laporan praktikum sabun antiseptik ekstrak daun sirih

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang sangat penting agar manusia dapat Bertahan hidup dan melakukan aktivitas. Pentingnya kesehatan ini mendorong

  pemerintah untuk mendirikan layanan kesehatan, agar masyarakat dapat mengakses kebutuhan kesehatan. Layanan kesehatan salah satu jenis layanan public merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat, salah satu pelayanan kesehatan yaitu Farmasi.

  Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai, untuk disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit. Pengetahuan kefarmasian mencakup pula penyaluran dan penggunaan obat yang sesuai dan aman, baik melalui resep (prsecription) dokter berizin, dokter gigi, dan dokter hewan, maupun melalui cara lain yang sah, misalnya dengan cara menyalurkan atau menjual langsung kepada pemakai. Farmasi mencakup pengetahuan mengenai identifikasi, pemilahan (selection), aksi farmakologis, pengawetan, penggabungan, analisis, dan pembakuan bahan obat (drugs) dan sediaan obat (medicine). Selain mempelajari efek farmasetika, farkodinamik dan efek farmakologi, farmasi mempelajari berbagai macam bentuk sediaan yaitu sediaan kosmetik.

  Sediaan kosmetik merupakan sediaan/paduan bahan yang siap digunakan pada bagain luar badan (epidermis: rambut, kuku, bibir, organ kelamin luar, gigi, dan rongga mulut untuk memersihkan, menamah daya tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyemuhkan penyakit. Sediaan teknologi kosmetik banyak diminati dari kalangan dewasa dan lansia, sehingga satu keunggulan sediaa teknologi kosmetik dibandingkan dengan sediaan-sediaan lain adalah dari segi bentuk sediannya Sediaan tersebut antara lain sediaan krim, pasta gigi, hanbody, bedak, lipstick, sabun dan shampo. Adanya beragai bentuk sediaan tersebut diharapkan dapat memerikan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen. Salah satu contoh sediaan farmasi yang beredar dipasaran yaitu sabun pembersih kewanitaan.

  Sabun pembersih kewanitaan adalah suatu sediaan pembersih daerah kewanitaan berbentuk cair yang dibuat dari bahan dasar dan digunakan untuk membersihkan daerah kewanitaan tanpa menimbulkan iritasi pada kulit.

  Untuk mengetahui karakteristik sediaan sabun pembersih kewanitaan maka diperlukan serangakaian evaluasi atau pengujian terhadap sediaan tersebut. Karena sebagai seorang farmasi sangat penting untuk mengetahui karakteristik dari sediaan tersebut Maka pada praktikum kali ini kami akan membuat dan melakukan evaluasi sediaan sabun pembersih kewanitaan.

1.2 Tujuan Percobaan

  1. Untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan dan formulasi sediaan sabun pembersih kewanitaan dengan zat aktif Daun sirih

  2. Untuk mengetahui dan memahami cara evaluasi sediaan

1.3.1 Maksud Percobaan

  1. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan dan formulasi sediaan sabun pembersih kewanitaan dengan zat aktif daun sirih

  2. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui cara evaluasi sediaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori II.I.1 Zat aktif Daun sirih merupakan salah satu tanaman obat yang banyak tumbuh

  diindonesia yang memiliki kandungan fenol dan fenilpropen serta minyak atsiri. Daun sirih hijau berfungsi sebagai bakterisida atau fungisida. Daun sirih sangat bermanfaat jika digunakan untuk infeksi mikroorganisme pathogen pada tubuh misalnya pertumbuhan candida albicans ( Firdasari, 2008; Lestari 2010).

  II.I.2 Farmakologi daun sirih Sirih merupakan agen bakterial terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif karna di dalam daun sirih terkandung senyawa yang mempunyai aktifits antibakteri Flavonoid, alkaloid. Senyawa polifenolat, tanin dan minyak atsiri, flavonoid merupakan senyawa fenol, sementara fenol bersifat koogulator protein, alkolid ersifat antibakteri karna dapat mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri. Tanin memiliki sifat anti bakteri karna toksisitas dapat merusak membran sel bakteri dengan cara mengganggu proses terbentukya membran dinding sel, selain itu minyak atsiri menfandung gugus hidroksil dan karboni ( Jouiantina, 2009).

