ANESTESI LOKAL DAN ANESTESI UMUM KELOMPOK 8

This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Sun Sep 3 3:07:37 2017 / +0000 GMT

ANESTESI LOKAL DAN ANESTESI UMUM KELOMPOK 8
ANESTESI LOKAL DAN ANESTESI UMUM KELOMPOK 8
A. DEFINISI
Anestesi umum adalah obat yang digunakan untuk meniadakan persepsi terhadap semua rangsang. Anestesi umum digunakan dalam
berbagai tindakan pembedahan (operasi). Untuk menimbulkan efek anestesi yang ideal, sering diperlukan kombinasi deri beberapa
obat. Obat anestesi umumnya diberikan secara inhalasi atau injeksi intravena.
Anestesi Lokal adalah obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang
spesifik. Anestesi lokal diberikan secara topikal (lokal) untuk menghambat sel saraf. Hambatan konduksi menyebabkan informasi
atau rangsang nyeri dari perifer tidak sampai pada SSP sehingga tidak timbul persepsi nyeri. Hambatan konduksi oleh anestesi lokal
bersifat reversible dan tidak menimbulkan kerusakan struktur pada sel.
B. ADMINISTRASI OBAT
Administrasi Anestesi umum dapat dilakukan dengan cara : inhalasi atau injeksi intravena.
1. Anestesi inhalasi: halotan, enfluran, isofluran, sevofluran, desflurane, dan methoxyflurane merupakan cairan yang mudah
menguap. Obat-obat ini diberikan sebagai uap melalui saluran napas. Cara pemberian anestesi inhalasi:
? Open drop method : zat anestesi diteteskan pada kapas yang diletakkan di depan hidung penderita sehingga kadar zat anestesi yang
dihisap tidak diketahui dan pemakaiannya boros karena zat anestesi menguap ke udara terbuka.
? Semiopen drop method : cara ini hampir sama dengan open drop, hanya untuk mengurangi terbuangnya zat anestesi maka
digunakan masker.

? Semiclosed method : udara yang dihisap diberikan bersamaan oksigen yang dapat ditentukan kadarnya. Keuntungan cara ini adalah
dalamnya anestesi dapat diatur dengan memberikan zat anestesi dalam kadar tertentu dan hipoksia dapat dihindari dengan pemberian
O2.
? Closed method : hampir sama seperti semiclosed, hanya udara ekspirasi dialirkan melalui NaOH yang dapat mengikat CO2,
sehingga udara yang mengandung anestesi dapat digunakan lagi. Cara ini lebih hemat, aman, dan lebih mudah, tetapi harga alatnya
cukup mahal.
Jenis-jenis anestesi inhalasi generasi pertama seperti ether, cyclopropane, dan chloroform sudah tidak digunakan lagi di
negara-negara maju karena sifatnya yang mudah terbakar (misalnya ether dan cyclopropane) dan toksisitasnya terhadap organ
(chloroform).
2. Anestesi Intravena. Beberapa obat digunakan secara intravena ( baik sendiri atau dikombinasikan dengan obat lain) untuk
menimbulkan anestesi, atau sebagai komponen anestesi berimbang (balanced anesthesia), atau untuk menenangkan pasien di unit
rawat darurat yang memerlukan bantuan napas buatan untuk jangka panjang. Untuk anestesi intravena total biasanya menggunakan
propofol. Cara pemberian anestesi intravena, yaitu :
a. Sebagai obat tunggal
? Induksi anestesi
? Operasi singkat: cabut gigi
b. Suntikan berulang
? Sesuai kebutuhan: curetase
c. Diteteskan lewat infus
? Menambah kekuatan anastesi

Pemberian anestetik lokal dapat dilakuka dengan teknik :
? Anestesi permukaan, yaitu pengolesan atau penyemprotan analgetik lokaldi atas selaput mukosa seperti mata, hidung, atau faring.
ContohnyaChlorethyl.
? Anestesi infiltrasi, yaitu penyuntikan larutan analgetik lokal langsungdiarahkan di sekitar tempat lesi, luka atau insisi. Cara
infiltrasi yang seringdigunakan adalah blokade lingkar dan obat disuntikkan intradermal atausubkutan
? Anestesi blok, yaitu penyuntikan analgetika lokal langsung ke saraf utama atau pleksus saraf. Hal ini bervariasi dari blokade pada
saraf tunggal,misalnya saraf oksipital dan pleksus brakialis, anestesi spinal, anestesi epidural, dan anestesi kaudal. Pada anestesi
spinal, analgetik lokal disuntikkan ke dalam ruang subaraknoid di antara konus medularis dan bagian akhir ruang subaraknoid.
Anestesi epidural diperoleh dengan menyuntikkan zat anestetik lokal ke dalam ruang epidural. Pada anestesi kaudal, zat analgetik
lokal disuntikkan melalui hiatus sakralis.
? Anestesi regional intravena, yaitu penyuntikkan larutan analgetik lokal intravena. Ekstremitas dieksanguinasi dan diisolasi bagian

Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com

| Page 1/5 |

This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Sun Sep 3 3:07:37 2017 / +0000 GMT

proksimalnyadari sirkulasi sistemik dengan turniket pneumatik (Bier Block). Paling baik digunakan untuk ekstremitas atas

Atau dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu :
a. Neurological blockade perifer
? Topical
? Infiltration
? Nerve block
? IV regional anestesia
b. Neurological blockade sentral
? Anesthesia spinal
? Anesthesia epidural
C. FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK (A.Lokal)
Farmakokinetik
Anestesi lokal biasanya diinjeksikan atau diaplikasikan sangat dekat dengan lokasi kerja maka farmakokinetik dari obat umumnya
lebih dipentingkan tentang eliminasi dan toksisitas obat dibanding dengan efek klinis yang diharapkan.
1. Absorpsi
Sebagian besar membran mukosa (contoh: konjungtiva okuli, mukosa trakhea) memiliki barier yang lemah terhadap penetrasi
anestesi lokal, sehingga menyebabkan onset kerja yang cepat. Kulit yang utuh, di pihak lain, membutuhkan anestesi lokal
larut-lemak dengan konsentrasi tinggi untuk menghasilkan efek analgesia. Krim EMLA terdiri dari campuran 1:1 lidokain 5% dan
prilocaine 5% dalam emulsi minyak-dalam-air. Analgesik dermal baik untuk mengawali iv-line yang kerjanya paling tidak
membutuhkan waktu satu jam. Kedalaman penetrasi (biasanya 3-5mm), durasi kerja (biasanya 1-2 jam), dan jumlah obat yang
diabsorpsi tergantung dari waktu aplikasi, aliran darah dermal, ketebaan keratin, dan dosis total pemberian. Biasanya, 1-2 gram krim

diaplikasikan tiap 10 cm2 kulit, dengan maksimum area 2000 cm2 pada dewasa ( 100 cm2 untuk anak dengan BB < 10 kg).
Pengambilan split-thickness-skin-graft, pengambilan laser portwine, litotripsi, dan sirkumsisi sudah berhasil dilakukan dengan krim
EMLA. Efek samping diantaranya pucat, eritema, dn edema. Krim EMLA tidak boleh digunakan pada mukosa, kulit yang terluka,
bayi usia < 1 bulan, atau pasien dengan predisposisi methemoglobinemia (lihat Metabolisme di bawah). Absorpsi sitemik dari
anestesi lokal yang diinjeksi bergantung pada aliran darah, yang ditentukan dari beberapa faktor di bawah ini : 1. Lokasi injeksi?laju
absorpsi sistemik proporsional dengan vaskularisasi lokasi injeksi : intravena > trakeal > intercostal > caudal > paraservikal >
epidural > pleksus brakhialis > ischiadikus > subkutaneus.
2. Adanya vasokonstriksi?penambahan epinefrin?atau yang lebih jarang fenilefrin?menyebabkan vasokonstriksi pada tempat
pemberian anestesi. Sebabkan penurunan absorpsi dan peningkatan pengambilan neuronal,sehingga meningkatkan kualitas
analgesia, memperpanjang durasi, dan meminimalkan efek toksik. Efek vasokonstriksi yang digunkan biasanya dari obat yang
memiliki masa kerja pendek. Contohnya, penambahan epinefrin dalam lidokain biasanya memperlama kerja anestesi setidaknya
sebanyak 50%, namun epinefrin tidak memiliki efek jika ditambahkan dengan bupivacaine, yang durasi kerjanya tergantung dari
keterikatan dengan protein. Epinefrin juga dapat meningkatkan kualitas analgesia dan memperlama kerja lewat aktivitasnya terhadap
resptor adrenergik ?2.
3. Agen anestesi lokal?anestesi lokal yang terikat kuat dengan jaringan lebih lambat terjadi absorpsi. Dan agen ini bervariasi dalam
vasodilator intrinsik yang dimilikinya.
2. Distribusi
Distribusi tergantung dari ambilan organ, yang ditentukan oleh faktor-faktor di bawah ini:
1. Perfusi jaringan?organ dengan perfusi jaringan yang tinggi (otak, paru, hepar, ginjal, dan jantung) bertanggung jawab terhadap
ambilan awal yang cepat (fase ?), yang diikuti redistribusi yang lebih lambat (fase ?) sampai perfusi jaringan moderat (otot dan

saluran cerna). Paru mengekstraksi anestesi lokal dalam jumlah yang signfikan, konsekuensinya, batas toksisitas sistemik pada
injeksi arterial memiliki dosis yang lebih rendah daripada injeksi vena.
2. Koefisien partisi jaringan/darah?ikatan protein plasma yang kuat cenderung mempertahankan obat anestesi di dalam darah,
dimana kelarutan lemak yang tinggi memfasilitasi ambilan jaringan.
3. Massa jaringan?otot merupakan reservoar paling besar untuk anestesi lokal karena massa dari otot yang besar.
3. Metabolisme dan Ekskresi
Metabolisme dan ekskresi dari lokal anestesi dibedakan berdasarkan strukturnya :
1. Ester?anestesi lokal ester dominan dimetabolisme oleh pseudokolinesterase (kolinesterase palsma atau butyrylcholinesterase).
Hidrolisa ester sangat cepat, dan metabolitnya yang larut-air diekskresikan ke dalam urin. Procaine dan benzocaine dimetabolisme

Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com

| Page 2/5 |

This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Sun Sep 3 3:07:37 2017 / +0000 GMT

menjadi asam p-aminobenzoiz (PABA), yang dikaitkan dengan reaksi alergi. Pasien yang secara genetik memiliki
pseudokolinesterase yang abnormal memiliki resiko intoksikasi, karena metabolisme dari ester yang menjadi lambat. Cairan
serebrospinal memiliki enzim esterase yang banyak, jadi penentuan kerja dari obat anestesi ester yang diberikan melalui intratekal,

contohnya tetracaine, tergantung dari absorpsi dalam aliran darah. Sebaliknya dari anestesi ester yang lain, cocaine dimetabolisme
(N-metilasi dan ester hidrolisis) sebagian di hepar dan sebagian diekskresikan dalam urin.
2. Amida?anestesi lokal amida dimetabolisme (N-dealkilasi dan hidroksilasi) oleh enzim mikrosomal P-450 di hepar. Laju
metabolisme amida tergantung dari agent yang spesifik (prilocine > lidocaine > mepivacaine > ropivacaine > bupivacaine), namun
secara keseluruhan jauh lebih lambat dari hidrolisis ester. Penurunan fungsi hepar (misal pada sirosis hepatis) atau gangguan aliran
darah ke hepar (misal gagal jantung kongestif, vasopresor, atau blokade reseptor H2) akan menurunkan laju metabolisme dan
merupakan predisposisi terjadi intoksikasi sistemik. Sangat sedikit obat yang diekskresikan tetap oleh ginjal, walaupun metabolitnya
bergantung pada bersihan ginjal.
Metabolit dari prilocaine (derivat o-toluidine), yang terakumulasi setelah dosis besar obat (>10 mg/kg), mengkonversi hemoglobin
menjadi methemoglobin. Neonatus dari ibu yang mendapatkan anestesi epidural prilocaine sewaktu melahirkan dan pasien dengan
kardiopulmonal yang terbatas biasanya cenderung mengalami perubahan dalam transpor oksigen. Benzocaine, yang biasanya
merupakan isi dari anestesi lokal spray, juga dapat menyebabkan methemoglobinemia. Pengobatan methemoglobinemia yang berarti
dengan metilen biru (1-2mg/kg dalam larutan 1% selama lebih dari 5 menit). Metilen biru mereduksi methemoglobin (Fe3+)
menjadi hemoglobin (Fe2+).
Farmakodinamik
Anastetik lokal menyebabkan suatu hambatan reversibel pada konduksi impuls di dalam sel-sel saraf (dan struktur lain yang berdaya
hantar, misalnya sistem pembentukkan dan konduksi impuls dari jantung). Efek berdasarkan pada blokade kanal Na+ yang peka
terhadap potensi di dalam membran neuron. Pertama-tama, anastetik lokal harus dapat berpenetrasi ke dalam membran (syaratnya
memiliki sifat lipofil yang baik dan keadaan tidak terdisosiasi), selanjutnya dengan jalan difusi mencapai lumen dari kanal Na+.
Disini terjadi peningkatan bentuk proton dan berikatan pada reseptor dari protein kanal, mengakibatkan kanal Na+ untuk waktu

tertentu beralih ke keadaan tertutup dan nonaktif. Lamanya blokade kanal Na+ berbeda-beda tergantung pada zatnya. Blokade kanal
Na+ menghalangi depolarisasi sel-sel saraf sehingga hantaran potensial aksi ditiadakan.
Pada prinsipnya cara kerja anastetik lokal ini berlaku untuk semua jenis serabut saraf, sensorik maupun motorik. Bergantung pada
konsentrasi, urutan blokade impuls adalah sebagai berikut :
1. Tidak berfungsinya serabut sensorik halus, di antaranya serabut C yang menghantarkan rasa nyeri. Berturut-turut yang hilang
ialah nyeri; dingin atau panas; rabaan dan tekanan. Serabut C simpatik pascaganglion juga bereaksi sangat sensitif. Blokade
mngakibatkan hilangnya tonus vasokonstriktor ? bahaya penurunan tekanan darah pada anastesi lumbal.
2. Serabut saraf motorik yang lebih kasar bereaksi jauh kurang sensitif.
D. TOKSISITAS (Anestesi Lokal)
Efek Samping anestesi lokal terhadap Sistem Tubuh, yaitu sebagai berikut :
? Sistem kardiovaskular
1. Depresi automatisasi miokard
2. Depresi kontraktilitas miokard
3. Dilatasi arteriolar
4. Dosis besar dapat menyebabkan disritmia / kolaps sirkulasi
? Sistem Pernapasan
Relaksi otot polos bronkus. Henti napas akibat pralise saraf frenikus, paralise interkostal atau depresi langsung pusat pengaturan
napas.
? Sistem Saraf Pusat (SSP)
SSP rentan terhadap toksisitas anestetik lokal, dengan tanda-tanda awal paarestesia lidah, pusing, kepala terasa ringan, tinitus,

pandangan kabur, agitasi, twitching, depresi pernapasan, tidak sadar, konvulsi, koma. Tambahan adrenalin beresiko kerusakan saraf.
? Imunologi
Golongan ester menyebabkan reaksi alergi lebih sering, karena merupakan derivat para-amino-benzoic acid (PABA), yang dikenal
sebagai alergen.
? Sistem Muskuloskeletal
Bersifat miotoksik (bupivakain > lidokain > prokain)Tambahan adrenalin beresiko kerusakaan saraf. Regenerasi dalam waktu 3-4
minggu.

Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com

| Page 3/5 |

This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Sun Sep 3 3:07:37 2017 / +0000 GMT

Toksisitas dalam pemberian anestesi lokal bergantung pada :
- Jumlah larutanyang disuntikan - Konsentrasi obat
- Ada tidaknya adrenalin - Vaskularisasi tempat suntukan
- Absorbsi obat - Laju destruksi obat
- Hipersensitivitas - Usia

- Keadaan umum - Berat badan
E. APLIKASI DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI (Anestesi Lokal, Anestesi Umum)
a. Anestesi Lokal
Terdapat 3 teknik anastesi local yang dipakai dalam bidang kedokteran gigi
1. Anatesi Infiltrasi
Anestesi infiltrasi merupakan teknik anestesi lokal paling sering digunakan pada maxilaris, larutan anestesi didepositkan pada
permukaan supraperiosteal yang berhubungan dengan periosteum bukal dan labial. Teknik infiltrasi dapat dibagi menjadi 6:
a) Suntikan submukosa : suntikan ini sering digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal panjang sebelum pencabutan molar
bawah atau operasi jaringan lunak.
b) Suntikan supraperiosteal : Pada beberapa daerah seperti maksila, bidang kortikal bagian luar dari tulang alveolar bila larutan
anestesi didepositkan di luar periosteum, larutan akan terinfiltrasi melalui periosteum, bidang kortikal, dan tulang medularis ke
serabut saraf. Dengan cara ini, anestesi pulpa gigi dapat diperoleh melalui penyuntikan di sepanjang apeks gigi
c) Suntikan subperiosteal : Pada teknik ini, larutan anestesi didepositkan antara periosteum dan bidang kortikal. Teknik ini biasa
digunakan pada palatum dan bermanfaat bila suntikan supraperiosteal gagal untuk memberikan efek anestesi.
d) Suntikan intraoseous : Pada teknik ini larutan di depositkan pada tulang medularis dan akan memberikan efek anestesi yang baik
pada pulpa disertai dengan gangguan sensasi jaringan lunak yang minimal. Walaupun demikian, biasanya tulang alveolar akan
terkena trauma dan cenderung terjadi rute infeksi. Prosedur ini sangat efektif bila dilakukan dengan bantuan bur tulang dan jarum
yang di desain khusus untuk tujuan tersebut.
e) Suntikan intraseptal : Larutan didepositkan dengan tekanan dan berjalan melalui tulang medularis serta jaringan periodontal untuk
memberi efek anestesi. Teknik ini hanya dapat digunakan setelah diperoleh anestesi superfisial.

f) Suntikan intraligament : Teknik ini mempunyai beberapa manfaat. Efeknya yang terbatas dimungkinkan dilakukannya perawatan
pada satu gigi dan membantu perawatan pada kuadran mulut yang berbeda. Suntikan ini juga tidak terlalu sakit bagi pasien yang
umumnya tidak menyukai ?rasa bengkak? yang sering menyertai anestesi lokal. Efeknya yang terlokalisir membuat teknik ini dapat
digunakan sebagai suntikan diagnostik untuk mengidentifikasi sumber sakit.
2. Anastesi Blok
A. Anastesi Blok Maxilla
a) Anastesi blok nervus infraorbitalis : Injeksi infraorbital diindikasikan jika peradangan dan infeksi merupakan kontraindikasi
penggunaan anestesi infiltrasi di bagian anterior maxillaris, jika akan dilakukan pembukaan pada sinus maxillaris. Untuk keperluan
bedah mulut, injeksi ini dapat diberikan untuk menghindari penyuntikan ke dalam jaringan inflamasi di daerah gigi incisivus dan
kaninus, tetapi dapat juga mencapai anestesi yang lebih mendalam untuk lesi yang lebih besar seperti kista.
b) Anastesi blok nervus alveolaris superior medial : Anestesi blok nervus alveolar superior medial digunakan pada prosedur dimana
gigi premolar maxillaris atau akar mesiobukal dari molar pertama yang memerlukan anestesi. Kontraindikasi anestesi ini yaitu
inflamasi akut dan infeksi di daerah suntikan atau prosedur yang hanya melibatkan satu gigi dimana anestesi yang adekuat dapat
diperoleh dengan anestesi infiltrasi.
c) Anastesi blok nervus alveolaris superior posterior : Anestesi blok ini dimaksudkan untuk menganestesi nervus alveolar superior
posterior menembus aspek posterolateral dari tuberositas maxillaris sebelum mencapai tulang. Dengan demikian, ada hubungan yang
erat antara daerah suntikan dengan plexus venous pterygoid di bawah dan di atas dan dapat dengan mudah dimasuki jarum.
d) Anastesi blok nervus palatinal : Anestesi blok nervus palatinal berguna ketika perawatan diperlukan pada aspek palatal dari gigi
premolar dan molar maxillaris. Kontraindikasi teknik ini yaitu inflamasi akut dan infeksi di daerah suntikan
e) Anastesi blok nervus nasopalatinal : Anestesi blok nervus nasopalatinal menganestesi nervus nasopalatinal secara bilateral.

Teknik ini mendepositkan larutan di area foramen incisivum. Teknik diindikasikan ketika perawatan memerlukan anestesi aspek
lingual dari beberapa gigi anterior.
f) Anastesi blok nervus maxillaries: Tujuan teknik ini secara langsung untuk mengarahkan jarum ke superior, medial, dan posterior
sepanjang permukaan permukaan zygomatikum dan infratemporal dari maksilla masuk ke fossa pterygopalatinal.
B. Anastesi Blok Mandibula

Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com

| Page 4/5 |

This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah
Export date: Sun Sep 3 3:07:37 2017 / +0000 GMT

a) Anastesi blok nervus alveolaris inferior: Teknik ini sangat berguna ketika beberapa gigi dalam satu kuadran memerlukan
perawatan. Target teknik ini adalah nervus mandibular yang berjalan ke medial ramus, yang masuk ke foramen mandibular. Nervus
lingual, mental, dan incisivum juga teranestesi. Injeksi ini akan menganestesi nervus alveolar inferior dan memblok nervus lingual.
b) Anastesi blok nervus incisivum : Nervus mentale dan incisivum dianestesi dengan teknik ini. Kontraindikasi teknik ini yaitu
inflamasi akut dan infeksi pada daerah injeksi.
c) Anastesi blok nervus mentale : Kontraindikasi teknik ini yaitu inflamasi dan infeksi akut pada daerah injeksi. Injeksi ini jarang
digunakan karena bagian yang teranestesi lebih efektif dianestesi dengan injeksi pterygomandibular.
d) Anastesi blok nervus buccal : Titik target teknik ini adalah nervus bukal yang melalui ramus dibagian anterior. Kontraindikasi
prosedur ini yaitu inflamasi dan infeksi akut pada daerah injeksi. Daerah injeksi terbaik pada tinggi ini dan masuk ke dalam jaringan
yang menutupi tepi anterior coronoid. Sekitar satu ml larutan anestesi diinjeksikan.
e) Anastesi blok Vazirani Akinosi (keadaan mulut tertutup): Anestesi blok nervus mandibula Vazirani-Akinosi closed mouth
merupakan teknik yang berguna untuk pasien yang sulit membuka mulut seperti trismus atau ankylosis temporomandibular joint.
Kontraindikasi teknik ini yaitu inflamasi dan infeksi akut pada ruang pterygomandibular, cacat atau tumor pada regio tuberositas
maxillaris atau ketidakmampuan untuk memvisualisasikan bagian medial ramus.
3. Anastesi Topikal
Dalam kedokteran gigi anestesi ini digunakan untuk jaringan oral mati rasa. Sediaan yang ada berupa krim yang dioleskan pada area
yang akan dibius.
b. Anestesi Umum
Pencabutan gigi dengan bahan nitrous oxide diberikan pada pasien cemas, tidak kooperatif, pasien cacat mental.
F. DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/87013049/Anestesi-lokal
BAB 14 ANESTESI LOKAL http://www.scribd.com/doc/59524555/BAB-14-Anestesi-Lokal diakses 26 April 2012
Schmitz, G., Lepper. & Heidrich, Michael. 2003. Farmakologi dan Toksikologi. Edisi 3. Jakarta:EGC.
http://www.scribd.com
Priyanto.2010.Farmakologi dasar untuk mahasiswa farmasi dan keperawatan.Edisi 2.Jakarta;LESKONFI

Output as PDF file has been powered by [ Universal Post Manager ] plugin from www.ProfProjects.com

| Page 5/5 |