HERMENEUTIKA PERJANJIAN LAMA PL. dcox

HERMENEUTIKA
PERJANJIAN LAMA (PL)

Definisi Hermeneutika :
Kata Hermeneutika berasal dari nama salah satu dewa orang Yunani, yakni: Hermes. Dewa
Hermes adalah dewa dalam mitos Yunani yang bertugas menyampaikan berita para dewa
kepada manusia, sebagai jurubicara para dewa. Dewa ini adalah dewa ilmiah, penemuan,
kefasihan berbicara, seni tulis, dan kesenian.
Kata ini berasal dari kata Yunani hermeneuo (ερμηνευο) berarti: menyampaikan (suatu
pikiran atau keinginan), menjelaskan (suatu ucapan), dan menerjemahkan (sesuatu dari
satu bahasa ke bahasa lain). Kata ini baru dipakai dalam teori penafsiran pada abad ke-17.
Hermeneutik (hermeneutics) menunjuk ilmu menafsir atau upaya menemukan makna katakata atau ungkapan-ungkapan yang ditulis seorang penulis, lalu menjelaskannya kepada
orang lain.

Eksegesis, bukan Eisegesis




Kata ini berasal dari dua kata Yunani: eks = keluar, dan agomai = memimpin atau
membawa. Bisa juga membaca atau menggali.
Eksegesis: usaha untuk memimpin atau membawa keluar, atau mengeluarkan pesan
atau ide teks-teks Alkitab.
Eisegesis dari kata Eis = memasukkan (ide, pikiran atau pesan) dan agomai.
Eisegesis: usaha untuk memasukkan ide, pikiran atau pesan ke dalam teks.

Istilah lain




Penafsiran
Interpretasi
Eksposisi

Hermeneutika: cenderung penafsiran dalam arti teori dan prinsip-prinsip.
Exegese: cenderung penafsiran dalam penggalian teks.
Interpretatis: cenderung penafsiran dalam arti kontekstualisasi teks.
Eksposisi: pemberitaan atau pengabaran berita.

Ilustrasi




Menafsir, sama dengan menggali atau mengkaji sebuah lahan, guna mendapatkan air
bersih dan air kehidupan.
Dalam mengali lahan atau untuk mendapatkan air yang bersih, kita memerlukan ‘alat’.
Alat itulah yang disebut dengan metode penafsiran Alkitab.

Ada banyak alat (metode)
1.
2.
3.
4.
5.

Metode penafsiran Historis Kritis (Historical Criticsm)
Metode penafsiran pendekatan Kanonik (Canonical Approach).
Metode penafsiran Naratif.
Metode penafsiran sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama (ilmu-ilmu murni).
Metode penafsiran kontekstual (teologi pembebasan, Feminisme, dll).

Historis Kritis (diakronik)
1. Kritik (analisa) Teks
2. Kritik (analisa) Sejarah (Historis)
3. Kritik (analisa) Sastra (Literary)
4. Kritik (analisa) Bentuk (Form-critical)
5. Kritik (analisa) Tradisi
6. Kritik (analisa) Redaksi (Peredaksian)
7. Kritik (analisa) Struktur
8. Kritik (analisa) bidang kehidupan (Sitz im Leben)
9. Tafsiran: ayat demi ayat; gabungan beberapa ayat ; kata-kata kunci; atau tema per tema.
10. Skopus
11. Buku-buku bacaan.

Analisa Teks











Alkitab kita bukanlah hasil karya satu orang dalam satu waktu tertentu, tetapi
merupakan karya dari beberapa orang yang tidak saling mengenal dari berbagai zaman
yang berbeda.
Proses terjadinya Alkitab kita seperti terjadinya sebuah sungai dari hulu (gunung) yang
menuju hilir (muara), bermuara kepada sebuah Kitabsuci (Alkitab).
Proses itu memakan waktu yang lama, 500-1000 tahun lamanya.
Alkitab itu terjadi dari tradisi lisan kepada tradisi tulisan. Sebelum dituliskan, isi
Alkitab sudah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara oral (lisan),
dari mulut ke mulut.
Dalam peralihan secara lisan maupun tulisan bisa saja terjadi penambahan atau
pengurangan atau ada bagian yang hilang dari teks aslinya.
Tujuan analisa ini adalah untuk menemukan teks yang sebenarnya, yang mendekati
yang asli.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam analisa ini adalah:

1. Memperbandingkan beberapa terjemahan Alkitab yang kita kuasai bahasanya (Mis.
Alkitab – Bhs. Daerah – Bhs. Inggris / Holy Bible).
2. Mencatat perbedaan yang ditemukan untuk memperhadapkannya dengan arti
bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani).
3. Memperhatikan usul-usul dalam catatan kaki (apparatus) untuk dipertimbangkan,
diterima atau ditolak.
4. Kemudian membuat terjemahan sendiri (terjemahan akhir) dengan
memperhatikan hasil keputusan dalam perbandingan dan komentar dalam
apparatus.
(Hasil temuan perbedaan terjemahan itu dapat menjadi masukan bagi Tim Revisi
atau pencetakan ulang Alkitab kita)

Analisa Sejarah (Historis)









Dengan mengetahui latar belakang sejarah teks (kitab) maka kita akan lebih mudah
memahami apa arti dan maksud teks itu dituliskan dahulu.
Setiap teks itu pasti memiliki sejarahnya sendiri, yang dapat kita bedakan: “sejarah di
dalam teks”, dan “sejarah dari teks”.
Sejarah di dalam teks, menunjuk pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah yang teks
itu sendiri tuturkan, entah tokoh tertentu, peristiwa, keadaan sosial ataupun gagasan.
Teks itu berfungsi sebagai jendela yang melaluinya kita dapat memandang ke suatu
periode sejarah.
Sejarah dari teks, menunjuk pada sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa
yang teks sendiri kisahkan atau gambarkan, yaitu riwayat atau sejarah teks itu sendiri.
Yakni: bagaimana teks itu muncul, mengapa, dimana, kapan dan dalam keadaan yang
bagaimana, siapa penulisnya dan untuk siapa ditulis, disusun, disunting, dihasilkan dan
dipelihara, mengapa sampai teks itu ditulis, lalu hal apa saja yang mempengaruhi
kemunculan, pembentukan, perkembangan, pemeliharaan dan penyebarluasannya?
Di dalam analisa ini juga kita menggali aspek-aspek kehidupan dalam sejarah, antara
lain :
1. Aspek Sosial
2. Aspek Ekonomi
3. Aspek Politik
4. Aspek Kebudayaan
5. Aspek Keagamaan.

Analisa Sastra (Literary)
1. Mencoba melihat suatu atau sebagian kitab sebagai sesuatu yang utuh, dan berusaha
memperhatikan struktur, gaya, modus, tema, konteks, jalan pikiran, retorik dan fungsi
kitab tsb. Retorika termasuk salah satu bidang ilmu tertua, bagaimana seseorang
pembicara mengajukan pandangan dan berupaya meyakinkan pendengar atau
pembacanya.
2. Secara umum ada dua bentuk sastra di dalam Alkitab, yakni: prosa (kisah atau cerita)
dan puisi (doa atau nyanyian).
3. Kritik Sastra menaruh perhatian pada topik-topik yang luas: struktur karangan dan
karakter teks, teknik-teknik gaya bahasa, pemakaian gambar dan simbol oleh
pengarang, efek dramatis dan estetis yang ditimbulkan sebuah karya.

Analisa Bentuk (Form)
1. Hampir sama dengan analisa sastra, hanya saja dalam analisa penafsir mencoba
menemukan bentuk sastra yang lebih spesifik.
2. Bentuk-bentuk itu antara lain: sejarah, hikayat, cerita (narasi), hukum, aturan,
nyanyian, doa, ratapan, nubuatan, hukuman, nasihat, perumpamaan, khotbah, pidato,
dll.

