Kisi Kisi UAS 2010.doc

Kisi-Kisi Soal Filsafat Nusantara 2010

  1. Jelaskan konsep tentang wawasan nusantara! Tunjukkan bahwa wawasan nusantara berakar dalam sejarah bangsa Indonesia!

  2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Nation-State! Menurut Anda, apa tantangan internal dari konsep Nation-State?

  3. Tunjukkan / jelaskan dan berilah contoh apa itu nominalisme nasionalisme!

  4. Apa sifat ideologis gerakan-gerakan nasionalisme? Apa ideologi nasionalisme Indonesia?

  5. Jelaskan peran ideologi bahasa Indonesia dalam pembentukan dan perkembangan nasionalisme!

  6. Jelaskan apa itu multikulturalisme!Tunjukkan relevansinya bagi Indonesia!

  7. Jelaskan tantangan globalisasi bagi pengembangan nasionalisme Indonesia! Penilaian: - Sistematika penulisan (sebisa mungkin sebutkan juga nama-nama tokoh penting)

  • Menjawab setiap soal lebih baik dari pada tidak menjawab sama sekali Jawaban berikut hanyalah gambaran umum. Perlu pendalaman dan pengembangan masing-masing. Untuk nomor 7 silakan dijawab menurut kritisitas masing-masing.

  1. Wawasan nusantara adalah cara bagaimana bangsa Indonesia memandang / memahami dirinya sendiri meliputi kesatuan IpolEkSosBudHanKamNas.

  Apakah kesatuan ini mengakar dalam diri masyarakat Indonesia? Ya, bahkan jauh sebelum terbentuknya Indonesia.

  • Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan kesatuan bahasa dan budaya dalam sebagian besar pulau-pulau Indonesia.
  • Benih-benih kesatuan Indonesia sudah tampak sejak masa-masa kerajaan di

  Indonesia. Sejak abad-abad pertama masehi, lautan Indonesia diarungi oleh berbagai kapal dagang dari Cina, India, Sriwijaya, Majapahit, lalu disusul Belanda, Inggris, dan Portugis. Pulau-pula di Indonesia sudah memulai ikatan ekonomi.

  • Ketika Belanda mulai menjajah, Indonesia mendapatkan kesatuan politik.
  • Dari kesatuan politik muncul kesatuan pertahanan. Salah satu bentuknya ialah terbentuknya KNIL.
  • Pada abad ke-19, lahirlah Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang menjadi cikal bakal kesatuan organisatif Indonesia. Kesatuan ini terus berlanjut sampai perang kemerdekaan, dan akhirnya sampai sekarang.

  2. Menurut Roger Brubaker, definisi Nation (Bangsa) adalah mencakup baik faktor objektif (bahasa, agama dan budaya, wilayah dan institusi) maupun faktor subjektif (sikap atau pendirian, persepsi, dan sentimen). Menurut Joseph Stalin yang menekankan faktor objektif, bangsa terbentuk dalam sejarah, memiliki masyarakat yang stabil, terbentuk atas dasar kesamaan bahasa, wilayah, kehidupan ekonomi, dan perwujudan psikologis masyarakat dalam kebudayaan setempat. Menurut Benedict Anderson yang menekankan faktor subjektif, bangsa merupakan komunitas politik yang dibayangkan secara melekat baik sebagai suatu yang terbatas maupun yang berdaulat. Max Weber mengatakan bahwa kriteria objektif cenderung tidak mampu mencakup bangsa-bangsa tertentu; sementara yang subjektif cenderung terlalu umum. Perlu rumusan yang mencakup dimensi obyketif-subyektif dari nation.

  Negara bukanlah bangsa karena konsep negara berhubungan dengan kegiatan kelembagaan, sedangkan bangsa menunjukkan jenis masyarakat. Konsep negara dapat didefinisikan sebagai seperangkat lembaga otonom, berbeda dari lembaga lain, yang memiliki monopoli sah untuk mengelola suatu wilayah tertentu. Sementara bangsa dirasakan dan dihidupi oleh masyarakat yang anggotanya saling berbagi tanah air dan budaya.

  Negara juga Ini bukan komunitas etnis karena, meskipun terjadi tumpang tindih di antaranya, keduanya berasal dari fenomena yang sama (identitas budaya kolektif), komunitas etnis biasanya (1) tidak memiliki rujukan politik, dan dalam kasus tertentu (2) tidak memiliki budaya publik dan bahkan dimensi teritorial, karena tidak diperlukan untuk sebuah komunitas etnis untuk memiliki wilayah fisik beserta sejarahnya.

  Suatu bangsa harus menempati tanah air sendiri, setidaknya untuk jangka waktu yang lama, untuk menyatakan diri sebagai bangsa. Diperlukan juga pengembangan sebuah budaya masyarakat dan kebutuhan untuk mengatur nasibnya sendiri. Hal ini tidak diperlukan suatu negara untuk berdaulat sendiri, tetapi cukup memiliki sebuah cita-cita untuk mandiri ditambah dengan usaha nyata bagi tanah air nya.

  Anthony D. Smith berpendapat bahwa bangsa merupakan komunitas manusia yang, menempati tanah air, dan memiliki mitos umum dan sejarah bersama, budaya publik bersama, perekonomian tunggal dan hak-hak umum dan tugas untuk semua anggota. Sementara etnis didefinisikan sebagai sebuah komunitas manusia yang terhubung ke tanah air, memiliki mitos leluhur umum, kenangan bersama, satu atau lebih elemen budaya bersama, dan ukuran solidaritas, setidaknya di kalangan elit.

  Bangsa menciptakan nasionalisme yang merupakan ikatan psikologis dalam tentang asal-usul “gagal” dinyatakan, keturunan biologis masih dapat melanjutkannya. Sementara negara menciptakan patriotisme yang merupakan kesetiaan kepada negara teritorial yang lebih besar dan lembaga-lembaganya.

  National State merupakan sebuah negara yang dilegitimasi oleh prinsip- prinsip nasionalisme, di mana anggotanya memiliki ukuran persatuan nasional dan integrasi (tetapi bukan dari homogenitas budaya). Bangsa-Negara maksudnya ada banyak etnis yang bercita-cita kebangsaan dan mencari cara untuk mengubah diri menjadi satu (namun tidak homogen) melalui tindakan akomodasi dan integrasi.

  Indonesia sebagai sebuah Nation-State maksudnya Indonesia tetap memiliki berbagai macam ragam etnis dan budaya tanpa berusaha meleburnya menjadi satu, melainkan hidup bersama dalam suatu kesatuan cita-cita untuk dapat hidup berdampingan satu-sama lain, tanpa kehilangan jati diri dan cikal bakal masing- masing suku dan budaya.

  Tantangan internal konsep nation-state ini bagi Indonesia tentunya adanya pihak-pihak yang ingin menyatukan Indonesia secara ekstrim atau dengan kata lain tanpa membedakan negara dan bangsa, sehingga muncul gerakan-gerakan separatis yang ingin menghancurkan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

  3. Nominalisme adalah ide-ide yang sifatnya universal, namun abstrak dan tidak punya rujukan untuk hal tersebut, mis. “KEMANUSIAAN”. Para nominalis skeptis terhadap klaim-klaim bahwa kata-kata yang abstrak universal punya rujukan atau objek yang mengacu padanya. Isinya bergantung pada setiap orang yang mempersepsikannya. Nasionalisme merupakan kesadaran berbangsa dan bernegara dalam satu kesatuan. Nasionalisme merupakan strategi sosial-budaya- politik yang digunakan sebagai kendaraan untuk melawan imperialisme global. (Robertus Widjanarko, 2006)

  Nominalisme Nasionalisme adalah tersamarnya nilai-nilai nasionalisme akibat persepsi atau pandangan yang baik secara sengaja atau pun tidak berbeda dengan persepsi atau pandangan akan nasionalisme pada umumnya. Pihak-pihak tertentu justru menyamarkan nilai-nilai nasionalisme ini dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran yang tampaknya benar, namun mengandung paham-paham atau ideologi tertentu yang justru bertentangan dengan prinsip nasionalisme tersebut.

  Sebagai contoh adalah ketika sekelompok orang dalam suatu partai beranggapan bahwa negara kita harus bebas dari kehancuran akhlak dan moral akibat narkoba, prostitusi, korupsi, dll. Lantas mereka mengusung prinsip-prinsip hukum agama tertentu dengan dalih untuk mengatasi masalah tersebut demi kesatuan bangsa dan keselamatan generasi muda bangsa ini dari kerusakan moral. Dengan adanya maksud baik demi bangsa ini, mereka mengklaim bahwa mereka telah menjunjung nasionalisme. Padahal bisa jadi prinsip hukum yang ingin mereka terapkan justru bertentangan dengan prinsip kesatuan bangsa Indonesia.

  4. Sifat ideologis gerakan-gerakan nasionalisme tidak didasarkan pada sebuah ideologi dominan: Islam, komunis, sosial demokrat, nasionalis-sekular. Gerakan nasionalisme Indonesia merupakan gerakan rakyat yang kemudian bertemu dengan para pemimpin intelektual berpendidikan barat. Nasionalisme Indonesia tidak didasarkan pada suatu tradisi sistem filsafat tertentu.

  5. Bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki bahasa pemersatu Bahasa Indonesia. Pada mulanya, semenjak dicetuskan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda yang menjadi pencetus sumpah terdorong oleh ideologi kebangsaan yang demokratis dan egaliter. Terpilihlah bahasa Indonesia yang lebih umum dipakai. Dalam pandangan sosiolinguistik, penentuan ini didasari oleh ideologi vernakularisasi atau pribumisasi. Menurut Cobarrubias, vernakularisasi merupakan penentuan sebuah bahasa pribumi menjadi bahasa resmi, dengan mempertimbangkan segi-segi sosiologi-politis-kultural, termasuk kehendak untuk memartabatkan jati diri. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menjadi ideologi tentang nasionalisme, demokrasi, jati diri, dan kesedarajatan.

  Bahasa Indonesia sebagai sebuah ideologi berperan aktif dalam pembentukan dan pengembangan semangat nasionalisme, karena bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu seluruh rakyat Indonesia. Berbagai suku, agama, ras, dan istiadat yang ada di Indonesia dijembatani oleh bahasa Indonesia. Dengan adanya komunikasi yang baik, terciptalah kerukunan dan rasa kebangsaan dalam diri masyarakat Indonesia.

  6. Multikulturalisme adalah sebuah filosofi yang terkadang ditafsirkan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama dalam masyarakat modern. Istilah multikultural juga sering digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara. Budaya yang mesti dipahami, adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya.