Makalah Asas dan Landasan Pendidikan

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT Tuhan seru sekalian
alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penyusun
dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Landasan dan Asas Pendidikan”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs Sambira
Mambela, M.pd selaku dosen pembimbing Pengantar Pendidikan yang telah
memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini, serta, dan rekan-rekan mahasiswa Universitas PGRI Adi Buana yang selalu
berdoa dan memberikan motivasi kepada penyusun.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangankekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penyusun berharap
kerangka acuan makalah ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada
para pembaca pada umumnya dan pada penyusun pada khusunya

Surabaya, Juni 2012

Penyusun

2

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... ii
1.

2.

PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.1.

Latar Belakang............................................................................................. 1

1.2.

Rumusan Masalah........................................................................................ 1

1.3.

Tujuan Penulisan.......................................................................................... 2

KAJIAN TEORI................................................................................................... 3
2.1.

Pengertian Pendidikan.................................................................................. 3

2.2.

Pengertian Landasan Pendidikan...................................................................4

Fungsi Landasan Pendidikan................................................................................ 5
2.3.
3.

PEMBAHASAN.................................................................................................. 6
3.1.

Landasan Pendidikan di Indonesia..................................................................6

3.1.1.

Landasan Filosofi Pendidikan..................................................................6

3.1.2.

Landasan Sosiologis.............................................................................. 8

3.1.3.

Landasan Kultural.................................................................................. 9

3.1.4.

Landasan Psikologis............................................................................. 10

3.1.5.

Landasan Ilmiah.................................................................................. 10

3.1.6.

Landasan Yuridis / Hukum Pendidikan di Indonesia...................................12

3.1.7.

Landasan Religius................................................................................ 13

3.2.

4.

Pengertian Asas Pendidikan..........................................................................5

Asas-Asas Pendidikan Indonesia..................................................................13

3.2.1.

Asas Tut Wuri Handayani......................................................................14

3.2.2.

Asas Kemandirian dalam Belajar............................................................15

3.2.3.

Asas Belajar sepanjang Hayat...............................................................16

PENUTUP....................................................................................................... 17
3.1.

Kesimpulan............................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 18

3

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sestematik-sistemik selalu bertolak dari
sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah landasan serta mengindahkan
sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena
pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan
masyarakat suatu bangsa tertentu.
Beberapa diantara landasan pendidikan tersebut adalah landasan filosofi,
sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam
menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan
mendorong pendidikan itu menjemput masa depan. Kajian berbagai landasan
landasan pendidikan itu akan membentuk wawasan yang tepat tentang pendidikan.
Dengan wawasan dan pendidikan yang tepat, serta dengan menerapkan
asa-asas pendidikan yang tepat pula, akan dapat memberi peluang yang lebih
besar dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan yang tepat
wawasan. Sehingga akan memberikan perspektif yang lebih luas terhadap
pendidikan, baik dalam aspek konseptual maupun operasional.
Dalam Bab III, akan dipusatkan pada paparan dalam berbagai landasan dan
asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya.
Landasan tersebut adalah filosofis, kultural, psikologis, serta ilmiah dan teknologi.
Sedangkan asas yang dikaji adalah asas Tut Wuri Handayani, belajar sepanjang
hayat, dan kemandirian dalam belajar.
Pengkajian tentang landasan dan asas pendidikan tersebut selalu diarahkan
pula pada upaya dan permasalahan penerapannya.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis membatasi dengan hanya
mengkaji masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Landasan Pendidikan?
2. Bagaimana Asas-asas Pendidikan?

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

3. Bagaimana Penerapan Asas-asas Pendidikan?

1.3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dibuat tujuan masalah sebagai
berikut:
1. Menjelaskan Landasan Pendidikan
2. Menjelaskan Asas-asas Pendidikan
3. Menjelaskan Penerapan Asas-asas Pendidikan

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

2. KAJIAN TEORI
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan sebagai gejala universal, merupakan suatu keharusan bagi
manusia,

karena

selain

pendidikan

sebagai

gejala,

juga

sebagai

upaya

memanusiakan manusia. Berikut ini akan dikemukakam beberapa pengertian
pendidikan menurut para ahli :
1. Menurut Rusli Lutan (1994) mengemukakan bahwa “pendidikan pada
hakekatnya tetap sebagai proses membangkitkan kekuatan dan harga diri dari
rasa ketidakmampuan, ketidakberdayaan, keserbakekurangan”.
2. Djuju Sudjana (1996:31) tentang modal itu dalam dirinya sendiri yang tersirat
dalam “human capital theory”, bahwa manusia merupakan sumber daya utama,
berperan sebagai subyek baik dalam upaya meningkatkan tarap hidup dirinya
maupun dalam melestarikan dan memanfaatkan lingkungannya. Menurut teoriteori ini konsep pendidikan harus dirasakan atas anggapan bahwa modal yang
dimiliki manusia itu sendiri meliputi : sikap, pengetahuan, keterampilan dan
aspirasi. Dengan perkataan, “modal utama bagi kemajuan manusia tidak
berada di luar dirinya melainkan ada dalam dirinya, dan modal itu sendiri
adalah pendidikan.
3. Menurut George F. Knelled Ledi dalam bukunya yang berjudul Of Education
(1967:63), pendidikan dapat dipandang dalam arti teknis, atau dalam arti hasil
dan arti proses. Dalam artinya yang luas pendidikan menunjuk pada suatu
tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan
dengan pertumbuhan atau perkembangan jiwa (mind), watak (character), atau
kemampuan fisik (physical Ability) individu, pendidikan dalam arti ini
berlangsung

terus

menerus

(seumur

hidup)

kita

sesungguhnya

dan

pengalaman seluruh kehidupan kita (George F. Knelled, 1967:63) dan
pendidikan, Demands A. kualitative concept of experience (Frederick Mayyer,
1963:3-5).

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

4. Selanjutnya menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan
nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk emmiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian

dirinya,

keperibadian,

kecerdasan,

akhlak

mulia,

serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
Jadi dapat disimpulkan, pendidikan adalah proses sepanjang hayat dan
perwujudan pembentukan diri secara utuh dalam pengembangan segenap potensi
dalam rangka pemenuhan semua komitmen manusia sebagai individu, makhluk
sosial dan sebagai makhluk Tuhan. Dalam pendidikan, secara implicit terjalin
hubungan antara dua pihak, yaitu pihak pendidik dan pihak peserta didik yang di
dalam hubungan itu berlainan kedudukan dan peranan setiap pihak, akan tetapi
sama dalam hal dayanya yaitu salling mempengaruhi guna terlaksananya proses
pendidikan (transformasi pendidikan, nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan yang
tertuju kepada tujuan-tujuan yang diinginkan.

2. Pengertian Landasan Pendidikan
Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar

atau alas, karena itu

landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak
atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang);
dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang
bersifat koseptual identik dengan asumsi, adapun asumsi dapat dibedakan menjadi
tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.
Pendidikan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari
sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari
sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.
Praktek pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau
lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan
pedidikan. Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan dapat berupa pengelolaan
pendidikan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan pendidikan

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

(bimbingan, pengajaran dan atau latihan). Studi pendidikan adalah kegiatan
seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa landasan pendidikan
adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak dalam rangka
praktek pendidikan dan atau studi pendidikan.
Fungsi Landasan Pendidikan
Pendidikan yang diselenggarakan dengan suatu landasan yang kokoh, maka
prakteknya akan mantap, artinya jelas dan tepat tujuannya, tepat pilihan isi
kurikulumnya, efisien dan efektif cara-cara pendidikan yang dipilihnya, dst. Dengan
demikian landasan yang kokoh setidaknya kesalahan-kesalahan konseptual yang
dapat merugikan akan dapat dihindarkan sehingga praktek pendidikan diharapkan
sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta dapat dipertanggungjawabkan.

3. Pengertian Asas Pendidikan
Asas pendidikan memiliki arti hukum atau kaidah yang menjadi acuan kita
dalam melaksanakan kegiatan pendidikan.

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

2. PEMBAHASAN
1. Landasan Pendidikan di Indonesia
Praktek pendidikan diupayakan pendidik dalam rangka memfasilitasi peserta
didik agar mampu mewujudkan diri sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya.
Semua tindakan pendidik diarahkan kepada tujuan agar peserta didik mampu
melaksanakan berbagai peranan sesuai dengan statusnya, berdasarkan nilai-nilai
dan norma-norma yang diakui. Dalam pernyataan di atas tersurat dan tersirat bahwa
pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia, bersifat normatif, dank arena
itu mesti daapt dipertanggungjawabkan.
Sehubungan dengan hal diatas, praktek pendidikan tidak boleh dilaksanakan
secara sembarang, sebaliknya harus dilaksanakan secara didasari dan terencana.
Artinya, praktek pendidikan harus memiliki suatu landasan yang kokoh, jelas dan
tepat tujuannya, tepat isi kurikulumnya, dan efisien serta efektif cara-cara
pelaksanaannya.Implikasinya, dalam rangka pendidikan mesti terdapat momen
berpikir dan momen bertindak, mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen
praktek pendidikan. Sebelum melaksanakan prakterk pendidikan, diantaranya
mengenai landasan-landasannya. Sebab, landasan pendidikan akan menjadi titik
tolak praktek pendidikan. Landasan pendidikan akan menjadi titik tolak dalam
menetapkan

tujuan

pendidikan,

memilih

isi

pendidikan,

memilih

cara-cara

pendidikan. dst. Dengan demikian praktek pendidikan diharapkan menjadi mantap,
sesuai

dengan

fungsi

dan

sifatnya,

serta

betul-betul

akan

dapat

dipertanggungjawabkan.
1. Landasan Filosofi Pendidikan
Pendidikan merupakan topik yang senantiasa menarik untuk dikaji dan
dikembangkan, baik secara teoritis dan praktis maupun secara filosofis. Teori dan
praktik dalam dunia pendidikan mengalami perkembangan seiring dengan semakin
meningkatnya peradaban manusia. Kalau dahulu pendidikan dapat berlangsung
melalui interaksi antara manusia, di zaman modern ini pendidikan dapat berlangsung

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

melalui interaksi dengan teknologi. Dalam hal ini, ruang dan waktu seolah tidak lagi
menjadi pembatas dalam interaksi antara manusia termasuk dalam dunia
pendidikan.
Realitas dalam abad ke-20, pendidikan seolah terjerembab dalam ketersesatan
lembaga penyelenggara pendidikan yang menggunakan pola pikir linier dan
arogansi dalam memetakan masa depan (Harefa, 2000). Pendidikan terutama
diorientasikan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat
digunakan dalam menjalankan tugas professional dan tugas-tugas lain dalam
kehidupan. Namun, Seiring gencarnya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi,

dunia

pendidikan

pun

mengalami

perkembangan

yang

pesat.

Sebagaimana adanya, perkembangan dalam dunia pendidikan terinspirasi melalui
semakin meningkatnya kesadaran eksistensial praktisi dan pemikir pendidikan yakni
hakekat diri sebagai manusia.
Pendidikan sebagai ilmu bersifat multidimensional baik dari segi filsafat
(epistemologis, aksiologis, dan ontologis) maupun secara ilmiah. Teori yang dianut
dalam sebuah praktek pendidikan sangat penting, karena pendidikan menyangkut
pembentukan generasi dan semestinya harus dapat dipertanggungjawabkan. Proses
pendidikan merupakan upaya mewujudkan nilai bagi peserta didik dan pendidik,
sehingga unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan dapat menghayati
nilai-nilai agar mampu menata perilaku serta pribadi sebagaimana mestinya.
Sebagai contoh, dalam wacana keindonesiaan pendidikan semestinya berakar dari
konteks budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia, dan untuk kebutuhan
masyarakat Indonesia yang terus berubah. Menurut Kusuma (2007), hal ini berarti
bahwa sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu
bertanggung jawab secara rasional, sosial dan moral.
Menurut Wen (2003), di zaman yang berbeda-beda tuntutan terhadap talenta
dan spesialisasi individu juga berbeda-berbeda. Zaman agrikulutur menuntut orang
bekerja keras dan mencari nafkah lewat kerja fisik, zaman industri menuntut
standarisasi dan tidak menekankan kualitas dan talenta individual, dan zaman

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

internet adalah zamannya untuk membebaskan kualitas-kualitas khusus individual
yang seringkali tertindas di zaman industri. Oleh karena itu, seharusnya sifat dan
kualitas pendidikanpun berubah sesuai zaman dan harus diletakkan landasan bagi
pendidikan beraspek multi.
Berbicara tentang landasan filosofis pendidikan berarti berkenaan dengan
tujuan filosofis suatu praktik pendidikan sebagai sebuah ilmu. Oleh karena itu, kajian
yang dapat dilakukan untuk memahami landasan filosofis pendidikan adalah dengan
menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang meliputi tiga bidang kajian yaitu
ontologi, epistimologi dan aksiologi. Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005),
landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandangan dalam filsafat pendidikan,
menyangkut keyakinan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai,
hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan.
2. Landasan Sosiologis
Pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja
dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin
intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan
tersebt, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.
Masyarakat indonesia adalah sebagai landasan sosiologis dalam pendidikan.
Masyarakat adalah sekelompok orang yang berinteraksi antar sesama, adanya
saling tergantung dan terikat oleh norma dan nilai yang dipatuhi bersama,
menempati suatu wilayah dan saling bersosialisasi. Masyarakat sebagai suatu
kesatuan hidup memiliki ciri utama, yaitu:
1. Ada interaksi antar bangsa
2. Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma hukum dan
aturan-aturan yang khas.
3. Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya.
Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk, dan telah banyak
mengalami perubahan, komunitasnya memiliki karakteristik unik baik secara
horizontal maupun vertikal. Melalui berbagai jalur pendidikan termasuk jalur

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

pendidikan sekolah atau formal, diupayakan untuk menumbuhkan persatuan dan
kesatuan bangsa seperti pendidikan moral pancasila atau PPKN dan sebagainya.
3. Landasan Kultural
Pendidikan tidak mungkin terpisah dari manusia, ia selalu terkait dengan
manusia, dan setiap manusia menjadi anggota masyarakat dan pendukung budaya
tertentu. Kebudayaan sebagai gagsan dan karya manusia beserta hasil budi dan
karya itu selalu terkait dengan pendidikan utamanya belajar.
Kebudayaan dalam arti luas dapat terwujud:
 Ideal, seperti ide, gagasan, nilai dan sebagainya
 Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
 Fisik, yakni benda hasil karya (Koentjraningrat, 1975)
Kebudayaan

dapat

dibentuk,

dilestarikan

dan

dikembangkan

melalui

pendidikan baik kebudayaan yang berwujud ideal atau kelakuan maupun teknologi
(hasil karya).
Pada dasarnya ada tiga yang sifatnya umum yang dapat diidentifikasikan
dalam menurunkan kebudayaan kepada generasi mendatang, yaitu melalui
pendidikan informal (biasanya terjadi di dalam keluarga), non formal (dalam
masyarakat secara trprogram dan berkelanjutan serta berlengsung dalam kehidupan
masyarakat), dan formal (melibatkan lembaga khusus sekolah) yang dirancang
untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Transmisi kebudayaan oleh masyarakat tidak
akan memperoleh kemajuan, sehingga perlu dirancang usaha yang sistematis dalam
mengembangkan kebudayaan, dalam hal ini yang paling efektif ialah lembaga
sekolah.
Kebudayaan nasional sebagai landasan pendidikan nasional adalah bahwa
masyarakat indonesia sebagai pendudkung kebudayaan masyarakat mejemuk,
maka kebudayaan indonesia lebih tepat disebut dengan kebudayaan nusantara
yang beragam. Keragaman sosial budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat
istiadat, tata cara, dan tata krama pergaulan, kesenian, bahasa, dan sastra daerah
di suatu daerah tertentu sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

