RECONSTRUCTION PROCESS PLANNING REGULATORY FRAMEWORK IN THE REGIONAL AUTONOMY (STUDY IN THE FORMATION OF REGULATION IN THE REGENCY LAMPUNG MIDDLE ) REKONSTRUKSI PERENCANAAN PERATURAN DAERAH DALAM KERANGKA OTONOMI DAERAH (STUDI PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

ABSTRACT
RECONSTRUCTION PROCESS PLANNING REGULATORY FRAMEWORK
IN THE REGIONAL AUTONOMY
(STUDY IN THE FORMATION OF REGULATION IN THE REGENCY
LAMPUNG MIDDLE )
by:
CHOIRUN NISA
This study aims to look at the planning of local regulations by Act 12 of 2011 and
then reconstructed by building new construction by local planning documents to
see implementation in the Regency Lampung Middle . This study uses a
normative study , the method of data collection through the study of literature ,
and interviews . After the data is collected, the data is processed systematically
and qualitatively analyzed descriptively . The method used in this thesis is a
normative study with emphasis on the normative juridical approach that is based
on legislation and research methods of qualitative analysis . The results indicate
the need for discussion of new construction with the local planning regulations by
rearranging the vision and mission of local government , the substance of the
RPJM need dieraborasikan in Prolegda to produce products in accordance with the
laws of development policy in the field of legal substances in the Regency
Lampung Middle
Keywords : Reconstruction Planning , Local regulations

ABSTRAK
REKONSTRUKSI PERENCANAAN PERATURAN DAERAH DALAM
KERANGKA OTONOMI DAERAH
(STUDI PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DI KABUPATEN
LAMPUNG TENGAH)
Oleh:
CHOIRUN NISA
Studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan peraturan daerah
berdasarkan Undang-undang nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan
peraturan perundang-undang dan kemudian merekonstruksinya dengan
memperbaiki kontruksi baru berdasarkan dokumen perencanaan daerah dengan
melihat implementasinya di Kabupaten Lampung Tengah.
Dalam penelitian ini menggunakan Analisis data kualitatif yang menghasilkan
pengertian-pengertian, konsep-konsep dan Metode pendekatan yang digunakan
dalam penulisan tesis ini adalah yuridis normatif yaitu pendekatan berdasarkan
peraturan perundang-undangan serta pendekatan triangulasi dengan
mengkomunikasikan data penelitian yang telah disusun dengan informannya
untuk mengetahui apakah data yang ditemukan tersebut merupakan pernyataan
atau deskripsi sajian yang dapat mereka setujui sehingga peneliti dan informan
memiliki pemahaman yang sejalan terhadap data atau hasil yang telah diperoleh
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan metode
pengumpulan data melalui telaah kepustakaan, dan wawancara. Setelah data
terkumpul, maka data tersebut diolah secara sistematis dan dianalisis secara
deskriptif kualitatif.. Hasil pembahasan menunjukkan perlunya sinergi
perencanaan peraturan daerah dengan menata ulang berdasarkan visi misi
pemerintah daerah, muatan substansi, RPJMD perlu dieraborasikan dalam
prolegda untuk menghasilkan produk hukum yang sesuai dengan kebijakan
pembangunan dibidang substansi hukum di Kabupaten Lampung Tengah
Kata Kunci : Rekonstruksi Perencanaan, Peraturan daerah

REKONSTRUKSI PERENCANAAN PERATURAN DAERAH
DALAM KERANGKA OTONOMI DAERAH
(STUDI PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DI KABUPATEN
LAMPUNG TENGAH)
OLEH:

CHOIRUN NISA
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
MAGISTER HUKUM
Pada
Program Pasca Sarjana Magister Hukum
Fakultas Hukum Universitas Lampung

PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

REKONSTRUKSI PROSES PERENCANAAN PERATURAN
DAERAH DALAM KERANGKA OTONOMI DAERAH
DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH)
(Tesis)

OLEH:
CHOIRUN NISA

PROGRAM MAGISTER HUKUM
PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

REKONSTRIIKSI PROSf, S TERENCANAAN
PERATURAN DAERAH DALAM KERANGKA
OTONOMI DAETAfl DI KABUPATtrN
LAMPUNG TENGAE

Judui Tesis

:

l.Iama Ma'hasislva

:Chr*un

Nornor Pokok Mahasiswa

: l2220t1051

Program Kekhususan

: Hukum Keaegaraan

Program Studi

: Program Pascasarjana Magister Hukum

Fakultas

:

lYisa

Hukum

, -MENT'ETUJUI
Dosea Pembimbing

Dr- Yuswaato, S.8., M.fl,

dy, s-

Nip 19620514 198703 1003

Nip

19810

200312 1 001

MENGETAIIUI
Ketua Program Pascasarjana
,@eister Hukum Fakultas Hukum

ffiW
ar, S.H.,
4 198603

1

001

MEI{GESAHKA]\{
1. Tim Penguji

Pembimbing

1

:

Dr, Yuswanto, S,If., M,I{,

LL-M., LLD,

Pembimbingll

: Rudy, S.II.,

Penguji

: Dr. HS. Tisnanta,

Penguji

: Dr" Muhammad Akib, S.H., M.Ifum"

Peryqii

:

Dn Heryaudi, S.H., M.S.

akultas Hukurn

Jra*
^trr,,Dp:E.*

S.E, M-E.

eryandi, S.H., M.S.

{t%ztt{tg1987s3 1003
tg.Ftur Pro gram Pascasarj ana

28 198103

1

002

4- Tanggal Lulus Ujian : I4 Mei 2014

PERIIYATAAII

Dengan ini Saya menyatakan dengan sebenarnya
bahwa:

1'

Tesis ini denganjudul Rekonstruksi Perencanaan peraturan
daerah dalam

Kerangka otonomi Daerah di Kabupaten Lampung
Tengah .adalah kuryu
Saya sendiri dan Saya tidak merakukan penjiprakan
(pargiat) dari karya

penulis lain dengan cara yang tidak sesuai
dengan etika ilmiah yang
berlaku dalam akademik.

2. Hak intelektual atas krryu ilmiah ini

diserahkan sepenuhnya kepada

Universitas Lampung

Atas pernyataan ini apabila dikemudian hari ternyata
ditemukan ketidakbenaran,
Saya bersedia menanggung akibat dan sanksi yang
diberikan berdasarkan hukum
yang berlaku.

BandarLampung, Mei20l4

+EF,IH
Parrxffi/rcrxqrc;

W

Pembuat pernyataan

.A&,

oiio"ro\rrrkW qn

"*,/4

5giiffi @:r,oirun(i,a

r.{PM. 1222011051

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung Tanjung Karang pada
tanggal 6 Maret Tahun 1975 sebagai anak kedua dari lima
bersaudara dari Bapak Dailami HB, BSc dan Ibu Nuraini.
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN 28
Tanjung Agung Tanjung Karang Timur Bandar Lampung pada Tahun 1987,
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di tempuh di SMPN 4 Tanjung Karang
dan diselesaikan pada Tahun 1991, dan Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas
(SMA) di SMAN 1 Tanjung Karang pada Tahun 1994. Tahun 1994 penulis
terdaftar pada Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) melalui jalur Ujian
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) yang diselesaikan pada Tahun 1999.

Karir di bidang pekerjaan penulis mulai pada Tahun 2000 diterima bekerja di
Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Tengah melalui tes Calon Pegawai
Negeri Sipil Daerah (CPNSD) dan ditempatkan di Bagian Hukum Sekretariat
Daerah Kabupaten Lampung Tengah, pada Tahun 2006 penulis menjabat
Kasubbag Dokumentasi Hukum pada Bagian Hukum Sekretariat Daerah
Kabupaten Lampung Tengah, kemudian Tahun 2010 sebagai Kasubbag Bantuan
Hukum Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Tengah. Januari
2011 sampai sekarang penulis melaksanakan tugas sebagai Kasubbag PerundangUndangan di Bagian Hukum Sekretariat DPRD Kabupaten Lampung Tengah.

MOTTO

PENDIDIKAN MERUPAKAN PERLENGKAPAN PALING BAIK UNTUK HARI TUA
(ARISTOTELES)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tesis ini saya persembahkan kepada
Almamater saya Program Studi Pasca Sarjana Magister Hukum
Fakultas Hukum Universitas Lampung

Ayahanda Dailami,HB,Bsc & Ibunda Nuraini, serta Suami dan
anak-anak ku tercinta Fitri, Ami dan Mahdi

Keluarga Besar Program Pasca Sarjana Magister Hukum
Khususnya Angkatan 2012
Universitas Lampung

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................

i

ABSTRAK ..................................................................................................

ii

ABSTRAK ..................................................................................................

iii

HALAMAN PERSETUJUAN ....................................................................

iv

HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................

v

PERNYATAAN ..........................................................................................

vi

RIWAYAT HIDUP .....................................................................................

vii

MOTTO .......................................................................................................

viii

PERSEMBAHAN .......................................................................................

ix

KATA PENGANTAR .................................................................................

x

DAFTAR ISI ...............................................................................................

xi

DAFTAR TABEL .......................................................................................

xi

DAFTAR BAGAN ......................................................................................

xi

BAB I. Pendahuluan
A. Latar Belakang ....................................................................................

1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup......................................................

3

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ........................................................

4

D. Kerangka Konseptual ..........................................................................

4

BAB II. Tinjauan Pustaka
A. Pengertian Konstruksi .........................................................................

7

B. Pengertian Rekonstruksi .....................................................................

8

C. Desentralisasi dan Otonomi Daerah....................................................

9

D. Program Legislasi Daerah ..................................................................

18

E. Fungsi Hukum Sebagai Rekayasa Sosial ...........................................

20

BAB III. Metode Penelitian
A. Jenis Penelitian....................................................................................

25

B. Metode Pendekatan .............................................................................

26

C. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................

26

D. Pengumpulan dan Pengolahan Data....................................................

29

E. Analisis Data .......................................................................................

29

BAB IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Konstruksi Perencanaan Peraturan Daerah Dalam Undang- Undang
Nomor 12 Tahun 2011 ........................................................................

32

B. Rekonstruksi Perencanaan Perda Dalam Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2011..... ..............................................................................
C. Implementasi

Perencanaan Peraturan Daerah

38

di Kabupaten

Lampung Tengah ................................................................................

48

BAB V. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan .........................................................................................

70

B. Saran ...................................................................................................

72

Daftar Pustaka

DAFTAR TABEL
Tabel
1. Konstruksi Program Legislasi Daerah Tahun 2012 .........................................

35

2. Konstruksi Program Legislasi Daerah Tahun 2013 .........................................

35

3. Konstruksi Program Legislasi Daerah Tahun 2014 .........................................

36

4. Konstruksi dan Rekonstruksi Perencanaan Peraturan Daerah ................

45

5. Rekonstruksi Program Legislasi Daerah Tahun 2012 dan Keterkaitannya
dengan visi misi RPJMD Kabupaten Lampung Tengah .................................

46

6. Rekonstruksi Program Legislasi Daerah Tahun 2013 dan Keterkaitannya
dengan visi misi RPJMD Kabupaten Lampung Tengah ..................................

47

7. Rekonstruksi Program Legislasi Daerah Tahun 2014 dan Keterkaitannya
dengan visi misi RPJMD Kabupaten Lampung Tengah ..................................

48

8. Rekonstruksi Perda Tahun 2009 dan Dasar Pembentukannya .................

63

9. Rekonstruksi Perda Tahun 2010 dan Dasar Pembentukannya .................

64

10. Rekonstruksi Perda Tahun 2011 dan Dasar Pembentukannya ................

65

11. Rekonstruksi Perda Tahun 2012 dan Dasar Pembentukannya .................

66

12. Rekonstruksi Perda Tahun 2013 dan Dasar Pembentukannya.................

67

DAFTAR BAGAN
Bagan
1. Kerangka Hukum Konstruksi Perencanaan Prolegda ...............................

34

2. Konstruksi dan Rekonstruksi Perencanaan Perda ...................................

45

3. Klasifikasi Perda Kabupaten Lampung Tengah Periode 2012-2013 ........

68

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu unsur penting yang selalu mengiringi

implementasi kewenangan

otonomi daerah adalah pembentukan peraturan daerah. Kewenangan pembentukan
peraturan daerah ini merupakan

wujud adanya kemandirian daerah dalam

mengatur urusan pemerintahan daerah, karena

peraturan daerah merupakan

instrumen yang strategis dalam mencapai tujuan desentralisasi.

Keberadaan peraturan daerah dalam konteks otonomi daerah, pada prinsipnya
berperan mendorong desentralisasi secara maksimal.1 melalui peraturan daerah
dan birokrasi yang dibuat, pemerintah berupaya untuk mengatur organ-organ
pemerintahan untuk dapat mencapai tujuan desentralisasi. Dalam menjalankan
aktivitas pemerintahan tersebut pemerintah Kabupaten Lampung Tengah memiliki
visi yang menjadi pegangan. Visi yang dimiliki oleh pemerintah Kabupaten
Lampung Tengah adalah
“Terwujudnya Lampung Tengah sebagai “Bumi Agribisnis” yang maju, aman,
sejahtera, dan berwawasan lingkungan dengan pelayanan publik yang berkualitas
PRIMA”.

1 Reny Rawasita, et.al. “Menilai Tanggung Jawab Sosial Peraturan Daerah”. Jakarta: Pusat
Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), 2009. Hal. 60.

2

Sejalan dengan visi dan misi tersebut dalam mewujudkan good governance
pemerintah Kabupaten Lampung Tengah perlu merencanakan

peraturan-

peraturan atau membentuk regulasi yang dapat mewujudkan visi dan misi tersebut
dan dapat mencerminkan politik hukum serta arah kebijakan pembangunan
dibidang substansi hukum di Kabupaten Lampung Tengah

Pembangunan hukum melalui program legislasi daerah yang ada di Kabupaten
Lampung Tengah saat ini belum mengacu kepada Rencana Kerja Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) sehingga penyusunan program legislasi daerah perlu
direkonstruksi agar ada kesesuaian antara kebijakan (politik) hukum, dan proses
pembuatan peraturan daerah. Program legislasi daerah mencoba memasukkan
konsep kerangka perencanaan pembangunan sebagai salah satu tool (alat) dalam
mencapai tujuan-tujuan pembangunan salah satu cara yang akan dilakukan adalah
rekonseptualisasi tata cara pembentukan program legislasi daerah karena
penyusunan raperda di Kabupaten Lampung Tengah selama ini :
a. Tidak terkait dengan RPJM/Renstra SKPD;
b. DPRD dan SKPD

kesulitan untuk

mengusulkan

yang

sesungguhnya

dibutuhkan sehingga raperda yang diusulkan terkadang hanya sebagai prasyarat
memunculkan angka-angka dalam anggaran;
c. Tidak menjawab permasalahan pembangunan yang ada di Kabupaten Lampung
Tengah
d. Kurang mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat;
f. Munculnya perda yang tumpang tindih (tidak sinkron);

Berdasarkan uraian tersebut diatas penyusunan program legislasi daerah
hendaknya tidak hanya untuk kepentingan pembentukan peraturan daerah atau
sekedar menjalankan fungsi legislasi daerah semata, tapi lebih luas lagi terkait

3

dengan keseluruhan program pembangunan daerah. Oleh karena itu sesungguhnya
tidak ada alasan yang kuat bagi pemerintah daerah untuk tidak melakukan
penyusunan

program legislasi daerah yang bersinergi dengan dokumen

perencanaan daerah. Penting untuk dirumuskan konstruksi perencanaan peraturan
daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 serta bagaimana
implementasi perencanaan peraturan daerah di Kabupaten Lampung Tengah
sesungguhnya.

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup
B.1 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut?
1. Bagaimanakah konstruksi perencanaan Peraturan Daerah berdasarakan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 dalam kerangka otonomi daerah?
2. Bagaimanakah rekonstruksi perencanaan Peraturan Daerah berdasarakan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 dalam kerangka otonomi daerah?
3. Bagaimanakah implementasi pembentukan Peraturan Daerah di Kabupaten
Lampung Tengah?

B.2 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi kajian yang berkenaan dengan proses
perencanaan peraturan daerah berdasarakan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan dalam
kerangka otonomi daerah terutama tentang implementasi perencanaan
peraturan daerah di Kabupaten Lampung Tengah.

4

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di muka, maka tujuan
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui konstruksi perencanaan Peraturan Daerah berdasarakan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 dalam kerangka otonomi daerah
2. Untuk mengetahui rekonstruksi perencanaan Peraturan Daerah berdasarakan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 dalam ke rangka otonomi daerah
3. Untuk mengetahui implementasi perencanaan Peraturan Daerah

di

Kabupaten Lampung Tengah

C.1 Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis diharapkan dapat menambah wawasan dalam

membenahi

sistem perencanaan peraturan daerah berdasarakan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2011 dalam rangka otonomi daerah;
2. Secara praktis diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan acuan bagi praktisi
bagaimana sesungguhnya implementasi perencanaan peraturan daerah di
Kabupaten Lampung Tengah.

D. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah susunan dari beberapa konsep sebagai suatu
kebulatan utuh, sehingga terbentuk suatu wawasan untuk dijadikan landasan,
acuan dan pedoman dalam penelitian atau penulisan konsep diartikan sebagai kata
yang menyatakan abstrak yang digeneralisasi dari hal-hal yang khusus, yang

5

disebut dengan difinisi operasional2
1. Konstruksi adalah landasan, tata cara atau pola-pola hubungan yang ada di
dalam suatu system yang membentuk suatu proses kerja3
2. Rekonstruksi adalah pembaharuan system atau landasan4
3. Perda adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah
(gubernur atau bupati/wali kota).5
4. Rencana Pembanguna Jangka Menengah

adalah dokumen perencanaan

pemerintah daerah untuk periode 5 (lima) tahun yang memuat penjabaran dari
visi, misi, dan program dari kepala daerah terpilih sesuai masa bhakti Kepala
Daerah terpilih. Program dan kegiatan yang direncanakan sesuai urusan
pemerintah

yang

menjadi

batas

kewenangan

daerah,

dengan

mempertimbangkan kemampuan/ kapasitas keuangan daerah.6
5. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir
periode perencanaan.7
6. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan
untuk mewujudkan visi8

2

Sumadi Suryabrata, Metodologi penelitian, Raya Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hlm 3
Alwi, hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT. Balai
Pustaka
4 B.N. Marbun, 1996, Kamus Politik, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal.469.
5 Pasal 1 angka 8 Undang-Undang No 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan
6 Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No 17 Tahun tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang
7 Pasal 1 angka 9 Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
8 Pasal 1 angka 13 Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 Sistem Perencanaan
Pembangunan nasional
3

6

7. Desentralisasi adalah penyerahan kewenangan pemerintah oleh pemerintah
kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.9
8. Otonomi daerah adalah hak,wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan10
9. Program legislasi daerah (Prolegda) adalah instrumen perencanaan program
pembentukan peraturan daerah yang disusun secara berencana, terpadu dan
sistematis antara DPRD dan Pemerintah Daerah.11
10.

Perencanaan adalah proses dalam menyiapkan seperangkat keputusan
mengenai tindakan di kemudian hari yang ditujukan untuk mencapai tujuan –
tujuan dengan menggunakan cara – cara yang optimal12

Pasal 1 angka 9 Undang – undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan
10 Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
11
Pasal 1 angka 10 Undang – undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan
12 lihat petrus memperbandingkan definisi perencanaan pembangunan dari beberapa
ahli, mengemukakan perencanaan sebagai berikut bahwa perencanaan berarti pemikiran
maju (masa depan); perencanaan berarti mengontrol masa depan; perencanaan adalah
pengambilan keputusan; perencanaan adalah pengambilan keputusan terintegrasi;
perencanaan adalah proses terformalisasi untuk menghasilkan hasil yang terartikulasi dalam
bentuk sistem yang terintegrasi dalam keputusan – keputusan yang ada 2002: hlm 8
9

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
A.1 Pengertian Konstruksi

Sebelum mendefisinikan rekonstruksi, terlebih dahulu peneliti akan menjelaskan
pengertian konstruksi dalam judul penelitian ini, karena kata konstruksi pada
rekonstruksi merupakan kata yang menerangkan kata rekonstruksi itu sendiri
Tujuannya adalah agar dapat mengetahui jelas perbedaan-perbedaan dari maknamakna tersebut, sehingga

mampu memberikan pemahaman

maksud dari

penelitian ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, konstruksi adalah
susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata. Makna suatu kata
ditentukan oleh kostruksi dalam kalimat atau kelompok kata22. Menurut Sarwiji
yang dimaksud dengan makna konstruksi (construction meaning) adalah makna
yang terdapat dalam konstruksi kebahasaan23. Jadi, makna konstruksi dapat
diartikan sebagai makna yang berhubungan dengan kalimat atau kelompok kata
yang ada didalam sebuah kata dalam kajian kebahasaan. Konstruksi dapat juga
didefinisikan sebagai susunan (model, tata letak) suatu bangunan (jembatan,
22

Alwi, hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT. Balai
Pustaka
23
Suwandi, Sarwiji. 2008. Semantik Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa

8

rumah, dan lain sebagainya24
Kata konstruksi ini dalam kenyataannya adalah konsep yang cukup sulit untuk
dipahami dan disepakati kata konstruksi mempunyai beragam interpretasi, tidak
dapat didefinisikan secara tunggal, dan sangat tergantung pada konteksnya.
Beberapa definisi konstruksi berdasarkan konteksnya perlu dibedakan atas dasar :
proses, bangunan, kegiatan, bahasa dan perencanaan.
Dari beberapa uraian diatas definisi makna konstruksi dalam kontkes
hubungannya dengan penelitian ini memiliki arti suatu bentuk, tata cara atau
secara lebih luas merupakan pola-pola hubungan yang ada di dalam suatu system
yang membentuk suatu proses kerja dalam hal ini proses perencanaan peraturan
daerah

B. Pengertian Rekonstruksi

Pembaharuan atau rekonstruksi secara terminologi memiliki berbagai macam
pengertian, dalam perencanaan pembangunan nasional sering dikenal dengan
istilah rekonstruksi. Rekonstruksi memiliki arti bahwa “re” berarti pembaharuan
sedangkan „konstruksi‟ sebagaimana penjelasan diatas memiliki arti suatu system
atau bentuk. Beberapa pakar mendifinisikan rekontruksi dalam berbagai
interpretasi B.N Marbun mendifinisikan secara sederhana penyusunan atau
penggambaran kembali dari bahan-bahan yang ada dan disusun kembali
sebagaimana adanya atau kejadian semula

25

, sedangkan menurut

James P.

Chaplin Reconstruction merupakan penafsiran data psikoanalitis sedemikian rupa,
24

Pusat Bahasa (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai

Pustaka
25

B.N. Marbun, 1996, Kamus Politik, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal.469.

9

untuk menjelaskan perkembangan pribadi yang telah terjadi, beserta makna
materinya yang sekarang ada bagi individu yang bersangkutan26

Salah satunya seperti yang disebutkan Yusuf Qardhawi rekonstruksi itu mencakup
tiga poin penting, yaitu pertama, memelihara inti bangunan asal dengan tetap
menjaga watak dan karakteristiknya. Kedua, memperbaiki hal-hal yang telah
runtuh dan memperkuat kembali sendi-sendi yang telah lemah. Ketiga,
memasukkan beberapa pembaharuan tanpa mengubah watak dan karakteristik
aslinya. Dari sini dapat dipahami bahwa pembaharuan bukanlah menampilkan
sesuatu yang benar-benar baru, namun lebih tepatnya merekonstruksi kembali
kemudian menerapkannya dengan realita saat ini27.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat peneliti simpulkan maksud rekonstruksi
dalam penelitian ini adalah pembaharuan system atau bentuk. Berhubungan
dengan rekonstruksi

perencanaan program legislasi daerah maka yang perlu

dibaharui adalah system perencanaan yang lama digantikan dengan aturan main
yang baru. Rekonstruksi tersebut inilah yang nantinya akan menjadi pedoman
atau panduan dalam perencanaan pembuatan rancangan peraturan daerah.

C. Desentralisasi dan Otonomi Daerah
C.1 Desentralisasi
Desentralisasi secara etimologis menurut Koesoematmadja dalam

26
27

Juanda

James P. Chaplin, 1997, Kamus Lengkap Psikologi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal.421
Yusuf Qardhawi dalam Problematika Rekonstruksi Ushul Fiqih, 2014 Al-Fiqh Al-Islâmî bayn
Al-Ashâlah wa At-Tajdîd, Tasikmalaya,

10

menjelaskan istilah desentralisasi berasal dari bahasa latin yaitu de = lepas dan
centrum = pusat. Jadi, berdasarkan peristilahannya desenteralisasi adalah
melepaskan dari pusat. Namun demikian definisi desentraliasi itu sendiri
mempunyai makna yang beragam dari pemikiran para sarjana.

Person

mendefinisikan

antara

desentralisasi

itu

sebagai

pembagian

kekuasaan

pemerintahan dari pusat dengan kelompok lain yang masing- masing mempunyai
wewenang ke dalam suatu daerah tertentu dari suatu negara.28

Selanjutnya menurut

Rondinelli dan Cheema mendefinisikan desentalisasi

merujuk perspektif yang lebih luas, tetapi tergolong persepektif administrasi,
yaitu perpindahan, perencanaan, pengambilan keputusan, atau kewenangan
administrasi dari pemerintah pusat keorganisasi bidangnya, unit administrasi
daerah semi otonom dan organisasi para staf pemerintah daerah atau organisasiorganisasi non pemerintah.29
Rondenelli dan Chreema membagi empat tipe desentralisasi 30yaitu :
a. Desentralisasi yaitu : distribusi wewenang administrasi di dalam

struktur

pemerintahan Pasal 1 ayat (1) UUD 1945 menyatakan, „Negara Indonesia
ialah

Negara Kesatuan yang berbentuk

Republik.‟

delegasi yaitu :

mendelegasian otoritas manajemen dan pengambilan keputusan atas fungsifungsi tertentu yang sangat spesifik, kepada organisasi-organisasi yang secara
langsung tidak di kontrol pemerintah;
b. Devolusi yaitu: penyerahan fungsi dan otoritas dari pemerintah pusat kepada
daerah otonom;
28

Juanda, Hukum Pemerintahan Daerah, Pasang Surut Hubungan Kewenangan
Antara DPRD Dan Kepala Daerah, PT Alumni Bandung 2008. hlm 21
29 Ibid hlm 116
30 Ibid hlm 117

11

c. Swastanisasi adalah penyerahan beberapa otoritas dalam perencanaan dan
tanggung jawab administrasi tertentu kepadn aorganisasi swasta.

Kemudian Amrah Muslimin ,membedakan desentralisasi menjadi desentralisasi
politik,

desentralisasi

fungsional,

dan

desentralisasi

kebudayaan,

Desentralisasi politik adalah pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat, yang
menimbulkan hak mengurus kepentingan rumah tangga sendiri bagi badan-badan
politik di daerah-daerah, yang dipilih oleh rakyat dalam daerah tertentu,
sedangkan desentralisasi fungsional adalah pemberian hak dan kewenangan pada
golongan-golongan mengurus suatu macam atau golongan kepentingan dalam
masyarakat, baik terikat ataupun tidak pada suatu daerah tertentu. Selanjutnya
desentralisasi kebudayaan yaitu memberikan hak pada golongan-golongan kecil
dalam masyarakat minoritas menyelenggarakan kebudayaan sendiri (mengatur
pendidikan, agama, dan lain lain)31
1.

Landasan konstitusional dari desentralisasi dalam tatanan pemerintah
Indonesia adalah pada ayat (5) dan ayat (6) dalam pasal 18 Undang-Undang
Dasar 1945 yang memberikan kewenangan pemerintah daerah menjalankan
otonomi seluas luasnya, kecuali urusan pemerintah yang oleh undang-undang
ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berhak
menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi
dan tugas pembantuan.

Di dalam otonomi daerah tidak saja kewenangan desentralisasi saja yang
diberikan, akan tetapi juga pemberian kewenangan dekonsentrasi sebagaimana

31

Ibid hlm 121

12

ketentuan dalam pasal 1 butir 8 Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
pemerintah daerah yang berbunyi : Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang
pemerintahan oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan
/atau kepada Instansi vertikal di wilayah tertentu. Serta dalam pasal I butir 9 yang
berbunyi: tugas pembantuan/Medebewind adalah penugasan dari pemerintah
kepada daerah dan/atau desa,dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota
dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk
melaksanakan tugas tertentu.
Selanjutnya pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menyatakan,‟ Negara Kesatuan
Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas
kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten dan kota itu mempunyai
pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.

Artinya, Negara

Kesatuan Republik Indonesia menurut UUD 1945 adalah desentralisasi, bukan
sentralisasi sehingga pemerintahan daerah diadakan dalam kaitan desentralisasi.
Dalam kerangka desentralisasi menurut Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 pemerintah
daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintah yang oleh
Undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintahan pusat. Dengan kata lain
dapat dikatakan bahwa bentuk negara Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang dijalankan berdasarkan desentralisasi, dengan otonomi
yang seluas-luasnya.

Terjadinya negara kesatuan yang sentralistik banyak menimbulkan dampak dampak negatif yang tidak mengarah kepada peningkatan kesejahteraan
masyarakat secara berkelanjutan. Sentralisasi kekuasaan tidak memberikan

13

insentif kepada daerah- daerah untuk meningkatkan produktivitasnya, maupun
dalam memelihara sumberdaya dasar wilayah kearah berkelanjutan oleh karena itu
adanya wacana desentralisasi, kekuasaan pusat yang dilimpahkan kepada daerah
daerah otonom, diharapkan akan memperbaiki kinerja ekonomi secara lebih
produktif dan berkelanjutan di masa depan
Pasal 18 ayat (6) UUD 1945 menetapkan,‟ Pemerintahan daerah berhak
menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan
otonomi dan tugas pembantuan artinya, peraturan daerah merupakan sarana
legislasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Perda disini adalah aturan
daerah dalam arti materiil (perda in

materieele zin) yang bersifat mengikat

(legally binding) warga dan penduduk daerah otonom.

C.2 Konsep Otonomi Daerah

Istilah otonomi berasal dari bahasa yunani yaitu autos = sendiri dan nomos =
Undang-undang, yang berarti perundangan sendiri (Izelf Wetgeving) yang
mendefinisikan otonomi sebagai kemandirian untuk mengatur dan mengurus
urusan rumah tangganya sendiri.
Ide otonomi daerah lahir sebagai suatu sikap yang melihat bahwa perubahan
global sebagai peluang untuk membangun ekonomi negara melalui pemanfaatan
potensi lokal (regional opportunity). Oleh sebab itu, pemerintah daerah akan
semakin berperan dalam pembangunan daerah, sehingga harus mampu
memanfaatkan potensi sumber daya yang dimilikinya seoptimal mungkin dalam

14

rangka mencapai tujuan pembangunan yang paling hakiki yaitu peningkatan
kesejahteraan masyarakat.
Otonomi daerah adalah keleluasaan dalam bentuk hak dan kewenangan serta
tanggung jawab badan pemerintah untuk mengatur dan mengurus rumah tangga
daerahnya

sebagai

manivestasi

desentralisasi.

Defenisi

lebih

sederhana

disampaikan oleh Mahwood dalam Agusniar32 yaitu kebebasan dari pemerintah
daerah dalam membuat dan mengimplementasikan keputusan. otonomi daerah
adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. 32 Tahun 2004).

Pemberian otonomi kepada daerah menurut Bratakusumah dan Riyadi33
merupakan upaya pemberdayaan dalam rangka mengelola pembangunan di
daerahnya. Kreativitas, inovasi dan kemandirianlah diharapkan akan dimiliki oleh
setiap daerah, sehingga dapat mengurangi tingkat ketergantungan pada pemerintah
Hal penting lain adalah dengan adanya otonomi daerah, kualitas pelayanan yang
dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakatnya akan meningkat.
32

Agusniar Menggali Potensi dalam mewujudkan Otonomi Daerah.2006
Riyadi, Bratakusuma “perencanaan pembangunan daerah strtategi menggali potensi
dalam meningkatkan otonomi daerah Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003 hlm 122
33

15

Sesuai asas desentralisasi daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan
daerah untuk mengatur urusan pemerintahannya sendiri. Kewenangan daerah
mencakup seluruh kewenangan dalam bidang pemerintahan, kecuali bidang
politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional,
dan agama yang diatur dalam ketentuan Pasal 10 ayat (3) UU Nomor 32 Tahun
2004.

Urusan wajib yang menjadi kewenangan daerah diatur dalam ketentuan Pasal 13
dan Pasal 14 yang telah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah 38 tahun
2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah

Provinsi,

dan

Pemerintah

Kabupaten/Kota.

Dalam

rangka

penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Pemerintah juga telah menetapkan
Peraturan Pemerintah No.41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Untuk
menjalankan urusan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah tersebut, Pemerintah Daerah memerlukan perangkat

peraturan

perundang‐undangan.
Pasal 18 ayat (6) UUD 1945 yang menyatakan ”Pemerintahan Daerah berhak
menetapkan

Peraturan

Daerah

dan

peraturan-peraturan

lain

untuk

melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”. Ketentuan Konstitusi tersebut
dipertegas dalam Undang - Undang 12 tahun 2011 yang menyatakan jenis dan
hierarki peraturan perundang-undangan terdiri dari34:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
34

Pasal 7 Undang-Undang 12 tahun 2011

16

3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
4. Peraturan Pemerintah;
5. Peraturan Presiden;
6. Peraturan Daerah propinsi;
7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud di atas diakui
keberadaannya

dan

mempunyai

kekuatan

hukum

mengikat

sepanjang

diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.

Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki
nya . Peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya atau
derajatnya. Sesuai asas hierarki dimaksud peraturan perundang-undangan
merupakan satu kesatuan sistem yang memiliki ketergantungan, keterkaitan satu
dengan yang lain. Untuk itu Perda dilarang bertentangan dengan

peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda harus didasarkan pada Pancasila
yang merupakan sumber dari segala sumber hukum negara35

Kedudukan Perda juga dapat ditinjau dari aspek kewenangan membentuk Perda.
Pasal 1 angka 8 Undang-Undang 12 tahun 2011 menyatakan bahwa: “Peraturan
Perundang-ndangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga

35

Pasal 2 Undang-Undang 12 tahun 2011, UUD 1945 yang merupakan hukum dasar
dalam pembentukan peraturan perundang-undangan (Pasal 3 ayat (1) UU 12 tahun 2011, asas‐asas
pembentukan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 undang-Undang 12 tahun
2011 jo Pasal 137 Undang-Undang 32 tahun 2004.

17

negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum”. Kewenangan
pembentukan Peraturan Daerah berada pada Kepala Daerah dan DPRD36.

Memperhatikan ketentuan mengenai Perda dimaksud, dapat disimpulkan bahwa
Perda mempunyai berbagai fungsi antara lain sebagai instrumen kebijakan di
daerah untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan sebagaimana
diamanatkan dalam UUD 1945 dan Undang-Undang Pemerintahan Daerah namun
Perda tersebut pada dasarnya merupakan peraturan pelaksanaan dari PUU yang
lebih tinggi. Selain itu Perda dapat berfungsi sebagai istrumen kebijakan untuk
penampung kekhususan dan keragaman daerah serta penyalur aspirasi masyarakat
di daerah, namun dalam pengaturannya tetap dalam koridor Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Pemerintahan

daerah yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar1945 dalam

Pasal (18) ini bukan saja Gubernur, Bupati dan Walikota, akan tetapi termasuk di
dalamnya adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Peraturan daerah
yang dibentuk oleh Pemerintahan Daerah baik Gubernur, Bupati, Walikota
bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, pada dasarnya mempunyai
fungsi:
a. Sebagai instrumen kebijakan untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas
pembantuan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara

36

Hal ini sesuai Undang-Undang 32 tahun 2004 Pasal 25 huruf c bahwa Kepala Daerah
mempunyai tugas dan wewenang menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama
DPRD dan Pasal 42 ayat (1) huruf a bahwa DPRD mempunyai tugas dan wewenang membentuk
Perda yang di bahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan bersama dan Pasal 136
ayat (1) bahwa perda ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan bersama
DPRD.

18

Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang tentang
Pemerintahan Daerah;
b. Merupakan peraturan pelaksana dari Peraturan Perundang-undangan yang
lebih tinggi; dalam fungsi ini, Peraturan Daerah tunduk pada ketentuan
hierarki peraturan perundang-undangan, dengan demikian Peraturan Daerah
tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih
tinggi.
c. Sebagai penampung kekhususan dan keragaman daerah serta penyalur aspirasi
masyarakat di daerah, namun dalam pengaturannya tetap dalam koridor
Negara kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan
d. Sebagai alat pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan daerah.37

D. Program Legislasi Daerah
A.A. Oka Mahendra38 mengemukakan bahwa ada beberapa alasan obyektif
mengapa Prolegda diperlukan dalam proses pembentukan Peraturan Daerah :
1. Memberikan

gambaran

obyektif

tentang

kondisi

umum

mengenai

permasalahan pembentukan Peraturan Daerah;
2. Menetapkan skala prioritas penyusunan rancangan Peraturan Daerah untuk
jangka panjang, menengah atau jangka pendek sebagai pedoman bersama
dalam pembentukan Peraturan Daerah;
3. Menyelenggarakan sinergi antar lembaga yang berwenang membentuk
Peraturan Daerah;
37

Dirjen
Peraturan
perundang
undangan,
Panduan
Praktis
Memahami
PerancanganPeraturan Daerah, Penerbit Caplet Project 2008. hlm. 7
38
Oka Mahendra, ”mekanisme Penyusunan dan Pengelolaan Program Legislasi Daerah”.
Dalam Jurnal Legislasi Indonesia, Dirjen KUMHAM RI, 2006, hlm 6.

19

4. Mempercepat proses pembentukan peraturan daerah dengan memfokuskan
kegiatan penyusunan rancangan

peraturan daerah menurut skala prioritas

yang ditetapkan;
5. Menjadi sarana pengendali kegiatan pembentukan peraturan daerah.
Melihat kelima alasan objektif yang dikemukakan Oka Mahendra tersebut di atas
maka secara prosedur formal, seluruh proses penyusunan produk hukum daerah
adalah sesuatu yang sangat penting bagi pemerintah daerah untuk mendapatkan
gambaran obyektif tentang kondisi umum mengenai permasalahan pembentukan
peraturan daerah di Kabupaten Lampung Tengah.

Program legislasi juga dapat dimaknai sebagai strategi perbaikan politik dalam
legislasi, baik dalam aspek proses maupun substansi. Pada aspek proses yang
perlu mendapatkan perhatian adalah transpalansi dan pelibatan pemangku
kepentingan dalam pembentukan peraturan perundangan, sedangkan dari aspek
substansi adalah memastikan bahwa peraturan daerah tidak bertentangan dengan
konstitusi serta tidak terjadi tumpang tindih dan disharmonisasi satu dengan
lainnya.39

Perencanaan pembentukan perda berhubungan erat dengan perencanaan
pembangunan daerah, prolegda merupakan legal framework pembangunan hukum
daerah

dalam

distribusi

.Mengimplementasikan

sumber

daya

secara

Undang-Undang Nomor 12

efisien

dan

adil

tahun 2011 tentang

pembentukan peraturan perundang- undangan di Kabupaten Lampung Tengah
maka kegiatan prolegda secara efektif dapat dimulai pada akhir tahun dengan
39 BAPPENAS Strategi Nasional Akses terhadap Keadilan, Mei 2009, www.
Bapenas.go.id

20

diawali

dengan melakukan kajian-kajian guna menginventarisasi raperda yang

akan ditetapkan pada tahun berikutnya.

Selain itu diatur pula bagaimana

pengkoordinasian untuk sinkronisasi rancangan peraturan daerah hak prakarsa
DPRD dengan rancangan peraturan daerah usulan eksekutif (dari bupati) untuk
dituangkan dalam program legislasi daerah.

Pembentukan peraturan daerah merupakan bagian integral dalam pembangunan
daerah perlu menyesuaikan dengan kerangka perencanaan pembangunan daerah
yaitu terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPD), Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah daerah
(RKPD). Anggota DPRD secara individual

dituntut tanggung jawab untuk

menghasilkan produk legislasi yang benar-benar berkualitas sesuai dengan
dokumen perencanaan pembangunan, sinergi serta benar-benar berorientasi pada
kebutuhan masyarakat.

E. Fungsi Hukum sebagai Rekayasa Sosial

Berbicara tentang fungsi hukum, maka yang menjadi pokok kajian adalah sejauh
mana hukum dapat memberikan peranan yang positif dalam masyarakat, baik
dalam arti terhadap setiap individu, maupun dalam arti masyarakat secara
keseluruhan hukum sebagai kaidah, atau hukum sebagai teori.

Hukum dalam pengertian Pound dimaknai sebagai sarana untuk melakukan
pembaruan di masyarakat. gagasan Pound ini diadopsi

oleh Mochtar

Kusumaatmadja yang mengemukakan satu teori yang juga berangkat dari gagasan
bahwa hukum mesti difungsikan sebagai sarana rekayasa sosial, yang disebutnya

21

teori hukum pembangunan. Penelitian ini berupaya menjabarkan teori hukum
pembangunan Mochtar Kusumaatmadja dan relevansinya di masa kini. Teori
hukum pembangunan pertama kali diwacanakan Mochtar Kusumaatmadja teori
itu jauh-jauh hari sudah dimasukkan dalam materi hukum dalam Pelita I40
Dalam hubungan ini, banyak ahli yang telah mengemukakan pendapatnya, seperti
Lawrence M. Friedman yang dikutip oleh Soleman B. Taneko41 yang menyatakan
bahwa fungsi hukum itu meliputi :
1. Pengawasan/Pengendalian Sosial (Social Control).
2. Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement).
3. Rekayasa Sosial (Social Engineering, Redistributive, atau Innovation)”.

Disini nampak bahwa menurut ahli tersebut di atas, pada dasarnya hukum
mempunyai tiga fungsi yang harus diperankan dalam suatu masyarakat. Dalam
hubungan ini, juga oleh Soerjono Soekanto mengemukakan fungsi hukum yang
terdiri dari42 :

1. Untuk memberikan pedoman kepada warga masyarakat, bagaimana mereka
harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah-masalah
dalam masyarakat yang terutama menyengkut kebutuhan-kebutuhan pokok.
2. Untuk menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.
3. Memberikan pegangan kepada masyarakat yang bersangkutan untuk
mengadakan pengendalian sosial (Social Control)“.

40

Atmasasmita, Romli. 2012. Teori Hukum Integratif: Rekonstruksi terhadap Teori
Hukum Pembangunan dan Teori Hukum Progresif. Yogyakarta: Genta Publshing
41 TANEKO, Soleman B. Pokok-Pokok Studi Hukum Dalam Masyarakat, PT. Raja
Grafindo Persada 1992 hlm 37
42 Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Rajawali Pers, Alumni, Bandung,
1992

22

Fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial yang semakin penting dalam era
pembangunan ditegaskan pula oleh Muchtar Kusumaatmadja seperti yang
dikutip oleh Soleman B. Taneko43 mengemukakan bahwa “Di Indonesia
fungsi hukum di dalam pembangunan adalah sebagai sarana pembangunan
masyarakat. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa adanya ketertiban
dalam pembangunan merupakan suatu yang dianggap penting dan sangat
diperlukan. Di samping itu, hukum sebagai tata kaidah dapat berfungsi untuk
menyalurkan arah-arah kegiatan warga masyarakat ke tujuan yang
dikehendaki oleh perubahan tersebut. Sudah tentu bahwa fungsi hukum di
atas seyogianya dilakukan, di samping fungsi hukum sebagai sistem
pengendalian sosial”.
Ini berarti bahwa disamping fungsi hukum sebagai alat pengendalian sosial, juga
salah satu fungsi lainnya yang sangat penting dan bahkan justru harus
dilaksanakan dalam era pembangunan, adalah fungsinya sebagai alat rekayasa
sosial. Tentu saja sebagai alat rekayasa harus diarahkan kepada hal-hal yang
positif dan bukan sebaliknya.

Jika kita menelaah kedua pendapat yang dikemukakan di atas mengenai fungsi
hukum, maka pada dasarnya kedua pendapat tersebut adalah sama, kendatipun
dalam formulasi yang berbeda. Secara kuantitatif fungsi hukum yang terdiri tiga
seperti tersebut di atas, oleh Soleman B. Taneko, justru mengemukakan fungsi
hukum mencakup lebih dari tiga jenis seperti ungkapannya yang menyatakan
bahwa fungsi hukum yang dimaksudkan antara lain meliputi
43

Soleman B. Taneko, Pokok-Pokok Studi Hukum dalam Masyarakat, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 1993), hlm. 36

23

1. Memberikan

pedoman/pengarahan

pada

warga

masyarakat

untuk

berperilaku.
2. Pengawasan/Pengendalian sosial (Social Control).
3. Penyelesaian sengketa (Dispute Settlement).
4. Rekayasa sosial (Social Engineering)“.

Kendatipun dalam pendapat yang terakhir menyebutkan empat fungsi hukum,
yaitu sebagai rekayasa sosial, pada dasarnya tercakup atau inklusif pada fungsi
hukum lainnya. Dikatakan demikian, karena fungsi hukum sebagai pedoman atau
pengarahan masyarakat, akan berdampak pula sebagai upaya untuk melakukan
perubahan dalam masyarakat, sebagaimana makna fungsi hukum sebagai alat
rekayasa sosial.

Dengan demikian, kiranya dapat dimaklumi, bahwa hukum di tengah-tengah
masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting, terutama dilihat dari segi
fungsi yang diembannya, dan diarahkan kepada terciptanya suatu kondisi yang
sangat diperlukan oleh masyarakat dalam pergaulan hidupnya.

Suatu masyarakat di manapun di dunia ini, tidak ada yang statis. Masyarakat
manapun senantiasa mengalami perubahan, hanya saja ada masyarakat yang
perubahannya pesat dan ada pula yang lamban. Di dalam menyesuaikan diri
dengan perubahan itulah, fungsi hukum sebagai a tool of engineering, sebagai
perekayasa sosial, sebagai alat untuk merubah masyarakat ke suatu tujuan yang
diinginkan bersama, sangat berarti.

24

Hukum sangat dipengaruhi oleh ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya. tidak
hanya sekedar kemauan pemerintah. Suatu logika yang terbuka, perkembangan
kebutuhan masyarakat sangat mempengaruhi pertumbuhan hukum di dalam
masyarakat. Politik sangat mempengaruhi pertumbuhan hukum di dalam
masyarakat.44

Hukum berasal dari pemerintah dalam hal ini menurut Bismar Nasution apa yang
disebutnya dengan top down. Pemerintah disini dalam konteks badan eksekutif.
jika dilihat dalam konteks pemerintah daerah, hasilnya yaitu Perda, Keputusan
Kepala Daerah, Keputusan Kepala Daerah Kabupaten Kota, Peraturan Desa.

Hukum itu berperan untuk merubah keadaan masyarakat seperti apa yang
diinginkan hukum tersebut. Hukum dapat melakukan perubahan secara paksa.
Agar mencapak kondisi yang diinginkan oleh hukum.45

Terkait dengan uraian tersebut diatas rencana program dan kegiatan lima tahunan
yang diuraikan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) yang merupakan hasil kesepakatan seluruh unsur pelaku pembangunan
di Kabupaten Lampung Tengah adalah sebuah dokumen yang merupakan alat
(tool) bagi pemerintah daerah sebagaimana yang dimaksud dalam pandangan
Roscoe Pound.

44

Mahmul Siregar. Modul Perkuliahan Teori Hukum : Teori-Teori Hukum Sociological
Jurisprudence. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 2008.
45
Bismar Nasution. Catatan perkuliahan politik hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas
Sumatera Utara. 2008

25

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif karena dalam
pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti dan data yang
diperoleh.

Penelitian

deskriptif

merupakan

penelitian

yang

berusaha

mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau
hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung,
akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Fenomena disajikan secara apa adanya hasil penelitiannya diuraikan secara jelas
dan gamblang oleh karena itu penelitian ini tidak adanya suatu hipotesis tetapi
adalah pertanyaan penelitian.

Berdasarkan sifatnya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.
Penelitian ini bersifat deskriptif karena penelitian ini dimaksudkan untuk
memberikan data

tentang rekonstruksi pembentukan perda menurut Undang-

Undang Nomor 12 Tahun 2011 serta implementasi pembentukan peraturan daerah
dalam kerangka otonomi daerah di Kabupaten Lampung Tengah. Selain itu,
bersifat kualitatif karena memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah yang
mendasari perwujudan system hukum yang ada dalam proses perencanaanya,
sehingga dapat diperoleh data kualitatif yang merupakan sumber dari deskripsi

26

yang luas, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam
proses pembentukan peraturan daerah tersebut.

B. Metode Pendekatan

Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan dengan metode
a. Pendekatan yuridis normatif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan
menganalisis teori-teori, konsep-konsep, pand

Dokumen yang terkait

Dokumen baru