikannya karena apabila Ia tidak bekerja lagi pada majikan ini Ia tidak mempunyai pekerjaan lain.

“…Sangat terbantulah bisa kerja disana karena kadang kalo lagi butuh uang bisa pinjam uang nanti bayarnya pake tenaga. Minjam uang banyak juga dikasih karena orang itu udah percaya sama kita”

Ungkapan Ibu Hesti menandakan bahwa majkan juga percaya padanya dalam memberikan bantuan dalam jumlah yang besar karena Ibu Hesti telah lama bekerja pada majikan atau dikatakan sebagai buruh tetap.Lahan pertanian yang dimilikinya pun tidak begitu luas sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Itulah sebabnya Ia merasa sangat terbantu dengan bekerja sebagai buruh tani pada majikannya saat ini. Sebenarnya Ia merasa upah yang diberikan sebesar Rp 50.000,- per hari belum wajar dengan pekerjaan yang banyak namun kaena itu telah menjadi standart upah buruh Ia tidak dapat memnuntut apa – apa. Selain itu majikan tempat Ia bekerja baik, sehingga akan memberikan bantuan saat membutuhkan.

Informan 4

Nama : Marianti Sirait

Umur : 33 tahun


(49)

Pekerjaan : Petani buruh tetap

Ibu Marianti merupakan buruh tetap pada salah satu pemilik lahan di Desa Sipangan Bolon. Dengan upah sebesar Rp 50.000,- hari Ia merasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan jumlah tanggungan sebanyak 1 orang anak ditambah lagi Ia tidak memiliki suami sehingga harus membiayai anak seorang diri. Untuk menambah penghasilan Ia akan mengolah ladangnya sendiri apabila Ibu Marianti tidak sedang bekerja pada majikan. Alasan Ibu Marianti untuk menjadi buruh tetap karena Ia lebih menyukai bekerja pada satu majikan daripada banyak majikan oleh karena itu hubungan Ibu Marianti dengan majikan seperti hubungan keluarga. Seperti pengakuannya berikut:

“Hubunganku sama majikan tempat aku bekerja baik, mereka menganggapku keluarga mereka.Kalo kerja pun diperlakukan dengan baik. Kalo lagi butuh apa – apa pasti dikasih, kalo mereka panen hasil panennya akan diberi untuk kami makan”

Ia mengantakan bahwa majikannya sudah menganggapnya seperti keluarganya sendiri. Majikan akan selalu memberikan bantuan kepadanya, bahkan ketika majikan sedang mendapatkan keuntungan Ia pun akan diberikan. Pemilik lahan memperlakukannya sewajarnya sebagai seorang buruh yang bekerja dengan loyalitas. Namun Ibu Marianti tidak merasa ketergantungan pada majikan karena Ia mengatakan bahwa apabila Ia tidak dipekerjakan lagi oleh majikannya Ia dapat bekerja pada orang lain


(50)

Informan 5

Nama : Santi Sirait

Umur : 36 Tahun

Pendidikan terakhir : SMP

Pekerjaan : Petani buruh tetap

Ibu Santi sudah 16 tahun menjadi buruh tani. Ibu Santi merupakan buruh tani tetap artinya Ia terikat pada satu majikan dan tidak bebas bekerja pada majikan lain. Ia menjadi buruh tetap karena Ia merasa sudah nyaman dengan satu majikan dan tidak ingin bekerja pada majikan lain. Menurutnya majikannya sudah menganggapnya menjadi bagian dari keluarga karena majikannya begitu mengerti akan kondisi keluarga Ibu Santi bahkan saat keluarga Ibu Santi mengalami kesulitan, majikan akan senantiasa memberikan bantuan. Ada begitu banyak bantuan yang sering diberikan kepada Ibu Santi dan keluarga. Selain dalam bentuk uang, majikan juga akan memberikan barang yang dibutuhkan seperti memberikan pakaian dan sandal untuk anak Ibu santi, memberikan makanan dan pada akhir tahun akan selalu diberikan bonus.

“…………. Orang itu sering ngasih bantuan sama kami, kalo ada makanan dikasih. Mau juga ngasih barang – barang yang bekas tapi masih bagus dan masih bisa dipake. Kalo lagi krisis kita juga sering minjam sama orang itu dan orang itu selalu ngasih pinjam. Kadang juga upah kita dikasih lebih dan


(51)

kalo akhir tahun dikasih bonuslah, anak – anak juga dibelikan baju baru atau sandal”

Ibu Santi mengatakan bahwa majikan sudah begitu mempercayai Ibu Santi, sering sekali selain bekerja diladang majikan, Ibu Santi juga akan mengerjakan pekerjaan rumah majikan seperti: Memasak, mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan rumah dan lain – lain. Oleh karena itu Ia sering diberi upah lebih dari biasanya oleh majikannya. Ibu Santi juga sudah merasa ketergantungan pada majikannya, Ia merasa majikan begitu baik padanya sehingga Ia tidak ingin mencari majikan lain. Sebenarnya gaji Ibu santi kurang lebih Rp 1.300.000,- per bulannya dengan jumalah tanggungan 4 orang anak. Ketika ditanya apakah gajinya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, Ia menjawab

“…… kayak mana lah sebenarnya gak cukupnya gaji ku ini untuk biaya hidup kami, belum lagi adek mu ini sekolah harus naik mobil. Ongkosnya udah dua puluh ribu untuk 2 orang padahal gaji cuma lima puluh ribunya, kalo gaji suami juga berapa lah. Tapi kami cukup – cukupkannya untuk semuanya ditambah lagi kadang kalo lagi sulit kali minta bantuan lah sama tempat aku bekerja”

Ia mengatakan dengan gaji demikian belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga namun dengan bantuan majikan Ia dan keluarga dapat memenuhi kebutuhan mereka.


(52)

Nama : Op. Intan Sirait

Umur : 64 Tahun

Pendidikan terakhir : SD

Pekerjaan : Pemilik lahan

Op. intan sudah bekerja sebagai petani mulai tahun 1990, namun Ia tidak mengerjakan lahannya sendiri karena Ia merasa tidak mampu mengerjakan sendiri karena lahan yang Ia miliki cukup luas. Oleh Karen itu Ia mengunakan jasa buruh tani. Ia memiliki buruh tetap sebanyak 8 orang, alasannya untuk menggunakan buruh tetap karena Ia sedah mengenanl dekat para buruhnya jadi terbangun kepercayaan diantara mereka. Hal ini terlihat ketika para buruh bekerja diladang Op Intan, mereka tak perlu diawasi oleh Op Intan.Ia cukup memberikan perintah untuk bekerja, para buruh sudah mengerti dan mengerjakan dengan baik. Itulah yang membuat Op Intan merasa sangat membutuhkan tenaga mereka, sehingga apabila para buruh berhenti bekerja padanya maka Ia akan mengalami kesulitan dalam mencari pengganti para buruhnya. Buruh tani yang bekerja padanya akan diberikan upah Rp 50.000,- perharinya sesuai dengan standart upah yang berlaku di Desa Sipangan Bolon, tetapi biasanya upah buruh tani akan diberikan Op Intan sekali seminggu. Sampai saat ini hubungan antara Op intan sebagai pemilik lahan dengan para buruh tani yang bekerja dilahannya berjalan dengan baik, namun Op Intan menganggap bahwa hubungan yang terjalin antara mereka hanya sebatas hubungan pekerjaan saja.


(53)

“……kalo sama orang itu cuma hubungan kerja. Orang itu datang pagi nanya kerjaan trus pergi kerja. Gitu- gitu terus, nanti datang lagi kalo mau minta gaji atau mau minta pinjaman uang”

Jadi ternyata ketika pemilik lahan atau Op Intan sudah memiliki kepercayaan terhadap buruh tani dan sudah merupakan buruh tani tetap namun Op Intan menganggap bahwa hubungan yang terbentuk diantara mereka hanya sebatas hubungan kerja saja.Ketika pagi hari para buruh tani akan datang kerumah Op Intan untuk menyanakan pekerjaan yang akan mereka kerjakan lalu sore hari akan balik membawa hasil apabila mereka memanem tanaman, namun apabila tidak mereka akan kembali lagi saat akhir pekan hanya untuk meminta upah mereka. Walaupun demikian Op Intan tetap memberikan bantuan apabila para buruhnya meminta bantuannya.

Informan 7

Nama : Sarma Sirait

Umur : 50 Tahun

Pendidikan terakhir : S2

Pekerjaan : Kepala sekolah dan pemilik lahan

Ibu Sarma merupakan seorang kepala sekolah disalah satu sekolah mengengah kejuruan (SMK) dengan penghasilan sebesar Rp 7.000.000,- perbulan. Ibu Sarma juga memiliki lahan pertanian yang luas, namun kerena kesibukannya sebagai kepala


(54)

sekolah Ia tidak dapat mengolah lahannya sendiri. Untuk itu Ibu Sarma menggunakan jasa buruh tani untuk mengerjakan lahan pertaniannya.Ia sudah menggunakan jasa buruh tani selama 20 tahun dengan buruh tani tetap sebanyak 10 orang. Namun kadang – kadang ketika pekerjaan banyak atau saat musim panen Ibu Sarma menambah buruh taninya sebanyak 5 orang .5 orang tambahan ini menjadi buruh langganan Ibu Sarma saat musim panen. Menurut ibu Sarma Ia dan para buruhnya berhubungan baik. Bahkan Ibu Sarma sudah menganggap para pekerjanya sebagai bagian dari keluarga mereka. Oleh karena itu cara memperlakukan mereka pun baik. Seperti halnya upah yang berlaku di Desa Sipangan Bolon sebesar Rp 50.000,- per hari nya tanpa diberi makan namun karena Ibu Sarma sudah berhubungan dekat maka tidak jarang Ia memberikan makan untuk para buruh yang bekerja padanya diluar upah yang seharusnya. Selain itu Ia juga sering membantu para buruhnya yang mengalami kesulitan seperti memberikan bantuan dana atau memberi gaji para buruh diawal sebelum mereka bekerja.

Ibu Sarma mengatakan:

“……aku gak taunya gimana keadaan diladangku, orang kerja itunya yang melapor sama aku kalo jagungnya udah bisa dipanen, cabe atau banyak kopi yang merah. Orang itunya yang buat kerjanya sendiri diladangku istilahnya mengolah langsung.Aku Cuma ngasih gaji aja.Kalo udah panen hasilnya dibawa kerumah untuk dijual, aku percaya orang itu gak mungkin membohongi aku karna udah lama kerja sama aku”.


(55)

Ibu Sarma merasa beruntung memiliki pekerja tetap karena Ia sudah mengenal dan percaya pada kinerja para buruhnya.Ini dapat terlihat ketika para buruh bekerja tidak perlu diawasi olehnya, para buruh akan mengerjakan dengan baik bahkan sering para buruh akan memberikan saran yang terbaik untuk tanaman yang ada diladang Ibu Sarma.

Karena kesibukannya Ia tidak dapat melihat kondisi ladanngnya namun para buruh akan selalu memberitahu perkembangan tanamannya. Ketika ada yang akan ada dipanen atau akan diberi pupuk para buruh akan memberitahu sehingga Ibu Sarma dapat mengetahui kondisinya dan dapat memerintahkan agar para buruhnya segera mengerjakannya. Namun perlakukan yang diberikan kepada buruh langganan tidaklah sama dengan perlakukan yang diberikan pada buruh tetap.

Informan 8

Nama : Op. Nancy Sinaga

Umur : 60 Tahun

Pendidikan terakhir : SD

Pekerjaan : Pengusaha dan pemilik lahan

Op. Nancy adalah seorang pengusaha di Desa Sipangan Bolon tetapi Ia juga mempunyai lahan pertanian yang tidak bisa Ia kerjakan sendiri. Oleh karena itu untuk membantunya mengerjakan lahan pertanianya maka ia menggunakan jasa buruh tani. Ia telah menggunakan jasa buruh tani selama 20 tahun. Ia mengguanakan jasa buruh


(56)

tani tetap dan langganan, nuruh langganan Ia gunakan saat musim panen. Ia mempekerjakan buruh tetap sebanyak 5 orang dan buruh langganan sebanyak 2 orang. Op Nancy mengaku bahwa Ia menganggap para pekerjanya sebagai keluarganya karena mereka yang selalu membantu pekerjaannya. Maka ia memperlakukan baik pada buruhnya. Sering kali ia memberikan makan pada pekerjanya diluar upah yang harus ia bayar, selain itu Ia juga akan memberikan bantuan – bantuan berupa barang kebutuhan pekerjanya atau makanan. Pada saat akhir tahun ia akan memberikan bonus dan pada anak buruhnya Ia akan memberikan baju baru, sandal dan lain – lain. Ketika ditanya mengapa Ia begitu baik pada para buruhnya Ia mengatakan bahwa ini dilakukan karena Ia merasa berterimakasih pada buruhnya karena telah setia bekerja padanya, selain itu Ia juga merasa kasian pada buruhnya sehingga ia sering memberikan lebih bahkan apabila buruhnya mengalami kesulitan Ia akan dengan senang hati memberi bantuan dana. Hal ini terlihat dari perkataan Op Nanchy

“…..kayak mana ya, kita kasian liat orang itu, orang susah makanya kita bantu. Kalo orang itu butuh duit kasih pinjam, dikasih barang – barang yang masih bagus tapi gak dipake lagi, sering juga ngasih bonus kalo akhir tahun.Anak – anakya juga kubelikan baju, sandal”.

Tidak jarang juga para buruh tetap meminjam uang padanya dalam jumlah yang besar atau meminta upah diawal. Op Nanchy akan senang hati membantu para buruhnya namun berbeda perlakuan yang Ia berikan kepada buruh langganan sebagai contoh dalam hal meminjamkan uang Op Nanchy tidak percaya memberikan


(57)

pinjaman dalam jumlah yang besar. Hal ini terlihat dari perkataan Op Nanchy yang mengatakan

“……aku kalo sama pekerja ku yang gak tetap gak mau ngasih uang pinjaman banyak – banyak, paling banyak aku kasih pinjam dua ratus ribulah, karna gak percaya aku orang itu mau mulangkan”

Op Nanchy selalu berusaha untuk membuat para buruhnya merasa nyaman bekerja padanya sehingga para buruh pun akan tetap setia bekerja padanya. Op Nancy mengaku bahwa para buruhnya telah menunjukkan loyalitasnya sebagai pekerja. Para buruhnya telah memberikan hasil kerja yang baik oleh karena itu saat para buruh kerja tidak perlu diawasi oleh Op Nancy karena Ia sudah percaya pada kualitas kerja buruhnya. selain bekerja diladang para buruh juga akan membantu Op Nanchy bekerja dirumah Op Nanchy mengerjakan perkerjaan rumah seperti memasak, memcuci pakaian, membersihkan rumah dan lain – lain.

Informan 9

Nama : Ibu Devi Sirait

Umur : 47 tahun

Pendidikan terakhir : SMP


(58)

Ibu Devi merupakan seorang wiraswasta yang juga memiliki lahan pertanian yang dikerjakan oleh buruh tani karena ia tidak memiliki waktu untuk mengolah lahan pertanianya. Buruh tetap yang bekerja padanya ada 4 orang, dan yang lain merupakan buruh bebas. Ibu Devi merasa berterimakasih pada para buruhnya yang telah menunjukkan kualitas kerja yang baik,oleh karena itu Ia sering memberikan bantuan diluar upah yang seharusnya. Ia akan memberikan bantuan berupa beras, ikan atau sekedar meminjamkan uang. Ia percaya pada para buruhnya. para buruhnya akan memberitahu Ibu Devi setiap perkembangan diladangnya, saat sudah saatnya panen akan memberitahu padanya. Seperti yang dinyatakannya berikut:

“…..orang itu biasanya bilang sama aku kalo udah banyak kopi yang merah jadi aku tinggal nyuruh aja biar diambil orang itu. Biasanya memang gitu, selalu orang yang kerja diladangku nya yang bilang kalo ada yang udah bisa dipanen atau ada yang harus dibersihkan”.

Dari ungkapan Ibu Devi terlihat bahwa Ibu Devi telah percaya sepenuhnya pada buruh taninya mengenai perkembangan ladangnya dan buruh tani pun sudah menganggap lahan majikannya sebagai lahan sendiri sendiri mereka merawat lahan majikan seperti merawat lahan sendiri.Hal itulah yang disenangi Ibu Devi dari para buruh taninya.

