GldocConverterlS7oCo

Pengalaman Pengobatan Pasangan Infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan
SKRIPSI
oleh Desy Deria Tanjung
111101105
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015
Universitas Sumatera Utara

Pengalaman Pengobatan Pasangan Infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan
SKRIPSI
oleh Desy Deria Tanjung
111101105
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015
i Universitas Sumatera Utara

ii Universitas Sumatera Utara

iii Universitas Sumatera Utara

iv Universitas Sumatera Utara

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengalaman Pengobatan Pasangan Infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan” untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Nur Afi Darti, S.Kp, M.Kep selaku pembimbing yang banyak meluangkan waktu, pikiran, memberikan pengarahan dan bimbingan, motivasi serta saran dan kritik yang membangun kepada penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. Beliau telah memberikan bimbingan, koreksi dan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.
Dalam proses penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak khususnya kepada kedua orangtua tercinta ayahanda Henry Marfin Tanjung dan ibunda Nurmaida Nainggolan atas doa, semangat, pengorbanan dan ketulusan dalam mendampingi penulis. Semoga Tuhan semakin melimpahkan berkatNya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada abang Frances Jesaya Tanjung dan adik Deny Tri Arta Tanjung serta teman-teman yang terkasih Tabita, Loravina, Friska, Zevelyn, Junjungan dan Wanda yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas segala perhatian, motivasi serta doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Semoga Tuhan semakin melimpahkan kasih dan anugerahNya.
v Universitas Sumatera Utara

Penulis juga menyadari masih terdapat kekurangan dalam skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan profesi keperawatan serta kepada pasangan infertilitas yang berusaha tetap melakukan pengobatan untuk mendapatkan anak. Semoga karya kecil ini dapat bermanfaat untuk kita semua
Medan, Juli 2015 Penulis
Desy Deria Tanjung
vi Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman Judul...................................................................................................... i Halaman Pengesahan........................................................................................... ii Prakata................................................................................................................. iii Daftar isi.............................................................................................................. iv Abstrak..................................................................................................................v
BAB 1. PENDAHULUAN.................................................................................................. 1 1. Latar Belakang.................................................................................................. 1 2. Rumusan Masalah................................................................................. 6 3. Tujuan Penelitian.................................................................................. 6 4. Manfaat Penelitian................................................................................ 6 4.1 Bagi Pendidikan Keperawatan........................................................ 6 4.2 Bagi Praktik Keperawatan............................................................... 6 4.3 Bagi Penelitian Keperawatan.......................................................... 6
BAB 2. TINJAUAN TEORITIS........................................................................................... 8 1. Konsep Infertilitas............................................................................................ 8 1.1 Pengertian Infertilitas....................................................................... 8 1.2 Penyebab Infertilitas......................................................................... 9 1.3 Dampak Infertilitas.......................................................................... 14 1.4 Pemeriksaan Dasar Infertilitas......................................................... 15 1.5 Penanganan dan Pengobatan Infertilitas.......................................... 20 2. Studi Fenomenologi............................................................................ 23 3. Keabsahan Data................................................................................... 24
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ....................................................................... 27 1. Desain Penelitian....................................................................................... 27 2. Partisipan.............................................................................................. …… 27 3. Waktu dan Lokasi Penelitian....................................................................... 28 4. Pertimbangan Etik................................................................................ ……29 5. Instrumen Penelitian.................................................................................. 30 6. Pengumpulan Data..................................................................................... 30 7. Analisa Data............................................................................................... 32 8. Tingkat Kepercayaan Data............................................................... 33
vii
Universitas Sumatera Utara

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................ 35 1. Hasil Penelitian..................................................................................... 35 2. Pembahasan.......................................................................................... 66
Daftar Pustaka........................................................................................................ 89 Lampiran-lampiran................................................................................................ 93
1. Informed consent 2. Lembar persetujuan menjadi partisipan 3. Kuesioner data demografi 4. Panduan wawancara 5. Surat uji validitas pertanyaan wawancara 6. Surat komisi etik 7. Surat ijin penelitian 8. Jadwal penelitian 9. Anggaran dana 10.Lembar Bukti Bimbingan 11. Riwayat hidup
viii Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Judul
Nama Mahasiswa NIM Jurusan Tahun

: Pengalaman Pengobatan Pasangan Infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr.Pirngadi Medan
: Desy Deria Tanjung : 111101105 : Sarjana Keperawatan : 2015

Penelitian kualitatif fenomenologis ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengalaman pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah empat pasang suami istri. Proses pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuisioner data demografi dan wawancara mendalam dengan menggunakan alat bantu perekam suara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan lima tema terkait pengalaman pengobatan pasangan infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan meliputi pemeriksaan infertilitas yang pernah dijalani, pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas, respon psikis pasangan selama menjalani pengobatan, hambatan dalam menjalani pengobatan dan harapan setelah menjalani pengobatan. Pemeriksaan infertilitas meliputi pemeriksaan ovulasi, pemeriksaan uterus, konsultasi dengan dokter, pengukuran tinggi badan dan berat badan serta analisis sperma sedangkan pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas meliputi pengobatan medis, akupuntur dan pengobatan alternatif. Selama menjalani pengobatan terdapat respon psikis yang dirasakan pasangan infertilitas seperti sedih, pasrah, bosan, takut serta menyalahkan Tuhan. Terdapat juga hambatan dalam menjalani pengobatan seperti masalah biaya, lokasi, faktor diri bahkan pelayanan yang kurang efektif. Penelitian ini juga menunjukkan harapan pasangan setelah menjalani pengobatan seperti mendapatkan anak dan akan melakukan pengobatan yang maksimal. Untuk itu dalam penanganan pasangan infertilitas, perawat dituntut mampu memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan holistik, menangani selain faktor fisik tetapi diharapkan juga mampu mempertimbangkan sisi psikologis pasangan tersebut.

Kata kunci : Pengobatan, infertilitas.

ix Universitas Sumatera Utara

x Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Judul
Nama Mahasiswa NIM Jurusan Tahun

: Pengalaman Pengobatan Pasangan Infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr.Pirngadi Medan
: Desy Deria Tanjung : 111101105 : Sarjana Keperawatan : 2015

Penelitian kualitatif fenomenologis ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengalaman pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah empat pasang suami istri. Proses pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuisioner data demografi dan wawancara mendalam dengan menggunakan alat bantu perekam suara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan lima tema terkait pengalaman pengobatan pasangan infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan meliputi pemeriksaan infertilitas yang pernah dijalani, pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas, respon psikis pasangan selama menjalani pengobatan, hambatan dalam menjalani pengobatan dan harapan setelah menjalani pengobatan. Pemeriksaan infertilitas meliputi pemeriksaan ovulasi, pemeriksaan uterus, konsultasi dengan dokter, pengukuran tinggi badan dan berat badan serta analisis sperma sedangkan pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas meliputi pengobatan medis, akupuntur dan pengobatan alternatif. Selama menjalani pengobatan terdapat respon psikis yang dirasakan pasangan infertilitas seperti sedih, pasrah, bosan, takut serta menyalahkan Tuhan. Terdapat juga hambatan dalam menjalani pengobatan seperti masalah biaya, lokasi, faktor diri bahkan pelayanan yang kurang efektif. Penelitian ini juga menunjukkan harapan pasangan setelah menjalani pengobatan seperti mendapatkan anak dan akan melakukan pengobatan yang maksimal. Untuk itu dalam penanganan pasangan infertilitas, perawat dituntut mampu memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan holistik, menangani selain faktor fisik tetapi diharapkan juga mampu mempertimbangkan sisi psikologis pasangan tersebut.

Kata kunci : Pengobatan, infertilitas.

ix Universitas Sumatera Utara

x Universitas Sumatera Utara

1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Keluarga merupakan dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan dan adopsi dalam satu rumah tangga yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Keberadaan anak dalam keluarga juga identik dengan konsep kebudayaan karena nilai anak dalam keluarga memiliki arti yang begitu penting sehingga pasangan suami istri cenderung bergegas untuk memiliki anak (Ali, 2010).
Keharmonisan dan kebahagiaan dalam kehidupan pasangan menikah, bagaimanapun juga tergantung pada kehadiran anak dalam suatu keluarga. Anak merupakan hadiah terindah sebagai buah pernikahan sepasang suami istri. Tujuan pasangan menikah salah satunya membentuk rumah tangga yang bahagia, kekal serta berkualitas. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saifudin, 2005).
Tetapi dalam realisasinya tidak semua pasangan mudah memperoleh keturunan seperti yang diharapkan. Kehamilan itu sendiri dapat terjadi apabila adanya proses yang meliputi pelepasan telur dari ovarium dan terjadi pertemuan sperma dengan sel telur serta proses implantasi. Namun jika ada masalah dengan salah satu proses tersebut, keadaan inilah yang disebut dengan infertilitas

1 Universitas Sumatera Utara

2
(Eny, 2011). Syarat untuk menjadi hamil adalah uterus atau endometrium normal, siklus menstruasi normal, anatomi dan fungsi tuba normal, hasil analisis sperma normal serta kemampuan melakukan hubungan seksual normal (Manuaba, 2009).
Infertilitas didefinisikan sebagai suatu kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah satu tahun melakukan hubungan seksual secara regular tanpa menggunakan alat kontrasepsi (Wein et al., 2012) sedangkan menurut The International Committee for Monitoring Assisted Reproductive Technology (ICMART) dan World Health Organizatiom (WHO) tahun 2009 menyebutkan definisi infertilitas secara klinis bahwa infertilitas merupakan suatu penyakit sistem reproduksi yang ditetapkan dengan adanya kegagalan mencapai kehamilan klinis setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara regular tanpa menggunakan alat kontrasepsi (Zegers et al., 2009).
Infertilitas dapat terjadi pada wanita dan pria dimana sepertiga faktor berasal dari wanita, sepertiga faktor dari pria dan sepertiga lainnya merupakan campuran faktor-faktor dari wanita dan pria. Infertilitas karena faktor istri mencakup 45%, infertilitas karena faktor suami sekitar 40%, dan faktor gabungan yang disebabkan oleh keduanya yaitu suami istri sekitar 20-30%, sementara akibat faktor yang tidak terjelaskan sekitar 10-15% (Anwar, 2011). Menurut World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa jumlah pasangan infertilitas sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada si ayah, sedangkan 64% berada pada si ibu. Hal ini dialami 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2 tahun belum mengalami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali belum pernah hamil (Ida, 2010,1).
Universitas Sumatera Utara

3
WHO memperkirakan sekitar 8-10% atau sekitar 50-80 juta pasangan suami istri di seluruh dunia mengalami masalah infertilitas. Sekitar dua juta pasangan infertil baru akan muncul tiap tahunnya dan terus meningkat. Menurut sensus penduduk diperkirakan 12% dari jumlah penduduk Indonesia yang merupakan pasutri baik di desa maupun di kota, terdapat kira-kira 3 juta pasangan yang mengalami gangguan infertilitas (Wiknjosastro, 2005). Pada tahun 2000 dari sekitar 30 juta pasangan usia subur terdapat 3,45 juta atau sekitar 10-15% pasangan yang memiliki problem kesuburan. Dengan demikian angka infertilitas di Indonesia ternyata cukup tinggi (Hidayah, 2007).
Permasalahan infertilitas merupakan masalah yang relatif rumit dan komplek mulai dari umur, lama perkawinan, frekuensi berhubungan, obat-obatan yang dikonsumsi bahkan kelainan organ reproduksi (Reswita, 2009). Untuk mengatasi permasalahan ini dilakukan sejumlah pengobatan bagi pasangan infertilitas. Pengobatan infertilitas keberhasilannya sangat ditentukan oleh ketepatan metode pengobatan itu sendiri (Permadi, 2008). Beragam metode pengobatan dilakukan oleh pasangan infertilitas, salah satunya dengan mendatangi klinik infertilitas karena penanganan pasangan kurang subur merupakan masalah medis yang komplek sehingga memerlukan konsultasi dan pemeriksaan yang komplek pula kepada kedua pasangan (Eny, 2011). Diperlukan solusi yang terarah, sistematis, efektif, efisien, aman dan rasional untuk membantu meningkatkan keberhasilan angka kehamilan (Reswita, 2009).
Beberapa metode pengobatan untuk mengatasi infertilitas yang tengah berkembang dikenal dengan Assisted Reproduction Technology (ART) atau
Universitas Sumatera Utara

4
dikenal juga dengan teknik reproduksi dibantu (RdB). ART atau RdB merupakan proses pengobatan infertilitas dengan melakukan manipulasi terhadap sperma, oosit dan embrio. Teknik ART atau RdB diantaranya adalah Inseminasi Intra Uterin (IIU) yaitu proses memasukkan sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita dengan tujuan untuk mencapai pembuahan, kemudian dengan adanya operasi TESE/MESA yang merupakan operasi pada permasalahan kelainan organ reproduksi pria, program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) dimana proses penyatuan sel sperma dengan sel ovum terjadi dalam medium kultur di luar tubuh manusia serta teknik yang paling mutakhir adalah ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection) yaitu penyuntikan sel sperma ke dalam sel telur secara langsung sehingga terjadi pembuahan (Reswita, 2009).
Keseluruhan dari teknik pengobatan medis ini merupakan serangkaian proses penelitian dan angka keberhasilannya cukup memuaskan bagi pasangan yang memiliki masalah kesuburan sehingga mampu menghadirkan sang buah hati di tengah perkawinan untuk mewujudkan mimpi dan harapan mereka. Mengingat masalah infertilitas merupakan masalah komplek yang memerlukan perhatian khusus, diperlukan penanganan yang menyeluruh dan berkesinambungan serta memerlukan waktu yang cukup lama, pengalaman panjang, kesabaran, biaya yang besar dan rencana yang relatif tepat (Manuaba, 2009). Tak heran banyak pasangan infertilitas menjadi tidak sabar dan berpindah-pindah tempat pengobatan sehingga beberapa pasangan tersebut juga mendatangi pengobatan alternatif sebagai pengobatan yang mereka jalani. Sebagian pengobatan alternatif awalnya menjanjikan kesembuhan namun berujung pada memburuknya penyakit sehingga
Universitas Sumatera Utara

5
pasangan infertilitas lebih memilih mendatangi klinik infertilitas yang menawarkan teknologi terbaru dan melibatkan pasien dalam berbagai pemeriksaan, obat-obat hormonal dan teknologi kedokteran yang dilengkapi alat bantu canggih khususnya menyediakan pelayanan tim konseling (Taufik, 2000). Akan tetapi, biaya dan lama pengobatan medis pasangan infertilitas tidak dapat diprediksi.
Pengobatan infertilitas merupakan proses jangka panjang dan perlu penjelasan sedetail mungkin kepada pasangan infertil sehingga mereka dapat mengikutinya dengan baik. Dampak pengobatan dapat bersifat psikologis mengingat pasangan infertilitas mempunyai perasaan penolakan, merasa bersalah, merasa dipersalahkan, mengasihani diri sendiri, sedih, iri, terisolasi dan marah terhadap keadaannya (Anwar, 2000). Oleh karena itulah biaya, lama penanganan, pendekatan bagi pasangan, penyebab utama serta jenis pengobatan yang tepat harus disinkronasikan sehingga keberhasilan pengobatan lebih tinggi (Manuaba, 2009).
Keadaan yang telah dipaparkan tersebut menarik perhatian peneliti dan menganggap penting untuk mengeksplor dan mengetahui bagaimana pengalaman pengobatan pasangan suami istri dalam menghadapi permasalahan infertilitas yang dirangkumkan kedalam penelitian yang berjudul “Pengalaman Pengobatan Pasangan Infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan”
Universitas Sumatera Utara

6
1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut “Bagaimanakah pengalaman pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas di Klinik Infertilitas RSUD Dr. Pirngadi Medan?” 1.3 Tujuan Penelitian:
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman pengobatan yang dilakukan pasangan infertilitas di Klinik Infertilitas di RSUD Dr. Pirngadi Medan. 1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terbagi atas tiga bagian, yaitu: 1.4.1 Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi pendidikan keperawatan yaitu sebagai bahan pustaka tentang pengalaman pengobatan pasangan infertilitas sehingga memberi kontribusi pengetahuan bagi yang membacanya. 1.4.2 Praktik Keperawatan
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi khususnya dalam konteks pelayanan asuhan keperawatan bagi pendekatan pasangan infertilitas sehingga memberikan pelayanan yang efektif dan efisien dan dapat melakukan pendekatan kepada pasangan infertilitas secara holistik. 1.4.3 Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan sebagai
Universitas Sumatera Utara

7 referensi dan dasar bagi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan pengobatan pasangan infertilitas.
Universitas Sumatera Utara

1. Konsep Infertilitas

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

1.1 Pengertian Infertilitas

Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil sesudah dua belas bulan

atau enam bulan pada wanita berusia lebih dari 35 tahun tanpa menggunakan alat

kontrasepsi dan melakukan hubungan seksual aktif (Eny, 2011) sedangkan

definisi lain menurut Anwar (2011), infertilitas merupakan masalah yang dihadapi

oleh pasangan suami istri yang telah menikah selama minimal satu tahun

melakukan hubungan senggama teratur tanpa menggunakan kontrasepsi tetapi

belum berhasil memperoleh kehamilan. Bobak (2004), mengemukakan infertilitas

sebagai ketidakmampuan untuk hamil atau mengandung anak sampai anak

tersebut lahir hidup pada saat pasangan memutuskan untuk memperoleh anak.

Definisi lain mengatakan bahwa infertilitas merupakan ketidakmampuan untuk

hamil setelah sekurang-kurangnya satu tahun berhubungan seksual sedikitnya

empat kali seminggu tanpa kontrasepsi (Strigh, 2005 : 5).

