PEMBINAAN KARAKTER REMAJA KELURAHAN BABAKAN ASIH : Studi Deskriptif Eksploratif tentang Model Pembinaan Karakter Remaja di Kelurahan Babakan Asih RT 04 RW 01 Bojong Loa Kaler Kota Bandung Nomor Panggil TPU RIS p-2012.

(1)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

KATA PENGANTAR... ii

UCAPAN TERIMAKASIH... v

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah... 12

C. Tujuan Penelitian... 13

D. Manfaat Penelitian... 13

E. Metode Penelitian... 14

F. Lokasi Penelitian... 17

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu... 20

B. Urgensi Pembinaan Karakter... 23

1. Pengertian Pembinaan Karakter... 23

2. Tujuan Pembinaan Karakter... 26

3. Nilai-nilai Karakter yang Ditanamkan... 31

4. Korelasi Karakter dengan Worldview... 35

5. Faktor-faktor yang Membentuk Karakter... 37

6. Pilar-pilar Pendidikan Karakter... 41

C. Pembinaan Karakter Remaja... 50

1. Pengertian Remaja... 50

2. Ciri-ciri Remaja... 56

3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Remaja... 58

4. Masalah Kenakalan Remaja... 59

5. Pendekatan dalam Pembinaan Karakter... 67

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Pendekatan Penelitian... 76

B. Definisi Operasional... 77

C. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data... 78

D. Instrument Penelitian... 80

E. Tahapan-Tahapan Pengumpulan Data... 81

F. Analisa Data... 84

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Subjek Penelitian... 86

B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 106

C. Temuan-temuan yang Berhubungan dengan Rumusan Masalah... 110 1. Gambaran Kehidupan Remaja Babakan Asih Ketika Kurang


(2)

Tersentuh Pembinaan Karakter... 110

2. Gambaran Kehidupan Remaja Babakan Asih Ketika telah Mendapatkan Pembinaan Karakter... 114

3. Keberhasilan dalam Pembinaan Karakter Remaja Babakan Asih ... 116

D. Pembahasan Hasil Penelitian... 129

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan... 183

B. Rekomendasi... 186

DAFTAR PUSTAKA... 188


(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masalah karakter bagi sebuah bangsa bukan masalah yang kecil, tetapi hal yang sangat penting. Asumsi tersebut bisa dilihat pada zaman sekarang. Kita bisa melihat negara kuat adalah negara yang memiliki karakter kuat dan negara lemah adalah negara yang memiliki karakter lemah. Karena memiliki peranan yang sangat penting, peneliti berasumsi bahwa kegagalan dalam pembinaan karakter akan mengakibatkan kegagalan negara (failure state).

Premis di atas pernah dikemukakan oleh Thomas Lickona, seorang profesor pendidikan dari Cortland University. Lickona (1992: 13-19) berpendapat bahwa ada sepuluh tanda zaman yang harus diwaspadai. Jika kesepuluh tanda tersebut sudah ada, sebuah bangsa berarti sedang menuju jurang kehancuran. Kesepuluh tanda tersebut adalah:

(1). Kekerasan dan vandalisme (violence and vandalism). (2). Tradisi mencuri (stealing). (3). Kebiasaan menipu (cheating). (4). Semakin rendah rasa hormat kepada orang yang lebih dewasa (disrecpect for authority). (5). Pengaruh peer group untuk melakukan kekerasan (peer cruelty). (6). Sikap fanatik (bigotry). (7). Penggunaan bahasa yang buruk (bad language). (8). Pelecehan seksual (sexual abuse). (9). Meningkatnya egoisme dan merendahnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara (increasing self-centeredness and declining civis responsibility). (10). Munculnya perilaku merusak diri (self destructive behavior).


(4)

2

Kita tentu saja sepakat, jika kesepuluh sifat tersebut telah menjadi karakter sebuah bangsa, bangsa tersebut tidak akan menjadi bangsa yang maju. Bagaimana bisa maju jika kehidupan sehari-hari bangsa justru disibukkan untuk menanggulangi masalah kenakalan remaja, narkoba, korupsi, kejahatan seksual, dan lain sebagainya?

Tentang hal tersebut, seorang penyair Arab terkenal, Ahmad Syauqi Bek (Al-Wabil, 1424: 6), pernah membuat syair:

إ ا

ق ا

ن ھ ھذ أ ا ھذ

“Sesungguhnya sebuah umat tergantung kepada akhlak

Jika akhlak binasa, umat akan binasa”

Salah seorang budayawan terkenal Indonesia, Mochtar Lubis, pernah memberikan gambaran tentang karakter Bangsa Indonesia. Gambaran tersebut dijelaskan olehnya dalam salah satu ceramah di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 6 April 1977. Dia menyatakan bahwa karakter Bangsa Indonesia adalah: “(1). Munafik. (2). Tidak mau bertanggung jawab. (3). Berjiwa feodal. (4). Percaya takhayul. (5). Lemah karakter. (6). Boros” (Lubis, 2001: 18-35).

Pembinaan karakter adalah kegiatan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia. Aktifitas-aktifitas seperti mengajar, bertutur kata, bertetangga, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, membuang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya adalah perbuatan-perbuatan yang harus disertai


(5)

3

dengan karakter (Fraenkel, 1977: 211-214). Manusia tidak bisa hidup di dunia ini dengan seenaknya. Karena manusia tidak sedang hidup di tengah hutan belantara.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa bangsa ini memang sedang mengalami dekadensi karakter (character decadence) yang sangat besar. Setiap penjuru negeri ini (dari mulai rumah, gedung parlemen, sekolah, sampai gang-gang sempit dan lampu merah) sering memunculkan aktifitas-aktifitas yang tidak bernilai dan tidak berkarakter. Hal tersebut secara otomatis membuat karakter bangsa menjadi terpuruk.

Berbagai laporan yang menerangkan tentang jumlah penggunaan narkoba, seks bebas, dan aborsi menunjukan kualitas karakter yang semakin merosot. Mayoritas perbuatan-perbuatan tersebut bahkan dilakukan oleh remaja. Pada penghujung tahun 2010, Badan Narkotika Nasional (BNN) pernah memberikan laporan tentang kejahatan narkoba di Indonesia.

Pada tahun 2010 BNN berhasil membongkar 61 kasus kejahatan Narkoba. Seluruh kasus tersebut berdampak kerugian materil sebanyak Rp 36 triliun. Angka tersebut meningkat sebesar Rp 4 triliun dari tahun sebelumnya. Pada tahun tersebut BNN pun berhasil menyita 10.110 gram heroin, 4.902 ganja, 130.681 gram shabu, 19.953 ekstasi, 162 gram kokain, dan 1.988 prekusor narkoba (Koran Tempo, 31/12/2010, dalam http://www.tempointeraktif.com)

Hal yang sama terjadi pada perilaku hubungan seks pra nikah. Berbagai penemuan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga riset menunjukkan bahwa angka hubungan seksual pra-nikah justru semakin meningkat. “Pada akhir tahun 2010, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melaporkan bahwa 50


(6)

4

persen remaja Indonesia telah melakukan hubungan seks pra nikah” (Kompas, 8/10/2010, dalam http://www.nasional.kompas.com).

Kejadian-kejadian tersebut belum ditambah dengan fenomena Geng Motor dan para suporter sepak bola yang sering membuat keresahan kepada masyarakat. Kasuh-kasus seperti tawuran, penjarahan, pemukulan, penodongan, dan mabuk-mabukan sering dilakukan oleh mereka. Kejahatan-kejahatan tersebut bahkan bukan dilakukan kepada masyarakat saja, tetapi juga sering terjadi antarsesama mereka. Mereka sering terlibat tawuran satu dengan yang lain. Kumpulan-kumpulan anak muda tersebut hanya sedikit contoh dari tumpukan contoh yang membuktikan bahwa bangsa kita sedang mengalami krisis nilai.

Ketika berbicara tentang pembinaan karakter, seluruh perhatian kita selalu tertuju kepada pendidikan formal yang ada di sekolah. Kita sering lupa terhadap pembinaan karakter yang ada di luar sekolah. Padahal, pembinaan karakter di luar sekolah sama pentingnya dengan pembinaan karakter di dalam kelas.

Banyak fenomena yang bisa menjadi bukti dari hal tersebut. Bukti yang paling penting pada saat sekarang adalah waktu yang dihabiskan oleh anak-anak di depan televisi. Pada tanggal 31 Maret 2011, Harian Joglo Semar pernah menurunkan berita:

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menyebutkan bahwa anak-anak menghabiskan waktu 35 jam setiap pekan untuk menyaksikan acara televisi. Jika dibandingkan dengan tahun 1997, telah terjadi peningkatan, yakni 22 hingga 26 jam per pekan. KPI kemudian menilai bahwa masih banyak tayangan televisi di Indonesia yang materi siarannya melanggar aturan. Seperti isi siaran yang berbau kekerasan, seks, pornografi, mistik, klenik, serta yang melanggar norma kesopanan dan kesusilaan.


(7)

5

Hal yang lebih memprihatinkan adalah data yang diliris oleh AGB Nielsen. Dalam penelitiannya, lembaga yang bergerak dalam bidang pertelevisian tersebut menemukan bahwa jenis tayangan yang ditonton anak-anak justru bukan tayangan untuk mereka. Sebanyak 21 persen anak-anak tersebut berusia antara lima hingga 14 tahun dan sebanyak 1,4 juta anak di Indonesia menonton televisi pada pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB (Harian Joglo Semar, 31/03/2011, dalam http://www.harianjoglosemar.com).

Televisi pada zaman sekarang ternyata bisa menjadi media yang sangat ampuh dalam membentuk karakter anak bangsa. Ilmu, akhlak, dan segala kebaikan yang dipelajari di sekolah bertahun-tahun bisa “digerogoti” oleh pergaulan yang ada di luar sekolah, termasuk televisi. Hal tersebut membuktikan bahwa pembinaan karakter di luar sekolah sama pentingnya dengan pembinaan karakter di sekolah.

Jika kita renungkan, angka-angka hasil penelitian yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga di atas banyak yang berhubungan dengan remaja. Kejahatan-kejahatan tersebut ternyata banyak dilakukan oleh remaja. Banyaknya remaja melakukan tindakan kejahatan dikarenakan masa remaja adalah masa transisi dan penuh perubahan. Oleh sebab itu, masa remaja biasanya penuh dengan kerawanan.

Karena sifat masa remaja yang seperti itu, orang Barat biasanya menyebut masa remaja dengan “storm and drug. Hal tersebut karena remaja biasanya mengalami gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat” (Zulkifi, 1995: 63).

Ada lima ciri yang umumnya terjadi pada remaja, yaitu “kegelisahan, pertentangan, mengkhayal, aktivitas berkelompok, dan keinginan mencoba segala


(8)

6

sesuatu” (Ali dan Mohammad, 2009: 16-18). Karena ciri-ciri dan sifat-sifat tersebut, kejahatan-kejahatan pun banyak dilakukan oleh remaja.

Agar remaja tidak melakukan berbagai kejahatan, remaja harus mendapatkan pembinaan karakter (character building) yang baik. Sebab, salah satu sebab fundamental remaja sering melakukan kejahatan adalah karena remaja tidak mendapatkan pembinaan karakter yang baik.

Ketika tidak mendapatkan pembinaan karakter yang baik, remaja biasanya akan terjebak ke dalam kenakalan remaja (juvenile delinquency).

Kenakalan remaja adalah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Anak-anak muda yang delinkuen atau jahat itu disebut pula sebagai anak cacat secara sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada di tengah masyarakat (Kartono, 2010: 6). Dadang Hawari menyebut kenakalan remaja sebagai kepribadian anti sosial atau gangguan tingkah laku (Syafaat, Sahrani, dan Muslih, 2008: 82). Kita tentu saja tidak ingin bangsa ini dipimpin oleh manusia-manusia yang cacat sosial dan mengalami gangguan tingkah laku.

Karena pentingnya remaja mendapatkan pembinaan karakter yang baik, maka pembinaan karakter bukan masalah Kementerian Pendidikan Nasional, Kementeraiaan Agama, Menteri Pendidikan, Menteri Agama, pemuka agama, guru agama, guru kewarganegaraan, dan praktisi pendidikan saja, tetapi ia masalah kita bersama, ia adalah masalah bangsa. Seluruh elemen bangsa dengan


(9)

7

demikian harus bahu-membahu untuk melakukan pembinaan karakter di semua lini kehidupan.

Ahmad Ruyani menjelaskan bahwa pada zaman dahulu Babakan Asih sebenarnya dikenal sebagai “kampung hijau.” Pada waktu dahulu Babakan Asih adalah kawasan yang dikenal banyak santri dan ustadznya. Menurutnya, keadaan tersebut dibuktikan ketika nilai-nilai agama masih dipegang dengan baik oleh masyarakat. Orangtua masih memiliki semangat agar anak-anak mereka belajar agama dan kehidupan masyarakat terjalin dengan baik. Bahkan, di Babakan Asih ada Pesantren Al-Quran yang bernama Miftahus Shudur. Pesantren tersebut adalah tempat orang-orang berlajar Al-Quran. Bahkan, jika ada perlombaan musabaqah Al-Quran tingkat nasional, orang-orang dari perwakilan Jawa Barat yang ikut lomba dididik di Pesantren Miftahus Shudur terelebih dahulu. Karena kedudukan yang seperti itu, Pesantren Miftahus Shudur pun banyak dikunjungi oleh orang-orang yang ingin belajar Al-Quran dari luar Bandung (seperti dari Garut dan Banten). Kondisi seperti itu berlangsung selama beberapa generasi. Namun, seiring berjalannya waktu dan proses modernisasi, keadaan tersebut kemudian berubah. Pesantren Miftahus Shudur pun kemudian lenyap untuk kemudian diganti dengan pendidikan tingkat dasar. Kondisi tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita tentang perubahan yang terjadi di Babakan Asih, terutama kehidupan remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, pentingnya remaja mendapatkan pembinaan karakter yang baik dibuktikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada remaja Babakan Asih RT 04/01 Bojong Loa Kaler Kota


(10)

8

Bandung. Lebih dari dua dasawarsa kampung tersebut terkenal sebagai kampung preman. Tawuran, mabuk-mabukan, pencurian, perjudian, dan tindakan-tindakan kriminal lainnya telah menjadi aktivitas sehari-hari remaja yang ada di kampung tersebut. Bahkan bukan hanya perbuatan kriminal, sekadar lewat di gang kemudian tidak menyebutkan kata “punten” (permisi) saja pasti tidak akan selamat dari pukulan remaja. Bahkan, remaja tersebut akan senang jika ada orang yang tidak mengatakan punten. Sebab, hal tersebut berarti mereka telah mendapatkan “korban empuk” untuk dipukuli. Ahmad Ruyani menuturkan, karena situasi dan kondisi tersebut, orang-orang pun kemudian menjuluki Babakan Asih sebagai Kampung Seribu Punten, Kampung Napi, Kampung Residivis, dan Negara Beling (Pecahan Kaca).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, kejahatan telah menjadi karakter sehari-hari remaja Babakan Asih. Penjara pun akibatnya menjadi tempat biasa bagi mereka. Seseorang bisa keluar-masuk penjara lebih dari tiga kali. Ahmad Ruyani, Ketua RT 04 Babakan Asih, menjelaskan bahwa semenjak pertengahan tahun 1990-an sampai awal 2000-an, ada puluhan anak muda Babakan Asih yang harus masuk penjara. Bahkan pernah belasan remaja Babakan Asih masuk penjara secara berjamaah. Ketika keluar penjara pun yang dilakukan bukan bertaubat, tetapi melakukan pesta minuman keras. Kebiasaan buruk yang telah menjadi karakter remaja Babakan Asih kemudian diturunkan dari senior kepada junior.

Peneliti menemukan bahwa situasi dan kondisi yang seperti itu mengakibatkan Babakan Asih dilanda ketakutan yang sangat mencekam. Orang


(11)

9

tua yang memiliki anak kecil dan anak wanita akan resah terhadap anaknya. Sebab, mereka takut jika anak mereka mendapatkan didikan dan gangguan dari remaja. Kondisi tersebut ditambah dengan keadaan kampung yang sangat sumpek. Rumah sangat berimpitan satu dengan yang lain dan kondisi gang yang hanya bisa dilalui oleh sebuah sepeda motor. Bahkan, setiap musim hujan datang, banjir selama dua hari pasti menggenangi kawasan tersebut.

Namun, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, situasi Babakan Asih yang seperti di atas adalah situasi beberapa tahun yang lalu. Remaja yang dahulu selalu terlibat dalam perbuatan jahat berubah menjadi remaja yang cukup baik. Bahkan bukan hanya menjadi sosok yang cukup baik, mereka pun kemudian bahu-membahu membangun kampung sendiri.

Kawasan yang tadinya dikenal sebagai daerah preman, banjir, dan sumpek pun akhirnya berubah menjadi tempat yang nyaman, sopan, dan asri. Remaja yang tadinya ditakuti menjelma menjadi sosok-sosok yang dicintai dan dipercaya oleh masyarakat.

Perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan remaja Babakan Asih tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Namun, ia memerlukan waktu yang sangat panjang. Aktor utama pengubah tatanan nilai remaja Blok Tempe adalah Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani. Reggi adalah remaja Babakan Asih yang selamat dari pengaruh buruk lingkungan sedangkan Ahmad Ruyani adalah Ketua RT 04.


(12)

10

Pada tahun 2000, Ruyani menuturkan keinginannya yang ingin mengubah kehidupan remaja kepada Reggi. Alasan Ruyani memilih Reggi sebagai partner untuk melakukan perubahan, karena menurut Ruyani, Reggi adalah satu-satunya remaja di Babakan Asih yang memiliki potensi lebih. Selain itu, Reggi adalah satu-satunya remaja Babakan Asih yang paling menonjol dalam hal keilmuan.

Ketika Ruyani bertemu dengan Reggi, dia mengutarakan seputar kebiasaan buruk remaja yang ada di daerahnya. Sudah lama sekali Ruyani memiliki niat untuk megubah watak dan karakter remaja. Namun, Ruyani tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ketika mendengar hal tersebut Reggi berkata, “Sudah Pak RT, yang penting kita dekati dulu mereka.”

Metode yang dilakukan oleh Reggi dan Ruyani ketika membina karakter remaja sangat sederhana, yaitu melakukan pendekatan. Ketika remaja sedang berkumpul, Reggi dan Ruyani sering mendekati mereka. Reggi dan Ruyani bahkan sering mendekati remaja ketika mereka sedang mabuk. Dengan menggunakan bahasa yang selalu digunakan oleh remaja, Reggi sering ikut bermain gitar dengan remaja. Dalam suasana seperti itulah Reggi dan Ruyani kemudian menanamkan berbagai nilai kepada remaja. Obrolan dan nasihat-nasihat ringan pun terlontar dari mulut Reggi dan Ruyani.

Pada awalnya, remaja sangat tidak senang dengan kebiasaan Reggi dan Ruyani yang selalu mendekati mereka. Terlebih lagi jika Reggi dan Ruyani mendekati mereka ketika sedang mabuk. Karena memiliki pandangan seperti itu, pada awalnya remaja tidak merasa malu ketika Reggi dan Ruyani mendekati mereka ketika sedang mabuk.


(13)

11

Karena sering bertemu dan bicara, remaja pun kemudian dekat dengan Reggi dan Ruyani. Dalam kondisi seperti itulah, Reggi dan Ruyani kemudian menanamkan nilai-nilai kepada remaja. Dalam pertemuan dan obrolan-obrolan ringan, Reggi dan Ruyani sering melontarkan pertanyaan yang membangkitkan kesadaran remaja. Suatu hari, Reggi misalnya pernah bertanya kepada mereka, “Apakah hidup mau seperti ini terus?”

Pertanyaan-pertanyaan ringan seperti itulah yang kemudian berhasil menyadarkan remaja. Kesadaran mereka bertambah besar lagi ketika Reggi dan Ruyani membenturkan keadaan mereka dengan kondisi Blok Tempe yang kumuh, sering banjir, dan memusuhi mereka. Keadaan seperti itulah yang kemudian membangkitkan kesadaran remaja. Akibatnya, jika pada awalnya mereka tidak malu untuk memperlihatkan sisa-sisa narkoba di hadapan Reggi dan Ruyani, seiring berjalannya waktu, mereka pun merasa malu jika barang-barang haram tersebut dilihat oleh Reggi dan Ruyani. Mula-mula mereka akan menyembunyikan barang-barang haram jika Reggi dan Ruyani datang, lama kelamaan mereka kemudian meninggalkan barang-barang tersebut secara total.

Sepuluh tahun lamanya Reggi dan Ruyani melakukan penanaman nilai-nilai dan pembinaan karakter terhadap remaja. Mereka pun kemudian berubah total menjadi orang-orang baik. Masyarakat yang asalnya benci dan takut menjadi sayang dan percaya kepada mereka. Warga pun tidak takut lagi jika anak-anak mereka bermain dengan remaja. Bahkan pada saat sekarang, remaja menjadi tempat kepercayaan warga. Menurut Ipan, jika ada keluarga yang akan pergi


(14)

12

untuk waktu lama, keluarga tersebut akan menitipkan rumah dan anak-anak kepadanya.

Dari seluruh latar belakang di atas, maka penelitian ini berjudul: Pembinaan Karakter Remaja Kelurahan Babakan Asih (Studi Deskriptif Eksploratif tentang Model Pembinaan Karakter Remaja di Kelurahan Babakan Asih RT 04 RW 01 Bojong Loa Kaler Kota Bandung)

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah gambaran kehidupan remaja Babakan Asih ketika mereka kurang tersentuh oleh pembinaan karakter?

2. Bagaimanakah gambaran kehidupan remaja Babakan Asih ketika mereka telah mendapatkan pembinaan karakter?

3. Sampai seberapa jauh pembinaan karakter telah berhasil diterapkan kepada remaja Babakan Asih?


(15)

13 C. Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menemukan pembinaan karakter terhadap remaja. Secara spesifik, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan:

1. Kehidupan remaja Babakan Asih ketika mereka kurang tersentuh oleh pembinaan karakter.

2. Kehidupan remaja Babakan Asih ketika mereka telah mendapatkan pembinaan karakter.

3. Keberhasilan pembinaan karakter yang diterapkan kepada remaja Babakan Asih.

D. Manfaat Penelitian

Bila tujuan tercapai, maka hasil penelitian akan memiliki manfaat teoritis dan praktis.

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan konsep dan pola pembinaan karakter remaja serta input dan output yang dihasilkan dari pembinaan karakter remaja terhadap kehidupan masyarakat.


(16)

14 2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi sekolah (Pendidikan Formal), orang tua (Pendidikan informal), dan lembaga-lembaga yang ada di masyarakat (Pendidikan Non-formal) untuk melakukan pembinaan karakter terhadap remaja, fase ketika manusia mengalami krisis nilai. Dengan demikian, ketiga elemen yang ada dalam tri pusat pendidikan (formal, informal, non-formal) bisa memerankan fungsinya dengan maksimal untuk melaksanakan pembinaan karakter.

E. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif (descriptive study) dengan pendekatan kualitatif. Nasution (1988: 5) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah “penelitian yang mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, serta berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.”

Karena bersifat kualitatif, maka penelitan ini bersifat natural setting. “Peneliti di sini bertindak sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan kepada makna daripada generalisasi” (Sugiyono, 2009: 1).


(17)

15

Peneliti kemudian menggambarkan secara sistematis fakta yang diteliti lalu menganalisanya sesuai teori yang didapatkan dari hasil kajian kepustakaan. Ketika mengkaji remaja Babakan Asih, penulis menggunakan cara self-report research, yaitu informasi dikumpulkan oleh peneliti sendiri.

Untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, penelitian dilakukan melalui teknik observasi langsung, yaitu meneliti langsung remaja Babakan Asih dan masyarakat sekitarnya.

Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti mengamati langsung segala bentuk kegiatan remaja Babakan Asih. Sebagai pengamat, peneliti kemudian harus menganalisa, menginterpretasi, dan menarik kesimpulan dari kejadian tersebut.

Ketika memilih informan yang digunakan sebagai sumber data, peneliti menggunakan prinsip “purposeful sampling, yaitu ditentukan oleh peneliti sendiri sesuai dengan tujuan penelitian” (Alwasilah, 2009: 194). Peneliti di sini memfokuskan subyek penelitian pada remaja Babakan Asih (Ipan Garniwa, Widi Yuda Negara, Sandra Sandana, Teguh Ibrahim, Prasetyo Rizkas), orang-orang yang menanamkan nilai-nilai karakter terhadap remaja Babakan Asih (Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani), serta masyarakat yang ada di Babakan Asih. Karena bersifat human instrument, peneliti akan “menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, mengumpulkan data, menilai kualitas data, analisa data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuan” (Sugiyono, 2009: 60).


(18)

16

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu primer dan sekunder. data primer diambil langsung dari remaja Babakan Asih (Ipan Garniwa, Widi Yuda Negara, Sandra Sandana, Prasetyo Rizkas, dan Teguh Ibrahim), orang-orang yang menanamkan nilai-nilai karakter terhadap remaja Babakan Asih (Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani), serta masyarakat yang ada di Babakan Asih. Sedangkan data sekunder akan diambil langsung dari dokumen, foto, buku-buku, dan tulisan-tulisan tentang pendidikan karakter, psikologi remaja, problem-problem sosial, kenakalan remaja, dan sumber-sumber lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian.

Semua data tersebut kemudian akan dielaborasi dan diperkuat dengan buku, jurnal, dan publikasi tentang pendidikan karakter dan remaja yang telah ditulis oleh berbagai pakar.

Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka data yang dikumpulkan menggunakan teknik pengamatan dan pengalaman langsung. Adapun untuk teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa tahap, yaitu:

1. Tahap Orientasi

Pada tahap ini, peneliti melakukan survey ke lapangan untuk kemudian mengamati segala bentuk kegiatan remaja Babakan Asih.


(19)

17 2. Tahap Eksplorasi

Pada tahap ini, peneliti akan menyusun wawancara secara garis besar, mengungkap pembinaan karakter terhadap remaja Babakan Asih, menyusun laporan penelitian yang berupa mendeskripsikan, menganalisa, dan menafsirkan data secara terus-menerus (grounded theory).

3. Tahap Member Check

Pada tahap ini, peneliti akan menyusun laporan yang didapatkan pada tahap eksplorasi dan menyampaikan laporan tersebut kepada masing-masing responden untuk diperiksa kebenarannya dengan pendapat responden yang bersangkutan.

4. Tahap Triangulasi

Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan dan menguji kredibilitas data. Dengan kata lain, peneliti mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data. Tujuan peneliti di sini bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap data dan obyek penelitian.

F. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RT 04, RW 01, Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojong Loa Kaler, Kota Bandung. Kelurahan Babakan Asih terdiri


(20)

18

dari 7 Rukun Warga. Secara geografis, bagian Selatan dibatasi oleh Kelurahan Suka Asih, bagian Utara dibatasi oleh Kelurahan Panjunan, bagian Timur dibatasi oleh Kelurahan Situsaeur, dan bagian Barat dibatasi oleh kelurahan Babakan Tarogong.

Sedangkan Ketua RT 04, tempat yang menjadi obyek penelitian ini, dipimpin oleh Ahmad Ruyani. RT ini terdiri dari 150 keluarga. Secara garis besar, kondisi sosial masyarakat RT 04 berprofesi sebagai wiraswasta. Ada juga beberapa orang yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Beberapa fasilitas umum yang dimiliki oleh RT 04 adalah masjid, pos, taman bermain, dan Karang Taruna (yang disebut Kartoen Ervat).

Ada beberapa alasan menjadikan RT 04 Keluarahan Babakan Asih sebagai tempat penelitian, yaitu:

Pertama, lokasi penelitian dikenal sebagai tempat yang penuh dengan kejahatan. Hal yang menariknya adalah ketika aktor utama kejahatan tersebut dilakukan oleh remaja.

Kedua, keberhasilan pembinaan karakter terhadap remaja. Keberhasilan dalam pembinaan karakter tersebut mengakibatkan kawasan Babakan Asih menjadi salah satu tempat yang cukup terkenal di Kota Bandung. Bahkan, ada beberapa media massa (baik cetak maupun elektronik) yang kemudian memberitakan tentang keberhasilan tersebut.


(21)

19

Ketiga, keberhasilan pembangunan Babakan Asih. Bisa disebut bahwa Babakan Asih adalah salah satu contoh kelurahan yang berhasil dibangun dengan baik. Berbagai pembangunan yang pro-lingkungan berhasil dilakukan di Babakan Asih. Bahkan, karena keberhasilan pembangunan, Babakan Asih kemudian dijadikan kelurahan percontohan di Kota Bandung. Pembangunan tersebut terjadi setelah remaja Babakan Asih mendapatkan pembinaan karakter.


(22)

76 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode dan Pendekatan Penelitian

Untuk mengetahui model pembinaan karakter terhadap remaja Kelurahan Babakan Asih dan unsur-unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian, maka digunakan jenis penelitian studi desktiptif (descriptive study) dengan pendekatan kualitatif.

Penelitian kualitatif pada hakikatnya adalah “mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, serta berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya” (Nasution, 1988: 5).

Karena bersifat kualitatif, maka sifat penelitannya bersifat natural setting. “Peneliti di sini bertindak sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan kepada makna daripada generalisasi” (Sugiyono, 2009: 1-2).

Peneliti kemudian menggambarkan secara sistematis fakta yang diteliti lalu menganalisanya sesuai teori yang didapatkan dari hasil kajian kepustakaan. Ketika mengkaji remaja Babakan Asih, penulis menggunakan cara self-report research, yaitu informasi dikumpulkan oleh peneliti sendiri.


(23)

77

Untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, penelitian dilakukan melalui teknik observasi langsung, yaitu meneliti langsung remaja Babakan Asih dan masyarakat sekitarnya.

B. Definisi Operasional

1. Pembinaan karakter dalam penelitian ini adalah upaya Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani dalam membina dan menanamkan nilai-nilai karakter terhadap remaja Kelurahan Babakan Asih Asih. Reggi adalah salah seorang remaja Babakan Asih sedangkan Ruyani adalah Ketua Rukun Tetangga (RT) 04.

2. Remaja Babakan Asih dalam penelitian ini adalah remaja yang hidup di Kelurahan Babakan Asih Asih serta berusia antara 18 sampai 29 tahun. Remaja tersebut terdiri dari beberapa orang, yaitu:

a. Ipan Garniwa. Ia adalah remaja yang dilahirkan di Babakan Asih dan pada saat penelitian ini dibuat sudah berusia 29 tahun.

b. Widi Yuda Negara. Ia adalah remaja yang dilahirkan di Babakan Asih dan pada saat penelitian ini dibuat sudah berusia 27 tahun.

c. Sandra Sandana. Ia adalah remaja yang dilahirkan di Babakan Asih dan pada saat penelitian ini dibuat sudah berusia 28 tahun.


(24)

78

d. Prasetyo Rizkas. Ia adalah remaja yang dilahirkan di Babakan asih dan pada saat penelitian ini dibuat sudah berusia 18 tahun.

d. Teguh Ibrahim. Ia adalah remaja yang dilahirkan di Babakan Asih dan pada saat penelitian ini dibuat sudah berusia 18 tahun.

C. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang diambil berasal dari sumber primer dan sekunder. Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka data primer diambil langsung dari remaja Babakan Asih (Ipan Garniwa, Widi Yuda Negara, Sandra Sandana, Prasetyo Rizkas, Teguh Ibrahim), orang-orang yang menanamkan nilai-nilai karakter terhadap remaja Babakan Asih (Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani), serta masyarakat yang ada di Babakan Asih. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat perspektif emic. Dengan demikian, data yang diambil oleh peneliti bukan data yang “sebagaimana seharusnya”, tetapi data apa adanya yang terjadi di lapangan (Sugiyono, 2009: 47).

Sedangkan data sekunder akan diambil langsung dari dokumen, foto, buku-buku, dan tulisan-tulisan tentang pendidikan karakter, psikologi remaja, problem-problem sosial, kenakalan remaja, dan sumber-sumber lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian.


(25)

79

Semua data tersebut kemudian akan dielaborasi dan diperkuat dengan buku, jurnal, dan publikasi tentang pendidikan karakter dan remaja yang telah ditulis oleh berbagai pakar.

Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, maka data yang dikumpulkan menggunakan teknik pengamatan dan pengalaman langsung. Adapun untuk teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa cara, yaitu:

1. Observasi

“Observasi penelitian adalah pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan reliabilitasnya” (Alwasilah, 2009: 211).

Observasi dilakukan untuk mengetahui model pembinaan karakter terhadap remaja Babakan Asih. Untuk mendapatkan data sebaik mungkin, ketika melakukan observasi, peneliti akan terlibat langsung (partisipatif) dalam mengamati segala kejadian yang ada di Babakan Asih.

2. Wawancara

“Komunikasi yang baik adalah interaksi yang terencana, dan interviu dilakukan untuk mendapat informasi atau data yang diperlukan sesuai dengan tujuan peneliti” (Alwasilah, 2009: 191).

Dengan wawancara, maka segala bentuk pembinaan, gagasan, ide, dan visi tentang model pembinaan karakter terhadap remaja bisa didapatkan. Untuk


(26)

80

mendapatkan data sebaik mungkin, wawancara yang dilakukan bisa bersifat terstruktur, semiterstruktur, dan tidak berstruktur (Sugiyono, 2009: 73-75).

Wawancara akan dilakukan kepada orang-orang yang telah menanamkan nilai karakter kepada remaja Babakan Asih (Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani), remaja, masyarakat, orangtua, dan elemen-elemen penting yang ada di kawasan Babakan Asih.

3. Dokumentasi

Seluruh data yang didapatkan oleh peneliti akan ditulis dan direkam oleh peneliti dalam bentuk dokumen. Dokumen yang dibuat bisa berbentuk “tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang” (Sugiyono, 2009: 82).

Data yang didapat akan diperkuat dengan pikiran-pikiran dari Reggi Kayong Munggaran, Ahmad Ruyani, remaja Babakan Asih, orangtua, masyarakat Babakan Asih, serta para pakar Pendidikan Umum/Nilai dan Pendidikan Karakter.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri. Di sini, peneliti kemudian memiliki kedudukan sebagai intrumen kunci (key instrument). Dalam kedudukan tersebut, peneliti mengamati langsung segala bentuk kegiatan dan


(27)

81

model karakter yang ditanamkan kepada remaja di Kelurahan Babakan Asih Asih. Sebagai pengamat, peneliti kemudian merencanakan, mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan, melaporkan, dan menarik kesimpulan data-data tentang model pembinaan karakter remaja di Kelurahan Babakan Asih (Moleong, 2007: 168).

Karena bersifat human instrument, peneliti akan “menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulkan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuan” yang ada (Sugiyono, 2009: 60).

Sifat human instrument tersebut menyebabkan peneliti berinteraksi langsung, memperhatikan, memahami, memaknai, serta menafsirkan kejadian-kejadian yang ada di lokasi penelitian dan informan. Karena terlibat langsung, informan terbuka dalam memberikan informasi, data, dan dokumentasi, serta membantu sepenuhnya terhadap penelitian ini.

E. Tahapan-tahapan Pengumpulan Data

Ada beberapa tahap penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu:

1. Tahap Orientasi

Pada tahap ini, peneliti melakukan survey ke lapangan untuk kemudian mengamati segala bentuk kegiatan remaja Babakan Asih. Peneliti akan


(28)

82

melakukan orientasi awal dan diskusi tentang kondisi Babakan Asih dengan penduduk dan seluruh elemen yang ada di Babakan Asih.

2. Tahap Eksplorasi

Untuk mendapatkan data lebih mendalam, ada beberapa hal yang akan dilakukan oleh peneliti, yaitu:

a. Menyusun wawancara secara garis besar. Adapun wawancara yang lebih lengkap akan dikembangkan oleh peneliti ketika melakukan wawancara di lapangan. Wawancara yang dibuat secara garis besar adalah alat bantu agar tetap fokus terhadap masalah.

b. Mengungkap metode pembinaan karakter terhadap remaja Babakan Asih.

c. Agar data lebih kuat, peneliti akan melakukan wawancara kepada para pakar Pendidikan, seperti Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Umum, Pendidikan Nilai, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Pendidikan Karakter.

d. Menyusun laporan penelitian yang berupa mendeskripsikan, menganalisa, dan menafsirkan data secara terus-menerus (grounded theory).

3. Tahap Member Check


(29)

83

a. Menyusun laporan yang didapatkan pada tahap eksplorasi (berupa ilustrasi yang terjadi pada remaja Babakan Asih).

b. Menyampaikan laporan tersebut kepada masing-masing responden untuk diperiksa kebenarannya dengan pendapat responden yang bersangkutan.

c. Setelah menelaah hasil laporan, para responden kemudian memperbaiki hal-hal yang tidak sesuai dengan maksud mereka.

4. Tahap Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan dan menguji kredibilitas data. Dengan kata lain, peneliti mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.

Dalam proses triangulasi, tujuan peneliti bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap data dan obyek penelitian. Hal tersebut dilakukan agar data yang diperoleh lebih konsisten, tuntas, dan pasti (Sugiyono, 2009: 83-85).

Ketika meneliti pembinaan karakter remaja Babakan Asih, data-data akan didapatkan dari berbagai sumber (triangulasi sumber), berbagai teknik (triangulasi teknik), dan berbagai waktu (triangulasi waktu).


(30)

84 F. Analisa Data

Data-data yang berhasil didapatkan kemudian akan dianalisa oleh peneliti. Analisa tersebut dilakukan agar serpihan-serpihan data yang didapatkan bisa berbunyi nyaring untuk kemudian diberikan makna. Makna tersebut merupakan “hipotesis untuk dicek terus-menerus dengan data lain sepanjang jalan penelitian. Inilah yang disebut grounded theory” (Alwasilah, 2009: 245).

Ada beberapa langkah analisa data yang akan dilakukan oleh peneliti, yaitu:

1. Melakukan reduksi

Karena data yang didapatkan di lapangan pasti memiliki jumlah yang banyak, maka data-data tersebut akan dipilih. Peneliti akan memilih data yang penting saja untuk kemudian dianalisa secara mendalam. Reduksi dilakukan dengan cara membuat rangkuman tentang masalah yang diteliti, yaitu proses dan lingkungan yang memiliki andil dalam pembinaan karakter remaja Babakan Asih.

“Tujuan utama dalam penelitian kualitatif adalah temuan. Oleh karena itu, kalau peneliti dalam melakukan penelitian, menemukan segala sesuatu yang dipandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus yang harus dijadikan perhatian peneliti dalam melakukan reduksi data (Sugiyono, 2009: 92-93).


(31)

85 2. Penyajian Data

Data tentang pembinaan karakter remaja Babakan Asih yang telah didapatkan akan dibuat dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antarkategori, flowchart dan lain sebagainya.

Hal tersebut dilakukan agar peneliti bisa mudah menulis segala kejadian penelitian dan merencanakan aktivitas selanjutnya berdasarkan hal yang telah dipahami (Sugiyono, 2009: 95).

3. Pengambilan Keputusan

Karena penelitian ini bersifat kualitatif, maka kesimpulan awal yang dikemukan peneliti masih bersifat sementara. Ia akan berubah jika tidak ditemukan bukti-bukti kuat. Akan tetapi, jika kesimpulan yang dikemukakan didukung oleh data-data yang valid, kesimpulan tersebut bersifat kredibel.

Kesimpulan adalah temuan baru yang sebelumnya tidak ada. Temuan tersebut bisa berupa deskripsi sebuah obyek penelitan yang sebelumnya tidak jelas, hubungan kausal, hipotesa, atau teori (Sugiyono, 2009: 99).


(32)

183 BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Kesimpulan Umum

Beberapa tahun yang lalu, remaja Babakan Asih adalah orang-orang yang identik dengan kejahatan. Mereka tenggelam dalam fenomena yang disebut dengan kenakalan remaja (juvenile delinquency). Berbagai bentuk kejahatan sering dilakukan mereka. Mabuk, tawuran, perkelahian, penodongan, judi, dan pemukulan telah menjadi kehidupan sehari-hari serta karakter remaja Babakan Asih. Akibat dari kejahatan tersebut, banyak remaja Babakan Asih yang harus masuk penjara dan tidak selesai menempuh pendidikan formal.

Setelah mendapatkan pembinaan karakter dari Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani, remaja Babakan Asih berubah menjadi sosok yang cukup baik. Berbagai tindakan kejahatan seperti narkoba, judi, penodongan, pencurian, tawuran, dan pemukulan mereka tinggalkan secara total. Masyarakat pun kemudian bisa menerima remaja hingga stigma sampah masyarakat tidak diberikan kepada mereka. Setelah menjadi pribadi-pribadi yang cukup baik, remaja Babakan Asih kemudian bahu-membahu membangun Babakan Asih. Mereka menjadi


(33)

184

aktor dan pemain kunci dalam melakukan berbagai kegiatan dan perubahan yang memberdayakan kampung. Seluruh kegiatan tersebut ditampung dalam satu wadah yang mereka namakan dengan Kartoen Ervat (Karang Taruna RT Empat). Ada lima kategori kegiatan yang bersifat pemberdayaan desa, yaitu:

a. Keilmuan (les bahasa Inggris dan belajar melukis).

b. Kesehatan serta bahaya narkoba dan HIV/AIDS (pelatihan bahaya narkoba Rumah Cemara).

c. Kesenian tradisional (tari jaipong dan pencak silat).

d. Pro-lingkungan (sumur resapan, lukisan dinding, taman bermain, mengangkut sampah).

e. Ekonomi (Asuransi Masyarakat).

Metode penanaman nilai-nilai karakter yang dilakukan oleh Reggi dan Ruyani terhadap remaja adalah dengan pendekatan. Di mana saja remaja sedang berkumpul, Reggi dan Ruyani sering mendekati mereka. Reggi dan Ruyani bahkan sering mendekati remaja ketika sedang mabuk. Dalam suasana seperti itu, Reggi dan Ruyani kemudian menanamkan nilai-nilai karakter dan mengintervensi dunia afektif yang dikemas dalam bahasa remaja.

2. Kesimpulan Khusus

Adapun kesimpulan khusus selama melakukan penelitian pada remaja Babakan Asih adalah sebagai berikut:


(34)

185

a. Remaja yang tidak mendapatkan pembinaan karakter akan menjadi remaja yang identik dengan perilaku kejahatan dan kenakalan remaja. Pembiaran terhadap remaja yang seperti itu pun tidak akan memberikan solusi, tetapi akan menambah permasalahan semakin besar. Stigma buruk (seperti menyebut sampah masyarakat) yang diberikan kepada remaja pun bukan cara yang baik dalam menghadapi kejahatan dan kenakalan remaja. Remaja yang seperti itu harus didekati dan dibina dengan baik agar menjadi generasi penerus yang memiliki karakter baik.

b. Pembinaan karakter yang baik terhadap remaja akan membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat. Remaja seperti itu adalah orang-orang yang memiliki imunitas kuat terhadap terjangan angin badai yang akan merusak kehidupan mereka.

c. Keberhasilan dalam pembinaan karakter remaja akan menciptakan kehidupan masyarakat yang baik. Ia pun menjadi elemen kunci dalam proses pembangunan masyarakat. Sebab, hal pertama yang harus dilakukan dalam pembangunan adalah membangun manusia. Terlebih lagi, remaja adalah tunas bangsa yang akan meneruskan tongkat perjuangan orang tua.


(35)

186 B. Rekomendasi

1. Pembinaan karakter remaja Babakan Asih bisa dibilang cukup berhasil. Namun, pembinaan tersebut masih belum menyentuh nilai-nilai lain yang sangat penting dan belum ditanamkan secara maksimal, yaitu nilai-nilai religius. Nilai-nilai karakter yang selama ini ditanamkan adalah nilai-nilai sekular yang standarnya kesepakatan dan ketertiban masyarakat. Pentingnya nilai-nilai religius ditanamkan karena nilai-nilai tersebut akan menjadi imunitas paling kuat dalam memandu kehidupan remaja. Mereka harus bisa memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama yang diajarkan oleh agama mereka.

2. Orang yang berjasa dalam mengubah tatanan nilai karakter Remaja Babakan Asih adalah Reggi Kayong Munggaran dan Ahmad Ruyani. Meskipun Reggi dan Ruyani selalu membangun komunikasi dengan keluarga remaja, tetapi bisa disebut, peran keluarga remaja terlalu sedikit. Padahal, tanggung jawab pembinaan karakter remaja Babakan Asih bukan tanggung jawab Reggi dan Ruyani, tetapi keluarga. Peran keluarga harus dikembalikan kepada fungsinya yang asli. Sebab, jika fungsi tersebut tidak berjalan dengan baik, masalah kenakalan remaja mungkin akan terjadi lagi.

3. Masyarakat harus menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan remaja yang berkarakter. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, seperti mengadakan kegiatan-kegiatan


(36)

187

positif dan berorientasi keagamaan. Kegiatan-kegiatan tersebut harus langsung melibatkan remaja dan dikemas dengan bahasa serta dunia mereka. Hal-hal yang bisa merusak karakter anak-anak pun jangan dibiarkan. Sebab, selama ini ada kecenderungan masyarakat membiarkan hal-hal yang bisa merusak karakter remaja, seperti tempat menjual narkoba yang sangat dekat hingga mudah diakses oleh remaja. Hal tersebut sekaligus menjelaskan bahwa masalah kejahatan dan kenakalan remaja adalah masalah bersama, bukan masalah Reggi dan Ruyani. Dengan demikian, masyarakat harus bahu membahu menciptakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan generasi-generasi muda.


(37)

188

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib dan Daud, Wan Mohd Nor Wan. (2007). The ICLIF Leadership Competency Model: An Islamic Alternative. Kuala Lumpur: The International Center for Leadership in Finance.

Allee, John Gage. (1983). Webster’s Dictionary. Chicago: Wilcox & Follett Company

Al-Wabil, Abdul Latif bin Abdillah. (1424 H). Wa ‘Indallahi Makruhum. Majalah Al-Bayan. 186, 6.

Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. (2009). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Altbach, Philip G., Berdahl, Robert Oliver., dan Gumport, Patricia J. (2005). American Higher Education in the Twenty-first Century: Social, Political, and Economic Challenges. Maryland: JHU Press.

Alwasilah, A Chaedar. (2009). Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya. Al-Qaradhawi, Yusuf. (2006). Fi Fiqh Al-Aulawiyyat. Kairo: Maktabah Wahbah. Ar, Ujang Dedih. (2002). Pembinaan Akhlak Remaja dalam Keluarga. Tesis PPs

Pendidikan Umum.

Aristoteles. (1999). Nicomachean Ethics. Tanpa tempat: Batoche Books.

Brubacher. (1947). A History of the Problems of Education. New York dan London: Mc Graw Hill Book Company

Creswell, John W. (2002). Research Design. Jakarta: KIK Press.

Creswell, John W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daradjat, Zakiah. (1975). Problema Remaja di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang. Dariyo, Agus. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia Daud, Wan Mohd Nor Wan. (2003). Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed

M. Naquib Al-Attas. Bandung: Mizan.

Djahiri, Ahmad Kosasih. (1996). Dasar-dasar Umum Metodologi dan Pengajaran Nilai Moral. Bandung: Labolatorium Pengajaran PMP IKIP Bandung.


(38)

189

Djahiri, Ahmad Kosasih. (1996). Menelusuri Dunia Afektif. Bandung: Labolatorium Pengajaran PMP IKIP Bandung.

Denzin, Norman K dan Lincoln, Yvonna S. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Elmubarok, Zaim (2009). Membumikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta Fraenkel, Jack R. (1977). How to Teach About Values. New Jersey: Prentice Hall. Frank, Andre Gunder. (1984). Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan

Sosiologi. Jakarta: Pustaka Pulsar.

Gunarsa, Singgih. (1979). Psikologi untuk Muda Mudi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Howard, Craig C. (1991). Theories of General Education, London: Macmillian Academic.

Harris, Chester W. (1960). Encyclopedia of Educational Research. New York: The Macmillan Company.

Husaini, Adian. (2010). Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Jakarta: Cakrawala Publishing.

Kartono, Kartini. (2010). Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: rajawali Pers.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2011). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan.


(39)

190

Kneller, George F. (1971). Introduction to the Philosophy of Education. Los Angeles: University of California.

Koesoema, Doni. (2010). Pendidikan Karakter Strategi Mendidikan Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo.

Lickona, Thomas. (1992). Educating for Character How Our School can Teach Respect and Responbility. New York: Bantam Book.

Lubis, Mawardi. (2009). Evaluasi Pendidikan Nilai, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Lubis, Mochtar. (2001). Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Mansyur, Cholil Muhammad. (tt). Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa.

Surabaya: Usaha Nasional.

Manzhur, Ibn. (1996). Lisan Al-‘Arab. Beirut: Dar Shadir.

Maolani, Ilam. (2003). Pembinaan Moral Remaja sebagai Sumber Daya Manusia di Lingkungan Masyarakat. Tesis PPs Pendidikan Umum.

Marshal, A. R., Page, G.T., dan Thomas, J.B. (Eds) (1978). International Dictionary of Education: New York: Nichols Publishing Company. Megawangi, Ratna. (2009). Pendidikan Karakter. Cimanggis: Indonesia Heritage

Foundation.

Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Rohmat (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta.

Murray, James A.H., Bradley, Henry., Craigie, W.A., Onions, C.T. (1933). The Oxford English Dictionary. Oxford: Oxford University Press.

Mushthafa, Ibrahim. (2000). Al-Mu’jam Al-Wasith. Kairo: Dar Ad-Da’wah. Nasution. (1988). Metode Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Sekjen Depdiknas 2003. Page, G. Terry. (1978). Encyclopedy of Education. New York: Nishols Publishing


(40)

191

Phenix, Philip H. (1964). Realms of Meaning, A Philosophy of the Curriculum for General Education. New York: McGraw-Hill Book Company.

Pitt, David. (1976). The Social Dynamics of Development. England: Pergamon Press.

Price, Kingsley. (1965). Education and Philosophical Thought. Boston: Allyn and Bacon.

Ruopp, Phillips. (1953). Approaches to Community Development. Bandung: W. Van Hoeve.

Ruswandi, Uus. (2000). Pembinaan Akhlaq Remaja. Tesis PPs Pendidikan Umum.

Sajogyo. (1984). Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Slamet, Ina E. (1965). Pokok-pokok Pembangunan Masjarakat Desa. Djakarta:

Ratara.

Soetomo. (2010). Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soedomo, M. (1986). Pengembangan Desa Terpadu. Jakarta: Penerbit Karunika. Sudarsono. (2008). Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. (2009). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sulistiyani, Tri. (2011, 31 Maret). KPI Tuding Televisi Curi Waktu Anak. Harian Joglo Semar [Online]. Tersedia: www.harianjoglosemar.com. [31 Maret 2011].

Surjadi, A. (1983). Dakwah Islam dengan Pembangunan Masyarakat Desa. Bandung: Penerbit Alumni.

Surjadi, A. (1983). Pembangunan Masyarakat Desa. Bandung: Penerbit Alumni. Susanto, Phil Astrid S. (1984). Sosiologi Pembangunan. Tanpa tempat: Binacipta. Syafaat, Tb Aa., Sahrani, Sohari., dan Muslih. (2008). Peranan Pendidikan

Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.


(41)

192

Tukirah. (1994). Pendidikan Moral pada Remaja di dalam Keluarga. Tesis PPs Pendidikan Umum.

Urdang, Laurence. (1968). The Random House Dictionary of English Language. New York: Random House.

V, Good Cater. (1978). Dictionary of Education. New York: McGraw Hill Book Company.

Willis, Sofyan S. (2009). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Willis, Sofyan S. (2010). Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta. Ya’qub, Hamzah. (1983). Etika Islam. Bandung: Diponegoro.

Yusuf, Syamsu. (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zarkasyi, Hamid Fahmy. (2005). “Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam”. Jurnal Islamia. 5, 9-20.

Zulkifli. (1995). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Situs Internet

http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/12/31/brk,20101231-303000,id.html

http://www.nasional.kompas.com/read/2010/12/08/05371764/50.persen.remaja.la kukan.seks.pranikah

http://www.harianjoglosemar.com/berita/kpi-tuding-televisi-curi-waktu-anak-0194.html


(1)

187

positif dan berorientasi keagamaan. Kegiatan-kegiatan tersebut harus langsung melibatkan remaja dan dikemas dengan bahasa serta dunia mereka. Hal-hal yang bisa merusak karakter anak-anak pun jangan dibiarkan. Sebab, selama ini ada kecenderungan masyarakat membiarkan hal-hal yang bisa merusak karakter remaja, seperti tempat menjual narkoba yang sangat dekat hingga mudah diakses oleh remaja. Hal tersebut sekaligus menjelaskan bahwa masalah kejahatan dan kenakalan remaja adalah masalah bersama, bukan masalah Reggi dan Ruyani. Dengan demikian, masyarakat harus bahu membahu menciptakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan generasi-generasi muda.


(2)

188

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib dan Daud, Wan Mohd Nor Wan. (2007). The

ICLIF Leadership Competency Model: An Islamic Alternative. Kuala

Lumpur: The International Center for Leadership in Finance.

Allee, John Gage. (1983). Webster’s Dictionary. Chicago: Wilcox & Follett Company

Al-Wabil, Abdul Latif bin Abdillah. (1424 H). Wa ‘Indallahi Makruhum. Majalah

Al-Bayan. 186, 6.

Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. (2009). Psikologi Remaja

Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Altbach, Philip G., Berdahl, Robert Oliver., dan Gumport, Patricia J. (2005).

American Higher Education in the Twenty-first Century: Social, Political, and Economic Challenges. Maryland: JHU Press.

Alwasilah, A Chaedar. (2009). Pokoknya Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya. Al-Qaradhawi, Yusuf. (2006). Fi Fiqh Al-Aulawiyyat. Kairo: Maktabah Wahbah. Ar, Ujang Dedih. (2002). Pembinaan Akhlak Remaja dalam Keluarga. Tesis PPs

Pendidikan Umum.

Aristoteles. (1999). Nicomachean Ethics. Tanpa tempat: Batoche Books.

Brubacher. (1947). A History of the Problems of Education. New York dan London: Mc Graw Hill Book Company

Creswell, John W. (2002). Research Design. Jakarta: KIK Press.

Creswell, John W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,

dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Daradjat, Zakiah. (1975). Problema Remaja di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang. Dariyo, Agus. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia Daud, Wan Mohd Nor Wan. (2003). Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed

M. Naquib Al-Attas. Bandung: Mizan.

Djahiri, Ahmad Kosasih. (1996). Dasar-dasar Umum Metodologi dan Pengajaran


(3)

189

Djahiri, Ahmad Kosasih. (1996). Menelusuri Dunia Afektif. Bandung: Labolatorium Pengajaran PMP IKIP Bandung.

Denzin, Norman K dan Lincoln, Yvonna S. (2009). Handbook of Qualitative

Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Elmubarok, Zaim (2009). Membumikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta Fraenkel, Jack R. (1977). How to Teach About Values. New Jersey: Prentice Hall. Frank, Andre Gunder. (1984). Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan

Sosiologi. Jakarta: Pustaka Pulsar.

Gunarsa, Singgih. (1979). Psikologi untuk Muda Mudi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Howard, Craig C. (1991). Theories of General Education, London: Macmillian Academic.

Harris, Chester W. (1960). Encyclopedia of Educational Research. New York: The Macmillan Company.

Husaini, Adian. (2010). Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan

Beradab. Jakarta: Cakrawala Publishing.

Kartono, Kartini. (2010). Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: rajawali Pers.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya

dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional

Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pendidikan Karakter di Sekolah

Menengah Pertama. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2011). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan

Karakter. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian


(4)

190

Kneller, George F. (1971). Introduction to the Philosophy of Education. Los Angeles: University of California.

Koesoema, Doni. (2010). Pendidikan Karakter Strategi Mendidikan Anak di

Zaman Global. Jakarta: Grasindo.

Lickona, Thomas. (1992). Educating for Character How Our School can Teach

Respect and Responbility. New York: Bantam Book.

Lubis, Mawardi. (2009). Evaluasi Pendidikan Nilai, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Lubis, Mochtar. (2001). Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Mansyur, Cholil Muhammad. (tt). Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa.

Surabaya: Usaha Nasional.

Manzhur, Ibn. (1996). Lisan Al-‘Arab. Beirut: Dar Shadir.

Maolani, Ilam. (2003). Pembinaan Moral Remaja sebagai Sumber Daya Manusia

di Lingkungan Masyarakat. Tesis PPs Pendidikan Umum.

Marshal, A. R., Page, G.T., dan Thomas, J.B. (Eds) (1978). International

Dictionary of Education: New York: Nichols Publishing Company.

Megawangi, Ratna. (2009). Pendidikan Karakter. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation.

Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Rohmat (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta.

Murray, James A.H., Bradley, Henry., Craigie, W.A., Onions, C.T. (1933). The

Oxford English Dictionary. Oxford: Oxford University Press.

Mushthafa, Ibrahim. (2000). Al-Mu’jam Al-Wasith. Kairo: Dar Ad-Da’wah. Nasution. (1988). Metode Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2003. Sistem Pendidikan

Nasional. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Sekjen Depdiknas 2003.

Page, G. Terry. (1978). Encyclopedy of Education. New York: Nishols Publishing Company.


(5)

191

Phenix, Philip H. (1964). Realms of Meaning, A Philosophy of the Curriculum for

General Education. New York: McGraw-Hill Book Company.

Pitt, David. (1976). The Social Dynamics of Development. England: Pergamon Press.

Price, Kingsley. (1965). Education and Philosophical Thought. Boston: Allyn and Bacon.

Ruopp, Phillips. (1953). Approaches to Community Development. Bandung: W. Van Hoeve.

Ruswandi, Uus. (2000). Pembinaan Akhlaq Remaja. Tesis PPs Pendidikan Umum.

Sajogyo. (1984). Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Slamet, Ina E. (1965). Pokok-pokok Pembangunan Masjarakat Desa. Djakarta:

Ratara.

Soetomo. (2010). Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soedomo, M. (1986). Pengembangan Desa Terpadu. Jakarta: Penerbit Karunika. Sudarsono. (2008). Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. (2009). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sulistiyani, Tri. (2011, 31 Maret). KPI Tuding Televisi Curi Waktu Anak. Harian

Joglo Semar [Online]. Tersedia: www.harianjoglosemar.com. [31 Maret

2011].

Surjadi, A. (1983). Dakwah Islam dengan Pembangunan Masyarakat Desa. Bandung: Penerbit Alumni.

Surjadi, A. (1983). Pembangunan Masyarakat Desa. Bandung: Penerbit Alumni. Susanto, Phil Astrid S. (1984). Sosiologi Pembangunan. Tanpa tempat: Binacipta. Syafaat, Tb Aa., Sahrani, Sohari., dan Muslih. (2008). Peranan Pendidikan

Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali


(6)

192

Tukirah. (1994). Pendidikan Moral pada Remaja di dalam Keluarga. Tesis PPs Pendidikan Umum.

Urdang, Laurence. (1968). The Random House Dictionary of English Language. New York: Random House.

V, Good Cater. (1978). Dictionary of Education. New York: McGraw Hill Book Company.

Willis, Sofyan S. (2009). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Willis, Sofyan S. (2010). Remaja dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta. Ya’qub, Hamzah. (1983). Etika Islam. Bandung: Diponegoro.

Yusuf, Syamsu. (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zarkasyi, Hamid Fahmy. (2005). “Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam”.

Jurnal Islamia. 5, 9-20.

Zulkifli. (1995). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Situs Internet

http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/12/31/brk,20101231-303000,id.html

http://www.nasional.kompas.com/read/2010/12/08/05371764/50.persen.remaja.la kukan.seks.pranikah

http://www.harianjoglosemar.com/berita/kpi-tuding-televisi-curi-waktu-anak-0194.html