Batasan Masalah Tujuan Penulisan Metode Penulisan Sejarah Kecamatan Pangkalan Susu

makam-makam keramat disebabkan karena masyarakat Indonesia masih sangat percaya dengan hal-hal mistis sehingga banyak makam-makam tua yang di keramatkan dan dipercaya akan mendatangkan berkah bagi mereka yang datang dan berdoa di makam tersebut. Salah satu makam keramat yang terkenal di Kabupaten Langkat adalah Makam Keramat Panjang yang terletak di desa Pulau Kampai, Kecamatan Pangkalan Susu. Makam Keramat Panjang di desa Pulau Kampai ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan makam-makam keramat lainnya yang masih dijaga sampai saat ini. Keunikan makam ini terletak pada ukurannya yang panjang hingga mencapai 8 meter sehingga dengan keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin secara langsung melihat keunikan makam Keramat Panjang ini. Berdasarkan hal di atas, maka penulis mengambil lokasi penelitian di Makam Keramat Panjang yang terletak di desa Pulau Kampai, Kecamatan Pangkalan Susu, karena penulis ingin mengetahui potensi yang ada dan penelitian tersebut digunakan untuk membuat kertas karya. Judul kertas karya tersebut adalah “POTENSI MAKAM KERAMAT PANJANG SEBAGAI TEMPAT TUJUAN WISATA ZIARAH DI PULAU KAMPAI KECAMATAN PANGKALAN SUSU”.

1.2 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penulisan kertas karya ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana potensi Makam Keramat Panjang di Desa Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu 2. Bagaimana Makam Keramat Panjang sebagai daya tarik wisata di Desa Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu 3. Bagaimana pengelolaan Makam Keramat Panjang sebagai objek wisata di Desa Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan kertas karya ini adalah : 1. Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya Program pendidikan Diploma III Jurusan Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 2. Untuk mengetahui sejauh mana potensi makam keramat panjang sebagai tempat tujuan wisata ziarah di Pulau Kampai Pangkalan Susu.

1.4 Metode Penulisan

Dalam menyusun kertas karya ini penulis mengumpulkan data dengan dua cara, yaitu : 1. Studi pustaka library research, yaitu pengumpulan datateori dengan membaca buku-buku perkuliahan dan bahan yang ada sangkut pautnya dengan kepariwisataan, serta yang berhubungan dengan masalah yang dibahas. 2. Studi lapangan field research, yaitu metode yang dilakukan dengan secara langsung kelapangan, guna memperoleh data-data dan informasi dengan mengadakan wawancara langsung ke narasumber.

1.5 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan kertas karya ini adalah dengan urutan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang pemdahuluan dalam kertas karya yang meliputi alasan pemilihan judul, pembatasan masalah, tujuan penelitian, metode penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II : URAIAN TEORITIS

Bab ini menjelaskan tentang uraian teoritis yang mencakup pengertian situs sejarah, nilai historissejarah, definisi kebudayaan, nilai budaya, dinamika kebudayaan, budaya sebagai objek, dan upaya pelestarian.

BAB III : GAMBARAN UMUM KECAMATAN PANGKALAN SUSU

Bab ini membahas tentang gambaran umum, sejarah, letak geografis dan objek wisata di Kecamatan Pangkalan Susu.

BAB IV : POTENSI MAKAM KERAMAT PANJANG SEBAGAI

TEMPAT TUJUAN WISATA ZIARAH DI PULAU KAMPAI KECAMATAN PANGKALAN SUSU Bab ini membahas tentang potensi wisata Makam Keramat Panjang , daya tarik wisata Makam Keramat Panjang, dan pengelolaan objek wisata Makam Keramat Panjang. BAB V : PENUTUP Dalam bab ini penulis menguraikan kesimpulan dan saran.

