BAHAN DAN METODE Koleksi Sampel

  Jurnal Riset Akuakult ur, 11 (3), 2016, 235-248

Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra

  

SELEKSI RUM PUT LAUT DALAM UPAYA PENINGKATAN LAJU

Kappaphycus striatum

  

PERTUM BUHAN BIBIT UNTUK BUDIDAYA

#

Andi Parenrengi , M at Fahrur, M akmur, dan Sri Redjeki Hest i M ulyaningrum

  

Balai Penelitian dan Pen gemb angan Bud idaya Air Payau

ABSTRAK

Budidaya rumput laut di Indonesia semakin berkembang seiring dengan peningkatan permintaan bahan

baku industri untuk pasar domestik dan eksport. Rumput laut Kappaphycus st riat um , salah satu spesies

rumput laut komersil, telah intensif dibudidayakan di perairan pantai. Saat ini, masalah utama yang dihadapi

pembudidaya adalah rendahnya kualitas bibit yang berasal dari hasil budidaya. Seleksi varietas merupakan

salah satu m etode yang dih arapkan dapat m eningkat kan laju pertu mbuhan rumput laut. Pe nelitian ini

dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh seleksi varietas terhadap pertumbuhan rumput laut

se hingga d ap at dilakukan pro duksi bibit u nggul un tu k kepe rluan b udidaya. Bu did aya rum put laut K.

telah dilakukan di Teluk Laikang Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan st riat um

metode long line . Seleksi varietas dilakukan berdasarkan parameter laju pertumb uhan harian (LPH) dan

metode seleksi mengacu pada protokol seleksi yang telah dikembangkan pada rumput laut K. alvarezii .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa LPH bibit hasil seleksi lebih tinggi (P< 0,05) dibandingkan dengan

ko ntro l, di mana LPH se leksi m encapai 3,47%/hari, sed angkan LPH kon tro l 1,81%/hari. Dari tiga siklus

produksi bibit, rata-rata LPH hasil seleksi adalah 2,92%/hari dan kontrol 1,58%/hari, atau dapat diasumsikan

terjadi peningkatan sebesar 84,25%. Kandungan karaginan dan kekuatan gel hasil seleksi relatif lebih tinggi

dibandingkan kontrol, di mana LPH memiliki korelasi yang erat dengan kandungan karaginan (r= 0,6604)

tetapi relatif lebih rendah dengan kekuatan gel (r= 0,1048). Kualitas air (salinitas, nitrat, fosfat, dan pH)

selama penelitian berlangsung masih berada pada kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut.

  Kapppaphycus striatum KATA KUNCI: seleksi varietas; pertumbuhan; bibit; rumput laut ABSTRACT: Seaweed selection to enhance the growth rate of

  Kappaphycus st riat um as seed for cultivation aquaculture development. By: Andi Parenrengi, M at Fahrur, M akmur, and Sri Redjeki Hesti M ulyaningrum

  

Seaweed cult ivat ion in Indonesia has rapidly expanded following demands of seaweed as indust rial raw mat erials for

both domest ic and export market s. Kappaphycus striatum, one of t he commercial eucheumatoid seaweed species, has

been int ensively cult ivat ed in t he coast al wat ers. To dat e, one of t he problems faced by seaweed farmers is low seed

qualit y from cult ivat ed seaweed. M ass select ion of seaweed is hoped t o be useful way in order t o enhance t he growt h

rat e of seaweed t o produce t he high qualit y of seed for cult ivat ion purpose. Seaweed K. striatum was cult ivat ed at

Laikang Bay, Takalar Regency Sout h Sulawesi Province using long line met hod. Seaweed select ion was carried out

based on growt h rat e paramet er and select ion prot ocol was conduct ed based on t rial st udies developed to K. alvarezii.

The result of st udy showed t hat daily growt h rat e (DGR) of select ed seaweed was significant ly higher t han cont rol

(P< 0.05), in which DGR of seed from select ed seaweed reached t o 3.47%/day while DGR of seed from cont rol was

1.81%/day. Among t hree cycles, t he average of DGR from select ion was 2.92%/day, and cont rol was 1.58%/day, t hat

it assumed t hat t he DGR increased approximat ely 84.25%. Carrageenan cont ent and gel st rengt h of select ion was

slight ly higher t han cont rol, and DGR had a st rong correlat ion wit h carrageenan cont ent (r= 0.6604) and a low

correlat ion wit h gel st rengt h (r= 0.1048). Wat er qualit ies such salinit y, nit rat e, phosphat e, and pH were suit able for

growth of seaweed. # KEYW ORDS: selection; growth rate; seed; seaweed Kappaphycus st riat um

  Ko r e sp o n d e nsi: Balai Pe n elit ian d an Pe n ge m b an g an Bu d id aya Air Payau . Jl. Makmu r Dg . Sit akka No . 1 2 9 , Mar o s 9 0 51 2 , Su lawesi Se lat an , In d o n e sia. Te l. + (0 4 1 1 ) 3 7 1 5 4 4 andi _ par enr engi @ hot mai l .com

  E-m ail: Co p yright @ 201 6, Jurn al Rise t Akuakult ur, p -ISSN 19 07-6 754 , e -ISSN 2 502 -653 4

  235 Co p yrig ht @ 2 016, Ju rnal Riset Aku aku ltur, p -ISSN 1 907 -675 4, e-ISSN 250 2-65 34 Seleksi rumput laut Kappaphycus striatum dalam upaya peningkatan ..... (Andi Parenrengi) PENDAHULUAN

  Rumput laut sudah dikenal sebagai bahan dasar dalam indust ri makanan, ko smet ik, farmasi, maupun sebagai bahan pendukung dalam indust ri lain, sepert i indust ri: kert as, t ekst il, fo t o grafi, semir sepat u, past a gigi, pengalengan ikan/daging, dan pupuk. Manfaat t ersebut menjadikan budidaya rumput laut mengalami perkembangan yang signifikan dengan ekspansi lahan di wilayah Indo nesia akibat permint aaan bahan baku o leh pasar baik lo kal maupun int ernasio nal.

  K. st riat um belum pernah dilakukan.

  ., 2007), p ro d u ksi b e n ih baik ko nve nsio nal m au pu n ku lt u r jaringan (Amini & Parenrengi, 1995; Suryat i et al ., 2008;

  et al

  (Po ngmasak & Tjaro nge, 2010), hama dan penyakit (Po n g m a sak , 2 0 1 0 ), d a n st r at e gi p e n ge m b an g an budidaya rumput laut (Paena

  et al

  ., 2010; Prio no & Andriyant o , 2012; Hadie & Hadie, 2012). Meskipun d e m ik ian , p e n e lit ia n m e n ge n ai p e n in g ka t an la ju p ert u mb uh an m elalu i se le ksi varie t as ru mp ut lau t masih t erbat as pada

  K. alvarezii

  (Po ngm asak

  et al

  ., 2 0 1 3 ; 2 0 1 4 ; 2 0 1 5 ; Po n g m a sa k & Pr io n o , 2 0 1 5 ; Parenrengi et al ., 2014) sedangkan seleksi rumput laut

  Budidaya rumput laut t elah meluas secara pesat , meskipun demikian dalam pengembangannya masih d id ap at kan b e rb agai m asalah yan g d ih ad ap i o le h pembudidaya t erkait dengan kualit as benih. Saat ini, b e n ih ya n g d ih a s ilk a n d a r i h a s il b u d id a ya m e m p e rlih at kan ku alit as yan g s e m akin m e n u ru n dengan indikasi pert umbuhan yang relat if lambat at au kerdil, di samping juga masalah penyakit khususnya pe nyakit

  ., 2007; Sulaeman

  ice-ice

  . Ket erb at asan be nih d ari alam dan penggunaan benih hasil budidaya yang berulang diduga merupakan salah sat u penyebab penurunan kualit as benih sehingga rentan terhadap mut u lingkungan jelek dan penyakit (Gunawan, 1987). Jika masalah t ersebut t id ak sege ra d ip e cah kan m aka d ip e rkirakan akan b e r d a m p a k p a d a p r o d u k s i r u m p u t la u t d i m as a m en dat an g. Pe n in gkat an p o t en si ge n et ik dan laju pert umbuhan merupakan alternatif meto de yang dapat dilakukan un t uk men dapat kan benih unggul u nt uk k e p e r lu a n b u d id a ya . Un t u k m e n g a t a s i m a s a la h t ersebut , seleksi st rain/variet as perlu dilakukan unt uk m e n g h a s ilk a n b ib it r u m p u t la u t ya n g m e m ilik i pert umbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bibit yang dihasilkan dari budidaya. Oleh karena it u, penelit ian seleksi rumput laut

  K. st riat um

  dilakukan dengan t ujuan unt uk menghasilkan bibit rumput laut yang memiliki keunggulan laju pert umbuhan yang lebih cepat .

  BAHAN DAN M ETODE Koleksi Sam pel

  Sam p e l ru m p u t lau t

  K. st r iat um

  d iko le k si d ari pembudidaya di sekit ar perairan Kabupat en Takalar, Sulawesi Selat an. Rumput laut

  K. st riat um

  et al

  et al

  Se ja k t a h u n 2 0 1 1 , In d o n e s ia t e la h m e n ja d i pro dusen t erbesar rumput laut penghasil karaginan d un ia, di m ana pro du ksi m e ncapai 3 .91 5.0 00 t o n dibandingkan dengan Filipina sebesar 1.1801.00 t o n d a n Ko re a s e b e s a r 9 0 2 . 0 0 0 t o n (FAO, 2 0 1 2 ). Pe n in g ka t an p r o d u k s i ru m p u t lau t d i In d o n e sia semakin meningkat dan bahkan pro duksi pada t ahun 2 0 1 3 su d ah m e n cap ai 9 .2 9 8 .4 7 4 t o n , se d an gkan Filipin a, Ko rea, dan Malaysia m asin g-masing han ya 1.558.378 t o n, 1.131.305 t o n, dan 269.431 t o n (FAO, 2015). Ekspor rumput laut Indonesia pada t ahun 2012 ju ga m e n u n ju k kan n ilai ya n g cu ku p b e sar yak n i m e n c a p a i USD 1 3 4 . 3 4 8 . 0 0 0 (Ma ’r u f, 2 0 1 3 ). Pe n yu m b a n g p r o d u k s i d a n e k s p o r r u m p u t la u t dido minasi o leh kelo mpo k Rho do bhyceae at au alga merah dari genus

  (Ask & Azanza, 2002) di samping beberapa spesies lainnya sepert i

  Kappaphycus

  /

  Eucheuma

  dan

  Gracilaria (Parenrengi, 2013a).

  Rumput laut

  K. alvarezii

  merupakan rumput laut yang paling po puler dengan nama

  Eucheuma cot t onii

  E. dent iculatum dan K. st riatum . Rumput

  2006; Parenrengi

  laut

  K. st riat um

  meru pakan ru mput lau t yang lebih dikenal dengan nama “sakul” dengan bentuk mo rfolo gi ya n g m e m b u lat se p e rt i b o la d e n gan warn a ya n g cenderung hijau gelap at au t erang (Gambar 1). Ciri morfo lo gi t ersebut yang membedakan dengan spesies rumput laut penghasil karaginan lainnya.

  Pro duksi rumput laut yang cendeung meningkat d ari t ah u n ke t ah u n d ise b abkan kare n a b u d id aya rumput laut dapat dilakukan dengan menggunakan t ekno lo gi yang relat if sederhana, t enaga kerja yang dapat dilakukan dari berbagai kalangan, dan perio de pro duksi yang singkat , yait u hanya 45 hari. Selain it u, pro ses p emanenan yang m udah dengan biaya yang murah, sert a pro duksi bahan baku dap at d isim pan dalam wakt u yang lama.

  Berdasarkan berbagai pert imbangan, sejak t ahun 2 0 1 0 In d o n e s ia t e la h m e n ca n an gkan 2 ,6 ju t a h a d ip e rs ia p k an u n t u k lah a n b u d id a ya r u m p u t la u t (Pa r e n r e n g i, 2 0 1 3 b ). Be b e r a p a p e n e lit ia n t e la h dilakukan dalam mendukung pro gram indust rialisasi ru m p u t lau t , s e p e r t i: ke s e su a ian lah a n b u d id a ya (Po ngmasak

  et al

  ., 2010; Radiart a

  et al

  ., 2012, Suhaimi

  et al ., 2012), karakt erisasi genet ik (Parenrengi et al .,

  dipilih dari hasil budidaya dengan umur p emeliharaan 30 h ari. Ru m p u t la u t d ik u m p u lka n k e m u d ia n d ila k u k a n penent uan spe sies berdasarkan indent ifikasi secara m o rfo lo gi yan g d ifo ku skan p ad a b e nt uk dan p o la percabangan, sert a warna khas yang dimiliki. Rumput la u t d ip in d a h k a n k e lo k a s i p e n e lit ia n d e n g a n

  Jurnal Riset Akuakult ur, 11 (3), 2016, 235-248

  mengikuti pro sedur st andar transportasi benih rumput budidaya rumput laut dengan bo bo t awal 50 g diikat laut . Rumput laut selanjut nya diaklimat isasi dengan dengan jarak 15 cm ant ar simpul pada t ali bent angan. cara melakukan pemeliharaan rumput laut di lo kasi Rumput laut tersebut dipelihara pada lokasi yang sesuai penelit ian selama 30 hari unt uk menghasilkan st o k dan dap at d ilakukan sepanjan g t ahun. Pen guku ran seleksi varie t as. dan akhir pemeliharaan, yait u pada awal pemeliharaan dan set elah umur 30 hari. Pada akhir pemeliharaan

  Budidaya dan Prosedur Seleksi

  dilakukan seleksi unt uk memilih bibit yang memiliki p e rfo rm an si p e rt um b u h an t e rbaik u n t u k dit an am Kegiat an penelit ian dilaksanakan di perairan Pesisir ke mbali pada siklu s bu didaya b erikut nya. Sebelum

  Te luk Laikang Kabup at e n Takalar, Sulawe si Se lat an dilakukan budidaya, beberapa t ahapan dilakukan, yaitu (Gambar 2) dan di Labo rat o rium Balai Penelit ian dan antara lain: penyiapan konstruksi budidaya, penyediaan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) di Maro s, sto k induk, pengikatan bibit , perawatan/pemeliharaan, Su la w e s i Se la t a n . In d u k a n b ib it r u m p u t la u t dan t eknis seleksi bibit .

  K. st riat um

  yang berasal dari beberapa daerah sent ra

  Kappaphycus st riat um

  Gambar 1. St o k indukan rumput laut dari spesies yang diko leksi dari hasil budidaya di perairan Takalar

  

Figure 1. Parent st ock of seaweed of Kappaphycus striatum collect ed from a

farm at Takalar wat ers Kappaphycus st riat um

  Gambar 2. Lo kasi p en elit ian se le ksi rum pu t lau t di Teluk Laikang Kabupat en Takalar, Sulawesi Selat an

  

Figure 2. St udy sit e for st r ain select ion of seaw ed Kappaphycus striatum

at Laikang Bay Takalar Dist rict , Sout h Sulawesi Co p yright @ 201 6, Jurn al Rise t Akuakult ur, p -ISSN 19 07-6 754 , e -ISSN 2 502 -653 4

  237 Co p yrig ht @ 2 016, Ju rnal Riset Aku aku ltur, p -ISSN 1 907 -675 4, e-ISSN 250 2-65 34 Seleksi rumput laut Kappaphycus striatum dalam upaya peningkatan ..... (Andi Parenrengi)

  Persiapan Konst ruksi Budidaya

  et al

  ). Penanaman bibit dilakukan pada kedalaman rat aan 30 cm dari permukaan perairan agar t idak t erekspo s langsung o leh sinar mat ahari. Perawat an bibit rumput la u t p a d a sa at ar u s air le m ah d ila ku k an d e n g an menggo yang bent angan bibit sehingga part ikel/lumpur yang menempel dapat lepas dari

  t hallus

  . Perawat an juga dilakukan t erhadap t ali bent angan yang saling melilit akibat pengaruh ombak. Dilakukan pengamat an t erhadap hewan pemangsa supaya t idak mengganggu d an me makan ru m pu n yan g se dan g d alam pro se s seleksi. Pemant auan

  biofouling

  juga dilakukan unt uk mencegah hama dan bio t a penganggu bibit .

  Teknis Seleksi Bibit

  Rumput laut yang t elah dipelihara selama 30 hari dijadikan sebagai po pulasi st o k indukan b aru (G-0) yang digunakan sebagai bahan unt uk seleksi rumput laut . Pro sedur seleksi yang digunakan mengacu pada pro t o ko l yang t elah dikembangkan o leh Po ngmasak

  . (2011) dengan menggunakan indikat o r seleksi berupa laju pertumbuhan harian (LPH), di mana seleksi dilakukan pada 10% LPH t ert inggi pada set iap siklus pemeliharaan dan afkir at au sisanya (

  Me t o d e p eme lih araan bibit d ise suaikan d engan ko ndisi lingkungan perairan dan metode budidaya yang digunakan yaitu met ode apung sistem tali panjang (

  cut off

  ) dijadikan sebagai bibit unt uk digunakan sebagai ko nt ro l int er- nal dalam penelit ian ini. Semua rumpun dalam set iap ik a t a n d it im b a n g b o b o t n ya s e c a r a b e r u r u t a n , ke m u d ian d ih it u n g LPH b e rd asark an ru m u s yan g dikembangkan o leh Raikar

  et al

  . (2001). Set elah semua rumpun rumput laut dalam satu bent angan dit imbang, maka seleksi dilakukan kepada 10% LPH t ert inggi yang selanjut nya dijadikan sebagai bahan bibit awal unt uk siklus selanjut nya (G-1). Demikian juga rumpun sisa h asil se le ks i (

  cut off

  ) t e t ap d ijad ik an b ib it u n t u k dipelihara pada siklus berikut nya sebagai ko nt ro l in- ternal. Bibit hasil seleksi dan kont ro l int ernal dipelihara p a d a lo k a s i ya n g s a m a d e n g a n m e n g g u n a k a n pen gko d ean yang jelas pada set iap b ant an gan dan s e t ia p r u m p u n . Pe m e lih a r a a n s ik lu s b e r ik u t n ya dilakukan selama 3 0 hari unt u k men dapat kan G-2. Seleksi dilakukan u nt uk mendapat kan variet as dari G-1 sampai G-n, dan seleksi dilakukan dengan pro ses yang sama dengan siklus sebelumnya unt uk tiga siklus sampai LPH t elah memperlihat kan nilai yang st abil. Pada umumnya, semakin lama seleksi dilakukan maka jum lah ru mpun yang diafkir sem akin sedikit t et api se balikn ya jum lah ru mp un yang d iseleksi sem akin besar at au semakin st abil, yang diilust rasikan dengan t a n d a p a n a h p a d a Gam b ar 3 . Pa d a s e t ia p siklu s d ilaku kan p e n gam at an kan d u n gan karagin an d an kekuat an gel.

  Pengamatan Kandungan Karaginan, Kekuat an Gel, dan Kualitas Air

  long line

  Perawat an/Pemeliharaan

  Se t e la h p e n e n t u a n lo k a s i, m a k a d ila k u k a n persiapan ko nst ruksi pada lahan budidaya berukuran luas 50 m x 40 m. Panjang t ali bent angan 40 m dengan jarak ant ar t ali bent angan 1 m, sehingga dipero leh 50 t ali bent angan dalam sat u unit ko nst ruksi budidaya. Pada set iap t ali bent angan dibuat jarak 15 cm unt uk m e n g ik a t k a n t a li r u m p u n , s e h in g g a s e t ia p t a li bent angan memuat 250 t it ik rumpun bibit. Jarak ant ar t ali r u m p u n d ib u at sa m a s e h in gg a r u an g u n t u k p e rt u mb u h an b ib it , t e rm asu k d alam m e m pe ro le h suplai nut rien dalam perairan adalah sama.

  rumput lau t secara m o rfo lo gi ke lih at an be rsih, se gar, dan ber warna cerah, (c) umur indukan 30 hari, (d)

  Penyediaan Stok Induk

  Pe n ye d ia an b ib it d a ri p o p u la s i s t o k in d u ka n

  K. st r iat um

  h asil aklim at isasi d i lo kasi p e n e lit ian memiliki beberapa krit eria. Krit eria t ersebut ant ara lain: (a) memiliki t hallus bercabang banyak, rimbun, dan ujung-ujung

  thallus

  agak runcing, (b)

  thallus

  t hallus

  sehingga t idak mudah lepas saat dipelihara, (c) melakukan pencat at an bo bo t , ko ndisi, dan urut an no mo r set iap rumpun bibit dalam set iap bent angan sebagai dat a awal, (d) set elah pengikat an bibit pada set iap bent angan, maka segera ditanam agar bibit t idak mengalami kekeringan, layu, dan st res.

  t idak berlendir, rusak, pat ah, berbau busuk pada saat akan dilakukan penanaman, dan (e)

  t hallus

  bebas dari pe nyakit (b ercak-bercak pu t ih dan t erkelu pas) d an

  biofouling .

  Pengikat an Bibit

  Pengikat an bibit dilakukan di t empat yang t eduh d i p in gg ir p a n t a i, s e h in gg a m e m u d a h k an u n t u k menyiram/membasahi bibit selama pro ses pengikat an. Ca ra p e n g ik at an b ib it , se b a ga i b e r ik u t : (a) b ib it d it im b an g d e n g an b o b o t awa l 5 0 g p e r r u m p u n menggunakan t imbangan dengan skala ket elit ian 0,1 g dengan bo bo t awal yang sama ant ar rumpun, (b) s e t ia p r u m p u n b ib it d iik a t d e n g a n b a ik p a d a percabangan

  t hallus

  Pengamatan kandungan karaginan dan kekuatan gel dilakukan set iap 30 hari pemeliharaan at au pada saat p a n e n b ib it s e la m a t ig a s ik lu s p e m e lih a r a a n . Pe n g a m a t a n k a n d u n g a n k a r a g in a n r u m p u t la u t dilakukan dengan mengacu pada met ode konvensional (Mulyaningrum et al ., 2009) dengan ko mpo sit sampel. Samp el rumpu t laut d icuci de ngan air t awar u nt uk menghilangkan kandungan garam dan ko nt aminasi dengan ko to ran lainnya. Sampel selanjut nya direndam selama dua hari kemudian dipanaskan pada aut o klaf Co p yright @ 201 6, Jurn al Rise t Akuakult ur, p -ISSN 19 07-6 754 , e -ISSN 2 502 -653 4

  239

  Populasi bibit awal Init ial seed populat ion

  30 hari pemeliharaan 30 days cult ivat ion

  30 hari pemeliharaan 30 days cult ivat ion

  30 hari pemeliharaan 30 days cult ivat ion

  30 hari pemeliharaan 30 days cult ivat ion

  G-n superior variet y of fast growing LPHt-10% ( 10% DGRmax ) Se leksi G-2 ( Select ion of G-2 )

  LPHt-10% ( 10% DGRmax ) Se leksi G-3 ( Select ion of G-3 ) G-4 @ 50 g ( G-4 @ 50 g ) G-n varie tas unggul tumbuh cepat

  G-2 @ 50 g ) G-3 @ 50 g ( G-3 @ 50 g )

  G-1 @ 50 g ( G-1 @ 50 g ) LPHt-10% ( 10% DGRmax ) Se leksi G-1 ( Select ion of G-1 ) G-2 @ 50 g (

  G-0 @ 50 g ( G-0 @ 50 g ) LPHt-10% ( 10% DGRmax ) Se leksi G-0 ( Select ion of G-0 )

  LPH st abil St able DGR

  Jurnal Riset Akuakult ur, 11 (3), 2016, 235-248

  Cut -off (int ernal cont rol) Afkir (int ernal kont rol) Cut -off (int ernal cont rol) Afkir (int ernal kont rol) Cut -off (int ernal cont rol)

  Cut -off (int ernal cont rol) Afkir (int ernal kontrol)

  

Figure 3. The procedure of seaweed select ion prot ocol based on t he growt h rat e paramet er (adapt ed

illust rat ion from Pongmasak et al., 2011) Afkir (int ernal kontrol)

  ., 2011)

  et al

  Pengamat an kualit as air sepert i salinit as, nit rit , fosfat , Gambar 3. Prosedur seleksi rumput laut berdasarkan paramet er laju pertumbuhan harian (adopsi illust rasi dari Po ngmasak

  M ar i ne Coll oid (1 9 7 7 ).

  b e rd a sarkan re fe re n si d ari

  t ext u r e a n a l yz er ap p a r at u s

  d e n g a n s u h u 1 2 0 °C s e la m a 1 5 m e n it d e n g a n menggunakan air sebagai pelarut dengan rasio rumput laut (g) dengan air (mL). Pemasakan sampel yang kedua dilakukan pada suhu 100°C selama 30 menit sampai r u m p u t la u t t e r s e b u t lu n a k s e m p u r n a . Sa m p e l kemudian diblender dan diekst raksi menggunakan air panas dengan rasio 1:30 dan kemudian sampel disaring. Sampel dikentalkan dengan pro pano l pada rasio 1:2,5 u n t u k m e n jad ikan laru t a n m e n jad i ge l. Ge l yan g t erbent uk selanjutnya dikeringkan pada suhu ruangan ya n g s e la ju t n ya d ila k u k a n p e n im b a n g a n u n t u k me nge t ahu i b o bo t ge l yang dihasilkan. Sedangkan ke kuat an gel se cara ko mp o sit juga diu kur d engan m e n g g u n a k a n a la t

  30 hari pemeliharaan 30 days cult ivat ion Co p yrig ht @ 2 016, Ju rnal Riset Aku aku ltur, p -ISSN 1 907 -675 4, e-ISSN 250 2-65 34 Seleksi rumput laut Kappaphycus striatum dalam upaya peningkatan ..... (Andi Parenrengi)

  dan pH dilakukan set iap 30 hari. Pengamat an salinit as dan pH dilakukan langsung di lapangan secara

  ) Siklus-2 (

  . (2 014) melapo rkan bahwa penerapan pro t o ko l seleksi pada rumput laut

  K. alvarezii

  pada t ahun 2010 dan 2012 dapat meningkat kan pert umbuhan sebesar 15%-42%.

  Gambar 4. Laju pert umbuhan harian rumput laut

  Kappaphycus st riat um

  pada bibit hasil seleksi dan ko nt ro l

  

Figure 4. Daily growt h rat e of seaw eed Kappaphycus st riat um from select ed seed and

cont rol

  Seleksi ( Select ion ) Ko nt ro l (

  Cont rol

  ) Siklus-1 ( Cycle-1 ) Siklus-3 (

  Cycle-3

  Cycle-2

  pada bibit yang st o k indukannya berasal dari alam, di mana hasil seleksi memperlihat kan pert umbuhan yang lebih t inggi (1,77%-2,74%/hari) dibandingkan dengan ko nt ro l (1,15%-1,25%/hari). Po ngmasak

  )

  0.5

  1

  1.5

  2

  2.5

  3

  3.5

  4

  4.5 L

  a ju p e rt u m b u h a n h a ri a n ( % /h a ri )

  et al

  E. dent iculat um

  in-sit u

  K. striatum

  , sedangkan pengamat an nit rat dan fo sfat dilakukan di labo rat o rium akredit asi BPPBAP, Maro s.

  Analisis Dat a

  Ha s il p e r h it u n g a n LPH d ia n a lis is d e n g a n m e n g g u n a k a n p r o g r a m

  t -st u d en t

  d e n g a n membandingkan antara LPH rumput laut yang diseleksi dengan rumput laut yang t idak diseleksi at au ko nt ro l int ernal. Hasil pengamat an kandungan karaginan dan kekuatan gel antara rumput laut seleksi dengan ko ntrol d ib ahas se cara de skript if sed angkan hasil an alisis kualit as air disajikan secara deskript if dalam bent uk t abel. Unt uk menget ahui pengaruh perlakuan maka dat a dian alisis t -st udent yang dit ent ukan pada level signifikasi 0,05.

  HASIL DAN BAHASAN Laju Pert umbuhan Harian

  La ju p e r t u m b u h a n h a ria n (LPH) r u m p u t la u t

  K. st riat um

  mengalami peningkat an pada perlakuan seleksi dibandingkan dengan bibit yang t idak diseleksi (ko nt ro l) pada semua siklus budidaya yang dilakukan. Kecende rungan penin gkat an LPH t erjadi dari siklus pert ama sampai dengan siklus ket iga. LPH rumput laut

  K. st riat um

  meningkat dari 2,26%/hari menjadi 3,03%/ hari dan kem udian 3 ,47 %/h ari masing-masing pada siklus pert ama, kedua, dan ket iga (Gambar 4). Dari t iga siklus pro duksi bibit , rat a-rat a LPH hasil seleksi ad ala h 2 ,9 2 %/h ari d an ko n t ro l 1 ,5 8 %/h ari; t e r jad i peningkat an sebesar 84,25%. Po la peningkat an LPH yang sama juga terjadi pada

  ko nt ro l di mana siklus pert ama, kedua, dan ket iga dengan nilai 1,13%; 1,82%; dan 1,81% pe r hari, yang secara umum nilai seleksi. Analisis

  s t r a in Ta ka la r m e m p e r lih a t k a n pertumbuhan yang lebih t inggi pada bibit hasil seleksi yakni 6,49%-6,83%/hari dibandingkan dengan ko nt ro l se b e s ar 4 ,8 7 -4 ,9 3 %/h a ri; se r t a st r ain ku lit b u a ya masin g-m asing adalah 2,95 %-5 ,07 %/h ari dan 0 ,85 %- 2,71%/hari. Kecenderungan demikian juga didapat kan pada implement asi seleksi st rain pada

  t -st udent

  menunjukkan bahwa rumput lau t h asil se le ksi m e m iliki LPH yan g le b ih t in ggi (P< 0,05) dibandingkan dengan LPH ko nt ro l.

  Hasil penelit ian ini menunjukkan bahwa aplikasi seleksi variet as dalam mempro duksi bibit rumput laut

  K. st riat um

  dapat meningkat kan pert umbuhan unt uk siklus berikut nya. Hal yang sama telah dibuktikan pada sp e sie s d an st r ain ru m p u t lau t la in n ya, m is aln ya spesies

  K. alvarezii

  st rain Go ro nt alo (dikenal dengan st rain kulit buaya) dan Takalar, sert a spesies

  Eucheuma denticulatum

  yang indukannya berasal dari alam perairan Nusa Tenggara Timur (Parenrengi

  et al

  ., 2014). Hasil penelit ian t ersebut menunjukkan bahwa rumput laut

  K. a l va r ezi i

  D a il y g ro w th r a te ( % /d a y)

  Selection r esponse**

  int ernal cont rol , due t o w it hout t he sexual mat ing pr ocess )

  E. cot t onii

  at au K.

  alvarezii sebesar 4,0%-11,0%/hari (Ohno et al ., 1996);

  4 ,5 %-10 ,7%/h ari (Paula

  et al

  ., 20 0 2); 1 ,6 %-4 ,6 %/h ari (Hu n g

  et al

  ., 20 0 9 ); 2 ,3 %-6,1 %/h ari (Thiru m aran & Anantharaman, 2009); and 1,6%-8,6%/hari (Orbita, 2013). Nilai LPH yang ku ran g leb ih sam a dilap o rkan o leh Adn an & Po rse (1 98 7) seb esar 2 ,5 %-3 ,5 %/hari; dan

  Cat atan ( Not es ):

  Aft er c ycle-3 , t he select i on w as not per for med for next cycle, but it w as pr oceeded t o t he seed propagat ion )

  Tabel 1. Dife ren sial seleksi dan resp o n s sele ksi rum put laut Kappaphycus st riat um b erdasarkan laju pert umbuhan harian (LPH) set iap siklus pemeliharaan

  K. st riat um

  

Table 1. Select ion different ial and select ion response of seaweed Kappaphycus st riat um based on t he daily growt h

rat e (DGR) for each cult ivat ion cycle %/hari ( %/day ) % %/hari ( %/day ) %

  Sto k in d ukan Parent st ock

  3 .0 2 3 .0 2 2 .2 7 7 5 .1 7 - - Siklus-1 Cycle-1

  1 .1 3 2 .2 6 1 .5 2 6 7 .2 6 1 .1 3 1 0 0 Siklus-2 Cycle-2

  1 .8 2 3 .0 3 1 .4 4 4 7 .5 2 1 .2 1 6 6.4 8 Siklus-3 Cycle-3

  1 .8 1 3 .4 7 - - 1 .6 6 9 1.7 1 Param et er

  Par am eter s Rerat a LPH popul asi kont rol (%/hari)

  Aver age of DGR population contr ol (%/day)

Rerat a LPH popul asi

sel eksi (%/hari)

  

Aver age of DGR

population selection (%/day)

Diferensi al seleksi *

  Selection differential * Respons sel eksi**

  lebih rendah dibandingkan dengan spesies rumput laut lainnya. Selama t iga siklus pemeliharaan, LPH yang didapatkan berkisar ant ara 2,26%-3,47%/hari; d ib an d in gkan de ngan LPH p ad a

  Penelitian ini menunjukkan bahwa LPH rumput laut

  Co p yright @ 201 6, Jurn al Rise t Akuakult ur, p -ISSN 19 07-6 754 , e -ISSN 2 502 -653 4 Co p yrig ht @ 2 016, Ju rnal Riset Aku aku ltur, p -ISSN 1 907 -675 4, e-ISSN 250 2-65 34 Seleksi rumput laut Kappaphycus striatum dalam upaya peningkatan ..... (Andi Parenrengi)

  dengan met o de seleksi 10% LPH t ert inggi dap at me nghasilkan bib it u nggul dengan indikat o r pe ningkat an LPH seb esar 22 ,3% (Po ngm asak

  241

  Jurnal Riset Akuakult ur, 11 (3), 2016, 235-248

  Tingginya pert umbuhan rumput laut seleksi diduga juga akibat dist ribusi ho rmo n pert umbuhan t anaman b erbe d a ant ara ru mp un at au cab an g rum p ut laut . Fad illa h (2 0 1 4 ) m e lap o r ka n b a h wa r u m p u t lau t

  K. alvarezii

  yang lebih t inggi, juga memiliki ko nsent rasi ho rmo n pert umbuhan t anaman khususnya kinet in lebih besar 1 5,52 % diband in gkan de ngan rum p ut lau t ko nt ro l int ernal. Po ngmasak

  et al

  . (2014) melapo rkan bahwa d e n g a n s e le k s i ve r ie t a s

  K. a l va r ezi i

  d a p a t m e n in g k a t k a n p e r t u m b u h a n s e b e s a r 3 2 %-4 0 %. Selanjut n ya penerapan seleksi variet as ru mput laut

  K. alvarezii

  et al

  ) d ari ge ne rasi F-1 — F-3 secara kumulat if adalah 33,68% dengan kisaran set iap generasi 7,78%-10,44%.

  ., 2015b). Berb e da haln ya d en gan sele ksi pad a ikan at au u d an g, d i man a pad a u m u m nya se le ksi d ilakukan melalui pro ses perkawianan induk untuk mendapatkan ge n e rasi se lan ju t n ya. Pad a se le k si varie t as/st rain rumput laut, pro duksi bibit pada set iap generasi hanya dilakukan melalui pro ses perbanyakan vegetat if untuk mendapatkan generasi selanjut nya atau dikenal dengan siklus pro duksi bibit (Po ngmasak

  et al

  ., 2011). Oleh k a re n a it u , p e n e n t u a n h e r it a b ilit as t id a k d ap a t dilakukan, sehingga diferensial seleksi hanya dihit ung dari selisih rerat a LPH yang terseleksi dengan po pulasi ko n t ro l p ad a siklu s t e rse b ut . Se d angkan re sp o n s s e le k s i h a n ya d a p a t d ie s t im a s i b e r d a s a r k a n peningkat an LPH seleksi dibandingkan de ngan LPH ko nt ro l int ernal. Diferensial seleksi yang didapat kan pada penelit ian ini adalah 1,44%-2,27%/hari (47,52%- ant ara 1,13%-1,66%/hari (66,48%-100%) (Tabel 1). Nilai diferensial seleksi yang didapat kan pada penelit ian ini lebih rendah dibandingkan dengan diferensial seleksi pada ikan lele (

  Clarias gariepinus

  ) t umbuh cepat hasil s e le k s i in d ivid u (1 3 0 ,5 7 %-1 8 0 , 4 0 %) u n t u k t ig a generasi, t et api respo ns seleksinya lebih kecil yakni 1 1,8%-2 0,59 % (Im ro n

  et al

  ., 20 14 ). Ro hm an a

  et al .

  (2 0 1 4 ) m e lap o rk an b a h w a r e s p o n s se le k si yan g didapat kan pada se leksi pert u mbuhan udang galah (

  M acrobrachium rosenbergii

  • Se telah siklus-3 , seleksi tid ak d ilakukan lagi unt uk siklus berikut nya, t etap i h anya d ilan jutkan d e ngan p e rbanyakan bib it (
    • Estimasi resp o ns se leksi d ihitun g hanya be rd asarkan LPH seleksi d an ko nt ro l int ern al kare na p ro ses p ro d uksi tid ak m elalui p erkawinan ( Est imat ion of response t o sel ect i on based on DGR of select i on and

  Hurt ado et al . (2001) sebesar 0,2%-4,2%/hari. Muslimin

  K. alvarezii

  dent iculat um

  se b esar 6 ,5 8 % d an

  K. alvar ezii

  st rain Takalar adalah 7,15%. Hasil penelit ian ini memberikan suat u gambaran bahwa ada kecenderungan pert umbuhan berko relasi p o sit if de ngan kan du ngan karagin an ru mp ut laut . Pert umbuhan

  K. st riat um

  hasil seleksi yang lebih t inggi daripada ko nt ro l juga didapat kan hal yang sama pada kandungan karaginan. Kandungan karaginan rumput laut hasil seleksi yang didapat kan pada penelit ian ini berkisar ant ara 23,0%-32,04%. Kandungan karaginan r u m p u t la u t

  K. st r i a t u m

  r e la t if le b ih r e n d a h diban dingkan dengan rumput laut K. alvarezii yang b e rkisar 3 1 ,2 1 %-4 2 ,9 8 % t e t ap i m asih le b ih t in ggi dibandingkan dengan

  E. dent iculat um

  yakni rat a-rat a 18,74% (Parenrengi

  et al

  ., 2014). Kandungan karaginan

  yang relat if sama dengan

  et al

  K. st riat um

  pada penelit ian ini, t elah dilapo rkan o leh Muslimin et al . (2015) dengan kandungan karaginan sebesar 33,10%- 35,89% pada rumput laut yang dipelihara di perairan Teluk To mini, Go ro nt alo . Kandungan karaginan pada r u m p u t la u t s a n g a t d ip e n g a r u h i o le h u m u r pemeliharaan. Parenrengi (2013b) melapo rkan bahwa semakin t ua umur panen rumput laut semakin t inggi kandungan karaginannya sehingga disarankan umur

  Tabel 2. Kandungan karaginan dan kekuat an gel pada

  Kappaphycus st riat um

  hasil seleksi dan ko nt ro l selama t iga siklus pemeliharaan

  

Table 2. Carrageenan cont ent and gel st rengt h of select ed Kappaphycus striatum and cont rol in t hree

cycles of cult ivat ion Param et er Par ameters

  Perl akuan Tr eatments

  

Si klus-1

Cycle-1

  Sikl us-2 Cycle-2

  Si klus-3 Cycles-3

  Rat a-rat a ± SD Aver age ± SD

  Seleksi ( Selection ) 2 3 .9 0 3 2 .0 4 3 0 .3 6 2 8 .7 7 ± 4 .3 0 Ko ntr ol ( Control ) 2 1 .6 0 3 0 .2 5 2 8 .9 0 2 6 .9 5 ± 4 .6 7 Seleksi ( Selection ) 6 3 6.4 2 5 9 4 .3 9 3 8 8 .5 2 5 3 9.7 8 ± 1 3 2 .6 7 Ko ntr ol ( Control ) 4 2 3.4 3 5 5 9 .8 4 3 8 2 .6 1 4 5 5 .3 2 ± 9 2.7 8

  Kan d un g an kar ag in an Carrageenan cont ent (%) Keku atan gel Gel st rengt h (g /cm

  . (2014) pada spesies rumput laut E.

  kan d u n gan kara gin an ju g a t e lah d ilap o rkan o le h Parenrengi

  et al

  et al

  . (2014) melapo rkan bahwa bahwa LPH rumput laut

  K. alvarezii

  adalah 0,9%-1,7%/hari yang dipelihara d i p e r a ir a n Pa r ig i Mo u t o n g , Su la w e s i Te n g a h .

  et a l

  memperlihatkan bahwa LPH

  K. st riat um

  adalah berkisar ant ara 1,01%-2,82%/hari yang dipelihara dengan sistem

  IMTA (

  int egr at ed mult i t ropic acuacult ure

  ) d i Te lu k To mini, Go ro nt alo . LPH rumput laut

  K. st riat um

  yang didapat kan dari penelit ian ini dan beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan nilai yang masih lebih kecil dari LPH yang disarankan o leh Anggadiredja

  . (2011) yakni t idak kurang dari 3%/hari. Meskipun demikian, LPH rumput laut K. alvarezii dapat mencapai 6,9%-8,8%/ hari dilapo rkan o leh Po ngmasak

  K. stria- t um d a p a t m e n ca p a i 5 , 1 %-1 0 ,6 %. Pe n in g k a t a n

  et al

  . (2015a) dengan penerapan t eknik seleksi yang dilakukan di perairan Nusa Tenggara Barat .

  Pert umbuhan rumput laut sangat dipengaruhi oleh ko ndisi lingkungan perairan t empat pembudidayaan dilakukan. Parenrengi et al . (2008) dan Po ngmasak et

  al

  . (20 09) me reko me ndasikan bahwa se t iap sent ra b ud id aya ru m pu t lau t seb aikya me m iliki kale n de r musim yang dapat dijadikan acuan dalam menent ukan kapan mulai penanaman dan spesies mana yang sesuai unt uk dibudidayakan. Budidaya rumput laut

  K. alvarezii

  di Filipina juga memperlihat kan pert umbuhan yang d ip e n garu h i o le h m u sim d an ko n d isi lin gku n gan b u d id a ya . O r b it a (2 0 1 3 ) m e la p o r k a n b a h w a pert umbuhan rumput laut t ertinggi terjadi pada musim “habagat” yang dit andai dengan gelo mbang yang relat if besar, suhu yang rendah, dan salinit as rendah dengan disert ai hujan. Tet api hasil penelit ian yang berbeda dilapo rkan o leh Hurt ado et al . (2001) dan Hung et al . (2 0 0 9 ) b ah w a p a d a m u s im t e rs e b u t d id ap a t ka n pert umbuhan rumput laut yang rendah. Penelitian yang dilakukan o leh Po ngmasak (2008) menunjukkan bahwa p e r t u m b u h a n r u m p u t la u t

  K. a l va r ezi i

  d a n

  E. dent iculat um

  berko relasi po sit if dengan lingkungan budidaya khususnya kandungan nit rat dan fo sfat .

  Kandungan Karaginan dan Kekuatan Gel

  Kand un gan karaginan rum pu t laut hasil seleksi relat if lebih tinggi dibandingkan dengan ko nt rol untuk se mua siklus pe meliharaan. Pe me lih araan siklu s-1, siklus-2, dan siklus-3, kandungan karaginan pada rumput lau t hasil sele ksi masing-m asin g me ncap ai 2 3,90 %; 32,04%; dan 30,36% at au rat a-rat a 28,77%; sedangkan kandungan karaginan rumput laut perlakuan ko nt ro l adalah masing-masing 21,60%; 30,25%; dan 28,90% at au r a t a -r a t a 2 6 ,9 5 % (Ta b e l 2 ). Ha l t e r s e b u t d a p a t diasumsikan bahwa dengan penerapan seleksi maka peningkat an kandungan karaginan rumput laut

  2 ) Co p yright @ 201 6, Jurn al Rise t Akuakult ur, p -ISSN 19 07-6 754 , e -ISSN 2 502 -653 4

  243

  a n d u n g a n k a ra g in a n C a rr a g e e n a n c o n te n t (% )

  10

  15

  20

  25

  30

  35

  0.00

  1.00

  2.00

  3.00

  Laju pert um buhan harian (%/hari) Daily gro wt h rat e (%/day)

  Kappahycus st riat um

Figure 5. Correlat ion bet ween carrageenan cont ent (A) and gel st rengt h (B) of seaweed Kappaphycus striatum

y = 3.1583x + 20.731 R² = 0.4361

  y = 13.654x + 466.79 R² = 0.011 100 200 300 400 500 600 700

  0.00

  1.00

  2.00

  3.00

  4.00 K

e

k

u

a

ta

n

g

e

l

  G el s tr en g th (g /c m

  2 )

  Laju pert umbuhan harian (%/hari)

  Daily growt h rat e (%/day)

  5

  Gambar 5. Ko relasi ant ara laju pert umbuhan harian dengan kandungan karaginan (A) dan kekuat an gel rumput laut

  Jurnal Riset Akuakult ur, 11 (3), 2016, 235-248

  E. dent iculat um di mana t idak ada perbedaan 2

  panen minimal 45 hari pemeliharaan. Pada penelit ian ini, pengukuran kandungan karaginan dan kekuat an gel dilakukan pada umur 30 hari pemeliharaan pada saat bersamaan dengan sampling pro pagasi bibit hasil

  K. st r i at um

  d ap at le b ih t in ggi jik a p e m e lih a ra an dilakukan sampai dengan 45 hari. Sepert i halnya dengan pert umbuhan rumput laut yang dipengaruhi o leh lingkungan, beberapa lapo ran m e n u n ju k ka n b a h w a k an d u n ga n k ar a gin a n ju g a d ipe n garu h i o le h fakt o r lin gku ngan se p e rt i suh u , int ensit as cahaya, dan nut rien at au kualit as perairan. Orbit a (2013) melapo rkan bahwa hasil penelit ian yang dilku kan di Baran gay Do ñ a Co nsuelo , Ozamiz Cit y menunjukkan bahwa pert umbuhan sangat dipengaruhi o le h k o n s e n t r a si n it r a t d i lin g ku n g an p e r a ira n , sedangkan salinit as memberikan pengaruh yang besar t e rhad ap kand ungan karaginan

  K. alvar ezii

  , sep ert i halnya di Brazil, pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut dipengaruhi o leh suhu air dan salinit as t empat budidaya dilakukan.

  Ke k u a t a n g e l r u m p u t la u t K. st r i a t u m ya n g d id a p a t k a n p a d a p e n e lit ia n in i m e n u n ju k k a n kecenderungan lebih t inggi pada perlakuan bibit hasil se le ks i d ib an d in g kan d e n gan k o n t ro l. Pe r b e d aan keku at an ge l t erse but t erlihat p ada siklus pert ama yakni hasil seleksi sebesar 636,42 g/cm 2 ; sedangkan ko nt ro l hanya 423,43 g/cm 2 ; dan pada siklus kedua dan ket iga perbedaan ant ara seleksi dengan ko nt ro l re lat if se dikit (Tabe l 2). Jika p ad a siklu s pe rt am a, peningkat an kekuatan gel rumput laut dapat mencapai 50,3% sedangkan pada siklus kedua dan ket iga masing- masing adalah 6,2% dan 1,5%. Parenrengi

  et al

  . (2014) m e la p o r k a n b a h w a k e k u a t a n g e l r u m p u t la u t

  K. alvar ezii hasil se le ksi leb ih t in ggi d ib an dingkan

  dengan kont ro l, yakni 472,15 g/cm 2 dan 376,48 g/cm 2 ; t et api hal yang berbeda didapat kan pada rumput laut spesies

  ko nt ro l (164,56 g/cm 2 ).

  . Sepert i halnya dengan pH dan salinit as, maka n it rat dan fo sfat j

Dokumen yang terkait

Dokumen baru