Evaluation Behaviors and Physiological Responds of Etawah Grade Doe Maintained at Difference Types of Barn on Sand Reclamation Land

EVALUASI TINGKAH LAKU DAN RESPON FISIOLOGIS
KAMBING PE BETINA YANG DIPELIHARA PADA
JENIS KANDANG BERBEDA DI DAERAH
PASCA TAMBANG PASIR

SKRIPSI
WAWAN DWI APRIANTO

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

RINGKASAN
WAWAN DWI A. D14080340. 2012. Evaluasi Tingkah Laku dan Respon
Fisiologis Kambing PE Betina yang Dipelihara pada Jenis Kandang Berbeda
di Daerah Pasca Tambang Pasir. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Muhamad Baihaqi, S. Pt., M.Sc.
Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Mohamad Yamin, M.Agr.Sc.
Kambing PE merupakan ternak ruminansia yang berkontribusi dalam
pemenuhan kebutuhan daging dan susu. Produktivitas bisa dikatakan dengan baik
jika salah satu indikator kesejahteraan ternak baik. Salah satu indikator
kesejahteraan ternak dapat dilihat dari tingkah laku ternak. Pemeliharaan yang
dilakukan oleh kelompok peternak Simpay Tampomas menggunakan dua tipe
kandang yaitu kandang panggung dan kandang alas tanah. Perbedaan sistem
perkandangan tersebut perlu dikaji pengaruhnya terhadap tingkah laku hewan
tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan tingkah
laku kambing Peranakan Etawah di kandang panggung dan alas tanah di daerah
pasca penambangan pasir.
Sampel yang digunakan adalah Kambing Betina PE berumur 2,5 tahun
sebanyak 16 ekor, terdiri dari 8 ekor dipelihara di kandang panggung dan sisanya
di pelihara di kandang alas tanah. Data Frekuensi diolah menggunakan 2 uji yaitu
: uji Friedman untuk data pengamatan berulang dengan perlakuan lebih dari 2, dan
Mann Whiteney untuk data frekuensi yang independent, jika berbeda nyata
digunakan uji banding rataan, sedangkan data lama waktu kejadian diolah dengan
menggunakan uji t. Perbandingan dilakukan terdiri dari dua aspek yaitu durasi
waktu dan perbedaan kandang. Data fisiologis diolah dengan uji t untuk
mengetahui nilai rataan yang berbeda.
Hasil penelitian seluruh tingkah laku antara kandang panggung dengan
kandang alas tanah tidak berbeda nyata kecuali frekuensi tingkah laku agonistic
yang berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi di kandang alas tanah. Hasil penelitian
pada waktu yang berbeda di kandang alas panggung menunjukkan frekuensi
tingkah laku agonistic dan makan berbeda nyata (P<0,05) tertinggi pada sore hari,
lama waktu tingkah laku agonistic, makan, dan eliminasi berbeda nyata (P<0,05)
tertinggi pada sore hari. Hasil Penelitian pada waktu yang berbeda di kandang
tanah menunjukkan bahwa pada frekuensi tingkah laku agonistic berbeda nyata
(P<0,05) tertinggi pada pagi hari, akan tetapi lama waktu makan tingkah laku
agonistic berbeda nyata (P<0,05) tertinggi pada sore hari. Frekuensi tingkah laku
makan dan vokalisasi berbeda nyata (P<0,05) tertinggi pada sore hari, dan lama
waktu tingkah laku makan berbeda nyata (P,0,05) tertinggi pada sore hari.
Pengamatan pagi hari dengan waktu yang berbeda menunjukkan frekuensi dan
lama waktu tidak berbeda nyata (P>0,05) antara kandang panggung dan kandang
alas tanah. Pengamatan siang hari dengan waktu yang berbeda menunjukkan
frekuensi dan lama waktu tingkah laku makan berbeda nyata (P<0,05) antara
kandang panggung dan tanah. Sore hari frekuensi dan lama waktu tingkah laku
agonistic berbeda nyata antara kandang panggung dan kandang tanah. Hasil uji T
pengukuran data fisiologis menunjukkan bahwa denyut jantung dan suhu rektal
kambing PE pada pagi dan siang hari di kandang panggung nyata lebih tinggi
i

(P<0,01) dibandingkan di kandang alas tanah, denyut jantung pada sore hari di
kandang tanah menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan
kandang panggung.
Kesimpulan Lahan pasca tambang pada daerah penelitian ini memiliki suhu
dan kelembaban rata-rata relatif nyaman untuk ternak. Secara umum tingkah laku
keseluruhan antara kandang panggung dan kandang alas tanah pada daerah pasca
tambang pasir tidak berbeda nyata kecuali frekuensi tingkah laku agonistic tertinggi
berada dii kandang alas tanah. Berdasarkan frekuensi tingkah lagu agonistic dan
tingkah laku vokalisasi tertinggi pada kandang alas tanah. Secara umum suhu
rektum dan denyut jantung kambing betina PE antara kandang panggung dan
kandang alas tanah masih dikisaran suhu yang ideal walaupun dalam statistika
didapatkan hasil yang berbeda nyata, akan tetapi denyut jantung pada sore hari di
kandang alas tanah di atas normal. Hasil kajian dengan data tingkah laku dan
fisiologis ternak direkomendasikan peternak simpay tampomas untuk menggunakan
kandang panggung.
Kata Kunci : peranakan etawah, tingkah laku, fisiologis, tipe kandang, pasca
tambang pasir

ii

ABSTRACT
Evaluation Behaviors and Physiological Responds of Etawah Grade Doe
Maintained at Difference Types of Barn on Sand Reclamation Land
Aprianto, W. D., Baihaqi M. and Yamin, M.
This study was aimed to examine the effect of different barn type on doe Etawah
grade behavior at Simpay Tampomas farm, Sumedang. The study used 16 goats
(52.81 ± 5.49 kg) at the age of 2.5 – 3.0 years old. The doe Etawah grade behaviors
observed were at the different time: morning (6:00 am to 8:00 am), early afternoon
(12:00 am - 02:00 pm), and late afternoon (04:00 pm to 06:00 pm). The treatments
were types of stages: ground stage and stable stage. Parameters observed were eating
behavior, vocalizations, allelomimetic, eliminative, and agonistic. The Mann
Whiteney and Friedman test were used to analyzed difference of frequency, while
duration and physiology data were analyzed by using T test to analyzed animal
behavior difference. The result showed that agonistic behavior mostly occurred in the
morning, but eating behavior and vocalizations occurred in the afternoon, while
allelomimetic behavior mostly occurred during early afternoon, either on stable or
ground stage. The eliminative behavior had different characteristics. Goats in the
stable stage presented more eliminative behavior in the early noon, while the ground
stage the goat presented the behavior in the late noon. The heart rate and rectal
temperature of goat in both cages in the morning were significantly different
(P<0.01) from ones in the late noon. Heart rate of goats in the late noon was different
(P<0.05) between stables stage, but was not different (P>0.05) for rectal temperature.
In Conclusion overall behavior of goat on ground stage and stable stage were not
significant different except frequency of agonistic behavior. Behavior Etawah of
grade seen that the afternoon were prone to the existence of time that treatment more.
The physiological response of Etawah grade the best, on the stable stage.
Key words : etawah grade, behavior, physiological, barn, sand reclamation.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Banyuwangi pada tanggal 18 April 1988 dari pasangan
almarhum Bapak Mustari dan almarhum Ibu Wastatik. Penulis mengawali
pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri 1 Bulurejo pada tahun 1994 dan
diselesaikan pada tahun 2000. Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama di mulai pada
tahun 2001 dan diselesaikan pada tahun 2003 di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Negeri 1 Cluring. Penulis kemudian melanjutkan ke sekolah tingkat umum di
Sekolah Menengah Umum Negeri 1 Purwoharjo pada tahun 2004 dan lulus pada
tahun 2006. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui
program SNMPTN (Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri). Pada
tahun 2009 penulis diterima di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi
Peternakan. Selama mengikuti pendidikan, penulis aktif di kegiatan asisten
praktikum dan mengajar di bimbingan belajar RUSA.

EVALUASI TINGKAH LAKU DAN RESPON FISIOLOGIS
KAMBING PE BETINA YANG DIPELIHARA PADA
JENIS KANDANG BERBEDA DI DAERAH
PASCA TAMBANG PASIR

Wawan Dwi Aprianto
D14080340

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillahirabbil’alamin saya panjatkan atas kehadirat Allah
SWT karena dengan segala karunia dan rahmat-Nya sehingga penulisan skripsi ini
dapat terselesaikan. Skripsi ini berjudul Evaluasi Tingkah Laku dan Respon
Fisiologis Kambing PE Betina yang Dipelihara pada Jenis Kandang Berbeda di
Daerah Pasca Tambang Pasir. Skripsi ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang
penulis lakukan pada bulan Juli 2011 bertempat di Kelompok Peternak Kambing
Simpay Tampomas, berlokasi di lereng Gunung Tampomas, Desa Cibeureum Wetan,
Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini
mengamati tentang pengaruh kandang terhadap kesejahteraan ternak.
Kesejahteraan ternak selalu dikaitkan dengan tingkah laku stres pada ternak.
Salah satu cara menangani stres pada ternak, dengan cara membuat sistem
perkandangan yang baik. Perkandangan merupakan salah satu sarana yang dibuat
untuk memodifikasi pengaruh buruk lingkungan. Tujuan peletakan ternak di kandang
adalah untuk memudahkan penanganan pemeliharaan ternak, melindungi ternak dari
serangan hewan buas dan melindungi ternak dari cekaman panas. Penelitian ini
bertujuan mengevaluasi pengaruh tipe alas kandang yang berbeda (panggung dan
tanah) terhadap parameter yang diamati, berupa tingkah laku ternak dan fisiologis
ternak.
Penulis memahami bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, harapan besar penulis adanya sumbangan pemikiran
dari berbagai pihak untuk perbaikan skripsi ini. Penulis mengucapkan terimakasih
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah ikut berperan sehingga penulisan
skripsi ini dapat terselesaikan. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi
semua pembaca.

Bogor, September 2012
Penulis

UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan
rahmat telah diberikan selama proses penulisan skripsi ini sehingga sekripsi ini
selesai dengan waktunya, penulis menerima banyak bantuan dari berbagai pihak,
baik berupa peminjaman buku, doa, semangat dan dorongan moril lainya. Ucapan
terimakasih setulus hati saya ucapkan kepada Muhamad Baihaqi S.Pt.MSc dan Dr.Ir.
Mohamad Yamin M.Agr.Sc,

yang bersedia meluangkan waktunya untuk

membimbing, membaca, mengarahkan penulis untuk membuat skripsi ini dengan
baik. Terimakasih saya ucapkan kepada Dr.Ir Afton Atabany M.Si dan Dr.Ir Asep
Sudarman sebagai dosen penguji sidang yang telah memberi masukan dan
mengevaluasi tulisan penulis agar lebih baik dan benar.
Akhirnya secara khusus penulis perlu sampaikan penghargaan dan ucapan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Almarhum Ayah dan Bunda, saya
mendoakan anda semoga diterima di sisiNya. Terimakasih kepada kakak tertua saya
Didik Eko Pujianto yang telah membiayai saya selama ini. Ucapan terimakasih yang
mendalam kepada Yayasan Karya Salemba Empat yang telah memberikan beasiswa
kepada saya, tim Penelitian Sumedang (Hendro, Euis, Nia, Atik, dan Dewi),
Bramada Winiar Putra S.Pt, Delvita Yuniza, dan Dinar Puspa Indah. Kepada
keluarga besar Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, FAPET IPB
terimakasih atas segala pelajaran dan pengalaman berharga sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir dengan baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk
penulis dan semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, September 2012
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ................................................................................................

i

ABSTRACT ................................................................................................

ii

LEMBAR PERNYATAAN ...........................................................................

iii

LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................

iv

RIWAYAT HIDUP .......................................................................................

v

KATA PENGANTAR ...................................................................................

vi

DAFTAR ISI ................................................................................................

vii

DAFTAR TABEL..........................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

x

DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................

xi

PENDAHULUAN .........................................................................................

1

Latar Belakang ...................................................................................
Tujuan ................................................................................................

1
2

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................

3

Kambing Etawah dan Peranakan Etawah ..........................................
Kandang .............................................................................................
Kandang Induk ............................................................................
Tingkah Laku .....................................................................................
Tingkah laku Makan ...................................................................
Tingkah Laku Agonistic ..............................................................
Tingkah Laku Kambing ..............................................................
Sistem Pemeliharaan Terhadap Tingkah Laku Kambing ..................
Suhu dan Kelembaban .......................................................................
Denyut Jantung ..................................................................................
Respon Fisiologis Terhadap Kandang ...............................................
Respon Fisiologis Terhadap Pakan dan Waktu Pemberian Pakan ....

3
3
4
5
5
6
7
7
8
9
10
10

MATERI DAN METODE .............................................................................

12

Lokasi dan Waktu ..............................................................................
Materi ................................................................................................
Ternak .........................................................................................
Alat ..............................................................................................
Pakan ...........................................................................................
Prosedur .............................................................................................
Pengambilan Data Tingkah Laku................................................
Data Pendukung ..........................................................................

12
12
12
12
15
15
16
18

viii

Rancangan dan Analsis Data .........................................................................

18

HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................................

20

Keadaan Umum .................................................................................
Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang Panggung dan
Alas Tanah ..................................................................................
Tingkah Laku Kambing PE Betina di Tipe Kandang Panggung
pada Waktu yang Berbeda ..........................................................
Tingkah Laku Kambing PE Betina di Tipe Kandang Alas Tanah
pada Waktu yang Berbeda ..........................................................
Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang Panggung dan
Kandang Alas Tanah pada Waktu yang Berbeda .......................
Kondisi Fisiologis Kambing PE Betina .............................................
Suhu Tubuh .................................................................................
Denyut Jantung ...........................................................................

21

35
41
42
43

KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................................

45

Kesimpulan ........................................................................................
Saran ................................................................................................

45
45

UCAPAN TERIMAKASIH ..........................................................................

46

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

47

LAMPIRAN ................................................................................................

50

23
26
31

ix

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1.

Etogram atau Gambaran Tingkah Laku Kambing .................................

7

2.

Contoh Pengamatan Seluruh Tingkah Laku Kambing PE Betina ..........

16

3. Contoh Tabel Rataan dari Tabel 2 ..........................................................

17

Rataan Suhu dan Kelembaban di Kandang Panggung dan Tanah
pada Pagi, Siang, dan Sore .....................................................................

22

Rataan Frekuensi Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah ..............................................................................

24

Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah ..............................................................................

25

Rataan Frekuensi Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung ...............................................................................................

27

Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung ................................................................................................

28

Rataan Frekuensi Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Alas Tanah ..............................................................................................

32

10. Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina di
Kandang Alas Tanah ..............................................................................

33

4.
5.
6.

7.
8.
9.

11. Rataan Frekuensi Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang

Panggung dan Tanah pada Pagi Hari .....................................................

36

12. Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah pada Pagi Hari .....................................................

37

13. Rataan Frekuensi Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah pada Siang Hari ...................................................

39

14. Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Panggung dan Tanah pada Siang Hari ................................

40

15. Rataan Frekuensi Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah pada Sore Hari .....................................................

41

16. Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah pada Sore Hari .....................................................

42

17. Rataan Suhu Rektal Kambing PE Betina di Kandang Panggung

dan Tanah pada Waktu yang Berbeda ....................................................

43

18. Rataan Denyut Jantung Kambing PE Betina di Kandang Panggung

dan Tanah ...............................................................................................

44

x

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Tipe Kandang Panggung di Lokasi Penelitian .....................................

13

2. Tipe Kandang Alas Tanah di Lokasi Penelitian...................................

13

3. Layout Kandang Panggung dari Samping ............................................

14

4. Layout Kandang Panggung dari Atas...................................................

14

5. Layout Kandang Alas Tanah dari Samping .........................................

14

6. Layout Kandang Alas Tanah dari Atas ................................................

15

7. Lokasi Peternakan Simpay Tampomas di Kabupaten
Sumedang .............................................................................................

20

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1. Perbandingan Rataan Lama Waktu Kejadian Tingkah Laku
di Kandang Panggung dan Alas Tanah .....................................................

51

2. Perbadingan Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Panggung ...............................................................................

51

3. Perbandingan Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Alas Tanah.............................................................................

51

4. Perbandingan Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Panggung dan Tanah pada Pagi Hari ....................................

51

5. Perbandingan Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Panggung dan Tanah pada Siang Hari .................................

51

6. Perbandingan Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Panggung dan Tanah pada Siang Hari ..................................

52

7. Perbandingan Rataan Suhu Rektal Kambing PE Betina di Kandang
Panggung dan Tanah ................................................................................

52

8. Perbandingan Rataan Denyut Jantung Kambing PE Betina
di Kandang Panggung dan Tanah .............................................................

52

9. Hasil Uji T Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing
PE Betina di Kandang Panggung dan Tanah ............................................

52

10. Hasil Uji T Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing
PE Betina di Kandang Panggung ..............................................................

53

11. Hasil Uji T Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Alas Tanah .............................................................................

53

12. Hasil Uji T Rataan Lama Waktu Tingkah Laku Kambing PE Betina
di Kandang Panggung dan Alas Tanah pada Pagi,
Siang dan Sore ..........................................................................................

54

13. Hasil Uji T Rataan Denyut Jantung dan Suhu Rektal Kambing
PE Betina di Kandang Panggung dan Tanah ............................................

54

14. Hasil Uji Friedmen Tingkah Laku Kambing PE Betina di
Kandang Panggung pada Waktu yang Berbeda ........................................

55

15. Hasil Uji Friedmen Tingkah Laku Kandang Alas Tanah
pada Waktu yang Berbeda ........................................................................

55

16. Hasil Uji Analis Ragam Rataan Suhu di Kandang Panggung ..................

55

17. Hasil Uji Analisis Ragam Rataan Suhu di Kandang Tanah ......................

56

18. Hasil Uji Analisis Ragam Rataan Kelembaban di Kandang Tanah ..........

56

19. Hasil Uji Analisis Ragam Rataan Kelembaban di Kandang Tanah ..........

56

xii

20. Hasil Uji Mann Whiteney Frekuensi Kejadian Seluruh Tingkah
Laku di Kandang Panggung dan Tanah ....................................................

56

21. Hasil Uji Mann Whiteney Frekuensi Kejadian Seluruh Tingkah
Laku di Kandang Panggung dan Tanah pada Pagi Hari ..........................

57

22. Hasil Uji Mann Whiteney Frekuensi Kejadian Seluruh Tingkah
Laku di Kandang Panggung dan Tanah pada Siang Hari .........................

57

23. Hasil Uji Mann Whiteney Frekuensi Kejadian Seluruh Tingkah
Laku di Kandang Panggung dan Tanah pada Sore Hari ...........................

57

xiii

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan ternak ruminansia yang
berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan daging dan susu di Indonesia. Menurut
Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011), populasi kambing di
Indonesia pada tahun 2007-2011 adalah 17.482.722 ekor. Jumlah tersebut memberi
kontribusi besar terhadap pemenuhan daging nasional setelah daging sapi dengan
rata–rata pemotongan kambing dalam satu tahun sebesar 2.425.764 ekor/tahun.
Menurut Devendra dan McLeroy (1982), produktivitas rata-rata biologis kambing
yaitu 8%-28% lebih tinggi dibandingkan sapi. Jumlah anak per kelahiran (litter size)
bervariasi dengan rata-rata satu sampai dengan tiga ekor dengan tingkat produksi
susu yang melebihi dari kebutuhan untuk anaknya, sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai produk komersial dan tidak mengganggu proses reproduksinya. Pemanfaatan
pola adaptasi yang baik terhadap lingkungan membuat kambing PE tetap lestari
hingga sekarang. Pola adaptasi suatu hewan dapat diamati dengan melihat tingkah
laku hewan tersebut, sebagai respon awal terhadap lingkungan yang dihadapi lebih
lanjut dengan respon yang telah diketahui.
Tingkah laku hewan merupakan cara hewan merespon pengaruh lingkungan
yang ada di sekitarnya. Identifikasi tingkah laku hewan merupakan awal untuk
melihat kesejahteraan ternak. Ternak bisa dikatakan sejahtera apabila produksi dan
tingkah lakunya normal, salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan ternak
adalah pemberian naungan. Pemberian naungan tidak terlepas dari sistem
perkandangan. Manfaat kandang membuat ternak nyaman sehingga menjamin
kesejahteraan ternak yang dipelihara. Kandang juga diperlukan untuk melindungi
ternak dari pencurian, gangguan alam, hujan, sinar matahari, gangguan binatang buas
dan kedinginan. Penggunaan tipe kandang yang lazim digunakan oleh masyarakat
adalah dua tipe yaitu, kandang panggung dan kandang alas tanah. Tata cara
perkandangan yang intensif akan sejalan dengan usaha perbaikan hidup..
Peternakan di Desa Cibeureum Wetan Kecamatan Cimalaka, Kabupaten
Sumedang, menggunakan model yang saling berintegrasi satu dengan lain yang
disebut dengan peternakan terpadu. Pola integrasi dari peternakan di Desa
Cibeureum Wetan dengan menggabungkan sektor pertanian dan peternakan. Sektor
1

pertanian di daerah tersebut adalah sektor penanaman serta pengembangbiakan bibit
Buah Naga, sedangkan sektor peternakan dengan membudidayakan ternak kambing
PE. Pemeliharaan kambing di area tersebut menggunakan sistem perkandangan
tradisional yang beralas tanah dan perkandangan semi-modern yang beralas
panggung. Perbedaan sistem perkandangan tersebut perlu dikaji pengaruhnya
terhadap tingkah laku hewan tersebut untuk mengetahui metode kandang tersebut
tetap memenuhi kesejahteraan ternak yang keberlanjutanya dapat menunjang
produksi ternak.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkah laku dan respon
fisologis kambing PE betina yang dipelihara di kandang alas panggung dan alas
tanah.

2

TINJAUAN PUSTAKA
Kambing Etawah dan Peranakan Etawah
Kambing Etawah yaitu kambing yang berasal dari distrik Etawah daerah
antara sungai Yamuna dan Chambal Provinsi Uttar Pradesh, India (Mason, 1981).
Kambing Etawah didatangkan ke Indonesia bertujuan untuk memperbaiki kambing–
kambing lokal yang memilki tubuh kecil, dengan cara persilangan antara kambing
lokal dengan kambing Etawah, yang menghasilkan kambing Peranakan Etawah (PE).
Berdasarkan tipe kambing PE tipe kambing dwiguna yaitu kambing yang dapat
menghasilkan daging dan susu. Keunggulan Kambing PE dibandingkan ternak lokal
sejenis adalah kambing PE betina mampu menghasilkan susu 1,2 liter/ekor/hari
selama masa laktasi (Balai Penelitian Ternak, 2001). Kambing PE memiliki
karakteristik tubuh yang besar dengan bobot badan kambing jantan mencapai 90 kg,
sedangkan betina mencapai 60 kg. Sarwono (2008) menyatakan bahwa kambing PE
mempunyai ciri-ciri antara kambing kacang dengan kambing Etawah, yaitu bagian
hidung atas melengkung, panjang telinga antara 15-30 cm menggantung ke bawah,
sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam, putih, dan coklat. Kambing jantan
mempunyai bulu yang tebal dan agak panjang di bawah leher dan pundak, sedangkan
bulu kambing betina agak panjang terdapat di bagian bawah ekor ke arah garis kaki.
Kandang
Kandang memiliki arti yang sangat penting untuk menghindari pengaruh
lingkungan yang kurang menguntungkan bagi usaha peternakan sehingga dengan
adanya kandang maka penggunaan makanan untuk produksi dapat teratasi dengan
baik. Perkandangan juga berfungsi sebagai pencegahan dan pemberantasan penyakit
dan pengawasan terhadap pertumbuhan ternak (Sosromidjojo dan Soeraji, 1978). Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Budoyo (1978) menyatakan bahwa kandang
diperlukan untuk melindungi ternak dari pencurian, gangguan alam, hujan, sinar
matahari, gangguan binatang buas, dan kedinginan. Sosroamidjojo dan Soepardi
(1976) menyatakan bahwa dalam pembuatan kandang hal yang perlu diperhatikan
beberapa masalah antara lain: (1) biologi ternak masing–masing memiliki sistem
perkandangan tersendiri, (2) teknik konstruksi bangunan kandang harus bersih,
sirkulasi baik, ternak terhindar dari pengaruh cuaca yang merugikan, kandang harus

3

kuat, dan sesuai dengan ternak yang akan dikandangkan, dan (3) ekonomis, biaya
pembuatan kandang harus murah tetapi masih memenuhi persyaratan yang tercantum
pada poin 1 dan 2.
Menurut Devendra dan Buns (1994), ada dua tipe kandang kambing yang
umum dipakai di daerah tropis, yaitu kandang pada tanah dan kandang panggung.
Peternakan kambing di Indonesia umumnya menggunakan tipe kandang panggung.
Hal tersebut karena kandang panggung mempunyai kelebihan dalam mengurangi
pengaruh lingkungan yaitu suhu, kelembaban dan curah hujan, serta tergantung
tujuan berternak kambing untuk produksi susu atau produksi daging (Devendra dan
McLeroy, 1982). Pembuatan bangunan kandang harus bersih dan berventilasi agar
ternak dapat terjaga kesehatannya karena ternak dikandangkan setiap hari.
Kandang panggung yang baik memiliki tinggi kandang di atas tanah minimal
100 cm, pondasi kandang

terbuat dari beton atau batu sungai dengan bentuk

trapesium agar mudah dalam pembersihan kotoran, tinggi alas dengan tempat pakan
antara 50 – 60 cm, tujuannya adalah agar kambing mudah mengambil pakan dari
tempat pakan, celah kandang untuk keluar masuk kepala kambing mengambil pakan
adalah 20 x 25 cm. Pembuatan celah kandang kambing jantan harus lebih tinggi
daripada celah kandang pada kambing betina, tujuannya adalah untuk menjaga
kualitas rambut bagian leher kambing jantan akibat bergesekan dengan dinding
kandang. Tinggi celah kambing betina cenderung lebih pendek agar anak kambing
tidak keluar kandang melalui celah tersebut (Atabany, 2001).
Kandang Induk
Kandang induk merupakan tempat yang khusus untuk mengandangkan
kambing betina induk PE agar mempermudah dalam penanganan. Kandang induk
dibagi menjadi dua, yaitu kandang induk bunting dan kandang induk kering.
Kandang induk kering digunakan untuk mengelompokkan kambing betina yang
sudah tidak menyusui lagi anaknya (Sarwono, 2008), bentuk kandang induk masa
kering dibuat dengan menggunakan bentuk sistem kandang koloni atau berkelompok.
Kandang koloni berfungsi sebagai kandang perkawinan. Kambing biasanya
diletakkan di dalam kandang koloni dengan kepadatan ternak pada tiap kandang
sebanyak 5-10 ekor ternak dengan ukuran 3 x 5 m2. Kandang diberi sekat ruang
masing-masing sekat kandang bertujuan untuk diberi pintu untuk keluar masuknya
4

ternak. Bentuk kandang induk yang sedang bunting lebih dari tiga bulan dan induk
yang sedang mengasuh anak atau menyusui dibuat dengan sistem tipe kandang
tunggal atau individu. Ukuran kandang bersalin 1 x 1 m2 sampai 1,5 x 1,5 m2
(Mariono, 2007).
Tingkah Laku
Ethology merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku hewan. Tingkah
laku berasal dari kata ethos yang berarti karakter atau alam dan logos yang berarti
ilmu. Ilmu tingkah laku berkaitan dengan penentuan karakteristik hewan terhadap
lingkunganya serta respon berupa tingkah laku terhadap lingkungan yang
dihadapinya (Gonyou, 1991). Proses terjadinya tingkah laku hewan adalah ekspresi
dari upaya hewan untuk beradaptasi atau menyesuaikan dengan kondisi internal dan
eksternal yang berbeda, yaitu perilaku dapat digambarkan sebagai respon hewan
untuk stimulus. Studi tingkah laku perilaku (etologi) melibatkan tidak hanya hewan
apa saja yang diamati akan tetapi juga kapan, bagaimana, mengapa dan dimana
perilaku terjadi (Lehner, 1979).
Tingkah Laku Makan
Tingkah laku makan masing-masing ternak berbeda-beda dari tiap bangsa
yang berbeda. Peningkatan produksi dapat dicapai jika ternak makan dengan agresif
sehingga memakan pakan lebih banyak (Ensminger, 2002). Tingkah laku makan lain
adalah merumput, memakan hijauan hasil pemotongan atau penyimpanan, dan
konsentrat. Cara makan pada kambing adalah meramban browse leguminosa dan
tanaman yang agak lebih tinggi darinya) berbeda dengan domba yang cenderung
grazing (merenggut) rumput dengan bibir bagian atas hingga memotong bagian
bawah rumput (Ensminger, 2002).
Tingkah laku makan lain adalah ruminasi. Ruminasi adalah proses
mengunyah kembali pakan yang dikeluarkan dari retikulorumen, kemudian dikunyah
dengan bantuan saliva. Kambing melakukan ruminasi sebanyak 15 kali per hari
dengan lama waktu per ruminasi sekitar 1-120 menit, sehingga dalam satu hari total
waktu yang digunakan untuk ruminasi adalah antara 8-10 jam (Ensminger, 2002).
Menurut Tomaszewska et al. (1993), pengunyahan selama makan dan ruminasi dapat
mengurangi ukuran partikel dan mengubah bentuk pakan. Tingkat pengurangan

5

ukuran partikel pakan dicerna atau bahan yang diruminasi akan ditentukan oleh
waktu yang diperlukan untuk makan, ruminasi, dan jumlah kunyahan per satuan
waktu dalam setiap kegiatan dan oleh tingkat keefektifan pengunyahan.
Umumnya kambing menyukai berbagai jenis hijauan, karenanya dapat
membedakan antara rasa pahit, manis, asam, dan asin (Kilgour dan Dalton, 1984).
Tomaszewska et al. (1991) mengatakan bahwa pada siang hari dengan suhu yang
tinggi, kambing akan merumput lebih sedikit, waktu yang digunakan untuk ruminasi
lebih singkat dengan istirahat yang relatif lama.
Tingkah Laku Agonistic
Tingkah laku agonistic merupakan suatu kegiatan mengais, menanduk, dan
mendorong dengan bahu, lari bersama, dan menerjang (menendang, berkelahi,
melarikan diri, menanduk) pada kambing, terlentang sambil tidak bergerak,
menggigil (pada anak yang masih muda) mendengus, dan menghentakkan kaki pada
kambing (Hafez, 1968), menurut Frazer (1975), tingkah laku agonistic merupakan
tingkah laku yang memperlihatkan tingkah laku aktif dan pasif, tingkah laku aktif
seperti berkelahi, berlari, serta tingkah laku agresif. Tingkah laku agonistic juga
diperkuat oleh Ensminger (2002), mengatakan bahwa tingkah laku agonistic pada
kambing jantan diperlihatkan pada saat berkelahi dengan mundur terlebih dahulu
kemudian menyerang dengan cara menumbukkan kepalanya atau tanduknya pada
kepala lawan, kambing akan terus berkelahi sampai salah satu dari mereka berhenti
dan menyerah, biasanya kambing sebelum berkelahi akan mendengus.
Pola perilaku agonistic merupakan interaksi sosial antara satwa yang
dikategorikan beberapa tingkat konflik, yaitu dalam memperoleh makanan, pasangan
seksual, dan perebutan wilayah istirahat dengan melakukan tindakan yang bersifat
ancaman menyerang dan perilaku patuh (Hart, 1985). Perilaku agonistik ini
merupakan hal yang penting dalam menetapkan dan mempertahankan hubungan
dominan dan subordinat antara tingkatan sosial spesies. Kandungan hormon
testoteron yang tinggi pada mamalia jantan mengakibatkan tingkah laku berkelahi
lebih tinggi jika dibandingkan dengan betina (Ensminger, 2002).

6

Tingkah Laku Kambing
Keseluruhan tingkah laku kambing dapat dilihat pada Tabel 1 yang berbentuk
etogram.
Tabel 1. Etogram atau Gambaran Tingkah Laku Kambing.
Tingkah Laku

Ingestive

Gambaran Karakteristik

Browsing, makan legum-legum, ranting muda, menguyah,
menjilati garam, minum, dan menyusu.

Investigatory

Mengangkat kepala, mengarahkan mata, telinga, dan hidung
kearah gangguan. Mencium kambing lain atau benda lainnya.

Allelomimetik

Berlari bersama, tidur bersama, dan menumbuk rintangan dengan
kaki tegap bersamaan.

Agonistik

Mengais, mendorong dengan bahu, menanduk, lari bersama dan
menerjang,

bunching,

lari,

kedinginan,

mendengus

dan

menghentakan kaki.
Eliminatif

Kambing mengangkat ekor pada saat buang air besar dan
menghasilkan kotoran berbentuk pelet. Kambing betina jongkok
pada saat buang urin. Selama musim tak kawin, kambing jantan
membuang urinnya dengan sedikit dan tidak terjadi ekstensi dari
penis yang keluar dari prepotium.

Allow grooming Kambing menjilat-jilat dan membersihkan bulu,

bergantian

ataupun secara resiprok.
Sumber : Hafez (1968)

Sistem Pemeliharaan Terhadap Tingkah Laku Kambing
Pemeliharaan kambing dengan sistem penggembalaan bebas, di daerah sub
tropis periode merumput terjadi paling banyak ketika pagi sampai sore hari,
sedangkan pada daerah tropis siklus merumput, pada siang hari, ternak beristirahat di
bawah naungan atau dekat tempat air dan terdapat periode yang panjang pada malam
hari. Pola tingkah laku makan kambing pada saat makan, kambing akan menolak
setiap tanaman yang terkontaminasi dengan aroma air seni dan fesesnya, tingkah
laku makan pada kambing di alam liar dengan cara browsing. Tingkah laku browsing
ini bertujuan untuk memakan berupa kulit kayu, daun, tunas, semak, dan cabang
yang memiliki rasa yang lebih pahit dari rumput. Kemampuan kambing dalam
7

menoleransi terhadap pakan yang rasanya pahit dari pada pakan yang memiliki rasa
asin dan manis. Kebutuhan konsumsi air yang diperlukan kambing hanya 188
cc/kg/24 jam, hampir sama dengan unta yaitu 185 cc/kg/24 jam, sedangkan untuk
domba dan sapi adalah 197 cc/kg/24 jam dan 347 cc/kg/24 jam, mengakibatkan
kambing tahan terhadap daerah yang beriklim kemarau dengan curah hujan sedikit.
Efek dari pemberian air yang sedikit mengakibatkan terjadinya pengurangan ekskresi
urin dengan konsentrasi urea yang meningkat dan pekat (Cakra et al., 2008).
Kambing dipelihara di kandang intensif akan kehilangan ikatan berpasangan,
berkurangnya sifat agresif, dan perpanjangan musim kawin (Tomaszewska et al.,
1993). Menurut Roussel (1992) tingkah laku kambing yang sudah didomestikasi
sebagian besar kegiatannya dilakukan untuk makan dan menghabiskan sebagian
besar merumput di kandang. Kambing yang didomestikasi akan cenderung lebih baik
dalam reproduksi dan performa pertambahan bobot badan, hal ini karena manusia
akan memilih bangsa-bangsa kambing yang baik untuk disilangkan, sedangkan di
alam liar kesempatan untuk terjadi inbreeding sangat tinggi yang mengakibatkan
penurunan kualitas dari keturunan yang dihasilkan. Kambing yang sudah
terdomestikasi akan cenderung tidak takut jika didekati manusia, sedangkan kambing
yang masih liar akan cenderung menghindar dan lari jika bertemu dengan manusia.
Suhu dan Kelembaban
Suhu dan kelembaban udara merupakan dua faktor iklim yang mempengaruhi
produksi dan reproduksi ternak, karena dapat menyebabkan perubahan keseimbangan
panas dalam tubuh ternak, keseimbangan air, keseimbangan energi

dan

keseimbangan tingkah laku ternak (Esmay, 1982). Hasil penelitian Smith dan
Mangkuwidjojo (1988) menjelaskan bahwa kambing memerlukan suhu optimum
antara 18-30 oC untuk menunjang produksinya, sedangkan untuk suhu rektal
kambing pada kondisi normal adalah 38,5-40 oC dengan rataan 39,4 oC atau antara
38,5-39,7 oC. Kambing akan berusaha menurunkan suhu tubuhnya melalui proses
respirasi akibat suhu lingkungan yang tinggi (Yeates et al., 1975).
Keadaan lingkungan yang kurang nyaman juga membuat kambing
mengurangi konsumsi pakan dan meningkatkan konsumsi minum. Mekanisme
pelepasan panas tubuh dilakukan melalui empat cara yaitu : radiasi, konduksi,
konveksi, dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromegnetik, tidak
8

memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi
merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan
langsung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari suhu tinggi ke suhu
yang rendah. Konveksi adalah suatu perambatan melalui aliran cair dan gas.
Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi
merupakan perubahan dari zat cair menjadi uap air. Pengaruh suhu dan kelembaban
yang tinggi menyebabkan evaporasi lambat sehingga pelepasan panas tubuh
terhambat (McDowell, 1972). Cekaman panas pada ternak akan mengakibatkan
energinya berkurang sehingga aktivitasnya terganggu, seperti laju pertumbuhan
menurun, laju penafasan, dan denyut jantung meningkat (Curtis, 1983).
Denyut Jantung
Jantung adalah struktur maskular berongga yang bentuknya menyerupai
kerucut. Jantung terdiri dari dua bagian kiri dan kanan. Masing-masing bagian terdiri
dari atrium yang berfungsi menerima curahan darah dari pembuluh vena, dan
ventrikel yang berfungsi memompakan darah dari jantung ke seluruh tubuh melalui
arteri (Frandson, 1992). Satu denyut jantung terdiri dari satu sistole dan diastole.
Siklus jantung terdiri atas satu periode relaksasi yang disebut diastole, yaitu periode
pengisian jantung dengan darah, kemudian diikuti oleh satu periode kontraksi yang
disebut sistol (Guyton, 1997).
Peningkatan laju denyut jantung akan meningkat seiring dengan peningkatan
suhu lingkungan, gerakan, dan aktivitas otot (Edey, 1983). Adisuwardjo (2001)
menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung yaitu (1)
aktivitas, (aktivitas yang tinggi meningkatkan frekuensi kerja jantung) (2) ion
kalsium, ion kalsium memicu sistol yaitu kontraksi salah satu ruangan jantung pada
proses pengosongan ruang tersebut, (3) kadar CO2, dapat menaikkan frekuensi
maupun kekuatan kontraksi jantung, (4) acetylcolin, mengurangi frekuensi jantung,
(5) adrenalin, dapat menaikkan frekuensi jantung, (6) morphin, dapat menurunkan
denyut jantung, (7) suhu tubuh, semakin tinggi suhu tubuh maka frekuensi denyut
jantung semakin meningkat, (8) berat badan, semakin berat badan seseorang
frekuensi denyut jantung semakin besar, dan (9) usia, usia muda memiliki frekuensi
denyut jantung lebih cepat.

9

Respon Fisiologis Terhadap Kandang
Suhu pada kandang alas tanah lebih tinggi dari pada suhu pada kandang
panggung hal ini dikarena gesekan aliran udara pada permukaan tanah lebih besar
sehingga aliran udara pada kandang alas tanah terhambat menyebabkan terhalangnya
pertukaran udara dari kandang ke lingkungan. Faktor lain yang menyebabkan suhu
kandang alas tanah lebih tinggi adalah feses yang tertampung pada tanah mengalami
proses fermentasi yang dapat menghasilkan gas metan dan amonia. Proses fermentasi
ini dapat meningkatkan suhu kandang yang akan mengakibatkan bertambahnya
beban panas. Kandang alas panggung keadaannya akan lebih nyaman dibandingkan
kandang alas tanah karena gaya gesek udara pada lantai panggung lebih rendah.
Pembuatan celah kandang dengan lantai slat bambu akan mengakibatkan aliran
udaranya lebih lancar karena dari sela-sela bilah bambu angin dapat masuk (Puspani
et al., 2008). Penurunan suhu kandang tidak hanya dengan modifikasi lantai kandang
saja, tetapi juga dengan penggunaan naungan atau atap.
Menurut Qiston dan Suharti (2011) penggunaan naungan atau atap dapat
menciptakan kondisi yang lebih nyaman yang ditunjukkan dengan lebih rendah suhu
rektal dan frekuensi denyut jantung. Rataan suhu rektal kambing yang diberi
naungan yaitu 38,7 oC dan rataan denyut jantung kambing yang diberi naungan
adalah dan 86,6 kali/menit, sedangkan rataan denyut jantung kambing yang tidak
diberi naungan yaitu 39,10oC dan dan suhu rektal kambing yang tidak diberi naungan
yaitu 107,7 kali/menit.
Respon Fisiologis Terhadap Pakan dan Waktu Pemberian Pakan
Tingkah laku kambing akan berubah dari kegiatan merumput atau
mengkonsumsi pakan untuk menghindari kondisi yang tidak menyenangkan. Respon
untuk menghindari kondisi tersebut kambing mengurangi konsumsi pakan dan energi
metabolis yang tersedia. Gangguan lain terhadap keseimbangan energi berasal dari
perubahan fisiologi, endokrin, dan pencernaan yang selanjutnya menurunkan energi
yang tersedia (Setianah, 2004). Meningkatnya suhu cenderung mengurangi konsumsi
pakan. Hal ini adalah upaya ternak untuk mengurangi produksi tubuh panas dengan
cara mengurangi pakan yang berserat, melakukan aktivitas fisik rendah, mencari
naungan, dan mengubah aktivitas merumput dari siang menjadi malam. Dampak
langsung dari stres panas dapat dilihat dalam perubahan konsumsi air dan konsumsi
10

pakan. Jika suhu naik, maka kebutuhan air juga akan naik sehingga harus
menyediakan banyak air. Namun, jika air langka, maka kambing akan menyesuaikan
diri dengan cara memanfaatkan kadar air pada hijauan (Cakra et al., 2008).
Pemberian pakannya pada pagi hari yaitu mulai pukul 08.00-14.00 WIB
berefek baik pada ternak karena pada pagi hari ternak memiliki waktu yang lama
untuk mengunyah makanan tersebut. Semakin banyak waktu yang diberikan kepada
ternak kambing untuk mengkonsumsi pakan, maka akan menghasilkan bobot badan
yang lebih optimal. Sebaliknya, pemberian pakan pada ternak kambing pada pukul
14.00- 17.30 WIB, ternak tidak memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk
mengkonsumsi pakan dan mengunyah pakan dengan baik, sehingga akan
menghasilkan bobot badan yang kurang optimal (Setianah, 2004).
Akibat Heat stress jangka panjang adalah terjadi penurunan produktivitas
anak pada ternak. Jika kambing bunting, terutama mendekati akhir kehamilan,
kurangnya makan akibat dari stres panas dapat mengurangi asupan nutrisi yang
diperlukan oleh janin dan mengakibatkan kelaparan pada janin. Di sisi lain, jika
kambing betina kekurangan pasokan energi karena stres panas akan menyebabkan
tidak adanya perkembangan folikel. Hal juga juga berlaku untuk reproduksi sperma.
Kondisi panas yang ekstrim dapat mempengaruhi reproduksi langsung yaitu : (1)
Terjadi degenerasi antara sperma dan ovum dalam saluran reproduksi, (2) penciptaan
ketidak seimbangan hormon melalui tindakan dari hipotalamus dan (3) menekan
libido dan tindakan fisik untuk kawin (Roussel, 1992).

11

MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2011. Lokasi
penelitian di Kelompok Peternak Kambing Simpay Tampomas, berlokasi di lereng
Gunung Tampomas, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten
Sumedang, Propinsi Jawa Barat.
Materi
Ternak
Ternak yang digunakan adalah 16 ekor kambing PE betina dewasa (I3)
dengan berat badan yang relatif sama yaitu 52,81 ± 5,49 kg dengan koevisien
keseragaman 11,24%. Ternak kemudian diletakkan di kandang panggung dan
kandang tanah masing-masing 8 ekor. Kepadatan di tiap-tiap kandang 4 ekor/koloni.
Kambing PE tersebut diambil dari peternakan yang sama dengan sistem
pemeliharaan yang sama.
Alat
Peralatan yang digunakan meliputi pencatat waktu, thermohigrometer,
kamera, cat semprot, meteran, timbangan berat badan, thermometer klinis, stetoskop,
alat tulis dan komputer. Kandang yang digunakan adalah kandang kelompok alas
panggung dan kandang alas tanah. Kandang panggung di area peternakan Simpay
Tampomas, bahan terbuat dari bahan kayu dan bambu yang berasal dari sisa–sisa
bangunan yang kurang dimanfaatkan. Letak kandang berada di tengah kebun buah
naga, atap kandang terbuat dari genting, luas kandang 9,6 m2 dengan panjang 6 m
dan lebar 1,6 m, tidak terdapat kanopi pepohonan yang menaungi kandang tersebut,
ventilasi angin bebas keluar masuk, pondasi terbuat dari semen, lantai kandang
terbuat dari bambu dengan celah antara 1-2 cm, jarak antara lantai kandang dengan
tanah adalah 1 m dan arah kandang membujur dari utara ke selatan. Gambar
Kandang panggung dapat dilihat pada Gambar 1, 3, dan 4.
Kandang alas tanah di area penelitian, beratap genting, tinggi atap kandang
dari tanah adalah 2,5 m, luas kandang 12,5 m2 dengan panjang 5 m dan lebar 2,5 m,
Lantai kandang alas tanah ditumpuk dengan ranting sisa pakan hijauan, terdapat

dinding dari anyaman bambu yang rapat, pada ventilasi atas ada beberapa bagian
anyaman yang renggang sehingga ventilasi angin tidak bebas keluar masuk (Gambar
2), di dekat kandang terdapat kanopi pohon lamtoro (Leuaena leucocephala), ternak
langsung bersentuhan dengan tanah dan arah kandang dari arah melebar dari barat ke
timur. Gambar kandang alas tanah dapat dilihat pada Gambar 2, 5, dan 6
Bentuk tempat pakan kambing di lokasi penelitian umumnya trapesium dan
segi empat memanjang terbuat dari kayu dan bambu. Tempat makan mempunyai
ukuran rata–rata 200 cm2 dengan rataan panjang 40 cm dan lebar 50 cm / kandang
koloni. Celah kandang untuk keluarnya kepala kambing bila mengambil pakan
mempunyai ukuran yaitu 20,60 cm untuk kandang alas panggung, sedangkan untuk
kandang alas tanah 17,10 cm

Gambar 1. Tipe Kandang Panggung di Lokasi Penelitian

Gambar 2. Tipe Kandang Alas Tanah di Lokasi Penelitian

13

U

S

Gambar 3. Layout Kandang Panggung dari Samping
Tempat Pakan
Kandang Bunting

Kandang Anak

6m

1,6 m

Kandang
Penelitian 1

B

Jalan
Kandang
Penelitian 2

Kandang
Dara

T

Kandang
Pejantan

Tempat Pakan

0,46 m

Gambar 4. Layout Kandang Panggung dari Atas

T

B

2,5 m

Gambar 5. Layout Kandang Alas Tanah dari Samping

14

5m

2,5 m

Kandang
Penelitian 1

Kandang
Penelitian 2

0,5 m

Kandang
Dara

Kandang
Pejantan

U

Bak Pakan
S

Jalan

1, 25m

Bak Pakan
Kandang Anakan

Kandang Bunting

Gambar 6. Layout Kandang Alas Tanah dari Atas
Pakan
Pemberian pakan kambing PE di lokasi penelitian menggunakan sistem
potong angkut cut and carry yaitu pakan diambil di lokasi pegunungan Simpay
Tampomas kemudian dibawa ke kandang untuk diberikan ke ternak. Peternak
memberikan pakan kambing induk kering hanya berupa hijauan saja. Tenaga kerja di
lokasi penelitian terdiri dari 5 orang, terdiri dari 3 orang pencari rumput, 1 orang
manajer dan 1 orang pemberi pakan dan pembersih kandang. Populasi kambing PE di
areal penelitian adalah 225 ekor yang terdiri dari betina laktasi 23 ekor, betina
bunting 20 ekor, betina kering 85 ekor, pejantan dewasa 5 ekor, dan anak kambing
sebanyak 92 ekor. Pakan yang diberikan rata–rata perhari sebanyak 140 kg /16 ekor
berat segar. Frekuensi pemberian pakan di lokasi penelitian hanya sekali sehari yaitu
pada pukul 14.00 WIB. Pakan yang digunakan adalah pakan yang biasa digunakan di
peternakan ini yaitu pakan hijauan rumput gajah, pakan dari legum yaitu Calliandra
haematocephala dan Gliricidia sepium. Pemberian air minum pada kambing PE
dilokasi penelitian jarang dilakukan karena keterbat

Dokumen yang terkait

Dokumen baru