Makalah SPI Muhammad Abduh dan Usaha Pem

MAKALAH
Muhammad Abduh dan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam di Mesir
Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah :
Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing : Ust. Gatot Manisya Aban, M.Pd.I

Disusun Oleh :
Nita Ridwansyah
Semester III

Jurusan Tarbiyah
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam
Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim
Pondok Pesantren Hidayatullah
Surabaya
2013

Kata Pengantar
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah SWT karena berkat karunia dan
rahmat-Nya, akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah mengenai
“Muhammad Abduh dan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam di Mesir.”
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah dan diibadahi
melainkan Allah SWT. Dialah Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Saya
juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sholawat serta
semoga senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarganya, sahabatsahabatnya, para tabi’in serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Pendidikan Islam sejatinya sejak di zaman Rasulullah Saw telah dilakukan,
namun kini zaman terus menerus mengalami perkembangan dan perubahan. Hal
ini juga turut berdampak pada sistem pendidikan Islam. Memang, dari segi-segi
yang mendasar tentunya tidak boleh ada perubahan, namun dari sisi yang lain,
missal segi metode maupun materi, nampaknya perlu adanya sebuah perubahan.
Maka dari itu, perlu adanya pembaruan pendidikan Islam. Dalam makalah ini,
dengan ringkas akan menjelaskan upaya pembaruan pendidikan Islam yang
pernah dilakukan oleh Muhammad Abduh di Mesir.
Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Untuk itu saya mohon kritik dan saran konstruktif guna penulisan selanjutnya
menjadi lebih baik lagi dan dapat bermanfaat bagi semua orang. Terima kasih.

Surabaya, 08 Desember 2013

Penulis

ii

Daftar Isi

Halaman depan …………………………………………………………… i
Kata Pengantar …………………………………………………………… ii
Daftar Isi …………………………………………………………………... iii
Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang ……………………………………………………. 1
b. Rumusan Masalah ……………………………………………….... 1
c. Tujuan ……………………………………………………………… 1
Bab II Pembahasan
a. Biografi Singkat Muhammad Abduh ……………………………. 3
b. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Pemikiran Muhammad Abduh
………………………………………………………………………. 5
c. Meredefinisi Ajaran Islam ………………………………………... 5
d. Pembaruan dalam Bidang Pendidikan Islam di Mesir …………. 6
e. Macam-Macam Kurikulum yang Dikembangkan ………………. 7
Bab III Penutup
a. Kesimpulan ……………………………………………………….... 9
Daftar Pustaka ……………………………………………………………. 10

iii

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan Islam era sekarang ini memang menjadi hal yang paling
urgen. Hal ini dikarenakan munculnya berbagai pengaruh buruk yang mulai
bermunculan, dimana hal tersebut mulai mengancam eksistensi pendidikan
Islam saat ini. Selain itu, pendidikan Islam kini juga mulai mengalami
pergeseran makna.
Hal ini ditandai dengan minimnya praktik atau implementasi dari
pendidikan Islam itu sendiri. Selama ini, pendidikan Islam hanya sekedar
formalitas dalam sebuah sekolah atau lembaga, sedangkan dalam kehidupan
sehari-hari mulai tidak tercermin esensi dari pada pendidikan Islam tersebut.
Maka dari itu, butuh adanya sebuah pembaruan seperti yang pernah
dilakukan oleh Muhammad Abduh di Mesir berkaitan dengan Pendidikan
Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana profil Muhammad Abduh ?
2. Faktor-faktor apa yang melatarbelakangi pemikiran Muhammad
Abduh ?
3. Bagaimana upaya Muhammad Abduh dalam meredefinisi ajaran Islam ?
4. Bagaimana upaya Muhammad Abduh dalam melakukan pembaruan
pendidikan Islam ?
5. Kurikulum apa saja yang dikembangkan oleh Muhammad Abduh pada
masa itu ?
C. Tujuan
1. Kita dapat mengetahui profil atau biografi sosok Muhammad Abduh
2. Kita

dapat

mengetahui

dan

memahami

faktor-faktor

yang

melatarbelakangi peikiran Muhammad Abduh
3. Kita dapat mengetahui dan memahami upaya Muhammad Abduh dalam
meredefinisi ajaran Islam

1

4. Kita dapat mengetahui dan memahami upaya Muhammad Abduh dalam
melakukan pembaruan pendidikan Islam
5. Kita dapat mengetahui dan memahami kurikulum apa saja yang
dikembangkan oleh Muhammad Abduh

