PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT) KEARSIPAN TERHADAP PROFESIONALISME ARSIPARIS DI BAPUSIPDA (BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN DAERAH) SE-BANDUNG RAYA.

(1)

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT) KEARSIPAN TERHADAP PROFESIONALISME ARSIPARIS DI BAPUSIPDA (BADAN

PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN DAERAH) SE-BANDUNG RAYA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menempuh Ujian Sidang Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Manajemen Perkantoran

Oleh:

MUTHIA NURUL AINI NIM. 0904108

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MANAJEMEN PERKANTORAN FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013


(2)

Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT)

Kearsipan Terhadap Profesionalisme

Arsiparis Di BAPUSIPDA

Se-Bandung Raya

Oleh Muthia Nurul Aini

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

© Muthia Nurul Aini 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.


(3)

LEMBAR PENGESAHAN

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT) KEARSIPAN TERHADAP PROFESIONALISME ARSIPARIS DI BAPISUPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan

Daerah) SE-BANDUNG RAYA

Skripsi ini telah disetujui dan disahkan oleh:

Pembimbing I,

Dr. H. Suwatno, M.Si. NIP. 196201271988031001

Pembimbing II,

Drs. Budi Santoso, M.Si. NIP. 196008261987031001

Mengetahui, Ketua Program Studi

Pendidikan Manajemen Perkantoran FPEB UPI

Dr. Rasto, M. Pd. NIP. 197207112001121001


(4)

Muthia Nurul Aini, 2013

ABSTRAK

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT) KEARSIPAN TERHADAP PROFESIONALISME ARSIPARIS DI BAPUSIPDA (BADAN

PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN DAERAH) SE-BANDUNG RAYA

Oleh:

Muthia Nurul Aini 0904108

Skripsi ini dibimbing oleh:

Dr. H. Suwatno, M.Si dan Drs. Budi Santoso, M.Si.

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah tingkat profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se- Bandung Raya yang ditandai dengan belum tercapainya keterampilan dalam mengelola arsip yang ditetapkan sehingga berpotensi menjadi penghambat bagi tercapainya tujuan instansi tersebut.

Penelitian ini dilakukan pada arsiparis BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se- Bandung Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efektivitas diklat kearsipan, tingkat profesionalisme arsiparis serta pengaruh dari pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan terhadap profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) se- Bandung Raya.

Penelitian ini menggunakan metode explanatory survey, teknik pengumpulan data dengan cara angket (kuisioner). Instrumen yang digunakan adalah angket model skala likert yang dimodifikasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisa regresi linier sederhana. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket yang diperoleh dari 31 orang arsiparis sebagai populasi.

Hasil penelitian menunjukkan : (1) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) kearsipan berada pada kategori yang cukup efektif, (2) Profesionalisme arsiparis berada pada kategori yang cukup tinggi, (3) Terdapat pengaruh positif dan signifikan dari pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan terhadap profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se- Bandung Raya.


(5)

Muthia Nurul Aini, 2013

ABSTRACT

THE EFFECT OF THE TRAINING ARCHIVAL TO THE

PROFESSIONALISM OF THE ARCHIEVES IN BAPUSIPDA (BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN DAERAH) ALL AROUND

BANDUNG

by:

Muthia Nurul Aini 0904108

This Thesis is guided by:

Dr. H. Suwatno, M.Si and Drs. Budi Santoso, M.Si

Problems review in this research is the level of archieves professionalism effectiveness in BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) all around Bandung there is mark as not yet reached the skill to archival of the manage so that is potentially become the barriers to reached the goal, for the institution.

This research was conducted on BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) archieves all around Bandung. This research aims to find out the description of the archival training, the level of arhieves profeslionalism, and effect of the archival training of the archieves profesionalism in BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) all around Bandung.

This research uses and explanatory survey, data collection techniques by questionnaires. Instrument used was a questionnaire modified Likert scale models. The data analysis technique used is simple linear regression analysis. Data was collected using questionnaires obtained from 31 archievest as a population.

Based on the analysis of the answers from the respondents obtained the following results (1) archival training are on a quiet effective category, (2) the archieves profesionalism are on quite high, category (3) there is a positive and significant effect between the archival training of the archieves profesionalism in the BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) all around Bandung.


(6)

Muthia Nurul Aini, 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke khadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se- Bandung Raya”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti sidang skripsi program studi Pendidikan Manajemen Perkantoran pada Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Bumi Siliwangi Bandung. Dalam skripsi ini penulis meneliti tentang seberapa besar Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) kearsipan terhadap tingkat Profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya.

Akhir kata dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kriteria penelitian yang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis sangat diharapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi pembaca serta peneliti selanjutnya.


(7)

Muthia Nurul Aini, 2013


(8)

Muthia Nurul Aini, 2013

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ... Error! Bookmark not defined. ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined. ABSTRACT ... Error! Bookmark not defined. KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined. UCAPAN TERIMA KASIH ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR GAMBAR ... Error! Bookmark not defined. BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. 1.1 Latar Belakang Masalah ... Error! Bookmark not defined. 1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined. 1.3 Kegunaan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. BAB II LANDASAN TEORI ... Error! Bookmark not defined. 2.1. Konsep Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)Error! Bookmark

not defined.

2.2. Pendidikan dan Pelatihan ... Error! Bookmark not defined.

2.2.1.Komponen- Komponen Pendidikan dan PelatihanError! Bookmark not defined. 2.2.2.Prinsip- Prinsip Pendidikan dan PelatihanError! Bookmark not defined.

2.2.3.Tahap-tahap Pendidikan dan Pelatihan .... Error! Bookmark not defined. 2.2.4.Tujuan Pendidikan dan Pelatihan... Error! Bookmark not defined. 2.2.5.Manfaat Pendidikan dan Pelatihan... Error! Bookmark not defined. 2.2.6.Metode Pendidikan dan Pelatihan ... Error! Bookmark not defined. 2.2.7.Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan ... Error! Bookmark not defined.


(9)

Muthia Nurul Aini, 2013

2.2.8.Hasil Pendidikan dan Pelatihan ... Error! Bookmark not defined. 2.2.9.Perbedaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dengan Pendidikan

Formal ... Error! Bookmark not defined. 2.2.10. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) KearsipanError! Bookmark not defined. 2.2.11. Indikator Pendidikan dan Pelatihan ... Error! Bookmark not defined. 2.3. Pengertian Profesionalisme ... Error! Bookmark not defined.

2.3.1 Istilah Yang Berkaitan Dengan Profesionalisme ... 33 2.4. Pengertian Arsiparis ... Error! Bookmark not defined. 2.4.1.Syarat Pegawai Arsip yang baik ... Error! Bookmark not defined. 2.5.Indikator Profesionalisme ... Error! Bookmark not defined. 2.6.Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kerasipan dengan

Profesionalisme Arsiparis ... Error! Bookmark not defined. 2.7. Hasil Penelitian Terdahulu ... Error! Bookmark not defined. 2.8. Kerangka Pemikiran ... Error! Bookmark not defined. 2.9. Hipotesis ... Error! Bookmark not defined. BAB III DESAIN PENELITIAN... Error! Bookmark not defined. 3.1. Objek Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 3.2. Metode Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 3.3. Operasional Variabel ... Error! Bookmark not defined. 3.4. Sumber Data ... Error! Bookmark not defined. 3.5. Populasi Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 3.6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... Error! Bookmark not defined. 3.7. Instrumen Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 3.8. Pengujian Persyaratan Analisis Data ... Error! Bookmark not defined. 3.9. Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.


(10)

Muthia Nurul Aini, 2013

3.9.1.Teknik Analisis Data Deskriptif ... Error! Bookmark not defined. 3.9.2.Teknik Analisis Data Inferensial ... Error! Bookmark not defined. 3.10. Pengujian Hipotesis ... Error! Bookmark not defined. 3.10.1.Merumuskan Hipotesis Statistik ... Error! Bookmark not defined.

3.10.2 Menghitung Koefisien Korelasi antara Variabel X dan Variabel YError! Bookmark not d 3.10.3 Koefisien Determinasi ... Error! Bookmark not defined.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANError! Bookmark not defined. 4.1 Hasil Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

4.1.1.Profil Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa BaratError! Bookmark not defined 4.1.1.1.Riwayat Singkat Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah

Jawa Barat ... Error! Bookmark not defined. 4.1.1.2. Riwayat Singkat Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah

Kota Bandung ... Error! Bookmark not defined. 4.1.1.3. Riwayat Singkat Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah

Kabupaten Bandung ... Error! Bookmark not defined. 4.1.1.4. Visi dan Misi Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah

Se-Bandung Raya ... Error! Bookmark not defined. 4.1.4.5 Struktur Organisasi Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah

Se-Bandung Raya ... Error! Bookmark not defined. 4.1.2.Karakteristik Responden ... Error! Bookmark not defined.