Analisa Tradisi













Mencoba menemukan tradisi apa yang melatar-belakangi teks atau kitab itu.
Suatu analisa yang berusaha menyelidiki tahap-tahap pertumbuhan tradisi Alkitab
hingga menjadi bentuk terakhir.
Semua kebudayaan memiliki tradisi-tradisi yang diteruskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya.
Apakah tradisi-tradisi itu diteruskan dalam bentuk lisan atau tulisan?
Bagaimana tradisi-tradisi itu bisa berubah.
Mencoba menemukan tradisi apa yang melatar-belakangi teks atau kitab itu.
Suatu analisa yang berusaha menyelidiki tahap-tahap pertumbuhan tradisi Alkitab
hingga menjadi bentuk terakhir.
Semua kebudayaan memiliki tradisi-tradisi yang diteruskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya.
Apakah tradisi-tradisi itu diteruskan dalam bentuk lisan atau tulisan.
Bagaimana tradisi-tradisi itu bisa berubah.
Tradisi-tradisi itu diturun-alihkan dalam bentuk cerita-cerita, perkataan, nyanyian,
puisi, pengakuan, kepercayaan dan seterusnya.
Kritik tradisi menaruh perhatian pada sifat tradisi dan bagaimana tradisi itu dipakai
dan disesuaikan dalam perjalanan sejarah suatu masyarakat.

Analisa Redaksi (Peredaksian)




Analisa ini mencoba memperhatikan motivasi dan tujuan penulis-penulis Alkitab yang
terbaca dari cara mereka mengumpulkan, mengatur dan merubah “unit tradisi”.
Analisa ini biasanya berhubungan erat dengan analisa tradisi dan analisa bentuk.
Analisa redaksi menunjuk pada bentuk penafsiran yang memusatkan perhatian pada
satu atau sejumlah tahap penyuntingan yang bermuara pada atau yang pada akhirnya
menghasilkan tulisan atau teks dalam bentuknya yang terakhir.

Analisa Struktur








Menurut analisa ini, sebuah teks harus dipandang nir-sejarah (ahistoris) atau mungkin
lebih tepat tidak terikat oleh waktu (a-temporal).
Dalam analisa, teks dihargai dalam bentuk akhir, tanpa harus dihubungkan dengan prasejarah sebuah teks.
Sebuah teks dapat ada dalam bentuk-bentuk yang berbeda dari bentuk sebelumnya.
Langkah yang mendasar adalah menerima sebuah teks dan menekuninya sebagai
sesuatu bentuk yang sudah jadi.
Bagaimana sebuah teks sampai pada bentuknya yang sekarang tidaklah penting.
Langkah yang dilakukan adalah:
1. Melihat struktur kitab secara keseluruhan.
2. Melihat struktur teks (nats) yang akan ditafsirkan.
3. Melihat di mana kedudukan teks itu di dalam struktur kitab.
4. Penafsir perlu memperbandingkan beberapa struktur yang diajukan para ahli,
kemudian memutuskan struktur mana yang akan ditafsirkan.

Analisa Bidang Kehidupan (Sitz im Leben)
Setiap kata atau ungkapan pastilah memiliki konteks bidang kehidupannya masing-masing.
Kata atau ungkapan itu akan menunjukkan ‘keberadaannya’ sendiri.
Mis. “roti”, bidang kehidupannya adalah: dapur atau meja makan atau bekal.
“anggur”, bidang kehidupannya adalah perkebunan atau meja makan.
“ikan”, bidang kehidupannya adalah sungai, danau, lautan atau meja makan.

Tafsiran (Penafsiran)
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Menafsirkan secara ayat per ayat.
2. Menafsirkan secara beberapa bagian
3. Menafsirkan secara kata per kata atau tema per tema, atau beberapa kata-kata
kunci.

Skopus, yakni formulasi dari inti sari dari hasil tafsiran.
Biasanya dalam bentuk sebuah ungkapan, kalimat atau paling banyak satu alinea.
Dengan membaca skopus, maka para pembaca akan bisa mendapat kesimpulan dari apa
yang ditafsirkan.
Semakin dalam tafsirannya, maka semakin indah ungkapan skopusnya.

Refleksi Teologis
Hasil tafsiran akhirnya diperhadapkan dengan pergumulan dan kehidupan jemaat (gereja).
Ada dialog antara tafsiran dengan kehidupan realitas warga jemaat / Gereja.
Bisa juga dalam bentuk: Aplikasi, Implikasi, Implementasi, Renungan, dll.

Penafsiran Kanonik (sinkronik)




Alkitab adalah Kanon Kitabsuci gereja, atau tulisan-tulisan (kitab-kitab) dasariah umat.
Tulisan-tulisan itu membentuk dan mengatur kehidupan dan iman umat.
Alkitab keseluruhannya merupakan kanon yang utuh, yang tidak bisa dipecah-pecahkan
atau dipisah-pisahkan walaupun bisa dibedakan.
Umat percaya melalui kata-kata Alkitab mereka mendengar kesaksian tentang Allah.

Penafsiran Kanonik
 Istilah-istilah lain yang bersamaan dengan ini adalah: kritik kanon atau kritik kanonik,
hermeneutika kanonik, penafsiran kanonik.
 Pendekatan kanonik bersifat sinkronik, jadi mengarahkan perhatiannya pada hubungan
teks dengan pembaca.
 Teks yang ditafsirkan adalah teks dalam bentuk akhir, maksudnya bentuk teks yang
telah berstatus kanonik.
 Penafsir tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang menjadi perhatian khusus historis
kritis.
 Pembacaan kanonik atas sebuah teks akan berbeda-beda bergantung pada umat
beriman mana yang sedang membaca dan kanon yang mana yang tengah dibaca.
 Pendekatan kanonik membuat teks (nats) tidak bergantung lagi pada pemakaian kata
itu semula atau pemakaiannya dalam sejarahnya.
 Pendekatan kanonik menolak untuk membagi-bagi teks ke dalam bagian-bagian yang
lebih kecil, dan dengan demikian menolak untuk menafsirkan teks secara sendirisendiri.
 Sebuah teks harus dibaca sebagai bagian dari Alkitab secara keseluruhan, bukan
sebagai bagian dari satu kitab alkitabiah, dan kitab alkitabiah itu dilihat sebagai bagian
dari keseluruhan kitab yang lebih besar lagi, yaitu kanon seluruhnya.
 Pendekatan kanonik jelas bersifat teologis, karena menekankan, Alkitab adalah
Kitabsuci dan harus ditafsirkan sebagai Kitabsuci.
 Jika penelitian historis kritis bertanya apa maksud semula kitab-kitab dalam Alkitab,
maka pendekatan kanonik memusatkan perhatiannya atas maksud teks bagi paguyuban
yang mengkanonisasikannya dan atas artinya untuk masa kini.
 Dalam pelaksanaannya, penafsir boleh saja menggunakan beberapa langkah-langkah
dalam penafsiran historis kritis, walaupun bukan itu yang menjadi perhatiannya.
 Pendekatan kanonik memberikan pemahaman yang lebih luas, karena dapat
menggunakan teks-teks yang lain di dalam kitab-kitab kanon Alkitab.
 Pendekatan ini juga dapat memperlihatkan pemahaman yang utuh antara PL dan PB.
 Pendekatan ini dapat digambarkan seperti sebuah pergerakan garis spiral, dari satu
titik kepada seluruh kanon.

Penafsiran Naratif
 Pendekatan naratif didasarkan pada keyakinan dan kebiasaan masyarakat di dunia
Timur yang memiliki banyak cerita-cerita di dalam masyarakatnya.
 Alkitab juga berisi cerita-cerita (naratif) yang dari segi bentuk tidak jauh dari ceritacerita yang lain.
 Oleh karena itu, teks-teks Alkitab dapat juga didekati dengan pendekatan naratif,
karena teks-teks itu memiliki unsur-unsur yang membangun cerita.
 Pendekatan naratif sering juga disebut dengan “pembacaan Alkitab secara pintar” (an
inteligent reading of Biblical narrative, oleh R. Alter).
 Pendekatan ini muncul di tahun 70-an.
 Pendekatan ini menggunakan bahasa performatif, yaitu penyampaian pesan teks secara
existensial dengan harapan agar pembaca dapat terlibat dan sekaligus mengalami cerita
tersebut.

Faktor-faktor yang mendorong pendekatan ini, al:
1. Cerita dapat melibatkan pembaca secara langsung dalam struktur narasi, apakah
melalui plot, peristiwa dan sudut pandang.
2. Cerita dapat berkomunikasi dengan bahasa (termasuk bahasa diam)
3. Cerita dapat merubah diri secara radikal dan perubahan itu tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata.
4. Cerita dapat memelihara rumusan dogma agar tetap hidup dan dialami.
5. Cerita dapat berfungsi seperti cermin menolong melihat dirinya sendiri.

Langkah-langkah dalam penafsiran naratif:
1. Relasi Intertekstual: melihat hubungan teks dengan teks-teks sebelum dan sesudah
teks tersebut. Salah satu ciri khas dari pendekatan ini menjunjung tinggi adanya
kesatuan cerita dalam Alkitab.
2. Dalam relasi ini ada dua konteks (konteks mikro dan makro).
Konteks mikro dalam sebuah cerita adalah hubungan yang terbentuk antara cerita
sebelum dan sesudah teks yang akan ditafsirkan.
Konteks makro adalah hubungan cerita dalam teks dengan cerita menyeluruh dalam
kitab.
Dalam analisa ini perlu melihat hubungan sebelum dan sesudah teks dan juga secara
umum Alkitab.
3. Struktur dan Plot Cerita.
 Sebuah cerita terdiri dari beberapa insiden-insiden yang menyangkut motif,
adegan, tokoh, latar dan sudut pandang.
 Motif adalah gambaran tentang makna cerita, sedangkan struktur cerita adalah
bagian-bagian naratif yang saling berhubungan satu dengan lainnya.
 Plot adalah alur cerita, menyelidiki apa tujuan tokoh utama (Protagonist) dan
bagaimana caranya untuk mencapai tujuan tersebut.
 Alur cerita membawa pembacanya kepada tujuan yang diinginkan.
 Pengarang menghadirkan sudut pandangnya melalui perkataan, tindakan dan
pemikiran karakter.

Sedangkan melalui alur cerita dapat dilihat adegan jatuh bangunnya tokoh dalam
cerita.
 Alur cerita biasanya memiliki tiga episode: adegan permulaan, pertengahan dan
akhir.
4. Latar (setting).
Latar mejelaskan tentang arena atau panggung dari sebuah cerita atau peristiwa.
Latar yang perlu dilihat adalah latar tempat, waktu dan sosial.
5. Narator dan Sudut Pandang.
Dalam komunikasi narasi, ada dua unsur: si pemberi (narator) dan si penerima
(naratee) berita. Narator: suatu peranan (role) atau fungsi di dalam suatu cerita, dia
bukan pengarang. Narator diciptakan oleh pengarang dan dapat juga direkonstruksi
oleh pembaca untuk mengerti sebuah kisah.
Narator adalah sebuah fungsi atau suara yang membimbing pembaca di dalam
sebuah cerita.
Sudut pandang narator dalam sebuah narasi:
1. Sudut padang internal: narator memandang dan menganalisa peristiwa dari
dalam (melalui tokoh cerita). Dalam hal ini. Biasa terjadi dimana narator ikut
menjadi tokoh.
2. Sudut pandang eksternal: narator memandang dan menganalisa peristiwa dari
luar. Ini bisa terjadi jika narator bukan sebagai tokoh.
3. Sudut pandang inteligen: narator memandang dari belakang tokoh sehingga dia
hadir memata-matai tokoh.
6. Tokoh dan karakter.
Inilah unsur yang paling penting diperhatikan dalam analisa.
Pengarang mengkomunikasikan pesan kepada pembaca melalui tokoh yang
dimunculkannya dalam narasi.
Di dalam narasi ada beberapa peranan tokoh:
1. Tokoh yang dinamis, yang berkembang secara batin, dan tokoh statis (yang
selalu muncul dalam gaya yang sama).
2. Tokoh datar, tokoh yang hanya diperkenalkan dengan singkat, dan tokoh
bulat (yang digambarkan secara jelas).
3. Tokoh anomim ( yang tidak bernama).


Ada tiga jenis karakter dari segi peranannya dalam narasi:
1. Tokoh pemain (full-fledge): yang berperan multi-dimensi dan kompleks.
2. Tokoh contoh (type): tokoh yang sering hadir sebagai tokoh tunggal.
3. Tokoh alat (agent): tokoh yang berperan sebagai alat.

Gaya Narasi








Kesusastraan dunia Timur Tengah Kuno, sering menggunakan gaya narasi dan gaya
penulisan dengan bahasa simbolik. Yang paling sering muncul adalah gaya pengulangan
(repetition).
Leitwort: bentuk pengulangan yang berbeda tetapi memiliki akar yang sama.
Kontras: menjelaskan sesuatu dengan cara mempertentangkan.
Dialog: melalui gaya ini dapat dipahami potret diri si pembicara.
Composite Artistry: bentuk cerita yang berbeda tetapi peristiwanya sama.
Double triple kwartet: bentuk pengulangan untuk menunjukkan pentingnya sesuatu
atau peristiwa itu.










Pertanyaan retoris: suatu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.
Ironi: bertentangan yang diungkapkan dengan yang dimaksudkan.
Simbolik: penggunaan simbol, sebutan, gelar atau peristiwa untuk menjelaskan seorang
tokoh atau sesuatu.
Smile: membandingkan dua hal yang berbeda tetapi mengandung unsur-unsur yang
sama.
Metafora: kiasan yang bukan arti sebenarnya.
Metonia: kiasan yang memakai sifat dan ciri sesuatu untuk menjelaskan orang, barang
atau penggantinya.
Hyperbola: ucapan kiasan yang dibesar-besarkan untuk memperoleh efek tertentu.
Eufinisme: mengungkapkan maksud secara halus untuk mengatakan perasaan kasar
dan yang tidak menyenangkan.

Tafsir Implisit





Dalam komunikasi, pesan dapat disampaikan dalam dua bentuk: eksplisit dan Implisit.
Pesan Implisit lebih kuat berbicara ketimbang pesan eksplisit.
Melalui tafsir implisit, narator berusaha untuk membawa pembaca untuk menerima apa
yang menjadi pesan cerita.
Mencari pesan, maksud dan tujuan tertentu dari sebuah cerita.

Evaluasi: Penafsiran Naratif






Penafsiran narasi sangat menjauhkan diri dari penyelidikan aspek-aspek sejarah yang
mencakup sejarah sosial, budaya, politik dan agaama.
Penafsiran ini sangat berpotensi untuk mengurangi keyakinan akan Allah sebagai Tuhan
sejarah.
Penafsiran ini hanya memfokuskan diri pada teks narasi setelah dikanonkan, tanpa
perhatian khusus pada sejarah pembentukan teksnya.
Penafsiran ini hanya mengutamakan penyelidikan teks cerita itu sendiri, tanpa
perhatian pada sejarah sastranya.
Pendekatan ini memiliki unsur “subjektifitas”

Penafsiran Sosial, Ekonomi, Politik, Budaya dan Agama (Ilmu-ilmu murni)



Setiap teks atau kitab di dalam Alkitab pasti memiliki latar belakang sejarahnya dalam
aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama.
Seorang penafsir akan semakin tertolong untuk memahami isi teks, apabila dia
mengetahui secara baik latar belakang sejarah teks itu.

Penafsiran aspek sosial






Penafsir mencari tahu aspek sosial dari teks, bagaimana kehidupan sosial (masyarakat)
di dalam dan di sekitar teks itu, dan juga aspek sosial dari zaman penulis teks itu.
Bagaimana sistem kekeluargaan dan kemasyarakatannya.
Kemudian memperhadapkan aspek sosial teks itu kepada aspek sosial penafsir di
tengah-tengah masyarakatnya, gereja dan bangsa.
Akhirnya diperoleh kesimpulan akhir.

Penafsiran aspek Ekonomi




Penafsir mencari tahu bagaimana keadaan kehidupan perekonomian masyarakat di
dalam teks dan sekitarnya. Apa kira-kira sumber mata pencahariannya.
Penafsir mengetahui tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di dalam teks
dan sekitarnya.
Bagaimana perbandingan kehidupan penguasa dengan rakyatnya.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru