PENDAHULUAN Analisis Spasial Perkembangan Ekonomi Wilayah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2008-2014.

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka yang panjang, disertai dengan perubahan ciri-ciri penting suatu masyarakat, yaitu perubahan dalam hal teknologi, pola pikir masyarakat maupun kelembagaaan.

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan pertumbuhan ekonomi dalam wilayah tersebut. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumber daya yang ada harus mampu menaksir potensi sumber daya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah (Arsyad, 1999).

Pemerintah melalui UU No.32 Tahun 2004 tentang “Pemerintah Daerah” dan UU No.33 Tahun 2004 tentang “Perimbangan Keuangan antar Pemerintah Pusat dan Daerah”, mengenai pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk merencanakan dan mengelola pembangunan daerahnya masing – masing berdasarkan potensi dan permasalahan wilayah.

Undang-Undang tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi daerah, karena terjadinya pelimpahan kewenangan dan pembiayaan yang selama ini merupakan tanggung jawab Pemerintah Pusat. Kewenangan tersebut mencakup seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, agama, serta moneter dan fiskal. Kewenangan pembiayaan, yaitu daerah dapat menggali sekaligus menikmati sumber-sumber potensi ekonomi, serta sumber daya alam tanpa ada intervensi dari Pemerintah Pusat.


(2)

Kabupaten Sukoharjo selama beberapa tahun terakhir ini terus mendorong berbagai sektor untuk memacu pertumbuhan ekonomi masyakarat. Menjadi bagian dari sebuah kawasan dinamis yang disebut Solo Raya, Kabupaten Sukoharjo memiliki strategi tetap tangguh di sektor pertanian, namun terus memacu tumbuhnya industri manufaktur yang memberi nilai tambah lebih besar. Seiring dengan meningkatnya kesejateraan rakyat Indonesia, termasuk penduduk Jawa Tengah, jumlah warga yang membelanjakan uangnya untuk berwisata semakin banyak. Begitu pula nilai rupiahnya yang dibelanjakan untuk berbagai kegiatan, seperti membeli barang dan jasa, juga bertambah besar.

Majunya perekonomian suatu daerah diukur menggunakan pertumbuhan ekonominya atau perkembangan jumlah PDRB, jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat meningkat setiap periodenya. Diperlukan pengembangan sektor sektor unggulan guna meningkatakan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Namun semakin tingginya rata-rata pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan menimbulkan masalah lain berupa ketidak merataan pendapatan. Ketimpangan pendapatan antar kabupaten atau daerah disebabkan karena adanya perbedaan potensi sumber daya manusia, infrastruktur dan potensi sumber daya alamnya. Ketimpangan yang tinggi dapat membawa dampak yang buruk terhadap kestabilan ekonomi. Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang selalu memasuki daerah potensial. Upaya untuk mengatasi ketimpangan pendapatan dengan mendorong perekonomian Sukoharjo melalui pengembangan sektor-sektor yang unggulan. Selain itu diharapkan Kabupaten Sukoharjo mampu berpindah ke zona daerah prima untuk kedepannya.

Dalam mewujudkan struktur ekonomi yang kuat dalam pembangunan ekonomi regional perlu adanya keseimbangan dan keserasian yang ideal antara berbagai sektor yang ada. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terdiri atas 9 (sembilan) sektor, yaitu (1) sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; (2) pertambangan dan penggalian; (3) industri pengolahan; (4) listrik, gas, dan air bersih; (5) bangunan dan konsturksi; (6) perdagangan, hotel dan restoran; (7)


(3)

pengangkutan dan komunikasi; (8) keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan (9) jasa-jasa.

Sebagai salah satu simpul pengembangan wilayah propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Sukoharjo berkembang seiring dengan wilayah-wilayah lain yang berbatasan dengan wilayahnya, yaitu kotamadya Surakarta, kabupaten Boyolali, dan kabupaten Karanganyar. Beberapa kegiatan dalam skala besar telah tumbuh dan berkembang di Kabupaten Sukoharjo seperti industri, perdagangan , perumahan, dan pariwisata, yang memberikan dampak pada tatanan ruang Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya. Pemerintah propinsi Jawa Tengah merencanakannya sebagai wilayah pengembangan terpadu dengan sebutan kawasan “SUBOSUKA” (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, dan Karanganyar).

Tebel 1

Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto SUBOSUKOWONOSRATEN tahun 2008-2013 (persen)

Kabupaten/ Kota 2008 2009 2010 2011 2012 2013

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Surakarta 5,69 5,90 5,94 6,01 6,12 5.89

Klaten 3,93 4,24 1,73 1,96 5,54 5.79

Boyolali 4,04 5,16 3,60 5,3 5,66 5.43

Wonogiri 4,27 4,73 5,87 2,03 5,89 4.36

Karanganyar 5,75 4,56 5,42 5,50 5,66 5.38

Sragen 5,69 6.01 6,06 6,53 6,60 6.64

Sukoharjo 4,84 4,76 4,65 4,59 5,03 5.01

Jawa Tengah 5,46 4,71 5,84 6,01 6,34 5.81

Nasional 6,0 5,5 6,1 6,5 6,23 5.78

Sumber : PDRB Kabupaten Sukoharjo 2013

Dari tabel 1 terlihat ketujuh kabupaten/kota di wilayah SUBOSUKOWONOSRATEN, hanya ada satu kabupaten yang mengalami


(4)

pertumbuhan ekonomi diatas pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (5.81 persen) yaitu Kabupaten Sragen (6,64 persen). Sedangkan enam kabupaten/kota lainnya mengalami pertumbuhan ekonomi namun mengalami penurunan dari tahun sebelumnya adalah Kota Surakarta sebesar 5.89 persen, Kabupaten Karanganyar sebesar 5,38 persen, Kabupaten Boyolali sebesar 5,43 persen, Kabupaten Wonogiri sebesar 4.36 persen, Kabupaten Klaten sebesar 5,79 persen dan Kabupaten Sukoharjo sebesar 5,03 persen.

Tabel 2

Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sukoharjo tahun 2008-2014 (Persentase)

No Lapangan Usaha 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1 Pertanian 19.54 19.51 19.49 19.19 19.01 18.46 17.58

2 Pertambangan & Penggalian

0.81 0.77 0.74 0.71 0.66 0.68 0.67

3 Industri Pengolahan 29.52 29.10 28.46 28.68 28.50 30.01 30.07 4 Listrik, Gas & Air

Bersih

1.73 1.75 1.80 1.76 1.80 1.15 1.18

5 Bangunan 5.02 5.19 5.31 5.26 5.35 4.52 4.60

6 Perdagangan, Hotel & Restoran

25.78 25.83 25.83 25.89 26.06 28.29 28.86

7 Pengangkutan & Komunikasi

5.78 5.69 5.71 5.57 5.58 4.57 4.57

8 Keuangan, Sewa & Jasa Perusahaan

3.47 3.57 3.71 3.71 3.72 3.68 3.77

9 Jasa – jasa 8.36 8.58 8.95 9.23 9.32 8.65 8.71

PDRB 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Sumber : PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2014

Dari tabel 2 dapat diketahui Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sukoharjo dari tahun 2008 sampai tahun 2014. Selama 7 tahun terakhir sektor industri pengolahan masih merupakan sektor yang memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian di Kabupaten Sukoharjo. Hal ini terlihat dari agregat pembentuk PDRB sektor industri pengolahan


(5)

memberikan sumbangan terhadap PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2014 sebesar 30.07 persen mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai sebesar 30.01 persen .

