PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP FERTILITAS, SUSUT TETAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS TELUR AYAM ARAB

ABSTRAK
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP FERTILITAS, SUSUT
TETAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS TELUR AYAM ARAB
Oleh
Irma Susanti
Ayam arab merupakan ayam petelur unggul karena memiliki kemampuan
memproduksi telur yang tinggi yaitu mencapai 230—250 butir/ekor/tahun.
Umumnya ayam arab dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan tidak digunakan
sebagai ayam pedaging. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi fertilitas,
susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas telur adalah lama penyimpanan telur.
Penelitian bertujuan untuk (1) mengkaji pengaruh lama penyimpanan telur ayam
arab terhadap fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas, (2) menentukan
lama penyimpanan telur ayam arab yang terbaik terhadap fertilitas, susut tetas,
daya tetas, dan bobot tetas.
Penelitian dilaksanakan pada 13 Desember 2014—08 Januari 2015 bertempat di
peternakan ayam arab milik bapak Ilham di Desa Tegal Rejo, Kecamatan
Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) terdiri dari tiga perlakuan lama penyimpanan dengan enam
ulangan, yaitu P1 (2 hari), P2 (4 hari), dan P3 (6 hari). Setiap satu satuan
percobaan terdiri dari 9 butir telur ayam arab. Rata-rata bobot awal berkisar
antara 41,18±2,18 g/butir dengan koefesien keragaman ± 5,31%. Data yang
diperoleh dari percobaan ini dianalisis dengan asumsi sidik ragam pada taraf nyata
5%. Untuk perlakuan yang berpengaruh nyata pada suatu peubah tertentu
(P฀0,05), maka analisis akan dilanjutkan dengan uji Duncan.
Hasil penelitian menunjukan lama penyimpanan telur tetas memberikan pengaruh
yang nyata (P0,05)
terhadap fertilitas, susut tetas, dan bobot tetas telur ayam arab.
Kata kunci : lama penyimpanan telur, fertilitas, susut tetas, daya tetas, bobot tetas,
dan ayam arab

ABSTRACT
THE EFFECT OF STORAGE DURATION TO FERTILITY, WEIGHT
LOSS, HATCHING EGGS, AND HATCHING WEIGHT OF THE ARABIC
CHICKEN EGG
By
Irma Susanti
The Arabic chicken is superior layer chicken, that has high ability to produce egg,
i.e 230—250 eggs/chicken/year . Generally, the Arabic chicken was use as layer
chicken and not to use as broiler chicken. One the effecting factor to fertility,
weight loss, hatching eggs, and hatching weight is storage duration.
The purpose of this research are (1) to assest the effect storage duration of the
Arabic chicken egg to fertility, weight loss, hatching eggs, and hatching weight
and (2) to determine the best storage duration to fertility, weight loss, hatching
eggs, and hatching weight. This research was done on December 13th, 2014 until
January 8th, 2015 at Ilham hatchery, Tegal Rejo village, Gadingrejo subdistrict,
Pringsewu regency.
This research use the complete randomize design with 3 treatments and 6 times
replication. Every treatment use 9 of the Arabic chicken eggs. The beginning
weight average is 41,18 ± 2,18 g/egg with ± 5, 31% uniformity coeffisien. The
treatment given the significant effect to definite variable (P0,05) to fertility, weight loss, and hatching weight of the Arabic chicken egg.
Keywords : Egg storage duration, fertility, weight loss, hatching eggs, hatching
weight, and Arabic chicken.

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP
FERTILITAS, SUSUT TETAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT
TETAS TELUR AYAM ARAB

Oleh

IRMA SUSANTI

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PETERNAKAN
Pada
Jurusan Peternakan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukaraja, Lampung Selatan pada 13 Juni
1992. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putri
pasangan Bapak Purnomo (Alm) dan Ibu Ely Purwatminingsih.

Penulis menempuh jenjang pendidikan sekolah dasar pada 2004 di Sekolah Dasar
Negeri 7 Bagelan, Gedong Tataan, Pesawaran. Sekolah Menengah Pertama
Negeri 1 Gedong Tataan, Pesawaran, diselesaikan pada 2007. Pada 2010 penulis
menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Gedong Tataan,
Pesawaran. Penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Ujian Mandiri (UM) pada 2010.

Penulis telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Negeri Jaya,
Negeri Besar, Way Kanan pada Januari—Maret 2015 dan Praktik Umum di
peternakan broiler Janu Firdaus Farm, Desa Serdang 11 Tanjung Bintang,
Lampung Selatan Pada Juli—Agustus 2014. Selama menjadi mahasiswa, penulis
pernah menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Peternakan (HIMAPET) pada
2012—2013.

Alhamdulllahirabbil’alamin…. Alhamdulllahirabbil
‘alamin…. Alhamdulllahirabbil’alamin….
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya yang telah memberikan kekuatan, kesehatan dan
kesabaran untuk ku dalam mengerjakan karya kecil dan
sederhana ini.
Dengan kerendahan hati karya kecil ini kupersembahkan
kepada orang-orang yang selalu menyayangiku
dalam suka maupun duka
Bapak, ibu, kakak, adik serta saudara-saudaraku yang telah
lama menanti keberhasilanku dan selalu memberikan
do’a, dukungan dan selalu menjadi motivasi dan inspirasi
untuk ku.

Terima Kasih

“Dia memberikan hikmah (ilmu yang berguna) kepada siapa yang
dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang mendapat hikmah itu, sesungguhnya ia
telah mendapat kebajikan yang banyak.
Dan tiadalah yang menerima peringatan melainkan orang- orang
yang berakal”
(Q.S. Al-Baqarah: 269)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”
(Q.S Al-Insyirah 6-7)

“Bersabar, Berusaha, dan Bersyukur
Bersabar dalam berusaha, berusaha dengan tekun dan pantang
menyerah serta bersyukur atas apa yang telah diperoleh”
(Irma Susanti)

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalatmu
Sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”
(Al-Baqarah: 153)

SANWACANA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, hidayah,
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Fertilitas, Susut Tetas, Daya Tetas, dan
Bobot Tetas Telur Ayam Arab”.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1.

Ibu Ir. Tintin Kurtini, M.S—selaku Pembimbing utama—atas bimbingan,
motivasi, saran, serta nasihatnya;

2.

Ibu Dian Septinowa, S.Pt., M.T.A.—selaku Pembimbing anggota—atas
bimbingan, saran, dan arahannya;

3.

Ibu Dr. Ir. Riyanti, M.P.—selaku Pembahas—atas saran dan perbaikan serta
motivasinya;

4.

Bapak Siswanto, S.Pt., M.Si.—selaku Pembimbing Akademik—atas
bimbingan, saran, nasihat dan bantuanya;

5.

Bapak Dr. Kusuma Adhianto, S.Pt., M.P.—selaku Sekertaris Jurusan
Peternakan—atas izin, saran, dan bimbingannya;

6.

Ibu Sri Suharyati, S.Pt., M.P.—selaku Ketua Jurusan Peternakan—atas izin
dan bimbingannya;

7.

Bapak Prof. Dr. Ir. H. Wan Abbas Zakaria, M.S.—selaku Dekan Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung—atas izin yang diberikan;

8.

Seluruh Bapak/Ibu Dosen Jurusan Peternakan atas bimbingan, saran, dan
motivasi yang diberikan;

9.

Ayahanda dan Ibunda tercinta atas segala limpahan kasih sayang, doa,
dukungan, nasehat, kesabaran, serta semua yang telah diberikan kepada
penulis;

10. Kakak, adik beserta keluarga besarku tersayang—atas kebersamaan,
keceriaan, bantuan, dukungan, do’a, dan kasih sayang selama ini;
11. Keluarga bapak Ilham—atas izin dan bantuan yang telah diberikan selama
penelitian berlangsung;
12. Sahabat-sahabatku tersayang Sekar, Nurma, Dian, Sherly, Nani, Aini, Tiwi,
Widi, Lasmi, Fitri, dan Ade—atas bantuan, saran, semangat dan nasihatnya;
13. Teman-teman Peternakan angkatan 2010, 2011 sahabat seperjuangan selama
kuliah—atas kebersamaan, bantuan, perhatian, motivasi, dan semangat yang
diberikan;
Semoga semua yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan balasan dari
Allah SWT, dan harapan penulis karya ini dapat bermanfaat. Amin

Bandar lampung,
Penulis

Irma Susanti

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ..............................................................................................

i

DAFTAR TABEL .....................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................

iv

I. PENDAHULUAN .................................................................................

1

A. Latar Belakang dan Masalah ............................................................

1

B. Tujuan Penelitian ..............................................................................

3

C. Kegunaan Penelitian .........................................................................

4

D. Kerangka Pemikiran .........................................................................

4

E. Hipotesis ...........................................................................................

6

II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................

7

A. Deskripsi Ayam Arab .......................................................................

7

B. Lama Penyimpanan Telur Tetas .......................................................

9

C. Fertilitas ............................................................................................

11

D. Susut Tetas (weight loss) ..................................................................

12

E. Daya Tetas ........................................................................................

14

F. Bobot Tetas .......................................................................................

17

G. Manajemen Penetasan Menggunakan Mesin Tetas .........................

18

1. Suhu ............................................................................................

18

2. Kelembapan.................................................................................

19

3. Sirkulasi udara.............................................................................

20

4. Pemutaran telur (turning) ............................................................

20

5. Peneropongan telur (candling) ....................................................

21

III. BAHAN DAN METODE KERJA....................................................

23

A. Waktu dan Tempat Penelitian ..........................................................

23

B. Bahan dan Alat Penelitian ................................................................

23

1. Bahan penelitian ...........................................................................

23

2. Alat penelitian ..............................................................................

24

C. Rancangan Percobaan .......................................................................

24

1. Rancangan lingkungan .................................................................

24

2. Rancangan perlakuan ...................................................................

25

3. Rancangan respon ........................................................................

25

D. Pelaksanaan Penelitian .....................................................................

25

E. Parameter Penelitian .........................................................................

27

1. Fertilitas .......................................................................................

27

2. Susut tetas ....................................................................................

27

3. Daya tetas .....................................................................................

28

4. Bobot tetas....................................................................................

28

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................................................

29

A. Gambaran Umum Peternakan ........................................................

29

B. Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Tetas terhadap Fertilitas .......

30

C. Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Tetas terhadap Susut Tetas ..

33

D. Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Tetas terhadap Daya Tetas ...

37

E. Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Tetas terhadap Bobot Tetas .

39

V. KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................

42

A. Kesimpulan .....................................................................................

42

B. Saran ...............................................................................................

42

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

43

LAMPIRAN ...............................................................................................

49

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Pengaruh lama penyimpanan telur tetas terhadap daya tetas ayam buras

11

2. Pengaruh berat telur terhadap bobot tetas telur ayam arab ....................

18

3. Kandungan zat nutrisi bahan pakan........................................................

30

4. Rata-rata fertilitas telur ayam arab .........................................................

31

5. Rata-rata susut tetas telur ayam arab ......................................................

33

6. Rata-rata daya tetas telur ayam arab.......................................................

37

7. Rata-rata bobot tetas telur ayam arab .....................................................

39

8. Data transformasi arcsin pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap fertilitas telur ayam arab ..........................................................

51

9. Analisis ragam pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap fertilitas telur ayam arab ..........................................................

51

10. Data transformasi arcsin pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap susut tetas telur ayam arab ......................................................

52

11. Analisis ragam pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap susut tetas telur ayam arab.....................................................

52

12. Data transformasi arcsin pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap daya tetas telur ayam arab ......................................................

53

13. Analisis ragam pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap daya tetas telur ayam arab ......................................................

53

14. Uji lanjut jarak berganda duncan daya tetas telur ayam arab................

54

15. Analisis ragam pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap bobot tetas telur ayam arab .....................................................

54

16. Data fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas
telur ayam arab (P1) ..............................................................................

55

17. Data fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas
telur ayam arab (P2) ..............................................................................

55

18. Data fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas
telur ayam arab (P3) ..............................................................................

55

19. Suhu dan kelembapan mesin tetas.........................................................

56

20. Data bobot awal, bobot setelah penyimpanan, bobot umur 18 hari,
dan bobot tetas telur ayam arab (P1) .....................................................

57

21. Data bobot awal, bobot setelah penyimpanan, bobot umur 18 hari,
dan bobot tetas telur ayam arab (P2) .....................................................

58

22. Data bobot awal, bobot setelah penyimpanan, bobot umur 18 hari,
dan bobot tetas telur ayam arab (P3) .....................................................

59

23. Rata-rata bobot awal telur ayam arab....................................................

60

24. Rata-rata penurunan berat telur .............................................................

60

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Ayam arab silver ....................................................................................

8

2. Ayam arab golden ..................................................................................

8

3. Warna telur ayam arab ...........................................................................

34

4. Tata letak penelitian ...............................................................................

50

1

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

Usaha peternakan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat saat ini salah
satunya yaitu peternakan unggas. Hal ini terjadi karena peternakan unggas
merupakan usaha yang dapat dimulai dari skala usaha rumah tangga hingga skala
usaha besar. Salah satu usaha peternakan unggas yang saat ini dibudidayakan
oleh masyarakat adalah peternakan ayam arab. Hal ini karena ayam arab memiliki
beberapa keunggulan diantaranya dapat memproduksi telur yang tinggi yaitu
sebesar 230—250 butir/ekor/tahun (Sartika dan Iskandar, 2008).

Ayam arab (Gallus turcicus) adalah ayam kelas mediterain, hasil persilangan
dengan ayam buras (Kholis dan Sitanggang, 2002). Ayam arab merupakan ayam
pendatang yang asalnya dari ayam lokal Eropa, Belgia. Secara genetik ayam arab
merupakan ayam petelur unggul karena memiliki kemampuan memproduksi telur
yang tinggi. Umumnya ayam arab dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan tidak

digunakan sebagai ayam pedaging. Hal ini karena ayam arab memiliki warna
kulit yang kehitaman dan daging yang tipis dibandingkan dengan ayam lokal
biasa, sehingga tingkat kesukaan pada masyarakat lebih rendah (Sulandari et al.,
2007).

2

Angka permintaan ditingkat konsumen terhadap semua jenis telur ayam
cenderung meningkat tiap tahunnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran
masyarakat akan pentingnya protein hewani semakin meningkat, sehingga telur
ayam dijadikan sebagai salah satu pilihan protein hewani yang banyak dikonsumsi
oleh masyarakat.

Konsumsi rata-rata telur per kapita pada tahun 2013 sebesar 6.153 butir,
permintaan tersebut mengalami rata-rata pertumbuhan dari tahun ke tahun sebesar
1,61% (Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2009—2013). Semakin tinggi
permintaan telur tiap tahunnya menyebabkan masyarakat tertarik untuk
mengembangkan usaha budidaya ayam arab. Ayam arab tergolong unggas yang
memiliki ciri produksi telur yang tinggi dengan berat telur 35—42,5 g (Sartika
dan Iskandar, 2008). Salah satu pengembangan usaha tersebut dapat dilakukan
melalui teknik penetasan buatan menggunakan mesin tetas. Prinsip dasar
penetasan menggunakan mesin tetas adalah menciptakan suasana yang sesuai
dengan kondisi atau keadaan induk pada saat mengerami telurnya.

Pada tingkat peternak, telur yang akan ditetaskan umumnya memiliki lama
penyimpanan telur tetas yang berbeda, karena telur tetas tidak langsung ditetaskan
di dalam mesin tetas melainkan dikumpulkan sampai dengan jumlah yang cukup
untuk ditetaskan. Lama penyimpanan merupakan salah satu faktor yang dapat
memengaruhi fertilitas dan daya tetas.

Berdasarkan hasil penelitian Adnan (2010), lama penyimpanan telur 3, 4, 5, 6 hari tidak
berpengaruh terhadap fertilitas dan berat tetas anak ayam buras, tetapi lama penyimpanan
telur berpengaruh terhadap daya tetas telur. Hal ini diduga karena telur yang disimpan

3

terlalu lama persentase daya tetasnya akan rendah. Menurut Winarno dan Koswara
(2002), lama penyimpanan telur tetas yang semakin lama akan menurunkan kualitas telur
akibat penguapan CO2 dan H2O. Menurunnya kualitas telur akan menghambat
perkembangan embrio sehingga dapat menurunkan fertilitas dan daya tetas.

Lama penyimpanan telur tetas juga akan berpengaruh pada susut tetas dan bobot
tetas. Telur yang disimpan terlalu lama dapat menyebabkan terjadinya penguraian
zat organik. Menurut Iskandar (2003), penguraian zat organik tersebut
menyebabkan penyusutan berat telur yang berdampak pada bobot tetas.

Sampai saat ini informasi mengenai pengaruh lama penyimpanan terhadap
fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas telur ayam arab belum diketahui
secara jelas, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh lama
penyimpanan (2, 4, dan 6 hari) telur ayam arab terhadap fertilitas, susut tetas, daya
tetas, dan bobot tetas.

B. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk
1. mengkaji pengaruh lama penyimpanan telur ayam arab terhadap fertilitas, susut
tetas, daya tetas, dan bobot tetas;
2. menentukan lama penyimpanan telur ayam arab yang terbaik terhadap
fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas.

4

C. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan petunjuk kepada
peternak ayam arab dan masyarakat mengenai lama penyimpanan telur ayam arab
yang terbaik terhadap fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas.
D. Kerangka Pemikiran

Ayam arab merupakan salah satu jenis ayam petelur yang mempunyai keunggulan
bertelur yang tinggi. Saat ini banyak peternak yang memelihara ayam arab
karena produktivitasnya mencapai 230—250 butir/ekor/tahun dengan berat telur
35—42,5 g (Sartika dan Iskandar, 2008). Selain produktivitas telurnya yang
tinggi, ayam arab juga dapat dimanfaatkan sebagai penghasil daging, namun
daging ayam ini kurang disukai oleh konsumen karena warna dagingnya agak
kehitaman dan juga lebih tipis dibandingkan dengan ayam kampung (Sulandari et
al., 2007).

Penetasan dengan menggunakan mesin tetas lebih menguntungkan dibandingkan
dengan penetasan alami. Meskipun demikian, mesin tetas perlu
mempertimbangkan hal-hal vital seperti seleksi mutu telur tetas (lama
penyimpanan telur, berat telur, dan indeks bentuk telur), stabilitas suhu dan
kelembapan, sirkulasi udara dan ventilasi, pemutaran, dan pendinginan telur
sehingga mengurangi tingkat kegagalan (Djanah, 1984 yang disitasi Iskandar
2003).

Pemeriksaan telur tetas dilakukan dengan pemilihan telur seperti berat telur,
bentuk telur, keadaan kulit telur, kebersihan telur, dan lama penyimpanan telur.

5

Menurut Kelly (2006), bentuk telur yang baik untuk ditetaskan adalah tidak terlalu
bulat juga tidak terlalu lonjong dengan lama penyimpanan berkisar antara 7—10
hari. Hal ini tidak sejalan dengan Asep (2000) yang menyatakan bahwa lama
penyimpanan telur tetas sebaiknya tidak lebih dari satu minggu.

Keberhasilan suatu usaha penetasan ditentukan oleh fertilitas dan daya tetas.
Salah satu faktor yang memengaruhi fertilitas dan daya tetas adalah lama
penyimpanan telur. Lama penyimpanan telur tetas merupakan faktor penting
dalam menjaga kualitas telur. Menurut Rasyaf (1991), semakin lama
penyimpanan telur maka semakin buruk kualitas kerabangnya sehingga pori-pori
kerabang akan bertambah besar, buruknya kualitas kerabang akan memengaruhi
kualitas telur sehingga menghambat perkembangan embrio dan menurunkan
fertilitas dan daya tetas.

Menurut North dan Bell (1990), fertilitas yang tinggi diperlukan untuk
menghasilkan dan meningkatkan daya tetas, walaupun tidak selalu mengakibatkan
daya tetas yang tinggi pula, daya tetas dipengaruhi oleh lama penyimpanan telur,
faktor genetik, suhu dan kelambapan mesin tetas, umur induk, kebersihan telur,
ukuran telur, dan nutrisi. Menurut Daulay et al. (2008), lama penyimpanan telur
tetas 1, 3, 5, dan 7 hari pada penetasan telur ayam arab menghasilkan daya tetas
berturut-turut 83,33; 68,75; 43,75; dan 27,00 %. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut daya tetas pada penyimpanan 7 hari sudah memberikan hasil yang buruk,
sementara daya tetas pada lama penyimpanan 6 hari belum diketahui, oleh sebab
itu dalam penelitian ini akan dicobakan lama penyimpanan 2, 4, dan 6 hari agar
didapatkan hasil yang lebih baik lagi.

6

Selain fertilitas dan daya tetas, lama penyimpanan telur tetas juga dapat
memengaruhi bobot tetas. Menurut Iskandar (2003), telur yang disimpan terlalu
lama akan menyebabkan terjadinya penguraian zat organik sehingga
menyebabkan penurunan berat telur yang berdampak pada penurunan bobot tetas.
Hal ini sesuai dengan Hasan et al. (2005), yang menyatakan bahwa bobot tetas
berkorelasi positif dengan berat telur tetas.

Penyusutan berat telur merupakan perubahan yang nyata di dalam telur, lama
penyimpanan telur juga dapat memengaruhi susut tetas (weigh loss). Telur yang
terlalu lama disimpan akan meningkatkan susut tetas (weigh loss) yang
disebabkan oleh adanya pengaruh suhu dan kelembapan selama masa penetasan
yang dapat memengaruhi daya tetas dan kualitas DOC yang dihasilkan (Tullet dan
Burton, 1982). Penyimpanan telur tetas yang baik adalah pada suhu 12,8°C
dengan kelembaban relatif 60—70% (Williamson dan Payne, 1993).

E. Hipotesis

1.

Terdapat perbedaan fertilitas, susut tetas, daya tetas, dan bobot tetas telur
ayam arab pada perlakuan lama penyimpanan 2, 4, dan 6 hari.

2.

Terdapat lama penyimpanan telur ayam arab yang terbaik pada perlakuan
lama penyimpanan 2, 4, dan 6 hari terhadap fertilitas, susut tetas, daya tetas,
dan bobot tetas.

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Ayam Arab

Ayam arab (Gallus turcicus) adalah ayam kelas mediterain, hasil persilangan
dengan ayam buras (Kholis dan Sitanggang, 2002). Ayam arab merupakan ayam
lokal pendatang yang asalnya dari ayam lokal Eropa, Belgia. Secara genetik ayam
arab merupakan ayam petelur unggul karena memiliki kemampuan memproduksi
telur yang tinggi. Umumnya ayam arab dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan
tidak digunakan sebagai ayam pedaging. Hal ini karena ayam arab memiliki
warna kulit yang kehitaman dan daging yang tipis daripada ayam lokal biasa,
sehingga tingkat kesukaan pada masyarakat lebih rendah (Sulandari et al., 2007).

Menurut Sartika dan Iskandar (2008), ada dua jenis ayam arab yaitu ayam arab
silver (braekel kriel silver) dan ayam arab golden (braekel kriel gold). Dalam
lingkungan masyarakat, ayam arab silver lebih banyak dikenal dan dibudidayakan
dibandingkan dengan ayam arab golden. Kedua jenis ayam ini dibedakan pada
warna bulunya.

Ciri dari ayam arab silver memiliki warna bulu putih hitam lurik dan bulu leher
berwarna putih seperti jilbab (Gambar 1). Warna hitam juga dijumpai pada
lingkar mata, kulit, shank, dan paruh sifat lincah dan riang, berkokok nyaring,

8

mudah ribut, dan lari beterbangan jika ketenangan terganggu. Ayam arab silver
mulai bertelur umur 18 minggu. Ayam ini memiliki berat dewasa berkisar antara
1,4—2,3 kg pada jantan dan 0,9—1,8 kg pada betina. Ayam arab silver dapat
memproduksi telur cukup tinggi yaitu sebesar 230—250 butir/ekor/tahun (Sartika
dan Iskandar 2008). Berat telurnya yaitu sebesar 35—42,5 g. Ayam ini
merupakan ayam arab yang banyak dikembangkan di Indonesia (Sulandari et al.,
2007).

Ayam arab golden memiliki warna bulu merah lurik kehitaman dan bulu leher
berwarna merah seperti jilbab (Gambar 2). Warna hitam dapat dijumpai pada
lingkar mata, shank, kulit, dan paruh. Berat dewasa ayam ini sekitar 1,4—2,1 kg
pada jantan dan 1,1—1,6 kg pada betina. Ayam ini juga memiliki keunggulan
dalam produksi telur namun kurang dikembangkan di Indonesia (Sulandari et al.,
2007). Jenis ayam arab silver dan golden dapat dilihat pada Gambar 1 dan
Gambar 2.

Gambar 1. Ayam arab silver
Sumber : Kholis dan Sitanggang (2002 )

Gambar 2. Ayam arab golden

9

B. Lama Penyimpanan Telur Tetas

Telur yang masih segar merupakan telur yang baik untuk ditetaskan. Menurut
Rasyaf (1991), telur tetas yang baik memiliki bentuk oval, kualitas kulit telur baik
dan bersih, berat telur normal dan lama penyimpanan telur tidak terlalu lama.
Lama penyimpanan telur tetas memiliki peranan penting dalam menjaga kualitas
telur. Menurut Sudaryani (1996), menurunnya kualitas telur dapat dilihat dari
rongga udara yang bertambah lebar, pH meningkat, volume kuning telur
berkurang, letak kuning telur bergeser, kadar air berkurang, terjadi penguapan
karbondioksida, dan berkurangnya kemampuan dalam mengikat protein.

Menurut North (1984), telur yang terlalu lama disimpan dapat mengakibatkan
terjadinya kematian embrio pada hari ke-2 sampai hari ke-4. Hal ini sejalan
dengan pendapat Rasyaf (1991) bahwa semakin lama penyimpanan telur maka
semakin buruk kualitas kerabangnya sehingga pori-pori kerabang akan bertambah
besar. Buruknya kualitas kerabang akan memengaruhi kualitas telur sehingga
menghambat perkembangan embrio dan menurunkan fertilitas dan daya tetas.

Lama penyimpanan telur tetas juga dapat memengaruhi bobot tetas. Hal ini sesuai
dengan pendapat Hasan et al. (2005), bobot tetas berkorelasi positif dengan berat
telur tetas. Semakin besar berat telur maka semakin besar pula bobot tetas yang
dihasilkan.

Menurut Winarno dan Koswara (2002), lama penyimpanan telur tetas yang
semakin meningkat akan menurunkan kualitas telur karena penguapan CO2 dan
H2O. Menurunnya kualitas telur akan menghambat perkembangan embrio

10

sehingga dapat menurunkan fertilitas dan daya tetas. Blakely dan Bade (1998)
menyatakan bahwa meskipun pada kondisi yang baik, telur akan turun daya
tetasnya bila periode penyimpanan lebih dari 7 hari. Demikian pula sejalan
dengan pendapat Sudaryani dan Santoso (1999) bahwa penyimpanan telur
sebaiknya tidak lebih dari 6 atau 7 hari agar daya tetasnya tidak menurun.

Menurut Card dan Nesheim (1979), semakin lama telur tetas disimpan maka
serabut protein yang membentuk jala (ovomucin) akan rusak dan pecah akibat
kenaikan pH yang terjadi karena adanya penguapan karbondioksida. Hal ini
mengakibatkan air terlepas dari putih telur dan putih telur menjadi encer.
Menurut Rasyaf (1991), selain itu semakin lama telur ada di dalam kandang maka
semakin besar pula kemungkinan bibit penyakit masuk kedalam telur tetas, oleh
karena itu pengambilan telur tetas harus dilakukan sesering mungkin untuk
memperkecil kemungkinan masuknya bakteri ke dalam telur (penetrasi bakteri).

Menurut Kurtini dan Riyanti (2011), telur yang memerlukan penyimpanan
beberapa hari, harus disimpan pada ruang pendingin pada suhu 15oC dan
kelembapan 70—80%. Menurut Hodgetts (2000), suhu yang baik untuk
penetasan yaitu 37,8°C sampai kisaran 38,2°C. Pada suhu tersebut akan
didapatkan daya tetas yang optimum. Pengaruh lama penyimpanan telur tetas
terhadap daya tetas pada telur ayam buras dapat dilihat pada Tabel 1.

11

Tabel 1. Pengaruh lama penyimpanan telur tetas terhadap daya tetas pada telur
ayam buras

Ulangan

3

I
80
II
80
Rata-rata
80±0
Sumber : Adnan (2010)

Perlakuan Lama Penyimpanan
4
5
..........%.........
73,33
73,33
73,33
73,33
73,33±2,42
73,33±2,42

6
66,70
53,33
60,02±9,45

C. Fertilitas

Fertilitas adalah jumlah telur yang bertunas dari sekian banyaknya telur yang
dieramkan, dan dinyatakan dalam persentase (Djanah, 1984). Menurut Suprijatna
et al. (2008), fertilitas adalah persentase telur yang fertil dari seluruh telur yang
digunakan dalam suatu penetasan. Fertilitas diartikan sebagai persentase telur
yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang
ditetaskan tanpa memperhatikan telur tersebut menetas atau tidak (Sinabutar,
2009).

Semakin tinggi persentase fertilitas yang diperoleh maka semakin baik pula daya
tetasnya. Menurut Rasyaf (1991), ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi
fertilitas telur yaitu sperma, ransum, hormon, respon cahaya, umur induk dan daya
tetas. Suprijatna et al. (2008) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menentukan
fertilitas yaitu sex ratio, umur induk, lama penyimpanan telur, manajeman
pemeliharaan (perkandangan dan pencahayaan), pakan, dan musim. Menurut
Septiawan (2007), hal-hal yang memengaruhi fertilitas antara lain asal telur (hasil
dari perkawinan atau tidak), ransum induk, umur induk, kesehatan induk, rasio

12

jantan dan betina, umur telur, dan kebersihan telur. Kondisi telur juga
memengaruhi fertilitas dan daya tetas (North dan Bell, 1990).

Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan dan meningkatkan daya
tetas. Menurut Jull (1982), persentase telur fertil dapat dihitung dangan cara
jumlah telur fertil (butir) dibagi dengan jumlah telur yang ditetaskan (butir)
kemudian dikalikan 100%. Umur induk berpengaruh pada fertilitas. Fasenco et
al. (1992) menyatakan bahwa ayam pada umur 43—46 minggu memiliki fertilitas
sebesar 91,23%, pada umur 47—50 minggu memiliki fertilitas 85,99%, dan pada
umur 51—54 memiliki fertilitas 83,22%.

Untuk mengetahui telur yang fertil pada suatu penetasan perlu dilakukan
peneropongan dengan bantuan sumber cahaya, alat ini disebut candler (Suprijatna
et al., 2008). Menurut Setiadi et al. (1994), sampai saat ini belum diketahui cara
yang tepat dalam usaha penetasan telur untuk menentukan tingkat daya tunas
kecuali meneropong (candling). Tujuan dilakukannya peneropongan untuk
mengetahui telur yang mengandung zigot (bakal anak) atau tidak (Sakti, 2000).
Untuk mendapat fertilitas yang tinggi menurut (Sukardi dan Mufti, 1989) adalah
jantan berbanding 8—10 ekor betina, maka telur yang sudah keluar dari tubuh
induk sudah terjadi pembuahan, dan pada saat ditetaskan yang terjadi adalah
perkembangan embrio hingga terbentuk anak ayam dan akhirnya menetas.

D. Susut Tetas

Susut tetas adalah berat telur yang hilang selama penetasan berlangsung sampai
dengan telur menetas. Penyusutan telur dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

13

suhu, kelembapan, perkembangan embrio, tebal kerabang, jumlah pori-pori
kerabang, luas permukaan telur dan lama penyimpanan telur sebelum dimasukkan
ke dalam mesin tetas (Rusandih, 2001).

Hilangnya berat telur yang terjadi selama penetasan disebabkan oleh adanya
penyusutan telur. Menurut Tullet dan Burton (1982), penyusutan berat telur
diakibatkan karena pengaruh suhu dan kelembapan selama masa penetasan yang
dapat memengaruhi daya tetas dan kualitas DOC yang dihasilkan.

Penyusutan berat telur merupakan perubahan yang nyata di dalam telur.
Romanoff dan Romanoff (1963) dalam Lestari (2013) menyatakan bahwa air
adalah bagian terbesar dan unsur biologis di dalam telur yang sangat menentukan
proses perkembangan embrio di dalam telur. Penyusutan berat telur dapat
diakibatkan karena berkurangnya persediaan cairan allantois (Buhr dan Wilson,
1991).

Menurut Shanawany (1987), selama perkembangan embrio di dalam telur akan
terjadi penyusutan telur sebesar 10—14% dari berat telur karena penguapan air,
selanjutnya setelah menetas menyusut sebesar 22,5—26,5%. Penyusutan berat
telur selama masa penetasan tersebut menandakan adanya perkembangan dan
metabolisme embrio yaitu dengan adanya pertukaran gas vital oksigen dan
karbondioksida serta penguapan air melalui kerabang telur (Peebles dan Brake,
1985).

Tebal kerabang telur juga memengaruhi berkurangnya berat telur selama
penetasan. Menurut Rasyaf (1991), kerabang telur yang terlalu tebal

14

menyebabkan telur kurang terpengaruh oleh suhu penetasan sehingga penguapan
air dan gas sangat kecil, sedangkan telur yang berkerabang tipis mengakibatkan
telur mudah pecah sehingga tidak baik untuk ditetaskan. Koswara (1997)
menambahkan bahwa kerabang telur dilapisi oleh lapisan kutikula yang terdiri
dari 90% protein dan sedikit lemak. Fungsi dari kutikula yaitu untuk mencegah
penetrasi mikroba dan penguapan air yang terlalu cepat (Rusandih, 2001).

Pori-pori kerabang telur unggas merupakan saluran komunikasi yang penting
antara perkembangan embrio di dalam telur dengan lingkungan di luar telur (Rahn
et al., 1987). Semakin banyak pori-pori kerabang telur laju susut tetas yang
terjadi akan semakin lebih cepat. Bagian ujung telur yang tumpul mempunyai
konsentrasi pori-pori yang lebih besar daripada di bagian tengah ataupun di
bagian ujung yang runcing, sehingga konsentrasi pori-pori akan memberikan
kesempatan gas dan air menguap lebih banyak daripada bagian ujung yang
runcing (Peebles dan Brake, 1985).

Imai (1986) menyatakan bahwa pada penyimpanan telur itik selama 0, 3, 7, 14,
21, dan 28 hari diperoleh penurunan berat telur berturut-turut 0; 0,94; 1,82; 2,99;
4,34; dan 5,90%. Menurut North dan Bell (1990), cara menghitung susut tetas
adalah dengan membagi persentase kehilangan berat telur selama penetasan
dengan jumlah hari inkubasi.

E. Daya Tetas

Daya tetas adalah persentase telur yang menetas dari telur yang fertil (Suprijatna
et al., 2008). Blakely dan Bade (1998) menyatakan bahwa kelembapan sangat

15

memengaruhi penetasan. Sebelum ditetaskan sebaiknya telur disimpan pada suhu
12°C dengan kelembapan relatif 70—75% (Lyons, 1998).

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi daya tetas yaitu kesalahankesalahan teknis pada waktu memilih telur tetas/seleksi telur tetas (bentuk telur,
berat telur, keadaan kerabang, ruang udara dalam telur, dan lama penyimpanan
telur) dan kesalahan-kesalahan teknis operasional dari petugas yang menjalankan
mesin tetas (suhu, kelembapan, sirkulasi udara, dan pemutaran telur) serta faktor
yang terletak pada induk sebagai sumber bibit (Djanah, 1994 yang disitasi
Iskandar 2003).

Menurut Kurtini dan Riyanti (2011), faktor-faktor yang memengaruhi daya tetas
adalah
1. Breeding
a. Inbreeding : perkawinan yang mempunyai hubungan darah yang dekat
berkali-kali tanpa seleksi yang efektif akan menurunkan daya tetas.
b. Crossbreeding : daya tetas hasil persilangan yang hubungan darahnya jauh
akan meningkatkan daya tetas.
2. Letal dan semi letal gen : suatu gen yang dapat menyebabkan kematian atau
abnormalitas, hal ini dapat menurunkan daya tetas.
3. Persentase produksi telur : semakin baik produksi individu, daya tetas juga
semakin baik.
4. Tata laksana

16

a. Sistem kandang : pemeliharaan pada kandang yang terlalu panas/dingin
sangat berpengaruh terhadap daya tetas yang dihasilkan. Temperatur 85°F
dalam kandang daya tetas tidak baik.
b. Ransum : bila terjadi defisiensi zat makanan dalam ransum akan
memengaruhi kandungan zat-zat makanan dalam telur yang mengakibatkan
menurunnya daya tetas.

Pattison (1993) menyatakan bahwa telur yang kotor tidak layak untuk ditetaskan.
Telur yang kotor banyak mengandung mikroorganisme sehingga akan mengurangi
daya tetas (Srigandono, 1997). Ukuran telur juga ada hubungannya dengan daya
tetas (Gunawan, 2001). Menurut Sainsbury (1984), telur yang terlalu besar atau
terlalu kecil tidak baik untuk ditetaskan karena daya tetasnya rendah.

Telur yang terlalu kecil mempunyai luas permukaan telur per unit yang lebih
besar dibandingkan dengan telur yang besar, akibatnya penguapan air di dalam
telur akan lebih cepat sehingga telur cepat kering (North dan Bell, 1990). Telur
yang terlalu besar mempunyai rongga udara yang kecil untuk ukuran embrio yang
dihasilkan sehingga embrio kekurangan oksigen (Nuryati et al., 2002).

Menurut Sudaryani dan Santoso (1999), pertumbuhan embrio dapat digolongkan
menjadi tiga periode. Periode pertama yaitu 1—5 hari untuk pertumbuhan organorgan dalam, periode kedua yaitu umur 6—14 hari untuk pertumbuhan jaringan
luar, dan periode ketiga yaitu umur 15 sampai dengan menetas untuk pembesaran
embrio. Christensen (2001) melaporkan bahwa kematian embrio dini meningkat
antara hari ke-2 dan hari ke-4 masa pengeraman.

17

Menurut Blakely dan Bade (1998), meskipun pada kondisi optimum, telur akan
turun daya tetasnya yang tinggi bila periode penyimpanan sebelumnya lebih dari 7
hari.

F. Bobot Tetas

Bobot tetas adalah bobot yang diperoleh dari hasil penimbangan DOC yang
menetas. Menurut Jayasamudera dan Cahyono (2005), penimbangan dilakukan
setelah bulu DOC kering, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan akibat
pengaruh DOC yang masih basah bulunya bila ditimbang akan memengaruhi
beratnya. Bobot tetas sering digunakan sebagai seleksi awal untuk menentukan
unggas yang baik (Etches, 1996).

Menurut Nuryati et al. (2002), suhu yang terlalu tinggi dan kelembapan ruang
yang terlalu rendah bisa menyebabkan berat tetas yang dihasilkan menurun karena
mengalami dehidrasi selama proses penetasan. Paimin (2003), menambahkan
bahwa untuk menjaga bobot tetas tidak mengalami dehidrasi yang berlebihan
perlu ditambah kelembapan ruang penetasan beberapa hari sebelum telur menetas.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi berat telur yaitu strain, umur pertama
bertelur, suhu lingkungan, dan ukuran pullet pada suatu kelompok (North dan
Bell, 1990). Tabel 2 menunjukan adanya pengaruh berat telur terhadap bobot
tetas ayam arab.

18

Tabel 2. Pengaruh berat telur terhadap bobot tetas ayam arab
Berat telur (g)
≤ 40,9
41—44,9
≥ 45
Sumber : Salombe (2012)

Bobot tetas (g)
30,25
31,33
31,41

Menurut North dan Bell (1990), antara berat telur tetas dengan bobot tetas yang
dihasilkan terdapat korelasi yang tinggi. Hasan et al. (2005) menyatakan bahwa
semakin besar berat telur tetas maka semakin besar pula DOC yang dihasilkan.

G. Manajemen Penetasan Menggunakan Mesin Tetas

Penetasan merupakan suatu proses biologis yang kompleks yang berlangsung
secara kontinue untuk spesies unggas (Kurtini dan Riyanti, 2011). Menurut
Suprijatna et al. (2008), penetasan merupakan proses perkembangan embrio di
dalam telur sampai menetas. Ada dua cara penetasan telur yaitu penetasan secara
alami dan penetasan secara buatan.

Menurut Kurtini et al. (2010), terdapat beberapa faktor penting dalam sistem kerja
mesin tetas, antara lain adalah pengaturan suhu, kelembaban, sirkulasi udara, dan
pemutaran telur di dalam mesin tetas. Pengawasan suhu dan kelembapan di
dalam mesin tetas sangat penting, karena pertumbuhan embrio di dalam mesin
tetas sangat sensitif terhadap suhu lingkungan

1. Suhu

Suhu merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam kegiatan penetasan telur.
Hal ini karena suhu dapat memengaruhi kualitas telur tetas baik dari fisiologi

19

dalam telur itu sendri maupun dari lingkungan (Bachari, 2006). Menurut Kurtini
et al. (2010), suhu yang baik untuk pertumbuhan embrio ayam berkisar antara
98,6—102,75°F (37,6°C). Suharno dan Amri (2003) menyatakan bahwa suhu
mesin tetas pada minggu pertama sebesar 101,5°F (38,6°C), pada minggu kedua
sebesar 102°F (38,9°C), pada minggu ketiga sebesar 102,5°F (38,6°C), dan pada
minggu kempat sebesar 103°F (39,4°C).

Menurut Oluyemi dan Robert (1980), suhu yang terlalu rendah menyebabkan telur
lambat menetas dan pertumbuhan yang tidak proporsional sedangkan suhu yang
tinggi dapat mempercepat penetasan telur, gangguan syaraf, jantung,
pernafasan,ginjal, dan membran embrio mengering sehingga dapat membunuh
embrio.

2. Kelembapan

Sama halnya dengan suhu, kelembapan juga memiliki peranan penting dalam
proses penetasan. Menurut Kurtini et al. (2010), kelembapan berfungsi untuk
mengurangi kehilangan cairan dari dalam telur selama proses penetasan,
membantu pelapukan kulit telur pada saat akan menetas sehingga anak unggas
memecahkan kulit telurnya. Kelembapan yang baik di dalam mesin tetas untuk
penetasan ayam yaitu 55—60%.

Kelembapan yang terlalu tinggi menyebabkan DOC yang ditetaskan menetas
terlalu dini dan akan lengket pada kerabang telur, sedangkan kelembapan yang
terlalu rendah menyebabkan laju penguapan terlalu cepat sehingga embrio
kekurangan air dan terlambat untuk menetas (Nuryati et al., 2002). Menurut

20

Paimin (2003), mesin tetas yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan terhambatnya
penguapan air di dalam telur. Kelembapan dapat diukur dengan hygrometer atau
dengan menggunakan thermometer basah (wetbulb temperature) (Jasa, 2006).

3.

Sirkulasi udara

Sirkulasi udara di dalam mesin tetas dapat diatur melalui ventilasi yang baik.
Ventilasi berfungsi untuk penukaran udara, yaitu mengeluarkan udara kotor dan
memasukkan udara yang bersih (Kurtini et al., 2010). Ada beberapa faktor yang
dapat memengaruhi ventilasi yaitu suhu dan kelembapan, jumlah telur yang
ditetaskan, periode inkubasi, dan pergerakan udara dalam mesin tetas (Paimin,
2003).

Ketersediaan oksigen dapat dicapai dengan pengaturan sirkulasi udara yang baik.
Selama proses penetasan embrio membutuhkan oksigen untuk perkembangan dan
mengeluarkan karbondioksida melalui pori-pori kerabang telur sehingga di dalam
mesin tetas harus tersedia cukup oksigen. Kebutuhan karbondioksida dalam
proses penetasan tidak lebih dari 0,5% dan kebutuhan oksigen tidak kurang dari
21% (Paimin, 2003).

4.

Pemutaran telur (turning)

Kurtini et al. (2010) menyatakan bahwa tujuan dari pemutaran telur yaitu untuk
menghindari salah letak embrio di dalam telur, agar embrio tidak menempel pada
sisi kulit telur, dan agar distribusi panas dapat merata pada permukaan kulit.
Posisi normal badan embrio terletak mengikuti sumbu panjang sebutir telur

21

dengan paruh berada di bawah sayap kanan. Ujung paruh menghadap ke rongga
udara yang terletak di ujung tumpul telur (Srigandono, 1997).

Pemutaran telur minimal dilakukan 3 kali sehari. Untuk pemutaran telur pada
ayam dilakukan setiap hari dimulai pada hari kelima dan diakhiri pada 3 hari
menjelang menetas (Kurtini dan Riyanti, 2011). Harianto (2010) menyatakan
bahwa jangan membalik telur sama sekali pada 3 hari terakhir menjelang telur
menetas, karena pada saat itu embrio di dalam telur sedang bergerak pada posisi
penetasannya. Pengaruh frekuensi pemutaran telur meningkatkan daya tetas
sebesar 9,72% (Daulay et al., 2008).

5.

Peneropongan telur

Faktor lain yang menentukan daya tetas adalah peneropongan telur (candling).
Menurut Kurtini et al. (2010) peneropongan untuk telur ayam dilakukan 2 kali
yaitu pada hari ke-7 dan hari ke-14, sedangkan untuk telur itik, kalkun, bebek
manila dilakukan 3 kali yaitu pada hari ke-7, ke-14, dan ke-21. Tujuan dari
peneropongan telur yaitu untuk menentukan apakah telur tetas itu fertil atau tidak.
Menurut Lukman (2008), alat yang digunakan untuk peneropongan telur
dinamakan candler.

Menurut Nurcahyo dan Widyastuti (2001), pada saat peneropongan telur tetas
yang embrionya hidup akan tampak adanya pembuluh darah yang berwarna merah
dan gambaran denyut jantung, sebaliknya pada telur yang embrionya mati terlihat
adanya bintik hitam di tengah kuning telur dan di dalam telur tampak bening.
Peneropongan minggu pertama, ciri telur fertil dapat diketahui dengan mengamati

22

perkembangan pembuluh darah yang memencar dari sentrumnya, dan pada
peneropongan minggu kedua, telur fertil menunjukan gambaran gelap.

Beberapa faktor yang memengaruhi kegagalan dalam penetasan yaitu telur tidak
terbuahi karena rasio jantan dan betina tidak tepat, ransum kurang memenuhi
syarat, pejantan terlalu tua, pejantan yang steril (mandul), dan embrio mati terlalu
awal akibat penyimpanan terlalu lama (Harianto, 2010).

23

III. BAHAN DAN MATERI

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 minggu pada Desember 2014—Januari 2015,
bertempat di peternakan ayam arab milik Bapak Ilham di Desa Tegal Rejo,
Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

B. Bahan dan Alat Penelitian

1. Bahan penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini :
(1) telur ayam arab yang berasal dari induk ayam berumur ± 11 bulan dengan sex
ratio 1:8 dan dipelihara menggunakan sistem pemeliharaan intensif. Ransum
yang diberikan terdiri dari dedak 30%, konsentrat 30%, dan jagung 40%.
Jumlah telur yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 162 butir dengan
rata-rata bobot awal telur berkisar antara 41,18± 2,18 g/butir dengan koefesien
keragaman sebesar ± 5,31%;
(2) desinfektan rodalon digunakan untuk membersihkan telur tetas;
(3) alkohol digunakan untuk membersihkan mesin tetas;
(4) air digunakan untuk mengatur kelembapan di dalam mesin tetas.

24

2. Alat penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini :
(1) satu buah mesin tetas semi otomatis dengan kapasitas tampung maksimal 300
butir telur;
(2) satu buah mesin pengering bulu untuk mengeringkan bulu saat DOC menetas;
(3) enam buah egg tray untuk meletakan telur tetas;
(4) enam buah keranjang telur dengan kapasitas 30 butir telur dan serutan bambu
untuk menyimpan telur tetas;
(5) satu buah thermohygrometer untuk mengukur suhu dan kelembapan di dalam
mesin tetas;
(6) satu buah timbangan digital dengan ketelitian 0,01g untuk menimbang telur
dan DOC yang baru menetas;
(7) satu buah candler untuk meneropong telur tetas;
(8) tray hathcer (rak telur) untuk tempat menetaskan telur;
(9) dua buah spons untuk membersihkan telur;
(10) nampan sebagai wadah air;
(11) kawat kasa untuk penyekat telur;
(12) alat tulis untuk mencatat data.

C. Rancangan Penelitian

1.

Rancangan lingkungan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), karena telur yang
digunakan pada penelitian ini berasal dari strain ayam arab silver, umur induk ±

25

11 bulan, jenis ransum terdiri atas dedak 30%, konsentrat 30%, jagung 40%, dan
berat telur 41,18±2,81 g/butir yang masing-masing relatif sama.

2.

Rancangan perlakuan

Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan lama penyimpanan telur tetas ayam arab
yaitu P1 (2 hari), P2 (4 hari), dan P3 (6 hari), masing-masing perlakuan diulang
sebanyak 6 kali, setiap satu satuan percobaan terdiri dari 9 butir telur ayam arab.
3.

Rancangan respon

Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah fertilitas, susut tetas, daya tetas,
dan bobot tetas telur ayam arab.

Seluruh data yang diperoleh dari percobaan ini dianalisis sesuai dengan asumsi
sidik ragam pada taraf nyata 5%. Jika suatu perlakuan berpengaruh nyata pada
suatu peubah tertentu (P ฀ 0,05), maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan
pada taraf nyata 5%, untuk data persentase jika hasil yang diperoleh 70
ditransformasi dengan Archin (Steel dan Torrie, 1991). Tata letak telur tetas
penelitian dapat dilihat pada Gambar 3 halaman 50.

D. Pelaksanaan Penelitian

a. Seleksi telur tetas. Seleksi dilakukan terhadap ukuran, bobot telur (35—45 g),
keutuhan, dan kualitas telur sedangkan dari segi kualitas telur dinilai dari segi
kebersihan, warna, ketebalan kerabang, dan bentuk telur (oval).
b. Pengumpulan telur tetas. Telur yang telah diambil dari kandang dikumpulkan
untuk diseleksi, ditimbang bobotnya dan diberi label. Pengumpulan telur tetas
terdiri dari 3 tahap. Pengumpulan pertama untuk lama penyimpanan telur tetas

26

6 hari, pengumpulan kedua untuk lama penyimpanan telur tetas 4 hari, dan
pengumpulan ketiga untuk lama penyimpanan telur tetas 2 hari. Setiap
perlakuan disimpan di dalam keranjang telur yang dilapi

Dokumen yang terkait

Dokumen baru