ANALISIS FOTO SELFIE SEBAGAI MEDIA MENGEKSPRESIKAN DIRI ( STUDI PADA ACCOUNT INSTAGRAM KURT COLEMAN )

(1)

ABSTRAK

ANALISIS FOTO SELFIE SEBAGAI MEDIA MENEGEKSPRESIKAN DIRI ( STUDI PADA ACCOUNT INSTAGRAM KURT COLEMAN )

Oleh ARTA NOVIAN

Foto adalah sebuah objek yang dapat dijadikan media informasi bagi setiap orang, karena dalam sebuah gambar foto terdapat makna yang dapat di representasikan bagi orang yang melihatnya,seperti foto selfie yang dilakukan oleh Kurt Coleman, yang merupakan penikmat foto selfie terbanyak di dunia.

Tujuan penelitian ini 1. Mengetahui frekuensi per hari account Kurt Coleman dalam mengunggah foto selfie, 2. Mengetahui dan menjelaskan seperti apa foto selfie dijadikan sarana mengekspresikan diri pada media sosial instagram melalui klasifikasi ekspresi wajah dari account Kurt Coleman. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dengan objek foto selfie Kurt Coleman.

Teori Komunikasi dalam penelitian ini menggunakan teori semiotika dari Ferdinand De Saussure dengan melihat makna penanda dan petanda dari foto selfie Kurt Coleman, dengan indikator ekspresi seperti ekspresi wajah, gaya, fashion, dan latar. Sehingga dari empat indikator tersebut foto selfie di analisis untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam foto tersebut.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa account Kurt Coleman sudah menunjukan empat dari indikator seperti ekspresi wajah, gaya, latar dan fashion dan dari hasil menganalisis peneliti pun mendapatkan bahwa dalam berfoto selfie Kurt Coleman


(2)

tidak hanya melakukan foto dirinya saja, namun Kurt Coleman juga melakukan foto selfie berdasarkan lokasi, dan sedang melakukan apa.


(3)

ABSTRACT

ANALYSIS OF PHOTO SELFIE AS A MEDIUM TO EXSPRESS THEMSELVES

( STUDY ON KURT COLEMAN’S INSTAGRAM ACCOUNT )

By

ARTA NOVIAN

Picture is a media for people to express themselves. Picture has meaning, where it can represented to a person feeling, Such as Kurt Coleman, as the person who like taking and sharing his selfie photo in his Instagram. The purpose of this research are: 1. To know the frequency of Kurt Coleman to share his selfie photos in Instagram. 2. To know and to explain the meaning of selfie photos and how it can be a good media to express himselves in social media for example Instagram by analyze Kurt Coleman’s photos.

This research is using qualitative method and Kurt Coleman photos as an object. Communication theory that used in this recource is semiotic theory by Ferdinand De Saussure. By seen the meaning of signifier and signified from Kurt Coleman photos, To analyze those photo’s meaning, researcher using four Indicator, there are face expressions, fashion, style and background.

The results of this research explain that the selfie photos by Kurt Coleman has shown four indicators such as face expressions, fashion, style, background and researcher assumed that Kurt Coleman not only take his own picture but also do foto selfie by location, fashion and what the was doing.


(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Riwayat Hidup

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 3 november 1992, sebagai anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Suwardi dan Rohayati.

Penulis menyelesaikan sekolah dasar pada tahun 2005 di SDN 3 Perumnas Way halim, Sekolah Menengah Pertama (SMP N 21) Bandar Lampung pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas (SMA N 13) Bandar Lampung pada tahun 2011.

Pada tahun 2011 penulis terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi Fisip Unila melalui jalur tertulis (SNMPTN), selain mengikuti studi di perkulihan penulis juga aktif sebagai anggota dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi dan menjabat sebagai kepala bidang R&D (research and develotmen) pada periode 2013-2014.


(9)

PERSEMBAHAN

Untuk keluarga ku tercinta :

Bapak, Ayah, dan Emak ini hasil kerja keras kalian yang membuat penulis

menjadi mengerti apa makna dari kehidupan.

Terima kasih banyak atas pengorbanan, kasih sayang kalian sampai

selama ini,

Kepada Bibi Titin, kak Ebi, mbak Kaka, mbak Dede, Rendi dan Restu

serta ponakan-ponakanku yang tercinta Dany, Cristi, kalian merupakan

motivasi penulis untuk tetap bisa maju.

Serta orang-orang yang paling berjasa dalam hidup sampai detik ini OM

Agus Hadiawan, Tante Lin, Ghia Subagja ( Basir ) dan teman-teman,

Prasetya ( Dulur ), Riendi, Arie, Jawa, DLL.

TERIMA KASIH BANYAK ATAS DOA DAN MOTIVASI DARI

KALIAN SEMUA


(10)

MOTO

“ PUNYA MIMPI, PUNYA CITA

-CITA, DAN PUNYA HARAPAN

JANGAN DIAM,

BERUSAHA DAN BERDOALAH ”

(ARTA NOVIAN)

MASALAH ADA UNTUK DI HADAPI

TEMAN ADA UNTUK DI HARGAI

DAN...

SAHABAT ADA UNTUK DI MENGERTI


(11)

Sanwacana

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena rahmat, karunia dan hidayah-Nya lah penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Analisis Foto selfie Sebagai Media Mengekspresikan Diri dengan Studi Pada Account Instagram Kurt Coleman ”.

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Lampung, dengan segala kekurangan dan kelebihannya penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kesalahan. Dengan demikian, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar menjadi pembelajaran dalam tahapan penulisan selanjutnya.

Skripsi ini takan berjalan dengan lancar dan baik tanpa adanya orang-orang, teman-teman dan saudara-saudara terdekat yang membantu secara lisan, moral bahkan finansial, dari itu dalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Terima kasih kepada Alla SWT karena rahmat, dan karunia-Nya lah penulis maih dapat bernafas dan mampu menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si. selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

3. Kepada Mamak, Ayah Juanda, Bapak Wardi, Bule Titin, Terima kasih atas segala pengorbanan kalian, kasih sayang kalian kepada penulis hingga saat ini.


(12)

4. Om Agus Hadiawan beserta Istri Tante Lin, Terima Kasih sebanyak-banyaknya untuk Om dan Tante atas segala bantuan, kasih sayangnya selama ini, Terima kasih karena kalian Arta bisa seperti ini .

5. Bapak Drs. Teguh Budi Raharjo, M.si selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Lampung danjuga merangkap sebagai pembimbing dalam penulisan skripsi ini, Arta ucapkan terima kasih banyak bapak Teguh.

6. Bapak Toni Wijaya. S.sos, M.A selaku dosen penguji, Maaf karena Arta memaksa untuk diadakan seminar 1 dalam keadaan bapak Toni sedang sakit mata, Terima Kasih banyak Pakuan.

7. Kepada seluruh bapak-ibu dosen Jurusan Ilmu komunikasi : Pak Riza, Pak Agung, Pak Sarwoko, Pak Firman, Pak Rudi (Terima Kasih Pak Rudi sudah banyak memberikan arahan untuk penulis menyelesaikan skripsi ini). Dan kepada Ibu Hestin, Ibu Dhanik, Ibu Winda, Ibu Nina, Ibu Tina, Ibu Ida, Ibu Nanda, Ibu Wulan, dan Ibu Ana, Terima Kasih banyak kepada Kalian selaku pengajar-pengajar penulis dari semester hingga selesai seperti ini.

8. Untuk Basir (Egi), Riendi (Enyeng), Dulur (Pras), Arie (Gogon), Jawa (Ferdi), Upil, Antok, Datuk (Fariz), Ladi KALIAN LUAR BIASA dalam membantu gua, dimana jasa kalian melebihkan saya punya saudara di luar sana.

9. Teman-teman Jurusan Ilmu Komunikasi 2011 KALIAN MENGAJARI ARTI PERBEDAAN, TETAP SOLID, TETAP INGAT SATU SAMA LAIN.


(13)

10.Untuk : Jaya, Rizal, Fajri, Manda, Sade, Aji, Dimas, Imam, Kyai Calvien TETAP KOMPAK YA KALIAN.

Untuk : Teddi, Pepi, Cimeng, Riki, Erwin, Fajar, Cabul (bayu), Congor (Risky), Metal dan Reza Tantowi, KITA TIDAK AKAN JADI ORANG TERPINGGIR LAGI terutama dalam pembagian kelompok.

Untuk : Tere, Kusnul, Herdiani CEPET JADI DOSEN DAN GURU. Untuk : Hesti, Mayang, Pipit, Ida, Ayu, Dhila, Syaid, Gepeng (Fikri), Ade, Mbok (Fajriati), Idung (Lidya) TETAP KOMPAK YA KALIAN.

Untuk : Ham-Ham, Imel, Irwin, Ami, Amoy, Hana, Alif PARA KORBAN KOREAN

Untuk : Aprika, Hilda, Metta, Rizka, Mifta, Inka, Prita KALIAN SEPERTI SEVEN ICON

Untuk : Adi, Diki, Yoga, Fahri, Gigih, Sigit, Yazid LELUCON DENGAN BAHASA ASING (JAWA) DARI KALIAN SANGAT MENGHIBUR walau sedikit tidak paham.

Untuk : shela, Issa, Ambar, Wahyu, KALIAN INI NEW GENK YA ? Untuk : Ridho, Dede, Akbar, Bule, Duta, ROLL UP NAM.

Untuk : Vio, Adel, Uwi, Uti, PENCINTA SELFIE

Untuk : Riksa, Bowo, Satya SEMOGA MENJADI FOTOGRAFER HANDAL YAAA.

Untuk : Ivona, Maria, Devi, Ani, Widya, Nisa, Hafifah, Nita, Nanang, Eko, Sakti, Devi, Linda, Aji Black, Arief Tok.. Rony Azizs, Riski Cw, Zee, Malani, Yessi, DAN masih banyak lagi yang belum penulis masukan,


(14)

TERIMA KASIH BANYAK UNTUK KALIAN DAN JANGAN PERNAH LUPAKAN TEMAN SEANGKATAN.

11.Teman-Teman Jurusan Ilmu Komunikai dari angkatan 2007-2014 yang tidak disebutkan satu per-satu terima kasih banyak kalian sudah menjadi senior dan teman yang baik selama saya memasuki Jurusan Komunikasi. 12.Teman-Teman Reggae Syukur Ekspres , Amii, Komeng, Rico, Toge,

Tama, Younky, Erik Lepek, Semy, Novan,Ucup DAN masih banyak lagi

yang tidak bisa saya sebutkan . “ mulanya nongkrong dipinggir jalan, menunggu teman yang kunjung tak datang”. Nakalnya kita dulu sama-sama, suksesnya kitapun harus bersama-sama.

13.Teman-Teman MABES 45, Bang Taufik, Bang Besma, Bang Riski Kun, Bang Ari, Riski K, Cimeng, Topan, Pepi, DLL. TERIMA KASIH BANYAK, CANDA DAN TAWA DARI KALIAN TERINGAT DALAM MEMORI YANG SULIT DI HAPUSKAN.

14.HMJ ILMU KOMUNIKASI wadah bagi anak-anak Komunikasi dalam berkreasi, para jajaran presedium, kabid-sekbid Bayu, Jaya, Risky, Calvien, Reza, Fajri, Dhila, Hamdana, Pipit, Hana, Ida Putri, Tere dan Yessi, KALIAN LUAR BIASAAA, JANGAN PERNAH LUPAKAN PAHIT MANIS NYA KITA BERJUANG SELAMA SATU PERIODE !!! serta Teman-teman dari bidang Research and Develotment Dari 011-012 keluarga kecil yang akan selalu diingat Hanif, Rangga, Aprizal, Toat, Okke, Mahda, Murti,Flaga.

15.Dezli, Alam, Harri, Dll, JANGAN BANYAK KETAWA, INGAT KULIAH


(15)

16.Buat teman-teman KKN Universitas Lampung Arief Gasruk, Reno sopan, Dio tukang tidur, Ramos batak, Ratu RJ, Inggit Pikun, Ririn di ajariin mamah, Dewi Gendut, dan Edelian Petinju muda SUKSES BUAT KALIAAN SEMUA. Terima Kasih atas cerita dan pengalaman selama KKN nya.


(16)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... RIWAYAT HIDUP ... SANWACANA ... DAFTAR ISI ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR TABEL ...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 2

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 7

B. Tinjauan Tentang Komunikasi ... 8

C. Pengertian Media Sosial ... 9

1. Media Sosial ... 9

2. Sosial Media Instagram ... 12

D. Sejarah Selfie dan Pengertian Selfie ... 14


(17)

F. Konsep Diri ... 17

G. Pengertian Narsismen ... 20

H. Ekspresi Diri ... 21

I. Kerangka Berfikir ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian... 25

B. Definis Konsep ... 26

C. Unit Analisis ... 26

D. Fokus Pengamatan ... 27

E. Jenis Data ... 28

F. TeknikPengumpulan Data ... 28

G. Teknik Analisa Data ... 29

BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Mengenai Media Sosial Instagram ... 30

1. Sejarah Singkat Media Sosial Instagram ... 30

B. Gambaran Umum Mengenai Foto Selfie ... 33

1. Sejarah Singkat Foto Selfie Dan Account Instagram Kurt Coleman ... 33

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 36

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 38


(18)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 114 B. Saran ... 116

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(19)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Tabel Unggahan hari ke 1 ... 38

2. Tabel Unggahan hari ke 2 ... 39

3. Tabel Unggahan hari ke 3 ... 40

4. Tabel Unggahan hari ke 4 ... 41

5. Tabel Unggahan hari ke 5 ... 42

6. Tabel Unggahan hari ke 6 ... 43

7. Tabel Unggahan hari ke 7 ... 44

8. Tabel Unggahan hari ke 8 ... 45

9. Tabel Unggahan hari ke 9 ... 46

10. Tabel Unggahan hari ke 10 ... 47

11. Tabel Unggahan hari ke 11 ... 48

12. Tabel Unggahan hari ke 12 ... 49

13. Tabel Unggahan hari ke 13 ... 51

14. Tabel Unggahan hari ke 14 ... 52

15. Tabel Unggahan hari ke 15 ... 53

16. Tabel Unggahan hari ke 16 ... 54

17. Tabel Unggahan hari ke 17 ... 56

18. Tabel Unggahan hari ke 18 ... 57

19. Tabel Unggahan hari ke 19 ... 58

20. Tabel Unggahan hari ke 20 ... 59


(20)

22. Tabel Unggahan hari ke 22 ... 61

23. Tabel Unggahan hari ke 23 ... 62

24. Tabel Unggahan hari ke 24 ... 63

25. Tabel Unggahan hari ke 25 ... 64

26. Tabel Unggahan hari ke 26 ... 65

27. Tabel Unggahan hari ke 27 ... 67

28. Tabel Unggahan hari ke 28 ... 68

29. Tabel Unggahan hari ke 29 ... 69

30. Tabel Unggahan hari ke 30 ... 70


(21)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Peta Tanda Ferdinand de saussure ... 16

2. Peta Tanda Roland Barthes ... 17

3. Foto Selfie ke 1 ... 73

4. Foto Selfie ke 2 ... 75

5. Foto Selfie ke 3 ... 77

6. Foto Selfie ke 4 ... 79

7. Foto Selfie ke 5 ... 81

8. Foto Selfie ke 6 ... 83

9. Foto Selfie ke 7 ... 85

10. Foto Selfie ke 8 ... 87

11. Foto Selfie ke 9 ... 89

12. Foto Selfie ke 10 ... 91

13. Foto Selfie ke 11 ... 93

14. Foto Selfie ke 12 ... 95

15. Foto Selfie ke 13 ... 97

16. Foto Selfie ke 14 ... 99


(22)

18. Foto Selfie ke 16 ... 103 19. Foto Selfie ke 17 ... 105 20. Foto Selfie ke 18 ... 107 21. Foto Selfie ke 19 ... 109 22. Foto Selfie ke 20 ... 111


(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemajuan teknologi semakin meningkat dalam kehidupan kita, hal ini telah mendorong masyarakat untuk terus mengikuti kemajuan teknologi tersebut. Seiring berkembangnya zaman, semakin berkembang pulalah alat-alat teknologi dalam kehidupan masyarakat. Kehadirann smartphone seperti ipad, iphone, dan android membawa fenomena baru dikalangan remaja yaitu selfie. Apa itu selfie ? selfie sendiri adalah bentuk foto dari hasil memotret diri sendiri atau selft image yang mana memang sedang menjadi fenomena bagi masyarakat luas dengan cara melakukan kegiatan memfoto dirinya sendiri dengan hasil gambar hanya terlihat muka yang tampak memenuhi layar camera seorang selfies itu sendiri.

Fenomena selfie sendiri merupakan salah satu fenomena paling booming di akhir tahun 2013 sampai saat ini dan pasti salah satu dari anda sering melakukan hal ini. Oxford Dictionaries pun menasbihkannya sebagai Word of the Year. ‘If it is good enough for the Obamas or The Pope, then it is good enough for Word of the Year’, begitu yang ditulis di situs resmi Oxford Dictionaries menyoali selfie sebagai Word of the Year.


(24)

2 Selfie sesungguhnya bukan hal baru foto oleh Robert Cornelius tahun 1839, diyakini sebagai selfie pertama di dunia. Foto tersebut kini ditempatkan di Library of Congress, Washington sedangkan bagi seorang penikmat selfie sendiri disebut dengan ‘selfies’ karena rutinitas kegiatan sehari-harinya selalu di dokumentasi kan dengan berfoto selfie.

Bagaimana selfie menjadi trend bagi remaja yang suka mengunggah foto selfie ke media sosial sehingga dapat dilihat oleh pengguna lainnya, bahkan dilihat dari sudut pandang lain banyak masyarakat yang berasumsi bahwa seorang selfie adalah seorang yang krisis identitas diri, karena seorang selfies banyak dikaitan dengan remaja yang mengalami gangguan kepercayaan diri dengan mencoba mencari perhatian dari masyarakat pengguna media sosial. Penggunaan media sosial instagram pun terus bertambah jumlahnya, menurut pengumuman layanan photo sharing tersebut pada Selasa (25/3/2014) kemarin, pengguna media sosial instagram telah mencapai lebih dari 200 juta diseluruh dunia, angka itu naik dari sekitar 150 juta pengguna enam bulan sebelumnya, serta 100 juta pengguna sekitar satu tahun yang lalu.

Data ini menunjukan bahwa instagram mengalami pertumbuhan pengguna sekitar 100 persen sepanjang tahun lalu, adapun angka 200 juta tersebut mengacu pada jumlah pengguna aktif bulanan, sebagaimana dilaporkan oleh Cnet, perusahaan yang dimiliki oleh jejaring sosial Facebook ini menjelaskan bahwa para penggunanya telah mengunggah lebih dari 20 miliar foto "Selama enam bulan terakhir, bahkan kami melihat komunitas-komunitas baru bergabung di kota-kota di seluruh dunia,".


(25)

3

Sedangkan pada dasarnya self Identity (identitas diri) segi yang sangat penting dalam identitas diri adalah sebuah ’nama’. Hal itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain. Dengan demikian setiap manusia perlu memiliki nama walaupun Shakespeare mengatakan what is a name (apa arti sebuah nama).

Seperti apa yang dilakukan oleh remaja asal negara Australia Kurt Coleman, remaja ini merupakan seorang selfies yang aktif menggunggah foto selfie nya ke media sosial instagram setiap hari, apa yang dia cari ? dalam artikel yang penulis baca Kurt Coleman merupakan seorang anak remaja 17 tahun dengan pengunggah foto selfie terbanyak di dunia saat ini dengan perharinya ia mampu mengunggah 3 sampai 5 kali bahkan lebih foto selfie ke media sosial instagram. Pemuda berusia 17 tahun yang memiliki 85 ribu followers di instagram pun sangat percaya diri karena tidak pernah absen berfoto selfie setiap harinya dengan lokasi yang berbeda-berbeda seperti di pantai, hotel, restoran dan mobil. Dalam setiap foto nya Kurt Coleman tidak pernah lupa menuliskan kalimat ‘i’m in love with this photo of me, simplyamazing’ aku foto selfie 27/4 karena aku menyukai apa yang aku lihat di dalam camera, tulisnya dengan percaya diri di account instagramnya.

Kenarsisan dan kepercayaan diri seperti itu lah yang membuat nama Kurt Coleman menjadi pembicaran hangat di setiap pemberitaan di media internet ataupun massa lainnya, walapun karena percaya dirinya dia sudah tidak lagi mempedulikan orang-orang yang tak menyukai aksinya tersebut.


(26)

4

Masyarakat pun mengidentifikasi diri mereka sendiri dalam apa yang di lihat melalui gambar dengan representasi kolektif dan menggunakannya sebagai fiksi-fiksi penuntun. Sehingga dengan fiksi simbolik tersebut membuat masyarakat membentuk dan menyusun pandangan dunianya (Storey, 2010).

Dalam ranah penelitian komunikasi visual, makna-makna simbol tersebut relevan untuk dianalisis dengan menggunakan pendekatan metode analisis semiotika. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda, hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Tinarbuko, 2012).

Semiotika merupakan suatu pendekatan teoritis yang sekaligus berorientasi kepada kode (sistem) dan pesan (tanda-tanda dan maknanya), tanpa mengabaikan konteks dan pihak pembaca (Budiman, 2011), dan bagaimana seorang selfies dikaitkan dengan kepercayaan diri, pandangan yang berbeda dari masyarakat pun semakin berbeda-beda.

Marcia (1993) mengatakan bahwa identitas diri merupakan komponen penting yang menunjukkan identitas personal individu. Semakin baik struktur pemahaman diri seseorang berkembang, semakin sadar individual akan keunikan dan kemiripan dengan orang lain, serta semakin sadar akan kekuatan dan kelemahan individu dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, jika kurang berkembang maka individu semakin tergantung pada sumber-sumber eksternal untuk evaluasi diri.


(27)

5

Interaksi secara tidak langsung dapat dilakukan melalui berbagai media seperti komunikasi melalui handphone dan yang saat ini banyak dilakukan oleh remaja adalah interaksi melalui dunia maya yaitu internet (Buranda, 2010).

Interaksi yang terjadi melalui penggunaan internet seperti penggunaan aplikasi chat room dan web search akan mengurangi peluang seseorang untuk menangkap tanda-tanda komunikasi dari orang yang terlibat dalam komunikasi (Maazalin& Moore, 2004). Maka Sejalan dengan uraian di atas, judul yang diambil dalam skripsi ini adalah ‘Analisis Foto Selfie Sebagai Media Mengeksperesikan Diri Dengan Studi Pada Account instagram Kurt Coleman’.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang perumusan masalah ini bertujuan untuk upaya membatasi penelitian agar lebih terarah dan tidak terlalu luas namun tetap dalam fokus yang diharapkan dan yang telah ditentukan, maka fokus masalah yang akan peneliti angkat adalah ‘Bagaimana kesesuaian makna isi dari foto Selfie sebagai sarana media untuk mengekspresikan diri pada sosial media instagram’ dengan spesifikasi waktu pengunggah pada bulan Juli 2014 ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui frekuensi per hari account Kurt Coleman dalam mengunggah foto selfie.


(28)

6 2. Mengetahui dan menjelaskan seperti apa foto selfie dijadikan sarana mengekspresikan diri pada media sosial instagram melalui klasifikasi ekspresi wajah dari account Kurt Coleman.

D. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis

Diharapkan penelitian ini dapat berguna dalam mengembangkan pengetahuan dan wawasan bagi penulis mengenai fenomena yang terjadi serta dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya mengenai analisis foto.

2. Kegunaan Praktis

Diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca serta melengkapi dan memenuhi sebagian persaratan guna memperoleh gelar Sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.


(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

1. Analisis Kesesuaian Foto dan Isi Berita Dalam Pemberitaan Development Basketball League (DBL) Lampung 2011 Pada Surat Kabar Harian Radar Lampung

Oleh : Fhata Z‟af Al‟ali

Berdasarkan analisis yang dilakukan penulis terhadap surat harian Radar Lampung dalam pemberitaan Development Basketball League (DBL) periode terbit Januari-Februari 2011, maka dapat dilihat oleh penulis bagaimana penelitian ini ingin mengetahui kesesuaian dari foto dan isi berita yang diterbitkan oleh koran harian Radar Lampung. Kesamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan penulis angkat saat ini adala objek dari penelitian merupakan gambar atau foto-foto yang memang dijadikan alat media informasi berupa komunikasi non-verbal, hanya saja penelitian yang peneliti angkat saat ini melihat dari bagaimana foto selfie dijadikan media mengekspresikan diri di media sosial instagram dengan studi pada account Kurt Coleman.


(30)

8

B. Tinjauan Tentang Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, hakekat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia. Sehingga yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.

Dalam “bahasa” komunikasi, pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator), sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (communicatee). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan, sehingga jika dianalisis pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the message), kedua lambang (symbol). Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa (Effendy, 2003).

Menurut (Effendy, 2003)

‘Komunikasi adalah proses di mana seseorang menyampaikan gagasan, harapan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan penyampai pesan dan ditujukan kepada penerima pesan. Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media’

Harold D. Lasswell seperti yang dikutip Onong Uchjana Effendy menyatakan bahwa cara yang terbaik dalam menerangkan kegiatan komunikasi ialah menjawab pertanyaan Who Says What Which Channel To Whom With What Effect ? (siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, dan apa pengaruhnya ?). Jadi


(31)

9

kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan pendapat para ahli tersebut maka komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan baik pesan verbal maupun non verbal melalui saluran atau media yang tepat sehingga menghasilkan efek yang diharapkan (Effendy, 2002).

C. Pengertian Media Sosial 1. Media Sosial

Sesuai dengan namanya, media yang tergolong dalam media sosial ini memiliki fungsi untuk mendukung interaksi sosial antara satu dan dua hingga pengguna media sosial lainnya. Dalam konteks ini, media sosial bisa digunakan untuk mempertahankan atau mengembangkan relasi atau interaksi sosial yang sudah ada dan bisa digunakan untuk mendapatkan teman-teman yang baru.

Menurut Van Dijk (2006), mengutip apa yang dilakukan oleh Stanley Milgram, rata-rata setiap elemen dalam sebuah unit akan saling berkaitan dengan menurut Six degress of separation, yang menyatakan bahwa manusia lain dengan paling banyak enam orang yang saling berkaitan. Sejak kemunculan classmates.com dan sixdegrees.com di pertengahan tahun 1990-1n, maka berbagai jenis media sosial mulai bermunculan dan bahkan sudah spesifik ke bidang-bidang tertentu.

Hal ini terlihat dengan adanya media semacam facebook, twitter, Link in (mengkhususkan untuk bisnis dan profesional), devianART


(32)

10

(mengkhususkan untuk digital art), Ayn dan CouchSurfing (travelling), flickr (berbagi foto), dan beberapa lainnya. Sehingga dengan adanya perkembangan yang pesat ini, pengguna mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memaksimalkan tujuan berinteraksi sosial ataupun melakukan pengembangan dirinya.

Media social pun merambah sampai pada alat untuk menggerakkan massa. Masih terlintas bagaimana gerakan satu juta facebook, twitter, instagram dan path serta banyak lagi media sosial baru yang muncul di era teknologi yang semakin maju dan begitu pula dengan adanya komunitas-komunitas yang dibentuk di dalam media sosial, yang baik komunitas yang telah ada maupun komunitas yang terbentuk khusus karena adanya pertemuan di dunia maya.

Kehadiran media sosial membuat setiap orang berpotensi untuk menjadi komunikator massa yang mana memang setiap individu berpotensi untuk menyampaikan berbagai kejadian dibelahan bumi tanpa harus membawa beritanya ke meja redaktur atau editor. Simak saja kejadian yang terjadi di Moldova ataupun di Iran. Begitu pula kejadian disekitar kita seperti jalanan macet, adanya peristiwa tidak terduga, dan berbagai kejadian lainnya. Seakan-akan, media sosial hadir untuk melengkapi atau melindungi media massa yang sekarang beroperasi.

Media sosial bisa dipakai untuk menunjang aktivitas rutin pengguna atau aktivitas lainnya. Beberapa perusahaan atau individu menggunakan media sosial untuk melancarkan aktivitas bisnisnya tidak hanya untuk media


(33)

11

sosial yang berbasiskan bakat dan minat, media sosial bisa dipakai sebagai wadah untuk saling berbagi karya dan memberi masukan.

Terkait dengan presentasi diri, media sosial tertentu mewajibkan setiap pengguna untuk memiliki akun. Akan tetapi, konstruksi profil akun setiap orang akan menyesuaikan dengan cara orang tersebut mempresentasikan dirinya dengan bagaimana cara mempresentasikan diri sesuai yang diinginkan oleh setiap orang bisa difasilitasi dengan leluasa oleh media sosial.

Salah satu yang menarik dari media sosial adalah sesama pengguna akan memiliki konstruksi identitas masing-masing. Bagi sesama pengguna yang belum saling mengenal atau belum berteman di dunia nyata, mereka akan saling membayangkan profil berdasarkan elemen-elemen yang ada di akun masing-masing.

Sementara untuk sesama pengguna yang sudah saling mengenal, proses melakukan imajinasi terhadap pengguna yang lain sudah tidak berada lagi

pada level „sapa dia‟ tetapi pada level „sedang apa‟. Misalkan jika dua

orang teman sekelas yang sudah saling mengenal, maka dalam media sosial mereka lebih memfokuskan komunikasi pada sedang melakukan apa atau apa yang sedang terjadi pada dirinya.


(34)

12

2. Sosial Media Instagram

Instagram berdiri pada tahun 2010 perusahaan Burbn, Inc. merupakan sebuah teknologi startup yang hanya berfokus kepada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam. Pada awalnya Burbn,Inc. sendiri memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 mobile (hiper text markup language 5), namun kedua CEO (Chief Executive Officer), Kevin Systrom dan juga Mike Krieger, memutuskan untuk lebih fokus pada satu hal saja.

Setelah satu minggu mereka mencoba untuk membuat sebuah ide yang bagus, pada akhirnya mereka membuat sebuah versi pertama dari Burbn, namun di dalamnya masih ada beberapa hal yang belum sempurna. Versi Burbn yang sudah final, aplikasi yang sudah dapat digunakan di dalam iPhone, yang dimana isinya terlalu banyak dengan fitur-fitur.

Sulit bagi Kevin Systrom dan Mike Krieger untuk mengurangi fitur-fitur yang ada, dan memulai lagi dari awal, namun akhirnya mereka hanya memfokuskan pada bagian foto, komentar, dan juga kemampuan untuk menyukai sebuah foto, itulah yang akhirnya menjadi awal mulai munculnya media sosial Instagram.

Nama instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata „insta‟ berasal dari kata „instan‟, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan „foto instan‟.


(35)

13

Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Sedangkan untuk kata gram‟ berasal dari kata „telegram‟, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat.

Oleh karena itulah instagram berasal dari instan-telegram. Sistem sosial di dalam instagram adalah dengan menjadi mengikuti akun pengguna lainnya, atau memiliki pengikuti instagram. Sehingga dengan demikian komunikasi antara sesama pengguna instagram sendiri dapat terjalin dengan memberikan tanda suka dan juga mengomentari foto-foto yang telah diunggah oleh pengguna lainnya. Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang penting, dimana jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Penggunaan media sosial instagram pun terus bertambah jumlahnya, menurut pengumuman layanan photo sharing tersebut pada Selasa (25/3/2014) kemarin, pengguna media sosial instagram telah mencapai lebih dari 200 juta diseluruh dunia, angka itu naik dari sekitar 150 juta pengguna enam bulan sebelumnya, serta 100 juta pengguna sekitar satu tahun yang lalu.

Data ini menunjukan bahwa instagram mengalami pertumbuhan pengguna sekitar 100 persen sepanjang tahun lalu, adapun angka 200 juta tersebut


(36)

14

mengacu pada jumlah pengguna aktif bulanan, sebagaimana dilaporkan oleh Cnet, perusahaan yang dimiliki oleh jejaring sosial Facebook ini menjelaskan bahwa para penggunanya telah mengunggah lebih dari 20 miliar foto "Selama enam bulan terakhir, bahkan kami melihat komunitas-komunitas baru bergabung di kota-kota di seluruh dunia,".

Untuk menemukan teman-teman yang ada di dalam instagram juga dapat menggunakan teman-teman mereka yang juga menggunakan instagram melalui jejaring sosial seperti twitter dan juga facebook.

D. Sejarah Selfie dan Pengertian Selfie

Menurut sejarah pertama kali „Selfie‟ dilakukan oleh seorang yang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839, namun dahulu selfie dikenal dengan nama Self-Potrait, yang mana diartikan sebagai mengabadikan diri sendiri melalui alat elektronik berupa kamera.

Jadi, umumnya selfie diartikan sebagai suatu aktivitas memotret diri sendiri dengan menggunakan alat seperti smartphone, gadget atau webcame dan kemudian di unggah ke media sosial seperti instagram. Ketika perkembangan teknologi merasuki semua lini di dalam kehidupan masyarakat terutama dalam hal komunikasi, „selfie‟ menjadi sangat populer saat ini, bukan hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia. Bahkan tokoh elite dunia pun seperti Barack Obama dan SBY pernah melakukan foto selfie dan hal tersebut mendapatkan komentar dari berbagai pihak pengguna media sosial lain nya.


(37)

15

Pada tanggal 28 Agustus 2013 secara resmi kata „selfie‟ dimasukan ke dalam kamus Oxfords Dictionaries Online karena berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim dari Oxfords Dictionaries kata selfie mengalami peningkatan dalam penggunaanya sebesar 17.000 persen sejak tahun lalu. Sehingga Oxfords Dictonaries menobatkan kata selfie sebagai Word of the year 2013.

E. Pengertian Tentang Semiotika

Semiotika merupakan suatu pendekatan teoritis yang sekaligus berorientasi kepada kode (sistem) dan pesan (tanda-tanda dan maknanya), tanpa mengabaikan konteks dan pihak pembaca (Budiman, 2011).

Masyarakat mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan representasi kolektif ini dan menggunakannya sebagai fiksi-fiksi penuntun. Sehingga dari fiksi simbolik tersebut membuat masyarakat membentuk dan menyusun pandangan dunianya (Storey, 2010).

Dalam ranah penelitian komunikasi visual, makna-makna simbol tersebut relavan untuk dianalisis dengan menggunakan pendekatan metode analisis semiotika. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda, hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Tinarbuko, 2012).

Menurut Saussure, tanda terdiri dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar,


(38)

16

disebut signified. Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut

referent‟. Hampir serupa dengan Pierce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai

„objek‟ sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan.

Contoh: ketika orang menyebut kata „anjing‟ (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah, menurut Saussure, signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari sehelai kertas. (Sobur, 2006).

Gambar 1. Peta pemikiran Ferdinand de Saussure

Sumber : Mczuail,2000

Sedangkan menurut Roland Barthes pemikiran Saussure itu masih berada pada tingkat pertama, jadi menurut Barthes masih ada tingkatan kedua


(39)

17

yaitu konotasi pada penanda dan mithe atau mitos pada petanda. Dalam kerangka barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi yang di

sebutnya kepada „mitos‟ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan

memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.

Gambar 2. Peta pemikiran tanda Roland Barthes

Sumber : Kris Budiman 2006

F. Konsep Diri

Percaya diri dapat diartikan bahwa suatu kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki dapat di manfaatkan secara tepat. Psikolog W.H.Miskell di tahun 1939 telah mendefinisikan arti percaya diri dalam bukunya yang bertuliskan „Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat‟.

M

M

i

i

t

t

o

o

s

s

T

T

a

a

n

n

d

d

a

a

(

(

I

I

d

d

e

e

o

o

l

l

o

o

g

g

i

i

)

)

Konotasi

Budaya/Ideologi

Tanda -

(Penanda)

(Petanda)


(40)

18

Tak lain halnya psikolog ultra kondang Maslow yang berkata „percaya diri merupakan modal dasar untuk pengembangan aktualitas diri‟ dengan percaya diri orang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri. Sementara itu, kurangnya percaya diri akan menghambat pengembangan potensi diri, jadi orang yang kurang percaya diri akan menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut dan ragu-ragu untuk menyampaikan gagasan, serta bimbang dalam menentukan pilihan dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Dalam karyanya berjudul The Presentation of Self in Everyday Life, Eving Goffman (1959) menyatakan bahwa individu disebut aktor, mempresentasikan dirinya secara verbal maupun non-verbal kepada orang lain yang berinteraksi dengannya.

Presentasi diri atau sering juga disebut manajemen inspirasi (impression management) merupakan sebuah tindakan menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai sebuah citra diri yang diharapkan. Presentasi diri yang dilakukan ini bisa dilakukan oleh individu atau bisa juga dilakukan oleh kelompok individu/tim/organisasi (Boyer dik,2006).

Menurut Psikolog, Salma Prabhu yang dikutip India times, Selasa (10/12/2013), selfies atau selfie adalah upaya untuk menunjukan kepada orang banyak betapa hebatnya dia namun hal tersebut bisa jadi bertujuan


(41)

19

ingin diperhatikan," kata Prabhu . Tidak hanya Prabu, Psikologis Klinis dan ahli media sosial, Ankita Gaba mengatakan hal yang serupa, foto sendiri yang dilakukan juga oleh diri sendiri bukan karena kepercayaan diri anda tinggi tetapi karena butuh perhatian, kata Gaba menjelaskan.

Jejaring sosial beberapa pekan lalu diramaikan gambar dengan hashtag #selfie yaitu gambar seseorang yang diambil oleh dirinya sendiri kemudian diunggah di instagram, twitter dan facebook. hashtag #selfie pertama beredar di instagram ketika salah satu pengguna akun bernama Jennifer Lee pada 16 Januari 2011 mengunduh foto dirinya sendiri kemudian diikuti 57 juta pengguna IG (Instagram).

Para tokoh terkenal pun pernah melakukan hal ini diantaranya Michelle Obama, Sonam Kapoor dan Nicki Minaj, Menurut Gaba selfie dilakukan juga karena sudah banyak ponsel ataupun gadget yang beredar memiliki fasilitas kamera depan „karena teknologi sekarang sudah semakin canggih, hampir semua gadget sudah ada kamera depan dan mudahnya mengunduh langsung ke jejaring sosial, ini juga bisa menjadi penyebab foto selfie banyak penggemarnya,‟ ujarnya.

Prabhu memperingatkan selfie dapat mengubah seseorang menjadi orang yang ambisius yang memiliki obsesi yang tidak sehat. „nanti lama kelamaan kalau terus dilakukan bisa menyebabkan seseorang memiliki obsesi yang tidak sehat karena kurangnya perhatian‟. Menanggapi hal tersebut Instruktur Bahasa Tubuh, Riddhi Doshi Patel pun mengatakan selfie itu adalah sesuatu yang memperlihatkan justru dirinya tidak percaya


(42)

20

diri, Mungkin subjek terlihat percaya diri, tapi justru tidak ada sesuatu yang ditahan. Saat foto sendiri senyum tidak akan terlihat tulus karena foto tersebut direncanakan dan tidak ada ekspresi tulus ketika foto itu diambil diri sendiri, katanya menjelaskan.

Sebuah penelitian di Inggris baru-baru ini dilakukan dengan melibatkan 2.000 orang pengguna jejaring sosial. Hasil penelitian menunjukan 17 persen pria mengaku pernah melakukan selfie sedangkan perempuan hanya 10 persen

.

G. Pengertian Narsismen

Menurut Rathus dan Nevid (2000) dalam bukunya, Abnormal Psychology orang yang narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, karena senang sekali menyombongkan dirinya dengan cara yang berlebihan dan berharap orang lain memberikan pujian.

Lebih lanjut Psikologi Sigmund Freud (1856-1939) menggambarkan individu-individu yang menunjukan cinta diri yang berlebihan, Freud

menamakannya” The narsisstik ” dan pelakunya disebut individu narsisstik atau seorang narsisis. Lebih lanjut Fromm berpendapat, narsisme merupakan kondisi pengalaman seseorang yang dia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya.


(43)

21

Sebaliknya, orang atau kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata, inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Bahkan, ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui agresi sekalipun (Pikiran Rakyat, 14/04/2003).

Jadi narsis sendiri bentuk mencintai diri secara berlebihan dan berani menampilakan sesuatu hal yang menurut nya biasa namun tidak biasa bagi orang lain yang melihatnya.

H. Ekspresi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ekspresi dijelaskan sebagai pengungkapan atau proses menyatakan yang memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dari perasaan hatinya yang memang dapat terlihat dari wajah seseorang yang berekspresi melalu sebuah gambar atau tampilan mimik muka secara langsung. sehingga kemajuan teknologi membuat munculnya era kemudahan bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya dengan contoh bagaimana seseorang pengguna aktif media sosial dapat mengekspresikan dirinya di dunia maya secara bebas dan dapat dilihat oleh khalayak luas.

Ekman, 1972, menyatakan bahwa ekspresi pada umumnya dianggap sebagai domain yang eksekutif untuk menunjukan ekspresinya dalam melakukan komunikasi non-verbal (scherer, 1992).


(44)

22

Setiap orang dapat mengenali ekspresi melalui tanda-tanda yang terlihat di ekspresi wajah tersebut mampu menunjukan rasa senang, marah, sedih, takut (Ekman & Friensen, 1984).

Indikator dalam mengekspresi diri seorang pengguna media sosial tidak hanya memperlihatkan ekspresi kesenangan tapi juga memperlihatkan kegiatan sehari-harinya seperti mengekspresikan ia sedang dimana, pakaian apa yang ia gunakan (fashion), gaya apa yang ia perlihatkan sehingga dari cara-cara tersebut kepuasan diri dari pengguna media sosial dapat terpenuhi.

