INTERNATIONAL DISPUTE SETTLEMENT IN THE FRAMEWORK OF ASEAN (CASE STUDY OF INVASION OF VIETNAM TO CAMBODIA) PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DALAM KERANGKA ASEAN (STUDI KASUS INVASI VIETNAM KE KAMBOJA)

ABSTRACT

INTERNATIONAL DISPUTE SETTLEMENT IN THE FRAMEWORK OF
ASEAN (CASE STUDY OF INVASION OF VIETNAM TO CAMBODIA)
by
Aryo Adityo Novran

International disputes that arised must be resolved immediately so it will not
interfere the security of the international community. According to the
international law, international dispute resolution can be resolved through
peaceful settlement, one of them is through the framework of regional
organizations, this was done by ASEAN in resolving the case of the invasion of
Vietnam to Cambodia, this case is motivated by the revolution of the government
of Cambodia under Pol Pot's leadership that committed genocide against its
people and the people of Vietnamese ancestry in Cambodia. The problems in this
thesis were, first, how is the International dispute resolution mechanism within the
framework of ASEAN. Second, how is the settlement of the invasion case of
Vietnam to Cambodia by ASEAN.
The research method used was the normative legal research method with data
collection procedures was the main source of law materials containing normative
rules of law. Data acquired and processed in normative legal research were
secondary data derived from primary legal materials and secondary legal
materials. Methods of data collection and processing were done by studying the
literature, articles, and other reading material related to this thesis and done
through literature searches to the library of the University of Lampung, Lampung
Regional Library and Internet sites related to the writing of this thesis.
The results of the research showed that, first, international dispute resolution
mechanisms within the framework of ASEAN had several instruments of dispute
resolution which aimed to keep the stability of Southeast Asia, through Treaty of
Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC), Protocol on Dispute Settlement
Mechanism 1996 (Protokol DSM 1996), Declaration of ASEAN Concord II 2003

(Bali Concord II), The ASEAN Protocol on Enhanced Dispute Settlement
Mechanism, 2004 (Protocol Vientiane 2004) and ASEAN Charter 2007. The
dispute resolution instruments held by ASEAN was to perform diplomatic dispute
resolution, which emphasized dispute resolution through negotiation and
consultation. Each instrument has a scope object of dispute and different
procedures. Second, the settlement of Vietnamese invasion to Cambodia case by
ASEAN was by implementing the dispute settlement provisions of TAC in 1976,
ASEAN was taking a role by trying to reunite the disputed parties to find the
middle ground in order to resolve the case by meeting called the Jakarta Informal
Meetings (JIM I) and followed by JIM II which resulted in some agreement,
however the agreement generated by JIM I and JIM II were not going well, then
the dispute was brought to the United Nations. Therefore, it was needed the strong
and firm regulation in the implementation of the agreements and decisions
generated by the ASEAN dispute settlement.
Keywords: Dispute Settlement, ASEAN

ABSTRAK

PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DALAM KERANGKA
ASEAN (STUDI KASUS INVASI VIETNAM KE KAMBOJA)
Oleh
Aryo Adityo Novran
Sengketa internasional yang timbul harus cepat diselesaikan agar tidak
mengganggu keamanan masyarakat internasional. Menurut hukum internasional
penyelesaian sengketa internasional dapat diselesaikan melalui cara-cara
penyelesaian secara damai salah satunya adalah melalui kerangka organisasi
regional, hal ini yang dilakukan ASEAN dalam menyelesaikan kasus invasi
Vietnam ke Kamboja, kasus ini dilatarbelakangi oleh revolusi yang dilakukan
pemerintah Kamboja di bawah kepemimpinan Pol Pot yang berujung dengan
pembantaian terhadap rakyatnya dan rakyat keturunan Vietnam di Kamboja.
Permasalahan dalam skripsi ini adalah pertama bagaimana mekanisme
penyelesaian sengketa internasional dalam kerangka ASEAN. Kedua, bagaimana
penyelesaian kasus invasi Vietnam ke Kamboja oleh ASEAN.
Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif
dengan prosedur pengumpulan data yang sumber utamanya adalah bahan hukum
yang berisi aturan-aturan yang bersifat hukum normatif. Data yang diperoleh dan
diolah dalam penelitian hukum normatif adalah data sekunder yang berasal dari
bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Metode pengumpulan dan
pengolahan data dilakukan dengan cara mempelajari literatur, artikel, serta bahan
bacaan lainnya yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini yang dilakukan
melalui penelusuran kepustakaan ke perpustakaan Universitas Lampung,
Perpustakaan Daerah Lampung dan situs-situs internet yang berhubungan dengan
penulisan dalam skripsi ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, mekanisme penyelesaian sengketa
internasional dalam kerangka ASEAN memiliki beberapa instrumen penyelesaian
sengketa yang tujuannya menjaga kestabilitasan di kawasan Asia Tenggara, yaitu
melalui Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC), Protocol on
Dispute Settlement Mechanism 1996 (Protokol DSM 1996), Declaration of
ASEAN Concord II 2003 (Bali Concord II), The ASEAN Protocol on Enhanced
Dispute Settlement Mechanism, 2004 (Protokol Vientiane 2004) dan ASEAN
Charter atau Piagam ASEAN 2007. Instrumen-instrumen penyelesaian sengketa
yang dimiliki oleh ASEAN tersebut memberikan upaya penyelesaian sengketa

secara diplomasi, yang lebih mengedepankan penyelesaian sengketa melalui
negosiasi dan konsultasi. Masing-masing instrumen memiliki ruang lingkup objek
sengketa dan prosedur yang berbeda. Kedua, penyelesaian kasus invasi Vietnam
ke Kamboja oleh ASEAN dengan mengimplementasikan ketentuan penyelesaian
sengketa TAC 1976, yaitu ASEAN mengambil peran dengan berupaya
mempertemukan pihak-pihak yang bersengketa untuk mencari jalan tengah
menyelesaikan kasus tersebut dengan mengadakan pertemuan yang disebut
Jakarta Informal Meeting (JIM I) dan dilanjutkan dengan JIM II yang
menghasilkan beberapa kesepakatan, akan tetapi kesepakatan yang dihasilkan JIM
I dan JIM II tidak berjalan dengan baik, kemudian sengketa ini di bawa ke PBB.
Oleh karena itu, perlu adanya pengaturan yang kuat dan tegas dalam pelaksanaan
kesepakatan maupun putusan yang dihasilkan oleh penyelesaian sengketa
ASEAN.
Kata kunci : Penyelesaian sengketa, ASEAN

PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DALAM KERANGKA
ASEAN (STUDI KASUS INVASI VIETNAM KE KAMBOJA)

Oleh
ARYO ADITYO NOVRAN
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Internasional
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DALAM KERANGKA
ASEAN (STUDI KASUS INVASI VIETNAM KE KAMBOJA)
(Skripsi)

Oleh
ARYO ADITYO NOVRAN

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL
DALAM KERANGKA ASEAN
(Studi Kasus Invasi Vietnam ke kamboja)

Judul Skripsi

,{d

Nama Mahasiswa

No. Pokok Mahasiswa

t012011128

Bagian

Hukum Internasional

Fakultas

Hukum

MENYETUJTII
1.

ida, S.H., M,II.
19s91025 198503

20t4

Komisi P,embimbing

ni, s.H., M.H.