2

Bab II
Pembahasan
A. Biografi Singkat Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1848 M/ 1265 H, di sebuah desa
di Propinsi Gharbiyyah Mesir Hilir. Beliau lahir dengan latar belakang
keluarga petani yang sangat cinta ilmu pengetahuan, sederhana, da taat.
Ayahnya bernama Muhammad ‘Abduh ibn Hasa Khairullah. Sedang ibunyaentah bernama siapa- katanya merupakan keturunan Arab yang berkaitan
dengan garis nasab dengan suu Umar bin Khaththab.
Terlahir dari keluarga muslim yang ta’at, Abduh kecil diarahkan untuk
belajar dasar – dasar agama. Di usia 10 tahun dia belajar al – qur’an di
rumahnya. Dua tahun kemudian dia sudah menghafal seluruh al-qur’an. Di
tahun 1862 Abduh kecil dikirim orang tuanya ke Thantha untuk belajar di
sekolah Al-Qur’an yang bernama Al-Jamie Al – Ahmadi. Di sekolah yang
merupakan salah satu lembaga pendidikan terbesar di Mesir ini, Abduh kecil
berguru pada seorang alim bernama Syaikh Ahmad.
Di usianya yang masih tergolong remaja, Abduh sudah dikenal sebagai
anak yang tekun dan semangat dalam menuntut ilmu. Hal ini terlihat dari
hasil gemilang yang kerap kali diperolehnya dalam menuntut ilmu. Bahkan
sikap kritisnya juga sudah mulai tampak pada usia ini. Di sana, dia
melakukan protes dan tidak setuju dengan model pengajaran yang berlaku,
hingga akhirnya membuatnya untuk memutuskan kembali ke kampung
halamannya.
Konon, model pengajaran yang didapatkan Abduh saat itu merupakan
model pengajaran yang dipraktekkan oleh Mesir, dan bahkan dunia muslim
pada umumnya. Pada saat itu, aspek hafalanlah yang ditonjolkan, namun di
sisi lain justeru mengabaikan sisi pemahaman terhadap materi itu sendiri.
Tapi sepulangnnya ke desa, keberadaannya justru tidak diterima. Bahkan dia
disuruh untuk kembali belajar. Putus asa dengan keadaannya, bukannya
kembali ke Thanta, Abduh malah bersembunyi di rumah salah satu

3

pamannya. Dan di situlah dia bertemu Syeikh Darwisy Khadr. Seorang
penganut tasawwuf yang pernah belajar di Libya dan Tripoli.
Kondisi Muhammad Abduh saat itu sangat membenci buku dan ilmu
pengetahuan, sehingga membuat Darwisy untuk selalu sabar mengajarinya.
Dan pada akhirnya, pada bulan Oktober 1865 M/ 1286 H, Muhammad
Abduh mulai kembali lagi ke Thanta. Hal ini hanya berkisar 6 bulan, dan
kemudian beliau menuju Al-Azhar.
Rasa

kecewa

kebali

merasuki

hatinya.

Dalam

salah

satu

tulisannya,beliau mengungkapkan kekecewaannya denga mengatakan bahwa
metode pengajaran yang verbalis itu telah merusahk akal dan nalarnya.1
Setelah itu beliau akhirnya menekuni dunia istik dan sufi. Pada tahun
1871, beliau bertemu dengan Sayyid Jamaludin A. Afghani. Dalam diri
Afghani, Abduh menemukan gelora yang tidak ia temukan di tempat lain.
Pemikiran-pemikiran yang diperkenalkan Afghani demikian mempesona
Abduh. Ia seakan mendapatkan pencerahan yang menggiringnya untuk dapat
membebaskan diri dari banyak belenggu tradisi yang saat itu mengekang
dirinya dan masyarakat. Sebab Afghani mengajarinya kritis terhadap kondisi
keterpurukan umat Islam saat itu. Jadilah Afghani sebagai “universitas”
kedua bagi Abduh setelah al-Azhar.2
Perlahan namun pasti, pengaruh duo Afghani dan Abduh mulai
menyebar ke tengah masyarakat luas. Namun, akibat kekisruhan politik saat
itu, keduanya diusir dari Cairo. Afghani ke Paris dan Abduh keluar dari
Cairo. Tetapi pada tahun berikutnya, Abduh diizinkan kembali bahkan
dipercaya untuk memimpin surat kabar pemerintah yang bernama al-Waqa’i
al-Mishriyah.
Pada periode ini, secara praktis Abduh terjun dalam dunia politik. Tapi
karena dianggap oposan, akibatnya Abduh diusir untuk kedua kalinya.
Untuk pengusiran kali ini dia pergi ke Syiria. Di sana, Abduh sempat
memberikan kuliah-kuliah yang di kemudian hari dibukukan menjadi salah
1

