Analisis Preferensi Habitat Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah

(1)

ANALISIS PREFERENSI HABITAT

BURUNG MALEO (

Macrocephalon maleo

) DI TAMAN

NASIONAL LORE LINDU SULAWESI TENGAH

SURYA TEDI APRIADI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009


(2)

PERNYATAAN

MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Preferensi Habitat Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah

adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2009

Surya Tedi Apriadi NIM. E351070081


(3)

ABSTRACT

SURYA TEDI APRIADI. Analysis of Habitat Preference for Maleo Bird (Macrocephalon maleo) in Lore Lindu National Park Central Sulawesi. Under

supervised by AGUS PRIYONO KARTONO and YENI A. MULYANI.

Maleo (Macrocephalon maleo Sal Muller 1846) is one of the rarest and

endemic species in Sulawesi. Currently, their distribution is limited to North Sulawesi, South East Sulawesi, West Sulawesi and Central Sulawesi. In Central Sulawesi maleo can be found in Lore Lindu National Park (LLNP), Morowali Nature Reserve, and Bakiriang Nature Reserve with the highest population number in LLNP. This study, that was done in LLNP from January to April 2009, were aimed at: (1) identifying characteristics of maleo habitat; (2) determining dominant habitat factors for maleo. The study was located in Management Sector I and II area of LLNP, Sigi Biromaru District, Central Sulawesi Province. Tools used in the study consisted of: digital map of LLNP, tally sheet, binoculars, GPS, digital camera, thermohygrometer and pH meter for soil. Direct field observation and literature review were done to collect data. The dominant habitat factors that determine habitat preference of maleo for nesting ground were slope (X2), distance from human activity (X5) and hot spring amount

(X14). The dominant habitat factors that determine habitat preference of maleo for

resting ground were feed plant amount (X1) and distance from human activity

(X5). The dominant habitat factors preferred maleo for feeding ground were feed

plant amount (X1), slope (X2) and distance from human activity (X5). Using Neu’s

method of preferential index analysis, it was concluded that out of 3 locations surveyed, Saluki had preferential indices greater than 1.


(4)

RINGKASAN

SURYA TEDI APRIADI. Analisis Preferensi Habitat Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah.

Dibimbing oleh AGUS PRIYONO KARTONO dan YENI A. MULYANI. Maleo (Macrocephalon maleo Sal Muller 1846) merupakan fauna langka

dan endemik yang hanya terdapat di Pulau Sulawesi, Indonesia. Saat ini maleo tersebar di Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Di Sulawesi Tengah maleo dapat dijumpai di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Cagar Alam Morowali dan Suaka Margasatwa Bakiriang dengan populasi terbesar di TNLL. Penelitian dilaksanakan sejak Januari hingga April 2009 dan bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik komponen habitat maleo; (2) menentukan faktor-faktor dominan komponen habitat yang disukai maleo. Lokasi penelitian terletak di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I dan II TNLL, Kabupaten Sigi Biromaru, Propinsi Sulawesi Tengah. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Peta TNLL, tally sheet, binokuler,

GPS, kamera, termohigrometer dan pH meter tanah. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di lapangan dan studi literatur. Faktor dominan komponen habitat yang disukai maleo untuk lokasi bertelur adalah kelerengan (X2), jarak dari aktivitas manusia (X5) dan jumlah sumber air panas bumi (X14).

Faktor dominan komponen habitat yang disukai maleo untuk lokasi beristirahat adalah jumlah jenis tumbuhan pakan (X1) dan jarak dari aktivitas manusia (X5).

Faktor dominan komponen habitat yang disukai maleo untuk lokasi mencari pakan adalah jumlah jenis tumbuhan pakan (X1), kelerengan (X2) dan jarak dari

aktivitas manusia (X5). Berdasarkan hasil analisis indeks preferensi dengan

metodeNeu,lokasi yang disukai maleo adalah Saluki (w>1).


(5)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.


(6)

ANALISIS PREFERENSI HABITAT

BURUNG MALEO (

Macrocephalon maleo

) DI TAMAN

NASIONAL LORE LINDU SULAWESI TENGAH

SURYA TEDI APRIADI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009


(7)

Judul : Analisis Preferensi Habitat Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah

Nama : Surya Tedi Apriadi

NRP : E351070081

Mayor : Konservasi Biodiversitas Tropika

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Ketua Anggota

Dr. Ir. Agus Priyono Kartono, M.Si. Dr. Ir. Yeni A. Mulyani, M.Sc. NIP. 196602211991031001 NIP. 196104111987032001

Diketahui,

Ketua Program Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana Konservasi Biodiversitas Tropika

Dr. Ir. A. Machmud Thohari, DEA. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S. NIP. 194802081980011001 NIP. 195604041980111002


(8)

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT atas segala Rahmat dan Karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika Sekolah Pascasarjana IPB.

Penelitian dilakukan di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pengelola taman nasional dalam melakukan upaya konservasi burung maleo di dalam kawasan TNLL.

Dalam tesis ini diuraikan tentang komponen fisik dan biotik habitat burung maleo, seperti ketinggian dan kelerengan lahan, suhu dan kelembaban lubang peneluran, ketersediaan dan kualitas air, ketersedian panas bumi (geothermal)

tanah, struktur vegetasi, jenis vegetasi pakan maleo, keanekaragaman jenis pakan maleo dan pola sebaran pakan maleo. Selain itu, diuraikan pula mengenai faktor-faktor dominan komponen habitat maleo dan pemodelan tipe habitat yang disukai oleh maleo di TNLL.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu diharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan tesis ini. Semoga hasil penelitian yang dituangkan dalam tesis ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Bogor, Agustus 2009


(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH SWT karena atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar magister sains dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Tesis ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Pada kesempatan ini izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Departemen Kehutanan, yang telah memberikan tugas belajar dan sponsor beasiswa dalam mengikuti pendidikan Magister Sains di Sekolah Pascasarjana IPB.

2. Ir. Istanto. M.Sc. dan Ir. Agus Priambudi, M.Sc. selaku Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah dan Kepala Balai TNLL periode 2005-2007 yang telah memberikan izin, rekomendasi dan motivasi kepada penulis untuk mengikuti program pendidikan di IPB

3. Ir. Tatang, MM dan Torang Lumban Tobing selaku Kepala Balai dan Kasubag TU BKSDA Sulawesi Tengah serta seluruh staf lingkup BKSDA Sulawesi Tengah atas motivasi dan dukungannya kepada penulis.

4. Ir. Widagdo, MM selaku Kepala Balai Besar TNLL dan seluruh staf lingkup TNLL terutama Bapak Herman Sasia dan Marselinus Y. Ado yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penelitian berlangsung.

5. Dr. Ir. Agus Priyono Kartono, M.Si selaku ketua Komisi dan Dr. Ir. Yeni A. Mulyani, M.Sc selaku anggota Komisi atas curahan pemikiran, waktu, kesabaran, saran, arahan dan petunjuk yang diberikan selama pembimbingan sehingga penyusunan tesis ini dapat diselesaikan.

6. Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, MSc yang telah bersedia meluangkan waktu sebagai penguji luar komisi dan memberikan koreksi, masukan serta saran untuk penyempurnaan tesis ini.

7. Dr. Ir. AM. Thohari, DEA selaku Ketua Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika Sekolah Pascasarjana IPB.

8. Dr. Rene WRJ Dekker dan Prof. Marc Argeloo atas kesediaanya memberikan publikasi dan literatur yang terkait dengan penelitian ini.


(11)

9. Teman seangkatan: Glen Eric Kangiras (TN Wasur), Yohan Hendratmoko (TN Kerinci Seblat), Aswan Sambary (TN Laiwangi Wanggameti), Sri Soegiharto (Litbang Kehutanan Samarinda), Rozza Tri Kwatrina (Litbang Kehutanan Pematang Siantar), Mariana Takandjandji (Puslitbang Konservasi Alam), Andi Witria Rudianto (TN Manusela), Dewi Ratna Kurniasari, R. Subekti Rahayu (ICRAF) dan Imanudin (FFI-IP) terima kasih atas kekeluargaan, kebersamaan, kekompakan dan kerjasama selama studi. 10. Pak Sofwan, Bu Irma dan Bibi Uum yang selalu siap membantu kelancaran

tugas pembelajaran dengan senyum dan pelayanan terbaiknya.

Ucapan terimakasih secara khusus penulis sampaikan kepada istri tercinta Helmayetti Hamid, S.Hut, M.Si dan anak-anakku tersayang Yahya Muhammad Ayyash dan Yusuf Muhammad Rayyan atas kasih, dukungan, pengorbanan dan doa yang tak pernah putus selama penulis menjalani studi. Kepada Ibu tercinta Hj. Zahro dan kakak-kakak tersayang diucapkan terima kasih atas dukungan dan doa yang diberikan.

Semoga ALLAH SWT memberi balasan keberkahan dan kebaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian dan penyusunan tesis ini. Semoga tesis ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait.


(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 03 April 1977 di Bandar Lampung, Lampung. Merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara pasangan Bapak Tjik Raden Abdurrahman (Alm) dan Ibu Hj. Zahro. Pada tahun 1990 menamatkan pendidikan di SD Negeri 2 Panjang Utara Bandar Lampung, tahun 1993 menamatkan pendidikan di SMP Negeri 2 Tanjung Karang Bandar Lampung. Tahun 1996 penulis lulus dari SMU Negeri 2 Tanjung Karang Bandar Lampung serta pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan dan lulus pada tahun 2001.

Pada tahun 1998-2002 penulis aktif di LSM Komunitas Pro Latar, Bogor. Tahun 2001-2002 penulis bekerja di Inventra Management Consultant, Jakarta. Pada tahun 2002-2004 penulis bekerja di PT. Retota Sakti, Magelang, Jawa Tengah. Sejak bulan Desember 2003 penulis diterima di Departemen Kehutanan dan mulai aktif bekerja di BKSDA Sulawesi Tengah pada bulan Januari 2005 hingga saat ini.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Mayor Konservasi Biodiversitas Tropika Sekolah Pascasarjana IPB, penulis melakukan penelitian tentang “Analisis Preferensi Habitat Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah” yang

dibimbing oleh Dr. Ir. Agus Priyono Kartono, M.Si sebagai Ketua dan Dr. Ir. Yeni A. Mulyani, MSc sebagai Anggota Komisi Pembimbing.


(13)

(i)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan Penelitian ... 3

1.3. Manfaat Penelitian ... 3

II. TINJUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Taksonomi dan Morfologi ... 4

2.2. Populasi dan Distribusi ... 5

2.3. Habitat ... 6

2.4. Pakan ... 9

2.5. Perkembangbiakan ... 10

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ... 12

3.1. Sejarah Perkembangan Kawasan ... 12

3.2. Kondisi Fisik Kawasan ... 12

3.2.1. Letak dan Luas... 12

3.2.2. Ketinggian Tempat dan Kelerengan Lahan... 13

3.2.3. Tanah... 14

3.2.4. Iklim ... 14

3.2.5. Hidrologi... 15

3.3. Kondisi Biotik ... 16

3.3.1. Vegetasi... 16

3.3.2. Satwaliar ... 16

IV. METODE PENELITIAN ... 18

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 18

4.2. Peralatan ... 18

4.3. Jenis Data yang Dikumpulkan ... 19

4.4. Metode Pengumpulan Data ... 19

4.4.1. Pengamatan Pendahuluan... 19

4.4.2. Penentuan dan Peletakan Petak Contoh ... 20

4.4.3. Komponen Fisik Habitat ... 20

4.4.4. Komponen Biotik Habitat... 21

4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 22

4.5.1. Komponen Fisik Habitat ... 22

4.5.2. Komponen Biotik Habitat... 23

4.5.3. Faktor Dominan Komponen Habitat... 26


(14)

(ii)

Halaman

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31

5.1. Hasil ... 31

5.1.1. Komponen Fisik Habitat Burung Maleo ... 31

5.1.2. Komponen Biotik Habitat Maleo... 34

5.1.3. Faktor Dominan Komponen Habitat Maleo ... 38

5.1.4. Preferensi Habitat Maleo... 40

5.2. Pembahasan ... 40

5.2.1. Komponen Fisik Habitat Burung Maleo ... 40

5.2.2. Komponen Biotik Habitat Maleo... 44

5.2.3. Faktor Dominan Komponen Habitat Maleo ... 47

5.2.4. Preferensi Habitat Maleo... 52

VI. SIMPULAN DAN SARAN... 54

6.1. Simpulan ... 54

6.2. Saran ... 54

DAFTAR PUSTAKA... 55 LAMPIRAN


(15)

(iii)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Penyebaran maleo di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (Ma’dika

et al. 2001)... 6

2. Jenis dan luas setiap tipe penutupan lahan ... 13

3. Luas lokasi penelitian berdasarkan ketinggian tempat ... 14

4. Luas lokasi penelitian berdasarkan kelerengan lahan ... 14

5. Peubah yang diukur pada pemilihan pakan berdasarkan metode Neu (Bibbyet al. 1998) ... 24

6. Nilai chi-squarepemilihan ketinggian tempat oleh maleo... 31

7. IndeksNeuuntuk preferensi maleo berdasarkan ketinggian tempat ... 31

8. Nilai chi-squarepemilihan kelerengan tempat oleh maleo ... 32

9. IndeksNeuuntuk preferensi maleo berdasarkan kelerengan tempat ... 32

10. Frekuensi kehadiran maleo berdasarkan jumlah sumber air panas... 33

11. Nilai chi-square pemilihan lokasi berdasarkan jumlah sumber air panas oleh maleo ... 33

12. Frekuensi kehadiran maleo berdasarkan pH tanah ... 33

13. Daftar jumlah jenis vegetasi berdasarkan tingkat pertumbuhan... 34

14. Empat jenis vegetasi tingkat tiang dengan kerapatan tertinggi pada lokasi penelitian ... 35

15. Empat jenis vegetasi tingkat pohon dengan kerapatan tertinggi pada lokasi penelitian ... 35

16. Pola sebaran 11 jenis tumbuhan pakan maleo yang termasuk ke dalam kategori pakan yang disukai ... 38

17. Pola sebaran jenis tumbuhan pakan maleo berdasarkan lokasi ... 38


(16)

(iv)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Burung maleo yang ditemukan di Sulawesi Tengah... 5

2. Peta kawasan TNLL berdasarkan bidang pengelolaan yang menunjukkan lokasi penelitian di Bora, Kadidia dan Saluki... 18

3. Bentuk dan ukuran petak pengamatan inventarisasi vegetasi dengan metode petak berganda ... 22

4. Kemiri (Aleurites moluccana) ... 36

5. Buah pangi (Pangium edule) ... 36

6. Indeks kekayaan jenis tumbuhan pada lokasi penelitian ... 37

7. Indeks kemerataan jenis tumbuhan pada lokasi penelitian... 37


(17)

(v)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Rata-rata suhu udara harian dan rata-rata kelembaban udara harian

pada lokasi penelitian ... ... 59

2. Spesies tumbuhan yang ditemukan di lokasi penelitian... ... 61

3. IndeksNeuuntuk preferensi pakan maleo di TNLL... ... 63

4. Daftar jenis pakan yang disukai maleo menurut bagian yang dimakan... 64

5. Pola sebaran setiap spesies pakan maleo pada lokasi penelitian ... ... 65

6. Hasil analisis regresi linier berganda terhadap 14 peubah pada lokasi bertelur maleo ... ... 66

7. Hasil analisis regresi linier berganda terhadap 7 peubah pada lokasi beristirahat maleo ... ... 75

8. Hasil analisis regresi linier berganda terhadap 7 peubah pada lokasi mencari pakan maleo... ... 80


(18)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Burung maleo (Macrocephalon maleo Sal Muller 1846) termasuk famili

Megapodiidae yang merupakan fauna langka dan endemik yang hanya terdapat di Pulau Sulawesi, Indonesia. Sebaran maleo di Sulawesi meliputi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara (Whitten 1987, Gazi 2008). Di Provinsi Sulawesi Tengah, burung maleo dapat dijumpai di beberapa tempat antara lain di Kecamatan Sausu Kabupaten Parigi Moutong, Cagar Alam Morowali, Suaka Margasatwa Bakiriang dan terutama di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Populasi maleo terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah (Butchartet al.1998).

Maleo dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources

(IUCN) memasukkan maleo ke dalam 2008 IUCN Red List dengan kategori

sebagai satwa langka yang terancam punah (endangered) dan pada tahun 2008, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora(CITES) menempatkan maleo ke dalam Appendix I.

Kawasan TNLL memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna khas yang ada di zona Wallacea. Hampir semua jenis satwa endemik Sulawesi terdapat di dalam kawasan TNLL, termasuk burung maleo.

Joneset al.(1995) menyatakan bahwa burung maleo menggunakan dua tipe

tempat peneluran, yaitu di daerah pantai dan pedalaman daratan. Di daerah pantai, telur-telur diletakkan di dalam tanah berpasir dan maleo memanfaatkan energi sinar matahari untuk membantu penetasan telurnya, sedangkan di daratan pedalaman (inland) telur-telur sering diletakkan di lubang yang berada dekat

dengan sumber panas bumi.

Butchart et al. (1998) menyatakan TNLL merupakan salah satu tempat

penting bagi burung maleo untuk hidup dan menetaskan telur. Hal ini karena lokasi bertelur burung maleo di TNLL hampir seluruhnya berada di dalam kawasan hutan yang luas dan relatif masih utuh. Namun demikian, populasi maleo di kawasan TNLL terancam akibat kerusakan habitat di dalam dan sekitar


(19)

2 tempat bertelur, selain itu juga terjadi pengambilan telur yang berlebihan dari lokasi bertelur oleh masyarakat (Butchart et al. 1998). Ancaman lain bagi

populasi maleo adalah perburuan induk/burung maleo dewasa dengan menggunakan perangkap atau jerat di sekitar lubang bertelur maleo. Aktivitas perambahan hutan dan pengambilan rotan oleh masyarakat di dekat lokasi bertelur juga memberikan gangguan yang merusak dan tidak terkontrolnya pengambilan telur di tempat peneluran burung maleo.

Upaya pelestarian burung maleo di TNLL melalui kegiatan penangkaran semi alami telah dilakukan oleh berbagai pihak, akan tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan. Pengelola TNLL telah membangun penangkaran semi alami di dekat lokasi peneluran burung maleo di Saluki, tetapi peluang keberhasilan penetasan rendah, yakni dari 53 butir telur maleo yang diambil dari alam dan ditetaskan selama periode bulan Januari dan Februari 2006 yang berhasil menetas hanya sebanyak 13 butir (BTNLL 2006). Berdasarkan hal tersebut, pembinaan dan pelestarian habitat alami diduga masih merupakan upaya yang terbaik dalam upaya pelestarian populasi maleo. Agar upaya pembinaan habitat alami dapat dilakukan secara efisien, diperlukan pengetahuan mengenai karakteristik komponen habitat yang dibutuhkan oleh maleo.

Menurut Butchart et al. (1998), lokasi bertelur burung maleo di TNLL

terdapat di 9 (sembilan) lokasi dan hampir seluruhnya berada di dalam kawasan hutan yang relatif masih utuh. Meskipun demikian, beberapa lokasi peneluran burung maleo di TNLL mengalami gangguan berat dengan status sangat terancam serta populasi yang kecil dan mengalami penurunan. Selanjutnya Ma’dika et al.

(2001) mencatat bahwa maleo di TNLL hanya menggunakan tempat-tempat tertentu sebagai habitatnya, terutama sebagai habitat bertelur maleo yang tersebar di 10 (sepuluh) lokasi di kawasan TNLL. Akan tetapi dalam penelitian mereka, Butchart et al. (1998) dan Ma’dika et al. (2001) tidak menjelaskan dan belum

menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut :

1. Mengapa burung maleo cenderung menggunakan areal tertentu sebagai habitat terpilih di TNLL?


(20)

3 2. Faktor-faktor dominan komponen habitat apa saja yang mendorong dan menentukan dipilihnya suatu areal kawasan TNLL menjadi habitat yang disukai oleh burung maleo?

Sehubungan dengan hal-hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang preferensi habitat bagi burung maleo di TNLL. Hasil penelaahan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pengelolaan habitat dalam upaya pelestarian burung maleo serta sebagai dasar dalam penentuan zonasi kawasan TNLL.

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tentang analisis tipologi habitat burung maleo di TNLL adalah untuk :

1. Mengidentifikasi karakteristik komponen fisik dan biotik habitat maleo. 2. Menentukan faktor-faktor dominan komponen habitat yang disukai maleo. 1.3. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa ketersediaan data dan informasi tentang tipologi habitat burung maleo di TNLL. Selain itu manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini bagi pengelola TNLL adalah: 1. Teridentifikasinya tapak-tapak spesifik yang dimanfaatkan oleh maleo untuk

menjamin kelestarian populasi.

2. Tersedianya data dan informasi tentang faktor-faktor dominan komponen fisik dan biotik habitat yang disukai maleo sehingga dapat dilakukan manipulasi habitat dalam upaya melestarikan populasi maleo dan penentuan lokasi-lokasi potensial untuk kegiatan konservasiin-situmaleo di TNLL.


(21)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Taksonomi dan Morfologi

Menurut Joneset al. (1995) serta Heij & Rompas (1999), burung megapoda

terdiri atas 22 genus, salah satu jenis diantaranya adalah burung maleo. IUCN (2008) mengklasifikasikan burung maleo ke dalam Kingdom Animalia, filum Chordata, sub filum Vertebrata, kelas Aves, ordo Galliformes, famili Mega-podiidae, genus Macrocephalon, spesies Macrocephalon maleo. Jones et al.

(1995) dan Del Hoyo et al. (1994) menyebutkan burung maleo dikenal dengan

nama daerah senkawor, sengkawur, songkel, maleosan (Minahasa), saungke (Bintauna), tuanggoi (Bolaang Mongondow), tuangoho (Bolaang Itang), bagoho (Suwawa), mumungo, panua (Gorontalo), molo (Sulawesi Tenggara).

Burung maleo termasuk spesies burrow nester, yaitu burung pembuat

lubang atau liang. Ukuran tubuh burung maleo hampir sama dengan ayam betina, berbobot 1,6 kg dengan panjang sayap jantan 292 mm dan betina 302 mm. Bobot anakan burung maleo yang baru menetas berkisar antara 109–169 g. Umur burung maleo bisa mencapai 25–30 tahun dan mencapai umur produktif setelah 4 tahun. Dalam pemeliharaan, burung maleo dapat mencapai umur 20 tahun lebih dan masih produktif (Argello 1991, Dekker 1990).

Burung maleo dewasa memiliki panjang paruh 3,5 cm, panjang kepala 3,0 cm, panjang badan 19,5 cm, bobot badan 1,5 kg, lebar mata 1,5 cm, panjang leher 17,0 cm, panjang kaki 21,0 cm dan panjang sayap 20 cm (MacKinnon 1981, Aliu

et al. 2005). Secara keseluruhan warna bulunya hitam keungu-unguan sebagai

warna utama, sedangkan warna bulu bagian dada dan perutnya bervariasi antar daerah di Sulawesi, yaitu di Gorontalo berwarna putih kemerah-merahan, di Sulawesi Tengah berwarna merah menyala, sedangkan di Mamuju (Sulawesi Barat) berwarna kuning dan putih. Warna paruh hijau pucat dengan warna merah pada pangkalnya. Dijumpai pula burung maleo yang warna paruhnya oranye, merah atau abu-abu dan terkadang hitam (Hendro 1974, Nurhayati 1986, Tikupandang et al. 1993). Burung maleo yang ditemukan di Sulawesi Tengah

dengan tonjolan di bagian kepala berwarna kelabu kehitam-hitaman disajikan pada Gambar 1.


(22)

5

Foto : BKSDA Sulawesi Tengah

Gambar 1. Burung maleo yang ditemukan di Sulawesi Tengah

Pada bagian kepala terdapat mahkota berwarna kelabu kehitam-hitaman yang disebut kapseti dan berfungsi untuk mengukur temperatur ketika burung

tersebut menggali lubang untuk peletakan telur (MacKinnon 1981). Mahkota (kapseti) maleo jantan lebih besar dari maleo betina. Mata burung maleo

berwarna cerah dengan paruh yang besar, kokoh serta lancip dan berwarna hitam dengan bagian ujungnya merah kekuningan. Paruh yang besar ini berguna untuk membantu memecah makanannya yang keras dan besar. Burung maleo mempunyai pengaturan suhu tubuh yang tetap (homoithermal) dan bulu badan

yang tebal (Hendro 1974, Wiriosoeparto 1979, Nurhayati 1986, Santoso 1990). Ukuran telur maleo dengan berat 16% dari bobot badan betina dewasa (pada telur ayam hanya 3% dari bobot badan induk) atau sekitar 190–280 g, dengan panjang 9,00 cm dan diameter 6 cm sehingga perbandingan antara telur ayam dengan telur burung maleo sama dengan 5 kali telur ayam. Dalam keadaan segar telur maleo berwarna merah jambu dan kemudian berubah menjadi kecoklat-coklatan (Hendro 1974, MacKinnon 1981)

2.2. Populasi dan Distribusi

Burung maleo hanya dapat dijumpai di Pulau Sulawesi yaitu di Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara


(23)

6 (Whittenet al. 1987, Gazi 2008). Populasi maleo terbanyak ditemukan di daerah

Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah (Hendro 1974).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Ma’dika et al. (2001), maleo

di TNLL tersebar di 10 lokasi. Lokasi peneluran Saluki memiliki ukuran populasi maleo besar dan habitat berdekatan dengan tanaman coklat. Lokasi peneluran Kadidia memiliki ukuran populasi maleo kecil dan habitat berdekatan dengan tanaman kopi sedangkan lokasi peneluran Bora memiliki ukuran populasi maleo kecil dengan habitat berupa semak dan perdu (Tabel 1).

Tabel 1. Penyebaran maleo di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (Ma’dikaet al.2001)

Koordinat Lokasi Habitat LubangJumlah PopulasiUkuran PerkiraanPopulasi

LS BT

Pakuli Semak dan perdu 164 Sedang 70 – 130 01o13’50” 119 o57’48”

Saluki Tanaman coklat 722 Besar 325 – 650 01o17’54” 119o58’32”

Mapane Semak belukar 49 Kecil 22 – 44 01o19’23” 119o58’33”

Kadidia Tanaman kopi 14 Kecil 6 – 13 01o11’30” 120o07’13”

Hulurawa Hutan primer 258 Besar 116 – 232 01o13’44” 120o06’13”

Mangku Semak belukar 48 Kecil 27 – 47 01o39’25” 120o05’90”

Kaya Tanaman bambu 94 Sedang 42 – 85 01o39’56” 120o05’17”

Kertambe Hutan primer 8 Kecil 4 – 7 01o49’52” 120o08’07”

Taveki Sempadan sungai 130 Sedang 59 – 117 01o21’58” 120o11’45”

Bora Semak dan perdu 59 Kecil 27 – 53 01o03’32” 119o56’32”

Keterangan: Penentuan ukuran populasi mengikuti Butchart et al. (1998) dengan kriteria:1) Besar (>200

lubang); 2) Sedang (75–200 lubang); 3) Kecil (<75 lubang)

Secara keseluruhan populasi maleo di semua tempat dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu selama 10 tahun terakhir telah mengalami penurunan. Ma’dika et al. (2001) dalam laporannya menyebutkan bahwa pengambilan telur

maleo merupakan penyebab utama menurunnya populasi burung tersebut di habitat alaminya, selain aktivitas manusia yang merusak habitat maleo. Pada tahun 1978 populasi maleo diperkirakan 5.000–10.000 ekor, dengan produksi telur tahunan sebanyak 30 butir per individu betina (MacKinnon 1978).

2.3. Habitat

Garshelis (2000) mendefinisikan habitat sebagai tempat dimana hewan dapat hidup secara normal, atau lebih spesifik lagi, sekumpulan sumberdaya dan kondisi yang diperlukan oleh hewan untuk hidup. Bailey (1984) menyatakan


(24)

7 bahwa habitat memiliki fungsi dalam penyediaan makanan, air dan pelindung. Dari segi komponennya habitat terdiri atas komponen fisik dan komponen biotik.

Komponen fisik dan biotik ini membentuk suatu sistem yang dapat mengen-dalikan kehidupan satwaliar. Suatu habitat adalah hasil interaksi dari sejumlah komponen. Komponen fisik terdiri dari air, udara, iklim, topografi, tanah dan ruang; sedangkan komponen biotik terdiri dari vegetasi, mikro dan makro fauna, serta manusia (Alikodra 1990).

Istilah seleksi atau pemilihan habitat dan preferensi habitat atau habitat yang disukai sering digunakan dan tertukar maknanya satu sama lain. Banyak peneliti berpendapat bahwa pemilihan habitat sama dengan preferensi habitat , akan tetapi Johnson (1980) menyatakan bahwa seleksi habitat lebih menekankan pada proses pemilihan habitat atau sumberdaya oleh satwaliar, sedangkan preferensi habitat mencerminkan tingkat kesukaan satwaliar dalam memilih suatu habitat atau sumberdaya tertentu jika semua habitat tersebut secara bersama-sama ada dan memiliki jumlah yang sama. Tipologi habitat merupakan proses klasifikasi habitat yang dapat dibedakan melalui definisi habitat, narasi jenis flora dan fauna dan fungsi dari habitat itu sendiri. Definisi tipologi habitat sangat jarang digunakan dalam banyak literatur, akan tetapi definisi yang pernah digunakan tentang tipologi habitat adalah unit lahan atau perairan yang berisi sekumpulan habitat yang memiliki kesamaan struktur, fungsi dan respon terhadap gangguan (Lengyel & Kobler 2007).

Burung maleo tidak membuat sarang, tidak menyimpan telur di sarang, serta tidak mengerami telurnya seperti umumnya jenis burung lain, melainkan hanya meletakkan telurnya di dalam tanah yang memiliki suhu cukup hangat untuk menetaskan telur tersebut. Kehangatan bersumber dari panas matahari (di pantai terbuka), panas bumi (di hutan) ataupun gabungan panas matahari dan panas bumi.

Habitat bertelur burung maleo terdapat di hutan-hutan berbukit dengan semak-semak serta hutan dekat pantai yang memiliki sumber panas. Nesting ground terbagi atas habitat bertelur di pantai (coastal nesting ground) dan habitat

bertelur di dalam hutan dengan sumber panas geothermal (inland nesting ground)


(25)

8 Tengah terdapat di Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Suaka Margasatwa Bakiriang, Cagar Alam Tanjung Api, Cagar Alam Tanjung Dako, dan Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop (BKSDA Sulawesi Tengah 2002).

Joneset al. (1995) menyatakan bahwa lubang pengeraman terletak di tanah

vulkanik dan pantai yang terekspos matahari, tepi danau, tepi sungai dan bahkan jalan berdebu sepanjang tepi pantai. Lubang sangat bervariasi dalam ukuran dan kedalaman tergantung substrat dan temperatur tanah. Lebar lubang dapat men-capai 300 cm dengan kedalaman lebih dari 100 cm. Masa inkubasi 60–80 hari dengan temperatur tanah 32o–39oC (del Hoyo et al. 1994). Gunawan (2000)

menyatakan bahwa suhu tanah di lubang pengeraman yang optimal adalah 34oC

dengan kelembaban berkisar 50–80% dan pH tanah bervariasi mulai dari 5,1–7,1. Burung maleo memilih tempat bertelur dengan cara mematuk-matukkan paruhnya ke permukaan tanah. Biasanya tempat bertelur dipilih pada areal yang lebih banyak penyinaran matahari. Demikian pula dengan keadaan tekstur tanah, maleo memilih tanah yang memiliki tekstur berpasir karena hal ini erat hubungannya dengan lamanya penggalian lubang dan keadaan posisi telur di dalam lubang (Wiriosoepartho 1980).

Gunawan (2000) menyatakan bahwa kedalaman lubang sarang pengeraman telur burung maleo ditentukan oleh kuatnya pengaruh dari sumber panas. Apabila pengaruh dari sumber panas bumi cukup kuat maka kedalaman lubang pengeraman tidak terlalu dalam, tetapi bila panas bumi kurang maka lubang digali cukup dalam. Lebar lubang sarang pengeraman telur dipengaruhi oleh kedalaman lubang dan tekstur tanah, semakin dalam lubang yang digali semakin bertambah ukuran lebar. Terdapat beberapa tipe sarang pengeraman telur bagi burung maleo, yakni:

a). Tipe sarang pengeraman di tempat terbuka, adalah sarang yang dibuat di tempat yang langsung mendapat sinar matahari sepanjang siang, umumnya ditemukan di habitat pantai dimana sumber panas pengeraman berasal dari radiasi matahari.

b). Tipe sarang pengeraman di bawah naungan tajuk, adalah sarang yang dibuat di bawah tajuk dengan fungsi sebagai pelindung sinar matahari dan hujan. Tipe sarang ini umum dijumpai di habitat tempat bertelur yang bersumber


(26)

9 panas bumi (geothermal). Tajuk bambu atau rumpun rotan menjadi naungan

yang disukai maleo untuk bersarang.

c). Tipe sarang pengeraman di bawah lindungan pohon tumbang, adalah sarang yang dibuat di bawah batang pohon tumbang. Maleo cenderung memilih pohon dengan diameter batang yang mampu melindungi sarang dari sinar matahari, hujan dan longsor.

d). Tipe sarang pengeraman di bawah naungan tebing atau batu, adalah sarang yang dibuat di samping batu-batu yang miring, di celah-celah batu atau di samping tebing.

e). Tipe sarang pengeraman di dalam goa, adalah sarang yang dibuat di dalam lubang-lubang goa di daerah karst sehingga sarang tersebut terlindung dari sinar matahari dan hujan.

f). Tipe sarang pengeraman disamping perakaran pohon, adalah sarang yang dibuat dengan salah satu sisinya menempel pada sistem perakaran tumbuhan sehingga pada sisi tersebut terhindar dari longsor.

g). Tipe sarang pengeraman di antara banir pohon adalah sarang yang dibuat di sela-sela banir atau sistem perakaran yang rumit sehingga sarang tersebut terhindar dari satwa predator.

2.4. Pakan

Seperti halnya dengan jenis unggas yang lain, burung maleo membutuhkan pakan sebagai sumber zat-zat makanan untuk tumbuh dan berkembangbiak. Burung maleo mencari pakan di sekitar lokasi peneluran di tepi pantai dan hutan (MacKinnon 1981). Burung maleo aktif mencari pakan sejak matahari terbit (pukul 05:00) hingga terbenam (pukul 18:00) dan maleo mencari pakan secara berpasangan di hutan-hutan (Wiriosoepartho 1979).

Makanan burung maleo pada umumnya adalah biji-bijian dan beberapa jenis buah-buahan di hutan. Biji atau buah yang dimakan antara lain Aleurites moluccana, Dracontomelan mangiferum, Endiandra sp., Ficus sp., Macaranga sp.,Garuga floribunda,Arenga pinnata,Syzygium sp.,Cananga odorata,Alstonia scholaris, Garcinia sp., Gouia sp., Aglaia argentea, Gnetum gnemon, Koordersiodendron pinnatum, Diospyros sp., Pterospermum javanicum dan


(27)

10

Endiandra sp. Selain itu burung maleo juga memakan serangga kecil seperti ulat,

siput dan kepiting (Hendro 1974, Wiriosoepartho 1980, Tikupadang et al. 1993,

Gunawan 1994, Satriani 2004). Burung maleo jarang terlihat langsung memakan buah dan biji yang masih menempel di pohon, tetapi lebih menyukai buah dan biji yang telah jatuh di permukaan tanah (Wiriosoepartho 1979).

2.5. Perkembangbiakan

Burung maleo memilih tempat bertelur yang berpasir, bervegetasi, namun masih dapat disinari matahari secara intensif. Persyaratan tempat bertelur burung maleo adalah: (1) tanah berpasir, (2) adanya sumber panas, (3) terletak di pesisir pantai dengan letak yang agak tinggi sedikit dari permukaan pantai atau tepi sungai yang tidak begitu lebat hutannya, (4) suhu tanah berkisar antara 32–39oC (Nurhayati 1986). Areal peneluran alami memiliki suhu pengeraman yang relatif konstan sepanjang siang dan malam hari.

Musim bertelur burung maleo berlangsung sepanjang tahun, tetapi produksi telur pada suatu tempat bervariasi dari bulan ke bulan (Joneset al. 1995). Waktu

bertelur burung maleo terjadi pada pukul 06:00–12:00 waktu setempat. Pada malam sebelum bertelur pasangan burung maleo akan bertengger di atas dahan pepohonan tidak jauh dari tempat bertelur. Esok paginya pasangan burung maleo turun berpasangan mencari pakan, kemudian menuju daerah berpasir untuk menggali lubang tempat bertelur sambil berbunyi terus menerus seperti bernyanyi dan menandai teritorinya. Penggalian tempat bertelur dilakukan secara bergantian antara jantan dan betina, dan berlangsung sangat cepat sekitar 30 menit. Tonjolan di kepala burung maleo yang menyerupai helm merupakan alat pengukur suhu tanah dalam aktivitas penggalian lubang peneluran (MacKinnon 1978, Wiriosoepartho 1980, Dekker 1990).

Setelah membuat lubang, pasangan burung akan menghilang ke dalam belukar sekitar 15 menit untuk beristirahat sambil mengawasi keamanan sekitar lubang. Bila dirasakan aman, betina akan bertelur dan jantan berjaga-jaga sekitar lubang. Selesai bertelur keduanya akan bersama-sama menutup lubang dalam waktu sekitar 10 menit dan biasanya pasangan burung ini akan membuat kamuflase dengan bekas cakaran segitiga agak jauh dari lobang sesungguhnya


(28)

11 (Nurhayati 1986). Terdapat kecenderungan lokasi bertelur yang sudah dipilih selalu digunakan dari generasi ke generasi selama tempat tersebut tidak mengalami gangguan (Hendro 1974, Tikupadanget al. 1993, Gunawan 2000).

Seekor induk maleo hanya dapat menghasilkan 8–12 butir telur dalam setahun dan untuk memproduksi 1 butir telur, seekor maleo membutuhkan waktu 7–9 hari (Dekker 1990). Di Sulawesi Utara pada bulan November sampai Januari produksi telur lebih banyak 3 sampai 4 kali dari bulan-bulan yang lainnya. Peningkatan yang nyata ini terjadi karena pada bulan-bulan tersebut pohon-pohon penghasil bahan pakan maleo berbuah sehingga produksi telur meningkat tajam dibanding bulan-bulan saat pohon belum berbuah (Nurhayati 1986).

Berat telur berkisar antara 178–267 gr dengan panjang 92,1–112,6 mm dan diameter 57,6–65,5 mm (Dekker & Brom 1990). Masa pengeraman tergantung pada temperatur tanah yaitu berkisar antara 62–85 hari (Dekker 1990). Apabila tidak busuk, pecah, dimakan predator atau diambil manusia, maka telur maleo akan menetas. Anak maleo yang baru menetas akan menggali pasir untuk keluar dari lubang dan langsung terbang mencari pohon terdekat, bila tidak dimakan predator. Anak maleo memerlukan waktu 1–2 hari untuk memecah kulit telur dan menggali lubang untuk keluar (MacKinnon 1986).


(29)

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1. Sejarah Perkembangan Kawasan

Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) secara resmi ditetapkan sebagai salah satu taman nasional di Indonesia pada tanggal 23 Juni 1999 setelah mengalami beberapa perubahan status kawasan dan pengelolaannya. Pada awalnya TNLL merupakan penggabungan dari beberapa kawasan lindung meliputi: Suaka Margasatwa Lore Kalamanta (SK Mentan No. 522/Kpts/Um/1973), Hutan Wisata dan Hutan Lindung Danau Lindu (SK Mentan No. 46/Kpts/Um/1978), dan Suaka Margasatwa Lore Lindu (SK Mentan No. 1012/Kpts/Um/1981).

Dasar keputusan penetapan kawasan tersebut sebagai TNLL adalah deklarasi penggabungan kawasan lindung sebagai taman nasional pada saat kongres taman nasional sedunia di Denpasar Bali tahun 1982, melalui SK Mentan No. 736/Mentan/X/1982. Selanjutnya ditunjuk oleh Menteri Kehutanan melalui SK Menhut No. 593/Kpts-II/1993 tanggal 3 April 1993 dengan luas 229.000 hektar.

Keputusan tersebut dijadikan dasar untuk melakukan tata batas definitif dan dikukuhkan Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui SK Menhutbun No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas 217.991,18 hektar. Kawasan TNLL memiliki nilai yang sangat tinggi, tidak hanya karena pesona alamnya yang khas atau budaya masyarakat di sekitarnya yang unik, akan tetapi kawasan ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Wilayah kerja pengelolaan TNLL terbagi atas tiga Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (BPTNW) yaitu, BPTNW I di Saluki, BPTNW II di Makmur dan BPTNW III di Poso.

3.2. Kondisi Fisik Kawasan

3.2.1. Letak dan Luas

Secara geografis TNLL terletak pada posisi koordinat 119°58’–120°16’ BT dan 1°80’–1°30’ LS seluas 217.991,18 hektar. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, TNLL terletak di dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sigi Biromaru (Kecamatan Kulawi, Sigi Biromaru, Palolo) dan Kabupaten Poso


(30)

13 (Kecamatan Lore Utara, Lore Selatan, Lore Tengah) Provinsi Sulawesi Tengah. Di bagian utara TNLL dibatasi oleh dataran Palolo, bagian timur oleh dataran Napu, bagian selatan dibatasi dataran Bada, serta bagian barat oleh Sungai Lariang dan hulu Sungai Palu (lembah Kulawi).

Lokasi penelitian di Bora, Saluki dan Kadidia terletak di wilayah Kabupaten Sigi Biromaru (Kecamatan Kulawi, Sigi Biromaru, Palolo) Provinsi Sulawesi Tengah. Pemilihan lokasi-lokasi peneluran maleo di TNLL dalam penelitian ini adalah dengan pertimbangan pada blok Bora merupakan perwakilan tipe ekosistem savana dengan tipe vegetasi semak dan perdu, blok Kadidia merupakan perwakilan tipe hutan sub pegunungan yang berdekatan dengan tanaman kopi dan blok Saluki merupakan perwakilan tipe hutan dataran rendah yang berdekatan dengan tanaman coklat. Tipe penutupan lahan di lokasi penelitian sebagian besar berupa hutan alam (Tabel 2).

Tabel 2. Jenis dan luas setiap tipe penutupan lahan

Tipe penutupan lahan Bora Saluki Kadidia Luas

(ha)

Persentase (%)

Hutan alam 803,34 1.173,87 32,06 2.009,27 45,19

Semak 96,43 8,35 0 104,78 2,36

Alang-alang 250,77 0 0 250,77 5,64

Kebun campuran 355,59 5,35 28,59 389,53 8,76

Kebun sejenis 37,37 12,93 191,65 241,95 5,44

Tegalan/sawah/ladang 352,19 244,71 100,3 697,2 15,68

Permukiman 675,9 4,20 39,58 719,68 16,19

Sungai 12,94 11,67 8,39 33,00 0,74

Jumlah 2.584,53 1.461,08 400,57 4.446,18 100,00

Sumber: Hasil analisis peta digital TNLL Juli 2009

3.2.2. Ketinggian Tempat dan Kelerengan Lahan

Ketinggian tempat di lokasi penelitian bervariasi. Bora sebagian besar terletak pada ketinggian tempat antara 0–400 m dpl, Saluki sebagian besar pada ketinggian tempat antara 201–400 m dpl dan Kadidia sebagian besar pada ketinggian tempat antara 601–800 m dpl (Tabel 3). Bentuk kelerengan lahan di lokasi penelitian bervariasi dari datar, landai agak curam, curam hingga sangat curam. Bora sebagian besar terletak pada kelas kelerengan lahan antara 0–8%, Saluki sebagian besar terletak pada kelas kelerengan lahan antara 16–45% dan


(31)

14 Kadidia sebagian besar terletak pada kelas kelerengan lahan antara 0–8% (Tabel 4).

Tabel 3. Luas lokasi penelitian berdasarkan ketinggian tempat

Ketinggian tempat

(m dpl) Bora Saluki Kadidia

Luas (ha)

Persentase (%)

0 - 200 1.060,92 0 0 1.060,92 23,86

201 - 400 1.035,44 810,01 0 1.845,45 41,51

401 -600 198,28 285,03 0 483,31 10,87

601 - 800 236,21 268,95 336,44 841,60 18,93

801 - 1000 53,68 63,18 58,33 175,19 3,94

1000 - 1200 0 33,91 5,80 39,71 0,89

Jumlah 2.584,53 1.461,08 400,57 4.446,18 100,00

Sumber: Hasil analisis peta digital TNLL Juli 2009

Tabel 4. Luas lokasi penelitian berdasarkan kelas kelerengan lahan

Kelas kelerengan

lahan (%) Bora Saluki Kadidia

Luas (ha)

Persentase (%)

0 – 8 1.266,57 366,71 194,98 1.828,26 41,12

9 – 15 506,76 121,02 33,66 661,44 14,88

16 – 25 612,37 465,99 100,51 1.178,87 26,51

26 – 45 186,38 459,14 65,09 710,61 15,98

> 45 12,45 48,22 6,33 67,00 1,51

Jumlah 2.584,53 1.461,08 400,57 4.446,18 100,00

Sumber: Hasil analisis peta digital TNLL Juli 2009

3.2.3. Tanah

Lapisan tanah di daerah pegunungan umumnya berasal dari batuan asam seperti gneisses, schists dan granit yang memiliki sifat peka terhadap erosi. Formasi lakustrin banyak ditemukan pada danau di bagian timur kawasan dengan bahan endapan dari campuran batuan sedimen, metamorfosa dan granit. Bagian barat ditemukan formasi aluvium yang umumnya berbentuk kipas aluvial. Sumber bahan aluvial ini berasal dari batuan metamorfosa dan granit. Jenis tanah di TNLL bervariasi dari entisol, inseptisol, alfisol dan sebagian kecil ultisol.

3.2.4. Iklim

Menurut klasifikasi curah hujan Schmidt-Fergusson, bagian utara kawasan TNLL mempunyai tipe iklim C/D dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 855–1.200 mm/tahun. Bagian timur bertipe iklim B dengan curah hujan


(32)

15 berkisar antara 344–1.400 mm/tahun dan bagian barat bertipe iklim A dengan curah hujan rata-rata tahunan 1.200–2.200 mm/tahun. Secara keseluruhan curah hujan di TNLL bervariasi dari 2.000–3.000 mm/tahun. Bulan terkering terjadi pada Juli dengan rata-rata curah hujan 83,9 mm, sedangkan bulan terbasah pada Maret, yakni sebesar 2.110 mm. Bulan basah terjadi selama empat bulan yaitu pada April–Juli, sedangkan bulan kering terjadi selama delapan bulan yaitu pada Agustus–Maret.

Berdasarkan pencatatan pada Stasiun Meteorologi Mutiara Palu, suhu udara harian di lokasi penelitian selama Januari–Maret 2009 minimum 24,1oC dan maksimum 29,1oC dengan rata-rata 27,0oC . Kelembaban udara harian minimum

65%, maksimum 91% dan rata-rata kelembaban udara mencapai 77% (Lampiran 1).

3.2.5. Hidrologi

Air di kawasan TNLL sebagai habitat maleo tersedia dengan baik sepanjang tahun meskipun pada musim kemarau beberapa anak sungai mengalami kekeringan. Ketersediaan air di habitat maleo ini dapat dibedakan ke dalam dua kondisi tergantung musim. Pada musim penghujan air tersebar merata di seluruh kawasan TNLL, sedangkan pada musim kemarau yang panjang, air hanya tersedia pada sungai-sungai besar seperti: S. Lariang, S. Gumbasa, S. Saluki, S. Rawa, S. Miu, S. Tawallia, S. Katu, S. Kalae, S. Hambu, S. Lengi, S. dan Sungai Karanga. Sungai besar yang terdapat di lokasi penelitian adalah S. Gumbasa dan S. Saluki.

Drainase terdiri dari ribuan sungai kecil yang terjal, kecil volumenya, berjenjang pertama dan kedua, dan banyak di antaranya berasal dari lereng-lereng terjal. Pola dendritik bervariasi di dalam TNLL dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti topografi dan geologi. Sungai kecil mengalir melintasi punggung-punggung pegunungan yang tersusun dari batu granit yang menghasilkan pola berbeda dari sungai-sungai yang mengalir pada bagian lebih datar yang kaya akan deposit tanah alluvial. TNLL masuk ke dalam dua Daerah Aliran Sungai (DAS), yakni DAS Gumbasa dan DAS Lariang.


(33)

16 3.3. Kondisi Biotik

3.3.1. Vegetasi

TNLL memiliki tingkat keanekaragaman jenis vegetasi yang tinggi di pulau Sulawesi. Diperkirakan 5.000 spesies tumbuhan tinggi terdapat di dalamnya. Flora di dalam TNLL umumnya diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis vegetasi utama berdasarkan ketinggian, meskipun bentuk lahan, topografi dan iklim juga memegang peranan penting. Di hutan dataran rendah jenis-jenis yang dapat dijumpai antara lain: kayu nantu Palaquium obovatum, tahiti Dysoxylum sp.,

beringin Ficus sp., nggera Myristica sp., betau Callophyllum soulattri, uru tandu Elmerilia ovalis, siuri Koordersiodendron pinnatum, gopasa Celtis philippensis,

ntrode Pterospermum celebicum, tomanete Canarium spp., dan durian Durio zibethinus.

Pada hutan pegunungan rendah dijumpai jenis-jenis kaha Castanopsis accuminatissima, palili Lithocarpus spp., dango Baccaurea tetandra, tambancoi Dracaena sp., lalusuhanPolyscias rodosa, betauCalophyllum spp., lelaGarcinia spp., serta berbagai jenis epifit, termasuk di dalamnya puluhan spesies anggrek

dan pakis yang tumbuh di dahan-dahan pohon. Pada ketinggian di atas 1.600 m dpl, kanopi pohon menjadi semakin seragam dengan dominasi dari jenis uma

Podocarpus neriifolius, kau nori Podocarpus imbricatus dan kantong semar

(Nepenthes sp). Tumbuhan yang khas di TNLL salah satunya adalahEucalyptus deglupta, dikenal dengan nama lokal leda. Pohon ini banyak ditemukan dan

mudah dikenali dengan ciri kulit batang yang licin, berpola mencolok, berwarna hijau kemerahan serta mampu tumbuh hingga mencapai tinggi 60 m dengan lingkar batang 150 cm.

3.3.2. Satwaliar

TNLL memiliki berbagai tipe ekosistem yang merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa langka dan dilindungi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Balai TNLL bersama denganThe Nature Conservancy-Palu Field Office (2004) terdapat berbagai jenis mamalia langka dapat dijumpai anoa Anoa quarlesi, Anoa depressicornis, babirusa Babyrousa babyrusa, babi sulawesi Sus


(34)

17

celebensis, monyet hitam Macaca tonkeana, kuskus Phalanger ursinus, Phalanger celebensis, tarsiusTarsius spectrumdan rusa timorCervus timorensis.

Kawasan ini juga terkenal akan keanekaragaman jenis burungnya. Sekitar 224 jenis burung yang ditemukan, 97 diantaranya merupakan endemik di Sulawesi, seperti, kakatua Cacatua sulphurea, allo Rhyticeros cassidix, jobili Anhinga rufa dan maleo Macrocephalon maleo. Selain itu, terdapat pula jenis

reptil seperti ular piton Phyton reticulatus, king kobra Ophiophagus hannah dan


(35)

Bora

Saluki

Kadidia

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (BPTNW) I dan II TNLL di blok Bora, Kadidia dan Saluki, Kabupaten Sigi Biromaru, Provinsi Sulawesi Tengah. Pengambilan data lapangan dilaksanakan mulai tanggal 2 Januari sampai dengan tanggal 7 April 2009.

Gambar 2. Peta kawasan TNLL berdasarkan bidang pengelolaan yang menunjukkan lokasi penelitian di Bora, Kadidia dan Saluki 4.2. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Global Positioning Systems (GPS) tipe Garmin V, peta penutupan lahan skala 1:50.000,


(36)

19 ukur, pH meter tanah tipe Demetra DAT, kamera foto, field guide, suunto

clinometer dantally sheet.

4.3. Jenis Data yang Dikumpulkan

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan meliputi data dan informasi tentang komponen fisik dan biotik habitat burung maleo. Komponen fisik habitat yang diamati adalah: ketinggian tempat, kelerengan lahan, pH tanah dan ketersediaan sumber panas bumi. Komponen biotik habitat yang akan diamati adalah struktur dan komposisi vegetasi, potensi pakan, pola sebaran pakan dan kekayaan jenis pakan. Data sekunder yang dikumpulkan mencakup data mengenai bio-ekologi maleo dan kondisi umum lokasi. Selain itu dikumpulkan juga data dan informasi tentang kondisi fisik habitat burung maleo berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya sebagai pembanding.

4.4. Metode Pengumpulan Data

4.4.1. Pengamatan Pendahuluan

Penelitian diawali dengan melakukan orientasi lapangan guna mengetahui kondisi areal penelitian, mencocokkan peta kerja dengan kondisi lapangan, menentukan titik awal pengamatan serta mengetahui karakteristik habitat maleo. Selanjutnya dilakukan pengamatan perilaku dan aktivitas maleo berupa perilaku bertelur, beristirahat dan mencari pakan termasuk jenis-jenis vegetasi yang menjadi pakan maleo. Pengamatan perilaku maleo menggunakan metode focal animal sampling. Pengamatan dimulai pagi hari pukul 06:00 di kiri/kanan pada

jalur jalan setapak yang telah ada dengan mengikuti maleo yang dijumpai dan mencatat waktu serta durasi tiap jenis aktivitas maleo pada setiap perjumpaan. Jika maleo yang diamati pergi, maka pengamatan dihentikan dan pengamat kembali ke jalur semula. Pengamatan diulang kembali dengan menyusuri jalur yang ada sampai berjumpa kembali dengan maleo. Pada tiap jenis aktivitas burung maleo yang teramati dilakukan penandaan dan pencatatan melalui GPS pada setiap lokasi tempat aktivitas dilakukan. Penandaan menggunakan GPS ini


(37)

20 selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penentuan dan peletakan petak contoh. untuk melakukan pengambilan data fisik dan biotik habitat di tiap lokasi.

4.4.2. Penentuan dan Peletakan Petak Contoh

Untuk mengetahui vegetasi dan potensi pakan pada lokasi penelitian dilakukan pengukuran vegetasi dan potensi pakan di dalam petak-petak contoh berukuran 20 m x 20 m (Soerianegara & Indrawan 1988). Jumlah petak contoh pada tiap lokasi (Bora, Kadidia dan Saluki) adalah 15 petak contoh sehingga total petak contoh sebanyak 45 buah. Pengambilan data untuk penentuan faktor dominan komponen habitat maleo pada tiap lokasi dilakukan dengan menggunakan metode petak berganda (Soerianegara & Indrawan 1988) pada petak contoh panjang 20 m dan lebar 20 m. Tiap jenis aktivitas maleo (bertelur, beristirahat dan mencari pakan) diwakili oleh 10 petak contoh pada tiap lokasi sehingga untuk tiap lokasi terdapat 30 petak contoh. Total petak contoh di seluruh lokasi adalah sebanyak 90 buah. Peletakan petak contoh pertama pada aktivitas beristirahat dan mencari pakan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan aktivitas maleo di lapangan sedangkan petak kedua dan seterusnya dilakukan secara sistematis dengan jarak tiap petak yaitu 50 meter. Peletakan petak contoh untuk aktivitas bertelur dilakukan secarapurposivepada lubang-lubang peneluran maleo

di tiap lokasi penelitian.

4.4.3. Komponen Fisik Habitat

Komponen fisik habitat burung maleo yang diukur dan diamati adalah ketinggian tempat, kelerengan lahan, ketersediaan sumber panas bumi (geothermal) serta kemasaman (pH) tanah. Pengamatan komponen fisik habitat

dilakukan di setiap petak contoh pada tiap jenis aktivitas burung maleo yang teramati.

a. Ketinggian tempat. Untuk mengetahui ketinggian tempat lokasi penelitian dilakukan pengukuran dengan menggunakan GPS. Hasil penelitian Butchart

et al.(1998) dan Ma’dikaet al.(2001) menyebutkan bahwa habitat dan lokasi

bertelur burung maleo di TNLL berkisar antara 115–1135 m dpl.

b. Kelerengan lahan. Pengukuran kelerengan lahan dilakukan dengan suunto clinometer dan GPS receiver yang selanjutnya dikalibrasi terhadap peta


(38)

21 kontur dan peta kelerengan yang dimiliki oleh TNLL. Penghitungan gradien dan persentase kemiringan lahan (slope) dapat dihitung melalui peta dengan

melakukan pengambilan data lokasi dengan GPS di dua titik kemudian titik tersebut dimasukkan ke dalam peta sehingga dapat dihitung besarnya gradien atau slopeantara dua titik tersebut (Rabinowitz 1997). Butchart et al. (1998)

menemukan bahwa lubang-lubang peneluran burung maleo di TNLL berada di areal yang datar dan areal yang curam dengan kemiringan hingga 800 c. Kemasaman tanah (pH). Dasar penetapan peubah tersebut adalah bahwa tanah

mempunyai pengaruh terhadap penyebaran flora dan fauna. Pengukuran kemasaman (pH) tanah di lokasi habitat burung maleo dilakukan dengan menggunakan pH meter tanah. Kandungan bahan kimia tanah bervariasi, beberapa tanah ada yang bersifat alkalis, asam dan netral (Alikodra 1990). d. Ketersediaan sumber panas bumi. Untuk mengetahui kondisi ketersediaan

sumber panas bumi dilakukan inventarisasi dengan menggunakan alat bantu berupa GPS dan termometer. Indikator yang digunakan adalah adanya sumber air panas bumi. Data yang dikumpulkan berupa nama dan posisi sumber air panas dan suhu. Pengukuran suhu pada tiap sumber air panas dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pada pusat keluarnya air panas serta pada jarak 1 m dan 2 m dari pusat keluarnya air panas Di pedalaman daratan (inland) maleo

memanfaatkan sumber panas bumi untuk menetaskan telurnya (Dekker 1990, Joneset al. 1995).

4.4.4. Komponen Biotik Habitat

Komponen biotik habitat burung maleo yang diukur dan diamati meliputi struktur dan komposisi vegetasi, potensi pakan, pola sebaran pakan dan kekayaan jenis pakan. Data-data tersebut dikumpulkan melalui analisis vegetasi dengan mempertimbangkan kondisi vegetasi yang ada. Jika petak contoh terletak pada tegakan sejenis/perkebunan maka tidak dilakukan analisis vegetasi.

Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode petak berganda yang dikemukakan oleh Soerianegara & Indrawan (1988) pada petak contoh panjang 20 m dan lebar 20 m. Dalam analisis vegetasi ini hanya dilakukan pengambilan data pada tingkat tiang dan pohon dengan asumsi bahwa pakan maleo berasal dari tumbuhan tingkat tiang dan pohon. Pengamatan vegetasi


(39)

22

a

b 20 m

20 m

dilakukan pada suatu petak yang dibagi ke dalam petak-petak berukuran 20x20 m2 dan 10x10 m2. Petak berukuran 20x20 m2 digunakan untuk pengambilan data vegetasi tingkat pertumbuhan pohon (diameter =20 cm) dan petak berukuran 10x10 m2untuk vegetasi tingkat pertumbuhan tiang (diameter 10 sampai <20 cm). Bentuk dan letak setiap petak contoh pengamatan vegetasi seperti disajikan pada Gambar 3.

I II

III IV

Keterangan : : Petak pertama yang merupakan titik awal

I-IV : Petak kedua dan seterusnya yang diletakan secara sistematis

a / b : Jarak antara petak contoh 50 meter

Gambar 3. Bentuk dan ukuran petak pengamatan inventarisasi vegetasi dengan metode petak berganda

4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data 4.5.1. Komponen Fisik Habitat

Komponen fisik habitat burung maleo yang akan dianalisis terdiri dari ketinggian dan kelerengan tempat, kemasaman (pH) tanah serta sumber panas bumi (geothermal). Komponen-komponen tersebut disajikan dalam bentuk

tabulasi. Untuk mengetahui hubungan antara frekuensi kehadiran burung maleo dengan komponen-komponen fisik habitat digunakan pendekatan uji chi-square


(40)

23 dan penghitungan indeks preferensi berdasarkan metode Neu untuk ketinggian

tempat, kelerengan tempat dan ketersediaan sumber panas bumi. Selain itu, komponen-komponen fisik habitat ini akan digunakan pada analisis penentuan faktor-faktor dominan komponen habitat yang mempengaruhi frekuensi kehadiran maleo pada suatu tempat dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. 4.5.2. Komponen Biotik Habitat

Data tumbuhan yang dikumpulkan dari lapangan, digunakan untuk menghitung kerapatan, jenis vegetasi pakan burung maleo, kemerataan dan kekayaan jenis pakan serta pola sebaran pakan burung maleo.

