Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang Salmonella typhimurium

(1)

PERFORMAN DAN HISTOPATOLOGI USUS HALUS

BROILER YANG DIBERI PAKAN SILASE DAN

DITANTANG

Salmonella typhimurium

FIRSTEA OCTA MERRYANA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007


(2)

ABSTRAK

FIRSTEA OCTA MERRYANA. Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang Salmonella typhimurium. Dibimbing oleh Nahrowi, M. Ridla dan Agus Setiyono.

Aplikasi mengenai teknologi pengolahan pakan berupa silase dapat menjamin ketahanan pakan dan juga dapat menggantikan antibiotik melalui kandungan bakteri asam laktat (BAL) dan asam organik yang dimiliki oleh produk silase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pakan dalam bentuk silase terhadap performa dan perkembangan bakteri Salmonella di dalam usus halus broiler.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan 168 ekor broiler yang dibagi dalam 21 petak kemudian diberi salah satu dari 7 macam perlakuan ransum, yaitu : S1 (Ransum silase), B1 (Ransum basal), L1 (Ransum basal + L. Plantarum), S2 (S1 + infeksi Salmonella typhi.), B2 (B1 + infeksi Salmonella typhi.), L2 (L1 + infeksi Salmonella typhi.), A (B1 + antibiotik + infeksi Salmonella typhi.). Data yang diperoleh dianalisa dengan sidik ragam (Analysis of Variance / ANOVA) dan jika berbeda nyata diuji dengan menggunakan uji Kontras Orthogonal. Data tingkat kerusakan usus halus diolah dengan menggunakan Kruskal-Wallis.

Produk silase yang dihasilkan sangat baik, ditunjukkan dengan pH yang rendah yaitu 4.28 dan tingginya bakteri asam laktat yang dihasilkan yaitu 9.16 x 108. Ransum silase nyata (P<0.05) mengurangi kerusakan pada vili-vili ileum broiler yang ditantang dengan Salmonella typhimurium. Selain itu, silase juga dapat menekan pertumbuhan Salmonella di dalam sekum broiler. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ransum silase dapat digunakan sebagai bahan pakan yang dapat menekan pertumbuhan Salmonella typhimurium di dalam usus halus broiler.

Silase ransum dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh negatif terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, dan konversi ransum, yang ditandai dengan tidak ada perbedaan nyata antara perlakuan yang menggunakan silase ransum dengan perlakuan yang menggunakan ransum basal. Begitu juga halnya untuk silase yang diberikan pada broiler yang ditantang

Salmonella typhimurium menunjukkan hasil akhir yang cukup baik. Silase ransum komplit dapat digunakan sebagai pakan alternatif ransum komersial dan juga dapat berperan sebagai alternatif antibiotik tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap performan broiler.


(3)

ABSTRACT

FIRSTEA OCTA MERRYANA. Performance and Histopathology of Small Intestine of Broiler Treated with Silage Diet and Challenged by Salmonella thypimurium. Under the direction of Nahrowi, M. Ridla and Agus Setiyono.

Application of silage technology can guarantee the availability of feed and may substitute antibiotic through the lactic acid bacterium (BAL) and organic acid contents. The aim of this research were to examine the effect of feeding silage on the performance and inhibit the growth of bacteri Salmonella in small intestine of broiler challenged with Salmonella.

Completely Randomized design with 7 treatments and 3 replications were used. 168 broilers which are devided into 21 groups were given one of the seven kinds of ration i.e. S1 (silage ration), B1 (basal ration), L1(B1 + L. Plantarum), S2 (S1 + Salmonella typhimurium), B2 (B1 + Salmonella typhimurium), L2 (L1 + Salmonella typhimurium) and A (B1 + antibiotic + Salmonella typhimurium). Data obtained were analysed with Analysis of Variance (ANOVA) and the orthogonal contrast test for comparing differences of treatments. Data due to small intestine damage were analysed by using Kruskal-Wallis.

Silage products were very good in term of having low pH (4.28) and increasing number of lactic acid bacteries (9.16 x 108). Silage ration significantly decreased (P<0.05) the damage of ileum villus of broiler chalenged by Salmonella typhimurium. Silage could also depress the growth of Salmonella in broiler’s caecum. The result of this research show silage ration can be used as feed substance which could depress the growth of Salmonella typhimurium in broiler’s small intestine.

Silage ration could not give nagative influence to consumption, body weight gain, last body weight and ration convertion wich marked by there was not significant difference between silage ration and basal ration. It can be concluded silage ration can be used as alternative commercial ration without influencing performance of broiler.


(4)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007

Hak cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya


(5)

PERFORMAN DAN HISTOPATOLOGI USUS HALUS

BROILER YANG DIBERI PAKAN SILASE DAN

DITANTANG

Salmonella typhimurium

FIRSTEA OCTA MERRYANA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Ternak

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007


(6)

Judul : Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang Salmonella typhimurium

Nama : Firstea Octa Merryana

NRP : D051040141

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc Ketua

Dr.Ir. Muhammad Ridla, M.Agr Dr.drh. Agus Setiyono, MS Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Ternak Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc Prof. Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS


(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga Tesis ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2006 ialah Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang

Salmonella typhimurium.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc, selaku dosen pembimbing utama, Dr.Ir. Muhammad Ridla, M.Agr dan Dr.drh. Agus Setiyono, MS yang telah banyak meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikiran serta memberikan arahan, bimbingan dan saran selama penulis melaksanakan penelitian dan penulisan tesis. Terima kasih juga penulis ucapkan pada Dr. Ir. Sumiati, M.Sc yang telah bersedia sebagai dosen penguji luar komisi dan banyak memberikan masukan dalam penyempurnaan tesis ini.

Terima kasih tak terhingga dan penuh hormat penulis ucapkan pada Ayah Ir. Muryono dan Mami Fatmawati, S.Pd tercinta yang selalu mengasuh, mendidik dan membimbing dengan penuh kasih sayang serta senantiasa mendo’akan dan memberikan dorongan penuh baik moril maupun materil sampai saat ini. Adek Puspita Maya Margaretha, terima kasih selalu memberi kakak semangat, warna dalam senyum cerianya. Deyusma, S.Pt, terima kasih atas kesabaran dan pengertian yang diberikan selama ini serta pelajaran tentang hidup dan kedewasaan. Keluarga besar Situbondo dan Keluarga besar Bapak Iip Sukandar, terima kasih telah memberikan perhatian, bimbingan dan keceriaan selama ini. Teh Nelly, teh Nia, teh Yati dan Mami Carolina, terima kasih atas arahan dan bantuan selama penulis berada di Bogor.

Tak lupa penulis ucap terima kasih yang sebesar besarnya kepada Ir. Ma’ruf Tafsin, M.S dan Dr. Ir. Nevy, M.S, Ir. Yatno, M.S, Ima, bang Yus, kak Linda, Desy, Santy, Dian, kak Lily, Minul, pak Amir, pak Rusdin, kak Fitri dan pak Syahrir yang telah banyak memberikan warna selama penulis melaksanakan pendidikan di IPB. Terima kasih juga penulis ucap buat Ugan, Isfar, Heru terima kasih atas bantuan tenaga selama penelitian. Utie, Anggie, Dewi dan buat adek-adek mona terima kasih telah menemani selama penulisan tesis, serta semua pihak


(8)

yang tidak dapat disebutkan satupersatu yang telah membantu penulis baik selama pelaksanaan penelitian maupun dalam penulisan tesis ini.

Penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan dan dapat memberikan masukan bagi dunia peternakan Indonesia.

Bogor, April 2007

Firstea Octa M


(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Situbondo pada Tanggal 31 Oktober 1981 dari ayah Ir. Muryono dan ibu Fatmawati, S.Pd. penulis merupakan putri pertama dari dua bersaudara.

Tahun 1999 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Situbondo dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, lulus pada tahun 2003. Tahun 2004, penulis diterima di Program Studi Ilmu Ternak pada Program Pascasarjana IPB.


(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

Hipotesa ... 2

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Silase ... 3

Bakteri Asam Laktat ... 5

Asam Organik ... 8

Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat pada Unggas ... 10

Penggunaan Antibiotika ... 11

Salmonellosis pada Unggas ... 11

Organ Vital dan Usus Halus ... 14

Organ Vital ... 14 Usus Halus ... 14

MATERI DAN METODE ... 19

Tempat dan Waktu ... 19

Materi ... 19

Ternak ... 19

Kandang dan Perlengkapan ... 19

Ransum ... 19

Bakteri dan Additive ... 19

Vitamin dan Vaksin ... 21

Metode ... 21

Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 21

Pembuatan Ransum Silase Komplit ... 22


(11)

PERFORMAN DAN HISTOPATOLOGI USUS HALUS

BROILER YANG DIBERI PAKAN SILASE DAN

DITANTANG

Salmonella typhimurium

FIRSTEA OCTA MERRYANA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007


(12)

ABSTRAK

FIRSTEA OCTA MERRYANA. Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang Salmonella typhimurium. Dibimbing oleh Nahrowi, M. Ridla dan Agus Setiyono.

Aplikasi mengenai teknologi pengolahan pakan berupa silase dapat menjamin ketahanan pakan dan juga dapat menggantikan antibiotik melalui kandungan bakteri asam laktat (BAL) dan asam organik yang dimiliki oleh produk silase. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pakan dalam bentuk silase terhadap performa dan perkembangan bakteri Salmonella di dalam usus halus broiler.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan 168 ekor broiler yang dibagi dalam 21 petak kemudian diberi salah satu dari 7 macam perlakuan ransum, yaitu : S1 (Ransum silase), B1 (Ransum basal), L1 (Ransum basal + L. Plantarum), S2 (S1 + infeksi Salmonella typhi.), B2 (B1 + infeksi Salmonella typhi.), L2 (L1 + infeksi Salmonella typhi.), A (B1 + antibiotik + infeksi Salmonella typhi.). Data yang diperoleh dianalisa dengan sidik ragam (Analysis of Variance / ANOVA) dan jika berbeda nyata diuji dengan menggunakan uji Kontras Orthogonal. Data tingkat kerusakan usus halus diolah dengan menggunakan Kruskal-Wallis.

Produk silase yang dihasilkan sangat baik, ditunjukkan dengan pH yang rendah yaitu 4.28 dan tingginya bakteri asam laktat yang dihasilkan yaitu 9.16 x 108. Ransum silase nyata (P<0.05) mengurangi kerusakan pada vili-vili ileum broiler yang ditantang dengan Salmonella typhimurium. Selain itu, silase juga dapat menekan pertumbuhan Salmonella di dalam sekum broiler. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ransum silase dapat digunakan sebagai bahan pakan yang dapat menekan pertumbuhan Salmonella typhimurium di dalam usus halus broiler.

Silase ransum dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh negatif terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, dan konversi ransum, yang ditandai dengan tidak ada perbedaan nyata antara perlakuan yang menggunakan silase ransum dengan perlakuan yang menggunakan ransum basal. Begitu juga halnya untuk silase yang diberikan pada broiler yang ditantang

Salmonella typhimurium menunjukkan hasil akhir yang cukup baik. Silase ransum komplit dapat digunakan sebagai pakan alternatif ransum komersial dan juga dapat berperan sebagai alternatif antibiotik tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap performan broiler.


