LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 2 GTSL

  LAPORAN TUTORIAL BLOK 19 : PERAWATAN REHABILITATIF SKENARIO 2 : GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN Kelompok Tutorial 1 Anggota Kelompok:

  1. Rosellina Charisma Ilman (161610101001)

  2. Shania Rada Chairmawati (161610101002)

  3. Lifia Mufida (161610101003)

  4. Salsabila Dewinta Anggi P (161610101004)

  5. Shabrina Widya A (161610101005)

  6. Alda Utami Hidayana (161610101006)

  7. Rafi Ihya Insani Tahir (161610101007)

  8. Mahardiani Dwi A (161610101008)

  9. Najwa Hana (161610101009)

  10. Nina Raditya S (161610101010)

  Tutor : drg. Dewi Kristiana, M. Kes FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER

  

2019

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan tutorial dengan judul Gigi Tiruan Sebagian Lepasan. Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok 1 pada skenario Blok Perawatan Rehabilitatif.

  Penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. drg. Dewi Kristiana, M.Kes selaku pembimbing tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial kelompok 1, dan telah memberi masukan yang membantu bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan.

  2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

  Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan–perbaikan demi kesempurnaan laporan ini dan masa mendatang. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

  Jember, 12 April 2019 Tim Penyusun

DAFTAR ISI

  KATA PENGANTAR ………………………………………………………………

  2 DAFTAR ISI ………………………………………………………………………..

  3 SKENARIO I PERILAKU KESEHATAN…………………………………………

  4 STEP 1 KLARIFIKASI ISTILAH………………………………………………….

  5 STEP 2 RUMUSAN MASALAH…………………………………………………..

  5 STEP 3 BRAINSTORMING……………………………………………………….

  6 STEP 4 MAPPING………………………………………………………………….

  9 STEP 5 LEARNING OBJECTIVE…………………………………………………

  10 STEP 6 SELF STUDY ……………………………………………………………..

  11 STEP 7 REPORTING GENERALISATION………………………………………

  11 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………

  28

  

SKENARIO 2

GTSL

  Seorang pasien perempuan usia 50 tahun yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien pernah memakai gigi tiruan sejak 7 tahun yang lalu. Kesehatan umum baik. Pemeriksaan intraoral : gigi 36 karies profunda perforasi, 35 37 38 hilang, 45 dan 46 memakai gigi tiruan. Ada oklusi. OH penderita bagus. Kemudian dokter gigi melakukan rencana perawatan dengan melakukan ekstraksi pada gigi 36, membuatkan gigi tiruan sebagian lepasan menggunakan anasir akrilik, basis akrilik. Dokter gigi membuat model studi, membuat model kerja dan membuat desain dengan menentukan klasifikasi berdasarkan Kennedy dan melakukan survey.

  STEP 1– UNFAMILIAR TERMS

  1. Survey : Merupakan proses diagnostik untuk menentukan secara akurat lokasi atau kontur gigi abutment atau jaringan sekitarnya ketinggian maksimal dari model atau prosedur menggambarkan bentuk dan posisi gigi sebelum mengerjakan GTSL dengan menggunakan alat yang dinamakan surveyor. Fungsi survey untuk mengetahui arah kemungkinan gigi tiruan terdorong kuat pada jaringan periodontal dan untuk mengetahui retensi.

  2. Klasifikasi berdasarkan Kennedy Penggolongan berdasarkan lengkung yang tak bergigi untuk membantu pembuatan desain gigi tiruan sebagian lepasan.

  3. Gigi tiruan sebagian lepasan : Gigi tiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi asli yang didukung oleh igi serta jaringan lunak atau mukosa tetapi tidak seluruh gigi aslinya atau struktur pendukungnya yang hilang, yang dapat dilepas dan dipasang kembali oleh pasien secara mandiri.

  4. Desain : Gambaran yang menggambarkan model dari gigi tiruan sebagian lepasan yang akan digunakan.

  STEP 2 – IDENTIFICATION PROBLEM

  1. Apa saja yang dilakukan saat melakukan survey?

  2. Kenapa diindikasikan dengan rencana perawatan GTSL?

  3. Mengapa dokter lebih memilih menggunakan klasifikasi Kennedy?

  4. Klasifikasi Kennedy kelas berapakah yang sesuai dengan skenario?

  5. Retensi GTSL didaptkan darimana, berdasarkan skenario?

  6. Bagaimana desain GTSL yang sesuai dengan skenario tersebut?

  STEP 3 – BRAINSTORMING

  1. Yang dilakukan saat melakukan survey, antara lain: Menentukan arah pemasangan terbaik sehingga hambatan saat

   pemasangan dan pengeluaran protesa menjadi minim Menentukan permukaan proksimal yang bisa disejajarkan sehingga bisa

   dipakai sebagai guide line Menentukan lingkaran terbesar dari gigi penyangga untuk menentukan  posisi retensi yang tepat Menentukan permukaan gigi dan jaringan lunak yang perlu di blocking

   out yang akan mengganggu pasang dan lepas dari gigi tiruan

  Mengukur derajat undercut pada gigi penyangga  Menentukan arah pemasangan paling sesuai sehingga penetapan cengkram  memenuhi faktor estetik Penentuan garis kontur untuk menandai garis kontur terbesar dari gigi atau

   jaringan pada suatu kedudukan tertentu dari sebuah model

  2. Pasien diindikasikan dengan rencana perawatan gigi tiruan sebagian lepasan karena pada skenario, gigi 36 karies profunda perforasi diindikasikan ekstraksi, 35 37 38 hilang. Maka untuk mengembalikan fungsi kunyah, estetik, dan fonetik pasien diindikasikan untuk penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan. Sebelum dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan, ada beberapa indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan, antara lain :

  Tidak terdapat gigi penyangga disebelah distal ruang yang tidak bergigi.

   Pasien harus mempunyai kesehatan periodontal yang baik serta tulang  pendukung yang sehat.

  Ada dukungan dari gigi asli yang masih sehat.

   Mencegah terjadinya ektruksi pada gigi antagonisnya.

   Mencegah terjadinya migrasi pada gigi tetangganya  terganggunya oral

   hygien jika tidak dilakukan gigi tiruan sebagian lepasan.

  Oral hygien baik. 

  Tidak ada kelainan sistemik : diabetes mellitus dan epilepsi.  Syarat pembuatan gigi tiruan lepasan, antara lain :

  Harus dibuat dengan basis dukungan yang optimal Dapat digunakan secara harmonis saat berfungsi Jika pasien dengan keadaan tersebut tidak dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan, maka ada beberapa hal yang dapatterjadi antara lain:

  Beban kunyah satu sisi bertambah dapat terjadi penurunan efisiensi - pengunyahan sehingga terganggunya TMJ Dapat menimbulkan resorpsi tulang alveolar - Dapat merubah bentuk dan ukuran dari jaringan lunaknya -

  3. Alasan dokter lebih memilih menggunakan klasifikasi Kennedy karena klasifikasi Kennedy lebih sederhana mudah diaplikasikan pada seluruh kondisi kehilangan sebagian gigi, dapat segera menentukan tipe kehilangan sebagian gigi, dan menentukan tipe dukungan GTSL. Klasifikasi Kennedy :

  1. Kelas 1 : bilateral free end  daerah yang tak bergigi berada pada bagian posterior dari gigi yang masih ada, yang terletak pada kedua sisi rahangnya.

  2. Kelas 2 : unilateral free end  daerah yang tak bergigi berada pada bagian posterior dari gigi yang masih ada, yang terletak pada satu sisi rahang

  3. Kelas 3 : adanya kehilangan gigi tetapi gigi paling posterior masih ada

  4. Kelas 4 : kehilangan gigi anterior yang melibatkan midline Syarat dalam klasifikasi Kennedy :

  1. Klasifikasi dibuat setelah semua pencabutan gigi telah selesai dilaksanakan atau semua gigi yang diindikasikan dicabut telah selesai dicabut.

  2. Untuk M3 tidak dipertimbangkan pada klasifikasi jika tidak ada dan tidak digantikan.

  3. M3 dipertimbangkan jika ada dan digunakan sebagai gigi penyangga.

  4. M2 jika hilang dan tidak diganti dan antagonisnya juga tidak ada atau hilang tidak dipertimbangkan.

  5. Bagian tidak bergigi posterior menentukan kelas utama dari klasifikasi.

  4. Klasifikasi Kennedy yang sesuai dengan skenario adalah klasifikasi Kennedy Kelas II karena gigi yang diketahui hilang yaitu gigi 35 36 37 38  unilateral free end yangdisertai dengan kehilangan gigi 45 46.

  5. Berdasarkan skenario gigi tiruan sebagian lepasan yang sesuai dengan skenario gigi tiruan sebagian lepasan dengan jenis penyangga kombinasi antara paradental dan gingiva mukosa karena pada gigi 35 retensi dapat didapatkan dari gigi 34 dan gigi 38 hilang maka retensi yang didaptkan dari mukosa karena sudah tidak ada gigi yang disebelahnya.

  6. Desain gigi tiruan sebagian lepasan yang sesuai dengan skenario dengan kasus gigi 35,36,37,38 hilang dan gg 45,46 memakai gigi tiruan

  STEP 4 – MAPPING

  Kehilangan Gigi Klasifikasi Kennedy

  GTSL Indikasi dan Kontraindkasi

  Kehilangan Gigi Komponen

  Definisi dan Tujuan

  Tahap - tahap Survey Desain

  Pembuatan Evaluasi dan Kontrol

  STEP 5 – LEARNING OBJECTIVE

  1. Mahasiswa mampu mengkaji konsep teori tentang klasifikasi Kennedy dan yang sesuai dengan skenario.

  2. Mahasiswa mampu mengkaji konsep teori tentang definisi dan tujuan dari GTSL.

  3. Mahasiswa mampu mengkaji konsep teori tentang indikasi dan kontraindikasi dari GTSL.

  4. Mahasiswa mampu mengkaji konsep teori tentang komponen GTSL.

  5. Mahasiswa mampu mengkaji konsep teori tentang tahap – tahap GTSL (survey, desain, dan pembuatan).

  6. Mahasiswa mampu mengkaji konsep teori tentang evaluasi dan kontrol setelah pemasangan GTSL.

  STEP 7 - REPORTING

1. Klasifikasi Kennedy Dan Yang Sesuai Dengan Skenario

  Pembuatan jenis gigi tiruan sebagian lepasan maupun gigi tiruan sebagian cekat yang dibutuhkan pada pasien sesuai dengan kehilangan gigi berdasarkan sistem klasifikasian Kennedy. Rincian klasifikasi sebagai berikut (Fluidayanti, 2016) : Kelas I : Kehilangan gigi terletak pada bagian posterior terhadap gigi yang masih ada dalam rahang secara bilateral akan membutuhkan gigi tiruan sebagian lepasan dengan Free end saddle bilateral.