Tabel 3

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Sukoharjo Tahun 2008-2014 (Juta Rupiah)

No Lapangan

Usaha

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1 Pertanian 920 118.11 965 400.22 984 814.91 993 208.78 1 035023.34 1 060 291.90 1 059 329.90

2 Pertambangan & Penggalian

35 355.30 35 906.84 36 474.70 36 894.16 37 443.80 38 995.26 40 669.34

3 Industri Pengolahan

1 359291.24 1408 382.28 1480 402.70 1 568341.15 1 636744.39 1 723 155.68 1 813 182.17 4 Listrik, Gas &

Air Bersih

46 449.85 50 074.96 53 427.59 56 542.72 61 114.42 66 177.02 70 889.43

5 Bangunan 190 859.79 201 611.00 214 766.54 228 472.85 243 338.80 259 516.69 277 509.67

6 Perdagangan, Hotel & Restoran

1 263767.82 1326 585.19 1392 283.89 1 460757.80 1 539172.65 1 624 500.62 1 739 800.95

7 Pengangkutan & Komunikasi

198 992.58 209 254.79 221 825.63 234 225.89 247 554.73 262 353.38 275 538.32

8 Keuangan, Sewa & Jasa

Perusahaan

156 912.96 166 275.53 177 255.59 184 379.33 196 098.23 211 339.91 227 192.34

9 Jasa – jasa 369 003.89 393 411.68 417 011.77 443 865.01 472 218.60 496 546.46 525 008.11

PDRB 4 540751.53 4756 902.50 4978 263.31 5 206687.70 5 468708.95 5 742 876.93 6 029 120.24

Sumber : PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2014

Dari tabel 3 dapat diketahui produk domestik regional bruto menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan 2000 Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2014, tertinggi adalah sektor industri pengolahan sebesar Rp. 1813182.17, diikuti sektor Perdagangan, Hotel & Restoran sebesar Rp. 1739800.95, sektor Jasa – jasa sebesar Rp. 525008.11, sektor Pengangkutan & Komunikasi sebesar Rp. 275538.32, dan yang terkecil adalah sektor pertambangan sebesar Rp. 40 669.34. dari beberapa sektor tersebut mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan tahun sebelumnya


(6)

Tabel 4

Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangtan Usaha

Kabupaten Sukoharjo Per Kecamatan Tahun 2014 (Persentase)

Lapangan usaha

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)

1. Pertanian 49,53 51,80 43,05 7,71 33,63 45,20 35,65 27,54 3,39 30,27 30,21 6,41 2. Pertambangan & Penggalian 0,02 0,02 0,04 0,00 0,01 0,18 0,21 9,04 0,00 0,00 0,01 0,00 3. Industri Pengolahan 2,52 0,30 6,15 42,67 3,75 1,90 1,00 13,64 49,45 0,00 16,82 37,79 4. Listrik, Gas & Air Bersih 0,08 0,10 0,17 1,10 0,15 0,07 0,17 0,28 2,12 0,22 0,31 2,02

5. Bangunan 1,87 0,86 2,28 4,30 1,48 4,16 13,22 3,14 5,45 2,49 7,52 4,31

6. Perdagangan, Hotel & Restoran

30,31 32,52 31,78 26,47 37,99 28,91 27,17 27,53 27,95 32,97 7,52 30,72

7. Pengangkutan & Komunikasi

3,55 2,35 4,88 2,84 5,66 3,24 4,95 6,50 5,08 8,27 6,39 4,58

8.Keuangan, Sewa & Jasa Perushaan

1,71 5,64 2,92 10,41 3,27 4,03 2,61 1,70 1,06 3,67 3,57 1,51

9. Jasa – jasa 10,42 6,41 8,74 4,49 10,78 12,31 15,01 10,61 5,50 15,09 12,09 12,66 PDRB 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

WER U BU LU TA WA N GS A R I SU KOHA R J O BEN D OSA R I N GU TER P OLOKA R TO M OJ OL A BA N GR OGOL BA KI KA R TA S U R A GA TA K


(7)

Dalam sektor perdagangan, Kecamatan Grogol tercatat sebagai kecamatan dengan sektor perdagangan yang paling potensial. Besarnya andil sektor perdagangan Kecamatan Grogol terhadap PDRB total sebesar 6,39 persen, mengalami kenaikan apabila dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 6,27 persen. Selanjutnya penyumbang PDRB terbesar sektor perdagangan adalah Kecamatan Sukoharjo yang tercatat 4,96 persen dan kecamatan Kartasura yang mempunyai andil sebesar 4,66 persen. Potensi sektor perdagangan di Kecamatan Grogol tampaknya akan terus meningkat seiring dengan perkembangan usaha perdagangan di wilayah Kecamatan Grogol, khususnya daerah di sekitar SOLO BARU. Wilayah Solo Baru ini semakin strategis mengingat lokasi perdagangan di Kota Surakarta yang makin padat, sehingga para investor di sektor perdagangan akan mencari lokasi baru dalam pengembangan usahanya. Dan tampaknya Solo Baru merupakan pilihan yang cukup menjanjikan bagi kalangan pelaku ekonomi di sektor perdagangan

Pada sektor pertanian, Kecamatan Bendosari pada tahun 2012 ini masih merupakan kecamatan sebagai penyumbang terbesar dalam sektor pertanian di Kabupaten Sukoharjo dibanding kecamatan lainnya. Sektor pertanian di Kecamatan Bendosari menyumbang sebesar 2,43 persen terhadap total PDRB. Kecamatan Polokarto, Mojolaban, Tawangsari, Weru, dan Kecamatan Sukoharjo juga memberikan sumbangan di sektor pertanian pada kisaran angka 2 persen.

Perkembangan wilayah Kabupaten Sukoharjo ini dipengaruhi oleh kondisi topografi setiap kecamatan. Secara topografi Kabupaten Sukoharjo dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu daerah datar meliputi Kecamatan Kartasura, Baki, Gatak, Grogol, Sukoharjo dan Mojolaban, sedangkan daerah yang miring meliputi Kecamatan Polokarto, Bendosari, Nguter, Bulu dan Weru. Tempat tertinggi diatas permukaan air laut adalah Kecamatan Polokarto yaitu 125 mdpl dan yang terendah adalah Kecamatan Grogol yaitu 89 mdpl.


(8)

Kelerengan atau kemiringan lahan di Kabupaten Sukoharjo dapat dibedakan menjadi 5 (lima) klasifikasi, yaitu;

1. 0-2%, meliputi seluruh wilayah Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo. 8 2. 2-5%, meliputi seluruh wilayah Kabupaten Sukoharjo yang berada

disebagian Kecamatan Weru, Bulu, Tawangsari, Nguter, Bendosari, Polokarto, Mojolaban, Grogol, dan Kartasura.

3. 5-15%, meliputi seluruh wilayah Kabupaten Sukoharjo yang berada disebagian Kecamatan Grogol, Mojolaban, Polokarto, Nguter, Bendosari, Bulu, Weru, dan Tawangsari.

4. 15 – 40 %, meliputi seluruh wilayah Kabupaten Sukoharjo yang berada disebagian Kecamatan Grogol, Polokarto, Nguter, Bendosari, Bulu, Weru, dan Tawangsari.

5. >40%, meliputi seluruh wilayah Kabupaten Sukoharjo, yang berada disebagian Kecamatan Polokarto, Bulu, Weru, dan Tawangsari.

Kemiringan lahan di Kabupaten Sukoharjo yang memiliki kemiringan datar (0-2%) seluas 36.443 Ha, bergelombang (2-15%) seluas 8.609,25 Ha curam (15-40%) seluas 1.088,75 dan sangat curam seluas 525 Ha.

Kondisi struktur ekonomi dapat diartikan sebagai komposisi peranan masing-masing sektor dalam perekonomian baik menurut lapangan usaha maupun pembagian sektoral kedalam kelompok sektor primer, sekunder dan tersier. Gambaran kondisi struktur ekonomi Kabupaten Sukoharjo dapat dilihat melalui kontribusi setiap sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB. Struktur ekonomi dikatakan berubah apabila kontribusi/pangsa PDRB dari sektor ekonomi yang mula dominan digantikan oleh sektor ekonomi lain.

Kelompok sektor primer merupakan gabungan dari sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan serta sektor pertambangan dan penggalian. Kelompok sektor sekunder merupakan gabungan dari sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air serta sektor konstruksi. Sedangkan kelompok sektor


(9)

tersier merupakan gabungan dari sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa.