4. Landasan Psikologis
Psikologi telah menyediakan sejumlah informasi tentang pribadi manusia pada
umumnya. Serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi. Setiap individu
memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan, demikian pula tempo dan irama
perkembangan yang berbeda antara seorang dengan yang lainnya.
Individu yang satu dengan yang lainnya, perbedaan ini terjadi karena adanya
perbedaan berbagai aspek kejiwaan antara individu itu sendiri, baik yang
berhubungan dengan bakat, intelek, maupun perbedaan pengalaman dan tingkat
perkembangan serta cita-cita, aspirasi dan kepribadian secara keseluruhan.
Manusia dilahirkan dengan memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang harusa
dikembangkan, kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan kemampuan mereka
menerimanya.
Secara umum manusia membutuhkan berbagai macam kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan psikologis
2. Kebutuhan rasa aman
3. Kebutuhan akan cinta dan pengakuan
4. Kebutuhan harga diri
5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri
6. Kebutuhan untuk mengetahui dan memahami
Alexander mengemukakan ada tida faktor uta yang bekerja dalam menentukan
pola kepribadian, yaitu:
1. Bakat/hereditas individu
2. Pengalaman awal di keluarga
3. Peristiwa penting dalam hidupnmya diluar lingkungan keluarga.
5. Landasan Ilmiah
Teknologi pendidikan merupakan cabang ilmu yang memiliki obyek forma
“belajar” manusia baik secara pribadi maupun secara kelompok yang memiliki pola
pendekatan diantaranya sebagai berikut :
1. Isomeristik: yaitu pendekatan yang menggabungkan berbagai unsure yang
saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang lebih bermakna

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

2. Sistematik: yaitu dilakukan secara teratur dan menggunakan pola tertentu
dan runtut.
3. Sistemik: Dilakukan secara menyeluruh, holistic atau komprehensif.
Landasan ilmiah yang menunjang keberadaan teknologi pendidikan beserta
bidang penelitiannya ada beberapa paham seperti berikut ini.
1. A.A Lumsidaine (1964): teknologi pendidikan merupakan aplikasi dari ilmu
dan saint dasar, yaitu:
a. ilmu fisika
b. rekayasa mekanik, optic, electro dan elektronik
c. teknologi komunikasi & telekomunikasi
d. ilmu perilaku
e. ilmu komunikasi
f. ilmu ekonomi
2. Robert Morgan (1978) berpendapat ada 3 disiplin utama yang menjadi
fondasi teknologi pendidikan
a. ilmu perilaku
b. ilmu komunikasi
c. ilmu manajemen
3. Donald P. Eli (1983) teknologi pendidikan meramu sejumlah disiplin dasar dan
bidang terapannya menjadi suatu prinsip, prosedurdan keterampilan. Disiplin
yang memberikan kontribusi adalah :
a. basic contributing discipline: komunikasi, psikologi, evaluasi dan
menajemen

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

b. related contributing field : psikolodi persepsi, prikologi kognisi, psikologi
social, media, system dan penilaian kebutuhan.
4. Barbara B. Seels & Rita C. Richey (1994): akar intelektual teknologi
pembelajaran berasal dari disiplin lain meliputi:
a. psikologi
b. rekayasa
c. komunikasi
d. ilmu computer
e. bisnis
f. pendidikan
Secara umum perkembangan landasan ilmiah teknologi pendidikan bersifat
ekletik, yaitu berasal dari berbagai sumber dan ditinjau dari berbagai segi atau sudut
pandang.
6. Landasan Yuridis / Hukum Pendidikan di Indonesia
Landasan yuridis pendidikan Indonesia adalah seperangkat konsep peraturan
perundang-undangan yang menjadi titik tolak system pendidikan Indonesia, yang
menurut Undang-Undang Dasar 1945 meliputi, Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia, Ketetapan MPR, Undang-Undang Peraturan Pemerintah

pengganti

undang-undang, peraturan pemerintah, Keputusan Presiden, peraturan pelaksanaan
lainnya, seperti peraturan Menteri, Instruksi Menteri, dan lain-lain.
Kata landasan dalam hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak.
Sementara itu kata hukum dapat dipandang sebagai aturan baku yang patut ditaati.
Landasan hukum pendidikan dapat diartikan peraturan baku sebagai tempat berpijak
atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan. Beberapa
peraturan perundang-undangan yang mengatur pendidikan antara lain :

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

1. Undang-Undang Dasar 1945 terutama pasal 31
2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
4. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
5. PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
6. PP Nomor 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
7. PP Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru
8. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah.
9. Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
10. Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaaan Permendiknas
Nomor 22 dan 23 Tahun 2006.
11. Permendiknas Nomor 6 Tahun 2007 tentang Perubahan Permendiknas
Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23
Tahun 2006.
12. Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite
Sekolah.
7. Landasan Religius
Pendidikan adalah suatu usaha disengaja yang diperuntukan dalam upaya
untuk mengantarkan peserta didik menuju pada tingkat kematangan atau
kedewasaan, baik moral maupun intelektual. Pendidikan tidak semata-mata hanya
berorientasi pada cita-cita intelektual saja. Namun tidak melupakan nilai-nilai
ketuhanan, individual dan social. Artinya, proses pendidikan disamping akan

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

menuntuk dan memancing potensi intelektual seseorang, juga menghidupkan dan
mempertahankan unsur manusiawi dalam dirinya dengan landasan iman dan takwa.
Oleh karena itu, A. Tafsir (2008: 11-12), menjelaskan bahwa pendidikan agama
itu tidak akan berhasil bila hanya diserahkan kepada guru agama. Dia mengatakan
pendidikan keimanan dan ketakwaan, inti dari pendidikan agama, itu adalah tugas
bersama antara guru, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Dalam arti bahwa perlu
adanya keterpaduan, baik keterpaduan tujuan, materi, proses, dan lembaga.
Dengan adanya undang-undang dan fenomena yang terjadi dalam dunia
pendidikan, menjadikan agama sebagai suatu yang wajib untuk dijadikan landasan
dalam proses pendidikan, baik di tingkat dasr maupun menengah, dan bahkan
sampai ke perguruan tinggi.

2. Asas-Asas Pendidikan Indonesia
Sistem pendidikan Indonesia mengenal adanya tiga asas-asas pendidikan.
Asas yang pertama adalah asas Tut Wuri Handayani (berasal dari Bahasa
Sansekerta yang berarti ‘Jika di belakang mengawasi dengan awas’). Asas
pendidikan yang kedua adalah asas ‘Belajar Sepanjang Hayat;’ sedang asas yang
terakhir adalah asas ‘Kemandirian dalam Belajar.’
3.1.1. Asas Tut Wuri Handayani
Pertama kali dicetuskan oleh tokoh sentral pendidikan Indonesia, Ki Hajar
Dewantoro, pada medio 1922, semboyan Tut Wuri Handayani merupakan satu dari
tujuh asas Perguruan Nasional Taman Siswa. Dalam asas Perguruan Nasional
Taman Siswa, semboyan Tut Wuri Handayani termaktub dalam butir pertama yang
berbunyi, “Setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan
mengingat tertibnya persatuan dalam peri kehidupan.”
Dari kutipan tersebut kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwasanya tujuan dari
pembelajaran ala Taman Siswa – dan pendidikan di Indonesia pada umumnya –
adalah menciptakan “kehidupan yang tertib dan damai (Tata dan Tenteram, Orde on
Vrede)” (Tirharahardja, 1994: 119). Dalam perkembangan selanjutnya, Perguruan
Taman Siswa menggunakan asas tersebut untuk melegitimasi tekad mereka untuk

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

mengubah sistem pendidikan model lama – yang cenderung bersifat paksaan,
perintah, dan hukuman – dengan “Sistem Among” khas ala Perguruan Taman Siswa.
Sistem Among berkeyakinan bahwa guru adalah “pamong.” Sesuai dengan
semboyan Tut Wuri Handayani di atas, maka pamong atau guru di sini lebih
cenderung menjadi navigator peserta didik yang “diberi kesempatan untuk berjalan
sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah atau dipaksa” (Tirtarahardja,
1994: 120).
Jika menilik Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, seperti apa yang tercantum
dalam Undang-undang Nomer 23 Tahun 2003, maka konsep Tut Wuri Handayani
termanifestasi ke dalam sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Peran
guru dalam sistem KTSP lebih cenderung sebagai pemberi dorongan karena adanya
pergeseran paradigma pengajaran dan pembelajaran, dari “teacher oriented” kepada
“student oriented.”
Dalam KTSP, guru bukan lagi sekedar “penceramah” melainkan pemberi
dorongan, pengawas, dan pengarah kinerja para peserta didik. Dengan sistem
kurikulum yang terbaru ini, para pendidik (guru) diharapkan mampu melejitkan
semangat atau motivasi peserta didiknya. Hal ini lantaran proses pengajaran dan
pembelajaran hanya akan berjalan lancar, efektif dan efisien manakala ada
semangat yang kuat dari para peserta didik untuk mengembangkan dirinya melalui
pendidikan. Maka bukan tidak mungkin, jika KTSP juga merupakan wujud
manifestasi dari asas pendidikan Indonesia “Kemandirian dalam Belajar.”
3.1.2. Asas Kemandirian dalam Belajar
Keberadaan Asas Kemandirian dalam Belajar memang satu jalur dengan apa
yang menjadi agenda besar dari Asas Tut Wuri Handayani, yakni memberikan para
peserta didik kesempatan untuk “berjalan sendiri.” Inti dari istilah “berjalan sendiri”
tentunya sama dengan konsep dari “mandiri” yang dalam Asas Kemandirian dalam
Belajar bermakna “menghindari campur tangan guru namun (guru juga harus) selalu
siap untuk ulur tangan apabila diperlukan” (Tirtarahardja, 1994: 123).
Kurikulum KTSP tentunya sangat membantu dalam agenda mewujudkan Asas
Kemandirian dalam Belajar. Prof. Dr. Umar Tirtarahardja (1994) lebih lanjut
mengemukakan bahwa dalam Asas Kemandirian dalam Belajar, guru tidak hanya

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

sebagai pemberi dorongan, namun juga fasilitator, penyampai informasi, dan
organisator (Tirtarahardja, 1994: 123). Oleh karena itu, wujud manifestasi Asas
Kemandirian dalam Belajar bukan hanya dalam berbentuk kurikulum KTSP, namun
juga dalam bentuk ko-kurikuler dan ekstra kurikuler – sedang dalam lingkup
perguruan tinggi terwujud dalam kegiatan tatap muka dan kegiatan terstruktur dan
mandiri.
Dalam bukunya “Contextual Teaching and Learning” Elanie B. Johnson (2009)
berpendapat bahwa dalam Pembelajaran Mandiri, seorang guru yang berfaham
“Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual” dituntut untuk mampu menjadi mentor
dan guru ‘privat’ (Johnson, 2009: 177). Sebagai mentor, guru yang hendak
mewujudkan

kemandirian

peserta

didik

diharapkan

mampu

memberikan

pengalaman yang membantu kepada siswa mandiri untuk menemukan cara
menghubungkan

sekolah

dengan

pengalaman

dan

pengetahuan

mereka

sebelumnya. Sebagai seorang guru ‘privat,’ seorang guru biasanya akan memantau
siswa dalam belajar dan sesekali menyela proses belajar mereka untuk
membenarkan, menuntun, dan member instruksi mendalam (Johnson, 2009).
Lebih lanjut Johnson mengungkapkan bahwa kelak jika proses belajar mandiri
berjalan dengan baik, maka para peserta didik akan mampu membuat pilihan-pilihan
positif tentang bagaimana mereka akan mengatasi kegelisahan dan kekacauan
dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 2009: 179). Dengan kata lain, proses belajar
mandiri atau Asas Kemandirian dalam Belajar akan mampu menggiring manusia
untuk tetap “Belajar sepanjang Hayatnya.”
3.1.3. Asas Belajar sepanjang Hayat
Mungkin inilah agenda besar pendidikan di Indonesia, yakni manusia Indonesia
yang belajar sepanjang hayat. Konsep belajar sepanjang hayat sendiri telah
didefinisikan dengan sangat baik oleh UNESCO Institute for Education, lembaga di
bawah naungan PBB yang terkonsentrasi dengan urusan pendidikan. Menurut
Cropley (1970: 2-3, Sulo Lipu La Sulo, 1990: 25-26, dalam Tirtarahardja, 1994: 121),
belajar sepanjang hayat merupakan pendidikan yang harus :
 meliputi seluruh hidup setiap individu

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

 mengarah

kepada

pembentukan,

pembaharuan,

peningkatan,

dan

penyempurnaan secara sistematis
 tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri setiap indiviu
 mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi.
Jika diterapkan dalam sistem pendidikan yang berlaku saat ini, maka
pendekatan yang sangat mungkin digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah
melalui pendekatan “Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual.” Sedang dalam
konteks

pendidikan

di

Indonesia,

konsep

“Pembelajaran

dan

Pengajaran

Kontekstual” sedikit banyak telah termanifestasi ke dalam sistem Kurikulim Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP). Selain KTSP – yang notabene merupakan bagian dari
pendidikan formal, maka Asas Belajar sepanjang Hayat juga termanifestasi dalam
program pendidikan non-formal, seperti program pemberantasa buta aksara untuk
warga Indonesia yang telah berusia lanjut, dan juga program pendidikan informal,
seperti hubungan sosial dalam masyarakat dan keluarga tentunya.

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

4. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pendidikan selalu berkaitan dengan manusia, dan hasilnya tidak segera
tampak. Diperlukan satu generasi untuk melihat suatu akhir dari pendidikan itu. Oleh
karena itu apabila terjadi suatu kekeliruan yang berakibat kegagalan, pada
umumnya sudah terlambat untuk memperbaikinya. Kenyataan ini menuntut agar
pendidikan

itu

dirancang

dan

dilaksanakan

secermat

memperhatikan sejumlah landasan dan asas pendidikan.

mungkin

dengan

Landasan dan Asas Pendidikan
Pengantar Pendidikan
Matematika E (2011)

DAFTAR PUSTAKA
http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/14/landasan-pendidikan-di-indonesia/
http://mahmuddin.wordpress.com/2009/10/19/landasan-filosofi-pendidikanpengantar/
http://khotneeda.blogspot.com/2012/03/landasan-psikologis-sosiologiskultural.html
http://himcyoo.wordpress.com/2011/12/01/landasan-yuridis-pendidikan/
http://moshimoshi.netne.net/materi/ilmu_pendidikan/bab_3.htm
http://www.mukminun.com/2009/10/asas-asas-pendidikan-indonesia-dan.html
http://adisastrajaya.blogspot.com/2012/04/landasan-dan-asas-asas-pendidikanserta.html
http://yandiyulio.wordpress.com/2009/05/25/landasan-pendidikan/

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Makalah Asas dan Landasan Pendidikan