Skrofuloderma

LAPORAN KASUS
SKROFULODERMA
DERYNE ANGGIA PARAMITA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Daftar Isi ........................................................................................................................ I. Pendahuluan .......................................................................................................... II. Epidemiologi ......................................................................................................... III. Etiologi .................................................................................................................. IV. Manifestasi Klinis ................................................................................................. V. Histopatologi ......................................................................................................... VI. Diagnosis ............................................................................................................... VII. Diagnosis Banding ................................................................................................ VIII.Prognosis ............................................................................................................... IX. Penatalaksanaan..................................................................................................... X. Laporan Kasus....................................................................................................... XI. Diskusi .................................................................................................................. Daftar Pustaka ...............................................................................................................

1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 6 7

Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN
Skrofuloderma ( tuberculosis colliquativa cutis) adalah tuberkulosis subkutaneus yang dikarakteristikkan dengan pembentukan abses dingin dan secara sekunder menyebabkan rusaknya formasi kulit dibawahnya. Merupakan perjalanan perkontinuitatum dari organ dibawah kulit yang telah diserang penyakit tuberkulosis. 1,2
II. EPIDEMIOLOGI
Tuberkulosis kulit hanya sebagian kecil dari semua kasus tuberkulosis (<1 %- 2%) yang lebih kurang terdapat 8.417.00 kasus baru secara global.3 .
Di negara-negara barat tuberkulosis kutis dengan frekuensi terbanyak adalah bentuk lupus vulgaris, sedangkan didaerah tropis termasuk Indonesia, skrofuloderma dan tuberkulosis kutis verukosa merupakan bentuk yang paling sering dijumpai. 1-4
III. ETIOLOGI
Penyebab dari skrofuloderma adalah Mycobacterium tuberculosis. M.tuberculosis merupakan kuman aerob, patogen pada manusia, bersifat tahan asam dan hidupnya intraseluler fakultatif. Bakteri ini merupakan kuman bentuk batang yang lebih halus daripada M. leprae, memiliki panjang 2-4 µm dan lebar 0,3-1,5 µm, tidak bergerak, sedikit bengkok, dan biasanya tersusun satu-satu atau berpasangan. Sifat tahan asam kuman ini lebih baik daripada kuman leprae. Suhu optimal pertumbuhan kuman pada 370C.1,3,4
Tuberkulosis kutis dapat ditularkan melalui inhalasi, ingesti, dan inokulasi langsung pada kulit dari sumber infeksi. Selain manusia, sumber infeksi kuman tuberkulosis adalah anjing, kera, atau kucing.1
IV. MANIFESTASI KLINIS
Skrofuloderma paling sering terjadi pada daerah parotid, submandubular, supraklavikular dan dapat terjadi bilateral. Jika terjadi dalam bentuk nodul subkutaneus yang keras, biasanya ia berbatas tegas, mobile, dan asimptomatik. Lama kelamaan lesi akan meluas
Universitas Sumatera Utara

dan melunak. Setelah beberapa bulan, timbul cairan, dan menyebabkan terbentuknya ulkus dan sinus. Ulkus tampak seperti satu garis atau serpiginous dengan batas yang meninggi, bewarna kebiruan dengan dasar yang lembut dan bergranular. Terdapat jalur sinusoidal dibawah kulit. Celah ulkus berselang-seling dengan nodul yang lunak. Terbentuk jalur parut dan daerah jembatan ulseratif bahkan sampai membuat kulit tertarik. Sensitivitas tuberkulin biasanya terjadi.2-7
V. HISTOPATOLOGI
Nekrosis yang masif dan pembentukan abses pada tengah daripada lesi adalah tidak spesifik. Tetapi bagian perifer daripada lesi atau batas sinusnya mangandung granuloma tuberkuloid. Struktur tuberkel dengan kaseasi berat dijumpai pada bagian dalam dermis, disertai dengan banyak sel raksasa Langhans. Banyak dijumpai basil tahan asam. Semakin tua lesi, basil semakin sulit ditemukan.1,2
VI. DIAGNOSIS
Diagnosis klinis tergantung evaluasi yang hati-hati pada keadaan klinisnya. Bukti yang mendukung termasuk data epidemiologi, riwayat kontak atau penyakit tuberkulosis sebelumnya, dan hasil dari reaksi tuberkulin.3
Biopsi kulit perlu dilakukan pada semua kasus dan pewarnaan spesimen dan kultur untuk bakteri tahan asam. Jika terdapat limfadenitis tuberkulosis yang mendasarinya atau tulang dan penyakit sendi, diagnosis tidak sulit untuk ditegakkan.2
VII. DIAGNOSIS BANDING
Skrofuloderma perlu dibedakan dengan aktinomikosis, hidradenitis supuratif, limfogranuloma venereum, blastomikosis, sporotrikosis dan akne konglobata.1-2
VIII. PROGNOSIS
Penyembuhan spontan dapat terjadi, tetapi hal ini sangat lama terjadi, memakan waktu bertahun sampai ulkus terganti jaringan parut. Dijumpainya parut cribiform tipikal.2
Universitas Sumatera Utara

IX. PENATALAKSANAAN Karena hampir sebagian kasus tuberkulosis pada kulit berhubungan dengan penyakit
tuberkulosis pada organ lain dan jumlah basil pada kulit biasanya lebih sedikit dibandingkan tempat lain, regimen pengobatan, seperti yang digunakan untuk pengobatan tuberkulosis paru, dapat mencukupi.2-3
Regimen terapi standar meliputi 2 bulan pengobatan quadrupel (isoniazid, rifampisin, pyrazinamid, etambutol) diikuti 4 bulan isoniazid dan rifampisin. Pengobatan yang lebih lama biasanya karena adanya keterlibatan organ lain seperti sistem saraf pusat atau tulang atau pada pasien dengan HIV.3
Kriteria penyembuhan pada skrofuloderma ialah semua fistel dan ulkus telah menutup, seluruh kelenjar getah bening mengecil (kurang dari 1 cm dan berkonsistensi keras), dan sikatriks yang semula eritematosa menjadi tidak eritematosa lagi. Laju endap darah (LED) dapat dipakai sebagai pegangan untuk menilai penyembuhan pada penyakit tuberkulosis. Jika terjadi penyembuhan, LED akan menurun dan menjadi normal.4,5
Tabel 1. Pedoman pengobatan tuberkulosis kutis2 X. LAPORAN KASUS
Seorang laki-laki berusia 23 tahun, pekerjaan buruh, datang ke poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin konsul dari poliklinik Paru dengan keluhan berupa borok yang
Universitas Sumatera Utara

mengeluarkan cairan pada ketiak kanan dan sisi tubuh kanan sejak 1 bulan terakhir. Dua bulan sebelumnya pasien telah didiagnosis dengan efusi pleura dan telah dilakukan penyedotan cairan pleura.
Pada pemeriksaan dermatologis tampak ulkus dangkal, berbatas tegas, pinggir menggaung, warna livid (biru keungguan), multipel, ukuran 4 cm x 3 cm, 1,5 cm x 2 cm dan 1 cm x 2,5 cm dikelilingi krusta dan sikatriks pada bagian lateral dekstra setentang iga 7-8, dan ulkus, batas tegas, pinggir menggaung dan bewarna kebiruan dengan ukuran 2 cm x 3 cm yang ditutupi krusta dan sikatrik pada regio aksila dekstra. Nyeri dan gatal tidak dijumpai. (Gbr 1)
Pada pemeriksaan foto thoraks tampak efusi pleura dengan penebalan pleura kanan (pleuritis) dan konsolidasi peradangan pada paru kanan e.c sugestif TB dan pemeriksaan tes mantoux positif dengan indurasi 30 x 30 mm.
Pada pemeriksaan biopsi dari kerokan kulit tampak sel datia, dengan latar belakang selsel limfosit dan PMN. Tidak dijumpai tanda-tanda keganasan. Kesimpulan suatu radang kronis spesifik yang lazim dijumpai pada tuberkulosis. (Gbr 2)
Gbr 1. Ulkus pada lateral dekstra dan regio aksila dekstra
Pasien di diagnosis banding dengan skrofuloderma, blastomikosis, hidraadenitis supuratif. Dengan diagnosis kerja skrofuloderma.
Pasien diterapi dengan regimen multidrug therapy tuberculosis yaitu ripamfisin 450 mg, isoniazid (INH) 300 mg, pirazinamid 1000 mg, dan etambutol 1000 mg. Dan perawatan luka untuk ulkus dengan kompres NaCl 0,9 % selama 15 menit sebanyak 4-5 xperhari dan pemberian antibiotik topikal golongan gentamisin.
Universitas Sumatera Utara

GBr 2. Gambaran Sitologi
XI. DISKUSI
Skrofuloderma atau yang disebut juga tuberculosis colliquativa cutis merupakan salah satu bentuk tuberkulosis kutis sekunder yang timbul karena perluasan langsung dari tuberkulosis kelenjar limfe, tulang atau sendi. Perjalanan penyakitnya kronis dan sering kambuh.1,2
Pada kasus, tampak ulkus dangkal, berbatas tegas, pinggir menggaung, warna livid (biru keungguan), multipel, ukuran 4 cm x 3 cm, 1,5 cm x 2 cm dan 1 cm x 2,5 cm dikelilingi krusta dan sikatriks pada bagian lateral dekstra setentang iga 7-8, dan ulkus, batas tegas, pinggir menggaung dan bewarna kebiruan dengan ukuran 2 cm x 3 cm yang ditutupi krusta dan sikatrik pada regio aksila dekstra. Nyeri dan gatal tidak dijumpai. Sebelumnya pasien telah didiagnosis dengan efusi pleura kanan. Ini dapat menegakkan diagnosis skrofuloderma, dimana skrofuloderma merupakan akibat perjalanan perkontinuitatum dari organ dibawah kulit yang telah diserang penyakit tuberkulosis.1,2
Pada pemeriksaan biopsi dari kerokan kulit tampak sel datia, dengan latar belakang selsel limfosit dan PMN. Tidak dijumpai tanda-tanda keganasan. Ini merupakan gambaran yang mengarah ke suatu tuberkulosis, dimana pada tuberkulosis akan banyak dijumpai sel raksasa Langhans.2
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA 1. Soebono H. Penyakit kulit oleh mikobakteria. In : Harahap M. editor. Ilmu penyakit
kulit. Jakarta: Hipokrates; 2000. p. 272-6. 2. Tappeiner G. Tuberculosis and infection with atypical Mycobacteria. In : Wolff K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 7th ed. New York: McGraw-Hill; 2008. p.1927-40. 3. Bravo FG, Gotuzzo E. Cutaneous Tuberculosis . Clinics in Dermatology. 2007; 25(2):173-180 4. Djuanda A. Tuberkulosis kutis. In : Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 4th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2005. p. 64-72. 5. Scrofuloderma. Available from: URL: HYPERLINK http://www.mercywords.blogspot.com/2008/09/skrofuloderma.html. 6. Meltzer MS, Nacy CA. Cutaneous tuberculosis. Available from: URL: HYPERLINK http://www.emedicine.medscape.com/article/1105317 7. Tuberculosis cutis. Available from: URL: HYPERLINK http://www.medlinux.blogspot.com/2007/12/tuberculosis-cutis.html
Universitas Sumatera Utara

Dokumen yang terkait

Skrofuloderma

 5  44  8

Dokumen baru