LAPO I Perakitan Dengan Metode Se eksi M

I

LAPO

Perakitan Dengan Metode Se eksi Masa Varietas Unggul
Komposit Spesifik Untuk Lahan Kering Iklim Kering
Dengan Bulan Kering > 8 bulan dan Lahan Kering Iklim
Basah Dengan Produktivitas 3 ton/ha/tahun

PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN

Fokus Bidang Prioritas

: Ketahanan Pangan

Fokus Produk Target

: 1.02

Fokus Kegiatan

: 1.02.02

Peneliti Utama

: Ir. Jeanette Kumaunang, MSc

KEMENTERIAN PERTANIAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERKEBUNAN
BALAI PENELITIAN TANAMAN KELAPA DAN PALMA LAIN
Jalan Raya Mapanget PO. Box 1004 Manado 95001
Telp. (0431)812430- Fax. (0431)812017
Email.balitkaOS@yahoo.com

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
Perakitan Dengan Metode Seleksi Masa Varietas Unggul Komposit
Spesifik Untuk Lahan Kering Iklim Kering dengan bulan Kering セ@ 8
bulan dan Lahan Kering Iklim Basah dengan Produktivitas 3
ton/ha/tahun.
Fokus Bidang Penelitian
Kode Produk Target
Kode Kegiatan
Lokasi Penelitian
Penelitian Tahun Ke

:
:
:
:
:

Ketahanan Pangan
1.02
1.02.02
Sulut, NTT, Sulteng
2

Keterangan Lembaga Pelaksana Penelitian
A. Lembaga Pelaksana Penelitian
Ir. Jeanette Kumaunang, MSc
Nama Koordinator/Penelitia Utama
Nama Lembaga/lnstitusi
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Unit Organisasi
Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain/ Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Ala mat
Mapanget, Kec. Talawaan Kab. Minahasa Utara, Propinsi
Sulawesi Utara, PO. Box 1004 Manado 95001
(0431) 812430-(0431) 812017-Balitka05@yahoo.com
Telepon/HP/Faksimil/e-mail
B. Lembaga Lain yang Terlibat
Nama Pimpinan
Nama Lembaga
Ala mat
Telepon/HP/Faksimil/e-mail
: 3 Tahun
Jangka Waktu Kegiatan
Biaya Tahun-1 (2009)
200.000.000,: Rp.
Biaya Tahun-2 (2010)
: Rp.
122.000.000,: Rp.
130.000.000,Biaya Tahun-3 (2011)
: Rp.
452.000.000,Total Biaya
: Lanjutan
Kegiatan (baru/lanjutan)
Re kapitu Ias1. Biaya Tahun yang o·IUSU lkan:
Uraian
No.
Gaji dan Upah
1.
Bahan Habis Pakai
2.
Perjalanan (tidak untuk perjalanan luar negeri)
3.
Lain-Lain
4.
Jumlah Biaya Tahun yang Diusulkan

Jumlah (Rp.)
41.480.000
35.120.000
35.500.000
9.400.000

122.000.000

Setuju Diusulkan :

セZオN@
Ir. Jeanette Kumaunang,MSc
NIP. 19680617 199503 2 002
Menyetujui/Mengetahui :..__
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan... erkebunan,

I

RINGKASAN
Untu

erespon preferensi petani, Balitka berupaya memperbaiki potensi produksi

kelapa Dalam yang rendah yaitu 1.2 ton kopro/ha/tahun melalui seleksi, hibridisasi,
rekayasa varietas sintetik dan varietas komposit. Kelapa Dalam unggul komposit
memiliki beberapa keunggulan dibanding kelapa Dalam pada umumnya, karena
selain produktivitasnya tinggi, juga mempunyai variabilitas genetik tinggi yang
diwariskan dari kedua tetua dengan komposisi genetik berbeda. Perakitan kelapa
Dalam komposit lebih diarahkan untuk spesifik lokasi dalam hal ini lokasi lahan kering
iklim kering dan lahan kering iklim basah. Dalam penelitian ini akan dirakit kelapa
Dalam komposit dengan produktivitas di atas 3 ton kopra/ha/tahun spesifik lahan
kering iklim kering dan lahan kering iklim basah yang tahan terhadap hama dan
penyakit utama kelapa. Pada Tahun I yaitu tahun 2009 telah berhasil diseleksi 4
genotip kelapa Dalam spesifik lahan kering lahan kering dan 4 genotip kelapa Dalam
spesifik lahan kering iklim basah yang masing masing produktivitasnya antara 3.7
ton kopra/ha/tahun sampai 4.8 ton kopra/ha/tahun. Pada tahun 2010 diharapkan
dapat dilanjutkan untuk melihat kestabilan hasil dari delapan genotip yang telah
diseleksi dan menguji jarak genetik calon tetua kelapa Dalam komposit untuk lokasi
lahan kering iklim kering dan lahan kering iklim basah. Hasil yang dicapai sampai
Nopember 2010 adalah penanaman empat genotipe unggul kelapa komposit untuk
lahan kering iklim kering di Kebun Percobaan Pandu dan penanaman tiga genotipe
unggul kelapa Dalam komposit untuk lahan kering iklim basah di kebun Percobaan
Paniki. Penampilan genotipe unggul hasil seleksi baik yang berasal dari lahan kering
iklim kering dan lahan kering iklim basah menunjukan pertumbuhan yang baik dan
seragam. 70 contoh yang berasal dari daun kelapa yang berasal dari lahan kering
iklim kering telah diekstraksi dan diperoleh total DNA untuk pengujian jarak genetik
tetua kelapa Dalam komposit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan
genotipe kelapa yang berproduksi tinggi dan tersedia untuk petani dalam jumlah
banyak sehingga dapat meningkatkan produksi kelapa secara nasional dan
meningkatkan pendapatan petani.

Kata kunci

: seleksi, kelapa Dalam, komposit, jarak genetik, produksi tinggi.

iii

ABSTRACT
In respond to farmers' preferences, Balitka working to improve the potential
production of coconut in a low at 1.2 tons copra

I

ha

I

year through selection,

hybridization, engineering, synthetic varieties and varieties of composites. Coconut
superior composite has several advantages compared to coconut in general, because
in addition to high productivity, also has a high genetic variability inherited from his
elders with different genetic composition. Coconut composite varieties assembly
directed to specific locations for dry climate and wet climate. In this study will be
assembled coconut productivity in the composite with over 3 tons of copra

1 ha I

year specific dry climate and wet climate of dry lands that are resistant to major
pests and diseases of coconut. In first year 2009 have been successfully selected 4
genotypes of coconut in a specific dry climate and 4 genotypes coconut specific wet
climates with each productivity of 3.7 tons of copra
ha

I

I

ha

I

year to 4.8 tons of copra

I

year. In the year 2010 is expected to continue the experiments to see the

stability production of the eight genotypes that have been selected and genetic
distance between all Tall coconut populations for dry climate and wet climate. The
results up to Nopember 2010 are planting of four selected genotypes specific for dry
climate and three selected genotypes for wet climate in Pandu experimental garden
and Paniki experimental garden, both in North Sulawesi. Good performance and
uniform were shown by superior genotypes originating from dry land for growth
characters. The total 70 samples derived from coconut leaves has been extracted
and obtained total DNA for testing genetic distance.The results of this study is
expected to produce coconut genotypes that produce high and available to farmers
in large quantities so could be increase national production and increase farmers'
income.

Keywords: selection, Tall coconut, composite variety, genetic distance, high-yielding
varieties.

iv

PRAKATA
Puji syukur kami panjatl menjalankan kegiatan penelitian berjudul 'Perakitan Dengan Metode Seleksi Masa
Varietas Unggul Komposit Spesiftk Untuk Lahan Kering lklim Kering Dengan Bulan Kering
セX@

bulan dan Lahan Kering Iklim Basah Dengan Produktivitas 3 ton/ha/tahun

untuk

tahun anggaran 2010, dan melaporkannya dalam bentuk laporan Akhir. Dari hasil yang
diperoleh, memberikan gambaran bahwa penelitian ini perlu terus dilanjutkan untuk
mendapatkan hasil akhir yang diharapkan.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada
Pemerintah yang telah menyediakan dana penelitian melalui

DIPA Satuan Kerja

Kedeputian Bidang Pengembangan Sipteknas Kementrian Negara Riset dan Teknologi
Tahun 2010, Kepala Balai selaku Kuasa Pengguna Anggaran yang telah memberi
kesempatan melakukan penelitian, Bendahara Balitl kelancaran administrasi keuangan. Kepala Dinas Perkebunan Propinsi Sulawesi Tengah,
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Sikka dan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten
Flores Tlmur di Propinsi Nusa Tenggara Tlmur, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Dinas Perkebunan dan Petemakan Provinsi
Gorontalo dan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Minahasa Selatan beserta stafnya
serta Pemda setempat yang telah membantu dalam pelaksanaan kegiatan penelitian ini
dengan baik. Kepada para peneliti, teknisi lapangan dan laboran yang telah membantu
dan bekerjasama dengan baik dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan ini.
Semoga laporan ini dapat memberikan informasi baik kepada peneliti,
penyandang dana, pemerintah daerah setempat serta pengguna maupun pengambil
kebijakan dalam rangka pengembangan penelitian kelapa di masa mendatang. Saran dan
masukan sangat diharapkan untuk penyempumaan pelaksanaan penelitian dan laporan
ini.
Manado, Nopember 2010

Penanggung Jawab Kegiatan

v

DAFTAR lSI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN

ii

RINGKASAN

iii

PRAKATA

iv

DAFTAR lSI

v

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Keluaran yang diharapkan

3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

4

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT

7

BAB IV

METODOLOGI

8

4.1. Waktu dan tempat pelaksanaan riset

8

4.2. Metode Riset

8

BAB I

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

11

5.1. Keragaan tahun I genotipe terpilih untuk lahan kering

11

iklim kering dan lahan kering iklim basah
5.2. Jarak genetik tetua terpilih untuk lahan kering iklim kering

16

dan lahan kering iklim basah
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

18

6.1. KESIMPULAN

18

6.2. SARAN

20

DAFTAR PUSTAKA

vi

DAFTAR TABEL

Tabel

Teks

1

Data penampilan genotipe terseleksi untuk kelapa Dalam lahan
kering iklim kering

12

2

Data penampilan genotipe terseleksi untuk kelapa Dalam lahan
kering iklim basah

12

3.

Rata-rata kandungan Prolin, ABA, Glysin Betain, Protein, dan
Lipid, dari enam aksesi kelapa dari lahan kering iklim kering

14

vii

Halaman

D

G

BAR

T eks

Gam bar

Halaman

1

Contoh DNA total dari sampel daun kelapa yang berasal
dari lahan kering iklim kering

16

2

Pembibitan

21

3

Penanaman

22

4

Penampilan tanaman muda di Kebun Percobaan Paniki

23

5

Penampilan tanaman muda di Kebun Percobaan Pandu

23

6

Kelapa Dalam Terseleksi

24

7

Pelaksanaan Isolasi DNA

26

viii

I. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Kelapa mempunyai persyaratan tumbuh dengan kisaran yang relatif Iebar
sehingga dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan iklim
basah (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) maupun iklim kering (Sulawesi dan Nusa
Tenggara) (Abdulrachman dan Mulyani, 2003).

Kelapa dapat tumbuh pada

agroekosistem lahan kering iklim basah (LKIB) yaitu daerah yang memiliki curah
hujan diatas 2500 mm/tahun dan llahan kering iklim kering (LKIK) yaitu daerah
yang

memiliki curah hujan dibawah 2000 mm/ tahun. Menurut Direktorat

Perlindungan Tanaman Perkebunan (2003), meskipun kelapa dapat tumbuh pada
kondisi lingkungan yang bervariasi baik iklim, tanah, ketinggian tempat, maupun
letak geografis dan topografi, pengembangan kelapa terkendala oleh serangan
hama/penyakit. Tingkat serangan hamajpenyakit dan kerugian yang ditimbulkan
sangat bervariasi. Sebagai contoh, pada tahun 1993 hama Oryctes rhinoceros, L.
menyerang pertanaman kelapa hampir di seluruh provinsi sehingga menimbulkan
kerugian Rp. 6,110 miliar dan penyakit busuk pucuk

(Phytopthora palmivora)

menyerang kelapa hibrida menimbulkan kerugian Rp. 4,662 miliar. Karena itu, lebih
dari 90% petani pada umumnya memilih kelapa Dalam dengan pertimbangan,
walaupun potensi produksinya lebih rendah dari kelapa Hibrida tetapi kelapa Dalam
relatif tahan terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah yang disebabkan oleh
Phytopthora sp.

Disamping itu kelapa Dalam tidak memerlukan pemeliharaan

intensif untuk mencapai tingkat produksi yang menguntungkan, tahan terhadap
cekaman lingkungan terutama kekeringan (Rethinam, Rognon dan Batugal, 2002;
Hosang dan Lolong, 1998; Akuba, 1998).
Untuk merespon preferensi petani, Balitka berupaya memperbaiki potensi
produksi kelapa Dalam nasional yang berproduksi sekitar 1.2 ton kopra/ha/tahun
melalui seleksi hibridisasi, rekayasa varietas sintetik dan varietas komposit. Kelapa
Dalam unggul komposit memiliki beberapa keunggulan dibanding kelapa Dalam pada
umumnya, karena selain produktivitasnya tinggi, juga mempunyai variabilitas genetik
tinggi yang diwariskan dari kedua tetua dengan komposisi genetik berbeda.
Keunggulan lainnya dari kelapa Dalam komposit adalah tetuanya berasal dari
populasi menyerbuk silang alami secara acak sehingga generasi pertama persilangan
alami dari populasi tersebut stabil secara genetik atau berada dalam keseimbangan
1

ge
1993).

セLN@

eq, 1librium) mengikuti Hukum Hardy-Weinberg (Carpena et a!,
bera · ba wa frekuensi genotipe populasi tanaman tidak akan berubah

dari generasi ke generasi.

Implikasinya petani dapat menggunakan buah kelapa

generasi F2, F3, F4 dan seterusnya sebagai benih/bahan tanaman tanpa terjadi
penurunan kekekaran. Untuk mendapatkan benih kelapa Dalam komposit digunakan
metode persilangan alami sehingga biaya produksi benih menjadi rendah dan
terjangkau oleh petani.
Kelapa Dalam Unggul Komposit yang sedang dikembangkan oleh Balai
Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma lain (BALITKA) diharapkan dapat menjawab
kebutuhan petani akan bibit kelapa Dalam yang unggul dan tahan terhadap penyakit
gugur buah dan busuk pucuk, karena ternyata penyakit tersebut bisa juga
menyerang kelapa Dalam (Runtunuwu, eta!, 1999).
Upaya untuk menyeleksi tanaman kelapa yang tahan kekeringan dapat
dilakukan dengan melihat respon tanaman yang toleran dengan melihat kandungan
senyawa biokimia seperti asam absisic (ABA), prolin, kadar lilin epikutikular, total
gula, glisin-betain, lipid, dan protein (Rajagopal et al, 2005; Sinaga, 2007).
Perakitan kelapa Dalam komposit sebagai tanaman menyerbuk silang sangat
ditentukan oleh jarak genetik antar tetua penyusunnya, karena persilangan antar
individu yang berkerabat dekat dekat pada tanaman menyerbuk silang cenderung
menghasilkan keturunan yang lemah, lebih kecil, kurang subur dan banyak individu
yang cacat (Allard, 1960). Oleh karena itu untuk mendapatkan keberhasilan dalam
perakitan kelapa dalam komposit di lahan kering iklim kering dan lahan keri ng iklim
basah perlu mengetahui hubungan kekerabatan antar tetua yang dipilh sebagai
sumber gen. Sehubungan dengan itu dapat ditelusuri dengan melihat penampilan
sifat sifat morfologi sampai pada tingkat lebih dalam yaitu melihat DNA dari setiap
genotip terpilih. Penggunaan penanda DNA untuk mempelajari keragaman genetik
plasma nutfah kelapa telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
Simple Sequence Repeats (SSRs) merupakan salah satu penanda yang mulai

banyak digunakan sebagai penciri genetik (fingerprinting) dan dalam mempelajari
keragaman genetik. SSRs memiliki polimorfisme dan resolusi
dibandingkan

penanda DNA lainnya, (Tuelat at a/. 2000).

mengamplifikasi

lebih tinggi jika

Primer spesifik hanya

sekuen-sekuen tertentu saja, sehingga dapat meningkatkan

keakuratan deteksi sekuen DNA yang mirip atau berbeda antar individu. Karena
tingkat keakuratan yang tinggi (reproducibilitYJ, metode SSRs dapat dilakukan oleh

2

peer·

セ NLセ。@

keungg a - e

dengan hasil yang relatif sama (Karp

et a!. 1997). Dengan

ggulan tersebut, penanda SSR menjadi penanda standar yang

disyaratkan organisasi pengelola plasma nutfah kelapa lnternasional COGENT (The
International

Coconut

Genetic

Resousces

Network)

dalam

karaktersisasi

plasmanutfah kelapa negara-negara anggotanya. Sehingga untuk melengkapi
database dan pertukaran data

DNA kelapa,

menggunakan penanda SSRs (Rivera

digunakan data hasil

analisis

eta!, 1999 dan Teulat eta!, 2000).

1.2. Luaran Yang Diharapkan
Keluaran akhir akan dicapai yaitu Varietas kelapa Dalam unggul komposit yang
berproduksi 3 ton kopra/ha/tahun spesifik untuk lahan kering iklim kering dan lahan
kering iklim basah yang tahan terhadap hama dan penyakit utama kelapa.

Keluaran jangka pendek tahun 2010 :
1. Keragaan tahun I individu terpilih (produktivitas > 3 ton kopra) untuk lahan
kering iklim kering dan lahan kering iklim basah
2. Keragaman dan jarak genetik individu terpilih

3

II. TINJAUAN PUSTAKA
Perbail hibridisasi dan rekayasa varietas sintetik dan varietas komposit. Metode seleksi telah
dilakukan petani selama berabad-abad dan pemulia kelapa sejak tahun 1900an.
Seleksi massa yang diikuti dengan persilangan buatan antar pohon dalam populasi
lebih efektif dari seleksi massa dengan penyerbukan alami (Bourdeix, 1988).
Kemajuan genetik produksi kopra kelapa Dalam Mapanget dari seleksi dengan
persilangan alami sebesar 3.6 % sedangkan seleksi yang diikuti dengan persilangan
buatan sebesar 27.0 %. (Mangindaan, 1987). Seleksi massa dengan persilangan
buatan terhadap kelapa Dalam Mapanget (DMT) telah menghasilkan empat kelapa
Dalam unggul yaitu Kelapa Baru-1 (KB-1), Kelapa Baru-2 (KB-2), Kelapa Baru-3 (KB3), dan Kelapa Baru-4 (KB-4) yang telah dilepas pada tahun 1984. Observasi dan
seleksi diikuti persilangan alami kelapa Dalam lokal sampai tahun 2002 telah berhasil
mengidentifikasi beberapa kelapa Dalam unggul lokal yang telah diputihkan pada
tahun 2004. Kultivar-kultivar kelapa Dalam unggul lokal tersebut adalah Dalam
Mapanget (DMT), Dalam Tenga (DTA), Dalam Palu (DPU), dan Dalam Bali (OBI)
(Tenda

eta!, 2004).
Alternatif

metode

pemuliaan

kelapa

Dalam

perlu

diterapkan

untuk

menghasilkan kelapa Hibrida Dalam x Dalam berproduksi tinggi dengan tetap
mempertahankan sifat dari kelapa Dalam yaitu tingkat heterosigositas dan
keragaman genetik yang tinggi. Hal ini dapat dipenuhi dengan merakit kelapa Dalam
Unggul Komposit (Coconut Composite Varieties).
Harapan untuk memperoleh varietas Kelapa Dalam

unggul

Komposit

berproduksi tinggi sangat mungkin karena pengaruh heterosis dilaporkan relatif
tinggi pada hibrida intervarietas (Hallauer dan Miranda, 1982). Heterosis pada
varietas komposit (populasi pan mictic atau pan mictic mid-parent heterosis) dapat
terjadi apabila terdapat perbedaan frekuensi gen antara kedua tetua dan gen yang
mengontrol karakter yang diinginkan adalah dominan (dominance gene action)
(Gardner dan Eberhart, 1966; Lamkey dan Edwards, 1999). Pada tanaman yang
menyerbuk silang seperti kelapa, ekspresi suatu karakter pada hibrida biasanya
dikontrol oleh aksi gen dominan (dominance gene action) sehingga besarnya
heterosis sangat ditentukan oleh jarak genetik dari kedua tetua. Jika varietas kelapa
Dalam komposit merupakan hasil persilangan antar kultivar kelapa yang berbeda

4

lata

gene "knya maka heterosis pada kelapa Dalam komposit akan tinggi.
Penampilan suatu sifat merupakan hasil kerjasama antara faktor genetik,

lingkungan dan interaksi antara genetik dan lingkungan (Falconer, 1989). Daya hasil
suatu kultivar/genotip tanaman terhadap kondisi lingkungan adalah merupakan
interaksi antara kultivar/genotip dengan lingkungan ataupun kultivar/genotip dengan
musim. Suatu kultivar/genotip yang mampu menunjukkan penampilan secara baik di
dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas sangat diharapkan oleh pemulia
tanaman. Finlay dan Wilkinson (1963) mengemukakan bahwa genotip suatu
tanaman yang memiliki stabilitas genotip tinggi berarti daya hasilnya tetap atau
hampir tetap, walaupun ditanam pada kondisi lingkungan yang berubah-ubah.
Seiring dengan perkembangan teknologi, telah ditemukan penanda DNA,
yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan maupun umur tanaman. Informasi genetika
berdasarkan penanda DNA dapat dilakukan dengan RFLP (Restriction Fragment

Length Polymorphism), Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified
Fragment Length Polymorphism (AFLP) dan Simple Sequence Repeats (SSRs) atau
microsatellite (Karp et a!, 1997). Masing-masing penanda memiliki kelebihan dan
kekurangan dalam hubungan dengan teknis pelaksanaan, biaya operasional maupun
keakuratan data yang dihasilkan. Sehingga pemilihan metode yang digunakan, selain
berdasarkan tujuan penggunaannya juga perlu mempertimbangkan biaya dan faktor
lain seperti kemudahan dalam pelaksanaan, dukungan peralatan laboratorium serta
keakuratan data untuk data base (Karp et al, 1999).
Penggunaan penanda DNA untuk mempelajari keragaman genetik plasma
nutfah kelapa telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Salah satu
penanda yang telah banyak digunakan pada kelapa adalah RAPD (Rohde eta!, 1995;
Ashburner eta!, 1997. RAPD telah digunakan untuk mempelajari keragaman geneti k
aksesi kelapa Genjah di Indonesia (Lengkong eta!, 1998 ; Hayati eta!, 1999) dan
pada

aksesi kelapa Dalam (Pandin, 2003).

Penanda RFLP telah digunakan oleh

Teulat eta/ (2000) dan Lebrun eta/ (1998) untuk mempelajari keragaman genetik
aksesi kelapa yang berasal dari berbagai negara. Metode ini dapat memberikan
informasi keragaman genetik yang cukup baik, namun teknik pelaksanaannya yang
relatif sulit dan biaya operasional yang relatif mahal sehingga saat ini jarang
digunakan. Simple Sequence Repeats (SSRs) merupakan salah satu penanda yang
mulai banyak digunakan sebagai penciri genetik (fingerprinting) dan dalam
mempelajari keragaman genetik. SSRs memiliki polimorfisme dan resolusi

5

lebih

tinggi jika dibandingkan

penanda DNA lainnya, (Tuelat at a/. 2000).

Dengan

keunggulan-keunggulan tersebut, penanda SSR menjadi penanda standar yang
disyaratkan organisasi pengelola plasma nutfah kelapa Internasional COGENT (The
International Coconut Genetic Resousces Network).

6

III. TUJUAN DAN MANFAAT
3.1. Tujuan
1. Mendapatkan data penampilan tanaman empat genotipe tetua kelapa Dalam
komposit untuk lahan kering iklim kering tahun 1.
2. Mendapatkan data penampilan tanaman

empat genotipe tetua kelapa Dalam

komposit untuk lahan kering iklim basah tahun 1.
3. Mendapatkan data jarak genetik empat tetua kelapa Dalam komposit untuk lahan
kering iklim kering dan empat tetua untuk lahan kering iklim basah.

3.2. Manfaat
1. Bertambahnya kelapa Dalam unggul nasional dengan produksi tinggi yaitu di atas
3 tonjha/tahun
2. Tersedianya sumber benih kelapa Dalam unggul baru untuk kepentingan
peremajaan dan perluasan areal pertanaman kelapa
3. Terbentuknya populasi baru kelapa Dalam untuk program pemuliaan di masa
mendatang
4. Peningkatan produksi kelapa nasional dan pendapatan petani kelapa.

7

IV. METODOLOGI
4. 1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Riset
Riset akan dilaksanakan dalam jangka waktu tiga tahun. Setiap tahun akan
dilaksanakan selama selama 10 (sepuluh) bulan. Riset akan dilaksanakan di

tiga

lokasi yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Sulawesi Tengah mewakili
lahan kering iklim kering dan Sulawesi Utara mewakili lahan kering iklim basah.
Analisis laboratorium akan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Balai Penelitian
Tanaman kelapa dan Palma Lain Manado dan Laboratorium Bioteknologi Fakultas
MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado.

4.2. Metode Riset
4.2.1. Keragaan Tahun I Genotipe Terpilih Untuk lahan kering Ikilm Kering
dan Lahan Kering Iklim Basah.
Hasil penelitian tahun 2009 yaitu empat genotipe kelapa Dalam asal lahan
kering iklim kering yaitu

dua genotipe dari NTT dan dua genotipe dari Sulteng,

ditanam di KP Pandu. Tiga genotipe terpilih yang telah dilepas secara nasional yaitu
kelapa Dalam Bojong Bulat asal Kulon Progo, Kelapa Dalam Kramat dan Kelapa
Dalam Molowahu asal Gorontalo diseleksi untuk perakitan kelapa Dalam komposit
yang memelukan tujuh genotipe unggul. Seleksi tiga genotipe unggul ini dilakukan
untuk karakter produksi tinggi yaitu berat daging buah di atas 500 g dan produksi
buah per pohon di atas 96 butir/pohonjtahun. Ketujuh genotipe terpilih ini ditanam
di lapangan. Penanaman di lapang mengikuti rancangan acak kelompok dengan tiga
ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 10 tanaman sehingga tanaman yang ditanam
berjumlah 210 tanaman. Kelapa ditanam dengan sistim tanam segitiga dengan jarak
tanam 9m x 9m x 9m. Disain penanaman kelapa mengikuti sarang lebah dimana satu
genotipe di kelilingi enam genotipe yang berbeda. Untuk kelapa asal lahan kering
iklim basah yaitu empat genotipe terpilih asal Sulut dan tiga genotipe yang telah
dilepas secara nasional yaitu kelapa Dalam Bali, Dalam Sawarna dan Dalam
Mapanget ditanam di KP Paniki dengan rancangan yang sama dengan rancangan
perakitan kelapa unggul komposit untuk lahan kering iklim kering.

Pengamatan

tanaman dilakukan mulai dari tahap pembibitan sampai ditanam sesuai STANTECH
COGENT (Santos

et a!, 1996). Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan

tanaman muda dari setiap genotipe. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 10

8

pohon per genotipe yang ditanam. Pertumbuhan tanaman muda yang diamati
meliputi lingkar batang, jumlah daun dan tinggi tanaman diamati setiap enam bulan
untuk tanaman di bawah dua tahun, dan untuk tanaman yang berumur dua tahun ke
atas pengamatan dilakukan terhadap karakter vegetatif yaitu Jumlah daun, Lingkar
Satang, panjang tangkai daun, panjang rachis dan jumlah pinak daun, tinggi batang
serta karakter generatif yaitu: waktu awal berbunga diamati setelah tanaman
berumur di atas 30 bulan sejak tanam.

4.2.2. larak genetik tetua terpilih untuk lahan kering iklim kering dan
lahan kering iklim basah
Penelitian dilaksanakan di Lima Propinsi yaitu : Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Jogjakarta dan Gorontalo. Pada tahun 2010
kegiatan pengujian jarak genetik menggunakan penanda DNA menggunakan metode
SSR. Delapan genotipe asal lahan kering iklim kering dan lahan kering iklim basah
masing-masing aksesi diambil 10 pohon sampel secara acak.
isolasi DNA diambil dari pelepah daun no.2 atau no. 3.

Sampel daun untuk

Isolasi DNA dilakukan

mengikuti metode Rohde et a/ (1995) yang telah dimodifikasi Lengkong (1998).
Penelitian ini menggunakan 14 primer yang didisain oleh Rivera (1999) yang
direkomendasikan COGENT. Amplifikasi DNA

menggunakan mesin PCR (GeneAmp

PCR System 2400 Perkin Elmer). Campuran reaksi sebanyak 251-JL mengandung 100
ng DNA Genom), 0.21-JM fowarddan revet:5'eprimer, 200 1-JM dNTP (Promega) 0.751.0 U Tag DNA polymerase, 0.75-1.0 mM MgCh, 1x PCR buffer (10 mM tris-HO, pH
8.3, 50 mM KCI), dan nano pure water (H 20) steril. PCR dilakukan menggunaka

35

siklus pada suhu denaturasi 94°C selama 40 detik, penempelan primer pada suhu 54550C

selama 1 menit (tergantung primer yang digunakan), pemanjangan primer

pada suhu 72°C selama 2 menit dan pemanjangan akhir pada suhu 72°C selama 10
menit. Masing-masing hasil PCR dicampur dengan 12.5 1-JL 3x STR loading dye (89%
formamide yang mengandung 10 mM EDTA, 0.01 % [w/v] xylene cyanol dan 0.01 %
[W/V] Bromophenol Blue). Sebanyak 3.5 1-JL campuran diloading pada masing-masing
sumur gel elektroforesis poliakrilamid.

Elektroforesis dilakukan pada konstan daya

sebesar 75 Watt selama 45 menit sampai 1 jam. diseparasi menggunakan gel
poliakrilamid.
Pewarnaan DNA dilakukan dengan silver staining. Kaca yang ditempeli gel
berisi DNA direndam dalam baki berisi 10% asam asetat glasial (larutan fiksasi)
9

d·go

se1a a 20 menit. Kaca dicuci dalam air bebas ion selama dua kali masing-

masi g 2

enit. Selanjutnya kaca direndam dalam larutan pewarna (silver staining) di

atas mesin penggoyang selama 1 jam, kemudian dibilas dalam air bebas ion selama
10 detik. Kaca kemudian direndam dalam larutan developer sehingga akan muncul
pita-pita. Setelah itu secepatnya direndam dalam larutan asam asetat selama 5 menit
dan dibilas dengan air bebas ion lagi dan dikeringanginkan. Selanjutnya gel
difoto/discan dan discor.
Data hasil analisis SSRs diamati berdasarkan ada atau tidaknya pita. Pita DNA
polimorfisme merupakan pita DNA hasil amplifikasi yang tidak dimiliki oleh individu
kelapa yang lain. Setiap posisi pita DNA berkorespondensi dengan aiel tertentu. Pitapita yang diperoleh diubah ke dalam bentuk data biner dengan memberi nilai satu (1)
jika ada pita dan nol (0) jika tidak ada pita. Data tersebut juga dikonversi menjadi
data genotipe untuk menghitung jumlah aiel dan nilai heterozogositas menggunakan
program POPGENE dan FStat. Data biner yang diperoleh digunakan untuk menyusun
matriks kesamaan genetik berdasarkan

rumus Nei dan Li (1979) sebagai berikut :

Fab adalah nilai kesamaan genetik antara individu tanaman a dan b

nab adalah jumlah pita yang sama posisinya pada individu a dan b
nadan % adalah jumlah pita pada masing-masing individu a dan b

Berdasarkan
pengelompokan

data

nilai

kesamaan

matriks

genetik

tersebut,

(cluster analysis) dan

dilakukan

pembuatan

analisis

dendogra

menggunakan metode Unweighted Pair-Group Method Aritmetic (UPGMA) melalui
program Numerical Taxonomy ang Multivariate System versi 2.02 (NTSYS)

10

V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini terdiri dari dua kegiatan penelitian yaitu : (1) Keragaan Tahun I
Genotipe Terpilih untuk Lahan Kering lklim Kering dan Lahan Kering Iklim Basah; (2)
Jarak Genetik tetua Terpilih uuntuk Lahan Kering lklim Kering dan Lahan Kering Iklim
Basah. Hasil sampai Nopember 2010 adalah sebagai berikut :

1. Keragaan Tahun I Genotipe Terpilih Untuk lahan kering Ikilm Kering
dan Lahan Kering Iklim Basah.
Pemilihan tetua kelapa Dalam komposit untuk lahan kering dilakukan
melalui seleksi yang diarahkan berdasarkan berat daging buah/butir yang
beratnya > 500g/butir maka dari tanaman terpilih di desa Pakuli/bangga, dan
desa Pontolan RW 04 di Sulteng serta di Desa Bloro dan Adonara barat di NTT
diperoleh berturut-turut 45 pohon, 27 pohon, 43 pohon dan 48 pohon. Dari
setiap individu tersebut diambil buahnya dan selanjutnya ditanam maka
tanaman asal Pakuli/Bangga, dan desa Pontolan RW 04 di Sulteng serta di Desa
Bloro dan Adonara barat di NTT diperkirakan dapat menghasilkan berturut-turut
4012 kg (4.01 ton kopra/ha/tahun), 3787 kg (3.79 ton kopra/ha/tahun) , 4433
kg ( 4.43 ton kopra/ha/tahun ) dan 4859 kg (4.86 ton kopra/ha/tahun). Untuk
lahan kering iklim basah, berdasarkan seleksi yang diarahkan berdasarkan berat
daging buah/butir yang beratnya > 500g/butir maka pada beberapa individu
terpilih di desa Pounak Tenga, populasi Kasinggolan, Liwutung dan Werot maka
diperkirakan akan dapat berproduksi
kopra/ha/tahun),

berturut-turut 4334 kg (4.34 ton

4166.5 kg (41.67 ton kopra/ha/tahun)

3781 kg (3.78

kopra/ha/tahun) dan 3707.6 kg (3.71 kopra/ha/tahun).
Hasil sampai Nopember 2010, Kegiatan yang telah dilakukan yaitu
Penanaman empat genotip terpilih kelapa Dalam komposit untuk lahan kering iklim
kering yaitu kelapa Dalam Pakuli, Dalam Pontoloan, Dalam Bloro dan Dalam
Adonara di KP. Pandu, serta penanaman tiga genotip terpilih kelapa Dalam
komposit untuk lahan kering iklim basah yaitu kelapa Dalam Werot, Dalam
Kasinggolan dan Dalam Liwutung di KP. Paniki. Penanaman dilakukan setelah
melalui tahapan seleksi bibit di pembibitan yaitu 30 bibit yang memperlihatkan
pertumbuhan baik. Semua genotipe terpilih baik untuk lahan kering iklim kering
dan lahan kering iklim basah dipilih dari individu pohon yang produksi daging

11

buahnya di atas 500 g. Penampilan tanaman muda umur 5 bulan sejak tanam
untuk karakter Ungkar batang semu, tinggi tanaman dan jumlah pertambahan
daun disajikan pada tabel 1 dan 2

Tabel 1. Data penampilan tanaman muda genotipe terseleksi untuk kelapa Dalam
lahan kering iklim kering

NO

Genotipe terpilih

Lingkar

Tinggi

Pertambahan

Satang (em)

Tanaman (em)

Jumlah daun

1

Kelapa Dalam Pakuli

11,83

134,02

3,79

2

Kelapa

10,60

144,68

3,68

Dalam

Pontoloan

3

Kelapa Dalam Bloro

12,65

138,95

3.95

4

Kelapa

12,27

133,05

3,93

Dalam

Adonara

Tabel 2. Data penampilan tanaman muda

genotipe terseleksi untuk kelapa

Dalam lahan kering iklim basah

NO

Genotipe terpilih

Ungkar

Tinggi

Satang (em)

Tanaman (em)

Jumlah daun

1

Kelapa Dalam Werot

14,35

136,97

2

Kelapa

Dalam

14,64

139,77

4,44

3

Kelapa Dalam Liwutung

14,46

149,99

4 95

4

Kelapa Dalam Pounak

Masih di
pembibitan

-

-

I

4,29

Kasinggolan

Berdasarkan Tabel 1 dan 2

di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan

tanaman muda genotipe dan individu terpilih untuk lahan kering iklim kering dan
lahan kering iklim basah adalah baik. Pada penanaman tanaman yang berasal dari
lahan kering iklim basah di Kebun Pereobaan

Paniki dan yang berasal dari lahan

kering iklim keriong yang ditanam di KP Pandu tidak terdapat perbedaan pada
karakter-karakter tanaman muda yaitu Lingkar batang semu, tinggi tanaman dan
pertambahan jumlah daun menunjukkan pada awal pertumbuhannya semua jenis
atau genotipe tanaman mempunyai kemampuan yang sama. Hal ini kemungkinan
karena kemampuan antar genotipe terpilih dalam membentuk karakter-karakter di

12

at:as

·

dalam pertumbuhan dini sehingga perbedaan karakter sesungguhnya

belum terlihat (Luntungan et.al, 1994).
Dalam merakit kelapa Dalam komposit akan dilakukan lebih ke spesifik lokasi
untuk lahan kering iklim kering dan lahan kering iklim basah. Di dalam perakitan
kelapa Dalam komposit diperlukan kombinasi dari 7 jenis kelapa Dalam sehingga
untuk setiap populasi kelapa Dalam komposit baik untuk lahan kering iklim kering
dan lahan kering iklim basah diperlukan tambahan 3 jenis kelapa Dalam.
Pada termin kedua telah dilakukan seleksi 3 jenis kelapa Dalam untuk lahan
kering iklim kering dan 3 jenis kelapa Dalam untuk lahan kering iklim basah. Pada
lahan kering iklim kering kelapa dalam yang terseleksi adalah kelapa Dalam
Molowahu asal Kabupaten Gorontalo dan kelapa Dalam Kramat asal Kabupaten
Boalemo provinsi Gorontalo dan kelapa Dalam Bojong Bulat asal kabupaten Kulon
Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketiga jenis kelapa Dalam ini
mempunyai potensi produksi masing-masing 4 ton koprajha/tahun, 3.6 ton
kopra/ha/tahun, dan 3 ton kopra/ha/tahun. Ketiga jenis kelapa Dalam ini terseleksi
karena telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Pada lahan kering iklim basah terseleksi
3 jenis kelapa Dalam unggul nasional yang telah dilepas menteri pertanian yaitu
kelapa Dalam Mapanget asal Sulawesi Utara, kelapa Dalam Bali asal provinsi Bali
dan kelapa Dalam Sawarna asal Provinsi Banten dengan potensi produksi berturutturut 3 ton kopra/ha/tahun dan 3.6 ton kopra/ha/tahun.
Pengamatan terhadap daun lebih ditujukan pada analisis kandungan prolin,
Glisin-betain, ABA,

Protein dan lipid yang diharapkan dapat menggambarkan

keadaan pertanaman kelapa di lahan kering iklim kering untuk melihat ketaha annya
terhadap kondisi cekaman air.

Tabel 3. Rata-rata kandungan Prolin, ABA, Glysin Betain, Protein, dan Lipid, dari
enam aksesi kelapa dari lahan kering iklim kering
Aksesi

prolin
HセァOI@

Glisinbeta in

ABA

Protein
(ppm)

Lipid

(ng/g)

(%)

Pakuli Bangga/
Sulteng

79.83

37,46

981,15

544,90

2,15

Pontoloan/
Sulteng

101.26

25,44

981,89

839,23

2,75

Bloro/
NTT

127.76

27,39

1146,85

832,90

4,77

Adonara/

96.87

42,21

985,32

883,00

3,27

NTT

13





。 uO@

118.22

27.60

963.36

820.80

3.10

Kramat/
Gorontalo

120.98

21.30

981.53

689.00

4.00

Kasinggolan I
Sulut (Kontrol)

77.77

46,14

682,63

882,70

4,44

Gorontalo

Dari hasil analisis diperoleh kadar prolin yang berbeda-beda dalam tiap jenis
kelapa. Kadar prolin paling tinggi terdapat pada kelapa lokasi Bloro NTT, yaitu
sebesar 127,76 J.Jg/g dan paling rendah pada Sulawesi Utara2 , yaitu sebesar 77,77
J.Jg/g. Prolin dijumpai terakumulasi lebih banyak pada tanaman yang lebih toleran
terhadap cekaman kekeringan. Ini karena prolin merupakan metabolit osmotik yang
dihasilkan tanaman dalam penyesuaian osmotik pada tanaman yang tahan terhadap
cekaman kekeringan. Prolin menampung nitrogen dari berbagai senyawa nitrogen
yang berasal dari kerusakan protein dan melindungi kerusakan sel-sel tanaman
terhadap cekaman kekeringan (Yoshiba

eta/., 1997).

Hasil analisis daun untuk kadar GB, ditemukan bahwa kadar GB paling rendah
pada kelapa lokasi Kramat Gorontalo, yaitu sebesar 21,30 J.Jg/g dan paling tinggi
pada Kasinggolan Sulawesi Utara, yaitu sebesar 46,14 J.Jg/g. Adanya glisin betain
dalam tanaman menunjukkan bahwa tanaman bersifat toleran terhadap cekaman
kekeringan. GB merupakan metabolit yang efektif untuk mengurangi pengaruh dari
adanya cekaman kekeringan pada tanaman karena GB berfungsi dalam menstabilkan
struktur enzim, protein kompleks, dan lipid pada komponen-komponen fotosintesis
dalam melindungi membran dibawah tekanan kekeringan (Mahmood, et a/. 2009).
Dari analisis GB yang telah dilakukan didapatkan bahwa kelapa Dalam Kra a
Gorontalo dan kelapa Dalam asal Pontoloan Sulawesi Tengah memiliki kadar GB ya g
rendah diantara kelapa lainnya. Rendahnya kadar GB ini kemungkinan disebabka
karena banyaknya fungsi GB dalam mempertahankan kondisi tanaman pada daerah
kering sebagai responnya terhadap adanya cekaman kekeringan.
Berdasarkan analisa pada kadar ABA, diperoleh bahwa kadar ABA paling
tinggi terdapat pada kelapa asal Bloro NTT, yaitu sebesar 1146,85 ng/g dan paling
rendah pada kelapa Dalam asal kasinggolan Sulawesi Utara, yaitu sebesar 682,83

ngjg. ABA meningkat dengan segera ketika tanaman mengalami cekaman
kekeringan sebagai respon terhadap kondisi cekaman kekeringan (Sinaga, 2007).
Peningkatan sintesis ABA di akar, antara lain bertujuan untuk meningkatkan laju
penyerapan air oleh akar untuk mengimbangi laju transpirasi. Dalam hal ini ABA
14

berpera sebagai pengatur signal transpor air secara radial (Onyayar et a/./ 2004).
ABA j ga dapat ditranslokasikan melalui xilem ke bagian tanaman yang lain seperti
tunas dan daun. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan konsentrasi
ABA pada cairan xilem jika tanah mengering (Zhang eta/./ 2006).
Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa kadar protein paling tinggi terdapat
pada kelapa lokasi Adonara NTT, yaitu sebesar 883,00 ppm dan paling rendah pada
Pakuli Sulawesi Tengah I, yaitu sebesar 544,89 ppm. Menurut Irigoyen (1992) dalam
Toruan-Mathius dkk./(2004) tanaman

yang

mengalami cekaman

kekeringan,

mengalami penurunan kadar protein akibat penurunan sintesis dan peningkatan
degradasi protein. Begitu pula pendapat Hanson & Hitz (1982) dalam ToruanMathius dkk./(2004) bahwa pada daun yang mengalami cekaman kekeringan terjadi
penurunan sintesis protein dari prolin sedangkan proteolisis protein menjadi prolin
berlangsung tetap sehingga kadar protein dalam daun menurun.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh kadar lipid yang
berbeda-beda dari masing-masing lokasi. Kadar lipid paling tinggi terdapat pada
kelapa yang berasal dari Bloro NTT, yaitu sebesar 4,77% dan paling rendah pada
Pakuli Sulawesi Tengah, yaitu sebesar 2,1 %. Lipid merupakan komponen membran
yang penting. Perubahan komposisinya dilakukan untuk melindungi keadaan
membran dan mempertahankan bagian-bagian set. Menurut Junior

・エ。セ@

(2008) lipid

merupakan unsur esensial dari membran selular yang memainkan fungsi penting
dalam penyusunan struktur dan proses metabolisme.

Cekaman air da n beberapa

jenis cekaman lainnya dapat mengubah komposisi membran lipid. Akibatnya aktivitas
metabolik selular juga mengalami perubahan. Kekurangan air dapat mengubah
membran

plasma

lipid

menjadi

organel

sitoplasma

yang

berbeda

yang

mempengaruhi fungsinya dalam metabolisme selular. Sulawesi Tengah, Goronta lo
dan NTT memiliki jenis lahan kering dengan iklim yang kering. Hal ini dapat
menyebabkan kadar lipid dalam tanaman khususnya kelapa akan mengalami
perubahan komposisi. Perubahan komposisi lipid dilakukan untuk melindungi
keadaan membran dan mempertahankan bagian-bagian set.

15

2.

Jarak Genetik Tetua Terpilih untuk Lahan Kering Iklim Kering dan
Lahan Kering Iklim Basah

Penelitian ini dilaksanakan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Kelapa Dan
Palma Lain Manado dengan bekerjasama dengan Fakultas MIPA Universitas Sam
Ratulangi Manado. Kegiatan ini dimulai pada termin II. Hasil sampai Nopember 2010
adalah kegiatan isolasi DNA kelapa Dalam yang berasal dari lahan kering iklim
kering. Tujuh jenis kelapa Dalam asal lahan kering iklim kering yaitu yang berasal
dari Bloro dan Adonara (NTT); Pontoloan dan Pakuli/Bangga (Sulawesi Tengah);
Molowahu dan Kramat (Gorontalo) dan Bojong Bulat (Yogyakarta) telah berhasil
disolasi DNA (gambar 1). Isolasi DNA dilakukan mengikuti metode Rohde

et a!

(1995) yang telah dimodifikasi Lengkong (1998). Hasil isolasi DNA yang diekstrak
dari daun kelapa kemudian

divisualisasi menggunakan elektroforesis gel

untuk

melihat ada tidaknya DNA serta posisi dan ukuran DNA dari hasil isolasi. Berdasarkan
hasil visualisasi terlihat bahwa DNA yang ada masih terkontaminasi sehingga perlu
dilanjutkan dengan pemurnian DNA.

Gambar 1. Contoh DNA total dari sampel daun kelapa yang berasal dari lahan
kering iklim kering

Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pengujian menggunakan metode SSR
yang direncanakan dilaksanakan pada bulan Nopember sampai

Desember 2010.

Kegiatan ini penting untuk melihat keragaman antar jenis kelapa Dalam yang
digunakan. keragaman yang tinggi dan jarak genetik yang besar antar aksesi
maupun antar pohon sangat baik dalam pembentukan populasi kelapa Dalam
Komposit. Harapan untuk memperoleh varietas Kelapa Dalam unggul Komposit

16

berproduksi tinggi sangat mungkin karena pengaruh heterosis dilaporkan relatif
tinggi pada hibrida intervarietas (Hallauer dan Miranda, 1982). Heterosis pada
varietas komposit dapat terjadi apabila terdapat perbedaan frekuensi gen antara
kedua tetua dan gen yang mengontrol karakter yang diinginkan adalah dominan
(dominance gene action) (Gardner dan Eberhart, 1966; Lamkey dan Edwards, 1999).

Pada tanaman yang menyerbuk silang seperti kelapa, ekspresi suatu karakter pada
hibrida biasanya dikontrol oleh aksi gen dominan sehingga besarnya heterosis sangat
ditentukan oleh jarak genetik dari kedua tetua. Jika varietas kelapa Dalam komposit
merupakan hasil persilangan antar kultivar kelapa yang berbeda latar belakang
genetiknya maka heterosis pada kelapa Dalam komposit akan tinggi.

17

VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Penampilan tanaman muda dari genotipe terpilih untuk lahan kering iklim
kering dan lahan kering iklim basah baik dan seragam untuk karakter lingkar
semu, tinggi tanaman dan pertambahan jumlah daun
2. Kadar prolin tertinggi dimiliki kelapa Dalam asal Adonara NTT, Kadar glisin
betain tertinggi dimiliki kelapa Dalam yang berasal dari Kasinggolan Sulawesi
Utara, Kadar asam absisat tertinggi dimiliki kelapa Dalam yang berasal dari
Bloro NTT, Kadar protein tertinggi dimiliki kelapa Dalam yang berasal dari
Adonara NTT, dan Kadar lipid tertinggi ditunjukkan oleh kelapa Dalam yang
berasal dari Bloro NTT.
3. 70 contoh yang berasal dari daun kelapa yang berasal dari lahan kering iklim
kering telah diekstraksi dan diperoleh total DNA untuk pengujian jarak genetik
tetua kelapa Dalam komposit.

6.2. Saran
Genotipe-genotipe yang terseleksi perlu diamati dan diobservasi lebih lanjut
sehingga dapat dilepas sebagai kultivar kelapa unggul baik untuk lahan kering
iklim kering dan lahan kering iklim basah.

18

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrachman, A. Dan A., Mulyani. 2003. Pemanfaatan Lahan Berpotensi Untuk
Pengembangan Produksi Kelapa. Jurnal Litbang Pertanian 22(1):24-32.
Alouw, J.C., M.L.A. Hosang, A.A. Lolong, dan J.S. Warokka. 2008. Hama Oryctes
rhinoceros : Ekobiologi dan Pengendaliannya. Prosiding Seminar Regional
PHT Kelapa Manado 27 Nopember 2008. Hal. 147-121.
Alouw, J.C., . M.L.A. Hosang, dan N. Lumentut. 2008. Hama Brontispa longissima
Gestro (Coleopthera Chrysommelidae) dan Pengendaliannya. Prosiding
Seminar Regional PHT Kelapa Manado 27 Nopember 2008. Hal. 104-121.
Akuba, R. H., Nursuestini, J.S. Warokka dan H.FJ. Motulo 1991. Pemetaan daerah
rawan serangan penyakit busuk pucuk kelapa di Sulawesi Utara. Jurnal
Penelitian Kelapa 5(1):5-11.
Akuba, R. H. 1998. Dampak kekeringan dan kebakaran terhadap kelapa. Prosiding
KNK N. Lampung. PUSLITBANGTRI Bogor.
Akuba. R.H. 2002. Breeding and population genetics studies on coconut (Cocos
nucifera L.) composite variety using morphological and microsatellite
markers.Disertasi Doctor of Philosophy. University of the Philipines Los
Banos.
Billoten, N. 1996. Coconut Genetic Improvement Programme at Balitka, Final Report,
1989/1995. AARD-CIRAD-CP COOPERATION. 39p.
Brahmana, J., A.U. Lubis, R. Desmier de Chenon. 1992. Evolution of coconut bud rot
diseases and strategy of control. Coconut Phytophthora Workshop
Proceedings, 26 -30 October 1992, Manado Indonesia. p 33-38
Carpena, A. L., R. R. C. Espino, T. L. Rosario and R. P. Laude. 1993. Genetics at
population level. SEAMEO Regional Center for Graduate Study and Research in
Agriculture (SEAMEO-SEARCA) UPLB. Los Banos Philippines.
Falconer, D. S. and T. F. C. Mackay. 1996. Introduction to quantitative genetics.
Longman Group Ltd. 464p.
Finlay, K.W., and G.N. Wilkinson. 1963. The analysis of adaptation in a plant
breeding programme. Aust. J. Agric. Res. 14:742-754
Gardner, C. 0. and S. A. Eberhart. 1966. Analysis and interpretation of the variety
cross diallel and related populations. Biometrics 22:439-452.
Hallauer, A. R. and J. B. Miranda, FO. 1982. Quantitative genetics in maize breeding.
The Iowa State University Press. 468p.
Hosang, M. L. A., S. Sabatoellah., F. Tumewan dan J.C. Alouw. 1996. Musuh alami
hama Brontispa longissima Gaestro. Presiding Seminar Regional Hasil Hasil
Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Manado 19-20 Maret 1996. Buku I,
30- 38.
Hosang, M. L. A. dan A. A. Lolong. 1998. Pengendalian hama dan penyakit kelapa
terpadu. Presiding KNK N. Lampung. PUSLITBANGTRI Bogar.
Junior, R, R, M ., M, S, C, Oliveira ., M, A, Baccache ., F, M, De Paula. 2008. Effects
of Water Deficit and Rehydration on the Polar Lipid and Membranes Resistance
Leaves of Phaseolus vulgaris L. Cv. Perala. Vol.51, n. 2 : pp.361-367, ISSN
1516-8913 Brazil.

19

Kharie, S., H.F.J. Motulo, dan J.S. Warokka. 1993. Pengaruh Fosetyi-AI terhadap
Perl Kelapa 6(2): 22- 26.
Kumaunang, J. 2004. Kelapa Dalam Unggul Komposit. Balai Penelitian Tanaman
Kelapa dan Palma Lain. Laporan teknis intern. 32pp
Lamkey, K. R. and J. W. Edwards. 1999. Quantitative genetics of heterosis.
Proceeding of the International Symposium on the Genetics and Exploitation
of Heterosis in Crops. Mexico City, 17-22 August 1997. ASA-CSSA-SSSA.
Madison, USA. p31-48.
Lolong, A.A., H.F.J. Motulo, dan R.H. Akuba. 1994. Pengendalian penyakit busuk
pucuk dan gugur buah. Makalah Simposium II Hasil Litbang Tanaman
Industri. Balitbang Pertanian. Puslitbangtri. 17 hal.
Menteri Pertanian RI. 2008. Kebijakan Pengembangan Kelapa Nasional. Disajikan
pada Seminar Pengembangan Kelapa,
17 Januari 2008 di Manado.
Sulawesi Utara.
Nedjimi, B ., Y. Daoud., M. Touati. 2006. Growth, water relations, proline and ion
content of in vitro cultured Atriplex halimus subsp.schweinfurthii as affected
by CaCI 2 • International Journal of the Faculty of Agriculture and Biology,
Warsaw Agricultural University, Poland. Communications in Biometry and
Crop Science Vol. 1, No.2, 2006, pp. 79-89
Novarianto, H. dan H. Tampake. 2008. Pengembangan Kelapa Dalam di Sulawesi
Sulawesi Utara. Disajikan pada Seminar Pengembangan Kelapa, 17 Januari
2008 di Manado, Sulawesi Utara.
Pandin. D.S., 2000. Kemiriipan genetik populasi kelapa Dalam Mapanget, Tenga, Bali,
Palu, dan Sawarna berdasarkan penanda RAPD (Random Amplified
Polymorphic DNA). Tesis 52. Program pascasarjana IPB.
Rethinam, P., F. Rognon dan P. Batugal. 2002. Farmer's perception of high yielding
coconut varieties. Proceedings of the XXXIX Cocotech Meeting, 1 - 5 July
2002, Pattaya, Thailand. p170-188.
Runtunuwu, 5., M. S. Sinaga dan A. Hartana. 1999. Seleksi Ketahanan Tanaman
Kelapa terhadap Penyakit Gugur Buah Phytophthora. Buletin Hama dan
Penyakit Tumbuhan. Jurusan HPT IPB. Bogar.
Santos, G. A., P. A. Batugal, A. Othman, L. Baudouin and J. P. Labouisse. 1996.
Manual on standardized research techniques in coconut breeding. IPGRICOGENT. 46p.
Sinaga 5. 2007. Asam absisat Sebuah Mekanisme Adaptasi Tanaman Te adap
Kekeri gan.
Cekaman
http://www.pustakadeptan.go.id/publikasi/ip014081.pdf (20 Agustus 2009)

20

PIRAN GAMBAR

2. PEMBIBITAN

21

3. PENANAMAN

22

4. Penampilan tanaman di Kebun Percobaan Paniki untuk lahan kering
iklim basah

5. Penampilan Tanaman di Kebun Percobaan Pandu untuk lahan
kering iklim kering

23

6. Kelapa Dalam terseleksi

KELAPA DA

MOLUWAHU

24

,

セ@ ..- •·· _) セNG@

'"
BGMセ@

,, ,:,,,.

セMN@

'

-

.

. .

セ@

25

'

7. Pelaksanaan isolasi DNA

r



26

Dokumen yang terkait

Dokumen baru