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1 Situs Sejarah 2.1.1 Pengertian Situs Sejarah Situs memiliki berbagai pengertian yang berbeda karena selain dibidang computer dan internet, di dalam dunia sejarah juga terdapat istilah situs. Bila dalam dunia computer dan internet situs merupakan sebuah website, sebuah alamat yang bisa kita kunjungi dan berisi informasi tertentu tentang pemilik website, maka kata situs dalam dunia sejarah berhubungan dengan tempat atau area atau wilayah. Menurut William Haviland dalam Warsito 2012 : 25 mengatakan bahwa “tempat-tempat dimana ditemukan peninggalan-peninggalan arkeologi di kediaman makhluk manusia pada Zaman dahulu dikenal dengan nama situs. Situs biasanya ditentukan berdasarkan survey suatu daerah.” Lebih lanjut William Haviland dalam Warsito 2012 : 25 juga mengatakan bahwa “artefak adalah sisa-sisa alat bekas suatu kebudayaan zaman prehistori yang di gali dari dalam lapisan bumi. Artefak ialah objek yang dibentuk atau diubah oleh manusia.” Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Situs diketahui karena adanya artefak. Ahli erkeologi mempelajari peninggalan-peninggalan yang berupa benda untuk menggambarkan dan menerangkan prilaku manusia. Jadi situs sejarah adalah tempat dimana terdapat informasi tentang peninggalan-peninggalan bersejarah.

2.1.2 Nilai HistorisSejarah

Berbicara tentang nilai historis atau nilai sejarah, terlebih dahulu kita harus mengetahi tentang sejarah itu sendiri. Istilah sejarah berarti pariwisata, kejadian atau apa yang terjadi di masa lampau. Lebih dari itu sejarah selalu berarti sejarah manusia. Peristiwa atau kejadian alam dimana lampau seperti proses terjadinya bumi tidak termasuk pengertian sejarah. Pengertian sejarah sebagai peristiwa ini menyangkut makna dasar dari istilah sejarah. Dengan demikian makna dasar sejarah adalah peristiwa, kejadian, aktivitas manusia yang terjadi pada masa lampau. Menurut R.G Collingwood dalam Daliman 2012 : 2 mengatakan “sejarah sebagai kisah atau rerum gestarum kisah dari peristiwa yang telah terjadi. Sejarah sebagai kisah adalah sejarah dalam pengertian subjektif. Sejarah sebagai kisah adalah rekaan hasil rekonstruksi manusia.” Serupa dengan Bertens dalam Daliman 2012 : 2 mengatakan bahwa “sejarah sebagai kisah ini sebagai sejarah yang dicatat atau sejarah yang tersurat.” Dalam pengertian sejarah di atas, ada batasan yang menjadi pedoman tentang makna sejarah. Bahwa sejarah adalah sebuah peristiwa yang pernah terjadi dimasa lalu, dimana rangkaian peristiwa tersebut disusun berdasarkan urutan waktu, proses kejadian serta disertai keterangan tempat dimana sebuah kejadian terjadi. Hal inilah yang menjadi sebuah pembeda antara pengertian dari sejarah dan kisah fiksi. Sebab, kisah sejarah merupakan sebuah kondisi nyata yang sudah pernah dialami oleh seseorang dimasa lalu pada suatu waktu. Sementara, fiksi hanyalah sebuah kisah yang berisi imajinasi dari seorang penulisnya. Dan kisah yang ada didalam fiksi bisa jadi bukan merupakan kisah nyata. Kisah sejarah ini bisa menjadi penghias dari kisah fiksi. Sebagai contoh, guru sejarah yang mampu berkisah tentang peristiwa yang harus diketahui oleh siswanya akan menjadi guru yang sangat dinanti. Sejarah yang dikisahkan itu akan berbumbu. Bumbu yang sedap inilah yang akan membuat kisah sejarah menjadi suatu rangkaian yang indah urutan yang akan dikenal dan diambil pelajarannya. Pelajaran dan pengertian sejarah sudah diberikan kepada seseorang sejak duduk dibangku sekolah dasar. Hal ini karena dalam pelajaran sejarah, terdapat nilai penting yang bermanfaat dalam menentukan pemahaman dan pola pikir seseorang. Beberapa nilai penting dalam mempelajari sejarah ialah diantaranya adalah dengan sejarah, kita