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan
Era Rasulullah sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2007), hal.
241
2
http://keceamat.blogspot.com/2012/09/biografsingkat-muhammad-abduhmuhammad.html

4

satu karyanya: Risalah al-Tauhid. Buku ini kelak diterjemahkan dan
diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama oleh tokohtokoh pembaruan di Indonesia.
Pada tahun 1834 beliau kembali ke Beirut. Kegiatan yang beliau
lakukan adalah menerjemahkan kitab-kitab asing ke dalam bahasa Arab.
Dan pada tahun 1899, beliau diangkat menjadi mufti menggantikan Syaikh
Hasanuddin al-Nadawi.
Usaha pertama yang beliau lakukan ketika menjabat sebagai mufti
adalah merubah pandangan masyarakat bahkan pandangan mufti sendiri
tentang kedudukan mereka sebagai hakim. Mufti baginya tidak hanya
berkhidmat pada Negara, tetapi juga pada masyarakat luas.
Kemudian beliau mendirikan organisasi social bernama al-Jami’at alKhairiyah al-Iskamiyyah pada tahun 1892. Organisasi ini bertujuan untuk
menyantuni fakir miskin dan anak yang tidak mampu dibiayai oleh
orangtuanya.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad Abduh
Faktor-faktor tersebut, diantaranya :3
1. Faktor sosial, berupa sikap hidup yang dibentuk oleh keluarga dan
gurunya. Di samping itu beliau juga menemukan sistem pendidikan yang
tidak efektif selama belajar di Thanta dan Mesir
2. Faktor Kebudayaan, berupa ilmu yang diperolehnya selama belajar di
sekolah formal dari Jamaluddin A. Afghani dan yang ditimbanya di
Barat.
3. Faktor Politik yang bersumber dari situasi politik di masanya, sejak
dilingkungan keluarganya di Mukallaf Nashr.
Dari faktor-faktor inilah yang melatarbelakangi lahirnya pemikran
Muhammad Abduh dalam berbagai bidang ilmu. Salah satunya dalam
bidang teologi, beliau fokuskan pada perbuatan manusia, qada dan
qadar, serta sifat-sifat Tuhan.
C. Meredefinisi Ajaran Islam

3

Samsul NIzar, Op.Cit, hal. 244

5

Disini beliau mengungkapkan delapan keunggulan Islam atas Kristen,
yakni :4
1. Islam menegaskan bahwa meyakini keesaan Allah dan membenarkan
risalah Muhammad merupakan kebenaran inti ajaran Islam
2. Menyepakati bahwa akal dan wahyu berjalan tidak saling bertentangan
3. Islam sangat terbuka atas berbagai berbagai interpretasi
4. Islam tidak membenarkan seseorang menyeruka risalah Islam kepada
orang lain, kecuali dengan bukti
5. Islam diperintahkan untuk menumbangkan otoritas agama
6. Islam melindungi dakwah dan risalah, menghentikan perpecahan dan
fitnah
7. Islam adalah agama kasih saying, persahabatan, dan mawaddah kepada
orang yang berbeda doktrinnya
8. Islam memadukan antara kesejahteraan dunia dan akhirat
D. Pembaruan Pendidikan Islam di Mesir
Ada empat agenda pembaruan yang dilakukan oleh beliau, yakni :5
1. Purifikasi
Yaitu usaha pemurnia agama Islam yang berkaitan dengan munculnya
berbagai khurafat dan bid’ah.6
2. Reformasi
Hal ini beliau fokuskan pada Universitas Al-Azhar. Beliau menyatakan
bahwa mempelajari ilmu-ilmu sains modern juga perlu disamping
belajar ilmu-ilmu klasik.
3. Pembelaan Islam
Lewat Risalah Al-Tauhid-nya, beliau berusaha untuk mempertahankan
potret Islam. Beliau tidak pernah menaruh perhatian terhadap pahampaham filsafat antiagama yang marak di Eropa.
4. Reformulasi
Agenda ini dilaksanakan degan cara mebuka pintu ijtihad. Dengan ini,
beliau menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran
4
5
6

Ibid. Hal. 245
Ibid, hal. 246
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), Hal.275

