Materi 1.1 Pelaksanaan APBD TA 2015

(1)

SISTEM PENGELOLAAN KEUDA

BERDASARKAN UU No 23/2014 PP NO 58/2005 DAN 

PERMENDAGRI NO 13/2006, NO 59/2007, 21/2011 

SERTA PERMENDAGRI NO 37/2014

SISTEM PENGELOLAAN KEUDA

BERDASARKAN UU No 23/2014 PP NO 58/2005 DAN 

PERMENDAGRI NO 13/2006, NO 59/2007, 21/2011 

SERTA PERMENDAGRI NO 37/2014

DIREKTORAT ANGGARAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

JAKARTA,Nop 2014

DIREKTORAT ANGGARAN DAERAH

DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

JAKARTA,Nop 2014

O l e h :

MUKJIZAT, S.Sos, M.Si

O l e h :


(2)

MERUPAKAN BAGIAN DARI KEKUASAAN

PEMERINTAHAN

BUPATI/WALI KOTA

GUBERNUR

OTORITAS DAN TANGGUNGJAWAB ATAS

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

MENYERAHKAN SEBAGIAN PELAKSANA

MEMILIKI

PRESIDEN selaku PKPKN

(Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) UU 17/2003

Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU 17/2003


(3)

Menteri menetapkan pedoman penyusunan APBD

setiap tahun setelah berkoordinasi dengan menteri

yang menyelenggarakan urusan pemerintahan

bidang perencanaan pembangunan nasional dan

menteri

yang

menyelenggarakan

urusan

pemerintahan bidang keuangan.

APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan

Daerah dalam masa 1 tahun anggaran sesuai

dengan undang-undang mengenai keuangan

negara.

UU NO 23/2014 TTG PEMDA

(Pasal 308 dan Pasal 309-APBD)


(4)

(Pasal 310)

Kepala daerah menyusun KUA dan PPAS

berdasarkan RKPD dan diajukan kepada DPRD untuk

dibahas bersama.

KUA serta PPAS yang telah disepakati kepala

daerah bersama DPRD menjadi pedoman Perangkat

Daerah dalam menyusun RKA-SKPD.

RKA-SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan

penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun

berikutnya.

Ketentuan mengenai tata cara penyusunan RKA, dan

DPA-SKPD diatur dalam Perda yg berpedoman pada

ketentuan per-UU-an.

(Pasal 310)

Kepala daerah menyusun KUA dan PPAS

berdasarkan RKPD dan diajukan kepada DPRD untuk

dibahas bersama.

KUA serta PPAS yang telah disepakati kepala

daerah bersama DPRD menjadi pedoman Perangkat

Daerah dalam menyusun RKA-SKPD.

RKA-SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan

penyusunan rancangan Perda tentang APBD tahun

berikutnya.

Ketentuan mengenai tata cara penyusunan RKA, dan

DPA-SKPD diatur dalam Perda yg berpedoman pada

ketentuan per-UU-an.

Lanjutan ...

Lanjutan ...


(5)

(Pasal 311)

Kepala daerah wajib mengajukan Raperda ttg APBD disertai

penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada

DPRD sesuai dgn waktu yg ditentukan oleh ketentuan

per-UU-an utk memperoleh persetujuper-UU-an bersama.

Kepala daerah yg tidak mengajukan Raperda ttg APBD

dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak

keuangannya yang diatur dalam ketentuan per-UU-an

selama 6 bulan.

Raperda dibahas kepala daerah bersama DPRD dengan

berpedoman pada RKPD, KUA, dan PPAS untuk mendapat

persetujuan bersama.

Atas dasar persetujuan bersama DPRD dan kepala daerah,

kepala daerah menyiapkan Raperkada tentang penjabaran

APBD dan rancangan DPA.

(Pasal 311)

Kepala daerah wajib mengajukan Raperda ttg APBD disertai

penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada

DPRD sesuai dgn waktu yg ditentukan oleh ketentuan

per-UU-an utk memperoleh persetujuper-UU-an bersama.

Kepala daerah yg tidak mengajukan Raperda ttg APBD

dikenai sanksi administratif berupa tidak dibayarkan hak-hak

keuangannya yang diatur dalam ketentuan per-UU-an

selama 6 bulan.

Raperda dibahas kepala daerah bersama DPRD dengan

berpedoman pada RKPD, KUA, dan PPAS untuk mendapat

persetujuan bersama.

Atas dasar persetujuan bersama DPRD dan kepala daerah,

kepala daerah menyiapkan Raperkada tentang penjabaran

APBD dan rancangan DPA.

Lanjutan ...


(6)

(Pasal 312)

Kepala daerah dan DPRD wajib menyetujui

bersama rancangan Perda ttg APBD paling lambat 1 bulan

sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun.

DPRD dan kepala daerah yg tidak menyetujui bersama

Raperda ttg APBD sebelum dimulainya tahun anggaran

setiap tahun dikenai sanksi administratif berupa tidak

dibayarkan hak-hak keuangan yg diatur dalam ketentuan

per-UU-an selama 6 bulan.

Sanksi tidak dapat dikenakan kepada anggota DPRD

apabila keterlambatan penetapan APBD disebabkan oleh

kepala daerah terlambat menyampaikan rancangan Perda

ttg APBD kepada DPRD dari jadwal yg telah ditetapkan

berdasarkan ketentuan per-UU-an.

(Pasal 312)

Kepala daerah dan DPRD wajib menyetujui

bersama rancangan Perda ttg APBD paling lambat 1 bulan

sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun.

DPRD dan kepala daerah yg tidak menyetujui bersama

Raperda ttg APBD sebelum dimulainya tahun anggaran

setiap tahun dikenai sanksi administratif berupa tidak

dibayarkan hak-hak keuangan yg diatur dalam ketentuan

per-UU-an selama 6 bulan.

Sanksi tidak dapat dikenakan kepada anggota DPRD

apabila keterlambatan penetapan APBD disebabkan oleh

kepala daerah terlambat menyampaikan rancangan Perda

ttg APBD kepada DPRD dari jadwal yg telah ditetapkan

berdasarkan ketentuan per-UU-an.

Lanjutan ...

Lanjutan ...


(7)

(Pasal 313)

Apabila KDH dan DPRD tidak mengambil

persetujuan bersama dalam waktu 60 Hari sejak

disampaikan rancangan Perda ttg APBD oleh

KDH kepada DPRD, KDH menyusun dan

menetapkan Perkada ttg APBD paling tinggi

sebesar angka APBD TA sebelumnya utk

membiayai keperluan setiap bln.

Rancangan Perkada dapat ditetapkan setelah

memperoleh pengesahan dari Menteri bagi

Daerah provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil

Pemerintah Pusat bagi Daerah kab/kota.

(Pasal 313)

Apabila KDH dan DPRD tidak mengambil

persetujuan bersama dalam waktu 60 Hari sejak

disampaikan rancangan Perda ttg APBD oleh

KDH kepada DPRD, KDH menyusun dan

menetapkan Perkada ttg APBD paling tinggi

sebesar angka APBD TA sebelumnya utk

membiayai keperluan setiap bln.

Rancangan Perkada dapat ditetapkan setelah

memperoleh pengesahan dari Menteri bagi

Daerah provinsi dan oleh gubernur sebagai wakil

Pemerintah Pusat bagi Daerah kab/kota.

Lanjutan ...

Lanjutan ...


(8)

(Pasal 408)

Pada  saat  Undang­Undang  ini  mulai 

berlaku,  semua  peraturan  perundang­

undangan 

yang 

berkaitan 

dengan 

penyelenggaraan 

Pemerintahan 

Daerah 

dinyatakan  masih  tetap  berlaku  sepanjang 

belum  diganti  dan  tidak  bertentangan 

dengan  ketentuan  dalam  Undang­Undang 

ini

(Pasal 408)

Pada  saat  Undang­Undang  ini  mulai 

berlaku,  semua  peraturan  perundang­

undangan 

yang 

berkaitan 

dengan 

penyelenggaraan 

Pemerintahan 

Daerah 

dinyatakan  masih  tetap  berlaku  sepanjang 

belum  diganti  dan  tidak  bertentangan 

dengan  ketentuan  dalam  Undang­Undang 

ini

Lanjutan ...

Lanjutan ...


(9)

(Pasal 53 ayat (2))

Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan

peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilakukan selambat lambatnya tanggal 31

Desember tahun anggaran sebelumnya

(Pasal 53 ayat (2))

Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan

peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilakukan selambat lambatnya

tanggal 31

Desember tahun anggaran sebelumnya

PP 58/2005

TTG PENGELOLAAN KEUD

A

dan SE MENDAGRI NO 903/6865/SJ

PP 58/2005

TTG PENGELOLAAN KEUD

A

dan SE MENDAGRI NO 903/6865/SJ

Kepala Daerah dan DPRD yg tidak menyetujui baersama

rangcangan Perda ttg APBD sebelum dimulainya Tahun Anggaran

berikutnya dikenakan sanksi administratif berupa tidak dibayarkan

hak-hak keuangan yg diatur dalam ketentuan per uu an selama 6

bulan sesuai amanat pasal 312 ayat (2) UU no 23/2014

Kepala Daerah dan DPRD yg tidak menyetujui baersama

rangcangan Perda ttg APBD sebelum dimulainya Tahun Anggaran

berikutnya dikenakan sanksi administratif berupa tidak dibayarkan

hak-hak keuangan yg diatur dalam ketentuan per uu an selama 6

bulan sesuai amanat pasal 312 ayat (2) UU no 23/2014


(10)

V. UPAYA PENINGKATAN

PENDAPATAN/PENERIMAAN DAERAH


(11)

Sumber pendapatan Daerah terdiri atas:

PAD meliputi:

Pajak Daerah;

Retribusi daerah;

Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan;

Lain-lain PAD yang sah

.

Pendapatan Transfer;

Transfer Pemerintah Pusat;

Dana Perimbangan;

Dana Otsus;

Dana Keistimewaan;

Dana Desa.

Transfer Antar Daerah.

Pendapatan Bagi Hasil;

Bantuan Keuangan

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah.

PENDAPATAN (Pasal 285)

PENDAPATAN (Pasal 285)


(12)

12

Agar Daerah tidak bergantung kepada Dana Perimbangan, maka dapat

ditempuh beberapa opsi/strategi untuk meningkatkan pendapatan/

penerimaan daerah antara lain melalui optimalisasi:

Penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah,

dari semula sistem daftar

terbuka

(open list)

menjadi sistem daftar tertutup

(closed-list)

sesuai

dengan UU 28/2009 melalui intensifikasi.

(Pasal 157, 158 ayat 2 s.d 9 dan ayat 159) di cabut dan tidak berlaku, melalui pasal 409 UU No 32/2014.

Kekayaan daerah yg dipisahkan melalui penyertaan modal/investasi

kepada BUMD, baik yg bersifat profit berupa laba/deviden, (bank seperti

BPD) maupun non profit (public service seperti PDAM)

Pemanfaatan kekayaan daerah yg belum

dipisahkan (

idle asset

) melalui

kerjasama pemda dgn pihak ketiga sesuai PP 6/2006 ttg Pengelolaan

BMN/D dan Permendagri 17/2007 ttg Pengelolaan BMD, dan

diperbaharui dgn PP 27/2014 ttg Pengelolaan Barang Milik

Negara/Daerah.

Pendapatan daerah melalui pinjaman (komersial) dan penerbitan

obligasi/municipal bond sesuai UU 33/2004 ttg Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemda, serta PP 30/2011 ttg Pinjaman Daerah.


(13)

Optimalisasi/ intensifikasi pajak drh dan retribusi drh Optimalisasi/ intensifikasi pajak drh dan retribusi drh Optimalisasi kekayaan drh yg dipisahkan mllui penyertaan modal/invest kpd BUMD Optimalisasi kekayaan drh yg dipisahkan mllui penyertaan modal/invest kpd BUMD Optimalisasi pemanfaatan kekayaan drh yg tdk dipisahkan (iddle asset) mllui kerjasama pemda dgn phk ketiga

Optimalisasi pemanfaatan kekayaan drh yg tdk dipisahkan (iddle asset) mllui kerjasama pemda dgn phk ketiga Optimalisasi pndptn drh mllui pinjaman, pnrbtn obligasi Optimalisasi pndptn drh mllui pinjaman, pnrbtn obligasi Pemanfaatan: • Sewa

• Pinjam Pakai

Kerjasama

pemanfaatan

Bangun Guna Serah

(BGS)/Bangun Serah Guna (BSG)

Kerjasama penyediaan

infrastruktur

Pajak Provinsi (5 jenis):

PKB; BBNKB; PBBKB; Pajak Air Permukaan; Pajak Rokok.

Pajak Kab/Kota (11 jenis):

Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, PPJ, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet, PBB-P2, PBHTB

Retriibusi Jasa Umum (15 jenis)

al: yan kes, yan sampah; yan pasar

Retribusi Jasa Usaha

(12 jenis) al: ret. terminal; ret. pasar/grosir dsb

Retribusi Perizinan Ttt( 6 jenis) al: IMB

Perluasan akses pembiayaan melalui: . Pinjaman drh

.Obligasi drh (municipal bond) APBD Sbg Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Drh (multiplier effect) Pengembangan Perekonomian Daerah & UMKM (Spill Over, Trickle

down effect) Daerah Memiliki daya tahan memadai Efektifitas, Efisiensi dan Ekonomis

Target Kedepan bagi Pemda

Daya Saing

Manajemen Risiko

Meningkatan Pendapatan/Penerimaan Daerah melalui PAD

Mengurangi ketergantungan drh terhadap dana transfer pusat ke drh dlm bntuk Dana Perimbangan Good Governance Strate gi Dalam bentuk:

Perumda ( UU 23/2014) • Perseroda ( UU 23/2014)

PT (UU 40/2007)

Jenis Usaha

Profit:

• Bank (BPD, BPR Pemda) • Non Bank (UMKM, BKK) • Dana Bergulir

• Aneka Usaha (Tambang, Perkebunan, Migas, dsb)

Non Profit

• PDAM (public service)


(14)

KOMPOSISI PENDAPATAN PROVINSI TA 2014

PAD DANA PERIMBANGAN

Total Pendap -atan 245.811,13 dalam miliar rupiah

KOMPOSISI PENDAPATAN PROVINSI, KABUPATEN/KOTA TA 2014

PAD DANA PERIMBANGAN

dalam miliar rupiah Total

Pendap-atan 796.864,84

KOMPOSISI PENDAPATAN KAB&KOTA TA 2014

PAD DANA PERIMBANGAN Total

Pendap-atan 551.053,70 dalam miliar ru-piah Sumber Data : Perda APBD, Ditjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, 2014 14


(15)

Belanja Daerah diprioritaskan untuk mendanai

Urusan Pemerintahan Wajib yg terkait Pelayanan Dasar

yg ditetapkan dengan SPM.

Belanja Daerah berpedoman pada standar teknis dan

standar harga satuan regional sesuai dgn per-UU-an.

Belanja Daerah untuk pendanaan Urusan Pemerintahan

yg menjadi kewenangan Daerah selain berpedoman

pada ASB dan SHS Regional sesuai dengan per-UU-an.

Belanja hibah dan bantuan sosial dianggarkan dalam

APBD sesuai dengan kemampuan keuangan Daerah

setelah memprioritaskan pemenuhan belanja Urusan

Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan,

kecuali ditentukan lain dalam per-UU-an.

Belanja Daerah diprioritaskan untuk mendanai

Urusan Pemerintahan Wajib yg terkait Pelayanan Dasar

yg ditetapkan dengan SPM.

Belanja Daerah berpedoman pada standar teknis dan

standar harga satuan regional sesuai dgn per-UU-an.

Belanja Daerah untuk pendanaan Urusan Pemerintahan

yg menjadi kewenangan Daerah selain berpedoman

pada ASB dan SHS Regional sesuai dengan per-UU-an.

Belanja hibah dan bantuan sosial dianggarkan dalam

APBD sesuai dengan kemampuan keuangan Daerah

setelah memprioritaskan pemenuhan belanja Urusan

Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan,

kecuali ditentukan lain dalam per-UU-an.

BELANJA (Pasal 298)


(16)

Ketentuan mengenai belanja kepala daerah

dan wakil kepala daerah diatur dengan peraturan

pemerintah.

Ketentuan mengenai belanja pimpinan dan

anggota

DPRD

diatur

dalam

peraturan

pemerintah.

Ketentuan mengenai belanja kepala daerah

dan wakil kepala daerah diatur dengan peraturan

pemerintah.

Ketentuan mengenai belanja pimpinan dan

anggota

DPRD

diatur

dalam

peraturan

pemerintah.

BELANJA KDH/WKDH

PIMPINAN dan ANGGOTA DPRD

(Pasal 299)

BELANJA KDH/WKDH

PIMPINAN dan ANGGOTA DPRD

(Pasal 299)


(17)

Rancangan Perda Kab/Kota ttg APBD yg telah

disetujui bersama dan rancangan peraturan

Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sebelum

ditetapkan oleh Bupati/Walikota, paling lama 3 Hari,

disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi,

dilampiri RKPD, serta KUA dan PPAS yang disepakati

antara kepala daerah dan DPRD.

Gubernur melakukan evaluasi terhadap rancangan

Perda Kab/Kota tentang APBD dan rancangan

peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD.

EVALUASI R-APBD KAB/KOTA

(Pasal 315)

EVALUASI R-APBD KAB/KOTA

(Pasal 315)


(18)

Evaluasi dilakukan untuk menguji kesesuaian

rancangan Perda Kab/Kota tentang APBD dan

rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang

penjabaran APBD dengan:

• ketentuan per-UU-an yang lebih tinggi;

• kepentingan umum;

• RKPD serta KUA dan PPAS; dan d. RPJMD.

Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur

kepada Bupati/Walikota paling lama 15 Hari

terhitung sejak rancangan Perda Kab/Kota dan

raper Bupati/Walikota dimaksud diterima.

Evaluasi dilakukan untuk menguji kesesuaian

rancangan Perda Kab/Kota tentang APBD dan

rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang

penjabaran APBD dengan:

• ketentuan per-UU-an yang lebih tinggi;

• kepentingan umum;

• RKPD serta KUA dan PPAS; dan d. RPJMD.

Hasil evaluasi disampaikan oleh Gubernur

kepada Bupati/Walikota paling lama 15 Hari

terhitung sejak rancangan Perda Kab/Kota dan

raper Bupati/Walikota dimaksud diterima.

Lanjutan ...

Lanjutan ...


(19)

Perubahan APBD dapat dilakukan jika terjadi:

perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA;

keadaan yg menyebabkan harus dilakukan pergeseran

anggaran antarunit organisasi, antarkegiatan, dan antarjenis

belanja;

keadaan yg menyebabkan sisa lebih perhitungan

anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk

pembiayaan dalam TA berjalan;

keadaan darurat;

keadaan luar biasa.

Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 kali dalam 1 tahun

anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa.

Keadaan luar biasa merupakan keadaan yg menyebabkan

estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dlm APBD

mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50%

persen.

Perubahan APBD dapat dilakukan jika terjadi:

perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA;

keadaan yg menyebabkan harus dilakukan pergeseran

anggaran antarunit organisasi, antarkegiatan, dan antarjenis

belanja;

keadaan yg menyebabkan sisa lebih perhitungan

anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk

pembiayaan dalam TA berjalan;

keadaan darurat;

keadaan luar biasa.

Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 kali dalam 1 tahun

anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa.

Keadaan luar biasa merupakan keadaan yg menyebabkan

estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dlm APBD

mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50%

persen.

PERUBAHAN APBD (Pasal 316)

PERUBAHAN APBD (Pasal 316)


(20)

Daerah dapat mendirikan BUMD

Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

ditetapkan dengan Perda.

BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas

perusahaan umum Daerah dan perusahaan perseroan

Daerah.

Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

bertujuan untuk:

memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian

Daerah pada umumnya;

menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa

penyediaan barang dan/atau jasa yg bermutu bagi

pemenuhan hajat hidup masyarakat sesuai kondisi,

karakteristik dan potensi Daerah yg bersangkutan

berdasarkan tata kelola perusahaan yang baik;

• memperoleh laba dan/atau keuntungan

Daerah dapat mendirikan BUMD

Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

ditetapkan dengan Perda.

BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas

perusahaan umum Daerah dan perusahaan perseroan

Daerah.

Pendirian BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

bertujuan untuk:

memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian

Daerah pada umumnya;

menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa

penyediaan barang dan/atau jasa yg bermutu bagi

pemenuhan hajat hidup masyarakat sesuai kondisi,

karakteristik dan potensi Daerah yg bersangkutan

berdasarkan tata kelola perusahaan yang baik;

• memperoleh laba dan/atau keuntungan

BUMD (Pasal 331)


(21)

(Pasal 333)

Penyertaan modal Daerah ditetapkan dengan Perda.

Penyertaan modal Daerah dapat dilakukan untuk

pembentukan BUMD dan penambahan modal BUMD.

Penyertaan modal Daerah dapat berupa uang dan barang

milik Daerah.

Barang milik Daerah dinilai sesuai nilai riil pada saat

barang milik Daerah akan dijadikan penyertaan modal.

Nilai riil diperoleh dengan melakukan penafsiran harga

barang milik Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

(Pasal 333)

Penyertaan modal Daerah ditetapkan dengan Perda.

Penyertaan modal Daerah dapat dilakukan untuk

pembentukan BUMD dan penambahan modal BUMD.

Penyertaan modal Daerah dapat berupa uang dan barang

milik Daerah.

Barang milik Daerah dinilai sesuai nilai riil pada saat

barang milik Daerah akan dijadikan penyertaan modal.

Nilai riil diperoleh dengan melakukan penafsiran harga

barang milik Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Lanjutan .

..


(22)

(Pasal 336)

Laba perusahaan umum Daerah ditetapkan oleh

KDH selaku wakil daerah sebagai pemilik modal

sesuai dengan ketentuan anggaran dasar dan

ketentuan per-UU-an.

Laba perusahaan umum Daerah yang menjadi hak

Daerah disetor ke kas Daerah setelah disahkan

oleh kepala daerah selaku wakil Daerah sebagai

pemilik modal.

Laba perusahaan umum Daerah dapat ditahan atas

persetujuan KDH selaku wakil Daerah sbg pemilik

modal.

(Pasal 336)

Laba perusahaan umum Daerah ditetapkan oleh

KDH selaku wakil daerah sebagai pemilik modal

sesuai dengan ketentuan anggaran dasar dan

ketentuan per-UU-an.

Laba perusahaan umum Daerah yang menjadi hak

Daerah disetor ke kas Daerah setelah disahkan

oleh kepala daerah selaku wakil Daerah sebagai

pemilik modal.

Laba perusahaan umum Daerah dapat ditahan atas

persetujuan KDH selaku wakil Daerah sbg pemilik

modal.


(23)

23

Penganggaran

Memperhatikan rasionalitas dengan memperhitungkan nilai kekayaan daerah yang dipisahkan dan memperhatikan perolehan manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya dalam jangka waktu tertentu, dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi Daerah.

Pengertian rasionalitas dalam konteks hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan:

Memperhatikan rasionalitas dengan memperhitungkan nilai kekayaan daerah yang dipisahkan dan memperhatikan perolehan manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya dalam jangka waktu tertentu, dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi Daerah.

Pengertian rasionalitas dalam konteks hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan:

Bagi perusahaan daerah yg menjalankan fungsi

pemupukan laba

(profit oriented)

adalah mampu

menghasilkan keuntungan atau deviden dalam rangka

meningkatkan PAD; dan

Bagi perusahaan daerah yg menjalankan fungsi

pemupukan laba

(profit oriented)

adalah mampu

menghasilkan keuntungan atau deviden dalam rangka

meningkatkan PAD; dan

Bagi perusahaan daerah yg menjalankan fungsi

kemanfaatan umum

(public service oriented)

adalah

mampu meningkatkan baik kualitas maupun cakupan

layanan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

masyarakat.

Bagi perusahaan daerah yg menjalankan fungsi

kemanfaatan umum

(public service oriented)

adalah

mampu meningkatkan baik kualitas maupun cakupan

layanan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

masyarakat.


(24)

24

tingkat  rasionalitas  bagian  laba  atas  penyertaan 

modal  harus  memperhatikan  jumlah  total 

penyertaan  modal    sampai  dengan  Tahun 

Anggaran 2015

tingkat  rasionalitas  bagian  laba  atas  penyertaan 

modal  harus  memperhatikan  jumlah  total 

penyertaan  modal    sampai  dengan  Tahun 

Anggaran 2015

penyertaan  modal  yg  belum  memberikan  bagian 

laba  yg  rasional  harus  menunjukan  kinerja  yg 

memadai 

(performance  based),  dgn  mengefektifkan 

peran  dewan  komisaris  sbg  pemegang  saham 

pengendali dan penajaman Rapat Umum Pemegang 

Saham  (RUPS)  ke  arah  peningkatan  kinerja  dalam 

perolehan  bagian  laba  bagi  Pemda  sesuai  dgn 

tujuan penyertaan modal dlm rangka meningkatkan 

PAD.

penyertaan  modal  yg  belum  memberikan  bagian 

laba  yg  rasional  harus  menunjukan  kinerja  yg 

memadai 

(performance  based)

,  dgn  mengefektifkan 

peran  dewan  komisaris  sbg  pemegang  saham 

pengendali dan penajaman Rapat Umum Pemegang 

Saham  (RUPS)  ke  arah  peningkatan  kinerja  dalam 

perolehan  bagian  laba  bagi  Pemda  sesuai  dgn 

tujuan penyertaan modal dlm rangka meningkatkan 

PAD.


(25)

INFORMASI PEMERINTAHAN DAERAH

INFORMASI PEMERINTAHAN DAERAH

Pasal 391

(1) Pemerintah Daerah wajib menyediakan informasi

Pemerintahan Daerah yang terdiri atas:

a. informasi pembangunan Daerah; dan

b. informasi keuangan Daerah.

(2)  Informasi  Pemerintahan  Daerah  sebagaimana 

dimaksud

pada ayat (1) dikelola dalam suatu sistem informasi

Pemerintahan Daerah.

Pasal 393

(1) Informasi  keuangan  Daerah  sebagaimana  dimaksud 

dalam  Pasal  391  ayat  (1)  huruf  b  paling sedikit memuat 

informasi  anggaran, pelaksanaan  anggaran,  dan laporan 

keuangan

Pasal 391

(1) Pemerintah Daerah wajib menyediakan informasi

Pemerintahan Daerah yang terdiri atas:

a. informasi pembangunan Daerah; dan

b. informasi keuangan Daerah.

(2)  Informasi  Pemerintahan  Daerah  sebagaimana 

dimaksud

pada ayat (1) dikelola dalam suatu sistem informasi

Pemerintahan Daerah.

Pasal 393

(1) Informasi  keuangan  Daerah  sebagaimana  dimaksud 

dalam  Pasal  391  ayat  (1)  huruf  b  paling sedikit memuat 

informasi  anggaran, pelaksanaan  anggaran,  dan laporan 

keuangan


(26)

VI.

POLA PENGELOLAAN DANA PEMILUKADA DALAM

KONTEKS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


(27)

KEBIJAKAN ALOKASI DANA PEMILUKADA

KEBIJAKAN ALOKASI DANA PEMILUKADA

PEMILUKADA

PEMILUKADA

WAJIB DIANGGARKAN DALAM APBD

WAJIB DIANGGARKAN DALAM APBD

APBD BELUM

DITETAPKAN APBD BELUM

DITETAPKAN

APBD TELAH DITETAPKAN APBD TELAH DITETAPKAN

DIANGGARKAN SESUAI SISDUR

PENGANGGARAN DANA PEMILUKADA

DIANGGARKAN SESUAI SISDUR

PENGANGGARAN DANA PEMILUKADA

DIANGGARKAN DENGAN SISDUR PERGESERAN ANGGARAN BTT DAN/ATAU RASIONALISASI BELANJA MELALUI PERUBAHAN PERKADA PENJABARAN APBD

MENDAHULUI PENETAPAN PERDA PERUBAHAN APBD DENGAN PEMBERITAHUAN KEPADA DPRD DIANGGARKAN DENGAN SISDUR PERGESERAN ANGGARAN BTT DAN/ATAU RASIONALISASI BELANJA MELALUI PERUBAHAN PERKADA PENJABARAN APBD

MENDAHULUI PENETAPAN PERDA PERUBAHAN APBD DENGAN PEMBERITAHUAN KEPADA DPRD

BESARAN DANA PEMILUKADA BESARAN DANA

PEMILUKADA

MEMPERHATIKAN SISTEM DAN

MEMPERHATIKAN SISTEM DAN

TAHAPAN PEMILUKADA

TAHAPAN PEMILUKADA


(28)

Bawaslu Prov

Bawaslu Prov

KPU Prov

KPU Prov

PENGANGGARAN DANAPEMILUKADA

HIBAH

HIBAH

Pendanaan kebutuhan pengamanan dan penanganan

kasus pelaksanaan Pemilihan KDH dan WKDH

dianggarkan dalam bentuk hibah atau program dan

kegiatan pada SKPD yang secara fungsional terkait

sesuai peraturan per-UU-an

Pendanaan kebutuhan pengamanan dan penanganan

kasus pelaksanaan Pemilihan KDH dan WKDH

dianggarkan dalam bentuk hibah atau program dan

kegiatan pada SKPD yang secara fungsional terkait

sesuai peraturan per-UU-an

Panwaslu

Kab/Kota

Panwaslu

Kab/Kota

KPU Kab/Kota

KPU Kab/Kota

PMDN 44/2007 ... PMDN

57/2009


(29)

VII.

POLA PENGELOLAAN DANA DESA DALAM KONTEKS

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


(30)

DASAR HUKUM

DASAR HUKUM

30

UU 6/2014  tentang Desa

UU 6/2014  tentang Desa

PP 43/2014 tentang   Peraturan 

Pelaksanaan UU  6/2014 tentang Desa;

PP 43/2014 tentang   Peraturan 

Pelaksanaan UU  6/2014 tentang Desa;

PMDN 37/2014 tentang  Pedoman  Penyusunan APBD TA 2015; PMDN 37/2014 tentang  Pedoman 

Penyusunan APBD TA 2015;

PP 60/ 2014 tentang  Dana Desa yang 

Bersumber dari  APBN

PP 60/ 2014 tentang  Dana Desa yang 

Bersumber dari  APBN


(31)

31

PADesa

PADesa (Dana Desa dan “Alokasi APBN  Desa Adat)” “Alokasi APBN  (Dana Desa dan 

Desa Adat)”

“Bagian dari hasil  pajak daerah  dan 

retribusi daerah  Kab/Kota”

“Bagian dari hasil  pajak daerah  dan 

retribusi daerah  Kab/Kota”

“ADD”

“ADD” Keuangan APBD “Bantuan 

Prov/Kab” “Bantuan  Keuangan APBD 

Prov/Kab”

Hibah dan  SumbanganHibah dan  Sumbangan

Lain­lain 

Pendapatan Desa  Yang Sah

Lain­lain 

Pendapatan Desa  Yang Sah

PENDAPATAN DESA

(PASAL 72 UU 6/2013)

PENDAPATAN DESA


(32)

32

Per­UU­an 

yang 

mengatur  mengenai 

alokasi  APBN  yang 

diperuntukan  bagi 

desa dan desa adat

Per­UU­an 

yang 

mengatur  mengenai 

alokasi  APBN  yang 

diperuntukan  bagi 

desa dan desa adat

DANA DESA 

DAN DESA 

ADAT

DANA DESA 

DAN DESA 

ADAT

Pendapatan yg diperuntukan bagi desa dan desa adat yang bersumber dari APBN dalam rangka membiayai penyeleng garaan pemerintahan, pembangunan serta pember dayaan masyarakat, dan kemasyarakatan

sebagaimana diatur dalam Pasal 72 ayat (1) huruf b dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dianggarkan dalam APBD pemerintah kab/kota TA 2015.

Di struktur pendapatan, Transper Pemerintah Pusat (Dana Desa)

Pendapatan yg diperuntukan bagi desa dan desa adat yang bersumber dari APBN dalam rangka membiayai penyeleng garaan pemerintahan, pembangunan serta pember dayaan masyarakat, dan kemasyarakatan

sebagaimana diatur dalam Pasal 72 ayat (1) huruf b dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dianggarkan dalam APBD pemerintah kab/kota TA 2015.

Di struktur pendapatan, Transper Pemerintah Pusat (Dana Desa)


(33)

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Tunjangan Profesi Guru (TPG)

Tunjangan Profesi Guru (TPG)

Dana Insentif Daerah

Dana Insentif Daerah

“Dana Desa dan Desa Adat”

“Dana Desa dan Desa Adat”

DANA DESA DAN DESA ADAT

DANA DESA DAN DESA ADAT

33

dianggarkan dianggarkan

LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH

DALAM APBD KABUPATEN/KOTA

LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH

DALAM APBD KABUPATEN/KOTA

Lanjutan ….


(34)

Lanjutan ….

BELANJA BAGI HASIL PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH

BELANJA BAGI HASIL PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH

Dalam rangka pelaksanaan Pasal 72 ayat (1) huruf c dan ayat (3) UU 6/2014,  pemerintah kab/kota menganggarkan belanja Bagi Hasil Pajak Daerah dan  Retribusi  Daerah  kepada  pemerintah  desa  paling  sedikit  10%  dari  pajak  daerah dan retribusi daerah kab/kota.

Dalam rangka pelaksanaan Pasal 72 ayat (1) huruf c dan ayat (3) UU 6/2014,  pemerintah kab/kota menganggarkan belanja Bagi Hasil Pajak Daerah dan  Retribusi  Daerah  kepada  pemerintah  desa  paling  sedikit  10%  dari  pajak  daerah dan retribusi daerah kab/kota.

PASAL 72 AYAT (1) HURUF C DAN AYAT (3) UU 6/2014

PASAL 72 AYAT (1) HURUF C DAN AYAT (3) UU 6/2014

KABUPATEN /KOTA KABUPATEN

/KOTA

PAJAK DAERAH  PAJAK DAERAH 

RETRIBUSI  DAERAH   RETRIBUSI 

DAERAH  

PALING SEDIKIT  10%

PALING SEDIKIT  10%


(35)

Kepada 

Pemda 

Lainnya

Kepada 

Pemda 

Lainnya

  Partai 

Politik

  

Partai 

Politik

  

Pemerinta

h Desa”

  

Pemerinta

h Desa”

BELANJA BANTUAN 

KEUANGAN 

BELANJA BANTUAN 

KEUANGAN 

Lanjutan ….


(36)

Pasal 72 ayat (1) huruf b dan ayat (2) UU 6/2014

Pemerintah Kab/Kota

Pemerintah Kab/Kota

Alokasi  dana  untuk  desa  dan  desa 

adat dari APBN dalam jenis belanja  bentuan  keuangan  kepada  pemerintah  desa    untuk  membiayai  penyelenggaraan  pemerintahan,  pembangunan  serta  pemberdayaan  masyarakat, dan kemasyarakatan

Alokasi  dana  untuk  desa  dan  desa  adat dari APBN dalam jenis belanja 

bentuan  keuangan  kepada 

pemerintah  desa    untuk  membiayai  penyelenggaraan  pemerintahan,  pembangunan  serta  pemberdayaan  masyarakat, dan kemasyarakatan

ADD  untuk  pemerintah  desa  dalam  jenis  belanja  bantuan  keuangan  kepada  pemerintah  desa  paling  sedikit  10%  dari  dana  perimbangan  yang  diterima  setelah  dikurangi  DAK

ADD  untuk  pemerintah  desa  dalam  jenis  belanja  bantuan  keuangan  kepada  pemerintah  desa  paling  sedikit  10%  dari  dana  perimbangan  yang  diterima  setelah  dikurangi  DAK

Lanjutan ….

menganggarkan

menganggarkan


(37)

Pasal 72 

ayat (1) 

huruf e 

UU 6/2014

Pemerintah 

Prov/Kab/Kota

Pemerintah 

Prov/Kab/Kota

Bantuan keuangan lainnya 

kepada pemerintah desa

Bantuan keuangan lainnya 

kepada pemerintah desa

Lanjutan ….

memberikan

memberikan


(38)

APBDes

PADesa

PADesa Alokasi APBNAlokasi APBN Bagian dari hasil pajak daerah  dan retribusi 

daerah Kab/Kota

Bagian dari hasil pajak  daerah  dan retribusi 

daerah Kab/Kota ADDADD

Bantuan Keuangan  APBD Prov/Kab

Bantuan Keuangan  APBD Prov/Kab

Hibah dan sumbangan

Hibah dan sumbangan Lain­lain pendapatan Lain­lain pendapatan Desa yg sah.Desa yg sah.

Paling sedikit 70% untuk:

Penyelenggaraan pemerintahan desa; 

Pelaksanaan pembangunan desa;

Pembinaan kemasyarakatan desa;

Pemberdayaan masyarakat desa.

Paling sedikit 70% untuk:

Penyelenggaraan pemerintahan desa; 

Pelaksanaan pembangunan desa;

Pembinaan kemasyarakatan desa;

Pemberdayaan masyarakat desa.

Paling banyak 30% untuk:

Penghasilan  tetap  dan  tunjangan 

kepala desa dan perangkat desa; 

Operasional pemerintah desa;

Tunjangan dan operasional BPD;

Insentif  RT dan RW.

Paling banyak 30% untuk:

Penghasilan  tetap  dan  tunjangan 

kepala desa dan perangkat desa; 

Operasional pemerintah desa;

Tunjangan dan operasional BPD;

Insentif  RT dan RW.

Pasal 100 PP 43/2014

Pasal 100 PP 43/2014

bersumber bersumber

digunakan digunakan


(39)

Pemerintah kab/kota menganggarkan

biaya pemilihan Kepala Desa dalam

APBD Kab/Kota TA 2015 untuk

pengadaan surat suara, kotak suara,

kelengkapan

peralatan

lainnya,

honorarium

panitia,

dan

biaya

pelantikan sesuai amanat Pasal 34

ayat (6) UU 6/2014

Pemerintah kab/kota menganggarkan

biaya pemilihan Kepala Desa dalam

APBD Kab/Kota TA 2015 untuk

pengadaan surat suara, kotak suara,

kelengkapan

peralatan

lainnya,

honorarium

panitia,

dan

biaya

pelantikan sesuai amanat Pasal 34

ayat (6) UU 6/2014

Pemerintah provinsi dan pemerintah

kabupaten/kota

menganggarkan

dalam APBD TA 2015 dalam rangka

pembinaan

dan

pengawasan

pemerintahan

desa

sebagaimana

diatur dalam Pasal 112, Pasal 114 dan

Pasal 115 UU 6/2014

Pemerintah provinsi dan pemerintah

kabupaten/kota

menganggarkan

dalam APBD TA 2015 dalam rangka

pembinaan

dan

pengawasan

pemerintahan

desa

sebagaimana

diatur dalam Pasal 112, Pasal 114 dan

Pasal 115 UU 6/2014

       Lanjutan ...

P ro g ra m d an K eg ia ta n S K P D Te rk ai t 39


(40)

40

Pasal 39 ayat (1) Perpres 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Perpres 111/2013 tentang

Perubahan Atas Perpres 12/2013

Pasal 39 ayat (1) Perpres 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Perpres 111/2013 tentang

Perubahan Atas Perpres 12/2013

Landasan Kebijakan

Landasan Kebijakan

Perpres 32/2014 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi JKN Pada FKTP Milik Pemerintah Daerah

Perpres 32/2014 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi JKN Pada FKTP Milik Pemerintah Daerah

Permenkes 19/2014 tentang Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada FKTP Milik Pemerintah Daerah

Permenkes 19/2014 tentang Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada FKTP Milik Pemerintah Daerah

SE MDN Nomor 900/2280/SJ tanggal 5 Mei 2014, Hal Petunjuk

Teknis Penganggaran, Pelaksanaan dan Penatausahaan, Serta Pertanggungjawaban Dana Kapitasi JKN pada FKTP Milik Pemerintah Daerah

SE MDN Nomor 900/2280/SJ tanggal 5 Mei 2014, Hal Petunjuk

Teknis Penganggaran, Pelaksanaan dan Penatausahaan, Serta Pertanggungjawaban Dana Kapitasi JKN pada FKTP Milik Pemerintah Daerah

Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi


(41)

41

Pendapatan dana kapitasi JKN pada FKTP milik pemda yg

belum menerapkan PPK-BLUD mempedomani Perpres

32/2014 ttg Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi

JKN pada FKTP Milik Pemda dan SE MDN No 900/2280/SJ

tgl 5 Mei 2014 Hal Petunjuk Teknis Penganggaran,

Pelaksanaan dan Penatausahaan serta Pertanggung

jawaban Dana Kapitasi JKN pada FKTP Milik Pemda

.

Pendapatan dana kapitasi JKN pada FKTP milik pemda yg

belum menerapkan PPK-BLUD mempedomani Perpres

32/2014 ttg Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi

JKN pada FKTP Milik Pemda dan SE MDN No 900/2280/SJ

tgl 5 Mei 2014 Hal Petunjuk Teknis Penganggaran,

Pelaksanaan dan Penatausahaan serta Pertanggung

jawaban Dana Kapitasi JKN pada FKTP Milik Pemda

.

Dana kapitasi adalah besaran pembayaran per

bulan yang dibayar di muka kepada FKTP

berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa

memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan

kesehatan yang diberikan.

Dana kapitasi adalah besaran pembayaran per

bulan yang dibayar di muka kepada FKTP

berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa

memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan

kesehatan yang diberikan.

Sejak  diundangkannya  Perpres  32/2014  dan  Permenkes 

19/2014  dana  Kapitasi  langsung  dibayarkan  oleh  BPJS 

Kesehatan ke FKTP milik Pemerintah Daerah. 

Sejak  diundangkannya  Perpres  32/2014  dan  Permenkes 

19/2014  dana  Kapitasi  langsung  dibayarkan  oleh  BPJS 

Kesehatan ke FKTP milik Pemerintah Daerah. 


(42)

42

1 2 3 4

Bagan Alir FKTP Non-BLUD


(43)

43

Pembayaran klaim non Kapitasi pelayanan JKN oleh 

BPJS  Kesehatan  di  FKTP  milik  Pemerintah  Daerah 

dilakukan  dengan  cara  mentransper  kepada 

Bendahara FKTP, selanjutnya oleh Bendahara FKTP 

disetor kepada Kas Daerah

Pembayaran klaim non Kapitasi pelayanan JKN oleh 

BPJS  Kesehatan  di  FKTP  milik  Pemerintah  Daerah 

dilakukan  dengan  cara  mentransper  kepada 

Bendahara FKTP, selanjutnya oleh Bendahara FKTP 

disetor kepada Kas Daerah

Dana  Non  Kapitasi  yang  telah  disetorkan  ke  Kas 

Daerah  oleh  FKTP  dapat  dimanfaatkan  kembali 

dengan cara Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus; 

(1)  mengusulkan  adanya  peraturan  kepala  daerah 

untuk  pemanfaatan  dana  tersebut;  (2)  membuat  dan 

mengusulkan  dalam  bentuk  program  dan  kegiatan 

pada RKA­DPA SKPD Dinas Kesehatan. 

Dana  Non  Kapitasi  yang  telah  disetorkan  ke  Kas 

Daerah  oleh  FKTP  dapat  dimanfaatkan  kembali 

dengan cara Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus; 

(1)  mengusulkan  adanya  peraturan  kepala  daerah 

untuk  pemanfaatan  dana  tersebut;  (2)  membuat  dan 

mengusulkan  dalam  bentuk  program  dan  kegiatan 

pada RKA­DPA SKPD Dinas Kesehatan. 


(44)

Pelayanan Kesehatan Yang Tidak

Dijamin

Pelayanan Kesehatan Yang Tidak

Dijamin

a.

pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa

melalui prosedur sebagaimana diatur dalam

peraturan yang berlaku;

b.pelayanan kesehatan yang dilakukan di

Fasilitas Kesehatan yg tidak bekerjasama dgn

BPJS Kesehatan, kecuali untuk kasus gawat

darurat;

c.pelayanan kesehatan yg telah dijamin oleh

program jaminan kecelakaan kerja terhadap

penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja

atau hubungan kerja;

d. pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar

negeri;

e. pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik;

f. pelayanan untuk mengatasi infertilitas;

g. Pelayanan meratakan gigi (ortodensi);

h.

gangguan

kesehatan/penyakit

akibat

ketergantungan obat dan/atau alkohol;

a.

pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa

melalui prosedur sebagaimana diatur dalam

peraturan yang berlaku;

b.pelayanan kesehatan yang dilakukan di

Fasilitas Kesehatan yg tidak bekerjasama dgn

BPJS Kesehatan, kecuali untuk kasus gawat

darurat;

c.pelayanan kesehatan yg telah dijamin oleh

program jaminan kecelakaan kerja terhadap

penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja

atau hubungan kerja;

d. pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar

negeri;

e. pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik;

f. pelayanan untuk mengatasi infertilitas;

g. Pelayanan meratakan gigi (ortodensi);

h.

gangguan

kesehatan/penyakit

akibat


(45)

PT. Askes (Persero)

Pelayanan Kesehatan Yang Tidak

Dijamin

Pelayanan Kesehatan Yang Tidak

Dijamin

i. gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri

sendiri, atau akibat melakukan hobi yang

membahayakan diri sendiri;

j. pengobatan komplementer, alternatif dan

tradisional, termasuk akupuntur, shin she,

chiropractic, yang belum dinyatakan efektif

berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health

technology assessment);

k. pengobatan dan tindakan medis yang

dikategorikan sebagai percobaan (eksperimen);

l. alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi, dan

susu;

m. perbekalan kesehatan rumah tangga;

n. pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa

tanggap darurat, kejadian luar biasa/wabah;

o. biaya pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan

dengan Manfaat Jaminan Kesehatan yang diberikan.

i

. gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri

sendiri, atau akibat melakukan hobi yang

membahayakan diri sendiri;

j. pengobatan komplementer, alternatif dan

tradisional, termasuk akupuntur, shin she,

chiropractic, yang belum dinyatakan efektif

berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health

technology assessment);

k. pengobatan dan tindakan medis yang

dikategorikan sebagai percobaan (eksperimen);

l. alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi, dan

susu;

m. perbekalan kesehatan rumah tangga;

n. pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa

tanggap darurat, kejadian luar biasa/wabah;

o. biaya pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan

dengan Manfaat Jaminan Kesehatan yang diberikan.


(46)

Penganggaran  belanja  perjalanan  dinas  dalam  rangka 

kunjungan  kerja  dan  studi  banding,  baik  perjalanan  dinas 

dalam negeri maupun perjalanan dinas luar negeri, dilakukan 

secara  selektif,  frekuensi  dan  jumlah  harinya  dibatasi  serta 

memperhatikan target kinerja dari perjalanan dinas dimaksud 

sehingga  relevan  dengan  substansi  kebijakan  pemerintah 

daerah.  Hasil  kunjungan  kerja  dan  studi  banding  dilaporkan 

sesuai 

peraturan 

perundang­undangan. 

Khusus 

penganggaran perjalanan dinas luar negeri berpedoman pada 

Inpres  11/2005  tentang  Perjalanan  Dinas  Luar  Negeri  dan 

PMDN  11/2011  tentang  Pedoman  Perjalanan  Dinas  Ke  Luar 

Negeri  Bagi  Pejabat/Pegawai  di  lingkungan  Kementerian 

Dalam  Negeri,  Pemerintah  Daerah,  dan  Pimpinan  serta 

Anggota DPRD.

Penganggaran  belanja  perjalanan  dinas  dalam  rangka 

kunjungan  kerja  dan  studi  banding,  baik  perjalanan  dinas 

dalam negeri maupun perjalanan dinas luar negeri, dilakukan 

secara  selektif,  frekuensi  dan  jumlah  harinya  dibatasi  serta 

memperhatikan target kinerja dari perjalanan dinas dimaksud 

sehingga  relevan  dengan  substansi  kebijakan  pemerintah 

daerah.  Hasil  kunjungan  kerja  dan  studi  banding  dilaporkan 

sesuai 

peraturan 

perundang­undangan. 

Khusus 

penganggaran perjalanan dinas luar negeri berpedoman pada 

Inpres  11/2005  tentang  Perjalanan  Dinas  Luar  Negeri  dan 

PMDN  11/2011  tentang  Pedoman  Perjalanan  Dinas  Ke  Luar 

Negeri  Bagi  Pejabat/Pegawai  di  lingkungan  Kementerian 

Dalam  Negeri,  Pemerintah  Daerah,  dan  Pimpinan  serta 

Anggota DPRD.


(47)

Penyediaan anggaran untuk

perjalanan dinas yg

mengikutsertakan non PNSD

diperhitungkan dalam belanja

perjalanan dinas. Tata cara

penganggaran perjalanan dinas

dimaksud mengacu pada

ketentuan perjalanan dinas yg ditetapkan dgn peraturan kepala daerah.

Penyediaan anggaran untuk

perjalanan dinas yg

mengikutsertakan non PNSD

diperhitungkan dalam belanja

perjalanan dinas. Tata cara

penganggaran perjalanan dinas

dimaksud mengacu pada

ketentuan perjalanan dinas yg ditetapkan dgn peraturan kepala daerah.

O

Penganggaran untuk menghadiri pendidikan dan

pelatihan, bimbingan teknis atau sejenisnya yg terkait

dgn pengembangan sumber daya manusia Pimpinan

dan Anggota DPRD serta pejabat/staf pemerintah

daerah, yg tempat penyelenggaraannya di luar daerah

harus

dilakukan

sangat

selektif

dengan

mempertimbangkan

aspek-aspek

urgensi

dan

kompetensi serta manfaat yg akan diperoleh dari

kehadiran dalam pendidikan dan pelatihan, bimbingan

teknis atau sejenisnya guna pencapaian efektifitas

penggunaan anggaran daerah. Dalam rangka orientasi

dan pendalaman tugas Pimpinan dan Anggota DPRD

Provinsi dan DPRD Kab/Kota mempedomani PMDN

No.57 tahun 2011 dan PMDN No.34 tahun 2013 ttg

P-PMDN No. 57 Tahun 2011

Penganggaran untuk menghadiri pendidikan dan

pelatihan, bimbingan teknis atau sejenisnya yg terkait

dgn pengembangan sumber daya manusia Pimpinan

dan Anggota DPRD serta pejabat/staf pemerintah

daerah, yg tempat penyelenggaraannya di luar daerah

harus

dilakukan

sangat

selektif

dengan

mempertimbangkan

aspek-aspek

urgensi

dan

kompetensi serta manfaat yg akan diperoleh dari

kehadiran dalam pendidikan dan pelatihan, bimbingan

teknis atau sejenisnya guna pencapaian efektifitas

penggunaan anggaran daerah. Dalam rangka orientasi

dan pendalaman tugas Pimpinan dan Anggota DPRD

Provinsi dan DPRD Kab/Kota mempedomani PMDN

No.57 tahun 2011 dan PMDN No.34 tahun 2013 ttg

P-PMDN No. 57 Tahun 2011

Penganggaran untuk

penyelenggaraan kegiatan rapat, pendidikan dan pelatihan, bimbingan teknis atau sejenisnya diprioritaskan untuk menggunakan fasilitas aset daerah, seperti ruang rapat atau aula yg sudah tersedia milik pemerintah daerah.

Penganggaran untuk

penyelenggaraan kegiatan rapat, pendidikan dan pelatihan, bimbingan teknis atau sejenisnya diprioritaskan untuk menggunakan fasilitas aset daerah, seperti ruang rapat atau aula yg sudah tersedia milik pemerintah daerah.

O


(48)

Dalam rangka memenuhi kaidah-kaidah pengelolaan keuangan daerah, penganggaran belanja perjalanan dinas harus memperhatikan aspek pertanggungjawaban sesuai biaya riil atau lumpsum, khususnya untuk hal-hal sebagai berikut:

1) Sewa kendaraan dalam kota dibayarkan sesuai dengan biaya riil. Komponen sewa kendaraan hanya diberikan untuk Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota dan Pimpinan DPRD Provinsi;

2) Biaya transportasi dibayarkan sesuai dengan biaya riil; 3) Biaya penginapan dibayarkan sesuai dengan biaya riil;

Dalam hal pelaksana perjalanan dinas tidak menggunakan fasilitas hotel atau tempat penginapan lainnya, kepada yg bersangkutan diberikan biaya penginapan sebesar 30% dari tarif hotel di kota tempat tujuan sesuai dengan tingkatan pelaksana perjalanan dinas dan dibayarkan secara lumpsum.

4) Uang harian dan uang representasi dibayarkan secara lumpsum.

Standar satuan harga perjalanan dinas ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah, dengan mempedomani besaran satuan biaya yang berlaku dalam APBN sebagaimana diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam rangka memenuhi kaidah-kaidah pengelolaan keuangan daerah, penganggaran belanja perjalanan dinas harus memperhatikan aspek pertanggungjawaban sesuai biaya riil atau lumpsum, khususnya untuk hal-hal sebagai berikut:

1) Sewa kendaraan dalam kota dibayarkan sesuai dengan biaya riil. Komponen sewa kendaraan hanya diberikan untuk Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota dan Pimpinan DPRD Provinsi;

2) Biaya transportasi dibayarkan sesuai dengan biaya riil; 3) Biaya penginapan dibayarkan sesuai dengan biaya riil;

Dalam hal pelaksana perjalanan dinas tidak menggunakan fasilitas hotel atau tempat penginapan lainnya, kepada yg bersangkutan diberikan biaya penginapan sebesar 30% dari tarif hotel di kota tempat tujuan sesuai dengan tingkatan pelaksana perjalanan dinas dan dibayarkan secara lumpsum.

4) Uang harian dan uang representasi dibayarkan secara lumpsum.

Standar satuan harga perjalanan dinas ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah, dengan mempedomani besaran satuan biaya yang berlaku dalam APBN sebagaimana diatur dengan peraturan perundang-undangan.


(49)

(Sesuai PMK No. 53/PMK.02/2014 tentang  Standar Biaya Masukan  Tahun  Anggaran  2015)

(Sesuai PMK No. 53/PMK.02/2014 tentang  Standar Biaya Masukan 

Tahun  Anggaran  2015)

Satuan Biaya Perjalanan Dinas Dalam Negeri terdiri dari : Satuan Biaya Perjalanan Dinas Dalam Negeri terdiri dari : 1. Uang Harian :

1. Uang Harian : a. Luar Kota

b. Dalam Kota (lebih dari 8 jam) a. Luar Kota

b. Dalam Kota (lebih dari 8 jam) 2. Uang Representasi

2. Uang Representasi a. Luar Kota

b. Dalam Kota (lebih dari 8 jam) a. Luar Kota

b. Dalam Kota (lebih dari 8 jam) 3. Biaya Penginapan

3. Biaya Penginapan 4. Biaya Taksi 

4. Biaya Taksi 

5. Biaya Tiket Pesawat 5. Biaya Tiket Pesawat 6. Biaya Sewa Kendaraan 6. Biaya Sewa Kendaraan


(50)

1. Uang  Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri: 

1. Uang  Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri: 

Merupakan  penggantian  biaya  keperluan  sehari­hari  Pegawai  Aparatur  Sipil  Negara  dalam  menjalankan  perintah  perjalanan  dinas  di dalam negeri. 

Merupakan  penggantian  biaya  keperluan  sehari­hari  Pegawai  Aparatur  Sipil  Negara  dalam  menjalankan  perintah  perjalanan  dinas  di dalam negeri. 

2. Uang  Representasi hanya diberikan kepada :

2. Uang  Representasi hanya diberikan kepada :

1. Pejabat Negara (ketua/wakil ketua dan anggota lembaga tinggi negara,  Menteri);

2. Pejabat Eselon I; 3. Pejabat Eselon II

Yang  melaksanakan  perjalanan  dinas  jabatan  dalam  rangka  pelaksanaan  tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan.  

1. Pejabat Negara (ketua/wakil ketua dan anggota lembaga tinggi negara,  Menteri);

2. Pejabat Eselon I; 3. Pejabat Eselon II

Yang  melaksanakan  perjalanan  dinas  jabatan  dalam  rangka  pelaksanaan  tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan.  

3. Biaya Penginapan 

3. Biaya Penginapan 

 Merupakan  satuan  biaya  yang  digunakan  untuk  pengalokasian  biaya penginapan dalam RKA­K/L (RKA SKPD utk daerah) sesuai  dengan peruntukannya

Dalam  pelaksanaannya  mekanisme  pertanggungjawaban  disesuaikan dengan bukti pengeluaran yang sah

 Merupakan  satuan  biaya  yang  digunakan  untuk  pengalokasian  biaya penginapan dalam RKA­K/L (RKA SKPD utk daerah) sesuai  dengan peruntukannya

 Dalam  pelaksanaannya  mekanisme  pertanggungjawaban  disesuaikan dengan bukti pengeluaran yang sah


(51)

4. Biaya Taksi :

4. Biaya Taksi :

Merupakan  satuan  biaya  yang  digunakan  untuk  perencanaan 

kebutuhan  biaya  tarif  satu  kali  perjalanan  taksi  dari  kantor 

tempat  kedudukan  menuju  bandara/pelabuhan/terminal 

/stasiun  keberangkatan  atau  dari  bandara/pelabuhan/ 

terminal/stasiun  kedatangan  menuju  tempat  tujuan  di  kota 

bandara/pelabuhan/terminal/stasiun 

kedatangan 

dan 

sebaliknya  

Merupakan  satuan  biaya  yang  digunakan  untuk  perencanaan 

kebutuhan  biaya  tarif  satu  kali  perjalanan  taksi  dari  kantor 

tempat  kedudukan  menuju  bandara/pelabuhan/terminal 

/stasiun  keberangkatan  atau  dari  bandara/pelabuhan/ 

terminal/stasiun  kedatangan  menuju  tempat  tujuan  di  kota 

bandara/pelabuhan/terminal/stasiun 

kedatangan 

dan 

sebaliknya  

5. Tiket Pesawat  5. Tiket Pesawat 

Merupakan  satuan  biaya  untuk  pembelian  tiket  pesawat 

udara  pergi  pulan  (PP)  dari  bandara  keberangkatan  suatu 

kota ke bandara kota tujuan dalam perencanaan anggaran.

Dalam pelaksanaan anggaran, satuan biaya tiket perjalanan 

dinas  dalam  negeri  menggunakan  metode 

at  cost

  (sesuai 

pengeluaran)

Klasifikasi  tiket  perjalanan  dinas  mengacu  pada  Peraturan 

Menteri Keuangan yang mengatur tentang perjalanan dinas 

dalam negeri

Merupakan  satuan  biaya  untuk  pembelian  tiket  pesawat 

udara  pergi  pulan  (PP)  dari  bandara  keberangkatan  suatu 

kota ke bandara kota tujuan dalam perencanaan anggaran.

Dalam pelaksanaan anggaran, satuan biaya tiket perjalanan 

dinas  dalam  negeri  menggunakan  metode 

at  cost

  (sesuai 

pengeluaran)

Klasifikasi  tiket  perjalanan  dinas  mengacu  pada  Peraturan 

Menteri Keuangan yang mengatur tentang perjalanan dinas 

dalam negeri


(52)

6. Sewa  Kendaraan :

6. Sewa  Kendaraan :

 Merupakan satuan biaya yang digunakan untuk merencanakan  kebutuhan sewa kendaraan roda 4 dan roda 6 untuk kegiatan yang  sifatnya insidentil (tidak terus menerus)

 Satuan biaya ini diperuntukkan bagi :

Merupakan satuan biaya yang digunakan untuk merencanakan  kebutuhan sewa kendaraan roda 4 dan roda 6 untuk kegiatan yang  sifatnya insidentil (tidak terus menerus)

 Satuan biaya ini diperuntukkan bagi :

a. Pejabat Negara yang melakukan perjalanan dinas dalam negeri di  tempat tujuan, dan

b. Pelaksanaan kegiatan yang membutuhkan mobilitas tinggi, 

berskala besar, dan tidak tersedia kendaraan dinas serta dilakukan  secara efektif dan efisien

a. Pejabat Negara yang melakukan perjalanan dinas dalam negeri di  tempat tujuan, dan

b. Pelaksanaan kegiatan yang membutuhkan mobilitas tinggi, 

berskala besar, dan tidak tersedia kendaraan dinas serta dilakukan  secara efektif dan efisien

 Satuan biaya sewa kendaraan dinas sudah termasuk bahan bakar  dan pengemudi

Satuan biaya sewa kendaraan dinas sudah termasuk bahan bakar  dan pengemudi


(53)

ANALISIS

DAN

IDETIFIKASI

APBD KOTA SURABAYA

TAHUN ANGGARAN 2014 DAN

2015

ANALISIS

DAN

IDETIFIKASI

APBD KOTA SURABAYA

TAHUN ANGGARAN 2014 DAN

2015


(54)

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH YANG BAIK

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH YANG BAIK

1. Ketepatan waktu penetapan APBD.

2. Porsi belanja APBD untuk kesejahteraan

masyarakat semakin meningkat.

3. Tingginya prosentase realisasi APBD

dan rendahnya SiLPA.

4. Ketepatan

Penyampaian

Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).

5. Meningkatnya kualitas Opini BPK atas

LKPD

1. Ketepatan waktu penetapan APBD.

2. Porsi belanja APBD untuk kesejahteraan

masyarakat semakin meningkat.

3. Tingginya prosentase realisasi APBD

dan rendahnya SiLPA.

4. Ketepatan

Penyampaian

Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).

5. Meningkatnya kualitas Opini BPK atas

LKPD


(55)

PROVINSI DAN KABUPATEN BARU

PROVINSI DAN KABUPATEN BARU

1. PROVINSI KALIMANTAN UTARA UU NO 20 /2012 TGL 16 NOP

2012.

Provinsi Kalimantan Utara dari Prov. Kalimantan Timur terdiri

dari :

1). Kabupaten Bulungan 4). Kota Tarakan,

dan

2). Kabupaten Nunukan 5). Kabupaten

Malinau

3). Kabupaten Tana Tidung.

2. Kab. Paningkal Abab Lematang Sumsel/ Jan 2013 Dan

Muratara

3. Kab Pesisir Barat di lampung /Nop 2012

4. Kab. Pengandaraan Di Jawa Barat /Nop 2012

5. Kab. Mahakam Ulu Kaltim/ Jan 2013

6. Kab. Mamuju Tengah Sulbar/ Jan 2013

7. Kab. Banggai Laut di Sulteng/Jan 2013

8. Kab. Kolaka Timur di Sultra/Jan 2013

9. Kab. Malaka di NTT/2013/Jan 2013

10.Kab. Pulau Tali Abu di Malut/Jan 2013

11.Kab. Manukwari Selatan dan Kab.Pergunungan Arfak di Papua

Brt/12

SAAT INI 34 PROVINSI DAN 505 KAB/KOTA MENJADI 539

PROV KAB/KOTA

1. PROVINSI KALIMANTAN UTARA UU NO 20 /2012 TGL 16 NOP

2012.

Provinsi Kalimantan Utara dari Prov. Kalimantan Timur terdiri

dari :

1). Kabupaten Bulungan 4). Kota Tarakan,

dan

2). Kabupaten Nunukan 5). Kabupaten

Malinau

3). Kabupaten Tana Tidung.

2. Kab. Paningkal Abab Lematang Sumsel/ Jan 2013 Dan

Muratara

3. Kab Pesisir Barat di lampung /Nop 2012

4. Kab. Pengandaraan Di Jawa Barat /Nop 2012

5. Kab. Mahakam Ulu Kaltim/ Jan 2013

6. Kab. Mamuju Tengah Sulbar/ Jan 2013

7. Kab. Banggai Laut di Sulteng/Jan 2013

8. Kab. Kolaka Timur di Sultra/Jan 2013

9. Kab. Malaka di NTT/2013/Jan 2013

10.Kab. Pulau Tali Abu di Malut/Jan 2013

11.Kab. Manukwari Selatan dan Kab.Pergunungan Arfak di Papua

Brt/12

SAAT INI 34 PROVINSI DAN 505 KAB/KOTA MENJADI 539

PROV KAB/KOTA


(56)

TAHUN 2014 (26) PROV TEPAT WAKTU ATAU 76,47% DARI 34 PROV DAN 92,86%

DARI TARGET KINERJA TA 2013 (28) PROV, TERLAMBAT 7 PROV MASINGS: - SUMATERA BARAT - BANTEN

- RIAU - DKI JAKARTA

- SUMATERA UTARA - MALUKU UTARA - LAMPUNG - PAPUA

TAHUN 2014 (26) PROV TEPAT WAKTU ATAU 76,47% DARI 34 PROV DAN 92,86%

DARI TARGET KINERJA TA 2013 (28) PROV, TERLAMBAT 7 PROV MASINGS: - SUMATERA BARAT - BANTEN

- RIAU - DKI JAKARTA

- SUMATERA UTARA - MALUKU UTARA - LAMPUNG - PAPUA

TAHUN 2013 (27) PROV TEPAT WAKTU ATAU 81,82% DARI 33

PROV DAN 103% DARI TARGET KINERJA TA 2012 26 PROV, TERLAMBAT 6 PROV MASINGS:

- ACEH - PAPUA

- RIAU - SULAWESI BARAT - DKI JAKARTA - PAPUA BARAT

TAHUN 2013 (27) PROV TEPAT WAKTU ATAU 81,82% DARI 33

PROV DAN 103% DARI TARGET KINERJA TA 2012 26 PROV, TERLAMBAT 6 PROV MASINGS:

- ACEH - PAPUA

- RIAU - SULAWESI BARAT - DKI JAKARTA - PAPUA BARAT

TAHUN 2015 (32) PROVI TEPAT WAKTU ATAU 94,12% DARI 34

PROV ATAU 106,66% DARI TARGET KINERJA TA 2014 (30) PROV, YANG TERLAMBAT:

1. ACEH 2. DKI

TAHUN 2015 (32) PROVI TEPAT WAKTU ATAU 94,12% DARI 34

PROV ATAU 106,66% DARI TARGET KINERJA TA 2014 (30) PROV, YANG TERLAMBAT:

1. ACEH 2. DKI


(57)

TAHUN 2013 KAB/KOTA (7) PROVINSI YG 100% TEPAT WAKTU MASINGS : 1. KALIMANTAN TENGAH 14 KAB/KOTA 100%

2. BANTEN 8 KAB/KOTA 100%

3. KEP. BANGKA BELITUNG 7 KAB/KOTA 100% 4. BALI 9 KAB/KOTA 100%

5. GORONTALO 6 KAB/KOTA 1000% 6. D.I YOGYAKARTA 5 KAB/KOTA 100% 7. SULAWESI BARAT 5 KAB/KOTA 100%

8. JATIM 22/38 KAB/KOTA 57,89%

TAHUN 2013 KAB/KOTA (7) PROVINSI YG 100% TEPAT WAKTU MASINGS :

1. KALIMANTAN TENGAH 14 KAB/KOTA 100% 2. BANTEN 8 KAB/KOTA 100%

3. KEP. BANGKA BELITUNG 7 KAB/KOTA 100% 4. BALI 9 KAB/KOTA 100%

5. GORONTALO 6 KAB/KOTA 1000% 6. D.I YOGYAKARTA 5 KAB/KOTA 100% 7. SULAWESI BARAT 5 KAB/KOTA 100%

8. JATIM 22/38 KAB/KOTA 57,89%

TAHUN 2014 DARI 505 KAB/KOTA 325 (64,36%) YANG TEPAT WAKTU 180 KAB/KOTA YG TERLAMBAT MASINGS DIANTARANYA SBB:

1. BABEL 7 KAB/KOTA 100% 5. BENGKULU 4/10

KAB/KT ATAU 40%

2. JAWA TIMUR 34/38 KAB/KOTA/89,43% 6. LAMPUNG 11/15 KAB/KOTA/73,33%

3. GORONTALO 5/6 KAB/KOTA/ 83,33% 7. KALSEL 8/13 KAB/KOTA /61,54%

4 SULSEL 19/24 KAB/KOTA ATAU 79,17% 8. SUMATERA BARAT 12/19 K/K 63,16%%

TAHUN 2014 DARI 505 KAB/KOTA 325 (64,36%) YANG TEPAT WAKTU 180 KAB/KOTA YG TERLAMBAT MASINGS DIANTARANYA SBB:

1. BABEL 7 KAB/KOTA 100% 5. BENGKULU 4/10

KAB/KT ATAU 40%

2. JAWA TIMUR 34/38 KAB/KOTA/89,43% 6. LAMPUNG 11/15 KAB/KOTA/73,33%

3. GORONTALO 5/6 KAB/KOTA/ 83,33% 7. KALSEL 8/13 KAB/KOTA /61,54%

4 SULSEL 19/24 KAB/KOTA ATAU 79,17% 8. SUMATERA BARAT 12/19 K/K 63,16%%

TAHUN 2015 DARI 505 KAB/KOTA DATA SEMENTARA BELUM AKURAT

DIANTARANYA:

1. JATIM 38/38 KAB/KOTA 100% 7.JAMBI 11/11 KAB/KOTA 100% 2. JATENG 35/35 KAB/KOTA 100% 8. SULBAR 6/6 KAB/KOTA

100%

3. SULSEL 24/24 KAB/KOTA 100% 9.GORONTALO 6/6 KAB/KOTA 4. KALSEL 13/13 KAB/KOTA 100% 10.JOGYA 5/5 KAB/KOTA 100% 5. BALI 9/9 KAB/KOTA 100% 11.KALTARA 5/5 KAB/KOTA 100%

6. BENGKULU 4/10 KAB/KOTA 40%

TAHUN 2015 DARI 505 KAB/KOTA DATA SEMENTARA BELUM AKURAT

DIANTARANYA:

1. JATIM 38/38 KAB/KOTA 100% 7.JAMBI 11/11 KAB/KOTA 100% 2. JATENG 35/35 KAB/KOTA 100% 8. SULBAR 6/6 KAB/KOTA

100%

3. SULSEL 24/24 KAB/KOTA 100% 9.GORONTALO 6/6 KAB/KOTA 4. KALSEL 13/13 KAB/KOTA 100% 10.JOGYA 5/5 KAB/KOTA 100% 5. BALI 9/9 KAB/KOTA 100% 11.KALTARA 5/5 KAB/KOTA 100%


(1)

64 N

O DAERAH     2010     2011

 201 2     WTP WDP TW WTP WDP TMP WTP WDP TW TMP

20 Kab. Pasuruan 1 WDP 1 WDP 1 WDP

21 Kab. Ponorogo 1 WDP 1 WDP 1 WTP

22 Kab. Probolinggo 1 WDP 1 WDP 1 WDP

23 Kab. Sampang 1 WDP 1 WDP 1 WDP

24 Kab. Sidoarjo 1 WDP 1 WDP 1 WDP

25 Kab. Situbondo 1 WDP 1 WDP 1 WDP

26 Kab. Sumenep 1 WDP 1 WDP 1 WDP

27 Kab. Trenggalek 1 WDP 1 WDP 1 WDP

28 Kab. Tuban 1 WDP 1 WTP 1 WDP

29 Kab. Tulungagung 1 WTP 1 WTP 1 WTP

30 Kota Blitar 1 WTP 1 WTP 1 WTP

31 Kota Kediri 1 WDP 1 WDP 1 WDP

32 Kota Madiun 1 WDP 1 WDP 1 WDP

33

Kota Malang 1 WDP 1 WTP 1 WTP

34 Kota Mojokerto 1 WTP 1 WTP 1 WTP

35 Kota Pasuruan 1 WDP 1 WDP 1 WDP

36 Kota Probolinggo 1 WDP 1 WTP 1 WTP

37 Kota Surabaya 1 WDP 1 WDP 1 WTP

38 Kota Batu 1 TMP 1 WDP WDP

OPINI BPK

PROV KAB/KOTA DI JAWA TIMUR TA 2010 S/D 2012

OPINI BPK


(2)

RINGKASAN APBD KOTA SURABAYA TA 2014/2015

RINGKASAN APBD KOTA SURABAYA TA 2014/2015

NO. URAIAN 2014

%

2015 KETERANGAN

1 2 4

PENDAPATAN DAERAH 6,150,194,212,903 6,516,306,800,495 Naik 5,95%

I Pendapatan Asli Daerah 3,247,459,154,137 52,80% 3,520,137,339,061 54,02% ratas 11,19%

1 Pajak Daerah 2,471,025,909,302 2,679,368,000,000 sesuaikan UU 28/09

2 Retribusi Daerah 285,197,286,889 302,514,833,533 sesuaikan UU 28/09

3 Hasil Pengl Keda dipshkn 120,855,713,722 121,312,265,681 rasional dgn modal 4 Lain-lain PAD yg sah 370,380,244,224 416,942,239,847 Harus terukur...!

II Dana Perimbangan 1,597,890,575,334 25,98% 1,506,796,757,000 23,12% Ratas 73,15 % 1 Dan BHP/BH Bkn Pajak 330,818,986,334 359,411,271,000

2 Dana Alokasi Umum 1,200,889,359,000 1,147,385,486,000 asti pormulasinya

3 Dana Alokasi Khusus 66,182,230,000 . Tergolong Sedang

III Lains Pendpt dh y sah 1,304,844,483,431 21,78% 1,489,372,704,434 22,86% ratas 15,66% 1 Hibah

Dana darurat

2 DBH Hsl dari Prov 823,489,838,067 998,877,266,211 Sesuai dlm Perda Prov

3 Dana Penysn dan Otsus 448,297,975,000 464,333,217,000

4 BanKeu dari Pemda Ln 7,067,090,000 1,359,339,223 Sesuai dlm Perda Prov

5 Pendptn yg sah lainnya 25.989.580.364,00 24,802,882,000


(3)

RINGKASAN BELANJA

RINGKASAN BELANJA

BELANJA DAERAH 7,072,715,425,304

7,269,442,530,623

naik 2,78%

I

Belanja Tdk Lgsg

2,454,326,270,745

34,70% 2,437,565,640,912 33,53% Ratas kab/kt 51,50%

1

Belanja Pegawai

2,061,262,089,183 29,14% 2,132,757,197,613 29,34% Ratas kab/kt 49,39%

2

Belanja Bunga

3

Belanja Subsidi

4

Belanja Hibah

378,142,867,562 5,37% 289,545,858,993 4,01% Ratas nas 2%

5

Belanja Bansos

1,651,000,000 11,70% 1,651,000,000 8,27% dari PAD

6

BBH kpd Desa

1,200,000,000 ...? 1,200,000,000 % PP 72/05/ UU Desa 10%

7

Bankeu Kpd Desa

2,070,314,000 2,411,584,306 % PP 72/2005 (10%)

dan Partai politik

dari DF-DAK-BP

9

Belanja Tdk Terduga

10,000,000,000 10,000,000,000 sesuai potensi bencana..!!!

II

Belanja Langsung

4,618,389,154,559 65,30% 4,831,876,889,711 64, 47% ratas Nas 48,65%

1

Belanja Pegawai

436,530,395,926 6,17% 408,469,512,566 5,63% belanja standar

2

Belja Barang / Jasa

2,171,272,931,002 30,70% 2,291,928,884,123 31,53% dari Belanja

3

Belanja Modal

2,010,585,827,631 28,43% 2,131,478,493,022 29,32% berpdmn Perkada

Pelpres No 5/2010 /2014

Jumlah Belanja

7,072,715,425,304 7,269,442,530,623


(4)

RINGKASAN

PEMBIAYAAN

RINGKASAN

PEMBIAYAAN

PEMBIAYAAN DAERAH 943,185,351,353 788,530,072,563

I Penerimaan Pembiayaan 943,185,351,353 788,530,072,563

1 SiLPA TA sebelumnya 943,185,351,353 788,530,072,563 Lamp A.IX.a PM13/2006

2 Pencairan Dana Cadangan 3 Hasil Penjln Kekyda yg dipsh 4 Penerimaan Pinjaman Drh 5 Penerimaan kembali pinjm 6 Penerimaan Piutang Daerah

Jlh Penerimaan Pembyn 943,185,351,353 788,530,072,563

II Pengeluaran Pembiayaan 20,664,138,952 35,394,342,435

1 Pembentukan Dana Cadgn harus dgn Perda

2 Penyertaan Modal Pemda 20,664,138,952 35,394,342,435 Penyrtn Modal

3 Pembayaran Pokok Hutang 4 Pemberian Pinjaman Darh

Jlh Pengelrn Pembiayaan 20,664,138,952 35,394,342,435

Pembiayaan Netto 922,521,212,402 753,135,730,128


(5)

68

Sekian & Terimakasih


(6)

DATA NARASUMBER

DATA NARASUMBER

N A M A

: MUKJIZAT, S.Sos, M.Si

TEMPAT/TGL LAHIR: LAMPUNG 28 MARET 1960

PENDIDIKAN

: MAGESTER ILMU ADM. NEGARA

UNKRIS JAKARTA

PEKERJAAN

: DIREKTORAT ANGGARAN DAERAH

DITJEN KEUANGAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ALAMAT

: KANTOR

JL. VETERAN NO 7 KAKARTA telp 021-3504041

RUMAH

JL. SWAKARSA I B NO 27 RT.04/03

KEL. PONDOK KELAPA

JAKARTA TIMUR KP 13450

HP

: 0812 867 0828

NPWP

: 47 108 482 2-002.000

N A M A

: MUKJIZAT, S.Sos, M.Si

TEMPAT/TGL LAHIR: LAMPUNG 28 MARET 1960

PENDIDIKAN

: MAGESTER ILMU ADM. NEGARA

UNKRIS JAKARTA

PEKERJAAN

: DIREKTORAT ANGGARAN DAERAH

DITJEN KEUANGAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ALAMAT

: KANTOR

JL. VETERAN NO 7 KAKARTA telp 021-3504041

RUMAH

JL. SWAKARSA I B NO 27 RT.04/03

KEL. PONDOK KELAPA

JAKARTA TIMUR KP 13450

HP

: 0812 867 0828