Pengembangan kawasan sentra produksi dalam meningkatkan perekonomian wilayah kepulauan di Provinsi Maluku

PENGEMBANGAN KAWASAN SENTRA PRODUKSI DALAM
MENINGKATKAN PEREKONOMIAN WILAYAH
KEPULAUAN DI PROVINSI MALUKU

DISERTASI

IZAAC TONNY MATITAPUTTY

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul:
“Pengembangan Kawasan Sentra Produksi dalam Meningkatkan
Perekonomian Wilayah Kepulauan di Provinsi Maluku”
adalah merupakan karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apa pun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir Disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

Izaac Tonny Matitaputty
NRP. A161030091

ABSTRACT

IZAAC TONNY MATITAPUTTY. Development of Production Centers Area
in Improving Archipelago Region Economy in the Province of Maluku.
(KUNTJORO as Chairman, HARIANTO and D.S. PRIYARSONO as Members
of the Advisory Committee).

Province of Maluku is the lagerst archipelago in Indonesia with the heterogen
and large local spesific in the marine sector this region should be able to develop
marine/maritim based key sectors. The region which is consisting of the islands
requires the ability of service facilities in the centers of development as prime
mover to develop the marine based key sectors in this archipelago. The objectives
of the research are to: (1) identify the region key sectors on the basis analyze of
partial criteria local spesific marine/maritim province of Maluku, (2) analyze the
key sectors based on criteria analysis of connectivity in the province of Maluku,
(3) analyze of the final demand impact sectors of the economy of the region to
other economic sectors and the total output in the province of Maluku, ( 4)
analyze the role of development centers based on the ability of the service
facilities in the province of Maluku and, (5) analyze to the develop level of the
hierarchy of central regional in the province of Maluku as an archipelago.This
research the conducted by two approaches, sectoral and regional approach.
Sectoral approach studied by the method of Input-Output (I-O) and regional
approach studied by the method of scolagram. Input-Output analysis to determine
the key sectors, while the ability to analyze scalogram likes sevice facilities in the
center development as a prime mover the development of key sectors on spesific
local area of islands.The results of analysis showed key sectors in the province of
Maluku has not been well developed as yet supported by the ability of the service
facilities at the development of production centers area.

Keywords:

Development centers, input-output, scalogram, key sectors, final
demand Impact, service fascilities.

ABSTRAK

IZAAC TONNY MATITAPUTTY. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi
dalam Meningkatkan Perekonomian Wilayah Kepulauan di Provinsi Maluku.
(KUNTJORO sebagai Ketua, HARIANTO dan D.S. Priyarsono sebagai Anggota
Komisi Pembimbing).

Provinsi Maluku merupakan wilayah kepulauan terbesar di Indonesia,
dengan local spesific yang sangat besar di sektor bahari maka seharusnya wilayah
ini mampu mengembangkan sektor-sektor unggulan berbasis bahari/maritim.
Wilayah yang terdiri dari pulau-pulau memerlukan kemampuan penyediaan
fasilitas pelayanan di pusat-pusat pengembangan sehingga mampu menggerakkan
sektor-sektor ekonomi unggulan wilayah kepulauan yang berbasis bahari/maritim
tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasikan sektor-sektor
unggulan berdasarkan kriteria analisis parsial yang berbasis local spesific
bahari/maritim di wilayah kepulauan Provinsi Maluku, (2) menganalisis sektorsektor unggulan wilayah berdasarkan kriteria analisis konektivitas di wilayah
kepulauan Provinsi Maluku, (3) menganalisis dampak output permintaan akhir
sektor-sektor ekonomi wilayah kepulauan terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya
dan total output Provinsi Maluku, (4) menganalisis peran fungsi pelayanan pusatpusat pengembangan wilayah berdasarkan kemampuan fasilitas pelayanan di
wilayah kepulauan Provinsi Maluku dan, (5) menganalisis hirarki tingkat
perkembangan pusat-pisat pengembangan wilayah di Provinsi Maluku sebagai
wilayah kepulauan. Penelitian ini dilakukan dengan dua pendekatan yaitu
pendekatan sektoral dan regional. Pendekatan sektoral dikaji dengan metode
Input-Output sedangkan regional menggunakan metode Skalogram. Analisis I-O
untuk mengetahui sektor-sektor unggulan wilayah dan Skalogram menganalisis
kemampuan penyediaan fasilitas pelayanan di pusat-pusat pengembangan sebagai
penggerak utama pengembangan sektor-sektor unggulan berbasis wilayah
kepulauan dengan local spesific bahari/maritim. Hasil analisis memperlihatkan
sektor unggulan di Provinsi Maluku belum didukung oleh kemampuan
penyediaan fasilitas pelayanan di pusat-pusat pengembangan Kawasan Sentra
Produksi .

Kata Kunci:

Pusat pengembangan, input-output, skalogram, sektor unggulan,
dampak permintaan akhir, fasilitas pelayanan.

RINGKASAN

IZAAC TONNY MATITAPUTTY. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi
Dalam Meningkatkan Perekonomian Wilayah Kepulauan di Provinsi Maluku,
(KUNTJORO sebagai Ketua, HARIANTO dan PRIYARSONO sebagai Anggota
Komisi Pembimbing)
Pengembangan sektor-sektor unggulan ekonomi wilayah kepulauan
Provinsi Maluku sudah merupakan aspek yang sangat mendesak, sehingga arah
dan strategi kebijakan pembangunan ekonomi wilayah harus berorientasi pada
keunggulan spasial dan potensi lokal (local spesific). Aspek ini akan memberikan
manfaat pada wilayah kabupaten/kota di Provinsi Maluku untuk menggerakkan
sektor-sektor unggulannya sebagai penggerak utama (prime mover) bagi sektor
lain dalam mendorong atau menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru (new
growth poles) dan tidak terpusat pada satu pusat pertumbuhan (growth pole)
wilayah saja. Dengan mengidentifikasi/menemukenali serta menentukan sektorsektor unggulan wilayah serta didukung oleh kemampuan penyediaan fasilitas
pelayanan di pusat-pusat pengembangan wilayah yang berbasis wilayah
kepulauan maka penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi sektor-sektor
unggulan (key sectors) berdasarkan kriteria analisis parsial yang berbasis local
spesific bahari/maritim di wilayah kepulauan Provinsi Maluku, (2) menganalisis
sektor-sektor unggulan (key sectors) berdasarkan kriteria analisis konektivitas di
wilayah kepulauan Provinsi Maluku, (3) menganalisis dampak peningkatan
permintaan akhir (output final demand impact) sektor-sektor ekonomi berbasis
wilayah kepulauan terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya dan total output
Provinsi Maluku, (4) menganalisis peran pusat-pusat pengembangan wilayah di
Provinsi Maluku berdasarkan kemampuan penyediaan fasilitas pelayanan
sehingga mampu mendorong pengembangan sektor-sektor unggulan berbasis
local spesific wilayah kepulauan dan, (5) menganalisis hirarki tingkat
perkembangan pusat-pusat pengembangan wilayah berdasarkan kelompok dan
kemampuan fasilitas pelayanan yang tersedia di pusat pengembangan.
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder dengan dua
pendekatan analisis yaitu pendekatan sektoral dan regional. Pendekatan sektoral
menggunakan metode analisis Input-Output (I-O) sedangkan pendekatan regional
menggunakan metode analisis skalogram. Analisis sektor-sektor unggulan
ekonomi Provinsi Maluku dilakukan berdasarkan klasifikasikan 60 sektor
ekonomi tabel I-O Maluku. Dengan analisis ini diharapkan dapat melihat struktur
output, nilai tambah bruto, multiplier effek dan keterkaitannya (linkages) diantara
sektor-sektor wilayah. Sedangkan salah satu analisis yang berhubungan dengan
dukungan terhadap perkembangan sektor-sektor unggulan wilayah adalah
kemampuan penyediaan fasilitas pelayanan wilayah. Dengan mengetahui
kemampuan penyediaan fasilitas pelayanan dan hirarki pusat-pusat pengembangan
wilayah maka dapat diketahui apakah sektor-sektor unggulan di Provinsi Maluku
mendapat dukungan fasilitas pelayanan yang sesuai dengan ketersediaan fasilitas
di pusat-pusat pengembangan tersebut.

Arah dan strategi kebijakan perekonomian pemerintah daerah dapat
dilihat dari hasil analsis I-O seperti, melihat konektivitas antara kriteria analisis
sektor-sektor unggulan pada struktur output dengan nilai tambah bruto, struktur
output, nilai tambah bruto dengan multiplier effek atau struktur output,nilai
tambah bruto, multiplier effect dengan intersectoral linkages. Konektivitas ini
dilakukan untuk mengetahui apakah sektor-sektor unggulan sesuai dengan arah
dan strategi kebijakan perekonomian pemerintah yang berbasis potensi lokal
(local spesific) wilayahnya. Analisis untuk simulasi dilakukan dengan shock
output permintaan akhir pada sektor-sektor yang relevan dengan karakteristik
wilayah kepulauan seperti angkutan, air (laut), udara, darat dan perikanan. Hasil
analisis skalogram terhadap kemampuan penyediaan fasilitas pelayanan di pusatpusat pengembangan (kabupaten/kota) memperlihatkan bahwa Kota Ambon
masih merupakan satu-satunya pusat pengembangan utama/pusat pertumbuhan di
Provinsi Maluku diikuti pusat pengembangan lainnya seperti, Kabupaten Maluku
Tengah, Buru, Maluku Tenggara, Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara Barat
Daya, Seram Bagian Timur dan terakhir Kabupaten Kepulauan Aru. Hirarki pusat
pengembangan menunjukkan masih rendahnya ketersediaan fasilitas pelayanan
wilayah di Provinsi Maluku.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah Provinsi
Maluku belum mampu mengembangkan sektor-sektor unggulan wilayah berbasis
potensi lokal (local spesific) bahari/maritim. Hal ini dapat di lihat dari hasil
analisis konektivitas yang tidak memperlihatkan keterkaitan sektor-sektor
ekonomi dari konektivitas struktur output, nilai tambah bruto, multiplier effect dan
intersectoral linkages. Hasil simulasi final demand impacts menunjukkan sektor
perikanan dan beberapa sektor yang berbasis wilayah kepulauan (archipelago)
belum mampu menjadi sektor unggulan sedangkan sektor perdagangan besar dan
eceran merupakan sektor terunggul.
Ketidakmampuan penyediaan fasilitas pelayanan di pusat-pusat
pengembangan wilayah seperti belum memiliki fasilitas pelayan yang berbeda
antara satu wilayah dengan wilayah lainnya sehingga memiliki kapasitas
pendukung yang rendah bagi pengembangan sektor-sektor unggulan wilayah
berbasis local spesific. Dengan demikian hasil analsis menunjukkan bahwa belum
ada sektor-sektor unggulan Provinsi Maluku berbasis potensi lokal (local spesific)
wilayah yang mampu menciptakan keunggulan sektoral dari sisi konektivitas
struktur output, nilai tambah bruto, multiplier effect, intersectoral linkages dan
final demand impact. Sektor-sektor berbasis wilayah kepulauan Provinsi Maluku
belum mampu menjadi sektor unggulan karena rendahnya kemampuan fasilitas
pelayanan yang tersedia di pusat-pusat pengembangan wilayah.
Berdasarkan hasil analisis pada penelitian ini, maka dapat diajukan
beberapa implikasi kebijakan sebagai berikut:
1. Pemerintah daerah perlu menentukan sektor-sektor unggulan wilayah yang
berbasis spasial dan potensi lokal (local spesific) wilayah kepulauan sehingga
mampu meningkatkan perekonomian berdasarkan kemampuan dan potensi
lokal wilayah yang tersedia di wilayah ini.
2. Pada wilayah periphery kabupaten lainnya perlu dikembangkan sektor-sektor
kawasan-kawasan sentra produksi yang berbasis potensi lokal wilayah dengan
dukungan fasilitas pelayanan wilayah sehingga semakin cepat terciptanya