  II.I.3 Dosis Pemakaian daun sirih dipakai sesuai indikasi dari sediaan yakni berfungsi sebagai pembersih daerah kewanitaan yang disebabkan oleh adanya keputihan maka kapan sabun ini akan digunakan yakni ketika mengalami keputihn tersebut. Dan sebaiknya pemakaina di hentikan ketika keputihan telah teratasi, karna pada penggunaan yang berlebihan daun sirih akan meneybabkan iristasi pada bagian kewanitaan ( Julianti, 2009).

  II.I.4 Bentuk sediaan Sabun adalah pembersih yang dibuat dengan mereaksikan secara kimia antara basa natrium dan basa kalium dan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewan yang umumnya ditambahkan zat pewangi atau antispektik yang digunakan untuk membersihkan tubuh manusia dan tidak membahayakan kesehatan (DSN- SNI 06-4085-1996).

  Sabun terbagi atas 2 ; sabun cair dan sabun padat. Salah satu dari sebum cair adalah sabun permbersih kewanitaan adalah salah satu sediaan permersih daerah kewanitaan berbentuk cair yang dibuat dari bahan dasar yang digunakan untuk memebersihkan daerah kewaitaan tanpa menimbulkan iritasi ( Wasitaadmaja, 1997

  II.I.4 Keuntungan dan Kerugian

  A. Keuntungan Sabun ekstrak daun sirih hijau adalah salah satu cara pengobatan yang sering dilakukan untuk mengatasi keputihan patologis karna daun sirih hijau memiliki kandungan fenol dan kavinol yang memiliki daya antibakteri( Nurswida, 2002).

  B. Kerugian Pada pemakaian setiap hari sediaan sabun sirih dapat menyebabkan iritasi pada rahim wanita.

  II.I.5 Preformulasi zat aktif Ekstrak daun sirih merupakan turunan dari fenol yaitu alkaloid dan flavonoid yang bersifat polar atau larut air ( Markham, 1988). Ekstrak daun sirih juga merupakan zat aktif yang cukup stabil pada panas karna ekstrak daun sirih akan menguap pada suhu 240 C selama 90 detik dan pada suhu 110 C selama 10 menit, dan juga tidak kompatibel dengan bahan pengoksidasi.

BAB III PERHITUNGAN DAN CARA KERJA III.1 Perhitungan III.1.1 Perhitungan pH

  pH vaginal = 5,0-6,5 (American college obstrecticians gynecologies,1996) pH dapar 2,5-6 pKa = - logKa 4,761 = - logKa

  • 4,761

  Ka = 10

  • 5

  = 1,73 x 10 pH = -log(H )

  5 = -log(H )

  • H = 10-5
  • +

    B = 2,303 x c x Ka(H )

  2

  • (Ka + H )
    • 5

  0,1 = 2,303 x c x 1,73 x 10-5(10 )

  5

  

2

  (1,73+10- )

  • 10

  0,1 = 2,303 x c 1,73 x 10

  • 10

  2

  (1,73 x 10 )

  • 10

  0,1 = 2,303 x c x 1,73 x 10

  • 20

  7,4529 x 10 0,1 = 2,303 x c 0,232

  • 1

  2,32 x 10 C = 0,187 mol/L

  5 = 4,761 + log g/a 0,289 = log g/a g/a = antilog 0,289 0,187 = 1,73a a = 0,10 mol/L g = 0,079 mol/L Massa asam = BM x asam x Vol

  = 20,14 x 0,0108 x 0,1 L = 0,0217 g =0,0217/100 mL x 100% = 0,0217%

  Massa garam = BM x garam x vol = 2,94 x 0,079 x 0,1 L = 0,023 g = 0,023/100 mL x 100% = 0,023%

  III.1.2 Perhitungan Bahan Ekstrak daun sirih = 40/100 x 100 mL = 40 mL Gliserin = 15/100 x 100 mL = 15 mL Asam stearat = 2,5/100 x 100 mL = 2,5 mL KOH = 0,14/100 x 100 mL = 0,14 mL

  VCO = 3/100 x 100 mL = 3 mL BHT = 0,1/100 x 100 mL = 0,1 mL Asam sitrat = 1,26/100 x 100 mL = 1,26 mL Natrium sitrat = 4,79/100 x 100 mL 3,79 mL Aquadest ad 100% = 100-66,79

  = 33,21mL

III.2 Cara Kerja

  III.2.1`Pembuatan ekstrak daun sirih hijau

  1. Disiapkan daun sirih yang telah mencapai masa panen

  2. Dibuat menjadi simplisia dengan etanol 50% menggunakan metode maserasi

  3. Dipekatkan ekstrak cair menggunakan votari evaporator pada suhu 50°C dengan kecepatan 50 rpm

  4. Diuapkan ekstrak daun sirih diatas water bath pada suhu 60°C

  5. Diperoleh ekstrak kental daun sirih

  III.2.2 Pembuatan sabun cair

  1. Disiapkan alat dan bahan

  2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%

  3. Ditimbang masing-masing bahan

  4. Dilarutkan KOH kedalam aquades terlebih dahulu

  5. Dilelehkan asam sterat pada suhu 70° hingga mencair

  6. Dicampurkan asam sterat dengan VCO hingga homogen

  7. Ditambahkan KOH sedikit demi sedikit pada suhu 60-70° hingga homogen.

  8. Ditambahkan gliserin hingga lebih mudah dalam pengadukan 9. Ditambahkan BHT dan ekstrak daun sirih hijau.

  10. Dilarutkan dapar sitrat dan aquades

  11. Dicek PH sediaan, ditambahkan dapar apabila Ph sediaan tidak sesuai

  12. Ditambahkan aquades sampai 100 ml

  13. Dimasukkan kedalam wadah

  14. Diberi etiket dan brosur

  III.3 Formulasi

  Tiap 100 mL mengandung R/ Ekstrak daun sirih 40 % (zat aktif)

  Gliserin 15 % (Emolien) Asam stearat 2,5 % (Pengemulsi) KOH 0,14 % (Pembentuk sabun)

  VCO 3 % (Pembentuk sabun) BHT 0,1 % (Antioksidan) Asam sitrat (Pendapar) Natrium sitrat (Pendapar) Aquadest add 100%

  III.4 Evaluasi Sediaan

  NO JENIS GAMBAR PRINSIP SYARAT HASIL EVALUASI

  1 Uji Pereksian Warna,bau,bentuk Didapati hasil organoleptik Organoleptik harus stabil dalam warna kuning dilakukan penyimpanan kecoklatan,bau dengan ( Hanny, 2015 ) khas sirih,dan mendiskripsikan bentuk cair. warna bau dan bentuk dari sediaan yang dihasilkan sebaiknya memilki warna yang menarik, bau yang

  & kekentalan yang cukup agar nyaman dalam penggunaan

  2 Pemeriksaa Pemeriksaan Zat aktif dari Dapat n homogenitas ekstrak daun sirih bercampur homogenita dilakukan harus tercampur dengan semua s dengan cara dengan basis tipe bahan,tidak sediaan minyak-air terdapat diletakan diatas sehingga tidak partikel kaca arloji lalu terjadi diraba & penggumpalan diperhatikan atau pemisahan secara seksama fase ( Hanny, apakah terdapat 2015 ) butiran kasar pada sediaan.

  3 Uji tinggi Uji Tinggi busa Untuk sabun Didapati hasil busa dilakukan kewanitaan tidak tinggi busa 3 dengan cara boleh tinggi atau cm sesuai sediaan sabun busa harus rendah syarat yang pembersih ( Anggraini, 2012 ditetapkan. kewanitaan, ) sebanyak 10 ml, kemudian dikocok selama 20 detik.

  4 Uji iritasi Dilakukan untuk Sediaan sabun Setelah menentukan pembersih diteteskan potensi iritasi kewanitaan yang pada kulit pada kulit ditandai dengan tangan tidak setelah tidak adanya terjadi reaksi diberikan sabun edema ( yang atau iritasi pembersih dapat pada kulit kewanitaan, menimbulkan dilakukan pembengkakan ) dengan cara dan eritema mongoleskan (pembesaran sediaan pada pembuluh kulit normal kapiler ) pada pada manusia. kulit. Sehingga dapat dinyatakan bahwa sabun kewanitaan tidak mengiritasi pada kulit ( Budimulja, 2007 )

BAB IV PEMBAHASAN IV.I Pembahasan Pada praktikum Tekhnologi Sediaan kosmetik ini kami menggunakan

  zat aktif ekstrak daun sirih menurut Wasitaatmadja (1997), Sirih merupakan tanaman herbal yang berhubungan erat dengan pengendalian karies, penyakit periodontal dan mengontrol halitosis. Daun sirih (Piper betle Linn.) juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus sehingga pada formulasi ini ekstrak daun sirih dibuat dalam bentuk sabun cair diindikasikan sebagai pembersih khusus kewanitaan.

  Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan Na atau K. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali,sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Wasitaatmadja, 1997).

  Langkah pertama dalam pembuatan sediaan ini yaitu menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, kemudian dibersihkan alat menggunakan alkohol 70 % karena menurut Rowe (2009), alkohol 70% dapat berfungsi sebagai desinfektan dan dapat membunuh mikroorganisme. Selanjutnya dilarutkan KOH dalam aquadest terlebih dahulu, menurut Nyanyu, H.T (2016), KOH digunakan bertujuan sebagai pembentuk sabun dan sebagai pembuat kondisi basa dan alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun cair ataupun sabun

  o

  lunak, kemudian dilelehkan asam stearat pada suhu 60-70 C hingga mencair tujuan digunakan asam stearat ini yaitu sebagai pengemulsi kemudian ditambahakan VCO hingga homogen menurut Setyoningrum (2010) VCO ditanbahkan sebagai bahan pembuat sabun karena memiliki struktur molekul minyak yang kecil sehingga mudah diserap dan memberikan tekstur yang lembut dan halus pada kulit. Kemudian ditambahkan KOH sedikit demi sedikit

  o

  pada suhu 60-70 C hingga homogen menurut Iftikhar (1981), hal ini sesuai dengan proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan sintesa dan air serta garam karbonil. selanjutnya ditambahkan gliserin tujuannya agar lebih mudah dalam poengadukan dan menurut Priyono (2009) gliserin digunakan sebagai emollient karena berfungsi meningkatkan kejernihan sabun, ditambahan BHT sebagai antioksidan bertujuan untuk menghindari kerusakan lemak terutama bau tengik dan ekstrak daun sirih sebagai zat aktif dari sediaan, kemudian diaduk hingga homogen ditambahkan aquadets hingga mencapai volume 100 mL dan terkahir dimasukkan kedalam wadah yang telah di kalibrasi kemudian beri etiket dan brosur pada wadah tersebut.

  Selanjutnya dilanjutkan dengan proses uji evaluasi, uji evaluasi yang dilakukan dalam praktikum ini terdiri dari uji organoleptik, uji homogenitas, uji tinggi busa, dan uji iritasi.

  Uji evaluasi pertama yang dilakukan yaitu uji orgaloptik dengan pengamatan terhadap bentuk, bau, dan warna yang dilakukan secara visual. Dari hasil evaluaasi sediaan ini didapatkan hasilnya yaitu bau khas ekstrak daun sirih, dan warnanya kuning kecoklatan sesuai dengan sediaan dan merupakan warna khas dari ekstrak daun sirih. Uji evaluasi organoleptik ini memenuhi syarat karena menurut Lestari dan Radjab (2014), uji organoleptik yaitu harus memiliki warna yang sesuai, dan aroma yang lemah.

  Uji evaluasi kedua yaitu uji homogenitas dilakukan dengan cara sediaan diletakkan diatas kaca arloji kemudian diraba dan diperhatikan secara seksama apakah terdapat butiran kasar pada sediaan, dari hasil evaluasi sediaan ini mengandung partikel-pertikel kecil yang mengganggu aseptabilitas sediaan sehingga uji evaluasi homogenitas untuk sediaan ini tidak memenuhi syarat menurut Dirjen POM (1995), dimana sabun cair harus menunjukan susunan homogen yang tidak terasa adanya bahan padat.

  Uji evaluasi ketiga yaitu uji tinggi busa dilakukan dengan cara sediaan dimasukkan kedalam gelas ukur sebanyak 10 mL kemudian dikocok dengan kecepatan konstan selama 20 detik, sehingga di dapatakan hasil dari uji evaluasi tinggi busa ini sebanyak 3 mL busa yang terbentuk sedangkan menurut Anggraini (2012), tidak ada syarat tinggi busa minimum atau maksimum untuk suatu produk karena tinggi busa tidak menunjukan kemampuan dalam membersihkan tetapi untuk sabun pembersih kewanitaan tidak boleh tinggi atau busa harus rendah.

  Uji evaluasi terakhir yaitu uji iritasi dilakukan dengan cara mengoleskan sedikit sediaan pada kulit normal pada manusia selama beberapa menit sampai terjadinya reaksi iritasi atau tidak, pada uji evaluasi ini didapatkan hasilnya kewanitaan tidak mengiritasi pada kulit menurut Budimuja (2007), syarat dari sabun yaitu tidak adanya edema dan eritema pada kulit dimana eritema adalah warna merah pada kulit yang disebabkan pembesaran pembuluh kapiler sedangkan edema adalah akumulasi abnormal cairan didalam jaringan tubuh yang menimbulkan pembengkakan.

  Dapat disimpulkan bahwa Hasil dari praktikum yang dilakukan belum memenuhi syarat untuk diproduksi, karena hasil sediaan yang ada belum memenuhi seluruh persyaratan evaluasi.

  Adapun kemungkinan kesalahan yang dilakukan sehingga pada evaluasi yang lain belum memenuhi syarat dan evaluasi lainnya tidak dilaksanakan yaitu saat pembuatan sediaan masih terdapat partikel asing yang bisa jadi lolos dari saringan dan kurangnya bahan-bahan yang mendukung proses evaluasi.

BAB V PENUTUP VII.1 Kesimpulan

  1. Dalam pembuatan sabun pembersih kewanitaan dengan zat aktif Daun sirih, Pembuatan sabun dilakukan dengan cara saponfikasi dengan menambahkan KOH sebagai pembuat kondisi basa dan alkali yang viasa digunakan dalam pembuatan sabun sabun lunak/cair dan VCO sebagai bahan pembuat sabun karena memiliki struktur molekul minyak yang kecil sehigga mudah diserap, memberikan tekstur yang lembut dan halus pada kulit

  2. Pada sediaan sabun pembersih kewanitaan dengan zat aktif Daun sirih evaluasi yang harus dilalui adalah, uji Oeganoleptik, uji pemeriksaan PH, uji tinggi busai, uji iritasi, uji pemeriksaan homogenitas. Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukakan sediaan sabun pembersih kewanitaan dengan zat aktif Daun sirih tidak memenuhi persyaratan yang baik.

VII.2 Saran

  Sebaiknya menyediakan anggaran yang lebih besar untuk laboratorium agar alat-alat yang ada di dalam laboratorium lengkap dan dapat digunakan dengan maksimal oleh praktikan.

  VII.2.2 Saran Untuk laboratorium Sebaiknya alat-alat yang ada di laboratorium lebih diperhatikan dan dirawat lagi agar saat praktikum bias dipergunakan dengan baik dan maksimal tanpa ada kekurangan

  DAFTAR PUSTAKA Juliantina F. Citra . D A Nurwani B Nusantara. T. Bowo. 2009 Manfaat Sirih Merah

  Anti Bakteri Terhadap Bakteri Gram Positiv dan Gram Negatif. Jurnal

  Kedokteran ; Indonesia Markham . K. R 1998. Cara Mengidantifikasi Flavonoid Diterjemahkan Oleh Rahmawina. Bandung, Penerbit ITB.

  Nurswida, I. 2002. Efektivitas Dekok Sirih Hijau Dan Sirih Kuning Dalam

  Menghambat Pertumbuhan Candida Albicans . Malang ; Universitas

  Brawijaya Wasitaadmadja 1997, Penuntun Kosmetik Medik. Universitas Indonesia, Jakarta


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1887 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 496 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 438 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 263 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 579 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 508 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 322 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 499 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 590 23