(13)

ABSTRACT

FIRSTEA OCTA MERRYANA. Performance and Histopathology of Small Intestine of Broiler Treated with Silage Diet and Challenged by Salmonella thypimurium. Under the direction of Nahrowi, M. Ridla and Agus Setiyono.

Application of silage technology can guarantee the availability of feed and may substitute antibiotic through the lactic acid bacterium (BAL) and organic acid contents. The aim of this research were to examine the effect of feeding silage on the performance and inhibit the growth of bacteri Salmonella in small intestine of broiler challenged with Salmonella.

Completely Randomized design with 7 treatments and 3 replications were used. 168 broilers which are devided into 21 groups were given one of the seven kinds of ration i.e. S1 (silage ration), B1 (basal ration), L1(B1 + L. Plantarum), S2 (S1 + Salmonella typhimurium), B2 (B1 + Salmonella typhimurium), L2 (L1 + Salmonella typhimurium) and A (B1 + antibiotic + Salmonella typhimurium). Data obtained were analysed with Analysis of Variance (ANOVA) and the orthogonal contrast test for comparing differences of treatments. Data due to small intestine damage were analysed by using Kruskal-Wallis.

Silage products were very good in term of having low pH (4.28) and increasing number of lactic acid bacteries (9.16 x 108). Silage ration significantly decreased (P<0.05) the damage of ileum villus of broiler chalenged by Salmonella typhimurium. Silage could also depress the growth of Salmonella in broiler’s caecum. The result of this research show silage ration can be used as feed substance which could depress the growth of Salmonella typhimurium in broiler’s small intestine.

Silage ration could not give nagative influence to consumption, body weight gain, last body weight and ration convertion wich marked by there was not significant difference between silage ration and basal ration. It can be concluded silage ration can be used as alternative commercial ration without influencing performance of broiler.


(14)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007

Hak cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya


(15)

PERFORMAN DAN HISTOPATOLOGI USUS HALUS

BROILER YANG DIBERI PAKAN SILASE DAN

DITANTANG

Salmonella typhimurium

FIRSTEA OCTA MERRYANA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Ternak

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2007


(16)

Judul : Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang Salmonella typhimurium

Nama : Firstea Octa Merryana

NRP : D051040141

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc Ketua

Dr.Ir. Muhammad Ridla, M.Agr Dr.drh. Agus Setiyono, MS Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Ternak Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc Prof. Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS


(17)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga Tesis ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2006 ialah Performan dan Histopatologi Usus Halus Broiler yang Diberi Pakan Silase dan Ditantang

Salmonella typhimurium.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc, selaku dosen pembimbing utama, Dr.Ir. Muhammad Ridla, M.Agr dan Dr.drh. Agus Setiyono, MS yang telah banyak meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikiran serta memberikan arahan, bimbingan dan saran selama penulis melaksanakan penelitian dan penulisan tesis. Terima kasih juga penulis ucapkan pada Dr. Ir. Sumiati, M.Sc yang telah bersedia sebagai dosen penguji luar komisi dan banyak memberikan masukan dalam penyempurnaan tesis ini.

Terima kasih tak terhingga dan penuh hormat penulis ucapkan pada Ayah Ir. Muryono dan Mami Fatmawati, S.Pd tercinta yang selalu mengasuh, mendidik dan membimbing dengan penuh kasih sayang serta senantiasa mendo’akan dan memberikan dorongan penuh baik moril maupun materil sampai saat ini. Adek Puspita Maya Margaretha, terima kasih selalu memberi kakak semangat, warna dalam senyum cerianya. Deyusma, S.Pt, terima kasih atas kesabaran dan pengertian yang diberikan selama ini serta pelajaran tentang hidup dan kedewasaan. Keluarga besar Situbondo dan Keluarga besar Bapak Iip Sukandar, terima kasih telah memberikan perhatian, bimbingan dan keceriaan selama ini. Teh Nelly, teh Nia, teh Yati dan Mami Carolina, terima kasih atas arahan dan bantuan selama penulis berada di Bogor.

Tak lupa penulis ucap terima kasih yang sebesar besarnya kepada Ir. Ma’ruf Tafsin, M.S dan Dr. Ir. Nevy, M.S, Ir. Yatno, M.S, Ima, bang Yus, kak Linda, Desy, Santy, Dian, kak Lily, Minul, pak Amir, pak Rusdin, kak Fitri dan pak Syahrir yang telah banyak memberikan warna selama penulis melaksanakan pendidikan di IPB. Terima kasih juga penulis ucap buat Ugan, Isfar, Heru terima kasih atas bantuan tenaga selama penelitian. Utie, Anggie, Dewi dan buat adek-adek mona terima kasih telah menemani selama penulisan tesis, serta semua pihak


(18)

yang tidak dapat disebutkan satupersatu yang telah membantu penulis baik selama pelaksanaan penelitian maupun dalam penulisan tesis ini.

Penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan dan dapat memberikan masukan bagi dunia peternakan Indonesia.

Bogor, April 2007

Firstea Octa M


(19)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Situbondo pada Tanggal 31 Oktober 1981 dari ayah Ir. Muryono dan ibu Fatmawati, S.Pd. penulis merupakan putri pertama dari dua bersaudara.

Tahun 1999 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Situbondo dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, lulus pada tahun 2003. Tahun 2004, penulis diterima di Program Studi Ilmu Ternak pada Program Pascasarjana IPB.


(20)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

Hipotesa ... 2

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Silase ... 3

Bakteri Asam Laktat ... 5

Asam Organik ... 8

Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat pada Unggas ... 10

Penggunaan Antibiotika ... 11

Salmonellosis pada Unggas ... 11

Organ Vital dan Usus Halus ... 14

Organ Vital ... 14 Usus Halus ... 14

MATERI DAN METODE ... 19

Tempat dan Waktu ... 19

Materi ... 19

Ternak ... 19

Kandang dan Perlengkapan ... 19

Ransum ... 19

Bakteri dan Additive ... 19

Vitamin dan Vaksin ... 21

Metode ... 21

Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 21

Pembuatan Ransum Silase Komplit ... 22


(21)

Analisis Kimia dan Histopatologi ... 23

Kualitas Silase ... 23

Jumlah Koloni Salmonella ... 23

Pengamatan Histopatologi Usus Halus ... 23

Peubah yang Diamati ... 25

Prosedur Pelaksanaan ... 25

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

Silase Ransum ... 26

Kualitas Silase Ransum dan Ransum Kering selama Penyimpanan .... 27

Performa Broiler yang Diberi Ransum Perlakuan dan Ditantang Salmonella typhimurium ... 28

Konsumsi... 29

Pertambahan Bobot Badan ... 30

Bobot Badan Akhir ... 32

Konversi Ransum ... 32

Organ Dalam Broiler ... 35

Hati ... 35

Empedu ... 36

Limpa ... 37

Jumlah Koloni Salmonella ... 39

Histopatologi Usus Halus ... 41

SIMPULAN DAN SARAN ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 52


(22)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Enam fase dari fermentasi silase dan penyimpanannya ... 4 2. Susunan dan kandungan zat makanan dalam ransum penelitian ... 20 3. Koloni bakteri asam laktat (BAL) dan pH silase ransum pada minggu

ke 0, 3 dan 6 ... 26 4. Kualitas pakan silase dan pakan kering yang disimpan pada minggu

ke 0, 3 dan 6 ... 27 5. Rata-rata konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB), bobot

badan akhir (BBA) dan konversi ransum broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 29 6. Rata-rata konversi pakan broiler minggu ke 0-3 dan minggu ke 4-6 ... 34 7. Jumlah koloni Salmonella pada isi sekum broiler ... 39 8. Tingkat kerusakan pada usus halus broiler ... 41


(23)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Pembentukan laktat oleh bakteri homofermentatif ... 5 2. Pembentukan laktat oleh bakteri heterofermentatif ... 6 3. Kerja asam organik pada bakteri yang sensitif (Coliform,

Clostridis, Salmonella, Listeria spp) terhadap perubahan pH ... 9 4. Kerja asam organik pada bakteri yang tidak sensitif (Bakteri Asam

Laktat, Bifidobakteria) terhadap perubahan pH ... 10 5. Infeksi pada mukosa usus oleh bakteri Salmonella ... 13 6. pH organ dan saluran pencernaan broiler ... 16 7. Gambaran mikroskopis usus halus normal broiler ... 17 8. Proses pembuatan ransum silase komplit ... 22 9. Proses pembuatan sediaan preparat histopatologi usus halus ... 24 10. Pertambahan bobot badan broiler selama 6 minggu pemeliharaan ... 31 11. Konversi pakan broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 33 12. Persentase hati broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 36 13. Persentase empedu broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 37 14. Persentase limpa broiler yang dipelihara selama 6 minggu ... 38 15. Skema pelepasan proton H+ oleh asam organik ... 40 16. Gambaran mikroskopis usus halus normal broiler umur 9 hari;

pewarnaan Haematoxylin Eosin (HE) (pembesaran obyektif 40x) ... 42 17. Gambaran mikroskopis usus halus broiler yang mengalami koyakan

pada permukaan vili-vilinya pewarnaan Haematoxylin Eosin (HE) (pembesaran obyektif 40x) ... 43 18. Ileum broiler yang diberi pakan silase ... 44 19. Ileum broiler yang diberi pakan ransum kering ... 45 20. Ileum broiler yang diberi pakan L. Plantarum melalui air minum ... 45 21. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi pakan silase ... 46 22. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi ransum basal ... 47 23. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi L. Plantarum

melalui air minum ... 48 24. Ileum broiler yang diinfeksi Salmonella dan diberi Antibiotik ... 49


(24)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Cara Pewarnaan Haematoxyllin dan Eosin ... 57 2. Analisis ragam (ANOVA) konsumsi broiler umur 6 minggu ... 58 3. Analisis ragam (ANOVA) pertambahan bobot badan broiler

umur 6 minggu ... 58 4. Analisis ragam (ANOVA) bobot badan akhir broiler

umur 6 minggu ... 58 5. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur

6 minggu ... 59 6. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur

0-3 minggu ... 59 7. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur

4-6 minggu ... 59 8. Data histopatologi usus halus bagian ileum ... 60


(25)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kondisi pemeliharaan unggas khususnya broiler di Indonesia masih kurang baik. Hal ini telah menyebabkan penyakit sangat mudah menjangkiti ternak. Salah satu penyakit yang sulit dikendalikan adalah Salmonellosis (penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella).

Permasalahan lain peternakan khususnya unggas adalah ketersediaan pakan dan daya tahan pakan dalam penyimpanannya, sehingga teknologi pengawetan dalam bentuk silase merupakan salah satu jalan tepat untuk diterapkan dalam rangka menanggulangi permasalahan tersebut di atas.

Saat ini teknologi pengawetan berupa fermentasi anaerob lebih banyak digunakan pada ternak ruminansia khususnya sapi perah, dan masih sangat terbatas dilaporkan penggunaan silase pada unggas. Kajian awal mengenai penggunaan silase pada broiler menunjukkan bahwa broiler umur 1 minggu dapat menerima silase ransum komplit tanpa ada pengaruh negatif terhadap bobot badan yang dihasilkan maupun terhadap organ vital (Tonnedy 2006).