Menurut Anwar (2011), infertilitas terdiri dari dua klasifikasi yaitu

infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Infertilitas primer jika sebelumnya

pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan walaupun bersenggama

tanpa kontrasepsi sedangkan infertilitas sekunder jika pasangan suami istri gagal

untuk memperoleh kehamilan setelah satu tahun pasca persalinan atau pasca

abortus tanpa menggunakan kontrasepsi apapun.

8 Universitas Sumatera Utara

9
1.2 Penyebab Infertilitas Menurut Manuaba (2009), penyebab infertilitas bukan hanya berasal dari
pihak perempuan saja, namun dapat berasal dari pihak suami, istri bahkan keduanya. Mengingat pasangan infertilitas merupakan pasangan satu kesatuan biologis maka penyebab infertilitas haruslah merujuk kepada kedua belah pihak.
Penyebab infertilitas meliputi penyebab yang jelas dapat dicari seperti faktor waktu lamanya perkawinan, faktor istri (usia, gangguan proses ovulasi dan hormonal, faktor uterus dan endometrium, faktor tuba fallopi dan peritoneum serta faktor lendir serviks) dan faktor suami (usia, kelainan anatomi genitalia serta kelainan fungsi hubungan seks) sedangkan faktor yang tidak dapat diterangkan atau penyebabnya tidak jelas meliputi faktor imunitas dan psikologis (Manuaba, 2009).
Beberapa penyebab infertilitas umum lainnya pada pihak suami menurut Manuaba (2009):
Pertama yaitu penyebab prestikular atau pregerminal meliputi defisiensi gonadotropin sentral pada hipotalamus seperti defisiensi GnRH kongenital, tumor, infeksi dan trauma kepala, defisiensi pada hipofisis seperti defisiensi FSH, LH kongenital, tumor, infeksi dan trauma, penyebab lain seperti sarkoldosis dan hemakromatosis, sindrom kelebihan endokrin yaitu hormon estrogen seperti tumor adrenal fungsional dan sirosis, kelebihan hormon androgen seperti hiperplasia adrenal kongenital dan tumor penghasil androgen serta gangguan pada glukokortikoid seperti sindrom Cushing, terapi steroid, hipotiroidisme dan diabetes melitus.
Universitas Sumatera Utara

10
Kedua yaitu penyebab testis meliputi kelainan kromosom seperti sindrom klinifelter, kriptokidisme unilateral atau bilateral, radiasi, kemoterapi, gondongan, orkitis virus, trauma, sindrom sel sertoli, henti maturasi idiopatik dan kelainan reseptor androgen.
Ketiga yaitu penyebab post-testikular meliputi obstruksi duktus kongenital vas deferens dan epididimis, sumbatan duktus yang didapat seperti infeksi, gonore, tuberkulosis dan ligasi vas deferens serta motilitas yang terganggu seperti sindrom kartagene dan defisiensi enzim.
Keempat meliputi faktor koitus pada pria. Sedangkan penyebab infertilitas atau gangguan implantasi pada wanita ditinjau dari aspek anatomis genitalia menurut Manuaba (2009), meliputi serviks dan tuba fallopi. Pada serviks terdapat gangguan pada korpus dan endometrium, kerusakan serviks, retroversi, erosi serviks, servisitis, kelainan kongenital, endometriosis interna, endometriosis tuberkulosa, mioma uteri dan perlekatan uterus sedangkan kelainan pada tuba fallopi meliputi hipoplasia kongenital, perlekatan fimbriae, bendungan tuba akibat salpingitis, hidrosalping, bendungan tuba akibat peritonitis pelvis, sterilisasi tuba dan spasme tuba Selain penyebab yang telah disebutkan diatas, terdapat faktor genetik atau bawaan seperti tidak terjadinya menstruasi pada wanita yang menyebabkan infertilitas (Benson & Pernoll’s, 2001). Sebagian besar kasus infertilitas wanita disebabkan oleh ovulasi. Tanpa ovulasi, tidak ada telur yang bisa dibuahi. Beberapa tanda-tanda bahwa wanita tidak berovulasi biasanya tidak teratur atau tidak adanya menstruasi. Masalah ovulasi biasanya disebabkan oleh beberapa hal seperti
Universitas Sumatera Utara

11
ketidakseimbangan hormon yang dapat mengganggu ovulasi normal yang biasanya disebut dengan Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), ketidakcukupan ovarium primer (POI), adanya hambatan pada saluran tuba karena penyakit radang panggul, endometriosis yang merupakan suatu keadaan patologi pada sistem reproduksi perempuan dimana jaringan selaput lendir rahim (endometrium) yang seharusnya berada dalam rahim malah tumbuh diluar rongga rahim, kemudian adanya operasi pengangkatan kehamilan ektopik, masalah fisik dari rahim serta uterine fibroid yaitu gumpalan jaringan non-kanker dan penebalan otot pada dinding rahim (Eny, 2011).
Penelitian yang dilakukan Wang 2013, berdasarkan pengamatan terhadap 518 pasangan suami istri yang berusia antara 20-34 tahun dijumpai 50% kehamilan terjadi di dalam dua siklus haid pertama dan 90% kehamilan terjadi di dalam enam siklus haid pertama.
Terdapat juga faktor eksternal lain yang dapat mempengaruhi tingkat kesuburan pasangan suami istri, meliputi:
Pertama, dimana semakin bertambahnya umur dapat mempengaruhi tingkat kesuburan. Seiring dengan bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur akan mengalami penurunan. Pada pria dengan bertambahnya usia juga menyebabkan penurunan kesuburan. Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang hidupnya, akan tetapi morfologi sperma mulai menurun. Selain itu usia yang semakin tua juga mempengaruhi kualitas sperma (Kasdu, 2001 : 63).
Universitas Sumatera Utara

