BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air - Perbandingan Efektivitas Poly Aluminium Chloride (Pac) Dan Tawas Dalam Menurunkan Kadar Khromium (Cr) Pada Turbidity 590 Ntu Dengan Metode Spektrofotometri Dr/2400

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air

  Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup, sehingga sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Air dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan yang paling penting adalah sebagai sumber air minum (Effendi, 2003).

  Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan yang dapat diminum. Menurut KEPMENKES R.I No. 1405/SK/XI/2002, yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih yang dapat dikonsumsi apabila dimasak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Soedarto, 2013).

  Air minum mengandung berbagai jenis mineral inorganik, antara lain kalsium, natrium, klorida, seng, mangan, fosfat dan flourida. Kadar mineral inorganik dalam air minum tergantung pada sumber air baku dan cara pengolahan yang sudah dilakukan terhadap air baku tersebut. Natrium, kalium dan klorida selalu dijumpai di air minum. Mineral inorganik flourida dalam kadar rendah bermanfaat bagi tubuh tetapi dalam kadar yang tinggi dapat menimbulkan kerusakan gigi dan gangguan kesehatan (Soedarto, 2013).

  Air bersih biasanya digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari seperti kegiatan mencuci dan mandi. Beda halnya dengan air minum, air bersih secara langsung dapat digunakan tanpa melalui proses pengolahan. Air bersih harus memenuhi syarat kesehatan sesuai Permenkes No. 416/ MENKES/PER/IX/1990 yaitu memenuhi persyaratan fisika, kimia, mikrobiologik dan radioaktif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Soedarto, 2013).

  Di negara-negara yang sudah maju, air yang disalurkan oleh perusahaan air minum (PAM) ke rumah-rumah penduduk, industri dan usaha mempunyai kualitas sebagai air minum karena melalui proses pengolahan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sebagai air minum, air bersih jika diminum atau digunakan secara langsung tidak menimbulkan akibat buruk pada kesehatan peminumnya (Soedarto, 2013).

  Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber daya air dapat dikatakan layak minum jika unsur-unsur yang dikandungnya sudah memenuhi standar baku mutu air layak minum yang bebas mineral-mineral yang membahayakan bagi kesehatan manusia (Notoadmodjo, 1997).

  Sumber alami pencemar air dapat berasal dari udara, mineral yang larut dalam air. Mineral yang terlarut di dalam air akan menimbulkan kekeruhan yang menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam badan air sehingga zat-zat kimia terurai yang memerlukan oksigen terlarut, yang jika berada dalam perairan normal dalam waktu yang lama tidak dapat diuraikan seperti detergen alkil sulfonat yang tertimbun secara akumulatif di dalam tubuh (Soedarto, 2013).

  Masalah pencemaran air dapat diidentifikasikan melalui beberapa cara antara lain dengan pengamatan langsung dan tidak langsung. Yang dimaksudkan dengan pengamatan tidak langsung melalui keluhan penduduk pemakai air yang berbau bahan kimia dan kematian ikan di perairan yang mereka gunakan untuk keperluan rumah tangga. Sedangkan pengmatan langsung melalui indera untuk mengidentifikasi bau busuk, rasa tidak enak, kekeruhan dan pertumbuhan algae.

  Bahan pengotor air dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya karena adanya zat-zat persisten yang terkandung di dalam air dan bahan radioaktif yang secara langsung menyebabkan penyakit (Soedarto, 2013).

2.3 Kekeruhan (Turbidity)

  Kekeruhan (Turbidity) menunjukkan sifat optimis air yang menyebabkan pembiasan cahaya ke dalam air. Kekeruhan membatasi pencahayaan ke dalam air.

  Sekalipun ada pengaruh padatan terlarut atau partikel yang melayang dalam air namun penyerapan cahaya ini dipengaruhi juga bentuk dan ukurannya. tertentu seperti bahan organik yang melayang atau terapung dan sangat halus (Gintings, 1992).

  Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur kekeruhan adalah cahaya yang dihamburkan dari suatu sampel air dengan intensity cahaya yang dihamburkan oleh suatu larutan keruh standard pada kondisi yang sama. Makin tinggi intensitas cahaya yang dihamburkan makin tinggi pula kekeruhannya. Metode nefelometrik lebih sensitif dan dapat dipergunakan untuk segala tingkat kekeruhan (Nainggolan, 2011).

2.4. Khromium (Cr)

  Khromium merupakan logam masif, berwarna putih perak dan lunak jika dalam keadaan murni dengan titik leleh kira-kira 1900 c dan titik didih kira-kira 2690 c. Logam ini sangat tahan lama terhadap korosi (Sugiyarto, 2010).

  Khromium banyak digunakan pada industri zat warna, industri cat, otomotif dan pabrik kulit (Soedarto, 2013).

2.4.1 Toksisitas Khromium (Cr)

  Kromium bersifat toksik dalam dosis tinggi. Kromium dibutuhkan untuk metabolisme hormon insulin dan pengaturan kadar glukosa darah. Defisiensi kromium bisa menyebabkan hiperglisemia, glikosoria, meningkatnya cadangan lemak tubuh, munculnya penyakit radiovaskuler, menurunnya jumlah sperma dan menyebabkan infertilitas (Widowati, 2008). pernapasan pada tingkat konsentrasi mg/l dalam air minum. Konsentrasi unsur ini dalam air minum yang melebihi standar maksimum yang mungkin dapat menyebabkan kanker kulit dan kerusakan pada sistem pencernaan dan sistem

  Khromium (Cr) adalah metal kelabu yang keras. Khromium memiliki senyawa yang sangat iritan dan korosif, menimbulkan ulcus yang dalam pada kulit dan selaput lender. Inhalasi Cr dapat menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Di dalam paru-paru Cr ini dapat menimbulkan kanker (Soemirat, 2009).

2.4.2 Khromium (Cr) dalam air

  Dalam perairan Cr dapat masuk melalui dua cara yaitu secara alamiah dan nonalamiah. Masuknya Cr secara alamiah dapat terjadi disebabkan oleh beberapa faktor fisika, seperti erosi yang terjadi pada batuan mineral. Di samping itu debu dan partikel Cr yang di udara akan dibawa turun oleh air hujan. Masuknya Cr yang terjadi secara nonalamiah merupakan dampak atau efek dari aktifitas yang dilakukan manusia. Sumber-sumber Cr yang berkaitan dengan aktifitas manusia dapat berupa limbah atau buangan industri sampai buangan limbah rumah tangga (Gintings, 1992).

  Konsentrasi maksimal kromium dalam air minum yang ditetapkan sebagai standar oleh Depatemen Kesehatan R.I adalah sebesar 0,05 mg/l, angka ini sesuai dengan angka standar yang ditetapkan baik oleh US Public Health Service, maupun WHO European, maupun WHO Internasional (Sutrisno, 2004).

  Koagulan adalah bahan kimia yang dibutuhkan air untuk membantu proses pengendapan partikel kecil yang tidak dapat mengendap dengan sendirinya (Sutrisno, 2004).

  2.5.1 Poly Aluminium Chloride (PAC) Poly Aluminium Chloride (PAC) adalah polimer komplek berantai panjang Alm(OH)n(Cl)3m-n. Flok yang terbentuk lebih padat dan cepat mengendap.

  Koagulan polimer adalah zat yang bisa terlarut dalam air dengan berat molekul relatif (Mr) antara 1.000 – 5.000.000 gr/mol dalam proses komersil sering kali sampai 1.000.000 gr/mol yang berbentuk pola kecil dinamik dengan ukuran beberapa ratus nanometer (Alaerts, 1984).

  Poly Aluminium Chloride merupakan bentuk polimerisasi kondensasi dari

  garam aluminium, berbentuk cair dan merupakan koagulan yang sangat baik. Poly

  

Aluminium Chloride mempunyai daya koagulasi lebih besar daripada alum dan

  dapat menghasilkan flok yang stabil walaupun pada suhu yang rendah dan pengerjaannya pun mudah (Alaerts, 1984).

  Bahan kimia flokulan polimer sering dipakai sebagai koagulan pembantu dalam proses flokulasi di IPA, polimer berfungsi membantu membentuk makroflok yang akan menahan abrasi setelah terjadi destabilisasi dan pembentukan mikroflok disebabkan oleh koagulan. Adsorbsi koagulan pembantu pada mikroflok penting, supaya makroflok dapat terbentuk. Hal ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik batas permukaan antara molekul dan hal ini sangat tergantung dari komposisi air (Alaerts, 1984).

  2.5.2 Tawas (Aluminium Sulfat)

  Tawas adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al SO .11 H O atau

  2

  4

  2

  14H

  2 O atau 18 H

  2 O, umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Tawas paling ekonomis, mudah diperoleh di pasaran serta mudah penyimpanannya. Bahan ini dapat berfungsi efektif pada pH antara 4-8. Jumlah pemakaian tawas tergantung turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin tinggi turbidity air baku maka semakin besar jumlah tawas yang dibutuhkan. Pemakaian tawas juga tidak terlepas dari sifat-sifat kimia yang terkandung oleh air baku tersebut. Semakin banyak dosis tawas yang di tambahkan maka ph akan semakin turun, karena di hasilkan asam sulfat sehingga di perlukan pencarian dosis tawas yang efektif antara pH 5,8-7,4 (Nainggolan, 2011).

  Koagulan yang berbasis aluminium seperti aluminium sulfat digunakan pada pengolahan air minum untuk memperkuat penghilangan materi partikulat, koloidal dan bahan-bahan terlarut lainnya melalui air, sehingga menimbulkan konsentrasi aluminium yang lebih tinggi dalam air yang diolah dari pada dalam air mentah itu sendiri (Nainggolan, 2011).

2.6 Jar tes

  Jar test adalah suatu percobaan yang berfungsi untuk menentukan dosis optimum dari koagulan yang digunakan dalam proses pengolahan air bersih.

  Apabila percobaan dilakuakan secara tepat, informasi yang berguna akan proses koagulasi- flokulasi dan penjernihan (Satterfield, 2008).

  Jar tes merupakan metode standar yang dilakukan untuk menguji proses koagulasi. Data yang didapat dengan melakukan jar tes antara lain dosis optimum Jar tes yang dilakukan adalah untuk membandingkan kinerja koagulan yang digunakan untuk mengendapkan padatan tersuspensi yang terdapat pada air limbah (Gozan, 2006).

  Untuk proses koagulasi ini data yang didapat tidak bisa selalu dipakai untuk proses koagulasi jika menginginkan kondisi yang optimal seperti biaya pemakaian koagulan dan pemakaian kapur. Ada dua faktor utama yang menentukan pemakaian koagulan dan kapur, yaitu kondisi kekeruhan air limbah dan debit air limbah (Satterfield, 2008).

2.7 Spektrofotometer

  Spektrofotometer DR 2400 adalah salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis kandungan nutrien di dalam air. Beberapa petunjuk yang mengatakan bahwa dalam penggunaannya jangan menempatkan botol yang lebih panas dari 100 ° C (212 ° F) ke salah satu adapter sel sampel dan jangan dalam kondisi basah harus dalam konsisi kering (Khopkar, 1990).

  Untuk memverifikasi kinerja fotometrik dari DR/ 2400 dengan standar, instrumen nol harus dilakukan pada "seperti" standar untuk memperoleh kemampuan kinerja maksimum dari instrumen. Contoh berikut memberikan / 2400 yang paling sesuai dengan kinerja yang diperoleh ketika kosong digunakan dalam Hach metode analisis air (Khopkar, 1990).