Informan 10 Nama : Gomson Sinaga


(59)

Pendidikan terakhir : SMA

Pekerjaan : Petani buruh bebas

Bapak Gomson merupakan salah seorang buruh tani bebas yang ada di Desa Sipangan Bolon. Bapak Gomson biasanya akan diupah secara harian ataupun borongan. Bapak Gomson bekerja pada beberapa pemilik lahan, tidak terikat pada satu pemilik lahan. Pemilik lahan mana saja yang membutuhkan, maka Ia akan dipanggil untuk bekerja. Namun menjadi seorang buruh tani bebas bukanlah satu – satunya pekerjaan Bapak Gomson, apabila Ia tidak bekerja pada pemilik lahan maka Ia akan mengerjakan lahannya sendiri. Walaupun lahannya tidak begitu luas dan ditambah penghasilan dari menjadi seorang buruh tani bebas telah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan jumalah tanggungan sebanyak 4 orang.Jika dirata – ratakan penghasilan Bapak Gomson sebesar Rp 1.500.000,-. Bapak Gomson mengaku hubungannya dengan pemilik lahan tempat Ia bekerja hanya sebatas hubungan kerja, Ia tidak begitu dekat dengan pemilik lahan. Ia pun mengaku kalau Ia tidak pernah menerima bantuan. Bapak Gomson juga mengatakan bahwa pemilik lahan biasanya akan dekat dengan buruh tani tetap ataupun langganan. Dalam bekerja sebenarnya Bapak Gomson memilih kepada siapa Ia akan bekerja, apabila ada pemilik lahan yang menawarkan Ia bekerja dilahannya namun pemilik lahan tergolong orang yang pelit maka Bapak Gomson tidak menerima pekerjaan tersebut. Ungkapan Bapak Gomsom:


(60)

“aku gak mau minjam uang sama tempatku bekerja. Kalopun lagi butuh aku minjam sama orang lain karna nanti jadi disitu terus aku kerja”

Ketika Bapak Gomson mengalami kesulitan Ia tidak meminta bantuan pada pemilik lahan tempat Ia bekerja, Ia akan mengusahakan dari yang lain. Alasan Bapak Gomson ialah karena Ia tidak mau tergantung pada pemilik lahan, sebagai contoh apabila Ia meminjam uang pemilik lahan tempat Ia bekerja maka pemilik lahan secara sengaja akan mengeksploitasi tenaganya untuk terus bekerja dilahannya. Dengan upah sebesar 50 ribu per hari sebenarnya Bapak Gomson merasa kurang pantas karena tenaga yang dikeluarkan banyak untuk mengerjakan lahan tetapi 50 ribu juga menjadi standart upah didesa ini.

4.3 Analisis Data

4.3.1 Analisis Kondisi Masyarakat

Dalam pemenuhan kebutuhan sehari – hari kemampuan masing – masing petani berbeda, tergantung pada penghasilan yang mereka dapatkan baik sebagai petani maupun dari pekerjaan lain diluar pekerjaan sebagai petani. Masyarakat petani sebagian besar berpendidikan rendah, sedangkan jumlah anak cukup banyak.Pendapatan yang relatif tidak banyak itu menyebabkan pilihan – pilihan kebutuhan yang harus dipenuhi menjadi terbatas. Akibatnya mereka harus memenuhi kebutuhan – kebutuhan dasar tertentu terutama kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal.


(61)

Keadaan ekonomi mereka yang rendah membuat harus berpikir dan bekerja keras untuk menutupi kebutuhan hidup.Padahal untuk dapat memperoleh tingkat dan jenis pekerjaan yang dapat memberikan fasilitas – fasilitas sosial dan ekonomi yang dibutuhkan sangatlah dipengaruhi oleh tingkat dan jenis pendidikan yang dimiliki.

Keadaan ekonomi yang relatif kurang baik itu, mendorong mereka mencari dan memperoleh penghasilan tambahan dengan melakukan kegiatan yang diarahkan pada usaha menutupi kebutuhan hidup sehari – hari.Gejala ini terlihat pada sikap mereka yang tidak segan – segan menggeluti pekerjaan yang tidak dikategorikan pekerjaan baik, diantaranya buruh tani (Sunarti, 1990: 90- 91).

Para petani di Desa Sipangan Bolon hidup sangat sederhana, penghasilan mereka sebagai petani hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan menyekolahkan anak – anak mereka.

Para petani menunjukkan adanya sikap dan perilaku subsisten dalam proses pemenuhankebutuhan hidup sehari-hari. Hal prinsip dan penting bagi petani adalah bagaimana upaya agar pendapatan yang mereka peroleh hari ini cukupuntuk memenuhi kebutuhan hidup hari ini. Jika ada surplus maka petani umumnyatidak menyimpan surplus tersebut dalam bentuk tabungan di Bank, tetapi hanyadisimpan sementara waktu di rumah, karena mereka akan segera membelanjakanuntuk keperluan sekunder rumah tangga atau untuk membiayai kegiatan penanamanberikutnya. Menyimpan uang tunai di rumah juga dimaksudkan untuk antisipasi jikasewaktu-waktu ada undangan untuk menghadiri acara adat seperti pesta


(62)

pernikahan,kematian dan lain – lain dimana mereka harus mengeluarkan uang tunai untuk memenuhi keperluan tersebut. Berapa pun jumlahnya, yang penting uang harus tersedia, terutama untuk memenuhikebutuhan dalam aktivitas sosial dan ritual.

Ada berbagai jenis petani di Desa Sipangan Bolon, diantaranya petani pemilik lahan, petani pemilik sekaligus penggarap, petani penyewa lahan dan buruh tani. Namun yang akan lebih dibahas disini ialah petani pemilik lahan dan buruh tani.

Pemilik lahan adalah petani yang memiliki lahan cukup luas namun karena memiliki pekerjaan lain Ia tidak dapat mengerjakan lahannya sehingga Ia membutuhkan jasa buruh tani. Pemilik lahan mempunyai lahan tidak begitu saja namun ada 2 macam cara perolehan lahan sampai saat ini masih berlaku dikalangan masyarakat. Ada warga yang memperoleh tanah dari warisan orang tuanya, ada juga yang diperoleh dengan cara membeli tanah dari warga yang lain. Luas pemilikian tanah yang diperoleh dari warisan antara warga penduduk yang satu dengan yang lain juga berbeda, tergantung pada luas tidaknya tanah yang dimiliki orang tua. Kalau orang tua mereka memperoleh warisan tanah yang cukup luas, maka si anak akan memperoleh warisan tanah yang cukup luas. Sebaliknya bila orang tuanya hanya memiliki tanah yang tidak luas tentunya mereka juga akan memperoleh warisan tanah tidak begitu luas. Mungkin mereka hanya menerima lahan seluas kurang dari satu hektar.

Kemudian, bila dilihat dari tingkat perekonomiannya, maka warga yang cukup mampu dan mempunyai modal yang besar dengan mudah memperoleh atau menambah lahannya dengan cara membeli lahan dari orang lain yang kebetulan akan


(1)

Bab V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari penelitian tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Patron klien adalah sebuah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dikatakan sebagai pertukaran hubungan yang tidak seimbang atau setara dimana seorang individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya yang dimilikinya untuk menyediakan perlindungan dan keuntungan – keuntungan bagi seorang dengan status lebih rendah (klien).

2. Hubungan patron klien terbentuk ketika patron dan klien sudah berhubungan sangat lama dan dekat. Semakin dekat buruh tani dengan pemilik lahan, maka pemilik lahan akan memberi bantuan lebih banyak daripada yang lain yang kurang dekat. Hubungan patron klien itu sendiri akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, karena untuk membangun terciptanya hubungan patron klien itu pun dibutuhkan waktu yang cukup lama.

3. Pada masyarakat Desa Sipangan Bolon, para petani juga menciptakan sebuah hubungan antar pemilik lahan dengan buruh tani. Hubungan patron klien ini terlihat dari adanya pertukaran yang tidak seimbang dimana klien akan memberikan jasanya berupa tenaga kepada patron untuk mengerjakan lahan pertaniannya. Sedangkan patron akan membalasnya dengan memberikan


(2)

upah, memberikan bantuan dalam bentuk barang dan bahkan akan memberikan jaminan atau perlindungan kepada kliennya. Pemilik lahan disini sebagai patron yaitu sebagai pelindung atau pemberi jaminan, sedangkan buruh tani yang akan menerima jaminan tersebut.

