Pengaruh Konsetrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Mutu Pemurnian Minyak Jelantah

(1)

PENGARUH KONSENTRASI ZEOLIT AKTIF DAN

SUHU PENCAMPURAN TERHADAP MUTU PEMURNIAN

MINYAK JELANTAH

SKRIPSI

OLEH

MHD TAKDIR ROSIP HSB

040305015 / TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknologi Pertanian di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara Medan

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2008


(2)

PENGARUH KONSENTRASI ZEOLIT AKTIF DAN

SUHU PENCAMPURAN TERHADAP MUTU PEMURNIAN

MINYAK JELANTAH

SKRIPSI

OLEH

MHD TAKDIR ROSIP HSB

040305015 / TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2008


(3)

Judul Skripsi : Pengaruh Konsetrasi Zeolit Aktif dan Suhu

Pencampuran Terhadap Mutu Pemurnian Minyak Jelantah

Nama : Mhd Takdir Rosip Hsb

NIM : 040305015

Departemen : Teknologi Pertanian Program Studi : Teknologi Hasil Pertanian

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing :

Dr. Ir. Herla Rusmarilin, M.Si Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, M.App.Sc Ketua Anggota

Mengetahui

Ir. Saipul Bahri Daulay, M.Si Ketua Departemen


(4)

ABSTRAK

PENGARUH KONSENTRASI ZEOLIT AKTIF DAN SUHU PENCAMPURAN TERHADAP MUTU PEMURNIAN MINYAK JELANTAH

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap mutu pemurnian minyak jelantah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor 1 : konsentrasi zeolit aktif (K) yang terdiri dari K1 = 5%, K2 = 7,5%, K3 = 10%, K4 = 12,5%

dan faktor 2 : suhu pencampuran (T) yang terdiri dari T1 = 500C, T2 = 600C, T3 = 700C,

T4 = 80 0

C. Pemurnian minyak jelantah dilakukan dengan penambahan karbon aktif sebanyak 20% dari berat minyak jelantah. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, nilai indeks warna, viskositas, dan nilai organoleptik aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, nilai indeks warna dan viskositas pada minyak jelantah hasil pemurnian. Suhu pencampuran memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, nilai indeks warna, viskositas dan nilai organoleptik (aroma) pada minyak jelantah hasil pemurnian. Interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida dan viskositas pada minyak jelantah hasil pemurnian. Dari hasil penelitian diketahui bahwa minyak jelantah yang paling baik diperoleh dengan memakai zeolit aktif dengan konsentrasi12,5% dan suhu pencampuran 600C.

Kata Kunci : minyak jelantah, zeolit aktif, suhu pencampuran

ABSTRACT

THE EFFECT OF ACTIVE ZEOLITE CONCENTRATION AND MIXING TEMPERATURE TO QUALITY OF PURIFIED JELANTAH OIL

The purpose of this research was to know the effect of addition of active zeolite and mixing temperature to the quality of purified jelantah oil. The research was performed using factorial completely randomized design with two factors. The first factor was active zeolite concentration ( K) consisted of K1 = 5%, K2 = 7,5%, K3 = 10%, K4 =

12,5%. The second factor was mixing temperature (T) consisted of T1 = 500C, T2 = 600C,

T3 = 700C, T4 = 800C. The purification of jelantah oil was carried out with the addition of

active carbon 20% of jelantah oil weight. Parameters observed were water content, free fatty acid content, peroxide value, colour index value, viscosity, and organoleptic value of aroma. The result showed that active zeolite concentration gave highly significant effect on water content, free fatty acid content, peroxide value, colour index value and viscosity of purified jelantah oil. Mixing temperature gave highly significant effect on water content, free fatty acid content, peroxide value, colour index value, viscosity and organoleptic value (aroma) of the purified jelantah oil. The interaction between active zeolite concentration and mixing temperature gave highly significant effect on water content, free fatty acid content, peroxide value and viscosity of purified jelantah oil. The result showed that the best purified jelantah oil was produced using 12,5% active zeolite concentration and 600C mixing temperature.


(5)

RINGKASAN

MUHAMMAD TAKDIR ROSIP HASIBUAN, “Pengaruh Konsetrasi

Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Mutu Pemurnian Minyak Jelantah”. Dibimbing oleh Dr. Ir .Herla Rusmarilin, M.si sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, M.App.Sc sebagai Anggota Komisi Pembimbing.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap mutu pemurnian minyak jelantah.

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor, yaitu faktor 1 : Konsentrasi Zeolit aktif (K) yang terdiri dari K1 = 5%, K2 = 7,5%, K3 =

10%, dan K4 = 12,5%. Faktor 2 : Suhu Pencampuran (T) yang terdiri dari T1 = 50 o

C, T2 = 60 oC, T3 = 70 oC dan T4 = 80 oC.

Hasil Analisis secara statistik memberikan kesimpulan sebagai berikut :

1. Kadar Air

Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air minyak jelantah yang dimurnikan. Kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan K1

sebesar 0,267% sedangkan yang terendah pada perlakuan K4 sebesar 0,196%.

Suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air minyak jelantah yang dimurnikan. Nilai kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 0,244% dan terendah pada


(6)

Interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air dari minyak jelantah yang dimurnikan.

2. Asam Lemak Bebas

Konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01)

terhadap asam lemak bebas dari minyak jelantah yang dimurnikan. Asam lemak bebas tertinggi diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 0,796% sedangkan yang

terendah pada perlakuan K4 sebesar 0,579%.

Suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan asam lemak bebas dari minyak jelantah yang dimurnikan. Nilai asam lemak bebas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar

1,036% dan terendah pada perlakuan T4 sebesar 0,388%.

Interaksi konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap asam lemak bebas minyak jelantah yang dimurnikan.

3. Bilangan Peroksida

Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap bilangan peroksida minyak jelantah yang dimurnikan. Bilangan peroksida tertinggi diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 5,314 sedangkan yang terendah pada

perlakuan K4 sebesar 1,821.

Suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap bilangan peroksida dari minyak jelantah yang dimurnikan. Nilai


(7)

bilangan peroksida tertinggi diperoleh pada perlakuan T4 sebesar 4,267 dan

terendah pada perlakuan T1 sebesar 2,8.

Konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap bilangan peroksida dari minyak jelantah yang dimurnikan.

4. Nilai Indeks Warna

Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai indeks warna minyak jelantah yang dimurnikan. Nilai indeks warna yang tertinggi terdapat pada perlakuan K1 yaitu sebesar 5,475 dan yang terendah terdapat pada perlakuan K4

yaitu sebesar 5,150.

Suhu pencampuran memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai indeks warna minyak jelantah yang dimurnikan. Nilai indeks warna yang tertinngi terdapat pada perlakuan T1 yaitu sebesar 5,650 dan yang terendah

terdapat pada perlakuan T4 yaitu sebesar 4,588.

Interaksi konsenterasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai indeks warna minyak jelantah yang dimurnikan. Sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

5. Viskositas

Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap viskositas minyak jelantah yang dimurnikan. Viskositas yang tertinggi terdapat pada perlakuan K1 yaitu

sebesar 0,002181 N/m2 dan viskositas yang terendah terdapat pada perlakuan K4


(8)

Suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata

(P<0,01) terhadap viskositas minyak jelantah yang dimurnikan. Viskositas tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu sebesar 0,002523 dan yang terendah

terdapat pada perlakuan T2 yaitu sebesar 0,001731.

Interaksi konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan

pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap viskositas dari minyak jelantah yang dimurnikan.

6. Uji Organoleptik (Aroma)

Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap uji organoleptik (aroma) minyak jelantah yang dimurnikan. Sehingga tidak dilanjutkan uji LSR nya.

Suhu percampuran memberikan perangaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap uji organoleptik (aroma) minyak jelantah yang dimurnikan. Nilai organoleptik tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu sebesar 3,913 dan yang

terendah terdapat pada perlakuak T4 yaitu sebesar 3,100.

Interaksi konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap organoleptik (aroma) minyak jelantah yang dimurnikan. Sehingga tidak dilakukan uji LSR.


(9)

RIWAYAT HIDUP

MUHAMMAD TAKDIR ROSIP HASIBUAN, dilahirkan di Sibuhuan

pada tanggal 16 Desember 1985, anak ketiga dari enam bersaudara dari Ayahanda Hasben Hasibuan dan Ibunda Zurnaisah, beragama Islam.

Adapun pendidikan formal yang pernah ditempuh, pada tahun 1992 penulis memasuki SD Negeri 2 Barumun, lulus tahun 1998. Tahun 1998 penulis memasuki SLTP Negeri 1 Barumun, lulus tahun 2001. Tahun 2001 penulis memasuki SMU Negeri 1 Barumun, lulus tahun 2004. Tahun 2004 penulis memasuki Universitas Sumatera Utara, Fakultas pertanian, Departemen Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian melalui jalur Pemanduan Minat dan Prestasi (PMP).

Selama kuliah penulis pernah menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (IMTHP). Penulis juga pernah menjadi anggota Agriculture Technology Moslem (ATM) dan menjadi Anggota dan Pengurus tim sepakbola Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pada bulan Juli 2008, penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Pabrik Kelapa Sawit Adolina Perbaungan Serdang Bedagai Sumatera Utara.


(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Pengaruh konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap

mutu pemurnian minyak Jelantah” Pada kesempatan ini penulis mengucapkan

terima kasih kepada Dr. Ir .Herla Rusmarilin, M.si selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, M.App.Sc selaku Anggota Komisi Pembimbing penulis yang telah banyak membimbing dan memberikan arahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ayahanda Hasben Hasibuan dan Ibunda Zurnaisah, juga kedua Kakak saya Efi Harisah Hsb dan Minta Pria Hsb, serta ketiga Adek saya Ahmad Afandi Hsb, Intan Rawalia Hsb dan Sondi Martua Hsb, tak lupa juga kepada Abang ipar saya Hariman Rangkuti yang telah banyak memberikan kasih sayang, semangat, nasehat dan bantuan material, serta doa kepada penulis. Terima kasih juga kepada rekan-rekan stambuk 2004 terutama kepada Muhardiansyah yang telah membantu banyak penulis dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini, serta kepada Arief (gorief), Sadri, Ari, Ery, Yamin, Rahman, Christian (si Om), Riswan (si Juntak), Eka , Abri, Ika, Dede, Rahma dan kawan seperjuangan selama PKL Surya (yayuk), Zul (Mas Zul), Ardi (Marbus) dan kawan-kawan yang lain yang tidak sempat tertulis atas bantuan moral, doa serta motivasinya kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.