Mencermati perkembangan perekonomian Kabupaten Sukoharjo sebagaimana diuraikan diatas maka menarik untuk mengkaji dan menganalisis mengenai pengembangan sektor ekonomi yang potensial untuk dikembangkan berdasarkan potensi dan permasalahan sumber daya wilayah yang ada menjadi leading sektor bagi Kabupaten Sukoharjo. Oleh karena itu penelitian ini mengambil judul “Analisis Spasial Perkembangan Ekonomi Wilayah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2008-2014”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan diatas, maka yang menjadi permasalahan penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagaimana variasi keruangan sektor basis dan non basis di Kabupaten Sukoharjo?

2. Bagaimana variasi keruangan perubahan dan pergeseran sektor perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo?

3. Sektor-sektor apakah yang menjadi sektor unggulan pada tiap Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari permasalahan diatas, maka ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut. 1. Untuk mengkaji variasi keruangan sektor basis dan non basis Kabupaten

Sukoharjo.

2. Untuk mengkaji variasi keruangan perubahan dan pergeseran sektor perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo.

3. Untuk menentukan sektor-sektor unggulan pada tiap Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo.


(10)

1.4 Manfaat Penelitian

2. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan untuk perencanaan pembangunan ekonomi Kabupaten Sukoharjo.

3. Sebagai bahan referensi bagi peneliti yang terkait dengan pembangunan dan perencanaan ekonomi daerah

1.5 Telaah Pustaka dan Penelitian Sebelumnya a. Pembangunan Ekonomi Regional

Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau perkembangan jika tingkat kegiatan ekonominya meningkat atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya terjadi jika jumlah barang dan jasa secara fisik yang dihasilkan perekonomian tersebut bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah dapat ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan pendapatan masyarakat secara keseluruhan sebagai cerminan kenaikan seluruh nilai tambah (value added) yang tercipta di suatu wilayah.

Todaro dalam (Sirojuzilam. 2008), mendefinisikan pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang bersifat multidimensional, yang melibatkan kepada perubahan besar, baik terhadap perubahan struktur ekonomi, perubahan sosial, mengurangi atau menghapuskan kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan pengangguran dalam konteks pertumbuhan ekonomi.

Menurut (Adisasmita. 2008), pembangunan wilayah (regional) merupakan fungsi dan potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan sumber daya manusia, investasi modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi, situasi ekonomi dan perdagangan antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan


(11)

pembangunan daerah, kewirausahaan (kewiraswastaan), kelembagaan daerah dan lingkungan pembangunan secara luas.

b. Pertumbuhan Ekonomi Regional

Teori pertumbuhan ekonomi wilayah menganalisis suatu wilayah sebagai suatu sistem ekonomi terbuka yang berhubungan dengan wilayah-wilayah lain melalui arus perpindahan faktor-faktor produksi dan pertukaran komoditas. Pembangunan dalam suatu wilayah akan mempengaruhi pertumbuhan wilayah lain dalam bentuk permintaan sektor untuk wilayah yang akan mendorong pembangunan wilayah tersebut atau suatu pembangunan ekonomi dan wilayah lain akan mengurangi tingkat kegiatan ekonomi di suatu wilayah serta interrelasi.

Pertumbuhan ekonomi dapat dinilai sebagai dampak kebijaksanaan pemerintah, khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dan berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan yang terjadi dan sebagai indikator penting bagi daerah untuk mengevaluasi keberhasilan pembangunan (Sirojuzilam, 2008).

Menurut (Glasson,1977) pertumbuhan regional dapat terjadi sebagai akibat dan penentu-penentu endogen ataupun eksogen, yaitu faktor-faktor yang terdapat di dalam daerah yang bersangkutan ataupun faktor-faktor diluar daerah, atau kombinasi dan keduanya. Penentu endogen, meliputi distribusi faktor-faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, dan modal sedangkan penentu eksogen adalah tingkat permintaan dan daerah lain terhadap komoditi yang dihasilkan oleh daerah tersebut.

Pembangunan dengan pendekatan sektoral mengkaji pembangunan berdasarkan kegiatan usaha yang dikelompokkan menurut jenisnya ke dalam sektor dan sub sektor. Sektor-sektor tersebut adalah sektor pertanian, pertambangan, konstruksi (bangunan), perindustrian, perdagangan, perhubungan, keuangan dan perbankan, dan jasa.


(12)

Pemerintah daerah harus mengetahui dan dapat menentukan penyebab, tingkat pertumbuhan dan stabilitas dan perekonomian wilayahnya. Identifikasi sektor dan sub sektor yang dapat menunjukkan keunggulan komparatif daerah merupakan tugas utama pemerintah daerah.

c. Pendapatan Regional

Pendapatan regional didefinisikan sebagai nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam suatu wilayah selama satu tahun (Sukirno, 1985). Sedangkan menurut (Tarigan,2007), pendapatan regional adalah tingkat pendapatan masyarakat pada suatu wilayah analisis. Tingkat pendapatan regional dapat diukur dan total pendapatan wilayah ataupun pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut.

Beberapa istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pendapatan regional, diantaranya adalah :

a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto (gross alue added) yang timbul dan seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu. Pengertian nilai tambah bruto adalah nilai produksi (output) dikurangi dengan biaya antara (intermediate cost). Komponen-komponen nilai tambah bruto mencakup komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung netto. Jadi dengan menghitung nilai tambah bruto dan dan masing-masing sektor dan kemudian menjumlahkarinya akan menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Sektor-sektor perekonomian berdasarkan lapangan usaha yang tercakup dalam PDRB, yaitu:

1. Pertanian.

2. Pertambangan dan Penggalian. 3. Industri Pengolahan.


(13)

4. Listrik, Gas dan Air Bersih. 5. Bangunan/Konstruksi.

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran. 7. Pengangkutan dan Komunikasi.

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan. 9. Jasa-jasa.

b. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) atas Dasar Harga Pasar.. PDRN dapat diperoleh dengan cara mengurangi PDRB dengan penyusutan. Penyusutan yang dimaksud disini adalah nilai susut (aus) atau pengurangan nilai barang-barang modal (mesin-mesin, peralatan, kendaraan dan lain-lainnya) karena barang modal tersebut dipakai dalam proses produksi. Jika nilai susut barang-barang modal dan seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, hasilnya merupakan penyusutan keseluruhan.

c. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) atas Dasar Biaya Faktor. Jika pajak tidak langsung netto dikeluarkan dan PDRN atas Dasar Harga Pasar, maka didapatkan Produk Regional Netto atas Dasar Biaya Faktor Produksi. Pajak tidak langsung meliputi pajak penjualan, bea ekspor, bea cukai, dan pajak lain-lain, kecuali pajak pendapatan dan pajak perseroan.

Penghitungan PDRB dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu langsung dan tidak langsung (alokasi).

1. Perhitungan pendapatan regional metode langsung dapat dilakukan melalui tiga pendekatan (Tanigan, 2007:24), yaitu:

a. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach).

Pendekatan pengeluaran adalah penentuan pendapatan regional dengan menjumlahkan seluruh nilai penggunaan akhir dan barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu wilayah. Total penyediaan barang dan jasa dipergunakan untuk konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga swasta yang tidak mencani untung, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (investasi), perubahan stok dan eskpor netto (ekspor-impor).


(14)

b. Pendekatan Produksi (Production Approach).

Perhitungan pendapatan regional berdasarkan pendekatan produksi dilakukan dengan cara menjumlahkan mlai produksi yang diciptakan oleh tiap-tiap sektor produksi yang ada dalam perekonomian. Maka itu, untuk menghitung pendapatan regional berdasarkan pendekatan produksi, maka pertama-tama yang harus dilakukan ialah menentukan nilai produksi yang diciptakan oleh tiap-tiap sektor di atas. Pendapatan regional diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai produksi yang tercipta dan tiap-tiap sektor.

c. Pendekatan Penerimaan (income Approach).