bisa memiliki gambaran dan pengetahuan tentang proses kehidupan yang terjadi dimasa lampau termasuk pada zaman purbakala. Dalam sejarah, seseorang bisa mendapatkan pemahaman dan ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia dimasa lampau. Kehidupan masa lampau itu sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang. Sebab dengan belajar dari sejarah, seseorang akan bisa memiliki media untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang. 2.2 Kebudayaan 2.2.1 Defenisi Kebudayaan Budaya merupakan suatu hasil karya cipta dan olah pikir manusia yang diwujudkan dalam bentuk gagasan, aktivitas dan artefak kebendaan kebudayaan pada setiap kelompok masyarakat tertentu memiliki suatu ciri dan keunikan tertentu yang membedakanya denga kebudayaan dari kelompok masyarakat yang lain. Secara etimologi budaya yang dalam bahasa inggris disebut culture berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang. Istilah kebudayaan yang kita kenal di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, dan diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan beberapa pendapat para ahli mengenai kebudayaan diantaranya: 1. Edward B. Taylor Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. 2. R. Linton Kebudayaan adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur pembentukanya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. 3. W.H. Kelly dan C. Klockhohn Kebudayaan adalah pola hidup yang tercipta dalam sejarah, yang eksplisit, implisit, rasional, irasional, dan nonrasional, yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia. 4. William H. Haviland Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat. 5. Koentjaraningrat Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar. 6. Ki Hajar Dewantara Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu: a. Sistem religi b. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial c. Sistem pengetahuan d. Bahasa e. Kesenian f. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi g. Sistem peralatan hidup atau teknologi Menurut J.J. Hoenigman dalam Wiranata, 2011 : 103 bila dikelompokan secarawujudnya kebudayaan dibedakan menjadi tiga,yaitu: 1. Gagasan Wujud ideal Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide- ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. 2. Aktivitas tindakan Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. 3. Artefak karya Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan aktivitas dan karya artefak manusia. Setiap kelompok masyarakat memiliki ciri dan keunikan budaya nya sendiri. Ciri dan keunikan yang berbeda ini merupakan identitas bagi suatu kelompok masyarakat yang membedakanya dengan masyarakat lainya. Di lain hal, perbedaan kebudayan yang ada pada setiap kelompok masyarakat bukan lah menjadi suatu pemisah bagi suatu kelompok masyarakat dengan masyarakat lainya untuk saling berinteraksi dan membaur tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kebudayaan yang masing-masing mereka miliki. Seiring perkembangan zaman dan semakin pesatnya perkembangan teknologi secara perlahan tantpa disadari bentuk-bentuk kebudayaan lama mulai ditinggali bahkan oleh masyarakatnya sendiri sehingga tradisi yang dulunya dianggap suatu keharusan bahkan pada saat sekarang ini menjadi suatu yang aneh dan dianggap bagi masyarakat generasi modern sakarang ini. Namun disisi lain, hal ini menjadi daya tarik bagi masyarakat modern untuk dipelajari dan diteliti atau sekedar menikmati keunikan bentuk kebudayaan tradisional yang masih bertahan ditengah arus modernisasi. Sehingga dengan demikian hal ini menjadikan kebudayaan sebagai salah satu dari bentuk aktifitas wisata dengan menyuguhkan segala bentuk keunikan dari kebudayaan sebagai atraksi wisata.