Desy Chu

NP 1981

2006042 027

2. Ketua Bagian Hukum Internasional

AMul l!ftthalib Tahar, S.H.o M.H.
NrP 19571022198503 r 002

MENGESAHKAN

1.

Tim Penguji
Ketua

: Melly Aida, S.H., M.H.

Sekretaris/Anggota

: Desy Churul Aini, S.H., M.H.

Penguji

Utama : Abdul Muttalib

Tahar, S.H,, M.H.

S.H, M.Sq_#fl,-

Tanggal Lulus Ujian Skipsi : 17 JuIi 2014

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 3
November 1992. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga
bersaudara yang

merupakan anak laki-laki kedua dari

pasangan Bapak Suranto dan Ibu Fauzia.
Penulis mengawali jenjang pendidikan pada tahun 1997 di
Taman Kanak-Kanak Xaverius Bandar Lampung dan
diselesaikan pada tahun 1998. Kemudian penulis melanjutkan ke Sekolah Dasar
Al-Azhar 2 Bandar Lampung yang di selesaikan pada tahun 2004. Penulis masuk
ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 29 Bandar Lampung yang kemudian
diselesaikan pada tahun 2007, setelah itu melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas
Negeri 9 Bandar Lampung dan Lulus pada tahun 2010.
Pada tahun 2010 Penulis terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Lampung melalui Jalur SNMPTN, dan untuk lebih mematangkan ilmu
hukum yang diperoleh, penulis mengkonsentrasikan diri pada bagian Hukum
Internasional. Pada bulan Januari tahun 2013, penulis mengikuti Kuliah Kerja
Nyata (KKN) Tematik Unila Tahap I yang dilaksanakan dalam bentuk Kuliah
Kerja Nyata di Pekon Sumber Bandung Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten
Pringsewu selama 40 hari yang dilaksanakan bersama 7 orang peserta lainya yang
berasal dari berbagai Fakultas di Universitas Lampung.

Moto

Hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan
Kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman
(Blaise Pascal)

Fantasies have to be unrealistic.
Because the second that you get what you want,
you don't want it anymore
(The Life of David Gale)

Without pain,
without sacrifice,
we would have nothing
(Fight Club)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah, kepada Allah SWT yang telah
menjadikan segala sesuatu yang sulit ini menjadi mudah.
Kupersembahkan karya ini untuk orang tua tercinta tercinta, yang telah
mencurahkan cinta, kasih , perhatian, doa dan peluh keringatnya untuk
keberhasilanku, yang selalu menyemangatiku untuk terus kuat, tegar dan tidak
berhenti untuk berusaha mencapai impianku, serta kakak-kakakku yang selalu
memotivasi, doa, dan perhatian sehingga aku lebih yakin dalam menjalani hidup
ini

Serta untuk Almamaterku tercinta

SANWANCANA

Alhamdulillahirabbil ’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : “Penyelesaian
Sengketa Internasional Dalam Kerangka ASEAN (Studi Kasus Invasi Vietnam ke
Kamboja)”. Terselesaikannya skripsi ini tak lepas dari bantuan, dukungan dan
bimbingan berbagai pihak baik moril maupun materil. Untuk itu dalam
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa hormat
dan terima kasih yang tulus kepada :
1. Bapak Heryandi, S.H.,M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampung atas kesediaannya memberi masukan agar terselesaikannya
skripsi ini;
2. Bapak Abdul Muthalib Tahar, S.H.,M.H., selaku Ketua bagian Hukum
Internasional, sekaligus pembahas I (satu) serta penguji utama atas
kesediaannya dalam memberikan masukan, saran dan kritik dalam proses
penyelesaian skripsi ini;
3. Bapak Naek Siregar, S.H.,M.H., selaku Sekretaris bagian Hukum
Internasional yang selalu memberikan masukan yang bermanfaat untuk
penyelesaian skripsi ini;
4. Ibu Melly Aida, S.H., M.H., selaku Pembimbing I (satu) atas kesediaannya
meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan bimbingan,
saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;

5. Ibu Desy Churul Aini, S.H.,M.H., selaku Pembimbing 2 (dua) atas
kesediaannya

meluangkan

waktu,

tenaga

dan

pikirannya

untuk

memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi
ini;
6. Bapak Ahmad Syofyan, S.H.,M.H., selaku Pembahas 2 (dua) atas
kesediaannya

meluangkan

waktu,

tenaga

dan

pikirannya

untuk

memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi
ini;
7. Ibu Widya Krulinasari, S.H.,M.H., selaku Pembimbing Akademik penulis
atas kesediaannya membantu, mengarahkan dan memberi masukan selama
penulis menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas
Lampung;
8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum, bagian Hukum Internasional
terima kasih atas bimbingan dan masukannya dalam penyelesaian skripsi
ini;
9. Seluruh Dosen Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu
dan pengetahuan kepada penulis, serta kepada seluruh staf administrasi
Fakultas Hukum Universitas Lampung;
10. Keluarga ku tercinta, Bapak, Ibu, uan, dan uni yang selalu memberikan
dukungan, doa, semangat, dan perhatian yang penuh dengan kasih sayang
secara moril maupun materiil. Serta keluarga besarku yang paling
kusayangi yang telah mendukung dan membantu serta memberikan
semangat kepada penulis;

11. Bapak Marjiyono, Bapak Sujarwo dan Bapak Supendi selaku Staf
Administrasi Bagian Hukum Internasional FH Unila, terima kasih atas
bantuan, saran dan masukannya serta motivasinya dalam menyelesaikan
skripsi ini;
12. Squad of International Law 2010 (Haves, Jaya, Jeffry, Insan, Oji, Aji,
Ade, Reza, Emi, Asha, Siska, dan Mba Aldis) atas rasa kekeluargaan,
kebersamaan, dukungan dan pengalaman yang luar biasa yang kalian
berikan. Akan selalu mengingat hari dimana kita bersama;
13. Sahabat-sahabat Fakultas Hukum yang berjuang bersamaku Emi Eliza,
Ahmadi, Begi, Budi, Danu, Agung, Andi Kus, Andi Sis, Echo, Bayu,
Afrizal, Odi, Dendri, Topan yang selalu bersama dalam suka dan duka,
selalu membantu, menemaniku, dan selalu memberikan nasehat;
14. Sahabat dcacad squad Terry, Panji, Jete, Reky, Fauzan, Angkondo, Ideal,
Adit, Aliq, Meliyan, Faiz, dan lain lain yang selalu memberi semangat,
nasihat, dan keceriaan yang sangat sangat berarti kepada penulis
15. Teman-teman KKN ku Topik, Reky, Ka Ican, Hasby, Emi, Vinny, Heni
yang memberikan kenangan indah selama menjalankan KKN selama 40
Hari di Pekon Sumber Bandung Kecamatan Pagelaran Utara Kabupaten
Pringsewu.
16. Kepada semua pihak yang terlibat namun tidak dapat disebutkan satu
persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuannya
dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, sangat penulis sadari bahwa berakhirnya masa studi ini adalah awal
dari perjuangan panjang untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sedikit
harapan semoga karya kecil ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.
Amin.
Bandar Lampung, Juli 2014
Penulis,
Aryo Adityo Novran

DAFTAR ISI

JUDUL
ABSTRAK
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
RIWAYAT HIDUP
PERSEMBAHAN
MOTO
SANWACANA
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
I. PENDAHULUAN .......................................................................

