BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluhan Kesehatan 2.1.1. Definisi Penyuluhan Kesehatan - Efektifitas Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Metode Simulasi tentang SADARI terhadap Perilaku dalam Mencegah Kanker Payudara (Ca Mammae) Secara Dini pada Siswi SMU

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyuluhan Kesehatan

2.1.1. Definisi Penyuluhan Kesehatan

  Dalam Depkes (2008) disebutkan beberapa definisi penyuluhan kesehatanseperti di bawah ini : a.

  Nyswander mendefinisikan penyuluhan kesehatan adalah suatu proses perubahan padamanusia yang bertalian dengan tercapainya tujuan-tujuan kesehatan perorangan dan masyarakat. Penyuluhan kesehatan tidak dapat diberikan oleh seseorang pada orang lain, maupun serangkaian prosedur-prosedur yang harus dijalankan untuk mencapai statu hasil, akan tetapi suatu proses perkembangan yang selalu berubah secara dinamis dimana didalamnya seseorang menerima atau menolak informasi baru, sikap baru dan perilaku baru yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat. Penekanannya pada perubahan perilaku, bagaimana cara mendorong serta memengaruhi orang lain, sehingga terjadi perubahan perilaku tercapai tujuan kesehatan seseorang dan masyarakat.

  b.

  Steuart mendefinisikan penyuluhan kesehatan adalah komponen dari program- program kesehatan dan kedokteran yang memuat usaha-usaha direncanakan untuk mengubah perilaku individu, kelompok maupun masyarakat luas (apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dikerjakan) dengan tujuan menolong mereka untuk dapat mencapai tujuan pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Penekanannya bahwa penyuluhan kesehatan merupakan komponen program-program kesehatan, terencana, mudah dilaksanakan, mudah mengukur hasilnya, dan perbaikan peningkatan program pendidikan yang akan datang.

  c.

  L. Green mendefinisikan penyuluhan kesehatan adalah setiap kombinasi pengalaman belajar yang merangsang penyesuaian secara sukarela dariperilaku yang sesuai dengan kesehatan. Penekanannya berdasar sukarela dan kesadaran dalam penyesuaian perilaku untuk memajukan kesehatan melalui berbagai kombinasi pengalaman belajar.

  d.

  Wood mendefinisikan penyuluhan kesehatan adalah sejumlah pengalaman yang menguntungkan memengaruhi pengetahuan, kebiasaan, dan sikap yang berhubungan dengan kesehatan individu, masyarakat, dan bangsa. Penekanannya adalah bahwa pengalaman-pengalaman yang menguntungkan didalam kesehatan dipergunakan untuk memengaruhi orang lain dalam rangka mencapai tujuankesehatan.

  e.

  UU No. 36 tahun 2009, penyuluhan kesehatan diselenggarakan guna meningkatkan pengetahuan, kesdaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan. Penyuluhan kesehatan merupakan kegiatanyang melekat pada setiap kegiatan upaya kesehatan.Penyuluhan kesehatan diselenggarakan untuk mengubahperilaku seseorang atau kelompok masyarakat agar hidup sehatmelalui komunikasi, informasi, dan edukasi.

  Dari berbagai pengertian diatas, bahwa tujuan penyuluhan kesehatan adalah adanya perubahan perilaku manusia untuk mencapai hidup sehat yang diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Tujuan penyuluhan kesehatan tersebut adalah: a.

  Menjadikan kesehatan sebagai harta atau milik masyarakatyang berharga.

  b.

  Membantu orang (individu) menjadi mampu menjalankan kegiatan-kegiatan demi kepentingannya, secara individu, kelompok agar menyadari sepenuhnya makna kesehatan dan berperilaku sehat.

c. Meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan fasilitas kesehatan sebagaimana mestinya.

2.1.2. Metode Penyuluhan Kesehatan

  Metode penyuluhan kesehatan dapat digolongkan berdasarkan teknik komunikasi, sasaran yang dicapai dan indera penerima dari sasaran promosi (Depkes, 2008) a.

  Berdasarkan Teknik Komunikasi 1.

  Metode penyuluhan langsung Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengansasaran.Metode ini dibedakan menjadi 2 yaitu : a.

  Metode didaktik Pada metode didaktik yang aktif adalah orang yang melakukan penyuluhan kesehatan, sedangkan sasaran bersifat pasif dan tidak diberikan kesempatan untuk ikut serta mengemukakan pendapatnya atau mengajukan pertanyaan– pertanyaan apapun. Dan proses penyuluhan yang terjadi bersifat satu arah (one way method). Contoh metode ini adalah metode ceramah.

  b.

  Metode sokratik Metode sokratik adalah metode komunikasi dua arah antara yang memberikan penyuluhan terhadap sasaran, sehingga diharapkan tingkat pemahaman sasaran terhadap pesan yang disampaikan akan lebih jelas dan mudah dipahami, diantaranya metode curah pendapat, diskusi, demonstrasi, simulasi, bermain peran, dan sebagainya.

  2. Metode penyuluhan tidak langsung. Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara (media). Umpamanya publikasi melalui pertunjukan film, media cetak (poster, majalah, buletin, surat kabar) dan media eletronik (televisi, radio) 3. Berdasarkan jumlah sasaran yang dicapai a.

  Pendekatan perorangan Dalam hal ini para penyuluh kesehatan berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah, hubungan telepon, dan lain-lain.

  b.

  Pendekatan kelompok Dalam pendekatan ini penyuluh kesehatan berhubungan dengan sekolompok sasaran. Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain :Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain-lain c. Pendekatan massal

  Petugas penyuluh kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepadasasaran yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan iniadalah : Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/mediacetak lainnya, Pemutaran film, dll 4. Berdasarkan indra penerima a.

  Metode melihat/memperhatikan.

  Dalam hal ini pesan diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan Gambar/Photo,Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film b.

  Metode pendengaran Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui inderapendengar, umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dl c.

  Metode kombinasi. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi (dilihat, didengar,dicium, diraba dan dicoba)

2.1.3. Metode Ceramah

  Metode ceramah merupakan salah satu cara menerangkan atau menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok pendengar yang disertai diskusi dan tanya jawab. Pada metode ini penyuluh lebih banyak memegang peran untuk menyampaikan dan menjelaskan materi penyuluhannya dengan sedikit memberikan kesempatan kepada sasaran untuk menyampaikan tanggapannya (Hikmawati, 2011).

  Dalam Depkes (2008), ceramah digunakan apabila ingin memberikan suatu informasi kepada peserta yang dibagi dalam beberapa topik bahasan. Adapun kelebihan metode ini adalah 1) Mudah mengorganisasinya sehingga relatif efisien dan sederhana, 2) Waktu dapat dibatasi dan dalam waktu singkat dapat memberikan banyak informasi, 3) Dapat menjangkau audiens dalam waktu bersamaan, 4) Dapat dilakukan secara sistematis dengan menggunakan macam-macam alat-alat bantu, 5) Dapat memengaruhi suasana emosi peserta.

  Metode ceramah merupakan salah satu metode yang baik untuk kelompok besar. Kelompok besar yang dimaksud disini adalah apabila peserta itu lebih 15 orang.Metode ini cocok untuk sasaran pendidikan tinggi dan rendah. Metode ini menguntungkan bila dipergunakan untuk memperkenalkan suatu subjek dengan memberikan gambaran, sehingga menuntun orang untuk mengambil suatu tindakan, bersifat informatif dan dapat menghemat waktu karena sebagia peserta dapat diberi pemahaman pada suatu waktu serta dapat diulang kembali jika ada peserta yang kurang memahami (Trianto, 2013)

  Hamalik (2013) mengemukakan beberapa alasan pemilihan metode ceramah dalamsuatu pembelajaran atau penyuluhan antara lain :

  1. Kalau pengajar/penyuluh akan menyampaikan informasi atau pendapat dan tidakterdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud.

  2. Kalau pengajar/penyuluh harus menyampaikan informasi kepada pembelajar yang besarjumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yanglain tidak mungkin dapat dipergunakan.

  3. Kalau pengajar/penyuluh adalah pembicara yang bersemangat dan akan merangsangpembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan.

  Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak digunakan karena memilikikeunggulan-keunggulan antara lain (LP3I Unair, 2009) :

  1. Cepat untuk menyampaikan informasi 2.

  Informasi yang disampaikan bisa massive pada sasaran yang cukup besar 3. Sangat cocok digunakan oleh pengajar/penyuluh yang bukan berasal dari kalangan kelompoksasaran.

  Pengorganisasian kelas yang sederhana juga merupakan salah satu keunggulan pada metode ceramah. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas jika dibandingkan dengan metode-metode yang lain dimana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, harus merubah posisi kelas dan sebagainya (Hamalik, 2013).

  Disamping keunggulan-keunggulan tersebut, metode ceramah juga memiliki kelemahan antara lain (LP3I Unair, 2009) :

  1. Komunikasi satu arah sehingga sasaran menjadi pasif untuk bertanya atau mengeluarkanpendapat.

  2. Pada metode ceramah tidak dapat diidentifikasi kebutuhan per individu.

  3. Sasaran tidak diberi kesempatan untuk berfikir dan berperilaku kreatif.

4. Sasaran mudah menjadi bosan jika waktu terlalu lama.

2.1.4. Metode Simulasi

  Metode simulasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukan kepada peserta suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan dengan tujuan agar peserta mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana peserta merasa dan berbuat seperti apa adanya (Mubarak, 2007). M enurut Trianto

  

(2013), metode pembelajaran simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya

untuk mengembangkan keterampilan peserta didik (ranah kognitif maupun

keterampilan). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan

atau ruang belajar karena adanya kesulitan atau keterbatasan untuk melakukan

praktek di dalam situasi yang sesungguhnya.

  Tujuan dari metode pembelajaran simulasi adalah: 1.

  Agar siswa/peserta mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses terjadinya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, dan komponen- komponen yang membentuk sesuatu.

  2. Untuk menghindari terjadinya verbalisme pada siswa/peserta.

  3. Agar proses pembelajaran lebih menarik bagi siswa/peserta.

  4. Meminimalisir pembelajaran satu arah dari guru/penyuluh, dengan metode ini siswa/peserta dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran.

  5. Merangsang siswa/peserta untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan mencoba mempraktekan apa yang ada dalam teori menjadi sesuatu yang nyata (disimulasikan) (Trianto, 2013).

  Setiap metode pendidikan kesehatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan begitu juga dengan metode simulasi yaitu sebagai berikut:

  1. Aktivitas simulasi menyenangkan sehingga pembelajar terdorong untuk berpartisipasi

  2. Menguasai keterampilan tanpa membahayakan dirinya atau orang lain dan tanpa menanggung kerugian

  3. Simulasi melatih pembelajar untuk berfikir kritis 4. salah satu strategi menimbulkan respon yang positif bagi pembelajar yang lamban, kurang cakap, dan kurang motivasinya

  5. Mengurangi hal-hal yang terlalu abstrak, sebab dikerjakan dalam bentuk aktivitas 6.

  Memungkinkan eksperimen tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya Kekurangan metode simulasiadalah : 1. Kurang efektif menyampaikan informasi umum; 2. Kurang efektif untuk kelas yang telalur besar.

  3. Memerlukan fasilitas khusus yang mungkin sulit untuk disediakan di tempat latihan, karena diperlukan banyak alat bantu;

  4. Dibutuhkan waktu yang lama, bila semua pembelajar harus melakukannya; 5.

  Media berlatih yang merupakan situasi buatan tidak selalu sama dengan situasi sebelumnya, baik dalam hal kecanggihan alat, lingkungan dan sebagainya;

6. Memerlukan waktu dan biaya yang lebih banyak (Syaefuddin, 2002)

2.2. Perilaku

  Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Menurut Benjamin Bloom dalam Notoatmodjo ( 2007), ranah perilaku terbagi dalam 3 domain, yaitu :

2.2.1. Pengetahuan

  Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor dominan yang sangat penting dalam terbentuknya tindakan seseorang, sebab dari hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007)

  Menurut Rogers dalam Notoatmodjo (2010), pengetahuan dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu : a.

  Awareness knowledge (Pengetahuan kesadaran), yaitu pengetahuan akan keberadaan suatu inovasi. Pengetahuan jenis akan memotivasi individu untuk belajar lebih banyak tentang inovasi dan kemudian akan mengadopsinya. Pada ini inovasi diperkenalkan pada masyarakat tetapi tidak ada informasi yang pasti tentang produk tersebut. Karena kurangnya informasi tersebut maka masyarakat tidak merasa memerlukan inovasi tadi. Rogers menyatakan bahwa untuk menyampaikan keberadaan inovasi akan lebih efektif disampaikan melalui media massa seperti radio, televisi, koran atau majalah. Sehingga masyarakat akan lebih cepat mengetahui keberadaan suatu inovasi.

  b.

  How-to-knowlegde (Pengetahuan pemahaman), yaitu pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan suatu inovasi dengan benar. Rogers memandang pengetahuan jenis ini penting dalam proses keputusan inovasi. Untuk lebih meningkatkan peluang pemakaian sebuah inovasi maka individu harus memiliki pengetahuan ini dengan cukup tentang penggunaan inovasi ini.

  c.

  Principles-knowledge (Prinsip dasar), yaitu pengetahuan tentang prinsip-prinsip keberfungsian yang mendasari bagaimana dan mengapa suatu inovasi dapat bekerja. Contoh dalam hal ini adalah tentang caramelakukan SADARI.

  Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat (Notoatmodjo, 2010), yaitu: 1.

  Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, yang termasuk ke dalam pengethauan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima.Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

  2. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyipulakan, mermalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

  3. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau pengunaan hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

  4. Analisa (Analysis) Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu stu,ktur organisasi tersebut, dan masih dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

  5. Sintesa (Synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu materi atau objek. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada.

  6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyakan isi materi yang ingin diukur dari objek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat disesuaikan dengan tingkat tersebut di atas.

  Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengetahuan adalah : 1. Pendidikan

  Pendidikan merupakan penuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga yang dapat meningkatkan kualitas hidup, sebagaimana umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi dan semakin pengetahuan yang dimiliki sehingga penggunaan komunikasi dapat secara efektif akan dapat melakukannya (Notoatmojo, 2007).

  2. Sumber Informasi Informasi adalah penerangan, pemberitahuan, kabar atau berita tentang sesuatu keseluruhan makna yang menunjang pesan atau amanat.Pengetahuan diperoleh melalui informasi yaitu kenyataan (fakta) dengan melihat dan mendengar sendiri. Informasi kesehatan biasanya berasal dari petugas kesehatan atau instansi pemerintah atau media massa. Pada umumnya petugas kesehatan melakukan pendekatan dengan ceramah atau penyuluhan kesehatan, sedangkan melalui media massa dapat berupa elektronik seperti televisi, radio, dan lain-lain.Adapun media cetak seperti majalah, koran, buku, dan lain-lain. Sumber informasi kesehatan yang tepat mempunyai peran besar dalam meningkatkan pengetahuan seseorang.

3. Sosial Ekonomi Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang.

  Sedangkan ekonomi dikaitkan dengan pendidikan ekonomi baik tingkat pendidikan akan tinggi, sehingga tingkat pengetahuan akan tinggi juga (Notoatmodjo, 2007) 4. Budaya

  Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut (Notoatmodjo, 2007)

2.2.2. Sikap

  Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek ,baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari sikap yang tertutup tersebut. Notoatmodjo (2007) sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.Sedangkan menurut Winardi (2004) sikap adalah kecenderungan bertindak dari individu, berupa respon tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu.Allport dalam Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok :

  1. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek.

  2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

  3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

  Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu: 1. Menerima (Receiving)

  Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (Objek).

  2. Menanggapi (Responding) Menanggapi diartikan sebagai memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.

  3. Menghargai (Valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasanya dengan orang lain, bahkan mengajak atau memengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons.

  4. Bertanggung jawab (Responsible) Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. Bertanggungjawab merupakan sikap yang paling tinggi tingkatannya (Notoatmodjo, 2010).

  Menurut Azwar (2005) ada beberapa faktor yang memengaruhi sikap terhadap obyek sikap antara lain :

  1. Pengalaman pribadi, untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.

2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting, pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

  Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghargai konflik dengan orang lain yang dianggap penting tersebut.

  3. Pengaruh kebudayaan, tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis yang mengarahkan sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.

  4. Media massa dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyektif cenderung dipengaruhui oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruhui terhadap sikap konsumenya.

  5. Lembaga pendidikan dan lembaga agama, konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan sistem kepercayaan, tidak mengherankan jika pada giliranya konsep tersebut mempengaruhui sikap.

  Menurut Mar’at dalam Rahayuningsih (2008), Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan sikap adalah :

  1. Pengalaman pribadi

  Dasar pembentukan sikap: pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat dan sikap mudah terbentuk jika melibatkan faktor emosional.

  2. Kebudayaan

  Pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut dibesarkan, contoh pada sikap orang kota dan orang desa terhadap kebebasan dalam pergaulan.

  3. Orang lain yang dianggap penting (Significant Otjhers)

  Orang-orang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah laku dan opini kita, orang yang tidak ingin dikecewakan, dan yang berarti khusus, misalnya: orangtua, pacar, suami/isteri, teman dekat, guru, pemimpin. Umumnya individu tersebut akan memiliki sikap yang searah (konformis) dengan orang yang dianggap penting.

  4. Media massa

  Media massa berupa media cetak dan elektronik. Dalam penyampaian pesan, media massa membawa pesan-pesan sugestif yang dapat memengaruhi opini kita.

  Jika pesan sugestif yang disampaikan cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal hingga membentuk sikap tertentu. Institusi / Lembaga Pendidikan dan Agama Institusi yang berfungsi meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.Pemahaman baik dan buruk, salah atau benar, yang menentukan sistem kepercayaan seseoranghingga ikut berperan dalam menentukan sikap seseorang

5. Faktor Emosional

  Suatu sikap yang dilandasi oleh emosi yang fungsinya sebagai semacam penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisime pertahanan ego sehingga dapat bersifat sementara ataupun menetap (persisten/tahan lama).Contoh: Prasangka (sikap tidak toleran, tidak fair).

2.2.3. Tindakan

  Suatu sikap belum terwujud dalam bentuk tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi sebuah perbuatan diperlukan menanamkan pengertian terlebih dahulu, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik serta diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas dan faktor pendukung dari berbagai pihak (Notoatmodjo, 2007). Adapun tingkatan dari tindakan adalah : 1.

  Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek yang pertama.

  2. Respon Terpimpin (Guide Response) Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh-contoh adalah indikator tingkat kedua.

  3. Mekanisme (Mechanisme) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan maka ia sudah mencapai tingkat ketiga.

  4. Adaptasi (Adaptation) Tindakan yang sudah berkembang dengan baik (Notoatmodjo, 2007).

2.3. Kanker Payudara

2.3.1. Anatomi Payudara

  Payudara merupakan suatu kelenjar yang terdiri atas lemak, kelenjar, dan jaringan ikat, yang terdapat di bawah kulit dan di atas otot dada. Pria dan wanita memiliki payudara yang memiliki sifat yang sama sampai saat pubertas. Pada saat pubertas terjadi perubahan pada payudara wanita, dimana payudara wanita mengalami perkembangan dan berfungsi untuk memproduksi susu sebagai nutrisi bagi bayi. (Faiz, 2003).

  Payudara terletak di dinding anterior dada dan meluas dari sisi lateral sternum menuju garis mid-aksilaris di lateral. Secara umum payudara dibagi atas korpus, areola dan puting.Korpus adalah bagian yang membesar.Di dalamnya terdapat alveolus (penghasil ASI), lobulus, dan lobus.Areola merupakan bagian yang kecokelatan atau kehitaman di sekitar puting.Puting (papilla) merupakan bagian yang menonjol di puncak payudara dan tempat keluarnya ASI.(Faiz, 2003).

  Tiap payudara terdiri atas 15-30 lobus.Lobus-lobus tersebut dipisahkan oleh septa fibrosa yang berjalan dari fasia profunda menuju ke kulit atas dan membentuk struktur payudara.Dari tiap lobus keluar duktus laktiferus dan menyatu pada puting. Areola, yaitu bagian yang kecoklatan atau kehitaman di sekitar puting susu. Pada bagian terminal duktus laktiferus terdapat sinus laktiferus yang kemudian menyatu terus ke puting susu dimana ASI dikeluarkan. (Faiz, 2003).

Gambar 2.1. Anatomi Payudara

2.3.2. Definisi Kanker Payudara

  Kanker payudara (Ca Mammae) adalah sekelompok sel yang tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berlipat ganda.Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.Kanker payudara merupakan salah satu bentuk pertumbuhan sel atau pada payudara.Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang dapat berubah-ubah tetapi masih dalam batas normal. Akan tetapi, jika sel metaplasia ini dipengaruhi faktor lain maka akan menjadi sel displasia. Yaitu sel yang berubah menjadi tidak normal dan terbatas dalam lapisan epitel (lapisan yang menutupi permukaan yang terbuka dan membentuk kelenjar-kelenjar). Dimana pada suatu saat sel-sel ini akan berkembang menjadi kanker karena berbagai faktor yang memengaruhi dalam kurun waktu 10-15 tahun (Kasdu, 2005)

2.3.3. Etiologi Kanker Payudara

  Penyebab pasti kanker payudara sampai saat ini belum diketahui.Namun, ada beberapa faktor resiko yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker payudara. Beberapa diantaranya, adalah : 1.

  Usia, Penyakit kanker payudara meningkat pada usia remaja keatas.

  2. Genetik, jika ibu atau saudara wanita mengidap penyakit kanker payudara, maka anda kemungkinan memiliki resiko kanker payudara 2 kali lipat dibandingkan wanita lain yang dalam keluarganya tidak ada penderita satupun.

  3. Pemakaian obat-obatan, misalnya seorang wanita yang menggunakan therapy obat hormon pengganti {hormone replacement therapy (HRT)} seperti Hormon esterogen akan bisa menyebabkan peningkatan resiko mendapat penyakit kanker payudara.

  4. Diet yang tidak sehat/tidak seimbang. Pola makan yang tidak seimbang yang menyebabkan resiko munculnya penyakit kanker antara lain kebiasaan makanan cepat saji (fast food).

  5. Faktor lain yang diduga sebagai penyebab kanker payudara adalah; tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak.

  6. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penyakit kanker payudara meningkat pada orang yang sering menghadapi kondisi stress (goncangan jiwa) dan juga bagi wanita yang sebelumnya mengalami menstruasi dibawah usia 11 tahun.

  7. Paparan di tempat kerja ( paparan dari gelombang elektromagnetik).

  8. Wanita yang obesitas (kegemukan) pasca menopause, mengkonsumsi lemak, dan konsumsi alkohol berlebihan (Yayasan Kanker Indonesia, 2014).

  Menurut, Suryaningsih (2009), faktor pemicu kanker payudara adalah: a. Zat karsinogenik

  Penyebab kanker payudara memang belum diketahui secara pasti oleh dunia kedokteran.EdenTareke dari Universitas Stockholm, Swedia, oada tahun 2002 mengumumkan hasil penelitiannya.Makanan gorengan lebih gurih karena terikat mengenai akrilamida, karsinogen yang berbentuk pada makanan yang dipanaskan. Menurut penelitian itu, makanan kaya karbohidrat seperti singkong, ubi, kentang, pisang, nasi dan jenis lainnya jika digoreng akan terurai. Kemudian bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa karsinogenik (pemicu kanker) yang bernama akrilamida. Demikian juga makanan yag dipanggang.

  Sedang makanan mentah, atau dikukus tidak mengalami reaksi semacam itu, sehingga tidak menghasilkan akrilamida, kalaupun ada, adarnya sangat kecil. b.

  Senyawa kimia Banyak sekali senyawa kimia yang ada di sekitar kita.Zat-zat itu merupakan racun bagi tubuh kita. Senyawa kimia tersebut adalah seperti aflatoxin B1, ethionine, saccarin, asbestos, nikel, chrom, arsen, arang, tarr, asap rokok dan oral konsepsi.

  c.

  Faktor fisik Faktor-faktor fisik yang dapat memicu di sekitar kita adalah seperti radiasi matahari, nuklir dan radionukleide.menggunakan bra namun radiasi matahari masih bisa menembus ke jaringan payudara merupakan salah satu pemicu kanker payudara. Oleh sebab itu Anda harus berhati-hati dengan sinar matahari yang dapat memicu kanker payudara.

2.3.4. Tanda dan Gejala Kanker Payudara

  Pada fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa tanda gejala) dan tidak ada keluhan sama sekali hanya seperti fribroadenoma atau penyakit fribrokistik yang kecil saja,bentuk tidak teratur, batas tidak tegas, permukaan tidak rata, konsistensi pada keras. Kanker payudara dapat terjadi di bagian mana saja dalam payudara, tetapi mayoritas terjadi pada kuadran atas terluar dimana sebagian besar jaringan payudara terdapat kanker payudara umum terjadi pada payudara sebelah kiri.Umumnya lesi tidak terasa nyeri, terfiksasi dan keras dengan batas yang tidak teratur, keluhan nyeri yang menyebar pada payudara dan nyeri tekan yang terjadi pada saat menstruasi biasanya berhubungan dengan penyakit payudara jinak.Namun nyeri yang jelas pada bagian yang ditunjuk dapat berhubungan dengan kanker payudara pada kasus yang lebih lanjut.Menurut Suryaningsih (2009).

  Tingkatan perkembangan kanker payudara adalah: 1. Stadium 0

  Pada stadium ini disebut dengan Ductal Carcinoma In Situ atau Non invasive Cancer. Di mana kanker tidak menyebar keluar dari pembuluh/ saluran payudara dan kelenjar-kelenjar (lobules) susu pada payudara.

  2. Stadium I Stadium satu nomor masih sangat kecil dan tidak menyebar serta tidak ada titik pada pembuluh getah bening.

  3. Stadium II A Pada stadium satu ini benjolan kanker hanya berukuran dua sentimeter sehingga tidak dapat terdeteksi dari luar. Karena tidak terdeteksi maka akan sulit mengindikasikan orang terjangkit kanker payudara atau tidak. Namun meskipun begitu dengan kecanggihan alat- alat medis kedokteran pada stadium ini masih bisa ditemukan di sekitar titik-titik saluran getah bening di ketiak. Dengan pemeriksaan dini ini maka sel kanker dapat tidak menyebar ke bagian tubuh dan tidak akan berlanjut ke stadium berikutnya. Kemungkinan sembuh adalah sekitar 70%.