2.2.2 Nilai Budaya

Nilai-nilai budaya merupakan nilai-nilai yang telah disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebisaan, kepercayaan, simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan perilaku dan tanggapan atas apa yang terjadi atau sedang terjadi. Nilai-nilai budaya akan tampak pada symbol-simbol, slogan, moto, visi misi, sesuatu yang Nampak sebagai acuan pokok suatu lingkungan atau organisasi. Suatu nilai apabila sudah membudaya pada diri seseorang, maka nilai itu akan dijadikan sebagai pedoman atau petunjuk didalam bertingkah laku. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya budaya gotong-royong, budaya malas, dan lain-lain. Jadi secara universal, nilai itu merupakan sebagai pendorong bagi seseorang dalam mencapai tujuan tertentu. Menurut Thodorson dalam Warsito 2012 : 98 mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Ketertarikan orang atau kelompok terhadap nilai menurut Theodorson relative sangat kuat bahkan bersifat emosional. Oleh sebab itu, nilai dapat dilihat sebagai tujuan kehidupan manusia itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai budaya itu sendiri menurut beberapa ahli yakni Koentjaraningrat dalam Warsito 2012 : 99 adalah nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga masyarakat dalam hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam mengambil alternative, cara-cara, alat-alat dan tujuan-tujuan pembuatan yang tersedia. Menurut Clyde Kluckholn dalam Warsito 2012 : 99 mendefinisikan nilai budaya sebagai konsepsi umum yang terorganisasi, yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan orang dengan orang dan tentang hal-hal yang diingini dan tidak diingini yang mungkin berkaitan dengan hubungan orang dengan lingkungan dan sesame manusia. Sementara itu Sumaatmadja dalam Koentjaraningrat 2000 : 180 mengatakan bahwa “pada perkembangan, penerapan budaya dalam kehidupan, berkembang pula nilai-nilai yang melekat dimasyarakat yang mengatur keserasian, keselarasan, serta keseimbangan. Nilai tersebut dikonsepsikan sebagai nilai budaya.” Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dikatakan bahwa setiap individu dalam melaksanakan aktivitas sosialnya selalu berdasarkan serta berpedoman pada nilai-nilai atau sistem nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat itu sendiri. Artinya nilai-nilai itu sangat banyak mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia, baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut. Nilai budaya adalah suatu bentuk konsepsi umum yang dijadikan pedoman atau petunjuk didalam bertingkah laku baik secara individual, kelompok, atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.

2.2.3 Pengertian Dinamika Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan merupakan suatu sekatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena manusia adalah pendukung keberadaan suatu kebudayaan. Kebudayaan pada suatu masyarakat harus senantiasa memiliki fungsi yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan bagi para anggota pendukung kebudayaan. Kebudayaan harus dapat menjamin kelestarian kehidupan biologis, memelihara ketertiban, serta memberiran motivasi kepada pendukungnya agar dapat terus bertahan hidup dan melakukan kegiatan untuk kelangsungan hidup. Tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Setiap individu dan setiap generasi melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan semua desain kehidupan sesuai dengan kepribadian mereka dan sesuai dengan tuntutan zamannya. Terkadang diperlukan banyak penyesuaian dan banyak tradisi masa lampau yang ditinggalkan karena tidak sesuai dengan tuntutan zaman baru. Generasi baru tidak hanya mawariskan suatu edisi kebudayaan baru, melainkan suatu versi kebudayaan yang direvisi. Kebudayaan pun mengalami perubahan. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, perubahan yang disebabkan oleh perubahan dalam lingkungan alam misalnya, perubahan iklim, kekurangan bahan makanan, atau berkurangnya jumlah penduduk. Semua ini memaksa orang untuk beradaptasi. Mereka tidak dapat mempertahankan cara hidup yang lama, tetapi harus menyesuaikan diri terhadap situasi yang baru. Kedua, perubahan disebutkan oleh adanya kontak dengan suatu kelompok masyarakat yang memiliki norma-norma dan teknologi yang berbeda. Kontak budaya bisa terjadi secara damai, bisa juga tidak, bisa dengan sukarela, bisa juga dengan terpaksa, bisa bersifat timbal-balik, bisa juga secara sepihak. Ketiga, perubahan yang terjadi karena discovery penemuan dan invention penciptaan bentuk baru. Menurut Pasurdi Suparlan dalam Rafael 2007 : 51 Discovery adalah suatu bentuk penemuan baru yang merupakan persepsi mengenai hakikat suatu gejala atau hakikat hubungan antara dua gejala atau lebih. Discovery biasanya membuka pengetahuan baru tentang sesuatu yang pada dasarnya sudah ada. Misalnya penemuan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, melainkan bumilah yang mengelilingi matahari membawa perubahan besar dalam pemahaman manusia tentang alam semesta. Invention adalah penciptaan bentuk baru dengan mengkombinasikan kembali pengetahuan dan materi-materi yang ada. Misalnya penciptaan mesin uap, satelit,dan sebagainya. Keempat, perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau suatu bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan bangsa lain ditempat lain. Pengadopsian elemen-elemen yang bersangkutan dimungkinkan oleh apa yang disebut difusi, yakni proses persebaran unsure-unsur kebudayaan dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain melalui difusi, misalnya teknologi computer yang dikembangkan oleh bangsa barat diadopsi oleh berbagai bangsa didunia. Gejala ini menunjukkan adanya interdependensi erat antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lainnya. Pengadopsian semacam ini membawa perubahan-perubahan sosial secara mendasar, karena elemen kebudayaan material semacam computer, mobil, televisi dan lainnya itu bisa mengubah seluruh sistem organisasi sosial. Kelima, perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru, atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas. Perubahan ini biasanya berkaitan dengan munculnya pemikiran atau konsep baru dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan dan agama. Kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa modern dibentuk langsung olej ilmu modern. Begitu pula munculnya suatu agama membawa perubahan dalam seluruh karakter suatu kebudayaan, sebagaimana tampak dalam transformasi peradaban kuno oleh agama Kristen, dan transformasi masyarakat bangsa Arab oleh agama Islam. Dalam contoh tersebut para Nabi dan reformator religious memiliki suatu pandangan baru tentang realitas kehidupan. Berikut ini beberapa pendapat ahli mengenai definisi kebudayaan yakni : Sir Edward B. Taylor dalam Rafael Raga Maran 2007 : 26 Taylor menggunakan kata kebudayan untuk menunjuk “keseluruhan kompleks dari ide dan segala sesuatu yang dihasilkan manusia dalam pengalaman historisnya.” Termasuk disini ialah pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, kebiasaan, dan kemampuan serta perilaku lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Robert H. Lowie dalam Rafael Raga Maran 2007 : 26 kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat mencakup kepercayaan, adat- istiadat, norma-norma, kebiasaan merupakan keahlian yang diperoleh bukan karena kreativitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal atau informal. Clyde Kluckhohn dalam Rafael Raga Maran 2007 : 26 mendefinisikan “kebudayaan sebagai total dari cara hidup suatu bangsa, warisan sosial yang diperoleh individu dari grupnya.” Gillin dalam Rafael Raga Maran 2007 : 26 beranggapan bahwa “kebudayaan terdiri dari kebiasaan-kebiasaan yang berpola dan secara fungsional saling bertautan dengan individu tertentu yang berbentuk grup-grup atau kategori sosial tertentu.” Keesing dalam Rafael Raga Maran 2007 : 26 mengemukakan kebudayaan adalah “totalitas pengetahuan manusia, pengalaman yang terakumulasi dan yang ditransmisikan secara sosial” atau singkatnya “kebudayaan adalah tingkah laku yang diperoleh melalui proses sosialisasi.” Koentjaraningrat dalam Rafael Raga Maran 2007 : 26 “kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.” Parsudi Suparlan dalam Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok 2000 : 28 menjelaskan bahwa kebudayaan adalah serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dimiliki manusia dan yang digunakan secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah laku dan tindakan-tindakannya. Menurut Soerjono Soekanto dalam Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok 2000 : 29 rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Agama, ideologi, kebatinan, dan kesenian yang merupakan hasil jiwa ekspresi manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat termasuk didalamnya. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Cipta bisa berbentuk teori murni dan bisa juga telah tersusun sehingga dapat langsung diamalkan oleh masyarakat. Rasa dan cinta dinamakan pula sebagai kebudayaan Rohaniah. Semua karya, rasa, dan cipta semua dikuasai oleh karya orang-orang yang menentukan kegunaannya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau seluruh masyarakat. Dari definisi yang dijabarkan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi system idea tau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan juga dapat digambarkan untuk melukiskan cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan-tujuan dalam kehidupannya.

2.2.4 Budaya Sebagai Objek Wisata

Dari uraian mengenai suberdaya pariwisata yang telah di bahas sebelumnya, keunikan kebudayaan merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan sebagai salah satu atraksi objek wisata. Kegiatan wisata ini kita kenal dengan wisata budaya. Wisata budaya merupakan suatu kegiatan wisata yang berorientasi pada keunikan unsur-unsur kebudayaan sebagai atraksi utama dari kegiatan wisata nya. Sebagai negara yang memiliki kekayaan dan keragaman budaya, indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan parwisata khususnya wisata budaya. Ada banyak objek budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai atraksi wisata diantaranya adalah : 1. Upacara Adat Mencakup segala bentuk kegiatan upacara adat yang terdapat pada masyarakat lokal de daerah wisata budaya. 2. Kesenian Aradisional Mencakup segala bentuk kesenian asli dari budaya masyrakat setempat, dapat berupa seni tari, musik, kerajinan tangan. 3. Benda-Benda peninggalan sejarah Dapat berupa patung arca, rumah adat, peralatan sehari-hari, pakaian, peralatan kesenian dan lain sebagainya. 4. Sitim Religi Mencakup sistim kepercayaan norma-norma yang berlaku di dalam suatu kebudayaan tertentu. Selain untuk sekedar menikmati atraksi dan keunikan dari kegiatan wisatanya, Pengembangan suatu objek wisata budaya merupakan salah satu bentuk pendidikan budaya yang bertujuan untu melestarikan budaya dengan cara mengenalkan kepada masyarakat mengenai suatu kebudayaan sehingga dapat dipahami dan dicintai masyarakat. Sehingga kelansungan dari keberadaan suatu budaya akan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Seperti halnya sebuah industri, keberadaan suatu objek wisata di suatu daerah tertentu sudah pasti diharapkan mampu memberikan kotribusi positif terutama bagi kesejahteraan masyarakat setempat dan pemerintah. Seperti terbukanya lapangan pekrjaan bagi masyarakat setempat. Namun demikian, aktifitas wisata yang menggunakan budaya sebagai atraksi wisatanya terkadang juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan budaya itu sendiri. Terutama di daerah tujuan wisata budaya. Ini disebabkan oleh adanya interaksi yang dilakukan secara langsung oleh wisatawan dan masyarakat di daerah objek wisata budaya. Selain itu juga disebabkan oleh tuntutan pasar pariwisata itu sendiri yang pada akhirnya memaksa ekspresi kebudayaan lokal untuk dimodifikasi agar dapat menarik wisatan untuk datang berkunjung.

2.2.5 Wisata Budaya dan Perubahan Nilai

Gejala pariwisata sesungguhnya tidak terlepas dari kebudayaan sebuah masyarakat. Pada prosesnya, aktifitas pariwisata terutama yang berorientasi pada kebudayaan akan terjadi kontak kebudayaan dari hasil interaksi wisatawan dengan masyarakat setempat. Perbedaan kebudayaan yang dimiliki wisatawan dengan kebudayaan masyarakat pada daerah yang dikunjunginya juga mempengaruhi interaksi yang terjadi antara wisatawan dan masyarakat setempat. Ketika seorang wisatawan berkunjung kesuatu daerah maka proses interaksi yang terjadi antara wisatawan dan masyarakat setempat akan memberikan dan menambah pemahaman seseorang atau suatu kelompok wisatawan mengenai kebudayaan masyarakat di daerah yang dikunjunginya sehingga dengan sengaja atau tidak wisatawan akan meniru dan membawa nilai-nilai kebudayaan yang dianggap baik dan sesuai dengan kebudayaan yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari. Dan begitu juga sebaliknya yang terjadi pada masyarakat daerah tujuan wisata. Namun dalam hal ini, terkadang interaksi yang terjadi antara wisatawan dengan masyarakat setempat tidak hanya melahirkan suatu nilai positif yang baru terhadap suatu kebudayaan. Ketiak mampuan wisatawan maupun masyarakat setempat yang diakibatkan oleh kurangnya pemahaman dalam menilai dan meniru suatu kebudayaan akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan kebudayaan terutama di daerah tujuan wisata. Karna ketidak mampuan itu secara tidak lansung nilai-nilai budaya yang tidak sesuai dengan suatu kebudayaan secara tidak sengaja tanpa disadari mulai dibiasankan dalam kehidupan sehari-hari baik bagi wisatawan maupun masyarakat di daerah tujuan wisata. Sehingga pada akhirnya nilai dasar dari kebudayaan yang dimiliki terutama pada masyarakat setempat lambat laun akan memudar dan bahkan dapat mengalami kepunahan.

2.2.6 Upaya Pelestarian Budaya

Kelestarian nilai-nilai kebudayaan sangatlah berperan penting dalam menjaga tatanan kehidupan masyarakat pada satu daerah dimana budaya tersebut berkembang. Bahkan upaya pelestarian budaya ini menjadi salah satu program penting pemerintah dalam penyelenggaraan tatanan sosial pada masyarakat. Melalui program-program kerja nya, pemerintah terus berupaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan. Hal ini terbukti dengan adanya peraturan dan undang-undang yang dikeluarkan pemerintah mengenai kebijakan upaya pelestarian kebudayaan. Adapun peraturan dan undang-undang tersebut diantaranya yaitu: a. Peratuaran Pemerintah No 10 Tahun 1993 Tentang Pelaksanaa UU No 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya b. Peraturan Bersama Mentri Dalam Negri Dan Mentri Kebudayaan Dan Pariwisata No 42 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Budaya c. Undan-undang Republik Indonesia No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya

BAB III GAMBARAN UMUM KECAMATAN PANGKALAN SUSU

3.1 Sejarah Kecamatan Pangkalan Susu

Kecamatan Pangkalan Susu merupakan salah satu dari beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Secara terperinci dan mendetail, sejarah kelahiran dan pertumbuhan maupun perkembangan Kecamatan Pangkalan Susu tidak diperoleh dengan pasti, namun berdasarkan keterangan yang dikumpul dan diperoleh dari para orang tua M.Jali Hg dan Ramli, dapat dikumpulkan keterangan- keterangan yang di anggap cukup memadai untuk menjadi bahan penulis. Lebih kurang pada tahun 1890 dan pada waktu itu suasana Pangkalan Susu masih hutan semak belukar dan pemerintahannya tunduk kepada sultan Langkat di Tanjung Pura, seseorang yang bernama Tengku Nyak Pekan, telah membuka hutan di kampong Sei Bembansekarang Pulau Kampai, selain menanam lada dan menanam potensi pertanian lainnya. Merasa perlu memperluas area pertaniannya, maka Tengku Nyak Pekan bersama keluarganya membuka hutan pula di Pangkalan Soesoe, sehingga area pertanian diwarnai dengan tumbuhnya pohon lada yang cukup banyak. Pada tahun 1917, salah satu anak dari Tengku Nyak Pekan yang bernama Kobat, diangkat oleh Sultan Langkat menjadi ketua dan memimpin di daerah Pangkalan Soesoe. Dalam perkembangannya , maka Pangkalan Soesoe mulai didatangi para pendatang dari pesisirluar untuk mencoba berusaha dibidang pertanian. Pada saat itu belum ada transportasi darat sehingga para pendatang menelusuri laut dan pantai untuk membuka hutan yang masih belum dijamah. Perahu-perahu dan sagorsampan mereka ikatkan disebuah pohon rindang ditepi pantai, selanjutnya lokasi penambatan perahu ini mereka sebut dengan PANGKALAN dan pohon rindang tempat diikatnya dan ditambatkan sagorsampan tersebut mereka namakan SOERSOER. Dari hari kehari pertambahan jumlah pendatang semakin banyak untuk membuka hutan sebagai lahan pertanian. Menurut ceritanya baik dari pemerintah Belanda maupun masyarakat setempat sendiri, menyebut SOERSOER merasa agak sulit sehingga sering terucap SOESOE. Pada akhirnya oleh Pemerintah Belanda ditetapkan menjadi PANGKALAN SUSU hingga sampai sekarang ini. Pada bagian lain di Pangkalan Berandan pada saat itu berkedudukan seorang Controller yang membawahi 4 empat orang Datuk beserta daerahnya yaitu : • Datuk Lepan • Datuk BesitangPangkalan Susu • Datuk Pulau Kampai Setelah Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, dihapuskanlah pemerintahan Swa Praja atau Zeltbestuur yang diperintah oleh SultanRaja-Raja di Kerisidenan Sumatera Timur, termasuk di Pangkalan Susu. Maka disusunlah pemerintahan sipil di Wilayah Kerisidenan Sumatera Timur yang terdiri dari 6 enam Kabupaten Langkat dengan bupatinya bernama Bapak Alm.Adna Noer Lubis, diresmikan tepatnya tanggal 12 April 1946. Dengan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka dihapuslah Kerisidenan Sumatera Timur dan menetapkan pejabat Pimpinan pemerintahan disemua kabupaten termasuk kabupaten Langkat yang berkedudukan di Binjai dengan membawahi 3 tiga kewedanan termasuk didalamnya Kecamatan Pangkalan Susu sebagai bahagian dari Kecamatan di Kewedanan Teluk Haru sehingga dengan demikian dapatlah dianggap bahwa kehadiran dan tumbuhnya Kecamatan Pangkalan Susu dimulai pada saat tersebut diatas.

3.2 Letak Geografis Kecamatan Pangkalan Susu