TEOLOGI KRISTEN TENTANG KERJA VOCATION

Jurnal Transformasi 9/1 (Juni 2013)

TEOLOGI KRISTEN TENTANG KERJA ( VOCATION)
PADA MASA
PRA-REFORMASI DAN REFORMASI
Sukamto

Abstrak
Kerja merupakan mandat suci yang diberikan Allah kepada manusia.
Pada perkembangannya maknanya mengalami distorsi. Agustinus
dipengaruhi oleh Plato yang memberi penilaian "contemplative life"
(devita contemplativa) lebih tinggi dibandingkan “active life” (de vita
activa). Pandangan ini kemudian sangat mempengaruhi corak pikir
Abad Pertengahan sehingga memunculkan perbedaan yang mencolok
antara sacred calling dan secular work. Perbedaan ini kemudian
direvisi oleh para Reformator, tidak ada secular work semuanya
adalah sacred calling karena tujuannya adalah untuk kemuliaan
Allah.
Kata kunci: Kerja, Vocation, Abad Pertengahan, Reformasi.

I

stilah kerja atau pekerjaan dalam bahasa Inggris bisa digunakan
beberapa kata untuk menyebutnya work, job, employment,
working, occupation, vocation. Dari beberapa kata tersebut kata
vocation mempunyai arti yang menarik. Kata vocation yang dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan pekerjaan berasal dari bahasa Latin
vocare jika diterjemahkan maknanya adalah memanggil. Artinya
sebenarnya dalam pekerjaan terdapat makna panggilan karena bekerja

74

merupakan panggilan. Siapa yang memanggil? Allah sendiri Sang
Pencipta manusia.1
Panggilan untuk bekerja, mengusahakan tanah diberikan kepada
manusia pada manusia diciptakan, “TUHAN Allah mengambil manusia
itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan
dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Namun panggilan yang mulia
ini dalam perkembangan sejarahnya telah dimaknai dengan berbagai
cara dari yang negatif sampai yang positif. Tulisan ini membahas
perkembangan teologi kerja (vocation) dari masa pra-reformasi dan
reformasi.

1. Teologi Kerja Masa Pra-Reformasi
Pandangan pra-reformasi tentang kerja, vocation, sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani khususnya tentang materi. Pengaruh
ini bisa dirunut sejak awal perkembangan kekristenan. Kekristenan
berkembang dalam tiga konteks besar yaitu Yahudi, Roma, dan
Yunani. Konteks agama banyak dipengaruhi oleh Yahudi, politik,
sosial ekonomi banyak dipengaruhi oleh Roma, namun secara
pemikiran banyak dipengaruhi oleh Yunani (Greek). Bisa dikatakan
bahwa Greek thinking controlled the minds of men.2Pemikiran
Yunani yang sangat berpengaruh bagi konsep pra-reformasi tentang
kerja adalah filsafat Plato. Plato mengajarkan bahwa dunia dibagi
menjadi dua yaitu: (1) dunia ideas yang tidak kelihatan (unseen world)
apa yang dimaksud ideas adalah spiritual realities that exist in an
unseen world. (2) dunia materi yang merupakan source of all evil —of
pain, disappointment, imperfection, sorrow, and death.3Begitu juga
dengan manusia terdiri dari dua bagian yaitu jiwa/roh dan tubuh,
dalam pandangan Plato jiwa/roh lebih tinggi kedudukannya
dibandingkan dengan tubuh. Karena segala sesuatu yang berbau materi
1 R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2008): 27.
2 Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, (Grand Rapids, Michigan: Wm.
B. Eerdmans Publishing Co., 1976): 7.
3

Harry R. Boer, A Short History of the Early Church,9.