4.1.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis KelaminError! Bookmark not defined. 4.1.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan UsiaError! Bookmark not defined.


(11)

Muthia Nurul Aini, 2013

4.1.2.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa KerjaError! Bookmark not defined. 4.1.2.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan FormalError! Bookmark not defin 4.1.3.Instrumen Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

4.1.3.1. Uji Validitas... Error! Bookmark not defined. 4.1.3.2. Uji Reliabilitas ... Error! Bookmark not defined. 4.1.4.Deskripsi Variabel-Variabel Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

4.1.4.1 Deskripsi Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) KerasipanError! Bookmark not defin 4.1.4.2 Deskripsi Profesionalisme Arsiparis Error! Bookmark not defined.

4.1.5 Pengujian Persyaratan Analisis Data ... Error! Bookmark not defined. 4.1.5.1 Uji Homogenitas ... Error! Bookmark not defined. 4.1.5.2 Uji Linieritas ... Error! Bookmark not defined. 4.1.6 Regresi Linier Sederhana ... Error! Bookmark not defined. 4.1.7 Pengujian Hipotesis ... Error! Bookmark not defined. 4.1.7.1 Merumuskan Hipotesis Statistik ... Error! Bookmark not defined. 4.1.7.2 Menghitung Koefisien Korelasi antara Variabel X dan

Variabel Y ... Error! Bookmark not defined. 4.2. Pembahasan Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

4.2.1.Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) KearsipanError! Bookmark not defined. 4.2.2.Profesionalisme Arsiparis ... Error! Bookmark not defined. 4.2.3.Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap

Profesionalisme Arsiparis ... Error! Bookmark not defined. BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI . Error! Bookmark not defined. 5.1 Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined.


(12)

Muthia Nurul Aini, 2013

5.2 Rekomendasi ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN-LAMPIRAN ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN 1 SURAT IJIN PENELITIAN ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN 2 KUESIONER (ANGKET) ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN 3 UJI INSTRUMEN (UJI VALIDITAS DAN UJI

RELIABILITAS) ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN 4 UJI HOMOGENITAS DATA ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN 5 DATA INTERVAL (MSI) ... Error! Bookmark not defined. LAMPIRAN 6 PERHITUNGAN SKOR RATA-RATAError! Bookmark not defined.

LAMPIRAN 7 UJI LINIERITAS DAN REGRESI VARIABELError! Bookmark not defined. LAMPIRAN 8 FREKUENSI BIMBINGAN ... Error! Bookmark not defined.

LAMPIRAN 9 SURAT KEPUTUSAN ... Error! Bookmark not defined.

LAMPIRAN 10 SURAT USULAN PENGAJUAN JUDULError! Bookmark not defined. LAMPIRAN 11 SURAT PENJALURAN AKHIR STUDIError! Bookmark not defined. LAMPIRAN 12 RIWAYAT HIDUP ... Error! Bookmark not defined.


(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat, secara langsung disadari maupun tidak disadari pasti memiliki dampak yang luar biasa terhadap perkembangan organisasi atau pun instansi. Perubahan tersebut selain memiliki dampak positif di sisi lain dapat berdampak negatif terhadap organisasi atau pun instansi. Dengan demikian dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menyikapi perubahan yang tidak pernah berhenti. Sumber daya manusia diharapkan dapat mengolah sumber-sumber lain yang dapat mendukung pencapaian visi organisasi atau pun instansi. Menurut Hossein (Khaerul Umam : 2012: 27) mengemukakan bahwa sumber daya manusia aparatur yang diperlukan adalah memiliki dedikasi dan kemampuan profesional di bidangnya, juga memiliki dedikasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Setiap pegawai organisasi atau pun instansi dituntut agar dapat bekerja secara efektif dan efisien, kualitas dan kuantitas harus sesuai kebutuhan organisasi atau pun instansi. Pegawai yang kurang mampu, kurang cakap, dan tidak terampil dapat mengakibatkan pekerjaan tidak selesai tepat pada waktunya.

Secara popular seorang pekerja dibidang apapun sering diberi predikat profesional. Seorang pekerja profesional dalam bahasa keseharian tersebut


(14)

adalah seorang pekerja yang terampil dan cakap dalam kerjanya, biar pun keterampilan atau kecakapannya tersebut sekedar produk dari fungsi minat


(15)

dan belajar dari kebiasaan. Seorang pekerja yang profesional dituntut menguasai visi yang mendasari keterampilannya yang menyangkut wawasan filosofis, pertimbangan rasional, dan memiliki sikap yang positif dalam melaksanakan serta memperkembangkan mutu karyanya (T. Raka Joni,1980:6).

Menurut Siagian (2000: 163) bahwa profesionalisme adalah keandalan dalam pelaksanaan tugas sehingga terlaksana dengan mutu yang tinggi, waktu yang tepat, cermat dan prosedur yang mudah dipahami dan diikuti. Siagian (2000: 163) menambahkan bahwa berkaitan dengan hal tersebut diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang seluk beluk tugas dengan segala implikasinya dan keterampilan yang memungkinkan pelaksana bekerja dengan baik karena dikuasainya berbagai segi teknis yang terdapat dalam setiap tugas pekerjaan. Adapun profesionalisme berarti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996). Profesionalisme juga dapat berarti keterampilan, sikap, dan perilaku yang profesional yang dimiliki seseorang (Nurhadi (Ali Mudlofir : 2012 : 36).

Profesionalisme merupakan salah satu unsur yang harus dimiliki, khususnya dalam bidang kearsipan karena dalam profesionalisme terdapat tiga unsur yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan/kemampuan (Skill), dan kepribadian (attitude). Menurut Muhamad Nurdin (2010 : 116) bahwa

Pengetahuan adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh setiap orang, namun


(16)

pengetahuan tergantung pada wawasan, kepribadian dan kepekaan seseorang dalam melihat situasi dan kondisi. Kemampuan


(17)

adalah keahlian yang bermanfaat untuk jangka panjang sedangkan kepribadian adalah hasil dari sebuah proses sepanjang hidup, kepribadian bukan terjadi secara tiba-tiba akan tetapi terbentuk melalui perjuangan hidup yang sangat panjang.

Menurut R.Soebroto dalam (Irra Chrisyanti: 2011 : 12), seorang petugas arsip harus memiliki :

1. Pengetahuan

Mempunyai pengetahuan umum terutama yang bersangkutan dengan masalah surat dan arsip, mengetahui seluk beluk instansinya terutama organisasi dengan tugas dan jabatannya, dan mempunyai pengetahuan khusus tentang kearsipan.

2. Keterampilan

Mempunyai kemampuan melaksanakan teknik tata kearsipan yang sedang dijalankan.

3. Kepribadian

Mempunyai ketekunan dalam bekerja, sabar, teliti, rapi, cekatan, cerdas, jujur, loyal dan dapat menyimpan rahasia organisasi, dan lain-lain.

Peneliti mendapatkan data arsiparis sesuai jabatan fungsional yaitu arsiparis terampil dan arsiparis ahli, sebagai berikut:

Tabel 1. 1

Data Jabatan Fungsional Arsiparis Terampil dan Arsiparis Ahli

No Jumlah

Arsiparis Instansi

Jabatan Arsiparis Terampil (Pelaksana, Penyelia) Arsiparis Ahli (Pertama, Muda, Madya, Utama)

1. 14 Orang BAPUSIPDA

Jawa Barat 6 Orang 8 Orang

2. 12 Orang BAPUSIPDA

Kab.Bsndung 12 Orang -

3. 5 Orang

BAPUSIPDA Kota Bandung

4 Orang 1 Orang

Total 22 Orang 9 Orang


(18)

Data diatas merupakan data arsiparis sesuai jabatan fungsional yang sudah ditetapkan. Selain data arsiparis jabatan fungsional, peneliti pun mendapatkan data pendidikan formal yang merupakan salah satu syarat menjadi arsiparis yang profesional. Adapun data arsiparis di BAPUSIPDA, sebagai berikut:

