Reproduksi ikan Telnatherina sarasinorum (Kottetat, 1991) sebagai dasar konservasi di danau Matano Sulawesi Selatan

REPRODUKSI IKAN Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991)
SEBAGAI DASAR KONSERVASI DI DANAU MATANO
SULAWESI SELATAN

JUSRI NILAWATI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul Reproduksi
Ikan Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991) Sebagai Dasar Konservasi di
Danau Matano Sulawesi Selatan adalah karya saya dengan arahan dari Komisi
Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Februari 2012

Jusri Nilawati
NRP C161050071

ABSTRACT
JUSRI NILAWATI. Reproduction of Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991)
as the Foundation of Conservation in Lake Matano South Sulawesi. Under
direction of SULISTIONO, DJADJA S. SJAFEI †, M.F. RAHARDJO, and
ISMUDI MUCHSIN.
The research was aimed to analyze characteristics of preferential spawning
habitat, spatial and temporal distribution, and reproduction of T. sarasinorum in
spawning habitat. Research was carried out in Lake Matano from September 2008
to August 2009 at different sampling sites. Fish were caught by using mini beach
seine of 10 m length, 3 m depth, and 3 mm mesh size. Habitat condition was
analyzed, and water physical chemical characteristics were measured monthly.
Fish standard length, total weight, and gonad weight were measured. Results
showed that the fish preferred to spawn in sandy gravel arena and root arena
shaded by vegetation or boulders. Mean standard length of male and female were
54,50 mm and 48,60 mm, respectively. Male has larger body and dominant in
population. Population was dominated by mature individuals. Male and female’s
first standard length at gonadal maturation was 40,28 mm and 37,95 mm,
respectively. Mean fecundity was 224. Oocyte and spermatocyte development of
T. sarasinorum was asynchronic; the species spawned in batches. Oocyte diameter
ranged between 0,50 and 1,75 mm. The spawning peaked at the end of dry season
with gradual increased of water level. The fish protected the freshly laying eggs.
In addition, the sneakers and single males seemed picking the sperm remnants.
Currently, conservation of the fish and its habitat is urgently required cause of
increasing anthropogenics surrounding the lake.
Keywords: spawning arena, preferences, Telmatherina sarasinorum

RINGKASAN

JUSRI NILAWATI. Reproduksi Ikan Telmatherina sarasinorum (Kottelat,
1991) Sebagai Dasar Konservasi di Danau Matano Sulawesi Selatan.
Dibimbing oleh SULISTIONO, DJADJA S. SJAFEI, M.F. RAHARDJO dan
ISMUDI MUCHSIN.
Danau Matano adalah salah satu pusat biodiversitas dunia yang memiliki
endemisitas tinggi. Ikan Telmatherina sarasinorum merupakan salah satu ikan
endemik Danau Matano. Ikan ini mempunyai bentuk dan warna yang indah
sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai ikan hias, tetapi hingga saat ini
belum dapat dipelihara di luar habitat aslinya.
Penelitian reproduksi ikan Telmatherina sarasinorum di Danau Matano
bertujuan untuk menganalisis karakteristik habitat, distribusi spasial dan temporal
dan reproduksi T. sarasinorum yang berada pada habitat pemijahan di Danau
Matano. Penelitian dilakukan di Danau Matano Sulawesi Selatan dari bulan
September 2008 sampai dengan Agustus 2009 pada 15 lokasi sampling. Ikan
contoh ditangkap dengan pukat pantai mini berukuran panjang 10 m, tinggi 3 m
dan mata jaring 3 mm.
Parameter fisik kimiawi perairan dan substrat pemijahan diukur setiap
bulan. Kualitas air dan substrat pemijahan dianalisis. Habitat dan tingkah laku
pemijahan ikan dianalisis melalui pengamatan bawah air dengan melakukan
snorkeling. Suhu, pH dan oksigen terlarut diukur dengan water quality checker
Horiba. Padatan tersuspensi total dan padatan terlarut total diukur di laboratorium.
Kecerahan diukur dengan papan putih secara horisontal.
Ikan contoh ditentukan jenis kelamin dan warnanya sebelum diawetkan.
Panjang baku (PB), berat total, berat gonad, tingkat kematangan gonad, indeks
kematangan gonad, faktor kondisi relatif, fekunditas dan diameter telur
ditentukan. Jaringan histologi gonad dibuat untuk analisis tingkatan
perkembangannya. Tingkah laku pemijahan ikan di habitatnya dicatat langsung di
dalam air pada kertas plastik, difoto dan direkam dengan kamera vidio.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua arena pemijahan yaitu
arena batu berpasir dan arena perakaran. Kedua arena mendapat naungan dari
bayang-bayang pohon tepian danau atau batu besar di sekitarnya. Lokasi sampling
dapat dibagi menjadi lima kelompok yang memiliki kesamaan kondisi fisik
kimiawi perairan dan karakteristik substrat pemijahan. Kualitas perairan di lokasilokasi tersebut umumnya: suhu 29,15 ± 0,73 0C; oksigen terlarut 6,18 ± 0,57 mg l1
; pH 8,58 ± 0,12; kecerahan perairan 15,56 ± 2,25 m; padatan tersuspensi total
0,97 ± 0,55 mg l-1 ; dan padatan terlarut total 109,21 ± 18,60 mg l-1. Curah hujan
harian rata-rata wilayah adalah 7,34 ± 3,34 mm dan tinggi muka air danau ratarata 392,09 ± 0,51 m dpl.
Ikan jantan berukuran lebih besar (54,50 ± mm; 2180 ekor) daripada ikan
betina (48,60 ± mm; 985 ekor). Ukuran panjang baku rata-rata menurun dari
lokasi bagian Barat ke lokasi bagian Timur danau. Jumlah ikan di lokasi bagian
Barat lebih sedikit dengan ukuran panjang baku lebih besar daripada di lokasi
bagian tengah dan Timur; perbedaan ini menunjukkan perbedaan karakteristik
substrat pemijahan. Ikan jantan warna abu-abu dominan dalam populasi (46,10%),