Klasifikasi ekspresi diri wajah marah digambarkan dengan bentuk muka merah, wajah senang dengan senyum lebar, seseorang sedang sedih di deskripsikan dengan gambar mulut manyun (Atikson, 2008)

I. Kerangka Berfikir

Sebagaimana mana telah dijabarkan diatas bagaimana foto selfie dijadikan tempat bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya dalam media sosial instagram. Tentang bagaimana pengguna sosial melihat dan menilai seorang selfies yang aktif mengunggah foto-foto nya di instagram menjadi hal yang tidak kalah penting tentang bagaimana foto dapat menjadi suatu objek penilaian pengguna media sosial lainnya dalam menafsirkan isi atau gambar dari seorang selfies itu sendiri, seberapa sering seorang selfies mengunduh foto-fotonya ke dalam media sosial dan bentuk-bentuk gaya


(45)

23

atau foto apa saja yang ditampilkan menjadi bahan refresentasi pengguna instagram dalam melihat foto selfie.

Dari pemikiran itulah penulis mencoba membuat kerangka pikir yang dimana untuk menganalisis isi dari foto selfie sebagai media mengekspresikan diri di media instagram dari seberapa seringnya seorang selfies menggunggah foto setiap harinya hingga bentuk gaya dari foto selfie itu sendiri.

Foto merupakan bidang kajian yang sangat relevan bagi analisa semiotika karena foto dibangun dari beragam tanda-tanda yang mana memang tanda tersebut dapat membentuk suatu pandangan bagi orang yang melihatnya. Sistem semiotika yang lebih penting dalam foto adalah digunakannya tanda-tanda ikonis yakni tanda-tanda yang dapat menggambarkan sesuatu foto yang di unggah di media sosial instagram.

Untuk menjelaskan bagaimana representasi makna suatu tanda bekerja, kita dapat menggunakan metode semiotika yang mana teori semiotika ini dijelaskan oleh Ferdinand de Saussere (1857-1913) yang mana menurut ia analisis semiotika dibagi dalam pemilahan antara signifier (penanda) dan signnified (petanda) dan Roland Barthes sebagai penguat penambah teori dari Ferdinand de Saussure.


(46)

24

Bagan kerangka fikir :

Sosial Media Instagram

Fenomena Selfie

Semiotika

1. Signifier (penanda) 2. Signified (petanda) Ekspresi Diri

1. Wajah 2. Latar Tempat

3. Fashion/Penampilan 4. Gaya

Selfie Sebagai Media Mengekspresikan Diri


(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Seperti pendapat yang dikemukakan Bog dandan Taylor (1975) dalam Maleong (2002: 3) yang menyatakan “metode

kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata lisan maupun tertulis dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sehingga dengan kata lain, penelitian ini disebut penelitian kualitatif karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan.

Penelitian kualitatif harus mempertimbangkan metodologi kualitatif itu sendiri. Metodologi kualitatif merupakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan di masyarakat bahasa (Djajasudarma, 2006).

Penelitian deskriptif kualitatif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan dan menggambarkan data-data secara sistematis, jelas, factual serta dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.


(48)

26

B. Definisi Konsep

Definisi konsep adalah pemaknaan dari konsep yang digunakan, sehingga memudahkan peneliti untuk mengoperasikan konsep tersebut di lapangan (Efendi,2002) .

Berdasarkan definisi tersebut maka definisi konsep penelitian ini adalah : 1. Kesesuaian Foto dan makna dari foto Selfie

Kesesuaian adalah suatu keadaan dimana dua variabel dapat dikatakan memiliki hubungan yang sinkron diantara keduanya sehingga dapat mendukung satu sama lainnya.

Dengan menganalisis frekuensi dan makna dari isi tentang kesesuaian visual penggambaran foto selfie sebagai bentuk media mengekspresikan diri.

C. Unit Analisis

Tipe penelitian analisis dilakukan penentuan satuan analisis (unit of analisis), pemahaman unit analisis adalah fungsi empiris yang tujuan penelitiannya dilakuakan dengan berbagai teknik yang ada. Dengan unit analisis yang dipilih dalam penelitian ini adalah foto selfie yang di hasilkan selama kurun waktu satu bulan serta mengumpulkan sample foto sebanyak 20 foto selfie yang memiliki 4 indikator ekspresi wajah, gaya, latar dan fashion yang memang sudah ditentukan oleh peneliti.


(49)

27

D. Fokus Pengamatan

Fokus pengamatan pada penelitian ini adalah foto selfie dan pemaknaan dari account instagram Kurt Coleman. dengan analisis semiotika yang akan digunakan yaitu analisis menurut Ferdinand de Saussure (1857-1913) dengan indikator yang dipakai antara lain :

1. Signifier (penanda), yaitu foto-foto selfie itu sendiri yang memang di unggah ke dalam media sosial instagram sebagai bentuk fisiknya dengan tampilan-tampilan foto yang berbeda-beda setiap harinya.

2. Signified (petanda), yaitu makna dari representasi ekspresi diri yang dilakuakan seorang Kurt Coleman dalam mengunggah foto selfie nya di instagram.

a. Ilustrasi

Yaitu makna yang ditampilkan dari isi foto selfie itu sendiri seperti mimik wajah gembira, menangis, gaya yang ditampilkan oleh seorang selfies.

pemaknaan yang dilakukan berdasarkan melihat gambar foto selfie sebagai media mengekspresikan diri serta analisis makna dari isi foto selfie tersebut yang kemudian akan dikorelasikan dengan menyesuaikan hubungan keduanya.


(50)

28

E. Jenis Data

Data pada penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder:

a. Data primer

merupakan data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya yaitu berupa sampel foto-foto selfie dari account instagram Kurt Coleman.

b. Data sekunder

Merupakan kumpulan dari berbagai sumber-sumber yang memang berkaitan dengan penulisan analisis foto, seperti dari buku, internet dan surat kabar.

F. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang lengkap dan akurat serta dapat dipertanggung jawabkan kebenaran ilmiahnya, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut

1. Dokumentasi

Peneliti akan melakukan pengumpulan foto-foto selfie yang sudah diunggah oleh account Kurt Coleman di media sosial instagram.


(51)

29

G. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis kualitatif, yang meliputi :

1. Melakukan pengamatan terhadap foto selfie dari account Kurt Coleman di media instagram.

2. Reduksi data, yaitu bagian dari analisis data dengan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan dan membuang data yang tidak sesuai dengan fokus penelitian dan tidak diperlukan.

3. Interpretasi data yaitu memaparkan fenomena yang ada di media instagram sehingga penulis dapat menarik kesimpulan mengenai foto selfie sebagai media mengekspresikan diri dengan menggunakan analisis semiotika dalam pemaknaan dari foto selfie tersebut .


(52)

BAB IV

GAMBARAN UMUM

A.Gambaran Umum Mengenai Media Sosial Instagram ( IG ) 1. Sejarah Singkat Media Sosial Instagram ( IG )

Instagram berdiri pada tahun 2010 perusahaan Burbn, Inc. merupakan sebuah teknologi startup yang hanya berfokus kepada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam. Pada awalnya Burbn,Inc. sendiri memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 Mobile (hiper text markup language 5), namun kedua CEO (Chief Executive Officer), Kevin Systrom dan juga Mike Krieger, memutuskan untuk lebih fokus pada satu hal saja.

Setelah satu minggu mereka mencoba untuk membuat sebuah ide yang bagus, pada akhirnya mereka membuat sebuah versi pertama dari Burbn, namun di dalamnya masih ada beberapa hal yang belum sempurna. Versi Burbn yang sudah final, aplikasi yang sudah dapat digunakan di dalam iPhone, yang dimana isinya terlalu banyak dengan fitur-fitur.

Sulit bagi Kevin Systrom dan Mike Krieger untuk mengurangi fitur-fitur yang ada dan memulai lagi dari awal, namun akhirnya mereka hanya memfokuskan pada bagian foto, komentar, dan juga kemampuan untuk menyukai sebuah foto, itulah yang akhirnya menjadi awal mulai munculnya media sosial instagram.


(53)

31

Nama instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata ‘insta’ berasal dari kata ‘instan’, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan ‘foto instan’.

Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, Sedangkan untuk kata gram’ berasal dari kata ‘telegram’, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat.

Penggunaan media sosial instagram pun terus bertambah jumlahnya, menurut pengumuman layanan photo sharing tersebut pada Selasa (25/3/2014) kemarin, pengguna media sosial instagram telah mencapai lebih dari 200 juta diseluruh dunia. Angka itu naik dari sekitar 150 juta pengguna enam bulan sebelumnya, serta 100 juta pengguna sekitar satu tahun yang lalu.

Data ini menunjukan bahwa instagram mengalami pertumbuhan pengguna sekitar 100 persen sepanjang tahun lalu, adapun angka 200 juta tersebut mengacu pada jumlah pengguna aktif bulanan. Sebagaimana dilaporkan oleh Cnet, perusahaan yang dimiliki oleh jejaring sosial facebook ini menjelaskan bahwa para penggunanya telah mengunggah lebih dari 20 miliar foto. "Selama enam bulan terakhir, kami melihat banyak komunitas-komunitas baru bergabung di kota-kota di seluruh dunia,"


(54)

32

Oleh karena itulah instagram berasal dari instan-telegram, sistem sosial di dalam instagram adalah dengan menjadi pengikut akun pengguna lainnya, atau memiliki pengikuti instagram. Sehingga dengan demikian komunikasi antara sesama pengguna instagram sendiri dapat terjalin dengan baik melalui pemberian tanda suka dan juga mengomentari foto-foto yang telah diunggah oleh pengguna lainnya.

Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang penting, dimana jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Untuk menemukan teman-teman yang ada di dalam instagram juga dapat menggunakan teman-teman mereka yang juga menggunakan instagram melalui jejaring sosial seperti twitter dan juga facebook.


(55)

33

A.Gambaran Umum Mengenai Foto Selfie

1. Sejarah Singkat Tentang Foto Selfie Dan Account Instagram Kurt Coleman

Menurut sejarah pertama kali ‘selfie’ dilakukan oleh seorang yang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839, namun dahulu selfie dikenal dengan nama self-Potrait, yang mana diartikan sebagai mengabadikan diri sendiri melalui alat elektronik berupa kamera.

Jadi, umumnya selfie diartikan sebagai suatu aktifitas memotret diri sendiri dengan menggunakan alat seperti smartphone, gadget atau webcame dan kemudian diunggah ke media sosial seperti instagram. Ketika perkembangan teknologi merasuki semua lini di dalam kehidupan masyarakat terutama dalam hal komunikasi melalui media, munculnya ‘selfie’ menjadi sangat populer saat ini dalam melakukan kegiatan komunikasi non verbal. Bahkan tokoh elite duniapun seperti Barack Obama dan SBY pernah melakukan foto selfie dan hal tersebut mendapatkan komentar dari berbagai pihak pengguna media sosial lainnya.

Pada tanggal 28 Agustus 2013 secara resmi kata ‘selfie’ dimasukan ke dalam kamus Oxfords Dictionaries Online karena berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim dari Oxfords Dictionaries kata selfie mengalami peningkatan dalam penggunaanya sebesar 17.000 persen sejak tahun lalu. Sehingga Oxfords Dictonaries menobatkan kata selfie sebagai Word of the year 2013.


(56)

34

Bagaimana selfie menjadi trend bagi remaja yang suka mengunggah foto selfie ke media sosial sehingga dapat dilihat oleh pengguna lainnya, bahkan dilihat dari sudut pandang lain banyak masyarakat yang berasumsi bahwa seorang selfie adalah seorang yang krisis identitas diri, karena seorang selfies banyak dikaitan dengan remaja yang mengalami gangguan kepercayaan diri dengan mencoba mencari perhatian dari masyarakat pengguna media sosial.

Pada dasarnya self Identity (identitas diri) segi yang sangat penting dalam identitas diri adalah sebuah ’nama’, hal itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain. Dengan demikian setiap manusia perlu memiliki nama walaupun Shakespeare mengatakan what is a name (apa arti sebuah nama).

Seperti apa yang dilakukan oleh remaja asal negara Australia Kurt Coleman, remaja ini merupakan seorang selfies yang aktif menggunggah foto selfie nya ke media sosial instagram setiap hari, apa yang dia cari ? dalam artikel yang penulis baca Kurt Coleman merupakan seorang anak remaja 17 tahun dengan pengunggah foto selfie terbanyak di dunia saat ini dengan frekuensi perharinya ia mampu mengunggah 3 sampai 5 kali bahkan lebih foto selfie ke media sosial instagram.

Pemuda berusia 17 tahun yang memiliki 85 ribu followers di instagram pun sangat percaya diri karena tidak pernah absen berfoto selfie setiap harinya dengan lokasi yang berbeda-berbeda seperti di pantai, hotel, restoran dan mobil. Dalam setiap foto nya Kurt Coleman tidak pernah lupa menuliskan kalimat ‘ i’m in love with this photo of me, simplyamazing’ aku foto selfie 27/4 karena aku menyukai


(57)

35

apa yang aku lihat di dalam camera, tulisnya dengan percaya diri di account instagramnya. Kenarsisan dan kepercayaan diri seperti itulah yang membuat nama Kurt Coleman menjadi pembicaran hangat disetiap pemberitaan di media internet ataupun massa lainnya, walapun karena percaya dirinya dia sudah tidak lagi memperdulikan orang-orang yang tak menyukai aksinya tersebut.


(58)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Ada banyak cara yang dapat dilakukan setiap orang untuk menginformasikan pesan kepada khalayak luas, tidak hanya dengan komunikasi verbal namun juga penyampaian pesan dapat dilakukan dengan menggunakan komunikasi non-verbal, penyampaian yang lebih ditunjukan menggunakan tanda-tanda seperti gambar dalam sebuah foto.

Seperti yang dilakukan oleh seorang Kurt Coleman anak muda asal negara Australia yang menggunakan foto sebagai sarana penyebar informasi tentang kegiatan sehari-harinya, foto selfie dijadikan sarana sebagai media mengekspresikan dirinya dan kemudian diunggah olehnya ke jejaring sosial media instagram.

Dari hasil pengembangan yang peneliti lakukan selama waktu 30 hari peneliti berhasil mendapatkan 129 foto selfie seorang Kurt Coleman yang diunggah di media sosial instagram dengan rata-rata per harinya Kurt mampu mengunggah 4 – 5 foto selfie, serta dalam mengetahui seperti apa foto selfie dijadikan sarana media mengekspresikan diri peneliti mengambil sample 20 foto dengan empat klasifikasi seperti Ekspresi wajah, Ekspresi Gaya, Latar dan Fashion dan mendapatkan hasilnya. adapun dalam peneilitan ini, peneliti berhasil


(59)

115

menemukan bahwa dalam melakukan foto selfie seorang Kurt Coleman tidak hanya melakukan foto dirinya saja, namun Kurt Coleman juga melakukan foto selfie berdasarkan lokasi dimana ia sedang berada, dan sedang melakukan apa.

Serta tempat (objek) dan fashion (penampilan) menjadi indikator point tambah dalam informasi foto selfie seorang Kurt Coleman, karena selama peneliti melakukan observasi dan pengumpulan data terdapat beberapa foto yang menunjukan informasi lokasi Kurt Coleman berfoto selfie seperti pada foto selfie No 1, 5, 6, 7, 9, 17, 18 foto tersebut menunjukan lokasi di pantai, kamar tidur, studio musik dan bahkan di latar kamar mandi. Ada juga foto selfie yang menggunakan gaya kepala miring dengan rambut terurai pada foto No 1, 4, 6, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 19, jadi pada dasarnya dari 20 foto selfie yang di analisis oleh peneliti terdapat makna-makna yang berbeda dalam setiap foto tersebut, namun peneliti mengasumsikan bahwa seorang Kurt Coleman merupakan seseorang yang aktif berfoto selfie dengan berbagai gaya, dan tidak sungkan untuk berfoto di lokasi manapun sehingga tampak dapat dinilai Kurt Coleman memang laki-laki yang bertampang fhotogenic.


(60)

116

B. Saran

Dalam skripsi ini penulis mengangkat bagaimana munculnya fenomena selfie dikalangan remaja dengan sarana media sosial sebagai bentuk alat penyebar informasi foto-foto yang di unggah di media sosial instagram, baiknya sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi setiap mahasiswa harus lebih peka terhadap segala fenomena yang terjadi disekelilingnya agar kita dapat mengetahui sebab-akibat dari mana fenomena tersebut muncul dan bisa menjadi booming di kehidupan sehari-hari.

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi rujukan bagi para mahasiswa-mahasiswi yang ingin meneliti sebuah foto ataupun suatu fenomena yang terjadi disekitar lingkungannya. Peneliti pun berharap adanya kritik dan saran yang membangun sehingga penelitian ini dapat dilanjutkan untuk mencari sejauh mana psikologi seorang selfies dalam melakukan foto selfie.


(61)

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Kris., 2003, Semiotika Visual, Yogyakarta, Penerbit Buku Baik.

Moleong, Lexy. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. (Hal 3)

Nawawi. H. 1995. Metode Informasi Bidang Sosial.Yogyakarta : Gajah Mada university press ( Hal 141).

(Indonesia) Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Oleh Drs. Jalaluddin rakhmat M.sc. Penerbit PT Remaja Rosdakarya – Bandung.

Sobur, Alex., 2003, Semiotika Komunikasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. Eny Kartikawati.Mengapa orang suka berfoto selfie. DetikInet

Fenomena Selfie di kalangan Remaja. KOMPAS.com.

Jurnal teknologi informasi.agen cerdasanimasi wajah untuk ekspresi diri.1, april 2010 Pengertian foto Selfie.google.com

SIMBOL-SIMBOL VISUAL . Ekky Fardhy Satria Nugraha.


(62)

Internet :

http://tekno.liputan6.com/read/2021362/ungkap-rahasia-di-balik-foto-selfie# pada tanggal 18-4-2014

(http://www.psikologiums.net) Pada tanggal 18-4-2014

http://muhammad-reza.blogspot.com/2010/01/memahami-ekspresi-emosi.html pada tanggal 5-5-2014


(1)

35

apa yang aku lihat di dalam camera, tulisnya dengan percaya diri di account instagramnya. Kenarsisan dan kepercayaan diri seperti itulah yang membuat nama Kurt Coleman menjadi pembicaran hangat disetiap pemberitaan di media internet ataupun massa lainnya, walapun karena percaya dirinya dia sudah tidak lagi memperdulikan orang-orang yang tak menyukai aksinya tersebut.


(2)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Ada banyak cara yang dapat dilakukan setiap orang untuk menginformasikan pesan kepada khalayak luas, tidak hanya dengan komunikasi verbal namun juga penyampaian pesan dapat dilakukan dengan menggunakan komunikasi non-verbal, penyampaian yang lebih ditunjukan menggunakan tanda-tanda seperti gambar dalam sebuah foto.

Seperti yang dilakukan oleh seorang Kurt Coleman anak muda asal negara Australia yang menggunakan foto sebagai sarana penyebar informasi tentang kegiatan sehari-harinya, foto selfie dijadikan sarana sebagai media mengekspresikan dirinya dan kemudian diunggah olehnya ke jejaring sosial media instagram.

Dari hasil pengembangan yang peneliti lakukan selama waktu 30 hari peneliti berhasil mendapatkan 129 foto selfie seorang Kurt Coleman yang diunggah di media sosial instagram dengan rata-rata per harinya Kurt mampu mengunggah 4 – 5 foto selfie, serta dalam mengetahui seperti apa foto selfie dijadikan sarana media mengekspresikan diri peneliti mengambil sample 20 foto dengan empat klasifikasi seperti Ekspresi wajah, Ekspresi Gaya, Latar dan Fashion dan mendapatkan hasilnya. adapun dalam peneilitan ini, peneliti berhasil


(3)

115

menemukan bahwa dalam melakukan foto selfie seorang Kurt Coleman tidak hanya melakukan foto dirinya saja, namun Kurt Coleman juga melakukan foto selfie berdasarkan lokasi dimana ia sedang berada, dan sedang melakukan apa.

Serta tempat (objek) dan fashion (penampilan) menjadi indikator point tambah dalam informasi foto selfie seorang Kurt Coleman, karena selama peneliti melakukan observasi dan pengumpulan data terdapat beberapa foto yang menunjukan informasi lokasi Kurt Coleman berfoto selfie seperti pada foto selfie No 1, 5, 6, 7, 9, 17, 18 foto tersebut menunjukan lokasi di pantai, kamar tidur, studio musik dan bahkan di latar kamar mandi. Ada juga foto selfie yang menggunakan gaya kepala miring dengan rambut terurai pada foto No 1, 4, 6, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 19, jadi pada dasarnya dari 20 foto selfie yang di analisis oleh peneliti terdapat makna-makna yang berbeda dalam setiap foto tersebut, namun peneliti mengasumsikan bahwa seorang Kurt Coleman merupakan seseorang yang aktif berfoto selfie dengan berbagai gaya, dan tidak sungkan untuk berfoto di lokasi manapun sehingga tampak dapat dinilai Kurt Coleman memang laki-laki yang bertampang fhotogenic.


(4)

116

B. Saran

Dalam skripsi ini penulis mengangkat bagaimana munculnya fenomena selfie dikalangan remaja dengan sarana media sosial sebagai bentuk alat penyebar informasi foto-foto yang di unggah di media sosial instagram, baiknya sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi setiap mahasiswa harus lebih peka terhadap segala fenomena yang terjadi disekelilingnya agar kita dapat mengetahui sebab-akibat dari mana fenomena tersebut muncul dan bisa menjadi booming di kehidupan sehari-hari.

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi rujukan bagi para mahasiswa-mahasiswi yang ingin meneliti sebuah foto ataupun suatu fenomena yang terjadi disekitar lingkungannya. Peneliti pun berharap adanya kritik dan saran yang membangun sehingga penelitian ini dapat dilanjutkan untuk mencari sejauh mana psikologi seorang selfies dalam melakukan foto selfie.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Kris., 2003, Semiotika Visual, Yogyakarta, Penerbit Buku Baik.

Moleong, Lexy. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. (Hal 3)

Nawawi. H. 1995. Metode Informasi Bidang Sosial.Yogyakarta : Gajah Mada university press ( Hal 141).

(Indonesia) Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Oleh Drs. Jalaluddin rakhmat M.sc. Penerbit PT Remaja Rosdakarya – Bandung.

Sobur, Alex., 2003, Semiotika Komunikasi, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. Eny Kartikawati.Mengapa orang suka berfoto selfie. DetikInet

Fenomena Selfie di kalangan Remaja. KOMPAS.com.

Jurnal teknologi informasi.agen cerdasanimasi wajah untuk ekspresi diri.1, april 2010 Pengertian foto Selfie.google.com

SIMBOL-SIMBOL VISUAL . Ekky Fardhy Satria Nugraha.


(6)

Internet :

http://tekno.liputan6.com/read/2021362/ungkap-rahasia-di-balik-foto-selfie# pada tanggal 18-4-2014

(http://www.psikologiums.net) Pada tanggal 18-4-2014

http://muhammad-reza.blogspot.com/2010/01/memahami-ekspresi-emosi.html pada tanggal 5-5-2014


Dokumen yang terkait

Strategi Pemasaran Melalui Media Sosial “Instagram” Dalam Meningkatkan Jumlah Konsumen (Studi Kasus Pada Home Industry “96 Bakery”)

44 196 123

HUBUNGAN PERILAKU SELFIE DENGAN KEPERCAYAAN DIRI (Studi Pada Siswi SMAN 7 Malang Pengguna Aktif Media Sosial Instagram)

13 40 23

MANAJEMEN KESAN MELALUI FOTO SELFIE DALAM FACEBOOK (Studi Fenomenologi Pada Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS) Manajemen Kesan Melalui Foto Selfie Dalam Facebook (Studi Fenomenologi Pada Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS).

0 3 13

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA YANG MENGUNGGAH FOTO SELFIE DI INSTAGRAM Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kepercayaan Diri Remaja Yang Mengunggah Foto Selfie Di Instagram (Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Usia).

0 4 18

PENDAHULUAN Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kepercayaan Diri Remaja Yang Mengunggah Foto Selfie Di Instagram (Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Usia).

0 8 11

Daftar Pustaka Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kepercayaan Diri Remaja Yang Mengunggah Foto Selfie Di Instagram (Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Usia).

1 9 4

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA YANG MENGUNGGAH FOTO SELFIE DI INSTAGRAM Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kepercayaan Diri Remaja Yang Mengunggah Foto Selfie Di Instagram (Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Usia).

0 4 17

Studi Kualitatif Motif & Kepuasan Penggunaan Foto Selfie Dalam Akun Instagram cover

0 0 14

Fotografi Ruang Siber dan Layar Panoptik Analisis Foto dalam Media Sosial Instagram

0 0 14

POSTER SEBAGAI SARANA EKSPRESI TERHADAP ISU SOSIAL DAN POLITIK (Analisis Semiotika Akun Instagram _asoy dalam Mengekspresikan Keadaan Sosial Politik Indonesia Melalui Media Poster di Ruang Publik Instagram)

0 0 15