(11)

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pihak yang membutuhkan dan untuk kepentingan penelitian selanjutnya.

Medan, Desember 2008

Penulis


(12)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK ... i

RINGKASAN ... ii

RIWAYAT HIDUP ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 4

Kegunaan Penelitian ... 4

Hipotesis Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Minyak goreng ... 5

Minyak Jelantah ... 8

Zeolit ... 9

Jenis – jenis Zeolit ... 11

Proses Aktivasi Zeolit Alam ... 13

Asam Sulfat ... 14

Asam Nitrat ... 15

Karbon Aktif ... 16

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 17

Bahan dan Alat Penelitian Bahan Penelitian ... 17

Reagensia ... 17

Alat Penelitian ... 17

Metode Penelitian ... 18

Model Rancangan ... 19

Pelaksanaan Penelitian Aktivasi Zeolit ... 19

Pemurnian Minyak Jelantah ... 20

Pengamatan dan Pengukuran Data Kadar Air ... 20

Kadar Asam Lemak Bebas ... 21

Bilangan Peroksida ... 21

Nilai Indeks Warna ... 21

Viskositas ... 22


(13)

Skema Skema Aktivasi Zeolit ... 23 Skema Pemurnian Minyak Jelantah ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Parameter Yang Diamati

Dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 25 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Parameter Yang Diamati

Dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 26 Kadar Air

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif (%) terhadap Kadar Air (%)

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 27 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air (%)

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 28 Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Zeolit Aktif

dan Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 30 Asam Lemak Bebas

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Asam Lemak Bebas (%)

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 33 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas (%)

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 35 Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Zeolit Aktif

dan Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 37 Bilangan Peroksida

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Bilangan Peroksida

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 39 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Bilangan Peroksida

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 41 Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif

dan Suhu Pencampuran Terhadap Bilangan Peroksida

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 42 Nilai Indeks Warna

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Nilai Indeks Warna

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 45 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Nilai Indeks Warna

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 47 Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan

Suhu Pencampuran Terhadap Nilai Indeks Warna

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 48 Viskositas

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Viskositas

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 49 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Viskositas

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 50 Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan

Suhu Pencampuran Terhadap Viskositas


(14)

Uji Organoleptik (Aroma)

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Uji Organoleptik (Aroma) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 54 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Uji Organoleptik (Aroma)

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 54 Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan

Suhu Pencampuran terhadap Organoleptik (Aroma)

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 56

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ...57 Saran ...57

DAFTAR PUSTAKA ...58 LAMPIRAN


(15)

DAFTAR TABEL

No. Keterangan Hal

1 Standar Mutu Minyak Goreng Indonesia... 6 2 Uji Skala Hedonik Penentuan Aroma Minyak Jelantah

Yang Telah Dimurnikan ... 22 3 Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Parameter

Yang Diamati ... 25 4 Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Parameter Yang

Diamati... 26 5 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap

Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 27 6 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap

Kadar Air dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 29 7 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi

Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan... 31 8 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap

Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 33 9 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap

Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah yang dimurnikan ... 35 10 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit

Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan... 37 11 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap

Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 39 12 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap

Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 41 13 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit

Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Bilangan Peroksida


(16)

14 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Nilai Indeks Warna Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 45 15 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap

Nilai Indeks warna Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 47 16 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap

Viskositas Minyak jelantah Yang Dimurnikan ... 49 17 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap

Viskositas Minyak jelantah Yang Dimurnikan ... 51 18 Uji LSR Efek Utama pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit

Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Viskositas

Minyak Jelantah Yang Dimurnikan... 52 19 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap


(17)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal

1. Zeolit alam ... 10

2. Struktur mikromolekul zeolit ... 10

3. Skema Aktivasi Zeolit ... 23

4. Skema Pemurnian Minyak Jelantah ... 24

5. Grafik Hubungan Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 28

6. Grafik Hubungan Suhu Pencampuran dengan Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 29

7. Grafik Hubungan Interaksi Antara Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 32

8. Grafik Hubungan Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 34

9. Grafik Hubungan antara Suhu Pencampuran dengan Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah yang dimurnikan ... 36

10. Grafik Hubungan Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 38

11. Grafik Hubungan Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Bilangan Peroksida dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 40

12. Grafik Hubungan Suhu Pencampuran dengan Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 42

13. Grafik Hubungan Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Bilangan Peroksida dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 44

14. Grafik Hubungan Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Nilai Indeks Warna Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 46


(18)

15. Grafik Hubungan Suhu Pencampuran dengan Nilai Indeks

Warna Minyak Jelantah Yang Dimurnikan ... 48 16. Hubungan Konsentrasi Zeolit Aktif dan Viskositas Minyak

Jelantah Yang Dimurnikan ... 50 17. Grafik Hubungan Suhu Pencampuran dengan Viskositas Minyak

Jelantah Yang Dimurnikan ... 51 18. Grafik Hubungan Interaksi Konsentrasi Zeolit dan Suhu

Pencampuran Terhadap Viskositas Minyak Jelantah Yang

Dimurnikan ... 53 19. Grafik Hubungan Suhu Pencampuran dengan Uji Organoleptik


(19)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Hal

1. Data Pengamatan Analisis Kadar Air (%) ... 60

2. Daftar Analisis Sidik Ragam Kadar Air (%) ... 60

3. Data Pengamatan Analisis Asam Lemak Bebas (%) ... 61

4. Daftar Analisis Sidik Ragam Asam Lemak Bebas (%) ... 61

5. Data Pengamatan Analisis Bilangan Peroksida ... 62

6. Daftar Analisis Sidik Ragam Bilangan Peroksida ... 62

7. Data Pengamatan Analisis Nilai Indeks warna ... 63

8. Daftar Analisis Sidik Ragam Nilai Indeks Warna ... 63

9. Data Pengamatan Analisis Viskositas (N/m2) ... 64

10. Daftar Analisis Sidik Ragam Viskositas (N/m2) ... 64

11. Data Pengamatan Analisis Organoleptik (Aroma) ... 65

12. Daftar Analisis Sidik Ragam Organoleptik (Aroma) ... 65

13. Gambar Minyak Jelantah dan Minyak Curah (Murni) ... 66


(20)

ABSTRAK

PENGARUH KONSENTRASI ZEOLIT AKTIF DAN SUHU PENCAMPURAN TERHADAP MUTU PEMURNIAN MINYAK JELANTAH

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap mutu pemurnian minyak jelantah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor 1 : konsentrasi zeolit aktif (K) yang terdiri dari K1 = 5%, K2 = 7,5%, K3 = 10%, K4 = 12,5%

dan faktor 2 : suhu pencampuran (T) yang terdiri dari T1 = 500C, T2 = 600C, T3 = 700C,

T4 = 80 0

C. Pemurnian minyak jelantah dilakukan dengan penambahan karbon aktif sebanyak 20% dari berat minyak jelantah. Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, nilai indeks warna, viskositas, dan nilai organoleptik aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, nilai indeks warna dan viskositas pada minyak jelantah hasil pemurnian. Suhu pencampuran memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, nilai indeks warna, viskositas dan nilai organoleptik (aroma) pada minyak jelantah hasil pemurnian. Interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida dan viskositas pada minyak jelantah hasil pemurnian. Dari hasil penelitian diketahui bahwa minyak jelantah yang paling baik diperoleh dengan memakai zeolit aktif dengan konsentrasi12,5% dan suhu pencampuran 600C.

Kata Kunci : minyak jelantah, zeolit aktif, suhu pencampuran

ABSTRACT

THE EFFECT OF ACTIVE ZEOLITE CONCENTRATION AND MIXING TEMPERATURE TO QUALITY OF PURIFIED JELANTAH OIL

The purpose of this research was to know the effect of addition of active zeolite and mixing temperature to the quality of purified jelantah oil. The research was performed using factorial completely randomized design with two factors. The first factor was active zeolite concentration ( K) consisted of K1 = 5%, K2 = 7,5%, K3 = 10%, K4 =

12,5%. The second factor was mixing temperature (T) consisted of T1 = 500C, T2 = 600C,

T3 = 700C, T4 = 800C. The purification of jelantah oil was carried out with the addition of

active carbon 20% of jelantah oil weight. Parameters observed were water content, free fatty acid content, peroxide value, colour index value, viscosity, and organoleptic value of aroma. The result showed that active zeolite concentration gave highly significant effect on water content, free fatty acid content, peroxide value, colour index value and viscosity of purified jelantah oil. Mixing temperature gave highly significant effect on water content, free fatty acid content, peroxide value, colour index value, viscosity and organoleptic value (aroma) of the purified jelantah oil. The interaction between active zeolite concentration and mixing temperature gave highly significant effect on water content, free fatty acid content, peroxide value and viscosity of purified jelantah oil. The result showed that the best purified jelantah oil was produced using 12,5% active zeolite concentration and 600C mixing temperature.


(21)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak goreng dari tumbuhan (nabati) biasanya dihasilkan dari tanaman seperti kelapa, kelapa sawit, kacang-kacangan, jagung dan kedelai. Minyak goreng bisa digunakan hingga 3-4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali maka minyak akan berubah warna.

Minyak goreng sangat diperlukan dalam proses pengolahan bahan pangan sebagai medium penghantar panas juga untuk menambah rasa gurih, nilai gizi dan kalori dalam bahan pangan tersebut. Penggunaan kembali minyak goreng bekas secara berulang-ulang akan menurunkan mutu bahan pangan yang digoreng akibat terjadinya kerusakan pada minyak yang digunakan. Pada minyak goreng bekas yang telah rusak akan terbentuk senyawa-senyawa yang tidak diinginkan seperti asam lemak bebas, peroksida dan kotoran-kotoran lain yang tersuspensi ke dalam minyak.

Minyak jelantah adalah minyak makan hasil penggorengan yang telah digunakan berulang-ulang kali, akibat penggunaan yang berulang-ulang, otomatis minyak akan menerima banyak panas selama pemakaian sehingga memutus ikatan rangkap dan membuat minyak jelantah memiliki kandungan asam lemak bebas yang tinggi.

Minyak jelantah dapat menimbulkan karsinogenik seperti kanker dan penyempitan pembuluh darah apabila pengkonsumsiannya dalam jumlah yang


(22)

banyak dan berulang-ulang, karena jumlah ALB pada minyak jelantah amat tinggi.

Salah satu alternatif pemecahan masalah untuk mengurangi kandungan kontaminan dalam minyak goreng bekas adalah pemurnian melalui proses adsorpsi. Proses ini dapat menyerap zat-zat yang tidak diinginkan dalam minyak goreng bekas dengan menggunakan suatu zat yang disebut dengan adsorben. Ada beberapa alternatif adsorben yang dapat digunakan dalam adsorpsi yaitu silica gel, karbon aktif dan zeolit.

Unsur-unsur kimia dalam minyak goreng (misalnya trigliserida) memiliki diameter kinetik yang terlalu besar dan akan membuat unsur-unsur ini tidak dapat melewati pori-pori zeolit sehingga secara efektif unsur-unsur kimia ini akan tersaring. Dengan demikian, secara teori maka separasi unsur-unsur kimia dari minyak goreng bekas dapat dilakukan oleh zeolit.

Zeolit merupakan kelompok senyawa berbagai jenis mineral alumino silikat hidrat dengan logam alkali. Zeolit cocok digunakan sebagai adsorben untuk substansi yang bersifat polar (misalnya : air dan larutan cair lainnya). Zeolit terdiri dari dua jenis yaitu zeolit alam dan zeolit sintetis.

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang patut dikembangkan lebih lanjut seperti zeolit alam yang cukup melimpah dengan tingkat kemurnian lebih dari 84 %. Selama ini, zeolit alam tersebut hanya digunakan secara langsung sebagai penyubur tanah dan pencampur makanan ternak. Zeolit alam tersebut terdapat di Jawa tepatnya di Malang, dan di Sumatera yaitu di Lampung dan di Medan.


(23)

Beberapa keuntungan pemakaian zeolit alam sebagai adsorben pada adsorbsi minyak goreng bekas antara lain yaitu zeolit alam mempunyai efesiensi yang tinggi dalam menghilangkan VOC (volatile organic compound), mudah pemeliharaannya, mudah ditempatkan di dalam wadah, menggunakan teknologi yang sederhana, dan bernilai ekonomis.

Penelitian mengenai minyak goreng bekas melalui proses adsorbsi dengan adsorben zeolit telah dilakukan sebelumnya oleh Widayat dan Haryani (2005). Pada penelitian ini digunakan zeolit alam yang berasal dari Jawa, dan hasil penelitian yang diperoleh yaitu bilangan peroksida sebesar 12,84 dan kadar air sebesar 1,91 %, bilangan asam optimum sebesar 1,71 dicapai pada berat zeolit 19,07 gram dengan diameter zeolit 1,69 mm. Dengan diameter zeolit 1,69 mm maka mesh yang digunakan berukuran 10. Dengan prinsip yang sama maka penelitian ini dilakukan, dengan menggunakan zeolit alam yang berasal dari Sumatera Utara. Akan tetapi, mesh yang digunakan adalah mesh ukuran 70, dengan tujuan yaitu dengan semakin kecilnya ukuran partikel zeolit maka luas permukaan untuk penyerapannya akan semakin besar.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik meneliti tentang proses pemurnian minyak jelantah menggunakan zeolit aktif dengan judul penelitian “Pengaruh Konsetrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Mutu


(24)

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap mutu pemurnian minyak jelantah.

Kegunaan Penelitian

- Sebagai sumber informasi pada pemurnian minyak jelantah menggunakan zeolit aktif.

- Sebagai sumber data dalam penyusunan skripsi di Departemen Teknologi

Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Hipotesis Penelitian

- Ada pengaruh konsentrasi zeolit aktif terhadap mutu pemurnian minyak jelantah.

- Ada pengaruh suhu pencampuran zeolit aktif dengan minyak jelantah terhadap mutu pemurnian minyak jelantah.

- Ada pengaruh interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dengan suhu pencampuran terhadap mutu pemurnian minyak jelantah.


(25)

TINJAUAN PUSTAKA

Minyak Goreng

Minyak goreng adalah minyak nabati yang telah dimurnikan dan dapat digunakan sebagai bahan pangan. Minyak goreng merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok yang dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Minyak goreng biasanya digunakan sebagai media menggoreng bahan pangan, penambah cita rasa, ataupun shortening yang membentuk tekstur pada pembuatan roti.

Lemak dan minyak adalah bahan-bahan yang tidak larut dalam air yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Lemak dan minyak yang digunakan dalam makanan sebagian besar adalah trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dan berbagai asam lemak (Buckle, et al., 1987).

Lemak hewani mengandung banyak sterol (kolesterol) sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol dan lebih banyak mengandung asam lemak tak jenuh sehingga umumnya berbentuk cair. Lemak nabati yang berbentuk cair dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu :

(a). Drying oil yang akan membentuk lapisan keras bila mengering di udara, misalnya minyak yang digunakan untuk cat dan pernis

(b). Semi drying oil seperti minyak jagung, minyak kapas dan minyak bunga matahari, dan

(c). Non drying oil, misalnya minyak kelapa dan minyak kacang tanah (Winarno, 1997).


(26)

Berdasarkan sifat titik cair, dikenal dua macam istilah dalam gliserida yaitu minyak dan lemak. Minyak adalah gliserida yang berbentuk cair sedangkan lemak berbentuk padat pada suhu kamar. Oleh karena ketidakjenuhan gliserida mengakibatkan perbedaan titik cair gliserida (Winarno, et al., 1980).

Minyak goreng yang baik mempunyai sifat tahan panas, stabil pada cahaya matahari, tidak merusak flavour hasil gorengan, sedikit gum, menghasilkan produk dengan tekstur dan rasa yang bagus, asapnya sedikit setelah digunakan berulang-ulang, serta menghasilkan warna keemasan pada produk (Wijana, 2005).

Standar mutu minyak goreng di Indonesia diatur dalam SNI-3741-1995 sebagai berikut :

Tabel 1. Standar Mutu Minyak Goreng Indonesia

No. Kriteria Uji Persyaratan No. Kriteria Uji Persyaratan

1. Bau Normal 11. Titik asap Min 200ºC

2. Rasa Normal 12. Indeks bias 1,448-1,450

3. Warna Muda jernih 13. Cemaran

logam

4. Cita rasa Hambar Besi Max 1,5

mg/Kg

5. Kadar air Max 0,3 % Timbal Max 0,1

mg/Kg

6. Berat jenis 0,900 g/l Tembaga Max 40 mg/Kg

7. Asam lemak bebas Max 0,3 % Seng Max 0,05

mg/Kg

8. Bilangan peroksida Max 2

meg/Kg

Raksa Max 0,1

mg/Kg

9. Bilangan iodium 45-46 Timah Max 0,1

mg/Kg 10. Bilangan

penyabunan

196-206 Arsen Max 0,1

mg/Kg Sumber : Wijana, (2005).

Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolah bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media penggoreng sangat penting dan kebutuhannya semakin meningkat. Minyak goreng nabati biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa atau jagung. Selama


(27)

penggorengan sebagian minyak akan teradsorbsi dan masuk ke bagian luar bahan yang digoreng dan mengisi ruang kosong yang semula diisi oleh air. Hasil penggorengan biasanya mengandung 5-40 % minyak. Konsumsi minyak yang rusak dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti pengendapan lemak dalam pembuluh darah (Artherosclerosis) dan penurunan nilai cerna lemak (Wijana, 2005).

Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak. Oksidasi minyak akan menghasilkan senyawa aldehida, keton, hidrokarbon, alkohol, lakton serta senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir. Pembentukan senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi adisi dari asam lemak tidak jenuh. Hal ini terbukti dengan terbentuknya bahan menyerupai gum yang mengendap di dasar tempat penggorengan (Ketaren, 1986).

Kerusakan minyak atau lemak akibat pemanasan pada suhu tinggi (200 - 250°C) akan mengakibatkan keracunan dalam tubuh dan berbagai macam penyakit, misalnya diarhea, pengendapan lemak dalam pembuluh darah, kanker dan menurunkan nilai cerna lemak. Namun, kerusakan minyak juga bisa terjadi selama penyimpanan. Penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan pecahnya ikatan trigliserida pada minyak lalu membentuk gliserol dan asam lemak bebas (Ketaren, 1986).


(28)

Sehubungan dengan banyaknya minyak goreng bekas dari sisa industri maupun rumah tangga dalam jumlah tinggi dan menyadari adanya bahaya konsumsi minyak goreng bekas, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut agar tidak terbuang dan mencemari lingkungan. Pemanfaatan minyak goreng dapat dilakukan dengan pemurnian melalui proses adsorbsi dengan adsorben zeolit alam yang telah diaktifkan.

Unsur-unsur kimia dalam minyak goreng (misalnya trigliserida) memiliki diameter kinetik yang terlalu besar dan akan membuat unsur-unsur ini tidak dapat melewati pori-pori zeolit sehingga secara efektif unsur-unsur kimia ini akan tersaring. Dengan demikian, secara teori maka separasi unsur-unsur kimia dari minyak goreng bekas dapat dilakukan oleh zeolit (Saputra, 2006).

Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terpisahkan dari trigliserida, digliserida, monogliserida, dan gliserin bebas. Hal ini dapat disebabkan oleh pemanasan dan terdapatnya air sehingga terjadi proses hidrolisis. Oksidasi juga dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam minyak nabati ( Destianna, et al., 2007)

Kerusakan atau ketengikan dalam minyak dapat disebabkan oleh 4 faktor yaitu (1) absorbsi bau oleh minyak, (2) aksi oleh enzim dalam jaringan bahan mengandung minyak, (3) aksi mikroba dan (4) oksidasi oleh oksigen udara atau kombinasi dari dua atau dari penyebab kerusakan minyak (Ketaren, 1986).

