bab iv v REGE

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Jalannya Penelitian

  Penelitian ini dilakukan terhadap ibu nifas di wilayah Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau. Tahap persiapan meliputi : konsultasi dengan pembimbing, studi pustaka untuk menemukan penelitian di lapangan, melakukan survey awal, merumuskan masalah yang ditemukan di tempat penelitian, melakukan penyusunan metode penelitian dan instrumen penelitian.

  Selanjutnya penelitian ini diawali dengan pengurusan izin ke instansi pendidikan, peneliti kemudian melanjutkan permohonan izin ke Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pindu (DPMPTSP) Kota Lubuklinggau, setelah itu diteruskan ke Dinas Kota Lubuklinggau untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau sebagai tempat dilakukannya penelitian.

  Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada ibu nifas yang berada di wilayah kerja Puskesmas Lubuklinggau. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 18 Juni sampai dengan 18 Juli 2018, sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total sampling yang berjumlah 55 orang ibu nifas. Setelah data terkumpul, dilakukan editing data untuk memastikan bahwa data yang diperoleh benar-benar sesuai, selanjutnya univariat yaitu untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel baik variabel bebas maupun variabel terikat dan analisis bivariat yaitu untuk menguji hipotesis antara variabel independent dengan variabel dependent dengan menggunakan sistem komputerisasi.

2. Analisis Univariat

  Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan distribusi frekuensi pengetahuan, sikap dan dukungan petugas kesehatan sebagai variabel independen serta inisiasi menyusu dini sebagai variabel dependen. Setelah penelitian dilaksanakan maka diperoleh data sebagai berikut : a. Distribusi Frekuensi pelaksanaan IMD Tabel 2.

  Distribusi Frekuensi pelaksanaan IMD pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan No Inisiasi Menyusu Dini Frekuensi Persentase (%)

  1 Tidak 35 63,6

  2 Ya 20 36,4 Jumlah 55 100,0

  Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini yaitu sebanyak 35 orang (63,6%).

  Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu tentang pelaksanaan IMD pada

  Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  No Pengetahuan Ibu Frekuensi Persentase (%)

  1 Kurang 31 56,4

  2 Cukup 14 25,5

  3 Baik 10 18,2 Jumlah 55 100,0

  Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 31 orang (56,4%).

  c. Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Tabel 4.

  Distribusi Frekuensi Sikap Ibu tentang pelaksanaan IMD pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera

  Selatan No Sikap Frekuensi Persentase (%)

  1 Negatif 29 52,7

  2 Positif 26 47,3 Jumlah 55 100,0

  Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang mempunyai sikap negatif yaitu sebanyak 29 orang (52,7%).

  d. Distribusi Frekuensi Dukungan Petugas Kesehatan

  Distribusi Frekuensi Dukungan Petugas terhadap Ibu tentang pelaksanaan

  IMD pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  No Dukungan Petugas Kesehatan Frekuensi Persentase (%)

  1 Tidak Mendukung 37 67,3

  2 Mendukung 18 32,7 Jumlah 55 100,0

  Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang petugas kesehatannya tidak memberikan dukungan yaitu sebanyak 37 orang (67,3%).

3. Analisis Bivariat

  a. Hubungan pengetahuan ibu dengan praktek Inisiasi Menyusu Dini Tabel 6.

  Hubungan pengetahuan ibu dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018

  Inisiasi Menyusu Dini Total

  Tidak Ya  Pengetahuan

  ρ C F % F % F %

  Kurang 26 83,9 5 16,1 31 100 Cukup 7 50,0 7 50,0 14 100 14,839 0,001 0,461

  Baik 2 20,0 8 80,0 10 100 Berdasarkan tabel silang antara pengetahuan dengan inisiasi menyusu dini di atas diketahui bahwa dari 31 orang yang berpengetahuan kurang terdapat 26 orang (83,9%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 5 orang (16,1%) yang memberikan inisiasi menyusu dini, dari 14 orang yang berpengetahuan cukup terdapat 7 orang (50,0%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 7 orang (50,0%) yang berpengetahuan baik terdapat 2 orang (20,0%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 8 orang (80,0%) yang memberikan inisiasi menyusu dini.

  Setelah dilakukan uji statistik dengan Pearson Chi-square, maka

  2

  diperoleh nilai  = 14,839 dengan  = 0,001 <  (0,05) berarti signifikan, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti ada hubungan pengetahuan ibu tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018.

  Hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C = 0,461 dengan ρ = 0,001 < α = 0,05 berarti signifikan, maka dapat diketahui bahwa nilai C = 0,461 tersebut tidak terlalu jauh dengan nilai C = 0,707, yang berarti

  max

  bahwa hubungan pengetahuan ibu dengan praktek menyusu dini termasuk ke dalam kategori hubungan sedang.

  b. Hubungan sikap ibu dengan praktek Inisiasi Menyusu Dini Tabel 7.

  Hubungan sikap ibu dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018

  Inisiasi Menyusu Dini

  Total Sikap  ρ C OR

  Tidak Ya F % F % F %

  Negatif 25 86,2 4 13,8 29 100 11,521 0,001 0,444 10,000

  Positif 10 38,5 16 61,5 26 100 Berdasarkan tabel silang antara sikap ibu dengan inisiasi menyusu terdapat 25 orang (86,2%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 4 orang (13,8%) yang memberikan inisiasi menyusu dini, sedangkan dari 26 orang yang mempunyai sikap positif terdapat 10 orang (38,5%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 16 orang (61,5%) yang memberikan inisiasi menyusu dini

  Setelah dilakukan uji statistik dengan continuity correction, maka

  2

  diperoleh nilai  = 11,521 dengan  = 0,001 <  (0,05) berarti signifikan, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti ada hubungan sikap ibu dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018.

  Hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C = 0,444 dengan ρ = 0,001 < α = 0,05 berarti signifikan, maka dapat diketahui bahwa nilai C = 0,444 tersebut tidak terlalu jauh dengan nilai C = 0,707, yang berarti

  max

  bahwa hubungan sikap ibu dengan praktek menyusu dini termasuk ke dalam kategori hubungan sedang.

  Hasil uji Risk Estimate diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 10,000, hal ini berarti bahwa ibu yang mempunyai sikap negatif kemungkinan untuk tidak memberikan inisiasi menyusu dini sebesar 10 kali lipat jika dibandingkan dengan ibu yang mempunyai sikap positif.

  c. Hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan praktek Inisiasi Menyusu Dini

  Tabel 8. Hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau

  Tahun 2018 Inisiasi Menyusu

  Dukungan Dini Total

   Tenaga

  ρ C OR Tidak Ya

  Kesehatan F % F % F %

  Tidak 29 78,4 8 21,6 37 100 Mendukung

  8,760 0,003 0,402 7,250 Mendukung 6 33,3 12 66,7 18 100

  Berdasarkan tabel silang antara dukungan tenaga kesehatan dengan inisiasi menyusu dini di atas diketahui bahwa dari 37 orang yang tidak mendapat dukungan dari tenaga kesehatan terdapat 29 orang (78,4%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 8 orang (21,6%) yang memberikan inisiasi menyusu dini, sedangkan dari 18 orang yang mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan terdapat 6 orang (33,3%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini dan 12 orang (66,7%) yang memberikan inisiasi menyusu dini.

  Setelah dilakukan uji statistik dengan continuity correction, maka

  2

  diperoleh nilai  = 8,760 dengan  = 0,003 <  (0,05) berarti signifikan, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti ada hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018.

  Hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C = 0,402 dengan ρ = 0,001 < α = 0,05 berarti signifikan, maka dapat diketahui bahwa nilai C = 0,402 tersebut tidak terlalu jauh dengan nilai C max = 0,707, yang berarti bahwa hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan praktek menyusu dini termasuk ke dalam kategori hubungan sedang.

  Hasil uji Risk Estimate diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 7,250, hal ini berarti bahwa ibu yang tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan kemungkinan untuk tidak memberikan inisiasi menyusu dini sebesar 7,250 kali lipat jika dibandingkan dengan ibu yang mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan.

B. Pembahasan

  

1. Gambaran pelaksanaan IMD pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja

Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 responden, jumlah terbanyak merupakan responden yang tidak mempraktekkan pemberian inisiasi menyusu dini yaitu 63,6%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu nifas belum memiliki kemauan dan motivasi yang besar untuk melakukan inisiasi menyusu dini kurang dari 1 jam setelah melahirkan pada bayinya.

  Hasil penelitian juga diperoleh responden telah mempraktekkan pemberian inisiasi menyusu dini kurang dari 1 jam setelah melahirkan yaitu sebanyak 36,4%. Ibu nifas yang telah mempraktekkan pemberian inisiasi menyusu dini menunjukkan bahwa ibu telah mempunyai kepedulian dan kesadaran mengenai pentingnya memberikan inisiasi menyusu dini sebelum bayi berusia 1 jam pasca kelahiran.

  Menurut Kemenkes R (2014), inisiasi menyusu dini (early initation) dengan cara kontak kulit antara bayi dengan ibunya segera setelah lahir dan berlangsung minimal satu jam atau proses menyusu pertama selesai (apabila proses menyusu pertama lebih dari satu jam). Selain itu inisiasi mempunyai banyak keuntungan, hal ini dikarenakan pada waktu inisiasi menyusu dini tubuh bayi menempel pada dada ibu. Suhu dada ibu yang baru bersalin dapat meneysuaikan dengan suhu tubuh bayi. Jika bayi ekdinginan, suhu dada ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayi sehingga dapat mencegah risiko hipotermia. Jika bayi kepanasan, suhu dada ibu otomatis turun satu derajat untuk mendingikan bayi.

  Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Haerunnisa (2012) tentang gambaran pelaksanaan inisiasi menyusu dini di Rumah Sakit Ibu dan Anak Pertiwi Makassar yang menunjukkan bahwa pelaksanaan inisiasi menyusu di RSA Pertiwi Makassar dari 30 persalinan hanya 3 persalinan (10%) yang melakukan IMD sedangkan 27 persalinan (90%) tidak melakukan IMD.

  

2. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang pelaksanaan IMD pada Bayi Baru

Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari 55 ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau sebagian besar yang mempunyai pengetahuan tergolong kurang tentang pelaksanaan IMD pada bayi baru lahir yaitu berjumlah 31 orang (56,4%). Hal ini berarti bahwa masih banyak ibu nifas yang belum mengetahui mengenai pentingnya mempraktekkan pemberian

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu belum memperoleh informasi tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini yang ditunjukkan dengan pengetahuan yang kurang. Pengetahuan ibu yang kurang ini disebabkan oleh berbagai faktor yaitu pendidikan, informasi atau media masa, sosial budaya dan ekonomi, faktor lingkungan, pengalaman dan usia ibu. Tingkat pendidikan ibu yang tergolong rendah yaitu hanya berpendidikan SD dan SMP mengakibatkan ibu lebih sulit untuk menyerap pengetahuan. Status sosial ekonomi yang tergolong endah mengakibatkan ibu tidak mempunyai fasilitas yang cukup untuk mengakses informasi.

  Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

  Pengetahuan (Knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “What”. Pengetahuan biasanya berkaitan erat dengan tingkat pendidikan. Pengetahuan yang baik sangat mempengaruhi pola pikir seseorang, karena semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin tinggi pula kemampuan dan kesadaran mereka dalam menerima informasi serta menerapkannya dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan sendirinya pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek sehingga dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang yang diketahui tersebut.

  Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh menyusu dini (IMD) di Desa Gempol Pading Kecamatan Pucuk Lamongan yang menunjukkan bahwa kebanyakan responden berpengetahuan kurang yaitu 6 ibu bersalin (50%) responden yang berada di BPS Yusfa F.Zuhdi, Amd. Keb. di Desa Gempol pading Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan.

  

3. Gambaran Sikap Ibu tentang pelaksanaan IMD pada Bayi Baru Lahir di

wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari 55 ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau sebagian besar yang mempunyai sikap yang negatif tentang pelaksanaan IMD pada bayi baru lahir yaitu berjumlah 29 orang (52,7%). Hal ini berarti bahwa masih banyak ibu nifas yang mempunyai sikap yang tidak mendukung dalam pelaksanaan inisiasi menyusu dini dalam 1 jam pertama kehidupan bayi baru lahir.

  Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sikap yang negatif mengindikasikan bahwa faktor pembentukan sikap ibu untuk pemberian inisiasi menyusu dini kurang kondusif untuk membentuk sikap ibu dalam pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Hal ini juga berhubungan dengan pengetahuan responden yang kurang baik tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Sikap yang negatif terhadap pelaksanaan inisiasi menyusu dini dalam 1 jam kehidupan pasca kelahiran akan berdampak pada bayi dan ibu seperti lambatnya pengeluaran kolostrum yang penting untuk kelangsungan hidupnya.

  Kolostrum kaya akan zat kekebalan tubuh terhadap infeksi. Kolostrum juga mengandung faktor pertumbuhna yang membantu mematangkan lapisan

  Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ernawati (20173) tentang hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini (IMD) di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta yang menunjukkan bahwa terdapat 18 orang (20,9%) yang mempunyai sikap yang negatif tentang inisiasi menyusu dini.

  

4. Gambaran dukungan petugas kesehatan terhadap ibu tentang

pelaksanaan IMD pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa dari 55 responden, jumlah tertinggi terdapat pada responden yang tidak mendapatkan dukungan dari petugas kesehatan yaitu sebanyak 67,3%. Hal ini berarti bahwa dukungan yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada ibu pada saat menghadapi masa nifas masih dirasakan kurang ditunjukkan dari pernyataan ibu dalam kuesioner yang lebih banyak memilih tidak dalam jawaban kuesionernya mengenai dukungan petugas kesehatan.

  Petugas kesehatan mempunyai peran besar dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menolong dirinya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Petugas kesehatan juga berperan pada pengembangan masyarakat di bidang kesehatan. Peranan tenaga kesehatan ini memberi tahu pentingnya pelaksanaan inisiasi menyusu dini, kerugian apabila tidak dilakukan inisiasi menyusu dini dan manfaat bagi ibu dan bayi bila inisiasi menyusu dini dilakukan pada saat 1 jam pertama kehidupan bayi.

  Sikap petugas kesehatan dari berbagai tingkat pelayanan petugas kesehatan yang kurang mengikuti perkembangan ilmu dokter tentang praktek

  IMD dan pemberian kolostrum serta ASI terdapat kecenderungan pelayanan petugas kesehatan yang kurang menggembirakan terutama penanggung jawab ruang bersalin dan perawatan di rumah sakit yang belum mengupayakan agar ibu bersalin mampu memberikan kolostrum kepada bayinya, melainkan langsung memberikan susu botol kepada bayi baru lahir. Dukungan tenaga kesehatan pada pelaksanaan IMD tentu saja bergantung pada pengetahuan dan keterampilan mereka tentang proses IMD itu sendiri. Keterampilan teknis yang baik kemudian akan mendorong sikap yang positif di antara tenaga kesehatan untuk melakukan IMD

  Hasil penelitian ini Raharjo (2014) tentang profil ibu dan peran bidan dalam praktik inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif yang menunjukkan bahwa peran bidan dalam program inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif yang masih tergolong kurang terdapat 94 orang (47,0%).

  

5. Hubungan pengetahuan ibu tentang inisiasi menyusu dini dengan IMD

pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil uji statistik dengan Pearson Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil tabulasi silang antara pengetahuan dengan inisiasi menyusu dini yaitu dari 31 orang yang berpengetahuan kurang terdapat orang yang berpengetahuan baik terdapat 8 orang (80,0%) yang memberikan inisiasi menyusu dini.

  Hasil penelitian juga terlihat 5 orang (16,1%) responden yang mempunyai pengetahuan kurang tetapi melaksanakan inisiasi menyusu dini.

  Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa selain pengetahuan masih terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi seseorang agar mau melaksanakan inisiasi menyusu dini. Tindakan responden melaksanakan inisiasi menyusu dini dikarenakan responden telah mempunyai sikap yang positif dalam pemberian inisiasi menyusu dini, selain itu responden juga mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan agar mau melaksanakan inisiasi menyusu dini pada saat 1 jam pertama kehidupan bayi.

  Hasil penelitian ini juga ditemukan dari 2 orang (20,0%) yang berpengetahuan baik tetapi tidak melakukan inisiasi menyusu dini. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan ibu dalam pemberian inisiasi menyusu dini, melainkan terdapat juga faktor lain yang ikut berperan dalam pelaksanaan inisiasi menyusu dini, seperti ibu mengalami masalah dalam menyusui sehingga ibu tidak bisa memberikan ASInya ketika bayi sedang membutuhkan.

  Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa terbentuknya suatu perilaku pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif, dalam arti si subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya, sehingga menemukan pengetahuan baru pada subjek tertentu. Selanjutnya menimbulkan respon batin yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut, akan menimbulkan respon yang lebih jauh lagi, yaitu berupa tindakan atau sehubungan dengan stimulus yang diterima oleh subjek dapat langsung menimbulkan tindakan. Dimana seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makna stimulus yang diterimanya dengan kata lain, tindakan seseorang tidak harus disadari oleh pengetahuan atau sikap. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang suatu hal akan menghambat perkembangan aktifitas seseorang terhadap perubahan hidup sehat.

  Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohamad (2015) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini oleh bidan di Rumah Sakit Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini.

  

6. Hubungan sikap ibu tentang inisiasi menyusu dini dengan IMD pada Bayi

Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil uji statistik dengan Pearson Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan sikap ibu tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil tabulasi silang antara sikap dengan inisiasi menyusu dini yaitu dari 29 orang yang mempunyai sikap negatif terdapat 25 orang (86,2%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu, sedangkan dari 26 orang yang mempunyai sikap positif

  Hasil penelitian juga terlihat 4 orang (13,8%) responden yang mempunyai sikap yang negatif tetapi melaksanakan inisiasi menyusu dini.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain sikap masih terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi seseorang agar mau melaksanakan inisiasi menyusu dini. Tindakan responden melaksanakan inisiasi menyusu dini dikarenakan responden telah mempunyai pengetahuan yang baik dalam pemberian inisiasi menyusu dini sehingga mengetahui mengenai pentingnya dilakukan inisiasi menyusu dini pada 1 jam pertama kehidupan bayi Selain itu responden juga mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan agar mau melaksanakan inisiasi menyusu dini pada saat 1 jam pertama kehidupan bayi.

  Hasil penelitian ini juga ditemukan dari 10 orang (38,5%) yang mempunyai sikap yang positif tetapi tidak melakukan inisiasi menyusu dini.

  Hal ini menunjukkan bahwa sikap juga bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan ibu dalam pemberian inisiasi menyusu dini, melainkan terdapat juga faktor lain yang ikut berperan dalam pelaksanaan inisiasi menyusu dini, seperti ibu mengalami masalah dalam menyusui sehingga ibu tidak bisa memberikan ASInya ketika bayi sedang membutuhkan dan kurangnya dukungan dari keluarga khususnya suami serta tenaga kesehatan untuk mendorong ibu agar mau memberikan inisiasi menyusu dini sesegera mungkin.

  Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (2010) yang menyatakan bahwa terbentuknya suatu perilaku pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif, dalam arti si subjek tahu terlebih dahulu terhadap pengetahuan baru pada subjek tertentu. Selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap si subjek terhadap objek yang diketahuinya. Dan objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut, akan menimbulkan respon yang lebih jauh lagi, yaitu berupa tindakan atau sehubungan dengan stimulus yang diterima oleh subjek dapat langsung menimbulkan tindakan. Dimana seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa terlebih dahulu mengetahui makna stimulus yang diterimanya dengan kata lain, tindakan seseorang tidak harus disadari oleh pengetahuan atau sikap. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang suatu hal akan menghambat perkembangan aktifitas seseorang terhadap perubahan hidup sehat.

  Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Azwar (2011) yang menyatakan bahwa kecenderungan tindakan pada kondisi sikap yang baik adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu, sedangkan kecenderungan tindakan pada sikap negatif adalah menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak pada objek secara spesifik (Azwar, 2011).

  Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohamad (2015) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini oleh bidan di Rumah Sakit Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini.

  

7. Hubungan dukungan tenaga kesehatan tentang inisiasi menyusu dini

dengan IMD pada Bayi Baru Lahir di wilayah kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan

  Berdasarkan hasil uji statistik dengan Pearson Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan tenaga kesehatan tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018. Hal ini juga ditunjukkan dari hasil tabulasi silang antara dukungan tenaga kesehatan dengan inisiasi menyusu dini yaitu dari 37 orang yang tidak mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan terdapat 29 orang (78,4%) yang tidak memberikan inisiasi menyusu, sedangkan dari 18 orang yang mendapatkan dukungan tenaga kesehatan terdapat 12 orang (66,7%) yang memberikan inisiasi menyusu dini.

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 37 orang yang tidak mendapatkan dukungan tenaga kesehatan terdapat 21,6% yang melaksanakan inisiasi menyusu dini. Hal ini dikarenakan ibu telah mempunyai tingkat pengetahuan yang baik mengenai pentingnya untuk melakukan inisiasi menyusu dini, selain itu responden juga memiliki pengalaman yang banyak mengenai pentingnya untuk melaksanakan inisiasi menyusu dini, sikap ibu yang positif juga berperan terhadap tindakan ibu dalam melaksanakan inisiasi menyusu dini.

  Berdasarkan hasil penelitian juga ditemukan dari 6 orang yang mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan tetapi tidak melaksanakan inisiasi menyusu dini. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan tenaga kesehatan bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan ibu dalam pemberian dalam pelaksanaan inisiasi menyusu dini, seperti ibu mengalami masalah dalam menyusui sehingga ibu tidak bisa memberikan ASInya ketika bayi sedang membutuhkan dan kurangnya dukungan dari keluarga khususnya suami serta tenaga kesehatan untuk mendorong ibu agar mau memberikan inisiasi menyusu dini sesegera mungkin, tingkatan pengetahuan ibu yang kurang mengenai pentingnya melaksanakan inisiasi menyusu dini, serta adanya sikap ibu yang negatif terhadap pelaksanaan inisiasi menyusu dini.

  Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Sardjono (2008) dan Prasetyono (2009) yang menyatakan bahwa sumber daya masyarakat kesehatan (SDM Kesehatan) atau tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan membuat beberapa tenaga medis yang membantu persalinan pada saat itu merasa kasihan dan tidak segera melakukan atau memberikan bayinya. Hal ini sangatlah tidak dianjurkan, dalam kondisi ibu yang cukup lelah tetapi bayi tetap diberikan pada ibu dan segera dilakukan proses IMD.

  Keluarnya oksitoksin saat kontak kulit ke kulit serta saat bayi menyusu dini membantu menenangkan ibunya.

  Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Heryanto (2016) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dukungan keluarga dan dukungan dari tenaga kesehatan dengan inisiasi menyusu dini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang

  berhubungan dengan IMD pada bayi baru lahir di wilayah kerja puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang tidak memberikan inisiasi menyusu dini yaitu sebanyak 35 orang (63,6%).

  2. Dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu sebanyak 31 orang (56,4%).

  3. Dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang mempunyai sikap negatif yaitu sebanyak 29 orang (52,7%)

  4. Dari 55 responden, jumlah terbanyak terdapat pada responden yang petugas kesehatannya tidak memberikan dukungan yaitu sebanyak 37 orang (67,3%).

  5. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018.

  6. Ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018.

  7. Ada hubungan yang signifikan antara dukungan tenaga kesehatan tentang pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan praktek IMD pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Megang Kota Lubuklinggau Tahun 2018.

B. Saran

  1. Bagi STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu

  Diharapkan mahasiswa khususnya jurusan kebidanan agar dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai referensi untuk meningkatkan pengetahuan mengenai hubungan faktor-faktor yang berperan dalam pelaksanan inisiasi menyusu dini sehingga nantinya dapat menerapkan pengetahuan yang diperolehnya tersebut pada saat melakukan pelayanan kesehatan di masyarakat.

  2. Bagi Puskesmas

  Diharapkan kepada pihak puskesmas, khususnya bidan, untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat, khususnya tentang pentingnya pelaksanaan inisiasi menyusu melalui pelatihan, memberikan promosi kesehatan sejak masa kehamilan sehingga ketika nantinya akan meningkatkan kesadaran ibu tentang pentingnya melaksanakan inisiasi menyusu dini.

  3. Bagi Peneliti Lain

  Diharapkan kepada peneliti lain agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor lain yang dapat berhubungan dengan inisiasi menyusu dini seperti pendidikan, sosial ekonomi, pekerjaan dan dukungan keluarga.