Pondok Pesantren Mu'adalah modern Bandung arsitektur Modern Islam : studi kasus Jl.Cipadun Gagak-Bandung

(1)

(2)

(3)

(4)

Irfan Ansori Ortrifa 081316675516 e-mail : fhan16_exfam@yahoo.com

DATA PRIBADI

PENDIDIKAN FORMAL Nama : Irfan Ansori Ortrifa Tempat Tanggal Lahir : Bogor, 16 Februari 1987 Jenis Kelamin : Laki - laki

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia Status : Belum Menikah Golongan Darah : -

Alamat : Jl. Sarimanah ,PERUMNAS RT 04 RW 09 Kel.Sarijadi Kec. Sukasari Blok 7 No 130 Kota Bandung

Telepon : 081316675516

Email : fhan16_exfam@yahoo.com

Pendidikan Nama Instansi Tahun Ajaran

Kuliah

Universitas Komputer Indonesia ( Jurusan Teknik Arsitektur )

Jl. Dipati Ukur, Bandung

2008- Sekarang

SMA/MA Ponpes Modern Darussalam GONTOR

Ponorogo, Jawa Timur 2002-2006

SMP/MTS SLTP Negeri 1 Warung Kaung

Sukabumi, Jawa Barat 1999-2002

SD SD Negeri 1 Nagrak Selatan

Sukabumi, Jawa Barat 1998-1999

SD SD Negeri Polisi 4 Bogor

Bogor, Jawa Barat 1993-1998

TK TK Al-Ghozali


(5)

Irfan Ansori Ortrifa 081316675516 e-mail : fhan16_exfam@yahoo.com

PENDIDIKAN NON FORMAL

PENGALAMAN ORGANISASI

PENGALAMAN KERJA

2005 – 2006 Pelatihan KML (Kursus Mahir Lanjutan) 2004 – 2005 Pelatihan KMD (Kursus Mahir Dasar) 2003 – 2004 Pelatihan Wasit Perbasi

2011 - 2012 : Anggota HIMA Arsitektur UNIKOM Ketua Divisi Olahraga

2005 - 2006 : Pengurus Kantin Pelajar

OPPM GONTOR 1 (Organisasi Pelajar Pondok Modern)

2004 - 2005 : Kader Pengurus Koperasi Pelajar

OPPM GONTOR 5 (Organisasi Pelajar Pondok Modern) 2001 - 2002 : Ketua Divisi Olahraga

OSIS SLTP N 1 Warung Kaung

PENGALAMAN KERJA

2011 – 2012 : Kerja Freelance di : PT. Darma Karya Putra Mandiri : Batu Indah Regency

2007 - 2008 : Guru Olah Raga, Guru Pramuka, Pengurus Kantin dan Koperasi SMP IT Al-Hasan (Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi).

PROYEK TEAM WORK

Membuat Maket TA Mahasisiwa UNIKOM Membuat Maket Perumahan


(6)

Irfan Ansori Ortrifa 081316675516 e-mail : fhan16_exfam@yahoo.com

KEMAMPUAN 1. Operasi Aplikasi Komputer

 Microsoft Office  Microsoft Excel  Vector Works  Auto Cad

 Google Sketch Up

2. Berbahasa Asing  Bahasa Arab  Bahasa Inggris


(7)

PONDOK PESANTREN MU’ADALAH MODERN

BANDUNG

TEMA

ARSITEKTUR MODERN ISLAMI

SEBAGAI PERSYARATAN UNTUK MEMPEROLEH GELAR

SARJANA TEKNIK ARSITEKTUR

OLEH :

IRFAN ANSORI ORTRIFA

1.04.08.020

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK & ILMU KOMPUTER


(8)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, Puji dan syukur milik Allah SWT yang telah memberikan karunia serta hidayah-Nya sehingga Tugas Akhir yang berjudul “PONDOK PESANTREN MU’ADALAH MODERN BANDUNG” dapat selesai pada waktunya.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan pada program

Strata 1 Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Program Studi Arsitektur di Universitas

Komputer Indonesia. Penulis menyadari bahwa laporan tugas akhir ini masih jauh

dari sempurna baik dalam isi, program maupun penulisan dan tata bahasa yang

dipergunakan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih yang

sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu terutama kepada :

1. Rahy Sukardi,Ir.,MT. selaku pembimbing yang telah merelakan waktu luangnya

untuk memberikan arahan dan bantuan dalam penyusunan tugas akhir ini.

2. Dr. Salmon P. Martana selaku Ketua Program Studi Arsitektur Universitas

Komputer Indonesia.

3. Orang tua tercinta beserta keluarga yang telah memberikan dukungan, kasih sayang, perhatian serta do’a yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas akhir ini.

4. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir ini,


(9)

Penulis menyadari juga bahwa pada tugas akhir ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam cara penyajian laporan maupun kelengkapan gambar kerja. Oleh karena itu, kritik dan saran pembaca akan sangat penulis hargai dan harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga hasil penyusunan tugas akhir ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi yang membacanya. Amien.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, 16 Agustus 2013


(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN………... i

ABSTRAKSI...………... ii

PRAKATA……...…..………... iii

DAFTAR ISI………...……... v

DAFTAR GAMBAR………...……... ix

DAFTAR TABEL...………...……... xii

BAB I PENDAHULUAN………... 1

1.1 Latar Belakang...……….. 1

1.2 Maksud dan Tujuan………... 3

1.3 Perumusan Masalah...………...……….... 3

1.4 Tinjauan teori...………... 4

1.5 Pendekatan Perancangan...……… 5

1.6 Pengguna Bangunan...……… 7

1.7 Kerangka Berfikir...………. 8

BAB II DESKRIPSI TERHADAP PROYEK………...………...……... 9

2.1 Umum.…...………...…...….. 9

2.1.1 Lokasi...……...…... 9

2.2 Program Kegiatan....…..………...……...…..… 10


(11)

2.4 Ukuran Standart...…..………...……...…... 16

2.4.1 Kamar Tidur Asrama...………... 16

2.4.2 Standart Masjid...…...……... 17

2.4.3 Standart Selasar Asrama...………... 17

2.4.4 Standart Ruang Makan...………... 18

2.5 Studi Banding...…..………...………... 17

2.5.1 Deskripsi Pesantren...………... 20

2.5.2 Akses dan Sirkulasi...………... 21

2.5.3 Tata Bangunan...………... 22

2.5.4 Sarana Prasarana...………... 23

BAB III Analisis…...…………...……….. 26

3.1 AnalisisFungsional………...……...…………...………….. 26

3.1.1 Sarana Prasarana...………... 26

3.1.2 Jumlah Parkir...………... 27

3.2 Analisis Kondisi Lingkungan………...………...……... 27

3.2.1 Lokasi Tapak...……...…... 27

3.2.2 Luas Lahan...…...……... 28

3.2.3 Batas Lahan...………... 28

3.3 Peraturan Daerah...…………...……... 30

3.4 Bentuk Tapak dan Topografi...……… 30

3.5 Akses dan Sirkulasi...……...…… 30


(12)

3.8 Orientasi dan Vegetasi... 35

3.9 Kesimpulan... 35

BAB IV Elaborasi Tema..………... 31

4.1 Umum...………...…... 31

4.1.1 Quraniyah dan Kauniyah...………...…... 31

4.1.2 Taqlid………... 31

4.1.3 Rasional dan Efesiensi………...…...……….. 34

4.1.4 Kearifan Lokal………...………...….. 34

4.2 Penerapan Pada Desain………..…... 31

BAB V KONSEP PERANCANGAN………...…….………...……... 43

5.1 Konsep Dasar………..………...………... 43

5.2 Rencana Tapak………...…...….. 43

5.2.1 Pola Konsep...………...………...…... 43

5.2.2 Zonasi………...………….. 44

5.2.3 Sirkulasi………...…...…...……….. 44

5.2.4 Pencapaian………...……...…….. 45

5.3 Bangunan………...….. 46

5.3.1 Masjid Sebagai Sentral dan Focus Point………...……... 46

5.3.2 Orieantasi Bangunan Menghadap Kiblat…………...…….. 47

5.3.3 Segitiga Berkesinambungan………...…...……….. 48


(13)

5.3.4.1 Analogi...………...………….…………....…... 50

5.3.4.2 Elemen – Elemen Geometris……...………...…….. 51

5.3.4.3 Karakteristik Timur Tengah………...…...………....….. 52

5.3.5 Fungsional………... 52

5.3.6 Sirkulasi………...……...…….. 53

5.3.7 Interior………...……...…….. 54

BAB VI HASIL PERANCANGAN………...…….………...………...……….... 55

5.1 Peta Situasi...………..………...………....……... 55

5.2 Gambar – Gambar Perancangan………...….. 56

5.3 Foto – Foto Maket………...…... 58

DAFTAR PUSTAKA………...…... xiii


(14)

Daftar Pustaka

 Fanani, Ir.Achmad. 2009. Arsitektur Masjid. Yogyakarta: Bentang Pustaka.  Ching, Francis DK. 1991. Arsitektur :Bentuk, Ruang dan Susunannya,

Terjemahan oleh Paulus Hanoto Adjie. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 Neufert, Ernst. 1996. Data Arsitek Edisi 33 Jilid 1, Terjemahan oleh Sunarto Tjahjadi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Bandung 2002-2012

 KEPUTUSAN DIRJEN PENDIDIKAN ISLAM Nomor : NOMOR : Dj. I/885/2010 Tanggal : 9 Desember 2010

 PP NO 19 TAHUN 2005 STANDAR PENDIDIKAN UMUM

 Handinoto dan Samuel Hartono. 2007. Pengaruh Pertukangan Cina Pada Bangunan Mesjid Kuno di Jawa Abad 15-16, Artikel Universitas Kristen Petra, Surabaya. : PDF Book.

 PSD III Desain Arsitektur. Bagian Bagian Konstruksi Atap. Universitas Diponegoro, Semarang. : PDF Book.


(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Segala puji bagi Allah SWT Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW, beserta para keluarga, sahabat dan orang-orang yang tetap istiqamah menegakkan risalah yang dibawanya hingga akhir zaman.

Sistem pendidikan nasional pada hakikatnya mencari nilai tambah melalui pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia atau kualitas manusia utuh jasmaniah – rohaniah, dan ia juga harus secara terus – menerus dikembangkan agar mampu melayani kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau dengan kata lain agar mampu menghadapi tantangan jamannya.

Upaya pengembangan sistem pendidikan nasional dilaksanakan bertolak dari kandungan nilai-nilai sosial budaya bangsa, terutama dari realita kependidikan yang telah hidup membudaya dalam kehidupan bangsa Indonesia, agar tidak tercabut dari akarnya dan dengan demikian terdapat kesinambungan antara tradisional dan yang modern sebagai satu kesatuan yang berkelanjutan. Salah satu realita kependidikan yang telah membudaya di kalangan bangsa, terutama di kalangan sebagian besar umat islam yang merupakan golongan mayoritas dari bangsa Indonesia ini ialah pondok pesantren.

Keseimbangan antara pendidikan ukhrowi dan pendidikan duniawi adalah sangat penting dan sangat mendapat perhatian dalam agama islam. Dalam ajaran islam ada kewajiban yang dimiliki yaitu bertaqwa kepada Allah, berilmu berpengetahuan luas, berjihad fisabillilah. Kewajiban tersebut lebih banyak dipelajari di dalam komunitas pondok pesantren.

Pondok pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan islam di Indonesia yang bertujuan untuk mendalami ilmu agama islam (Hablunminallah) dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup kesharian dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat (Hablunminannas). Pondok pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak sedikit para pemimpin bangsa adalah alumni atau


(16)

setidak-Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pondok pesantren menghadapi tantangan yang semakin hari semakin besar, kompleks, dan mendesak. Tantangan ini menyebabkan terjadinya pergeseran nilai-nilai dipondok pesantren, baik nilai yang menyangkut sumber belajar maupun nilai yang menyangkut pengelolaan pendidikan.

Kerja kependidikan akan semakin didominasi oleh kegiatan pengembangan sains dan teknologi. Hal demikian akan “memaksa” pondok pesantren untuk mencari bentuk baru yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi tetap dalam kandungan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pondok pesantren modern merupakan suatu upaya bagi pembentukan generasi yang berkualitas baik ilmu pengetahuan teknologi maupun iman dan taqwanya. Dalam pondok pesantren modern ini pelajaran-pelajaran umum telah dimasukan dalam madrasah yang dikembangkannya. Bentuk penyelenggaraannya menggunakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum) namun tetap menerapkan pendidikan non formal sebagaimana pondok pesantren tradisional. Dalam pengelolaan, pondok pesantren modern ini tidak hanya dikelola oleh seorang saja, namun oleh sebuah lembaga yang memiliki struktur organisasi.

Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat, merupakan sebuah kota dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi dan mayoritas penduduknya adalah beragama islam. Selain sebagai pusat pemerintahan Bandung juga merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan, sudah seharusnya memiliki suatu wadah yang dapat menampung kebutuhan masyarakat akan pendidikan khususnya Pesantren Modern.

Pondok inilah yang secara sistematis dan bertahap memperkenalkan suatu sistem baru bagi dunia pesantren sehingga dengan reformasi sistem ini maka pesantren tidak hanya disukai oleh kalangan masyarakat pedesaan tapi juga mulai menarik masyarakat urban/perkotaan untuk menyekolahkan dan mengirimkan anaknya untuk dididik di pesantren.


(17)

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari perancangan.

1. Menerapkan nilai – nilai Islami kedalam bentuk Arsitektur pada Pondok Pesantren Modern.

2. Membuat lingkungan pesantren yang berlandaskan arsitektur Islami dalam perancangannya

3. Memberdayakan komunitas pesantren untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang Islami.

4. Menyediakan sarana dan fasilitas pendidikan agama islam.

5. Menyediakan suatu pilihan pesantren yang berbeda dengan segala kelengkapan fasilitas dan pola pendidikan yang lebih maju.

6. Merencanakan dan merancang Pondok Pesantren Modern yang mempunyai ciri khas tersendiri.

Tujuan perancangan.

1. Menjadikan Pondok Pesantren Modern sebagai pusat pembelajaran yang berwawasan lingkungan bagi komunitas pesantren dan masyarakat sekitar. 2. Terciptanya bangunan Pondok Pesantren yang tanggap terhadap iklim dan

lingkungan sekitar namun tetap bernuansa Islami.

3. Mewadahi berbagai kegiatan yang berhubungan dengan syiar agama Islam. 4. Menarik minat calon santri untuk lebih semangat dalam belajar agama Islam. 5. Sebagai sarana untuk mendidik dan menggembleng kader – kader penyebar

agama Islam yang di masa yang akan datang.

6. Sarana fisik Pondok Pesantren Modern dapat memberi Muatan Positif bagi pengguna dan lingkunganya untuk berperilaku Islami.

1.3. Perumusan Masalah Perancangan

Adapun permasalahan yang dapat diambil adalah untuk mengetahui bagaimana organisasi dan perencanaan ruang yang diaplikasikan pada Pondok Pesantren Modern ini dan apa saja yang nantinya diperlukan. Masalah yang timbul juga bagaimana merencanakan fasilitas-fasilitas yang


(18)

didukung oleh aspek lain seperti sirkulasi, utilitas, dan lain-lain. Permasalahan untuk kasus ini adalah :

1.3.1 Masalah Arsitektur :

1. Masalah mentransformasikan konsep-konsep dasar arsitektur kebudayaan Islam kepada kasus perancangan sesuai dengan fungsinya.

2. Wajib hukumnya menuntut ilmu

3. Bangunan pesantren harus tanggap terhadap iklim dan meminimasi kerusakan lingkungan “ janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al - Qashshash, 77)

4. Bangunan yang bisa mewadahi, mengarahkan dan mendidik penggunanya. 5. Pesantren yang tidak terencana cenderung kumuh.

6. Bagaimana menciptakan keharmonisan dan kerjasama antara pondok pesantren dengan masyarakat sekitar tanpa merugikan salah satu pihak. 7. Bagaimana menciptakan kenyamanan untuk pengguna, karena kegiatan yang

sangat padat.

8. Bagaimana mengatur hubungan tiap kelompok kegiatan sehingga tercipta aktivitas yang terorganisasi dan terintegrasi.

1.3.2 Masalah Sirkulasi :

1. Masalah lalu lintas kendaraan yang nantinya akan masuk dan keluar ke Pesantren. Khususnya sirkulasi yang berlandaskan atas konsep agama Islam.

1.4. Tinjauan Teori

Pesantren Mu’adalah adalah pesantren yang masuk tipologi Pesantren Khalafiyah (Ashriyah). Secara terminologi, “pengertian mu’adalah adalah “Suatu proses penyetaraan antara institusi pendidikan baik pendidikan di pondok pesantren maupun diluar pondok pesantren dengan menggunakan kreteria baku dan mutu/kualitas yang telah ditetapkan secara adil dan terbuka’. (Depag RI, 2009).


(19)

1.5. Pendekatan Perancangan 1.5.1 Studi literatur

Studi pustaka sebagai pemahaman : Pengertian Pondok Pesantren Modern, hal yang berhubungan dengan iklim, lingkungan dan manusia guna proses perancangan Pencarian dan pengumpulan data-data dan referensi yang berkaitan dengan kasus lewat buku, majalah, koran, televisi maupun internet.

1.5.2 Studi banding

Studi banding Mempelajari konsep - konsep pada gedung yang sesuai dengan kaidah agama Islam Mempelajari konsep penanganan alam dalam perancangan. Mempelajari teknologi yang akan diterapkan. Mempelajari fungsi-fungsi ruangan yang ada dan dengan penerapan yang relevan dengan aturan-aturan Islam.

Pendekatan dilakukan melalui studi banding, studi lapangan mencakup kondisi sekitar lahan dan lingkungan fisik Studi banding dilakukan pada :

i. Pondok Pesantren Modern Al-Hasan

 Pondok Pesantren yang menyeimbangkan antara pelajaran Umum dan Islam dengan progaram menghafal al-Quran yang diunggulkan (Berafiliasi DEPAG).

 Lokasi : Jl. Jambu Ujung Rt 03 Rw 011 Kelurahan Jati Makmur Pondok Gede Bekasi

Gambar 1.1 : Lokasi Pesantren Al-Hasan Sumber : Pesantren Al-Hasan


(20)

ii. Pondok Pesantren Modern Al-Basyariyah (Mu’adalah)

 Pondok Pesantren Modern yang menyeimbangkan antara pelajaran Islam dan Umum (Berafiliasi DEPAG).

 Lokasi : Jl. Cibaduyut No.9 Cegondewah Hilir, Marga Asih Bandung

Gambar 1.2 : Lokasi Pesantren Al-Basyariyah Sumber : Data Pribadi

iii. Pondok Pesantren Darul Muttaqien (Mu’adalah)

 Pondok Pesantren Modern yang menyeimbangkan antara pelajaran Islam dan Umum (Berafiliasi DEPAG).

 Lokasi : Jl. Raya Parung / Bogor Km. 31 Jabon Mekar, Parung Bogor

Gambar 1.3 : Lokasi Pesantren Darul Muttaqien Sumber : Data Pribadi

1.5.3 Survey dan pengumpulan data lain yang diperlukan

Survey lokasi, wawancara dengan para santri, wali santri, ustadz-ustadz dan masyarakat sekitar, kemudian pengumpulan data-data dari


(21)

Yayasan Pendidikan Islam dan Departemen Agama atau Departemen Pendidikan.

1.5.4 Analisis

Menganalisa hasil studi literatur, studi banding dan survey untuk dijadikan untuk menentukan pendekatan mana yang cocok untuk merancang bangunan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan arsitektur modern islami adalah salah satu pendekatan yang cocok untuk merancang Pondok Pesantren Modern.

1.5.5 Proses desain

Setelah menentukan tema dan metode pendekatan yang cocok maka selanjutnya dilakukan Penjabaran hasil analisa secara visual dan grafis dalam bentuk sketsa, pra rancangan, sampai rancangan akhir.

1.6. Pengguna Bangunan

Terdapat keragaman kepentingan pengguna bangunan yang datang ke bangunan ini, yaitu yang berkepentingan dengan kegiatan dan yang berkepentingan dengan kegiatan pendukung, seperti :

a. Santri dan Santriwati

b. Pengajar / Ustadz

c. Wali santri dan santriwati

d. Pengunjung


(22)

Judul Proyek Dan Tema

Judul Proyek: PONDOK PESANTREN MU’ADALAH MODERN Tema: ARSITEKTUR MODERN ISLAMI

Latar belakang kasus Latar belakang tema

Maksud & Tujuan

Perumusan Masalah

Pengumpulan data Studi Site Studi Literature dan

Studi Banding

Analisis

Konsep

Desain

Fungsi Bangunan Pesantren Tapak & lingkungan

1.7. Kerangka Berpikir

Gambar 1.4 : Kerangka berfikir Sumber : Data Pribadi


(23)

BAB II

DESKRIPSI KHUSUS PROYEK

Proyek ini merupakan proyek fiktif yang akan dibangun oleh sebuah yayasan. Dimana proyek ini terletak pada kawasan menuju gunung manglayang dan diperuntukan untuk semua kalangan yang ingin mengenyam pendidikan islam dan pendidikan umum. Walaupun demikian bangunan ini dapat digunakan oleh semua kalangan.

2.1. Umum

Site ini terletak pada kawasan cipadung gagak dimana site ini merupakan lahan yang belum digunakan secara maksimal oleh warga sekitar.

2.1.1 Lokasi

Pemilihan Lokasi tapak adalah tempat yang dapat mendukung sistem pendidikan di dalam pondok pesantren diantaranya lokasi yang cukup tenang tetapi tidak terlalu jauh dari pusat kota sehingga akses menuju pesantren akan mudah untuk dicapai.

Lokasi tapak berada di Jl. Cipadung Gagak Kec.Cibiru, Bandung Timur dengan luas lahan 60.000 m2 (6 Ha).


(24)

Pada tapak ini masuk kedalam kawasan bandung utara, dimana pada kawasan bandung utara diperuntukan lahan untuk Pendidikan, Pemukiman, dan hunian. Adapun peraturan daearah dan standart yang digunakan adalah :

 Koefisien Dasar Bangunan KDB : 40%

 Koefisien Lantai Bangunan KLB : 1,2

 Garis Sempadan Bangunan GSB : 4 meter

 Rencana Tata Guna Lahan

Pondok Pesantren Mu’adalah Modern  Tinggi Bangunan : 3 Lantai

2.2. Program Kegiatan

Aktifitas santri dan santriwati pada hari Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu.


(25)

Aktifitas santri dan santriwati pada hari kamis

Tabel 2: Aktifitas Santri dan Santriwati hari kamis

2.3. Kebutuhan Ruang

A. Kamar Santri dan Santriwati Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Sirkulasi Luas Kamar 2 orang 64 16m²/ruang TS 20% 1228,8m² Kamar 4 orang 64 30m²/ruang A 30% 2496m²

Total 3724,8m²

Tabel 3: Program ruang kamar tidur

Luas kamar santri :

Total luas kamar santri : 3724,8m² : 3 Lantai = 1241,6 m2 Luas kamar santriwati :

Total luas kamar santriwati : 3724,8m² : 3 Lantai = 1241,6 m2 2


(26)

B. Fasilitas Umum Per-Lantai Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Sirkulasi Luas Loby 40 orang 2 1,8 -

2m2/Orang DA 30% 208 m² Ruang

Komunal 20 2 2 m²/ org A 30% 104 m² Kamar Mandi 1 96 1,4 m²/ org DA 20% 161,4 m² Tempat Cuci 6 12 1,3 m²/ org DA 20% 112,3 m² Ruang Panel 2 6 unit 5 m² A 20% 36 m² Ruang

Sampah 2 6 unit 5 m² A

20%

36 m²

Janitor 2 6 unit 5 m² A 20% 36 m²

Total 693,7 m²

Tabel 4: Program ruang fasilitas umum per lantai

Asrama Mahasiswa : 3 lantai x 270 m² = 810 m²

C. Fasilitas Pendidikan Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Sirkulasi Luas

Kelas Santri 32 orang 12 2 m²/org

PerMen No. 27

Thn. 2007

20% 921,6 m²

Kelas

Santriwati 32 orang 12 2 m²/org

PerMen No 27 Thn 2007

20% 921,6 m²

Total 1843,2 m²

Tabel 5: Program ruang fasilitas umum Pendidikan


(27)

Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Sirkulasi Luas

R. Pimpinan 5 1 Min 12 m²

PerMen No. 27 Thn. 2007

20% 12 m²

R. Guru 10 2 72 m²

PerMen No. 27 Thn. 2007

20% 144 m²

R. Tata

Usaha 3 2 4 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

30% 24 m²

R. Rapat 8 1 2 m²/org DA 30% 16 m²

Perpus 40 2 2 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

30% 112 m²

Lab Bahasa 32 orang 4 2 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

20% 256 m²

Lab Komp 32 orang 4 2 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

20% 256 m²

Lab Biologi 32 orang 2 2,4 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

30% 153,6 m²

Lab Fisika 32 orang 2 2,4 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

30% 153,6 m²

Lab Kimia 32 orang 2 2,4 m²/org

PerMen No. 27 Thn. 2007

30% 153,6 m²


(28)

R. UKS 2 orang 4 3m x4m

PerMen No. 27 Thn. 2007

48 m²

Gudang 2 21 m²

PerMen No. 27 Thn. 2007

42 m²

Ruang

Organisasi 16 9 m²

PerMen No. 27 Thn. 2007

20% 144 m²

Total 1817,8

Tabel 6: Program ruang fasilitas Pendidikan

Total Fasilitas pendidikan keseluruhan : 1817,8 m² : 3 Lantai= 606 m² Total Fasilitas Pendidikan : 614,4 m² + 606 m² = 1220,4 m²

D. Masjid Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Sirkulasi Luas Masjid 1000

orang 1

1,2

m²/org DA 30% 1560 m² Kamar

Mandi 10

1,4 m²/

org DA 20% 16,8 m²

Tempat Cuci 30 1,3 m²/

org DA 30% 50,7 m²

Total 1627,5 m²

Tabel 7: Program ruang Masjid

E. Fasilitas Penunjang Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Sirkulasi Luas Kantin 40 orang 2 16 m²/ 8


(29)

Mini Market 1 30 m² A 30% 39 m² Laundry 1 15 m² A 20% 18 m² R.

Serbaguna 900 orang 1 1000 m² A 40% 1400 m² R. Makan 200 1 510 m² A 30% 663 m²

Dapur 1 75 m² A 20% 90 m²

T. Olahraga 1000 m² PerMen 30% 1300 m²

Total 3718 m²

Tabel 8: Program ruang fasilitas penunjang

F. Fasilitas GURU Kebutuhan

Ruang Kapasitas

Jumlah

Ruang Standar Sumber Luas

Hunian

Pimpinan 45 m² A 45 m²

Kamar Ustadz 2 orang 25 16m²/ruang TS 400m² Kamar

Ustadzah 2 orang

25

16m²/ruang TS 400m²

Sirkulasi 20% 169 m²

Total 1014 m²

Tabel 9: Program ruang fasilitas guru

G. Area Servis Kebutuhan

Ruang Kapasitas Standar Sumber Luas

Ruang Pompa 1 ruang A 20 m²

Ruang Panel 1 ruang A 20 m²

Ruang Sampah 1 ruang A 10 m²

Genset 1 ruang A 40 m²

Sirkulasi 20% 18 m²

Total 98 m²


(30)

Total Kebutuhan Ruang Fasilitas @ Asrama : 2483,2 m2 @ Pendidikan : 1220,4 m² @ Masjid : 1627,5 m² @ Guru : 1014 m² @ Penunjang : 3718 m² @ Area Servis : 98 m² +

10161,1 m²

2.4. Ukuran Standart

2.4.1 Standart kamar Tidur asrama

Gambar 2.2 : Standar Ruang kamar tidur asrama ; Sumber: Time Saver Standart

Keterangan :

B : Bed W : Wardrobe D : Desk BC : Bookcases SC : Soft Chair


(31)

2.4.2 Standart Masjid

Gambar 2.3 : Standar Orang ketika shalat Sumber: Time Saver Standart

Gambar 2.4 : Standar Masjid Sumber: Time Saver Standart


(32)

2.4.4 Standart Ruang Makan

Gambar 2.6 : Ruang Makan Sumber: Time Saver Standart

2.5. Studi Banding

Pendekatan dilakukan melalui studi banding, studi lapangan mencakup kondisi sekitar lahan dan lingkungan fisik Studi banding dilakukan pada :

I. Pondok Pesantren Modern Al-Hasan

 Pondok Pesantren yang menyeimbangkan antara pelajaran Umum dan Islam dengan progaram menghafal al-Quran yang diunggulkan (Berafiliasi DEPAG).

 Lokasi : Jl. Jambu Ujung Rt 03 Rw 011 Kelurahan Jati Makmur Pondok Gede Bekasi

Gambar 2.7 : Pesantren Al-Hasan Sumber : Pesantren Al-Hasan

II. Pondok Pesantren Modern Al-Basyariyah (Mu’adalah)

 Pondok Pesantren Modern yang menyeimbangkan antara pelajaran Islam dan Umum (Berafiliasi DEPAG).

 Lokasi : Jl. Cibaduyut No.9 Cegondewah Hilir, Marga Asih Bandung


(33)

Gambar 2.8 : Pesantren Al-Basyariyah Sumber : Data Pribadi

III. Pondok Pesantren Darul Muttaqien (Mu’adalah)

 Pondok Pesantren Modern yang menyeimbangkan antara pelajaran Islam dan Umum (Berafiliasi DEPAG).

 Lokasi : Jl. Raya Parung / Bogor Km. 31 Jabon Mekar, Parung Bogor

Gambar 2.9: Pesantren Darul Muttaqien Sumber : Data Pribadi


(34)

2.5.1 Deskripsi Pesantren

DESKRIPSI

PESANTREN P.P AL-HASAN P.P AL-BASYARIYAH P.P DARUL MUTTAQIEN

Deskripsi Jenis Pesantren

Sedang mengajukan agar menjadi pesantren Mu’adalah (Berafiliasi DEPAG) Pesantren Mu’adalah (Berafiliasi DEPAG) Pesantren Mu’adalah (Berafiliasi DEPAG) Lokasi

Jl. Jambu Ujung Rt 03 Rw 011 Kel. Jati Makmur, Pondok Gede Bekasi

Jl.Cigondewah Hilir, Marga Asih Bandung

Jl. Raya Parung/ Bogor Km 31 Jabon Mekar, Parung Bogor

Site

Tipe Pesantren

Merupakan pesantren yang direncanakan dengan tapak yang sudah ditetapkan sebelumnya sehingga perkembangannya hanya di dalam perancanaan sebelumnya.

Merupakan pesantren yang tidak direncanakan dengan tapak yang sudah ditetapkan sebelumnya sehingga perkembangannya mengikuti perluasan tanah disekitarnya. Ini seperi tipe pesantren tradisional pada umumnya.

Merupakan pesantren yang direncanakan dengan tapak yang sudah ditetapkan sebelumnya sehingga perkembangannya hanya di dalam perancanaan sebelumnya.

Luas

Lahan 3 Hektar 14 Hektar 6,2 Hektar


(35)

2.5.2 Akses Dan Sirkulasi

AKSES dan

SIRKULASI P.P AL-HASAN P.P AL-BASYARIYAH

P.P DARUL MUTTAQIEN AKSES Jumlah Titik Akses

1 titik terdiri dari : Dari jl. Jambu Ujung

2 titik terdiri dari :

Dari jl. Cigondewah Hilir dan Jl. Mahmud

1 titik terdiri dari :

Dari jl. Raya Parung/ Bogor Km 31 Jabon Mekar, Parung Bogor Jarak akses dengan jalan utama

Dari jalan utama masih masuk ke dalam kawasan perumahan sehingga pesantren benar-benar di tengah pemukiman perkotaan.

200 meter dari jalan utama hingga ke tapak pesantren.

Pesantren berada tepat di jalan Cigondewah hilir

Pesantren berada tepat di jalan Raya Parung / Bogor Km 31 SIRKULASI Sirkulasi santri dan santriwati


(36)

2.5.3 Tata Bangunan

TATA

BANGUNAN P.P AL-HASAN P.P AL-BASYARIYAH

P.P DARUL MUTTAQIEN Banguna n Pondok Pesantre n Posisi Banguna n dalam area tapak

Relatif di sisi -sisi tapak Lebih menyebar dan merata Relatif di sisi -sisi tapak

Orientasi banguna n

Timur –Barat Tidak teratur Utara-Selatan

Pola masa banguna

n

Bermasa banyak (Masa utamanya Kelas

dan asrama) Bermasa banyak (Masa utamanya Kelas dan asrama)

Bermasa banyak (Masa utamanya Kelas dan asrama)

Jumlah Lantai

3 lantai pada sarana pendidikan dan asrama santri

3 lantai pada asrama putri dan 2 lantai pada sarana pendidikan.

2 lantai pada aula dan sedangkan hanya 1 lantai pada bangunan-bangunan lainnya.


(37)

2.5.4 Sarana Prasarana SARANA

PRASARANA P.P AL-HASAN P.P AL-BASYARIYAH

P.P DARUL MUTTAQIEN Bangunan Pondok Pesantren Ruang kelas

Ruang Kelas tertata dengan baik dan dengan peralatan yang baik pula

Ruang kelas cukup baik.

Ruang Kelas tertata dengan baik dan dengan peralatan yang baik pula

Bangunan Kelas baik hanya jalan di depan nya masih blm terena perkerasan.

Bangunan Kelas cukup baik Bangunan Kelas hanya berlantai 1 dan tertata dengan baik serta dengan suasana landscap yang baik pula

Masjid

Bangunan Masjid cukup baik Bangunan Masjid cukup baik. Santri dan santriwati masih 1 masjid bersama

Bangunan Masjid cukup baik Santri dan santriwati berbeda masjid

Bangunan masjid ini untuk santriwati

Bangunan masjid ini untuk santri


(38)

Asrama

Bangunan asrama santri baik. Sistem kamar berupa seperti barak dengan lemari yang di susun disepanjang dinding dan kasur lipat

Bangunan asrama santri cukup baik.

Sistem kamar berupa seperti barak dengan lemari yang di susun disepanjang dinding dan kasur lipat

Bangunan asrama santri baik. Sistem kamar dibagi per-8 orang saja dengan 4 kasur tingkat.

Klinik / UKS

Ruang UKS Cukup. Ruang UKS Cukup baik

Ruang UKS Cukup baik

Sarana dan kelengkapan

olah raga

Mempunyai Lap. Basket dan Lap. Futsal yang cukup baik

Mempunyai Lap. Basket cukup baik yang berada di kawasan santriwati, sedangkan untuk santri pria bermain bola di luar

pesantren. Mempunyai Lap. Basket dan Lap. Sepak bola yang cukup baik

Lab Komp / ICT

Lab. Komputer cukup baik Lab. Komputer cukup baik Lab. Komputer cukup baik

Perpustakaan

Perpustakaan cukup baik

Perpustakaan cukup baik

Perpustakaan cukup baik

Ruang untuk Pemimpin Pondok Pesantren

Rumah Pimpinan Pesantren cukup baik.

Bangunan ini bukan rumah tetap pimpinan pesantren.

Rumah Pimpinan Pesantren cukup baik.

Bangunan ini merupakan rumah tetap pimpinan pesantren.

Rumah Pimpinan Pesantren sangat baik dengan 2 lantai. Bangunan ini merupakan rumah tetap pimpinan pesantren.


(39)

Koperasi

santri Koperasi santri terdapat di dekat entrance pesantren dengan memiliki 2 lantai dan cukup pada bangunannya

Koperasi santri terdapat di tengah pesantren dengan memiliki 1 lantai dan cukup pada bangunannya

Koperasi santri terdapat di dekat entrance pesantren dengan memiliki 1 lantai dan cukup pada bangunannya

Gedung

pertemuan Gedung pertemuan sedang

pada tahap pembangunan. Gedung pertemuan ini cukup baik dan memiliki 2 entrance untuk memisahkan santri dan santriwati.

Gedung pertemuan ini cukup baik dan memiliki 2 entrance untuk memisahkan santri dan santriwati.

toilet

Toilet cukup baik

Toilet cukup

Toilet cukup baik

Wartel dan Fax

Berada di ruang pengasuhan

santri Berada dibelakang rumah pimpinan pesantren

Berada di depan dan di sebelah entrance pesantren

Dapur

Dapur cukup. Santri lama dan baru digabungkan.

Dapur cukup.

Santri lama dan baru dibedakan dapurnya.

Dapur cukup. Santri lama dan baru digabungkan.

Ruang untuk para guru /

ustadz

ruang untuk para ustadz cukup baik

ruang untuk para ustadz cukup

ruang untuk para ustadz cukup baik yang berada di dekat rumah pimpipnan pondok.


(40)

BAB III

ANALISIS

3.1. Analisis Fungsional 3.1.1 Sarana Prasarana

Standar pendidikan pada Pesantren Muadalah yang dibawah naungan DEPAG, sejatinya sama saja dengan standar yang dikeluarkan DIKNAS. Melalui PP NO 19 TAHUN 2005 STANDAR PENDIDIKAN UMUM maka rujukan standar inilah yang digunakan untuk pondok pesantren muadalah.

Sarana Pasarana yang harus dimiliki Pesantren Muadalah

Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama RI Tahun 2012 mengeluarkan verifikasi pendidikan pondok pesantren mu’adalah yang mencakup 21 item sarana pasaran yang harus dimiliki pondok pesantren mu’adalah diantaranya: 1. Pondok pesantren memiliki sarana dan kelengkapan olah raga, serta

memanfaatkanny

2. Pondok pesantren memiliki koperasi santri yang memadai 3. Pondok pesantren memiliki Masjid / Musholla

4. Jumlah ruang kelas belajar

5. Pondok pesantren memiliki dan menggunakan alat peraga belajar yang memadai

6. Pondok pesantren memiliki ruang kelengkapan klinik / UKS, serta memanfaatkannya.

7. Pondok pesantren memiliki dan memanfaatkan lab. Bahasa

8. Pondok pesantren memiliki perpustakaan dan kelengkapan, serta memanfaatkannya

9. Pondok pesantren memiliki dan memanfaatkan website / ICT

10. Pondok pesantren memiliki ruang untuk Pemimpin Pondok Pesantren beserta kelengkapannya

11. Pondok pesantren memiliki ruang untuk Tata Usaha beserta kelengkapannya. 12. Pondok pesantren memiliki ruang untuk para guru / ustadz beserta


(41)

kelengkapannya

13. Pondok pesantren memiliki ruang kelengkapan bimbingan / dan konseling, serta memanfaatkannya

14. Pondok pesantren memiliki ruang kelengkapan organisasi santri, serta memanfaatkannya

15. Pondok pesantren memiliki dan memanfaatkan ruang micro teaching yang lengkap dan memadai

16. Pondok pesantren memiliki dan memanfaatkan ruang praktikum pendidikan ketrampilan bagi para santri

17. Pondok pesantren memiliki ruang rapat beserta kelengkapannya.

18. Pondok pesantren memiliki memiliki gedung pertemuan / aula beserta kelengkapannya

19. Pondok pesantren memiliki Wartel dan Fax beserta kelengkapannya. 20. Jumlah besar daya listrik yang dimiliki oleh pesantren muadalah

21. Pondok pesantren memiliki toilet dan sarana pendukung kebersihan lingkungan pesantren yang memadai

3.1.2 Jumlah Parkir

Jumlah parkiran pada bangunan ini memakai asumsi sebagai berikut :

 Jumlah santri dan santriwati 768 dengan jumlah perangkatan 128 yang terbagi menjadi 4 kelas

 Pesantren ini diperuntukan kepada semua golongan dengan persentase 50% kalangan mampu, 30% Kalangan menengah dan 20% kalangan tidak mampu yang di biayai oleh yayasan melalui program beasiswa atau subsidi.

 Keadaan padat pesantren terjadi pada acara kelulusan sehingga dapat diambil asumsi bila 1 angkatan 128 maka yang memakai kendaraan mobil 50% dari jumlah 1 angkatan yang berjumlah 64.

3.2. Analisis Kondisi Lingkungan 3.2.1 Lokasi Tapak


(42)

Gambar 3.1 : Lokasi Tapak Sumber : google earth

3.2.2 Luas Lahan

Bentuk tapak tidak beraturan dengan orientasi yang menghadap barat dan timur dengan luas lahan : 60.000 m2 (6 Ha)

3.2.3 Batas Lahan

Gambar 3.2 : Batas Tapak Sumber : google earth & data pribadi


(43)

 Batasan Lokasi

Utara : Perumahan Warga Timur : Jl. Cipadung Gagak Selatan : Kebun Jagung Barat : Kebun Singkong

 Waktu Survey

Rabu, 27 Maret 2013 Minggu, 31 Maret 2013

Gambar 3.3 : Survey Lapangan Sumber : Data Pribadi

 Metoda Survey

Mengamati keadaan sekitar tapak, mengamati aktifitas kegiatanmasyarakat sekitar dean mendokumentasikan keadaan yang penting sesuai dengan kebutuhan data survey.