6

manusia dari tidur panjangnya. Manusia tercipta dalam kondisi tidak
terkekang.
Pembaruan ini pada dasarnya dilatarbelakangi oleh kondisi sosial
dan pendidikan yang terjadi pada saat itu. Krisis yang menimpa umat
Islam tidak hanya dalam bidang akidah dan syariat, melainkan juga
akhlak, moral.
Pada abad ke-19, beliau memulai pembaruan di Mesir. Karena
pendidikan sebelumnya mewariskan dua tipe pendidikan, yakni tipe
pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan Al-Azhar sebagai
lembaga pendidikan yang tinggi. Sedangkan tipe yang kedua adalah
sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun oleh pemerintah Mesir
maupun yang didirikan oleh Bangsa Asing. Padahal seharusnya tidak
ada pemisahan seperti itu.
Selain itu, banyak pula sekolah-sekolah yang hanya memasukkan
kurikulum dari Barat saja, tanpa memasukkan kurikulum ilmu
pengetahua agama. Hal ini menyebabkan terjadinya dualisme pendidikan
yag melahirkan dua kelas social. Tipe sekolah yang pertama melahirkan
para

ulama

dan

tokoh

masyarakat

yang

cenderung

tetap

mempertahankan tradisi. Sedangkan tipe yang kedua, melahirkan kelas
elite generasi muda dengan mudahnya menerima ide-ide dari Barat.
Ada segi negatif dari kedua hal tersebut, yakni jika pemikiran
pertama tetap dipertahankan, maka akan membuat umat Islam tertinggal
jauh, terdesak oleh arus kehidupan dan pemikiran modern. Sedangkan
pemikiran yang kedua, terdapat bahaya yang mengancam sendi-sendi
agama dan moral yang akan tergoyahkan oleh pemikiran modern yang
mereka serap.
E. Macam-Macam Kurikulum yang Dikembangkan
Melihat situasi-situasi semacam itu, akhirnya melahirkan pemikiran
beliau dalam bidang pendidikan formal dan non formal. Dalam pendidikan
formal tujuannya yang esensi adalah menghapuskan dualisme pendidikan.
Adapun kurikulum yang beliau canangkan adalah :
1. Kurikulum Al-Azhar

7

Disini beliau memasukkan ilmu filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan
modern ke dalam kurikulum Al-Azhar
2. Tingkat Sekolah Dasar
Beliau beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya
sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata
pelajaran agama hendaknya dijadikan inti semua mata pelajaran
3. Tingkat Atas
Upaya ini dilakukan dengan mendirikan sekolah menengah untuk
menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer,
kesehatan, perindustrian dan sebagainya. Namun tetap memasukkan
pendidikan agama. Sedangkan madrasah-madrasah yang berada di
bawah naungan Al-Azhar, dimasukkan ilmu Mantik, ilmu falsafah dan
tauhid
Meskipun kurikulum tersebut yang telah dirancang oleh beliau,
sukar dilaksanakan secara utuh, namun tetap menjangkau pemikiran
untuk mengahargai ilmu-imu agama dan sama penilaiannya terhadap
ilmu-ilmu dari Barat.
Dalam praktik mengajar pun beliau menggunakan metode diskusi
dan bukan hafalan. Ia menekankan pentingnya memberi pengertian
terhadap setiap pelajaran. Kemudian beliau juga mendukung pendidikan
untuk wanita, karena pada dasarnya haknya sama seperti laki-laki dalam
hal memperoleh pendidikan.
Dalam bidang pendidikan non formal, beliau juga melakukan
usaha perbaikan dengan melibatkan pemerintah, terutama dalam
mempersiapkan para pendakwah.
Tugas mereka yang utama adalah :
a. Menyampaikan kewajiban dan pentingnya belajar
b. Mendidik mereka dengan memberikan pelajaran apa yang mereka
lupakan atau yang belum mereka ketahui
c. Meniupkan ke dalam jiwa mereka cinta pada Negara, Tanah Air, dan
Pemimpin

8

Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Dari berbagai uraian makalah ini, kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa yang melatarbelakangi Muhammad Abduh dalam melakukan
pembaruan pendidikan Islam di Mesir adalah karena berangkat dari kondisi
keluarga yang sangat mencintai ilmu, pengaruh dari para gurunya
(khususnya Syaikh Darwisy dan Jamaluddin A.Afghani), kekecewaan beliau
atas kondisi dan metode yang dipakai oleh pendidikan di masanya.
Dari sinilah beliau mulai memunculkan pemikiran-pemikiran baru,
metode baru, terutama dalam menghilangkan dualisme pendidikan yang
terjadi pada saat itu. Beliau merasa ilmu agama dan ilmu modern adalah
ilmu pengetahuan yang sama-sama penting untuk dipelajari.

9

Daftar Pustaka
Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah
Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada
Media
Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz
Website :
http://keceamat.blogspot.com/2012/09/biografisingkat-muhammad-abduhmuhammad.html

10

Dokumen yang terkait

Dokumen baru