   Kelas II : Kehilangan gigi terletak pada bagian posterior terhadap gigi yang masih ada dalam rahang secara unilateral, akan membutuhkan gigi tiruan sebagian lepasan dengan Free end saddle unilateral.

  Kelas III : Kehilangan gigi terjadi secara unilateral terletak pada regio anterior maupun posterior terhadap gigi yang masih ada, akan membutuhkan gigi tiruan sebagian lepasan dengan Bounded saddle unilateral. Untuk kelas ini dapat pula diindikasikan dalam pembuatan gigi tiruan sebagian cekat dengan kehilangan 1-2 gigi atau disebut Short saddle.

  Kelas IV : Kehilangan gigi terjadi pada regio anterior, akan membutuhkan gigi tiruan sebagian lepasan dengan Single anterior bounded atau anterior free-end saddle. Klasifikasi Kennedy berdasarkan skenario :

  Kelas 2 modifikasi 1 karena daerah tak bergigi selain klasifikasi utama ada 1 blok (karena yang hilang sebelahan yaitu gigi 45 dan 46). Klasifikasi Klas 1Secara klinis dijumpai :

   Derajat resorbsi residual ridge bervariasi.

   Tenggang waktu pasien tidak bergigi akan mempengaruhi stabilitas geligi tiruan yang akan dipasang.  Jarak antar lengkung rahang bagian posterior biasanya sudah mengecil.  Gigi asli yang masih tinggal sudah migrasi dalam berbagai posisi.

   Gigi antagonis sudah ekstrusi dalam berbagai derajat

   Jumlah gigi yang masih tertinggal di bagian anterior umumnya sekitar 6- 10 gigi saja.  Ada kemungkinan dijumpai kelainan Sendi Temporo Mandibula. Klasifikasi Klas 2 Secara klinis dijumpai keadaan : Resorbsi tulang alveolar terlibat lebih banyak Gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak teratur Ekstrusi menyebabkan rumitnya pembuatan restorasi pada gigi antagonis ini.

  Pada kasus ekstrim, karena tertundanya pembuatan protesa untuk jangka waktu lama, kadang-kadang perlu pencabutan satu atau lebih gigi antagonis. Karena pengunyahan satu sisi, sering dijumpai kelainan Sendi Temporo Mandibula. Klasifikasi Kelas 3 Secara klinis dijumpai keadaan: daerah tidak bergigi sudah Panjang bentuk atau panjang akar gigi kurang memadai tulang pendukung mengalami resorbsi cervikal dan atau disertai goyangnya gigi secara berlebihan. beban oklusal berlebihan Klasifikasi Kelas 4 Pada umumnya untuk kelas ini dapat dibuat gigi tiruan sebagian lepasan, bila: Tulang alveolar sudah banyak hilang, seperti pada kasus ruda paksa. Gigi harus disusun dengan "overjet" besar, sehingga dibutuhkan banyak gigi pendukung. Dibutuhkan distribusi merata melalui lebih banyak gigi penahan, pada pasien dengan daya kunyah besar. Diperlukan dukungan dan retensi tambahan dari gigi penahan Mulut pasien depresif, sehingga perlu penebalan sayap untuk memenuhi faktor estetik Aturan dalam penggunaan klasifikasi Kennedy adalah (Azmuddin et al., 2011) :

  1. Klasifikasi ditentukan setelah ekstraksi gigi yang mungkin mengubah klasifikasi awal

  2. Molar ketiga tidak dipertimbangkan dalam klasifikasi jika tidak ada dan tidak akan digantikan

  3. Molar ketiga dipertimbangkan dalam klasifikasi jika ada dan digunakan sebagai gigi penyangga

  4. Molar kedua tidak dipertimbangkan dalam klasifikasi jika tidak ada dan tidak akan digantikan

  5. Penentuan klasifikasi selalu dari daerah edentulus paling posterior

  6. Daerah edentulus diluar klasifikasi dikategorikan modifikasi dan sesuai jumlah daerah edentulus

  7. Luas daerah modifikasi tidak dipertimbangkan, hanya jumlah daerah edentulus tambahan

  8. Tidak ada modifikasi pada klas IV

2. Definisi Dan Tujuan Dari GTSL

  Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) merupakan gigi tiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi asli yang hilang dan bagian-bagian yang berkaitan dengannya pada lengkung edentulous secara parsial, didukung oleh gigi dan mukosa, serta dapat dilepas pasang oleh pasien (Ifwandi dkk, 2011). Dalam beberapa keadaan, gigi tiruan lepasan dapat pula berfungsi sebagai splint jika jaringan periodontal gigi yang tersisa tidak baik. Fungsi dari jaringan periodontal adalah untuk meneruskan tekanan yang jatuh pada gigi ke jaringan tulang di bawahnya sehingga ketika jaringan periodontal gigi penyangga tidak mampu menahan tekanan saat berfungsi maka gigi akan mengalami kegoyangan. Tujuan utama pemakaian GTSL adalah untuk (Mangkat,dkk,2015): memulihkan fungsi pengunyahan, bicara dan estetika mempertahankan kesehatan jaringan mulut yang masih ada untuk mencegah migrasi dan rotasi gigi yang masih ada untuk menegah ekstruksi dari gigi antagonis untuk mencegah gangguan TMJ untuk mencegah beban berlebih dari jaringan pendukung mencegah keadaan tak diinginkan dari jaringan lunak

  untuk mendapatkan gambaran diagnostik kondisi rongga mulut pasien sejelas mungkin serta mengetahui topografi daerah yang tidak bergigi, sehingga memudahkan dalam mendisain gigi tiruan (Essays,2013).

  3. Indikasi Dan Kontraindikasi GTSL

  Indikasi GTSL (Syahdinda dan Meralda,2013) : Hilangnya satu atau lebih sebagian gigi Gigi yang tersisa dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi penyangga.

  Keadaan processus alveolaris masih baik Keadaan jaringan pendukung masih baik Kesehatan umum dan kebersihan rongga mulut pasien baik Bila dibutuhkan stabilisasi dari lengkung yang berseberangan.

  Bila membutuhkan estetik yang lebih baik. Bila dibutuhkan gigi segera setelah dicabut. Kontraindikasi GTSL (Syahdinda dan Meralda,2013) : Pasien yang tidak kooperatif Pasien memiliki penyakit sistemik (DM yang tidak terkontrol dan epilepsy)

  4. Komponen GTSL

  Menurut Austin dan Lidge (1957), gigi tiruan mempunyai beberapa komponen.Komponen GTS bahan akrilik antara lain

  1. Basis Suatu bagian GTS yang terbuat dari akrilik untuk mendukung gigi tiruan dan memindahkan tekanan oklusal ke jaringan di bawahnya

  2. Cangkolan / klamer Bagian GTS yang terletak di abutment dan terbuat dari kawat tahan karat.Fungsi dari klamer yaitu mencegah pergerakan gigi tiruan ke arah oklusal danmencegah tekanan oklusal yang berlebihan pada jaringan di bawahnya (Gunadi, 1995)

3. Sadel

  Sadel Adalah bagian dari gigi tiruan yang menutupi mukosa di atas prosesus alveolaris dan mendukung elemen gigi tiruan. Bila sadel letaknya: a. Antara gigi asli disebut bounded saddle

  b. Posterior dari gigi asli disebut free end saddle Komponen gigi tiruan sebagian lepasan terdiri dari: basis, elemen gigi artificial, dan cengkeram kawat. Basis gigi tiruan dapat terbuat dari bahan akrilik, metal-akrilik, termoplastis. Pada umumnya bahan akrilik masih banyak diminati karena memiliki kelebihan: mudah manipulasinya, warna sesuai jaringan sekitar, dapat direparasi apabila terjadi kerusakan, biaya murah. Saat ini bahan termoplastis mulai banyak diminati karena memiliki keunggulan: kuat namun fleksibel sehingga tidak mudah patah, warna translusen sehingga estetik baik, tidak memerlukan kawat cengkeram, namun harga relative lebih mahal. Untuk menghasilkan gigi tiruan yang retentive dan stabil basis gigi tiruan didisain sedemikain rupa sehingga daya retensi dan stabilisasi dapat diperoleh secara optimal. Pada kasus kehilangan gigi anterior, basis gigi tiruan dibuat perluasan ke arah distal dan penambahan sayap labial untuk menambah stabilisasi gigi tiruan (Silalahi, 2017).

  Untuk mendapatkan gigi tiruan yang dapat mengembalikan fungsi estetik sangat ditentukan pada pemilihan elemen gigi artificial: warna, ukuran, dan bentuk. Pemilihan ini harus menggunakan shade guide untuk menyesuaikan dengan kondisi pasien. Penggunaan shade guide dengan diterangi cahaya alamiah (matahari) akan memberikan efek yang lebih baik dan natural dibandingkan dengan apabila menggunakan cahaya lampu. Selain itu warna, bentuk dan ukuran gigi harus disesuaikan dengan keadaan yang ada dalam mulut pasien. Disamping itu pemilihan dan penempatan cengkeram mempengaruhi factor estetik. Cengkeram C dan half Jackson lebih sering dipakai pada kasus kehilangan gigi anterior karena memberikan daya retensi yang cukup serta segi estetik memuaskan (Silalahi, 2017).

  Pemilihan warna gigi untuk pembuatan GTSL untuk menentukan warna gigi yang akan diganti dapat disesuaikan dengan warna gigi yang ada. Cahaya dapar mempengaruhi pemilihan gigi.Sebaiknya untuk menentukan warna gigi, dipakai cahaya yang berasal dari sinar matahari karena sinarnya merupakan sinar yang alamiah. Cahaya lampu pijar akan menghasilkan gigi dengan warna lebih merah dari yang sebenernya (Barran,2009).

5. Tahap Prosedur Survey (Davenport,1989) :

  1. Penilaian visual pendahuluan model studi (preliminary visual assessment of the study cast)

   Model dipegang dan diinspeksi dari arah atas untuk melihat susunan gigi, ridge, dan kelainan yang ada pada model.

  2. Survey awal (initial survey)  Model diposisikan sesuai dengan oklusal plane horizontal, kemudian gigi dan ridges disurvey untuk mengidentifikasi area undercut yang digunakan untuk menyediakan retensi.

  3. Analisis

   Model dianalisis menggunakan analisis rod

  4. Survey akhir (final survey)

   Berguna untuk mendapatkan retensi yang optimum, retensi tersebut perlu dipahami guna mengetahui bagaimana posisi cengkram yang baik pada relasi dari 2 garis survey.

  TAHAP PROSEDUR SURVEY (Gunandi,1995) :

  1. Penempatan Model Kerja pada Surveyor Model kerja diletakkan pada meja survey.

  2. Menentukan Bidang Bimbing (Guiding Plane) Bidang bimbing diperlukan untuk mempermudah pemasangan dan pengeluaran gigi tiruan tanpa paksaan. Bidang bimbing dapat ditemukan dengan mencari kesejajaran antara permukaan proksimal gigi. Kesejajaran ini dapat didapat dengan cara meletakkan model kerja dengan posisi bidang oklusal sejajar dengan meja basis surveyor, sehingga arah pemasangan dapat tegak lurus permukaan oklusal. Tetapi bila dengan posisi tersebut tidak dapat ditemukan kesejajaran antara permukaan proksimal gigi, maka dapat dilakukan pemiringan model kerja (tilting) agar ditemukan bidang bimbing. Patokan pasti untuk melakukan pemiringan model tidak berlaku sama pada setiap kasus, tetapi petunjuk berikut ini dapat digunakan sebagai pegangan. Masing-masing cara ini ada indikasi penggunaannya sesuai dengan kasus. Macam pemiringan model tersebut: a. Pemiringan Anterior Pada cara ini, tepi anterior model dimiringkan ke bawah dan digunakan untuk kasus berujung bebas yang lebih posterior dari gigi premolar. Pemiringan semacam ini memberikan arah pemasangan dari posterior ke anterior, dengan memanfaatkan gerong yang ada pada bagian distal premolar.

  Gambar: Pemiringan Anterior

  b. Pemiringan Posterior Cara ini diterapkan pada kasus-kasus berikut:

  Kasus kehilangan banyak gigi anterior karena pemiringan ini memberikan arah  pemasangan dari anterior ke posterior. Di sini gerong mesial dari premolar dan molar yang dimanfaatkan. Cara ini sekaligus menempatkan gigi tiruan sebagian lepasan lebih dekat kepada penyangga, sehingga secara estetik hasilnya lebih baik.

  Kasus kehilangan gigi pada bagian anterior maupun posterior. Pemiringan ini  akan memberikan arah pemasangan yang akan menempatkan protesa lebih dekat kepada gigi penyangga anterior, serta mengurangi terlihatnya ruang lebar yang terjadi antara gigi tiruan dan gigi penyangga anteriornya.

  Gambar: Pemiringan Posterior

  c. Pemiringan Lateral Cara ini dipilih untuk kasus yang posisi salah satu gigi penyangganya abnormal. Sebagai contoh: Bila sebuah gigi molar kiri bawah sangat miring ke lingual, arah pemasangan harus dipilih ke kanan atau ke kiri, sehingga gigi miring ini dapat dimanfaatkan. Hal serupa dilakukan bila gerong jaringan tertentu perlu dibiarkan, contohnya pada tuberositas yang menonjol.

  d. Pemiringan Anterior atau Posterior Pada kasus dukungan gigi, di mana daerah tak bergigi dibatasi gigi-gigi penyangga, biasanya dipilih cara ini. Pada cara ini, model rahang harus dimiringkan sedemikian rupa, sehingga gigi penyangga terkuat akan memberikan retensi dan dukungan terbesar. Contoh: Bila M2 kuat, sedangkan P2 lemah, maka dilakukan pemiringan posterior. Dengan demikian diperoleh efek penguat (bracing) cengkeran pada M2. Hal sebaliknya bila M2 yang lemah.

  Gambar: Pemiringan Anterior atau Posterior

  3. Penentuan Garis Survey Garis survey menandai garis kontur terbesar dari gigi atau jaringan pada suatu kedudukan tertentu dari sebuah model. Garis ini didapat dengan menyentuhkan karbon penanda pada sekeliling permukaan gigi atau bagian model lain. Garis survey membagi gigi menjadi dua bagian. Bagian gerong (undercut) berada di bawah garis ini dan bagian lain disebut tanpa gerong (non undercut) berada di atas garis survey.

  Gambar: Garis Survey

  4. Pengukuran Daerah Retensi Besarnya retensi pada gerong diukur dengan menggunakan alat penukur gerong (undercut gauge), yang besarnya 0,01 inci, 0,02 inci, atau 0,03 inci. Pengukuran gerong dilakukan dengan menempelkan ujung pengukur pada titik di mana ujung lengan cengkeram akan berakhir. Sebagian gerong (retentive undesirableundercut) di bawah garis survey berguna untuk menahan protesa dalam mulut, karena bisa dipakai untuk meletakkan lengan cengkeram untuk retensi gigi tiruan. Bagian gerong lain juga dapat menyulitkan pemasangan atau pengeluaran gigi tiruan.

  Gambar: Daerah Gerong dan Daerah Tanpa Gerong

  5. Evaluasi Masalah Hambatan (Interference) Pada survey model rahang bawah, hendaknya diperiksa dengan cermat permukaan lingual yang akan dilewati konektor utama berupa lingual bar, karena gigi-gigi belakang sering kali miring ke lingual. Tonjolan tulang dan gigi premolar yang miring seing mengganggu konektor. Suatu tindakan bedah dan atau pengasahan bagian lingual tidak dapat dihindari, bila hambatan terdapat pada kedua sisi. Pada hambatan satu sisi saja, pemiringan model ke lateral mungkin sudah bisa dijadikan jalan keluar.

  Pada rahang atas jarang dijumpai hambatan terhadap konektor utama. Hambatan pada maksila biasanya berupa miringnya gigi ke bukal atau bagian tulang yang menonjol ke bukal pada regio tak bergigi. Seperti halnya kasus pada rahang bawah, harus dipilih salah satu cara: hambatan dihilangkan, arah pemasangan saja yang diubah atau membuat konektor utama dan basis yang bisa menghindarinya.

  6. Evaluasi Faktor Estetik Arah pemasangan terpilih harus dipertimbangkan lagi dari segi estetik, baik mengenai penempatan lengan cengkeran maupun penyusunan elemennya.

  7. Rekaman Hubungan Model Kerja dengan Surveyor Ada beberapa cara rekaman yang bisa digunakan:

  a. Tripoding Pada cara ini tiga buah tanda dibuat pada permukaan model kerja pada ketinggian atau bidang horizontal yang sama. Jadi, ketiga titik ini akan terletak pada bidang horizontal yang sama. Pada saat pengembalian model ke kedudukan semula di atas meja surveyor, model diatur sedemikian rupa, sehingga tongkat analisis berkontak kembali dengan ketiga tanda yang sudah dibuat, pada ketinggian yang sama. Hal ini akan mengembalikan model pada posisi awal dan dengan demikian juga arah pemassangan yang sebelumnya sudah ditentukan.

  Gambar: Tripoding

  b. Pemberian Tanda Garis Di sini tepi lateral (kiri dan kanan) serta dorsal model diberi tanda garis. Pemberian tanda dengan pensil dilakukan dengan menyentuhkan tongkat analisis pada ketiga sisi model.

  Pada saat pengembalian posisi, model dimiring-miringkan sampai tongkat menyentuh kembali dengan tepat ke tiga garis tersebut.

  Gambar: Pemberian Tanda Garis

  c. Pemberian Tanda Goresan Dengan cara dan prosedur yang sama seperti pemberian tanda garis, dapat pula dilakukan pemberian tanda berupa goresan pada permukaan model. Cara penggoresan ini lebih menguntungkan, karena pada duplikasi model, tanda gorensan ini tak akan hilang dan tetap ada pada model duplikat.

  Gambar: Pemberian Tanda Goresan

  d. Pemasangan Pin `Selesai dengan prosedur penentuan arah pemasangan, bagian tengah dasar model dilubangi. Tongkat surveyor kemudian diganti dengan sebuah pin. Masih dalam kedudukan sama, pin ini lalu dimasukkan ke dalam lubang tadi, lalu disemen. Supaya tidak mengganggu proses pekerjaan selanjutnya, pembuatan lubang hendaknya diatur pada bagian yang tak ada kerangkanya.

DESAIN GTSL

  Prinsip disain untuk gigi tiruan sebagian lepasan meliputi hal–hal seperti: harus memperhatikan gigi yang masih ada, tissue preservation , o klusi yang harmonis ,

  k ebersihan rongga mulut dan pemeliharaannya , k etahanan terhadap berbagai gaya

  (retensi dan stabilisasi), meminimalkan elemen kerangka (meminimalkan konektor minor, plate, dll), hal ini dilakukan juga agar gigi tiruan lebih higienis.Prinsip lain adalah a daptasi landasan harus baik agardistribusi tegangan juga baik , serta

  m erencanakan untuk masa depan (misalnya kerangka gigi tiruan bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama) (Putri,2015). Desain menurut skenario : Garis imajiner yang ditarik melalui sandaran oklusal yang ada pada penyangga - gigi utama  garis fulcrum Klamer 3 jari à untuk meneruskan beban kunyah ke oklusal - Klamer 2 jari modifikasi à agar gigi tidak tiping ke distal oleh karena beban - kunyah yang besar Klamer C à untuk mencegah pergerakan gigi tiruan kea rah oklusal dan mencegah - tekanan oklusal yang berlebih pada jaringan dibawahnya (Phonik,2003).

  TAHAP PEMBUATAN GTSL (Gunandi,1995)

  1. Persiapan model kerja Model kerja diterima dan dibersihkan dari nodul-nodul. Bagian tepi model kerja yang berlebih dirapihkan dengan mesin trimmer sampai batas mukosa bergerak dan tidak bergerak pada rahang atas dan rahang bawah.

  2. Survey Melakukan survey model kerja dengan menggunakan surveyor untuk menentukan daerah undercut menguntungkan dan tidak menguntungkan. Pertama, meletakkan model kerja pada cast holder, kemudian cast holder diletakkan pada platform atau table, selanjutnya dilakukan tilting dengan analizing rood untuk menentukan kesejajaran daerah undercut pada model kerja terutama pada model gigi yang akan dijadikan gigi penjangkaran. Setelah itu, gunakan carbon marker untuk memberi tanda berupa garis survey dan untuk mengetahui daerah undercut.

  3. Block out Daerah gigi yang sudah disurvey dan mendapatkan undercut tidak menguntungkan diblock out. Block out dilakukan dengan menggunakan gips dan dirapihkan menggunakan lecron.

  4. Pembuatan cengkeram

  5. Pembuatan bite oklusal rims Base plate dibuat sesuai dengan gambar desain yang ada di model. Rendam model kerja dalam air. Lunakkan wax diatas api, tetapi tidak sampai meleleh. Wax yang sudah melunak ditekankan diatas model kerja, kelebihan wax dibuang dengan lecron sehingga batas tepinya sesuai dengan gambar desain. Untuk membuat oklusal rim lempengan wax dipanaskan diatas api sampai melunak, kemudian digulung dan dibentuk sesuai lengkung rahang. Gulungan yang sudah dibuat diletakkan di atas base plate. Ruangan kosong antara base plate dan oklusal rims diisi dengan wax cair hingga ruangan tadi tertutup rapat. Tinggi bite oklusal rims disesuaikan dengan tinggi gigi sebelahnya dan lebar bite oklusal rims disesuaikan dengan gigi yang akan diganti. Kelebihan-kelebihan wax dirapihkan dengan menggunakan lecron. Setelah rapih dikirim kembali ke dokter gigi untuk pencobaan pola malam

  6. Pemasangan model kerja pada artikulator  Melakukan fiksaki model kerja yang sudah dilakukan pencatatan rahang oleh dokter gigi agar oklusi tidk berubah. Prosedur kerja pemasangan artikulator sebagai berikut:  Menyiapkan dan memeriksa artikulator yang akan digunakan.

   Membuat retensi berupa takik seperti huruf “V” pada bagian dasar model.

   Bagian artikulator upper member dan lower member diberi separating medium atau vaseline.  Membentuk segitiga bonwill menggunakan karet.  Membuat adonan gips, lalu meletakkan adonan gips pada model kerja rahang atas sampai bidang oklusal sejajar dengan segitiga bonwill, kedudukan tersebut dipertahankan dengan modeling clay pada dasar rahang bawah.

   Setelah gips mengeras artikulator dibalik, lower member dibuka dan modeling clay dibuang. Membuat adonan gips dan meletakkannya pada dasar rahang bawah, kemudian menutup dan merapikan lower member.

   Upper member dan lower member diikat dengan karet agar tidak terjadi peninggian gigit.

  7. Flasking Prosedur flasking sebagai berikut: Model kerja rahang atas dan rahang bawah dilepas dari artikulator. Kuvet diperiksa apakah penutupnya rapat dan besarnya sesuai dengan model rahang. Bagian dalam kuvet diolesi vaseline. Membuat adonan gips dan mengisi kuvet bagian bawah dengan adonan gips tersebut. Model dengan pola malam gigi tiruan yang sudah diberi separating medium dimasukkan kedalam kuvet hingga menyentuh dasar kuvet. Membiarkan gips mencapai setting time dan mengeras. Setelah mengeras bagian atas gips diberti vaseline. Kuvet atas dipasang tanpa penutup, kemudia diisi dengan adonan gips. Menutup kuvet bagian atas sampai rapat dan dipress pada press meja.

  8. Boiling out Prosedur boiling out sebagai berikut: Setelah gips mengeras, kuvet dan hand press dimasukkan dalam air mendidih selama 5 menit.

  Setelah 5 menit kuvet diangkat dan dibuka perlahan-lahan, wax yang masih lunak dikeluarkan dan sisa-sisa wax yang tertinggal di siram dengan air panas yang dicampur dengan sabun.

  Setelah bersih, diperiksa kembali keadaannya dan tepi-tepi mould space yang tajam atau tipis dihaluskan dan diberi CMS.

  9. Penambahan tin foil: Pada torus palatinus pada rongga mulut bukan merupakan penyakit atau tanda dari suatu penyakit, tetapi jika ukurannya besar dapat menyebabkan masalah dalam pembuatan dan pemakaian gigi tiruan. Dalam pembuatan gigi tiruan sebelum melakukan packing terlebih dahulu bagian torus palatinus ditutupi atau dilapisi dengan tin foil agar tidak menekan torus palatinus.

  10. Packing Mengolesi mold space dan kuvet bagian atas dengan CMS. Mencampurkan polimer kedalam monomer lalu aduk perlahan-lahan menggunakan lecron. Menutup mixing jar rapat-rapat dan menunggu akrilik mencapai dough stage. Adonan akrilik diambil sedikit demi sedikit, kemudian dimasukkan kedalam daerah mould space secara perlahan-lahan hingga semua daerah tertutupi. Kemudian menutup dengan cellophane dan memasang kuvet atas dengan tutupnya, kemudian melakukan press pada press meja.

  Membuka kuvet dengan hati-hati, mengangkat cellophane dan memeriksa apakah akrilik sudah memenuhi mould space sampai kebagian sayapnya. Membuang kelebihan akrilik tetapi tidak merusak mould spacenya. Mengepress kembali sampai tidak ada lagi kelebihan akrilik serta kuvet atas dan bawah benar-benar rapat (metal to metal kontak). Pada press yang terakhir cellophane tidak lagi dipakai.

  11. Curing Proses curing adalah polimerisasi antara monomer yang bereaksi dengan polimer bila dipanaskan atau ditambah zat kimia lainnya. Kuvet direbus kedalam air mulai dari suhu kamar, tunggu sampai air mendidih ± 90 menit (sesuai petunjuk pabrik). Kuvet didiamkan sampai dingin dengan sendirinya, kemudian dapat dilakukan deflasking.

  12. Deflasking

  Melepaskan gigi tiruan resin akrilik dari bahan tanam dilakukan dengan memotong-motong gips untuk kemudian dibersihkan, tetapi tidak boleh lepas dari model rahangnya agar gigi tiruan dapat dilakukan remounting.

  13. Remounting Gigi tiruan akrilik dan model dipasang kembali dalam artikulator yang bertujuan untuk mengoreksi hubungan oklusi yang tidak harmonis dari gigi tiruan yang baru selesai diproses.

  14. Selective grinding Permukaan oklusal gigi tiruan diasah pada tempat-tempat selektif. Pengasahan dilakukan dengan bantuan articulating paper yang menendai kontak oklusal yang menyimpang. Selective grinding dilakukan hingga tidak ada lagi kontak oklusi yang menyimpang. 3.5.16 Finishing Prosedur finishing sebagai berikut:

  − Merapikan gigi tiruan dengan bur fissure dan frasser hingga mendapatkan ketebalan ± 2 mm. − Daerah tepi yang tajam dibentuk membulat dan bagian frenulum dibebaskan. − Gigi tiruan akrilik dihaluskan dengan menggunakan amplas kasar dan halus.

  15. Polishing Gigi tiruan dipoles menggunakan feltcone dan sikat hitam dengan pumice yang sudah dibasahi air. Setelah permukaan akrilik halus dan tidak ada lagi goresan, gigi tiruan akrilik dicuci agar sisa-sisa pumice hilang. Untuk mengkilapkan permukaan akrilik, digunakan CaCO3 yang dicampur air dan dipoles dengan menggunakan sikat putih. Setelah mengkilat, gigi tiruan dicuci dan dibersihkan dari sisa-sisa bahan poles.

  16. Insersi

  6. Evluasi dan control pada pasien GTSL Pasien dianjurkan untuk memakai gigi tiruan selama 24 jam setelag pemasangan untuk menyesuaikan gigi tiruan di dalam rongga mulut (Rahn, 2009).

  Pemeriksaan dijadwalkan seminggu setelah pemasangan gigi tiruan. Perlu ditanyakan kepada pasien mengenai kenyamanan dan fungsi gigi tiruan, kemudian lakukan pemeriksaan pada jaringan lunak mulut apakah terdapat ulserasi atau eritema serta oklusi dengan articulating paper (Jacobsen,2008).

  Pasien perlu diberitahu bahwa butuh pemakaian beberapa waktu, gigi tiruan pasti mengalami perubahan maka perlu pemeriksaan berkala minimal dua kali dalam setahun (Jacobsen,2008).

DAFTAR PUSTAKA

  Anshary, Muhammad Fauzan, Cholil, I Wayan Arya. 2014. GAMBARAN POLA KEHILANGAN GIGI SEBAGIAN PADA MASYARAKAT DESA GUNTUNG UJUNG KABUPATEN BANJAR. DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI. Vol 2 (2). Hal 138 – 143.

  Azmuddin I, Razak A, Fithrony H. Variasi klasifikasi Kennedy pemakai gigi tiruan sebagian lepasan di klinik Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga tahun 2008- 2010. J Prosthodont 2011; 2(2): 11-6 Barran. 2009. Partial Denture. Alih bahasa: Djaya A. Editor; Juwono L. Jakarta: Hipokrates; Pp.

  75. Essays, UK. (November 2013). Patterns Of Partial Edentulism Health And Social Care Essay. Fluidayanti I., A. Gunadi., Dewi K. 2016. Distribution of Tooth Loss Based on Kennedy Classification and Types of Denture for Patient in Dental Hospital of Jember University.

  Proccedings Book Forkinas VI FKG Unej 14th-15th 2016 .

  Gunadi, H. A., Margo, A., Burhan, L. K., 1995. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan, Jilid I, Hipokrates, Jakarta. Ifwandi, dkk. 2011. Hubungan Desain Cengkeram GTSL Akrilik dengan Resesi Gingiva Gigi Penyangga.

  Cakradonya Dental Journal 2011 ; 3(2) : 332-339 J. C. Davenport, R. M. Basker, J. R. Heathand J. P. Ralph. 1989. A colour atlas of removable partial dentures. Wolfe Medical Publications Ltd, London. pp. 199. ISBN 07234 10356. Jacobsen P. Restorative dentistry an integrated approach. 2nd Ed. UK: Blackwell Munksgaard, 2008: 175-6;199-239; 237-39.

  

Mangkat, Yuriansya ,Vonny N. S. , Wowor Nelly Mayulu. 2015. POLA KEHILANGAN

  GIGI PADA MASYARAKAT DESA ROONG KECAMATAN TONDANO BARAT MINAHASA INDUK. Jurnal e-GiGi (eG). Vol 3 (2).Hal 508 – 514.

  rd Phoenik RD, Cogna DR. 2003. Stewart’s Removable Partial Prosthodontics. 3 edition.

  Putri Lenggogeny dan Sri Lelyati C Masulili. Gigi Tiruan Sebagian Kerangka Logam sebagai Penunjang Kesehatan Jaringan Periodontal. Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1 No 2 – Desember 2015.

  Rahn AO, Ivanhoe JR, Plummer KD. Textbook of complete dentures. 6 th ed. Canada: PMPH- USA, 2009:45-63;85-139;161-95;217-49. Syahdinda, Meralda Rossy. 2013. Skripsi: Kegoyangan Gigi Penyangga. Surabaya: Universitas

  Airlangga Silalahi P. R., Suryani C, Indah M. 2017. Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan

  Akrilik Pada Gigi 2 Untuk Menggantikan Gigi Tiruan Sebagian Nonformal. Jurnal Analis Kesehatan : 6 (2).

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23