4.5.2.1. Preferensi Pakan

Komposisi jenis dinilai berdasarkan nilai-nilai parameter kuantitatif tumbuhan yang mencerminkan tingkat penyebaran, dominansi dan kelimpahannya dalam suatu komunitas hutan. Dalam penelitian ini yang akan dihitung nilai adalah kerapatan tiap jenis tumbuhan. Nilai-nilai ini dapat dinyatakan dalam nilai mutlak maupun nilai relatif, yang dirumuskan sebagai berikut (Soerianegara & Indrawan 1988):

Jumlah individu suatu jenis

Kerapatan (K) =

Total luas petak contoh (ha)

Untuk mengetahui urutan preferensi jenis pakan bagi burung maleo digunakan penghitungan nilai indeks Neu (Bibby et al. 1998). Jika indeks

preferensi lebih dari 1 (w=Û1) maka jenis pakan yang bersangkutan disukai karena proporsi pemanfaatannya (usage) lebih besar dibanding proporsi ketersediaan

(availability). Peubah yang digunakan dalam penentuan pemilihan pakan


(41)

24 Tabel 5. Peubah yang diukur pada pemilihan pakan berdasarkan metodeNeu

menurut Bibbyet al.(1998)

Jenis pakan p n u e w b

1 p1 n1 u1 e1 w1 b1

2 p2 n2 u2 e2 w2 b2

... ... ... ... ... ... ...

k pk nk uk ek wk bk

Total 1,00 Sni 1,00 Seiwi 1,00

Keterangan:

p = proporsi jumlah perjumpaan pakan yang dimakan burung maleo

n = jumlah pakan yang teramati dimakan burung maleo

u = proporsi jumlah pakan yang teramati dimakan (ni/ Srni)

e = nilai harapan (pix Sni)

w = indeks preferensi pakan (ui/pi)

b = indeks preferensi yang distandarkan (wi/ SAwi)

4.5.2.2. Keanekaragaman Spesies Vegetasi Pakan

Analisis keanekaragaman spesies vegetasi pakan maleo dilakukan dengan melakukan penghitungan indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan jenis pakan maleo. Untuk mengetahui kekayaan jenis pakan burung maleo akan digunakan pendekatan Indeks kekayaan Margalef (Krebs 1978) dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

Dmg =

N S

ln 1

Keterangan : Dmg = indeks kekayaan Margalef

S = jumlah jenis yang teramati

N = jumlah total individu yang teramati

Untuk mengetahui tingkat kemerataan jenis pakan burung maleo pada seluruh petak contoh pengamatan akan digunakan pendekatan Indeks Kemerataan Pielou (Santosa 1995) dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

J’ =

max

'

D

H

Dmax = Ln S

Keterangan : J’ = nilai evennes (0-1)

H’ = indeks keragaman Shannon-Wiener


(42)

25 4.5.2.3. Pola Sebaran Spesies Pakan Maleo

Analisis pola sebaran spasial bagi vegetasi pakan burung maleo dilakukan guna mengidentifikasi distribusi spesies dalam penggunaan ruang. Penentuan pola sebaran spasial dilakukan dengan menggunakan pendekatan indeks penyebaran Morisita (Krebs 1989):

Id = ∑ −∑ ∑ −∑ x ) x ( ) x x ( . n 2 2 keterangan:

Id = Derajat penyebaran Morisita

n = Jumlah petak contoh

∑x2 = Jumlah kuadrat dari total individu suatu jenis pada suatu komunitas

∑x = Jumlah total individu suatu jenis pada suatu komunitas

Untuk menentukan bentuk pola sebaran spasial maka selanjutnya dilakukan uji statistik menggunakan ujichi-square:

Mu =

( )

1 2 975 0 − ∑ ∑ + − χ i i . x x n keterangan:

Mu = indeks Morisita untuk pola sebaran seragam (uniform)

2 975 0.

χ = Nilai chi-square pada db (n-1), selang kepercayaan 97.5%.

xi = Jumlah individu dari suatu jenis pada petak ukur ke-i.

n = Jumlah petak contoh

Untuk menentukan derajat pengelompokkan (clumping index) suatu spesies

maka dihitung dengan menggunakan persamaan:

Mc =

( )

1 2 025 0 − ∑ ∑ + − χ i i . x x n keterangan:

Mc = indeks Morisita untuk pola sebaran agregatif (clumped)

2 025 0.

χ = Nilai chi-square pada db (n-1), selang kepercayaan 95%.

∑xi = Jumlah individu dari suatu jenis pada petak ukur ke-i.

n = Jumlah petak contoh

Standar derajat Morisita (Ip) dihitung dengan empat rumus sebagai berikut: a). Bila Id≥Mc > 1.0, maka dihitung:


(43)

26

Ip = 

     − − + Mc n Mc Id .

.5 05

0

b). Bila Mc> Id≥1.0, maka dihitung:

Ip = 

     − − 1 1 5 0 Mc Id .

c). Bila 1.0>Id>Mu, maka dihitung:

Ip = 

     − − − 1 1 5 0 Mu Id .

d). Bila 1.0 > Mu >Id, maka dihitung:

Ip = 

     − + − Mu Mu Id .

.5 05

0

Kaidah keputusan untuk menentukan pola sebaran jenis-jenis pada suatu komunitas tumbuhan berdasarkan nilaiIpadalah sebagai berikut:

BilaIp= 0, maka pola penyebaran acak (random)

BilaIp> 0, maka pola penyebaran mengelompok (clumped)

BilaIp< 0, maka pola penyebaran merata (uniform)

Selain menganalisis pola sebaran spasial setiap spesies pakan burung maleo, juga akan dianalisis pola sebaran pakan pada setiap komunitas atau blok penelitian.

4.5.3. Faktor Dominan Komponen Habitat

Untuk mengetahui faktor dominan yang menentukan pemilihan burung maleo pada suatu habitat dilakukan pengukuran terhadap 14 (empat belas) peubah dari komponen fisik dan biotik habitat. Peubah-peubah tersebut adalah: jumlah jenis pakan burung maleo, kelerengan tempat, kemasaman (pH) tanah, jarak petak contoh dari sungai, jarak petak contoh dari aktivitas manusia (kebun masyarakat dan pemukiman penduduk), persentase penutupan tajuk, suhu dan kelembaban lubang peneluran, kedalaman lubang peneluran, substrat tanah lubang peneluran, jumlah predator alami, jarak lubang peneluran dari sumber pakan/vegetasi, jumlah pengambilan telur maleo oleh manusia dan jumlah sumber air panas bumi. Dasar penggunaan peubah-peubah tersebut adalah sebagai berikut:


(44)

27 a. Jumlah jenis pakan maleo (X1). Dasar penetapan peubah tersebut adalah

asumsi bahwa maleo memerlukan pakan untuk menunjang hidupnya dan semakin banyak jenis pakan pada suatu habitat maka maleo lebih menyukai habitat tersebut. Bailey (1984) menyatakan bahwa satwa liar memenuhi kebutuhan nutriennya dengan mengkonsumsi pakan yang sangat beragam/bermacam-macam.

b. Kelerengan tempat (X2). Dasar penetapan peubah tersebut adalah hasil

penelitian Butchart et al. (1998) yang menemukan bahwa lubang-lubang

peneluran burung maleo di tempat pedalaman (inland) ditemukan di areal

yang datar dan areal yang curam dengan kemiringan hingga 800

c. pH tanah (X3). Dasar penetapan peubah tersebut adalah bahwa tanah

mempunyai pengaruh terhadap penyebaran flora dan fauna. Kandungan bahan kimia tanah bervariasi, beberapa tanah ada yang bersifat alkalis, asam dan netral (Alikodra 1990).

d. Jarak dari sungai (X4). Dasar penetapan peubah tersebut adalah asumsi

bahwa burung maleo memerlukan air untuk menunjang hidupnya. Di TNLL air lebih banyak disediakan oleh sungai sehingga jarak dari sungai akan mempengaruhi kehadiran maleo. Semua satwa memerlukan air dari lingkungannya untuk melakukan proses pencernaan makanan dan metabolisme, mengangkut bahan-bahan sisa dan untuk pendinginan dalam proses evaporasi (Bailey 1984).

e. Jarak dari aktivitas manusia (X5). Pengukuran dilakukan dari lokasi habitat

burung maleo ke lokasi-lokasi yang diasumsikan setiap hari selalu ada aktivitas manusia di tempat tersebut seperti rumah/pemukiman penduduk dan kebun. Dasar penetapan peubah tersebut adalah hasil penelitian Butchartet al.

(1998) bahwa burung maleo lebih cenderung menggunakan ruang-ruang yang relatif jauh dari kegiatan manusia.

f. Persentase penutupan tajuk (X6). Pengukuran penutupan tajuk dilakukan pada

tiap petak contoh dengan nilai maksimum 100% jika keseluruhan petak contoh tersebut dinaungi oleh tajuk pohon. Dasar penetapan peubah tersebut adalah berdasarkan hasil penelitian Zieren (1985) yang menyebutkan bahwa suatu habitat yang terdapat vegetasi sekunder dengan kerapatan yang tinggi


(45)

28 amat berperan di dalam aktivitas rutin maleo yang mencakup aktivitas hinggap, bertengger, berlari dan terbang.

g. Suhu (X7) dan kelembaban lubang peneluran (X8). Dasar penetapan peubah

tersebut adalah hasil penelitian Heij dan Rompas (1999) yang menyatakan bahwa faktor suhu dan kelembaban lubang peneluran mutlak diperlukan bagi perkembangan embrio burung megapoda.

h. Kedalaman lubang peneluran (X9). Dasar penetapan peubah tersebut adalah

hasil penelitian Heij dan Rompas (1999) yang menyebutkan bahwa lebar dan kedalaman lubang pada burung megapoda tergantung pada struktur tanah. i. Substrat/tekstur tanah lubang peneluran (X10). Dasar penetapan peubah ini

adalah hasil penelitian Wiriosoepartho (1980) yang melaporkan bahwa pemilihan tempat bertelur burung maleo terkait dengan tekstur tanah karena erat hubungannya dengan lama penggalian lubang dan keadaan posisi telur dalam lubang.

j. Jarak sarang peneluran dari sumber pakan (X11). Dasar penetapan peubah

tersebut adalah berdasarkan hasil penelitian Heij dan Rompas (1999) yang menyatakan bahwa vegetasi di sekitar tempat bertelur sangat berarti bagi burung megapoda sebagai tempat beristirahat dan tempat pertama bagi anak-anak burung megapoda yang baru menetas untuk bersembunyi dan mencari makan. Hutan ini terutama terdiri atas pohon buah-buahan yang dapat dimakan.

k. Jumlah predator alami (X12). Dasar penetapan peubah tersebut adalah

berdasarkan hasil penelitian Ma’dika et al. (2001) yang melaporkan bahwa

salah satu faktor gangguan terhadap maleo di TNLL adalah adanya pemangsaan (predasi) oleh satwa lain.

l. Jumlah pengambilan telur maleo oleh manusia (X13). Dasar penetapan

peubah tersebut adalah berdasarkan hasil penelitian Ma’dika et al. (2001)

yang melaporkan bahwa di beberapa lokasi tempat bertelur burung maleo di TNLL secara rutin masyarakat melakukan pengambilan telur maleo untuk dijual maupun dikonsumsi dengan jumlah telur yang diambil berkisar 1-3 butir telur per hari.


(46)

29 m. Jumlah sumber air panas bumi (X14). Dasar penetapan peubah ini adalah

berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa maleo memerlukan panas bumi untuk menetaskan telurnya. Ketersediaan sumber panas bumi di suatu tempat diindikasikan dengan adanya sumber air panas di lokasi tersebut. Di pedalaman daratan (inland) maleo memanfaatkan sumber

panas bumi untuk menetaskan telurnya (Dekker 1990, Joneset al. 1995).