(44)

3.3. Peraturan Daerah

Kawasan tapak berada di ketinggian 795O - 815O DPL (Diatas Permukaan Laut) sehingga termasuk kedalam KBU (Kawasan Bandung Utara)

 Koefisien Dasar Bangunan KDB : 40%

 Koefisien Lantai Bangunan KLB : 1,2

 Garis Sempadan Bangunan GSB : 4 meter

 Rencana Tata Guna Lahan

Pondok Pesantren Mu’adalah Modern  Jumlah Lantai Bangunan : 3 Lantai 3.4. Bentuk Tapak dan Topografi

 Bentuk Tapak

Bentuk tapak tidak beraturan dan potensi orientasi menghadap barat dan timur sehingga memudahkan dalam penetapan kiblat masjid.  Topografi

Kawasan tapak berada di ketinggian 795O - 815O DPL (Diatas Permukaan Laut) sehingga termasuk kedalam KBU (Kawasan Bandung Utara) dan kemiringan tapak 5-10%

3.5. Akses dan Sirkulasi

Akses menuju site ini tidak terlalu mudah, dikarenakan jarak dari jalan utama menuju lokasi menempuh waktu 15 menit. Rute yang dapat mengakses site adalah :

Dengan kendaraan pribadi Dengan ojek Rp 5.000


(45)

Gambar 3.4 : Akses Kendaraan Sumber : Data Pribadi

Sirkulasi kendaraan pada tapak, adalah :

 Jl. Cipadung Gagak memiliki lebar jalan 5,5 meter yang merupakan jalur kendaraan 2 jalur.

 Jl. Cipadung memiliki lebar jalan 2,5 meter

Gambar 3.5 : Akses Meuju Tapak Dan Arah Jatuh Air Sumber : Bandung Timur. dwg dan Data Pribadi


(46)

3.6. Potensi Tapak  Potensi View

Tapak memiliki beberapa potensi view di setiap sudutnya sehingga memiki nilai lebih, diantaranya :

 Utara :

View menuju gunung manglayang

 Timur :

View menuju kota Bandung dan pelataran sengkedan sawah yang hijau dan sangat indah

 Barat :

View menuju Gede Bage terlebih lagi pada Stadion Gelora Bandung Lautan Api sangat jelas terlihat sehingga ketika ada pertandingan pada malam hari akan terlihat indah dari tampak kejauhan.

Gambar 3.6 : Potensi View


(47)

 Potensi ke View

Tapak memiliki beberapa potensi view di setiap sudutnya sehingga memiki nilai lebih, diantaranya :

 Utara :

View dari gunung manglayang

 Timur :

View dari kota Bandung dan pelataran sengkedan sawah yang hijau dan sangat indah

 Barat :

View dari Gede Bage

Gambar 3.7 : Potensi Ke View


(48)

 Potensi Tapak dan Lingkungan Sekitar Kontur dapat dijadikan potensi

Daerah cipadung ini memiliki suasana yang tidak terlalu ramai sehingga memberikan ketenangan dalam beribadah.

Suasana yang masih banyak pepohonan memberikan suasana yang sejuk dan asri sehingga mendukung proses pendidikan di pondok pesantren

3.7. Karakter dan Konteks Tapak  Konteks Tapak

Cipadung merupakan kawasan sub-urban dengan kegiatan utama penduduknya berdagang dan bertani dengan suasana fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman, pendidikan dan perindustrian

 Karakter Lingkungan Tapak

Gambar 3.8 : Potensi Kebisingan Sumber : Bandung Timur. dwg dan Data Pribadi


(49)

3.8. Orientasi dan Vegetasi  Orientasi tapak

Tapak Berorientasi ke arah timur sehingga fasad bangunan akan menghadap timur sedikit ke selatan dan bangunan harus memperhatikan arah pergerakan matahari.

 Vegetasi tapak

Kurangnya vegetasi yang baik, dikarenakan diseblah barat dan timur tapak hanyalah kebun singkong.

Gambar 3.9 : Vegetasi Tapak Sumber : Data Pribadi

3.9. Kesimpulan

Dari hasil analisa, maka didapat masalah-masalah dari tapak sebagai berikut  Permasalahan Tapak

o Tidak adanya selokan di sekitar tapak sehingga dapat mengakibatkan air akan jatuh ke daerah tapak

o Kurangnya vegetasi yang baik, dikarenakan diseblah barat dan timur tapak hanyalah kebun singkong.

o Angin sangat kuat dikarenakan tidak adanya yang menahan atau menyaring hembusan angin

 Solusi Tapak

o Penambahan vegetasi di bagian barat dan timur tapak sekaligus sebagai pelindung dari datangnya angin.


(50)

BAB IV

ELABORASI TEMA

4.1 Umum

Arsitektur Modern Islami adalah gagasan dan karya arsitektur yang sesuai dengan pandangan dan kaidah-kaidah Islam tentang arsitektur dan tidak terbatas pada masjid saja. Jadi arsitektur Modern Islami adalah karya arsitektur yang sesuai dengan pandangan Islami sehingga arsitektur yang memiliki pendekatan konsep Islam dikatakan sebagai arsitektur Modern Islami. Tidak tertutup kemungkinan arsitektur Modern Islami ditemukan dan berkembang di tempat yang pemeluknya nonmuslim atau sebaliknya. Jadi, arsitektur Modern Islami bukan arsitektur yang berada di Arab atau bangunan peribadatan / masjid saja. Banyak pandangan-pandangan yang menyesatkan bahwa seolah-olah arsitektur Modern Islami adalah bangunan masjid saja. Rumusan karya arsitektur Modern Islami pada intinya bukan terletak pada perwujudan bentuk fisiknya, melainkan nilai hakiki dan semangat moralnya. Pandangan inilah yang hendaknya mendasari perwujudan karya arsitektur.

1. Quraniyah Dan Kauniyah

Secara garis besar, konsep arsitektur Modern Islami merujuk pada ayat-ayat

Quraniyah‟ (berasal dari Al-Quran) dan ‘Kauniyah‟ (bentuk hukum alam). Jadi,

arsitek harus mampu memenuhi The law of God dan „The Law of Nature‟. Konsep arsitektur Modern Islami adalah olahan yang mempunyai sifat tidak merusak alam dan harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Hal ini mengingatkan pada karya arsitektur tokoh arsitektur modern, Le Corbusier, dengan konsep pilotisyang memilih mengangkat bangunan sehingga kehadiran bangunan di atas bumi ini tidak merusak hijaunya rerumputan.

2. Taqlid

Dalam proses perancangan seorang arsitek dituntut untuk selalu berpikir kreatif. Kreativitas yang dilakukan akan menghasilkan berbagai alternatif solusi pemecahan perancangan yang membawa sang arsitek pada desain yang dihasilkan.


(51)

Berpikir kreatif sebagai persyaratan dalam proses perancangan arsitektural tersebut jika dilihat dari cara berpikir Islami memiliki semangat yang sama. Secara jelas Islam mensyaratkan bahwa yang menjadi dasar seorang muslim dalam berpikir dan bertindak bahwa dalam menerima sebuah pendapat atau informasi tidak boleh

„Taqlid‟. Taqlid artinya menerima sesuatu secara dogmatis, apa adanya, tanpa

dimengerti terlebih dahulu, misalnya karena sudah menjadi kebiasaan atau memang sudah menjadi tradisi secara turun temurun. Seorang muslim harus selalu berpikir ke depan dan tidak terjebak pada hal-hal yang sudah menjadi tradisi. Hal ini akan merangsang orang untuk selalu terus menggali sesuatu yang baru. Pandangan ini diambil berdasarkan Al-Quran yang mengajak orang untuk berpikir, yang menyatakan bahwa;

“Sesungguhnya Al-Quran diturunkan untuk orang-orang yang berpikir”

Berkaitan dengan proses pencarian dan penggalian gagasan perancangan arsitektur, Islam membuka pintu Ijtihad. Ijtihad artinya usaha sungguh-sungguh yang dilakukan seorang mujtahid (orang yang melakukan ijtihad) untuk mencapai suatu keputusan tentang kasus yang penyelesaian belum tertera dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist. Pintu ‘ijtihad’ yang terbuka lebar dalam Islam ini merupakan suatu teknik pemecahan masalah yang sangat sesuai dengan cara kerja seorang arsitek pada saat ia dihadapkan pada kasus perancangan yang pasti tidak selalu sama namun spesifik, tergantung fungsi, lokasi, dan lain-lain. Arsitek dan Ijtihad merupakan dua hal yang tidak terpisah, melalui pintu ijtihad seorang arsitek mempunyai kebebasan dalam menghasilkan produk yang inovatif dan kreatif. Ijtihad ini berguna sebagai perangkat arsitek dalam berkreasi dan mengeluarkan inovasi-inovasi desain yang lebih kaya. Jadi sebenarnya perwujudan (bentuk) arsitektur sangat tergantung dari ijtihad arsitek yang bersangkutan. Arsitektur dan ijtihad adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Proses kreatif mencari sesuatu yang baru dipacu oleh semangat Islami yang mengajak untuk selalu berpikir dan menggali permasalahan.

