Carsinoma Ovarium .1 Pendahuluan TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Carsinoma Ovarium 2.1.1 Pendahuluan Kanker ovarium adalah keganasan yang berasal dari ovarium dalam tiga bentuk sel yang berbeda yaitu, sel germinal, sel epitel dan sel stroma dimana ketiga bentuk tersebut hadir dengan ciri-ciri yang berbeda dan ditangani secara berbeda pula Delrizal dan Chrestella, 2013. Penyebab paling besar sekitar 90 kanker ovarium timbul dari pertumbuhan dan replikasi sel epitel yang tidak terkontrol. Jenis kanker ini disebut kanker ovarium epitel. Jenis lain dari kanker ovarium berasal dari sel germinal yang memproduksi sel telur atau jaringan yang mengelilingi ovarium yang disebut sel stroma. Jika dapat dideteksi dengan cepat, kanker ovarium dapat dioperasi dan dapat disembuhkan. Tetapi, kanker ovarium tidak memberikan gejala yang dapat dikenali dan kebanyakan kasus kanker ovarium telah menyebar pada bagian tubuh yang lain metastasis sebelum pasien didiagnosa Anonim, 2011.

2.1.2 Gejala dan Penyebab

Menurut Setiati 2009, gejala-gejala kanker ovarium susah untuk dideteksi sejak dini. Bahkan, ketika gejalanya muncul, banyak pasien mengabaikannya karena gejala yang dirasakan samar dan mirip dengan gejala rutin yang terjadi pada pramenstruasi. Gejala-gejala yang mungkin timbul adalah sebagai berikut: 1. Perasaan tidak nyaman pada perut bagian bawah 2. Kurang nafsu makan Universitas Sumatera Utara 3. Perut terasa penuh 4. Tidak sanggup mencerna 5. Sering muntah 6. Berat badan menurun Setelah gejala tersebut muncul, umumnya pasien baru menyadari timbulnya penyakit tersebut setelah beberapa waktu kemudian. Akan tetapi, kesadaran tersebut terlambat karena kanker sudah tumbuh sebelum gejala-gejala yang khas tampak Setiati, 2009. Penyebab yang diduga terjadinya kanker ovarium adalah hormon-hormon tertentu, seperti hormon estrogen. Pola makan tertentu, yaitu terlalu banyak mengkonsumsi lemak hewani, juga dapat menjadi penyebab pemicu terjadinya kanker ovarium Setiati, 2009. Menurut American Institute for Cancer Research 2014, resiko terjadinya kanker ovarium dipengaruhi oleh jumlah siklus menstruasi pasien selama kehidupannya. Tidak melahirkan anak menambah resiko tersebut, dan juga terlihat sebagai penyebab utama terjadinya kanker ovarium. Melahirkan anak dapat mengurangi resiko dan merupakan tindakan pencegah terjadinya kanker ovarium. Hal lain yang menyebabkan terjadinya kanker ovarium seperti kanker payudara dan terlambatnya masa menopause. Pemberian air ASI laktasi dan cepatnya menopause akan mengurangi terjadinya kanker ovarium. Faktor resiko Anonim, 2011 yang menyebabkan terjadinya kanker ovarium: 1. Terlalu gemuk Wanita obesitas memiliki resiko terkena dan tingkat kematian akibat kanker rahim lebih tinggi, dibandingkan dengan wanita non-obesitas. Universitas Sumatera Utara 2. Keturunan Resiko seorang wanita terkena kanker rahim berkembang lebih tinggi jika keluarga memiliki riwayat penyakit kanker rahim dan kanker payudara. 3. Usia Faktor terkuat yang menyebabkan terkadinya kanker ovarium adalah usia. Kemungkinan terbesar terjadi setelah wanita menopause. Menggunakan terapi setelah menopause juga meningkatkan terjadinya kanker ovarium.

2.1.3 Epidemiologi

Peralihan Indonesia dari negara pertanian ke negara industri mempengaruhi peralihan penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif, termasuk penyakit keganasan. Penyakit keganasan semakin meningkat setiap tahun khususnya penyakit keganasan ovarium. Penyakit keganasan ovarium menempati 2,4-5,6 dari tumor ganas yang sering ditemukan pada wanita setelah tumor ganas serviks dan tumor ganas endometrium namun tumor ganas ovarium merupakan tumor ganas dengan persentase kematian tertinggi Rambe dkk, 2014. Tumor ganas ovarium merupakan tumor ganas ginekologik kedua terbanyak di Amerika Serikat. Pada tahun 2013 ditemukan 22.240 kasus baru dengan angka kematian 14.030 5. Insiden tumor ganas ovarium di Eropa Barat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah geografi lain seperti Amerika Utara, Afrika dan China yaitu kurang lebih 12 wanita tiap 100.000 penduduk Rambe dkk, 2014. Berdasarkan data pusat Patologi Anatomi di Indonesia tumor ganas ovarium merupakan tumor ganas peringkat ketiga terbanyak dari tumor ganas yang berada di saluran genital wanita selain itu tumor ganas ovarium merupakan penyebab kematian Universitas Sumatera Utara ketiga terbesar setelah tumor ganas payudara dan tumor ganas serviks Rambe dkk, 2014.

2.1.4 Patofisiologi dan Patogenesis

Kanker merupakan penyakit tidak menular yang disebabkan oleh pertumbuhan sel jaringan tubuh yang tidak normal dan tidak terkendali. Pertumbuhan sel tersebut mengikuti tahap tertentu dan biasanya memiliki waktu yang lama tanpa disadari oleh penderita. Sel kanker bersifat ganas, tumbuh cepat, seringkali tidak berbatas tegas, serta dapat menyebar melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening, sehingga dapat bermetastasis di organ lain. Kanker bisa disebut juga dengan tumor ganas atau neoplasma ganas Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2009. Kanker terbentuk melalui proses kompleks yang disebut transformasi yang terdiri dari inisiasi dan promosi. Pada tahap inisiasi terjadi proses perubahan genetik sel menuju penyakit kanker. Perubahan dapat terjadi secara spontan atau diakibatkan oleh suatu faktor agen yang disebut karsinogen yang merupakan faktor resiko kanker. Tahap berikutnya adalah proses promosi, yakni perubahan sel yang telah mengalami inisiasi menjadi sel kanker dipengaruhi oleh agen tertentu yang disebut promotor Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2009. Pada karsinoma ovarium ditemukan dua gen yang bertanggung jawab pada 23 familial atau 5 secara keseluruhan , yaitu gen BRCA1 yang berlokasi pada kromosom 17 17q21 dan gen BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q-12-13. Walaupun BRCA1 dan BRCA2 tidak menunjukkan kesamaan rangkaian, tetapi memiliki fungsi yang sama dan berinteraksi dengan kompleks multiprotein yang sama. Keduanya berfungsi sebagai tumor supresor, dan apabila kehilangan fungsi Universitas Sumatera Utara dapat menyebabkan terjadinya resiko keganasan. Fungsi dari kedua gen tersebut dalam memproteksi genom dari kerusakan dengan penghentian siklus sel dan perbaikan DNA belum sepenuhnya diketahui. Adanya mutasi dan delesi BRCA1 yang bersifat herediter pada 85 menyebabkan terjadinya peningkatan resiko untuk terjadinya kanker ovarium. Mutasi dari BRCA1 menunjukkan perubahan kearah karsinoma tipe medular, cenderung high grade, mitotik sangat aktif, pola pertumbuhan dan mempunyai prognosis yang buruk. Mutasi gen BRCA1 yang berlokasi pada kromosom 17q dan BRCA2 yang berlokasi pada kromosom 13q, meningkatkan kerentanan terjadinya karsinoma ovarium. Mutasi gen BRCA1 terjadi pada sekitar 5 pada penderita karsinoma ovarium yang berusia kurang dari 70 tahun. Resiko karsinoma ovarium karena mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 adalah 20-60 pada penderita berusia 70 tahun. Sebagian besar peristiwa ini terjadi pada penderita Cystadenocarcinomas Serosa Tambunan, 1995.

2.1.5 Diagnosis

Menurut Sastrosudarmo 2014, kanker baru menimbulkan gejala setelah mencapai stadium lanjut. Pada pemeriksaan fisik, lingkar perut bertambah atau ditemukan asites penimbunan cairan di dalam rongga abdomen. Pada pemeriksaan panggul diberikan massa ovarium atau massa perut. a. Ultrasonografi Merupakan cara pemeriksaan non invasif yang relatif murah. Pemakaian USG dapat membedakan tumor kistik dengan tumor yang padat. Pada tumor dengan bagian-bagian padat ekogenik persentase keganasan makin meningkat. Sebaliknya, pada tumor kistik tanpa ekointernal anekogenik kemungkinan keganasan menurun. Universitas Sumatera Utara Pemakaian USG Color Doppler dapat membedakan tumor ovarium jinak dengan tumor ovarium ganas. Modalitas ini didasarkan kepada analisis gelombang suara Doppler RI, PI, dan Velocity dari pembuluh-pembuluh darah tumor yang menunjukkan peningkatan arus darah diastolik dan perbedaan kecepatan arus darah sistolik dan diastolik Boy, 2006. b. Computed Tomography Scan CT-scan Pemakaian CT-scan untuk diagnosis tumor ovarium juga sangat bermanfaat. Dengan CT-scan dapat diketahui ukuran tumor primer, adanya metastasis ke hepar dan kelenjar getah bening, asites, dan penyebaran ke dinding perut. CT-scan kurang disenangi karena risiko radiasi, risiko reaksi alergi terhadap zat kontras, kurang tegas dalam membedakan tumor kistik dengan tumor padat, dan biaya mahal Boy, 2006. c. Magnetic Resonance Imaging MRI Jika dibandingkan dengan CT-scan, MRI tidak lebih baik dalam hal diagnostik, menggambarkan penjalaran penyakit, dan menentukan lokasi tumor di abdomen atau pelvis Boy, 2006. d. Pemeriksaan Tumor Marker CA 125 CA 125 adalah antigen yang dihasilkan oleh epitel coelom sel mesotelial pleura, pericardium dan peritoneum dan epitel saluran muller tuba, endometrium dan endoserviks. Permukaan epitel ovarium dewasa tidak menghasilkan CA 125, kecuali kista inklusi, permukaan epitel ovarium yang mengalami metaplasia dan yang mengalami pertumbuhan kapiler. Kadar normal paling tinggi yang disepakati untuk CA 125 adalah 35 Uml. Pemeriksaan kadar CA 125 ini mempunyai spesifisitas dan positive predictive value yang rendah. Hal ini karena pada kanker Universitas Sumatera Utara lain seperti kanker pankreas, kanker mammae, kanker kandung kemih, kanker liver, dan kanker paru, kadar CA 125 juga meningkat. Di samping itu, pada keadaan bukan kanker seperti mioma uteri, endometriosis, kista jinak ovarium, abses tuboovarian, sindroma hiperstimulasi ovarium, kehamilan ektopik, kehamilan, dan menstruasi, kadar CA 125 juga meningkat Boy, 2006.

2.1.6 Penatalaksanaan

Menurut American Institute for Cancer Research 2014, beberapa penatalaksanaan kanker ovarium yaitu: 1. Terapi Bedah Operasi merupakan langkah pertama dalam penanganan kanker ovarium. Operasi yang dilakukan disebut laparotomi yaitu operasi yang melakukan pembedahan di sepanjang dinding abdomen. Stadium awal kanker ovarium dapat dilakukan dengan operasi laparoskopi dengan membuat sayatan ½ atau ¾ inci di pusar atau perut bagian bawah. Jika kanker ovarium ditemukan, ahli onkologi dapat melakukan prosedur sebagai berikut: a. Salpingo-oooforektomi, kedua ovarium dan tuba falopi diangkat b. Histeroktomi, uterus diangkat Sebagai tambahan, momentum, suatu jaringan lemak yang menutupi usus, diangkat bersama kelenjar getah bening yang didekatnya, dan beberapa contoh jaringan kecil dari panggul dan perut. 2. Kemoterapi Kemoterapi adalah terapi yang menggunakan obat-obat yang dapat membunuh sel kanker. Kemoterapi biasanya diberikan secara intravena disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. Obat-obat tersebut tidak hanya membunuh Universitas Sumatera Utara sel kanker, tetapi membunuh sel sehat juga. Kemoterapi diberikan dalam beberapa siklus, kebanyakan wanita yang menderita kanker ovarium menerima kemoterapi selama 6 bulan setelah operasi mereka. 3. Radiasi Terapi dengan menggunakan radiasi bisa disebut sebagai radioterapi menggunakan sinar-X energi tinggi, atau jenis lain dari radiasi, untuk membunuh sel kanker dan menghentikan pertumbuhan kanker tersebut. Radiasi bukan merupakan bagian dari rencana pengobatan pertama untuk wanita yang menderita kanker ovarium. Tetapi cara ini dapat digunakan apabila sel kanker kembali. 4. Terapi Hormon Beberapa jenis kanker ovarium memerlukan hormon untuk tumbuh. Dalam hal ini, terapi hormon dapat menjadi pilihan pengobatan. Terapi hormon menghilangkan hormon wanita atau menghambat aksinya sebagai cara untuk mencegah sel kanker mendapatkan atau menggunakan hormon yang mereka butuhkan untuk tumbuh. Terapi hormon biasanya digunakan dalam bentuk pil, tetapi dapat juga diberikan secara suntikan. 2.2 Tinjauan Tentang Obat 2.2.1 Paclitaxel