SILABUS RPP dan KURIKULUM dan ASAS ASAS

SILABUS, RPP dan KURIKULUM dan ASAS-ASAS
KURIKULUM NASIONAL
TEORI DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Oleh:
KIKI WULAN SARIE

(147845006)

EVAN TJAHJA KURNIAWAN (147845009)

PRODI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SURABAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pendidikan.
Tanpa kurikulum, proses pendidikan tidak akan berjalan mulus. Kurikulum diperlukan
sebagai salah satu komponen untuk menentukan tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam
kurikulum terangkum berbagai kegiatan dan pola pengajaran yang dapat menentukan arah
proses pembelajaran. Itulah sebabnya, menelaah dan mengkaji kurikulum merupakan suatu
kewajiban bagi guru.
Berbagai pendapat mengenai kurikulum telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan.
Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan bahwa
“kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”
Senada dengan pengertian di atas, Oemar Hamalik (1990:32) menyatakan bahwa
“kurikulum adalah suatu alat yang amat penting dalam rangka merealisasi dan mencapai
tujuan pendidikan sekolah”.Dalam arti luas kurikulum dapat diartikan sesuatu yang dapat
mempengaruhi siswa, baik dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Namun,
kurikulum haruslah memiliki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan silabus yang baik
agar pengaruhnya terhadap siswa benar-benar dapat diamati dan diukur hasilnya. Adapun
hasil–hasil belajar tersebut haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan, sejalan
dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, relevan dengan kebutuhan sosial ekonomi
dan sosial budaya masyarakat, sesuai dengan tuntutan minat, kebutuhan dan kemampuan para
siswa sendiri, serta sejalan dengan dengan proses belajar para siswa yang menempuh
kegiatan-kegiatan kurikulum.
Dalam pengembangan kurikulum harus sesuai dengan pengertian kurikulum yakni
seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam
mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Sesuai perkembangan masyarakat yang
berlatar belakang berbeda-beda maka dalam pengembangan kurikulum juga harus melibatkan
masyarakat sehingga terbentuk kurikulum yang ideal dan sistematik sesuai kebutuhan
mereka.

Kurikulum ini yang akan di jadikan pedoman dalam pembelajaran agar berjalan secara
terstruktur, efektif dan efisien. Dalam membuat kurikulum, seseorang harus memperhatikan
asas–asas dan pengembangan kurikulum. Asas kurikulum antara lain asas psikologis,
fisiologis, sosiologis dan organisatoris.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah pada makalah ini antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan kurikulum?
2. Apa pengertian, komponen, prinsip-prinsip pengembangan, mekanisme dan
langkah pengembangan silabus ?
3. Apa pengertian, hakikat, prinsip-pirinsip
sistematika

serta

langkah-langkah

pengembangan,

mengembangkan

komponen

Rencana

dan

pelaksanaan

pembelajaran (RPP) ?
4. Apa yang menjadi asas-asas kurikulum nasional ?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui apa yang dimaksud kurikulum
2. Mengetahui pengertian, komponen, prinsip-prinsip pengembangan, mekanisme dan
langkah pengembangan silabus ?
3. Mengetahui pengertian, hakikat, prinsip-pirinsip pengembangan, komponen dan
sistematika

serta

langkah-langkah

mengembangkan

pembelajaran (RPP)
4. Mengetahui apa yang menjadi asas-asas kurikulum nasional

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Rencana

pelaksanaan

A. Kurikulum
Pengertian kurikulum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori
dan praktik pendidikan. Dengan beragamnya pendapat mengenai pengertian kurikulum, maka
secara teoritis agak sulit menentukan satu pengertian yang dapat merangkum semua
pendapat. Namun, pemahaman konsep dasar mengenai kurikulum ini tetaplah penting
adanya.
Secara etimologis istilah kurikulum yang dalam bahasa Inggris ditulis “curriculum”
berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang berarti “pelari”, dan “curere” yang berarti
“tempat berpacu”. Tidak heran jika dilihat dari arti harfiahnya, istilah kurikulum tersebut
pada awalnya digunakan dalam dunia Olah raga, seperti bisa diperhatikan dari arti “pelari dan
tempat berpacu”, yang mengingatkan kita pada jenis olah raga Atletik (Subandijah, 1993:1)
Selanjutnya istilah kurikulum ini digunakan dalam dunia pendidikan dan mengalami
perubahan makna sesuai dengan perkembangan dan dinamika yang ada pada dunia
pendidikan. Secara garis besar, kurikulum dapat diartikan sebagai seperangkat materi
pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan
yang akan dicapai (Idi, 2010:206)
Nurhadi (2005:1) menyatakan bahwa:
Kurikulum merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien. Pentingnya sebuah kurikulum membawa implikasi
pada penerapan pembelajaran yang terarah sehingga tujuan dari pendidikan dapat
terencana dengan baik.
Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Oemar (2001:18) yang menyatakan:
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan pembelajaran memerlukan sebuah perencanaan agar pencapaian tujuan
pendidikan dapat terselenggara dengan efektif dan efisien
Sehubungan dengan banyaknya definisi tentang kurikulum, dalam implementasi
kurikulum kiranya perlu melihat definisi kurikulum yang tercantum dalam Undang-undang
No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi:
“Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3)
disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
1. Peningkatan iman dan takwa;
2. Peningkatan akhlak mulia;
3. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
4. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
5. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
6. Tuntutan dunia kerja;

7. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
8. Agama;
9. Dinamika perkembangan global;
10. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik
yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan
agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum
haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini
dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap
jenjang pendidikan.
B. Pengertian Silabus
Nurmaliyah dan prabowo (2010:2) mengemukakan bahwa “perencanaan proses
pembelajaran, merupakan upaya menentukan keseluruhan kegiatan yang akan dilakukan
dalam kaitan dengan upaya untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran tersebut”. Dalam
konteks pendidikan maka tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut adalah
kompetensi yang dimiliki peserta didik, yaitu dengan menyiapkan silabus dan Rencana
Pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan materi dan metode yang akan
disampaikan. Seperti tercantum dalam buku pengendalian mutu sekolah menengah yang
menyebutkan bahwa setiap pendidik harus membuat satuan pelajaran untuk setiap mata
pelajaran yang dipegangnya pada awal semester (Sukmadinata, 2006:78). D
Menurut Permendikbud nomor 65 tahun 2013 menjelaskan:
Silabus adalah rencana pembelajar pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu
yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber/bahan/alat belajar.
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi
pokok/pembelajar, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi untuk
penilaian
Trianto (2010:96) mengemukakan bahwa:
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran
atau tema tertentu yang mencakup Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, materi
pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi untuk
penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa silabus bermanfaat sebagai
pedoman sumber pokok dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, mulai dari
pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan
sistem penilaian.
C. Pengertian Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur
dan manajemen pembelajaran unutk mencapai satu KD yang ditetapkan dalam standar isi

yang dijabarkan dalam silabus. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa “Perencanaan proses pembelajaran
meliputi silabus dan rencana pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan
pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar ”.
Menurut Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 komponen RPP adalah: Identitas mata
pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan
pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
penilaian hasil belajar, dan sumber belajar
Rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka
pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam
pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang
akan

dilakukan

dalam

kegiatan

pembelajaran.

RPP

perlu

dikembangkan

untuk

mengkoordinasikan komponen pembelajaran, yakni : kompetensi dasar, materi standar,
indikator hasil belajar, dan penilaian. Kompetensi dasar berfungsi memberi makna terhadap
kompetensi dasar; indikator hasil belajar berfungsi menunjukan keberhasilan pembentukan
kompetensi peserta didik; sedangkan penilaian berfungsi mengukur pembentukan
kompetensi, dan menentukan tindakan yang harus dilakukan apabila kompetensi standar
belum terbentuk atau belum tercapai.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus disusun secara sistematik dan sistematis, utuh
dan menyeluruh, dengan beberapa kemungkinan penyesuaian dalam situasi pembelajaran
yang aktual. Dengan demikian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berfungsi untuk
mengekfektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan
D. Asas-asas kurikulum
Dalam pengembangan

kurikulum,

banyak

hal

yang

harus

diperhatikan

dan

dipertimbangkan sebelum mengambil suatu keputusan. Apa pun jenis kurikulum-nya pasti
memerlukan asas-asas yang harus dipegang. Asas merupakan prinsip dasar. Dalam hal ini
adalah prinsip dasar atau landasan pijakan kurikulum. Dengan adanya asas, kurikulum
mempunyai kerangka yang jelas untuk mencapai tujuan pendidikan.
Asas-asas kurikulum cukup kompleks dan mengandung hal-hal yang saling bertentangan,
sehingga harus diadakan pilihan, inilah asas-asas dalam kurikulum:
1. Asas Filsofis
Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan
tentang setiap aspek kurikulum. Untuk tiap keputusan harus ada dasarnya. Filsafat
adalah cara berpikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akarnya tentang hakikat
sesuatu. Ada orang berpendapat bahwa guru tak perlu mempelajari filsafat, karena
sangat abstrak dan karena itu tak praktis dan tidak ada manfaatnya bagi pekerjaannya.

Pendirian itu terlampau picik, karena apa yang dilakukan guru harus didasarkan pada
apa yang dipercayai, diyakini sebagai benar dan baik. Menurut Nasution (1995:22) :
Filsafat itu antara lain menentukan kepercayaan kita tentang : apakah hakikat
manusia. Khususnya hakikat anak dan sifat-sifatnya, apakah sumber kebenaran
dan nilai-nilai yang hendaknya menjadi pegangan hidup kita, tentang apakah
yang baik, apakah hidup yang baik, apakah yang sebaiknya diajarkan pada anak
didik, apakah peranan sekolah dalam masyarakat, apakah peranan guru dalam
proses belajar mengajar, dan lain-lain.
2. Asas Sosiologis
Menurut Nasution (1995:13):
Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang tak dapat tiada
harus dikenal dan diwujudkan anak dalam pribadinya lalu dinyatakan dalam
kelakuannya. Tiap masyarakat berlainan corak nilai -nilai yang dianutnya. Tiap
anak akan berbeda latar belakang kebudayaannya. Perbedaan ini harus
dipertimbangkan dalam kurikulum. Juga perubahan masyarakat akibat
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor pertimbangan
dalam kurikulum
Asas sosiologi mempunyai peran penting dalam mengembangkan kurikulum
pendidikan pada masyarakat dan bangsa di muka bumi ini. Suatu kurikulum pada
prinsipnya mencerminkan keinginan, cita-cita tertentu dan kebutuhan masyarakat.
Pendidikan mesti memberi jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari kekuatankekuatan sosial, politik dan ekonomi yang dominan pada saat tertentu. Dengan
pendidikan, diharapkan muncul manusia yang tidak asing dengan masyarakat
sekitarnya, tetapi muncul manusia yang lebih bermutu, mengerti dan mampu
membangun masyarakat. Karena itulah tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus
sesuai dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat. Oleh
sebab masyarakat merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam pengembangan
kurikulum, maka masyarakat tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab itu landasan
sosiologis yang sangat dipentingkan
3. Asas Psikologis
Kontribusi psikologi terhadap studi kurikulum memiliki dua bentuk. Pertama, model
konseptual dan informasi yang akan membangun perencanaan pendidikan Kedua,
berisikan berbagai metodologi yang dapat diadaptasi untuk penelitian pendidikan (Idi,
2010:79). Ada 2 bidang psikologi yang mendasari kurikulum, yaitu psikologi
perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan dalam memilih,
menerapkan metode pembelajaran serta tehnik-tehnik penilaian.
a) Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi,
yaitu masa pertemuan sperma dengan sel telur sampai dengan dewasa. Dapat

dilihat, bahwasanya psikologi perkembangan terkait dengan perkembangan anak
atau peserta didik, juga termasuk di dalamnya adalah minat peserta didik. Dengan
memperhatikan hal-hal itulah, kurikulum di susun agar lebih mudah diterima.
b) Psikologi Belajar
Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar.
Secara sederhana, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang
terjadi melalui pengalaman. Segala bentuk perubahan tingkah laku baik yang
berbentuk kognitif, afektif dan psikomotorik yang terjadi karena proses
pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar
(Sukmadinata, 1997:52)
4. Asas Organisatoris
Nasution (2006, 23-24) mengemukakan:
Asas Organisatoris berkenaan dengan masalah bagaimana bahan pelajaran akan
disajikan. Ada beberapa kriteria dalam penentuan kurikulum yakni kegunaan
kurikulum dalam menafsirkan, memahami, dan menilai kehidupan, memuaskan
minat dan kebutuhan peserta didik, mengembangkan kemampuan, sikap dan
sebagainya yang dipandang bermanfaat serta sesuai dengan bidang dan mata
pelajaran tertentu.
Dapat disimpulkan bahwa asas ini diterapkan dalam membentuk organisasi kurikulum
yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran serta penyajiannya kepada siswa. Bentuk
kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutan dan cara menyajikannya. Jenisjenis kurikulum yang banyak dipakai juga menentukan peranan guru dan siswa dalam
proses pembelajaran.
Pemahaman mengenai asas-asas tersebut bagi para pengembang kurikulum sangat
penting dalam menghasilkan suatu kurikulum yang diharapkan

BAB III
PEMBAHASAN
A. Kurikulum 2013
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta

cara

yang

digunakan

sebagai

pedoman

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah
cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kurikulum 2013 yang diberlakukan
mulai tahun ajaran 2013/2014 memenuhi kedua dimensi tersebut.
Menurut Permendikbud No.67 tahun 2013:
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki
kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif,
kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Dengan demikian Kurikulum 2013 adalah instrumen pendidikan untuk dapat membawa
insan Indonesia memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sehingga dapat
menjadi pribadi dan warga negara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Tantangan Internal
Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan
dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar
Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar

proses,

standar

kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar
sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar
penilaian pendidikan. Tantangan

internal

lainnya

terkait

dengan

perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia
produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun)

lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan
orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan
mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%.
Olehsebab

itu

tantangan

besar

yang

dihadapi

adalah

bagaimana

mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini
dapat

ditransformasikan

menjadi

sumberdaya manusia

yang

memiliki

kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban.
2. Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai
isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan
informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan
pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola
hidup masyarakat

dari

agraris

dan

perniagaan

tradisional

menjadi

masyarakat industri dan perdagangan modern seperti dapat terlihat di
World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations
(ASEAN) Community, Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan
ASEAN Free Trade Area (AFTA). Tantangan eksternal juga terkait dengan
pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu,
investasi, dan transformasi bidang pendidikan. Keikutsertaan Indonesia di
dalam studi International Trends in International Mathematics and Science
Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA)
sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia
tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS
dan PISA. Hal ini disebabkan antara lain banyaknya materi uji yang
ditanyakan di TIMSS dan PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia.
B. Silabus Kurikulum 2013
Menurut Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses,