Salah satu pemikiran yang merupakan hasil ijtihad adalah masjid Salman Bandung berupa pemisahan zona laki-laki dan wanita di dalam masjid secara vertikal tidak secara horizontal dimana posisi laki-laki berada di depan dan wanita di


(52)

Sikap ijtihad ini diperkuat oleh ayat Al Quran dan Hadist yang menyatakan bahwa :

“….dan apabila suatu urusan itu urusan duniamu, maka engkaulah yang lebih berhak menentukannya (lebih mengetahui)” (HR. Bukhari)

“Dan bagi orang-orang yang menerima seruan Tuhan dan mendirikan shalat,

sedangkan urusan mereka diputuskan secara musyawarah antara mereka, dan

menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka” (Al Quran 42

: 38).

Dengan demikian, jika mengambil mentah-mentah dari apa yang sudah ada sebelumnya tanpa dimengerti (taqlid) adalah sesuatu yang dilarang dalam agama Islam pada akhirnya akan memacu seseorang untuk berkreasi dan berinovasi, mencari solusi yang mutakhir, tidak sekedar meniru. Begitu pula di dunia arsitektur, sebetulnya sangat tidak dibenarkan seorang arsitek dalam berkarya bersikap seperti itu. Sikap seperti itu merupakan penyimpangan dari kaidah-kaidah etika dan pelanggaran tatalaku moral seorang arsitek. Akan tetapi, apabila hasil desain sama dengan yang sudah ada sebelumnya itu bukan dari hasil meniru, tetapi berdasarkan pemikiran yang mendalam maka sah-sah saja, Artinya hasil rancangan arsitektural memiliki landasan dan alasan yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sikap yang tidak membolehkan manusia bersikap taqlid ini tercantum dalam ayat sebagai berikut :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Al Quran 17 :36)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka : „Ikutilah apa yang telah diturunkan

Allah‟, mereka menjawab :”Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami‟. („Apakah mereka akan mengikuti juga),

walaupun nenek moyang mereka itu idak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk ?”

(Al Quran 2 : 170)


(53)

yang selalu menyempurnakan dan memiliki semangat jaman (zeitgeist) sehingga perpaduan konsepsi pemikiran tersebut membawa pada sebuah konsep desain yang baru.

3. Rasional Dan Efisiensi

Pandangan Islam mengenai sesuatu penggunaan suatu hal tidak mengada-ada misalnya melalui penggunaan simbolisasi yang menjurus kepmengada-ada sesuatu yang tidak rasional dan menjurus kepada pembodohan berpikir, terlebih-lebih pertanggung jawaban kepada masyarakat, dan tidak boleh mubazir. Pengertian mubazir di sini adalah tidak berlebih-lebihan. Dengan demikian, keindahan (elemen estetika) tidak perlu harus mahal atau memakai ornamen berlebihan yang hanya bersifat tempelan saja, dan tidak fungsional. Sebaliknya produk arsitektur harus kontekstual (yang dimaksud dengan kontekstual di sini adalah sesuai dengan kondisi spesifik yang berkaitan dengan objek perancangan, misalnya setting tempat, biaya, latar belakang owner dan lain-lain), bangunan harus ”sehat” dan nyaman bagi penghuninya.

Pandangan anti kemubaziran, pada intinya adalah efisiensi untuk mendapatkan hasil yang optimal. Merujuk pada ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa :

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan

dan itu adalah hal yang sangat ingkar kepada Tuhannya” (Q.S Al-Isra, 17 ;27)

4. Kearifan Lokal

Arsitektur idealnya memperhatikan budaya lokal yang tidak bertentangan dengan nilai islam.

”Berbahasalah engkau dengan bahasa kaummu”.

Hadits rasul yang sangat terkenal ini disampaikan dalam koteks dakwah. Artinya. Agar dakwah atau ajakan untuk amar makruf nahy munkar mampu diterima oleh masyarakat, maka desain mesti mengerti dan menggunakan kultur lokal. Tentu saja kultur lokal yang dimaksudkan adalah kultur yang tidak keluar dari nilai islam. Dalam konteks arsitektur, lingkungan lokal mestinya mendapat apresiasi dengan menampilkannya dalam produk rancangan yang beridentitaskan lokal, tidak selalu


(54)

Penerapan Pada Desain 1. Quraniyah & Kauniyah

Penerapan pada desain ini terlihat pada Pola konsep antara zona Aplikasi (Kauniyah) dan Pendidikan (Quraniyah)

Gambar 4.1 : Pola Konsep Sumber : Data Pribadi

Kauniyah pada desain adalah Bentuk hukum alam dengan mengikuti zaman atau semangat zaman, Ini dapat diterapkan pada zona aplikasi yang akan mengikuti perkembangan zaman

Quraniyah dan pada zona pendidikan yang sesungguhnya ilmu berasla dari Al-Quran.

2. Taqlid

Memberikan suatu zona muhasabah yang tidak dimiliki pesantren-pesantren lain sebagai tempat untuk menenangkan diri dan lebih mendekatkan diri lagi kepada Yang Maha Kuasa.

Masjid Salman dapat dijadikan sebagai contoh bangunan bahwa Masjid tidak harus berkubah yang hanya mengikuti dan pada umumnya pake kubah tanpa mengetahui asal mulanya maupun tujuannya dan Masjid Salman juga memisahkan zona pria dan wanita.


(55)

Gambar 4.2 : Masjid Salman Sumber : Google

3. Rasional dan Efisiensi

kesederhanaan ini muncul melalui pengolahan elemen-elemen geometris yang membentuk kesatuan total dalam satu massa tunggal. Ini dapat dikembangkan dengan Ijtihad kita dapat berkreasi dengan langgam-langgam islam sehingga membentuk perwujudan kubahan masa pada bangunan.

Gambar 4.3 : Elemen Garis Geometris Sumber : Google

Melalui langgam-langgam islam ini juga aspek fungsional dapat kita gunakan dari pemakaian kerawang yang selain berperan sebagai elemen estetika juga berfungsi sebagai lubang ventilasi

4. Kearifan lokal

Modern bukan berarti tidak melihat tradisi seutuhnya akan tetapi mengambil intinya dan mengembangkannya. Pada Masjid Al-Irsyad atapnya terlihat datar dari luar akan tetapi bila dilihat pada potongannya maka akan tampak atap pelana yang merupakan atap yang cocok untuk kawasan tropis, Ini merupakan desain yang mengikuti zaman tapi tidak mengabaikan kearifan


(56)

Gambar 4.4 : Potongan Masjid AL-IRSYAD Sumber : Arcdaily

Modern juga bukan berarti harus merubah seutuhnya bentukan pada bangunan tapi bisa mengembangkannya lagi apa yang disesuaikan dengan alam sekitarnya.


(57)

BAB V

KONSEP RANCANGAN

5.1. Konsep Dasar

Menjadikan Pondok Pesantren Modern sebagai pusat pembelajaran yang berwawasan lingkungan bagi komunitas pesantren dan masyarakat sekitar sehingga tidak tercipta persepsi yang muncul karena faktor kesenjangan antara pesantren dengan dunia luar dan mengakibatkan kelambatan antisipasi terhadap perkembangan modernitas dan rasionalitas

5.2. Rencana Tapak 5.2.1 Pola Konsep

Gambar 5.1 : Pola Konsep Sumber : Data Pribadi

Adapun Zonasi mengikuti pola konsep pada pola konsep yaitu terbagi menjadi 3 zona yang diikat oleh pengelola sebagai pengawas dan


(58)

5.2.1 Zonasi

Gambar 5.2: Zonasi Sumber : Google Earth

5.2.3 Sirkulasi

Sirkulasi yang diutamakan dalam kawasan yaitu sirkulasi pedestrian yang tidak bersilangan dengan jalur kendaraan. Sirkulasi dibuat seefisien mungkin dan sesuai dengan fungsi bangunan pada area-area tertentu terdapat pemisahan menurut gender.

Pada beberapa pedestrian tertentu dibuat selasar agar dapat jadi peneduh bagi santri dan santriwati dari sinar matahari dan hujan, ini dikarenakan kegiatan yang sangat padat bagi para pengguna pondok pesantren.


(59)

Gambar 5.3: Konsep Sirkulasi Santri Sumber : Data Pribadi


(60)

Gambar 5.4: Alur Kegiatan Sumber : Data Pribadi

5.3. Bangunan

5.3.1 Masjid sebagai sentral dan focus point

Mempertimbangkan isu pesantren terlalu tertutup dengan masyarakat, bangunan masjid sebagai sentral dari kawasan menampilkan ekspresi yang kontras dari bangunan bangunan masjid pada umumnya. Masjid menjadi penghubung antara masyarakat luar dengan para penghuni pondok pesantren


(61)

Gambar 5.5: Masjid Sebagai Focus Point Sumber : Data Pribadi

5.3.2 Orientasi bangunan menghadap kiblat

Seluruh bangunan berorientasi pada kiblat agar mempermudah beribadah pada ketika berada dibangunan selain masjid.


(62)

5.3.3 Segitiga berkesinambungan

Bangunan bangunan yang menjadi titik penyeimbang adalah Masjid, Gedung serbaguna dan pengelola. Ini akan saling berkaitan erat sehingga tidak bisa dipisahkan antara satu dan lainnya yang di tengahnya terdapat plaza yang menyambungkan ketiga fungsi bangunan tersebut.

Gambar 5.7 : Pola Interaksi Pesantren Dengan Masyarakat Umum Sumber : Data Pribadi Dan Google


(63)

Pada dasarnya pada tiga bangunan yang menyeimbangkan pesantren dapat menjadi pusat pengenalan atau syiar pesantren terhadap masyarakat umum yang dapat dilakukakan dengan beberapa cara, diantaranya :

 Seminar

Dapat berupa pengajaran dan pengenalan ajaran – ajaran islam atau berupa silahturahmi antar umat beragama yang dapat dilaksanakan di hall pesantren.

Gambar 5.8 : Seminar Sumber : Google

 Islamic Market

Kegiatan ini dapat menjadi pelatihan bagi santri dan santriwati bagaimana cara berdagang secara islami yang baik dan kegiatan ini dapat bekerjasama dengan masyarakat sebagai pekan berdagang secara islami. Kegiatan ini dapat dilakukan di area plaza pesantren.

Gambar 5.9 : Islamic Market Sumber : Google

 Pekan seni santri dan santriwati


(64)

bahwasannya santri tidak hanya mempelajari agama islam saja akan tetapi pelajaran umum dan seni maupun bakat yang diadakan di plaza pesantren.

Gambar 5.10 : Pekan Seni Santri Sumber : Data Pribadi

 Islamic Book Fair

Kegiatan penjualan buku – buku islami maupun non islami, maupun kegiatan – kegiatan berupa bedah buku, konsultasi kesehatan secara islami, pekan seni dan lain – lain. Kegiatan ini dapat dilaksanakan di hall maupun plaza pesantren.

Gambar 5.11 : Islamic Book Fair Sumber : Google

5.3.4 Gubahan Masa Bangunan

 Analogi

Dinding – dinding masjid menganalogiikan tangan yang sedang berdoa. Ini menjelaskan bahwa setiap kegiatan dan perbuatan yang kita lakukan harus dimulai dengan doa.


(65)

Gambar 5.12: Analogi Pada Masjid Sumber : Data Pribadi dan Google

Elemen-elemen geometris

Laboratorium muncul melalui pengolahan elemen-elemen geometris yang membentuk kesatuan total dalam satu massa tunggal.


(66)

Gambar 5.13: Penerapan Element Geometris Pada Bangunan Sumber : Data Pribadi Dan Google

Karakteristik timur tengah

Bangunan-bangunan ini mengadopsi bentukan bentukan bangunan dari asal mula Islam di timur tengah.

5.3.5 Fungsional

Bentuk bangunan disesuaikan dengan fungsi dan aktifitas yang berlangsung di dalamnya, untuk bangunan peribadatan dibuat dengan struktur bentang lebar tanpa kolom ditengah ruangan, sehingga shaf-shaf yang terbentuk ketika shalat tidak akan terhalang. Bangunan – bangunan asrama dan rumah dinas dirancang agar dapat menjaga privasi penggunanya.


(67)

Gambar 5.14 : Sistem Struktur Bangunan Sumber : google earth & data pribadi

5.3.6 Sirkulasi

Sirkulasi vertikal digunakan pada bangunan masjid agar memisahkan antara akhwat dan ikhwan.


(68)

5.3.7 Interior

Kerawangan pada dinding – dinding masjid dapat mengiris-iris cahaya yang indah ke dalam bangunan sehingga setiap waktu interior masjid akan berubah ubah menurut jatuhnya sinar matahari ke bangunan masjid.

Gambar 5.16 : Interior Masjid Sumber : Data pribadi


(69)

BAB VI

HASIL RANCANGAN

1.1 PETA SITUASI

Pada sub bab ini akan menjelaskan tentang situasi sekitar pada desain pesantren. Dimana penjelasan ini dapat membantu agar mempermudah mengetahui fungsi dari ruang – ruang sekitar dari tapak

Gambar 6.1 : Batas Tapak Sumber : google earth & data pribadi

 Batasan Lokasi

Utara : Perumahan Warga Timur : Jl. Cipadung Gagak Selatan : Kebun Jagung Barat : Kebun Singkong


(70)

1.2 GAMBAR – GAMBAR PERANCANGAN

Gambar – gambar yang tertera pada sub bab ini dimasukan didalam lampiran, sehingga pada sub bab ini hanya tertera nama gambar yang dimasukan didalam lampiran

Tabel 15.

GAMBAR – GAMBAR PERANCANGAN

No Nama Skala

1 SITE PLAN 1 : 500

2 BLOCK PLAN 1 : 500

3 DENAH MASJID DAN DENAH HALL 1 : 200

4 DENAH FASILITAS PENDIDIKAN 1 : 200

5 DENAH ASRAMA 1 : 200

6 DENAH LABORATORIUM 1 : 100

7 DENAH FASILITAS PENUNJANG 1 : 200

8 DENAH RUANG MUHASABAH 1 : 100

9 TAMPAK MASJID 1 : 100

10 TAMPAK HALL 1 : 100

11 TAMPAK FASILITAS PENDIDIKAN 1 : 100

12 TAMPAK ASRAMA 1 : 100

13 TAMPAK LABORATORIUM 1 : 100

14 TAMPAK FASILITAS PENUNJANG 1 : 100

15 TAMPAK RUANG MUHASABAH 1 : 100

16 POTONGAN MASJID 1 : 100

17 POTONGAN HALL 1 : 100

18 POTONGAN FASILITAS PENDIDIKAN 1 : 100


(71)

20 POTONGAN LABORATORIUM 1 : 100

21 DETAIL ARSITEKTURAL

22 EKSTERIOR MASJID

23 EKSTERIOR KAWASAN I

24 EKSTERIOR KAWASAN II

25 EKSTERIOR KAWASAN III

26 INTERIOR

27 SISTEM STRUKTUR DAN KONSTRUKSI


(72)

1.3 FOTO – FOTO MAKET

Gambar 6.2 : Maket Kawasan Pesantren Sumber : Data Pribadi


(73)

Gambar 6.3 : Maket Entrance Pesantren Sumber : Data Pribadi


(74)

Gambar 6.5 : Maket Masjid Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.6: Maket Fasilitas Pendidikan Dan Hall Sumber : Data Pribadi


(75)

Gambar 6.7: Maket Asrama Sumber : Data Pribadi


(76)

Gambar 6.9: Maket Laboratorium Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.10: Maket Kawasan Muhasabah Sumber : Data Pribadi


(1)

20

POTONGAN LABORATORIUM

1 : 100

21

DETAIL ARSITEKTURAL

22

EKSTERIOR MASJID

23

EKSTERIOR KAWASAN I

24

EKSTERIOR KAWASAN II

25

EKSTERIOR KAWASAN III

26

INTERIOR

27

SISTEM STRUKTUR DAN KONSTRUKSI


(2)

1.3

FOTO

FOTO MAKET

Gambar 6.2 : Maket Kawasan Pesantren Sumber : Data Pribadi


(3)

Gambar 6.3 : Maket Entrance Pesantren Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.4: Maket Segitiga Berkesinambungan Sumber : Data Pribadi


(4)

Gambar 6.5 : Maket Masjid Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.6: Maket Fasilitas Pendidikan Dan Hall Sumber : Data Pribadi


(5)

Gambar 6.7: Maket Asrama Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.8: Maket Asrama Dan Fasilitas Penunjang Sumber : Data Pribadi


(6)

Gambar 6.9: Maket Laboratorium Sumber : Data Pribadi

Gambar 6.10: Maket Kawasan Muhasabah Sumber : Data Pribadi