1

1.1 Latar Belakang ............................................................................

1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................

12

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ................................................

13

1.3.1 Tujuan Penelitian .........................................................

13

1.3.2 Kegunaan Penelitian.....................................................

13

1.3.2.1 Kegunaan Teoritis ..................................................

13

1.3.2.2 Kegunaan Praktis ..................................................

14

1.4 Ruang Lingkup Penelitian ...........................................................

14

1.5 Sistematika Penulisan .................................................................

14

II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................

16

2.1 Pengertian-Pengertian .................................................................

16

2.1.1 Pengertian Sengketa. ....................................................

16

2.1.2 Pengertian Sengketa Internasional ...............................

17

2.1.3 Pengertian Invasi ..........................................................

19

2.2 Prinsip-Prinsip Penyelesaian Sengketa Secara Damai ................

20

2.3 Cara-Cara Penyelesaian Sengketa Secara Damai .......................

25

2.3.1 Melalui Jalur Diplomatik .............................................

26

2.3.2 Melalui Jalur Litigasi ...................................................

30

2.3.3 Melalui Organisasi Internasional .................................

31

2.4 ASEAN Sebagai Organisasi Regional ........................................

32

2.4.1 Pengertian Organisasi Internasional .............................

32

2.4.2 Klasifikasi Organisasi Internasional ............................

32

2.4.3 Personalitas Organisasi Internasional ..........................

33

2.4.4 Sejarah ASEAN ...........................................................

35

2.4.5 Fungsi dan Tujuan Pembentukan ASEAN ...................

39

2.4.6 Organ-Organ ASEAN ..................................................

41

2.4.7 Keanggotaan ASEAN ..................................................

43

III.METODE PENELITIAN .........................................................

47

3.1 Jenis Penelitian ............................................................................

47

3.2 Pendekatan Masalah ....................................................................

47

3.3 Sumber Data ................................................................................

49

3.4 Metode Pengumpulan Data dan Pengolahan Data ......................

50

3.4.1 Metode Pengumpulan Data .....................................

50

3.4.2 Metode Pengolahan Data .........................................

50

3.5 Analisis Data ...............................................................................

51

IV. PEMBAHASAN ........................................................................

52

4.1 Mekanisme Penyelesaian Sengketa Internasional Dalam Kerangka
ASEAN .......................................................................................
4.1.1 Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia

52

1976 ..........................................................................

52

4.1.2 Protokol Dispute Settlement Mechanism 1996
(Protokol DSM 1996) ..............................................

67

4.1.3 Declaration of ASEAN Concord II 2003
(Bali Concord II) .....................................................

76

4.1.4 The ASEAN Protocol on Enhanced Dispute Settlement
Mechanism 2004 (Protokol Vientiane 2004) ...........

85

4.1.5 ASEAN Charter 2007 ..............................................

96

4.2 Penyelesaian Invasi Vietnam ke Kamboja Dalam Kerangka ASEAN 106
4.2.1 Latar Belakang Kasus Invasi Vietnam ke Kamboja

106

4.2.2 Penyelesaian Kasus Invasi Vietnam ke Kamboja ...

111

4.2.3 Penyelesaian Kasus Invasi Vietnam ke Kamboja
Dalam Sudut Pandang TAC 1976 ...........................

117

V. PENUTUP ...................................................................................

121

5.1 Kesimpulan .................................................................................

121

5.2 Saran .........................................................................................

123

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

4.1 Mekanisme penyelesaian sengketa TAC 1976 ...........................

66

4.2 Mekanisme penyelesaian sengketa Protokol DSM 1996 ............

75

4.3 Mekanisme penyelesaian sengketa Bali Concord II 2003 ..........

84

4.4 Mekanisme penyelesaian sengketa Protokol Vientiane 2004 .....

95

4.5 Mekanisme penyelesaian sengketa Piagam ASEAN 2007 .........

105

4.6 Mekanisme penyelesaian sengketa invasi Vietnam ke Kamboja
berdasarkan sudut pandang TAC 1976 .......................................

118

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Deklarasi Bangkok, 8 Agustus 1967, merupakan awal berdirinya ASEAN
(Association of South East Asian Nations). Deklarasi ini menjadi penanda lahirnya
sebuah organisasi antarnegara yang beranggotakan negara-negara di sebuah
wilayah regional, Asia Tenggara. Deklarasi ini ditandatangani di Bangkok,
Thailand, yang diwakilkan oleh lima wakil negara/pemerintahan negara-negara
Asia Tenggara, yaitu para Menteri Luar Negeri Indonesia – Adam Malik, Wakil
Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan dan Menteri Pembangunan
Nasional Malaysia – Tun Abdul Razak, Menteri Luar Negeri Filipina – Narciso
Ramos, Menteri Luar Negeri Singapura – S. Rajaratnam, dan Menteri Luar Negeri
Thailand – Thanat Khoman melakukan pertemuan dan menandatangani Deklarasi
ASEAN (The ASEAN Declaration) atau Deklarasi Bangkok (Bangkok
Declaration). Keanggotaan ASEAN kemudian berkembang menjadi sepuluh
negara anggota dengan masuknya Brunei Darusalam (1984), Vietnam (1995),
Laos (1997), Myanmar (1997), dan Kamboja (1999). 1
Sejarah berdirinya ASEAN berlatar belakang historis, persamaan nasib, dan
kondisi geo-politik dunia pada saat itu. Adanya perang dingin antara blok barat
1

Departemen Luar Negeri Republik Indonesia (DEPLU RI), ASEAN Selayang Pandang,
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, Jakarta, 2010, hlm 2.

2

dan blok timur, konflik internal yang timbul di negara-negara ASEAN serta
ketegangan yang terjadi antara negara-negara ASEAN, telah menyadarkan para
pemimpin negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kerjasama di antara
mereka.2
Organisasi ini bertujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi, mendorong
perdamaian dan stabilitas wilayah, dan membentuk kerjasama di berbagai bidang
kepentingan bersama.Lambat laun organisasi ini mengalami kemajuan yang cukup
signifikan di bidang politik dan ekonomi, seperti disepakatinya Deklarasi
Kawasan Damai, Bebas, dan Netral (Zone of Peace, Freedom, and Neutrality
Declaration/ZOPFAN) yang ditandatangani tahun 1971. Deklarasi ini lahir karena
didorong oleh keinginan kuat untuk meningkatkan otonomi ASEAN sebagai
organisasi regional yang mandiri dan tidak dikendalikan oleh kekuatan di luar
kawasan ASEAN.3
Pembentukan ASEAN pada awalnya tidak ditujukan untuk membuat sebuah
organisasi supranasional yang memiliki kepentingan berbeda dari anggotaanggotanya. Mantan Sekjen ASEAN, Rodolfo Severino Jr, dalam sebuah
pidatonya di Universitas Sydney, Australia tahun 1998, menyatakan:
“Pendirian ASEAN pada tahun 1967 dimaksudkan untuk ASEAN menjadi
sebuah asosiasi semua negara di Asia Tenggara bekerja sama secara sukarela
untuk kebaikan bersama, dengan perdamaian, dan pembangunan ekonomi,
sosial dan budaya yang menjadi tujuannya. ASEAN bukan, dan tidak pernah
dimaksudkan untuk menjadi sebuah entitas supranasional para anggotanya

2

Hilton Tarnama Putra dan Eka An Aqimuddin, Mekanisme Penyeselaian Sengketa di
ASEAN Lembaga dan Proses, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011, hlm 26.
3
Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2007, hlm 43.

3

bertindak secara independen, tidak memiliki parlemen regional atau dewan
menteri dengan kekuatan membuat hukum, tidak ada sistem peradilan” 4
Pencapaian terbesar ASEAN selama kurang lebih empat puluh tahun sejak
terbentuk sebagai organisasi internasional regional adalah kemampuannya untuk
memelihara keamanan dan perdamaian di kawasan5 dan hal itu masih berlanjut
hingga kini. Salah satu tujuan ASEAN dibentuk adalah untuk memelihara
perdamaian dan keamanan regional sesuai dengan Deklarasi Bangkok 1967.
Meskipun stabilitas keamanan dan perdamaian di kawasan terwujud namun hal itu
tidak dapat diartikan bahwa kawasan Asia Tenggara benar-benar bersih dari
sengketa.
Sejak dibentuknya ASEAN pada tahun 1967, organisasi tersebut terlihat
menghindari pembahasan isu-isu seperti politik, keamanan dan hukum. Fakta
demikianlah yang membuat ASEAN dianggap tidak mampu mewakili
kepentingan para negara-negara anggotanya. Selain permasalahan internal
tersebut, ASEAN juga dipengaruhi oleh geo-politik global dimana China dan
India berkembang menjadi kekuatan yang luar biasa di Benua Asia bahkan dunia.
ASEAN sendiri baru memiliki mekanisme penyelesaian sengketa secara formal
setelah berlangsungnya KTT Pertama ASEAN di Bali tahun 1976. Hasil
signifikan dari KTT pertama tersebut adalah terciptanya Treaty of Amity and
Cooperation in Southeast Asia (TAC). TAC merupakan sebuah babak baru bagi
ASEAN karena mengatur prinsip-prinsip dasar hubungan sesama negara anggota
serta prosedur bagaimana menyelesaikan sengketa antara negara anggotanya

4

Rodolfo Severino, Asia Policy Lecture : What ASEAN Is and What It Stands For, The
Research Institute for Asia and the Pacific, University of Sydney, Australia, 22 October 1998.
5
Mely Caballero-Anthony, Mechanism of Dispute Settlement: The ASEAN Experience,
Contemporary Southeast Asia, Vol. 20, No. 1, 1998 hlm 1.

4

melalui mekanisme formal-institusional. TAC sangat penting artinya bagi
ASEAN sehingga sering disebut sebagai wujud dari nilai-nilai global yang
mendasari pembentukan organisasi regional.6
Nilai penting yang terdapat dalam TAC adalah dicantumkannya prinsip-prinsip
dasar yang harus dipegang teguh oleh negara anggota ASEAN dalam
melaksanakan kerjasama dan persahabatan antara satu sama lain. Selain prinsipprinsip dasar, TAC juga memuat klausul tentang bagaimana sengketa yang timbul
diantara negara peserta harus diselesaikan. Dengan diaturnya mekanisme
penyelesaian sengketa maka ASEAN telah memiliki prosedur hukum formal
dalam penyelesaian sengketa. Aktor yang terlibat dengan ASEAN juga semakin
heterogen,

mulai

dari

negara

non-ASEAN

hingga

organisasi

internasional.Perkembangan yang semakin luas itulah yang pada akhirnya
membutuhkan penguatan ASEAN secara kelembagaan. Penguatan ini dapat
dicapai dengan menguatkan aturan main dalam organisasi.
Kerjasama dalam bidang ekonomi misalnya, ASEAN berhasil membuat
mekanisme penyelesaian sengketa pada tahun 1996 yaitu Protocol on Dispute
Settlement Mechanism, Manila, 20 November 1996 yang diperbaharui dengan
ASEAN Protocol on Enhanced Dispute Settlement Mechanism, Vientiane, 29
November 2004 dengan adanya mekanisme tersebut diharapkan sengketa
ekonomi yang terjadi dapat diselesaikan secara formal-institusional oleh ASEAN.
Selain Protocol on Dispute Settlement Mechanism 1996 dan Protocol on
Enhanced Dispute Settlement Mechanism 2004 terdapat instrumen ASEAN yang

6

Bambang Cipto, op.cit., hlm 23.

5

mengatur penyelesaian sengketa yaitu Declaration of ASEAN Concord II (Bali
Concord II), yang dimana di dalam Bali Concord II ini pula dinyatakan bahwa
ASEAN akan memperkuat organisasi dengan membentuk tiga pilar komunitas,
yaitu Politik-Keamanan, Ekonomi, dan Sosial Budaya.7
Perkembangan yang cukup penting adalah lahirnya Piagam ASEAN tahun 2007
setelah hampir empat puluh tahun pembentukannya. Latar belakang lahirnya
Piagam ASEAN tidak dapat dihindarkan dari serangkaian kesepakatan yang telah
dibuat secara sadar oleh para pemimpin ASEAN. Meskipun hanya dianggap
sebagai pengulangan instrumen-instrumen ASEAN sebelumnya, kehadiran
Piagam ASEAN sangat penting karena terdapat penegasan bahwa ASEAN ingin
menjadi sebuah organisasi yang berdasarkan hukum (rules-based organization).8
Piagam ASEAN mempunyai satu bab yang sangat penting mengenai penyelesaian
sengketa yaitu Bab VIII terdiri dari tujuh pasal (Pasal 22-28). Bab ini menjadi
penting sebagai penegasan salah satu prinsip yang dianut oleh negara anggota
ASEAN untuk menyelesaikan sengketa antara mereka melalui cara-cara damai.9
Mekanisme penyelesaian sengketa sebelum adanya Piagam ASEAN tersebar
dalam perjanjian-perjanjian tertentu.10 Piagam ASEAN lahir untuk menjadi alas
serta mengharmonisasikan beragam mekanisme yang ada sehingga dapat berjalan
dengan efektif dan efisien. Dengan adanya Piagam ASEAN ini diharapkan negara
anggota ASEAN akan lebih mendayagunakan organisasi untuk dapat membantu
menyelesaikan sengketa-sengketa yang ada atau potensial untuk timbul.

7

Declaration of ASEAN Concord II, Poin 1.
Hilton Tarnama Putra dan Eka An Aqimuddin, op.cit., hlm 37.
9
Pasal 2 butir d dalam Piagam ASEAN 2007.
10
Mekanisme penyelesaian sengketa dalam TAC dan Protokol Vientiane 2004.

8

6

Keperacayaan diri negara anggota ASEAN akan tumbuh seiring dengan adanya
kehendak eksplisit yang tercantum dalam Piagam bahwa ASEAN hendak
memperkuat diri dengan menjadikan hukum sebagai fondasi dasar organisasi.
Setelah kehadiran piagam ASEAN akan mengurangi keengganan dari negara
anggotanya sendiri untuk menyelesaikan sengketa-sengketa hukum. Meskipun
pengaturan penyelesaian sengketa dalam Piagam tidak terlalu detail, namun
dengan adanya bab tersendiri mengenai mekanisme penyelesaian sengketa akan
menjadikan dasar acuan bagi mekanisme penyelesaian sengketa yang telah ada
selama ini.
Instrumen penyelesaian sengketa yang terdapat dalam ASEAN diharapkan bisa
terus menjaga perdamaian dan kestabilan di wilayah ASEAN. ASEAN sampai
saat ini telah berperan dalam kasus-kasus yang terdapat di wilayah ASEAN,
seperti dalam kasus invasi Vietnam ke Kamboja,11 konflik ini terjadi
antara Republik Sosialis Vietnam dan Kamboja. Konflik ini dimulai dengan invasi
dan pendudukan Vietnam terhadap Kamboja dan penurunan Khmer Merah dari
kekuasaan.
Invasi dan pendudukan Vietnam ke Kamboja yang dilakukan pada akhir tahun
1978 merupakan peristiwa yang begitu mengejutkan baik bagi Kamboja sendiri
maupun dunia internasional khususnya ASEAN. Hal ini terjadi karena ASEAN
pada saat itu sedang mengusung gagasan ZOPFAN yaitu suatu upaya dalam

11

Bambang Cipto, op.cit., hlm. 84.

7

rangka memelihara perdamaian, keamanan, kedaulatan, dan kemerdekaan di
kawasan Asia Tenggara serta bebas dari campur tangan pihak luar.12
Tahun 1975 hingga 1979 merupakan masa-masa kelam bagi rakyat Kamboja
ketika pemerintahan dikuasai Pol Pot dibawah rezim Khmer Merah. Khmer Merah
menduduki tampuk kekuasaan setelah berhasil menggulingkan Republik Khmer
yang dipimpin Lon Nol pada 17 April 1975.13 Jatuhnya rezim Lon Nol
memberikan secercah harapan baru bagi penduduk Kamboja untuk mencapai
kedamaian setelah terjebak dalam perang saudara sejak 1967. Namun
kenyataannya, rezim Pol Pot dengan kebijakannya justru menambah panjang
penderitaan rakyat.14
Khmer Merah diawal memegang pemerintahan, memerintahkan seluruh penduduk
lebih dari dua juta penduduk meninggalkan kota menuju pedesaan dalam rangka
Revolusi Agraria untuk tinggal dan bekerja di pedesaan sebagai petani. Hal ini
dikarenakan kota-kota besar dianggap sebagai basis dari kaum aristokrat dan
penghambat revolusi. Dalam relokasi paksa ini, anggota keluarga harus
dipisahkan dari satu sama lain antara orang tua dan anaknya untuk dikirim secara
terpisah ke berbagai pedesaan untuk diperas tenaganya sampai meninggal dunia
karena kelelahan atau sakit. Pemerintahan Pol Pot yang mengusung konsep
Marxisme-Leninisme melakukan percobaan radikal untuk menciptakan utopia
agrarian dengan menyatakan konsep “Year Zero”. Pol Pot dan Khmer Merah

12

Nasution et al., Pasang Surut Hubungan Diplomatik Indonesia Kamboja. Phnom Penh,
Kedutaan Besar Republik Indonesia, 2002, hlm 95.
13
http://www.cambcomm.org.uk/holocaust.html diakses pada tanggal 18 Februari 2014.
14
Sydney Schanberg. Kamboja. Dalam Kenneth Anderson, Kejahatan Perang: Yang
harus diketahui public, PJTV-Internews Europe, 2004, hlm 73, sebagaimana dikutip http://luarnegeri.kompasiana.com/2012/01/17/konflik-kamboja-rezim-pol-pot-khmer-merah-431731.html
dikutip pada tanggal 18 Februari 2014.

8

mengklaim bahwa Kamboja mampu menciptakan tatanan sosialis murni yang
berdiri sendiri melalui produktivitas petani dengan mengatakan :
“Kami membuat sebuah revolusi yang unik, Apakah ada negara yang berani
menghapuskan uang dan pasar seperti cara yang kami miliki ? Kami adalah model
yang baik bagi seluruh dunia.”
Konsep “Year Zero” merupakan kebijakan yang dijalankan oleh negara komunis
Kamboja untuk melakukan revolusi destruktif yang mengakibatkan terjadinya
pembunuhan secara massal dalam suatu periode.15 Rezim Pol Pot sangat kritis
terhadap oposisi maupun kritik politik; ribuan politikus dan pejabat dibunuh, dan
Phnom Penh pun ikut berubah menjadi kota hantu yang penduduknya banyak
yang meninggal akibat kelaparan, penyakit atau eksekusi. Ranjau-ranjau
disebarkan secara luas ke seluruh wilayah pedesaan.
Kebijakan Pol Pot mendorong invasi Vietnam pada tahun 1978 yang
dilatarbelakangi pembantaian terhadap puluhan ribu warga keturunan Vietnam di
Kamboja serta perlakuan tidak manusiawi terhadap para anggota partai komunis
pro

Vietnam

yang

membantu

menumbangkan

rezim

Lon

Nol

kala

itu.16 Disamping itu, sebagai serangan balasan atas tindakan Pol Pot yang
menyerang wilayah Vietnam.17 Kebijakan Pol Pot tersebut dianggap melewati
batas toleransi sehingga memaksa Vietnam menyerang pemerintahan Pol Pot guna
menyelamatkan rakyatnya. Pada bulan 25 Desember 1978, Vietnam menyerang
15

http://regional.kompasiana.com/2010/12/29/kamboja-dalam-penguasaan-polpot/ dipublibkasikan pada 29 Desember 2010 dikutip pada tanggal 18 Februari 2014.
16
“Sejarah Bangsa yang Diwarnai Pertumpahan Darah.” Suara Pembaruan, 25
November
1991.
Hal
32,
sebagaimana
dikutip
dalam
http://luarnegeri.kompasiana.com/2012/01/17/konflik-kamboja-rezim-pol-pot-khmer-merah-431731.html
dikutip pada tanggal 18 Februari 2014.
17
http://regional.kompasiana.com/2010/12/29/kamboja-dalam-penguasaan-polpot/ dipublikasikan pada 29 December 2010 dikutip pada tanggal 18 Februari 2014.

9

wilayah Kamboja dengan bala kekuatan sekitar 200.000 pasukan. Klimaksnya
pada tanggal 10 Januari 1979, intervensi Vietnam secara resmi mengambil alih
tampuk pemerintahan di Kamboja danmendirikan People’s Republic of
Kampuchea (PRK) yang dipimpin Heng Samrin.18
Jumlah korban jiwa pada saat kekuasaan Pol Pot dan invasi Vietnam ke Kamboja
masih dipertentangkan. Sumber-sumber yang dapat dipercaya dari pihak
Barat menyebut angka 1,6 juta jiwa, sedangkan sebuah sumber yang spesifik,
seperti jumlah tiga juta korban jiwa antara 1975 dan 1979, diberikan oleh rezim
Phnom Penh yang didukung Vietnam, PRK.19 Amnesty International menyebut
1,4 juta; sedangkan Departemen Negara AS, 1,2 juta. Pol Pot sendiri menyebut
bahwa korban yang jatuh sekitar 800.000 jiwa.
Sejak awal invasi Vietnam Ke Kamboja, ASEAN memandang bahwa invasi
tersebut sebagai pelanggaran prinsip-prinsip dasar hubungan antar negara, yaitu
prinsip non intervensi dan prinsip penggunaan kekerasan bersenjata. Oleh karena
itu, pada Januari 1979, ASEAN mengadakan pertemuan khusus menteri luar
negeri di Bangkok yang menyerukan agar kekuatan asing yang berada di Kamboja
untuk segera keluar. Seruan tersebut dilakukan untuk mencegah efek keamanan
yang akan mengganggu Thailand karena berbatasan langsung dengan Kamboja.
Seruan dari ASEAN tersebut dilanjutkan dengan membuat draft resolusi ke dewan
keamanan PBB, pada 12 Januari 1979, untuk mengambil tindakan agar invasi
18

Background Note: Cambodia. Artikel diakses pada 22 Oktober 2011 dalam
http://www.state.gov/r/pa/ei
/bgn/2732.htm
sebagaimana
dikutip
dalam
http://luarnegeri.kompasiana.com/2012/01/17/konflik-kamboja-rezim-pol-pot-khmer-merah-431731.html,
op.cit.
19
David Chandler, Brother Number One: A Political Biography of Pol Pot, Silkworm
Book, 1992, hlm.7.

10

tersebut diakhiri. Akan tetapi seruan tersebut tidak berhasil menghentikan aksi
Vietnam, ASEAN lalu membuat draft resolusi lanjutan ke dewan keamanan
tentang Kamboja yang berhasil diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada
November 1979. Akhirnya, Oktober 1980, Majelis Umum PBB membuat resolusi
A/RES/35/6 tentang situasi di Kamboja untuk mengadakan konferensi
internasional. Ide tersebut merupakan usulan dari ASEAN.20
Upaya internasionalisasi yang dilakukan oleh ASEAN atas sengketa Vietnam dan
Kamboja tidak sepenuhnya disetujui oleh negara anggota ASEAN. Indonesia dan
Malaysia pada prinsipnya lebih memilih untuk menyelesaikan sengketa dalam
kerangka regional tanpa melibatkan pihak ketiga sedangkan Singapura dan
Thailand cenderung untuk menggunakan jasa pihak ketiga. Kesamaan pandangan
antara Indonesia dan Malaysia melihat sengketa membuat kedua negara bergerak
untuk mengadakan pertemuan di Kuantan, Malaysia pada 26-28 Maret 1980.
Pertemuan

itu

kemudian

melahirkan

Prinsip-Prinsip

Kuantan

(Kuantan

Principles). Prinsip Kuantan pada dasarnya mengakomodasi kepentingan Vietnam
untuk menginvasi Kamboja atas alasan keamanan dengan harapan pengakuan ini
akan mengurangi pengaruh Uni Soviet di kawasan Indochina.21
Indonesia dan Malaysia sebagai penggagas pertemuan di Kuantan, diprotes keras
oleh Thailand dan Singapura karena dianggap sebagai restu atas tindakan invasi
Vietnam. Kekhawatiran Thailand dan Singapura dengan Prinsip Kuantan adalah
persoalan legitimasi atas tindakan invasi Vietnam di mana dengan adanya
legitimasi tersebut akan membuat Vietnam semakin percaya diri. Kekhawatiran
20

Mely Caballero Anthony, Regional Security in Southeast Asia, ISEAS, Singapura,
2005, hlm 84.
21
Ibid, hlm. 94.

11

Thailand dan Singapura akhirnya terbukti. Hanya dalam waktu dua bulan sejak
dihasilkan Prinsip-Prinsip Kuantan, tentara Vietnam memasuki wilayah Thailand
dengan alasan mengejar pasukan gerilyawan Kamboja.
Pada 26 Juni 1980, para menteri luar negeri ASEAN kembali menggelar
pertemuan dan membuat pernyataan keras tentang penarikan total pasukan
Vietnam dari Kamboja. Kegagalan diplomasi internal ASEAN mengakibatkan
usulan untuk internasionalisasi sengketa tersebut menjadi tidak terhindarkan.22
Pada bulan Juli 1981 PBB mengadakan sebuah konferensi internasional untuk
Kamboja (UN International Conference on Kampuchea) yang didukung oleh
Majelis Umum PBB. Konferensi tersebut menghasilkan empat resolusi sebagai
bahan pertimbangan dalam negosiasi.23 Untuk menjalankan hasil resolusi
konferensi tersebut, ASEAN mencoba untuk mengumpulkan faksi-faksi yang
menentang tindakan invasi Vietnam dalam sebuah koalisi yang dinamakan
Pemerintahan Koalisi Demokratis Kamboja atau The Coalition Government of
Democratic Kampuchea (CGDK). Koalisi tersebut terdiri dari Rezim Pol Pot,
Front Nasional Kemerdekaan Bangsa Khmer atau Khmer People’s National
Liberation Front (KPLNF) pimpinan Son Sann dan Front Nasional Bersatu untuk
Kemerdekaan, Netralitas, Perdamaian, dan Kerjasama Kamboja atau National
United Front for an Independent, Neutral, Peaceful and Cooperative Cambodia
(FUNCINPEC) pimpinan Pangeran Norodom Sihanouk.
Upaya yang dilakukan oleh PBB dan ASEAN ditolak oleh Vietnam karena tidak
melibatkan PRK. Akan tetapi pada tahun 1982, secara unilateral Vietnam

22
23

Bambang Cipto, op.cit., hlm. 53.
Mely Caballero Anthony, op.cit., hlm. 88.