kemudian diikuti oleh jantan biru, jantan kuning, abu-abu kuning, dan jantan biru
kuning. Nisbah kelamin di lokasi bagian barat lebih besar daripada di bagian
tengah dan timur danau. Ikan-ikan di arena pemijahan didominasi oleh ikan-ikan
yang siap memijah, yang ditandai dengan tingkat kematangan gonad (TKG),
indeks kematangan gonad (IKG) dan faktor kondisi yang tinggi. IKG rata-rata
ikan jantan lebih rendah daripada IKG rata-rata betina. Sebagian besar tingkat
perkembangan oosit dan spermatosit terdapat di dalam gonad yang sama; ikan T.
sarasinorum adalah pemijah sebagian. Ketiga kelompok ukuran diameter telur
terdapat di dalam gonad, dengan komposisi telur berukuran kecil jumlahnya
paling banyak dan telur berukuran besar jumlahnya paling sedikit. Puncak
pemijahan terjadi pada akhir musim kemarau dengan kenaikan muka air secara
perlahan, dan musim hujan. Ukuran panjang baku ikan jantan petama kali matang
kelamin (TKG IV) adalah 40,28 mm sedangkan ikan betina adalah 37,95 mm.
Fekunditas rata-rata adalah 224 butir (kisaran 64 – 488 butir).
Tingkah laku pemijahan ditandai dengan ikan berpasangan. Ikan kawin di
arena pemijahan pada substrat pasir di antara kerikil dan batu, atau pada alga yang
menyelimuti perakaran. Pasangan ikan sering diikuti oleh ikan jantan pengganggu
pemijahan dan jantan tunggal lain. Ikan-ikan jantan ini memakan sisa sperma
yang tidak membuahi telur. Jantan utama, dan kadang-kadang betina,
menyembunyikan telur di antara alga atau di dalam pasir. Pemijahan paling
banyak terjadi pada siang hari.
Pemeliharaan kondisi arena pemijahan ikan di daerah litoral dapat dilakukan
dengan menjaga keberadaan vegetasi terestrial tepian danau dan menanami
kembali vegetasi asli Danau Matano sepanjang tepian danau; menangkarkan ikan
secara in situ untuk tujuan konservasi; mengembangkan program pendidikan
konservasi kepada masyarakat; upaya konservasi yang melibatkan pemerintah,
perusahaan dan masyarakat; dan wisata danau adalah konsep pengelolaan dan
pemanfaatan ikan endemik ini.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau
seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

REPRODUKSI IKAN Telmatherina sarasinorum (Kottelat, 1991)
SEBAGAI DASAR KONSERVASI DI DANAU MATANO
SULAWESI SELATAN

JUSRI NILAWATI

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Ilmu Perairan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:
1. Dr. Ir. Didik Wahju Hendro Tjahjo, M.Si.
2. Dr. Ir. Ridwan Affandi
Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka:
1. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani
2. Dr. Ir. Isdradjad Setyobudiandi, M.Sc.

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang, karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat
menyelesaikan penulisan disertasi berjudul “Reproduksi Ikan Telmatherina
sarasinorum (Kottelat, 1991) sebagai Dasar Konservasi di Danau Matano
Sulawesi Selatan”.
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.

Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc. sebagai ketua komisi pembimbing, Prof. Dr. Ir.
M.F. Rahardjo dan Prof. Dr. Ir. Ismudi Muchsin sebagai anggota komisi
pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama
penyusunan disertasi ini.

2.

Penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. Ir. Djadja S. Sjafei (Alm.)
atas bimbingan dan arahan kepada penulis, dan semoga amal ibadah beliau
diterima Allah SWT.

3.

Penguji luar komisi serta Pimpinan IPB, Pimpinan Departemen dan
Pimpinan

Program

Studi

Ilmu

Perairan

yang

telah

berkenan

menyumbangkan buah pikiran untuk memperkaya tulisan ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2012

Jusri Nilawati

UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1.

Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
atas bantuan beasiswa BPPS 2005 dan Hibah Doktor.

2.

Pt Inco Tbk. Indonesia atas bantuan akomodasi di lapangan.

3.

The Stability of Rainforest Margins in Indonesia (Storma) atas bantuan dana
penelitian.

4.

Rektor Universitas Tadulako Palu atas bantuan dan kesempatan yang telah
diberikan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan S3.

5.

Ayahanda E. Soeparman dan Ibunda Sunarmi atas curahan kasih sayang,
semangat, dorongan serta doa bagi penulis dalam menuntut ilmu.

6.

Papa Yasin Tantu (Alm.) yang kasih sayangnya dapat penulis rasakan
melalui kehangatan keluarga dan Mama Quraisyin Abdulwali (Almh.) atas
kasih sayang, perhatian dan doa di saat hidupnya.

7.

Aki Sukanta Astraperwata (Alm.) yang melalui penanya senantiasa
mendorong penulis untuk senantiasa berjuang menuntut ilmu.

8.

H. Hasan Athori (Alm.) dan Uwa dr. Sunarli (Alm.) atas nasihat dan
dorongan untuk menyelesaikan studi.

9.

Adinda Rizki Abdussalam, SH, Afiati Nurrohmah, SH, Arif Rachman
Saleh, Amd., Senti Elisah, S.Ei., Dody Djatmika Sutisna, dan seluruh
keluarga besar Sukanta Astraperwata dan Sumaatmadja atas dukungan
semangat dan doa yang telah diberikan. Kakanda Isma Y. Tantu, Muh. Rum
Y. Tantu, Usman Y. Tantu, M.Kes, S.Sos., Rukyani Y. Tantu, Maryam Y.
Tantu, Adinda Isra Y. Tantu, Ir. Rizal Y. Tantu, M.Si., dan Irfan Y. Tantu,
dan seluruh keluarga besar Tantu-Abdulwali yang telah memberikan
dukungan semangat dan doa kepada penulis.

10.

Suami Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si., dan ananda Fauzia Noorchaliza, Fadhilah
Noor Nabiilah, dan Fathan Noor Ilmi Fadly Tantu atas doa, kasih sayang,
pengertian, dukungan dan pengorbanan bagi keberhasilan penulis.

11.

Teman-teman: Syahrir Abdulwali, Syukri Abdulwali dan Sinyo Rio atas
bantuan di lapangan.

12.

Teman-teman Program Studi Ilmu Perairan (Bu Maja, Bu Sriati, Pak Fadly,
Pak Eman, Pak Heru, Pak Erly, Bu Niken dan Bu Ina) atas dukungan
semangat dan kerja sama yang telah diberikan selama masa studi.

13.

Berbagai pihak yang turut memberikan andil dalam keberhasilan penulis
menyelesaikan studi S3 di Program Studi Ilmu Perairan, SPs IPB, Bogor.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 13 Juni 1967 dari orang tua
Ayah E. Soeparman S.A. dan Ibu Sunarmi. Penulis adalah anak pertama dari
empat bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Manajemen Sumber
Daya Perairan Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado dan lulus
tahun 1990. Pada tahun 1991 penulis mulai bekerja sebagai staf pengajar pada
Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado. Pada tahun 1993 penulis
melanjutkan studi ke Department of Biology, Faculty of Science University of
Waterloo Canada dan meraih gelar Master of Science pada tahun 1995.
Pada tahun 1998 penulis menikah dengan Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si. dan
dikaruniai empat orang putera puteri yaitu Fauzia Noorchaliza (11 tahun),
Fatimah Noorasysyifa, Fadhilah Noor Nabiilah (7 tahun) dan Fathan Noor Ilmi
Fadly Tantu (2,5 tahun).
Pada tahun 2003 penulis pindah tugas sebagai staf pengajar pada Program
Studi Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu. Kemudian pada
tahun 2005 penulis melanjutkan studi pada Program Studi Ilmu Perairan Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Karya ilmiah yang sudah dipublikasikan adalah:
Spawning habitat of Telmatherina sarasinorum (Family: Telmatherinidae) in
Lake Matano, 2010, dalam Jurnal Iktiologi Indonesia 10(2): 101-110.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................................

xxiii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

xxv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xxvii

1.

PENDAHULUAN
Latar Belakang................................................................................
Tujuan dan Manfaat Penelitian........................................................
Kebaruan ........................................................................................
Ruang Lingkup Penelitian ...............................................................

1
9
9
9

HABITAT PEMIJAHAN IKAN T. sarasinorum DI DANAU
MATANO
Pendahuluan ...................................................................................
Bahan dan Metode ..........................................................................
Hasil dan Pembahasan ....................................................................
Kesimpulan.....................................................................................

11
12
15
33

SEBARAN SPASIAL-TEMPORAL IKAN T. sarasinorum
DI DANAU MATANO
Pendahuluan ...................................................................................
Bahan dan Metode ..........................................................................
Hasil dan Pembahasan ....................................................................
Kesimpulan.....................................................................................

35
36
37
47

REPRODUKSI DAN TINGKAH LAKU PEMIJAHAN IKAN
T. sarasinorum DI DANAU MATANO
Pendahuluan ...................................................................................
Bahan dan Metode ..........................................................................
Hasil dan Pembahasan ....................................................................
Kesimpulan.....................................................................................

49
51
54
86

5.

PEMBAHASAN UMUM ...............................................................

87

6.

KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................

95

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

97

2.

3.

4.

DAFTAR TABEL
1.

Klasifikasi ukuran substrat ..............................................................

Halaman
13

2.

Lokasi pengamatan, jumlah arena pemijahan dan deskripsi
karakter substrat pemijahan .............................................................

19

Kisaran parameter fisik kimiawi perairan pada setiap lokasi
sampling di Danau Matano .............................................................

24

Kisaran parameter fisik kimiawi perairan pada setiap bulan
di Danau Matano ............................................................................

28

Nilai indeks kematangan gonad ikan T. sarasinorum jantan dan
betina untuk setiap tingkat kematangan gonad.................................

68

3.
4.
5.

DAFTAR GAMBAR
1.

Sketsa lokasi penelitian di Danau Matano .......................................

Halaman
14

2.

Kontur dasar di kedua tipe habitat pemijahan ..................................

15

3.

Arena pemijahan T. sarasinorum: arena batu berpasir (atas)
dan arena perakaran (bawah) ...........................................................

16

Curah hujan rata-rata harian wilayah dan tinggi muka air di
Danau Matano selama penelitian.....................................................

21

Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan secara spasial di
Danau Matano ................................................................................

25

Fluktuasi parameter fisik kimiawi perairan secara spasial di
Danau Matano ................................................................................

29

Pengelompokan habitat pemijahan ikan T. sarasinorum di
Danau Matano ................................................................................

31

Jumlah ikan rata-rata yang tertangkap pada masing-masing lokasi
sampling selama periode penelitian .................................................

37

Kelas ukuran panjang baku (PB) ikan T. sarasinorum jantan (atas)
dan betina (bawah) ..........................................................................

40

10.

Sebaran jumlah rata-rata ikan secara temporal.................................

42

11.

Jumlah ikan T. sarasinorum jantan menurut warna secara
spasial .............................................................................................

44

Jumlah ikan T. sarasinorum jantan menurut warna secara
temporal .........................................................................................

46

Jumlah ikan T. sarasinorum jantan menurut warna per kelas
ukuran ............................................................................................

47

14.

Nisbah kelamin T. sarasinorum menurut lokasi sampling ...............

54

15.

Nisbah kelamin T. sarasinorum menurut waktu sampling ...............

56

16.

Hubungan panjang berat ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan
betina (bawah) ................................................................................

57

Faktor kondisi relatif ikan T sarasinorum jantan dan betina
secara spasial ..................................................................................

58

Faktor kondisi relatif ikan T. sarasinorum jantan dan betina
secara temporal ...............................................................................

59

19.

Struktur histologis gonad ikan T. sarasinorum jantan ......................

60

20.

Struktur histologis gonad ikan T. sarasinorum betina ......................

62

21.

Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina
(bawah) secara spasial.....................................................................

64

4.
5.
6.
7.
8.
9.

12.
13.

17.
18.

Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina
(bawah) secara temporal .................................................................

65

Persentase TKG ikan T. sarasinorum jantan (atas) dan betina
(bawah) menurut kelas ukuran ........................................................

66

Nilai IKG rata-rata ikan T. sarasinorum jantan dan betina
secara spasial ..................................................................................

69

Nilai IKG rata-rata ikan T. sarasinorum jantan dan betina
secara temporal ...............................................................................

70

26.

Hubungan fekunditas dan panjang baku ikan T. sarasinorum ..........

71

27.

Sebaran diameter telur ikan T. sarasinorum pada TKG III,
TKG IV dan TKG V di Danau Matano ...........................................
Ethogram tingkah laku pemijahan ikan T. sarasinorum ...................

73
77

22.
23.
24.
25.

28.

DAFTAR LAMPIRAN
1.

Deskripsi lokasi penelitian ..............................................................

Halaman
109

2.

Pohon tambeua (Myrtacea) .............................................................

112

3.

Curah hujan rata-rata harian wilayah selama penelitian ...................

113

4.

Sebaran spasial ikan T. sarasinorum jantan menurut kelas
ukuran panjang ...............................................................................

114

Sebaran spasial ikan T. sarasinorum betina menurut kelas
ukuran panjang ...............................................................................

115

Sebaran temporal ikan T. sarasinorum jantan menurut
kelas ukuran panjang ......................................................................

116

Sebaran temporal ikan T. sarasinorum betina menurut kelas
ukuran panjang ...............................................................................

117

Ikan T. sarasinorum jantan kuning (a), biru (b), biru kuning
(c), abu-abu (d) dan abu-abu kuning (e), dan betina (f) ....................

118

9.

Variasi spasial nisbah kelamin ikan di Danau Matano .....................

119

10.

Variasi temporal nisbah kelamin ikan di Danau Matano ..................

120

11.

Deskripsi karakter morfologis dan histologis gonad T. sarasinoum
jantan pada berbagai tingkat perkembangan ....................................

121

Deskripsi karakter morfologis dan histologis gonad T. sarasinoum
betina pada berbagai tingkat perkembangan ....................................

122

5.
6.
7.
8.

12.

1

1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pulau Sulawesi telah lama dikenal sebagai pusat biodiversitas karena
tingginya derajat endemisme di antara fauna aslinya (Whitten et al. 2002). Sekitar
76% ikan asli di Sulawesi adalah endemik (Kottelat et al. 1993). Ikan endemik
adalah ikan yang sebarannya sangat terbatas dan tidak terdapat di tempat lain di
dunia. Penelitian mengenai keberadaan ikan-ikan endemik dari perairan tawar
Sulawesi menunjukkan bahwa ikan-ikan ini hanya hidup di danau-danau dan
sungai-sungai yang terletak di bagian tengah Sulawesi dan tidak menyebar ke
perairan tawar yang ada di Sulawesi Utara maupun Sulawesi Selatan (Soeroto &
Tungka 1991; Soeroto et al. 1992; Soeroto & Tungka 1996).
Danau Matano adalah salah satu danau tua di dunia yang terdapat di
Sulawesi. Danau tua, yaitu danau yang telah ada sejak masa sebelum Pleistosin
(Wilke et al. 2008). Danau Matano berada pada bagian hulu dari rangkaian sistem
danau Malili yaitu Matano, Mahalona dan Towuti. Tiga danau utama telah
ditetapkan sebagai kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) melalui Surat
Keputusan Mentan No. 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979. Luas
kawasan ini mencapai 98.500,00 ha (termasuk perairan danau), dengan rincian
luas masing-masing yaitu: TWA Matano 30.000 ha (perairan danau 16.408 ha),
TWA Towuti 65.000 ha (perairan danau 56.108 ha) dan TWA Mahalona 3.500 ha
(perairan danau 2.440 ha).
Walaupun dihubungkan oleh sistem aliran dari dua danau di hilirnya, danau
ini terisolasi dari sistem hilir oleh rintangan-rintangan fisik bagi penyebaran biota
akuatik. Danau ini memiliki luas 164 km2, kedalaman 590 m (terdalam ke-8 di
dunia), airnya sangat jernih (kecerahan >20 m), memiliki pinggiran yang curam
dengan daerah litoral yang terbatas, dan terkenal sebagai danau oligotrofik
(Haffner et al. 2001).
Ikan-ikan di Danau Matano umumnya hanya menempati daerah-daerah
litoral. Kottelat (1991) menyatakan bahwa terdapat tujuh spesies Telmatherinidae
di habitat Danau Matano, yaitu Telmatherina abendanoni, T. antoniae, T.
obscura, T. opudi, T. prognatha, T. sarasinorum dan T. wahjui; kesemua ikan ini
merupakan ikan endemik Danau Matano. Tantu & Nilawati (2006, 2008)

2

melaporkan adanya satu spesies baru dari famili Telmatherinidae Danau Matano
yaitu T. albolabiosus.
Menurut Haffner et al. (2001), interaksi antara perubahan iklim dan
aktivitas manusia dapat menjadikan fauna endemik Danau Matano Sulawesi
berada dalam bahaya. Habitat utama ikan-ikan endemik Danau Matano terus
mendapat tekanan dari berbagai aktivitas yang berlangsung di sekitar danau.
Beberapa aktivitas yang merupakan ancaman potensial bagi ekosistem danau
dengan fauna akuatik endemiknya adalah (1) pembukaan lahan pertambangan,
permukiman, jalan, perkebunan, (2) perubahan sistem hidrologi danau dan sungai
Petea akibat pelurusan dan pembendungan sungai, (3) limbah rumah tangga dan
minyak dari mesin perahu, dan (4) introduksi ikan.
Studi terkini mengenai ikan-ikan Telmatherinidae dari sistem danau-danau
Malili yang sudah dilakukan adalah: keragaman dan evolusi (Herder et al. 2006);
radiasi adaptif dan genetika populasi (Heath et al. 2006); pemeliharaan
polimorfisme warna jantan pada telmatherinid (Gray et al. 2006); deskripsi
perbandingan tingkah laku kawin ikan telmatherinid dari danau-danau Malili
(Gray & McKinnon 2006). Para peneliti menunjukkan kekhawatiran dan perhatian
terhadap keselamatan biodiversitas fauna akuatik endemik yang ada dalam sistem
sungai-sungai ini, sebagai akibat pengelolaan danau yang dinilai buruk.
Penelitian-penelitian selama ini tidak ada yang memusatkan perhatian pada
reproduksi telmatherinid sehubungan dengan habitat pemijahannya.
Aksi manajemen yang komprehensif perlu diterapkan di danau ini, jika tidak
maka dapat dipastikan spesies akuatik khususnya yang endemik akan punah
seiring dengan rusak dan hilangnya habitat di danau Matano. Kelompok ikan
endemik

yang diprediksi

mendapat

tekanan pertama

adalah

ikan-ikan

telmatherinid, salah satunya T. sarasinorum, karena ikan ini memanfaatkan
habitat litoral untuk menjalankan fungsi-fungsi hidupnya.
Ikan T. sarasinorum merupakan kelompok ikan berukuran relatif kecil dari
Danau Matano. Menurut catatan Kottelat et al. (1993), panjang baku yang
tertinggi 66 mm. Habitat pemijahan ikan ini ada dua, yaitu pertama di lokasi
pantai dangkal dengan substrat dasar berbatu-batu dengan sedikit pasir (litofil),
sedangkan habitat pemijahan kedua adalah lokasi perairan yang relatif lebih dalam

3

dengan akar-akar pohon menjurai atau pada batang/ ranting pohon tumbang yang
diselimuti alga (fitofil). Pada lokasi habitat pertama telur diletakkan di substrat
berpasir di antara batuan, sedangkan pada habitat kedua telur diletakkan pada
substrat beralga. Perairan di habitat pemijahan kedua ini diamati memiliki dasar
yang relatif berlumpur atau tertutup sedimen.
Latar belakang yang dikemukakan di atas menjadi dasar rencana penelitian
yang diarahkan pada telaahan keterkaitan antara strategi reproduksi T.
sarasinorum sehubungan dengan preferensi habitat dalam ekosistem danau yang
sedang mengalami perubahan. Penggunaan spesies T. sarasinorum dalam
penelitian ini didasarkan pada beberapa alasan yaitu: (1) merupakan salah satu
spesies dominan dari kelompok telmatherinid penghuni Danau Matano, (2)
menempati habitat litoral sebagai daerah pemijahan dan berbagai aktivitas biologi
lainnya, dan (3) ditemukan memiliki dua habitat pemijahan berbeda (fitofil dan
litofil).
Klasifikasi dan Ciri Taksonomik Ikan
Deskripsi taksonomi beberapa spesies anggota Telmatherinidae pertama kali
dipublikasikan oleh Boulenger (1897), yang kemudian direvisi oleh Aarn dan
Kottelat (1998) dan Kottelat (1990, 1991).
Klasifikasi T. sarasinorum menurut Kottelat (1991) adalah sebagai berikut:
Kingdom

:

Animalia

Phylum

:

Chordata

Class

:

Actinopterygii

Order

:

Atheriniformes

Family

:

Telmatherinidae

Genus

:

Telmatherina Boulenger, 1897

Spesies

:

Telmatherina sarasinorum Kottelat 1991

T. sarasinorum dibedakan dari semua spesies Telmatherinidae lain dengan
sirip-siripnya yang meruncing, warna kuning atau kebiru-biruan, sirip dorsal dan
anal besar yang pada jantan besar mencapai setengah posterior dari sirip kaudal
dan jika dilipat ke belakang jari-jari terpanjang lebih panjang daripada tinggi
tubuh. Jari-jari sirip dorsal D1 VI–VIII, D2 I,8-10½; jari-jari sirip kaudal
bercabang 8+7; jari-jari sirip anal I,12-13½; jari-jari sirip pektoral 13-15; jari-jari

4

sirip ventral I,5. Sisik pada baris longitudinal 32–34. Sisik pada baris transversal
½8½ (pada satu spesimen ½7½). Sisik predorsal 12–14. Sisik preoperkulum 4.
Sisik operkulum 5–7. Gillraker pada lengkungan pertama 20–25. Warna ikan
hidup, jantan bentuk kuning, tubuh keabu-abuan atau hijau kekuningan sampai
kuning cerah, sirip-sirip kuning, dan sirip pektoral transparan. Ikan betina
berwarna kuning kecoklatan (Kottelat 1991). Gray et al. (2003, 2006)
mengidentifikasi lima bentuk warna jantan pada T. sarasinorum yaitu kuning,
biru, biru kuning, abu-abu, dan abu-abu kuning, sedangkan betina berwarna abuabu pasir. Heath et al. (2006) mengidentifikasi tiga warna dominan pada
Telmatherinidae dari Danau Matano, yaitu biru, kuning dan coklat, serta dua
warna transisi, yaitu kuning-biru dan kuning-hijau. Analisis filogenetik pada
telmaterinid dari sistem Danau Malili menunjukkan suatu asal monofiletik kuno
(Martens 1997; McKinnon 2002).
Penyebaran dan Habitat T. sarasinorum
Sebagai ikan endemik Danau Matano, menurut Kottelat (1991), wilayah
penyebaran T. sarasinorum hanya terbatas di daerah dangkal sepanjang tepian
danau, tetapi lebih sering terdapat di sepanjang tepian danau bagian selatan. Ikan
menempati perairan dengan dasar berpasir dan hampir datar, serta berada pada
perairan yang relatif dangkal (<1,5 m). Sehubungan dengan wilayah penyebaran
dan habitatnya telah dilakukan pengamatan lapangan untuk studi pendahuluan,
dengan melakukan snorkeling di 9 lokasi (27 November-1 Desember 2006), dan
di 6 lokasi (5 -19 Januari 2007). Berdasarkan hasil pengamatan tersebut
disimpulkan bahwa penyebarannya konsisten dengan laporan Kottelat (1991).
Ikan T. sarasinorum dapat ditemukan mulai kedalaman 0,35 m sampai dengan
<3m, dan tidak ditemukan pada habitat dangkal daerah berarus di in-let maupun
out-let danau. Selain itu dari hasil studi pendahuluan ini secara kualitatif dinilai
bahwa ikan ini sedikit/ jarang ditemukan pada substrat dasar berlumpur (sedimen
tinggi), dan atau pada perairan dengan transparansi rendah (< 5 m) dibandingkan
pada habitat dengan substrat dasar batu berpasir dengan perairan jernih. Ikan T.
sarasinorum secara aktif mengikuti T. antoniae yang sedang memijah di habitat
litoral dengan kondisi perairan jernih dan dasar perairan datar, dan mereka
melakukan predasi telur T. antoniae. Aktivitas predasi telur ini telah dilaporkan

5

oleh Kottelat (1991); Gray et al. (2006); serta Gray & McKinnon (2006). Ikan T.
sarasinorum memiliki alternatif habitat pemijahan, pertama di habitat pantai
dangkal (kedalaman 1-2 m) dengan substrat terdiri dari kerikil kecil dan pasir,
serta kedua pada habitat pantai relatif lebih dalam dan curam (kedalaman 1-3 m)
pada garis pantai yang memiliki cabang-cabang bergelantungan yang ditutupi oleh
algae (Gray & McKinnon 2006). Komposisi substrat dan kedalaman habitat juga
merupakan penentu yang signifikan yang menentukan keberadaan ikan (Nilawati
et al. 2010).
Ikan-ikan yang ada di dalam sistem Danau Matano terutama ditemukan di
daerah-daerah litoral. Tidak ditemukan ikan di kedalaman 30-40 m (Roy et al.
2004). Danau Matano mempunyai air yang sangat jernih (kecerahan > 23 m) dan
biomassa fitoplankton rendah (< 52 ug/l berat basah) terutama terdiri dari
cyanobacteria. Danau ini tidak mempunyai predator piscivora puncak dan jelas
berada dalam kondisi yang sangat oligotrofik (Heath et al. 2006).
Indikator Reproduksi dan Tingkat Kebugaran Ikan
Studi reproduksi ikan, seperti penilaian ukuran pada kematangan, lamanya
musim pemijahan, pemijahan dan fekunditas, memerlukan pengetahuan tentang
tahap perkembangan gonad pada individu ikan. Metoda yang digunakan berkisar
dari histologi hingga pentahapan secara visual berdasarkan penampilan eksternal.
Ada metode lain di antara kedua metoda yang ekstrim ini, yaitu penentuan ukuran
telur, pentahapan berdasarkan penampilan keseluruhan telur, dan indeks-indeks
gonad (West 1990). Histologi gonad sering digunakan secara sendiri, atau
bersama-sama dengan indeks kematangan gonad (IKG), untuk mengkonfirmasi
fenotip gonad, menentukan kondisi perkembangan seksual, atau bahkan meneliti
kerusakan reproduksi (Schmitt & Dethloff 2000).
Indeks kematangan gonad (IKG) dan histologi gonad merupakan indikatorindikator yang memberikan informasi struktural tentang kesehatan gonad dan
tahap kematangan. IKG adalah salah satu indeks organosomatik, yang membentuk
hubungan antara organ dan seluruh tubuh. Perhitungan berat gonad sebagai
persentase berat tubuh telah digunakan untuk menentukan kematangan
reproduksi, dan menilai perubahan gonad sebagai respon terhadap dinamika

6

lingkungan (misalnya perubahan musiman) atau tekanan-tekanan eksogen
(misalnya paparan kontaminan) (Schmitt & Dethloff 2000).
Faktor kondisi adalah respon tingkat organisme, dengan faktor-faktor seperti
status nutrisi atau pengaruh patogen yang menyebabkan berat melebihi atau
kurang dari normal. Umumnya faktor kondisi bervariasi langsung dengan nutrisi.
Faktor kondisi juga bisa bervariasi dengan musim, mungkin disebabkan
perubahan ketersediaan makanan atau metabolisme, dan dengan perubahan status
gonad. Faktor kondisi bervariasi di antara jenis-jenis ikan yang berbeda; juga
bervariasi di antara ikan yang terdapat di lokasi berbeda (Ekanem 2000).
Polikromatisme dan Tingkah Laku Pemijahan
Telmatherinidae terkenal karena polikromatisme pada jantan yang
ditunjukkan oleh setidaknya setengah dari spesies yang dideskripsikan oleh
Kottelat (1990; 1991). Polikromatisme pada jantan telah lama dipelajari untuk
memahami proses-proses yang memelihara keragaman di alam. Konservasi
keragaman intraspesifik di alam adalah penting karena variasi tersebut merupakan
awal dari keragaman di masa depan (Gray et al. 2006). Radiasi ikan yang
menunjukkan polikromatisme warna jantan telah dipelajari secara luas oleh para
ahli ekologi evolusi (Seehausen et al. 1999a; Seehausen et al. 1999b, Seehausen
2004; Turner et al. 2001; Fuller & Travis 2004; Joyce et al. 2005).
Tingkah laku pemijahan adalah aktivitas yang berhubungan langsung
dengan produksi individu baru. Tingkah laku demikian kadang-kadang cukup
sederhana, tetapi pada banyak spesies tingkah laku pemijahan bisa sangat
kompleks dan meliputi pertunjukan dan gerakan yang menakjubkan.
Pasangan yang memijah harus siap untuk pembuahan pada waktu yang
sama. Tidak hanya mereka harus bersama-sama dalam kedekatan fisik (yaitu
secara spasial), tetapi juga secara temporal. Kebanyakan tingkah laku pemijahan
bisa berupa menguji atau menstimulasi kesiapan pasangan (Grier 1984). Aspekaspek lingkungan seperti lamanya hari atau curah hujan bisa berkorelasi dengan
waktu yang disukai untuk tingkah laku pemijahan. Kemampuan untuk
menyelaraskan tingkah laku pemijahan dengan kondisi lingkungan bisa
menguntungkan spesies itu (Grier 1984).

7

Kompetisi untuk mendapatkan pasangan telah ditunjukkan dalam banyak
penelitian. Ornamen pada jantan – baik ukuran sirip maupun warna– digunakan
untuk menarik perhatian betina. Hal ini dapat terjadi pada spesies ikan yang
mengalami kompetisi untuk mendapatkan pasangan (Andersson 1994). Selain itu,
pada spesies yang tidak melakukan penjagaan teritori biasanya terjadi kompetisi
antar jantan (Pyron 1996b).
Sistem pemijahan ikan T. sarasinorum dijelaskan oleh Gray & McKinnon
(2006); T. sarasinorum adalah pemijah di substrat yang tidak melakukan
penjagaan terhadap telur maupun larvanya. Kondisi lingkungan juga penting bagi
jantan untuk memutuskan taktik perkawinan. Jantan kecil atau muda umumnya
bisa berhasil kawin dengan menggunakan taktik berbeda dengan yang digunakan
oleh jantan besar, kadang-kadang mengadopsi bentuk-bentuk alternatif tingkah
laku pemijahan seperti menyerupai/mimikri betina dan tingkah laku mengganggu
pembuahan (sneaking) (Pauers et al. 2004; Ito & Yanagisawa 2006).
Dimorfisme seksual
Dimorfisme ukuran seksual adalah berbeda menurut sistem kawin (Pyron
1996a). Dimorfisme ukuran seksual pada ikan berhubungan dengan tiga hal dalam
sistem perkawinan yaitu: kompetisi sperma, penjagaan teritori oleh ikan jantan
dan kontes/pertunjukan jantan-jantan.
Banyak spesies yang bersarang di substrat mempunyai ukuran jantan besar;
ini berhubungan dengan keberhasilan menjaga dan mempertahankan sarang.
Diantara spesies oportunistik, ikan jantan bisa lebih besar dan lebih menonjol
(misalnya killifish Cyprinodontidae) atau lebih kecil dan lebih menonjol (guppy
Poeciliidae) daripada betina. Perbedaan ukuran berkaitan dengan sistem sosial dan
kompetisi di antara ikan-ikan jantan untuk mendapatkan habitat berkualitas tinggi.
Dampak Antropogenik dan Kualitas Habitat
Perubahan kualitas air bisa disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia yang
utama (Meybeck et al. 1989). Pertama, perubahan siklus hidrologi yang
memodifikasi

intensitas

dan

kemampuan

percampuran

badan

air

dan

keseimbangan hidrologi. Kedua, peningkatan atau penurunan aliran siklus
biogeokimiawi alami seperti pencucian, produksi primer dan erosi mekanis.
Ketiga, pembuangan langsung dan tidak langsung bahan-bahan alami di dalam

8

badan air. Keempat, pembuangan langsung atau tidak langsung bahan-bahan
sintetik, baik organik maupun anorganik.
Hampir

semua

jenis

aktivitas

(pertanian,

urbanisasi,

komunikasi,

pertambangan, industri) menyebabkan meningkatnya materi tersuspensi di
permukaan perairan, terutama disebabkan oleh deforestasi (Elvira 1995).
Konstruksi jalan menyebabkan peningkatan materi tersuspensi 5-20 kali. Operasi
tambang, umumnya strip mining, menyebabkan tingginya materi tersuspensi di
sungai. Operasi pengerukan di sungai baik yang bertujuan untuk memperdalam
saluran atau untuk mengambil pasir, biasanya meningkatkan jumlah materi
tersuspensi (Meybeck et al. 1989).
Degradasi kualitas air telah diketahui menyumbang secara langsung
terhadap kehilangan habitat ikan dan penurunan manfaat-manfaat lain dari sumber
daya perairan. Kualitas air yang baik merupakan persyaratan yang diperlukan
untuk semua pemanfaatan sumber daya saat ini, termasuk pemeliharaan
biodiversitas. Penetrasi cahaya di danau dikontrol oleh sedimen-sedimen
tersuspensi dari aliran-aliran sungai dan hamparan danau oleh kelimpahan
fitoplankton yang mengabsorpsi cahaya untuk fotosintesis (Anderson 1996).
Pengaturan aliran yang disebabkan oleh operasi dam dapat menurunkan
keragaman biota (Agostinho et al. 2000). Misalnya, Cichla monoculus adalah
spesies yang jarang di habitatnya sebelum pembangunan dam di Sungai
Tocantins. Setelah dam dibangun spesies ikan ini menjadi berlimpah dan tersebar
luas di dam. Kolonisasi spesies Cichla yang cepat dilaporkan setelah
pembangunan dam di berbagai sungai di wilayah Brazil (Novaes et al. 2004).
Status Konservasi
Status ikan T. sarasinorum di dalam Red List Data Book of Threatened
Animals tahun 1996 dari IUCN (International Union For Conservation of Nature
and Natural Resources) adalah rawan punah (vulnerable species) (WCMC 2006).
Kepunahan ikan air tawar sebagian besar akibat kerusakan dan atau hilangnya
habitat (35%); introduksi jenis bukan asli (30%), dan eksploitasi berlebihan
(35%). Kepunahan keanekaragaman hayati antara lain disebabkan oleh: (1)
kerusakan habitat, (2) eksploitasi jenis berlebihan, (3) introduksi jenis bukan asli,
(4) gangguan habitat (termasuk pencemaran), (5) penyebaran penyakit, (6)

9

persaingan, dan (6) pemanasan global (Reid & Miller 1989; Moyle & Leidy 1992;
Ogutu-Ohwayo et al. 1997).
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk :
1.

Menganalisis karakteristik habitat yang menjadi aspek penentu preferensi
pemijahan ikan T. sarasinorum di Danau Matano.

2.

Menganalisis distribusi spasial dan temporal ikan T. sarasinorum di Danau
Matano.

3.

Menganalisis reproduksi ikan T. sarasinorum yang berada pada habitat
pemijahan di Danau Matano.
Manfaat penelitian ini adalah mendapatkan konsep pengelolaan dan

pemanfaatan ikan endemik rawan punah melalui konservasi spesies dan habitat
untuk menjaga kestabilan keanekaragaman hayati di Danau Matano.
Kebaruan
Kebaruan penelitian ini meliputi: pertama, penggunaan T. sarasinorum
dalam penelaahan strategi reproduksi sehubungan dengan preferensi habitat dalam
sebuah ekosistem danau tua; kedua, karakter bioekologi T. sarasinorum yang akan
terungkap dari hasil penelitian ini dapat menjadi informasi baru yang dapat
dijadikan dasar dalam konservasi ikan endemik di Danau Matano.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian mengenai reproduksi ikan Telmatherina sarasinorum di Danau
Matano, Sulawesi Selatan mencakup uraian tentang kondisi lokasi sampling.
Karakteristik habitat pemijahan ikan dijelaskan dalam kaitan dengan preferensi
habitat pemijahan ikan (Bab 2). Distribusi ikan secara spasial dan temporal di
Danau Matano dijelaskan di dalam Bab 3. Reproduksi ikan yang mencakup
tentang nisbah kelamin, komposisi ikan jantan dan betina di setiap lokasi dan
waktu berdasarkan tingkat perkembangan gonad, kondisi kematangan gonad,
faktor kondisi relatif ikan, fekunditas, diameter telur, serta tingkah laku pemijahan
ikan di habitat pemijahan dijelaskan di dalam Bab 4. Keterkaitan antara aspekaspek yang diteliti dijelaskan di dalam Bab 5, yang disertai uraian tentang
bagaimana upaya-upaya yang perlu segera dilakukan untuk menyelamatkan
keberadaan ikan di habitatnya.

10

11

2 HABITAT PEMIJAHAN IKAN T. sarasinorum
DI DANAU MATANO
Pendahuluan
Penelitian mengenai habitat pemijahan ikan air tawar endemik Sulawesi
yang dikaitkan dengan preferensi arena pemijahan belum pernah dilakukan dan ini
adalah penelitian pertama. Penelitian dilakukan di Danau Matano, salah satu
danau tua di dunia yang terdapat di bagian tengah Pulau Sulawesi. Pulau Sulawesi
merupakan pulau terbesar di kawasan Wallacea, yang merupakan habitat
campuran dari fauna Asia dan Australia, serta menjadi arena evolusi berbagai
fauna endemik. Keunikan flora fauna Sulawesi tidak terlepas dari sejarah
geologinya; pertemuan daratan Asia dengan daratan Australia menyebabkan
terjadinya perpindahan flora dan fauna dari kedua daratan tersebut. Oleh karena
itu kekhasan ekosistem perairan umum dengan keanekaragaman fauna khasnya di
Sulawesi tidak terlepas dari peristiwa sejarah terbentuknya Pulau Sulawesi.
Whitten et al. (2002) mencatat 76% spesies ikan yang ditemukan di
Sulawesi tidak ditemukan dimana pun di dunia. Danau Matano, Mahalona dan
Towuti yang berada di bagian tengah Sulawesi merupakan salah satu tempat yang
memiliki spesies ikan endemik. Ketiga danau ini berdekatan dan membentuk
suatu sistem danau yang dikenal dengan sebutan ―Kompleks Danau-danau
Malili‖. Ada dua danau lain yang termasuk dalam kompleks danau-danau ini yaitu
danau Wawontoa dan Masapi.
Danau Matano merupakan hulu dari rangkaian sistem kompleks danaudanau Malili. Walaupun ketiga danau ini dihubungkan oleh sistem aliran dari dua
danau yang ada di hilirnya, namun danau ini terisolasi dari sistem hilir oleh
rintangan fisik bagi penyebaran biota akuatik.
Danau Matano diidentifikasi sebagai sumber utama kehadiran spesiesspesies endemik dalam kompleks danau-danau Malili (Hafner et al. 2001). Ikanikan endemik dari Danau Matano merupakan anggota dari famili ikan laut, dan
diduga telah menguasai danau itu sejak awal kejadian danau. Saat ini tercatat ada
empat famili ikan endemik yang menghuni Danau Matano yaitu: Telmatherinidae
dengan sembilan anggota (T. sarasinorum, T. abendanoni, T. antoniae, T. opudi,
T. obscura, T. wahjui, T. bonti dan T. albolabiosus), Gobiidae dengan empat

12

anggota (Glossogobius matanensis, G. intermedius, Mugilogobius adeia, M.
latifrons), Adrianichthyidae, dan Hemirhamphidae masing-masing satu anggota
yaitu Oryzias matanensis dan Dermogenys weberi (Tantu & Nilawati 2008).
Menurut Soeroto (1997), mayoritas ikan air tawar Sulawesi adalah ikan sekunder,
yaitu ikan yang mampu mentolerir kandungan garam; juga anggota dari famili
ikan laut. Contoh ikan-ikan sekunder adalah Oriziidae dan Adrianichthyidae,
sedangkan anggota dari famili ikan laut adalah Gobiidae, Eleotridae, Atherinidae
dan Hemiramphidae.
Kelompok Telmatherinidae merupakan kelompok yang memiliki anggota
paling banyak yang menghuni Danau Matano, dan T. sarasinorum adalah salah
satu jenis dominan yang menempati daerah litoral danau. Studi mengenai T.
sarasinorum belum banyak dilakukan, secara spesifik misalnya Gray et al. (2006)
mempelajari tingkah laku kawin dari ikan ini. Umumnya studi yang berkaitan
dengan Telmatherinidae ditujukan pada aspek keragaman dan evolusi, radiasi
adaptif, genetika populasi, pemeliharaan polimorfisme warna jantan, dan
perbandingan tingkah laku kawin (Herder et al. 2006; Heath et al. 2006; Gray et
al. 2006; Gray & McKinnon 2006; Nilawati & Tantu 2007; Tantu & Nilawati
2007; Tantu & Nilawati 2008). Belum ada penelitian yang secara khusus
mempelajari habitat pemijahan ikan endemik di Danau Matano, dan penelitian ini
merupakan penelitian pertama dengan obyek ikan T. sarasinorum.
Penelitian ini menguraikan aspek habitat yang berkaitan dengan faktorfaktor fisik kimiawi perairan. Tujuan penelitian adalah menganalisis profil habitat
pemijahan yang meliputi substrat pemijahan dan aspek fisik kimiawi perairan
yang mendukung keberadaan strategi reproduksi. Diharapkan hasil penelitian ini
dapat membantu upaya-upaya konservasi ikan dan habitatnya di Danau Matano.
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan di Danau Matano Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi
Selatan pada batas wilayah geografis 02° 25 00 LS - 02° 34 00 LS dan 121°
12 00 - 121° 29 00 BT. Pengamatan di lapangan dilakukan pada bulan
September 2008 – Agustus 2009 pada 15 lokasi sampling (Gambar 1).
Pengamatan di lokasi sampling dilakukan untuk menganalisis keadaan lingkungan
lokasi sampling, seperti pemanfaatan lahan di sekitar danau, vegetasi yang ada di

13

pinggiran danau dan aktivitas masyarakat yang diduga bermakna bagi habitat
ikan. Penilaian habitat pemijahan dilakukan melalui pengamatan bawah air
dengan melakukan snorkeling untuk menentukan keadaan habitat dan substrat
pemijahan. Habitat pemijahan ditentukan melalui penilaian adanya aktivitas
pemijahan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ikan dalam habitat spesifik.
Gambaran utuh mengenai keadaan habitat diperoleh dengan mengukur parameter
fisik kimiawi perairan secara in situ (suhu, oksigen terlarut, pH, kecerahan dan
transparansi air) dan ex situ (padatan tersuspensi total dan padatan terlarut total).
Penentuan lokasi pemijahan didasarkan pada hasil pengamatan bawah air
oleh pengamat yang melakukan renang snorkeling dengan kecepatan lambat pada
transek sepanjang 50 meter pada kedalaman antara 0,5 sampai dengan 2 meter
sejajar garis pantai. Pengamat mengidentifikasi lokasi-lokasi yang secara khusus
dijadikan sebagai arena pemijahan. Arena pemijahan didefinisikan sebagai area
terbatas yang menjadi tempat berlangsungnya aktivitas kawin yang ditunjukkan
oleh adanya pertunjukan pasangan jantan-betina, persaingan jantan-jantan untuk
mendapatkan betina, aktivitas berpasangan, dan aktivitas kawin pasangan T.
sarasinorum (Nilawati et al. 2010). Pengamat mencatat jumlah arena pemijahan
yang terdapat dalam garis transek dan menilai persentase luas tutupan materi yang
menyusun substrat pemijahan. Klasifikasi ukuran materi substrat mengikuti
Wolman (1954) dalam Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi ukuran substrat
Materi
Lumpur/lempung
Pasir halus
Pasir sedang
Pasir kasar
Kerikil
Batu bulat
Batu besar
Batuan dasar

Kisaran ukuran (mm)
0-0.06
0.061-0.25
0.26-0.5
0.51-2
2-64
65- 256
257-4096
>4096

Catatan: Komposisi substrat menurut Wolman (1954)

Pengukuran kondisi fisik kimiawi perairan untuk suhu, oksigen terlarut dan
pH dilakukan secara in-situ menggunakan Water Quality Checker Horiba.
Pengukuran padatan tersuspensi total dan padatan terlarut total dilakukan di
laboratorium. Sampel air dikoleksi di dalam botol sampel lalu diberi larutan

14

pengawet. Kecerahan diukur sebagai ukuran jarak pandang pengamat di dalam air
terhadap benda berwarna putih berukuran 30 cm x 30 cm. Tinggi muka air danau
dan curah hujan wilayah diperoleh berdasarkan data yang dikoleksi selama
periode sampling dari stasiun pengamatan PT. INCO Sorowako.
Analisis statistik
Analisis keragaman satu arah dilakukan untuk menilai perbedaan antara
parameter-parameter lingkungan yang diamati di dalam suatu lokasi dengan
menggunakan fasilitas yang terdapat dalam perangkat lunak Minitab versi 14.
Untuk mengetahui apakah terdapat korelasi di antara parameter-parameter
lingkungan yang diukur dilakukan penghitungan koefisien korelasi Pearson r
dengan alat bantu perangkat lunak Minitab 14. Nilai uji statistik r bisa positif atau
negatif tetapi selalu terletak di antara -1 dan +1. Nilai mendekati +1 menunjukkan
korelasi positif yang kuat, sedangkan nilai mendekati -1 menunjukkan korelasi
negatif yang kuat. Nilai 0 menunjukkan kurangnya korelasi, walaupun hal ini juga
dapat berarti bahwa terdapat suatu korelasi yang lebih kompleks (McCleery et al.
2007).

Gambar 1 Sketsa lokasi sampling di Danau Matano
Ket.:

1) S. Lawa, 2) Desa Matano, 3) Paku, 4) Sokoio, 5) Pantai Kupu-kupu,
6,13) Pantai Salonsa, 7) Pantai Old Camp, 8) S. Tanah Merah,
9,14) P. Otuno I, 10,15) P. Otuno II, 11) S. Petea, dan 12) S. Soluro

15

Hasil dan Pembahasan
Deskripsi lokasi sampling
Sebanyak 15 lokasi di daerah litoral Danau Matano dijadikan sebagai titik
pengamatan. Kelima belas lokasi ini menyebar dari bagian barat danau sampai ke
bagian timur danau. Secara spasial lokasi-lokasi ini dapat dikelompokkan ke
dalam 3 zona yaitu: zona 1 adalah lokasi sampling yang terletak di bagian barat
danau (S. Lawa, Pantai Desa Matano, Pantai Paku dan Pantai Sokoio), zona 2 di
bagian tengah danau (Pantai Kupu-kupu, Pantai Salonsa I-A, Pantai Salonsa I-B,
Pantai Old-

Dokumen yang terkait

Dokumen baru