ISRAEL DARI OCCUPIED PALESTINIAN TERRITO

JURNAL HUKUM JUSTITIA

Diterbitkan oleh:

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ICHSAN GORONTALO

Fakultas Hukum – UNISAN i

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

JURNAL HUKUM JUSTITIA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ICHSAN GORONTALO

Penasehat

: Dekan Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo

Penanggung Jawab

: Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Ichsan

Gorontalo

Pemimpin Redaksi

: Rafika Nur

Dewan Redaksi

: Marwan Djafar

Asdar Arti Muh. Nasir Alamsyah Djamaris Machmud

Redaktur Pelaksana

: Kingdom Makkulawusar

Sekretaris Redaktur

: Hijrah Lahaling

Darmawati

Mitra Bestari

: Iin Karita Sakharina (Universitas Hasanuddin)

Johan Jassin (Universitas Negeri Gorontalo) Samsul Halim (Universitas Muhammadiyah Palu) Syamsul Bachri (Universitas Hasanuddin)

Desain Grafis & Layout

: Ahsan Yunus

Distribusi & Pemasaran

: Nur Insani

Zubair S. Mooduto

Alamat Redaksi

: Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo

Jl. Raden Saleh No. 17, Kota Gorontalo, 96115 Tel/Fax

: (0435) 829975 / (0436) 829976

E-mail

: fhunisan@yahoo.com

Website

: http://www.fakultashukumunisan.ac.id

JURNAL HUKUM JUSTITIA Jurnal ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Terbit tiap bulan Maret dan September, Harga Rp. 50.000 (lima puluh ribu rupiah).

ii Fakultas Hukum - UNISAN

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

E DITORIAL

Pembaca yang budiman, Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa dan yang telah memberikan kami kekuatan,

kesempatan, dan karunia yang begitu besar sehingga penerbitan jurnal hukum “JUSTITIA” Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Volume III Nomor 2 Maret 2016 dapat terlaksana

dengan baik, merupakan suatu langkah progresif yang digagas oleh Fakultas Hukum Universitas Ichsan Gorontalo untuk melahirkan suatu jurnal ilmiah yang sekaligus dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ruang ekspresi ilmiah khususnya isu-isu yang berhubungan dengan perkembangan ilmu hukum secara umum, baik itu dalam aspek internasional, pidana, tata negara, administrasi negara, maupun isu-isu hukum adat.

Volume III Nomor 2 Maret 2016 menghadirkan beberapa penulis yang memiliki kepakaran di bidang masing-masing. Kadarudin menuangkan gagasannya tentang occupied palestinian territory hingga larangan masuk bagi Menlu RI ke tepi barat palestina yang dilakukan oleh Israel, isu mengenai Israel tersebut terus saja bergulir akibat sejumlah kontroversi yang terus dilakukan melalui kebijakan-kebijakan negaranya sehingga isu ini sangat menarik untuk dibaca, apalagi isu ini sangat berkaitan dengan kepentingan Indonesia dalam memulai bentuk kerjasama diplomatiknya dengan Palestina.

Selanjutnya Darmawati yang menulis tentang tinjauan kriminologi terhadap kejahatan pedofilia terhadap anak di Kabupaten Gorontalo, Arniansi Utami Akbar yang menulis tentang penegakan hukum terhadap anak sebagai korban dalam penyalahgunaan narkotika, dan Suardi Rais yang menulis tentang efektivitas penyidikan tindak pidana korupsi di Kejaksaan Negeri Makassar, ketigaa isu hukum pidana ini sangat menarik karena berhubungan langsung dengan aparat penegak hukum. Albert Pede yang menulis tentang efektivitas transparansi (good governance) dalam penyelenggaraan pemerintahan Kota Gorontalo, dan Wira Purwadi yang menulis tentang kewenangan pemerintah kabupaten terhadap izin usaha pertambangan emas di Minahasa Tenggara. Kedua isu hukum tata negara dan administrasi negara ini juga sangat menarik untuk dibaca karena dengan pertimbangan kontemporer dan pentingnya diskresi serta alas hak bagi pemerintah daerah dalam mengambil suatu kebijakan.

Kemudian isu dalam Volume III Nomor 2 Maret 2016 ditutup oleh gagasan yang dikemukakan oleh Hasnia dengan tulisannya yang berjudul kewarisan masyarakat Kajang Le’leng. Semoga berbagai isu-isu ilmu hukum yang tersaji baik itu isu hukum internasional, hukum pidana, hukum tata negara dan administrasi negara, serta hukum adat dalam Volume ketiga ini, akan memberikan sebuah bentuk pencerahan baru yang bermanfaat bagi semua kalangan yang intens dan fokus mengkaji permasalahan yang berhubungan dengan ilmu hukum yang terus berkembang dewasa ini. Selamat membaca.

Redaksi

iv Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

ISRAEL : DARI OCCUPIED PALESTINIAN TERRITORY HINGGA LARANGAN MASUK BAGI MENLU RI KE TEPI BARAT PALESTINA

Kadarudin Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PusHAM) Universitas Hasanuddin kadarudin.alanshari@gmail.com

Sri Wahyuni Kadir Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Sulawesi Barat wahyunikadir16@gmail.com

Abstract

Measures occupied Palestinian territory taken by Israel is a violation of public international law and international humanitarian law, so it takes political will of the UN, especially the UN Security Council to take a stand against the Israel action. In addition, the acceptance of Palestine as a state Party to the ICC marks a new phase for the Palestinians, as it has got access to report and prosecute all acts of Israel as a crime against humanity and war crimes. The attitude should be done by Indonesia concerning the Israel actions that prohibit the Minister of Foreign Affairs, go to the western edge of the Palestinians is to ask Israel's official explanation in a meeting of the UN General Assembly related to the reason for disapproval.

Keyword : Israel, violation, occupied Palestinian territory.

I. PENDAHULUAN

Berbicara mengenai hubungan antara negara maka tidak akan terlepas dari persoalan sikap politik suatu negara terhadap negara lain dalammelakukan hubungan internasionalnya. Hubungan antar negara ini kemudian dapat saja terjadi antara satu negara dengan negara lainnya atau bahkan melalui suatu organisasi internasional/regional tertentu yang biasa disebut sebagai masyarakat internasional. Dalam kita berhubungan dengan negara lain selalu ada permasalahan dan juga kendala yang harus

segera diselesaikan (Birkah Latif dan Kadarudin “1”, 2013:21). Sikap suatu negara dalam memandang negara lain ini biasanya sangat dipengaruhi oleh latar belakang lahirnya suatu negara, ekonomi, sosial,

budaya, atau bahkan bisa jadi dipengaruhi pula oleh pemikiran mengenai untung-rugi yang sifatnya sangatlah pragmatis, sehingga ketika pandangan negara tersebut dipengaruhi oleh salah satu yang disebutkan tadi, maka pengaruh itu pulalah yang akan disikapinya dalam melakukan hubungan internasional selanjutnya.

Fakultas Hukum – UNISAN 109

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

Walaupun pelanggaran terhadap hukum internasional biasanya lebih menarik perhatian, dalam kenyataan hidup sehari-hari negara dan subjek lainnya dapat dikatakan menuruti kaidah-kaidah hukum internasional tersebut (Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, 2003:45). Israel merupakan salah

satu “negara” yang sering memunculkan kontroversi, baik dari segi sikap negaranya dalam memandang negara lain, maupun dari segi perlakuan negaranya terhadap bangsa Palestina.

Kontroversi-kontroversi dimaksud adalah sikap Israel yang memusuhi negara-negara yang pro terhadap eksistensi Palestina di dunia internasional, pembangunan perumahan di tepi barat Palestina oleh Israel yang termasuk bagian dari upaya occupied Palestinian territory, larangan masuk bagi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia di tepi barat Palestina, gencatan senjata Israel-Palestina tepat

2 tahun lalu (2014), hingga langkah awal pendekatan Israel (soft approach) terhadap Indonesia melalui undangan beberapa wartawan Indonesia ke negaranya baru-baru ini. Sejumlah kontroversi dan sikap Israel ini kemudian di “amini” oleh para sekutunya, salah satu yang sangat jelas terlihat adalah tindakan keras Amerika Serikat terhadap penerimaan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bagi Palestina sebagai anggota. Sikap yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat ini tentunya manambah pesimistis negara-negara netral yang menginginkan kedamaian antara Israel-Palestina, Amerika Serikat sebagai salah satu negara tetap anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang memiliki hak veto selain 4 negara lain (Rusia, Republik Rakyat Tiongkok, Perancis, dan Britania Raya) menelanjangi logika sederhana kita semua, bahwa sesungguhnya DK PBB dibentuk dengan tujuan (1) menginvestigasi situasi apapun yang mengancam perdamaian dunia; (2) merekomendasikan prosedur penyelesaian sengketa secara damai; (3) meminta seluruh negara anggota PBB untuk memutuskan hubungan ekonomi, serta laut, udara, pos, komunikasi radio, atau hubungan diplomatik; dan (4) melaksanakan keputusan Dewan Keamanan secara militer, atau dengan cara-cara lainnya, tidak satupun ditunjukkan oleh sikap Amerika terhadap Palestina. Padahal kita tahu bersama bahwa DK PBB ini memiliki tempat yang cukup penting di organisasi PBB, dimana kedudukan DK PBB merupakan salah satu dari 6 organ utama yang dimiliki oleh PBB (selain Majelis Umum, Dewan Ekonomi dan Sosial, Sekretariat, Mahkamah Internasional, dan Dewan Perwalian).

Masyarakat Palestina sesungguhnya hanya menginginkan kebebasan layaknya warga negara lainnya, karena kebebasan adalah salah satu hal yang fundamental. Bahkan lebih jauh Hamid Awaluddin (2012:110) mengungkapkan bahwa dalam lintasan sejarah kebebasan adalah sebuah perjuangan manusia untuk memberi harkat pada dirinya. Melihat kenyataan tersebut, maka sangatlah naif ketika kita tidak mengatakan bahwa aroma politik negara-negara adidaya sangatlah kuat di PBB utamanya pada organ DK PBB, dan tidak heran mengapa negara-negara yang juga kuat namun tidak memiliki hak veto dapat membangkang dari apa yang telah disepakati di DK PBB, sebagai contoh adalah Negara Iran yang berakali-kali diberikan sanksi oleh DK PBB terkait dengan pengayaan nuklirnya, namun Iran tidak bergeming atas sanksi tersebut dan terus melanjutkan proyek pengayaan nuklirnya, hal serupa juga ditunjukkan oleh Negara Korea Utara yang berkali-kali membuat DK PBB marah terhadap uji rudal dan pengayaan nuklir yang terus dilakukannya, bahkan Amerika Serikat yang secara subjektif atau sepihak terang-terangan membela kepentingan Korea Selatan yang terusik akibat uji rudal di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Namun penulis perlu tekankan disini bahwa 2

110 Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

contoh kasus pembangkangan negara yang disebut terakhir adalah 2 kasus yang berbeda dan tidak dapat dianalogikan sikap negaranya terhadap DK PBB maupun terkhusus bagi Amerika Serikat.

Kontroversi yang terus ditunjukkan oleh Israel ini kemudian membuat ketenangan negara- negara didunia terusik (baik secara langsung maupun tidak), hingga di forum-forum tertentu sikap Israel inipun kian dipertanyakan keabsahannya secara hukum diplomatik sebagai dasar hubungan antar negara. Salah satu contohnya konkretnya dapat kita lihat dari pernyataan sikap negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang awal tahun ini (2016) menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa, dalam KTT Luar Biasa OKI tersebut, Indonesia sebagai tuan rumah menunjukkan komitmennya terhadap eksistensi Palestina dengan menyatakan rencananya membuat kantor konsul kehormatan. Rencana inipun kemudian di follow up oleh Indonesia dengan mewujudkan rencana pembukaan kantor konsul kehormatan tersebut di Ramallah pada tanggal 13 Maret 2016 yang lalu.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kemudian melantik Konsul Kehormatan Indonesia untuk Palestina, Maha Abou Susheh, yang berkedudukan di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina. Wanita berusia 55 tahun itu akhirnya terpilih setelah disetujui oleh Kementerian Luar Negeri Palestina dan Pemerintah Indonesia. Sebelumnya Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengenalkan Susheh dengan menyebut namanya pada Senin, 7 Maret ketika membuka sidang debat umum KTT Luar Biasa OKI di Jakarta. Terkait dengan konsul kehormatan tersebut, maka terdapat 5 hal penting yang melingkupinya, berikut pemaparannya ( http://www.rappler.com ):

1. Memiliki latar belakang pengusaha Susheh merupakan Ketua Forum Pengusaha Wanita Palestina (BWF) di Ramallah. BWF merupakan organisasi non-profit yang bergerak untuk memajukan perekonomian kaum

wanita Palestina. Programnya mulai dari pelatihan memasak dan menjahit untuk kaum wanita Palestina agar mereka bisa memiliki keterampilan dan bisa hidup mandiri. Dia juga dikenal aktif di berbagai kegiatan sosial dan bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pada tahun 2006, Susheh mendirikan BWF bersama aktivis wanita Palestina lainnya. Saat itu, dia ditunjuk sebagai ketua. Selain itu, dia pemegang lisensi mobil Peugeuot di Palestina. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri, Susheh berhasil masuk ke dalam daftar 50 pengusaha wanita paling berpengaruh versi Majalah Forbes Arab. Dia juga menjadi Presiden pada Dewan Direksi Riwaq yang membawahi isu perlindungan warisan arsitektur. Susheh juga merupakan anggota Palestina Trade Center .

