Evaluasi Proses dan Evaluasi Hasil.docx

Evaluasi Proses dan Evaluasi Hasil
Minda Dewi Afifah (1501289), Ratna Firdaus (1504228),
Rully Fauji (1501033), Siti Solehah (1506561),
Tia Sritiawati (1504869) dan Widyawati Erlianingsih (1505660).
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Ilmu Pendidikan
sitisolehah@student.upi.edu
Dr. Dharma Kesuma, M.Pd.
Arie Rakhmat Riyadi, M.Pd.
Ence Surahman, M.Pd.
A. Pendahuluan
Kata dasar pembelajaran adalah belajar. Pembelajaran dapat diartikan dalam
arti sempit sebagai suatu proses atau cara yang dilakukan agar seseorang dapat
melakukan kegiatan belajar, sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku karena interaksi individu dengan lingkungan dan pengalaman. Kata
pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan belajar peserta didik secara sungguhsungguh yang melibatkan aspek intelektual, emosional, dan sosial. Pembelajaran
dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses atau kegiatan yang sistematis
dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) dengan
peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang
memungkinkan terjadinya tindakan belajar peserta didik, baik dikelas maupun diluar
kelas, dihadiri guru secara fisik atau tidak, untuk menguasai kompetensi yang telah
ditentukan.
Guru dapat mencapai tujuan pembelajaran dan peserta didik dapat
menguasai kompetensi yang telah ditetapkan dengan melalui proses pembelajaran.
Tujuan atau kompetensi tersebut biasanya sudah dirancang dalam perencanaan
pembelajaran yang berbentuk tujuan pembelajaran, standar kompetensi, kompetensi
dasar, dan indikator. Peserta didik dapat diketahui sudah sejauh mana mencapai
tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu, maka seorang guru perlu
melakukan tindakan evaluasi.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pengertian, prinsip serta
tujuan evaluasi pembelajaran, dimensi dan indikator evaluasi dilihat dari penilaian
proses dan hasil pembelajaran. Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk
memberikan pemahaman dan menambah pengetahuan tentang evaluasi dilihat dari
penilaian proses dan hasil pembelajaran terutama bagi semua calon guru yang saat
ini sedang menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar guru tersebut. Seorang
guru harus paham apa itu evaluasi karena hal ini berkaitan dengan pengukuran
1

ketercapaian sebuah tujuan pembelajaran, untuk itu dengan adanya makalah ini
semoga bisa dijadikan sebagai pedoman dan referensi bagi para guru agar
pelaksanaan pembelajaran dan pengukuran ketercapaian hasil pembelajaran tersebut
lebih mudah dilakukan.
B. Pembahasan
1. Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan suatu proses bukan suatu hasil (produk). Hasil yang
diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut
tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai
dan arti itu adalah evaluasi. Membahas tentang evaluasi berarti mempelajari
bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas yang dimaksud
merupakan konsekuesi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Proses tersebut
tentu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dalam arti terencana, sesuai
dengan prosedur dan prinsip serta dilakukan secara terus menerus.
Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (judgement).
Pemberian pertimbangan ini pada dasarnya merupakan konsep dasar evaluasi.
Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan kriteria
tertentu. Tanpa kriteria yang jelas, pertimbangan nilai dan arti yang diberikan
bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi. Kriteria
sangat diperlukan untuk menentukan pencapian indikator hasil belajar peserta
didik yang sedang diukur.
Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai sesuatu yang
didasarkan pada kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya
diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi.
2. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Evaluasi kurilulum di dasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:
a. Kontinuitas
b. Komperhensif
c. Adil dan objektif
d. Kooperatif
e. Praktis
3. Jenis-jenis evaluasi
Dalam perspektif kurikulum, evaluasi dibagi menjadi 4 jenis, yaitu
reflektif, evaluasi rencana, evaluasi proses dan evaluasi hasil. Dalam bab ini
akan kita bahas mengenai evaluasi proses dan evaluasi hasil.
a. Evaluasi proses sering disebut dengan evaluasi implementasi kurikulum.
Istilah proses digunakan untuk memperkuat pengaruh kurikulum sebagai
suatu proses. Sesuatu yang terjadi di sekolah. Asumsi evaluasi proses
merupakan suatu proses banyak menentukan keberhasilan kurikulum. Jenis
evaluasi ini lebih banyak mencurahkan perhatiannya terhadap dimensi
kurikulum sebagai kegiatan termasuk faktor-faktor yang memengarruhinya,

2

seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, sarana dan prasarana, sistem
supervisi dan monitoring, lingkungan, orang tua, dsb.
1) Tujuan dan Dimensi Evaluasi Proses Pembelajaran
Penilaian terhadap proses belajar mengajar bertujuan agak
berbeda dengan tujuan penilaian hasil belajar. Apabila penilaian hasil
belajar lebih ditekankan pada penguasaan tujuan pengajaran
(instruksional) oleh para peserta didik, maka tujuan evaluasi proses
pembelajaran lebih ditekankan pada perbaikan dan pengoptimalan
kegiatan belajar mengajar itu sendiri, terutama efisiensi, keefektifan dan
produktivitasnya.
Sejalan dengan tujuan tersebut, dimensi penilaian proses belajar
mengajar berkenaan dengan komponen-komponen yang membentuk
proses belajar mengajar dan keterkaitan diantara komponen-komponen
tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi penilaian proses belajar
mengajar setidaknya mencakup:
a) Tujuan pengajaran atau tujuan instruksional
Komponen tujuan instruksional yang meliputi aspek-aspek
ruang lingkup tujuan, abilitas yang terkandung didalamnya, rumusan
tujuan, tingkat kesulitan pencapaian tujuan, kesesuaian dengan
kemampuan peserta didik, jumlah dan waktu yang tersedia untuk
mencapainya, kesesuaiannya dengan kurikulum yang berlaku,
keterlaksanaannya dalam pengajaran.
b) Bahan pengajaran
Komponen bahan pengajaran yang meliputi ruang
lingkupnya, kesesuaian dengan tujuan, tingkat kesulitan bahan,
kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya gunanya bagi
peserta didik, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia,
sumber-sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya,
kesinambungan bahan, relevansi bahan dengan kebutuhan peserta
didik, prasyarat mempelajarinya.
c) Kondisi peserta didik dan kegiatan belajarnya
Komponen peserta didik yang meliputi kemampuan prasyarat,
minat dan perhatian, motivasi, sikap, cara belajar, kebiasaan belajar,
kesulitan belajar, fasilitas belajar yang dimiliki, hubungan sosial
dengan teman sekelas, masalah belajar yang dihadapi, karakteristik
dan kepribadian, kebutuhan belajar, identitas peserta didik dan
keluarganya yang erat kaitannya dengan pendidikan di sekolah.
d) Kondisi guru dan kegiatan mengajarnya
Komponen guru yang meliputi penguasaan mata pelajaran,
keterampilan mengajar, sikap keguruan, pengalaman mengajar, cara
mengajar, cara menilai, kemauan mengembangkan profesinya,
keterampilan berkomunikasi, kepribadian, kemauan dan kemampuan
memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik, hubungan
dengan peserta didik dan dengan rekan sejawatnya, penampilan
dirinya, keterampilan lain yang diperlukan.
e) Alat dan sumber belajar yang digunakan
Komponen alat dan sumber belajar yang meliputi jenis alat
dan jumlahnya, daya guna, kemudahan pengadaannya,

3

kelengkapannya, manfaatnya bagi peserta didik dan guru, cara
menggunakannya. Dalam alat dan sumber belajar ini termasuk alat
peraga, buku sumber, laboratorium, dan perlengkapan belajar
lainnya.
f) Teknik dan cara pelaksanaan penilaian.
Komponen penilaian yang meliputi jenis alat penilaian yang
digunakan, isi dan rumusan pertanyaan, pemeriksaan dan
interpretasinya, sistem penilaian yang digunakan, pelaksanaan
penilaian, tindak lanjut hasil penilaian, pemanfaatan hasil penilaian,
administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas dan reliabilitas
soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian dan perencanaan
penilaian.
Komponen-komponen diatas saling berhubungan satu sama lain
dan membentuk suatu sistem. Tujuan pengajaran berfungsi dalam
menentukan arah kegiatan pengajaran sehingga dapat dijadikan patokan
atau kriteria dalam menentukan keberhasilan pengajaran. Bahan
pengajaran berfungsi memberi isi dan warna terhadap tujuan pengajaran
serta memberi petunjuk apa yang harus dilakukan oleh guru dan peserta
didik. Peserta didik dan kegiatannya merupakan subjek sekaligus objek
dalam pengajaran. Guru dan kegiatannya sebagai arsitek dan sutradara
sekaligus pelaku dalam pengajaran. Dengan demikian, peserta didik dan
guru menjadi prasyarat terjadinya proses pengajaran. Alat dan sumber
pengajaran berfungsi sebagai penunjang dan daya dukung terjadinya
keefektifan proses pengajaran sehingga dapat mempermudah peserta
didik belajar dan guru mengajar. Penilaian berfungsi sebagai alat untuk
mengetahui efektif tidaknya pengajaran dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sekaligus berfungsi sebagai bahan dalam memperbaiki
tindakan pengajaran selanjutnya.
2) Fungsi Evaluasi Proses Pembelajaran
Hasil yang didapatkan dari evaluasi proses pembelajaran
difungsikan dan ditujukan untuk beberapa keperluan, yaitu sebagai
berikut:
a) Pengembangan
Dalam hal ini, maka evaluasi pembelajaran sedang
menjalankan fungsi formatif. Hal ini bertitik tolak dari pandangan
bahwa fungsi formatif evaluasi dilaksanakan apabila hasil yang
diperoleh dari kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian
tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum (pembelajaran yang
sedang dikembangkan). Memperbaiki bagian tertentu atau sebagian
besar aspek pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan
pengembangan pembelajaran. Dengan kata lain, fungsi dan tujuan
evaluasi pembelajaran untuk pengembangan pembelajaran
dilaksanakan apabila hasil kegiatan evaluasi pembelajaran digunakan
sebagai dasar pengembangan pembelajaran.
b) Akreditasi
Akreditasi dapat diartikan sebagai suatu penilaian yang
dilakukan oleh pemerintah terhadap sekolah swasta untuk

4

menentukan peringkat pengakuan pemerintah terhadap sekolah
tersebut. Akreditasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang
mana suatu program atau institusi (lembaga) diakui sebagai badan
yang sesuai dengan beberapa standar yang telah disetujui.
Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
akreditasi ditetapkan atau diputuskan setelah pelaksanaan evaluasi
terhadap lembaga pendidikan, baik TK, SD, SMP dan SMA maupun
Perguruan Tinggi. Ada berbagai aspek yang dinilai dalam
menentukan akreditasi suatu lembaga pendidikan, salah satu aspek
atau komponen yang dinilai adalah pembelajaran. Dengan demikian
fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar untuk akreditasi dilaksanakan
apabil hasil kegiatan evaluasi pembelajaran digunakan sebagai dasar
akreditasi lembaga pendidikan.
b. Evaluasi hasil merupakan evaluasi kurikulum yang paling tua. Dalam buku
ini evaluasi hasil disebut penilaian hasil belajar. Sekalipun pengertiannya
sama, tetapi cakupannya berbeda, karena hasil yang dimaksudkan dalam
evaluasi hasil adalah hasil belajar dalam pengertian pengetahuan, sedangkan
penilaian hasil belajar bukan hanya berkenaan dengan domain pengetahuan
tetapi juga domain keterampilan dan sikap.
1) Tujuan dan Fungsi Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai
belajar peserta didik melalui kegiatan penilaian dan atau pengukuran
hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti proses
pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut ditandai dengan
skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol. Apabila tujuan utama
kegiatan evaluasi hasil belajar ini sudah terealisasi, maka hasilnya dapat
difungsikan dan ditujukan untuk berbagai keperluan, yaitu sebagai
berikut:
a) Diagnostik dan pengembangan
Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan sebagai
dasar pendiagnosisan kelemahan dan keunggulan peserta didik
beserta sebab-sebabnya, berdasarkan pendiagnosisan inilah guru
mengadakan
pengembangan
proses
pembelajaran
untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik.
b) Seleksi
Hasil dari evaluasi hasil belajar seringkali digunakan sebagai
dasar untuk menentukan peserta didik yang paling cocok untuk jenis
jabatan atau jenis pendidikan tertentu.
c) Kenaikan kelas
Berdasarkan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar peserta
didik mengenai sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam
pembelajaran, maka guru dapat dengan mudah membuat keputusan
kenaikan kelas bagi peserta didik berdasarkan ketentuan yang
berlaku.
d) Penempatan

5

Agar peserta dapat berkembang sesuai dengan tingkat
kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan
ketepatan penempatan pada kelompok yang sesuai. Untuk
menempatkan penempatan peserta didik pada kelompok, guru dapat
menggunakan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar sebagai dasar
petimbangan.
4. Penilaian Proses dan Hasil Belajar
Penilaian proses dan hasil belajar dibagi menjadi 4 jenis, yaitu formatif,
sumatif, diagnostik, dan penilaian penempatan.
a. Penilaian formatif
Penilaian formatif dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar
peserta didik selama proses belajar berlangsung, untuk memberikan balikan
(feed back) bagi penyempurnaan program pembelajaran serta untuk
mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan, sehingga
hasil belajar peserta didik dan proses pembelajaran guru menjadi lebih baik.
Tujuan utama penilaian formatif adalah untuk memperbaiki proses
pembelajaran, bukan untuk menentukan tingkat kemampuan peserta didik.
Penilaian formatif sesungguhnya merupakan penilaian acuan patokan. Apa
yang dimaksudkan dengan penilaian formatif seperti yang diberikan pada
akhir satuan pelajaran sesungguhnya bukan sebagai penilaian formatif lagi,
sebab data-data yang diperoleh akhirnya digunakan untuk menentukan
tingkat hasil belajar peserta didik. Kiranya lebih tepat jika penilaian pada
akhir satuan pelajaran itu dipandang sebagai penilaian sub-sumatif.
b. Penilaian sumatif
Penilaian sumatif berarti penilaian yang dilakukan jika satuan
pengalaman belajar atau seluruh materi pelajaran dianggap telah selesai.
Dengan demikian, ujian akhir semester dan ujian nasional termasuk
penilaian sumatif. Penilaian sumatif diberikan dengan maksud untuk
mengetahui apakah peserta didik sudah dapat menguasai standar kompetensi
yang sudah ditetapkan atau belum. Tujuan penilaian sumatif adalah untuk
menentukan nilai berdasarkan tingkatan hasil belajar peserta didik yang
selanjutnya dipakai sebagai angka raport. Hasil penilaian sumatif juga dapat
dimanfaatkan untuk perbaikan proses pembelajaran secara keseluruhan.
Penilaian sumatif termasuk penilain ynag menggunakan pendekatan acuan
norma, kemampuan peserta didik dibandingkan dengan teman
sekelompoknya. Cakupan materinya lebih luas dan soal-soalnya melingkupi
tingkat mudah, sedang, dan sulit.
c. Penilaian penempatan
Pada umumnya penilaian penempatan dibuat sebagai pretest. Tujuan
utamanya adalah untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki
keterampilan-keterampoilan yang diperlukan untuk mengikuti satuan
program pembelajaran dan sejauh mana peserta didik telah menguasai
kompetenmsi dasar sebagaimana yang tercantum dalam silabus dan RPP.
Luas bahan pretest lebih terbatas dan tingkat kesukaran soal relatif
rendah. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa pretest digunakan untuk
menentukan apakah peserta didik telah memiliki kemampuan-kemampuan
minimal untuk mempelajari suatu unit materi pelajaran atau belum sama

6

sekali. Pretest seperti ini adalah criterion-referenced assessment yang fungsi
utamanya adalah untuk mengidentifikasi ada tidaknya prerequisite skills.
Pretest dibuat untuk menentukan sejauh mana peserta didik dalam
menguasai materi pembelajaran atau memperoleh pengalaman belajar seperti
tercantum dalam program pembelajaran, dan sebenarnya bisa berbeda
dengan tes hasil belajar. Dalam hal seperti itu pretest dibuat sebagai normreference assessment.
d. Penilaian diagnostik
Penilaian diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan
belajar peserta didik berdasarkan hasil penilain formatif sebelumnya.
Penilaian diagnostik memerlukan sejumlah soal untuk satu bidang yang
diperkirakan merupakan kesulitan bagi peserta didik. Soal-soal tersebut
bervariasi dan difokuskan pada kesulitan. Penilaian diagnostik biasanya
dilaksanakan sebelum suatu pelajaran dimulai. Tujuannya adalah untuk
menjajagi pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai oleh peserta
didik. Dengan kata lain, apakah peserta didik sudah mempunyai pengetahuan
dan keterampilan tertentu untuk dapat mengikuti materi pelajaran lain.
Penilaian doagnostik semacam ini disebut juga test of entering behavior.
5. Ruang Lingkup Evaluasi
Ruang lingkup evaluasi berkaitan dengan objek evaluasi itu sendiri. Jadi,
jika objek tersebut tentang pembelajaran, maka semua hal yang berkaitan
dengan pembelajaran menjadi ruang lingkup evaluasi pembelajaran. Ruang
lingkup evaluasi pembelajaran dapat ditinjau dari berbagai perspekttif, yaitu
domain hasil belajar, sistem pembelajaran, proses dan hasil belajar, serta
kompetensi.
a. Ruang lingkup evaluasi pembelajaran dalam perspektif domain hasil belajar
Menurut Benyamin S. Bloom, dkk hasil belajar dapat dikelompokan ke
dalam tiga domain ,yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Adapun rincian
domain tersebut, antara lain:
1) Domain kognitif (cognitive domain). domain ini memiliki enam jenjang
kemampuan, yaitu:
a) Pengetahuan (knowledge) yaitu jenjang kemampuan yang menuntut
siswa mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah tanpa harus
mengerti atau dapat menggunakannya. Kata kerja yang dapat di
gunakan, antara lain: mengidentifikasi, membuat garis besar,
menyusun daftar dll.
b) Pemahaman (comprehension) yaitu jenjang kemampuan yang
menuntut siswa memahami atau mengerti tentang materi pelajaran
yang disampaikan dan dapat memanfaatkannya. Kata kerja yang
dapat digunakan antara lain menjelaskan, menyimpulkan, memberi
contoh dll.
c) Penerapan (application) yaitu jenjang kemampuan yang menuntut
peserta didik menggunakan ide-ide umum, metode, prinsip, dan teori
dalam situasi yang baru dan konkret. Kata kerja yang digunakan
diantaranya mengungkapkan, mendemonstrasikan, menunjukkan dll.
d) Analisis (analysis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta
didik menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam

7

komponen pembentuknya. Kata kerja yang digunakan diantaranya
menggambarkan kesimpulan, membuat garis besar, menghubungkan
dll.
e) Sintesis (synthesis) yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta
didik menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan
berbagai faktor. Hasilnya bisa berupa tulisan, rencana atau meanisme.
Kata kerja yang digunakan diantaranya menyusun, menggolongkan,
menggabungkan dll.
f) Evaluasi (evaluation) yaitu jenjang kemampuan yang menuntut
peserta didik dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan, pernyataan
atau konsep berdasaran kriteria tertentu. Kata kerja yang digunakan
diantaranya menilai, membandingkan, menduga dll.
Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi oleh David R. Krathwohl
di jurnal Theory into Practice, aspek kognitif dibedakan atas enam
jenjang yang diurutkan sebagai berikut:
a) Mengingat (remembering)
Mengingat merupakan proses kognitif paling rendah
tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa menjadi
bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu
dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan
sebagai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua
macam proses kognitif yaitu mengenali (recognizing) dan mengingat.
Kata operasional mengetahui yaitu mengutip, menjelaskan,
menggambar,
menyebutkan,
membilang,
mengidentifikasi,
memasangkan, menandai, dan menamai.
b) Memahami (understanding)
Pertanyaan pemahaman menuntut siswa menunjukkan bahwa
mereka telah mempunyai pengertian yang memadai untuk
mengorganisasikan dan menyusun materi-materi yang telah
diketahui. Siswa harus memilih fakta-fakta yang cocok untuk
menjawab pertanyaan. Jawaban siswa tidak sekedar mengingat
kembali informasi, namun harus menunjukkan pengertian terhadap
materi yang diketahuinya. Kata operasional memahami yaitu
menafsirkan, meringkas, mengklasifikasikan, membandingkan,
menjelaskan, dan membeberkan.
c) Menerapkan (applying).
Pertanyaan penerapan mencakup penggunaan suatu prosedur
guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena
itu, mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural.
Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk
pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam
proses kognitif yaitu menjalankan dan mengimplementasikan. Kata
kerjanya melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan,
mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, dan
mendeteksi.
d) Menganalisis (analyzing)

8

Pertanyaan analisis menguraikan suatu permasalahan atau
obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling
keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Kata kerjanya yaitu
menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang,
mengubah
struktur,
mengerangkakan,
mengintegrasikan,
membedakan, menyamakan, dan membandingkan.
e) Mengevaluasi (evaluating)
Mengevaluasi membuat suatu pertimbangan berdasarkan
kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang
tercakup dalam kategori ini adalah memeriksa dan mengkritik. Kata
kerjanya yaitu menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai,
menguji, membenarkan, dan menyalahkan.
f) Mencipta (creating)
Membuat adalah menggabungkan beberapa unsur menjadi
suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang
tergolong dalam kategori ini yaitu membuat, merencanakan, dan
memproduksi. Kata oprasionalnya yaitu merancang, membangun,
merencanakan,
memproduksi,
menemukan,
membaharui,
menyempurnakan, memperkuat, memperindah, dan menggubah.
2) Domain afektif (affective domain) yaitu internalisasi sikap yang
menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik
sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga
menjadi bagian darinya dalam membentu nilai dan tingkah laku. Domain
afektif terdiri atas beberapa jenjang kemampuan, yaitu:
a) Kemampuan menerima (receiving) yaitu jenjang kemampuan yang
menuntut peserta didik peka terhadap eksistensi fenomena atau
rangsangan tertentu. Kata kerja yang digunakan diantaranya
menanyakan, memilih, menggambarkan dll.
b) Kemampuan menanggapi atau menjawab (responding) yaitu jenjang
kemampuan yang menuntut peserta didik tidak hanya peka terhadap
suatu fenomena, tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara.
Penekanannya pada kemauan peserta didik untuk menjawab secara
sukarela, membaca tanpa ditugaskan. Kata kerja yang digunakan
diantaranya membaca, mengemukakan, mendiskusikan dll.
c) Menilai (valuing) yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta
didik menilai suatu objek, fenomena atu tingah laku secara konsisten.
Kata kerja yang digunakan diantaranya melengkapi, menerangkan,
mengusulkan dll.
d) Organisasi (organization) yaitu jenjang kemampuan yang menuntut
peserta didik menyatukan nilai yang berbeda, memecahkan masalah.
Kata kerja yang digunakan diantaranya mengubah, mengatur,
membandingkan dll.
e) Menjadi pola hidup yaitu kemampuan seseorang untuk menerapkan
setiap yang dipelajari dalam tindakan sehari-hari.
3) Domain psikomotor (psychomotor domain) yaitu kemampuan peserta
didik yang berkaitan dengan gerak tubuh atau bagiannya. Kata kerja

9

yang digunakan harus sesuai dengan kelompok keterampilan masingmasing, yaitu:
a) Meniru merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti makna
atau hakikat dari keterampilan itu. Contoh kata kerja operasional
yang biasa digunakan untuk mengukur aspek ini adalah
mengkonstruksi, menggabungkan, mengatur, mnyesuaikan, dan
sebagainya.
b) Memanipulasi merupakan kemampuan dalam melakukan suatu
tindakan seperti yang diajarkan, dalam arti mampu memilih yang
diperlukan. Kata kerja yang sering digunakan dalam mengukur aspek
ini adalah menempatkan, membuat, memanipulasi, merancang, dan
sebagainya.
c) Pengalamiahan merupakan suatu penampilan tindakan dimana halhal yang diajarkan (sebagai contoh) telah menjadi suatu kebiasaan
dan gerakan-gerakan yang ditampilkan lebih meyakinkan. Contoh
kata kerja operasional yang biasa digunakan untuk mengukur aspek
ini diantaranya adalah memutar, memindahkan, menarik, mendorong,
dan sebagainya.
d) Artikulasi merupakan suatu tahap dimana seseorang dapat melakukan
suatu keterampilan yang lebih komplek terutama yang berhubungan
dengan gerakan interpretatif. Contoh kata kerja operasional yang
biasa digunakan untuk mengukur aspek ini adalah menggunakan,
mensketsa, menimbang, menjeniskan, dan sebagainya.
Berdasarkan taksonomi Bloom di atas, maka kemampuan peserta
didik dibagi menjadi dua, yaitu tingkat tinggi dan tingkat rendah.
kemampuan tingkat rendah terdiri atas pengetahuan, pemahaman, dan
aplikasi, sedangkan kemampuan tingkat tinggi meliputi analisis, sintesis,
evaluasi dan kreatifitas.
b. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran dalam Perspektif Sistem
Pembelajaran
1) Program pembelajaran yang meliputi:
a) Tujuan pembelajaran umum atau kompetensi dasar, yaitu target yang
harus dikuasai peserta didik dalam setiap pokok atau bahasan.
b) Isi atau materi pembelajaran, yaitu isi kurikulum yang berupa topik
atau pokok bahasan beserta perinciannya dalam setiap bidang studi.
c) Metode pembelajaran, yaitu cara guru menyampaikan materi
pelajaran, seperti metode ceramah, tanya jawab diskusi dll.
d) Media pembelajaran yaitu alat-alat yang membantu untuk
mempermudah guru dalam menyampaikan isi atau materi pelajaran.
Media dibagi menjadi 3, yaitu media audio, media visual, media
audio-visual.
e) Sumber belajar, yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan
latar.
f) Lingkungan, terutama lingkungan sekolah dan keluarga.
g) Penilaian proses dan hasil belajar, baik menggunakan tes ataupun non
tes.

10

2) Program pelaksanaan pembelajaran, meliputi:
a) Kegiatan, yang meliputi jenis kegiatan, prosedur pelaksanaan, sarana
pendukung dll.
b) Guru, terutama dalam hal menyampaikan materi, kesulitan guru dll.
c) Peserta didik, terutama peran peserta dalam kegiatan belajar,
keaktifan, kesulitan belajar dll.
3) Hasil pembelajaran, baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan
jangka panjang.

c. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran dalam Perspektif Penilaian Proses
dan Hasil Belajar
1) Sikap, kebiasaan, motivasi, minat dan bakat.
2) Pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap bahan pelajaran.
3) Kecerdasan peserta didik.
4) Perkembangan jasmani atau kesehatan.
5) Keterampilan

d. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran dalam Perspektif Penilaian Berbasis
Kelas
Sesuai Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, maka ruang lingkup
penilaian berbasis kelas adalah sebagai berikut:
1) Kompetensi Dasar Mata Pelajaran
Kompetensi ini pada hakikatnya ialah pengetahuan, ketrampilan, sikap,
dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak
setelah peserta didik menyelesaikan suatu aspek atau subjek mata
pelajaran tertentu.
2) Kompetensi Rumpun Pelajaran
Rumpun pelajaran merupakan kumpulan dari mata pelajaran yang lebih
spesifik.
3) Kompetensi Lintas Kurikulum
Kompetensi ini merupakan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik
melalui seluruh rumpun pelajaran dalam kurikulum.
4) Kompetensi Tamatan
Kompetensi ini merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilainilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah
peserta didik menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu.
5) Pencapaian Keterampilan Hidup
Penguasaan berbagai kompetensi dasar, kompetensi lintas kurikulum,
kompetensi rumpun pelajaran, dan kompetensi tamatan melalui berbagai
11

pengalaman belajar dapat memberikan efek posistif dalam bentu
kecakapan hidup (life skills).

C. Penutup
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi pada
pembelajaran tidak hanya melihat hasil tetapi juga evaluasi proses sama
pentingnya. Evaluasi proses itu dilaksanakan oleh pendidik untuk mengetahui
sejauh mana keberhasilan peserta didik dalam memahami proses belajar yang
telah dilaksanakan. Sedangkan evaluasi hasil pembelajaran adalah evaluasi
secara keseluruhan yang diukur dari tujuan pembelajaran yang telah
direncanakan sebelumnya. Penilaian evaluasi proses dapat diukur dengan
menggunakan penilaian angket, catatan anekdot , refleksi dsb. Penilaian evaluasi
proses dapat berupa tes secara lisan atau tulisan.
Penyusun berharap bahwa penulisan makalah ini dapat digunakan
sebagai referensi untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai
pentingnya evaluasi dalam segi proses maupun hasil dalam pembelajaran. Dan
juga untuk kita sebagai calon pendidik semoga dapat menerapkan evaluasi
dalam pembelajaran dengan baik agar membantu peningkatan kualitas
pendidikan saat ini.

12

Daftar Pustaka
Nana Sudjana. (2011). Penilaian Hasil Proses Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Widoyoko, Eko Putro. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran. [Online]. Tersedia:
http://www.umpwr.ac.id/download/publikasi-ilmiah/Evaluasi%20Program
%20Pembelajaran.pdf
Dimyati, dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Kerjasama Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan PT Rineka Cipta
Sudijono, Anas. (2007). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada

13

Dokumen yang terkait

Dokumen baru