  4. Stadium II B Benjolan pada stadium dua telah berukuran kurang lebih dua sentimeter namun tidak lebih dari lima sentimeter dengan penyebaran sudah sampai ke kelenjar susu dan daerah ketiak. Pada stadium ini kemungkinan sembuh adalah 30-40 %.Jika sudah diketahui penderita kanker pada stadium 2 maka biasanya dilakukan operasi dengan pengangkatan sel-sel kanker yang ada pada tubuh.

  Setelah operasi biasanya dokter akan melakukan penyinaran untuk memastikan bahwa tidak ada lagi sel-sel yang tertinggal.

  5. Stadium III A Pada tahap stadium 3 A ini kanker payudara telah 87% telah menyebar ke daerah limfa dan telah berukuran lebih dari lima sentimeter dan telah menyebar ke titk- titik pada pembuluh getah bening ketiak. Diameter tumor juga bisa lebih besar dari 5 cm dan telah menyebar ke titk-titik pembuluh getah bening ketiak.

  6. Stadium III B Benjolan pada stadium III B lebih panjang lagi dan telah menyebar ke seluruh bagian kulit dinding dada, tulang rusuk dan otot dada.Dapat menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah di payudara.Didiagnosis sebagai Inflammatory Breast Cancer.Bisa juga belum menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas, tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh.Jika kondisi pasien sudah pada tahap stadium III B maka hal yang harus dilakukan adalah pengangkatan payudara.

  7. Stadium III C Benjolan telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening.Kanker telah menyebar lebih dari 10 titik di saluran getah bening di bawah tulang selangka.

8. Stadium IV Pada stadium 4 kanker sudah begitu parah sudah menjalar ke bagian tubuh lain.

  Sehingga tidak ada jalan lain selain pengangkatan payudara. Kanker juga telah bermetafisis yaitu kanker telah menyebar dari payudara dan kelenjar getah bening di sekitar ketiak ke bagian lain seperti paru, tulang, hati, dan otak kanker pada payudara itu bisa membengkak dan pecah, kalau sudah begini bau busuk dan anyir akan keluar dari buah dada. Keluhan ini adalah sesak nafas karena kanker menekan payudara.

2.3.5. Pencegahan Kanker Payudara

  Hampir setiap epidemiolog sepakat bahwa pencegahan yang paling efektif bagi kejadian penyakit tidak menular adalah promosi kesehatan dan deteksi dini.Begitu pula pada kanker payudara, pencegahan yang dilakukan antara lain berupa pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tertier (Pamungkas, 2011). Menurut IUCC dalam Pamungkas (2011), pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang sehat melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan dari kontak karsinogen dan berbagai faktor resiko, serta melaksanakan pola hidup sehat karena diperkirakan hampir seluruk kasus kanker disebabkan oleh karsinogen yang ada dilingkunagan kita, dan sebagian besar ada hubungannya dengan tembakau dan alkohol.

  Menurut Nina dalam Hawari (2004), pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk terkena kanker payudara.Setiap wanita yang normal dan memilki siklus haid normal merupakan population at risk dari kanker payudara.Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini.Beberapa metode deteksi dini terus mengalami perkembangan.Diantaranya adalah dengan melakukan SADARI dan skrining melalui mammografi.Menurut beberapa penelitian, menemukan bahwa kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada wanita yang melakukan SADARI dibandingkan yang tidak.

  Pencegahan tersier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tertier ini penting untuk meningkatkan kualitas hiduppenderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan (Hawari, 2004).

  Menurut (Purwoastuti, 2008), kanker payudara dapat dicegah dengan beberapa tindakan sebagai berikut :

  1. Hindari makanan berkadar lemak tinggi, dari hasil penelitian, konsumsi makanan berkadar lemak tinggi berkorelasi dengan peningkatan kanker payudara.

  2. Jaga kesehatan dengan mengkonsumsi buah dan sayur segar.

  3. Berikan air susu ibu (ASI) pada anak selama mungkin, hal ini dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara.

  4. Lakukan pemeriksaan SADARI setiap bulan

2.4. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

  Setiap perempuan harus mewaspadai akan perubahan yang terjadi pada payudaranya sendiri. Hampir 85% kejadian kanker payudara ditemukan pertama kali oleh penderita itu sendiri dengan menemukan atau merasakan adanya gejala-gejala kanker payudara. Oleh karena itu dikembangkanlah metode SADARI atau breast self

  exam (BSE) (Kasdu, 2005).

  2.4.1. Pengertian Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) SADARI merupakan salah satu cara untuk mendeteksi dini kanker payudara.

  SADARI adalah suatu teknik pemeriksaan dimana seorang wanita memeriksa payudaranya sendiri dengan melihat dan merasakan dengan jari untuk mendeteksi apakah ada benjolan atau tidak pada payudaranya (Singh, 1999).Menurut Widyastuti (2010), pemeriksaan SADARI adalah cara sederhana menemukan kanker payudara sedini mungkin, dengan cara memeriksa payudara sendiri.

  Pemeriksaan ini dilakukan secara rutin minimal sekali dalam sebulan dan dianjurkan bagi para wanita mulai usia 20 tahun. SADARI dilakukan 3 hari setelah menstruasi atau 7-10 hari dari menstruasi karena pada saat itu pengaruh hormon ovarium sudah hilang sehingga konsistensi payudara tidak lagi keras seperti menjelang menstruasi (Swart, 2010).

  2.4.2. Tujuan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

  Tujuan utama SADARI adalah menemukan kanker dalam stadium dini sehingga pengobatannya menjadi lebih baik.Ternyata 75-85% keganasan payudara ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan payudara sendiri. Menurut Olfah (2013), tujuan dilakukannya SADARI secara rutin adalah untuk merasakan dan mengenal lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi perubahan dapat segera diketahui. Waktu terbaik untuk memeriksa payudara adalah 7 sampai 10 harisetelah menstruasi selesai.Pada saat itu, payudara terasa lunak.

2.4.3. Cara Pemeriksaan SADARI

  Menurut Suryaningsih (2009), cara melakukan SADARI adalah sebagai berikut:

1. Langkah 1

  b.

  Terjadi lipatan.

  Memulainya dengan melihat payudara anda di cermin.

  Kemerahan.

  e.

  Puting berubah posisi biasanya seperti tertarik kedalam.

  d.

  Ada tonjolan.

  c.

  b.

  Posisi pundak tegap.

  Kulit mengkerut.

  Langkah pertama adalah: a.

  c.

  Bentuk payudara.

  b.

  Ukuran payudara.

  Kedua tangan di pinggang. Yang harus anda lihat adalah : a.

  c.

  Warna payudara. Payudara yang bermasalah jika: a. f.

  Nyeri.

  g.

  Ruam-ruam atau bengkak 2. Langkah 2

  Langkah kedua adalah: a.

  Angkat tangan anda.

  b.

  Amati jika ada perubahan-perubahan payudara.

  3. Langkah 3 Langkah ketiga adalah: a.

  Saat anda bercermin, anda cermati puting anda.

  b.

  Periksalah ada cairan yang keluar dari kedua putting atau tidak. (baik itu cairan bening, seperti susu, berwarna kuning, atau bercampur darah).

  c.

  Periksalah puting anda apakah terdapat tanda-tanda yang tidak wajar seperti ada luka atau koreng.

  Puting yang bermasalah: a.

  Puting yang bermasalah adalah berwarna kuning bercampur darah.

  b.

  Mengoreng.

  4. Langkah 4 Pada langkah keempat ini rasakan payudara anda dengan cara berbaring dan lakukan pemijitan.

  a.

  Langkah 4a Merasakan payudara dengan cara berbaring. Caranya:

  1. Pergunakanlah tangan kanan untuk merasakan payudara kiri, begitu sebaliknya.

  2. Pijatlah dengan pelan namun mantap (tapi bukan keras), pijat dapat dilakukan dengan tiga ujung jari anda(telunjuk, tengah, dan manis).

  3. Jaga posisi ujung jari datar terhadap permukaan payudara.

  4. Gunakan gerakan memutar, sekali putaran mencakup seperempat bagian payudara.

  b.

  Langkah 4b Pijatlah payudara sambil berbaring.Caranya: 1.

  Mulai pijatlah seluruh payudara anda dari atas sampai bawah, kiri kanan.

  2. Setelah itu pijat juga dari tulang pundak sampai bagian atas perut dan dari ketiak sampai belahan payudara.

  3. Buatlah pola memutar untuk memastikan anda sudah memijat seluruh payudara anda.

  4. Mulailah dari puting, buat gerakan memutar semakin lama semakin besar sampai anda mencapai bagian tepi payudara.

  5. Anda juga dapat membuat gerak naik turun. Gerakan ini bagi sebagian besar wanita dianggap lebih efektif.

  6. Pastikan anda meraka seluruh jaringan payudara dari depan (puting) sampai bagian belakang.

  7. Pakailah pijatan-pijatan yang sesuai dengan anotomi payudara yaitu: ringan untuk kulit dan jaringan tepat di bawah kulit, pijatan sedang untuk bagian tengah payudara, dan pijatan kuat untuk jaringan bagian dalam.

  8. Saat anda mencapai jaringan bagian dalam, anda harus dapat merasakan tulang iga anda.

  5. Langkah 5 Langkah kelima adalah: a.

  Rasakan payudara anda saat anda berdiri atau duduk.

  b.

  Anda dapat merabanya saat mandi karena bagi sebagian wanita, mereka merasa lebih mudah memijat saat kulit payudara dalam keadaan basah dan licin.

Gambar 2.2. Cara Melakukan SADARI

  Menurut Pamungkas (2011), pemeriksaan lengkap payudara sendiri dibagi atas beberapa tahap:

  1. Melihat Lepas seluruh pakaian bagian atas. Berdiri di depan cermin dengan kedua lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang kemudian memperhatikan payudara apabila: a.

  Bentuk dan ukurannya tidak simetris b. Bentuknya membesar atau mengeras c. Arah putingnya tertarik kedalam d. Puting atau kulitnya ada yang lecet e. Kulitnya tampak seperti kulit jeruk

  Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas.Setelah selesai, ulangi lagi pengamatan dengan kedua tangan di pinggang.Dada dibusungkan dan kedua siku ditarik ke belakang.Semua pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui adanya tumor yang terletak dengan kulit.