2. Sudah dicalonkan sejak tahun 2012 Posisi konsul kehormatan sudah direncanakan oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 2012

lalu. Saat itu, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan penunjukkan konsul kehormatan merupakan alternatif dari dibukanya kedutaan besar Indonesia dan penugasan diplomat Indonesia ke Palestina. “Kalau kita buka kedutaan di Ramallah, secara operasional

itu mengharuskan kita berkomunikasi dan bekerjasama dengan otoritas Israel. Tapi, pe rtanyaannya apakah kita mau tiap hari minta izin lewat ke Ramallah ke Israel?” ujar Marty. Posisi Indonesia, kata Marty, tidak mau berkomunikasi dengan Israel di tingkat

Fakultas Hukum – UNISAN 111

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

resmi. “Jadi, jalan yang paling tepat adalah penunjukkan konsul kehormatan,” kata mantan Wakil Tetap Indonesia untuk PBB di New York itu.

3. Dihalangi Israel Niat Indonesia untuk bisa mewujudkan konsul kehormatan Palestina tidak mudah. Sebab,

hal tersebut kerap dipersulit oleh Israel. Menurut Duta Besar Indonesa untuk Kerajaan Yordania dan merangkap Palestina, Teguh Wardoyo, mengatakan izin masuk untuk bisa ke Ramallah tidak mudah, harus melalui Israel. Sementara, karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka permasalahan izin turut difasilitasi oleh Pemerintah Yordan ia. “Jangan berpikir untuk bisa masuk ke Ramallah dari Amman sama seperti bepergian dari Jakarta menuju ke Bandung. Tidak ada jalan alternatif, terlebih

Palestina hingga saat ini masih dijajah oleh Israel,” ujar Teguh yang dihubungi melalui telepon pada Kamis, 10 Maret. Sementara, juru bicara Kementerian Luar Negeri,

Arrmanatha Nasir mengatakan pejabat konsulat kehormatan sudah dipilih sejak November 2015. Namun, surat keputusan Presiden baru terbit di bulan Desember. “Sementara, di awal

tahun ini, Menlu sudah harus bepergian ke beberapa negara Timur Tengah dan fokus ke isu Arab Saudi dan Iran. Maka, kami baru memiliki waktu untuk meresmikan konhor di bulan

Maret,” kata Arrmanatha melalui telepon.

4. Tidak mengurusi bidang politik Sebagai konsuler kehormatan, Susheh hanya mengurusi isu terkait non politik seperti

ekonomi dan pariwisata. "Tugas Ibu Susheh antara lain meningkatkan kerja sama ekonomi, sosial dan budaya antara Indonesia dan Palestina, promosi investasi dan pariwisata, serta perlindungan warga negara Indonesia bila diperlukan," ujar Arrmanatha ketika memberikan keterangan pers pada Kamis, 10 Maret. Dengan adanya konsuler kehormatan ini, juga membantu warga Palestina yang ingin ke Indonesia. Sebab, mereka tidak lagi perlu mengurus visanya ke KBRI di Amman, Yordania.

5. Bukti nyata dukungan Indonesia bagi Palestina Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri, Hasan Kleib, mengatakan dengan

adanya konsul kehormatan maka ada jejak nyata Indonesia di area Tepi Barat, Palestina. Sebelumnya, Indonesia juga sudah memberikan dukungan nyata dalam bentuk pembangunan rumah sakit di kota Gaza. Susheh akan bekerja dari kantor pribadinya untuk mengurusi isu konsuler. Bendera Indonesia juga akan dikibarkan di sana.

5 hal penting terkait dengan pembukaan kantor konsul kehormatan tersebut menandakan komitmen kuat Indonesia terhadap eksistensi Palestina sebagai negara yang berdaulat (memiliki kedaulatan penuh) baik secara de jure maupun secara de facto, walaupun pada faktanya Israel tetap melakukan upaya occupied Palestinian territory dan melarang Menteri Luar Negeri RI masuk ke tepi barat Palestina ketika hendak melantik Maha Abou Susheh. Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka permasalahan yang hendak diuraikan dalam tulisan ini yaitu Bagaimanakah pandangan hukum internasional terhadap occupied Palestinian territory yang dilakukan oleh Israel? dan Bagaimanakah sikap yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia mengenai tindakan Israel yang melarang Menteri Luar Negeri RI masuk ke tepi barat Palestina?

112 Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

II. PEMBAHASAN

A. Pandangan Hukum Internasional terhadap occupied Palestinian territory yang Dilakukan oleh Israel Sebagaimana yang telah penulis paparkan sebelumnya bahwa Israel berkali-kali melakukan tindakan occupied Palestinian territory namun dunia seolah terdiam, banyak negara yang mengecam tindakan Israel tersebut namun belum bisa melakukan tindakan konkret demi mengehentikan upaya Israel tersebut, dan bahkan ada beberapa negara juga walaupun secara kuantitas tidak banyak malah mendukung aksi yang dilakukan Israel tersebut. Dalam melihat apa yang diperjuangkan Palestina dan upaya yang terus dilakukan Israel adalah tidak terlepas dari sejarah kedua bangsa tersebut, karena konflik keduanya bukan muncul baru-baru ini, namun konflik ini berasal dari akar sejarah yang sangat panjang.

Ulasan sejarah kedua bangsa ini kemudian tergambar secara objektif dari tulisan facebook account “Save Gaza Freedom for Palestine” yang berjudul Asal Mula Bangsa Yahudi dan Palestina, walaupun nama akun tersebut sangatlah subjektif, namun penulis mencermati bahwa ulasannya sangatlah berimbang, tidak ada yang ditutup-tutupi, bahkan setiap argumen yang dilontarkannya berdasarkan sumber yang menurut penulis sangatlah verified. Berikut ulasannya : Sejarah bangsa Israel bermula dari hijrahnya Nabi Ibrahim pada tahun 1900 Sebelum Masehi (SM) bersama pengikutinya dari Babilonia yang menghindari tekanan dari penguasa zalim Namruz. Orang-orang ini disebut dengan sebutan Ibrani yang berarti orang yang menyeberang. Pemilihan nama ini muncul karena saat Nabi Ibrahim hijrah dari Babilon ke Kan’an (Palestina) harus melintasi sungai Eufrat. Sejak saat itu kelompok muhajirin dan keturunannya menjadi suatu bangsa yang dinamai bangsa Ibrani. Sedangkan bangsa Kan’an berasal dari jazirah Arab pada tahun 2500 SM. Mereka kemudian membangun sekitar 200 kota dan desa di sana seperti Pisan, Alqolan, Aka, Haifa, al Khalil, Usud, Bi’ru Alsaba’ dan

Betlehem. Mayoritas penduduk Palestina sekarang khususnya di wilayah pedesan merupakan turunan dari kabilah bangsa Kan’an, Umuriyah dan Filistin.

Nama Palestina sendiri diambil dari salah satu nama bangsa pelaut yang bermukum di pesisir dan berasimilasi dengan bangsa Kan’an. Bangsa Filistin kemungkinan datang dari daerah barat Asia

kecil dan wilayah laut Ijah sekitar abad ke 12 SM. Setelah Nabi Ibrahim wafat, kepemimpinan bangsa Ibrani selanjutnya diteruskan oleh Nabi Ishak, putranya. Selanjutnya Nabi Ishak digantikan oleh putranya Nabi Ya’kub. Nabi Ya’kub mempunyai gelar kehormatan yang disebut Israel, artinya hamba

Allah yang amat taat. Beliau mempunyai 12 putera yaitu Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf dan Bunyamin. Anak cucu Ya’kub inilah yang kemudian dikenal sebagai Bani Israel atau anak cucu Israel. Di antara seluruh putera Y a’kub, yang paling banyak keturunan adalah Yahuda, maka bangsa Bani Israel pun dibangsakan kepada Yahuda dengan sebutan Yahudi. Ketika Nabi Yusuf menjadi pejabat di pemerintahan Firaun, semua anak cucu Ya’kub kemudian hijrah ke Mesir. Di sana mereka diperlakukan dengan baik oleh Pharao atau Firaun zaman itu. Namun berabad-abad kemudian muncullah Firaun yang tidak suka pada mereka, namanya Thotmosis. Karena kekhawatirannya terhadap perkembangan bangsa Israel dan juga tidak suka pada aga tauhid yang dianuntnya, menyebabkan kedengkian dan menjadikan Bani Israel sebagai budak.

Fakultas Hukum – UNISAN 113

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

Pada abad ke 13 SM Allah kemudian mengutus Musa dan Harun untuk membebaskan Bani Israel dan mengajak Firaun untuk bertauhid. Tetapi Firaun menolak dan semakin menindas bangsa Israel hingga akhirnya Musa mengajak mereka kembali hijrah ke Kan’an. Firaun mencoba mencegah peristiwa hijrah tersebut, namun akhirnya ia tenggelam di Laut Merah. Sedangkan Bani Israel selamat mendarat di gurun Sinai. Dari Sinai mereka melanjutkan perjalanan melewati padang Syur yang tandus. Kemudian ke Sana, Mara, Elim dan Thursina. Di sinilah watak Bani Israel mulai terlihat, mereka menggerutu dan mengomel sepanjang perjalanan. Mereka juga menyesali Musa dan Harun yang telah membawa mereka hijrah dari Mesir. Kendati demikian Allah tetap memberikan kemudahan bagi Bani Israel, saat mereka berjalan di padang tandus ada gumpalan awan yang menaungi mereka. Begitu juga saat mereka lapar Allah menurunkan manna-salwa sebagai makanan. Di perjalanan perlahan-lahan kebodohan Bani Israel mulai terkuak. Saat mereka berjumpa dengan orang Assiria dan Kan’an yang menyembah berhala, mereka meminta agar Nabi Musa membuat patung untuk mereka sembah. Di gurun Sin, mereka kembali mengomel karena kehausan. Allah kemudian memerintahkan agar Musa ke lereng gunung Horeb dan memukul batu gunung sehingga keluar 12 mata air.

Di Thursina, Musa dan Bani Israel mendirikan perkampungan. Setelah itu Nabi Musa pergi ke bukit Thursina selama 40 hari untuk mendapatkan wahyu dari Allah berupa Taurat. Kepergian Musa ternyata dimanfaatkan oleh seorang pengikuti bernama Samiri, yang mengajak Bani Israel menyembah patung anak sapi. Setelah Musa kembali dari Thursina, ia mengajak seluruh Bani Israil untuk beriman pada Taurat. Namun mereka malah ragu dan ingkar sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al- baqarah ayat 55) yang bunyinya ”Wahai Musa, kami tidak akan pernah percaya kepadamu, kecuali kami bisa melihat Allah secara langsung dengan jelas …”. Begitu juga saat mereka diajak berjihad memasuki Kan’an (Palestina) mereka menolak dengan tidak sopan, peristiwa ini juga tercantum dalam QS. Al- Maidah, 5: 24 “Hai Musa, kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesung guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”. Sebelum sampai di Kan’an Harun wafat, tugas beliau sebagai Imam Bani Israel diserahkan Musa kepada Eliazar putera Harun. Tak lama kemudian Musa wafat, ia berwasiat kepada Bani Israel agar meneruskan cita-cita memasuki negeri Palestina (Kan’an)

Setelah Nabi Musa wafat kepemimpinan diserahkan kepada Eliazar, putera Harun. Sebelumnya Musa berwasiat agar Bani Israel meneruskan cita- cita memasuki negeri Palestina atau Kan’an. Kepemimpinan Elizar kemudian digantikan oleh Yusya. Yusla lah yang kemudian menggerakkan Bani

Israel keluar dari gurun Sinai untuk memerangi bangsa Kan’an dan Filistin yang menyembah berhala. Setelah Bani Israel berhasil memenangi peperangan tersebut, negeri itu kemudian dibagi menjadi 12

wilayah. Raja mereka yang pertama adalah Thalut yang memerintah antara tahun 1042-1012 SM. Selanjutnya Dawud yang memerintah sekitar 40 tahun (1012-972 SM). Dawud kemudian diganti anaknya Sulaiman yang memerintah selama lebih kurang 40 tahun (972-937 SM. Pada masa pemerintahan Sulaiman inilah didirikan Haikal (Baitul Maqdis) di atas bukit Moria (Sion/Zion). Pengaruh kerajaan Sulaiman pada masa itu sangat luas, meliputi daerah pinggiran sungai Eufrat sampai ke laut Merah. Kebesaran zaman Sulaiman inilah yang diimpikan orang Israel saat ini dengan melakukan gerakan Zionisme. Sengketa dan perpecahan mulai timbul setelah Sulaiman wafat. Di mana

114 Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

golongan Yahuda dan Benyamin memilih Rahbeam (anak Sulaiman) untuk menggantikan ayahnya sebagai raja.

Sementara 10 golongan yang lain memilih Yerobeam dari turunan suku Efraim. Karena tidak ada titik temu, kerajaan Israel akhirnya terpecah dua. Golongan Yahuda membentuk kerajaan sendiri yang dinamai Yahuda, berpusat di Yerusalem dengan rajanya Rahbeam. Walaupun kerajaan Yahuda kecil dari kerajaan Israel, namun mereka memiliki beberapa kelebihan seperti menguasai Palestina sebagai ibu kota pusaka raja Dawud. Baitul Maqdis berada di daerah mereka. Begitu juga dengan Tabut, tempat tersimpannya Taurat Musa yang berada di wilayah mereka. Kelebihan tersebut rupanya membuat Yerobeam, raja Israel tidak senang. Apalagi pengaruh kekuasaan kerajaan Yahuda tetap mendalam di hati semua rakyat, karena setiap sembahyang mereka tetap menghadap ke Palestina (Baitul Maqdis). Untuk menyainginya Yerobeam membuat patung lembu emas untuk sesembahan rakyat Israel sebagai ganti ibada biasa menyembah Yehoah (Allah) sambil berkiblat ke Baitul Maqdis.

Kehancuran kerajaan Israel dan Yahuda berawal ketika bangsa Assiria pada tahun 721 SM menyerang kerajaan Israel yang berpusat di Samaria. Seluruh negeri mereka hancurkan, ribuan orang Israel mati terbunuh, orang-orang terkemuka ditawan dan dibuang ke Assiria. Pada tahun 606 SM kerajaan Yahuda mengalami nasib yang sama. Tentara Babilonia di bawah kekuasaan Nebukadnezar menyerang Palestina. Kota Palestina dihancurkan, ribuan orang terbunuh, selebihnya dijadikan budak. Sebagian lagi meloloskan ke tanah Arab, tepatnya di Yatsrib, sekarang Madinah. Peristiwa ini jauh- jauh hari sudah diperingatkan Nabi Musa, jika mereka menyimpang dari Taurat mereka akan mendapat hukuman dari Allah. Peristiwa duka ini sudah diperingatkan Musa kepada Bani Israel sebelum beliau wafat, bahwa jika mereka menyimpang dari Taurat mereka akan mendapatkan hukuman dari Allah (wasiat ini tertera dalam Kitab Ulangan: XXVIII; 15, 21, 25, 26). Setelah 70 tahun bangsa Yahudi jadi budak di Babilonia, mereka kemudian diperobelehkan kembali ke Palestina pada tahun 539 SM. Saat itu Babilonia telah ditaklukkan oleh Persia di bawah kekuasaan Cirus. Tetapi akibat musnahnya Yaurat dan pembuangan selama 70 tahun telah mengubah pandangan hidup bangsa Yahudi, mereka kehilangan pedoman.

Tahun 330 SM, Alexander Agung dari Macedonia (Yunani) mengalahkan Raja Persia, Darius

III. Bangsa Yahudi pun berganti tuan. Tahun 301 SM negeri jajahan Yunani sebagian dapat direbut Mesir, salah satunya adalah Palestina. Tahun 199 SM Assiria merebut Palestina dari Mesir dan menguasainya selama 50 tahun sampai tahun 142 SM. Di tahun inilah bangsa Yahudi berhasil merebut kemerdekaan di tangan Assiria. Tak sampai seabad, tahun 63 SM mereka telah jatuh menjadi jajahan bangsa Romawi. Pada masa penjajahan Romawi inilah Allah mengutus Nabi Isa. Allah mengutus Nabi isa untuk mengajak Bani Israel agar berpegang teguh pada ajaran Musa diingkari dengan penuh kedengkian. Tahun 33 SM diadakan perayaan Paskah tahunan di Bait Allah (Batul Maqdis), sebagai perayaan selamatnya bangsa Israel dari penindasan Firaun. Namun perayaan tersebut berubah menjadi pesta perniagaan yang diwarnai dengan perjudian. Bahkan di pintu gerbang Bait Allah diberi patung Garuda sebagai lambang kebesaran kekaisaran Romawi. Hal ini membuat Nabi Isa dan pengikutnya menyerbu Bait Allah. Kerusuhan itu menimbulkan kemarahan penguasa Romawi. Romawi kemudian mencoba untuk menangkap Nabi Isa dan pengikutnya. Tetapi mereka telah menyingkir dan bersembunyi di bukit Gesmani. Pada saat itu orang Yahudi menyebarkan isu bahwa Isa akan

Fakultas Hukum – UNISAN 115

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

melakukan pemberontakan terhadap Romawi dan mengangkat dirinya sebagai Raja Yahudi. Darisinilah awal mulai terjadinya penangkapan Isa dan terjadilah peristiwa penyaliban Isa yang kontroversial.

Pada tahun 70 M, Bani Israel pernah mencoba memberontak pada Romawi tapi tidak berhasil. Komandan militer Romawi, Titus, berhasil mematahkan pemberontakan tersebut. Tahun 132-135 M mereka kembali memberontak dan lagi-lagi gagal. Julius Cyprus, pemimpin Romawi akhirnya memporak-porandakan Yerusalem. Di atas puing kota ini, Kaisar Romawi, Hendrian I membangun kota baru yang dinamakan Elia Capitolina yang kemudian dikenal dengan nama Elya. Bangsa Yahudi dilarang memasuki kota Yerusalem selama 200 tahun kemudian. Jumlah populasi mereka pun sangat

jarang di sepanjang 18 abad berikutnya. Sementara penduduk pribumi dari keturunan Kan’an yang berasimilasi dengan kabilah Arab tetap langgeng di sana. Romawi menguasai Palestina sampai tahun

640 M hingga datangnya Islam. Kota Yerusalem kemudian diserahkan secara resmi pada Khalifah Umar bin Khattab tanpa peperangan. Di bawah pemerintah Islam seluruh rakyat diperlakukan dengan adil dan diberi kebebasan beribadah sesuai agama masing-masing. Saat itu Yahudi, Kristen dan Islam hidup rukun dan berdampingan.