Dengan cara ini pendapatan regional dihitung dengan menjumlabkan pendapatan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam memproduksi barang-barang clan jasajasa. Jadi yang dijumlabkan adalah: upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung netto. 2. Metode Tidak Langsung atau Matode Alokasi

Dalam metode ini PDRB suatu wilayah diperoleh dengan menghitung PDRB wilayah tersebut melalui alokasi PDRB wilayah yang lebih luas.Untuk melakukan alokasi PDRB wilayah ini. digunakan beberapa alokator antara lain: Nilai produksi bruto atau netto setiap sektor/subsektor pada wilayah yang dialokasikan, jumlah produksi fisik, tenaga kerja, penduduk, dan alokator tidak langsung lainnya. Dengan menggunakan salah satu atau beberapa alokator dapat diperhitungkan persentase bagian masing-masing propinsi terhadap nilai tambah setiap sektor dan subsektor.

d. Teori basis ekonomi

Menurut (Arsyad, 1999), mengemukakan bahwa teori basis ekonomi ini menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industri yang menggunakan sumber daya lokal termasuk tenaga


(15)

kerja (job creation) dan bahan baku untuk diekspor akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja dalam jangka panjang.

Selanjutnya dikemukakan bahwa teori basis ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi regional (daerah) yang sangat tergantung dari permintaan luar daerah akan produk-produk daerah tersebut. Lebih jelas dikatakan bahwa pertumbuhan atau penurunan perekonomian suatu daerah ditentukan oleh kemampuannya dalam mendidtribusikan keluar daerah tersebut. Distribusi tersebut baik dalam bentuk barang maupun jasa termasuk tenaga kerja. Industri yang melakukan kegiatan ekspor disebut sektor basis. Apabila permintaan akan barang dan jasa meningkat (ekspor), dari daerah maka sektor basis akan berkembang dan pada gilirannya nanti perkembangan ini akan mendorong tumbuhnya sektor-sektor non basis. Dengan demikian akan terjadi peningkatan pendapatan, investasi, konsumsi dan kemampuan kerja di dalam daerah.

e. Pendekatan Geografi dalam Pengembangan Wilayah

Dalam ilmu Geografi terdapat 3 pendekatan utama, yaitu spatial approach, Ecological approach, dan Regional complex approach. Dimana dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kompleks wilayah (Regional complex approach). Menurut Hadi Sabari Yunus (2010) analisis kompleks wilayah dipahami bahwa pada suatu wilayah yang ada di permukaan bumi ini, didalamnya terdapat berbagai sub wilayah yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sementara itu,berbagai sub wilayah yang ada memiliki elemen-elemen wilayah yang berbeda-beda terjalin sedemikian rupa dalam sistem keterkaitan dimana masing-masingwilayah sistem berinteraksi dengan wilayah sistem yang lain.

Pendekatan komplek wilayah merupakan perpaduan pendekatan keruangan dan ekologi. Interaksi antar wilayah akan berkembang karena hakekatnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah lain karena ada perbedaan permintaan dan penawaran antar wilayah tersebut. Pada pendekatan ini analisa


(16)

keruangan dan analisa ekologi atas wilayah dan atas interaksi antar wilayah tersebut tak hanya dipandang dari sisi penyebaran penggunaannya serta penyediaannya saja, tapi juga interaksinya dengan manusia pada wilayah tersebut (Yunus, 2010).

f. Ekonomi Mikro dan Makro

Ekonomi mikro menganalisis bagian-bagian yang dilakukan oleh unit-unit kecil dari keseluruhan kegiatan perekonomian. Dalam hal ini pada umumnya pendekatan mikro terkait dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh para pelaku ekonomi dengan mengacu pada harga pasar.

Ekonomi Makro merupakan analisis atas keseluruhan kegiatan perekonomian yang bersifat Global dan tidak memperhatikan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh unit-unit kecil perkonomian.

Perkembangan perekonomian dapat dilihat salah satunya dari besarnya Produk Domestik Regional Bruto dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2011 perekonomian kabupaten Sukoharjo tumbuh sebesar 4.59 persen, lebih rendah apabila dibandingkan dengan tahun 2010 yang tumbuh sebesar 4,65 persen.

Kinerja perekonomian Kabupaten Sukoharjo mengalami peningkatan yang dapat dilihat dari meningkatnya nilai nominal PDRB baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011 mencapai 11,004 trilyun rupiah, meningkat lebih dari dua kali lipat apabila dibandingkan dengan tahun 2000 sedang untuk PDRB atas dasar harga konstan mencapai 4,98 trilyun rupiah, juga mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2000.

Struktur perekonomian Kabupaten Sukoharjo adalah Industri yang didukung sektor oleh sektor Perdagangan dan sektor Pertanian. Kontribusi sektor Industri pada tahun 2011 mencapai 28,68 persen, sektor Perdagangan 25,89 persen dan sektor Pertanian 19,19 persen.


(17)

g. Penelitian Sebelumnya

Penelitian mengenai sektor basis dan sektor unggulan telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti. Sebagian besar analisis yang digunakan adalah analisis LQ dan Shift Share. Ada juga peneliti yang menambahkan analisis tipologi Klassen dan analisis Skalogram. Keseluruhan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu dapat dijadikan dasar dan bahan pertimbangan dalam mengkaji penelitian ini.

Aris (2010) melakukan penelitian dengan judul Analisis Ekonomi dan Potensi Pengembangan Wilayah Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen. Hasil analisis menggunakan analisis location Quotien (LQ). Berdasarkan hasil dari analisis location Quotien (LQ) kecamatan Gemolong memiliki 5 sektor Basis yaitu sektor Listrik dan Air Minum sebesar 1.1952, Sektor Bangunan/ Konstruksi mempunyal LQ sebesar 1.12204, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran mempunyai LQ sebesar 1.1490, Sektor Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan mempunyai LQ sebesar 1.2180 dan LQ sebesar 1.12260.

Novrilasari (2008), melakukan penelitian dengan judul Analisis Sektor Unggulan dalam Meningkatkan Perekonomian dan Pembangunan Wilayah Kabupaten Kuantan Singingi. Berdasarkan analisis Klassen Typlogi dan LQ diketahui bahwa prioritas di Kabupaten Kuantan Singingi adalah sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Sedangkan dengan menggunkan analisis skalogram di ketahui bahwa Kecamatan Kuantan Tengah memegang peringkat pertama dalam ketersediaan fasilitas pembangunan. Peringkat terendah dipegang oleh Kecamatan Hulu Kuantan. Jika dilihat dari hasil metode skalogram Kecamatan Kuantan Tengah masih berada pada peringkat pertama, dan Kecamatan Hulu Kuantan tetap peringkat terakhir.

Nevipahlevi (2011) melakukan penelitian dengan judul Perkembangan Potensi Ekonomi Kabupaten Lebak. Berdasarkan analisis LQ dan Shift Share terdapat dua sektor basis di Kecamatan Wanasalam, yaitu: sektor pertanian, dan sektor bangunan dan konstruksi. Pertumbuhan komponen proportional


(18)

Kecamatan Wanasalam selama periode tahun 2005 - 2008 ada yang bernilai negatif dan positif. Nilai P positif, berarti perekonomian Kecamatan Wanasalam berspesialisasi pada sektor yang sama yang tumbuh cepat pada perekonomian Kabupaten Lebak. Sebaliknya apabila nilai P negatif, berarti perekonomian Kecamatan Wanasalam berspesialisasi pada sektor yang sama dan tumbuh lambat pada perekonomian Kabupaten Lebak.

Haris (2012) melakukan penelitian dengan judul melakukan penelitian dengan judul Analisis Penentuan sektor/subsektor Unggulan dan Kaitanya Dengan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Kabupaten Lampung Utara. Hasil analisis menggunakan gabungan analisis Location Quotient, , analisis Shift Share,terdapat 7 subsektor unggulan yaitu subsektor kehutanan, subsektor listrik, subsektor perdagangan, subsektor angkutan jalan raya, subsektor industri makanan dan minuman, subsektor perkebunan, subsektor perbankan. 6 subsektor sudah masuk RPJMD Lampung Utara tahun 2010-2014 dan 1 subsektor unggulan lainya tidak masuk RPJMD.