Minyak Jelantah

Minyak jelantah adalah minyak makan hasil penggorengan yang telah digunakan berulang-ulang kali, akibat penggunaan yang berulang-ulang, otomatis minyak akan menerima banyak panas selama pemakaian sehingga memutus ikatan


(29)

rangkap dan membuat minyak jelantah memiliki kandungan asam lemak bebas yang tinggi (Anonimous, 2007).

Minyak jelantah dapat menimbulkan karsinogenik seperti kanker dan penyempitan pembuluh darah apabila pengkonsumsiannya dalam jumlah yang banyak dan berulang-ulang, karena jumlah ALB pada minyak jelantah amat tinggi dapat menyebabkan penyumbatan pada sel-sel pembuluh darah (Anonimous, 2007).

Netralisasi adalah suatu proses pemisahan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun. Pemisahan asam lemak bebas dapat juga dilakukan dengan cara penyulingan yang dikenal dengan istilah deasidifikasi (Hambali, et al., 2006).

Jika kita mengumpulkan minyak goreng bekas (disebut juga recycled

frying oil) keuntungan yang bisa diperoleh antara lain adalah :

- Mencegah terjadinya polusi lingkungan (air dan tanah) dengan tidak adanya pembuangan minyak bekas goreng ke sembarang tempat

- Mengurangi bahan karsinogenik yang beredar di masyarakat. Seperti diketahui, penggunaan minyak goreng yang berulang-ulang (ditandai dengan warna coklat tua, hitam, dan mengandung sekitar 400 senyawa kimia) akan mengoksidasi asam lemak tidak jenuh membentuk gugus peroksida dan monomer siklik. Senyawa ini memicu penyakit kanker kolon, pembesaran hati, ginjal dan gangguan jantung (Prihandana, et al., 2007)


(30)

Zeolit

Zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal aluminosilikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka 3 dimensinya. Ion – ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversibel.

Gambar 1. Zeolit alam Gambar 2. Struktur mikromolekul zeolit (Anonimous, 1994).

Zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang dapat dipertukarkan dan memiliki ukuran pori yang tertentu. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring molekular, penukar ion, penyerap bahan dan katalisator.

Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit – unit tetrahedral AlO4 dan

SiO4 yang saling berhubungan melalui atom O dan di dalam struktur tersebut Si4+


(31)

M2nO.Al2O3.xSiO2.yH2O

Keterangan :

M = kation alkali atau alkali tanah n = valensi logam alkali

x = bilangan tertentu (2 s/d 10) y = bilangan tertentu (2 s/d 7)

Selain mampu menyerap gas atau zat, zeolit juga mampu memisahkan molekul zat berdasarkan ukuran dan kepolarannya. Meskipun ada dua molekul atau lebih yang dapat melintas, hanya sebuah saja yang dapat lolos karena adanya pengaruh kutub antara molekul zeolit dengan zat tersebut. Molekul yang tidak jenuh atau mempunyai kutub akan lebih mudah lolos daripada yang tidak berkutub atau yang jenuh.

Selektivitas adsorbsi zeolit terhadap ukuran molekul tertentu dapat disesuaikan dengan jalan : penukaran kation, dekationisasi, dealuminasi secara hidrotermal, dan pengubahan perbandingan kadar Si dan Al (Anonimous, 1994).

Jenis-jenis Zeolit

Menurut proses pembentukannya maka zeolit dapat digolongkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu zeolit alam dan zeolit sintetis.

a. Zeolit alam

Zeolit alam terbentuk karena adanya proses perubahan alam (zeolitisasi) dari batuan vulkanik tuf, sedangkan zeolit sintetis direkayasa oleh manusia secara proses kimia.


(32)

1. Zeolit yang terdapat di antara celah-celah batuan atau di antara lapisan batuan. Zeolit jenis ini biasanya terdiri dari beberapa jenis mineral zeolit bersama-sama dengan mineral lainnya seperti kalsit, kwarsa, renit, klorit, flourit, mineral sulfida, dan lain-lain

2. Zeolit yang berupa batuan

Hanya sedikit jenis zeolit yang berbentuk batuan diantaranya adalah klinoptilotit, analsim laumontit, mordenit, filipsit, erionit, kabasit, dan heulandit.

Menurut proses terbentuknya maka batuan zeolit dapat dibedakan menjadi 7 kelompok, yaitu :

1. Mineral zeolit yang terbentuk dari endapan gunung berapi di dalam danau asin yang tertutup.

2. Mineral zeolit yang terbentuk di dalam danau air tawar atau di dalam lingkungan air tanah terbuka.

3. Mineral zeolit yang terbentuk di lingkungan laut.

4. Mineral zeolit yang terbentuk karena proses metamorfosis berderajat rendah karena pengaruh timbunan.

5. Mineral zeolit yang terbentuk oleh aktivitas hidrotermal atau air panas. 6. Mineral zeolit yang terbentuk dari endapan gunung berapi di dalam tanah

yang bersifat alkali.

7. Mineral zeolit yang terbentuk dari batuan atau mineral lain yang tidak menunjukkan bukti adanya hubungan langsung dengan kegiatan vulkanis.


(33)

Beberapa keuntungan pemakaian zeolit alam sebagai adsorben pada adsorbsi minyak goreng bekas antara lain yaitu zeolit alam mempunyai efesiensi yang tinggi dalam menghilangkan VOC (volatile organic compound), mudah pemeliharaannya, mudah ditempatkan di dalam wadah, menggunakan teknologi yang sederhana, dan bernilai ekonomis. (Anonimous, 2006).

b. Zeolit sintetis

Zeolit sintetis dapat diproduksi dengan cara hidrotermal dan kebanyakan diproduksi di bawah kondisi tidak setimbang, akibatnya zeolit yang dihasilkan merupakan bahan metastabil (mudah berubah).

Tahap pertama dalam pembuatan zeolit adalah reaksi bahan dasar seperti gel atau zat padat amorf, hidroksida alkali metal dengan pH tinggi dan basa kuat. Kondisi operasinya yaitu suhu hidrotermal rendah, dan arus reaktan yang berlawan (Anonimous, 1994).

Zeolit merupakan kelompok senyawa berbagai jenis mineral alumino silikat hidrat dengan logam alkali. Zeolit cocok digunakan sebagai adsorben untuk substansi yang bersifat polar (misalnya : air dan larutan cair lainnya). Zeolit terdiri dari dua jenis yaitu zeolit alam dan zeolit sintetis (Anonimous, 2007).

Proses Aktivasi Zeolit Alam

Proses aktivasi zeolit alam dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu secara fisika dan secara kimiawi.

Aktivasi secara fisika berupa pemanasan zeolit dengan tujuan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam pori-pori kristal zeolit, sehingga luas permukaan pori-pori bertambah. Pemanasan dilakukan dalam oven biasa pada


(34)

suhu 300-400ºC (untuk skala laboratorium) atau menggunakan tungku putar dengan pemanasan secara penghampaan selama 3 jam atau tanpa penghampaan selama 5-6 jam (skala besar). Pengaktifan zeolit yang akan dimanfaatkan di bidang pertanian dan pengolahan air dilakukan pada suhu 230ºC selama 2,5 jam sampai 3 jam dalam oven putar.

Aktivasi secara kimia dilakukan dengan larutan asam (H2SO4) atau basa

(NaOH) dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang senyawa pengotor, dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Pereaksi kimia ditambahkan pada zeolit yang telah disusun dalam suatu tangki dan diaduk selama jangka waktu tertentu. Zeolit kemudian dicuci dengan air sampai netral dan selanjutnya dikeringkan.

Permukaan yang luas ini tersusun oleh banyaknya pori halus pada padatan tersebut. Di samping luas spesifik dan diameter pori, distribusi ukuran partikel, maupun kekerasannya merupakan sifat karakterisik yang penting dari suatu adsorben. Tergantung pada tujuan penggunaannya, adsorben dapat berupa granulat ( biasanya untuk menyerap gas) atau serbuk (biasanya untuk adsorpsi campuran cair) (Bernasconi, 1995).

Asam Sulfat

Asam sulfat adalah bahan kimia yang diproduksi dalam jumlah besar di dunia. Manfaatnya berkisar mulai dari pengolahan logam sampai produksi obat-obatan dan manufaktur pupuk. Sejumlah kecil SO3 yang dihasilkan (bersama

dengan SO2 yang menjadi produk utamanya) diembunkan dan dimasukkan


(35)

mengungkapkan bahwa penambahan natrium nirat atau kalium nitrat meningkatkan rendemen SO3. Bahan baku utama untuk membuat asam sulfat

adalah sulfur atau sulfur dioksida. Sumber untuk bahan kimia ini telah berubah dari waktu ke waktu, didasari atas pertimbangan harga dan keinginan untuk mengurangi pencemaran udara. Asam sulfat murni tidak berwarna, berupa cairan kental yang membeku pada suhu 10,40C dan mendidih pada suhu 279,60C. Asam sulfat dapat dicampur dengan air dalam segala perbandingan, dengan membebaskan banyak sekali kalor. Dalam pengasaman, lapisan oksida pada permukaan logam dilarutkan melalui reaksi dengan asam (Oxtoby, et al., 2003)

Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4, merupakan asam mineral

(anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan, antara lain pemrosesan bijih, sintesis kimia, pemrosesan air dan penghilangan bau minyak (Wikipedia, 2008).

Pada minyak nabati dengan kandungan asam lemak bebas tinggi, sebelum dilakukan proses transesterifikasi dengan katalis basa dilakukan proses esterifikasi terlebih dahulu. Katalis yang digunakan pada proses esterifikasi adalah katalis asam yaitu dengan menggunakan asam sulfat (Susilo, 2006).

Asam Nitrat

Salah satu produk yang dibuat dari amonia yang paling penting adalah asam nitrat. Asam nitrat memiliki konsentrasi sekitar 50 sampai 65% berdasarkan massa. Penyulingan untuk mengeluarkan air tidak meningkatkan konsentrasi di atas 69% HNO3, Yaitu “konsentrasi asam nitrat” yang umumnya digunakan di


(36)

penyulingan memisahkan lebih banyak air dan menghasilkan larutan yang mengandung 95 sampai 98% asam nitrat (Oxtoby, et al., 2003).

Karbon aktif

Aktivasi karbon bertujuan untuk memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori-pori yang tertutup, sehingga memperbesar kapasitas adsorbsi terhadap zat warna. Pori-pori dalam arang biasanya diisi oleh tar, hidrokarbon dan zat-zat organik lainnya yang terdiri dari fixed carbon, abu, air persenyawaan yang mengandung nitrogen dan sulfur (Ketaren, 1986)

Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Dari satu gram karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m2 (didapat dari pengukuran gas). Pengaktifan bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, dan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri (Wikipedia, 2008)

Keuntungan menggunakan arang aktif sebagai bahan pemucat minyak ialah karena lebih efektif untuk menyerap warna dibandingkan dengan bleaching

clay, sehingga arang aktif dapat digunakan dalam jumlah kecil. Arang yang

digunakan sebagai bahan pemucat biasanya berjumlah kurang lebih 0,1-0,2 persen dari berat minyak. Arang aktif dapat juga menghilangkan sebagian bau yang tidak dikehendaki dan mengurangi jumlah peroksida sehingga memperbaiki mutu minyak (Ketaren, 1986).


(37)

BAHAN DAN METODA

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2008 di Laboratorium Pangan Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan Penelitian

Zeolit alam yang diperoleh dari Rudang Jaya Simpang Kampus USU dan minyak jelantah yang diperoleh dari penjual gorengan di jalan Dr. Mansyur Kelurahan Medan Selayang, Medan.

Reagensia

- H2SO4 50 % - NaOH 0,1 N

- Aquadest - Natrium thiosulfat (Na2S2O3) 0,1 N - Asam Nitrat (HNO3) 9 % - Asam Asetat

- Karbon aktif - Kloroform

- Indikator pati - Indikator phenolptalein

Alat Penelitian

- Statif dan klem - Kertas saring - Pipet Skala - Beaker glass - Oven - Erlenmeyer - Thermometer - Penyaring vakum - Lovibond - Strirrer dan hot plate - Spatula


(38)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor, yaitu :

Faktor I : Konsentrasi Zeolit aktif (K) K1 = 5 %

K2 = 7,5 % K3 = 10 % K4 = 12,5 %

Faktor II : Suhu pencampuran Zeolit aktif dengan minyak jelantah (T) T1 = 500 C

T2 = 600 C T3 = 700 C T4 = 800 C

Banyaknya kombinasi perlakuan (T) adalah 4 x 4 = 16, maka jumlah ulangan (n) adalah sebagai berikut :

Tc(n-1) > 15 16(n-1) > 15 16n-16 > 15 16n > 31

n > 1,9………dibulatkan menjadi 2


(39)

Model Rancangan (Bangun, 1991)

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan model sebagai berikut :

Yijk= µ + αi+ βj+ (αβ)ij+ εijk

dimana :

Yijk : Hasil pengamatan dari faktor K pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf ke-j

dengan ulangan ke-k µ : Efek nilai tengah

αi : Efek dari faktor K pada taraf ke-i βj : Efek dari faktor T pada taraf ke-j

(αβ)ij: Efek interaksi dari faktor K pada taraf ke-I dan faktor T pada taraf ke-j εijk : Efek galat dari faktor K pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf ke-j dalam

ulangan ke-k

Apabila diperoleh hasil yang berbeda nyata dan sangat nyata maka uji dilanjutkan dengan uji beda rataan dengan menggunakan uji LSR (Least

Significant Range).

Pelaksanaan Penelitian A. Aktivasi zeolit

1. Zeolit alam dengan ukuran 80 mesh dicampurkan ke dalam H2SO4 50 %

dengan perbandingan 1 : 2 dan dibiarkan selama 24 jam. 2. Zeolit dibilas dengan aquadest hingga pH-nya netral. 3. Dipanaskan dengan suhu 600 C hingga agak mengering.

4. Dicampurkan lagi ke dalam HNO3 9 % dengan perbandingan 1 : 2 dan

dibiarkan lagi selama 24 jam

5. Zeolit dibilas lagi dengan aquadest hingga pH-nya netral. 6. Zeolit dipanaskan pada temperatur 300oC selama 3 jam.


(40)

B. Pemurnian Minyak Jelantah

1. Minyak goreng bekas dicampurkan dengan adsorben zeolit alam yang telah diaktivasi dengan perbandingan 5 %, 7,5%, 10% dan 12,5% dari bahan.

2. Campuran minyak goreng dan adsorben dipanaskan pda suhu 50oC, 60oC, 70oC, 80oC sambil di Stirrer selama 15 menit.

3. Hasil pengadukan disaring dengan menggunakan saringan vakum.

4. Hasil saringan ditambahkan karbon aktif sebanyak 20 % dari bahan dan didiamkan selama 12 jam.

5. Hasil campuran disaring kembali dengan menggunakan saringan vakum. 6. Dilakukan analisa kadar air, kadar asam lemak Bebas, bilangan peroksida,

nilai indeks warna, viskositas dan organoleptik (aroma).

Pengamatan dan Pengukuran Data

Pengamatan dan pengukuran data dilakukan dengan cara analisis sesuai dengan parameter :

1. Kadar air

2. Kadar Asam Lemak Bebas 3. Bilangan Peroksida

4. Nilai Indeks Warna 5. Viskositas

6. Organoleptik (Aroma).

Kadar Air ( Sudarmaji, et al., 1989 )

Ditimbang 5 gram minyak kedalam petridish yang telah diketahui beratnya. Kemudian dimasukkan dalam oven pada suhu 60 0C sampai beratnya konstan. Lalu contoh dari oven didinginkan ke dalam desikator selama ± 15 menit. Kemudian contoh ditimbang untuk mengetahui berat akhirnya dan dihitung kadar air dengan rumus:

% 100 Awal

Berat

Akhir Berat Awal

Berat Air


(41)

Kadar Asam Lemak Bebas ( Sudarmaji, et al., 1989 )

Minyak atau lemak sebanyak 5 gram ditambah 50 ml alkohol netral 95 % kemudian dipanaskan 10 menit dalam pemanas air sambil diaduk dan ditutup dengan pendingin balik. Alkohol berfungsi untuk melarutkan asam lemak. Setelah didinginkan kemudian dititrasi dengan NaOH 0, 1 N menggunakan indikator phenolptalein sampai tepat warna merah jambu.

% 100 1000 Contoh Berat lemak asam BM NaOH N NaOH ml ALB % × × × × =

Bilangan Peroksida ( Sudarmaji, et al., 1989 )

Minyak atau lemak sebanyak 5 gram dilarutkan dalam campuran asam asetat glesial dan kloroform ( 2 : 1 ) sebanyak 30 ml kemudian dicampurkan Kalium Ionida (KI) 0,5 ml lalu ditambahkan 30 ml aquadest kemudian dititrasi dengan natrium thiosulfat menggunakan indikator pati sampai warna biru hilang. Dilakukan prosedur yang sama terhadap sampel blanko.

Nilai Indeks Warna (Suden dan Putra, 2008)

Minyak jelantah yang telah dimurnikan dan telah disaring diambil secukupnya dan dimasukan ke dalam cuvet, diamati dalam lovibond, disesuaikan warna bahan dengan warna yang ada di lovibond, dihitung indeks warna dengan rumus :

Keterangan : NT = Nilai tertinggi NR = Nilai terendah NS = Nilai sedang

(

) (

NTNS

)

= NT -NR warna Indeks = Peroksida Bilangan (gram) Contoh Berat 1000 x O S Na N blanko) titrasi ml -O S Na titrasi


(42)

Viskositas (AOAC, 1970)

Pengukuran viskositas dengan menggunakan viskosimeter bola jatuh yang telah dimodifikasi. Diukur diameter bola, ditimbang massa contoh di dalam gelas ukur. Diambil bola dengan menggunakan pinset dan dilepaskan perlahan-lahan dari jarak 1 cm di atas contoh, diukur waktu jatuhnya bola. Ditentukan koefisien kekentalan dengan menggunakan rumus :

η

= 2/9 . r2/v. (pb – pc). g

Keterangan :

η

= Koefisien Kekentalan (N . m-2.s) r = Jari – jari Bola (m) v = Kecepatan (m.s-1)

g = Gravitasi (m.s-2)

ƒ

b= Massa jenis bola (g.cm-3)

ƒ

c = Massa jenis contoh (g.ml)

Uji Organoleptik (Aroma) (Soekarto, 1985)

Dilakukan pengujian organoleptik terdahap Aroma minyak jelantah yang telah dimurnikan dengan uji hedonik dengan skala numeric terhadap 10 orang panelis.

Tabel 2. Uji Skala Hedonik Penentuan Aroma Minyak Jelantah Yang Telah Dimurnikan

Skala Hedonik Skala Numerik

Tidak Tengik Agak Tengik Tengik

Sangat Tengik

4 3 2 1


(43)

SKEMA AKTIVASI ZEOLIT

Zeolit alam

Dihaluskan dan diayak dengan ukuran 80 mesh

Hasil ayakan dicampurkan dengan H2SO4 50 % dengan perbandingan 1 : 2

Dibiarkan selama 24 jam

Dibilas dengan aquadest hingga pH-nya netral

Dipanaskan dengan suhu 600 C hingga agak mengering

Dicampurkan lagi ke dalam HNO3 9 % dengan perbandingan 1 : 2

Dibiarkan selama 24 jam

Dibilas lagi dengan aquadest hingga pH-nya netral

Dipanaskan pada temperatur 300oC selama 3 jam

Zeolit Aktif


(44)

SKEMA PEMURNIAN MINYAK JELANTAH

Minyak jelantah

Dicampurkan dengan Zeolit aktif

Dipanaskan sambil di Stirrer selama 15 menit

Disaring dengan menggunakan saringan vakum.

Dicampurkan Karbon aktif sebanyak 20 % dari minyak jelantah

Dibiarkan selama 1 jam

Disaring lagi dengan menggunakan saringan vakum.

Minyak murni

Dilakukan analisa kadar air, kadar asam lemak Bebas,

bilangan peroksida, nilai indeks warna, viskositas dan organoleptik (aroma).

Gambar 4. Skema Pemurnian Minyak Jelantah

Zeolit Aktif K1 = 5 %

K2 =7,5 %

K3 = 10 %

K4 = 12,5 %

Suhu

Pencampuran T1 = 50ºC

T2 = 60ºC

T3 = 70ºC


(45)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh terhadap parameter yang diamati dari minyak jelantah yang dimurnikan.

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Parameter Yang Diamati Dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh terhadap kadar air, asam lemak bebas, bilangan peroksida, warna, viskositas dan organoleptik (aroma) pada minyak jelantah yang dimurnikan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3. Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Parameter Yang Diamati

Konsentrasi Zeolit Aktif

(%)

Kadar Air (%)

Asam Lemak Bebas (%)

Bilangan Peroksida

Indeks

Warna Viskositas (N/m-2s)

Organoleptik Aroma (Numerik) K1 = 5 0,267 0,796 5,314 5,475 0,002181 3,625

K2 = 7,5 0,249 0,704 3,794 5,300 0,002087 3,625

K3 = 10 0,226 0,638 3,195 5,188 0,001993 3,625

K4 = 12,5 0,196 0,579 1,821 5,150 0,001887 3,613

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa perbedaan konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh terhadap parameter yang diamati. Kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 0,267% sedangkan yang terendah pada

perlakuan K4 sebesar 0,196%. Asam lemak bebas tertinggi diperoleh pada

perlakuan K1 sebesar 0,796% sedangkan yang terendah pada perlakuan K4 sebesar

0,579%. Bilangan peroksida tertinggi diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 5,314

sedangkan yang terendah pada perlakuan K4 sebesar 1,821. Nilai indeks warna


(46)

terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar 5,150. Viskositas yang tertinggi terdapat

pada perlakuan K1 yaitu sebesar 0,002181 N/m2 dan viskositas yang terendah

terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar 0,001887 N/m2. Dan pada organoleptik

(aroma) memberikan pengaruh yang tidak nyata.

Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Parameter Yang Diamati Dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa suhu pencampuran memberikan pengaruh terhadap kadar air, asam lemak bebas, bilangan peroksida, warna, viskositas dan organoleptik (aroma) pada minyak jelantah yang dimurnikan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4. Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Parameter Yang Diamati

Suhu Pencampuran

(0C)

Kadar Air (%) Asam Lemak Bebas (%) Bilangan Peroksida Indeks Warna Viskositas (N/m-2s)

Organoleptik Aroma (Numerik) T1 = 50 0,244 1,036 2,800 5,650 0,002523 3,888

T2 = 60 0,238 0,705 3,348 5,513 0,001731 3,800

T3 = 70 0,232 0,588 3,710 5,363 0,001821 3,600

T4 = 80 0,224 0,388 4,267 4,588 0,002074 3,075

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa suhu pencampuran memberikan pengaruh terhadap parameter yang diamati. Nilai kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 0,244% dan terendah pada perlakuan T4 sebesar

0,224%. Nilai asam lemak bebas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar

1,036% dan terendah pada perlakuan T4 sebesar 0,388%. Nilai bilangan peroksida

tertinggi diperoleh pada perlakuan T4 sebesar 4,267 dan terendah pada perlakuan

T1 sebesar 2,8. Nilai indeks warna yang tertinngi terdapat pada perlakuan T1 yaitu

sebesar 5,650 dan yang terendah terdapat pada perlakuan T4 yaitu sebesar 4,588.


(47)

terendah terdapat pada perlakuan T2 yaitu sebesar 0,001731. Nilai organoleptik

aroma tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu sebesar 3,913 dan yang terendah

terdapat pada perlakuak T4 yaitu sebesar 3,100

Kadar Air (%)

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif (%) terhadap Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 1 dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air. Uji LSR pengaruh konsentrasi zeolit aktif terhadap kadar air disajikan pada Tabel 5 berikut:

Tabel 5. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 K 0,05 0,01

- - - K1 0,267 a A

2 0,0040 0,0055 K2 0,249 b B

3 0,0042 0,0058 K3 0,226 c C

4 0,0043 0,0059 K4 0,196 d D

Keterangan: Notasi uruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 berbeda sangat nyata

dengan perlakuan K2, K3, dan K4. Perlakuan K2 berbeda sangat nyata dengan K3,

dan K4. Serta perlakuan K3 berbeda sangat nyata dengan K4. Kadar air tertinggi

diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 0,267% sedangkan yang terendah pada

perlakuan K4 sebesar 0,196%.

Hubungan konsentrasi zeolit aktif terhadap kadar air minyak jelantah yang dimurnikan dapat dilihat ada Gambar 5 berikut:


(48)

Gambar 5. Grafik Hubungan Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi zeolit aktif menyebabkan semakin menurunnya kadar air. Hal ini disebabkan karena zeolit aktif merupakan adsorben sehingga menyerap air, ketika konsentrasinya meningkat, jumlah air yang terserap juga ikut meningkat dan akhirnya kadar air minyak jelantah yang telah dimurnikan semakin rendah. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (1994) yang menyatakan bahwa zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal aluminosilikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka 3 dimensinya. Ion – ion logam tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan dapat menyerap air secara reversibel.

Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari Lampiran 1 dapat dilihat bahwa suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air minyak jelantah yang dimurnikan. Uji LSR efek pengaruh suhu pencampuran terhadap kadar air dari minyak jelantah yang dimurnikan dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini:

ŷ = -0,0094K + 0,3166

r = -0,9945

0,080 0,102 0,124 0,146 0,168 0,190 0,212 0,234 0,256 0,278

2,5 5 7,5 10 12,5

Konsentrasi Zeolit Aktif (K) (%)

K

a

d

a

r

A

ir

(

%


(49)

Tabel 6. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air Minyak Jelantah Yang Dimurnikan.

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 T 0,05 0,01

- - - T1 0,244 a A

2 0,0040 0,0055 T2 0,238 b B

3 0,0042 0,0058 T3 0,232 c C

4 0,0043 0,0059 T4 0,224 d D

Keterangan: Notasi uruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 berbeda sangat nyata

dengan perlakuan T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 berbeda sangat nyata dengan

perlakuan T3 dan T4 serta perlakuan T3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan T4.

Nilai kadar air tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 0,244% dan terendah

pada perlakuan T4 sebesar 0,224%.

Hubungan antara suhu pencampuran dengan kadar air disajikan pada Gambar 6 berikut ini:

Gambar 6. Grafik Hubungan Suhu Pencampuran dengan Kadar Air (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

ŷ = -0,0006T+ 0,2763

r = -0,9983

0,220 0,225 0,230 0,235 0,240 0,245

40 50 60 70 80

Suhu Pencampuran (oC) (T)

K

a

d

a

r

A

ir

(

%


(50)

Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu pencampuran maka kadar air yang dihasilkan semakin rendah hal ini disebabkan karena semakin tinggi suhu maka gugus zeolit semakin reaktif atau reaksi kimianya akan semakin meningkat sehingga gugus aktif dari zeolit lebih banyak mengikat air dan sehingga kadar air yang terkandung dari minyak jelantah yang telah dimurnikan menjadi rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Saputra (2006) bahwa unsur-unsur kimia dalam minyak goreng (misalnya trigliserida) memiliki diameter kinetik yang terlalu besar dan akan membuat unsur-unsur ini tidak dapat melewati pori-pori zeolit sehingga secara efektif unsur-unsur kimia ini akan tersaring. Dengan demikian, secara teori maka separasi unsur-unsur kimia dari minyak goreng bekas dapat dilakukan oleh zeolit.

Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 1 dapat dilihat bahwa interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air dari minyak jelantah yang dimurnikan. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap kadar air minyak jelantah yang dimurnikan disajikan pada Tabel 7 berikut ini:


(51)

Tabel 7.Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 KT 0,05 0,01 - - - K1T1 0,286 a A

2 0,0028 0,0039 K1T2 0,272 b B

3 0,0030 0,0041 K1T3 0,262 c C

4 0,0030 0,0042 K1T4 0,248 e E

5 0,0031 0,0043 K2T1 0,264 c C

6 0,0032 0,0043 K2T2 0,255 d D

7 0,0032 0,0044 K2T3 0,243 f F

8 0,0032 0,0045 K2T4 0,232 g G

9 0,0032 0,0045 K3T1 0,228 h G

10 0,0032 0,0045 K3T2 0,228 h GH

11 0,0032 0,0045 K3T3 0,226 h H

12 0,0032 0,0046 K3T4 0,221 i I

13 0,0033 0,0046 K4T1 0,197 j J

14 0,0033 0,0046 K4T2 0,196 j J

15 0,0033 0,0046 K4T3 0,196 j J

16 0,0033 0,0046 K4T4 0,196 j J

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi zeolit aktif dan semakin meningkatnya suhu pencampuran maka kadar air minyak jelantah semakin menurun. Kadar air tertinggi sebesar 0,286% dan yang terendah yaitu sebesar 0,196%. Hal ini disebabkan karena zeolit merupakan penyerap air yang kuat kemudian dan dengan pemanasan akan menyebabkan zeolit semakin reaktif sehingga kadar air minyak jelantah yang dimurnikan akan semakin rendah pula. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (1994) yang menyatakan bahwa zeolit mempunyai struktur berongga dan biasanya rongga ini diisi oleh air dan kation yang dapat dipertukarkan dan memiliki ukuran pori yang tertentu. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring molekular, penukar ion, penyerap bahan dan katalisator.


(52)

Hubungan interaksi antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran disajikan pada Gambar 7 berikut ini:

Gambar 7. Grafik Hubungan Interaksi Antara Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Kadar Air Minyak Jelantah Yang Dimurnikan Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi zeolit aktif dan semakin tinggi suhu pencampuran, kadar air yang dihasilkan dari minyak jelantah yang dimurnikan akan semakin rendah. Hal ini disebabkan karena semakin tingginya suhu pencampuran akan menyebabkan semakin reaktif zeolit yang digunakan dan semakin tinggi konsentrasi zeolit aktifnya maka akan semakin kuat zeolit menyerap air yang ada di dalam minyak jelantah sehingga kadar airnya semakin rendah.

T1 ŷ = -0,0121K + 0,3498; r = -0,9958 T2 ŷ = -0,0102K + 0,327; r = -0,9912 T3 ŷ = -0,0086K + 0,307; r = -0,9911 T4 ŷ = -0,0067K + 0,2827; r = -0,9932

0,000 0,080 0,160 0,240 0,320

2,5 5 7,5 10 12,5

Konsentrasi Zeolit Aktif (%)

K

a

d

a

r

A

ir

(

%

)


(53)

Asam Lemak Bebas (%)

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Asam Lemak Bebas (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari Lampiran 2 dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap asam lemak bebas dari minyak jelantah yang dimurnikan. Uji LSR pengaruh konsentrasi zeolit aktif dengan asam lemak bebas disajikan pada Tabel 8 berikut ini:

Tabel 8. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Asam Lemak Bebas dari Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 K 0,05 0,01

- - - K1 0,796 a A

2 0,0181 0,0249 K2 0,704 b B

3 0,0190 0,0262 K3 0,638 c C

4 0,0195 0,0268 K4 0,579 d D

Keterangan: Notasi uruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 berbeda sangat nyata

dengan perlakuan K2, K3, dan K4. Perlakuan K2 berbeda sangat nyata dengan K3,

dan K4. Serta perlakuan K3 berbeda sangat nyata dengan K4. Asam lemak bebas

tertinggi diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 0,796% sedangkan yang terendah


(54)

Hubungan antara konsentrasi zeolit aktif dengan asam lemak bebas disajian dalam Gambar 8 berikut ini:

Gambar 8. Grafik Hubungan Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi zeolit aktif maka kandungan asam lemak bebas yang dihasilkan semakin rendah. Hal ini disebabkan karena zeolit aktif menyerap air dengan kuat sehingga dengan terserapnya air, produksi asam lemak bebas semakin menurun. Efek meningkatnya konsentrasi zeolit aktif akan membuat kandungan asam lemak bebas menjadi semakin rendah. Dimana yang menyebabkan asam lemak minyak jelantah tinggi ialah terputusnya ikatan rangkap antara mono gliserida dan digliserida dan memiliki kadar air yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (2007) yang menyatakan minyak jelantah adalah minyak makan hasil penggorengan yang telah digunakan berulang-ulang kali, akibat penggunaan yang berulang-ulang, otomatis minyak akan menerima banyak panas selama pemakaian sehingga memutus ikatan rangkap dan membuat minyak jelantah memiliki kandungan asam lemak bebas yang tinggi.

ŷ = -0,0288K + 0,9306 r = -0,9941

0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90

2,5 5,0 7,5 10,0 12,5

Konsentrasi Zeolit Aktif (K) (%)

A s a m L e m a k B e b a s ( % )


(55)

Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas (%) Minyak Jelantah Yang Dimurnikan.

Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 2 dapat dilihat bahwa suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan asam lemak bebas dari minyak jelantah yang dimurnikan. Uji LSR pengaruh suhu pencampuran terhadap kandungan asam lemak bebas dari minyka jelantah yang dimurnikan disajikan pada Tabel 9 berikut ini:

Tabel 9. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

0,05 0,01 T 0,05 0,01

- - - T1 1,036 a A

2 0,0181 0,0249 T2 0,705 b B

3 0,0190 0,0262 T3 0,588 c C

4 0,0195 0,0268 T4 0,388 d D

Keterangan: Notasi uruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 berbeda sangat nyata

dengan perlakuan T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 berbeda sangat nyata dengan

perlakuan T3 dan T4 serta perlakuan T3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan T4.

nilai asam lemak bebas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 1,036% dan


(56)

ŷ = -0,0206T+ 2,0205 r = -0,9802

0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00 1,10

40 50 60 70 80 90

Suhu Pencampuran (oC) (T)

A s a m L e m a k B e b a s ( % )

Hubungan antara suhu pencampuran dengan asam lemak bebas disajikan pada Gambar 9 berikut:

Gambar 9. Grafik Hubungan antara Suhu Pencampuran dengan Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah yang dimurnikan.

Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu pencampuran, maka kandungan asam lemak bebas yang dihasilkan akan semakin menurun. Hal ini disebabkan karena pada suhu yang tinggi zeolit semakin reaktif sehingga lebih banyak menyerap air didalam minyak jelantah. Dengan semakin berkurangnya air, maka proses penguraian lemak menjadi asam lemak bebas selama pemanasan menjadi terhambat dan akhirnya asam lemak bebas yang terbentuk semakin menurun. Banyaknya Asam lemak bebas pada minyak disebabkan oleh adanya air sehingga terjadi proses hidrolisis pada minyak jelantah. Hal ini sesuai dengan literatur Destianna, et al., (2007) yang menyatakan bahwa Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terpisahkan dari trigliserida, digliserida, monogliserida, dan gliserin bebas. Hal ini dapat disebabkan oleh pemanasan dan terdapatnya air sehingga terjadi proses hidrolisis.


(57)

Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 2 ternyata interaksi konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap asam lemak bebas minyak yang dimurnikan. Uji LSR pengaruh interaksi konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap kandungan asam lemak bebas dapat dilihat pada Tabel 10 berikut:

Tabel 10. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan.

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 KT 0,05 0,01 - - - K1T1 1,075 a A

2 0,0128 0,0176 K1T2 0,790 d D

3 0,0134 0,0185 K1T3 0,675 f F

4 0,0138 0,0190 K1T4 0,645 g G

5 0,0141 0,0193 K2T1 1,045 b B

6 0,0142 0,0196 K2T2 0,700 e E

7 0,0144 0,0199 K2T3 0,600 h H

8 0,0144 0,0201 K2T4 0,470 k I

9 0,0145 0,0203 K3T1 1,040 b B

10 0,0146 0,0204 K3T2 0,695 e E

11 0,0146 0,0205 K3T3 0,585 i H

12 0,0147 0,0206 K3T4 0,230 l J

13 0,0147 0,0207 K4T1 0,985 c C

14 0,0147 0,0208 K4T2 0,635 g G

15 0,0147 0,0209 K4T3 0,490 j I

16 0,0147 0,0209 K4T4 0,205 m K

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa pada perlakuan konsentrasi zeolit aktif tertinggi (12,5%) dan suhu pencampuran tertinggi (800C) memberikan asam lemak bebas yang terendah yaitu 0,205%.


(58)

Hubungan antara konsentrasi zeolit aktif dan suhu pencampuran terhadap asam lemak bebas dari minyak jelantah yang dimurnikan pada Gambar 10 berikut:

Gambar 10. Grafik Hubungan Interaksi Konsentrasi Zeolit Aktif dan Suhu Pencampuran Terhadap Asam Lemak Bebas Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi zeolit aktif dan semakin tinggi suhu pencampuran, kandungan asam lemak bebas akan semakin rendah. Hal ini disebabkan karena meningkatnya konsentrasi zeolit aktif sebagai adsorben dan dengan suhu pencampuran yang tinggi menyebabkan zeolit lebih reaktif untuk menyerap air minyak jelantah, sehingga dengan menurunnya kadar pada minyak maka proses hidrolisis yang menyebabkan asam lemak bebas tinggi akan semakin menurun juga, sehingga asam lemak bebas pada minyak jelantah yang dimurnikan akan semakin rendah.

T1 ŷ = -0,011K + 1,1325; r = -0,9467

T2 ŷ = -0,0188K+ 0,8695; r = -0,9495

T3 ŷ = -0,0228K + 0,787; r = -0,9683 T4 ŷ = -0,0624K + 0,9335; r = -0,9629 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00 1,10 1,20

2,5 5 7,5 10 12,5

Konsentrasi Zeolit Aktif (%)

A s a m L e m a k B e b a s ( % )


(59)

Bilangan Peroksida

Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 3 dapat dilihat bahwa konsentrasi zeolit aktif memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) bilangan peroksida minyak jelantah yang dimurnikan. Uji LSR pengaruh konsentrasi zeolit aktif terhadap bilangan peroksida dari minyak jelantah sebagai berikut:

Tabel 11. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif Terhadap Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan.

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 K 0,05 0,01

- - - K1 5,314 a A

2 0,2864 0,3942 K2 3,794 b B

3 0,3007 0,4143 K3 3,195 c C

4 0,3083 0,4248 K4 1,821 d D

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa perlakuan perlakuan K1 berbeda sangat

nyata dengan perlakuan K2, K3, dan K4. Perlakuan K2 berbeda sangat nyata dengan

K3, dan K4. Serta perlakuan K3 berbeda sangat nyata dengan K4. Bilangan

peroksida tertinggi diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 5,314 sedangkan yang

terendah pada perlakuan K4 sebesar 1,821.

Hubungan antara konsentrasi zeolit aktif dengan bilangan peroksida disajikan pada Gambar 11 berikut:


(60)

Gambar 11. Grafik Hubungan Pengaruh Konsentrasi Zeolit Aktif dengan Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan.

Dari Gambar 11 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi zeolit maka bilangan peroksida semakin menurun. Hal ini disebabkan karena zeolit aktif merupakan adsorben aktif yang mempunyai permukaan yang luas yang tersusun oleh pori-pori yang halus dan besar sehingga lebih kuat menyerap kotoran-kotoran dan kadar air yang terdapat pada minyak jelantah sehingga semakin tinggi konsentrasinya semakin banyak senyawa peroksida yang terserap. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bernasconi (1995) bahwa permukaan yang luas ini tersusun oleh banyaknya pori halus pada padatan tersebut. Disamping luas spesifik dan diameter pori, distribusi ukuran partikel, maupun kekerasannya merupakan sifat karakterisik yang penting dari suatu adsorben. Tergantung pada tujuan penggunaannya, adsorben dapat berupa granulat ( biasanya untuk menyerap gas) atau serbuk (biasanya untuk adsorpsi campuran cair).

ŷ = -0,4431K + 7,4084

r = - 0,9880

0,000 0,900 1,800 2,700 3,600 4,500 5,400

2,5 5,0 7,5 10,0 12,5

Konsentrasi Zeolit Aktif (K) (%)

B

il

a

n

g

a

n

P

e

ro

k

s

id


(61)

Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

Dari hasil analisis sidik ragam pada Lampiran 3 dapat dilihat bahwa suhu pencampuran memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap bilangan peroksida dari minyak jelantah yang dimurnikan. Uji LSR pengaruh suhu pencampuran terhadap bilangan peroksida disajikan ada Tabel berikut:

Tabel 12. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Suhu Pencampuran Terhadap Bilangan Peroksida Minyak Jelantah Yang Dimurnikan

jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0,05 0,01 T 0,05 0,01

- - - T1 2,800 d C

2 0,2864 0,3942 T2 3,348 c B

3 0,3007 0,4143 T3 3,710 b B

4 0,3083 0,4248 T4 4,267 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% dan sangat nyata pada taraf 1 %.

Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 berbeda sangat nyata

dengan perlakuan T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 berbeda sangat nyata dengan

perlakuan T3 dan T4 serta perlakuan T3 berbeda sangat nyata dengan perlakuan T4.

Nilai bilangan peroksida tertinggi diperoleh pada perlakuan T4 sebesar 4,267 dan

terendah pada perlakuan T1 sebesar 2,800.

Hubungan antara suhu pencampuran dan bilangan peroksida disajikan pada Gambar 12 berikut:


(1)

Lampiran 5. Data Pengamatan Analisis Bilangan Peroksida

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II

K1T1 3,529 3,998 7,527 3,764 K1T2 5,140 4,263 9,403 4,702 K1T3 6,018 6,018 12,036 6,018 K1T4 6,609 6,936 13,545 6,773 K2T1 3,121 3,203 6,324 3,162 K2T2 3,835 3,916 7,751 3,876 K2T3 3,835 3,958 7,793 3,897 K2T4 4,304 4,182 8,486 4,243 K3T1 2,652 2,754 5,406 2,703 K3T2 2,958 3,183 6,141 3,071 K3T3 2,958 3,223 6,181 3,091 K3T4 3,407 4,427 7,834 3,917 K4T1 1,509 1,632 3,141 1,571 K4T2 1,754 1,734 3,488 1,744 K4T3 1,815 1,856 3,671 1,836 K4T4 2,166 2,101 4,267 2,134 Total 55,610 57,384 112,994 56,497 Rataan 3,476 3,587 7,062 3,531 Lampiran 6. Daftar Analisis Sidik Ragam Bilangan Peroksida

SK db JK KT F hit. F0.05 F0.01

Perlakuan 15 64,23 4,28 58,75 ** 2,35 3,41

K 3 50,28 16,76 229,95 ** 3,24 5,29

K Lin 1 3141,69 3141,69 43103,10 ** 4,49 8,53

K Kuad 1 2,70 2,70 37,05 ** 4,49 8,53

K Kub 1 73,64 73,64 1010,27 ** 4,49 8,53

T 3 9,13 3,04 41,76 ** 3,24 5,29

T Lin 1 580,64 580,64 7966,28 ** 4,49 8,53

T Kuad 1 0,01 0,01 0,12 tn 4,49 8,53

T Kub 1 3,70 3,70 50,72 ** 4,49 8,53

KT 9 4,82 0,54 7,35 ** 2,54 3,78

Galat 16 1,17 0,07

Total 31 65,40

Keterangan :

FK = 398,99 KK = 0,0764578% ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata


(2)

Lampiran 7. Data Pengamatan Analisis Nilai Indeks warna

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II

K1T1 5,7 5,7 11,40 5,70

K1T2 5,7 5,6 11,30 5,65

K1T3 5,7 5,5 11,20 5,60

K1T4 5,1 4,8 9,90 4,95

K2T1 5,6 5,7 11,30 5,65

K2T2 5,5 5,6 11,10 5,55

K2T3 5,4 5,4 10,80 5,40

K2T4 4,6 4,6 9,20 4,60

K3T1 5,6 5,7 11,30 5,65

K3T2 5,4 5,4 10,80 5,40

K3T3 5,3 5,1 10,40 5,20

K3T4 4,4 4,6 9,00 4,50

K4T1 5,6 5,6 11,20 5,60

K4T2 5,4 5,5 10,90 5,45

K4T3 5,3 5,2 10,50 5,25

K4T4 4,2 4,4 8,60 4,30

Total 84,500 84,400 168,900 84,450 Rataan 5,281 5,275 10,556 5,278

Lampiran 8. Daftar Analisis Sidik Ragam Nilai Indeks Warna

SK db JK KT F hit. F0.05 F0.01

Perlakuan 15 6,140 0,409 42,25 ** 2,35 3,41

K 3 0,511 0,170 17,58 ** 3,24 5,29

K Lin 1 30,276 30,276 3125,26 ** 4,49 8,53

K Kuad 1 2,420 2,420 249,81 ** 4,49 8,53

K Kub 1 0,004 0,004 0,41 tn 4,49 8,53

T 3 5,418 1,806 186,44 ** 3,24 5,29

T Lin 1 285,156 285,156 29435,46 ** 4,49 8,53 T Kuad 1 52,020 52,020 5369,81 ** 4,49 8,53

T Kub 1 9,604 9,604 991,38 ** 4,49 8,53

KT 9 0,210 0,023 2,41 tn 2,54 3,78

Galat 16 0,155 0,010

Total 31 6,295

Keterangan :

FK = 891,48 KK = 0,018648% ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata


(3)

Lampiran 9. Data Pengamatan Analisis Viskositas (N/m2)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II

K1T1 0,002738 0,002718 0,005456 0,002728 K1T2 0,001845 0,001825 0,003670 0,001835 K1T3 0,001915 0,001906 0,003821 0,001911 K1T4 0,002257 0,002245 0,004502 0,002251 K2T1 0,002758 0,002753 0,005511 0,002756 K2T2 0,001716 0,001720 0,003436 0,001718 K2T3 0,001845 0,001838 0,003683 0,001842 K2T4 0,002042 0,002023 0,004065 0,002033 K3T1 0,002487 0,002469 0,004956 0,002478 K3T2 0,001695 0,001683 0,003378 0,001689 K3T3 0,001772 0,001778 0,003550 0,001775 K3T4 0,002025 0,002037 0,004062 0,002031 K4T1 0,002128 0,002135 0,004263 0,002132 K4T2 0,001683 0,001679 0,003362 0,001681 K4T3 0,001750 0,001761 0,003511 0,001756 K4T4 0,001985 0,001978 0,003963 0,001982 Total 0,032641 0,032548 0,065189 0,032595 Rataan 0,002040 0,002034 0,004074 0,002037 Lampiran 10. Daftar Analisis Sidik Ragam Viskositas (N/m2)

SK db JK KT F hit. F0.05 F0.01

Perlakuan 15 0,0000036772 0,0000002451 3325,40 ** 2,35 3,41 K 3 0,0000003805 0,0000001268 1720,45 ** 3,24 5,29 K Lin 1 0,0000243298 0,0000243298 330034,90 ** 4,49 8,53 K Kuad 1 0,0000000173 0,0000000173 234,65 ** 4,49 8,53 K Kub 1 0,0000000042 0,0000000042 57,56 ** 4,49 8,53 T 3 0,0000030273 0,0000010091 13688,61 ** 3,24 5,29 T Lin 1 0,0000405056 0,0000405056 549461,13 ** 4,49 8,53 T Kuad 1 0,0001400134 0,0001400134 1899291,27 ** 4,49 8,53 T Kub 1 0,0000132296 0,0000132296 179460,45 ** 4,49 8,53 KT 9 0,0000002694 0,0000000299 405,97 ** 2,54 3,78

Galat 16 0,0000000012 0,0000000001

Total 31 0,0000036783

Keterangan :

FK = 0,000133 KK = 0,00421468% ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata


(4)

Lampiran 11. Data Pengamatan Analisis Organoleptik (Aroma)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II

K1T1 3,90 3,90 7,80 3,90

K1T2 3,80 3,90 7,70 3,85

K1T3 3,80 3,70 7,50 3,75

K1T4 3,00 3,00 6,00 3,00

K2T1 4,00 3,70 7,70 3,85

K2T2 3,90 3,90 7,80 3,90

K2T3 3,50 3,60 7,10 3,55

K2T4 3,10 3,30 6,40 3,20

K3T1 3,90 3,90 7,80 3,90

K3T2 3,90 3,90 7,80 3,90

K3T3 3,60 3,50 7,10 3,55

K3T4 3,00 3,30 6,30 3,15

K4T1 4,00 4,00 8,00 4,00

K4T2 3,70 3,80 7,50 3,75

K4T3 3,80 3,50 7,30 3,65

K4T4 3,00 3,10 6,10 3,05

Total 57,900 58,000 115,900 57,950 Rataan 3,619 3,625 7,244 3,622

Lampiran 12. Daftar Analisis Sidik Ragam Organoleptik (Aroma)

SK db JK KT F hit. F0.05 F0.01

Perlakuan 15 3,430 0,229 19,77 ** 2,35 3,41

K 3 0,001 0,000 0,03 tn 3,24 5,29

K Lin 1 0,036 0,036 3,11 tn 4,49 8,53

K Kuad 1 0,020 0,020 1,73 tn 4,49 8,53

K Kub 1 0,004 0,004 0,35 tn 4,49 8,53

T 3 3,271 1,090 94,30 ** 3,24 5,29

T Lin 1 181,476 181,476 15695,22 ** 4,49 8,53 T Kuad 1 27,380 27,380 2368,00 ** 4,49 8,53

T Kub 1 0,484 0,484 41,86 ** 4,49 8,53

KT 9 0,158 0,018 1,52 tn 2,54 3,78

Galat 16 0,185 0,012

Total 31 3,615

Keterangan :

FK = 419,78 KK = 0,02968878% ** = sangat nyata * = nyata tn = tidak nyata


(5)

Lampiran 13. Gambar Minyak Jelantah dan Minyak Curah ( Murni )


(6)

Lampiran 14. Gambar Minyak Jelantah Yang Telah Dimurnikan

K

1

T

1

K

2

T

1

K

3

T

1

K

4

T

1

K

1

T

2

K

2

T

2

K

3

T

2

K

4

T

2

K

1

T

3

K

2

T

3

K

3

T

3

K

4

T

3