  2. Memijat Dengan kedua belah tangan, secara lembut memijat payudara dari tepi hngga ke putting. Untuk mengetahui ada tidaknya cairan yang keluar dari putting susu ibu (seharusnya tidak ada, kecuali menyusui)

Gambar 2.3. Memijat dan Meraba Payudara 3.

  Meraba a.

  Berbaring di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu.

  Untuk memeriksa payudara kiri, letakkan sebuah bantal tipis di bahu kiri, sedang lengan kiri direntangkan ke atas di samping kepala.

  b.

  Menggunakan keempat jari tangan kanan yang saling dirapatkan untuk meraba payudara. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar, mulai dari tepi payudara hingga ke putting susu.

  c.

  Setelah selesai dengan payudara kiri, pindah posisi bantal dan lengan.

  Melakukan pemeriksaan pada payudara kanan dengan menggunakan keempat jari tangan kiri. d.

  Meraba Ketiak Setelah itu meraba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui adanya benjolan yang diduga suatu kanker. Bila dalam pemeriksaan ini ditemukan suatu kelainan (missal benjolan kecil apapun) sebaiknya konsultasi atau periksa ke dokter

2.5. Remaja

2.5.1. Defenisi Remaja

  Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescene, berasal dari bahasa latin adolescere yang artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan.

  Bangsa primitive dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dengan rentang kehidupan. Anak dianggap dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Hurlock, 2012). Remaja adalah suatu masa di mana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya samapi saat ia mencapai kematangan seksual (Sarwono, 2011).

  Menurut WHO batasan usia remaja 12-24 tahun. namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja.

  Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih bergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan dalam kelompok remaja (Wiyastuti dkk, 2009)

2.5.2. Perubahan Fisik Remaja Putri

  Menurut Widyastuti ( 2009), perubahan fisik remaja putrid ditandai dengan tanda-tanda seks sekunder, yaitu:

  1. Rambut Rambut kemaluan tumbuh setelah pinggul dan payudara mulai berkembang.Bulu ketiak dan bulu pada wajah mulai tampak setelah haid.

  2. Pinggul Pinggul pun berkembang, membesar dan membulat.Hal ini sebagai akibat berkembangnya lemak di bawah kulit.

  3. Payudara Seiring pinggul membesar, maka payudara juga membesar dan putting susu menonjol. Hal ini terjadi secara harmonis sesuai pula dengan perkembangan dan makin besarnya kelenjar susu sehingga payudara lebih besar dan lebih bulat 4. Suara Suara berubah semakin merdu. Suara serak jarang terjadi pada wanita.

2.6. Landasan Teori

  Notoatmodjo (2010) mengatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuanmanusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan tersebut didapat dari penambahan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

  Menurut Skiner dalam Notoatmodjo (2010) keefektifan suatu komunikasi dapat dilihat melalui proses: StimulusOrganismeRespons, sehingga teori skiner ini disebut teori ”S-O-R” (stimulus-organisme-respons).

  RESPONS TERTUTUP STIMULUS ORGANISME Pengetehuan Sikap RESPONS TERBUKA Praktik Tindakan

Gambar 2.4. Teori S-O-R

2.7. Kerangka Konsep

  Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini menggambarkan bahwa yang diteliti adalah perilaku siswi yang meliputi pengetahuan,sikap dan tindakan. Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan perilaku (pengetahuan,sikap dan tindakan) maka sebelum dilakukan intervensi dilakukan pre-test dan untuk melihat sejauh mana perubahan setelah diberikan intervensi (penyuluhan dengan metode cermah dan metode simulasi) dilakukan post-test.

  Intervensi Penyuluhan dengan

  Metode Ceramah dan Metode Simulasi

  Pre Test Post Test

  Perilaku Perilaku

  (Pengetahuan, Sikap (Pengetahuan, Sikap dan Tindakan) Siswa dan Tindakan) Siswa tentang SADARI tentang SADARI

Dokumen yang terkait

Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014

2 86 181

Efektifitas Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Metode Simulasi tentang SADARI terhadap Perilaku dalam Mencegah Kanker Payudara (Ca Mammae) Secara Dini pada Siswi SMU Negeri I Sei Rampah Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2014

13 104 186

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Dengan Metode Ceramah Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Dalam Pencegahan Filariasis

0 1 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan (Knowledge) - Pengaruh Penyuluhan tentang Makanan Kariogenik dengan Metode Ceramah dan Diskusi Terhadap Pengetahuan Anak-anak Penderita Karies Gigi di SD Negeri 068004 Perumnas Simalingkar Medan 2015

0 0 23

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SADARI sebagai Alat Deteksi Dini Kanker Payudara 2.1.1 Deteksi Dini - Efektifitas Metode Simulasi terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri tentang Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara dengan SADARI di SMA Negeri 1 dan SMA Citra

0 1 34

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyuluhan Kesehatan 2.1.1 Pengertian Penyuluhan Kesehatan - Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Tentang Sadari Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Dalam Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara Di Smk Negeri 3 Tebing Tinggi Tahun

0 1 34

Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014

0 0 54

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluhan 2.1.1. Definisi Penyuluhan - Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014

0 0 46

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 - Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah tentang Bahaya Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2014

0 1 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyuluhan dan Pendidikan Kesehatan - Efekfitias Penyampaian Informasi HIV/AIDS melalui Peer Group dan Metode Ceramah Interaktif terhadap Pengetahuan dan Sikap Siswa SMAN 1 Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir Tahun 2013

0 0 45