Muhammad Husen Db. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Inggris AUD.

  Pendekatan Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Anak Usia Dini

  1 Oleh: Muhammad Husen Db Abstrak: Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan dalam rangka

  bersosialisasi dengan lingkungan, baik keluarga maupun masyarakat luas. Salah satu bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi di tingkat lokal dan global adalah bahasa Inggris. Di berbagai belahan bumi bahasa inggris menjadi bahasa penghantar dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari. Untuk mengetahui dan menggunakan bahasa khususnya Inggris perlu ada strategi untuk menguasai. Salahsatunya adalah melalui pembelajaran sejak anak usia dini. Anak usia dini

  2

  memiliki masa yang dinamakan golden age (masa keemasan) , yang pada masa itu tingkat kecakapan dan pemahaman yang tidak pernah hilang seumur hidupnya. Fase kata demi kata, fase lebih dari satu kata, fase pengembangan adalah tahapan dasar penguasaan bahasa. Empat kemampuan pembelajaran bahasa Inggris yaitu

  reading (membeca), writing (menulis), speaking (berbicara), dan listening

  (mendengar) menjadi mutlak untuk dilalui semua orang yang ingin menguasai bahasa inggris, khususnya anak usia dini. Untuk melakukan pembelajaran sejatinya seorang guru harus mengetahui betul situasi dan kondisi anak. Semakin tau cara pendekatan dan perkembangan anak maka semakin mudah pula guru memberikan internalisasi bahasa Inggris terhadap anak. Bahasa adalah alat. Oleh karena itu untuk menyuguhkan terhadap anak perlu malakukan pendekatan yang sesuai dengan saat-saat mereka senang. Bermain, bernyanyi, olahraga adalah salah cara untuk melakukan pendekatan pembelajaran bahasa inggris terhadap anak. Dalam berkomunikasi, bahasa merupakan alat yang penting bagi setiap orang. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain.

  Kata Kunci: Rekomendasi, Pendekatan, Pembelajaran

A. Pendahuluan

  Bahasa Inggris merupakan bahasa penghantar diberbagai belahan dunia dalam berkomunikasi, interaksi, bisnis, diplomasi dan hal-hal sederhana lainnya. Betapapun bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi Bangsa Indonesia, tapi dapat dilihat diberbagai interaksi sosial masyarakat indonesia baik formal dan informal selalu diselingi dengan bahasa Inggris. Bahkan bisa kita saksikan presiden Susilo Bambang Yudoyono sering sekali menggunakan bahasa inggris ketika menyampaikan pidato-pidato kenegaraan dan pidato-pidato ketika menyampaikan 1 pesan kepada rakyatnya. Pada intinya bahasa inggris saat ini menjadi bahasa

  

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dosen STIE Ahmad Dahlan Jakarta,

2 Dosen Fakultas Sastra Universitas Pamulang.

  Pada masa keemasan, terjadi transformasi yang luar biasa pada otak dan fisiknya, tetapi sekaligus masa

rapuh. Oleh karena itu masa keemasan ini sangat penting bagi perkembangan intelektual, emosi dan sosial komunikatif baik tingkal lokal dan global. Oleh karena itu perlu dilakukan pendekatan pembelajaran terhadap anak untuk memudahkan anak dalam berkomunikasi dan bisa berinteraksi kepada masyarakat. Selanjutnya harus di lakukan startegi pembelajaran bahasa Inggris terhadap anak.

  a. An understanding of children and their development

  Memulai mengajarkan bahasa inggris anak penting untuk mengetahui perkembangan anak. Semakin mampu guru melakukan pendekatan semakin mudah juga guru mengajarkan bahasa inggris kepada anak. Karena anak cenderung dengan pendekatan secara persuasif atau secara perseorangan. Anak akan lebih mudah menerima guru yang penyayang dan tidak mempersulitkan anak, maka semakin baik guru memberikan perhatian semakin mudah juga anak menerima apa yang diajarkan

  b. Celebrating Play

  Merayakan permainan adalah salah satu tipe anak untuk mengekspresikan semua kegembiraan dan kesenangan anak ketika dia belajar dan bermain.

  c. Opportunities to Play

  Memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain sambil sedikit demi sedikit diselipkan materi yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa seperti kosa kata. Permulaan bahasa dimulai dari pengenalan kosa kata dan kalimat sederhana.

  d. Into Practice for Guiding young children

  Sampai pada penerapan pemanfaatan bahasa pada anak, penting untuk di mulai dengan Guiding (pendampingan atau pemanduan) anak untuk belajar bahasa inggris sesuai dengan tingkat kemampuan dan kecakapan mereka. Ada baiknya jika belajar bahasa inggris anak tatap dimulai dari tingkat ekspresi kegembiraan mereka sehingga internalisasi pembelajaran bahasa lebih diterima.

  e. Family Partnership (Working with parents, families, and communities)

  Pembelajaran dan penguasaan bahasa akan berkembang baik jika diikuti dengan lingkungan sekitar. Keajegan pemanfaatan dan penggunaan bahasa yang didukung oleh lingkungan akan memberikan efek yang sangat positif ketika berinteraksi dengan orang tua, keluarga dan komunitas akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan bahasa anak, semakin sering anak dirangsang untuk berbahasa dan belajar bahasa Inggris semakin mudah anak memahami dan mengerti bahasa yang anak pelajari.

B. Pembahasan

  Dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris terhadap anak, perlu melakukan

  Approach (pendekatan) dan Need analysis (analisis kebutuhan) anak sehingga mudah melakukan internalisasi mata pelajaran bahasa Inggris kepada anak.

a. Perspektif Bahasa pada Psikologi Perkembangan Anak

  Pada akhir abad ke-19 mulailah timbul perhatian umum kepada pribadi dan hakekat anak, sehingga anak dijadikan “objek” yang dipelajari secara ilmiah. Masa baru ini dipelopori antara lain Wilhelm Preyer, seorang tabib yang menulis

  3 buku “Die Seele des Kindes” (Jiwa Anak) pada tahun 1882.

b. Fase Perkembangan bahasa anak

  1. Fase kata demi kata Pada fase ini anak mulai mencoba membuat dan menemukan satu kata dan diucapkan setiap hari sesuai dengan pengucapannya (Pronunciationnya). Anak pada dasarnya mampu mengucapkan kata demi kata, dan terus mengulang- ulang. Semakin sering anak mengulang-ulang kosa kata semakin baik cara pengucapannya. Bahasa inggris sangat di tentukan cara pengucapannya, karena jika salah mengucapkan cara pengucapannya maka salah juga artinya.

  2. Fase lebih dari satu kata Fase ini anak mulai merangkai lebih dari satu kata dan membentuk kalimat- kalimat untuk memulai melakukan interaksi, baik formal maupun informal. Secara naluri anak harus di Drill untuk terus melakukan pengembangan merangkai kata demi kata untuk membentuk kalimat. Dari kalimat itulah anak mulai terlatih untuk mengucapkan apa yang sudah ia pahami, sehingga anak mulai mengerti bagaimana melakukan komunikasi secara baik menggunakan bahasa Inggris.

  3. Fase ketiga adalah fase Pengembangan Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberi tahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.

  Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya, misalnya:

  a. Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan Dengan berbicara anak mudah untuk menjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh teman atau lingkungannya.

  b. Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang 3 lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal- bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi, sehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.

  c. Sebagai alat untuk membina hubungan sosial Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak Iebih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat memperoleh kesempatan Iebih banyak untuk mendapat peran sebagai pemimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.

  d. Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.

  e. Untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain Anak yang suka,berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan modal utama .bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya.

  f. Untuk mempengaruhi perilaku orang lain Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebayanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.

c. Potensi Anak Berbicara Didukung oleh Beberapa Hal

  1. Kematangan alat berbicara Kemampuan berbicara juga tergantung pada kematangan alat-alat berbicara. Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempi’rpa dan dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik scbagai permulaan berbicara.

  2. Kesiapan berbicara Kesiapan mental anak sangat berganrung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimnlai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang discbut teachable moment dari perkembangan bicara. Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar. bicara yang sesungguhriya. Apabila tidak ada gangguan anak akan segera dapat berbicara sekalipun belum jelas maksudnya.

  3. Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu -agar dapat melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan kata lain sehingga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau saudara, dari radio yang sering didengarkan atau dari TV, atau aktor film yang bicaranya jelas dan berarti. ^Anak akan mengalami kesulitan apabila tidak pernah memperoleh model sebagaimana disebutkan diatas. Dengan sendirinya potensi anak tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya.

  4. Kesempatan berlatih Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya: Pada gilirannya anak kurang memperoleh motivasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut “anak ini lamban” bicaranya.

  5. Motivasi untuk belajar dan berlalih Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi anak karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. Orang tua hendaknya selalu berusaha agar motivasi anak untuk berbicara jangan terganggu atau tidak mendapatkan pengarahan.

  6. Bimbingan Bimbingan bagi anak sangat. penting untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu hendaknya orang tua suka memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau mcmbetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan. Bimbingan tersebut sebaiknya selalu dilakukan secara terus menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara dengan orang lain.

d. Gangguan dalam Perkembangan Berbicara

  Di samping berbagai faktor tersebut terdapat beberapa gangguan yang harus diatasi oleh anak dalam rangka belajar berbicara.Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak, antara lain anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain. Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan lawan bicara. Hal ini disebabknn kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan lawan bicara sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh .anak. Bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan. lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan.

  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu: a. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)

  Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.

  b. Pola Komunikasi Dalam KeluargaDalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.

  c. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.

  d. Posisi Urutan Kelahiran Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.

  e. Kedwibahasaan(Pemakaian dua bahasa) Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia. Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga. Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan simbol-simbol dan terminologi konkrit dalam mengomunikasikannya.

  Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt.

e. Implementasi teori pengembangan bahasa

  a. Teori Behaviorist oleh Skinner, mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh prilaku yang dibentuk oleh lingkungan eksternalnya.

  b. Teori Nativist oleh Chomsky, Mengutarakan bahwa bahasa sudah ada dalam diri anak. Pada saat seorang anak lahir, dia telah memiliki seperangkat kemampuan berbahasa yang disebut ‘Tata bahasa umum’ (Universal Grammar).

  c. Teori Constructive oleh piaget, Vigotsky dan Gardner, menyatakan bahwa perkembangan kognisi dan bahasa dibentuk dari interaksi dengan orang lain sehingga pengetahuan, nilai dan sikap anak akan berkembang.

1. Teori Behaviorisme

  Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:

  1. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus-Respons akan semakin kuat.

  Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-Respons.

  a. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.

  (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

  3. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

  b. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

  Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

  1. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut.

  Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan

  Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek –aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

  2. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan satuan pengantar

  2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut.

  Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

  c. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

  Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

  1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

  2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan

  operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap

  lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

  d. Social Learning menurut Albert Bandura

  Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya

  conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

  Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti: Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut

  Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method),

  metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

  2. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu: (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by

  which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah

  “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation” Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

  4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

  3. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

  Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1)

  4. Teori Belajar Gestalt Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

  1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

  2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.

  3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.

  4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.

  5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan

  6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu: 1.

  Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.

  2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).

  3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.

  4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis.

  Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

  1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur- unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

  2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur- unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

  3. Perilaku bertujuan (purposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.

  Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

  4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

  5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip- prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

  Rekomendasi Percaya Terhadap Perkembangan Anak Sebagai bahan refleksi dan penguatan terhadap pemahaman dalam pengajaran bahasa Inggris anak, guru menjadi pusat sekaligus perantara untuk anak dalam pengembangan bahasa Inggris. Keseharian, kegiatan serta aktifitas rutinitas anak menjadi salah satu faktor pengembangan bahasa bagi anak. Kecerdasan guru, tutor, pembina dalam memahami kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran adalah kunci keberhasilan pembelajaran.

  Beliefs About Child Development Our beliefs about children are often so ingrained that we’re not even aware of them; in a sence, they have gone “underground”. They do, however, frequently surface in everyday behaviors (Olson & Bruner, 1996). For example, one prevalent belief about teaching is that it is primarily a process of communicating information (perhaps about history, geology, or mathematics) in a simplified manner to willing and attentive learners (Brookhrat dan Freeman, 1992). This belief often translete into relatively ineffective teaching strategies (Beatty, 1996). It implies that teaching is litte more than “telling” and ignores chldren’s existing understadings, reasoning abilities, interests and needs. It may also lend itself to an overly simple focus on teahing and assesing basic skills.

  

4

C. Penutup

  Empat kemampuan pembelajaran bahasa inggris yaitu reading (membeca), writing (menulis), speaking (berbicara), dan listening (mendengar) menjadi mutlak untuk dilalui semua orang yang ingin menguasai bahasa inggris, khususnya anak usia dini.

  Untuk melakukan pembelajaran sejatinya seorang guru harus mengetahui betul situasi dan kondisi anak. Semakin tau cara pendekatan dan perkembangan anak maka semakin mudah pula guru memberikan internalisasi bahasa Inggris terhadap anak. Pada akhirnya kemahiran berbahasa khususnya bahasa Inggris pada anak usia dini menjadi tujuan kecakapan berbahasa anak. Dalam rangka peningkatan penguasaan bahasa inggris dibutuhkan cara, metode, pendekatan (approach), analisa kebutuhan (Need Analysis) dan alat yang sesuai untuk melakukan pembelajaran di dalam dan diluar kelas. Keceriaan anak untuk mengikuti pembelajaran juga terus dijaga sehingga nilai dasar dalam pembelajaran bahasa Inggris anak terus berkembang. Pada akhirnya pembelajaran bahasa Inggris menjadi idola bagi anak usia dini. Semakin mereka senang dan ceria anak mengikuti pembelajaran bahasa inggris diluar dan didalam kelas maka semakin mudah anak memahami dan harapannya anak mampu menggunakannya didalam kesehariannya ‘Practice and Aplicative’.

DAFTAR PUSTAKA

  Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta

  

didik), Jakarta; PT. Bumi Aksara, 2004

  Asmani, Jamal M. 2009. Manajemen Strategi Pendidiakan Anak Usia Dini. Diva Press. Jogjakarta Chaer, Abdul, Psikolingustik Kajian Teoretik, Jakarta; Rineka Cipta, 2003 Davidof, Linda L, Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta; Erlangga, 1988 Henry Guntur Tarigan, Psikolingustik, Bandung; Angkasa, cet-10, 1986 Jauhari, Muhammad Idris, Generasi Robbi Rodliya (Keluarga Yang Mendapat

  

Rohmah dan Barokah Allah swt), Surabaya; Pustaka Hikmah Perdana, 2005

  Kartini, DR. Kartono. 2007. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Mandar Maju, Bandung. hal. 4 Rita L. Akitson, DKK, Pengantar Psikologi, Batam; Interaksara, tanpa tahun Teresa M. McDevitt and Jeanne Elis Ormrod. Child development (second edition)

  Pearson, Merril Prentice Hall. P. 38

  Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung; PT. Rosda Karya, cet-5, 2004