12

mengurangi jumlah pasukannya di Kamboja. Awalnya ASEAN menganggap
tindakan tersebut sebagai rekayasa untuk mengurangi tekanan dunia internasional.
Namun, pada akhirnya ASEAN melihat upaya Vietnam tersebut sebagai peluang
untuk melakukan inisiatif menyelesaikan sengketa.24
Inisiatif tersebut diambil oleh Indonesia sebagai juru bicara ASEAN. Pada
Februari 1984, Menteri Luar Negeri Indonesia, Mochtar Kusumaatmadja
menyatakan bahwa ASEAN telah siap untuk berunding dengan Vietnam.
Pernyataan

tersebut

ditindaklanjuti

dengan

pertemuan-pertemuan

antara

pemerintah Indonesia dengan Vietnam.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengkaji dan
menganalisis secara mendalam mengenai penyelesaian sengketa internasional
yang terdapat dalam badan ASEAN, baik peran dan mekanisme penyelesaian
sengketa ASEAN, untuk itu penulis ingin menyusun sebuah skripsi yang berjudul:
PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DALAM KERANGKA
(STUDI KASUS INVASI VIETNAM KE KAMBOJA).
1.2 Rumusan Masalah
a.

Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa internasional dalam kerangka
ASEAN ?

b.

Bagaimana penyelesaian kasus invasi Vietnam ke Kamboja oleh ASEAN?

24

Ibid, hlm. 93.

13

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan utama penelitian
ini adalah:
a. Untuk mengetahui dan menganalisis mekanisme yang dilakukan ASEAN
dalam menyelesaikan sengketa antar anggotanya berdasarkan instrumen
penyelesaian sengketa dalam kerangka ASEAN;
b. Untuk mengetahui dan menganalisis penyelesaian kasus invasi Vietnam ke
Kamboja oleh ASEAN.
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
yang telah penulis sebutkan sebelumnya, penelitian ini diharapkan memiliki
manfaat sebagai berikut:
1.3.2.1 Kegunaan Teoritis
Berguna untuk perkembangan kemampuan berkarya ilmiah dan daya nalar dengan
acuan yang disesuaikan dengan displin ilmu yang telah dipelajari yaitu hukum
pada umumnya dan hukum internasional dalam bidang penyelesaian sengketa
internasional pada khususnya. Diharapkan juga dapat memberikan sumbangan
pengetahuan perkembangan hukum di Indonesia mengenai penyelesaian sengketa
yang terdapat dalam kerangka ASEAN.

14

1.3.2.2 Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam menyelesaikan
sengketa yang ada dalam badan ASEAN, dan rujukan untuk mengetahui aturanaturan penyelesaian sengketa yang ada di ASEAN, serta diharapkan berguna bagi
para mahasiswa, dan masyarakat umum untuk menambah pengetahuan
mengenaiperan maupun mekanisme penyelesaian sengketa dalam ASEAN dan
juga mengenai penyelesaian sengketa kasus invasi Vietnam ke Kamboja yang
dilakukan oleh ASEAN.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini hanya membahas tentang mekanisme penyelesaian sengketa di
ASEAN antar anggotanya dan penyelesaian sengketa kasus invasi Vietnam ke
Kamboja melalui ASEAN.
1.5 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam penulisan terhadap substansi penelitian ini maka
diperlukan kerangka penulisan yang sistematis. Sistematika skripsi ini terdiri dari
5 bab yang diorganisasikan ke dalam bab demi bab sebagai berikut:
Bab I Bab ini menguraikan latar belakang yang menggambarkan sejarah tubuh
ASEAN dalam hal penyelesaian sengketa, perkembangan aturan penyelesaian
sengketa dalam ASEAN, dan kasus invasi Vietnam ke Kamboja. Pada bagian ini
dikemukakan permasalahan, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian, ruang
lingkup penelitian, juga sistematika penulisan yang digunakan dalam skripsi ini.

15

Bab II Bab ini menguraikan secara ringkas mengenai pengertian-pengertian,
teori-teori tentang penyelesaian sengketa dan juga sejarah ASEAN serta aturanaturan mengenai penyelesaian sengketa di ASEAN.
Bab III Bab ini menguraikan metode yang digunakan pada penulisan skripsi ini
antara lain pendekatan masalah dalam penulisan skripsi ini, sumber data serta
prosedur yang digunakan dalam proses pengumpulan data dan ditampilkan
analisis data untuk mengetahui cara-cara yang digunakan dalam penelitian skripsi.
Bab IV Bab ini dimulai dengan pemaparan hasil penelitian dan uraian dari
pembahasannya. Diawali dengan pemaparan tentang ASEAN, mekanisme
penyelesaian sengketa di ASEAN, dan peran ASEAN dalam menyelesaikan kasus
invasi Vietnam ke Kamboja
Bab V Bab ini menguraikan bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan dan
saran-saran dari penulis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian-Pengertian
2.1.1 Pengertian Sengketa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sengketa adalah segala sesuatu yang
menyebabkan perbedaan pendapat, pertikaian atau perbantahan.25 Kata sengketa,
perselisihan, pertentangan di dalam Bahasa Inggris sama dengan “conflict” atau
“dispute”.26 Keduanya mengandung pengertian tentang adanya perbedaan
kepentingan diantara kedua belah pihak atau lebih, tetapi keduanya dapat
dibedakan. Kosa kata “conflict” dalam Bahasa Indonesia diserap menjadi konflik,
sedangkan kosa kata “dispute” diterjemahkan dengan kata sengketa.
Konflik atau sengketa adalah sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat
antara dua pihak atau lebih yang berselisih perkara dalam pengadilan.27 Konflik
atau sengketa terjadi juga karena adanya perbedaan persepsi yang merupakan
penggambaran tentang lingkungan yang dilakukan secara sadar yang didasari
pengetahuan yang dimiliki seseorang, lingkungan yang dimaksud adalah

25

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit
Balai Pustaka, Jakarta, 1990, hal 643.
26
John.M. Echlos dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia dan Indonesia Inggris,
Penerbit Gramedia, Jakarta, 1996, hal. 138.
27
Sudarsono, Kamus Hukum, Cetakan ke-3, Penerbit Rineka Cipta. Jakarta, 2002, hal.
433.

17

lingkungan fisik maupun sosial.28 Sebuah konflik berkembang menjadi sengketa
bila pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas atau
keprihatinannya, baik secara langsung kepada pihak yang dianggap sebagai
penyebab kerugian atau pihak lain.
Pertikaian atau sengketa, keduanya adalah yang dipergunakan secara bergantian
dan merupakan terjemahan dari “dispute”. John G. Merrils29 memahami
persengketaan sebagai terjadinya perbedaan pemahaman akan suatu keadaan atau
obyek yang diikuti oleh pengklaim oleh satu pihak dan penolakan di pihak lain.
Karena itu, sengketa internasional adalah perselisihan yang tidak secara eksklusif
melibatkan negara, dan memiliki konsekuensi pada lingkup internasional.
2.1.2 Pengertian Sengketa Internasional
Sengketa internasional adalah suatu situasi ketika dua negara mempunyai
pandangan yang bertentangan mengenai dilaksanakan atau tidaknya kewajibankewajiban yang terdapat dalam perjanjian.30 Sengketa antar negara internasional
dapat merupakan sengketa yang tidak dapat mempengaruhi kehidupan
internasional dan dapat pula merupakan sengketa yang mengancam perdamaian
dan ketertiban internasional.
Hukum internsional pada umumnya membedakan sengketa internasional atas
sengketa yang bersifat politik dan sengketa yang bersifat hukum. Bahkan selama
beberapa dekade ini telah lahir pula kategori baru yaitu sengketa teknik. Sengketa
28

Koentjaraningrat, Kebudayaan Metaliteit dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1982,

hal 103.
29

Dapat dilihat dalam, Jawahir Tantowi dan Pranoto Iskandar, Hukum Internasional
Kontemporer, PT.RefikaAditama, Bandung, .hlm 224.
30
Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, hlm
2

18

politik ialah sengketa dimana suatu negara mendasarkan tuntutannya atas
pertimbangan non yuridik, misalnya atas dasar politik atau kepentingan nasional
lainnya. Atas sengketa yang tidak bersifat hukum ini, penyelesaiannya adalah
secara politik. Sedangkan sengketa hukum ialah sengketa dimana suatu negara
mendasarkan sengketa atau tuntutannya atas ketentuan-ketentuan yang terdapat
dalam suatu perjanjian atau yang telah diakui oleh hukum internasional.31
Diakui bahwa tidaklah selalu mudah untuk membedakan apakah suatu sengketa
bersifat politik atau bersifat hukum. Tiap-tiap sengketa internasional sekaligus
mempunyai aspek politik maupun yuridik, hanya saja penonjolan aspeknya
berbeda dari suatu sengketa ke sengketa yang lain. Pembedaan jenis sengketa ini
dianggap perlu untuk mendapatkan cara penyelesaian yang lebih sesuai. Jadi
untuk sengketa yang bersifat politik maka penyelesaiannya melalui prosedur
politik, sedangkan untuk sengketa yang bersifat hukum penyelesaiannya juga
melalui prosedur hukum. Perbedaan kedua cara penyelesaian sengketa ini terletak
pada tingkat kekuatan mengikat dari keputusan yang diambil.32
Keputusan yang diambil dalam penyelesaian sengketa secara politik hanya
berbentuk usul-usul yang tidak mengikat negara yang bersengketa. Usul-usul
tersebut tetap mengutamakan kedaulatan negara-negara yang bersengketa dan
tidak harus didasarkan atas ketentuan-ketentuan hukum. Konsiderasi-konsiderasi
politik dan kepentingan-kepentingan lainnya dapat juga menjadi dasar
pertimbangan dalam penyelesaian sengketa secara hukum mempunyai sifat
mengikat dan membatasi kedaulatan negara-negara yang bersengketa. Ini
31

Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era
Dinamika Global, Alumni, Bandung, 2011, hlm 195
32
Ibid, hlm 196.

19

disebabkan karena keputusan yang diambil hanya didasarkan atas prinsip-prinsip
hukum internasional.33
2.1.3 Pengertian Invasi
Invasi merupakan aksi serangan yang dimana kekuatan perang suatu negara
memasuki daerah yang dikuasai oleh suatu negara lain, dengan tujuan menguasai
daerah tersebut atau mengubah pemerintahan yang berkuasa. Invasi bisa menjadi
penyebab perang, bisa digunakan sebagai strategi untuk menyelesaikan perang,
atau bisa menjadi inti dari perang itu sendiri, biasanya invasi digunakan untuk
suatu aksi strategis kekuatan perang yang besar, karena tujuan akhir invasi
biasanya pada skala yang besar dan dengan jangka panjang, suatu pasukan yang
sangat besar dibutuhkan untuk mempertahankan daerah yang diinvasi.
Invasi pada dasarnya dilakukan untuk memperluas wilayah dan kepentingan
politik. Namun, motif-motif lainnya juga pernah terjadi, antara lain, pengembalian
wilayah yang dulu diambil. Motif invasi biasanya berdasar politik untuk
kepentingan nasional, pengejaran musuh-musuh, perlindungan terhadap negara
sekutu, mengambil alih daerah jajahan, serangan preemptif sebelum diserang,
hingga melindungi atau mengambil rute transportasi atau sumber daya
alam,menengahi konflik antar dua pihak lain, dan sebagai sanksi militer.muncul jg
motif dimana negara-negara kuat dan adidaya mencoba untuk mengatur politik
dunia, misalnya dengan mengubah pemerintahan atau rezim suatu negara lain.
Pada kasus-kasus ini sering juga para penyerang beralasan bahwa mereka
"melindungi" daerah yang diinvasi. Pada politik modern masa kini, agar terhindar

33

Ibid,

20

dari tuduhan imperialisme, pihak yang menyerang sering mencap suatu invasi
sebagai suatu "intervensi" untuk kepentingan bersama.
2.2 Prinsip-Prinsip Penyelesaian Sengketa Secara Damai
Salah satu tujuan didirikannya PBB adalah untuk memelihara perdamaian dan
keamanan internasional. Hal ini tampak pada Pasal 1 ayat (1) piagam PBB,
Tersirat dalam ketentuan pasal tersebut fungsi dari badan dunia ini dan negaranegara anggotanya, yaitu untuk bersama-sama menciptakan dan mendorong
penyelesaian

sengketa

internasional.

Khususnya

terhadap

negara-negara

anggotanya, Pasal 2 ayat (3) piagam PBB memberikan pengaturan lebih lanjut
guna melaksanakan dan mencapai tujuannya. Pasal ini mewajibkan semua negara
anggotanya untuk menempuh cara-cara penyelesaian sengketa secara damai.34
Pasal 2 ayat (3) yang sangat penting ini menyatakan:
“Setiap anggota harus menyelesaikan sengketa internasional mereka dengan
damai dan berkelakuan baik yang dimana tidak membahayakan perdamaian dan
keamanan dunia internasional”
Kata shall (harus) dalam kalimat di atas merupakan salah satu kata kunci yang
mewajibkan negara-negara untuk menempuh cara damai dalam menyelesaikan
sengketanya. Kewajiban lainnya yang terdapat dalam piagam PBB tercantum
dalam Pasal 2 ayat (4). Pasal ini menyatakan bahwa dalam hubungan
internasional, semua negara harus menahan diri dari penggunaan cara-cara
kekerasan, yaitu ancaman dan penggunaan senjata terhadap negara lain atau caracara yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan PBB.
34

Huala Adolf, op.,cit. hal.12.

21

Perlu ditekankan dari dua kewajiban yang tertuang dalam kedua ayat di atas, yaitu
kewajiban menahan diri menggunakan cara

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1655 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 429 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 393 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 241 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 351 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 502 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 444 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 284 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 453 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 524 23