Aplikasi teknologi silase pada unggas selain dapat menjamin ketersediaan pakan, juga dapat digunakan sebagai sumber bakteri asam laktat (BAL) dan asam organik. BAL dapat berperan sebagai feed additive alternatif antibiotik dan begitu juga halnya dengan asam organik. Asam organik di Eropa telah diklaim dapat digunakan sebagai growth promotor disamping sebagai bahan yang dapat memperpanjang umur simpan bahan pakan.

Terkait dengan hal tersebut maka perlu untuk mengkaji pengaruh bakteri dalam silase dan asam organik terhadap performan dan histopatologi usus halus pada broiler umur 1 minggu samapi 6 minggu yang diberi pakan silase dan ditantang Salmonella typhimurium.


(26)

Tujuan

1.Mempelajari pengaruh penggunaan silase ransum terhadap performan, organ dalam dan jumlah koloni Salmonella dalam sekum broiler yang diinfeksi bakteri Salmonella typhimurium.

2.Mempelajari histopatologi jaringan usus halus broiler yang diberi silase ransum setelah broiler tersebut diinfeksi dengan bakteri Salmonella typhimurium.

Hipotesis

1.Pemberian silase ransum pada broiler dapat menekan jumlah Salmonella typhimurium di dalam usus halus, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan bobot badan.

2.Silase ransum mempengaruhi struktur vili usus halus, kecernaan dan metabolisme pakan sehingga dapat meningkatkan performa broiler jika dibandingkan dengan penggunaan antibiotik.


(27)

TINJAUAN PUSTAKA

Silase

Silase merupakan makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan pakan dengan kandungan kadar air tinggi. Tujuan pembuatan silase ini adalah memaksimalkan nutrient yang dapat diawetkan (Sapienza dan Keith 1993) dan pakan dapat lebih tahan lama dalam penyimpanan.

Untuk meningkatkan kualitas silase sering ditambahkan bahan aditif yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu : 1. sebagai stimulan fermentasi dan 2. sebagai inhibitor fermentasi. Zat aditif stimulan fermentasi bekerja membantu pertumbuhan bakteri asam laktat sehingga kondisi asam dapat segera tercapai. Sedangkan inhibitor fermentasi digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk seperti clostridia agar pakan dapat lebih awet.

Keberhasilan pembuatan silase adalah memaksimalkan nutrien yang dapat diawetkan. Silase yang baik diperoleh dengan menekan berbagai aktivitas enzim yang berada dalam bahan baku yang tidak dikehendaki, dan dapat mendorong berkembangnya bakteri penghasil asam laktat (Sapienza dan Keith 1993). Selain menghasilkan asam laktat, bakteri ini juga mampu menghasilkan berbagai substansi antimikroba yang potensial seperti asam organik, hidrogen peroksida, diasetil, dan bakteriosin (Cintas et al. 1995). Bakteriosin merupakan substansi protein yang memiliki berat molekul kecil dan memiliki efek antagonis sebagai bakterisidal atau bakteriostatik terhadap pertumbuhan bakteri patogen (Suarsana

et al. 2001). Bakteriosin akan terbentuk setelah 10 jam sampai 26 jam selama ensilase, bakteriosin ini memiliki aktivitas optimum pada pH 6, bersifat termostabil pada pH 3-5 dengan pemanasan 121oC selama 15 menit (Suarsana 2001). Namun mekanisme antimikroba dari bakteriosin secara detail masih belum diketahui.

Karakteristik silase yang penting dalam hal ini adalah kandungan asam lemak terbangnya (asam asetat, asam propionat dan asam butirat) akan menekan tumbuhnya jamur. Dari ketiga asam lemak terbang tersebut yang paling toksik adalah asam butirat dan yang paling baik adalah asam asetat. Asam butirat dikatakan paling toksik karena memiliki antifungal yang sangat kuat sehingga


(28)

menyebabkan bakteri clostridial menjadi stabil (McDonald et al. 1991). Asam laktat dapat menekan pertumbuhan jamur meskipun tidak seefektif asam asetat. Secara keseluruhan, semakin besar tingkat fermentasi asam laktat dan asam asetat maka silase tersebut akan semakin stabil dari kondisi aerob.

Secara garis besar proses pembuatan silase terdiri dari empat fase : (1). Fase aerob (2). Fase fermentasi (3). Fase stabil dan (4). Fase pengeluaran untuk diberikan pada ternak. Untuk lebih detail mengenai fase, aktivitas dan produksi dalam fermentasi silase dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Enam fase dari fermentasi silase dan penyimpanannya Fase Umur Silase

(hari) Aktivitas

Suhu

(oC) pH Produksi

I 0-2

Respirasi sel; produksi CO2, panas dan air

15.5 - 32.2 6.5 - 6.0

II 2-3

Produksi asam asetat dan etanol asam laktat

32.2 - 27.7 6.0 - 5.0

Asam asetat dan bakteri asam laktat III 3-4 Pembentukan asam

laktat 32.2 - 27.7 5.0 - 4.0

Bakteri asam laktat

IV 4-21 Pembentukan asam

laktat 27.7 4.0

Bakteri asam laktat

V 21 Penyimpanan

materi 27.7 4.0

VI Dekomposisi aerobik terhadap produksi oksigen 27.7 4.0-7.0 Pembentukan dan aktivitas jamur Sumber : Schroeder (2004)

Selama ini silase pakan hanya digunakan pada ternak ruminansia yaitu sapi perah, karena telah diketahui silase ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain : (1) Ransum lebih awet, (2) Memiliki kandungan bakteri asam laktat (BAL) yang berperan sebagai probiotik, (3) Memiliki kandungan asam organik yang cukup baik, yang berperan sebagai growth promotor dan penghambat penyakit, (4) Kandungan air yang terdapat dalam silase cukup tinggi, kondisi ini sangat bermanfaat bagi ternak.


(29)

Bakteri Asam Laktat

Bakteri asam laktat yang umum digunakan dalam proses fermentasi adalah kelompok Lactobacillus, Pediococcus, Leuconostoc, Enterococcus, Lactococcus

and Streptococcus (Stefanie et al. 2000). Bakteri penghasil asam laktat akan memfermentasi gula menjadi asam laktat yang disertai dengan produksi asam asetat, etanol, karbondioksida dan lain-lain. Bakteri ini terbagi kedalam dua ketegori, yaitu yang homofermentatif dan heterofermentatif. Bakteri penghasil asam laktat yang homofermentatif hanya menghasilkan asam laktat dari fermentasi gula, seperti yang terlihat pada Gambar 1.

Sumber : http://www.bact.wisc.edu/Microtextbook (1999) Gambar 1. Pembentukan laktat oleh bakteri homofermentatif


(30)

Fermentasi heterofermentatif, selain menghasilkan asam laktat juga menghasilkan etanol, asam asetat dan karbondioksida, seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Sumber : http://www.bact.wisc.edu/Microtextbook (1999) Gambar 2. Pembentukan laktat oleh bakteri heterofermentatif

Oleh karena asam laktat lebih kuat daripada asam asetat maka bakteri penghasil asam laktat homofermentatif lebih diinginkan daripada heterofermentatif di dalam proses fermentasi karena bakteri homofermentatif akan merombak gula dengan tingkat kehilangan bahan kering sangat kecil serta tingkat kehilangan energinya sangat sedikit.


(31)

Bakteri asam laktat merupakan golongan mikroorganisme yang bermanfaat karena sifatnya tidak toksik bagi inang dan mampu menghasilkan senyawa yang dapat membunuh mikroorganisme patogen. Sesuai dengan namanya bakteri asam laktat ini menghasilkan asam laktat sebagai hasil metabolismenya yang sangat bermanfaat dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain yang merugikan bagi tubuh. Bakteri asam laktat ini juga memproduksi metabolit sekunder seperti asam hidroksi peroksida, diasetil, amonia, asam lemak dan bakteriosin (Lopez 2000). Produksi bakteriosin ini dapat menghambat perkembangan bakteri patogen (Wiryawan dan Anita 2001).

Mekanisme kerja bakteri asam laktat yang dikemukakan oleh Lopez (2000), yaitu menekan kemampuan hidup mikroorganisme patogen karena mampu memproduksi komponen antibakteria seperti hidroksi peroksida dan asam-asam organik seperti asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan tersebut berguna untuk menurunkan pH. Ada beberapa mekanisme kerja yang dilakukan oleh asam laktat sebagai probiotik, yaitu : (1) Berkompetisi dengan mikroorganisme patogen untuk mendapat nutrisi dan tempat tinggal (2) Menjaga keseimbangan ekosistem melalui penjagaan pH lingkungan agar tetap berada dalam kondisi asam, sehingga perkembangan bakteri patogen dapat terhambat (3) Menyediakan kebutuhan enzim-enzim yang mampu mencerna serat kasar, protein, lemak dan karbohidrat (4) Mendetoksifikasi zat beracun dalam tubuh (5) Mampu menstimulasi kekebalan tubuh dengan cara meningkatkan konsentrasi dari antibodi imunoglobulin (Lopez 2000).

Bakteri asam laktat dalam pengawetan bahan pakan digunakan dalam proses ensilase yang akan menghasilkan suatu produk yaitu silase. Silase ini dapat dikategorikan sebagai probiotik yang bermanfaat sebagai feed additive dengan beberapa kelebihan sebagai berikut : dapat meningkatkan ketersediaan lemak dan protein bagi ternak, mempertahankan konversi pakan, meningkatkan pertumbuhan berat badan, mampu memperbaiki resistensi penyakit akibat stimulasi dan peningkatan natural immunity, selain itu juga dapat meningkatkan kandungan vitamin B komplek melalui proses fermentasi (McDonald et al. 1991).

Genus bakteri asam laktat yang banyak digunakan dalam fermentasi makanan biakan starter adalah genus Lactococcus, Pediococcus, Leuconostoc,


(32)

Lactobacillus dan Carnobacterium (Nettles dan Barefoot 1993). Berdasarkan proses metabolisme gula, BAL dibagai dalam 3 kelompok, yaitu : 1. obligat homofermentatif (Pediococcus damnosus dan Lactobacillus ruminis), 2. fakultatif heterofermentatif (Lactobacillus plantarum, L. pentosus, Pediococcus acidilactici,

P. pentosaceus dan Enterococcus faecium), 3. obligat heterofermentatif (Leuconostoc, dan beberapa Lactobacillus spp., seperti Lactobacillus brevis dan

Lactobacillus buchneri). Obligat homofermentatif menghasilkan lebih dari 85% asam laktat dari heksosa (C6) seperti glukosa, tapi tidak dapat memecah pentosa (C5) seperti xylosa. Fakultatif heterofermentatif menghasilkan produk utama asam laktat dari heksosa dan dalam jumlah kecil dapat memecah pentosa menjadi asam laktat dan asam asetat atau etanol. Obligat heterofermentatif dapat memecah heksosa dan pentosa, namun berbeda dengan homofermentatif mereka memecah heksosa menjadi sejumlah equimolar dari asam laktat, CO2 dan asam asetat atau etanol (McDonald et al. 1991).

Habitat dari bakteri asam laktat (BAL) sangat beragam dan bertoleran baik terhadap pH, suhu dan udara. BAL bisa bertahan hidup pada kondisi pH yang beragam mulai dari pH 4.0 - 6.8. BAL dari spesies Streptococcus umumnya bertahan pada pH sekitar 4.5 – 5.0. sedangkan untuk spesies Lactobacillus akan tumbuh subur pada media asam mulai dari pH 4.5 – 6.4. Kisaran suhu hidup BAL sangat luas dan beragam mulai dari 5oC – 50oC. Suhu optimal bakteri asam laktat adalah 30oC (untuk strain L. plantarum) dan 37oC (untuk strain L. paracasei) (Koenen et al. 2004).

Asam Organik

Beberapa asam organik memiliki sifat anti-bakteri. Prinsip dasar kerja asam organik sebagai antibakteri adalah asam organik dapat menembus dinding sel bakteri dan mengganggu fisiologi normal beberapa tipe bakteri. Asam organik dapat berfungsi sebagai growth promotor yang dapat digunakan untuk menstabilkan mikroflora pada saluran pencernaan dan meningkatkan performan secara umum pada unggas (Gauthier 2002). Asam organik meliputi seluruh senyawa asam yang terdiri atas rantai karbon sebagai rantai cabang utama (R-CO-H) atau yang dikenal sebagai golongan asam karboksilat.


(33)

Asam-asam karboksilat tersebut umumnya dapat diproduksi oleh mahluk hidup melalui proses metabolisme tubuh. Asam organik dalam saluran pencernaan dapat melakukan proses ionisasi dengan mudah yaitu dengan cara melepaskan ion hidrogen. Peningkatan jumlah ion hidrogen tersebut akan menurunkan pH saluran pencernaan sehingga mikroorganisme yang tidak tahan terhadap kondisi asam akan terhambat pertumbuhannya (Hardy 2003). Pada bakteri yang sensitif terhadap perubahan pH, asam organik menembus dinding sel bakteri sehingga asam organik akan terurai (H+ dan RCOO-), mengakibatkan pH dalam sel akan turun. Pada kondisi tersebut bakteri berusaha melepaskan H+ dari dalam sel agar pH dalam sel menjadi normal, namun proses ini membutuhkan energi yang besar sehingga mengakibatkan bakteri akan berhenti tumbuh dan mati. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Kerja asam organik pada bakteri yang sensitif (Coliform, Clostridis, Salmonella, Listeria spp) terhadap perubahan pH (Gauthier 2002).

Beberapa bakteri memiliki struktur dinding sel yang berbeda, dinding sel bakteri yang tidak sensitif terhadap perubahan pH memungkinkan jumlah asam organik yang masuk ke dalam sel bakteri berkurang, sehingga bakteri tersebut lebih tahan terhadap lingkungan asam (Gauthier 2002). Proses pelepasan proton asam organik dapat dilihat pada Gambar 4.


(34)

Gambar 4. Kerja asam organik pada bakteri yang tidak sensitif (bakteri asam laktat, bifidobakteria) terhadap perubahan pH (Gauthier 2002).

Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat pada Unggas

Bakteri asam laktat (BAL) mampu menghasilkan asam laktat, hidrogen peroksida, antimikroba dan hasil metabolisme lain yang memberikan pengaruh positif bagi produktivitas ternak. BAL yang selama ini digunakan terbukti dapat meningkatkan produktivitas ternak. Pemberian BAL sebagai supplemen diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan bakteri (rasio antara bakteri patogen dan nonpatogen) dalam saluran pencernaan ternak terutama dalam usus. BAL adalah pakan imbuhan dalam bentuk mikroorganisme hidup yang berpengaruh positif pada hewan inang dan dapat meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan unggas.

Pemberian BAL pada ayam memiliki dua sasaran, yaitu di saluran pencernaan dan di sekum yang diharapkan dapat menghasilkan senyawa antimikroba sehingga dapat berpengaruh terhadap ternak (Fuller 1992). Watkins dan Miller (1983) menunjukkan adanya penurunan mortalitas pada ayam gnotobiotik yang diberi kultur Lactobacillus acidophilus dua hari sebelum diberi kultur bakteri patogen yaitu Salmonella typhimurium. Suplementasi pakan dengan probiotik ataupun prebiotik nyata meningkatkan bobot badan dan efisiensi serta konversi pakan broiler diusia muda namun tidak berlaku pada broiler berumur lebih dari 2 minggu (Palliyaguru et al. 2004).


(35)

Penggunaan Antibiotika pada Unggas

Broiler mampu mengolah makanannya dengan cepat begitu makanan dikonsumsi. Tingkah laku makan yang seperti ini menyebabkan broiler memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat, selain dipengaruhi oleh genetik, cepatnya laju pertumbuhan juga dipicu oleh adanya growth promotor yang umunya menggunakan senyawa antibiotika. Selain sabagai growth promotor, senyawa antibiotika ini juga dapat meningkatkan efisiensi pakan, alternatif pengobatan dan juga dapat meningkatkan reproduksi ternak. Namun akhir-akhir ini penggunaan antibiotika mulai mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan di beberapa negara telah dilarang penggunaannya sebagai aditif, yaitu : Virginamycin, Tylosin, Spiramycin dan Zinc bacitracyn (Bouliane 2003).

Penurunan penggunaan antibiotika ini disebabkan oleh 2 hal utama, yaitu : (1). Antibiotik dapat meninggalkan residu dalam jangka panjang, sehingga dapat membahayakan kesehatan konsumen, (2). Antibiotik menyebabkan mikroorganisme yang berada dalam tubuh manusia ataupun hewan menjadi resisten, terutama bakteri patogen seperti Salmonellae sp, Escherichia coli, dan

Clostridium sp. Sehingga penggunaan probiotik sebagai bahan aditif menggantikan antibiotik dalam pakan sebagai growth promotor menjadi suatu pilihan yang tepat.

Salmonellosis pada Unggas

Salmonellosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, dapat terjadi pada ternak maupun manusia. Serotipe bakteri ini potensial bersifat patogen, juga merupakan kontaminan bagi produk ternak seperti daging, telur, dan susu. Salmonellosis merupakan penyakit zoonose ini juga disebut “Food Borne Disease” karena penularannya terjadi melalui makanan dan minuman. Salmonella sp. banyak ditemukan pada saluran pencernaan vertebrata maupun invertebrata, dan juga terdapat pada feses ternak. Bakteri ini juga terdapat pada tembolok broiler sehingga dapat mengkontaminasi karkas (Lee 2000).

Salmonella adalah bakteri berbentuk batang langsing. Ukuran lebar


(36)

pada temperatur 37.0 – 37.5oC (Shivaprasad 1997). Di alam bakteri Salmonella

tidak tahan hidup lama, terutama bila keadaan sekitarnya kering. Sumber infeksi

Salmonella yang paling sering terjadi pada flock unggas diduga berasal dari pakan. Cox et al. (1996) melaporkan bahwa tempat penetasan merupakan sumber penularan Salmonella yang dominan pada peternakan ayam broiler.

Infeksi Salmonella terjadi melalui 3 cara yaitu kongenital, oral dan aerogen (Ressang 1984). Secara kongenital yaitu penularan melalui telur, sehingga anak ayam yang menetas melalui telur tersebut akan terinfeksi

Salmonella. Infeksi secara oral terjadi melalui pakan dan air minum yang tercemari Salmonella. Sedang aerogen adalah infeksi yang terjadi di dalam mesin penetas telur dimana masa tunas penyakit berkisar antara 1 minggu. Penularan melalui vektor juga lazim terjadi, penyebaran ini terjadi melalui hewan-hewan kecil seperti tikus, lalat, burung liar dan peralatan yang mengandung bakteri

Salmonella yang digunakan di dalam kandang (Cox et al. 1996).

Daging dan telur unggas merupakan sumber utama tertularnya Salmonella

pada manusia. Banyak cara organisme tersebut dapat masuk, menyebar, dan bertahan di dalam tubuh unggas yang pada akhirnya produk yang dihasilkan oleh unggas juga akan terinfeksi oleh Salmonella. Baik perusahaan kecil maupun besar telah menggalakkan kebijakan kontrol dalam mengurangi berkembangnya bakteri

Salmonella, jika gagal kemungkinan terinfeksi bakteri Salmonella akan lebih besar. Peningkatan monitoring dan kontrol di dalam kawasan peternakan lebih di fokuskan pada bagian breeding, umumnya lebih menekan berkembangnya S. Enteritidis dan S. Typhimurium. Kawasan breeding, pabrik pakan dan kawasan

hatcheries merupakan kawasan utama terjadinya kontaminasi Salmonella. Kontaminasi pada kawasan tersebut umumnya melalui sistem ventilasi (Davis dan Breslin 2004).

Bentuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella antara lain :

fowl typoid, pullorum dan fowl paratyphoid. Pada kasus fowl typoid, akan terjadi hepatitis parenkimatosa yang menyebar dan pada kasus akut akan terjadi distrofi lemak, sedang pada usus dan ginjal akan ditemukan adanya infiltrasi limfosit dan heterofil, sehingga jumlah eritrosit dapat menurun dari 3.5 juta menjadi 1.5 juta


(37)

per ml dan leukosit akan meningkat dari 18 000 menjadi 240 000 per ml (Tabbu 2000).

Pada ayam muda yang mengalami pullorum akan menunjukkan peradangan dan pendarahan pada hati, paru-paru dan ginjal. Demikian pula dengan sekum pada ayam muda ini akan mengalami nekrosis pada mukosa dan submukosa dengan akumulasi nekrosis debris dengan campuran fibrin dan heterofil dalam lumen (Shivaprasad 1997). Perubahan yang terjadi pada kasus

fowl paratyphoid adalah adanya pendarahan dan infiltrasi heterofil pada berbagai jaringan seperti hati, limpa, ginjal, usus dan paru-paru (Tabbu 2000).

Mekanisme infeksi Salmonella di dalam usus dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Infeksi pada mukosa usus oleh bakteri Salmonella (Giannella 1996) Pada saat Salmonella masuk ke dalam usus halus, maka sel goblet akan menghasilkan mukus yaitu cairan yang berfungsi untuk mengusir benda asing seperti bakteri patogen, jika ternyata mukus ini tidak dapat mengusir bakteri patogen (Salmonella) maka Salmonella ini akan tetap bertahan dan masuk ke dalam sel epitel usus menembus lapisan atas vili. Selanjutnya, Salmonella ini akan


(38)

dihambat pertumbuhannya oleh sel-sel limfosit, namun jika sel-sel limfosit tidak dapat menghambat pertumbuhan Salmonella maka Salmonella ini akan masuk ke dalam pembuluh darah.

Organ Vital dan Usus Halus Organ Vital

Organ vital ayam terdiri dari hati, empedu, limpa, jantung, dan bursa fabrisius (North dan Bell 1990). Hati merupakan organ yang berperan dalam sekresi empedu, metabolisme lemak, karbohidrat, zat besi, fungsi detoksifikasi serta berperan dalam metabolisme dan penyerapan vitamin (Ressang 1984). Gejala-gejala klinis pada jaringan hati tidak selalu dapat ditemui, karena hati memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam regenerasi jaringan hati. Persentase hati ayam berkisar antara 1.7–2.8 % dari berat hidup (Putnam 1991).

Limpa merupakan organ tubuh komplek dengan banyak fungsi. Fungsi limpa yang utama adalah sebagai penyaring darah dan penyimpanan zat besi untuk dimanfaatkan kembali dalam sintesis hemoglobin (Dellman dan Brown 1989). Selain menyimpan darah, limpa bersama hati dan sumsum tulang berperan dalam pembinasaan eritrosit-eritrosit tua dan ikut serta dalam metabolisme sel limfosit yang berhubungan dengan pembentukan antibodi (Ressang 1984). Ukuran limpa bervariasi dari waktu ke waktu tergantung banyaknya darah di dalam tubuh. Persentase berat limpa ayam normal berkisar antara 0.18–0.23 % dari bobot hidup (Putnam 1991).

Pada unggas terdapat dua saluran empedu yang berfungsi untuk menyalurkan isi empedu dari hati ke usus. Fungsi utama empedu adalah mensekresikan kolesterol dan emulsi lemak dengan bantuan asam-asam empedu yang disekresikan oleh hati (Ressang 1984).

Usus Halus

Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejenum, dan illeum (Sturkie 1976). Usus halus pada bagian jejenum merupakan tempat terjadinya pencernaan dan penyerapan makanan. Selaput lendir usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari. Fungsi usus halus selain sebagai penggerak


(39)

aliran pakan dalam usus juga untuk meningkatkan penyerapan sari makanan (Akoso 1993).

Pada usus halus terjadi gerakan peristaltik yang berperan mencampur digesta dengan cairan pankreas dan empedu. Usus halus bagian kripta lieberkuhn menghasilkan enzim amilase, protease, dan lipase yang berfungsi memecah zat makanan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat diserap tubuh (Moran 1985), selain itu usus halus juga melaksanakan pencernaan kimiawi serta memegang peranan penting dalam transfer material nutrisi dari lumen ke dalam pembuluh darah dan limfe.

Peristiwa pencernaan serta penyerapan dalam usus halus ditunjang oleh bentuk-bentuk khusus. Efisiensi penyerapan dapat ditingkatkan oleh tiga bentuk khusus yang memperluas areal penyerapan terhadap isi usus: (1) dua pertiga bagian depan usus halus memiliki plika sirkularis yang menjulur kearah lumen setinggi dua pertiganya. Pada ruminansia, lipatan ini bersifat permanen, tetapi pada hampir semua hewan piaraan lain tampak pada usus yang sedang istirahat (kosong) dan hilang bila usus mengembang. (2) permukaan selaput lendir menunjukkan penjuluran berbentuk jari yang disebut vili. Tinggi vili ini bervariasi (1.5–1.0 µm), tergantung pada daerah serta jenis hewannya. Pada karnivora, vili langsing dan panjang, sedang pada sapi vili pendek dan lebar. (3) permukaan penyebaran ditingkatkan oleh mikrovili. Mikrovili merupakan penjuluran sitoplasma pada permukaan bebas epitel vili (Dellmann dan Brown 1992).

Permukaan bagian dalam dari usus halus adalah membran mukosa yang terdiri dari sel epitel kolumnar, beberapa diantaranya akan mengalami modifikasi dan membentuk sel goblet guna produksi mukosa. Luar permukaan membran mukosa yang menyelimuti usus halus meningkat oleh adanya vili yang berguna untuk absorpsi zat makanan (Frandson 1996). Dalam keadaan normal selaput lendir usus terlapisi oleh isi usus yang bercampur dengan getah usus, getah pankreas, empedu, lendir usus dan flora kuman-kuman.

Pada usus halus ayam juga ditemukan mikroflora yang merupakan komponen normal dalam saluran pencernaan ayam. Spesies bakteri utama yang ada pada usus halus ayam adalah Lactobacillus sp, Streptococcus sp, dan koliform dengan konsentrasi normal 1014 cfu/ml (Rahardjo 2003). Adanya mikroorganisme


(40)

dalam usus menyebabkan banyak perubahan anatomis. Umumnya usus halus ayam yang mengandung flora bakteria yang normal lebih panjang dan lebih berat dari pada usus halus ayam yang bebas dari flora bakteri (Wahju 1997). Keberadaan mikroflora dalam usus ini juga didukung dengan kondisi pH usus broiler yang memang cenderung netral, seperti yang terlihat pada Gambar 6. Sehingga sangat mendukung perkembangan berbagai jenis mikroba di dalam usus halus.

Gambar 6. pH organ dan saluran pencernaan broiler (Gauthier 2002). Usus halus bagian bawah, terutama sekum ayam mengandung asam lemak terbang dan senyawa lain seperti amonia. Sekum mengandung banyak sekali vitamin B. Akan tetapi vitamin tersebut tidak banyak membantu kebutuhan induk semang karena digunakan untuk biosintesis mikroba (Wahju 1997). Gambaran usus halus normal dapat dilihat pada Gambar 7.


(41)

Kripta Lieberkuhn Serosa

Mukosa

Sub Mukosa Muskularis

Mukosa

Sel Goblet

Vili hanya terdapat pada usus halus yang berfungsi untuk memperluas permukaan penyerapan, sedang mekanisme penyerapan dilakukan oleh sel-sel penyerap. Resorpsi lemak ditampung dalam pembuluh limfa dan sisanya dalam pembuluh darah.Vili merupakan penjuluran selaput lendir yang menjorok ke dalam lumen usus halus. Pada tiap vili terdapat 3 unsur, yaitu pembuluh limfa, pembuluh darah dan syaraf (Hartono 1982).

Gambar 7. Gambaran mikroskopis usus halus normal broiler

Sel goblet melekat dan tersebar secara tidak teratur diantara sel penyerap. Sel goblet akan mengeluarkan mukus yang berfungsi untuk mengusir bakteri patogen yang masuk ke dalam usus. Sel goblet akan semakin banyak jumlahnya di dalam usus halus bagian belakang (Hartono 1982).

Kripta lieberkuhn terdapat di dalam tunika propia mulai dari duodenum sampai anus. Kripta lieberkuhn menghasilkan lendir (mukus) dan beberapa enzim yang memecah peptida, lemak dan hidrat arang (Hartono 1982).

Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi usus halus broiler adalah pakan, jika pakan yang dikonsumsikan memiliki kualitas yang baik dan tidak


(42)

mengandung racun maka usus broiler akan berada dalam kondisi yang cukup baik dan dapat melakukan tugasnya dalam mencerna dan menyerap makanan dengan baik. Namun jika pakan yang diberikan mengandung racun, maka kerusakan pada vili-vili usus akan terjadi. Secara keseluruhan, usus akan selalu merespon setiap pakan yang diberikan.


(43)

MATERI DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB, Laboratorium Histopatologi FKH IPB, Kandang Fakultas Peternakan IPB. Pemeliharaan ayam dilakukan selama 6 minggu yaitu pada tanggal 11 Oktober – 15 November 2006.

Materi

Ternak

Pada penelitian ini digunakan 168 ekor broiler strain Lohman yang dipelihara sejak umur sehari (Day Old Chick) sampai umur 6 minggu dengan rata-rata bobot DOC adalah 41.76 gram. DOC diperoleh dari poultry shop Bogor. Kandang dan Perlengkapan

Kandang yang digunakan adalah kandang litter sebanyak 21 petak berukuran 1 m x 1 m untuk diisi 10 ekor ayam. Setiap petak dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan, plastik ransum, tong, karet, nomor sayap dan ember.

Ransum

Ransum yang digunakan adalah ransum kering komplit dan ransum silase baik yang diberi perlakuan uji tantang Salmonella ataupun tanpa uji tantang. Ransum yang digunakan tersusun atas : jagung, dedak padi, bungkil kedelai, CGM, tepung ikan, minyak kelapa, CaCO3, DCP, L-Lysin, DL-Methionine dan premix. Ransum disusun atas rekomendasi Scott et al. (1982). Adapun susunan dan kandungan nutrisi ransum basal yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Bakteri dan Additive

Dua macam bakteri digunakan dalam penelitian ini, yaitu Lactobacillus plantarum yang diperoleh dari Laboratorium Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong-Bogor dan Salmonella typhimurium tipe ganas diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan


(44)

IPB. Additive yang digunakan adalah antibiotika jenis Bambermicin sebesar 0.02 ppm.

Tabel 2. Susunan dan kandungan zat makanan dalam ransum penelitian

Bahan Makanan Persentase (%)

Jagung 50.0

Dedak padi 12.0

Bungkil kedelai 16.7

CGM 11.0

Tepung ikan 5.5

Minyak kelapa 2.0

DCP 1.0

CaCO3 1.0

L-Lysin 0.3 DL-Methionine 0.2

Premix* 0.3

Total ( % ) 100

Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian :**

Protein kasar ( % ) 24.03

Energi metabolis (kkal/kg)*** 3020.00

Bahan kering (%) 86.53

Serat kasar ( % ) 4.09

Lemak kasar (%) 5.80

Ca ( % ) *** 0.96

P tersedia ( % ) *** 0.63

Lysin(% ) *** 1.20

Methionine ( % ) *** 0.67

* Dalam 1 kg premix mengandung Vit A 4000.000 IU, Vit D3 800.000 IU, Vit E 4.500 mg, Vit K3 450 mg, Vit B1 450 mg, Vit B2 1.350 mg, Vit B6 480 mg, Vit B12 6 mg, Ca-d-P 2.400 mg, As folat 270 mg, As nikotinat 7.200 mg, kolin klorida 28.000 mg, DL-Met 28.000 mg, L-Lys 50.000mg, Fe 8.500 mg, Cu 700 mg, Mg 18.500 mg, Zn 14.000 mg, Co 50 mg, I 70 mg, Se 35 mg, dan antioksidan.

** Hasil analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB (2006) *** Hasil perhitungan


(45)

Vitamin dan Vaksin

Vitamin yang digunakan adalah Vita Stress, sedangkan vaksin yang digunakan adalah vaksin ND l (Newcastle Disease) diberikan pada ayam umur 3 hari yaitu melalui tetes mata, ND ll (Newcastle Disease) diberikan pada ayam umur 21 hari dengan cara suntik, dan vaksin Gumboro digunakan pada saat ayam berumur 10 hari secara oral.

Metode Penelitian

Rancangan Percobaan dan Analisis Data

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan menggunakan 168 ekor broiler yang dibagi dalam 21 petak kemudian diberi salah satu dari 7 macam perlakuan ransum. Perlakuan ransum tersebut yaitu:

S1 = Ransum silase B1 = Ransum basal

L1 = Ransum basal + L. plantarum

S2 = S1 + infeksi Salmonella typhimurium

B2 = B1 + infeksi Salmonella typhimurium

L2 = L1 + infeksi Salmonella typhimurium

A = B1 + antibiotik + infeksi Salmonella typhimurium

Model matematik yang digunakan dari rancangan percobaan ini adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie 1991) :

Keterangan :

Yij = pengaruh percobaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = rataan umum

τi = pengaruh perlakuan ke-i

εij = galat percobaan pada pelakuan ke-i dan ulangan ke-j

Data yang diperoleh dianalisa dengan sidik ragam (Analysis of Variance / ANOVA) dan jika berbeda nyata diuji dengan menggunakan uji Kontras


(46)

Orthogonal. Data untuk tingkat kerusakan pada usus halus diolah dengan menggunakan Kruskal-Wallis.

Pembuatan Ransum Silase Komplit

Ransum silase berkadar air 40% dibuat dari ransum basal dengan menambahkan air dan bakteri Lactobacillus plantarum kemudian disimpan dalam kantong plastik kedap udara berukuran 5 kg, selanjutnya disimpan di dalam tong selama 6 minggu (Gambar 8). Untuk setiap pembuatan 100 kg ransum silase berkadar air 40% dibutuhkan starter bakteri Lactobacillus plantarum sebanyak 2 x 106 CFU/gram yang telah dilarutkan dalam air sebanyak 117.5 liter.

Gambar 8. Proses pembuatan ransum silase komplit

Pada penyimpanan minggu ke-3 dan minggu ke-6, dilakukan pengamatan terhadap kandungan nutrient, energi, pH dan bahan kering ransum yang bertujuan untuk melihat kualitas silase ransum.

Air +Lactobacillus plantarum

Ransum

Ransum basal + LP

Kemas di dalam kantong plastik dan tutup rapat

Simpan dalam tong selama 6 minggu

Silase Ransum Komplit


(47)

Uji Tantang

Infeksi Salmonella dilakukan pada broiler umur 7 hari secara oral. Jenis

Salmonella yang digunakan adalah Salmonella typhimurium ganas dari biakan cair

≈ 1 x 107 CFU untuk tiap ekor ayam. Analisis Kimia dan Histopatologi Kualitas Silase

pH silase diukur dengan menggunakan pH meter (Oakton). Kadar air dan abu masing-masing diukur dengan menggunakan oven dan tanur (AOAC 1984). Penghitungan koloni BAL dilakukan dengan metode Total Plate Count (Capucino 2000).

Jumlah Koloni Salmonella

Uji tantang terhadap Salmonella typhimurium pada ayam dilakukan secara oral pada saat ayam berumur 7 hari. Jumlah koloni Salmonella typhimurium yang diberikan ini sebanyak 108 CFU (Leeuwen et al. 2004). Pengamatan terhadap jumlah koloni Salmonella typhimurium dilakukan pada hari ke 9, 18, dan 35 setelah dilakukan uji tantang, yaitu pada saat broiler berumur 16, 25 dan 31 hari. Setiap pengamatan menggunakan 1 ekor ayam yang diambil secara acak. Sampel yang diperoleh dilakukan prekultur terlebih dahulu dengan menginkubasi sampel (isi usus halus) pada 10 ml Triypticase Soy Broth pada suhu 37oC selama 24 jam. Selanjutnya diambil sampel sebanyak 0.1 ml dan dilakukan kultur pada cawan dengan menggunakan media agar deoxycholate hydrogensulfida lactose (DHL) dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Identifikasi terhadap Salmonella

pada media agar DHL dilakukan dengan uji aglutinasi dengan antiserum terhadap

Salmonella typhimurium.

Pengamatan Histopatologi Usus Halus

Pemeriksaan histologi (HP) saluran pencernaan dilakukan pada saat broiler berumur 9, 27, 36 dan 42 hari (Tabel 8). Setiap pengamatan menggunakan 1 ekor ayam yang diambil secara acak. Protokol pembuatan sediaan HP saluran pencernaan ini mengikuti prosedur Chiou et al. (1999), yaitu memotong setiap bagian usus secara membujur dan dibilas dengan larutan garam untuk


(48)

membersihkan isinya, kelebihan lemak yang terdapat di usus diambil dan kelebihan air pada sampel akan dikeringkan dengan tissue. Sampel usus dengan panjang 5 cm diambil dari bagian usus (illeum). Semua sampel tersebut pertama dibilas dengan larutan 0.4 M KCl dan kemudian disimpan dalan larutan buffer neutral formaline (BNF) 10% (pada pH 7.2 – 7.4). Semua sampel secara bertahap didehidrasi dengan peningkatan konsentrasi ethyl alcohol (50% - 100%). Sampel pertama ini disimpan dalam parafin dan dipotong sepanjang 6 μm dengan menggunakan mikrotom, kemudian dilakukan pewarnaan dengan hematoxylin dan eosin (prosedur teknis proses pewarnaan tercantum pada Lampiran 1).

Gambar 9. Proses pembuatan sediaan preparat histopatologi usus halus BNF 10%

0.4 M KCl Sampel usus 5 cm

Dehidrasi bertahap dengan peningkatan konsentrasi ethyl alcohol (50% - 100%)

Simpan dalam parafin

Potong sepanjang 6 μm

Pewarnaan HE Letakkan dalam

kaca preparat Bilas


(49)

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi :

1. Koloni bakteri asam laktat (BAL) dan pH silase pada minggu ke 0, 3 dan 6.

2. Kualitas silase ransum dan ransum kering yang disimpan pada minggu ke 0 dan 6.

3. Penampilan umum ternak (konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, bobot badan akhir dan konversi ransum).

4. Persentase bobot hati, empedu dan limpa terhadap bobot tubuh. 5. Jumlah koloni Salmonellathypimurium di dalam sekum. 6. Histopatologi usus halus bagian ileum.

Prosedur Pelaksanaan

Persiapan kandang dan ayam dilakukan dua minggu sebelum penelitian dilaksanakan. Jumlah ayam yang digunakan pada penelitian ini adalah sejumlah seratus enam puluh delapan ekor DOC yang dipelihara sejak hari pertama. Ransum penelitian dan air minum diberikan ad libitum. Ransum perlakuan yang terdiri atas S1, B1, L1, S2, B2, L2 dan A diberikan pada broiler umur 7 hari. Tempat pakan dan tempat air minum diletakkan di atas sekam di dalam kandang sekat.

Tiap unit kandang dilengkapi dengan lampu sebesar 100 watt yang berfungsi sebagai penghangat tubuh DOC. Tempat pakan dan tempat air minum digantung sejajar dengan punggung ayam agar pakan dan air minum tidak mudah kotor oleh ekskreta ataupun sekam. Kontrol kebersihan kandang, tempat minum dan pakan dilakukan setiap hari. Selama penelitian dilakukan, suhu dan kelembaban udara pada ruang kandang akan tetap diperhatikan.

Selama periode pemeliharaan broiler dilakukan pengamatan terhadap konsumsi ransum dan bobot badan broiler untuk memperoleh pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Setelah broiler dipelihara selama 4 minggu, dari setiap ulangan diambil dua ekor untuk dipotong dan kemudian dilakukan pengukuran terhadap bobot organ dalam, saluran pencernaan, dan histopatologi saluran pencernaan.


(50)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kualitas Ransum

Silase Ransum

Jumlah koloni bakteri asam laktat (BAL) dan pH silase pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3. Kualitas silase dicapai ketika asam laktat dominan diproduksi dan menunjukkan terjadinya penurunan pH yang cepat, karena semakin cepat pH turun maka akan semakin banyak nutrisi yang dapat dipertahankan (Schroeder 2004).

Tabel 3. Koloni bakteri asam laktat (BAL) dan pH silase pada minggu ke 0, 3 dan 6.

Peubah Minggu ke-0 Minggu ke-3 Minggu ke-6 Koloni BAL (CFU/g)1 2 x 106 6.55 x 108 9.16 x 108

pH 6.75 4.88 4.28

1.Hasil analisa Laboratorium Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),

Cibinong-Bogor (2006).

Jumlah koloni bakteri asam laktat (BAL) dan pH silase pada minggu ke-3 dan ke-6 tidak banyak terjadi perubahan. Namun jika dibandingkan dengan kontrol (minggu ke-0), jumlah koloni BAL silase menjadi meningkat pada minggu ke-3 dan minggu ke-6 masing-masing dari 2 x 106 CFU/g menjadi 6.55 x 108 CFU/g dan 9.16 x 108 CFU/g. Kualitas silase yang dihasilkan pada penelitian ini sangat baik yang ditandai dengan adanya jumlah koloni BAL sebesar 9.16 x 108 CFU/g dengan pH 4.28. Jumlah ini sesuai dengan yang dikatakan Lien et al. (2005) bahwa kandungan Lactobacillus plantarum sebesar 1.05 x 108 CFU/g silase dapat menghasilkan kualitas silase yang sangat baik karena dapat menurunkan pH dari 7 menjadi 4.05 pada saat ensilase umur 3 hari.

Semakin banyak jumlah koloni BAL yang dihasilkan maka silase tersebut akan semakin stabil yang ditandai dengan penurunan pH menjadi asam. Mekanisme kerja BAL adalah sebagai berikut : menekan kemampuan hidup mikroorganisme patogen karena mampu memproduksi komponen antibakteria


(51)

seperti hidroksi peroksida dan asam-asam organik seperti asam laktat (Lopez 2000). Asam laktat yang dihasilkan tersebut berperan dalam penurunan pH.

Dalam pembuatan silase, peningkatan jumlah koloni BAL akan diikuti dengan penurunan pH seiring dengan fase-fase yang terjadi selama ensilase. Penurunan pH silase di minggu ke-3 (dari 6.75 menjadi 4.88) pada penelitian ini menunjukkan bahwa penyimpanan pada minggu ke-3 berada dalam fase ke-2 fermentasi. Di dalam fase ini akan terbentuk produksi asam asetat, asam laktat dan etanol oleh bakteri asam asetat dan asam laktat dengan pH yang dicapai adalah 5 (Schroeder 2004). Kondisi stabil pembuatan silase pada penelitian ini dicapai setelah penyimpanan 6 minggu dengan pH sebesar 4.28. Minggu ke-6 ini berada pada fase 4 yaitu merupakan fase stabil penyimpanan yang didominasi oleh BAL dengan pH 3.5-4.5 dan dapat disimpan dalam waktu lama jika disimpan dalam silo kedap udara. Namun jika terdapat udara yang masuk ke dalam silo maka jamur dapat tumbuh dengan baik dan hal tersebut dapat merusak kualitas silase (Kunkle et al. 2000).

Kualitas Silase Ransum dan Ransum Kering selama Penyimpanan

Kualitas silase ransum dan ransum kering setelah disimpan selama 6 minggu disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Kualitas silase ransum dan ransum kering yang disimpan pada minggu ke 0 dan 6

Minggu ke-0 Minggu ke-6

Kandungan zat

makanan* Silase Ransum

kering

Silase Ransum kering

Bahan kering (%) 60.00 86.53 59.38 83.62

Bahan organik (%BK) 86.85 80.52 86.89 75.73

Protein kasar (%BK) 24.12 24.03 24.08 22.19

* Hasil analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB (2006).

Penurunan bahan kering selama penyimpanan telah terjadi pada kedua jenis ransum yang digunakan. Bahan kering silase ransum telah mengalami penurunan sebesar 1.03% selama proses penyimpanan. Penurunan bahan kering pada silase ransum menyebabkan adanya peningkatan kadar air. Peningkatan


(52)

kadar air disebabkan oleh adanya kegiatan respirasi pada fase aerob yang berlangsung selama proses awal ensilase. Sapienza (1993) melaporkan bahwa secara garis besar pembuatan silase terdiri dari 4 fase, yaitu : 1. fase aerob, 2. fase fermentasi, 3. fase stabil dan 4. fase pengeluaran untuk diberikan pada ternak. Terjadinya peningkatan bahan organik silase pada minggu ke-6 sampai 0.04% diduga karena terbentuknya asam laktat dan asam organik serta produk sekunder lainnya selama ensilase berlangsung. Penurunan protein silase ransum sebesar 0.16% masih dapat ditolerir. Bahan kering, bahan organik dan protein yang terkandung dalam ransum kering yang disimpan telah mengalami penurunan pada minggu ke-6 masing-masing sebesar 3.36%, 5.95% dan 7.65%. Penurunan ketiga kandungan zat makanan pada ransum kering tersebut memudahkan terjadinya penurunan kualitas pakan.

Jika diamati secara keseluruhan, maka kualitas silase ransum lebih baik jika dibandingkan dengan ransum kering selama penyimpanan 6 minggu, karena penyusutan zat makanan pada silase ransum lebih kecil persentasenya jika dibandingkan dengan penyusutan zat makanan yang terjadi pada ransum kering.

Performan Broiler yang Diberi Ransum Perlakuan dan Ditantang Salmonella typhimurium

Performan broiler selama 6 minggu pemeliharaan yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Perlakuan tidak nyata mempengaruhi tingkat konsumsi, namun sangat nyata (P<0.01) mempengaruhi pertambahan bobot badan (PBB), bobot badan akhir (BBA) dan konversi ransum broiler yang dipelihara selama 6 minggu.


(53)

Tabel 5. Rata-rata konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB), bobot badan akhir (BBA) dan konversi ransum broiler 6 minggu

Peubah Perlakuan Konsumsi

(g/ekor) PBB (g/ekor) BBA (g/ekor) Konversi Ransum S11) 2090.74 ± 55.40 1060.46 ± 3.52a 1356.3 ± 108.5a2) 1.97 ± 0.08a3)

B1 2165.60 ± 60.15 1114.26 ± 10.06a 1452.3 ± 99.3a 1.95 ± 0.08a L1 2041.70 ± 46.80 1001.01 ± 6.14b 1211.0 ± 97.2b 2.04 ± 0.12b S2 2119.11 ± 23.61 900.69 ± 23.00d 1109.5 ± 13.0b 2.35 ± 0.02c B2 2182.00 ± 116.96 1000.23 ± 10.67b 1444.7 ± 30.3a 2.18 ± 0.05b L2 2076.19 ± 175.50 972.24 ± 2.26c 1315.4 ±105.4a 2.14 ± 0.20b A 2166.46 ± 100.45 961.87 ± 11.09c 1279.6 ± 93.7a 2.25 ± 0.06b

1. Keterangan : S1 (Ransum silase), B1 (Ransum basal), L1 (Ransum basal + L.

Plantarum), S2 (S1 + infeksi Salmonella typhi.), B2 (B1 + infeksi Salmonella typhi.), L2 (L1 + infeksi Salmonella typhi.), A (B1 +

antibiotik + infeksi Salmonella typhi.)

2. Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)

3. Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.01)

Konsumsi

Perlakuan tidak nyata mempengaruhi konsumsi broiler yang dipelihara selama 6 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa infeksi Salmonella tidak mempengaruhi jumlah konsumsi, meskipun broiler telah terinfeksi Salmonella

yang ditandai dengan adanya Pullorum (berak kapur) yaitu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Shivaprasad (1997) bahwa broiler yang terserang bakteri Salmonella akan mengalami pullorum dan akan menunjukkan peradangan pada hati, paru-paru dan ginjal.

Konsumsi broiler yang dipelihara dalam penelitian ini berkisar antara 2041.70–2182.00 gram/ekor. Tidak terdapat perbedaan konsumsi yang nyata antara broiler yang diinfeksi Salmonella ataupun yang tidak diinfeksi. Samanya tingkat konsumsi pada broiler yang diinfeksi Salmonella menyebabkan ketersediaan pakan broiler menjadi baik yang selanjutnya menyebabkan daya tahan tubuh broiler menjadi kuat, sehingga adanya infeksi bakteri patogen tidak berpengaruh pada kondisi ayam. Tingkat konsumsi yang baik diduga telah


(54)

menyebabkan kondisi dimana laju kecepatan untuk memperbaiki sel-sel yang rusak menjadi lebih cepat dibandingkan dengan peluruhan sel-sel akibat

Salmonella. Selain itu broiler diduga telah terinfeksi oleh bakteri Salmonella

sejak broiler berada di kawasan penetasan, yang menyebabkan tingkat resistensi broiler terhadap bakteri patogen sangat besar.

Pertambahan Bobot Badan (PBB)

Pertambahan bobot badan (PBB) pada perlakuan S2 nyata (P<0.01) lebih rendah dibanding dengan perlakuan S1, B1, L1, B2, L2 dan A. Grafik pergerakan PBB dari minggu pertama sampai minggu ke enam disajikan pada Gambar 10.

Perlakuan S1 dan B1 memiliki PBB yang sama, hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya pemberian ransum dalam bentuk silase tidak memberikan pengaruh negatif terhadap performan broiler.

Perlakuan S2 memiliki rata-rata PPB yang paling rendah yaitu 900.69 g/ekor, namun peningkatan PBB jelas terlihat pada perlakuan S2 (ayam diberi silase ransum dan diinfeksi Salmonella) sejak minggu ke-4. Bahan aktif yang dihasilkan dalam silase diduga mampu merespon kehadiran Salmonella, sehingga bahan aktif tersebut yang seharusnya dipakai untuk memacu pertumbuhan telah digunakan untuk menetralisir keberadaan racun (Salmonella) dalam tubuh, fenomena ini terjadi sejak awal pemeliharaan sampai minggu ke-4 dan pada saat memasuki minggu ke-5 pemeliharaan, bahan aktif tersebut mulai dapat digunakan sebagai pemicu pertumbuhan. Sebaliknya yang terjadi pada perlakuan L1, B2, L2 dan A, penurunan bobot badan mulai terlihat sejak minggu ke-5. Hal ini mengindikasikan bahwa perlakuan L1, B2, L2 dan A tidak mampu menetralisir keberdaan Salmonella sehingga mengakibatkan penurunan bobot badan.

Pertambahan bobot badan terlihat lebih rendah pada kelompok broiler yang diinfeksi Salmonella typhimurium (infeksi subklinis, dengan dosis sebesar 108 CFU/ml) mulai terjadi pada umur 4 minggu dan berlanjut sampai umur 5, 6 dan 7 minggu (Winarsih 2005).


(55)

0

50

100

150

200

250

300

350

400

450

1

2

3

4

5

6

Minggu ke

-P

BB (

g

/e

k

o

r

)

S1

B 1

L1

S2

B 2

L2

A

Keterangan : S1 (Ransum silase), B1 (Ransum basal), L1 (Ransum basal + L. Plantarum), S2 (S1 + infeksi Salmonella typhi.), B2 (B1 + infeksi Salmonella typhi.), L2 (L1 + infeksi Salmonella typhi.), A (B1 + antibiotik+infeksi

Salmonella typhi.)


(56)

Bobot Badan Akhir (BBA)

Bobot badan akhir yang dihasilkan dalam penelitian ini berkisar antara 1109.50–1452.30 gram/ekor. Bobot badan akhir yang dihasilkan dalam setiap pemeliharaan broiler, selain dipengaruhi oleh konsumsi juga dipengaruhi oleh sirkulasi udara dan suhu di sekitar kawasan pemeliharaan serta kepadatan kandang.

Bobot badan akhir pada perlakuan S1, B1, B2, L2 dan A nyata (P<0.05) lebih tinggi dibanding dengan perlakuan L1 dan S2. Bobot badan akhir yang sama pada perlakuan S1 dan B1 mengindikasikan bahwa ransum silase dapat diterima oleh ayam tanpa mempengaruhi bobot badan yang dihasilkan. Selain itu, ransum silase memiliki beberapa kelebihan yaitu : ransum dapat disimpan lebih lama, persiapan lebih mudah karena bahan baku yang akan dijadikan silase tidak harus melewati masa pengeringan sehingga biaya pembuatan ransum juga dapat ditekan. Bobot badan akhir perlakuan silase yang diinfeksi Salmonella (S2) nyata (P<0.05) lebih rendah dibanding perlakuan B2, L2 dan A. Salmonella diduga menjadi salah satu penyebab, nutrisi dalam pakan silase yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan bobot badan terlebih dahulu digunakan untuk merespon kehadiran Salmonella dengan cara menetralisir keberadaan Salmonella

dalam usus halus. Namun kondisi tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut, mengingat pada perlakuan S2 tidak ditemukan jumlah koloni Salmonella di dalam sekum ayam pada umur 31 hari (Tabel 7). Jumlah koloni Salmonella banyak ditemukan pada perlakuan L2, B2 dan A pada saat ayam berumur 31 hari.

Konversi Ransum

Perlakuan S1, B1, L1, B2, L2 dan A memiliki konversi ransum sangat nyata (P<0.01) lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan S2. Rata-rata konversi ransum tertinggi adalah perlakuan S2 yaitu sebesar 2.35. Salmonella

diduga menjadi salah satu penyebab, keberadaan bakteri ini cukup mengganggu ekosistem saluran pencernaan broiler yang pada akhirnya dapat menghambat proses pecernaan dan penyerapan zat makanan oleh broiler.


(57)

1.97

1.95

2.04

2.35

2.18

2.14

2.25

0,00

0,50

1,00

1,50

2,00

2,50

K

o

nve

rs

i

p

ak

an

S1

B1

L1

S2

B2

L2

A

Perlakuan

S1

B1

L1

S2

B2

L2

A

Tidak terjadi perbedaan konversi ransum antara perlakuan S1 (broiler yang diberi pakan ransum silase) dengan perlakuan B1 (broiler yang diberi pakan ransum basal). Hal ini menunjukkan bahwa ransum silase efisien digunakan sebagai pakan tanpa memberikan pengaruh negatif terhadap tingkat konversi ransum broiler.

Keterangan : S1 (Ransum silase), B1 (Ransum basal), L1 (Ransum basal + L.

Plantarum), S2 (S1 + infeksi Salmonella typhi.), B2 (B1 +

infeksi Salmonella typhi.), L2 (L1 + infeksi Salmonella typhi.),

A (B1 + antibiotik + infeksi Salmonella typhi.)

Gambar 11. Konversi ransum broiler yang dipelihara selama 6 minggu Dari Gambar 11 dapat dilihat bahwa konversi ransum S2 lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal tersebut terjadi karena bahan aktif yang dihasilkan dalam silase diduga dipakai untuk merespon kehadiran

Salmonella, sehingga bahan aktif yang seharusnya dipakai untuk memacu pertumbuhan telah digunakan untuk menetralisir keberadaan racun (Salmonella) dalam tubuh, broiler yang mendapat perlakuan silase dan diinfeksi Salmonella

(S2) membutuhkan asupan pakan yang lebih besar tanpa memberikan peningkatan yang nyata terhadap pertambahan bobot badan, yang pada akhirnya menghasilkan


(58)

konversi ransum lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan lain. Namun jika dikaji lebih lanjut mengenai konversi ransum broiler pada 3 minggu pertama pemeliharaan (Tabel 6), maka terlihat adanya perbedaan konversi ransum broiler pada minggu ke 0-3 dibandingkan dengan konversi ransum broiler pada minggu ke 4-6.

Tabel 6. Rata-rata konversi ransum broiler umur 0-3 minggu dan 4 – 6 minggu Konversi ransum

Perlakuan

0-3 minggu 4-6 minggu S11) 1.45 + 1.10 1.98 + 0.31a2)

B1 1.16 + 0.27 1.99 + 0.35 a

L1 1.44 + 0.49 2.11 + 0.09 b

S2 1.62 + 1.26 2.04 + 0.38 a

B2 1.32 + 0.26 2.33 + 0.11 b

L2 1.36 + 0.34 2.28 + 0.42 b

A 1.42 + 0.36 2.52 + 0.21 b

1. Keterangan : S1 (Ransum silase), B1 (Ransum basal), L1 (Ransum basal + L.

Plantarum), S2 (S1 + infeksi Salmonella typhi.), B2 (B1 + infeksi Salmonella typhi.), L2 (L1 + infeksi Salmonella typhi.), A (B1 +

antibiotik + infeksi Salmonella typhi.)

2. Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)

Pada Tabel 6 terlihat bahwa konversi ransum untuk perlakuan S2 pada minggu ke 4-6 tidak berbeda nyata dengan perlakuan S1 dan B1. Fenomena ini sesuai dengan yang terjadi pada Gambar 10 yang menggambarkan bahwa PBB pada minggu ke 4-6 untuk perlakuan S2 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan PBB pada minggu ke 0-3.

Tabel 6 menunjukkan konversi ransum broiler tertinggi yang dipelihara selama 3 minggu adalah perlakuan S2 yaitu sebesar 1.62. Hal ini sesuai dengan fenomena yang terjadi pada Gambar 10 yang menunjukkan bahwa perlakuan S2 pada minggu ke 0-3 juga memiliki PBB yang sangat rendah. Fenomena tersebut tidak selamanya terjadi, karena pada saat memasuki pemeliharaan minggu ke 4-6, konversi ransum pada perlakuan S2 menjadi menurun dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan S1 dan B1. Hal ini menunjukkan bahwa silase lebih efisien penggunaannya pada saat memasuki pemeliharaan minggu ke 4, karena bahan aktif dalam silase pada perlakuan S2 telah dapat digunakan untuk memacu pertambahan bobot badan broiler, sehingga rata-rata konversi ransum yang


(1)

Lampiran 1.

Cara Pewarnaan Haematoxyllin dan Eosin

1. Xylol I 2 menit

2. Xylol II 2 menit

3. Alkohol Absolut 2 menit

4. Alkohol 95 % 1 menit

5. Alkohol 80 % 1 menit

6. Cuci dalam air kran 1 menit 7. Mayer’s Haematoxyllin 8 menit 8. Cuci dalam air kran 30 detik 9. Lithium Carbonat 15 – 30 detik 10.Cuci dalam air kran 2 menit 11.Eosin 2 – 3 menit 12.Cuci dalam air kran 30 – 60 detik 13.Alkohol 95 % 10 celupan 14.Alkohol Absolut I 10 celupan 15.Alkohol Absolut II 2 menit

16.Xylol I 1 menit

17.Xylol II 2 menit

18.Tutup dengan cover glass.


(2)

Lampiran 2. Analisis ragam (ANOVA) konsumsi broiler umur 6 minggu.

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 50963.35 8493.89 0.93 2.85 4.46 tn Eror 14 127435.48 9102.53

Total 20 178398.82

Lampiran 3. Analisis ragam (ANOVA) pertambahan bobot badan broiler umur 6 minggu.

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 4183.34 697.22 5.29 2.85 4.46 **

Eror 14 1844.68 131.76

Total 20 6028.02

Uji Kontras Ortogonal

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 75666.94 12611.16 6.18 2.85 4.46 ** 1235 vs 467 1 87397.82 87397.82 42.81 4.60 8.86 **

4 vs 67 1 115194.83 115194.83 56.42 4.60 8.86 ** 6 vs 7 1 69.08 69.08 0.03 4.60 8.86 tn 12 vs 35 1 9674.09 9674.09 4.74 4.60 8.86 * 1 vs 2 1 1860.74 1860.74 0.91 4.60 8.86 tn 3 vs 5 1 0.39 0.39 0.00 4.60 8.86 tn Eror 14 28582.65 2041.62

Total 20 104249.59

Lampiran 4. Analisis ragam (ANOVA) bobot badan akhir broiler umur 6 minggu. Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 274530.987 45755.16 6.15 2.85 4.46 ** Eror 14 104102.96 7435.93

Total 20 378633.95

Uji Kontras Ortogonal

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 274530.99 45755.16 6.15 2.85 4.46 ** 125 vs3467 1 78647.63 78647.63 10.58 4.60 8,86 **

1 vs 25 1 7286.92 7286.92 0.98 4.60 8.86 tn 2 vs 5 1 36.70 36.70 0.00 4.60 8.86 tn 34 vs 67 1 24230.70 24230.70 3.26 4.60 8.86 tn 3 vs 4 1 6630.27 6630.27 0.89 4.60 8.86 tn 6 vs 7 1 823.91 823.91 0.11 4.60 8.86 tn Eror 14 104102.96 7435.93


(3)

Lampiran 5. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur 6 minggu. Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 0.349 0.06 5.38 2.85 4.46 **

Eror 14 0.152 0.01

Total 20 0.501

Uji Kontras Ortogonal

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 0.349 0.06 5.38 2.85 4.46 ** 124 vs3567 1 0.233 0.23 21.54 4.60 8.86 **

12 vs 4 1 0.131 0.13 12.08 4.60 8.86 ** 1 vs 2 1 0.0005 0.00 0.04 4.60 8.86 tn 356 vs 7 1 0.017 0.02 1.60 4.60 8.86 tn 3 vs 56 1 0.012 0.01 1.09 4.60 8.86 tn 5 vs 6 1 0.001 0.006 0.12 4.60 8.86 tn 4 vs 7 1 0.303 0.30 27.97 4.60 8.86 ** 4 vs 6 1 0.208 0.21 19.18 4.60 8.86 **

Eror 14 0.152 0.01

Total 20 0.501

Lampiran 6. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur 0-3 minggu.

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 0.347 0.057 0.117 2.85 4.46 tn

Eror 14 6.886 0.491

Total 20 7.234

Lampiran 7. Analisis ragam (ANOVA) konversi pakan broiler umur 4-6 minggu. Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 1.660 0.276 3.646 2.85 4.46 *

Eror 14 1.062 0.075


(4)

Uji Kontras Ortogonal

Sumber keragaman db JK KT Fhit F0.05 F0.01

Perlakuan 6 1.660 0.276 3.646 2.85 4.46 * 124 vs 3567 1 0.246 0.246 3.247 4.60 8.86 *

12 vs 4 1 0.0005 0.0005 0.007 4.60 8.86 tn 1 vs 2 1 0.0002 0.0002 0.002 4.60 8.86 tn 36 vs 57 1 0.0691 0.0691 0.910 4.60 8.86 tn 3 vs 6 1 0.0199 0.0199 0.263 4.60 8.86 tn 5 vs 7 1 0.0222 0.0222 0.293 4.60 8.86

Eror 14 1.062 0.075

Total 20 2.723

Lampiran 8. Data histopatologi usus halus bagian ileum.

Kruskal-Wallis Test: H1 versus perlakuan Kruskal-Wallis Test on H1

Ave

perlakuan N Median Rank Z tn 1 1 0.000000000 4.0 0.00

2 1 0.000000000 4.0 0.00 3 1 0.000000000 4.0 0.00 4 1 0.000000000 4.0 0.00 5 1 0.000000000 4.0 0.00 6 1 0.000000000 4.0 0.00 7 1 0.000000000 4.0 0.00 Overall 7 4.0

H = 0.00 DF = 6 P = 1.000

Kruskal-Wallis Test: H3 versus perlakuan Kruskal-Wallis Test on H3

Ave

perlakuan N Median Rank Z ** 1 1 0.000000000 2.0 -1.00

2 1 1.000000000 5.0 0.50 3 1 0.000000000 2.0 -1.00 4 1 0.000000000 2.0 -1.00 5 1 2.000000000 7.0 1.50 6 1 1.000000000 5.0 0.50 7 1 1.000000000 5.0 0.50 Overall 7 4.0

H = 5.14 DF = 6 P = 0.526

H = 6.00 DF = 6 P = 0.423 (adjusted for ties)


(5)

Kruskal-Wallis Test: H4 versus perlakuan Kruskal-Wallis Test on H4

Ave

perlakuan N Median Rank Z ** 1 1 0.000000000 1.5 -1.25

2 1 1.000000000 4.0 0.00 3 1 1.000000000 4.0 0.00 4 1 0.000000000 1.5 -1.25 5 1 2.000000000 6.5 1.25 6 1 1.000000000 4.0 0.00 7 1 2.000000000 6.5 1.25 Overall 7 4.0

H = 5.36 DF = 6 P = 0.499

H = 6.00 DF = 6 P = 0.423 (adjusted for ties)

Kruskal-Wallis Test: H5 versus perlakuan Kruskal-Wallis Test on H5

Ave

perlakuan N Median Rank Z ** 1 1 0.000000000 1.0 -1.50

2 1 2.000000000 5.5 0.75 3 1 1.000000000 2.5 -0.75 4 1 1.000000000 2.5 -0.75 5 1 2.000000000 5.5 0.75 6 1 2.000000000 5.5 0.75 7 1 2.000000000 5.5 0.75 Overall 7 4.0

H = 4.82 DF = 6 P = 0.567


(6)

SIMPULAN

1. Silase ransum komplit efektif dalam mempertahankan kondisi usus halus broiler dan dapat berperan sebagai immunomodulator dalam merespon kehadiran bakteri patogen Salmonella typhimurium di dalam saluran pencernaan.

2. Morfopatologi jaringan usus halus broiler pada perlakuan ransum silase menunjukkan kondisi sangat baik, yang ditandai dengan adanya peningkatan jumlah sel goblet dan tidak ditemui adanya sarang radang baik pada broiler yang diinfeksi Salmonella typhimurium ataupun tanpa infeksi Salmonella typhimurium.

3. Silase ransum komplit dapat digunakan sebagai pakan alternatif ransum komersial dan juga dapat berperan sebagai alternatif antibiotik tanpa mempengaruhi performan broiler.

SARAN

1. Perlu dilakukan kajian ulang mengenai tingkat konversi ransum pada perlakuan S2 yaitu broiler yang diinfeksi Salmonella typhimurium dan diberi pakan silase.

2. Pengkajian lebih lanjut mengenai zat aktif yang terkandung di dalam silase yang berperan dalam penghambatan Salmonella typhimurium di dalam saluran pencernaan.