pusat-pusat pertumbuhan baru (new growth poles) dan berkembangnya sektorsektor unggulan wilayah.
3. Kuatnya daya tarik aglomerasi dan lemahnya polarisasi dari pusat
pertumbuhan (growth pole) Kota Ambon terhadap wilayah lainnya (periphery)
seperti kemampuan penyediaan fasilitas pelayan di sektor jasa dan
pengangkutan dan komunikasi yang terpusat menjadikannya sebagai satusatunya pusat pertumbuhan di Provinsi Maluku. Untuk itu kebijakan
pembangunan daerah lebih diarahkan pada penciptaan dan penyediaan fasilitas
pelayanan di setiap wilayah pengembangan sehingga mampu mempercepat
penciptaan pusat-pusat pengembangan utama yang baru selain Kota Ambon.
4. Perlu dilakukan perubahan arah dan strategi kebijakan pembangunan ekonomi
dari basis daratan (continental) ke arah dan strategi wilayah yang berbasis
spasial dan potensi lokal wilayah kepulauan yakni bahari/maritim sehingga
mampu menciptakan keunggulan sektoral baik dari sisi struktur output, nilai
tambah bruto, multiplier effect dan intersectoral linkages dan dukungan
ketersediaan fasilitas pelayanan di pusat-pusat pengembangan wilayah.
Dengan demikinan seluruh pusat-pusat pengembangan akan saling
membutuhkan baik antarwilayah maupun antarsektor (interregional linkages
dan intersectoral linkages) di wilayah kepulauan Provinsi Maluku.
Sesuai dengan hasil analisis pada penelitian ini maka diusulkan penelitian
selanjutnya sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang lebih terperinci pada komoditikomoditi sektor ekonomi yang berbasis spasial dan potensi lokal (local
spesific) wilayah seperti penelitian RCA antarwilayah di wilayah kepulauan.
2. Penelitian ini tidak dilakukan pada wilayah-wilayah pemekaran baru diatas
tahun 2002 sehingga penentuan sektor unggulan pada level kabupaten/kota
belum semua dapat diketahui secara spesifik terhadap wilayah-wilayah
tersebut sesuai karakteristik Provinsi Maluku sebagai wilayah kepulauan
(archipelago).

© Hak Cipta Milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang – Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulisini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan penididikan, p[enelitian,
penulisn karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, dan
tinauan suatu masalah ;
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bbentuk apa pun tanpa izin IPB.

PENGEMBANGAN KAWASAN SENTRA PRODUKSI
DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN WILAYAH
KEPULAUAN DI PROVINSI MALUKU

IZAAC TONNY MATITAPUTTY

DISERTASI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:
1. Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.
2. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, MEc
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.

Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka:
1. Prof (R). Dr. Ir. Dewa Sadra Swastika, MSc
Peneliti Utama Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
2. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MS
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.

Judul Disertasi

: Pengembangan Kawasan Sentra Produksi dalam
Meningkatkan Perekonomian Wilayah Kepulauan di
Provinsi Maluku

Nama Mahasiswa

: Izaac Tonny Matitaputty

Nomor Pokok

: A 161030091

Program Studi

: Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui,
1. Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Kuntjoro
Ketua

Dr. Ir. Harianto, MS
Anggota

Ir. D. S. Priyarsono, Ph. D
Anggota

Mengetahui,
2. Ketua Program Studi
Ilmu Ekonomi Pertanian

3. Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr

Tanggal Ujian: 30 Januari 2012

Tanggal Lulus:

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,
atas segala

karuniaNya yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan peneletian ini. Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk
meraih gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian (EPN), Sekolah
Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berjudul “ Pengembangan
Kawasan Sentra Produksi dalam Meningkatkan Perekonomian Wilayah
Kepulauan di Provinsi Maluku.”.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sedalam-dalamnya kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Kuntjoro, sebagai ketua komisi pembimbing, Dr. Ir. Harianto
dan Ir. D. S. Priyarsono, Ph. D sebagai anggota komisi pembimbing atas
bimbingan dan arahannya dalam penyusunan disertasi ini.
2. Prof. Dr. Ir. Bonar

M. Sinaga, MA

sebagai ketua Program Studi Ilmu

Ekonomi Pertanian atas dorongan dan bimbingannya selama penulis kuliah di
program studi sampai penulisan disertasi ini.
3. Rektor Institut Pertanian Bogor, Dekan Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
mengikuti program Doktor pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
4. Rektor Universitas Pattimura yang telah memberikan izin belajar kepada
penulis untuk melanjutkan studi program Doktor di Institut Pertanian Bogor.
5. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura yang telah mendukung
penulis untuk melanjutkan studi program Doktor di Institut Pertanian Bogor.

6. Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup Dr. Ir. M. Parulian Hutagaol, MS, Dr.
Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec

dan Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka

Prof (R). Dr. Ir. Dewa Sadra Swastika, Dr. Ir. Anna fariyanti, M.Si
7. Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat

Jenderal Pendidikan Tinggi

yang telah memberikan Beasiswa Program Pascasarjana (BPPS).
8. Ibunda Anatje dan Ayahanda (Alm) Ledrick Hendrick, Cindy, Putri, Syaloom
beserta seluruh keluarga besar Matitaputty, Yohannis, Yohanna, Ferdinand,
Matheus, Aleksander, Leonard, Rudllof, Abraham, Yuliana dan Bill.
9. Prof. Dr. J. Syauta, MEc (Alm), Drs. D. I. Sihasalle (Alm), Drs. F. Bahasoan,
(Alm), Ibu Non Syauta, Ibu Hawa Syarluf, Ibu Thea Sihasalle, dan seluruh
staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Pattimua atas dukungannya.
10. Teman sejawat, Mas Arif Dirgantoro, Bayu, Ridwan, Asri Djauhar, Yusuf,
Didiek, Mbak Beatrixia, Hapsa, Wiwiek, Naidah dan Perhimpunan Alumni
SMP-SMA Angkasa Lanud Pattimura (PRASSASTI), atas dorongan dan
bantuannya kepada penulis.
11. Teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
12. Pegawai sekretariat EPN, mbak Rubby, Yanni, Kokom, mas Husein dan
Erwin yang selalu memberi semangat kepada penulis.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan selama pendidikan ini
mendapat balasan Berkat dari Tuhan Yang Maha Kasih. harapan penulis semoga
disertasi ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.
Bogor, Januari 2012

Penulis

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Ambon-Laha, Komplek TNI-AU Lanud Pattimura
tanggal 1 April 1964 dan diberi nama, Izaac Tonny Matitaputty dari pasangan
Ledrick Hendrick Matitaputty (Alm) dengan Anatje Silooy.

Penulis dibesarkan

dalam lingkungan keluarga besar TNI-AU Lanud Pattimura. Pendidikan Sekolah
Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas semuanya dilalui
oleh penulis di lingkungan pendidikan yayasan Ardhya Garini (Angkasa) Lanud
Pattimura-Laha. Pendidikan Sarjana (S1) ditempuh di Fakultas Ekonomi
Universitas Pattimura dan lulus Tahun 1990. Tahun ajaran 1996 penulis
melanjutkan pendidikan pada jenjang S2 (Magister) Program Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah (PPW) Universitas Hassanudin Makassar, lulus Tahun
1998. Tahun 2003 penulis melanjutkan pendidikan pada jenjang S3 (Doktor) di
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian (EPN), Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis mulai bekerja dari Tahun 1993 hingga sekarang sebagai staf
pengajar di Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi,
Universitas Pattimura – Ambon.

DAFTAR ISI

Halaman

I.

II.

DAFTAR TABEL ...............................................................................

xx

DAFTAR GAMBAR ..........................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................

xxiv

PENDAHULUAN ................................................................................

1

1.1. Latar Belakang ..............................................................................

1

1.2. Perumusan Masalah ......................................................................

8

1.3. Tujuan Penelitian ..........................................................................

14

1.4. Kegunaan Penelitian .....................................................................

15

1.5. Ruang Lingkup .............................................................................

15

1.6. Keterbatasan Penelitian ................................................................

17

TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................

19

2.1.

Tinjauan Teoritis ..........................................................................

19

2.1.1. Perwilayahan Pembangunan dan Pembangunan Wilayah ...

19

2.1.2. Penataan Ruang Wilayah ....................................................

30

2.1.3. Konsep Pusat Pengembangan Wilayah ...............................

35

2.1.4. Wilayah Negara Daratan Versus Wilayah Negara
Kepulauan ...........................................................................

42

2.1.5. Peran dan Fungsi Wilayah di Era Otonomi .........................

49

2.1.6. Pembangunan Ekonomi Wilayah .......................................

52

2.1.7. Sektor-Sektor Strategis Pembangunan Wilayah .................

58

2.1.8. Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah .................................

60

2.1.8.1. Teori Harrod – Domar (H – D) .....................

62

2.1.8.2 Teori Pertumbuhan Solow ...........................

65

2.1.9. Teori Lokasi ................................................................

68

2.1.9.1. Teori Perroux ..............................................

70

2.1.9.2. Teori Losch ..................................................

73

2.1.9.3. Teori Hirschman .........................................

75

2.1.10. Teori Leontief (Model I-O) .....................................

77

2.1.11. Analisis Model Input-Output (I-O).............................

83

2.2. Tinjauan Empiris........... ..................................................................

86

2.2.1. Kebijakan Pembangunan Wilayah Atas Dasar
Geografi Ekonomi...........................................................

86

2.2.2. Dinamika Antarsektor dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Keunggulan Sektoral Wilayah .............

91

2.2.3. Perubahan Struktur Ekonomi dan Kebijakan
Strategi Pembangunan Ekonomi Antarwilayah
Berbasis Potensi Lokal Wilayah ......................................

95

III. KERANGKA PEMIKIRAN .................................................................

101

IV. METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................

105

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................

107

4.2. Jenis dan Sumber Data ....................................................................

107

4.3. Metode Analisis Data .......................................................................

108

4.3.1. Analisis Pendekatan Regional ............................................

111

4.3.1.1. Analisis Skalogram ..............................................

111

4.3.2. Analisis Pendekatan Sektoral .............................................

113

4.3.2.1. Analisis Input-Output (I-O) .................................

114

xv

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH PROVINSI MALUKU ..........

127

5.1. Kondisi Fisik Wilayah ...................................................................

127

5.1.1. Letak Geografis Wilayah .....................................................

127

5.1.2. Topografi dan Iklim .............................................................

129

5.1.3. Kondisi Sumberdaya Alam Wilayah dan
Pemanfaatannya ..................................................................

131

5.1.3.1. Kawasan Wilayah Daratan .....................................

132

5.1.3.2. Kawasan Wilayah Lautan .......................................

135

5.1.4. Komposisi Penduduk ...........................................................

137

5.1.5. Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat ..............................

138

5.1.6. Kondisi Sarana dan Prasarana Transportasi ........................

139

5.1.6.1. Transportasi Darat ...................................................

139

5.1.6.2. Transportasi Udara ..................................................

140

5.1.6.3. Transportasi Air (Laut) ...........................................

141

5.1.7. Kondisi Perekonomian Wilayah .........................................

142

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR
PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI
MALUKU ...............................................................................................

147

6.1. Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku ...................

147

6.2. Struktur Perekonomian Provinsi Maluku Dalam Kajian
Analisis Input-Output (I-O) ............................................................

149

6.2.1. Strukutur Permintaan dan Penawaran..............................

149

6.2.2. Struktur Output dan Nilai Tambah Bruto ..........................

159

6.2.3. Struktur Permintaan Akhir.................................................

162

6.3. Analisis Pengganda ........................................................................

165

6.3.1. Angka Pengganda Output ....................................................

167

6.3.2. Pengganda Pendapatan ..........................................................
xvi

169

6.3.3. Pengganda Tenaga Kerja Sektoral ....................................

172

6.4. Keterkaitan Antarsektor .................................................................

173

6.4.1. Keterkaitan ke Depan dan Penyebaran ke Depan ................

175

6.4.2. Keterkaitan ke Belakang dan Penyebaran ke Belakang .....

178

VII. KONEKTIVITAS SEKTOR-SEKTOR EKONOMI
UNGGULAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI
MALUKU ............................................................................................

183

7.1. Potensi Lokal Wilayah Kepulauan Provinsi Maluku .....................

183

7.1.1. Konektivitas Keunggulan Sektoral Berdasarkan
Kriteria Analisis Struktur Output dengan Nilai
Tambah Bruto ......................................................................

186

7.1.2. Konektivitas Keunggulan Sektoral Berdasarkan
Kriteria Analisis Multiplier Effect .......................................

188

7.1.3. Konektivitas Keunggulan Sektoral Berdasarkan
Kriteria Analisis Keterkaitan Antarsektor ..........................

191

7.1.4. Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Analisis Struktur
Output, Nilai Tambah Bruto dengan Multiplier Effect.
Struktur Output, Nilai Tambah Bruto dengan Intersectoral
Linkages. Struktur Output, Nilai Tambah Bruto,
Multiplier Effect dan Intersectoral Linkages .......................

192

7.2. Kebijakan Final Demand Impacts Terhadap Sektor-Sektor
Perekonomian Wilayah Kepulauan Provinsi Maluku ....................

204

7.2.1. Kebijakan Peningkatan Output dari Shock Permintaan
Akhir di Sektor Angkutan Udara (SIM 1) ..........................

206

7.2.2. Kebijakan Peningkatan Output dari Shock Permintaan
Akhir di Sektor Angkutan Darat (SIM 2) ..........................

207

7.2.3. Kebijakan Peningkatan Output dari Shock Permintaan
Akhir di Sektor Angkutan Air (SIM 3) ...............................

208

7.2.4. Kebijakan Peningkatan Output dari Shock Permintaan
Akhir di Sektor Perikanan (SIM 4) .....................................

209

7.2.5. Kebijakan Peningkatan Output dari Shock Permintaan
Akhir di Sektor Angkutan Udara, Darat, Air dan
Perikanan (SIM 5) ...............................................................
xvii

210

7.3. Penetuan Sektor Unggulan Wilayah Kepulauan Provinsi
Maluku ............................................................................................

211

7.4. Arah dan Strategi Kebijakan Pengembangan Sektor
Unggulan di Wilayah Kepulauan Provinsi Maluku ......................

214

7.5. Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Berbasis Sektor
Unggulan Bahari/Maritim dan Prospeknya di Wilayah
Kepulauan Provinsi Maluku ...........................................................

217

VIII. ANALISIS KEMAMPUAN FASILITAS PELAYANAN
DAN HIRARKI PUSAT PENGEMBANGAN WILAYAH
DI WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU ....................

221

8.1. Kemampuan Fasilitas Pelayanan Pusat Pengembangan ................

221

8.2. Analisis Kemampuan Fasilitas Pelayanan dan Hirarki Pusat
Pengembangan Wilayah .................................................................

222

8.2.1. Penilaian Kemampuan Fasilitas Pelayanan Dengan
Metode Skalogram Guttman ................................................

223

8.2.1.1. Kota Ambon .........................................................

224

8.2.1.2. Kabupaten Maluku Tengah ..................................

226

8.2.1.3. Kabupaten Buru ....................................................

227

8.2.1.4. Kabupaten Maluku Tenggara ...............................

229

8.2.1.5. Kabupaten Seram Bagian Barat ............................

230

8.2.1.6. Kabupaten Maluku Tenggara Barat ......................

231

8.2.1.7. Kabupaten Seram Bagian Timur ..........................

232

8.2.1.8. Kabupaten Kepulauan Aru ...................................

234

8.3 Penilaian Kemampuan Fasilitas Pelayanan Provinsi
Maluku Sebagai Wilayah Kepulauan Berbasis
Bahari / Maritim ............................................................................

237

IX. SIMPULAN, SARAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN .................

245

9.1

Simpulan .........................................................................................
xviii

245

9.2

Saran...............................................................................................

247

9.3

Implikasi Kebijakan .......................................................................

249

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

251

LAMPIRAN .................................................................................................

261

xix

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1.

Perbedaan Karakteristik Wilayah Daratan dan Kepulauan .....................

44

2.

Perbedaan Pengembangan Wilayah Daratan dengan kepulauan ............

45

3.

Kerangka/Model Baku Tabel Input-Output ...........................................

83

4.

Matriks Pendekatan Penelitian ................................................................ 109

5.

Informasi dan Data Untuk Analisis Skalogram ...................................... 112

6.

Skalogram Pada Pusat Pengembangan Wilayah di Provinsi ”X” ........... 113

7.

Tabel Transaksi Input-Output Sederhana................................................ 116

8.

Ketinggian dan Derajat Kemiringan Rata-rata Wilayah ......................... 130

9.

Produksi dan Nilai Produksi Ikan Hasil Budidaya Tambak dan
Kolam Menurut Jenis Ikan di Provinsi Maluku, Tahun 2008................ 136

10.

Produksi dan Nilai Produksi Ikan Menurut Jenis Ikan di Provinsi
Maluku, Tahun 2008 .............................................................................. 137

11.

Jumlah dan Kepadatan Penduduk Provinsi Maluku,
Tahun 2005 – 2007 ................................................................................. 138

12.

PDRB Provinsi Maluku Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar
Harga Konstan, Tahun 2000/2008 .......................................................... 145

13.

Struktur Permintaan dan Penawaran Menurut Sektor Ekonomi di
Provinsi Maluku, Tahun 2007 ................................................................ 151

14.

Struktur Permintaan dan Penawaran Menurut Sektor Ekonomi di
Provinsi Maluku, Tahun 2007 ............................................................... 154

15. Sepuluh Sektor Terbesar Menurut Peringkat Output Provinsi
Maluku, Tahun 2007............................................................................... 160
16.

Sepuluh Sektor Terbesar Menurut Peringkat Nilai Tambah Bruto
Provinsi Maluku, Tahun 2007 ................................................................ 160

17.

Komposisi Nilai Tambah Bruto Menurut Komponen Pendapatan ......... 164

18.

Komposisi Nilai Tambah Bruto Menurut Komponen Pengeluaran ........ 166
xx

19. Sepuluh Sektor Pengganda Output Terbesar Menurut Sektor
Ekonomi Provinsi Maluku, Tahun 2007 ................................................. 168
20. Sepuluh Sektor Pengganda Pendapatan Terbesar Menurut
Sektor Ekonomi Provinsi Maluku, Tahun 2007 ...................................... 170
21. Sepuluh Sektor Pengganda Tenaga Kerja Sektoral Terbesar
Menurut Sektor Ekonomi Provinsi Maluku, Tahun 2007 ....................... 172
22. Sepuluh Sektor Tingkat Keterkaitan ke Depan Tertinggi
dengan Tingkat Penyebarannya ............................................................. 175
23. Sepuluh Sektor Tingkat Penyebaran ke Depan Tertinggi
dengan Tingkat Keterkaitan ke Depannya .............................................. 177
24. Sepuluh Sektor Tingkat Keterkaitan ke Belakang Tertinggi
dengan Tingkat Penyebarannya ............................................................ 178
25. Sepuluh Sektor Tingkat Penyebaran ke Belakang Tertinggi
dengan Tingkat Keterkaitan ke Belakangnya ........................................ 181
26. Sepuluh Sektor Terbesar dengan Kriteria Analisis Struktur
Output dan Nilai Tambah Bruto di Provinsi Maluku .............................. 187
27. Konektivitas Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Analisis
Struktur Output dengan Nilai Tambah Bruto ........................................ 188
28. Sepuluh Sektor Terbesar dengan Kriteria Analisis Angka
Pengganda, Output, Pendapatan dan Tenaga Kerja. ............................... 190
29. Konektivitas Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Analisis
Angka Pengganda, Output, Pendapatan dan Tenaga Kerja.................... 190
30. Sepuluh Sektor Terbesar dengan Kriteria Keterkaitan
Antarsektor di Provinsi Maluku .............................................................. 192
31. Konektivitas Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Analisis
Keterkaitan Antarsektor ......................................................................... 192
32. Sepuluh Sektor Terbesar dari Struktur Output, Nilai Tambah
Bruto dengan Angka Pengganda .................................................................. 195
33. Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Struktur Output, Nilai
Tambah Bruto dan Angka Pengganda .................................................... 196
34. Sepuluh Sektor Terbesar dari Struktur Output, Nilai Tambah
Bruto dengan Keterkaitan Antarsektor .................................................. 197

xxi

35. Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Struktur Output, Nilai
Tambah Bruto dengan Keterkaitan Antarsektor ..................................... 198
36. Sepuluh Sektor Terbesar dari Angka Pengganda dengan
Keterkaitan Antarsektor . ............................................................................... 199
37. Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Angka Pengganda dengan
Keterkaitan Antarsektor .......................................................................... 200
38. Keunggulan Sektoral dari Struktur Output, Nilai Tambah Bruto,
Pengganda, Keterkaitan Antarsektor. ...................................................... 201
39. Konektivitas Sektor Unggulan Berdasarkan Kriteria Struktur
Output, Nilai Tambah Bruto, Angka Pengganda dan Keterkaitan
Antarsektor ............................................................................................. 203
40. Sepuluh Sektor Penerima Terbesar Dampak Permintaan Akhir
Terhadap Perekonomian Wilayah Kepulauan Provinsi Maluku ............. 205
41. Penilaian Fungsi / Pusat Pelayanan Dengan Skalogram Guttman
di Pusat-Pusat Pengembangan, Tahun 2000 - 2002 ............................ 239
42. Penilaian Kemampuan Pelayanan Dengan Skalogram Guttman
di Pusat Pengembangan, Tahun 2000 – 2002 ......................................... 240
43. Pengelompokkan Pusat-Pusat Pengembangan Wilayah Berdasarkan
Metode Skalogram di Provinsi Maluku, Tahun 2000-2002 .................... 241
44. Penilaian Fungsi/Pusat Pelayanan dengan Skalogram Guttman
di Pusat-Pusat Pengembangan, Tahun 2008 – 2009 ............................... 242
45. Penilaian Kemampuan Pelayanan dengan Skalogram Guttman
di Pusat-Pusat Pengembangan, Tahun 2008 – 2009 ............................... 243
46. Pengelompokkan Pusat-Pusat Pengembangan Wilayah Berdasarkan
Metode Skalogram di Provinsi Maluku, Tahun 2008-2009 .................. 244

xxii

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Enam Pilar Penopang Pembangunan Wilayah ......................................

21

2. Kerangka Pemikiran Konseptual Penelitian Pengembangan
Kawasan Sentra Produksi (KSP) Pada Wilayah Kepulauan
Provinsi Maluku .................................................................................... 106
3. Peta Provinsi Maluku ............................................................................ 127

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Kode Sektor – Sektor Ekonomi ...........................................................

263

2. Total Output Multipliers Provinsi Maluku Update ..............................

265

3. Total Income Multipliers Provinsi Maluku Update .............................

267

4. Total Employment Multipliers Provinsi Maluku Update ....................

269

5. Analisis Keterkaitan Antarsektor ........................................................

271

6. Output Final Demand Impact Sektor Angkutan Udara ........................

274

7. Output Final Demand Impact Sektor Angkutan Darat .........................

276

8. Output Final Demand Impact Sektor Angkutan Air ............................

278

9. Output Final Demand Impact Sektor Perikanan ..................................

280

10. Output Final Demand Impact Sektor Perikanan, Udara, Darat
dan Air..................................................................................................

282

11. Peta Batas Administrasi .......................................................................

284

12. Peta Lereng ..........................................................................................

285

13. Peta Tanah ............................................................................................

286

14. Peta Kawasan Lindung.........................................................................

287

15. Peta Potensi Perikanan .........................................................................

288

16. Peta Kepadatan Penduduk ...................................................................

289

17. Kawasan Sentra Produksi Provinsi Maluku .........................................

290

18. Peta Perhubungan Laut ........................................................................

291

19. Peta Perhubungan Udara ......................................................................

292

20. Peta Konsep Gugus Pulau ....................................................................

293

21. Peta Pola Interaksi Ruang ....................................................................

294

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan bagian dari wilayah di permukaan bumi, memiliki
rona wilayah yang heterogen terdiri dari pulau-pulau. Menurut Yakub (2004),
bentuk-bentuk rona suatu wilayah dikatakan sebagai negara atau wilayah
kepulauan (archipelagic state/archipelago), dari aspek fisiografinya merupakan
wilayah yang tidak kompak/seragam (non contigous shape). Non contigous shape
yaitu, suatu wilayah yang berbentuk fragmental (kepulauan), terpecah (broken
shape), tersebar (scattered shape) dan lingkar laut (sircum marine).
Sitaniapessy (2002), menyatakan wilayah kepulauan terbentuk karena
adanya perbedaan karakteristik yang disebabkan oleh perbedaan aspek geografis,
fisik, iklim, sosial budaya dan etnis serta adanya perbedaan pada tahap
perkembangan pembangunan ekonomi wilayah. Sedangkan Monk et al. (2000),
berpendapat bahwa wilayah kepulauan merupakan kumpulan pulau-pulau yang
mengelompok secara bersama sebagai suatu masa daratan yang seluruhnya
dikelilingi oleh laut.
Aspek fisiografi di atas menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara
kepulauan (archipelagic state) letak geografisnya bagaikan untaian “zamrud” di
khatulistiwa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah laut terluas
mencapai 3.1 juta Km2 dan panjang pantai 80 791 km atau sekitar 43 670 mil
terpanjang kedua setelah Kanada. Gugusan kepulauan mencapai 17 500-an buah
pulau, terbentang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Rote.
Dengan belasan ribu buah pulau memberikan akses pada sumberdaya alam

2

wilayah yang beraneka ragam dan berlimpah untuk segera dikelola yang berbasis
local spesific di bidang kelautan atau bahari/maritim (Azis, 2004).
Kusumaatmaja (2005), mengatakan bahwa keunggulan sumberdaya alam
dan letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state)
merupakan keunggulan potensi lokal (local spesific) wilayah yang strategis.
Keunggulan potensi lokal sumberdaya kelautan atau bahari perlu menjadi
pertimbangan di dalam mengelola kegiatan ekonomi. Oleh karena itu secara
geopolitik dan geoekonomi sumberdaya tersebut seharusnya menjadikan
Indonesia sebagai pusat pertumbuhan (growth pole) bagi negara-negara
disekitarnya.
Paradigma pembangunan selama ini berorientasi pada pembangunan
wilayah daratan (continental) adanya kekeliruan tentang paradigma pembangunan
yang tidak berorientasi pada konsep wilayah kepulauan (archipelago/archipelagic
state) oleh Lukman (2004), dikatakan sebagai gagalnya pembangunan wilayah
yang pengembangan perekonomian wilayah belum berbasis pada sektor perikanan
diantaranya belum tercapainya swasembada ikan dan gagalnya kemampuan
penyediaan fasilitas pelayanan di sektor angkutan air (laut). Menurut Lukman
sektor angkutan air (laut) merupakan salah satu sektor yang sangat berpengaruh
untuk pengembangan ekonomi wilayah kepulauan sehingga harus menjadi
perhatian pemerintah pusat maupun daerah.
Konsep pembangunan selama ini masih dibentuk dengan paradigma
pembangunan wilayah daratan (continental/landlock state) tanpa memperhatikan
aspek kapasitas atau potensi lokal wilayah. Paradigma pembangunan yang
berorientasi wilayah daratan ternyata menimbulkan eksploitasi (backwash effect)

3

secara besar-besaran dari wilayah pusat (core) terhadap wilayah pinggiran
(periphery). Pemahaman pola pembangunan yang demikian ternyata menciptakan
ketimpangan pembangunan (regional disparity) yaitu, tidak semua wilayah dapat
merasakan hasil pembangunan yang sama dengan wilayah lain. Sehingga aspek
kapasitas atau potensi lokal tidak tergarap secara optimal.
Selanjutnya pemerintah daerah belum mampu menciptakan pusat-pusat
pertumbuhan baru (new growth poles) karena belum mampu mengidentifikasi/
menemukenali dan menentukan sektor-sektor unggulan mana yang berbasis local
spesific. Selain itu seluruh aktivitas perekonomian baik barang dan jasa
(infrastruktur, keuangan, transportasi dan komunikasi) dan seluruh investasi
terpusat pada satu pusat pertumbuhan yaitu di ibukota provinsi. Hal ini
mengakibatkan munculnya persepsi investor yang sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan dan kemudahan yang diperoleh bila berinvestasi di pusat
pertumbuhan. Dengan demikian wilayah di luar pusat pertumbuhan (periphery)
akan semakin tertinggal dan menimbulkan regional disparity.
Oleh sebab itu kebijakan-kebijakan ekonomi wilayah kepulauan
(archipelagic state/archipelago) seharusnya berbasis pada kapasitas atau potensi
lokal wilayah kepulauan yaitu maritim/bahari. Kebijakan ekonomi yang tidak
didasari keunggulan wilayah sering mengakibatkan ketertinggalan pada wilayahwilayah lain. Sebagai contoh majunya wilayah-wilayah di Kawasan Barat
Indonesia (KBI) khususnya pulau Jawa menimbulkan ketimpangan antar Jawa
dengan wilayah di luar Jawa. Hal ini dapat dibuktikan dari jumlah kota/kabupaten
tertinggal di Indonesia sebanyak 183 kota/kabupaten dimana 123 kota/kabupaten

4

berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) selain itu 62 persen luas wilayah
Indonesia berada di KTI.
Sebagai negara kepulauan (archipelagic state) pembuat atau pengambil
kebijakan harus merubah paradigma pembangunan wilayah dari berbagai
kebijakan dan strategi pembangunan yang berorientasi pada konsep wilayah
daratan (landlock state/continental) menjadi wilayah kepulauan (archipelago
/archipelagic state). Konsep-konsep pembangunan yang tidak didasarkan pada
kapasitas atau potensi lokal wilayah dan berorientasi maritim /bahari sebagai
sektor unggulan atau pada konsep wilayah kepulauan akan menjadikan wilayah di
luar pulau Jawa semakin tertinggal dan menimbulkan ketimpangan antarwilayah
bahkan disintegrasi bangsa.
Menurut World Bank (2009), selama bertahun-tahun unsur spasial belum
menjadi perhatian utama sehingga diperlukan konsep pemahaman implementasi
pada satu konsep pendekatan

terhadap geografi ekonomi. Dengan demikian

perubahan-perubahan terhadap pergeseran struktural ekonomi wilayah dapat
disesuaikan dengan potensi lokal (local spesific) wilayah setempat sesuai sektorsektor unggulannya.
Berlakunya UU No.32 Tahun 2004 dan UU No.33 Tahun 2004 (sebagai
revisi dari UU No.22 dan No.25 Tahun 1999) maka pemerintah daerah dituntut
untuk semakin mandiri dan mampu dalam mengelola berbagai potensi
sumberdaya yang ada dengan tetap memperhatikan sustainable development dari
daerah tersebut. Namun seringkali kebijakan-kebijakan pemerintah pusat di era
otonomi lebih memperhatikan kebijakan politis dan kurang memperhatikan
karakteristik dan infrastruktur yang ada di daerah. Di sisi lain pemerintah daerah

5

setelah otonomi belum mampu mendorong atau mengupayakan peningkatan
sektor-sektor berbasis kapasitas dan potensi (local spesific) wilayahnya.
Sjafrizal (2008), menyatakan perubahan sistem pemerintahan dan
pengelolaan

pembangunan daerah dan terjadinya globalisasi ekonomi akan

menimbulkan perubahan yang cukup dratis dalam pembangunan ekonomi daerah.
Kebijakan pembangunan yang selama ini hanya merupakan pendukung kebijakan
nasional mulai mengalami pergeseran sesuai dengan keinginan dan aspirasi
masyarakat yang berkembang di daerah.
Kartasasmita (1996), menyatakan pelaksanaan pembangunan wilayah
harus merupakan bagian integral dari proses pembangunan nasional dan
menempati posisi strategis dalam kebijakan pembangunan nasional. Sedangkan
pembangunan daerah bertujuan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat di
daerah melalui perencanaan pembangunan yang serasi, selaras dan terpadu baik
antarsektor dengan perencanaan daerah. Untuk itu sudah sepatutnya daerah-daerah
pada era otonomi dan memiliki kewenangan atau kebebasan dalam menjalankan
berbagai kebijakan pembangunan, lebih di arahkan pada pengembangan sektorsektor ekonomi yang berbasis pada kapasitas atau potensi lokal wilayah.
Berdasarkan kajian-kajian atau pendapat para pakar ekonomi yang di
dasarkan pada perubahan selama kebijakan otonomisasi dilakukan, maka
penelitian ini diarahkan untuk menganalisis bagaimana seharusnya pembangunan
ekonomi wilayah dilakukan. Kajian yang lebih mendalam mengenai berbagai
potensi lokal wilayah dan tingkat perkembangan ekonomi wilayah, sudah menjadi
keharusan bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk mendorong atau
memajukan wilayah-wilayah kepulauan seperti Provinsi Maluku dengan

6

menciptakan pusat pengembangan atau pusat-pusat pertumbuhan baru (new
growth poles) sesuai dengan kapasitas atau potensi lokal wilayah berbasis
maritim/bahari harus menjadi political will pemerintah daerah. Oleh sebab itu
pemerintah yang berkuasa harus mereorentasi konsep pengembangan wilayah
kepulauan berbasis maritim/bahari sesuai karakteristik/kearifan lokal dengan
meningkatkan kemampuan fasilitas pelayanan di pusat-pusat pengembangan
wilayah.
Provinsi Maluku dikenal sebagai daerah “seribu pulau” yang juga dikenal
pada masa lampau dengan sebutan “The Spice Island” memiliki luas wilayah
seluas 851 000 km2. Provinsi ini dengan luas wilayahnya 90 persen merupakan
lautan seluas 765 272 km2 dan 10 persen daratan sekitar 85 724 km2 (Bappeda
Provinsi Maluku, 1999). Sebagai wilayah kepulauan yang memiliki bentuk
wilayah atau rona wilayah (non contigous shape). Dengan rona wilayah kepulauan
(fragmental), broken shape, scattered shape dan sicrum marine maka Maluku
memiliki berbagai karakteristik dan potensi lokal wilayah yang beragam
(heterogen) baik dari sisi geografi, ekonomi dan sosial budaya.
Pengembangan wilayah kepulauan Provinsi Maluku yang terdiri dari
pulau-pulau dan dipisahkan oleh lautan masih terfokus pada satu pusat
pertumbuhan wilayah saja yaitu Kota Ambon. Lemahnya peran di sektor
infrastruktur seperti sektor jasa, angkutan dan komunikasi membuat beberapa
wilayah di daerah ini, hampir-hampir tidak memiliki akses keluar-masuk (exit
and entry) antarwilayah bahkan di dalam wilayah administrasinya sendiri. Hal ini
mengakibatkatkan wilayah di luar pusat pertumbuhan provinsi ini belum mampu
mengembangkan wilayahnya sesuai kapasitas atau potensi lokal wilayahnya.

7

Kapasitas atau potensi lokal wilayah yang beraneka ragam dan memiliki
kemampuan sumberdaya alam bahari melimpah, seharusnya Provinsi Maluku
mampu untuk memacu atau mendorong keunggulan potensi sumberdaya alamnya.
Keunggulan wilayah pada sumberdaya alam bahari/maritim merupakan potensi
lokal seharusnya menjadi sektor unggulan dan pendorong utama (prime mover)
terhadap seluruh aktivitas sektor-sektor ekonomi wilayah kepulauan ini.
Sesuai kondisi wilayah Provinsi Maluku, maka kebijakan-kebijakan
perencanaan pembangunan wilayah yang berbeda dengan kondisi wilayahnya
dalam jangka panjang akan mengalami kegagalan. Kurang mendukungnya
infrastruktur (sektor jasa, angkutan dan komunikasi) antarwilayah, antara wilayah
pinggiran (periphery) dengan pusat (core) tentunya menimbulkan ketimpangan
atau kesenjangan (disparity) pembangunan wilayah kabupaten/kota di Provinsi
Maluku.
Pada pelaksanaannya pembangunan di wilayah Maluku harus benar-benar
secara agresif dan integratif dapat mem

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pengembangan kawasan sentra produksi dalam meningkatkan perekonomian wilayah kepulauan di Provinsi Maluku