FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL REMAJA TERHADAP ORANG TUA DI DESA LABUHAN RATU PASAR KECAMATAN SUNGKAI SELATAN KABUPATEN LAMPUNG UTARA PROVINSI LAMPUNG

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL REMAJA TERHADAP ORANG TUA DI DESA

LABUHAN RATU PASAR KECAMATAN SUNGKAI SELATAN KABUPATEN LAMPUNG UTARA

PROVINSI LAMPUNG OLEH

ENDA MAULANA

Masa Remaja Merupakan masa perkembangan dalam kehidupan manusia yang mengalami berbagai perubahan baik fisik dan psikis. Semua perubahan ini mempengaruhi penampilan, sikap serta tingkah laku para remaja. Keadaan tersebut telah membawa berbagai perubahan perilaku remaja, termasuk perubahan perilaku remaja terhadap orang tuanya. Pengasuhan keluarga yang salah dan lingkungan masyarakat yang buruk dapat menimbulkan berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan para remaja terhadap orang tua. Selain itu pergaulan remaja yang tidak baik dengan teman sebaya juga dapat menyebabkan perubahan perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma yang ada dan berlaku dalam masyarakat.

Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung utara Provinsi Lampung. Metode yang digunakan dalah metode penelitian deskriftif dengan sampel berjumlah 39 orang remaja dan analisis data yang digunakan penelitian ini adalah dengan presentase.

Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua yang disebabkan oleh faktor pengasuhan keluarga yang tegolong kategori tinggi 46,15% , tergolong sedang 41,03% dan yang tergolong rendah 12,82%. Sedangkan perubahan yang disebabkan oleh faktor kelompok teman sebaya yang tergolong kategori tinggi dan sedang 43,59% dan tergolong rendah 12,82%. Sedangkan perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua yang disebabkan oleh faktor lingkungan masyrakat yang tergolong tinggi sebesar 58,96%, tergolong sedang sebanyak 30,77% dan tergolong kategori rendah sebesar 10,27%. Sehingga dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh faktor pengasuhan keluarga, kelompok teman sebaya dan lingkungan


(2)

orang tua adalah faktor lingkungan masyarakat dengan nilai presentase sebesar 58,9%.


(3)

FACTORS AFFECTING CHANGES IN SOCIAL BEHAVIOR IN ADOLESCENT PARENTS OF QUEEN VILLAGE MARKET HARBOR

SUNGKAI SOUTHERN DISTRICT NORTH DISTRICT LAMPUNG PROVINCE LAMPUNG

BY

ENDA MAULANA

Adolescence is a developmental period in human life which have a variety of changes both physical and psychic. All these changes affect the appearance, attitude and behavior of teenagers. Situation has brought many changes in adolescent behavior, including changes in adolescent behavior towards his parents. Family caregiving is wrong and that poor communities can cause a variety of deviant behaviors committed by teenagers to the elderly. In addition teenagers who are not good association with peers can also cause changes in teenage behavior that is incompatible with the existing norms and prevailing in the society.

The research objective is to elucidate the factors that influence changes in social behavior of adolescents to the elderly in the village of Market District Sungkai Labuhan Queen of South Lampung Regency northern province of Lampung. The method used dalah descriptive research method with the sample of 39 adolescents and analysis of the data used is the percentage of the study.

Based on the analysis of the data can be seen that changes in social behavior of adolescents to their parents due to family caregiving factors tegolong high category 46.15%, 41.03% and is considered a relatively low 12.82%. While the changes caused by factors that belong to peer groups and high categories were 43.59% and 12.82% is low. While changes in social behavior of adolescents to the elderly caused by environmental factors is high society of 58.96%, were classified as belonging as much as 30.77% and 10.27% for lower categories. So that from the results of this analysis can be concluded that the influence of family caregiving factors, peer groups and society tends to high. But of the three factors above percentages are very high in influencing change in social attitudes toward teen parents are the environmental factors with the percentage value of 58.9%.


(4)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap masyarakat selama kehidupanya pasti selalu mengalami perubahan secara terus menerus. Perubahan-perubahan itu dapat berupa perubahan yang menarik, perubahan yang luas pengaruhnya, perubahan cepat, perubahan yang lambat dan lain sebagainya. Secara umum perubahan dari masyarakat terbagi atas perubahan fisik dan perubahan non fisik. Perubahan yang terjadi dalam suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat lainya, baik dalam hal bentuk maupun

kecepatan perubahannya. Hal ini karena perubahan yang yang terjadi dalam suatu masyarakat disebabkan oleh berbagai faktor, dimana faktor-faktor yang

mempengaruhi perubahan dalam masyarakat tersebut satu dengan yang lain berbeda.

Soerjono soekanto (2002 : 301) menjelaskan bahwa “perubahan-perubahan non-fisik di dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan lapisan-lapsian dalam

masyarakat, kekuasaan, wewenang, interaksi sosial dan sebagainya.”

Perubahan-perubahan fisik dapat berupa perubahan sarana transportasi dan komunikasi, pembangunan gedung-gedung dan lain sebgainya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi ada yang direncanakan terlebih dahulu dan ada yang


(5)

tidak direncanakan. Perubahan yang direncanakan seperti pembangunan ekonomi, modernisasi dan sebagainya, merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat.

Perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki atau disebut perubahan yang tidak direncanakan yang berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat, sehingga perubahan-perubahan tersebut terkadang kurang diharapkan oleh masyarakat disatu pihak dan mungkin saja sangat diharapkan dipihak lain. Dimana perubahan tersebut adalah sebagai akibat dari pergaulan yang masuk tanpa ada seleksi oleh masyarakat melainkan langsung ditiru dan diterima seperti perubahan gaya hidup, perilaku dan sebagainya yang dapat menimbulkan masalah dalam perubahan dimasyarakat.

Satu dari perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat adalah perubahan sosial budaya. Perubahan sosial budaya adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku diantara individu atau kelompok-kelompok serta perubahan unsur-unsur budaya. ( Soerjono Soekanto, 2002 : 350)

Oleh karena itu, perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat diartikan sebagai perubahan bentuk dan nilai sosial budaya lama ke arah bentuk dan nilai sosial yang baru. Perubahan yang sering terjadi sering kali masih meniggalkan pola-pola lama, namun terkadang sama sekali merupakan bentuk baru yang tidak diwarnai oleh sosial budaya lama.


(6)

Remaja sebagai bagian dari masyarakat merupakan mahluk yang dinamis, sebab selama masa remaja bahkan selama hidupnya selalu mengalami perubahan fisik maupun perubahan psikis. Remaja selalu mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat dimana ia berada, termasuk didalamnya adalah perubahan sosial budaya. Perubahan sosisal budaya di kalangan remaja

memainkan perenan yang besar dalam pembentukan dan pengkondisian tingkah laku remaja.

Salah satu bentuk perubahan sosial budaya di kalangan remaja adalah perubahan perilaku sosial remaja dalam berintraksi dengan orang tuanya. Perilaku sosial sendiri merupakan segala tindakan atau perubahan manusisa sebagai bentuk responketika berhadapan dengan orang lain. Jadi, perilaku sosial remaja yang dapat dilihat dari cara bicara, bersikap dan bereaksi ketika terjadi interaksi antara anak dengan orang tuanya.

Berbagai tata cara berperilaku seorang remaja terhadap orang tua diajarakan dalam norma-norma yang ada dan berlaku dalam masyarakat indonesia. Norma-norma tersebut antara lain Norma-norma hukum, Norma-norma agama, Norma-norma adat dan Norma-norma kesopanan serta kesusilaan. Dalam norma hukum di indonesia perilaku seorang anak terhadap orang tuanya diatur dalam pasal 19 UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang menyebutkan bahwa :

a. Menghormati orang tua, wali dan guru

b. Mencintai keluarga, masyarakat dan menyangi teman c. Mencintai tanah air, bangsa dan negara

d. Menunaikan ibadah sesuai ajaran agamanya dan e. Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.


(7)

Berdasarkan undang-undang tersebut, maka seorang anak (remaja) secara hukum berkewajiban untuk menghormati, menyayangi dan mengerjakan etika dan akhlak yang mulia terhadap orang tuanya. Seorang anak tidak dibenarkan melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyakiti orang tua, baik secara psikis maupun fisik. Tindakan menyakiti orang tua dengan tindakan psikis seperti berkata kasar dan tidak menghormati orang tua, tindakan fisiknya seperti melakukakn tindakan kekerasan kepada orang tua. Hal ini merupakan suatu keseimbangan dalam menjaga hubungan yang harmonis dalam keluarga, karena betapa besar rasa sayang dan pengorbanan yang telah diberikan orang tua terhadap anaknya.

Sebagai orang tua pun harus memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang besar untuk mampu mensejahterakan, melindungi dan menumbuhkembangkan anak untuk dapat meraih sebuah prestasi yang ingin dicapainya ketika ia dewasa. Seperti yang ditegaskan Dalam Bab IV Bagian keempat pasal 26 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak disebutkan juga apa saja yang

menjadi tanggung jawab dan kewajiban orang tua terhadap anaknya, disebutkan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :

a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak

b. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya dan

c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Selanjutnya dalam UU No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak Bab II Pasal 9, berkaitan dengan tanggung jawab orang tua terhadap kesejahteraan anak

disebutkan bahwa, “Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab


(8)

Mengingat betapa besar kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, sebagaimana tercantum dalam undang-undang yang diuraikan diatas maka sudah selayaknya seorang anak untuk beretika dan berakhlak mulia kepada orang tuanya dengan cara menghormati, menghargai, menyayangi dan

melaksanakan segala perintah dari orang tuanya sejauh perintah itu untuk hal yang baik.

Uraian mengenai bagaimana seharusnya seorang anak (remaja) berperilaku terhadap orang tuanya diatas diperkuat dengan penjelasan yang terdapat dalam norma agama, norma adat, norma kesopanan dan kesusilaan. Menurut keyakinan agama islam dijelaskan bahwa anak berkewajiban untuk taat terhadap orang tua sejauh perintah tersebut adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat serta bukan untuk bermaksiat kepada Allah. Namun demikian ketaatan dan kepatuhan kepada Allah harus melebihi ketaatan kepada siapapun.

Salah satu ajaran norma agama mengenai pergaulan dengan orang tua tercantum dalam Al-Qur’an Surat Bani Isra’il ayat23, yang artinya :

“dan Tuhan-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan keduanya

perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.(Q.S. 17 : 23)

Berdasarkan ayat tersebut, maka seorang anak berkewajiban untuk berkata yang

mulia kepada orang tuanya, tidak diperbolehkan berkata “ah” apalagi sampai

membentak. Begitu juga dijelaskan dalam norma adat dan kesopanan, sudah menjadi kewajiban bagi anak unuk berkata, bersikap dan berbuat mulia kepada orang tuanya. Sesuatu yang menyakitkan orang tua, baik fisik maupun psikis


(9)

dipandang masyarakat sebagai sesuatu hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam norma adat dan kesopanan.

Pada kenyataannya, masa remaja merupakan masa perkembangan dalam kehidupan manusia yang merupakan kelanjutan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaaan. Dalam memasuki masa ini seorang remaja mengalami perubahan-perubahan fisik dan psikis(kejiwaan) yang mendekati keadaan fisik dan

psikis(kejiwaan) orang dewasa. Semua perubahan ini mempengaruhi penampilan, sikap serta tingkah laku mereka. Perubahan ini akhirnya menimbulkan konflik dalam diri mereka, karena disatu pihak mereka menampilkan diri serta berharap agar diperlakukan dan dianggap sebagai orang dewasa, tetapi dilain pihak mereka belum dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa.

Keadaan tersebut telah membawa berbagai perubahan perilaku remaja, termasuk di dalamnya adalah perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tuanya. Dalam hal yang tidak diinginkan perubahan tersebut cendrung mengarah kepada bentuk penyimpangan perilaku yang dilakukan para remaja. Perilaku yang kurang atau tidak menghormati dan menghargai orang tua.

Desa Labuhan Ratu Pasar merupakan Salah Satu Desa di Kecamatan Sungkai Selatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Semenjak tahun 2006 dengan adanya pemekeran wilayah, Desa Labuhan Ratu Pasar banyak terjadi perubahan dalam bidang infrasturuktur dan interaksi sosialnya. Perubahan tersebut tentunya turut mempengaruhi perubahan pada perilaku sosial remajanya. karena kurangnya control atau pantauan orang tua dan masyarkat terhadap hal-hal seperti ini tanpa disadari remaja-remajanya telah masuk dalam kategori melakukan penyimpangan.


(10)

Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa Desa Labuhan Ratu Pasar memiliki jumlah remaja yang cukup banyak jika dibanding dengan desa-desa lain yang ada di wilayah kecamatan sungkai selatan, secara rinci jumlah remaja di Desa

Labuhan Ratu Pasar dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Jumlah remaja Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2010

No Dusun Jumlah Remaja Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1. Dusun I 33 33 66

2. Dusun II 29 14 43

3. Dusun III 27 14 41

4. Dusun IV 26 18 44

Jumlah 115 79 194

Sumber: Dokumentasi Bagian Kependudukan Desa Labuhan Ratu Pasar

Berdasarkan tabel 1, dapat dijabarkan bahwa remaja di desa Labuhan Ratu Pasar berjumlah 194 orang yang tersebar dalam 4 dusun. Remaja di Dusun I berjumlah 66 orang, Dusun II 43 orang, Dusun III 41 orang dan Dusun IV berjumlah 44 orang, sehingga jumlah semuanya 194 orang. Dusun I sebagai dusun yang jumlah remaja terbanyak, sedangkan dusun yang terendah jumlah remajanya adalah dusun III.

Remaja di Desa Labuhan Ratu Pasar berada dalam masyarakat yang disebut masyarakat transisi. Masyarakat transisi adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus-menerus membuat nilai-nilai baru atau hal-hal baru.(Sarlito Wirawan, 1994: 103 )


(11)

Masyarakat transisi merupakan gambaran keadaan masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai sosial budaya asli berupa nilai-nilai adat-istiadat, kebiasaan, keadaan struktur masyarakat, cara-cara berinteraksi dan lain sebagainya, akan tetapi pegangan masyarakat terhadap nilai-nilai yang ada semakin lama semakin melemah. Akibatnya bagi perilaku remaja dalam hubungan dengan orang tuanya tidak dengan sesuai yang semestinya, karena pengaruh yang harusnya diterapkan sesuai nilai-nilai sosial budaya asli tidak semaksimal dahulu.

Perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tuanya di Desa Labuhan Ratu Pasar ditandai dengan adanya berbagai perilaku menyimpang para remaja dalam berinteraksi dengan orang tuanya. Bentuk-bentuk perilaku menyimpang tersebut antara lain berbohong, pergi tanpa pamit, berkata kurang sopan, bersikap kurang sopan, membantah perintah dan diantaranya ada yang sampai pada perilaku mencaci orang tuanya. Bentuk-bentuk penyimpangan tersebut masuk dalam bentuk penyimpangan, yaitu Penyimpangan individual(individual

deviation).(http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang).

Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 Kepala Keluarga yang memiliki remaja di Desa Labuhan Ratu Pasar, diketahui bahwa 19 dari 20 remaja pernah

melakukan perilaku yang menyimpang sebagai bentuk perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua dengan intensitas frekuensi yang tinggi. Itu artinya 95% remaja dari jumlah remaja yang orang tuanya sebagai responden di Desa Labuhan Ratu Pasar berperilaku tidak sesuai dengan nilai-nilai norma yang ada. Beberapa jenis penyimpangan perilaku diantaranya adalah dengan frekuensi yang tinggi. Bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial remaja terhadap orang tua dan frekuensinya tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


(12)

Tabel 2. Bentuk perilaku menyimpang sebagai bentuk perubahan perilaku Sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar

Sumber : Data hasil wawancara dengan 20 Kepala Keluarga di Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2011

Berdasarkan data pada tabel diatas, dapat dilihat bebagai jenis peilaku menyimpang yang dilakukan para remaja terhadap orang tuanya. Perilaku menyimpang yang banyak dilakukan para remaja dan pada umumnya dengan frekuensi yang tinggi adalah berbohong dan pergi tanpa pamit. Perilaku menyimpang yang banyak dilakukan tetapi dengan fekuensi sedang adalah berbahasa kurang sopan, bersikap kurang sopan dan membantah perintah. Memcaci merupakan perilaku yang jarang dilakukan para remja dan tingkat frekuensinya pun ssangat rendah. Perilaku yang sampai melakukan tindak penganiayaan belum ditemukan di Desa Labuhan Ratu Pasar.

Perubahan lain dapat dilihat dari penggunaan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh para remaja dalam berinteraksi dengan orang tua. Para remaja Suku Jawa yang merupakan Suku mayoritas penduduk di Desa Labuhan Ratu Pasar 95% tidak lagi menggunakan bahasa jawa halus ketika berinteraksi dengan orang tuanya. Bahkan ada yang hanya menggunakan bahasa indonesia. Pada hal dalam Adat suku jawa, Bahasa Jawa halus seharusnya digunakan ketika berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih tua orang-orang yang dihormati.

No Bentuk perilaku menyimpang

Pelaku

Jumlah Persentase

1. Berbohong 19 95%

2. Pergi Tanpa Pamit 18 90%

3. Berkata Kurang Sopan 14 70%

4. Bersikap Kurang Sopan 9 45%

5. Membantah Perintah 11 55%

6. Mencaci 3 15%


(13)

-Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa Perubahan perilaku sosial yang sering terjadi dikalangan remaja dalam hubungan dengan orang tua merupakan sebuah permasalahan yang ada dalam lingkup kajian Sosiologi yang perlu diteliti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dengan adanya penelitian ini diharapkan masyarakat sebagai kontrol sosial dapat berjalan sesuai dengan fungsinya. Karena sebuah perubahan perilaku sosial remaja bisa membawa kemajuan jika arah dan nilai perubahan itu bersifat positif dan bisa juga membawa kemunduran jika arah dan nilai perubahan itu negatif karena terdapat banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalamnya. Oleh sebab itu, maka penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji lebih jauh permasalahan tersebut dengan suatu penelitian yang berjudul: “Faktor-faktor yang mempengaruhi Perubahan Perilaku Sosial Remaja Terhadap Orang Tua di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah :“Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara?


(14)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitiaan ini untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini berguna untuk menambah konsep-konsep ilmu sosial khususnya dalam lingkup kajian sosiologi yang mengkaji masalah sosial dan perubahanya. Secara khusus penelitian ini berkaitan dengan bidang sosiologi keluarga yang mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi

perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua 2. Kegunaan Praktis

Secara praktis, penelitian ini bagi penulis beguna utuk menambah wawasan pengetahuan tentang perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua dan mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Bagi masyarakat sendiri penelitian ini berguna agar masyarakat mamahami terjadinya perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua.


(15)

(16)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Perilaku 1. Pengertian Perilaku

Menurut M. Ngalim Purwanto (1990 : 32 ) “ perilaku adalah segala tindakan atau perbuatan manusia yang kelihatan atau tidak kelihatan yang tidak disadari termasuk di dalamnya cara bebicara, berjalan, cara melakukan sesuatu dan cara bereaksi terhadap sesuatu yang datangnya dari luar ataupun dari dalam dirinya”.

Perilaku merupakan bentuk tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan atau sikap dan ucapan. Menurut Andi Mappiare (1982 : 130), semua manusia dalam bertingkah laku pada dasarnya dimotivasi oleh kebutuhan yang saling berkaitan satu sama lain sebagai perwujudan dari adanya tuntutan-tuntutan dalam hidup bersam kelompok sosial sekitar, Kebutuhan yang

dimaksud adalah :

a. Kebutuhan untuk diterima oleh kelompok atau orang lain. b. Kebutuhan untuk menghindari dari penolakan orang lain.

Berdasarkan uraian dan pendapat di atas disimpulkan perilaku dapat diartikan sebagi bentuk tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan atau sikap dan ucapan. Perilaku seseorang terjadi disebabkan adanya berbagai


(17)

kebutuhan yang harus dipenuhi, kebutuhan itu antara lain kebutuhan seseorang untukm dapat diterima oleh suatu kelompok atau orang lain dan kebutuhan seseorang untuk menghindar dari penolakan suatu kelompok atau orang lain.

2. Konsep Perilaku Sosial Remaja

Manusia mempunyai naluri untuk hidup berkawan dan hidup bersama dengan orang lain. Setiap manusia mempunyai kebutuhan fisik maupun mental yang sulit dipenuhi seorang diri. Manusia perlu makan, pakaian, tempat tinggal, berkeluarga, bergerak secara aman dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, ia mengadakan berbagai hubungan dan bekerja sama dengan orang lain.

Perilaku sosial akan muncul ketika seseorang berinteraksi atau berhadapan dengan orang lain dalam rangka mengadakan hubungan kerja sama dengan orang lain serta perilakunya itu memberi suatu nilai terhadap orang tersebut. Perilaku sosial dapat berupa sikap atau perbuatan dan ucapan yang merupakan bentuk respon seseorang dalam berinteraksi dengan suatu kelompok, orang lain ataupun dengan lingkungannya.

Menurut Peter M. Blau dalam M. Basrowi dan Soenyono (2004:194) “perilaku sosial adalah suatu perubahan aktifitas diantara sekurang-kurangnya dua orang”. Jadi perilaku sosial adalah bentuk aktifitas yang timbul karena adanya interaksi antara orang dengan orang atau orang dengan kelompok.

Berdasarkan uraian diatas perilaku sosial remaja dapet disimpulkan sebagai segala aktifitas remaja yang merupakan bentuk respon terhadap interaksi yang terjadi antara remaja dengan orang lain atau kelompok sosial.


(18)

3. Bentuk-bentuk perilaku sosial

George C. Homans dan Peter M. Blau dalam Zamroni (1992 : 67) berkaitan dengan bentuk-bentuk perilaku sosial menyatakan :

Bentuk-bentuk perilaku sosial dapat dijabarkan dalam beberapa bentuk, antara lain :

a. Proposisi Keberhasilan

Dalam segala hal yang dilakukan seseorang, semakin sering sesuatu tindakan mendapatkan ganjaran (mendatangkan respon positif dari orang lain), maka akan semkain sering pula tindakan dilakukan leh seseorang yang bersangkutan.

b. Proposisi Stimulus

Jika suatu stimulus tertentu telah merupakan kondisi dimana tindakan seseorang mendapatkan ganjaran, maka semakin serupa stimulus yang ada dengan stimulus tersebut akan semakin besar kemungkinan bagi orang itu untuk mengulang tindakanya seperti yang ia lakukan pada waktu yang lalu.

c. Proposisi nilai

Semakin bermanfaat hasil tindakan seseorang bagi dirinya makan akan semakin besar kemungkinan tersebut terulang.

d. Proposisi Kejenuhan-kerugian

Semakin sering seseorang menerima ganjaran yang istimewa maka ganjaran tersebut akan kurang bermakna.

e. Prorposisi Persetujuan-perlawanan

• Jika seseorang tidak mendapatkan ganjaran seperti yang

diinginkan, atau mendapatkan hukuman yang tidak diharapkan, ia akan menjadi marah dan akan semakin besar kemungkinan bagi orang tersebut untuk mengadakan perlawanan atai menentang dan hasil dari tingkah laku semacam ini akan menjadi lebih berharga bafi dirinya.

• Bila tindakan seseorang mendatangkan ganjaran seperti ini yang ia harapakan bahkan berlebihan, atau tindakan tersebut tidak mendatangkan hukuman seperti keinginanya, maka ia akan merasa senang dan besar kemungkinan bagi orang tersebut untuk menunjukan


(19)

tingkah laku persetujuan terhadap tingkah laku yang dilakukan dan hasil tingkah laku semacam ini akan menjadi semakin berharga bagi dirinya.

Berdasarkan pendapat Geoge C. Homans dan Peter M. Blau dalam M. Basrowi dan Soenyono dapat diuraikan bentuk-bentuk perilaku sosial terbagi menjadi lima bentuk, yaitu proposisi keberhasilan, proposisi stimulus, proposisi nilai, proposisi kejenuhan-kerugian dan proposisi persetujuan-perlawanan. Proposisi

keberhasilan, stimulus dan nilai adalah bentuk perilaku sosial yang terjadi dan terulang apabila seseorang mendapatakan respon positif berupa ganjaran, pujian atau hasil dari apa yang ia lakukan. Proposisi kejenuhan-kerugian merupakan bentuk perilau sosial dimana seseorang akan merasa jenuh atau bosan jika terlalu sering mendapatkan ganjaran atau hasil dari apa yang dilakukan. Dan proposisi persetujuan-perlawanan yaitu bentuk perilaku sosial berupa sikap melawan

seseorang apabila ia tidak mendapatakan ganjaran atau hasil atau bahkan, ia justru mendapatkan hukuman, sebaliknya apabila seseorang mandapatkan ganjaran dan tidak mendarangkan hukuman atas tindakan yang dilakukan maka ia akan

menunjukan sikap yang positif.

B. Perilaku Menyimpang Remaja

1. Pengertian Perilaku Menyimpang Remaja

(Sarlito Wirawan Sarwono1989 : 197) mengemukakan bahwa, “Penyimpangan perilaku adalah keseluruhan atau semua tingkah laku yang menyimpang dari yang berlaku dalam masyarakat yaitu yang melanggar norma-norma agama, etik, peraturan sekolah, kelurga dan sebagainya.”


(20)

Berdasarkan pendapat diatas, maka suatu perbuatan dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang ataudeviant behaviorjika ternyata perbuatan tersebut

bertentangan dengan norma hukum, norma agama dan norama-noram lainya yang berlaku dalam masyarakat.

Pendapat lain dikemukakan oleh soerjono soekanto ( 1989 : 11) yang berpendapat bahwa, “Penyimpangan perilaku remaja adalah perilaku remaja yang timbul karena ketidakseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya dengan norma-norma atau apabila tidak ada keselarasan antara aspirasi dengan saluran-saluran yang tujuannya untuk mencapai cita-cita.”

Pendapat yang sama dikemukakan oleh (Kartini Kartono 1981 : 31),

“Penyimpangan perilaku adalah semua tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma umum yang dianut masyarakat”.

(Andi Mappiare 1982 : 191) berkaitan dengan perilaku menyimpang menyatakan bahwa :

Penyimpangan perilaku adalah perilaku yang ditimbulkan oleh adanya rasa tidak enak, rasa tercekam, rasa tertekan, dalam taraf yang sangat kuat sebagai dorongan-dorongan yang saling bertentangan dalam diri seseorang yang secara kuat akan melakukan tindakan-tindakan yang agresif berlebihan dan menurut masyarakat tingkah laku tersebut merupakan tingkah laku sosial yang

menyimpang dari kewajaran, cendrung pada rasa putus asa, tidak aman atau cendrung untuk merusak dan melanggar peraturan-peraturan.

Berdasarkan pada beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa

penyimpangan perilaku remaja ataudeviant behavioradalah semua perbuatan yang dilakukan remaja yang menyalahi atau bertentangan dengan norma hukum,


(21)

norma adat, norma agama dan kesopanan serta etika yang berlaku dalam suatu masyarakat. Perbuatan-perbuatan yang menyimpang tersebut disebabkan karena ketidakseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya dengan norma-norma yang ada, adanya rasa takut yang berlebihan, rasa tertekan, rasa putus asa dan lain sebagainya.

2. Faktor Penyebab Penyimpangan Perilaku Remaja

Menurut Philip Graham dalam (Sarlito Wirawan Sarwono 1994 : 199-200 ) Penyebab peilaku menyimpang remaja dapat digolongkan menjadi 2 faktor, Yaitu :

1) Faktor lingkungan (Faktor Eksternal) : a. Malnutrisi ( kekurangan gizi) b. Kemiskinan di kota-kota besar

c. Gangguan lingkungan (populasi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain)

d. Migrasi ( urbanisasi, pengunsian karena perang dan lain-lain) e. Faktor sekolah ( kesalahan mendidik, faktor kurikulum dan

lain-lain)

f. Keluarga yang bercerai-berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama dan lain-lain)

g. Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga :

• Kematian orang tua

• Orang tua yang sakit berat atau cacat

• Hubungan antar keluarga tidak harmonis

• Orang tua sakit jiwa

• Kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran,

kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat dan lain-lain.

2) Faktor pribadi (Faktor Internal) :

a. Faktor bakat yang mempengaruhi tempramen (menjadi pemarah, heperaktif dan lain-lain)

b. Cacat tubuh


(22)

Berdasarkan pendapat diatas, disimpulkan bahwa faktor penyebab penyimpangan perilaku remaja terbagi atas dua faktor yaitu lingkungan (Eksternal) dan faktor pribadi (Internal). Penyimpangan karena faktor lingkungan dapat disebabkan oleh kekurangan gizi, kemisikinan, gangguan lingkungan, kesalahan pendidikan di sekolah, keadaan keluarga yang tidak kondusif dan adanya gangguan dalam pengasuhan dalam keluarga. Gangguan pengasuhan anak oleh keluarga misalnya kematian orang tua, orang tua sakit, cacat dan keadaan keadaan perekonomian keluarga. Sedangkan faktor pribadi bisa disebabkan oleh faktor bakat, cacat tubuh dan ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri.

Pendapat lain dikemukan oleh (Kartini Kartono 1992 : 25-26) yang menyatakan adanya 4 teori mengenai penyebab terjadinya perilaku menyimpang pada remaja. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut :

1) Teori biologis

Teori ini berpendapat tingkah lakusosiopatik(suatu kepribadian yang menyimpang dari norma-norma umum) ataudelinquency(kenakalan) pada anak-anak dan remaja muncul karena faktorfisiologis(fisik dan kimiawi dalam tubuh) dan struktur jasmaniah seseorang, misalnya cacat jasmaniah yang dibawa sejak lahir.

2) Teori psikogenis

Teori ini menenkankan sebab-sebab tingkah laku menyimpang anak atau remaja dari aspek psikologis atau isi kejiwaan, antara lain faktor intelegensi, motivasi, sikap-sikap yang salah, konflik batin, emosi dan Intenasionalisai yang keliru.

3) Teori sosiologis

Pendapat dari teori inidelinquency(kenakalan) pada remaja

disebabkan oleh faktor struktur sosial yangdeviatif(menyimpang), tekanan kelompok dan status sosial.


(23)

4) Teori struktur

Teori ini menitikberatkan penyebabdeliquency(kenakalan) pada remaja pada adanya “kultur” atau “kebudayaan” dari suatu kelompok atau“gang” yang memiliki nilai dan norma tersendiri.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut secara umum perilaku menyimpang pada remaja dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu yang berasal dari dalam individu remaja itu sendiri (faktor Internal) dan faktor yang berasal dari luar diri remaja ( faktor eksternal). Faktor yang berasal dalam individu (faktor internal) antara lain :

1) Sifat khusus yang ada dalam diri individu, yaitu adanya perasaan tertekan dalam diri remaja, sehingga untuk menurangi rasa tersebut mereka cendrung untuk melakukan perilaku yang menyimpang.

2) Daya emosinal, merupakan dorongan pada diri remaja yang berada pada tingkat emosi yang tinggi untuk melakukan tindakan

menyimpang yang disebabkan adanya perubahan yang terjadi di lingkungan tempat tinggal sedangkan mereka belum tahu ke arah mana mereka harus ikut.

3) Rendahnya mental, faktor ini dapat dilihat dari rendahnya tingakat pendidikan, yang menyebabkan mereka berperilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan.

Faktor-faktor yang berasal dari luar individu antara lain :

1) Status sosial, hal ini disebabkan kareana rata-rata ekonomi keluarga mereka tidak memenuhi standar sedangkan remaja merasakan adanya berbagai kebutuhan yang semakin banyak dan beraneka ragam.


(24)

2) Lingkungan sosial masyarakat yang homogen, yaitu suatu lingkungan masyrakat yang terdiri dari satu ragam (suku dan adat-istiadat), maksunya hanya ada satu ragam masyarakat disuatu desa sehingga menyebabkan tidak adanya variasi dalam pergaulan mereka sehari-hari.

3) Rendahnya pengetahuan tentang agama, remaja kurang memahami nilai-nilai yang ada pada agamanya yang dianutnya.

4) Bacaan dan tontonan, adanya berbagai bacaan dan tontonan yang tidak mencerminkan nilai-nilai norma yang ada secara tidak langsung telah mendorong terjadinya perikau menyimpang remaja.

C. Faktor-faktor Penyebab Perubahan Perilaku Sosial Remaja Terhadap Orang Tua

Perubahan Perilaku remaja terhadap orang tua merupakan salah satu perubahan unsur sosial budaya masyarakat. Oleh karena itu, untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial remaja terhadap orang tua perlu diuraikan terlebih dahulu faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial budaya. Pada umumnya penyebab terjadinya perubahan sosial budaya disebabkan oleh dua faktor, yaitu :

1) Faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, antara lain : a. Bertambah atau berkurangnya penduduk

b. Penemuan-penemuan baru

c. Pertentangan (conflik)masyarakat d. Penduduk yang heterogen


(25)

e. Terjadinya pemberontak atau revolusi f. Orienstasi ke masa depan

g. Sifat terbuka dari masyarakat

2) Faktor yang berasal dari luar masyarakat yang bersangkutan, antara lain :

a. Sebab yang berasal dari lingkungan fisik b. Peperangan

c. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain d. Sistem pendidikan yang maju

(Soerjono Soekanto, 2002 : 351)

Pendapat lain dikemukan oelh Bruce J. Colten (1992 : 215) yang mengemukan bahwa, Perubahan sosial kultural dalam suatu masyarakat dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :

a. Lingkungan fisik b. Perubahan penduduk c. Isolasi dan kontak d. Struktur sosial e. Sikap dan nilai-nilai f. Dasar budaya.

Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial budaya dalam suatu masyarakat dapat disebabkan oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor yang berasal dari dalam masyarakat dan faktor yang berasal dari luar masyarakat, yang mana sangat mempengaruhi dalam pembentukan dan


(26)

perubahan suatu bentuk perilaku sosial individu atau remaja sehingga dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan.

Kedua pendapat tersebut di atas didukung oleh S. Rouncek dan Roland L. Warren (1984 :219) yang mengemukakan bahwa ada dua faktor penyebab perubahan sosial budaya, yaitu kontak dengan kebudayaan lain dan penduduk yang heterogen.

Berdasarkan uraian dan beberapa pendapat di atas dan dihubungkan dengan situasi dan kondisi di tempat penelitian berdasarkan penelitian pendahuluan serta faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial pada remaja, maka

kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1) Lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan sosial dimana remaja-remaja tersebut tinggal dan saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lainya. Menurut Fuad Amsyari ( 1986 : 12 ) “lingkungan sosial adalah manusia-manusia lain yang ada disekitarnya yang belum dikenal sekalipun”.lingkungan di DesaLabuhan Ratu Pasar adalah lingkungan homogen. Lingkungan sosial masyarakat yang homogen adalah lingkungan sosial yang hanya satu ragam atau jika ada beberapa tetapi hanya satu yang mendominasi, maksudnya hanya ada satu ragam masyarakat disuatu desa sehingga menyebabkan tidak adanya variasi dalam pergaulan mereka sehari-hari, karena mayoritas masyarakatnya menghabiskan waktu untuk berkerja di sawah, kebun dan menjadi


(27)

buruh harian. Keadaaan ini mengakibatkan remaja berusaha mencari varasi sendiri dalam pergaulan.

2) Kelompok teman sebaya (peer group)

Menurut Andi Mappiare (1982 : 157), “kelompok teman sebaya atau peer groupmerupakan suatu kelompok yang baru, yang memiliki ciri, norma, kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja”.

Perbedaan antara nilai norma dalam keluarga dan kelompok teman sebaya inilah yang membawa perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua.

Kondisi kejiwaan remaja yang masih labil membuat remaja tidak mampu membedakan antara nilai-nilai yang baik dan sesuai dengan norma dengan nilai- nilai yang tidak mencerminkan nilai-nilai norma yang berlaku dalam masyarakat.

3) Pengasuhan keluarga

Keluarga merupakan lingkungan primer hampir bagi setiap individu semenjak ia lahir hingga datang masanya seseorang meniggalkan rumahnya untuk membentuk keluarga sendiri. Sehingga lingkungan primer, hubungan antar manusia yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang lebih luas, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan keluarganya. Oleh karena itu, sebelum anak mengenal norma-norma dan nilai-nilai


(28)

dari masyarakat umum, pertama kali ia menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadinya, keluarga yang memiliki kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan norma-norma yang negatif, secara tidak langsung telah mendidik anak untuk memiliki sifat dan sikap yang negatif melalui proses sosialisasi.

Kempe dan Helfer dalam (Sarlito Wirawan Sarwono 1994 : 114) mengemukan ciri-ciri pengasuhan anak yang tidak normal oleh keluarga sebagai berikut :

1) Anak dipukuli

2) Anak disalahgunakan secara seksual (misalnya dipaksa kawin pada usia masih kanak-kanak)

3) Anka tidak diperdulikan

4) Anak dianggap seperti anak kecil terus-menerus atau dianggap tidak berarti.

Dengan demikian, terjadinya perubahan perilaku sosial remaja bisa jadi karena pendidikan atau pengasuhan yang salah dalam keluarga atau merupakan suatu bentuk respon terhadap perlakuan tidak enak yang dialami anak dalam


(29)

D. Pengertian perubahan

Menurut kamus Besar Indonesia (1999 : 667) “perubahan adalah peralihan, pergantian dari bentuk asal semula menjadi bentuk lain”. Perubahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung.

E. Tinjauan Remaja 1. Pengertian Remaja

Remaja sebagai generasi penerus merupakan pihak yang akan mengisi berbagai posisi di dalam masyarakat di masa yang akan datang, yang akan meneruskan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Remaja sering kali didefiniskan sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa.

Definisi tentang remaja dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain : 1) Remaja dilihat dari segi hukum

2) Remaja menurut sudut pandang perkembangan fisik 3) Remaja menurut WHO

4) Remaja menurut segi sosio-psiologik

Sarlito Wirawan Sarwono (1988 : 4-5) mengemukakan remaja menurut hukum dimana dinyatakan bahwa :

Berbagai bentuk undang-undang yang ada di berbagai negara di dunia tidak di kenal istilah “remaja”. Di indonesia sendiri konsep remaja tidak kenal dalam sebagian undang-undang yang berlaku. Hukum Indonesia hanya mengenal anak-anak dan dewasa. Dalam hukum perdata


(30)

menikah) untuk menyatakan kedewasaan seseorang. Di sisi lain hukum pidana memberikan batasan 18 tahun usia dewasa (atau yaang kurang dari itu tetapi sudah menikah)

Dapat disampaikan bahwa menurut hukum terdapat perbedaan untuk memberikan batas usia remaja. Menurut Hukum perdata, remaja adalah anak-anak yang berusia 21 tahun, akan tetapi walaupun belum berusia 21 tahun jika sudah menikah maka seorang anak dapat digolongkan ke masa dewasa. Sedangkan menurut Hukum pidana remaja adalah anak-anak yang usia berada dibawah 18 tahun dan belum menikah. Pendapat lain dapat dilihat dalaam Undang-undang kesejahteraan anak (UU No. 4/1979) yang menyatakan bahwa semua orang yang di bawah usia 21 tahun dan belum menikah sebagai anak-anak.

Selanjutnya Sarlito Wirawan Sarwono (1988 : 6) menerangkan pengertian remaja dari segi perkembangan fisik, ia mengemukakan bahwa :

Menurut sudut pandang perkembangan fisik remaja didefinisikan sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia

mencapai kematangan, secara anatomis berarti alat-alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuknya yang sempurna pula.

WHO (World Health Organization, 1974)memberikan definisi tentang remaja yang bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria yaitu biologik, psikologik dan sosial ekonomi sehingga secara lengkap definisi tentang remaja tersebtu berbunyi sebagi berikut :

1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menujukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual 2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi

dari kanak-kanak menjadi remaja.

3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.


(31)

Dari segi sosial-psikologik, Csikzendmihalyi dan Larson dalam (Sarlito Wirawan Sarwono, 1988 : 11) mendefinisikan bahwa remaja adalah restrukturisasi

kesadaran yaitu masa penyempurnaan dari perkembangan pada tahap-tahap sebelumnya.

(Csikzendmihalyi dan Larson) juga mengatakan bahwa puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisientropyke kondisi negentropy.Entropyadalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi.Entropysecara psikologik berarti isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan sehingga mengurangi kapasitas kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan buat orang yang bersangkutan. Kondisientropyini selama masa remaja, secara bertahap disusun, diarahkan, distrukturkan kembali, sehingga lambat laun terjadi kondisi negative entropyataunegentropy. Kondisinegentropyadalah keadaan di mana isi

kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait denan pengetahuan yang lain dan pengetahuan jelas hubungannya dengan perasaan atau sikap.

Dari uraian atau pendapat para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang termasuk kategori remaja atau disebut remaja adalah usia dibawah 21 tahun yang belum menikah, dimana masa-masa itu seorang remaja masih dalam proses pembentukan karakater dan restrukturisasi kesadaran yaitu masa penyempurnaan dari perkembangan pada tahap-tahap sebelumnya atau puncak dari perkembangan jiwa yang ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisientropyke kondisinegentropy.


(32)

2. Kewajiban Remaja Terhadap Orang Tua

Kewajiban remaja terhadap orang tuanya diatur dalam berbagai tata cara berperilaku seorang anak yang ada dalam norma-norma yang ada dan berlaku dalam masyarakat Indonesia. Norma-norma tersebut antara lain norma hukum, norma agama, norma adat dan norma kesopanan serta kesusilaan. Dalam norma hukum di indonesia perilaku seorang anak terhadap orang tuanya diatur dalam Pasal 19 UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang Menyebutkan bahwa, Setiap anak berkewajiban untuk :

1) Menghoramati orang tua, wali dan guru

2) Mencintai keluarga, masyarakat dan menyanyangi teman 3) Mencintai tanah air, bangsa dan negara

4) Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya dan 5) Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.

Berdasarkan undang-undang tersebut, maka seorang anak (remaja) secara hukum berkewajiban untuk menghormati, menyayangi dan mengerjakan etika dan akhlak yang mulia terhadap orang tunya. Seorang anak tidak dibenarakan melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyakiti orang tua, baik secara fisik maupun psikis. Hal ini merupakan suatu keseimbangan dalam menjaga hubungan yang harmonis dalam keluarga, karena betapa besar kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.

Dalam keyakinan agama islam di dalamAl-Qur’an Surat Bani Isra’il ayat 23


(33)

perintah tersebut adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat serta bukan untuk bermaksiat kepada Allah. Begitu juga dalam norma adat dan kesopanan, anak berkewajiban untuk berkata, bersikap dan berbuat mulia kepada orang tunya. Sesuatu yang menyakitkan orang tua, baik fisik maupun psikis dipanadang masyarakat sebagai suatu hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam norma adat dan kesopanan.

F. Tinjauan orang tua 1. Pengertian Orang Tua

Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Bab I Pasal Butir ke-4, disebutkan bahwa, “Orang tua adalah ayah dan/atau ibu

kandung, atau ayah/atau ibu tiri, atau ayah/atau ibu angkat”. Sedangkan menurut Undang-undang No. 4 Tahun 1997 Tentang Kesejahteraan Anak Bab 1 Pasal 1 Butir ke-3a, “ Orang tua adalah ayah dan atau ibu kandung”.

Berdasarkan kedua Undang-undang diatas, dapat diuraikan bahwa terdapat perbedaan mengenai pengertian orang tua dalam kedua undang-undang di atas. Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, seseorang yang disebut orang tua bisa dari ayah/ibu kandung, ayah/ibu tiri ataupun ayah/ibu angkat. Sedangkan dalam Undang-undang No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan, sebutan orang tua hanya untuk ayah dan ibu kandung.

Selanjutnya yang dimaksud orang tua dalam penelitiaan ini adalah sebagai mana yang tercantum dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan


(34)

anak Bab 1 Pasal 1 Butir ke-4, yaitu bapak/ibu kandung, bapak/ibu tiri dan bapak/ibu angkat.

2. Tanggung Jawab dan Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak

Dalam Bab IV Bagian keempat Pasal 26 Ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak disebutkan apa saja yang menjadi tanggung jawab dan

kewajiban orang tua terhadap anaknya, disebutkan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :

1) Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak

2) Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya dan

3) Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Selanjutnya dalam UU No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak Bab II Pasal 9, berkaitan dengan tanggung jawab orang tua terhadap kesejahteraan anak disebutkan bahwa, “Orang tua dalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial”.

Berdasarkan kedua Undang-undang tersebut, tanggung jawab kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mewujudkan kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani, maupun sosial dengan cara mengasuh, memelihara, mendidik, melindungi dan mengembangkan bakat yang dimiliki anak.


(35)

G. Kerangka Pikir

Setiap menyelesaikan suatu permasalahan perlu meninjau terlebih dahulu masalah tersebut dari berbagai susdut pandang, agar dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik. Begitu juga dengan penelitian ini, untuk mendapatkan hasil sesuai dengan harapan, maka diperlukan adanya kerangaka pikir yang dapat

dipergunakan sebagai acuan dalam membahas masalah dalam penelitian.

Menurut Soerjono Soekanto (1998 : 24 ) “Kerangka pikir adalah konsep yang memerlukan abstraksi dari hasil pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya berdimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti”.

Berdasarkan pendapat dan uraian diatas, maka dapat ditarik suatu kerangka pikir sebagai berikut :

Bagian Kerangka Pikir

Variabel X Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Perubahan Perilaku Sosial Remaja Terhadap Orang Tua :

1. Pengasuhan keluarga 2. Kelompok teman sebaya

(Peer group)

3. Lingkungan masyarakat

Variabel Y Perubahan Perilaku Sosial Remaja Terhadap Orang Tua :

1. Tinggi 2. Sedang 3. Rendah


(36)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian deskriptif. Bungin (2001)

menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian.

Moh. Nazir (1988) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang akan diselidiki, sedangkan menurut Singarimbun dan Effendi (1998), tujuan dari penelitian deskriptif adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi terjadinya suatu aspek fenomena sosial tertentu.

b. Untuk mendeskripsikan secara terperinci fenomena sosial.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan menggambarkan dan


(37)

memaparkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, gejala atau keadaan tertentu dalam masyarakat.

C. Lokasi Penelitian

Pemilihan lokasi penelitian merupakan sarana yang sangat membantu dalam menentukan data yang akan diambil. Karena itu lokasi yang akan dijadikan tempat penelitian perlu dipertimbangkan dengan baik sesuai dengan masalah yang akan diteliti agar dapat diperoleh data atau informasi yang valid.

Dalam penelitian ini, lokasi yang dipilih untuk dijadikan lokasi penelitian adalah Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Adapun pertimbangan dalam memilih lokasi penelitian ini antara lain karena:

1. Dari Berdasarkan hasil Observasi dan wawancara Di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Tingkat penyimpangan perilaku yang terjadi akibat perubahan sosial cukup tinggi.

2. Efisiensi untuk melakukan penelitian. karena berdekatan dengan tempat tinggal penulis, sehingga mudah untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan.


(38)

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang ada di wilayah Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara.

Tabel 3. Data Jumlah Remaja di Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2010.

No Dusun Jumlah Remaja Jumlah

Laki-Laki Perempuan

1. Dusun I 33 33 66

2. Dusun II 29 14 43

3. Dusun III 27 14 41

4. Dusun IV 26 18 44

Jumlah 115 79 194

Sumber: Dokumentasi Bagian Kependudukan Desa Labuhan Ratu Pasar

Berdasarkan tabel 3, diketahui jumlah populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 194 0rang. Keseluruhan jumlah populasi tersebut tersebar dalam 4 dusun dengan rincian Dusun 1 berjumlah 66 orang, Dusun II 43 orang, Dusun III 41 orang dan Dusun IV yang berjumlah 44 orang.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan sasaran dalam penelitian. Dalam menentukan besarnya sampel, penulis berpedoman pada pendapat


(39)

Suharsimi Arikunto, yaitu sebagai berikut:

Untuk sekedar ancer-ancer, maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitian ini meupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya lebih besar dari 100 dapat diambil 10% - 20% atau 20% - 25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari :

• Kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tanaga dan dana

• Sempitnya wilayah pengamatan dari setiap subjek karena menyangkut hal banyak sedikitnya data

• Besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka sampel yang diambil adalah sebesar 20% dari jumlah populasi. 20% dari 194 adalah 38.8 dan dibulatkan menjadi 39. jadi yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 39 orang. Sedangkan pembagian dalam pengambilan sampel untuk masing-masing dusun adalah 3 dusun diambil 10 orang yaitu Dusun I, Dusun II dan Dusun III, sedangkan Dusun IV hanya diambil 9 orang.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional Variabel 1. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua sebagai Variabel Bebas (Variabel X), dan perilaku sosial remaja terhadap orang tua sebagai Variabel Terikat (Variabel Y).

2. Definisi Operasional Variabel

Untuk memahami objek dalam penelitian ini supaya lebih jelas, maka penulis mendefinisikan variabel secara operasional sebagai berikut:

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua sebagai Variabel Bebas (Variabel X) adalah


(40)

faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan pada perilaku remaja dalam berinteraksi atau hubungan dengan orang tuanya.

Pengukuran faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua yaitu dengan melihat indikator-iondikator sebagai berikut:

1. Faktor pengasuhan keluarga

Pengasuhan keluarga adalah suatu proses perbuatan merawat, menjaga, mendidik, dan membimbing anak yang berlangsung dalam suatu keluarga.

2. Faktor kelompok teman sebaya (peer group)

Kelompok teman sebaya atau Peer Group adalah suatu kelompok yang baru, memiliki ciri, norma, dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja.

3. Faktor lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan sosial di mana remaja tersebut tinggal dan saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya.

b. Perilaku sosial remaja terhadap orang tua sebagasi Variabel terikat (Variabel Y) adalah segala bentuk tindakan atau perbuatan remaja yang dapat dilihat dari cara bicara, berjalan, bersikap, dan bereaksi ketika terjadi interaksi antara anak dengan orang tuanya.


(41)

Dengan indikator-indikator sebagai berikut: 1. Tinggi

• Perubahan pada cara bicara (perkataan) • Perubahan pada perbuatan

• perubahan reaksi ketika ada stimulus atau rangsangan (sikap).

2. Sedang

• Perubahan pada cara bicara (perkataan) • Perubahan pada perbuatan

• perubahan reaksi ketika ada stimulus atau rangsangan (sikap).

3. Rendah

• Perubahan pada cara bicara (perkataan) • Perubahan pada perbuatan

• perubahan reaksi ketika ada stimulus atau rangsangan (sikap).

E. Pengukuran Variabel Penelitian

Pengukuran variabel penelitian adalah dengan scorring pada alternatif jawaban dari angket penelitian yang disebarkan kepada responden. Angket yang digunakan adalah angket tertutup yang berisi indikator faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial remaja terhadap orang tua. Item soal memiliki alternatif jawaban masing-masing terdiri dari a, b, dan c sehingga responden hanya memilih salah satu jawaban yang tersedia.

Adapun pemberian nilai dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Alternatif jawaban (a) dengan skor 3

2. Alternatif jawaban (b) dengan skor 2 3. Alternatif jawaban (c) dengan skor 1


(42)

F. Sumber Data

Data yang digunkan dalam penelitian ini adalah berupa data yang relevan dengan permasalahan dan fokus penelitian. Pada penelitian ini jenis data dibagi dua, yaitu data primer dan darta sekunder.

1. Data Primer, yaitu data yang terpenting dalam penelitian ini mengenai variabel penelitian yang akan diteliti. Dalam penelitian ini data primer yang diambil yaitu data yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Propinsi Lampung.

2. Data Sekunder, yaitu data yang mendukung data primer, mencakup data tentang lokasi penelitian, dan data-data lain yang mendukung masalah penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan penulis untuk memperoleh data peneliti ini adalah :

1. Teknik Pokok

Teknik pokok yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket. Angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang terdiri dari item-item yang berkaitan dengan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja


(43)

terhadap orang tua. Angket yang akan digunakan adalah angket tertutup, yaitu item-item pertanyaan yang sudah disertai dengan kemungkinan pilihan jawaban yang dipilih responden.

Menurut Mohammad Nasir (1998 : 403) berhubungan dengan penggunaan angket mengemukakan bahwa:

Angket dalam penelitian dipakai karena data yang diperlukan adalah angka-angka yang berupa skor nilai, untuk memperoleh data utama dan analisis dalam setiap tes memiliki tiga alternatif jawaban dan masing-masing mempunyai skor atau bobot nilai yang berbeda, yaitu: 1. Untuk jawaban (a) diberikan skor 3

2. Untuk jawaban (b) diberikan skor 2 3. Untuk jawaban (c) diberikan skor 1 Dimana:

1. Untuk jawaban yang sesuai dengan harapan diberi nilai 3

2. Untuk jawaban yang kurang sesuai dengan harapan diberi nilai 2 3. Untuk jawaban yang tidak sesuai dengan harapan diberi nilai 1.

2. Teknik Penunjang

Teknik penunjang dalam penelitian ini menggunakan 3 cara, yaitu: 1. Wawancara, yaitu sejumlah pertanyaan secara langsung dari

berbagai sumber untuk mendapatkan informasi lebih mendalam guna mendukung data primer yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.

2. Observasi, yaitu pengamatan secara lebih mendalam oleh peneliti pada masyarakat di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung.

3. Studi Dokumentasi, yaitu pengambilan data yang diperoleh dari informasi-informasi dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan objek yang diteliti


(44)

H. Uji Reliabilitas 1. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitasa dalam penelitian ini dilakukan dengan cara:

1. Angket disebar kepada 10 responden di luar responden penelitian 2. Membagi item berdasarkan nomor genap-ganjil

3. Mengkorelasikan ke dalam rumus Product Moment, yaitu sebagai berikut:

( )( )

( ) ( )

Keterangan :

rxy = Hubungan variabel X dan Y X = Variabel bebas

Y = Variabel terikat N = Junmlah responden

4. Selanjutnya dicari relaiabiltasnya dengan menggunakan rumus Sperman Brown (Sutrisno Hadi, 1986 : 37) untuk mengetahui koefisien keseluruhan item yaitu sebagai berikut:

rxy = ( ) ( )


(45)

rxy = koefisien reliabilitas seluruh tes rgg = koefisien korelasi item ganjil genap

kriteria reliabilitas angket adalah: 0,90 - 1,00 = reliabilitas tinggi 0,50 - 0,89 = reliabilitas sedang 0,00 - 0,49 = reliabilitas rendah (Manase Mallo, 1986 : 139)

I. Teknik Analisis Data

Setelah data diperoleh dari penyebaran angket, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Dalam penelitian ini menggunakan suatu analisis data kuantitatif yaitu dengan menguraikan kata-kata dengan kalimat serta angka secara sistematis. Langkah awal analisis data dengan menggunakan rumus Interval yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi(1986), yaitu sebagai berikut:

I =

Di mana :

I = Interval NT = Nilai tertinggi NR = Nilai Terendah K = Kategori


(46)

Selanjutnya untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor lingkungan masyarakat, faktor kelompok teman sebaya dan faktor pengasuhan keluarga terhadap perubahan perilaku remaja terhadap orang tua digunakan rumus persentase, yaitu:

P = X 100%

Keterangan :

P = Persentase keseluruhan item

F = Frekuensi jawaban keseluruhan item N = Jumlah responden

(Mohammad Ali, 1985 : 184)

Menurut Suharsimi Arikunto ( 1998 : 196) untuk menafsirkan banyaknya persentase yang diperoleh menggunakna kriteria:

76% - 100% = baik 56% - 75% = cukup 40% - 55% = tidak baik


(47)

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi. 1991. Psikologi Perkembangan. Rineka Cipta, Jakarta. 136 halaman.

Fuad Amsyari 1986.Psikologi Sosial.Toha Putra. Rineka Cipta. Jakarta. 248 Halaman.

Andi Mappiare. 1982. Psikologi Remaja. Toha Putra. Usaha Nasional. Surabaya 198 halaman

Bruce J. Colten. 1992. Sosiologi Suatu Pengantar. Rineka Cipta. Jakarta 470 halaman.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta

Joseph S. Roucek & Roland L. Warren. 1984. Pengantar Sosiologi. PT. Bina Aksara. Jakarta. 351 halaman.

Kahar Mansyur. 1994. Membina Moral dan Akhlak. Rineka Cipta. Jakarta. 495 halaman.

Kartini Kartono. 1992. Psikologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Rajawali Pers. Jakarta. 134 halaman.

Manase Mallo. 1985. Metode Penelitian Sosial. Rajawali Kurnia. Jakarta. 395 halaman.

M. Ngalim Purwanto. 1960.Psikologi Pendidikan Remaja. Rosda Karya. Bandung.

Mohammad Ali.1993.Penelitian Kependudukan Prosedur dan Strategi.Bina Angkasa. Bandung. 215 Halaman.

Mohammad Nasir. 1985Metode Penelitian.Ghalia Indonesia. Jakarta. 459 Halaman.


(48)

Mohammad Basrowi & Soenyono. 2004. Teori Sosial Dalam 3 paradigma. Yayasan kampusina. Surabaya. 272 halaman

Paul B. Horton & Cheser L. Hunt, 1999. Sosiologi. Erlangga. Jakarta. 263 Halaman.

Sarlito Wirawan Sarwono. 1988.Psikologi Remaja. PT. Raja Grafindo Perasada. Jakarta. 255 Halaman.

Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. LP3ES. Jakarta.

Soerjono Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 465 Halaman.

Suharsimi Arikunto. 1998.Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktis.Bina Aksara. Jakarta. 339 Halaman.

Sukidin dkk. 2003. Pengantar Ilmu Budaya. Insan Cendikia. Surabaya. 215 Halaman.

Sutrisno Hadi. 1986.Metodologi Research.Fakultas Psikologi UGM. Yogykarta. 434 Halaman.

Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Citra Umbara. Bandung.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Pendidikan Anak. Sinar Grafika. Jakarta.

Zamroni. 1992.Pengantar Pengembangan Teori Sosial.PT. Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta. 207 Halaman.

Sumber Lain :


(49)

IV. GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Singkat Desa Labuhan Ratu Pasar

Desa Labuhan Ratu Pasar merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten lampung Utara Provinsi Lampung. Seperti halnya desa lain, Desa Labuhan Ratu Pasar juga memiliki sejarah dan

perkembangan tersendiri.

Desa Labuhan Ratu Pasar Merupakan desa trasmigrasi yang mulai ada pada tahun 1950. Pada awalnya mayoritas masyarakatnya adalah mayarakat pendatang sedangkan masyarakat pribumi mulai berdatangan setelah tahun 1970.

Dari baru terbentuknya sistem pemerintahan indonesia setelah kemerdekaan, Desa Labuhan Ratu Pasar telah termasuk wilayah Kabupaten Lampung Utara

Kecamatan Sungkai Selatan hingga sekarang.

Desa Labuhan Ratu Pasar sendiri telah mengalami 8 kali pergantiaan kepala desa, secara kronologis Jabatan Kepala Desa Labuhan Ratu Pasar adalah Sebagai Berikut :

1. Tahun 1950 Sampai dengan Tahun 1955 adalah Bapak Samaya 2. Tahun 1956 Sampai dengan Tahun 1959 adalah Dulfani

3. Tahun 1960 Sampai dengan Tahun 1970 adalah Bapak Husin 4. Tahun 1971 Sampai dengan Tahun 1975 adalah BapakSafa’at


(50)

5. Tahun 1976 Sampai dengan Tahun 1979 adalah Bapak Karim 6. Tahun 1980 Sampai dengan Tahun 1999 adalah Bapak Safa’at 7. Tahun 2000 Sampai dengan Tahun 2008 adalah Ibu Aspiah 8. Tahun 2009 Sampai dengan Sekarang adalah Bapak Darmadi

B. Letak Geografis

Dalam monografi Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2010, luas wilayah Desa Labuhan Ratu Pasar secara keseluruhan adalah 913 Hektar, dengan batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Desa Sirna Galih b. Sebelah Selatan : Desa Bumi Ratu

c. Sebelah Barat : Desa Labuhan Ratu Kampung d. Sebelah Timur : Desa Gunung Labuan

Sedangkan jarak dengan pusat pemerintahan (orbitasi) adalah sebagai berikut : a. Ke Ibu Kota Kabupaten : 23 Km

b. Ke Ibu Kota Provinsi : 155 Km

Wilayah Desa Labuhan Ratu Pasar adalah Termasuk daerah lahan kering dengan kondisi sebagai berikut :

a. Ketinggian dari permukaan laut : 154 m

b. Banyak Curah Hujan : 1.887 mm/tahun c. Tofografi daratan : daratan tinggi d. Suhu udara rata-rata : 25-30℃


(51)

C. Kependudukan

Dalam monografi Desa 2010 diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar adalah 2.180 jiwa. Pada awalnya sebagai daerah transmigran penduduk desa berasal dari daerah-daerah dari pulau Jawa, baik dari Jawa Timur, Tengah, dan Jawa barat. Setelah tahun 1970 mulai berdatangan penduduk yang berasal dari suku asli Pulau Sumatra yaitu Suku lampung, hingga tahun 2010 penduduk asli telah mencapai 10% dari jumlah keseluruhan penduduk di Desa Labuhan Ratu Pasar. Namun demikian hubungan antar etnis yang satu dengan yang lainya tetap terjalin harmonis. Kalaupun muncul unsur kesukuan itu hanya pada acara-acara adat, seperti pernikahan, kematian, kelahiran dan sebagainya sehingga hubungan yang baik tetap terjaga hingga sekarang.

a. Distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin

Distribusi penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar berdasarkan Jenis Kelamin dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4. Distribusi menurut jenis kelamin

No. Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

1 Laki-laki 1.108 50,83%

2 Perempuan 1.072 49,17%

Jumlah 2180 100%

Sumber : Monografi Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2010

Berdasarkan tabel diatas diketahui jumlah penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar yang berjenis kelamin laki-laki lebih besar dibandingkan dengan jumlah


(52)

kecil. Jadi, dapat dinyatakan bahwa perbandingan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah seimbang.

b. Distribusi penduduk berdasarkan golongan umur

Distribusi penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar menurut golongan umur dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5. Distribusi menurut Umur Golongan Umur No. Umur(Tahun) Frekuensi Persentase%

1 00-10 400 18,35%

2 11-20 380 17,43%

3 21-30 420 19,27%

4 30-40 458 21,01%

5 50-60 460 21,10%

6 60 Ke atas 390 17,87%

Jumlah 2180 100%

Sumber : Monografi Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2010

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar yang Termasuk dalam Usia Belum Produktif (0-20) adalah berjumlah 780 Jiwa atau 34,78%. Penduduk dalam usia produktif (21-60) berjumlah 1338 jiwa atau 61,37%, sedangkan penduduk yang tergolong dalam lanjut usia (60 tahun keatas) berjumlah 390 jiwa dan 17,87%.


(53)

c. Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan

Distribusi penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6. Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan

No. Tingkat Pendidikan frekuensi Persentase(%) a. Lulusan Pendidikan Umum

1 Belum Sekolah / Tidak Sekolah 1625 74,54%

2 TK 46 2,11%

3 SD / Sederajat 210 9,63%

4 SMP /Sederajat 128 5,87%

5 SMA / Sederajat 78 3,57%

6 Perguruan Tinggi / Akademi 8 0,36%

b. Lulusan Pendidikan Khusus

7 Pondok Pesantren 33 1,51%

8 Sekolah Luara Biasa 2 0,09%

9 Kursus 50 2,29%

Jumlah 2180 100,00%

Sumber : Monografi Desa Labuhan Ratu Pasar Tahun 2010

Berdasrkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar hanya sedikit sekali yang telah merasakan dunia pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan khusus. Jumlah penduduk yang tidak sekolah dan belum sekolah mencapai 1625 jiwa atau (74,54%) dari seluruh penduduk Desa Labuhan Ratu Pasar yang berjumlah 2180 jiwa. Penduduk yang tamat SD / sederajat berjumlah 210 jiwa atau (9,63%), penduduk yang tamat SMP berjumlah 128 jiwa (5,87%), penduduk tamat SMA berjumlah 78 jiwa atau (3,57%)

sedangkan penduduk tamatan perguruan tinggi hanya berjumnlah 8 jiwa atau (0,36%). Penduduk lulusan pendidikan khusus di Desa Labuhan Ratu Pasar pun menunjukan angaka yang kecil, penduduk lulusan pondok pesantren berjumlah


(54)

33 jiwa atau (1,51%) dan penduduk mengikuti kursus seperti kursus montir, kursus menjahit dan lain-lain berjumlah 50 jiwa atau (2,29%).

d. Struktur Pemerintah Desa Labuhan Ratu Pasar

Struktur Pemerintah Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara

Provinsi Lampung

Kepala Desa

Darmadi

Sekretaris Desa

Maskur

Kepala Urusan Pemerintahan

Darsono

Kepala UrusanPembangunan

Sumardi

Kepala Urusan Umum

Mustofa. MS

Kepala Dusun I

Supardi

Kepala Dusun III

Hadir Usman

Kepala Dusun II

Jamino

Kepala Dusun IV


(55)

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Langkah-langkah Penelitian

Langkah-langkah penelitian merupakan suatu bentuk upaya persiapan sebelum melakukan penelitian yang sifatnya sistematis yang meliputi perencenanan, prosedur hingga teknis pelaksanaan di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar dalam penelitian yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

B. Pelaksanaan Penelitian 1. Persiapan administrasi

Penelitian dilakukan berdasarkan surat pra riset dari dekan FISIP UNILA Cq. Pembantu Dekan I dengan nomor 77/UN.26/6/DT/2012 dan surat izin peneltian dengan nomor 78/UN.1/12/DT/2012 yang ditujukan kepada Kepala Desa

Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung.

2. Penyusunan Alat Pengumpulan Data

Sesuai dengan alat pengumpulan data yang akan digunakan, maka peneliti mempersiapkan kisi-kisi soal angket yang akan disebarkan kepada para remaja di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung. Penulis kemudian mengkonsultasikan soal angket


(56)

kepada Dosen Pembimbing untuk mendapatkan persetujuan berkaitan dengan penggunaan instrumen.

3. Uji Coba Soal Angket

a. Analisis Reliabilitas

Uji coba ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui reliabilitas alat ukur yang digunakan, yaitu dengan cara menyebarakan soal angket kepada 10 orang diluar responden. Hasil uji coba tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 7. Hasil uji coba soal angket item ganjil (X)

No. No. Item

Skor

Res. 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21

1 3 2 3 2 2 3 2 2 2 3 3 27

2 2 1 3 1 3 2 1 2 1 2 2 20

3 3 3 2 1 2 2 3 3 2 3 2 26

4 3 1 3 1 3 3 1 2 3 2 3 25

5 3 2 1 2 2 3 1 2 2 1 3 22

6 3 3 3 1 3 3 3 3 2 3 3 30

7 2 1 3 1 3 1 2 3 3 2 2 23

8 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 23

9 3 1 2 1 2 2 3 3 2 1 3 23

10 2 3 2 2 2 1 2 2 1 2 1 20

Jumlah 239


(57)

Tabel 8. Hasil uji coba soal angket item genap (Y)

No. No. Item

Skor

Res. 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22

1 3 2 3 2 2 3 2 2 2 3 3 27

2 3 2 2 1 3 2 2 2 1 2 2 22

3 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 30

4 1 1 2 1 2 2 2 2 3 2 3 21

5 3 2 1 3 3 3 1 2 2 1 3 25

6 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 30

7 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 25

8 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 26

9 3 2 2 2 3 3 2 3 2 1 3 26

10 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 1 26

Jumlah 258

Sumber : Data Primer

Tabel 9. Tabel kerja antara Iten Ganjil (X) dan Item Genap (Y)

No. X Y X2 Y2 X.Y

1 27 27 729 729 729

2 20 22 400 484 440

3 26 30 676 900 780

4 25 21 625 441 525

5 22 25 484 625 550

6 30 30 900 900 900

7 23 25 529 625 575

8 23 26 526 676 598

9 23 26 529 676 598

10 20 26 400 676 520

Jumlah 239 258 5.798 6.732 6.215 Sumber : Data Primer

Berdasarkan data diatas maka untuk mengkorelasikan kelompok skor antara item genap dan item ganjil dimasukan ke dalam rumusproduct momensebagai


(58)

( )( )

( ) ( )

6215 (239)(258)10 5798 (239)10 6732 (258)10

6215 6166,2

{5798 5712,1}{6732 6654,4} 48,8

6494,04 48,8 80,59 0,61

Selanjutnya untuk mencari reliabilitas alat ukur ini, maka dilanjutkan dengan menggunakan rumusSperman Brownagar diketahui koefisien seluruh item dengan langkah sebagai berikut :

= 2( )

1(+ )

= 2(0,61) 1 + (0,61) = 1,22

1,61 = 0,76

Dari hasil pengolahan data tersebut, kemudian penulis mengkorelasikan dengan kriteria reliabilitas sebagai berikut.

0,901,00 = Reliabilitas Tinggi 0,500,89 = Reliabilitas Sedang


(59)

0,000,49 =Reliabilitas Rendah (Manase Malio dkk : 139)

Berdasarkan hasil analisis yang telah penulis lakukan diatas, menunjukan bahwa item pertanyaan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua menunjukan angka koefisien reliabilitas 0,76 atau reliabiliatas sedang. Oleh karena itu angket tersebut dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data dalam penelitian selanjutnya.

4. Penelitian di Lapangan

Penelitian dilapangan dilakukan pada tanggal 28 november 2011 sampai dengan 16 desember 2011 dengan menyebarkan soal-soal angket kepada para remaja di Desa Labuhan Ratu Pasar Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara Provinsi Lampung yang berjumlah 39 orang dengan jumlah item pertanyaan 22 butir soal yang telah dilengkapi dengan kemungkinan jawaban yang akan dipili responden.

C. Deskiripsi Data

Setelah diadakan uji coba angket dan diketahui tingkat validitas dan reliabilitas sebagai alat ukur dalam penelitian ini, selanjutnya peneliti mengadakan penelitian terhadap 39 responden di Desa Labuhan Ratu Pasar. Berikut adalah data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua di Desa Labuhan Ratu Pasar yang merupakan hasil dari penggunaan teknik pokok berupa angket.


(60)

Tabel 10. Distribusi skor item angket. No. Faktor pengasuhan keluarga Kategori Faktor Kelompok Teman Sebaya Kategori Faktor Lingkungan Masyarakat Kategori Res.

1 23 Tinggi 17 Sedang 16 Tinggi

2 21 Sedang 17 Sedang 15 Tinggi

3 22 Tinggi 17 Sedang 14 Sedang

4 16 Rendah 15 Sedang 15 Tinggi

5 23 Tinggi 20 Tinggi 14 Sedang

6 24 Tinggi 16 Sedang 16 Tinggi

7 16 Rendah 18 Tinggi 16 Tinggi

8 12 Rendah 18 Tinggi 16 Tinggi

9 12 Rendah 13 Rendah 13 Sedang

10 26 Tinggi 17 Sedang 17 Tinggi

11 20 Sedang 18 Tinggi 14 Sedang

12 22 Tinggi 18 Tinggi 14 Sedang

13 22 Tinggi 18 Tinggi 15 Tinggi

14 13 Rendah 13 Rendah 13 Sedang

15 21 Sedang 18 Tinggi 11 Rendah

16 25 Tinggi 17 Sedang 12 Rendah

17 17 Sedang 14 Rendah 10 Rendah

18 12 Tinggi 12 Rendah 11 Rendah

19 16 Rendah 16 Sedang 16 Rendah

20 19 Sedang 18 Tinggi 16 Sedang

21 22 Tinggi 19 Tinggi 13 Sedang

22 22 Tinggi 19 Tinggi 17 Tinggi

23 22 Tinggi 16 Sedang 16 Tinggi

24 21 Sedang 18 Tinggi 15 Tinggi

25 26 Tinggi 18 Tinggi 15 Tinggi

26 21 Sedang 17 Sedang 12 Sedang

27 18 Sedang 18 Tinggi 12 Sedang

28 18 Sedang 16 Sedang 9 Rendah

29 22 Tinggi 16 Sedang 14 Sedang

30 21 Sedang 16 Sedang 17 Tinggi

31 22 Tinggi 18 Tinggi 16 Tinggi

32 20 Sedang 17 Sedang 16 Tinggi

33 23 Tinggi 15 Sedang 15 Tinggi

34 21 Sedang 15 Sedang 15 Tinggi

35 22 Tinggi 16 Sedang 16 Tinggi

36 21 Sedang 19 Tinggi 15 Tinggi

37 21 Sedang 19 Tinggi 15 Tinggi

38 21 Sedang 17 sedang 16 Tinggi

39 22 Sedang 18 tinggi 15 Tinggi


(61)

1. Faktor Pengasuhan Keluarga

Tabel 11. Distribusi Skor Hasil Angket Untuk Faktor Pengasuhan Keluarga

No. Nama Responden Nomor Item Skor

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Agus Setiawan 3 3 3 3 2 3 1 3 2 23

2 Agus Wahyudi 3 3 3 2 2 2 1 2 3 21

3 Arif Suyono 3 3 2 3 2 3 1 2 3 22

4 Arif Sugiarto 3 3 2 2 2 2 1 2 3 16

5 Bahtiar 3 2 3 3 2 3 1 3 3 23

6 Bejo 2 2 3 3 3 3 2 3 3 24

7 Doni 1 2 3 2 2 2 1 1 2 16

8 Edi Sugiarto 3 2 3 3 2 3 2 2 3 12

9 Eka Septiani 2 1 1 1 1 3 1 1 1 12

10 Eko Purnomo 3 3 3 3 2 3 3 3 3 26

11 Eko Rubiyanto 2 3 2 2 2 3 1 2 3 20

12 Eko widodo 3 3 2 2 2 3 2 2 3 22

13 Heri Purnomo 3 3 2 2 2 3 2 2 3 22

14 Jaelani 3 1 1 1 1 2 1 1 2 13

15 Juni 2 3 3 3 2 3 1 1 3 21

16 Mudriyah 3 3 3 3 3 3 2 2 3 25

17 Nopi 1 2 2 2 1 3 1 2 3 17

18 Nurfadilah 3 1 2 1 1 1 1 1 1 12

19 Ngatiyem 1 2 3 2 2 2 1 1 2 16

20 Nanik 2 3 2 2 2 3 1 1 3 19

21 Pujiono 3 3 3 2 2 3 1 2 3 22

22 Panda 3 3 2 2 2 3 2 2 3 22

23 Rizka 3 3 3 2 2 3 1 2 3 22

24 Rizki 3 3 2 2 1 3 1 3 3 21

25 Romli 3 3 3 3 3 3 3 2 3 26

26 Santo 3 2 3 2 2 3 1 3 2 21

27 Sholeh 3 1 2 1 2 3 2 2 2 18

28 Sinta 2 1 2 1 2 3 2 2 3 18

29 Siti Aminah 3 3 2 2 2 3 1 3 3 22

30 Sobar 3 3 2 3 2 3 1 2 2 21

31 Sri Wahyuni 3 3 2 3 2 3 1 3 2 22

32 Sudir 3 3 3 2 2 2 1 2 2 20

33 Sumadi 3 3 3 2 3 3 1 2 3 23

34 Surono 3 3 2 1 3 3 2 2 2 21

35 Susilo Sudirman 3 3 2 2 3 3 1 2 3 22

36 Sutarno 3 3 2 2 2 1 3 3 2 21

37 Sutrisno 3 3 2 2 2 3 1 3 2 21

38 Wagiana 3 3 2 2 1 3 2 2 3 21

39 Wahyudi 3 3 2 1 2 3 3 3 2 22


(62)

Berdasarkan tabel 10 dan 11, maka dapat diketahui bahwa faktor pengasuhan keluarga untuk skor tertinggi adalah 26, skor terendah 12, selanjutnya dapat diketahui kelas interval pengaruh faktor pengasuhan keluarga terhadap perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua sebagai berikut :

I = 3 =26 12

3 =14

3

= 4,7 = 5(Pembulatan)

Dan Rincian perhitungan Persentase Faktor Pengasuhan Keluarga adalah sebagai berikut :

Tabel 12. Tabel Distribusi frekuensi pengasuhan keluarga

No Interval Frekuensi Kategori

1 22-26 18 Tinggi

2 17-21 16 Sedang

3 12-16 5 Rendah

Jumlah 39

1. Kategori Tinggi

Berdasarkan Tabel diatas diketahui : F = 18

N = 39 Maka :

P = x 100%

P = x 100% P = 46,15%

2. Kategori Sedang

Berdasarkan tabel diatas diketahui : F = 16


(63)

Maka :

P = x 100%

P = x 100% P = 41,03%

3. Kategori Rendah

Berdasarkan tabel diatas diketahui : F = 5

N = 39 Maka :

P = x 100%

P = x 100% P = 12,82%

Tabel 13. Distribusi Presentase Faktor Pengasuhan Keluarga No. Interval Frekuensi Kategori Presentase

1 22-26 18 Tinggi 46,15%

2 17-21 16 Sedang 41,03%

3 12-16 5 Rendah 12,82%

jumlah 39 100%

Sumber : Analisis data primer

Berdasarkan tabel 13, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua yang disebabkan oleh faktor pengasuhan keluarga yang tergolong tinggi sebanyak 18 orang (46,15%), tergolong sedang 16 orang


(64)

2. Faktor Kelompok Teman Sebaya (Perr Group)

Tabel 14. Distribusi Skor Angket Untuk Kelompok Teman Sebaya

No. Nama Responden Nomor Item Skor

10 11 12 13 14 15 16

1 Agus Setiawan 3 3 3 2 2 2 2 17

2 Agus Wahyudi 3 3 3 3 2 2 1 17

3 Arif Suyono 3 3 3 2 2 2 2 17

4 Arif Sugiarto 2 2 3 3 2 2 1 15

5 Bahtiar 3 3 3 3 3 2 3 20

6 Bejo 2 3 2 3 3 1 2 16

7 Doni 3 2 3 3 2 3 2 18

8 Edi Sugiarto 3 3 3 2 3 2 2 18

9 Eka Septiani 3 1 2 2 3 1 1 13

10 Eko Purnomo 2 3 2 3 3 1 3 17

11 Eko Rubiyanto 3 2 3 3 3 2 2 18

12 Eko widodo 3 2 3 3 3 2 2 18

13 Heri Purnomo 2 3 3 3 3 2 2 18

14 Jaelani 3 1 2 2 3 1 1 13

15 Juni 3 2 3 3 3 2 2 18

16 Mudriyah 2 2 2 2 2 2 2 14

17 Nopi 3 2 2 2 1 2 2 14

18 Nurfadilah 2 2 2 2 1 2 1 12

19 Ngatiyem 3 2 3 2 2 2 2 16

20 Nanik 2 3 2 3 3 2 3 18

21 Pujiono 3 3 3 2 3 2 3 19

22 Panda 3 3 3 2 3 2 3 19

23 Rizka 3 3 2 3 2 1 2 16

24 Rizki 3 3 3 3 2 2 2 18

25 Romli 3 3 2 2 3 2 3 18

26 Santo 3 2 3 2 2 2 3 17

27 Sholeh 3 3 3 2 2 3 2 18

28 Sinta 3 3 3 2 2 1 2 16

29 Siti Aminah 2 2 3 2 3 2 2 16

30 Sobar 3 3 3 3 2 1 1 16

31 Sri Wahyuni 3 3 3 2 2 2 3 18

32 Sudir 3 3 2 2 2 2 3 17

33 Sumadi 2 3 2 2 3 1 2 15

34 Surono 3 2 2 2 2 3 1 15

35 Susilo Sudirman 3 3 3 2 2 1 2 16

36 Sutarno 3 3 3 2 3 3 2 19

37 Sutrisno 3 3 3 2 3 2 3 19

38 Wagiana 3 3 2 3 2 1 3 17

39 Wahyudi 3 2 3 2 2 3 3 18


(1)

PERNYATAA

N

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Karya tulis saya, Skripsi adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (Megister/ Sarjana/ Ahli Madya), baik di Universitas Lampung maupun diperguruan tinggi lain.

2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing dan Penguji.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Universitas Lampung.

Bandar Lampung,27 April 2011 Yang Membuat Pernyataan,

Enda Maulana NPM. 0716011040


(2)

Alhamdulillah Ya Allah

Rasa Syukur Terindah Atas Segala Limpahan Karunia yang

Tiada Ujungnya

Kupersembahkan karya sederhana ini untuk kedua orangtuaku

tercinta Ayahanda Junaidi.Alm dan Ibunda Murtapiah, yang

selalu mendoakan, memberikan cinta, kasih sayang dan

perhatian serta pengorbanan yang tiada henti

.

Untuk yank pee dan juga adik-adikku tercinta Endo dan

Enzela yang selalu memberikan inspirasi sekaligus motivasi

kepada penulis untuk terus berkembang

.

Rekan-rekan serta sahabat seperjuangan di Sosiologi dan

Alamamater Universitas Lampung

.


(3)

RIWAYAT HIDUP

Penulis yang bernama Enda Maulana dilahirkan di

Ketapang pada tanggal 26 Juli 1989 yang merupakan

anak pertama dari tiga bersaudara buah cinta Bapak

Junaidi dan Ibu Murtapiah.

Pendidikan formal yang penulis tempuh di mulai pada saat berusia 5 tahun, yaitu

bersekolah di TK Dharma Wanita Gedung Ketapang Kecamatan Sungkai Selatan

selama 1 tahun, lalu melanjutkan pendidikan dasar pada SDN 01 Ketapang dan

lulus pada tahun 2001. Setelah lulus dari SD, penulis melanjutkan pendidikan di

SMPN 2 Labuhan Ratu Pasar dan lulus tahun 2004. Kemudian penulis

melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Kota Bumi pada tahun 2004 dan lulus tahun

2007. Pada tahun 2007, penulis kemudian melanjutkan lagi pendidikannya pada

Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diselenggarakan


(4)

SANWACANA

Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh..

Alhamdulillahirobbilalamin, penulis panjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas segala rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul”Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial remaja terhadap orang tua”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana pada

Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung.

Pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan

bantuan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih penulis

sampaikan kepada:

1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Susetyo, M.Si, selaku Ketua Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik dan sebagai pembahas yang telah banyak

meluangkan waktu dan memberi arahan-arahan dan masukan-masukan


(5)

3. Ibu Dewi Ayu Hidayati, S.Sos, M.Si, selaku Pembimbing Utama yang telah

banyak memberikan bimbingan, saran, kritik, kesabaran, serta meluangkan

waktu untuk membantu mengarahkan penulis selama mengerjakan skripsi.

4. Ibu Drs.Paraswati selaku Pembimbing Akademik.

5. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Lampung yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan dengan segala

ketulusannya.

6. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Lampung yang telah banyak membantu penulis dalam melakukan

administrasi.

7. Seluruh Masyarakat Desa Labuhan Ratu Pasar, yang telah banyak membantu

dan memudahkan dalam penyusunan skripsi ini.

8. Kedua orang tua, Papa, Mama terima kasih buat motivasi dan pengorbanan

kalian selama ini, maaf hanya karya kecil ini yang bisa Een kasih buat papa

sama mama, semoga kelak Een bisa buat papa sama mama bangga. Semua

ini nggak ada artinya tanpa perjuangan kalian. Buat mama, terima kasih buat

setiap doa-doanya yang dipanjatkan. Buat almarhum papa een sayang ma

papa, maafin een yang selalu buat papa kesel selama ini.

9. Kedua adikku Endo dan Enzela maaf ya kakak belum bisa jadi contoh yang

baik, tapi kakak akan selalu berusaha menjadi lebih baik kedepannya.

10. Buat yank pee makasih ya, dah mau jadi temen, sahabat sekaligus pacar,

yang disaat aku jatuh kamu selalu ada buat aku, maaf kalau aku selalu buat


(6)

11. Buat temen-temen jurusan sosiologi Angga, Yoga, Zoely, Ucok, Martin,

Rizki, Sani, Sulton, Wawang, Sabar, Wilson dll yang tidak bisa disebutkan

satu-satu terima kasih atas semua bantuannya.

12. Temen-temen kostan Yoga, Sulton, Tito, Ade, Mai, Beni, Sutris, Wayan,

Perok dll. Terima kasih buat bantuannya selama ini.

13. Semua keluarga besar Sosiologi FISIP Unila.

14. Kepada semua pihak yang telah turut memberikan bantuan yang tidak dapat

disebutkan satu per satu.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum, warohmatullahi wabarakatuh.

Bandar Lampung, April 2012

Penulis,