Penentuan faktor dominan penggunaan habitat terpilih oleh burung maleo akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan regresi linier berganda yang diolah dengan bantuan software SPSS 16.0 for Windows melalui metode stepwise. Dalam hal ini akan dianalisis hubungan antara peubah tidak bebas (Y)

dengan peubah bebas (X). Peubah tidak bebas (Y) adalah frekuensi kehadiran burung maleo pada suatu tempat sedangkan peubah bebas (X) adalah peubah-peubah yang berasal dari komponen fisik dan biotik habitat yang diduga mempengaruhi kehadiran burung maleo pada tempat tersebut. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Y = bo+ b1x1+ b2x2+ ... + b14x14+ e5 Keterangan:

Y = frekuensi kehadiran burung maleo di suatu tempat b0 = nilai intersep

bi = nilai koefisien regresi ke-i

X1 = jumlah jenis pakan burung maleo

X2 = kelerengan tempat (%)

X3 = pH tanah

X4 = jarak dari sungai (hm)

X5 = jarak dari aktivitas manusia (hm)

X6 = persentase penutupan tajuk (%)

X7 = suhu lubang peneluran (oC)

X8 = kelembaban lubang peneluran (%)

X9 = kedalaman lubang peneluran (m)

X10 = substrat/tekstur tanah lubang peneluran (% pasir)

X11 = jarak sarang peneluran dari sumber pakan (m)

X12 = jumlah predator alami (ekor)

X13 = jumlah pengambilan telur maleo oleh manusia (butir)

X14 = jumlah sumber air panas bumi

Hipotesis yang dibangun adalah:

H0: semua peubah bebas yang diamati tidak berpengaruh terhadap frekuensi


(47)

30 H1: paling sedikit ada satu peubah bebas yang diamati berpengaruh terhadap

frekuensi kehadiran maleo di suatu tempat

Apabila p =¤0.05, maka Ho ditolak (terima H1) dan apabila p > 0.05, maka

Hoditerima (H1ditolak).

Variabel-variabel bebas di atas selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dengan metode stepwise. Regresi stepwise

merupakan salah satu solusi menyelesaikan masalah regresi yang variabel bebasnya saling berkorelasi (multikolinearitas). Dalam analisis ini, tidak semua variabel bebas (X) yang diduga memiliki pengaruh terhadap variabel tidak bebas (Y) dimasukkan dalam model regresi. Salah satu variabel bebas kadang berkorelasi atau berhubungan dengan variabel bebas lainnya. Oleh karena itu prosedur regresi stepwisedibuat agar menghasilkan model regresi terbaik. Selain

itu, karena kemungkinan terdapat variabel bebas yang saling berkorelasi maka tidak semua variabel bebas hasil analisis regresi stepwise masuk dalam model.

Hal ini disebabkan variabel bebas lain yang memiliki korelasi lebih besar dengan variabel tidak bebas sudah diwakilinya.

4.5.4. Pemilihan Habitat

Untuk menganalisis tipe habitat yang disukai burung maleo digunakan pendekatan Metode Neu (indeks preferensi). Bibby et al. (1998) menyatakan

bahwa metode Neu merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk

menentukan indeks preferensi habitat oleh satwa. Dalam metode ini dilakukan penghitungan proporsi luas lokasi tempat dijumpainya maleo (p), jumlah perjumpaan maleo di suatu lokasi (n), proporsi jumlah perjumpaan maleo (u), nilai harapan (e), indeks preferensi habitat (w) dan indeks preferensi yang distandarkan

(b). Jika nilai indeks preferensi lebih dari 1 (w=ª1) maka habitat tersebut disukai, sebaliknya jika kurang dari 1 (w<1) maka habitat tersebut akan dihindari.


(48)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil

5.1.1. Komponen Fisik Habitat Burung Maleo Ketinggian Tempat

Untuk mengetahui apakah maleo memiliki preferensi terhadap ketinggian tempat dilakukan uji chi-square (?Ï2hit). Dari hasil penghitungan dapat diketahui

bahwa nilai ?)2hit > ?)2(0.05,k-1), yaitu 262,13 > 11,071 sehingga terdapat pemilihan

ketinggian tempat oleh maleo (Tabel 6).

Tabel 6. Nilai chi-squarepemilihan ketinggian tempat oleh maleo

Kelas

ketinggian a p ni=Oi Ei=? ni.pi Oi- Ei (Oi-Ei)2/Ei ?á2(0.05,5)

0 - 200 1.060,92 0,24 1 51,30 -50,30 49,32

201-400 1.845,45 0,42 206 89,24 116,76 152,77

401-600 483,31 0,11 0 23,37 -23,37 23,37

601-800 841,6 0,19 8 40,70 -32,70 26,27

801-1000 175,19 0,04 0 8,47 -8,47 8,47

1001-1200 39,71 0,01 0 1,92 -1,92 1,92

Jumlah 4.446,18 1,00 215 215,00 262,13 11,071

Keterangan: a=luas areal, p=proporsi luas areal, Oi=frekuensi kehadiran maleo, Ei=harapan frekuensi kehadiran maleo

Untuk mengetahui ketinggian tempat yang disukai maleo selanjutnya dilakukan pengujian dengan menggunakan pendekatan metode Neu (indeks

preferensi). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa maleo lebih menyukai lokasi dengan ketinggian tempat antara 201-400 m dpl (Tabel 7).

Tabel 7. IndeksNeuuntuk preferensi maleo berdasarkan ketinggian tempat

a Kelas ketinggian

(ha) p n u e w b

rang king

0 - 200 1.060,92 23,86 1 0,47 5.130,20 0,02 0,008 3

201-400 1.845,45 41,51 206 95,81 8.923,88 2,31 0,914 1

401-600 483,31 10,87 0 0 2.337,10 0 0

-601-800 841,6 18,93 8 3,72 4.069,65 0,20 0,078 2

801-1000 175,19 3,94 0 0 847,15 0 0

-1001-1200 39,71 0,89 0 0 192,02 0 0

-Jumlah 4.446,18 100,00 215 100,00 21.500,00 2,52 1,00

Keterangan: p = proporsi luas, n = frekuensi kehadiran maleo, u = proporsi frekuensi kehadiran maleo,e= nilai harapan, w = indeks preferensi, b = indeks preferensi yang distandarkan


(49)

32 Kelerengan Tempat

Untuk mengetahui apakah maleo memiliki preferensi terhadap kelerengan tempat dilakukan uji chi-square (?Ü2hit). Dari hasil penghitungan dapat diketahui

bahwa nilai ?72hit > ?72(0.05,k-1), yaitu 172,71 > 9,488 sehingga terdapat pemilihan

kelerengan tempat oleh maleo (Tabel 8).

Tabel 8. Nilai chi-squarepemilihan kelerengan tempat oleh maleo

Kelerengan

tempat (%) a p ni=Oi Ei=?•ni.pi Oi- Ei (Oi-Ei)2/Ei ?á2(0.05,4)

0 – 8 1.828,26 0,41 117 88,41 28,59 9,25

9 – 15 661,44 0,15 86 31,98 54,02 91,22

16 – 25 1.178,87 0,27 7 57,01 -50,01 43,87

26 – 45 710,61 0,16 4 34,36 -30,36 26,83

> 45 67,00 0,02 1 3,24 -2,24 1,55

Jumlah 4.446,18 1,00 215 211,7601 172,71 9,488

Keterangan: a=luas areal, p=proporsi luas areal, Oi=frekuensi kehadiran maleo, Ei=harapan frekuensi kehadiran maleo

Untuk mengetahui hubungan antara frekuensi kehadiran maleo dengan kelerengan tempat dilakukan pengujian menggunakan pendekatan metode Neu.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa maleo lebih menyukai daerah-daerah yang relatif datar dan landai pada kelas kelerengan 0-15% (Tabel 9). Tabel 9. IndeksNeuuntuk preferensi maleo berdasarkan kelerengan tempat

a Kelerengan

tempat (%) (ha) p n u e w b

Rang-king

0 – 8 1.828,26 41,12 117 54,42 8.840,76 1,32 0,290 2

9 – 15 661,44 14,88 86 40,00 3.198,47 2,69 0,590 1

16 – 25 1.178,87 26,51 7 3,26 5.700,56 0,12 0,027 4

26 – 45 710,61 15,98 4 1,86 3.436,23 0,12 0,026 5

> 45 67 1,51 1 0,47 323,99 0,31 0,068 3

Jumlah 4.446,18 100,00 215 100,00 21.500,00 4,56 1,00

Keterangan: p = proporsi luas, n = frekuensi kehadiran maleo, u = proporsi frekuensi kehadiran maleo,e= nilai harapan, w = indeks preferensi, b = indeks preferensi yang distandarkan

Ketersediaan Sumber Panas Bumi

Ketersediaan sumber panas bumi di suatu tempat diindikasikan dengan adanya sumber air panas di lokasi tersebut. Pada lokasi penelitian ditemukan sumber air panas bumi dengan jumlah sumber air panas dan kondisi yang


(50)

33 berbeda-beda. Frekuensi kehadiran maleo tertinggi terdapat di lokasi Saluki yang memiliki sumber air panas paling besar (Tabel 10).

Tabel 10. Frekuensi kehadiran maleo berdasarkan jumlah sumber air panas

Lokasi Luas (ha) Jumlah sumberair panas Suhu (oC) Frekuensi

kehadiran maleo

Bora 2.584,53 1 73,67 ± 14,73 1

Kadidia 400,57 3 80,00 ± 4,08 8

Saluki 1.461,08 9 82,00 ± 1,63 206

Untuk mengetahui apakah maleo memiliki preferensi terhadap jumlah sumber air panas dilakukan uji chi-square (?G2hit). Dari hasil penghitungan dapat

diketahui bahwa nilai ?¢2

hit > ?¢2(0.05,k-1), yaitu 71,45 > 5,991 sehingga terdapat

pemilihan jumlah sumber air panas oleh maleo (Tabel 11).

Tabel 11. Nilai chi-squarepemilihan lokasi berdasarkan jumlah sumber air panas

oleh maleo

Lokasi Jumlah sumberair panas p ni=Oi Ei=? ni.pi Oi- Ei (Oi-Ei)2/Ei ?á2(0.05,2)

Bora 1 0,08 1 16,54 -15,54 14,60

Kadidia 3 0,23 8 49,62 -41,62 34,91

Saluki 9 0,69 206 148,85 57,15 21,95

Jumlah 13,00 1,00 215 215,00 71,45 5,991

Keterangan: p=proporsi jumlah sumber air panas, Oi=frekuensi kehadiran maleo, Ei=harapan frekuensi kehadiran maleo

Tanah

Tanah di kawasan TNLL pada wilayah-wilayah perbukitan memiliki kondisi kelembaban dan panas yang tinggi. Jenis-jenis ini merupakan tanah sangat masam dan dikelompokkan sebagai tanah alluvial coklat sampai merah (BTNLL 2004). Frekuensi kehadiran maleo berdasarkan pH tanah disajikan pada Tabel 12. Tabel 12. Frekuensi kehadiran maleo berdasarkan pH tanah

Lokasi Luas (ha) pH Frekuensi kehadiran maleo

Bora 2.584,53 4,00 – 4,99 1

Kadidia 400,57 5,00 – 5,99 8


(1)

datar dan landai akan tetapi maleo jarang mengunjungi lokasi ini. Diduga jumlah sumber air panas bumi adalah faktor kunci yang paling mempengaruhi maleo mendatangi suatu lokasi untuk bertelur sehingga Bora yang memiliki 1 sumber panas bumi kurang dikunjungi oleh maleo.

Model regresi ini ternyata menunjukkan bahwa variabel suhu lubang peneluran tidak signifikan dalam penentuan maleo untuk menetaskan telurnya. Suhu lubang peneluran pada lokasi bertelur maleo di dalam hutan berasal dari sumber panas geothermal. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, suhu lubang peneluran relatif konstan dan berkisar antara 32 – 35oC sehingga dalam dalam model regresi ini suhu lubang peneluran tidak signifikan. Hasil pengukuran ini relatif sama dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa suhu lubang peneluran berkisar antara 32–39oC (del Hoyoet al. 1994) dan Gunawan (2000) menyatakan bahwa suhu tanah di lubang pengeraman yang optimal adalah 34oC. Sumangando (2002) mendapatkan bahwa suhu yang optimal untuk menetaskan telur maleo di mesin penetasan secara ex situadalah 34oC.

Dari analisis korelasi Pearson didapatkan bahwa peubah yang paling mempengaruhi frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat untuk menetaskan telurnya adalah jumlah sumber air panas bumi. Nilai korelasi Pearson (r) antara frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat dengan jumlah sumber panas bumi yang ada pada habitat tersebut adalah sebesar 96,10%. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak sumber air panas bumi pada suatu habitat, maka ada kecenderungan semakin tinggi frekuensi kehadiran maleo pada habitat tersebut dengan tingkat korelasi lebih dari 96%.