(19)

Tabel 5 Penelitian Sebelumnya

Nama Peneliti Judul Penelitian Tujuan penelitian Metode Hasil Penelitian

Aris Munandar

(2010)

Analisis Ekonomi dan

Potensi Pengembangan

Wilayah Kecamatan

Gemolong Kabupaten

Sragen

- Mengidentifikasi letak strategis Kecamatan Gemolong

- Mengidentifikasi kawasan industri maupun industri kecil

- Mengidentifikasi perubahan sektor basis

Analisis data sekunder dan observasi lapangan

- Ditetapkan kawasan strategs pertumbuhan ekonomi - Kecamatan Gemolong memiliki 5 sektor Basis

Dylla Novrilasari (2008)

Analisis Sektor Unggulan

dalam Meningkatkan

Perekonomian dan

Pembangunan Wilayah

Kabupaten Kuantan Singingi

- Mengidentifikasi pola

pertumbuhan ekonomi sektoral - Menganalisis sektor unggulan di

Kabupaten Kuantan Singingi - Menganalisis perkembangan

pembangunan wilayah dari segi infrastruktur (sarana dan prasarana)

Analisis data sekunder

- Diketahui bahwa prioritas di Kabupaten Kuantan Singingi adalah sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian

- Diketahui bahwa Kecamatan Kuantan Tengah memegang peringkat pertama dalam ketersediaan fasilitas pembangunan

Nevi Pahlevi (2011)

Perkembangan Potensi

Ekonomi Kabupaten Lebak

- Untuk mengetahui klasifikasi pertumbuhan sektor

perekonomian

- Untuk mengetahui sektor basis dan non basis

- Untuk mengetahui sektor unggulan perekonomian wilayah Kecamatan Wanasalam sebagai Kawasan Agropolitan

Analisis data sekunder

- Terdapat dua sektor basis di Kecamatan Wanasalam, yaitu: sektor pertanian, dan sektor bangunan dan konstruksi

- Pertumbuhan komponen proportional Kecamatan Wanasalam selama periode tahun 2005 - 2008 ada yang bernilai negatif dan positif

Zulfi Haris (2012)

Analisis Penentuan

sektor/subsektor Unggulan

dan Kaitanya Dengan

Perencanaan Pembangunan

- Untuk mengidentifikasi sektor/sub sektor unggulan - Untuk mengetahui bagaimana

dukungan Pemerintah Daerah

Analisis data sekunder

- Terdapat 7 subsektor unggulan yaitu subsektor kehutanan, subsektor listrik, subsektor perdagangan, subsektor angkutan jalan raya, subsektor industri makanan dan minuman,


(20)

Ekonomi Kabupaten Lampung Utara

Kabupaten Lampung Utara terhadap sektor/sub sektor unggulan melalui program prioritas dalam RPJMD dan alokasi anggaran

subsektor perkebunan, subsektor perbankan - Enam subsektor sudah masuk RPJMD Lampung

Utara tahun 2010-2014 dan 1 subsektor unggulan lainya tidak masuk RPJMD.

Astri Irawati (2015)

Analisis Spasial

Perkembangan Ekonomi

Wilayah di Kabupaten Sukoharjo

- Untuk mengkaji variasi keruangan sektor basis dan non basis

- Untuk mengkaji variasi keruangan perubahan dan pergeseran sektor perekonomian wilayah

- Untuk menentukan sektor-sektor unggulan pada tiap Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo

Analisis Data Sekunder

Berdasarkan hasil dari kedua analisis dengan kriteria cepat tumbuh, sektor basis dan tumbuh lebih cepat dari Kabupaten yaitu : Sektor Industri terdapat di Kecamatan Kartasura, Grogol, dan Sukoharjo. Sektor Listrik gas air bersih terdapat di Kecamatan Sukoharjo. Sektor bangunan terdapat di Kecamatan Grogol. Sektor perdagangan hotel restoran terdapat di Kecamatan Bendosari, Nguter, Bulu dan Weru. Sektor pengangkutan komunikasi terdapat di Kecamatan Gatak, Mojolaban, Polokarto, Nguter, dan Tawangsari. Sektor keuangan jasa perusahaan terdapat di Kecamatan Gatak, Baki, Bendosari, dan Bulu. Sektor jasa-jasa terdapat di Kecamatan Gatak, Baki, Mojolaban, Polokarto, Tawangsari, Weru, Nguter.


(21)

1.6 Kerangka Penelitian

Analisis pertumbuhan ekonomi daerah dibutuhkan sebagai dasar utama untuk perumusan kebijakan pembangunan ekonomi daerah dimasa mendatang. Dengan diketahuinya faktor-faktor Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih, Bangunan/Konstruksi, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan., Jasa-jasa. Maka pembangunan daerah dapat diarahkan ke sektor-sektor yang secara potensial dapat mendorong percepatan pembangunan daerah.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan ukuran kinerja makro kegiatan ekonomi disuatu wilayah. PDRB suatu wilayah menggambarkan struktur ekonomi daerah, peranan sektor-sektor ekonomi dan pergeserannya, serta menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi, baik secara total maupun per sektor.

Perkembangan PDRB atas dasar harga konstan merupakan salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan. Oleh karena itu strategi pembangunan diupayakan untuk menggali potensi yang ada, agar dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah. Berdasarkan data dan informasi yang terkandung dalam PDRB, maka dapat dilakukan beberapa analisis untuk memperoleh informasi tentang:

1. Sektor Basis dan Non basis

Kegiatan ekonomi wilayah berdasarkan teori ekonomi basis diklasifikasikan ke dalam dua sektor, yaitu sektor basis dan non basis. Analisis ini diperlukan untuk mengidentifikasi kegiatan ekonomi daerah yang bersifat ekspor dan non ekspor dan mengetahui laju pertumbuhan sektor basis dari tahun ke tahun. Pertumbuhan beberapa sektor basis akan menentukan pembangunan daerah secara keseluruhan, sementara sektor non basis hanya


(22)

merupakan konsekuensi- konsekuensi dari pembangunan daerah. Barang dan jasa dari sektor basis yang diekspor akan menghasilkan pendapatan bagi daerah, serta meningkatkan konsumsi dan investasi. Peningkatan pendapatan tidak hanya menyebabkan kenaikan permintaan terhadap sektor basis, tetapi juga akan meningkatkan permintaan terhadap sektor non basis yang berarti juga mendorong kenaikan investasi sektor non basis.

2. Perubahan dan Pergeseran Sektor

Analisis ini dibutuhkan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor pada perekonomian suatu daerah. Hasil analisis akan menggambarkan kinerja sektor-sektor dalam PDRB suatu daerah dibandingkan wilayah referensi. Apabila penyimpangan positif, maka dikatakan suatu sektor dalam PDRB memiliki keunggulan kompetitif atau sebaliknya.

Pembangunan yang dilaksanakan diharapkan berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang berorientasi pada pencapaian target sektoral, keberhasilannya dapat dilihat dari kontribusi sektor terhadap pembentukan PDRB dari tahun ke tahun. Pertumbuhan positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian dan apabila negatif berarti terjadinya penurunan dalam kegiatan perekonomian. Pertumbuhan perekonomian mengakibatkan terjadinya perubahan perkembangan pembangunan suatu daerah.

3. Sistem Informasi Geografi (SIG)

Menganalisis objek studi melalui peta dengan cara menumpang susunkan antara peta satu dengan lainnya, akan memberikan hasil maksimal. Hasil dari analisis ini berupa 9 (Sembilan) peta sektor unggulan Kabupaten Sukoharjo, yaitu (1) peta sektor unggulan pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan; (2) peta sektor unggulan pertambangan dan penggalian; (3) peta sektor unggulan industri pengolahan; (4) peta sektor unggulan listrik, gas, dan air bersih; (5) peta sektor unggulan bangunan dan konsturksi; (6) peta sektor unggulan perdagangan, hotel dan restoran; (7) peta sektor unggulan


(23)

pengangkutan dan komunikasi; (8) peta sektor unggulan keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan (9) peta sektor unggulan jasa-jasa. Dari peta tersebut dapat dianalisis sehingga menghasilkan informasi yang diinginkan secara spasial.

Perencanaan pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya dapat dicapai dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri dapat meningkat, bila ada satu atau beberapa sektor ekonomi yang berkembang lebih cepat dari pada sektor-sektor lain. Dengan demikian, sektor yang mempunyai perkembangan lebih cepat dari sektor lain akan menjadi suatu sektor unggulan. Sektor unggulan yang dimiliki suatu daerah akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah, karena akan memberikan keuntungan kompetitif atau komparatif yang selanjutnya akan mendorong pengembangan ekspor barang maupun jasa. Kebijakan strategi pembangunan harus diarahkan kepada kebijakan yang memberikan dampak yang optimal bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan masyarakat dan penciptaan lapangan pekerjaan. Sektor unggulan yang diperoleh melalui analisis dapat menjadi dasar pertimbangan dalam perencanaan pembangunan di masa mendatang.


(24)

Konsep pemikiran yang dijadikan dasar dalam penelitian ini dijelaskan dalam Gambar 1

Gambar 1

Skema Kerangka Penelitian

Sumber : penulis 1.7 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Ex Post Facto. Penelitian Ex Post Facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian tersebut. Penelitian ini menggunakan logika dasar yang sama dengan penelitian eksperimen yaitu jika x maka y, hanya saja dalam

Perekonomian Wilayah

Penentuan Sektor Unggulan

Sektor Basis dan Non Basis Perubahan dan Pergeseran Sektor Produk Domestik Regional

Bruto (PDRB)

Masukan Pembangunan wilayah Pemetaan Sektor Unggulan


(25)

penelitian ini tidak ada manipulasi langsung terhadap variabel independen, didalam Sugiyono (2010).

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini di wilayah Kabupaten Sukoharjo, yang merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Jawa Tengah. Pertimbangan penelitian dilakukan di Kabupaten Sukoharjo, agar hasil penelitian ini berupa sektor-sektor unggulan perekonomian dapat digunakan sebagai informasi dan dapat diprioritaskan dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Sukoharjo

2. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, antara lain:

a. PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2008-2014, data ini digunakan untuk analisis sektor basis dan non basis, dan analisis perubahan dan pergeseran sektor ekonomi. Data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sukoharjo.

b. Data sekunder lainnya yang masih ada kaitannya dengan tujuan penelitian ini.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah data sekunder melalui studi pustaka dan hasil publikasi. Adapun data yang dibutuhkan adalah :

a. Data PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2000 per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo tahun 2008 – 2014.

b. Data PDRB Kabupaten Sukoharjo menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2008 – 2014

4. Langkah Penelitian

Setelah lokasi yang akan diteliti, metode pengumpulan data serta ditentukan data yang akan digunakan dalam penelitian ini maka untuk


(26)

memperlancar jalannya penelitian ini membaginya kedalam empat tahap yaitu sebagai berikut :

Gambar 2 Diagram Alir Penelitian

Sumber : penulis a. Persiapan

Pada tahap ini hal yang harus disiapkan adalah membaca referensi tentang tema yang terkait dengan perkembangan ekomomi wliyah sehingga memahami pengertian wilayah, perkembangan wilyah dan referensi lain yang berkaitan dengan penelitian. Setelah mengetahui dan memahami perkembangan ekonomi wilayah maka selanjutnya adalah mengumpulkan data sekunder dari buku publukasi BPS, website resmi BPS dan Instansi Persiapan

Studi Pustaka

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Overlay sektor basis dan non basis dan Perubahan

dan pergeseran sektor

Analisis Data

Mengetahui sektor Unggulan di Kabupaten Sukoharjo

Perumusan Hasil Peneitian

Perkembangan Ekonomi Wilyah Kabupaten Sukoharjo


(27)

Pemerintah Kabupaten Sukoharjo yang terkait informasi yang berhubungan dengan penelitian. Sumber utama data penelitian yaitu dari Kantor BPS dan Kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) serta wibsite resmi pemerintah Kabupaten Sukoharjo yaitu untuk mengumpulkan data PDRB Kabupaten Sukoharjo dan PDRB Kecamatan Kabupaten Sukoharjo tahun 2008-2014

b. Pengolahan Data

Overlay merupakan penggabungan atau penampilan lebih dari satu alat analisis dengan tujuan untuk menyaring hasil analisis yang paling baik, dimana hasil akhir dapat merupakan bebebrapa kemungkinan ataupun hanya merupakan analisis yang digunakan saja (Mikhail, 1991). Analisis overlay dalam penelitian ini merupakan rangkuman antara analisis Location Quotient (LQ) dan analisis Shift Share. Pada tahap dua ini semua data yang sudah terkumpul untuk mengetahui perkembangan wilayah kemudian diolah guna mengetahui gambaran yang jelas mengenai perkembangan ekonomi wilayah Kabupaten Sukoharjo dengan cara Overlay sektor basis dan non basis dan Perubahan dan pergeseran sektor. Data yang ada di Kabupaten sukoharjo adalah 12 Kecamatan yang merupakan unit analisis

c. Analisis Data

Tahap ini terdiri dari tiga analisis yaitu 1. Analisis Nonspasial (tabel)

Analisis ini digunakan untuk menjelaskan perkembangan ekonomi wilayah pada Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sukoharjo tahun2008-2014

2. Analisis Deskriptif

Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena perkembangan ekonomi wilayah pada Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Sukoharjo diperoleh dari analisis data kuantitatif


(28)

3. Analisis Spasial

Analisis ini digunakan untuk menjelaskan variasi keruangan perkembangan ekonomi wilayah disetiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo akan digunakan untuk menjadi masukan pembangunan sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Sukoharjo.

d. Perumusan Hasil Penelitian

Semua data yang telah di peroleh setelah melalui proses pengolahan data dan analisis data, maka tahap terakhir setelah mengetahui bagaimana variasi spasial tingkat perkembangan ekonomi wilayah dengan mengetahui ketiga alat analisis menunjukan bahwa sektor yang merupakan sektor unggulan dengan Kriteria tergolong dalam sektor maju dan cempat tumbuh, sektor basis, dan sektor kompetitif tumbuh lebih cepat dari Kota.

5. Metode Analisis Data

Untuk menjawab permasalahan yang telah ditetapkan, maka menggunakan dua metode analisis data, yaitu:

a. Metode Analisis Location Quotient (LQ)

Untuk menentukan sektor basis dan non basis di Kabupaten Sukoharjo digunakan metode analisis Location Quotient (LQ). Metode LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari PDRB Kabupaten Sukoharjo yang menjadi pemacu pertumbuhan. Metode LQ digunakan untuk mengkaji kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian. Sehingga nilai LQ yang sering digunakan untuk penentuan sektor basis dapat dikatakan sebagai sektor yang akan mendorong tumbuhnya atau berkembangnya sektor lain serta berdampak penciptaan lapangan pekerjaan. Untuk mendapatkan nilai LQ menggunakan metode yang mengacu pada formula yang dikemukakan oleh Bendavid-Val dalam Kuncoro (2004:183) sebagai berikut:


(29)

Di mana:

PDRBK,i = PDRB sektor i di Kecamatan pada tahun tertentu. ΣPDRBK = Total PDRB di Kecamatan pada tahun tertentu.

PDRBKS,I = PDRB sektor i di Kabupaten Sukoharjo pada tahun tertentu. ΣPDRBKS = Total PDRB di Kabupaten Sukoharjo pada tahun tertentu.

Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada tiga kemungkingan nilai LQ yang dapat diperoleh (Bendavid-Val dalam Kuncoro, 2004), yaitu:

1. Nilai LQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kecamatan adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Kabupaten Sukoharjo

2. Nilai LQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kecamatan lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Kabupaten Sukoharjo.

3. Nilai LQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kecamatan lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Kabupaten Sukoharjo.

Apabila nilai LQ>1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor basis dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kecamatan tersebut. Sebaliknya apabila nilai LQ<1, maka sektor tersebut bukan merupakan sektor basis dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kecamatan tertentu.

Data yang digunakan dalam analisis Location Quotient (LQ) ini adalah PDRB Kabupaten Sukoharjo dan PDRB Kecamatan Kabupaten Sukoharjo tahun 2008-2014.


(30)

b. Analisis Shift Share (Shift Share Analysis)

Analisis shift share digunakan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor pada perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo. Hasil analisis shift share akan menggambarkan kinerja sektor-sektor dalam PDRB disetiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dibandingkan Kabupaten Sukoharjo. Kemudian dilakukan analisis terhadap penyimpangan yang terjadi sebagai hasil perbandingan tersebut. Bila penyimpangan tersebut positif, maka dikatakan suatu sektor dalam PDRB Kabupaten Sukoharjo memiliki keunggulan kompetitif atau sebaliknya.

Data yang digunakan dalam analisis shift share ini adalah PDRB per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dan PDRB Kabupaten Sukoharjo menurut lapangan usaha tahun 2008-2014. Penggunaan data harga konstan dengan tahun dasar yang sama agar bobotnya (nilai riilnya) bisa sama dan perbandingan menjadi valid (Tarigan, 2007).

Melalui analisis shift share, maka pertumbuhan ekonomi dan pergeseran struktural perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:

1. Komponen Share (Propintial Share) yang digunakan untuk mengetahui pertumbuhan atau pergeseran struktur perekonomian per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dengan melihat nilai PDRB per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo sebagai daerah pengamatan pada periode awal yang dipengaruhi oleh pergeseran pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sukoharjo. Hasil perhitungan Provincial Share akan menggambarkan peranan wilayah Kabupaten Sukoharjo yang mempengaruhi pertumbuhan perekonomian tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo. Jika pertumbuhan tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo sama dengan pertumbuhan Kabuapaten Sukoharjo maka peranannya terhadap provinsi tetap.


(31)

2. Proportional Shift (P) adalah pertumbuhan nilai tambah bruto suatu sektor pada tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dibandingkan total sektor di tingkat Kabupaten Sukoharjo.

3. Differential Shift (D) adalah perbedaan antara pertumbuhan ekonomi tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dan nilai tambah bruto sektor yang sama di tingkat Kabupaten Sukoharjo.

Secara matematis, komponen Provincial Share (PS), Proportional Shift (P), dan Differential Shift (D) dapat diformulasikan sebagai berikut (Tarigan, 2007; Sjafrizal, 2008):

1. Provincial Share (PS)

Psi,t = Er,i,t-n (EN,t / EN,t-n) – Er,i,t-n 2. Proportional Shift (P)

Pr,i,t = Er,i,t-n {(EN,i,t / EN,i,t-n) – (EN,t / EN,t-n)} 3. Differential Shift (D)

Dr,i,t = Er,i,t {(EN,i,t / EN,i,t-n) – (Er,i,t / Er,i,t-n)} 4. Total Pertumbuhan

∆ Er,i,t = Psi,t + Pr,i,t + Dr,i,t Di mana:

Er,i,t = PDRB Kecamatan tertentu sektor i tahun 2014 Er,i,t-n = PDRB Kecamatan tertentu sektor i tahun 2008

EN,t = Jumlah total PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2014 EN,t-n = Jumlah total PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2008 EN,i,t = PDRB sektor i Kabupaten Sukoharjo tahun 2014 EN,i,t-n = PDRB sektor i Kabupaten Sukoharjo tahun 2008

Proportional Shift (P) dan Differential Shift (D) memisahkan unsur-unsur pertumbuhan regional yang bersifat eksternal dan internal. Proportional Shift (P) merupakan akibat pengaruh unsur-unsur eksternal yang bekerja secara nasional (Kota/Daerah), sedangkan Differential Shift (D)


(32)

adalah akibat dari pengaruh faktor-faktor yang bekerja di dalam daerah yang bersangkutan (Glasson, 1977).

Sektor-sektor di tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo yang memiliki Differential Shift (D) positif memiliki keunggulan komparatif terhadap sektor yang sama pada Kecamatan lain dalam Kabupaten Sukoharjo. Selain itu, sektor-sektor yang memiliki nilai D positif berarti bahwa sektor tersebut terkonsentrasi di Kecamatan tersebut dan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan daerah lainnya. Apabila nilai D negatif, maka tingkat pertumbuhan sektor tersebut relatif lamban

Untuk Proportional Shift (P), Apabila P positif artinya Kecamatan tersebut berspesialisasi pada sektor-sektor yang pada tingkat Kabupaten Sukoharjo tumbuh relatif cepat dan apabila P negatif, berarti Kecamatan tersebut berspesialisasi pada sektor-sektor di tingkat Kabupaten Sukoharjo pertumbuhannya lebih lambat atau sedang menurun.

c. Sistem Informasi Geografi (SIG)

Sistem Informasi Geografi (SIG ) digunakan untuk pemetaan sektor unggulan perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo. Hasil pengolahan berupa peta merupakan data kualitatif ataupun yang disajikan dalam bentuk titik dan garis yang ditujukan untuk memperlihatkan tampilan proses studi langsung pada gambaran wilayah studi. Pembuatan peta melalui tehnik superimpose, yaitu menganalisis objek studi melalui peta dengan cara menumpang susunkan antara peta satu dengan lainnya, akan memberikan hasil maksimal, sehingga menghasilkan informasi yang diinginkan secara spasial (Mudrajat, 2002).

1.8 Batasan Operasional

Untuk menyamakan persepsi tentang variabel-variabel yang digunakan dan menghindari terjadinya perbedaan penafsiran, maka penulis memberi batasan definisi operasional sebagai berikut:


(33)

1. Analisis Spasial adalah analisis yag menyangkut obyek-obyek dalam sistem keruangan, dengan input utama adalah data dan informasi spasial (Ernam Rustiadi,dkk.2009)

2. Sektor Unggulan (leading sector) adalah sektor yang memiliki peranan (share) relatif besar dibanding sektor-sektor lainnya terhadap ekonomi wilayah (PDRB).

3. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah nilai tambah bruto (gross valueadded) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu berdasarkan harga konstan.

4. Sektor Ekonomi adalah lapangan usaha yang terdapat pada PDRB, yang mencakup 9 (sembilan) sektor utama.

5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrarif dan/atau aspek fungsional

6. Sektor Basis adalah sektor yang mempu mengekspor barang-barang dan jasa-jasa keluar batas perekonomian masyarakat bila dibandingkan dengan sektor yang sama pada lingkup yang lebih luas. Sektor basis bila nilai LQ > 1 maka di sebut sektor basis

7. Sektor Non Basis adalah sektor yang hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan daerah itu sendiri dan sektor ini tidak mengekspor barang diluar daerah. Bila nilai LQ < 1 maka disebut sektor non basis

8. Analisis adalah merangkum sejumlah data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan. Semua bentuk analisis berusaha menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti. 9. Menurut Alkadri (2001) pengembangan adalah kemampuan yang ditentukan

oleh apa yang dapat dilakukan dengan apa yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup. Kata pengembangan identik dengan keinginan menuju perbaikan kondisi disertai kemampuan untuk mewujudkannya.


(34)

10.Perkembangan Wilayah merupakan kata lain dari pertumbuhan wilayah. Perkembangan wilayah dapat diketahui dari pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, yaitu adanya peningkatan output/produksi sejumlah komoditas yang diperoleh suatu wilayah. Perkembangan wilayah dengan pendekatan sektoral mengkaji berdasarkan kegiatan usaha yang dikelompokkan menurut jenisnya ke dalam sektor-sektor, yaitu sektor pertanian, pertambangan, konstruksi (bangunan), perindustrian, perdagangan, perhubungan, keuangan dan perbankan, dan jasa (Sirojuzilam, 2008).


(1)

Di mana:

PDRBK,i = PDRB sektor i di Kecamatan pada tahun tertentu. ΣPDRBK = Total PDRB di Kecamatan pada tahun tertentu.

PDRBKS,I = PDRB sektor i di Kabupaten Sukoharjo pada tahun tertentu. ΣPDRBKS = Total PDRB di Kabupaten Sukoharjo pada tahun tertentu.

Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada tiga kemungkingan nilai LQ yang dapat diperoleh (Bendavid-Val dalam Kuncoro, 2004), yaitu:

1. Nilai LQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kecamatan adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Kabupaten Sukoharjo

2. Nilai LQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kecamatan lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Kabupaten Sukoharjo.

3. Nilai LQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kecamatan lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Kabupaten Sukoharjo.

Apabila nilai LQ>1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor basis dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kecamatan tersebut. Sebaliknya apabila nilai LQ<1, maka sektor tersebut bukan merupakan sektor basis dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kecamatan tertentu.

Data yang digunakan dalam analisis Location Quotient (LQ) ini adalah PDRB Kabupaten Sukoharjo dan PDRB Kecamatan Kabupaten Sukoharjo tahun 2008-2014.


(2)

b. Analisis Shift Share (Shift Share Analysis)

Analisis shift share digunakan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor pada perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo. Hasil analisis shift share akan menggambarkan kinerja sektor-sektor dalam PDRB disetiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dibandingkan Kabupaten Sukoharjo. Kemudian dilakukan analisis terhadap penyimpangan yang terjadi sebagai hasil perbandingan tersebut. Bila penyimpangan tersebut positif, maka dikatakan suatu sektor dalam PDRB Kabupaten Sukoharjo memiliki keunggulan kompetitif atau sebaliknya.

Data yang digunakan dalam analisis shift share ini adalah PDRB per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dan PDRB Kabupaten Sukoharjo menurut lapangan usaha tahun 2008-2014. Penggunaan data harga konstan dengan tahun dasar yang sama agar bobotnya (nilai riilnya) bisa sama dan perbandingan menjadi valid (Tarigan, 2007).

Melalui analisis shift share, maka pertumbuhan ekonomi dan pergeseran struktural perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:

1. Komponen Share (Propintial Share) yang digunakan untuk mengetahui pertumbuhan atau pergeseran struktur perekonomian per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dengan melihat nilai PDRB per Kecamatan Kabupaten Sukoharjo sebagai daerah pengamatan pada periode awal yang dipengaruhi oleh pergeseran pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sukoharjo. Hasil perhitungan Provincial Share akan menggambarkan peranan wilayah Kabupaten Sukoharjo yang mempengaruhi pertumbuhan perekonomian tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo. Jika pertumbuhan tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo sama dengan pertumbuhan Kabuapaten Sukoharjo maka peranannya terhadap provinsi tetap.


(3)

2. Proportional Shift (P) adalah pertumbuhan nilai tambah bruto suatu sektor pada tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dibandingkan total sektor di tingkat Kabupaten Sukoharjo.

3. Differential Shift (D) adalah perbedaan antara pertumbuhan ekonomi

tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo dan nilai tambah bruto sektor yang sama di tingkat Kabupaten Sukoharjo.

Secara matematis, komponen Provincial Share (PS), Proportional Shift (P), dan Differential Shift (D) dapat diformulasikan sebagai berikut (Tarigan, 2007; Sjafrizal, 2008):

1. Provincial Share (PS)

Psi,t = Er,i,t-n (EN,t / EN,t-n) – Er,i,t-n 2. Proportional Shift (P)

Pr,i,t = Er,i,t-n {(EN,i,t / EN,i,t-n) – (EN,t / EN,t-n)} 3. Differential Shift (D)

Dr,i,t = Er,i,t {(EN,i,t / EN,i,t-n) – (Er,i,t / Er,i,t-n)} 4. Total Pertumbuhan

∆ Er,i,t = Psi,t + Pr,i,t + Dr,i,t Di mana:

Er,i,t = PDRB Kecamatan tertentu sektor i tahun 2014 Er,i,t-n = PDRB Kecamatan tertentu sektor i tahun 2008

EN,t = Jumlah total PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2014 EN,t-n = Jumlah total PDRB Kabupaten Sukoharjo tahun 2008 EN,i,t = PDRB sektor i Kabupaten Sukoharjo tahun 2014 EN,i,t-n = PDRB sektor i Kabupaten Sukoharjo tahun 2008

Proportional Shift (P) dan Differential Shift (D) memisahkan unsur-unsur pertumbuhan regional yang bersifat eksternal dan internal. Proportional Shift (P) merupakan akibat pengaruh unsur-unsur eksternal yang bekerja secara nasional (Kota/Daerah), sedangkan Differential Shift (D)


(4)

adalah akibat dari pengaruh faktor-faktor yang bekerja di dalam daerah yang bersangkutan (Glasson, 1977).

Sektor-sektor di tiap Kecamatan Kabupaten Sukoharjo yang memiliki Differential Shift (D) positif memiliki keunggulan komparatif terhadap sektor yang sama pada Kecamatan lain dalam Kabupaten Sukoharjo. Selain itu, sektor-sektor yang memiliki nilai D positif berarti bahwa sektor tersebut terkonsentrasi di Kecamatan tersebut dan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan daerah lainnya. Apabila nilai D negatif, maka tingkat pertumbuhan sektor tersebut relatif lamban

Untuk Proportional Shift (P), Apabila P positif artinya Kecamatan tersebut berspesialisasi pada sektor-sektor yang pada tingkat Kabupaten Sukoharjo tumbuh relatif cepat dan apabila P negatif, berarti Kecamatan tersebut berspesialisasi pada sektor-sektor di tingkat Kabupaten Sukoharjo pertumbuhannya lebih lambat atau sedang menurun.

c. Sistem Informasi Geografi (SIG)

Sistem Informasi Geografi (SIG ) digunakan untuk pemetaan sektor unggulan perekonomian wilayah Kabupaten Sukoharjo. Hasil pengolahan berupa peta merupakan data kualitatif ataupun yang disajikan dalam bentuk titik dan garis yang ditujukan untuk memperlihatkan tampilan proses studi langsung pada gambaran wilayah studi. Pembuatan peta melalui tehnik superimpose, yaitu menganalisis objek studi melalui peta dengan cara menumpang susunkan antara peta satu dengan lainnya, akan memberikan hasil maksimal, sehingga menghasilkan informasi yang diinginkan secara spasial (Mudrajat, 2002).

1.8 Batasan Operasional

Untuk menyamakan persepsi tentang variabel-variabel yang digunakan dan menghindari terjadinya perbedaan penafsiran, maka penulis memberi batasan definisi operasional sebagai berikut:


(5)

1. Analisis Spasial adalah analisis yag menyangkut obyek-obyek dalam sistem keruangan, dengan input utama adalah data dan informasi spasial (Ernam Rustiadi,dkk.2009)

2. Sektor Unggulan (leading sector) adalah sektor yang memiliki peranan (share) relatif besar dibanding sektor-sektor lainnya terhadap ekonomi wilayah (PDRB).

3. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah nilai tambah bruto (gross valueadded) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu berdasarkan harga konstan.

4. Sektor Ekonomi adalah lapangan usaha yang terdapat pada PDRB, yang mencakup 9 (sembilan) sektor utama.

5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrarif dan/atau aspek fungsional

6. Sektor Basis adalah sektor yang mempu mengekspor barang-barang dan jasa-jasa keluar batas perekonomian masyarakat bila dibandingkan dengan sektor yang sama pada lingkup yang lebih luas. Sektor basis bila nilai LQ > 1 maka di sebut sektor basis

7. Sektor Non Basis adalah sektor yang hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan daerah itu sendiri dan sektor ini tidak mengekspor barang diluar daerah. Bila nilai LQ < 1 maka disebut sektor non basis

8. Analisis adalah merangkum sejumlah data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan. Semua bentuk analisis berusaha menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti. 9. Menurut Alkadri (2001) pengembangan adalah kemampuan yang ditentukan

oleh apa yang dapat dilakukan dengan apa yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup. Kata pengembangan identik dengan keinginan menuju


(6)

10.Perkembangan Wilayah merupakan kata lain dari pertumbuhan wilayah. Perkembangan wilayah dapat diketahui dari pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, yaitu adanya peningkatan output/produksi sejumlah komoditas yang diperoleh suatu wilayah. Perkembangan wilayah dengan pendekatan sektoral mengkaji berdasarkan kegiatan usaha yang dikelompokkan menurut jenisnya ke dalam sektor-sektor, yaitu sektor pertanian, pertambangan, konstruksi (bangunan), perindustrian, perdagangan, perhubungan, keuangan dan perbankan, dan jasa (Sirojuzilam, 2008).