Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

INDUKSI AKAR DAN TUNAS STEK BUNI (Antidesma bunius L. Spreng) MENGGUNAKAN NAA DAN ROOTONE F
Oleh Novita Anggraini
071202023 Budidaya Hutan
PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Universitas Sumatera Utara

INDUKSI AKAR DAN TUNAS STEK BUNI (Antidesma bunius L. Spreng) MENGGUNAKAN NAA DAN ROOTONE F
SKRIPSI Oleh
Novita Anggraini 071202023
Budidaya Hutan
PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Universitas Sumatera Utara

INDUKSI AKAR DAN TUNAS STEK BUNI (Antidesma bunius L. Spreng) MENGGUNAKAN NAA DAN ROOTONE F
SKRIPSI Oleh
Novita Anggraini 071202023
Budidaya Hutan Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian
Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng)
: Novita Anggraini : 071202023 : Budidaya Hutan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Nelly Anna, S.Hut, M.Si Ketua

Dr.Ir. Edy Batara Mulya Siregar, M.S Anggota

Mengetahui Ketua Program Studi
Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D NIP. 19710416 200112 2 001
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Novita Anggraini : Induksi akar dan tunas stek buni (Antidesma bunius L. Spreng) menggunakan Rootone F dan NAA, dibimbing oleh Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) Rootone F dan NAA terhadap keberhasilan stek buni (Antidesma bunius L. Spreng). Penelitian ini dilakukan di Rumah Kasa dan Laboratorium Bioteknologi Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dari bulan Maret hingga Juli 2011.
Rancangan yang digunakan ialah rancangan acak lengkap non faktorial. Adapun faktor tersebut terdiri dari 9 perlakuan yakni A0 = kontrol; A1 = Rootone F 25 ppm: A2 = Rootone F 50 ppm; A3 = Rootone F 75 ppm; A4 = Rootone F 100 ppm; A5 = NAA 0,5 ppm; A6= NAA 1 ppm; A7 = NAA 1,5 ppm; A8 = NAA 2 ppm. Parameter yang diamati ialah persentase hidup, persentase tunas dan jumlah tunas. Pengamatan dilakukan setiap 10 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh baik NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) maupun Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) belum mampu memicu pembentukan akar pada stek buni. Namun, pembentukan tunas tetap terjadi. Pembentukan tunas diduga berasal dari cadangan makanan, terlihat pada kontrol yang bertunas tanpa diberi zat pengatur tumbuh. Persentase hidup dan jumlah tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 10 HST sedangkan persentase tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 20 HST. Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan dosis yang lebih tinggi untuk mengetahui keberhasilan stek buni ini. Kata kunci : Antidesma bunius L. Spreng, buni, stek batang, Rootone F, NAA
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Novita Anggraini : Root and bud induction of buni (Antidesma bunius L.Spreng) cutting stem by using Rootone F and NAA, guided by Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S.
The purpose of this research is to examine the effect of Rootone F and NAA as plant growth regulator to the success cutting stem of Antidesma bunius L.Spreng. This research was conducted in gauzing house and forestry biotectonology laboratory, Forestry Major, Agricultural Faculty, North Sumatera University, from March to July 2011.
This research is arranged in non factorial completely design with 9 treatments. The treatment consisted of A0 as kontrol; A1 as Rootone F 25 ppm: A2 as Rootone F 50 ppm; A3 as Rootone F 75 ppm; A4as Rootone F 100 ppm; A5 as NAA 0,5 ppm; A6 as NAA 1 ppm; A7 as NAA 1,5 ppm; A8 as NAA 2 ppm. The parameters were live percentage, bud percentage and number of bud. the monitoring was conducted every 10 days.
The results show that giving plant growth regulator neither NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) nor Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) can support root induction. But the bud induction still happened. Bud induction is predicted base on carbohydrate which is available in the cutting, look at the control, it can form bud without treatment. The highest live percentage and number of bud were found in 10 days after planting, while the highest bud percentage was found in 20 days after planting. Need extending research with the higher concentrate to know the success cutting stem of buni. Key Words : Antidesma bunius L. Spreng, buni, cutting stem, Rootone F, NAA
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng). Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S1 pada Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
Penelitian ini melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Sismanto dan Ibu Hj.Trisnani selaku orangtua, serta Abangda Andre
Setiawan, yang telah banyak memberikan dukungan moril dan materil demi kelancaran penelitian ini. 2. Keluarga Besar H. Syukur dan Hj. Sarah yang telah memberikan dorongan semangat, doa dan tenaga dalam kelancaran penelitian ini. 3. Ibu Nelly Anna, S.Hut, M.Si dan Dr. Ir. Edy Batara Mulya Siregar, M.S selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan serta masukan yang sangat bermanfaat selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. 4. Teman-temanku Intan Utami, Nurul Diana, Mila Yusniar, Delcia Septiani, dan seluruh pihak yang mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dari awal penelitian hingga akhir skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak luput dari kekurangan. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
Universitas Sumatera Utara

berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kehutanan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Juli 2011 Penulis
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 28 November 1989 sebagai putri kedua dari dua bersaudara dari keluarga Bapak Sismanto dan Ibu Hj.Trisnani. Pendidikan formal penulis dimulai pada tahun 1995-2001 di SD Negeri 060861 Medan, kemudian dilanjutkan di SLTP Negeri 11 Medan tahun 20012004. Pada tahun 2004-2007, penulis melanjutkan SLTA di SLTA Negeri 3 Medan. Tahun 2007, penulis diterima di Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sebagai mahasiswa di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota BKM Baytul Ashjar Kehutanan, Tim Mentoring Agama Islam Fakultas Pertanian USU, asisten Praktikum Silvikultur pada tahun 2009 dan asisten Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) pada tahun 2010. Penulis melaksanakan Praktik Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) di Hutan Dataran Rendah Aras Napal dan Hutan Mangrove Pulau Sembilan Kabupaten Langkat. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Perum Perhutani Unit I KPH Randublatung, Jawa Tengah. Pada akhir kuliah, penulis melaksanakan penelitian dengan judul Induksi Akar dan Tunas Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng) Menggunakan Rootone F dan NAA di bawah bimbingan Ibu Nelly Anna, S. Hut, M.Si dan Bapak Dr.Ir. Edy Batara Mulya Siregar, M.S.
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman ABSTRAK................................................................................................... i

ABSTRACT.................................................................................................. ii

KATA PENGANTAR................................................................................. iii

RIWAYAT HIDUP..................................................................................... v

DAFTAR ISI ............................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR................................................................................... ix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... x

PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

Latar Belakang ............................................................................................. Tujuan Penelitian ......................................................................................... Hipotesis Penelitian ...................................................................................... Kegunaan .....................................................................................................

1 3 3 3

TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 4

Buni (Antidesma bunius L. Spreng)............................................................... Perbanyakan Vegetatif secara Stek................................................................ Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Stek ............. Zat Pengatur Tumbuh ................................................................................... Media Tanam................................................................................................

4 6 7 10 14

BAHAN DAN METODE ........................................................................... 17

Waktu dan Tempat ....................................................................................... Bahan dan Metode ........................................................................................ Metode Penelitian ........................................................................................ Pelaksanaan Penelitian..................................................................................
Persiapan Tempat Tumbuh...................................................................... Persiapan Media Tumbuh........................................................................ Pengambilan Stek.................................................................................... Persiapan Zat Pengatur Tumbuh.............................................................. Penanaman Stek ...................................................................................... Pemeliharaan........................................................................................... Parameter yang Diukur .................................................................................

17 17 17 18 18 18 19 19 20 20 20

HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................... 23

Persentase Hidup .......................................................................................... Persentase Stek yang Bertunas ...................................................................... Jumlah Tunas................................................................................................ Induksi Akar .................................................................................................

25 26 29 31

KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................... 32

Universitas Sumatera Utara

Kesimpulan................................................................................................... 32 Saran ............................................................................................................ 32 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 34 LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL No. Halaman 1. Tabel persentase hidup stek buni pada pengamatan 0-40 HST .................. 23 2. Tabel persentase stek yang bertunas pada pengamatan 0-40 HST ............. 26 3. Tabel jumlah stek buni pada pengamatan 0-40 HST ................................. 29
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR No. Halaman 1. Gambar persentase hidup stek buni pada pengamatan 0-40 HST .............. 24 2. Gambar persentase stek yang bertunas pada pengamatan 0-40 HST.......... 28 3. Gambar jumlah tunas stek buni pada pengamatan 0-40 HST ................... 30
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Lampiran tabel rekapitulasi sidik ragam pengaruh pemberian ZPT dengan
berbagai konsentrasi terhadap persentase hidup, persentase tunas dan jumlah tunas stek buni .............................................................................. 33 2. Lampiran gambar naungan dan bedeng sungkup penelitian....................... 34 3. Lampiran gambar sampel penelitian.......................................................... 34 4. Lampiran gambar stek bertunas ................................................................ 35 5. Lampiran gambar pohon, buah dan biji buni (Antidesma bunius L.Spreng) ................................................................................................. 35
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Novita Anggraini : Induksi akar dan tunas stek buni (Antidesma bunius L. Spreng) menggunakan Rootone F dan NAA, dibimbing oleh Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) Rootone F dan NAA terhadap keberhasilan stek buni (Antidesma bunius L. Spreng). Penelitian ini dilakukan di Rumah Kasa dan Laboratorium Bioteknologi Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dari bulan Maret hingga Juli 2011.
Rancangan yang digunakan ialah rancangan acak lengkap non faktorial. Adapun faktor tersebut terdiri dari 9 perlakuan yakni A0 = kontrol; A1 = Rootone F 25 ppm: A2 = Rootone F 50 ppm; A3 = Rootone F 75 ppm; A4 = Rootone F 100 ppm; A5 = NAA 0,5 ppm; A6= NAA 1 ppm; A7 = NAA 1,5 ppm; A8 = NAA 2 ppm. Parameter yang diamati ialah persentase hidup, persentase tunas dan jumlah tunas. Pengamatan dilakukan setiap 10 hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh baik NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) maupun Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) belum mampu memicu pembentukan akar pada stek buni. Namun, pembentukan tunas tetap terjadi. Pembentukan tunas diduga berasal dari cadangan makanan, terlihat pada kontrol yang bertunas tanpa diberi zat pengatur tumbuh. Persentase hidup dan jumlah tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 10 HST sedangkan persentase tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 20 HST. Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan dosis yang lebih tinggi untuk mengetahui keberhasilan stek buni ini. Kata kunci : Antidesma bunius L. Spreng, buni, stek batang, Rootone F, NAA
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Novita Anggraini : Root and bud induction of buni (Antidesma bunius L.Spreng) cutting stem by using Rootone F and NAA, guided by Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S.
The purpose of this research is to examine the effect of Rootone F and NAA as plant growth regulator to the success cutting stem of Antidesma bunius L.Spreng. This research was conducted in gauzing house and forestry biotectonology laboratory, Forestry Major, Agricultural Faculty, North Sumatera University, from March to July 2011.
This research is arranged in non factorial completely design with 9 treatments. The treatment consisted of A0 as kontrol; A1 as Rootone F 25 ppm: A2 as Rootone F 50 ppm; A3 as Rootone F 75 ppm; A4as Rootone F 100 ppm; A5 as NAA 0,5 ppm; A6 as NAA 1 ppm; A7 as NAA 1,5 ppm; A8 as NAA 2 ppm. The parameters were live percentage, bud percentage and number of bud. the monitoring was conducted every 10 days.
The results show that giving plant growth regulator neither NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) nor Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) can support root induction. But the bud induction still happened. Bud induction is predicted base on carbohydrate which is available in the cutting, look at the control, it can form bud without treatment. The highest live percentage and number of bud were found in 10 days after planting, while the highest bud percentage was found in 20 days after planting. Need extending research with the higher concentrate to know the success cutting stem of buni. Key Words : Antidesma bunius L. Spreng, buni, cutting stem, Rootone F, NAA
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Latar Belakang Buni (Antidesma bunius L. Spreng) merupakan jenis asli yang tumbuh
secara liar di dataran rendah Hilmalaya, Srilanka dan Asia Tenggara hingga Utara Australia (Orwa dkk., 2009). Jenis tanaman dari famili Euphorbiaceae ini termasuk jenis potensial baik dari segi ekonomis maupun ekologis. Mulai dari buah, daun, kulit kayu dan kayunya. Di Indonesia, buahnya dijadikan pelengkap masakan, sirup maupun jeli. Di Indonesia dan Filipina, daun mudanya dapat dimakan dengan nasi, baik mentah atau dimasak. Kulit kayu memiliki serat yang kuat untuk tali temali. Kayunya berwarna kemerah-merahan dan keras, dan telah diuji menjadi bubur kertas untuk membuat kardus/kertas karton. Di Asia, kulit kayu berkhasiat sebagai obat penutup luka (gigitan ular). Pohon Buni ini juga biasa digunakan untuk kegiatan reklamasi lahan (Orwa dkk., 2009).
Berdasarkan penelitian Gratimah (2009), Pohon Buni mempunyai daya serap karbondioksida (CO2) tertinggi yakni 31,31 ton per tahun dibandingkan dengan pohon angsana, bungur, beringin, daun kupu, kembang merak, krepayung, flamboyan, lobi-lobi, jambu bol, mahoni, pulai, tanjung, kecapi, binuang dan Dimocarpus confinis. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa penanaman hutan kota dengan menggunakan Buni memerlukan luasan hutan kota lebih kecil jika dibandingkan dengan hutan kota yang ditanam dengan 15 jenis tanaman yang lainnya. Dengan demikian penanaman Buni mampu mengefisiensikan penggunaan lahan yang pada umumnya digunakan untuk pembangunan kota.
Universitas Sumatera Utara

Potensi yang ada pada buni ini tidak sebanding dengan keberadaannya yang sudah sangat langka. Hal ini didukung pula dengan minimnya informasi mengenai teknik perbanyakan jenisnya. Teknik perbanyakan tanaman buni dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Teknik perbanyakan secara generatif ataupun melalui biji cukup sulit dilakukan karena harus bergantung pada musim berbunga dan berbuah. Sementara untuk teknik perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan cara stek, cangkok dan air-layering (Orwa dkk., 2009). Namun, teknik perbanyakan vegetatif ini belum banyak dilakukan. Untuk mengatasi masalah perbanyakan generatif buni maka perbanyakan vegetatif bisa menjadi solusi alternatif. Stek merupakan pilihan alternatif yang cukup efisien dan efektif baik dari segi waktu maupun biaya. Rumphius (1743) dalam Hoffmann (2006) menjelaskan bahwa jenis buni mudah diperbanyak dengan stek dan tanaman tersebut tumbuh baik dengan cepat.
Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh (Widiarsih dkk., 2008).
Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat berperan dalam proses pembentukan akar dan tunas pada tanaman stek ialah auksin (Lakitan, 1996). Menurut Heddy (1996), Auksin terbagi menjadi beberapa jenis antara lain: IAA (indole asetat acid), IPA (indole 3 propionoc acid), IBA (indole 3 butyric acid), NAA (naphthaleneacetic acid) dan 2,4-D (2,4-dichlorophenoxyacetic acid).
Universitas Sumatera Utara

Keempat jenis auksin tersebut merupakan jenis auksin sintesis murni. Selain itu, terdapat juga jenis auksin siap pakai (campuran) seperti Rootone F yang didalamnya terkandung 4 jenis auksin murni yakni 1 Naphathalene acetamide, 2 Methyl-1- Naphathalene acetic acid, 2 Methyl-1- Naphathalene acetamide, Indole-3-Butyriceacid.
Reaksi tanaman terhadap pemberian zat pengatur tumbuh NAA (auksin murni) dan Rootone F (auksin campuran) tentu berbeda-beda. Terlebih jika pemberian masing-masing zat pengatur tumbuh tersebut dilakukan dengan dosis yang berbeda. Sehingga diperlukan penelitian untuk menguji pemberian ZPT dan dosis yang paling baik untuk pertumbuhan stek tanaman buni.
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ZPT Rootone F dan
NAA terhadap keberhasilan tumbuh stek buni.
Hipotesis Penelitian 1. Pemberian zat pengatur tumbuh memberikan pengaruh terhadap induksi akar
dan tunas dari stek buni 2. Pemberian NAA dan Rootone F memberikan pertumbuhan yang baik bagi
stek buni
Kegunaan Penelitian Penelitian ini berguna sebagai bahan informasi untuk perbanyakan buni
dengan cara stek dan sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya.
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA
Buni (Antidesma bunius L. Spreng) Antidesma bunius L. Spreng merupakan suatu jenis tanaman dari famili
Euphorbiaceae yang tersebar luas mulai dari Srilanka, India Selatan, Hilmalaya Timur, Myanmar, Indo Cina, Cina Selatan, Thailand, Malaysia (Pulau Banggi) dan Australia (Queensland). Dibudidaya secara luas di Indonesia (terutama di Jawa), Malaysia dan Filipina. Ditemukan di hutan primer maupun hutan sekunder, dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 1800 mdpl. Tumbuh di berbagai jenis tanah mulai dari tanah aluvial, tanah liat, tanah bekas pembakaran, tanah vulkanik, podzolik dan kapur (Florido dan Cortiguerra, 1999).
Buni mungkin seperti semak dengan ketinggian 3-8 m atau bahkan mencapai 15-30 m. Buni memiliki cabang yang melebar menyebar membentuk mahkota padat. Daun berbentuk alternate, oblong, meruncing, berwarna hijau tua, mengkilap, kasar dengan tangkai yang sangat pendek, panjang daun 10-22,5 cm dan lebar 5-7,5 cm. Bunga kecil, harum dan kemerah-merahan, berukuran 7,5-20 cm, bunga jantan dan betina di pohon yang terpisah. Buah bulat atau bulat telur, dengan ukuran hingga 8 mm. Terlihat seperti anggur (bergerombol) dan terlihat mencolok karena buah matang tidak merata. Buah buni mentah berwarna merah terasa asam dan setelah matang berwarna ungu kehitamanan terasa manis asam. Buah buni matang biasanya dimakan dalam keadaan segar (Orwa dkk., 2009).
Benih sangat jarang dikarenakan penyerbukan yang tidak memadai. Penyerbukan tidak terjadi karena bunga jantan dan betina tidak mengalami penyerbukan selama beberapa tahun. Oleh karena itu, perbanyakan vegetatif lebih disukai. Pohon buni dapat diperbanyakan dengan menggunakan stek, cangkok
Universitas Sumatera Utara

atau air-layering. Air-layering menampakkan hasil dalam waktu 3 tahun setelah tanam. Stek dianjurkan pada waktu hujan karena keturunan akan tetap dorman pada musim kering. Sebagian pohon dengan bunga betina akan tetap berbuah lebat karena memiliki bunga sempurna (Orwa dkk., 2009).
Buni secara luas dibudidayakan sebagai pohon buah terutama di Jawa dan Filipina (Wu dkk., 2008). Buah digunakan untuk sirup, selai dan jeli. Buah buni mengandung 32 kalori energi, 0,7 g protein, 6,3 g karbohidrat, 0,8 g lemak, 37120 mg kalsium, 22-40 mg fosfor, 0,1-0,7 zat besi, 10 IU vitamin A dan 8 mg asam askorbik (Coronel, 1983). Jus buni biasa diekstrak dan disimpan didalam pendingin untuk satu atau dua hari, sehingga terjadi pengendapan sedimen dan sedimen tersebut dibuang untuk meningkatkan rasa. Dapat digunakan dalam saus yang dimakan dengan ikan. Daun dimakan sebagai sayuran baik mentah atau dimasak (Orwa dkk., 2010). Daun juga dapat dijadikan sebagai obat untuk luka trauma (Wu dkk., 2008), meringankan demam, mengobati cacar dan bengkak (Florido dan Cortiguerra, 1999). Kulit kayu digunakan untuk tali temali. Kayu digunakan sebagai bahan baku pulp (Orwa dkk., 2009) dan sebagai ornamen (Florido dan Cortiguerra, 1999). Di Filipina, tumbuhan ini biasa ditanam di tempat-tempat terbuka atau di hutan-hutan sekunder. Seperti Antidesma ghaesembilla Gaertner yang dapat menekan invasi lalang dan penting dalam mencegah kebakaran rumput setiap tahunnya, Antidesma bunius L. Sprengel berperan penting dalam proses reklamasi lahan-lahan terdegradasi (Orwa dkk., 2009).
Universitas Sumatera Utara

Perbanyakan Vegetatif dengan Stek Perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah perbanyakan tanaman tanpa
melalui proses perkawinan. Perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan dengan mengambil bagian dari tanaman, misalnya batang, daun, umbi, spora, dan lain-lain. Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan mulai dari cara yang paling sederhana seperti stek, cangkok, merunduk, dan lain-lain, hingga cara yang paling rumit seperti kultur jaringan (Widiarto, 1996).
Banyak jenis pohon yang diperbanyak dengan menggunakan stek batang atau akar ketika pohon tersebut tidak bereproduksi dengan baik atau dalam arti lain ketika pohon tersebut tidak mampu menghasilkan anakan yang mirip dengan induknya. Dan banyak kayu ornamen dihasilkan dari pohon yang distek daripada berasal dari benih,cangkok,budding, atau layering (Kramer dan Kozlowski, 1960).
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya (Widiarsih dkk., 2003). Penyetekan juga didefinisikan sebagai suatu perlakuan pemotongan, pemisahan beberapa bagian tanaman seperti batang, akar, daun, dan tunas dengan tujuan agar bagian tersebut membentuk akar dan tumbuh secara normal (Wudianto, 2004). Sementara menurut Gunawan (2006), Stek merupakan cara perbanyakan tanaman menggunakan bagian vegetatif tanaman baik itu akar, batang ataupun daun yang kemudian berkembang membentuk bagian tanaman yang lain, bila kondisi lingkungannya sesuai.
Universitas Sumatera Utara

Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan (Widiarsih dkk., 2008).
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Stek Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan stek ini ialah faktor
lingkungan dan faktor dari dalam tanaman. Faktor Lingkungan 1. Kelembaban
Kelembaban sangat mempengaruhi pertumbuhan stek. Kelembaban rendah akan mengakibatkan stek mengering dan mati, sementara kelembaban tinggi akan mudah mengundang tumbuhnya penyakit berupa jamur atau bakteri. Sehingga kelembaban yang dibutuhkan tanaman stek tetap dijaga (Rismundar, 1999). Kelembaban stek harus diusahakan konstan diatas 90 % terutama sebelum stek mampu membentuk akar (Gunawan, 2006). 2. Media Perakaran
Jenis media yang digunakan akan menentukan kemampuan stek untuk berakar. Kegunaan dari media perakaran ini adalah untuk menahan stek pada tempatnya, untuk menjaga dan memasok air, mengatur kelembaban dan untuk mengatur aerasi sekeliling pangkal stek (Kusuma, 2003). Pasir halus yang telah dibersihkan dari lumpur dan steril sangat diperlukan untuk media (Wudianto, 2004).
Universitas Sumatera Utara

3. Suhu Suhu udara yang baik untuk stek sekitar 21-27OC (Hartman dkk.,
2002). Sementara durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat (Widiarsih dkk., 2008). 4. Intensitas Cahaya
Stek memerlukan pengaturan intensitas yang sesuai, karena intensitas cahaya yang diperlukan untuk fotosintesis tidak setinggi pada stek yang memiliki jaringan dan organ yang lengkap. Intensitas cahaya sangat penting bagi pembentukan hormon dan pembelahan sel, dan intensitas cahaya yang rendah akan meningkatkan inisiasi akar pada stek menjadi lebih baik (Gunawan, 2006).
Faktor dari dalam Tanaman Kondisi fisiologis tanaman yang mempengaruhi kemampuan stek
membentuk akar meliputi macam bahan stek, kandungan zat tumbuh, adanya tunas atau daun pada stek, serta pembentukan kalus. Menurut Kramer dan Kozlowski (1960), faktor – faktor dalam yang mempengaruhi kemampuan stek membentuk akar adalah : ketersediaan air, kandungan bahan makanan, umur bahan stek, jenis seks tanaman, jenis tanaman, bagian tanaman yang diambil, musim dan waktu pengambilan bahan stek, serta hormon dan zat pengatur tumbuh. 1. Ketersediaan Air
Ketika stek dipotong dari induknya maka saat itu pemasukan air dan zat hara mineral akan terganggu, sehingga terjadi kekurangan air pada jaringan
Universitas Sumatera Utara

tanaman, sementara itu proses penguapan (evapotranspirasi) terus berjalan dengan normal. Ketersediaan air memiliki fungsi untuk memperlancar proses metabolism bahan stek dan menstabilir ukuran sel. Pada transpirasi yang berlebihan maka persediaan karbohidrat akan dipergunakan terlalu cepat untuk pernafasan dan ukuran sel dapat mengecil (Gunawan, 2006) . 2. Kandungan Cadangan Makanan dalam Jaringan Stek
Kandungan bahan tanaman sering dinyatakan dengan perbandingan antara kandungan karbohidrat dan nitrogen (C/N ratio). Stek yang diambil dari tanaman dengan C/N ratio yang tinggi akan berakar lebih cepat dan banyak daripada tanaman dengan C/N ratio yang rendah karena hanya akan mempercepat pembentukan tunas saja (Hartman dkk., 2002). Besarnya kandungan karbohidrat tergantung pada waktu pengambilan stek dan kesehatan pohon induknya. 3. Hormon Endogen di Dalam Jaringan Stek
Hormon tanaman didefinisikan sebagai senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil. Hormon tersebut dapat dibuat tanaman yang disebut fitohormon (disebut juga hormon endogen) atau disintesa yang disebut hormon (disebut hormon eksogen).
Hormon adalah molekul-molekul yang kegiatannya mengatur reaksireaksi metabolik penting. Molekul-molekul tersebut dibentuk di dalam organisme dengan proses metabolik dan tidak berfungsi didalam nutrisi (Heddy, 1996).
Universitas Sumatera Utara

4. Umur Tanaman (Pohon Induk) Kemampuan pembelahan sel tanaman yang telah tua mulai menurun,
sehingga bahan stek dari jaringan tua akan mengalami kesulitan dalam pembentukan primordia akar. Sehingga bahan stek yang diambil dari tanaman muda akan lebih mudah berakar, umumnya diambil dari tanaman yang berumur 1– 2 tahun. 5. Jenis Tanaman
Keberhasilan pembiakan tanaman dengan stek terutama tergantung ada kesanggupan jenis tanaman itu sendiri dalam menghasilkan tunas dan perakaran yang baru.
Faktor dari dalam tanaman yang paling penting ialah faktor genetik. Jenis tanaman yang berbeda mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumber seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan/atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi (Widiarsih dkk., 2008). 6. Musim dan Waktu Pengambilan Bahan Stek
Untuk daerah tropis seperti di Indonesia, pengambilan stek yang baik biasanya dilakukan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau (sekitar bulan Oktober), dimana akumulasi karbohidrat cukup tinggi.
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh dapat diartikan sebagai senyawa organik selain zat
hara yang dalam jumlah sedikit mendorong (promote), menghambat (inhibit)
Universitas Sumatera Utara

maupun merubah berbagai proses fisiologis tanaman. Zat pengatur tumbuh adalah salah satu bahan sintetis atau hormon tumbuh yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui pembelahan sel, perbesaran sel dan deferensiasi sel (Hartman dkk., 2002).
Menurut Yasman dan Smits (1988) dalam Irwanto (2001) untuk mempercepat perakaran pada stek diperlukan perlakuan khusus, yaitu dengan pemberian hormon dari luar atau ZPT. Proses pemberian hormon harus memperhatikan jumlah dan konsentrasinya agar didapatkan sistem perakaran yang baik dalam waktu relatif singkat. Konsentrasi dan jumlahnya sangat tergantung pada faktor-faktor seperti umur bahan stek, waktu/lamanya pemberian hormon, cara pemberian, jenis hormon dan sistim stek yang digunakan.
Hormon yang biasa digunakan dalam pertumbuhan stek ialah auksin. Auksin merupakan hormon tumbuhan yang pertama sekali diketahui. Pengaruh auksin telah dipelajari pada abad ke-19 oleh ahli biologi, Charles Darwin. Dia melihat bahwa ketika benih rumput-rumputan bertambah panjang, benih itu membelok kearah datangnya cahaya. Dengan mempergunakan penutup yang tidak tembus sinar, Darwin berhasil menunjukkan bahwa tempat yang peka cahaya adalah ujung apical dari benih bukan bagian bawah tempat pembengkokan terjadi (Heddy, 1996). Menurut Thiman dan Pincus (1948), auksin adalah suatu bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan berklorofil yang berfungsi mengatur pertumbuhan dan fungsi fisiologis lain dalam tubuh tanaman di luar jaringan di tempat auksin dihasilkan, dan bahan ini aktif dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun (Rismundar, 1999).
Universitas Sumatera Utara

Auksin memacu pemanjangan potongan akar atau akar utuh pada beberapa spesies, tetapi hanya pada konsentrasi yang rendah (10-7 sampai 10-13, tergantung jenis spesies dan umur akar). Pada konsentrasi yang lebih tinggi, pemanjangan akar akan dihambat. Penambahan auksin eksogen sering menghambat pertumbuhan akar. Penghambatan ini sebagian disebabkan oleh etilen, terutama bila auksin diberikan dalam jumlah besar. Etilen akan menghambat pertumbuhan akar dan juga batang (Lakitan, 1996).
Auksin merangsang pertumbuhan akar adventif pada batang. Beberapa tanaman berkayu memiliki primodia akar adventif yang telah terbentuk, tetapi tetap dorman kecuali jika dirangsang oleh auksin. Primodia ini biasanya pada buku atau bagian bawah bahan diantara buku. Benjolan (burrkonf) pada batang apel dapat mengandung 100 primodia. Pada tanaman yang tidak mempunyai calon akar adventif, tanaman ini akan akan tetap mampu membentuk akar jika kondisinya mengandung auksin. Akar ini dihasilkan dari hasil pembelahan sel-sel pada lapisan luar floem (Lakitan, 1996).
Auksin bermanfaat untuk proses pemanjangan sel pada jaringan tunas muda dan berpengaruh dalam pembentukan akar. Pada konsentrsi rendah, auksin berpengaruh baik pada proses pemanjangan sel. Sebaliknya, dalam konsentrasi terlalu tinggi auksin justru akan menghambat pertumbuhan tanaman (Widiarto, 1996).
Jenis-jenis hormon auksin sintesis murni menurut Widiarto (1996) antara lain: IAA (indolylacetat acid), IAAId (indolylacetoldehyde), IAN (indoacetonitrile), IPyA (indolepyruvic acid), Glucobrassicin, Ascorbigen, IBA (indole 3 butyric aci , NAA (naphthalene acetic acid), Phenylacetic acid,
Universitas Sumatera Utara

Anthracene acetic acid, BNOA (b-naphthroxyacetic acid) , POA (phenoxyac etic

acid), 4-CPA (4-chlorophenoxyacetic acid), 2,4-D (2,4-dichlorophenoxyacetic

acid), 2,6 D (2,6-dichlorophenoxyacetic acid), 2-Phenoxypropionic, 2-(2,6-

Dichlorophenoxy) butyric acid, 2,6-Dichlorophenoxy acetamide, 2,3,4-Trimethyl

benzoid acid dan BOA (Benzothiazole-zoxyacetic acid). Jenis-jenis auksin

sintesis mempunyai daya guna yang sama dengan fitohormon alami.

Went dan Kenneth pada tahun 1935 telah memperlihatkan bahwa IAA

merangsang inisiasi akar pada stek batang, dan dari hasil studi ini dikembangkan

aspek praktis pengunaan auksin. Auksin sintesis seperti NAA dan IBA biasanya

lebih efektif dari IAA, tampaknya karena auksin sintesis ini tidak dirusak oleh

IAA oksidase atau enzim-enzim lainnya sehingga dapat bertahan lama (Lakitan,

1996). Secara komersial, bubuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan

akar setek adalah campuran IAA dan IBA dengan bubuk talk atau Rootone F.

NAA (naphtaleneacetic acid) berperan dalam proses perakaran tanaman

hortikultural (Heddy, 1996). NAA merupakan hormon auksin sintesis alami/murni

dan penggunaannya dapat diberikan langsung kepada tanaman.

Menurut Rismundar (1999), Rootone F adalah jenis auksin siap pakai/

diperdagangkan, berbentuk serbuk, berwarna putih, tidak larut dalam air dan

berguna untuk mempercepat dan memperbanyak pembentukan akar-akar baru.

Komposisi dari Rootone F adalah sebagai berikut:

- 1 Naphathalene acetamide

: 0,067 %

- 2 Methyl-1- Naphathalene acetic acid : 0,033%

- 2 Methyl-1- Naphathalene acetamide : 0,013%

- Indole-3-Butyriceacid

: 0,057%

Universitas Sumatera Utara

- Thiram

: 4,000%

- Inert Ingredient

: 95,330%

Pemberian Rootone F untuk stek batang tanaman jati (Tectona Grandis)

dengan konsentrasi 200 ppm memberikan pertumbuhan yang terbaik

dibandingkan dengan konsentrasi 0 ppm, 100 ppm dan 300 ppm. Hal ini karena

pada taraf konsentrasi 200 ppm Rootone – F diduga mengandung konsentrasi

auksin yang optimal untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan awal akar,

sehingga jumlah akar yang terbentuk lebih banyak dibandingkan dengan stek yang

diberikan konsentrasi 100 ppm Rootone – F yang dipandang kurang optimal untuk

pertambahan jumlah akar (Huik, 2004).

Rootone F yang direndam selama 15 menit dengan konsentrasi 200 ppm

pada stek pucuk gaharu (Gyrinops versteegii) menghasilkan rerata tinggi tunas

paling tinggi Mardianto (2006).

Media Tanam Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam.
Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara (Redaksi PS, 2009).
Media tanam pada stek berperan dalam menahan bahan stek selama periode perakaran, menjaga kelembaban stek, mengatur aerasi dan drainase disekitar pangkal stek, mengatur cahaya yang mengenai pangkal stek, bebas dari patogen dan tidak memilki salinitas yang tinggi (Hartman dkk., 2002). Pasir

Universitas Sumatera Utara

Pasir telah digunakan secara luas sebagai media perakaran. Pasir ini relatif murah dan mudah tersedia, serta memiliki daya rekat yang tinggi. Pasir tidak menyimpan kelembaban sehingga membutuhkan frekuensi penyiraman yang lebih. Penggunaan tunggal tanpa campuran dengan media lain membuatnya sangat kasar sehingga akan memberikan hasil yang baik (Hartman dkk., 2002). Tanah
Tumbuhan bergantung pada tanah karena tanah merupakan tempat tersedianya air dan unsur hara. Tanah juga menyediakan lingkungan yang baik bagi perakaran (aerase dan drainase baik) dan merupakan penunjang/penyokong tanaman (Ford, 1994). Humus
Humus merupakan salah satu bentuk bahan organik. Jaringan asli berupa tubuh tumbuhan atau fauna baru yang belum lapuk terus menerus mengalami serangan-serangan jasad mikro yang menggunakannya sebagai sumber energinya dan bahan bangunan tubuhnya. Hasil pelapukan bahan asli yang dilakukan oleh jasad mikro disebut humus. Humus biasanya berwarna gelap dan dijumpai terutama pada lapisan tanah atas. Definisi humus yaitu fraksi bahan organik tanah yang kurang lebih stabil, sisa dari sebagian besar residu tanaman terdekomposisi. Humus merupakan bentuk bahan organik yang lebih stabil, dalam bentuk inilah bahan organik banyak terakumulasi dalam tanah. Humus memiliki kontribusi terbesar terhadap durabilitas dan kesuburan tanah. Humuslah yang aktif dan bersifat menyerupai liat, yaitu bermuatan negatif. Tetapi tidak seperti liat yang kebanyakan kristalin, humus selalu amorf atau tidak beraturan bentuknya (Ansori, 2005).
Universitas Sumatera Utara

Humus sangat membantu dalam proses penggemburan tanah. dan memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bisa menyimpan unsur hara. Oleh karenanya, dapat menunjang kesuburan tanah, Namun, media tanam ini mudah ditumbuhi jamur, terlebih ketika terjadi perubahan suhu, kelembapan, dan aerasi yang ekstrim. Humus Juga memiliki tingkat porositas yang rendah sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air, Dengan demikian, sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan media lain yang memiliki porousitas tinggi, misalnya tanah dan pasir (Redaksi PS, 2009).
Universitas Sumatera Utara

METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2011- Juli 2011. Penelitian ini
dilaksanakan di Rumah Kasa dan Laboratorium Bioteknologi Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan dan Metode
Bahan-bahan yang digunakan adalah stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng), Zat Pengatur tumbuh (Rootone F dan NAA), Aquades, Alkohol 95%, Fungisida Dithane-45, Sevin dan media tanam (pasir, tanah dan humus dengan perbandingan 1 : 1 : 1). Alat-alat yang digunakan adalah gunting stek, mangkuk plastik, Polybag ukuran 10 cm x 12 cm, sungkup, plastik transparan ukuran 3 kg, paranet, termometer, timbangan digital, gelas ukur, sprayer, oven, kamera, dan alat tulis. Metode Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan jumlah perlakuan 9 dan 4 ulangan. Jadi, jumlah seluruh unit percobaan 36 unit.
Rumus umum dari rancangan percobaan tersebut adalah sebagai berikut: Yij = µ + Ai + εij Dimana : Yijk : Nilai pengamatan µ : Nilai rata-rata pengamatan Ai : Pengaruh perlakuan pemberian ZPT taraf ke-j
Universitas Sumatera Utara

A0 = Kontrol A1 = Rootone F 25 ppm A2 = Rootone F 50 ppm A3 = Rootone F 75 ppm A4 = Rootone F 100 ppm A5 = NAA 0,5 ppm A6 = NAA 1 ppm A7 = NAA 1,5 ppm A8 = NAA 2 ppm εij : Galat percobaan Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan Tempat Tumbuh Tempat tumbuh dibuat dengan ukuran 2m x 1m, dengan menggunakan balok kayu dilapisi plastik yang berfungsi sebagai bedeng sungkup dan diberi naungan untuk menghindari masuknya cahaya penuh. 2. Persiapan Media Tumbuh Media stek yang digunakan ialah pasir, tanah dan humus dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pasir, tanah dan humus dicampur, diayak dan dijemur. Setelah dilakukan sterilisasi dengan menggunakan autoklaf. Sterilisasi media dilakukan dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 120oC dan tekanan 1 bar selama 45 menit. Selanjutnya media dimasukkan ke dalam polybag ukuran 10 cm x 12 cm sebanyak 7 ons/polybag. Lalu polybag disusun di bedeng sungkup dengan pola 4 x 9. Setelah itu media disemprot dengan menggunakan Fungisida Dithane-45dan dibiar selama 1 hari sebelum penanaman .
Universitas Sumatera Utara

3. Pengambilan Stek Bahan stek yang diambil berasal dari Pohon buni betina di Jalan
Bengkel Kecamatan Medan Timur. Bagian stek yang diambil ialah cabang berkayu yang setengah tua dan ditandai dengan warna kulit batang yang biasanya coklat muda. Stek yang diambil berukuran 15 cm dengan meninggalkan 2 mata tunas. Bagian pangkal stek dipotong miring (45o) dan permukaan bagian atas diusahakan rata dan licin. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar permukaan penyerapan air dan memberi kesempatan terbentuknya akar seimbang (Huik, 2004). Pemotongan stek sebaiknya dilakukan pada pagi hari (kelembaban tinggi) untuk mengurangi penguapan. 4. Persiapan Zat Pengatur Tumbuh
Zat pengatur tumbuh yang digunakan ialah Rootone F dan NAA. Dosis masing-masing perlakuan antara lain: Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm dan 100 ppm) dan NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm dan 2 ppm). Persiapan larutan zat pengatur tumbuh adalah melarutkan bubuk Rootone F dan NAA dengan alkohol 95 %, selanjutnya ditambahkan aquades sampai 1 liter sesuai dengan konsentrasi hormon yang diinginkan. Sebelum stek ditanam pada bagian pangkal stek dicelupkan setinggi 2 cm ke dalam larutan Fungisida Dithane-45 dengan konsentrasi 2gr/liter selama 10 menit untuk mencegah bakteri dan cendawan patogen. Setelah itu stek diberi zat pengatur tumbuh dengan cara direndam dalam larutan Rootone F dan NAA selama 45 menit. Selanjutnya stek dibiarkan selama 10 menit sebelum ditanam.
Universitas Sumatera Utara

5. Penanaman Stek Stek ditanam pada media yang telah dipersiapkan sebelumnya, dibuat
lubang tanam agar penanaman stek tidak mengalami kerusakan akibat gesekan dengan media. Stek ditanam 1/3 dari panjang stek (sekitar 5 cm). Penanaman stek dilakukan pada sore hari untuk menghindari penguapan yang berlebihan. 6. Pemeliharan
Penyiraman dilakukan 1 kali sehari yakni pagi atau sore hari atau sesuai dengan kebutuhan media, dengan menggunakan sprayer. Setiap polybag ditutup dengan plastik transparan 3 kg untuk menjaga kelembaban stek. Pencegahan jamur atau cendawan dilakukan selama 2 minggu sekali dengan menggunakan Fungisida Dithane-45. Sementara pencegahan hama yang menyerang stek dilakukan dengan menggunakan sevin. Adapun pencegah hama ini dilakukan ketika stek terindikasi terserang.
Parameter yang Diukur Parameter yang diukur dan diamati dalam penelitian ini meliputi:
1. Persentase Hidup (%) Persentase hidup adalah banyaknya stek yang ditanam dibandingkan
dengan banyaknya stek yang ditanam. Pengambilan data dilakukan 4 kali yakni 10 hari setelah tanam (HST), 20 HST, 30 HST dan 40 HST. Persentase hidup dapat diukur dengan menggunakan rumus:
Persentase hidup = Jumlah stek yang hidup x 100% Jumlah stek yang ditanam
Universitas Sumatera Utara

2. Persentase Tunas (%) Persentase tunas adalah banyaknya stek yang bertunas dibandingkan
dengan banyaknya stek yang ditanam. Pengambilan data dilakukan 4 kali yakni 10 HST, 20 HST, 30 HST dan 40 HST. Persentase tunas dapat diukur dengan menggunakan rumus:
Persentase tunas = Jumlah stek yang bertunas x 100% Jumlah stek yang ditanam
3. Jumlah Tunas Menghitung jumlah tunas yang terbentuk pada setiap stek.
Pengambilan data dilakukan 4 kali yakni 10 HST, 20 HST, 30 HST dan 40 HST. 4. Persentase Berakar (%)
Persentase berakar adalah banyaknya stek yang berakar dibandingkan dengan banyaknya stek yang ditanam. Pengambilan data dilakukan di akhir penelitian. Persentase berakar dapat diukur dengan menggunakan rumus:
Persentase berakar = Jumlah stek yang berakar x 100% Jumlah stek yang ditanam
5. Berat Basah dan Berat Kering Akar Pengukuran berat basah dan berat kering akar dilakukan di akhir
penelitian dan dilakukan pada masing-masing stek. untuk pengukuran berat basah, dipotong bagian akar stek yang terbentuk lalu dibersihkan dari tanah yang melekat untuk selanjutnya ditimbang. Sementara berat kering akar diukur dengan menimbang akar yang dihasilkan setelah dikeringkan di dalam oven pada suhu 75oC selama 48 jam.
Universitas Sumatera Utara

6. Morfologi Akar Dilihat dan digambar perakaran tanaman di akhir penelitian. hal ini
dilakukan untuk mengetahui penyebaran akar. 7. Panjang Akar
Pengukuran panjang akar dilakukan dari pangkal batang stek sampai ujung akar. Diukur diakhir penelitian. 8. Suhu
Pengukuran suhu dilakukan setiap hari selama penelitian pada pagi hari, siang hari dan sore hari.
Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persentase Hidup Persentase stek hidup Buni dihitung dengan membandingkan jumlah stek
yang masih hidup (segar, tidak bolong, tidak menghitam, tidak berjamur, bertunas dan termasuk stek yang dorman atau tidak menunjukkan adanya gejala kematian) pada setiap pengamatan yakni 10 HST, 20 HST, 30 HST dan 40 HST dengan jumlah stek yang ditanam pada awal penelitian.

Tabel 1 Persentase hidup stek buni pada pengamatan 0-40 HST

Persentase Hidup

Perlakuan

10 HST

20 HST

30HST

40HST

N%N % N % N %

A0 4/4 100 3/4 75 3/4 75 3/4 75

A1 4/4 100 4/4 100 3/4 75 3/4 75

A2 4/4 100 3/4 75 3/4 75 1/4 25

A3 4/4 100 3/4 75 3/4 75 2/4 50

A4 4/4 100 4/4 100 4/4 100 3/4 75

A5 4/4 100 4/4 100 3/4 75 1/4 25

A6 4/4 100 4/4 100 4/4 100 3/4 75

A7 4/4 100 4/4 100 3/4 75 3/4 75

A8 4/4 100 4/4 100 3/4 75 2/4 50

Tabel 1 menunjukkan bahwa persentase hidup stek Buni mengalami

penurunan hingga akhir penelitian. Penurunan persentase hidup pada setiap

pengamatan dapat dilihat dengan jelas pada gambar 1.

Universitas Sumatera Utara

120 100
80 60 40 20
0 0 HST

10 HST 20 HST 30 HST 40 HST

A0 A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8

Gambar 1 Persentase hidup stek buni pada pengamatan 0-40 HST Penurunan persentase hidup ini diduga dikarenakan ketidakmampuan stek berakar sehingga menyebabkan stek tidak memiliki sumber cadangan makanan yang cukup untuk bertahan, membentuk tunas dan penyerapan air. Hal ini didukung pula dengan kondisi suhu yang cukup tinggi pada pengamatan 30 HST dengan suhu rata-rata 26O C-36O C dan 40 HST dengan suhu rata-rata 26O C-40OC. Suhu yang tinggi akan mempercepat proses fisiologis stek seperti transpirasi dan respirasi. Proses transpirasi yang berlebihan akan menyebabkan stek kehilangan air, terlebih sistem perakaran stek belum terbentuk sehingga penyerapan air tidak optimal. Hal ini akan membuat stek menjadi kering dan mati. Sementara proses respirasi yang berlebihan akan mengurangi bahkan menghabiskan cadangan makanan yang seharusnya dialokasi untuk pertumbuhan tunas ataupun akar. Jika tidak memiliki cadangan makanan yang cukup untuk bertahan, lama kelamaan stek akan mengalami kematian. Seperti halnya pada penelitian Gunawan (2006) bahwa persentase hidup stek Dadap Merah (Erythrina crystagalli) mengalami penurunan dikarenakan suhu udara yang tinggi pada propagation area yang

Universitas Sumatera Utara

mengakibatkan penguapan yang cepat dan juga diduga karena stek mengalami kehabisan cadangan makanan (karbohidrat). Dan Seperti halnya yang dikemukakan oleh Rohiman dan Hardjadi (1973) dalam Gunawan (2006) bahwa ada sebagian jenis tanaman, suhu udara yang rendah umumnya akan mendorong perakaran, sedangkan pada suhu yang tinggi meningkatkan laju transpirasi dan katabolisme gula yang terakumulasi dalam bentuk