75

(dunia bawah) disebut sebagai sumber segala kejahatan maka nilainya
dipandang lebih rendah, inferior dibandingkan dengan dunia atas.
Untuk itu tujuan hidup manusia harus difokuskan ke atas jangan ke
bawah. Seperti diungkapkan oleh Kristiyanto, “... dunia atas
merupakan kerajaan terang yang berasal dari Allah yang melawan
kerajaan gelap yang berasal dari materi”.4
Pandangan seperti tersebut di atas menghasilkan sebuah paham
yang disebut dengan dualisme. Paham dualisme adalah sebuah paham
yang menekankan tentang eksistensi dua alam yang independen,
terpisah, tidak dapat direduksi bahkan alam atas lebih baik dari pada
alam bawah. Plotinus seorang filsuf yang pikirannya sangat mempengaruhi Agustinus dan kekristenan Barat menggambarkan
perbedaan besar antara spiritualitas dan materialisme sebagai berikut:
"Kesenangan yang dicari bagi kehidupan kaum spirituaris
melarang segala bentuk kenikmatan tubuh yang tidak bermoral atau
pemuasan badani... Biarkan manusia yang terikat dengan bumi ini (sic)
menampakkan kegagahannya, kekuatannya, dan kekayaannya, serta
condong kepada dunia ini sehingga dapat menguasai seluruh umat
manusia: tetapi tidak boleh ada yang merasa iri terhadapnya, hanya
orang bodoh yang terpikat olehnya.” Kaum spiritualis, sebaliknya,
akan menanggalkan "tirani tubuh... dengan mengabaikan seluruh
klaimnya”.5
Begitu juga dengan kerja, karena kerja masuk dunia bawah maka
dalam pandangan Yunani secara tepat dapat disimpulkan seperti dalam
ungkapan Adriano Tilgher “work was a curse and nothing else.”6
Bapa-bapa gereja mula-mula banyak dipengaruhi oleh pemahaman
seperti ini sehingga mereka menerapkan pendekatan “atas bawah”

4 Eddy Kristiyanto, Selilit Sang Nabi: Bisik-bisik tentang Aliran Sesat, (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), 38.
5

R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, 57.

Lee Hardy, The Fabric of this World: Inquiries into Calling, Career Choice, and the
Design of Human Work, (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co.,

6

1990), 7.

76

dalam kehidupan. 7 Jabatan-jabatan atau pekerjaan-pekerjaan di dalam
dunia yang dianggap mempunyai nilai tertinggi adalah yang berkaitan
dengan dunia spiritualitas dan cenderung meremehkan dunia materi.
Para biarawan, biarawati, imam dan para pastor merupakan pekerjaanpekerjaan yang mulia, mereka menolak melakukan pekerjaan biasa di
dunia karena dinilai lebih rendah. Eusibius yang hidup sekitar 315 M
mewakili pandangan seperti tersebut di atas:
Dua cara hidup yang telah diberikan oleh hukum Kristus kepada
Gereja-Nya. Satu adalah mengatasi alam, dan melampaui kehidupan
biasa manusia hidup; itu berarti dilarang menikah, mempunyai anak,
menyimpan harta benda atau menjadi kaya, melainkan benar-benar
terpisah secara total dari kehidupan biasa manusia pada umumnya,
menyerahkan diri untuk melayani Allah sendiri dalam kekayaan kasih
surgawi!... Oleh karena itu, inilah bentuk sempurna kehidupan
Kristen. Dan yang lain, lebih rendah hati, lebih manusiawi, mengizinkan manusia bersatu dalam perkawinan dan mempunyai anak,
bertanggung jawab kepada pemerintah, memberi perintah kepada
tentara untuk berperang demi kebenaran; kepentingan sekuler setara
dengan kepentingan agama; bagi orang-orang seperti ini waktu retret
dan bekerja dipisahkan dari waktu untuk mendengarkan hal-hal yang
suci. Mereka termasuk dalam golongan orang-orang saleh tingkat
kedua... (Stevens 2008:57).
Orang-orang yang bekerja di luar monasteri disebut sebagai kaum
awam (laity). Istilah laity tidak terdapat dalam Alkitab baik dalam
terjemahan tua Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang disebut
Septuaginta. Istilah ini digunakan dalam dunia Roma-Yunani untuk
menunjuk pada hal-hal profane (materi) yang dimiliki orang-orang
desa di Mesir.8

7

R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, 56.

Hans-Ruedi Weber, On Being Christian in the World: Reflections on the ecumenical
discussion about the laity, Le Cénacle, Geneva, 7-10 May 1997.
http://www.oikoumene.org/en/resources/documents/wcc-programmes/education-andecumenical-formation/ecumenical-lay-formation/on-being-christian-in-the-world.
Diakses 30 Mei 2013.

8

77

In the course of church history the laity were usually seen as
Christians who are neither clergy nor monks and nuns. Such a
distinction can be helpful because each of these groups has a
differently oriented vocation within the life and mission of Christ's
company. For the clergy this is signified by a special ordination, for
members of religious orders by the monastic vows. This paper does not
deal with the function and status of set apart minister and religious
orders but with those who are usually only negatively referred to as
the non-clergy.9
Agustinus bapa gereja yang hidup antara tahun 354-430 M penulis
buku De civitate dei pandangan dasarnya tentang dunia dipengaruhi
oleh pemahamannya tentang hubungan Kota Allah dengan Kota
Manusia. Menurut Agustinus kehidupan dibagi dan dibedakan ke
dalam dua bagian (Two Lives) yaitu “active life” (de vita activa) dengan
"contemplative life" (devita contemplativa).10 Dalam The City of God
Book VIII, 4 dituliskan,

And, as as the study of wisdom consists in action and
contemplation, so that one part of it may be called active, and the
other contemplativethe active part having reference to the conduct
of life, that is, to the regulation of morals, and the contemplative part
to the investigation into the causes of nature and into pure truth ...11
Hal yang sama diungkapkan dalam Tractatus in evangelium
Iohannis cxxiv.5 yang dikutip oleh Butler, dua dunia dikontraskan
secara tajam:

Hans-Ruedi Weber, On Being Christian in the World: Reflections on the ecumenical
discussion about the laity, Le Cénacle, Geneva, 7-10 May 1997.
http://www.oikoumene.org/en/resources/documents/wcc-programmes/education-andecumenical-formation/ecumenical-lay-formation/on-being-christian-in-the-world.
Diakses 30 Mei 2013.

9

10 Dom Cuthbert Butler, Western Mysticism: The Teaching of Ss. Augustine, Gregory
and Bernard on Contemplation and contemplative Life, (London: E. P. Dutton & Co,

Inc., 1925), 157.
11

Saint Augustine, The City of God, (New York: The Modern Library, 1950), 247.

78

The Church knows two lives divinely preached and commended
unto her: whereof the one is in faith, the other in ‘specie’; the one is in
the time of pilgrimage, the other in eternity of abiding; the one is in
labour, the other in rest; the one is on the way, the other in the [true]
country; the one is in the work of action, the other in the reward of
contemplation; the one turns away from evil and does good, the other
has no evil from which to turn away, and has great good to enjoy; the
one wars with the foe, the other reigns without a foe; the one is strong
in things adverse, the other has no sense of aught adverse; the one
bridles the lusts of the flesh, the other is given up to the joys of the
spirit; the one is anxious with the care of getting the victory, the other
in the peace of victory is without care; the one is helped in
temptations, the other, without any temptation, rejoices in its Helper
Himself; the one assists the needy, the other is where it finds none
needy; the one pardons the sins of others that its own sins may be
pardoned, the other suffers nothingthat it can pardon, nor does
anything that calls for pardon; the one is scourged with evil that it be
not lifted up with good things, the other through so great fullness of
grace is without any evil, so that without temptation of pride it cleaves
to the Supreme Good; the one discerns between good and evil, the
other sees things which are only good: therefore the one is good, but
still in miseries; the other is better and in beatitude (Tract. In Ioan.
Cxxiv. 5).12
Kemudian Agustinus dengan tidak ragu-ragu menarik kesimpulan
superioritas "contemplative life" (devita contemplativa) atas “active
life” (de vita activa) dengan berdasarkan penafsiran pada kisah Marta
dan Maria. Marta memilih bagian yang baik tetapi Maria memilih
yang lebih baik.

Martha chose a good part, but Mary the better. What Martha
chose passes away. She ministered to the hungry, the thirsty, the
homeless: but all these pass away, there will be when none will
hunger nor thirst. Therefore will her care be taken from her, ‘Mary
Dom Cuthbert Butler, Western Mysticism: The Teaching of Ss. Augustine, Gregory
and Bernard on Contemplation and contemplative Life, 157-158.

12

79

hath chosen the better part (meliorem), which shall not be taken away
from her’. She hath chosen to contemplate, to live by the Word (cbdx,
17).13
Agustinus memang memuji pekerjaan petani, tukang kayu, dan
juga pedagang namun dia secara yakin bepikir bahwa: “ Christians will

not refuse the discipline of this temporal life. However, he tended to
view this life as only a school for life eternal.”14 Demikian juga
denganGregorius Agung yang berpendapat sama dengan Agustinus
bahwa,

The contemplative life is greater in merit than the active, which
labours in the exercise of present work, whilst the other already tastes
with inward savour the rest that is to come. Although the active life is
good, the contemplative is better (Horn, in Ezech. i. iii. 9).15
Pandangan-pandangan Agustinus tersebut sangat berpengaruh
pada masa Abad Pertengahan. Pada abad ini yang disebut dengan real
Christianity adalah para rahib yang hidup dalam biara monastisisme.
Ciri dari kehidupan monastisisme adalah “implies a strong ethos of

withdrawal from society and culture, abandoning of the world, having

Dom Cuthbert Butler, Western Mysticism: The Teaching of Ss. Augustine, Gregory
and Bernard on Contemplation and contemplative Life, 160. Bandingkan juga dengan
pemahaman alegoris Agustinus atas kisah Lea dan Rahel: Two lives are held out to us
in the Body of Christ the one temporal, in which we labour; the other eternal, in
which we shall contemplate the delights of God. The names of Jacob's wives teach us
to understand this. For it is said that Lia is interpreted ‘labouring’, and Rachel ‘the
Beginning seen’, or ‘the Word by which is seen the Beginning’. Therefore the action of
human and mortal life, in which we live by faith, doing many laborious works, is Lia.
But the hope of the eternal contemplation of God, which has a sure and delightful
understanding of the truth, is Rachel (c. Faust, xxii. 52).
13

John A. Bernbaum and Simon M. Steer, Why Work? Careers and Employment in
Biblical Perspective, (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House dan Washington,

14

D.C.,: Christian College Coalition, 1986), 19.
Dom Cuthbert Butler, Western Mysticism: The Teaching of Ss. Augustine, Gregory
and Bernard on Contemplation and contemplative Life, 175.
15

80

nothing to do with humanity.”16 Oleh karena itu teologi yang
dikembangkan di monasteri tidak berbicara masalah vocation.17 Betul
seperti yang disimpulkan oleh Stevens bahwa, “... cara Maria yang
kontemplatif, mengatasi dan menentang kehidupan sekuler, yakni cara
Marta yang aktif bekerja di dunia.”18 Pada abad inilah munculah
perbedaan yang mencolok antara sacred calling dan secular work.19
Sehingga kemudian muncul istilah kerja rohani dan kerja sekular,
sekolah rohani dan sekolah sekular, sebuah pembagian yang
mempunyai konotasi ada yang superior dan yang inferior. Pandangan
dualistik ala Plato telah berpengaruh dan berkembang ke ranah dunia
kerja.
Thomas Aquinas seorang pemikir yang sangat menonjol pada abad
pertengahan. Gagasan Thomas Aquinas tentang dunia juga dipengaruhi
oleh Agustinus yaitu membedakan dunia kehidupan “ active life” (de
vita activa) dengan "contemplative life" (devita contemplativa). Vita
Contemplativa orientasinya ke eternal sedangkan vita Activa perlu
untuk kehidupan sekarang.20 Bagi Thomas Aquinas, “... the life decoted

to inner stillness and spiritual knowledge, the vita contemplativa, is
the highest form of human activity.”21 Sama dengan Agustinus,
Thomas Aquinas meyakini bahwa contemplative life (devita
contemplativa) lebih bernilai daripada active life (de vita activa).
Sampai pada masa Abad Pertengahan dominasi pemikiran bahwa
sacred calling lebih mulia daripada secular calling masih sangat kuat.

16Klaus Bockmuehl, “Recovering Vocation Today,” dalam With Heart, mind &
Strength: The Best of Crux, 1979-1989, Donald M. Lewis, ed., (Regent: Regent College

Publishing, 1990), 88.
17
18

Klaus Bockmuehl, “Recovering Vocation Today,” 89.
R. Paul Stevens, God’s Business: Memaknai Bisnis Secara Kristiani, 56.

Joshua P. Guzman, “Eschatological Significance of Human Vocation,” An Integrative
Thesis Master of Arts Reformed Theological Seminary, (2004), 25.
19

20

John A. Bernbaum and Simon M. Steer, Why Work? Careers and Employment in

Biblical Perspective, 20.
Erich Fromm, To Have Or To Be?, (London: Continuum International Publishing
Group, 2005), 76.
21

81

2. Teologi Kerja Masa Reformasi
Teologi Reformasi merupakan koreksi atau bisa disebut sebagai
perlawanan terhadap pandangan pemikiran yang berkembang pada
Abad Pertengahan. Jika pada Abad Pertengahan real Christianity ada
di monasteri-monasteri maka pada masa reformasi, “True Christianity”
berada di kehidupan orang-orang awam dalam pekerjaan kesehariannya.
“The real “saint” is now the “secular saint” –not the one who
withdraws from society....”22 Untuk itu bisa dikatakan bahwa
“Reformation returns the Christians into the world.”23
Luther menolak pandangan bahwa kehidupan di monasteri
(menjadi biarawan, imam, pendeta) lebih superior dibandingkan
dengan hidup di ranah umum. Untuk menyenangkan Allah tidak
harus menjadi pertapa di monasteri tetapi bisa dengan cara
menjalankan hidup di dunia keseharian. Seperti yang ditulis oleh
Luther sebagai berikut:

If you ask further, whether they count it also a good work when
they work at their trade, walk, stand, eat, drink, sleep, and do all kinds
of works for the nourishment of the body or for the common welfare,
and whether they believe that God takes pleasure in them because of
such works, you will find that they say, "No"; and they define good
works so narrowly that they are made to consist only of praying in
church, fasting, and almsgiving.Other works they consider to be in
vain, and think that God cares nothing for them. Sothrough their
damnable unbelief they curtail and lessen the service of God, Who is
servedby all things whatsoever that are done, spoken or thought in
faith.
So teaches Ecclesiastes ix: "Go thy way with joy, eat and drink,
and know that God accepteth thy works. Let thy garments be always
white; and let thy head lack no ointment. Live joyfully with the wife
whom thou lovest all the days of the life of thy vanity." “Let thy
garments be always white," that is, let all our works be good, whatever
22

Klaus Bockmuehl, “Recovering Vocation Today,” 90.

23

Klaus Bockmuehl, “Recovering Vocation Today,” 90.

82

they may be, without any distinction. And they are white when I am
certain and believe that they please God. Then shall the head of my
soul never lack the ointment of a joyful conscience.24
Hal yang sama dia tulis dalam An Open to the Christian Nobility,
dia menyatakan bahwa all Christians are truly of the Spiritual estate.
Adapun bunyi lengkapnya sebagai berikut:

It is pure invention that pope, bishops, priests and monks are to
be called the " spiritual estate"; princes, lords, arti- sans, and farmers
the " temporal estate. " That is a fine bit of lying and hypocrisy. Yet no
one should be frightened by it ; and for this reason - viz., that all
Christians are truly of the "spiritual estate," and there is among them
no difference at all but that of office, as Paul says in I Cor. XII, We are
all one body, yet every member has its own work, whereby it serves
every other, all because we have one baptism, one Gospel, one faith,
and are all alike Christians ; for baptism, Gospel and faith alone make
us "spiritual" and a Christian people.25
Orang-orang Abad Pertengahan dianggap oleh Luther telah
menyempitkan pemahaman pekerjaan yang baik (good works) yaitu
dengan membatasi bahwa kerja yang baik adalah dalam hal doa di
gereja, puasa, dan persembahan-persembahan untuk gereja. Kuncinya
bukan terletak pada aktivitas yang mereka lakukan tetapi pada
keyakinan mereka atas Allah, meskipun mereka melakukan doa, puasa,
penebusan dosa, tetapi kalau tidak bersatu dengan Allah (he who is not
at one with God) semuanya sia-sia.

So a Christian who lives in this confidence toward God, a knows
all things, can do all things, undertakes all things that are to be done,
and does everything cheerfully and freely; not that he may gather
many merits and good works, but because it is a pleasure for him to
please God thereby, and he serves God purely for nothing, content

24 Martin Luther, A Treatise on Good Works, (Rockville, Maryland: Serenity
Publishers, 2009), 22-23.
25

Dikutip dari Fredrik A. Schiotz, “A Christian Concept of Vocation,” Christian

Education, vol. 28, No. 1 (September, 1944), 44.

83

that his service pleases God. On the other hand, he who is not at one
with God, or doubts, hunts and worries in what way he may do
enough and with many works move God. He runs to St. James of
Compostella, to Rome, to Jerusalem, hither and yon, prays St. Bridget's
prayer and the rest, fasts on this day and on that, makes confession
here, and makes confession there, questions this man and that, and yet
finds no peace. He does all this with great effort, despair and disrelish
of heart, so that the Scriptures rightly call such works in Hebrew
Avenama, that is, labor and travail. And even then they are not good
works, and are all lost.26
Konsep Luther tentang kerja dipengaruhi oleh penafsiran atas 1
Korintus 7:2027 “Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan, seperti
waktu ia dipanggil (klhsei) Allah.” Dalam teks tersebut Luther
menterjemahkan kata klesis (klhsei) dalam bahasa Yunani dengan kata
Beruf dalam bahasa Jerman yang diterjemahkan calling. Bagi Luther
setiap pekerjaan bukan hanya imam atau romo adalah calling
sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia.28
Tujuan kerja bagi Luther adalah bekerja bukan untuk dirinya
sendiri melainkan untuk orang lain. Bagi Luther “A Christian is a

perfectly free lord of all, subject to none. A Christian is a perfectly
dutiful servant of all, subject to all.”29 Bahkan dengan tegas ia
menuliskan bahwa:

A man does not live for himself alone in this mortal body to work
for italone, but he lives also for all men on earth; rather, he lives only

Martin Luther, A Treatise on Good Works, (Rockville, Maryland: Serenity
Publishers, 2009), 25-26.
26

27

e]kastoj evn th klhsei h eklhqh ev tauth menetw

Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinary Work: 1. Martin
Luther (1483-1646),” Evangelical Quarterly 67: 1 (1995), 43-44.

28

Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinary Work: 1. Martin
Luther (1483-1646),” 42.

29

84

forothers and not for himself. To this end he brings his body into
subjectionthat he may the more sincerely and freely serve others ...30
Pandangan Calvin tentang kerja tidak terlalu jauh berbeda dengan
Luther. Calvin berpendapat bahwa penyangkalan diri Kristen memiliki
dua aspek yaitu (1) aspek Allah yang mencakup bahwa hidup bukan
hanya untuk diri sendiri tetapi untuk kemuliaan Allah, dan aspek
manusia yang mencakup mencari yang baik bagi sesama daripada
hanya untuk diri sendiri.31 Menurut Calvin pada dasarnya Allah
menciptakan manusia dengan tujuan untuk bekerja:

Here Moses adds that the earth was leased to man, on this
condition, thathe busies himself cultivating it. It follows from this that
men were madeto employ themselves doing something and not to be
lazy and idle.32
Awalnya pekerjaan merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi
Adam namun menjadi berbeda ketika terjadi kejatuhan di dalam dosa.
Kerja menjadi sebuah beban. Namun kutuk atas kerja ini dibebaskan
oleh Kristus. Seperti Luther, Calvin meyakini bahwa pekerjaan seharihari adalah sebuah calling, dipengaruhi oleh doktrin predestinasinya
Calvin bahkan berkeyakinan setiap manusia mungkin untuk
menemukan pekerjaan apa yang Allah inginkan dalam hidup
seseorang. Calvin juga berpendapat bahwa semua pekerjaan adalah
baik semua ada di dalam lawful ordinances of God.33
Masa Reformasi merupakan titik balik tentang teologi kerja. Kerja
yang dipandang rendah, inferior oleh para teolog Abad Pertengahan
dibandingkan dengan hidup membiara di monasteri dikembalikan
oleh para teolog Reformator pada tempat yang sesungguhnya. Kerja
Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinary Work: 1. Martin
Luther (1483-1646),” 42.

30

31Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinmy Work: 2. John Calvin
(1509-64),” TheEvangelical Quarterly 67:2 (1995), 121.
32 Calvinus: in Mosis libros, ad loco Gn. 2:15 dikutip Ian Hart, “The Teaching of Luther
and Calvin about Ordinmy Work: 2. John Calvin (1509-64),”121-122.

Ian Hart, “The Teaching of Luther and Calvin about Ordinmy Work: 2. John Calvin
(1509-64),”123.
33

85

merupakan panggilan suci yang harus dilakukan oleh setiap manusia.
Kerja dikembalikan pada kesakralannya. Nilai sakralnya tidak terletak
pada di mana kerja dilakukan entah itu di monasteri (gereja) atau di
dunia umum jika tujuannya untuk Kemuliaan Allah maka pekerjaan
itu masuk di dalam sacred calling dalam bahasa Luther spiritual estate.

3. Kesimpulan
Kerja merupakan panggilan Allah, mandat suci yang diberikan
Allah kepada manusia ketika ia diciptakan. Kerja yang suci ini pada
perkembangannya maknanya mengalami distorsi. Agustinus dipengaruhi oleh Plato membedakan kehidupan ke dalam dua area yaitu
“active life” (de vita activa) dengan "contemplative life" (devita
contemplativa). Active life yaitu kerja dalam kehidupan sehari-hari
dinilai lebih rendah jika dibandingkan dengan area contemplative life
(kerja dalam monasteri, gereja). Pandangan ini kemudian sangat
mempengaruhi corak pikir Abad Pertengahan termasuk pemikiran
Thomas Aquinas sehingga memunculkan perbedaan yang mencolok
antara sacred calling dan secular work.
Perbedaan ini kemudian direvisi oleh para Reformator (Marthin
Luther dan John Calvin). Jika pada Abad Pertengahan real Christianity
ada di monasteri-monasteri maka pada masa reformasi, “True Christianity”
berada di kehidupan orang-orang awam dalam pekerjaan kesehariannya. Tidak ada secular work semuanya adalah sacred calling tergantung dari tujuannya kerja yaitu untuk kemuliaan Allah, yang
membedakan bukan tempatnya tetapi tujuannya.

86


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

58 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 385 23