Ulasan sejarah bangsa Israel dan Palestina dalam tulisan facebook account “Save Gaza Freedom for Palestine ” kemudian dilengkapi dari ulasan dari http://www.portalsejarah.com/, berikut ulasannya :

Era kerajaan Romawi yang mencatatkan bagian lain dalam sejarah berdirinya negara Palestina berlangsung selama 3 periode yaitu Romawi Iudea pada tahun 63 sebelum masehi yang kemudian dilanjutkan oleh periode Romawi Syria Palestina pada tahun 132 sebelum masehi, dan berakhir di sekitar tahun 630-an karena kekalahan pasukan Romawi dalam beberapa perang besar. Kekalahan pasukan Romawi juga membuka gerbang bagi masuknya kekhalifahan Muslim yang dipimpin oleh Rashidun dan Umayyad hingga tahun 968 sebelum akhirnya Kekhalifahan Fatimid menyerang. Kekhalifahan Fatimid hanya mampu bertahan hingga tahun 1054 dan mulai runtuh karena serangan dari para crusader saat Perang Salib.

Sejarah berdirinya negara Palestina moderen dimulai dari tahun 1516 ketika Ottoman Turki menduduki Palestina dan Istanbul ditunjuk sebagai pemerintah lokalnya. Kekuasaan akan Palestina terancam ketika Napoleon memulai perang di tahun 7 Maret hingga Juli tahun 1799. Penyerangan ini gagal dan berakhir saat Napoleon dibunuh oleh adiknya yang bekerja sama dengan Ottoman. Pada tanggal 10 Mei 1832, daerah Syria Ottoman dikuasai oleh ekspansionis Mesir di bawah pimpinan Muhammad Ali dalam perang Mesir-Ottoman di tahun 1831, meski begitu pihak Ottoman kembali melawan dan baru kalah ketika mereka bergabung dengan Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia I.

Dimulai dari sekitar tahun 2000-an, pihak Palestina yang daerahnya mulai diklaim oleh Israel mulai memberontak dan serangan pertama mereka dikenal sebagai Al-Aqsa Intifada. Pada tahun 2002, sebuah resolusi untuk pengakhiran konflik Israel-Palestina diajukan oleh Amerika, Uni Eropa, Rusia, dan PBB. Pada tahun 2004 juga George W. Bush meminta bahwa sebuah negara Palestina bisa hidup berdampingan dengan Israel. Pada tahun 2005, pasukan milisi Palestina mulai menembakkan roket Qassam ke arah Israel. Perang yang tak kunjung henti antara Palestina dan Israel ini menjadi bagian kelam dalam sejarah berdirinya negara Palestina.

116 Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

Negara Palestina yang menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 15 November 1988 ini memiliki sebuah kisah menarik di dalamnya. Yang pertama kali mendeklarasikan kemerdekaan negara ini adalah Organisasi Liberasi Palestina (PLO) di Algiers yang saat itu bertindak sebagai government- in-exile, sebutan bagi sebuah kelompok politik yang mengklaim diri mereka sebagai pemerintahan yang legit tapi tidak mampu menggunakan kekuatan mereka dan malah tinggal di negara lain. Daerah yang diklaim sebagai bagian dari negara Palestina ini adalah daerah Tepi barat dan Jalur Gaza, sementara Yerusalem ditentukan sebagai ibu kotanya. Meski begitu, sejak tahun 1967 hampir seluruh daerah yang diklaim oleh Palestina kini diduduki oleh tentara Israel sebagai hasil dari perang Enam Hari yang terjadi pada tanggal 5 hingga 10 Juni di tahun tersebut.

Berdasarkan dari ulasan sejarah, maka dapatlah diketahui bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina adalah sebuah cerminan keserakahan terhadap suatu wilayah sehingga nilai-nilai hak asasi manusiapun kemudian diabaikan, pengabaian nilai-nilai kemanusiaan tersebut menandakan betapa tidak seimbangnya negara-negara dalam melakukan hubungan internasional, padahal sedari awal PBB dibentuk untuk menyeimbangkan posisi negara-negara sehingga tidak ada yang dominan antara yang satu dengan yang lainnya. Negara-negara barat yang memprakarsai keberanian Israel melakukan tindakan occupied Palestinian territory adalah bukti kuat mengapa nuansa politik sering mendominasi hubungan antar negara.

Negara-negara barat dengan segala upaya menciptakan suatu kondisi untuk mendukung cita- cita gerakan Zionis, dan lemahnya Kekhalifahan Ustmaniyah pada saat Palestina berada di bawah kekuasaannya (1526-1917), berperan dalam keberhasilan gerakan Zionis tersebut. Pada Konferensi London (1905- 1907) muncul gagasan untuk mendirikan “negara tirai” di wilayah Palestina dan pada saat itu Perdana Menteri Inggris Campbell Weizm, merekomendasikan untuk mendirikan entitas yang menjadi tirai humanis yang kuat dan asing di wilayah timur laut tengah dan sebaik-baik pelaksana proyek ini adalah Yahudi (Muhsin Muhammad Saleh, 2002:32 dalam Inggrit Fernandes, 2011:1). Hal inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal keberanian Israel untuk menguasai wilayah Palestina, karena selain memang menguntungkan bagi negaranya, hal ini juga mendapat dukungan yang kuat dari negara-negara barat.

Negara Israel berdiri pada tanggal 14 Mei 1948 didasarkan pada Resolusi Majelis Umum PBB No. 181 tahun 1947 (Adian Husaini, 2002:15 dalam Inggrit Fernandes, 2011:1). Resolusi ini menetapkan Jerusalem sebagai daerah yang berada di bawah kekuasaan internasional. Pada tanggal 29 November tahun 1947 Israel melanggar resolusi ini dengan mengklaim Jerusalem sebagai jantung kota Israel (Adian Husaini, 2002:157 dalam Inggrit Fernandes, 2011:1). Sejak diklaimnya Palestina sebagai teritorial negara Israel, maka Israel mulai melakukan pembangunan pemukiman di wilayah Palestina dengan dua proses evekuasi dan substitusi. Proses evakuasi dan substitusi yaitu dengan mengosongkan wilayah dan mengganti penduduknya dengan bangsa Yahudi yang dilakukan dengan cara kekerasan dan pembunuhan terhadap penduduk sipil Palestina. Hal ini sesuai dengan kebijakan utama politik luar negeri Israel adalah ekspansi wilayah , yang dapat dilihat dari dikuasainya 80% wilayah Palestina pada tahun 1949, jauh melebihi bagian yang ditetapkan PBB pada tahun 1947 yaitu hanya sebesar 56%. Proses substitusi rakyat Palestina dengan penduduk Israel mencapai proporsi yang sulit dipecahkan, selain itu pemerintahan Israel menghancurkan tempat ibadah Islam dan Kristen dan pada bulan Mei

Fakultas Hukum – UNISAN 117

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

1949 kemudian Israel membangun 1.947 pemukiman baru dan bulan Oktober 1947 imigran Yahudi berdatangan ke wilyah Palestina, jumlah mereka mencapai 25.255 imigran (Comes, 2001:137 dalam Inggrit Fernandes, 2011:2). Karena itulah kemudian mengapa hingga saat ini tindakan Israel mendapat kecaman dari sebagian besar negara-negara anggota PBB dan negara-negara yang tergabung dalam organisasi internasional tertentu.

Melihat tindakan occupied Palestinian territory oleh Israel, jika ditinjau dari perspektif Hukum Internasional Publik maka tindakan Israel ini dianggap telah melanggar Courtesy Principle yaitu prinsip saling menghormati dan saling menjaga kehormatan negara, prinsip ini merupakan salah satu prinsip yang telah menjadi jus cogens dalam hukum internasional sehingga keberlakuannya bersifat erga omnes bagi negara-negara tanpa terkecuali. Prinsip-prinsip hukum internasional umum ini (salah satunya adalah Courtesy Principle) juga termasuk salah satu sumber hukum internasional (mengenai penggolongan sumber hukum internasional menurut para sarjana dan menurut Pasal 38 ayat 1

Mahkamah Internasional, lihat Birkah Latif dan Kadarudin “2”, 2013:25-26), sehingga harus dipatuhi oleh negara-negara sebagai salah satu subjek hukum internasional, bahkan negara merupakan subjek utama dalam hukum internasional, sehingga Israel dalam kaitannya dengan tindakan occupied Palestinian territory telah melanggar hukum internasional. Courtesy Principle ini juga telah menjadi hukum kebiasaan internasional dan menjadi salah satu sumber hukum internasional, hukum kebiasaan internasional selalu dimengerti dalam dua hal yaitu adanya praktik negara-negara atau kebiasaan internasional disatu pihak, dan adanya perasaan yang mewujudkan kewajiban, sebagai consensus dilain pihak (F.A. Wishnu Situni, 1989:19). Bahkan dalam Piagam PBB sebagai dasar pembentukan dan terikatnya negara- negara anggota PBB telah mengatur bahwa “bangsa-bangsa diharapkan saling menghormati dan bekerjasama atas dasar persamaan dan kekeluargaan, bangsa-bangsa wajib menghormati kedaulatan negera lain, bangsa-bangsa diharapkan hidup berdampingan secara damai, serta bangsa yang satu tidak boleh memaksa kehendak kepada orang lain atau bangsa lain ”.

Hukum Humaniter Internasional sebagai salah satu cabang dari hukum internasional publik juga mengatur secara tegas dalam Protokol Tambahan I Tahun 1977 tentang Hubungannya dengan Perlindungan Korban-Korban Sengketa-Sengketa Bersenjata Internasional, dalam pembukaan protokol tersebut (dimana Palestina sebagai salah satu negara pihak) diatur bahwa :

- The High Contracting Parties (Pihak-Pihak Peserta Agung), - 'Proclaiming' their earnest wish to see peace prevail among peoples (‘Mengumumkan’

hasrat keinginan mereka yang sungguh-sungguh untuk melihat terwujudnya, perdamaian diantara rakyat-rakyat),

- 'Recalling' that every State has the duty, in conformity with the Charter of the United Nations, to refrain in its international relations from the threat or use of force against the sovereignty, territorial integrity or political independence of any State, or in any other

manner inconsistent with the purposes of the United Nations (‘Mengingat’ bahwa sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa setiap negara berkewajiban untuk tidak melakukan ancaman atau penggunaan kekerasan di dalam hubungan-hubungan internasionalnya terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik dari

118 Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

sesuatu Negara, atau dengan cara apapun lainnya yang bertentangan dengan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa),

- 'Believing' it necessary nevertheless to reaffirm and develop the provisions protecting the victims of armed conflicts and to supplement measures intended to reinforce their application (‘Berpendapat’ sekalipun demikian, perlu menegaskan kembali dan mengembangkan ketentuan-ketentuan yang melindungi para korban sengketa-sengketa bersenjata dan melengkapi tindakan-tindakan yang bertujuan untuk memperkuat kembali penerapannya),

- 'Expressing' their conviction that nothing in this Protocol or in the Geneva Conventions of

12 August 1949 can be construed as legitimizing or authorizing any act of aggression or any other use of force inconsistent with the Charter of the United Nations (‘Menyatakan’ keyakinan mereka bahwa tidak satupun ketentuan di dalam protokol ini atau di dalam Konvensi- konvensi Jenewa tanggal 12 Agustus 1949 dapat diartikan sebagai mengesahkan atau mengijinkan setiap tindakan agresi atau setiap penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa),

- 'Reaffirming' further that the provisions of the Geneva Conventions of 12 August 1949 and of this Protocol must be fully applied in all circumstances to all persons who are protected by those instruments, without any adverse distinction based on the nature or origin of the armed conflict or on the causes espoused by or attributed to the Parties to the conflict (‘Menegaskan kembali’ selanjutnya bahwa ketentuan-ketentuan dari Konvensi-Konvensi Jenewa tanggal 12 Agustus 1949 dan Protokol ini harus diterapkan sepenuhnya di dalam segala keadaan bagi semua orang yang dilindungi oleh persetujuan-persetujuan tersebut tanpa suatu pembedaan yang merugikan yang didasarkan atas sifat atau asal mula sengketa bersenjata itu atau atas sebab-sebab yang ditimbulkan oleh atau yang dianggap berasal dari Pihak- pihak dalam sengketa).

Bahkan lebih tegas dalam Pasal 1 tentang General principles and scope of application (Asas- asas umum dan ruang lingkup penerapan) dalam Protokol tersebut diatur bahwa : (1) The High Contracting Parties undertake to respect and to ensure respect for this Protocol in all circumstances (Pihak-pihak Peserta Agung berjanji untuk menghormati dan menjamin dihormatinya Protokol ini dalam segala keadaan);

(2) In cases not covered by this Protocol or by other international agreements, civilians and combatants remain under the protection and authority of the principles of international law derived from established custom, from the principles of humanity and from the dictates of public conscience (Dalam hal-hal yang tidak tercantum di dalam Protokol ini atau di dalam persetujuan-persetujuan internasional 1ainnya, orang-orang sipil dan kombatan- kombatan tetap berada di bawah perlindungan dan kekuasaan asas-asas hukum internasional yang berasal dari kebiasaan yang telah berlaku, dari asas-asas kemanusiaan dan dari suara hati nurani rakyat);

(3) This Protocol, which supplements the Geneva Conventions of 12 August 1949 for the protection of war victims, shall apply in the situations referred to in Article 2 common to

Fakultas Hukum – UNISAN 119

Jurnal Hukum JUSTITIA Vol. III, No. 2 Maret 2016

those Conventions (Protokol ini, yang melengkapi Konvensi-konvensi Jenewa 12 Agustus 1949 untuk perlindungan korban-korban perang, harus berlaku di dalam situasi-situasi yang disebut dalam pasal 2 yang umum dikenal pada Konvensi-Konvensi tersebut).

(4) The situations referred to in the preceding paragraph include armed conflicts in which peoples are fighting against colonial domination and alien occupation and against racist

régimes in the exercise of their right of self-determination, as enshrined in the Charter of the United Nations and the Declaration on Principles of International Law concerning Friendly Relations and Co-operation among States in accordance with the Charter of the United Nations (Yang dimaksud situasi-situasi di dalam ayat di atas termasuk pula sengketa-sengketa bersenjata yang didalamnya rakyat-rakyat sedang berperang melawan dominasi kolonial dan pendudukan asing dan melawan pemerintahan-pemerintahan rasialis untuk melaksanakan hak menentukan nasib sendiri mereka, sebagaimana yang dijunjung tinggi di dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Deklarasi tentang Asas-asas Hukum Internasional mengenai Hubungan-hubungan Persahabatan dan Kerjasama di antara Negara-Negara sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa).

Sehingga dengan demikian, jelaslah bahwa dalam pandangan hukum internasional tindakan occupied Palestinian territory juga telah melanggar hukum humaniter internasional. Pelanggaran terhadap hukum internasional publik dan hukum humaniter internasional oleh Israel atas tindakannya terhadap bangsa lain perlu ditindaklanjuti secara tegas di forum PBB atau setidak-tidaknya OKI dapat memainkan peranannya sebagai bagian dari masyarakat internasional untuk memberikan suatu rekomendasi ke DK PBB atas tindakan Israel selama ini terhadap Palestina. Keberuntungan juga

memihak pada Palestina ketika Palestina meratifikasi Statuta Roma 1998 dan diterima menjadi anggota dari Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court) terhitung mulai tanggal 1 April 2015 sehingga dengan demikian hal ini adalah bagian dari strategi lebih luas dari Palestina untuk menekan Israel supaya menarik diri dari wilayah-wilayah mereka, dan menyetujui negara Palestina (dalam ICC kemudian dikenal adanya 7 prinsip penting, lihat Romli Atmasasmita, 2004:11-12). Dilain pihak Palestina juga dapat melaporkan dan menuntut sejumlah tindakan Israel sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang (pelanggaran terhadap hukum dan kebiasaan perang, lihat KGPH. Haryomataram, 2005:105) ke ICC, walau secara praktik, hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan.

B. Larangan Masuk bagi Menteri Luar Negeri RI ke Tepi Barat Palestina oleh Israel Mempersoalkan sikap yang seharusnya dilakukan oleh Indonesia mengenai tindakan Israel yang melarang Menteri Luar Negeri RI masuk ke tepi barat Palestina tentunya dapat kita ukur melalui indikator hukum diplomatik yang selama ini dijadikan dasar praktik negara dalam melakukan hubungan internasional. Dasar-dasar hubungan antar negara dalam hukum diplomatik secara normatif kita bisa lihat dari ketentuan the 1961 Vienna Convention on Diplomatic Relation dan the 1963 Vienna Convention on Consular Relation . Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa Menteri Luar Negeri memiliki kekebalan dan keistimewaan dalam menjalankan misi diplomatik (mengenai alasan-alasan untuk memberi kekebalan lihat Sumaryo Suryokusumo, 2005:56), sehingga Israel melangar ketentuan tersebut, larangan Menteri Luar Negeri RI masuk ke tepi barat Palestina oleh Israel juga telah

120 Fakultas Hukum - UNISAN

Israel-Palestina

melanggar pasal yang mengatur tentang pembentukan misi-misi diplomatik, disini Negara Israel telah menghalang-halangi suatu negara untuk melakukan hubungan diplomatik dengan negara lain, padahal hal tersebut tidak ada kaitannya dengan negara Israel, dan juga tidak mengganggu kedaulatan atau kepentingan negaranya secara sah. Berikut kronologis tindakan Israel yang melarang Menteri Luar Negeri RI masuk ke tepi barat Palestina yang dibertitakan oleh http://www.rappler.com :

- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akhirnya melantik Konsul Kehormatan Indonesia untuk Palestina, Maha Abou Susheh, pada Minggu, 13 Maret di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Amman (Yordania). Pelantikan terpaksa dilakukan di Yordania, karena Retno dan delegasi tidak diberi izin oleh Israel untuk menyeberang menuju ke Ramallah, Tepi Barat.

- Susheh bisa hadir di KBRI Amman melalui jalur darat. Pelantikan itu turut disaksikan oleh Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al Maliki, Direktur Jenderal Asia dan Australia Kementerian Luar Negeri Palestina, Dubes Mazen Shamiya, beberapa Dubes negara anggota OKI dan negara anggota ASEAN. Sebelumnya, muncul kekhawatiran pelantikan Susheh akan batal, karena Kementerian Luar Negeri Israel tidak memberikan izin bagi Retno untuk menyeberang ke Ramallah.

- Kementerian Luar Negeri Palestina turut membenarkan informasi tersebut melalui rilis resmi. "Sebagai penghargaan atas hubungan bersejarah antara Palestina dan Indonesia, serta posisi Indonesia yang konsisten memberikan dukungan kepada negara dan Bangsa Palestina serta institusi negara lainnya, maka pada hari ini Presiden Mahmoud Abbas bertolak ke Amman untuk bertemu dengan Menlu Indonesia dan delegasi," tulis Kemlu Palestina dalam rilisnya.