Hal ini menunjukkan bahwa di TNLL maleo sangat membutuhkan sumber panas bumi untuk menetaskan telurnya. Menurut Dekker (1990), habitat burung maleo terdapat di hutan-hutan berbukit dengan semak-semak, hutan dekat pantai yang memiliki sumber panas.

Lokasi Beristirahat

Faktor yang mempengaruhi frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat untuk beristirahat adalah jumlah jenis pakan (X1) dan jarak dari aktivitas manusia


(2)

(X5). Hal ini mengindikasikan bahwa pada habitat yang memiliki jumlah jenis pakan yang banyak dan jauh dari aktivitas manusia maka ada kecenderungan semakin tinggi frekuensi kehadiran maleo di habitat tersebut.Keeratan hubungan antara kedua peubah tersebut dengan frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat terpilih dapat diketahui dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2) dan koefisien korelasi (r). Persamaan regresi tersebut mempunyai nilai R2 = 0,91 (91%). Hal ini mengindikasikan bahwa dari semua data terdapat 91% data yang memiliki keeratan hubungan dan dapat dijelaskan oleh persamaan regresi tersebut. Dari analisis korelasi Pearson diketahui bahwa peubah yang paling mempengaruhi frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat untuk beristirahat adalah jumlah jenis pakan. Nilai korelasi Pearson (r) antara frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat dengan jumlah jenis pakan yang ada pada habitat tersebut adalah sebesar 89,60%. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak jumlah jenis pakan pada suatu habitat, maka ada kecenderungan semakin tinggi frekuensi kehadiran maleo pada habitat tersebut dengan tingkat korelasi lebih dari 89%.

Maleo cenderung memilih lokasi yang memiliki jumlah jenis pakan yang tinggi dan beraneka ragam sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Organisme yang makanannya beraneka ragam akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya (Alikodra 1990). Semakin banyak jumlah jenis pakan maka semakin besar pula peluang maleo untuk memilih pakan yang berkualitas baik dan mencukupi untuk melangsungkan proses metabolisme, reproduksi dan aktivitas lainnya. Jika kondisi pakan baik dan mencukupi diduga laju reproduksi maleo akan meningkat dan lebih tahan terhadap penyakit. Pakan dapat mempengaruhi laju kelahiran dan laju kematian satwa, jika mendapatkan pakan baik satwa biasanya akan memiliki laju reproduksi yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap berbagai bentuk mortalitas dibandingkan dengan satwa yang mendapatkan pakan buruk. (Bailey 1984). Sehingga semakin banyak jumlah jenis pakan pada suatu habitat, maka ada kecenderungan semakin tinggi frekuensi kehadiran maleo pada habitat tersebut untuk mendapatkan pakan baik dengan jumlah cukup yang dapat menunjang kelangsungan hidup maleo.


(3)

terkonsentrasi di lokasi peneluran Saluki, selain memiliki jumlah pohon pakan yang besar Saluki relatif jauh dari aktivitas manusia yang dapat mengganggu aktivitas beristirahat maleo. Kondisi yang berbeda terdapat di lokasi Kadidia dan Bora yang memiliki lebih sedikit jumlah pohon pakan dan relatif dekat dengan aktivitas manusia. Meskipun Kadidia memiliki jumlah pohon pakan yang relatif besar, lokasi di Kadidia berdekatan dengan aktivitas manusia (± 50 m) sehingga dapat mengganggu maleo dalam aktivitas beristirahat. Maleo jarang mengunjungi lokasi Bora. Diduga rendahnya jumlah jenis pakan dan aktivitas manusia yang tinggi di tempat ini menyebabkan maleo kurang mengunjungi lokasi Bora. Hasil analisis regresi pada lokasi beristirahat ini menunjukkan bahwa di TNLL maleo lebih menyukai habitat yang memiliki pakan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan cenderung menghindari tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh manusia.

Lokasi Mencari Pakan

Faktor yang mempengaruhi frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat untuk mencari pakan adalah jumlah jenis pakan (X1), kelerengan tempat (X2) dan jarak dari aktivitas manusia (X5). Hasil ini mengindikasikan bahwa habitat yang landai, jauh dari aktivitas manusia serta semakin besar jumlah jenis pakan pada suatu habitat maka ada kecenderungan semakin tinggi frekuensi kehadiran maleo di habitat tersebut. Keeratan hubungan antara ketiga peubah tersebut dengan frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat dapat diketahui dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2) dan koefisien korelasi (r). Persamaan regresi tersebut mempunyai nilai R2 = 0,95 (95,00%). Hasil ini mengindikasikan bahwa dari semua data terdapat 95% data yang memiliki keeratan hubungan dan dapat dijelaskan oleh persamaan regresi tersebut.

Dari analisis korelasi Pearson diketahui bahwa peubah yang paling mempengaruhi frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat untuk mencari pakan adalah jumlah jenis pakan. Nilai korelasi Pearson (r) antara frekuensi kehadiran maleo pada suatu habitat dengan jumlah jenis pakan yang ada pada habitat tersebut adalah sebesar 95,70%. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak


(4)

jumlah jenis pakan pada suatu habitat, maka ada kecenderungan semakin tinggi frekuensi kehadiran maleo pada habitat tersebut dengan tingkat korelasi lebih dari 95%.

Model regresi ini dapat menjelaskan mengapa maleo lebih terkonsentrasi di lokasi peneluran Saluki. Saluki memiliki jumlah pohon pakan terbesar dari tiga lokasi penelitian (304 individu pohon pakan), selain itu lokasi peneluran ini relatif jauh dari aktivitas manusia yang dapat mengganggu aktivitas mencari pakan maleo. Kondisi ini didukung dengan kelerengan tempat yang landai sehingga dapat memudahkan maleo dalam mencari pakan. Kondisi yang berbeda terdapat di lokasi Kadidia (259 individu pohon pakan) dan Bora (96 individu pohon pakan) yang memiliki lebih sedikit jumlah pohon pakan dan relatif dekat dengan aktivitas manusia. Meskipun Kadidia memiliki jumlah pohon pakan yang relatif besar, lokasi di Kadidia memiliki kelerengan tempat yang relatif curam dan terjal dan dekat dengan aktivitas manusia sehingga dapat menyulitkan dan mengganggu maleo dalam aktivitas mencari pakan. Bora memiliki kelerengan yang relatif datar dan landai akan tetapi maleo jarang mengunjungi lokasi ini. Diduga aktivitas manusia yang tinggi di tempat ini dapat mengganggu aktivitas mencari pakan maleo sehingga Bora kurang dikunjungi oleh maleo.

Hasil analisis regresi pada mencari pakan ini menunjukkan bahwa di TNLL maleo lebih menyukai habitat yang landai, memiliki pakan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan cenderung menghindari tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh manusia. Burung maleo mencari pakan di sekitar peneluran di tepi pantai dan hutan. Hal ini dikarenakan tempat tersebut banyak terdapat jenis-jenis pohon yang menghasilkan buah dan biji yang merupakan makanan yang sangat khas bagi burung maleo (Wiriosoepartho 1979). Seperti halnya dengan jenis unggas yang lain, burung maleo membutuhkan pakan sebagai sumber zat-zat makanan untuk tumbuh dan berkembangbiak. Jenis pakan yang merupakan sumber pakan burung maleo adalah buah-buahan, biji-bijian, cacing, siput, keong, kumbang, semut dan rayap (MacKinnon 1981).

Berdasarkan hasil penelitian, lokasi yang sering dikunjungi maleo di TNLL untuk mencari pakan banyak ditumbuhi oleh tumbuhan yang menjadi sumber pakannya seperti kemiri Aleurites moluccana, pangi Pangium edule, rao


(5)

pinnata. Makanan burung maleo pada umumnya adalah biji-bijian dan beberapa jenis buah-buahan di hutan. Biji atau buah yang dimakan antara lain biji kemiri Aleurites moluccana, rao Dracontomelan mangiferum, nantu Endiandra sp., beringin Ficus sp, Macaranga sp. Selain itu burung maleo juga memakan serangga kecil, seperti ulat, siput dan kepiting (Hendro 1974, Tikupadang et al. 1993, Gunawan 1994).

5.2.4. Preferensi Habitat Maleo

Tabel 18 menunjukkan bahwa berdasarkan lokasi, Saluki paling sering dikunjungi oleh maleo kemudian Kadidia dan Bora. Meskipun Bora memiliki luas paling besar (2.584,53 ha) dibandingkan dengan Saluki (1.461,08 ha) dan Kadidia (400,57 ha) Lokasi Bora kurang dikunjungi oleh maleo. Hal ini diduga terkait dengan jumlah sumber panas bumi, jarak dari aktivitas manusia dan ketersediaan pakan pada lokasi penelitian. Di Saluki jumlah sumber panas bumi tercatat paling besar yaitu sebanyak 9 buah dengan 18 jenis tumbuhan pakan dan 304 individu pohon pakan dengan jarak dari aktivitas manusia relatif jauh, di Kadidia terdapat 3 buah sumber panas bumi dengan 16 jenis tumbuhan pakan dan 259 individu pohon pakan dan di Bora hanya terdapat 1 buah sumber panas bumi dengan 2 jenis tumbuhan pakan dan 96 individu pohon pakan. Lokasi Bora dan Kadidia relatif dekat dengan aktivitas manusia sehingga dapat mengganggu aktivitas maleo di tempat tersebut.

Hal ini mengindikasikan bahwa maleo lebih menyukai lokasi yang memiliki jumlah sumber panas bumi dan jumlah tumbuhan pakan yang besar serta jauh dari aktivitas manusia. Pakan diperlukan maleo untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan sumber panas bumi dibutuhkan untuk membantu menetaskan telur maleo. Diduga hal ini terkait dengan perilaku bertelur dan mencari pakan maleo. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan pada saat akan bertelur biasanya di pagi hari sepasang maleo datang dan mulai membuat lubang bertelur secara bergantian, selanjutnya setelah menggali lubang maleo akan pergi dan mencari pakan di sekitar habitat peneluran. Setelah mencari pakan, pada siang atau sore hari maleo akan datang kembali untuk menggali lubang. Jumlah lubang biasanya lebih dari


(6)

satu dengan membuat lubang kamuflase untuk menghindari pemangsaan telur maleo oleh predator. Setelah bertelur maleo akan pergi untuk mencari pakan ataupun beristirahat dan biasanya tidak jauh dari habitat penelurannya.


Dokumen yang terkait

Strategi Burung Maleo (Macrochepalon maleo SAL. MULLER 1846) dalam Seleksi Habitat Tempat Bertelurnya di Sulawesi

1 13 236

Biologi Perkembangan Burung Maleo (Macrocephalon maleo, Sall, Muller 1846) yang Ditetaskan Secara Ex Situ

3 48 190

Pendugaan Populasi, Preferensi Habitat Peneluran dan Pola Sebaran Maleo (Macrocephalon maleo Sal Muller 1846) Berdasarkan Keberadaan Sarang di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah.

0 16 97

Analisis kondisi lokasi bertelur maleo senkawor (macrocephalon maleo) di kabupaten Mamuju provinsi Sulawesi Barat

0 7 204

Analisis Preferensi Habitat Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah

11 49 113

Karakteristik Fisik Sarang Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Di Suaka Margasatwa Pinjan-Tanjung Matop, Sulawesi Tengah.

0 0 7

Estimasi Populasi Dan Karakteristik Fisik Burung Maleo (Macrophalon Maleo) Di Resort Saluki Desa Tuva Kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) | Yanto Samana | GeoTadulako 5790 19169 1 PB

0 0 21

KARAKTERISTIK TANAH DAN MIKROKLIMAT HABITAT BURUNG MALEO (MACROCEPHALON MALEO) DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU SULAWESI TENGAH (Soil Characteristics and Microclimate of Habitat Maleo Bird (Macrocephalon Maleo) in Lore Lindu National Park Central Sulawesi | H

0 0 6

POTENSI PENGEMBANGAN WISATA ALAM DI HABITAT MALEO (Macrocephalon maleo) TAMAN NASIONAL LORE LINDU BIDANG PENGELOLAAN WILAYAH (BPW) I SALUKI KEC. GUMBASA KAB. SIGI | Nurdianti | Jurnal Warta Rimba 1945 5673 1 PB

0 0 8

STUDI KARAKTERISTIK MIKRO-HABITAT BURUNG MALEO (Macrocephalon maleo) PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI (TNRAW) SULAWESI TENGGARA

0 1 14