4. Buruh tani digambarkan seperti seorang anak yang menggantungkan hidupnya pada ayahnya, demikian juga buruh tani menggantungkan hidupnya pada bantuan majikannya atau pemilik lahan. Sedangkan pemilik lahan harus memiliki tanggung jawab atas nasib buruh tani yang telah bekerja padanya, Pemilik lahan memberi bantuan kepada buruh tani bukan hanya sekedar merasa kasihan tapi karena pemilik lahan menyadari bahwa Ia harus membalas bantuan yang telah Ia terima sebelumnya. Buruh tani telah membantu pemilik lahan mengerjakan lahannya dengan baik sehingga pemilik lahan merasa berterimakasih atas loyalitas yang telah diberikan buruh tani padanya.

5. Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani berbeda – beda, tergangtung pada jenis buruh tani. Semakin dekat hubungan antara keduanya maka hubungan patron klien akan semakin terlihat.

6. Seorang buruh tergantung pada pemilik lahan bukan karena Ia merasa berhutang budi pada pemilik lahan, namun sebenarnya buruh tani merasa dirinya telah dieksploitasi oleh pemilik lahan namun karena tidak memiliki pekerjaan lain maka buruh tani akan tetap bertahan bekerja pada pemilik lahan untuk bertahan hidup selain itu buruh tani juga telah terikat pada pemilik lahan karena Ia memiliki sejumlah hutang yang harus dibayar pada pemilik


(3)

lahan dan untuk membayar itu maka buruh tani harus bekerja pada pemilik lahan tersebut

5.2 Saran

1. Untuk para pemilik lahan agar tidak membeda – bedakan perlakuan terhadap para buruh walaupun buruh tetap, langganan ataupun bebas karena mereka sama – sama membutuhkan perlindungan.

2. Para buruh tani agar tidak memilih – milih dalam bekerja pada suatu ladang atau lahan atau tidak melihat pemilik lahannya dalam mengerjakan semua pekerjaan sehingga para pemilik lahan tidak kesulitan dalam mencari pekerja 3. Hendaknya pemilik lahan dan buruh tani saling merasa ketergantungan antara

keduanya, tidak hanya sepihak agar tidak menimbulkan eksploitasi diantara salah satu pihak


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Antlov, Hans. 2002. Negara Dalam Desa- Patronase Kepemimpinanan Lokal.Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Damsar. 1997. Sosiologi Ekonomi. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada

Damsar. 2009.Sosiologi Ekonomi. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada

Data Monografi Desa, 2014. Desa Sipangan Bolon Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun. Sumatra Utara.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Faisal, Sanafia. 2007. Format – Format Penelitian Sosial. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Kausar.2009. Sistem Birokrasi Pemerintah di Daerah Dalam Bayang – Bayang Budaya Patron Klien.Bandung: PT Alumni

Moleong, Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Karya

Putra, Heddy Shri Ahimsa dkk.2003.Ekonomi Moral, Rasional dan Politik. Yogyakarta: KEPEL Press

Rahardjo.1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.


(5)

Ritzer, George dkk. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: kencana

Sairin, Sjafri.dkk.2001. Pengantar Antropologi Ekonomi. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset

Scott, James C. 2000. Senjatanya Orang – Orang yang Kalah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Scott, James C. 1976. Moral Ekonomi Petani.Jakarta: LP3ES

Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT Refika Aditama

Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sunarti dkk, 1990.Masyarakat Petani, Mata Pencaharian Sambilan dan Kesempatan Kerja.Jakarta:Depatermen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tjondronegoro, Sedionan M.P. 1998. Keping – Keping Sosiologi dari Pedesaan. Jakarta:

Wisadirana, Darsono. 2004. Sosiologi Pedesaan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.


(6)

Hakim, Abdul.Krisis Ekonomi dan Hubungan Patron-Klien dalam Masyarakat Pedesaan.Jurnal Fakultas Ilmu Administrasi dan Program Pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.

Hefni, Moh. 2009. Patron-Client Relationship pada Masyarakat Madura. Jurnal Karsa, 15(1)

Rustinsyah.2011. Hubungan Patron-klien dikalangan petani Desa Kebonrejo.Surabaya. Departemen Antropologi Fisip Universitas Airlangga. 24(2):176-182

Website

http//etnobudaya.net/2008/07/31/hubungan-patron-klien/ (diakses tanggal 11 Februari 2015 pukul 13:40)


Dokumen yang terkait

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 37 93

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 10

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 2

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 9

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 13

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 10

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 2

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 9

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 13

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

0 0 3