Tabel 1. 2

Data Pendidikan Formal Arsiparis

Pendidikan Formal Jumlah Arsiparis Prosentase

SLTA 10 Orang 32 %

D3 7 Orang 23 %

S1 14 Orang 45 %

S2 - -

S3 - -

Total 31 Orang 100 %

Sumber : Data Arsiparis Pendidikan Formal

Data di atas dapat dijelaskan bahwa seluruh arsiparis di BAPUSIPDA se-Bandung Raya dilihat dari pendidikan formal yang sudah didapat belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang sudah ditentukan dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/3/M.PAN/3/2009. Bahwa setiap arsiparis harus menempuh pendidikan formal minimal D3, namun dilihat dari faktanya masih terdapat arsiparis yang menempuh pendidikan formal di bawah D3. Selain itu dilihat dari data arsiparis yang memiliki sertifikat keterampilan dalam mengetik atau komputer sesuai persyaratan menjadi arsiparis yang profesional, sebagai berikut :

Tabel 1. 3

Data Arsiparis yang memiliki sertifikat

No Kriteria Jumlah Arsiparis Prosentase


(19)

Sertifikat 2 Arsiparis yang belum

memiliki Sertifikat

23 Orang 74,2 %

Jumlah 31 Orang 100 %

Sumber : Data Arsiparis di BAPUSIPDA

Dilihat dari data kepemilikan sertifikat keterampilan mengetik atau komputer, ternyata masih banyak arsiparis yang belum memiliki sertifikat tersebut. Hal tersebut dapat menjadi salah satu gambaran bahwa arsiparis di BAPUSIPDA belum dikatakan profesional.

Berdasarkan hasil wawancara, dapat dijelaskan persyaratan yang harus diikuti oleh Arsiparis terampil adalah dengan mengikuti diklat kearsipan dengan berbagai disiplin ilmu, dan untuk persyaratan Arsiparis Ahli dengan mengikuti diklat penciptaan arsiparis ahli. Untuk perjenjangan dari Arsiparis Terampil ke tahap Arsiparis Ahli dengan mengikuti Perjenjangan Penyetaraan dengan mengikuti Pembinaan Tekhnologi. Sama halnya pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan pada pasal 20 ayat (1-6).

Namun dilihat dari fakta yang ada, tidak semua pegawai arsiparis di BAPUSIPDA se- Bandung Raya yang mengikuti persyaratan tersebut. Misalnya, dalam keterampilan menemukan kembali arsip. Seorang arsiparis yang profesional harus memiliki keterampilan dalam menemukan kembali arsip dalam waktu ½ menit untuk 1 arsip, sedangkan keterampilan pegawai arsiparis di BAPUSIPDA membutuhkan waktu 2-5 menit untuk 1 arsip dengan berbagai alasan yang menjadi hambatan utamanya.


(20)

Dapat dipersentasikan sebagai berikut :

Tabel 1. 4

Prosentase Kegiatan Pengelolaan Arsip Berdasarkan Hasil Survei

Sumber : Data Kegiatan Pengelolaan Arsip BAPUSIPDA Provinsi Jawa Barat diadaptasi oleh penulis

Berdasarkan data di atas dapat dijelaskan bahwa pegawai arsiparis di BAPUSIPDA se-Bandung Raya dilihat dari kegiatan pengelolaan arsip pun masih kurang baik terpaut hingga 60 % sesuai data yang diambil dari hasil survei yang dilakukan oleh peneliti, salah satunya termasuk ke dalam pelayanan arsip. Selain itu dalam kegiatan penataan dan penyusutan arsip masih dikatakan kurang baik, karena dilihat dari keadaan ruangan yang tidak kondusif.

No. Kegiatan Pengelolaan Arsip

Keterampilan Dalam Mengelola Arsip

Baik Kurang Baik

Jumlah

Arsiparis Prosentase

Jumlah

Arsiparis Prosentase 1. Menyimpan dan Memilih

Berbagai Macam Arsip

3 Orang 10 % 5 Orang 15 %

2. Menemukan Kembali Arsip dalam (1/2 Menit

Per 1 Arsip)

5 Orang 15 % 8 Orang 30 %

3. Menggunakan Alat yang dipergunakan dalam

kearsipan

2 Orang 5 % 2 Orang 5 %

4. Menggunakan Alat Bantu dalam Mengelola Arsip

3 Orang 10 % 3 Orang 10 %


(21)

Seorang arsiparis dituntut untuk dapat mengelola kearsipan di suatu instansi/ perusahaan. Karena dalam sebuah organisasi atau pun instansi, kebutuhan akan informasi merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Salah satu sumber informasi adalah arsip. Dengan semakin meningkatnya aktivitas dan dinamika organisasi, maka akan membawa kecenderungan bertambahnya kebutuhan akan informasi dalam mendukung proses pencapaian tujuan dalam suatu organisasi atau instansi. Dalam proses pengambilan keputusan tentunya membutuhkan data-data yang diolah menjadi informasi kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.

Berdasarkan gambaran diatas, maka pengembangan sumber daya manusia menjadi hal yang urgen. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) menjadi alternatif yang bisa dilakukan. Namun pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) jangan sampai menimbulkan kesan pemborosan. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) harus sesuai dengan kebutuhan organisasi dan mampu memotivasi pegawai untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)..

Dari penjelasan tersebut, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) khususnya di bidang kearsipan memiliki manfaat yaitu dengan bagi organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang produktif, bagi pegawai dapat meningkatkan pegetahuan,keterampilan, dan sikap arsiparis itu sendiri, serta bagi pertumbuhan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara anggota organisasi terjadinya proses komunikasi yang efektif. Sumber daya manusia yang terampil merupakan hal penting yang harus


(22)

diperhatikan karena dapat menunjang keberhasilan suatu organisasi/instansi di mana pun. Oleh karena itu, dilihat dari penjelasan latar belakang masalah dan menurut hasil wawancara kepada salah satu narasumber arsiparis ahli di BAPUSIPDA bahwa dengan adanya pendidikan dan pelatihan (Diklat) kearsipan secara efektif dapat meningkatkan profesionalisme arsiparis. Sehingga penulis tertarik untuk mengambil judul

Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan terhadap Profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya”.

1.2Identifikasi dan Perumusan Masalah

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam latar belakang masalah bahwa dalam menerapkan manajemen kearsipan yang baik dibutuhkan arsiparis yang profesional sesuai dengan ketentuan yang berlaku di organisasi/ instansi manapun.

Bertolak dari permasalahan di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana tingkat efektivitas Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan di BAPUSIPDA Se-Bandung Raya ?

2. Bagaimana tingkat Profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se-Bandung Raya ?

3. Seberapa besar Pengaruh tingkat efektivitas Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap tingkat Profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya ?


(23)

1.3Tujuan Penelitian

Sejalan dengan perumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitan ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui tingkat efektivitas Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya .

2. Untuk mengetahui tingkat Profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya.

3. Untuk Mengetahui seberapa besar Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya.

1.3Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya, baik berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis. Didalam penelitian ini penulis menetapkan beberapa kegunaan penelitian, yaitu :

1. Secara Teoritis

Diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan sumber daya manusia yang meliputi pendidikan dan pelatihan (Diklat) kearsipan serta memperluas wawasan yang berkaitan dengan profesionalisme Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya.

2. Secara Praktis

Bagi BAPUSIPDA, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan terhadap profesionalime Arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya yang


(24)

belum sesuai dengan kriteria yang ada melalui variabel-variabel yang mempengaruhinya serta pendidikan dan pelatihannya.

Bagi penulis, sebagai bahan tambahan pengetahuan dan pengalaman, sehingga dapat mengoptimalkan teori yang dimiliki untuk mencoba menganalisis fakta, data, gejala dan peristiwa yang terjadi untuk dapat ditarik kesimpulan secara objektif dan ilmu.mempengaruhi tingkat reputasi suatu organisasi, sehingga organisasi yang bersangkutan akan mengalami hambatan dalam pencapaian tujuan.


(25)

Muthia Nurul Aini, 2013

BAB III

DESAIN PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah objek yang diteliti dan dianalisis. Perspektif atau sudut pandang yang penulis gunakan untuk mengkaji profesionalisme arsiparis adalah dengan pendidikan dan pelatihan (Diklat) khususnya dalam bidang kearsipan. Objek penelitian dalam penelitian ini mengenai pengaruh pendidikan dan pelatihan (Diklat) kearsipan terhadap profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA Se-Bandung Raya.