12
Kedua, dimana faktor Infeksi Menular Seksual (IMS) mempengaruhi kemampuan pria dalam menghasilkan sperma yang sehat. Menurut WHO (2009), terdapat lebih kurang dari 30 jenis mikroba (bakteri, virus dan parasit) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual seperti gonorrhea, chlamydia, sypilis, trichomoniasis, chancroid, herpes genitalis, Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan hepatitis B yang dapat menurunkan motilitas (kemampuan gerak) sperma dan juga mempengaruhi organ-organ reproduksi pria. IMS merupakan infeksi yang penularannya melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai gejala-gejala klinis maupun asimptomatis (Daili, 2009).
Ketiga, dimana faktor zat-zat kimia berbahaya dan racun dapat menyebabkan ketidaksuburan atau infertilitas misalnya timbal dan pestisida, benzene, zat yang terkandung dalam repelan obat anti nyamuk serta zat berbahaya lain yang tidak hanya mengganggu produksi sperma, tetapi juga dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang cukup serius. Riwayat terpapar glycol ether pada lingkungan kerja juga dapat menurunkan kualitas semen. DichloroDiptenyl-Trichloro-ethane (DDT) yang merupakan salah satu tipe pestisida juga dapat menurunkan fertilitas dan mengubah jumlah sperma (Al-Haija, 2011).
Keempat, dimana penggunaan obat-obatan atau penggunaan alkohol memberikan pengaruh negatif terkait kesuburan khususnya pada pria. Penggunaan alkohol dapat mempengaruhi fungsi liver, yang pada akhirnya dapat menyebabkan peningkatan estrogen sehingga jumlah estrogen yang tinggi dalam tubuh akan mempengaruhi produksi sperma. Penggunaan alkohol juga dapat merusak aksi
Universitas Sumatera Utara

13
HPG dan berpengaruh pada spermatogenesis sehingga menurunkan kualitas sperma (Carrell ed., 2013).
Kelima, dimana kebiasaan merokok tidak hanya mengganggu kesehatan namun juga dapat menghambat dan menimbulkan masalah pada kesuburan. Pada pria, penggunaan ganja, tembakau dan heroin menyebabkan jumlah sperma berkurang, meningkatkan risiko memiliki sperma yang abnormal dan perburukan kualitas sperma. Pada wanita, merokok dapat menyebabkan penurunan produksi sel telur sehingga dapat mengganggu kesuburan, perkembangan janin terhambat bagi wanita hamil, resiko keguguran kehamilan, kelahiran bayi prematur dan bayi berat lahir rendah. Merokok bagi manusia sungguh mengancam kesuburan dan pengaruhnya tergantung pada jumlah rokok yang dihisap setiap harinya (Vedder, 2008).
Keenam, dimana gangguan kesuburan biasanya disebabkan karena masalah berat badan yang tidak seimbang, terlalu gemuk atau terlalu kurus. Status gizi selama masa pra-konsepsi yaitu sekitar 3-6 bulan sebelum berencana konsepsi dan berdampak terhadap bayi yang akan dilahirkan nantinya. Diketahui bahwa tubuh membutuhkan 17% lemak tubuh pada awal siklus haid dan 22% sepanjang siklus haid tersebut. Lemak tubuh mengandung enzim aromatase, yaitu sejenis enzim yang dibutuhkan untuk memproduksi hormon estrogen (Eny, 2011).
Ketujuh, dimana faktor pekerjaan juga dapat mempengaruhi tingkat kesuburan. Produksi sperma yang optimal membutuhkan suhu dibawah temperatur tubuh. Spermagenesis diperkirakan kurang efisien pada pria dengan
Universitas Sumatera Utara

14
jenis pekerjaan tertentu yaitu pada petugas pemadam kebakaran dan pengemudi truk jarak jauh (Henderson C & Jones K, 2006 : 89).
Kedelapan, dimana terpaparnya pada telepon seluler dan laptop dapat mengakibatkan peningkatan suhu skrotum dan berdampak negatif pada parameter sperma dan penurunan jumlah sperma yang hidup. Spermatozoa lakilaki bila terpapar oleh radiasi gelombang elektromagnetik dari telepon seluler selain dapat menurunkan jumlah sperma juga dapat menurunkan motilitas sperma dan meningkatkan stres oksidatif sperma (Vignera et al., 2012). 1.3 Dampak Infertilitas
Masalah ketidaksuburan menimbulkan berbagai efek emosional pada keharmonisan pasangan suami istri. Dampak psikologis dari masalah infertilitas salah satunya adalah depresi. Depresi merupakan penyakit suasana hati yang lebih dari sekedar kesedihan atau duka cita yang lebih hebat dan bertahan terlalu lama (Harun, 2010).
Depresi ditandai dengan adanya perasaan sedih, murung dan iritabilitas. Terdapat rasa malas, tidak bertenaga, retardasi psikomotor dan menarik diri dari hubungan sosial. Klien akan mengalami gangguan tidur seperti sulit masuk tidur atau terbangun dini hari, nafsu makan berkurang, begitu pula dengan gairah seksual (Nurmiati, 2005).
Perempuan cenderung disalahkan dalam hampir semua kasus infertilitas sehingga menderita tekanan mental dan sosial atas fungsi keperempuanannya. Perempuan yang menjalani perawatan kesuburan cenderung memiliki resiko yang tinggi untuk depresi. Laki-laki juga dapat mengalami ketidaksuburan yang
Universitas Sumatera Utara

15
berhubungan dengan depresi (Harun, 2010). Infertilitas membawa implikasi psikologis terutama pada perempuan. Sumber tekanan sosio-psikologis pada perempuan berkaitan erat dengan kodrat deterministiknya untuk mengandung dan melahirkan anak. Sementara pada laki-laki terdapat perasaan sedih, kecewa, kecemasan dan kekhawatiran menghadapi masa tua serta membuat laki-laki merasa rendah ketika tidak mempunyai anak.
Dalam kehidupan budaya di Indonesia nilai anak memiliki arti yang begitu penting. Ketiadaan anak dalam perkawinan pada waktu lama akan menjadi masalah, karena ada keyakinan keadaan ini akan mengancam keutuhan rumah tangga. Keberadaan anak dianggap mampu menyatukan dan menjaga agar suatu keluarga atau pernikahan tetap utuh (Wirawan, 2004). Lebih lanjut dampak infertilitas merupakan pemicu terjadinya ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian atau pengucilan dalam masyarakat (WHO, 1994 dalam Suharni, 1997).
Ditemukan bahwa perempuan yang infertil lebih berkemungkinan untuk dicerai atau dimadu (polyginy), distigmatisasi, kesulitan menemukan fulfill role di dalam komunitasnya sehingga menghalangi meningkatkan mobilitas sosialnya, menghabiskan banyak waktu dan biaya dalam upaya menemukan perawatan bagi kondisi mereka serta menjadi sumber rasa malu pada perempuan yang telah kawin. 1.4 Pemeriksaan Dasar Infertilitas
Pemeriksaan dasar merupakan hal yang sangat penting dalam tata laksana infertilitas. Dengan melakukan pemeriksaan dasar yang baik dan lengkap, maka terapi dapat diberikan dengan cepat dan tepat sehingga penderita infertilitas dapat
Universitas Sumatera Utara

16
terhindar dari keterlambatan tata laksana yang dapat memperburuk prognosis dari pasangan suami istri tersebut. Menurut Anwar (2011), beberapa pemeriksaan dasar yang dilakukan yaitu:
a. Anamnesis Anamnesis dilakukan untuk memperoleh data terhadap gaya hidup yang
dilakukan pasutri seperti memiliki kebiasaan merokok atau mengkonsumsi minuman beralkohol. Perlu juga diketahui apakah pasutri atau salah satunya menjalani terapi khusus seperti antihipertensi, kartikosteroid dan sitostatika. Selain itu perlu juga dilakukan anamnesis terhadap siklus haid pada istri. Siklus haid merupakan variabel yang sangat penting. Dapat dikatakan siklus haid normal jika berada dalam kisaran antara 21 - 35 hari. Sebagian besar perempuan dengan siklus haid yang normal akan menunjukkan siklus haid yang berovulasi. Untuk mendapatkan rata-rata siklus haid perlu diperoleh informasi haid dalam kurun 3 – 4 bulan terakhir. Perlu juga diperoleh informasi apakah terdapat keluhan nyeri haid setiap bulannya dan perlu dikaitkan dengan adanya penurunan aktivitas fisik saat haid akibat nyeri, ada atau tidaknya penggunaan obat penghilang nyeri saat haid terjadi, penggunaan KB, riwayat keguguran serta infeksi genitalia interna.
Penting juga untuk melakukan anamnesis terkait dengan frekuensi senggama yang dilakukan kedua pasangan. Dianjurkan bagi pasutri untuk melakukan senggama secara teratur dengan frekuensi 2 – 3 kali per minggu. Anamnesis yang lain dapat meliputi kemampuan ereksi pada suami, lamanya perkawinan, umur kedua pasangan, tingkat kepuasaan hubungan seksual serta teknik bersenggama.
Universitas Sumatera Utara

17
b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaaan fisik yang perlu dilakukan pada pasutri dengan masalah
infertilitas adalah pengukuran tinggi badan, penilaian berat badan dan pengukuran lingkar pinggang. Penentuan indeks masa tubuh perlu dilakukan dengan menggunakan formula berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m2). Perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25kg/m2 termasuk ke dalam kelompok kriteria berat badan lebih. Hal ini memiliki kaitan erat dengan sindrom metabolik. IMT yang kurang dari 19kg/m2 seringkali dikaitkan dengan penampilan pasien yang terlalu kurus dan perlu dipikirkan adanya penyakit kronis seperti infeksi tuberkulosis (TBC), kanker atau masalah kesehatan jiwa seperti anoreksia nervosa atau bulimia nervosa. Adanya pertumbuhan rambut abnormal seperti kumis, jenggot, jambang, bulu dada yang lebat, bulu kaki yang lebat dan sebagainya (hirsutisme) atau pertumbuhan jerawat yang banyak dan tidak normal pada perempuan, seringkali terkait dengan kondisi hiperandrogenisme baik klinis maupun biokimiawi.
c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan dasar yang dianjurkan untuk mendeteksi atau menginformasi
adanya ovulasi dalam sebuah siklus haid adalah penilaian kadar progesteron pada fase luteal madia, yaitu kurang lebih 7 hari sebelum perkiraan datangnya haid. Adanya ovulasi dapat ditentukan jika kadar progesteron fase luteal madia dijumpai lebih besar dari 9,4 mg/ml (30 nmol/l). Penilaian kadar progesteron pada fase luteal madia menjadi tidak memiliki nilai diagnostik yang baik jika terdapat
Universitas Sumatera Utara

18
siklus haid yang tidak normal seperti siklus haid yang jarang (lebih dari 35 hari) atau siklus haid yang terlalu sering (kurang dari 21 hari).
Pemeriksaan kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan prolaktin hanya dilakukan jika terdapat indikasi berupa siklus yang tidak berovulasi, terdapat keluhan galaktore atau terdapat kelainan fisik atau gejala klinik yang sesuai dengan kelainan pada kelenjar tiroid.
Pemeriksaan kadar Luteinizing Hormone (LH) dan Follicles Stimulating Hormone (FSH) dilakukan pada fase proliferasi awal (hari 3 – 5) terutama jika dipertimbangkan terdapat peningkatan nisbah LH/FSH pada kasus sindrom ovarium polikistik (SOPK). Jika dijumpai adanya tanda klinis hiperandrogenisme seperti hirsutisme atau acne yang banyak maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar testosteron atau pemeriksaan Free Androgen Index (FAI), yaitu dengan melakukan kajian terhadap kadar testosteron yang terikat dengan Sex Hormone Binding (SHBG). Pada perempuan kadar FAI normal jika dijumpai lebih rendah dari 7.
Pemeriksaan uji pascasanggama atau Postcoital Test (PCT) merupakan metode pemeriksaan yang bertujuan untuk menilai interaksi antara sperma dan lendir serviks. Metode ini sudah tidak dianjurkan untuk digunakan karena memberikan hasil yang sulit dipercaya.
d. Pemeriksaan Analisis Sperma Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal
kunjungan pasutri dengan masalah infertilitas, karena dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor lelaki turut memberikan kontribusi sebesar 40%
Universitas Sumatera Utara

19
terhadap kejadian infertilitas. Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisis sperma yang baik adalah melakukan abstinensia (pantang sanggama) selama 2 – 3 hari, mengeluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari cara sanggama terputus, menghindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi, menghindari penggunaan kondom untuk menampung sperma, menggunakan tabung dengan mulut yang lebar sebagai tempat penampungan sperma, penggunaan tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas, tanggal dan waktu pengumpulan sperma, metode pengeluaran sperma yang dilakukan (masturbasi atau sanggama terputus), kemudian mengirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma serta menghindari paparan temperatur yang terlampau tinggi (> 380C) atau terlalu rendah (<150C).
Selain itu untuk mengetahui status fertilitas, pemeriksaan lain yang dilakukan kepada kedua pasangan meliputi pemeriksaan pada pria dan wanita. Pemeriksaan pada pria difokuskan pada pemeriksaan air mani untuk menguji jumlah, bentuk, pergerakan sperma serta tes kadar hormon. Pemeriksaan pada wanita meliputi pengukuran suhu tubuh pagi hari dan pemeriksaan lendir rahim dalam beberapa bulan. Selain itu, pemeriksaan hysterosalpingography yaitu foto sinar X pada uterus dan saluran tuba fallopi dan laparaskopi (Eny, 2011).
Rekomendasi pemeriksaan infertilitas dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan, lama waktu pasangan mencoba untuk hamil, usia pasangan serta status kesehatan (Eny, 2011).
Universitas Sumatera Utara

20
1.5 Penanganan dan Pengobatan Infertilitas Pengobatan pasangan infertilitas memerlukan waktu dan biaya yang tidak
sedikit jumlahnya dan sering menimbulkan stres keluarga yang berkepanjangan (Manuaba, 2009). Beberapa obat-obat terapi yang diberikan kepada wanita seperti Clomiphene Citrate (Clomid), Human Menopausal Gonadotropin or hMG (Repronex, Pergonal), Follicle Stimulating Hormone atau FSH (Gonal-F, Follistim), Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Metformin (Glucophage) dan Bromocriptine atau Parlodel (Eny, 2011).
Selain pengobatan, penanganan medis yang dapat dilakukan pada pasangan infertilitas meliputi:
- Teknik In Vitro Fertilization (IVF) Teknik In Vitro Fertilization atau yang lebih dikenal dengan istilah
“bayi tabung”, merupakan teknik reproduksi dibantu atau teknik rekayasa reproduksi dengan mempertemukan sel telur (oosit) matang dengan spermatozoa diluar tubuh manusia agar terjadi pembuahan atau fertilisasi. Fertilisasi in vitro diterapkan pada pasangan infertil (tidak subur) yang mengalami enam masalah yaitu pada tuba atau saluran telur, pada sperma, kegagalan inseminasi berulang, infertilitas imunologik, endometriosis yang sudah diterapi secara lengkap tetapi belum berhasil hamil dan penyebab yang belum diketahui (unexplained infertility). Pada kondisi yang belum diketahui (unexplained infertility) ini disebabkan oleh permasalahan imunologis atau kekebalan tubuh. Akibatnya, sperma suami ditolak oleh sel telur istri sehingga tidak pernah terjadi kehamilan. Sebaliknya, ada juga antibodi anti sperma yang dihasilkan oleh tubuh suami
Universitas Sumatera Utara

21
sendiri sehingga sperma dihancurkan atau dilemahkan kemampuannya karena dianggap benda asing.
- Teknik Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) Teknik ini merupakan teknik dalam program IVF dengan cara
menyuntikkan satu spermatozoa langsung kedalam sitoplasma oosit agar terjadi fertilisasi
- Teknik operasi TESE dan MESA Pada kasus cairan air mani tanpa sperma (azoospermia), mungkin akibat
penyumbatan atau gangguan saluran sperma dilakukan pengambilan sperma dengan teknik operasi langsung pada saluran air mani atau testis. Teknik ini ada dua, yaitu MESA (Microsurgical Sperm Aspiration) dan TESE (Testicular Sperm Extraction). Pada MESA, sperma diambil langsung dari tempat sperma dimatangkan disimpan (epididimis). Sedangkan pada TESE, sperma langsung diambil dari testis yang merupakan pabrik sperma. Selanjutnya, dilakukan langkah-langkah menurut prosedur ICSI.
Selain itu, beberapa penanganan yang dilakukan berdasarkan faktor-faktor penyebab pasangan infertilitas itu sendiri menurut Benson & Pernoll’s (2001) meliputi:
Pertama yaitu faktor koitus pria. Merokok, penggunaan alkohol dan narkoba seharusnya diberhentikan karena akan terjadi peningkatan suhu pada skrotum yang akan menimbulkan efek yang merugikan pada proses spermatogenesis seperti retensi semen. Hubungan seksual yang jarang dilakukan dapat menyebabkan infertilitas. Oleh karena itu, dianjurkan untuk berhubungan
Universitas Sumatera Utara

22
seksual setiap dua hari sekali selama masa periovulasi (hari ke 12 - 16 pada siklus menstruasi)
Kedua yaitu faktor azoospermia karena kromosom yang abnormal, kelainan kongenital serta kadar FSH yang tinggi. Oleh karena itu, inseminasi buatan dengan donor sperma atau adopsi adalah satu-satunya alternatif.
Ketiga yaitu faktor varikokel yang menyumbangkan kira-kira sepertiga persen pada pria infetilititas. Penanganan medis yang dilakukan adalah varicocelectomy untuk memperbaiki parameter sperma, kualitas sperma serta motilitas sperma.
Keempat yaitu volume semen yang sedikit merupakan masalah yang serius dan cukup sulit untuk dilakukan pengobatan. Ini biasanya dilakukan pengobatan dengan inseminasi buatan dengan semen pria (AIH). Ketika volume semen yang tinggi disertai dengan jumlah sperma yang sedikit, teknik ejakulasi yang baik harus diperhatikan.
Kelima yaitu faktor oligosperma (jumlah sperma yang sedikit) atau asthenospermia (motilitas sperma yang lemah). Pengobatan yang dilakukan pada kedua kasus ini adalah dengan terapi hormon yang spesifik seperti Human Menopausal Gonadotropin (hMG).
Keenam yaitu faktor serviks, tuba fallopi serta faktor ovulasi dapat di stimulasi dengan Human Menopausal Gonadotropin (hMG) yang mungkin diperlukan untuk memperbaiki mukus serviks ketika dosis estrogen tidak efektif.
Inseminasi intrauterin dengan semen yang rusak (proses pengeluaran prostaglandin) telah dibuktikan sangat efektif pada setiap kasus sedangkan In
Universitas Sumatera Utara

23
Vitro Fertilization (IVF) dan Gamete Intrafallopian Transfer (GIFT) serta saran terapi lain kemungkinan besar berhasil pada penanganan untuk faktor infertilitas pria dengan faktor sperma yang abnormal. 2. Studi Fenomenologi
Fenomenologi adalah suatu ilmu yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena atau kejadian khusus, misalnya pengalaman hidup. Fokus utama dalam fenomenologi ini yang terjadi adalah pengalaman nyata yang terjadi dalam masyarakat. Di dalam pandangan fenomenologis, peneliti berusaha memahami arti peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang dalam situasi tertentu. Bentuk pengalaman yang dikaji adalah bagaimana pengalaman orang lain dan apa maknanya bagi mereka (Saryono & Anggreini, 2010).
Untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipercaya maka data divalidasi dengan beberapa kriteria, yaitu credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Lincoln & Guba, 1985, dalam Polit & Beck, 2012).
Credibility merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Transferability digunakan untuk memenuhi kriteria bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat ditransfer ke subjek lain yang memiliki tipologi yang sama. Dengan kata lain, apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang berbeda. Dependability digunakan untuk menilai kualitas dari proses yang ditempuh selama penelitian. Confirmability merupakan kriteria untuk menilai hasil kualitas penelitian yang dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang
Universitas Sumatera Utara

24
yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil lebih obyektif. 3. Keabsahan Data
Menurut Lincoln & Guba (1985 dalam Polit & Beck, 2012) terdapat empat kriteria untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipercaya (trustworthiness), yaitu:
1. Credibility merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Artinya, hasil penelitian harus dapat dipercaya oleh semua pembaca secara kritis dan dari responden sebagai informan. Credibility termasuk validitas internal. Cara memperoleh tingkat kepercayaan yaitu:
a) Prolonged engagement, yaitu adanya hubungan relatif lama atau Membina hubungan dalam waktu tertentu yang memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan dan dapat menguji informasi dari responden serta membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti.
b) Persistent observation atau pengamatan yang berkesinambungan, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan yang sedang diteliti. Selain itu, peneliti dapat memperhatikan sesuatu secara lebih cermat, terinci dan mendalam
c) Triangulation (triangulasi), memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
d) Peer debriefing yaitu membicarakan dengan orang lain dengan
Universitas Sumatera Utara

25
mengekspos hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Orang tersebut hendaknya tidak terlibat dalam penelitian, agar pandangannya lebih netral atau objektif, akan tetapi harus mempunyai pengetahuan tentang pokok penelitian atau metode penelitian.
e) Mengadakan pengecekan anggota (member checking) yaitu pengujian untuk mengecek analisis yang dibuat peneliti kepada partisipan dengan kata lain informasi yang kita peroleh dan gunakan kita sesuaikan dengan apa yang dimaksud oleh partisipan. Ini merupakan cara yang paling penting dengan tujuan agar partisipan bisa memperbaiki bila ada kekeliruan yang dibuat oleh peneliti selama wawancara atau menambahkan hal yang masih kurang.
f) Analisis kasus negatif (negative case analysis) yaitu berusaha menghindari kasus yang tidak sesuai dengan hasil penelitian hingga saat tertentu.
g) Pengecekan atau kecukupan refrensial (refrencial adequacy checks) sebagai bahan referensi untuk meningkatkan kepercayaan atas kebenaran data, dapat digunakan hasil rekaman tape atau video-tape atau bahan dokumentasi.
2. Transferability adalah digunakan untuk memenuhi kriteria bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat ditransfer ke subjek lain yang memiliki tipologi yang sama. Transferability termasuk dalam validitas eksternal. Maksudnya adalah dimana hasil suatu penelitian dapat diaplikasikan dalam situasi lain.
3. Dependability mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan. Kriteria ini dapat digunakan untuk menilai apakah
Universitas Sumatera Utara

26 proses penelitian kualitatif bermutu atau tidak. Teknik terbaik adalah dependability audit yaitu meminta dependen atau independen auditor untuk memeriksa aktifitas peneliti. Dependability menurut istilah konvensional disebut reliabilitas atau syarat bagi validitas.
4. Confirmability memfokuskan apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif. Confirmability juga merupakan kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian.
Universitas Sumatera Utara

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Desain penelitian dalam penelitian ini akan menggunakan desain kualitatif fenomenologi yang bertujuan menggali dan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengalaman pengobatan pasangan infertilitas dalam menyelesaikan permasalahannya sesuai dengan pengalaman mereka secara langsung. Riset fenomenologis didasarkan pada filsafat fenomenologi yang mencoba untuk memahami respon seluruh manusia terhadap suatu atau sejumlah situasi (Dempsey and Dempsey, 2002). Fokus utama dari studi fenomenologi adalah bagaimana orang mengalami suatu pengalaman hidup dan menginterpretasikan pengalamannya (Polit & Beck, 2004).
2. Partisipan Pada penelitian kualitatif, jumlah partisipan tidak ditentukan dari awal
tetapi dapat dengan menggunakan saturasi data. Apabila informasi baru yang didapatkan sama dengan informasi sebelumnya maka data dikatakan telah sampai pada titik jenuh dan pengambilan partisipan berikutnya dihentikan. Penelitian kualitatif menggunakan partisipan dalam jumlah yang sedikit dan

Dokumen yang terkait

GldocConverterlS7oCo

 0  12  118

Dokumen baru