Silabus

merupakan acuanpenyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata
pelajaran.Pada kurikulum 2013 silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi
Lulusan dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan
pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu.Silabus digunakan sebagai acuan
dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus memiliki komponenkomponen sebagai berikut:
a) kompetensi inti;
b) kompetensi dasar;
c) materi pembelajaran;

d) kegiatan pembelajaran;
e) penilaian;
f) alokasi waktu; dan
g) sumber belajar.
1. Prinsip Pengembangan Silabus
Silabus dikembangkan dengan prinsip-prinsip:
a) Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
b) Aktual dan Kontekstual
c) Silabus selalu memperhatikan perkembangan ilmu, pengetahuan, teknologi, dan
seni yang mutakhir.
d) Fleksibel
e) Silabus selalu memberikan rujukan dan ruang yang lebih luas kepada guru untuk
menyusun perencanaan mengajar.
f) Menyeluruh
g) Silabus mencakup pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh
dalam ranah kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.Mekanisme dan
Langkah Pengembangan Silabus
2. Mekanisme dan Langkah Pengembangan Silabus
a) Mekanisme Pengembangan Silabus
Silabus dikembangkan oleh:
(1) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
(2) Dinas Pendidikan
(a) Silabus yang dikembangkan pada tingkat daerah yaitu silabus
sejumlah bahan kajian dan pelajaran dan/atau mata pelajaran muatan
lokal yang ditentukan oleh daerah yang bersangkutan.
(b) Silabus muatan lokal yang berlaku untuk seluruh wilayah provinsi
ditetapkan oleh dinas pendidikan provinsi.
(c) Silabus muatan lokal yang berlaku untuk seluruh wilayah
kabupaten/kota ditetapkan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.
(3) Satuan Pendidikan
Silabus yang dikembangkan pada tingkat satuan pendidikan yaitu silabus
muatan lokal yang berlaku pada satuan pendidikan yang bersangkutan.
b) Langkah-langkah Pengembangan Silabus
(1) Mengkaji Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
(a) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di
SI;
(b) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran;
(c) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar
mata pelajaran.
(2) Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian
kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

(a) potensi peserta didik;
(b) relevansi dengan karakteristik daerah,
(c) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan
spritual peserta didik;
(d) kebermanfaatan bagi peserta didik;
(e) struktur keilmuan;
(f) aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
3. Pengembang Silabus
a) Pengembangan silabus pada tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan.
b) Pengembangan silabus muatan lokal pada tingkat daerah dilakukan oleh:
(1) Tim Pengembangan Kurikulum provinsi untuk wilayah provinsi.
(2) Tim Pengembangan Kurikulum kabupaten/kota untuk wilayah
kabupaten/kota.
c) Pengembangan silabus muatan lokal pada tingkat satuan pendidikan dilakukan
oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah
atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
atau Pusat Kegiatan Guru (PKG).
C. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Tahap pertama dalam pembelajaran menurut standar proses yaitu perencanaan
pembelajaran

yang

diwujudkan

dengan

kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP)
1. Hakikat RPP
Menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses,
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran
tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus
untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai
Kompetensi Dasar.
Selanjutnya menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 lampiran IV
tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, tahapan pertama
dalam pembelajaran menurut standar proses adalah perencanaan pembelajaran
yang diwujudkan dengan kegiatan peyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP). Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana pembelajaran yang
dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang
mengacu pada silabus. RPP mencakup: (1) data sekolah, matapelajaran, dan
kelas/semester; (2) materi pokok; (3) alokasi waktu; (4) tujuan pembelajaran,
KD dan indikator pencapaian kompetensi; (5) materi pembelajaran; metode
pembelajaran; (6) media, alat dan sumber belajar; (6) langkah-langkah
kegiatan pembelajaran; dan (7) penilaian.

Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP
untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD dan untuk
guru matapelajaran yang diampunya untuk guru SMP/MTs, SMA/MA, dan
SMK/MAK. Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester
atau awal tahun pelajaran, dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih
dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat
dilakukan secara mandiri atau secara berkelompok.
Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau
secara bersama-sama melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) di
dalam suatu sekolah tertentu difasilitasi dan disupervisi kepala sekolah atau
guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Pengembangan RPP yang
dilakukan oleh guru secara berkelompok melalui MGMP antarsekolah atau
antarwilayah

dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas

pendidikan.
2. Prinsip-Prinsip Pengembangan RPP
Berbagai prinsip dalam mengembangkan atau menyusun RPP adalah
sebagai berikut:
a) RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan
silabus yang telah dikembangkan di tingkat nasional ke dalam
bentuk
b)

rancangan

proses

pembelajaran untuk direalisasikan dalam

pembelajaran.
RPP dikembangkan guru dengan menyesuaikan apa yang dinyatakan
dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan baik kemampuan
awal

peserta

didik,

minat,

motivasi

belajar, bakat,

potensi,

kemampuan sosial, emosi, gaya belajar,kebutuhan khusus, kecepatan
belajar,
c)
d)

latar

belakang

budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan

peserta didik.
Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013 untuk menghasilkan peserta
didik sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar, proses
pembelajaran dalam RPP dirancang dengan berpusat pada peserta
didik

untuk

kreativitas,
e)

mengembangkan
inisiatif,

motivasi, minat,

inspirasi, kemandirian,

keterampilan belajar dan kebiasaan belajar.
Mengembangkan budaya membaca dan menulis

rasa

ingin

semangat

tahu,
belajar,

f)

Proses pembelajaran dalam RPP dirancang untuk mengembangkan
kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi

g)
h)

dalam berbagai bentuk tulisan.
Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif,
penguatan, pengayaan, dan remedi. Pemberian pembelajaran remedi
dilakukan setiap saat setelah suatu ulangan atau ujian dilakukan,
hasilnya

dianalisis,

dan kelemahan setiap peserta didik dapat

teridentifikasi. Pemberian pembelajaran
i)
j)

diberikan

sesuai

dengan

kelemahan peserta didik.
Keterkaitan dan keterpaduan.
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan
antara KI dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman
belajar.
tematik,

k)
l)

RPP

disusun

keterpaduan

dengan mengakomodasikan
lintas matapelajaran

untuk

pembelajaran
sikap

keterampilan, dan keragaman budaya.
Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan

dan

teknologi

informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif
sesuai dengan situasi dan kondisi.
3. Komponen dan Sistematika RPP
RPP paling sedikit memuat: a)

tujuan

pembelajaran,

b)

materi

pembelajaran, c) metode pembelajaran, d) sumber belajar, dan e) penilaian.
Komponen-komponen tersebut secara operasional diwujudkan dalam
bentuk format berikut ini:

Format RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah
: ______________________________________________________
Matapelajaran : ______________________________________________________
Kelas/Semester : ______________________________________________________
Materi Pokok
: ______________________________________________________
Alokasi Waktu : ______________________________________________________
A. Kompetensi Inti (KI)
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
1. _____________ (KD pada KI-1)
2. _____________ (KD pada KI-2)
3. _____________ (KD pada KI-3)
Indikator: __________________
4. _____________ (KD pada KI-4)
Indikator: __________________
Catatan:
KD-1 dan KD-2 dari KI-1 dan KI-2 tidak harus dikembangkan dalam indikator
karena keduanya dicapai melalui proses pembelajaran yang tidak langsung.
Indikator dikembangkan hanya untuk KD-3 dan KD-4 yang dicapai melalui
proses pembelajaran langsung.

C. Tujuan Pembelajaran
D. Materi Pembelajaran (rincian dari Materi Pokok)
E. Metode Pembelajaran (Rincian dari Kegiatan Pembelajaran)
F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran
1. Media
2. Alat/Bahan
3. Sumber Belajar
G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Kesatu:
a. Pendahuluan/Kegiatan Awal (…menit)
4. Langkah-Langkah Pengembangan RPP
b. Kegiatan Inti (...menit)
a) Mengkaji Silabus
Secara umum,
untuk setiap materi pokok pada setiap silabus terdapat 4
c. Penutup
(…menit)
KD sesuai
2. Pertemuan
Kedua:dengan aspek KI (sikap kepada Tuhan, sikap diri dan
terhadap lingkungan, Awal
pengetahuan,
a. Pendahuluan/Kegiatan
(…menit) dan keterampilan). Untuk mencapai 4
tersebut,
di dalam silabus dirumuskan kegiatan peserta didik secara
b. KD
Kegiatan
Inti (...menit)
umum (…menit),
dalam pembelajaran
berdasarkan
c. Penutup
dan seterusnya.
pesertadidik
H. Penilaian

ini

merupakan

1. Jenis/teknik penilaian
2. Bentuk instrumen dan instrumen
3. Pedoman penskoran

rincian

dari

standar

proses.

eksplorasi,

Kegiatan

elaborasi,

dan

konfirmasi,

yakni:

mengamati,

menanya,

mengumpulkan informasi,

mengolah dan mengkomunikasikan. Kegiatan inilah yang harus dirinci lebih
lanjut di dalam RPP, dalam bentuk langkah-langkah yang dilakukan guru
dalam pembelajaran, yang membuat peserta didik aktif belajar. Pengkajian
terhadapsilabus juga meliputi perumusan indikator KD dan penilaiannya.
b) Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD
dengan mempertimbangkan:
(1) potensi peserta didik;
(2) relevansi dengan karakteristik daerah,
(3) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial,
(4) dan spritual peserta didik;
(5) kebermanfaatan bagi peserta didik;
(6) struktur keilmuan;
(7) aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
(8) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan
(9) lingkungan; dan
(10) alokasi waktu.
c) Menentukan Tujuan
Tujuan dapat diorganisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan
untuk setiap pertemuan. Tujuan mengacu pada indikator, paling tidak
mengandung dua aspek: Audience (peserta didik) dan Behavior (aspek
kemampuan).
d) Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar
yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta
didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya
dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat
terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi
dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup
yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
(1) Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada
para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses
(2)

pembelajaran secara profesional.
Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan manajerial yang
dilakukan guru, agar peserta didik dapat melakukan kegiatan seperti

di silabus.
(3) Kegiatan

pembelajaran

untuk

setiap

pertemuan

merupakan

skenario langkah-langkah guru dalam membuat peserta didik aktif
belajar.

Kegiatan

ini

diorganisasikan

menjadi kegiatan:

Pendahuluan, Inti, dan Penutup. Kegiatan inti dijabarkan lebih
lanjut menjadi rincian dari kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi, yakni: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan. Untuk pembelajaran
yang bertujuan menguasai prosedur untuk melakukan sesuatu,
kegiatan pembelajaran dapat berupa pemodelan/demonstrasi oleh
guru atau ahli, peniruan oleh peserta didik, pengecekan dan
pemberian umpan balik oleh guru, dan pelatihan lanjutan.
e) Penjabaran Jenis Penilaian
Di dalam silabus telah ditentukan jenis penilaiannya.Penilaian pencapaian KD
peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan
menggunakan tes

dan nontes dalam bentuk

tertulis

maupun

lisan,

pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas,
proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Oleh
karena

pada

setiap

pembelajaran

peserta

didik

didorong untuk

menghasilkan karya, maka penyajian portofolio merupakan cara penilaian
yang harus dilakukan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Penilaian
merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis,

dan

menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam merancang penilaian yaitu sebagai berikut:
(1) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi yaitu
KD-KD pada KI-3 dan KI-4.
(2) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa
yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses
pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang
terhadap kelompoknya.
(3) Sistem yang direncanakan

adalah

sistem

penilaian

yang

berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih,
kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan KD yang telah
dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta
didik.
(4) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak
lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program
remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di

bawah ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang
telah memenuhi ketuntasan.
(5) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar
yang

ditempuh

dalam

proses

pembelajaran.

Misalnya,

jika

pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan
maka evaluasi harus diberikan baik pada proses misalnya teknik
wawancara, maupun produk berupa hasil melakukan observasi
lapangan.
f) Menentukan Alokasi
Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah
minggu efektif dan alokasi waktu matapelajaran per minggu dengan
mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan,
dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam
silabus

merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang

dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Oleh karena itu, alokasi
tersebut dirinci dan disesuaikan lagi di RPP.
g) Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan
untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik,
nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
D. Asas-asas Kurikulum Nasional
Pendidikan di Indonesia selalu sesuai dengan sejumlah asas-asas tertentu.Asas tersebut
merupakan elemen penting bagi pendidikan, karena pendidikan merupakan pilar utama
terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa asas pendidikan
menurut Idi (2010:68-94) adalah asas filsofis, asas sosiologis, asas psikologis dan asas
Organisatoris, keempat asa tersebut dapat diadaptasi pada kurikulum 2013 yang nantinya
sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan
1. Asas Filsofis
Asas filsofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik
yang

akan

dicapai

kurikulum,

sumber

dan

isi dari

kurikulum,

proses

pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta
didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya.

Kurikulum 2013

dikembangkan dengan asas filsofis yang memberikan dasar bagi pengembangan
seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang
tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Pada dasarnya tidak ada satupun
filosofi pendidikan yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan

kurikulum yang dapat menghasilkan manusia yang berkualitas. Berdasarkan hal
tersebut, Kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut.
a) Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan
bangsa

masa

kini

dan

masa

mendatang.

Pandangan

ini menjadikan

Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang
beragam,

diarahkan

untuk

membangun kehidupan masa kini, dan untuk

membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan.
Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi
kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah
rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda
bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa
menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan
masa kini dan masa depan peserta didik, Kurikulum 2013 mengembangkan
pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik
untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan
masadepan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan
mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap
permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
b) Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut
pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa
lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk
dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
menjadi

kemampuan

berpikir rasional

potensi

dirinya

dan kecemerlangan akademik

dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca,
dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh
lensa

budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta

kematangan fisik

peserta

didik.

Selain

mengembangkan

berpikir rasional

dan

cemerlang

dalam

akademik,

memposisikan keunggulan budaya tersebut

kemampuan

Kurikulum

2013

dipelajari untuk menimbulkan

rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi,
dalam

interaksi

sosial

di

masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan

berbangsa masa kini.
c) Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan
kecemerlangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini

menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran
adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan
kurikulum memiliki nama matapelajaran yang sama dengan nama disiplin
ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan
kecemerlangan akademik.
d) Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang
lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan
berkomunikasi,
membangun

sikap
kehidupan

sosial,

kepedulian, dan

masyarakat

berpartisipasi

untuk

dan bangsa yang lebih baik

(experimentalism and social reconstructivism). Dengan filosofi ini, Kurikulum
2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi
kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di
masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang
lebih baik.
Dengan demikian, Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas
dalam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni,
kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai
dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat
2.

manusia.
Asas Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial
hubungan antar individu dengan individu, antar golongan, lembaga sosial yang
disebut juga ilmu masyarakat. Dunia sekitar merupakan lingkungan hidup bagi
manusia. Masyarakat merupakan kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja
sama hingga mereka mengatur diri mereka sendiri dan menganggap sebagai suatu
kesatuan sosial. Tiap masyarakat mempunyai norma-norma, adat kebiasaan yang
harus dikenal dan diwujudkan anak dalam pribadinya, lalu dinyatakannya dalam
kelakuan.Tiap masyarakat berlainan corak nilai-nilai yang dianutnya. Tiap anak akan
berbeda latar belakang kebudayaanya. Perbedaan ini harus dipertimbangkan dalam
kurikulum.Selain itu, perubahan masyarakat akibat perkembangan iptek merupakan
faktor

yang

benar-benar

harus

dipertimbangkan

dalam

pengembangan

kurikulum.Karena masyarakat merupakan faktor penting dalam pengembangan
kurikulum, masyarakat dijadikan salah satu asas. Sekolah adalah institusi sosial yang
didirikan dan ditujukan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan asyarakat.Maka
kurikulum sekolah dalam penyusunan dan pelaksanaan banyak dipengaruhi oleh
kekuatan-kekuatan sosial yang berkembang dan selalu berubah di dalam masyarakat.

3.

Asas Psikologis
Asas psikologi berarti kegiatan yang mengacu pada hal-hal yang bersifat psikologi.
Manusia sebagai makhluk yang bersifat unitas multiplex yang terdiri atas sembilan
aspek psikologi yang kompleks tetapi satu. Aspek-aspek tersebut dikembangkan
dengan perantara berbagai mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum sebagai
berikut:
a) Aspek Ketakwaan
Dikembangkan dengan bidang agama
b) Aspek Cipta
Dikembangkan dengan bidang studi ekstra dan filsafat
c) Aspek Rasa
Dikembangkan dengan bidang studi seni
d) Aspek Karsa
Dikembangkan dengan bidang studi etika, budi pekerti, Agama, dan
PKn
e) Aspek Karya (Kreatif)
Dikembangkan melalui bidang studi yang berkaitan dengan penelitian
dan pengembangan bakat.
f) Aspek Karya (keprigelan)
Dikembangkan dengan pelajaran yang berkaitan dengan keterampilan.
g) Aspek Kesehatan
Dikembangkan dengan bidang studi kesehatan
h) Aspek Sosial
Dikembangkan melalui praktek lapangan, gotong royong, kerja bakti,
KKN, PPL.
i) Aspek Karya
Dikembangkan melalui kerja mandiri.
Terdapat dua asas Psikologi yang melandasi kurikulum, yaitu:
e) Psikologi anak
Sekolah didirikan untuk anak, untuk kepentingan anak, yakni untuk memberi
situasi-situasi belajar kepada anak-anak tempat mereka dapat mengembangkan
bakatnya.Sebab itu sudah seharusnya anak itu sendiri merupakan faktor dalam
pembinaan kurikulum yang tak dapat diabaikan.Karena pengaruh Plato berabadabad lamanya anak-anak dididik tanpa memperhatikan ciri khas tiap anak.Anak
itu dipandang sebagai orang dewasa dalam bentuk kecil.Baru pada permulaan
abad keduapuluh anak mendapat perhatian yang besar.Anak-anak dipelajari
secara ilmiah, sehingga lebih banyak diperoleh keterangan tentang minatnya,
perkembangannya, kebutuhannya dan sebagainya. Ada kurikulum yang
progresif yang malahan semata-mata child centered curriculum kurikulum yang
ditentukan oleh orang dewasa tanpa menghiraukan minat atau kebutuhan anakchild centered itu mengandung kelemahan-kelemahan dan boleh dikatakan tidak
ada lagi yang melakukannya di sekolah. Namun usaha itu telah berhasil untuk

menunjukkan perhatian para pendidik kepada kepentingan anak. Dalam
kaitannya dengan psikologi anak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pengembangan kurikulum yaitu :
(1) Anak bukan miniatur orang dewasa
(2) Fungsi sekolah di antaranya mengembangkan pribadi anak seutuhnya.
(3) Faktor anak harus benar-benar diperhatikan dalam pengembangan
kurikulum.
(4) Anak harus menjadi pusat pendidikan/sebagai subjek belajar dan bukan
objek belajar.
(5) Tiap anak unik, mempunyai ciri-ciri tersendiri, lain dari yang lain.
(6) Kurikulum hendaknya mempertimbangkan keunikan anak agar ia sedapat
mungkin berkembang sesuai dengan bakatnya.
Walaupun tiap anak berbeda dari yang lain, banyak pula persamaan di antara
mereka. Maka sebagian dari kurikulum dapat sama bagi semua.
f) Psikologi belajar
Pendidikan di sekolah diberikan dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa
anak-anak dapat dididik, dapat dipengaruhi kelakuannya.Anak-anak dapat
belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, mengubah sikapnya, menerima
norma-norma, menguasai sejumlah keterampilan. Soal yang penting ialah:
bagaimana anak itu belajar? Kalau kita tahu betul bagaimana proses belajar
berlangsung, dalam keadaan yang bagaimana belajar itu memberikan hasil
sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan
dengancara seefektif-efektifnya. Oleh sebab itu belajar rupanya suatu proses
yang pelik dan kompleks, maka kita tak heran tentang adanya bermacam-macam
teori belajar yang mencoba menjelaskannya, juga ada eksperimentil,
bagaimanakah proses belajar itu berlangsung. Pada umumnya dapat dikatakan,
bahwa tiap teori mengandung kebenaran, tetapi tidak memberikan gambaran
tentang keseluruhan proses itu. Teori yang kita anut terutama mentukan bahan
pelajaran yang harus disajikan.Jadi terdapat hubungan yang erat antara
kurikulum dan ilmu jiwa belajar.Pentingnya penguasaan psikologi belajar dalam
pengembangan kurikulum antara lain diperlukan dalam hal:
(1) seleksi dan organisasi bahan pelajaran
(2) menentukan kegiatan belajar mengajar yang paling serasi
(3) merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.
4. Asas Organisatoris
Asas ini berkenaan dengan masalah bagaimana bahan pelajaran akan disajikan.
Apakah dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah, ataukah diusahakan adanya
hubungan antara pelajaran yang diberikan, misalnya dalam bentuk broad field atau
bidang studi seperti IPA, IPS, Bahasa, dan lain-lain.Ataukah diusahakan hubungan

secara lebih mendalam dengan menghapuskan segala batas-batas mata pelajaran
(dalam bentuk kurikulum terpadu). Penganut ilmu jiwa asosiasi akan memilih bentuk
organisasi kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran, sedangkan penganut ilmu
jiwa gestalt akan cenderung memilih kurikulum terpadu.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pendidikan.
Tanpa kurikulum, proses pendidikan tidak akan berjalan mulus. Kurikulum diperlukan
sebagai salah satu komponen untuk menentukan tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam
kurikulum terangkum berbagai kegiatan dan pola pengajaran yang dapat menentukan arah
proses pembelajaran. Itulah sebabnya, menelaah dan mengkaji kurikulum merupakan suatu
kewajiban bagi guru. Dengan adanya RPP dan Silabus maka dapat memudahkan guru dalam
proses penyampain materi karena materi yang akan kita ajarkan sudah terangkum dalam RPP
dan silabus tersebut.
Asas-Asas Kurikulum dibagi menjadi empat, yaitu Asas Filosofis, Asas Psikologi, Asas
Sosiologis, dan Asas Organisatoris. Untuk dapat memilih bentuk-bentuk kurikulum yang
akan diterapkan sepatutnya diperhatikan asas-asas yang juga dapat dijadikan sandaran
pelaksanaan kurikulum agar tujuan dari kurikulum dapat tercapai

B. Saran
Dalam

merancang

dan

mengembangkan

kurikulum

pemerintah

hendaknya

memperhitungkan asas-asas kurikulum yang sangat berhungan erat dengan keberhasilan
tujuan dari kurikulum. Selain itu pemerintah juga harus merumuskan perencanaan
pembelajaran yang berupa silabus dan RPP secara lebih baik agar pelaksana pendidikan dapat
secara maksimal melakukan penyelanggaraan pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Idi, Abdullah. 2011. Pengembangan Kurikulum Teori&Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Nasution. 1995. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara
________. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Nurhadi. 2005. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta : Grasindo
Nurmaliyah, Faridah dan Prabowo, Sugeng. 2010. Perencanaan Pembelajaran. Malang: UINMaliki Press
Oemar, Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Sukmadinata ,Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung:
PT Remaja Rosdakrya.
_______________________. 2006. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah
(Konsep, Prinsip dan Instrumen). Bandung: PT Refika Aditama
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:Kencana

Dokumen yang terkait

Dokumen baru