3.2. Metode Penelitian

Dalam mengadakan suatu penelitian, peneliti terlebih dahulu harus menentukan metode yang akan digunakan, karena hal ini merupakan pedoman atau langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelitian yang akan membawa peneliti kepada suatu kesimpulan penelitian yang merupakan pemecahan dari masalah yang diteliti. Langkah-langkah dalam suatu penelitian disebut prosedur penelitian atau metode penelitian. Dalam metode penelitian akan terkandung beberapa alat serta teknik tertentu yang digunakan untuk menguji suatu hipotesis penelitian, hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh dikemukakan oleh Surakhmad (1998:131) yang menyatakan bahwa :

Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan mempergunakan teknik serta alat tertentu. Cara itu dipergunakan


(26)

setelah penyelidikmemperhitungkan kewajaran ditinjau dari penyelidikan serta dari situasi penyelidikan.


(27)

Sugiyono (2008:1) yang menyatakan bahwa : “metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu“. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei eksplanasi (explanatory survey).

Metode explanatory survey merupakan metode penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data yang diambil dari sampel dari populasi tersebut, sehingga ditemukan deskripsi dan hubungan-hubungan antar Variabel.

Menurut Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (1989:5) mengemukakan bahwa “Metode explanatory survey yaitu metode untuk menjelaskan hubungan kausal antara dua Variabel atau lebih melalui pengujian hipotesis”. Sedangkan menurut Sanapiah Faisal (2007:18) menjelaskan bahwa:

Penelitian eksplanasi yaitu suatu penelitian yang dimaksudkan untuk menemukan dan mengembangkan teori, sehingga hasil atau produk penelitiannya dapat menjelaskan kenapa atau mengapa (Variabel anteseden apa saja yang mempengaruhi) terjadinya sesuatu gejala atau kenyataan sosial tertentu.

Objek telaahan penelitian survei eksplanasi (explanatory survey) adalah untuk menguji hubungan antar Variabel yang dihipotesiskan. Pada jenis penelitian ini, jelas ada hipotesis yang akan diuji kebenarannya. Hipotesis itu sendiri menggambarkan hubungan antara dua atau lebih Variabel, untuk mengetahui apakah sesuatu Variabel berasosiasi ataukah tidak dengan Variabel lainnya, atau apakah sesuatu Variabel disebabkan/dipengaruhi ataukah tidak oleh Variabel lainnya.


(28)

Berdasarkan penjelasan dari beberapa pakar di atas, maka penulis menjelaskan bahwa metode explanatory survey cocok untuk digunakan dalam


(29)

penelitian ini, karena sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pendidikan dan pelatihan (Diklat) kearsipan terhadap profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA Se-Bandung Raya.

3.3. Operasional Variabel

Tabel 3. 1

Operasional Variabel X

No Variabel Indikator Tingkat Ukuran Skala

No. Item Angket

1. Variabel X

Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan (Pendidikan dan Pelatihan adalah suatu proses pengembangan pegawai dalam usaha membina kecakapan, keterampilan, dan kemampuan serta sikap secara lebih terarah dalam rangka pelaksanaan tugas untuk mencapai tujuan perusahaan yang ditetapkan). Mangkunegara Peserta pendidikan dan pelatihan

Tingkat intensitas kehadiran peserta diklat kearsipan

Tingkat keinginan peserta dalam mengikuti diklat kearsipan

Ordinal Ordinal 1 2,3 Waktu pelaksanaan pendidikan dan pelatihan

Tingkat frekuensi peserta mengikuti diklat kearsipan Tingkat kesesuaian pelaksanaan diklat pengelolaan arsip dengan waktu yang ditetapkan

Ordinal Ordinal 4 5 Materi Pendidikan dan Pelatihan

Tingkat kesesuaian materi yang ada pada diklat kearsipan

Ordinal 6,7

Metode Penyampaian materi

pendidikan dan pelatihan

Tingkat keakuratan metode ceramah yang digunakan saat diklat kearsipan

Tingkat keakuratan metode bimbingan yang digunakan saat diklat kearsipan

Tingkat keakuratan metode demonstrasi yang digunakan saat diklat kearsipan Ordinal Ordinal Ordinal 8 9 10


(30)

(2002 : 54) Tingkat keakuratan metode diskusi yang digunakan saat diklat kearsipan

Tingkat keakuratan metode on the job training yang digunakan saat diklat kearsipan

Ordinal Ordinal 11 12 Fasilitas dan Kelengkapan pendidikan dan pelatihan

Tingkat kelengkapan alat-alat dalam melaksanakan diklat kearsipan

Ordinal 13,14

Tabel 3. 2

Operasional Variabel Y

No Variabel Indikator Tingkat Ukuran Skala

No. Item Angket

2. Variabel Y

Profesionalisme Arsiparis

Pengetahuan adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh setiap orang, namun

pengetahuan

seseorang harus diuji dulu melalui penerapan di lapangan. Penerapan pengetahuan tergantung pada wawasan, kepribadian dan kepekaan seseorang dalam melihat situasi dan kondisi. Kemampuan adalah keahlian yang bermanfaat untuk jangka panjang Pengetahuan (Knowledge)

Tingkat Pemahaman terhadap kegiatan pengelolaan kearsipan Tingkat Pemahaman terhadap alat-alat kearsipan

Tingkat Pemahaman terhadap konsep perkembangan bidang kearsipan Ordinal Ordinal Ordinal 1 2 3 Keterampilan (Skill)

Tingkat kemampuan terhadap seluruh kegiatan tata laksana kearsipan sesuai dengan prosedur Tingkat kemampuan dalam menggunakan alat-alat kearsipan Tingkat kemampuan dalam mencari informasi Ordinal Ordinal Ordinal 4,5,6 7 8,9,10 Kepribadian (Attitude)

Tingkat kepedulian terhadap kearsipan

Tingkat kerajinan dalam menata arsip

Ordinal Ordinal

11 12


(31)

sedangkan

kepribadian adalah hasil dari sebuah proses sepanjang hidup, kepribadian bukan terjadi secara tiba-tiba akan tetapi terbentuk melalui perjuangan hidup yang sangat panjang. Muhamad Nurdin (2010 : 116)

Tingkat perhatian terhadap kerapihan surat

Tingkat ketelitian dalam

mengelola surat masuk dan surat keluar

Tingkat komitmen dalam menjaga rahasia

Tingkat tanggung jawab terhadap pekerjaan Ordinal Ordinal Ordinal Ordinal 13 14 15 16

3.4. Sumber Data

Data merupakan segala fakta dan angka yang dijdikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:148) “Data merupakan sesuatu yang sangat penting kedudukannya, karena dengan data, peneliti akan dapat : 1) Menjawab problematikanya, 2) mencapai tujuannya, 3) membuktikan hipotesisnya”.

Adapun jenis data pada penelitian ini dibedakan menjadi dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari subjek yang berhubungan langsung dengan objek penelitian, data tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah sendiri oleh peneliti. Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari subjek yang tidak berhubungan langsung dengan masalah penelitian, tapi sifatnya membantu memberikan informasi untuk bahan penelitian.

Data diperoleh dari sumber data. Adapun pengertian sumber data menurut Suharsimi Arikunto (2010:14) sebagai berikut :


(32)

Yang dimaksud dengan sumber data adalah subjek darimana data yang diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis atau lisan. Apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatan yang menjadi sumber data, sedang isi catatan adalah subjek peneliti atau peubah penelitian.

Berdasarkan pengertian diatas, maka sumber data primer pada penelitian ini yaitu arsiparis pada Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BAPUSIPDA) Se-Bandung Raya. Sedangkan sumber data sekunder yaitu berbagai literatur, karya ilmiah yang dipublikasikan, serta informasi dari instansi yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.

3.5. Populasi Penelitian

Suharsimi Arikunto (2010:115) mengemukakan bahwa “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Hal ini senada dengan Sugiyono (2012 :117) yang menyatakan bahwa “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Dari hasil penelitian sementara di dapatkan jumlah arsiparis yang ada BAPUSIPDA Kab.Bandung, Kota Bandung, dan BAPUSIPDA Provinsi Jawa Barat karena ketiga tempat tersebut terletak di daerah Bandung Raya, sehingga peneliti lebih memilih tempat yang mudah terjangkau, seperti pada tabel berikut, yaitu :


(33)

Tabel 3. 3

Daftar Arsiparis BAPUSIPDA Se- Bandung Raya No Nama Daerah Instansi Jumlah Arsiparis

1 Kab. Bandung 12

2 Kota Bandung 5

3 Provinsi Jawa Barat 14

Jumlah 31 Orang Arsiparis

Sumber : Data Arsiparis BAPUSIPDA Provinsi Jawa Barat

Berdasarkan data di atas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pegawai arsip/ arsiparis di kantor Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BAPUSIPDA) Se-Bandung Raya. Mengingat dalam penelitian ini ukuran populasi kurang dari 100 yaitu 31 orang, karena peneliti hanya mengambil jumlah arsiparis dari tiga tempat Se- Bandung Raya. Maka penulis mengambil seluruh populasi untuk dijadikan ukuran sampel penelitian sehingga penelitian ini disebut penelitian populasi (sensus).

3.6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data atau informasi merupakan prosedur dan prasyarat bagi pelaksanaan pemecahan masalah penelitian. Pengumpulan data ini diperlukan cara-cara dan teknik tertentu sehingga data dapat


(34)

dikumpulkan dengan baik. Suharsimi Arikunto (2010:150) menyatakan bahwa

“Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pengerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah”.

Untuk mendapat data yang diperlukan, maka alat atau teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

Angket

Angket adalah teknik pengumpulan data melalui penyebaran seperangkat daftar pertanyaan atau pernyataan yang harus diisi oleh responden yang menjadi anggota sampel penelitian. Bentuk angket yang digunakan berupa angket tertutup dimana responden hanya memilih alternatif jawaban yang tersedia yang dianggap perlu memberikan penjelasan atas pertanyaan dan pernyataan tersebut. Responden tidak perlu memberikan penjelasan atas pertanyaan atau pernyataan tersebut. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dengan skala sikap kategori Likert. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2005:67) bahwa : “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial”.

Tiap alternatif jawaban diberi skor sebagai berikut : Tabel 3. 4

Skala Penilaian Jawaban Angket untuk variabel X & Y


(35)

Positif Negatif

Sangat Setuju (SS) 5 1

Setuju (S) 4 2

Ragu- Ragu (RG) 3 3

Tidak Setuju (TS) 2 4

Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5

Sumber : Sugiyono (2012: 134) 3.7. Instrumen Penelitian

1. Uji Validitas Instrumen

Arikunto(2010:211)menyatakan bahwa “validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. ”Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur, sebuah item (butirsoal) dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total, skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah.

Menghitung validitas bertujuan untuk menilai ketepatan alat pengumpul data tersebut (angket) dalam mengukur penerapan manajemen kearsipan dan profesionalisme arsiparis. Pengujian alat pengumpul data pada penelitian ini dilakukan dengan cara analisis butir angket. Jika diuraikan, langkah kerja yang dilakukan dalam rangka mengukur validitas instrumen angket adalah sebagai berikut :


(36)

2) Memeriksa kelengkapan data, untuk memastikan lengkap tidaknya lembaran data yang terkumpul. Termasuk di dalamnya memeriksa kelengkapan pengisisan butir angket.

3) Memberikan skor (scoring) terhadap butir-butir yang oerlu diberi skor.

4) Membuat tabel pembantu untuk mendapat skor-skor pada butir yang diperoleh untuk setiap respondennya. Dilakukan untuk mempermudah perhitungan/pengolahan data selanjutnya.

5) Menghitung jumlah skor butir yang diperoleh oleh masing-masing responden.

6) Menghitung nilai koefisien korelasi product moment untuk setiap butir angket.

Untuk menguji validitas tiap butir angket maka skor-skor yang ada pada butir yang dimaksud (X) dikorelasikan dengan skor total (Y). Sedangkan untuk mengetahui indeks korelasi alat pengumpul data digunakan persamaan korelasi product moment dengan angka kasar yang dikemukakan oleh Pearson, yaitu :

  

 

 

2 2 2 2 -Y Y N X X N Y X XY N rxy Keterangan :

rxy : koefisien korelasi

X : skor tiap butir angket dari tiap responden Y : skor total


(37)

∑X : jumlah skor tiap butir angket dari tiap responden

∑Y : jumlah skor total seluruh butir angket dari tiap responden N : banyaknya data

7) Membandingkan nilai koefisien korelasi product moment hasil perhitungan (r hitung) dengan nilai koefisien korelasi yang terdapat dalan tabel (r tabel).

8) Membuat kesimpulan.

Nilai rhitung yang diperoleh akan dikonsultasikan dengan

harga r product moment pada tabel pada taraf signifikansi 0,05. Bila rhitung > rtabel maka item tersebut dinyatakan valid.

2. Uji Reliabilitas Instrumen

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui ketepatan suatu instrumen dan untuk menunjukkan bahwa suatu instrumen dapat dipercaya. Nana Sudjana (1996) mendefinisikan reliabilitas alat ukur sebagai “Ketepatan alat ukur dalam mengukur apa yang diukurnya, yang artinya kapan pun alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama”.

Langkah-langkah kerja yang dapat dilakukan dalam rangka menguji reliabilitas instrumen angket adalah sebagai berikut : 1) Membuat tabel pembantu untuk menempatkan skor-skor pada butir

yang diperoleh untuk setiap respondennya. Hal itu dilakukan untuk mempermudah perhitungan/pengolahan data selanjutnya.


(38)

2) Menghitung jumlah skor butir yang diperoleh oleh masing-masing responden

3) Menghitung kuadrat jumlah skor item yang diperoleh oleh masing-masing responden.

4) Menghitung jumlah skor masing-masing butir diperoleh

5) Menghitung jumlah kuadrat skor masing-masing butir yang diperoleh.

6) Menghitung varians masing-masing butir, dengan rumus:

=

Keterangan :

∑ = Varians butir

= Jumlah kuadrat skor jawaban responden dari setiap butir angket

= Kuadrat skor seluruh jawaban responden dari setiap butir angket = Banyaknya data

7) Menghitung jumlah varians butir angket (∑ )

8) Menghitung varians total, rumusnya sama dengan menghitung varians butir namun X diambil dari skor total.

=

Keterangan :

∑ = Varians total

= Jumlah kuadrat skor total seluruh jawaban responden pada


(39)

= Kuadrat skor total seluruh jawaban responden dari setiap butir angket

= Banyaknya data

9) Menghitung nilai koefisian dengan rumus alpha, yaitu :

r

11 =

            

2

2 1 1 t b k k  

Sumber : Suharsimi Arikunto(2002: 171) Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir angket

2

b

 = Jumlah variansi butir angket

2

t

 = Variansi total

10) Selanjutnya nilai rhitung di atas dibandingkan dengan rtabel pada

tingkat kepercayaan 95% dengan derajat kebebasan (dk=n-2). 11) Membuat kesimpulan

Apabila didapat nilai rhitung > rtabel maka instrumen pengumpulan

data tersebut reliable, dan jika rhitungrtabel maka instrumen

pengumpul data tersebut tidak reliabel. 3.8. Pengujian Persyaratan Analisis Data

Dalam melakukan analisis data, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum pengujian hipotesis dilakukan, terlebih dahulu harus dilakukan beberapa pengujian yaitu Uji Homogenitas dan Uji Linieritas. a. Uji Homogenitas


(40)

Persyaratan uji parametrik yang kedua adalah homogenitas data. Pengujian homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya variansi-variansi dua buah distribusi atau lebih. Uji homogenitas yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Uji Homogenitas Variansi dan Uji Burlett.

Uji homogenitas variansi digunakan untuk membandingkan dua buah peubah bebas. Kriteria uji yang digunakan adalah dua buah distribusi dikatakan memiliki penyebaran yang homogen apabila nilai hitung F lebih kecil dari nilai tabel F dengan a tertentu dan dk1 = (n1-1) dan dk2 = (n2–

1). Dalam hal lainnya distribusi tidak homogen/ berbeda. Pengujian homogenitas data dengan uji Barlett adalah untuk melihat apakah variansi-variansi k buah kelompok peubah bebas yang banyaknya data per kelompok bisa berbeda dan diambil secara acak dari data populasi masing-masing yang berdistribusi normal, berbeda atau tidak (Ruseffendi, 1998: 297).

Kriteria uji yang digunakan adalah apabila nilai hitung > nilai tabel , maka H0 yang menyatakan varians homogen ditolak, dalam hal

lainnya diterima.

Dengan bantuan Microsoft Exel (Muhidin dan Abdurahman, 2007:85), dengan rumus: ƴ2 = (In 10) [B –(∑db.logSi2)], dimana :

Si2 = Varians tiap kelompok data

dbi = n-1 = Derajat kebebasan tiap kelompok


(41)

S2 gab = Varians gabungan = S2 gab = ∑

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pengujian homogenitas dengan uji Barlett adalah :

1. Menentukan kelompok-kelompok data, dan menghitung varians untuk tiap kelompok tersebut.

2. Membuat tabel pembantu untuk memudahkan proses perhitungan, dengan model tabel sebagai berikut :

Tabel 3. 5

Model Tabel Uji Barlett

Populasi Db = n-1 S2i Log S2i Db.Log S2i Db. S2i

1 2 3 4 N

Sumber : Sambas dan Maman (2007:85)

3. Nilai χ 2hitung < nilai χ 2 tabel, Menghitung varians gabungan

4. Menghitung log dari varians gabungan 5. Menghitung nilai Barlett

6. Menghitung nilai χ 2

7. Menentukan nilai dan titik kritis pada α = 0.05 dan db = k-1, dimana k adalah banyaknya indikator.

8. Membuat kesimpulan dengan criteria sebagai berikut :

 Nilai χ 2 hitung < nilai χ 2 tabel, diterima (variansi data dinyatakan

homogen).

 Nilai χ 2 hitung ≥ nilai χ2 tabel, H0 ditolak (variasi data dinyatakan tidak


(42)

b. Uji Linieritas

Teknik analisis statistik yang didasarkan pada asumsi linieritas adalah analisis hubungan. Teknik analisis statistika yang dimaksud adalah teknik yang terkait dengan korelasi, khususnya korelasi product moment, termasuk di dalamnya teknik analisis regresi dan analisis jalur (path analysis). Dengan demikian tidak semua teknik statistic didasarkan pada asumsi ini.

Dengan demikian dapat dikemukakan juga bahwa kuatnya hubungan antara dua variabel belum tentu diikuti oleh kuatnya estimasi hubungan kedua variable tersebut. Boleh jadi kedua variabel memiliki hubungan yang kuat tetapi diestimasi oleh teknik statistika product moment, regresi, atau jalur sebagai tidak ada hubungan atau memiliki hubungan yang lemah, hanya karena pola hubungannya tidak linier.

Selanjutnya model persamaan tersebut dilakukan uji linearitas dengan langkah-langkah sebagai berikut (Ali Muhidin 2010 : 99-101) :

1. Menyusun tabel kelompok data variabel X dan variabel Y 2. Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKReg[a]) dengan rumus:

JKReg[a] = ∑

3. Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKReg[b\a]) dengan rumus:

JKReg[b\a] = b.[∑ ∑ ∑ ]

4. Menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) dengan rumus:

JKres = ∑ JKReg[b\a] - JKReg[a]

5. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi a (RJKReg[a])

dengan rumus: RJKReg[a] = JKReg[a]

6. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b/a (RJKReg[b\a])


(43)

7. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJKRes) dengan

rumus: RJKRes =

8. Menghitung jumlah kuadrat error (JKE) dengan rumus:

JKE= ∑ {∑ ∑ }

Untuk menghitung JKE urutkan data x mulai dari data yang

paling kecil sampai data yang paling besar berikut disertai pasangannya.

9. Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok (JKTC) dengan rumus:

JKTC = JKRes –JKE

10.Menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok (RJKTC)

dengan rumus: RJKTC =

11.Menghitung rata-rata jumlah kuadrat error (RJKE) dengan

rumus: RJKE =

12.Mencari nilai uji Fdengan rumus: F=

13.Menentukan kriteria pengukuran: jika nilai F < nilai table F, maka distribusi berpola linier

14.Mencari nilai Ftabel pada taraf signifikansi 95% atau = 5%

menggunakan rumus: Ftabel = F (1- ) (db TC, db) dimana db TC =

k-2 dan db E = n-k

15.Membandingkan nilai uji F dengan nilai table F kemudian membuat kesimpulan.

Oleh karena itu peneliti melakukan uji linieritas untuk kedua variabel tersebut dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Office Excel

3.9. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden terkumpul. Suharsimi Arikunto (2010:230) mengemukakan bahwa “Pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu : 1) Tahap Pengumpulan Data, 2) Tahap Editing, 3) Tahap Koding, dan 4) Tahap Tabulasi Data”.


(44)

Adapun tujuan dilakukannya analisis data antara lain : (a) mendeskripsikan data, dan (b) membuat induksi atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi, atau karakteristik populasi berdasarkan data yang diperoleh dari sampel (statistik). Untuk mencapai tujuan analisis data tersebut maka langkah-langkah atau prosedur yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Tahap mengumpulkan data, dilakukan melalui instrumen pengumpulan data.

b. Tahap editing, yaitu memeriksa kejelasan dan kelengkapan pengisian instrumen pengumpulan data.

c. Tahap koding, yaitu proses identifikasi dan klasifikasi dari setiap pertanyaan yang terdapat dalam instrumen pengumpulan data menurut Variabel-Variabel yang diteliti. Dalam tahap ini dilakukan pemberian kode atau skor untuk setiap opsi dari setiap item berdasarkan ketentuan yang ada.

d. Tahap tabulasi data, yaitu mencatat atau entri data ke dalam tabel induk penelitian. Dalam hal ini hasil koding dituangkan ke dalam tabel rekapitulasi secara lengkap untuk seluruh item setiap Variabel. Adapun tabel rekapitulasi

Tabel 3. 6

Rekapitulasi Hasil Skor Angket

Responden Skor Item Total

1 2 3 4 5 6 …. N

1. 2.


(45)

N.

Sumber : Ating dan Sambas (2006 :39)

Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan dua macam teknik yaitu teknik analisis data deskriptif dan teknik analisis data inferensial.

3.9.1. Teknik Analisis Data Deskriptif

Sambas A.Muhidin dan Maman A (2007:53) menyatakan bahwa :

Teknik analisis data penelitian secara deskriptif dilakukan melalui statistika deskriptif, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat generalisasi hasil penelitian.

Analisis data ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah. Untuk menjawab rumusan masalah no.1, dan rumusan masalah no.2, maka teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, yakni untuk mengetahui gambaran tingkat efektivitas pendidikan dan pelatihan (Diklat) kerasipan dan untuk mengetahui gambaran tingkat profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA Se-Bandung Raya.

Termasuk dalam teknik analisis data statistik deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, grafik, diagram, persentase, frekuensi, perhitungan mean, median atau modul. Untuk mempermudah dalam mendeskripsikan variabel penelitian, digunakan kriteria tertentu yang mengacu pada skor angket yang diperoleh dari responden.


(46)

Untuk mempermudah dalam mendeskripsikan variabel penelitian, digunakan kriteria tertentu yang mengacu pada rata-rata skor kategori angket yang diperoleh dari responden dengan menggunakan Skala Likert. Dapat disajikan kriteria penafsiran seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. 7

Kriteria Penafsiran Deskripsi Rentang

Kategori Skor

Penafsiran

X Y

1,00 – 1,79 Sangat Tidak Efektif Sangat Rendah

1,80 – 2,59 Tidak Efektif Rendah

2,60 – 3,39 Cukup Efektif Sedang/Cukup Tinggi

3,40 – 4,19 Efektif Tinggi

4,20 – 5,00 Sangat Efektif Sangat Tinggi

Sumber : Diadaptasi dari skor kategori Likert skala 5 (Sambas dan Maman, 2007:146)

Penelitian ini menggunakan data dalam bentuk skala ordinal seperti yang dijelaskan dalam operasional variabel. Sedangkan pengujian hipotesis menggunakan teknik statistik parametrik yang menuntut data minimal dalam bentuk interval. Dengan demikian data ordinal hasil pengukuran diubah terlebih dahulu menjadi data interval dengan menggunakan Metode Succesive Interval (MSI).

Metode Succesive Interval (MSI) dapat dioperasikan dengan salah satu program tambahan pada Microsoft Excel, yaitu Program Succesive Interval. Langkah kerja yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Input skor yang diperoleh pada lembar kerja (worksheet) Excel. 2. Klik “Analize” pada Menu Bar.

3. Klik “Succesive Interval” pada Menu Analize, hingga muncul kotak dialog “Method Of Succesive Interval”.


(47)

4. Klik “Drop Down” untuk mengisi Data Range pada kotak dialog Input, dengan cara memblok skor yang akan diubah skalanya. 5. Pada kotak dialog tersebut, kemudian check list (√ ) Input

Label in first now.

6. Pada Option Min Value isikan/pilih 1 dan Max Value isikan/pilih 5. 7. Masih pada Option, check list (√ ) Display Summary.

8. Selanjutnya pada Output, tentukan Cell Output, hasilnya akan ditempatkan disel mana. Lalu klik “OK”.

3.9.2. Teknik Analisis Data Inferensial

Statistik inferensial meliputi statistik parametris yang digunakan untuk data interval dan ratio serta statistik nonparametris yang digunakan untuk data nominal dan ordinal. Dalam penelitian ini menggunakan analisis parametris karena data yang digunakan adalah data interval. Analisis data ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah no.3 yaitu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA Se- Bandung Raya.

Adapun untuk menguji hipotesis yang datanya berbentuk interval, maka digunakan analisis regresi yang dilakukan untuk melakukan prediksi, bagaimana perubahan nilai Variabel dependen bila nilai Variabel independen dinaikkan atau diturunkan nilainya (dimanipulasi).


(48)

Dalam penelitian ini, hipotesis yang telah dirumuskan akan diuji dengan statistik parametris antara lain dengan menggunakan F-test terhadap koefisien regresi.

3.10. Pengujian Hipotesis

Untuk memperoleh gambaran mengenai ada tidaknya pengaruh antara variabel X (Pendidikan dan Pelatihan Kearsipan) terhadap variabel Y (Profesionalisme Arsiparis), maka dilakukan pengujian atas tingkat keberartian korelasi perhitungan tersebut.

Alat yang digunakan untuk meramalkan nilai pengaruh dua Variabel bebas terhadap satu Variabel terikat (untuk membuktikan ada tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara Variabel bebas terhadap suatu Variabel terikat) pada penelitian ini, maka alat yang digunakan ialah analisis regresi linier sederhana.

Langkah-langkah pengujian hipotesis ini, sebagai berikut : 3.10.1. Merumuskan Hipotesis Statistik

Permasalahan yang dirumuskan adalah: Adakah pengaruh dari pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) kearsipan terhada profesionalisme arsiparis di BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya.

Pada penelitian ini, alat yang digunakan untuk meramalkan nilai pengaruh antara variabel X dan variabel Y yaitu menggunakan analisis regresi linear sederhana. Langkah-langkah


(49)

uji keberartian regresi adalah sebagai berikut (Ating Somantri dan Sambas, 2006:245):

1. Menentukan rumus hipotesis H0 danH1 :

H0 : = 0 tidak ada pengaruh Variabel X terhadap Variabel Y

H1: ≠ 0 terdapat pengaruh Variabel X terhadap Variabel Y 2. Membuat Persamaan Regresi

Persamaan regresi sederhana menurut Sugiyono (2008;270) adalah sebagai berikut: Y= a + bX

Dimana :

Y = Variabel terikat X = Variabel bebas

a = satuan bilangan yang merupakan nilai Y jika X = 0/konstanta

b = koefisien regresi

Menurut Sugiyono (2008;272) rumus untuk menghitung nilai a dan b adalah sebagai berikut :

Harga a dihitung dengan rumus

a = ∑ ∑

∑ ∑

= Y = bX

Harga b dihitung dengan rumus

b = ∑ ∑ ∑


(50)

Y= Variabel Terikat X= Variabel Bebas

3. Uji Signifikansi Regresi

Langkah-langkah yang dilakukan untuk uji signifikansi yaitu sebagai berikut :

1) Mencari rata-rata jumlah kuadrat regresi b/a (RJK Reg [b/a]),

dengan rumus : RJKReg [b/a] = JK Reg [b/a]

2) Mencari jumlah kuadrat residu (JKRes), dengan rumus :

JKRes = ∑Y² - JK Reg [b/a] - JK Reg [a]

3) Mencari rata-rata jumlah kuadrat residu (RJKRes) dengan

rumus : RJKRes =

4) Mencari nilai Fhitung dengan rumus :

Fhitung =

5) Merencanakan nilai kritis (ɑ) yaitu 0,05 dengan derajat kebebasan untuk db res = 1 dan db res = n – 2

6) Membandingkan nilai uji F terhadap nilai Ftabel = F (1-ɑ)(db reg (b/ɑ) (dbres)

7) Membuat kesimpulan

3.10.2 Menghitung Koefisien Korelasi antara Variabel X dan Variabel Y Untuk mengetahui hubungan variabel X (pendidikan dan pelatihan kearsipan) dengan variabel Y (profesionalisme arsiparis) dicari dengan


(51)

menggunakan rumus Product Moment yang dikemukakan oleh Karl Pearson, yaitu:

∑ ∑ ∑

√ ∑ ∑ ∑ ∑

Nilai koefisien korelasi kemudian dikonsultasikan dengan tabel Guilford tentang batas-batas (r) untuk mengetahui derajat hubungan antar variabel X dan variabel Y. Maka dapat digunakan pedoman interpretasi koefisien korelasi seperti yang dituangkan dalam tabel berikut ini:

Tabel 3. 8

Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi

Besarnya nilai r Interpretasi

0,000 sampai dengan 0,199

0,200 sampai dengan 0,399 0,400 sampai dengan 0,599 0,600 sampai dengan 0,799 0,800 sampai dengan 1,000

Korelasi sangat rendah (diabaikan/dianggap tidak ada) Korelasi rendah

Korelasi sedang Korelasi tinggi

Korelasi sangat sangat tinggi Sumber: Ating Somantri dan Sambas (2006:341)

Untuk mengukur seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh Variabel pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan terhadap


(52)

profesionalisme arsiparis maka digunakan rumus koefisien determinasi (KD) yaitu, KD = r2 x 100% (Ating Somantri dan Sambas, 2006:341). Dengan r2 dicari dengan rumus sebagai berikut:

{ ∑ ∑ ∑ } ∑ ∑

Adapun dalam perhitungannya penulis menggunakan bantuan Software Microsoft Office Excel 2007.

3.10.3 Koefisien Determinasi

Agar diketahui seberapa besar kontribusi atau sumbangan atau pengaruh variabel pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan terhadap profesionalismearsiparis maka digunakan rumus koefisien determinasi (KD) sebagai berikut: KD = r2x100%

Dengan r2 dicari dengan rumus sebagai berikut:

r2 = Riduwan (2005:127)

2 2

) (

) )( (

Yi Yi

n

Yi Xi XiYi

n b

 

   


(53)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis pada BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya, untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan terhadap profesionalisme arsiparis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

a. Pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan pada BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya berada dalam kategori cukup efektif, artinya secara umum responden beranggapan bahwa pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan yang diikuti oleh seluruh arsiparis di BAPUSIPDA sudah terlaksana cukup efektif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden pada variabel X yang menunjukkan hasil yang termasuk kedalam kategori cukup efektif. Pada indikator peserta diklat, waktu pelaksanaan diklat, materi yang disampaikan saat diklat, metode penyampaian diklat serta fasilitas dan kelengkapan diklat mendapatkan tanggapan cukup efektif. Artinya masing-masing indikator berada dalam kategori cukup efektif. Hal ini membuktikan bahwa dari setiap indikator pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan sudah terencana dengan cukup efektif, namun pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan tersebut belum dilaksanakan secara optimal.


(54)

b. Profesionalisme arsiparis pada BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya dinilai cukup tinggi. Artinya


(55)

responden beranggapan bahwa arsiparis sudah cukup menjalankan tugas dan pekerjaannya sudah cukup tinggi. Pernyataan ini dapat dilihat dari jawaban responden pada variabel Y yang menunjukkan hasil yang termasuk kedalam kategori cukup tinggi. Ini berarti bahwa indikator pengetahuan tentang bidang kearsipan, keterampilan pengelolaan kearsipan, sikap dalam pelayanan kearsipan sudah dinilai cukup tinggi, namun organisasi/instansi harus terus memperhatikan arsiparisnya agar bekerja lebih baik dan tinggi.

c. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Profesionalisme arsiparis pada BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya. Artinya jika pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan pada BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya mengalami peningkatan yang lebih baik maka tingkat profesionalisme arsiparisnya akan meningkat pula begitu juga sebaliknya jika pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan pada BAPUSIPDA (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya mengalami penurunan, maka profesionalisme arsiparisnya akan menurun. Hal ini ditunjukkan dari nilai korelasi yang diperoleh menunjukkan bahwa korelasi berada pada kategori sedang atau cukup, dengan demikian menunjukkan bahwa variabel pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan memberikan pengaruh yang cukup terhadap profesionalisme arsiparis.


(56)

5.2 Rekomendasi

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis dan melihat hasil penelitian tersebut, maka penulis memberikan rekomendasi mengenai pendidikan dan peatihan (diklat) kearsipan dan profesionalisme arsiparis sebagai berikut: 1. Variabel pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan yang rendah adalah pada

indikator materi diklat. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis merekomendasikan untuk menggunakan materi kearsipan yang lebih baik dan mudah dipahami oleh para peserta dalam diklat, sehingga dapat mudah dipahami dan diterapkan oleh arsiparis dalam pekerjaan khususnya dalam bidang kearsipan.

2. Indikator sikap dalam pelayanaan kearsipan merupakan indikator terendah pada variabel profesionalisme arsiparis. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi belum optimalnya sikap dalam pelayanan kearsipan, penulis menyarankan perusahaan/instansi untuk memperhatikan kerja pegawainya. Pimpinan instansi harus memberikan instruksi yang benar dan mudah dipahami sehingga arsiparis dapat bekerja dengan memberikan pelayanan arsip secara optimal sesuai dengan yang diharapkan, sehingga saat arsip diperlukan, arsiparis dapat memberikan pelayanan yang baik.

3. Pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme arsiparis. Maka perusahaan/instansi harus senantiasa menyertakan arsiparisnya untuk mengikuti diklat yang dilaksanakan oeh kantor pusat, karena semakin banyak arsiparis yang mengikuti diklat maka semakin tinggi tingkat profesionalisme arsiparis dan


(57)

begitu juga sebaliknya, semakin sedikit arsiparis yang mengikuti diklat maka semakin rendah tingkat profesionalisme arsiparisnya.


(58)

Muthia Nurul Aini, 2013

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Syamsul. 1999. Kearsipan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelompok Bisnis dan Manajemen. Bandung: Percetakan Angkasa. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Cahayani, Ati . 2005. Strategi dan Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Indeks.

Chrisyanti, Irra. 2011. Manajemen Kearsipan. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Danim, Sudarwan. 2002. Kinerja Staf dan Organisasi. Bandung : Pustaka Setia. ______________. 2008. Kinerja Staf dan Organisasi. Bandung : Pustaka Setia. Gintings, Abdorrakhman. 2011. Esensi Praktis Manajemen Pendidikan dan

Pelatihan. Bandung : Humaniora.

HR Riyadi Suprapto dkk. 2000. Pengembangan Manajemen Sumber Daya Manusia. Artikel.

Mudlofir, Ali. 2012. Pendidik Profesional. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Muhidin, Sambas Ali. 2010. Statistika 1 Pengantar Untuk Penelitian. Bandung : Karya Andhika Utama.

Nurdin, Muhammad. 2010. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta.

Prabu, Anwar. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Samna, A.1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta :Kanisius.

Sastradipoera, Komaruddin. 2006. Pengembangan dan Pelatihan Suatu Pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung : Kappa Sigma.


(59)

Sedarmayanti. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia, Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Bandung : Refika Aditama.

Siagian, P Sondang. 1996 . Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.

________________. 2000 . Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.

Sjafri Mangkuprawira, 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik, Jakarta: PT Ghalia. Indonesia.

Simamora, Henry. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi III. Yogyakarta : Aditya Media.

Sirait, Justine. 2007 . Manajemen Pendidikan dan Pelatihan. Bandung : Humaniora.

Somantri, Ating dan Ali Muhidin, S. (2006). Aplikasi Statistik dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.

Sugiyono. 2007. Metode penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung : Alfabeta.

________. 2012. Metode penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung : Alfabeta.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.

Sutrisno, Ahmad. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung : Kappa Sigma.

Tua, Marihot. 2002. Konsep Pendidikan dan Pelatihan. Bandung : Aditama. Tjutju Yuniarsih dan Suwatno. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Bandung : Alfabeta.

Ukas, Maman. 2007. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung: Ossa Promo.

Umam, Khaerul. 2011. Manajemen Organisasi. Bandung : Pustaka Setia. Sumber-Sumber Lain :

1. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor : PER/3/M.PAN/3/2009 Tentang Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka Kreditnya.


(60)

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan.


(61)

(1)

Muthia Nurul Aini, 2013

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di Bapusipda (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu 5.2 Rekomendasi

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis dan melihat hasil penelitian tersebut, maka penulis memberikan rekomendasi mengenai pendidikan dan peatihan (diklat) kearsipan dan profesionalisme arsiparis sebagai berikut: 1. Variabel pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan yang rendah adalah pada

indikator materi diklat. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis merekomendasikan untuk menggunakan materi kearsipan yang lebih baik dan mudah dipahami oleh para peserta dalam diklat, sehingga dapat mudah dipahami dan diterapkan oleh arsiparis dalam pekerjaan khususnya dalam bidang kearsipan.

2. Indikator sikap dalam pelayanaan kearsipan merupakan indikator terendah pada variabel profesionalisme arsiparis. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi belum optimalnya sikap dalam pelayanan kearsipan, penulis menyarankan perusahaan/instansi untuk memperhatikan kerja pegawainya. Pimpinan instansi harus memberikan instruksi yang benar dan mudah dipahami sehingga arsiparis dapat bekerja dengan memberikan pelayanan arsip secara optimal sesuai dengan yang diharapkan, sehingga saat arsip diperlukan, arsiparis dapat memberikan pelayanan yang baik.

3. Pendidikan dan pelatihan (diklat) kearsipan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme arsiparis. Maka perusahaan/instansi harus senantiasa menyertakan arsiparisnya untuk mengikuti diklat yang dilaksanakan oeh kantor pusat, karena semakin banyak arsiparis yang mengikuti diklat maka semakin tinggi tingkat profesionalisme arsiparis dan


(2)

125

Muthia Nurul Aini, 2013

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di Bapusipda (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

begitu juga sebaliknya, semakin sedikit arsiparis yang mengikuti diklat maka semakin rendah tingkat profesionalisme arsiparisnya.


(3)

Muthia Nurul Aini, 2013

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di Bapusipda (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Syamsul. 1999. Kearsipan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelompok Bisnis dan Manajemen. Bandung: Percetakan Angkasa. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Cahayani, Ati . 2005. Strategi dan Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Indeks.

Chrisyanti, Irra. 2011. Manajemen Kearsipan. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Danim, Sudarwan. 2002. Kinerja Staf dan Organisasi. Bandung : Pustaka Setia. ______________. 2008. Kinerja Staf dan Organisasi. Bandung : Pustaka Setia. Gintings, Abdorrakhman. 2011. Esensi Praktis Manajemen Pendidikan dan

Pelatihan. Bandung : Humaniora.

HR Riyadi Suprapto dkk. 2000. Pengembangan Manajemen Sumber Daya Manusia. Artikel.

Mudlofir, Ali. 2012. Pendidik Profesional. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Muhidin, Sambas Ali. 2010. Statistika 1 Pengantar Untuk Penelitian. Bandung : Karya Andhika Utama.

Nurdin, Muhammad. 2010. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta.

Prabu, Anwar. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Samna, A.1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta :Kanisius.

Sastradipoera, Komaruddin. 2006. Pengembangan dan Pelatihan Suatu Pendekatan Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung : Kappa Sigma.


(4)

126

Muthia Nurul Aini, 2013

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di Bapusipda (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Sedarmayanti. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia, Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil. Bandung : Refika Aditama.

Siagian, P Sondang. 1996 . Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.

________________. 2000 . Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.

Sjafri Mangkuprawira, 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik, Jakarta: PT Ghalia. Indonesia.

Simamora, Henry. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi III. Yogyakarta : Aditya Media.

Sirait, Justine. 2007 . Manajemen Pendidikan dan Pelatihan. Bandung : Humaniora.

Somantri, Ating dan Ali Muhidin, S. (2006). Aplikasi Statistik dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.

Sugiyono. 2007. Metode penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung : Alfabeta.

________. 2012. Metode penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung : Alfabeta.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.

Sutrisno, Ahmad. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung : Kappa Sigma.

Tua, Marihot. 2002. Konsep Pendidikan dan Pelatihan. Bandung : Aditama. Tjutju Yuniarsih dan Suwatno. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Bandung : Alfabeta.

Ukas, Maman. 2007. Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung: Ossa Promo.

Umam, Khaerul. 2011. Manajemen Organisasi. Bandung : Pustaka Setia.

Sumber-Sumber Lain :

1. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor : PER/3/M.PAN/3/2009 Tentang Jabatan Fungsional Arsiparis dan Angka Kreditnya.


(5)

Muthia Nurul Aini, 2013

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di Bapusipda (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan.


(6)

128

Muthia Nurul Aini, 2013

Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Kearsipan Terhadap Profesionalisme Arsiparis Di Bapusipda (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah) Se-Bandung Raya