Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1).

ANALISIS DAN DESAIN E-LEARNING DIKLAT TEKNIS
PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MENGGUNAKAN
STANDAR LEARNING TECHNOLOGY SYSTEM ARCHITECTURE
(IEEE P1484.1)

SRI PALUPI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN SUMBER
INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir Analisis dan Desain
E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar
Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1) adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa
pun ke perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari
tugas akhir ini.
Bogor, Juni 2012

Sri Palupi
NRP G652080115

ABSTRACT
SRI PALUPI. Analysis and Design of E-learning of Technical Library
Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard
(IEEE P1484.1). Under supervision of MEUTHIA RACHMANIAH and ABDUL
RAHMAN SALEH.
The need for training that meets the competencies of librarians and can be
accessed regardless distance and time were the reasons for the development of
e-learning of Technical Library Management Training at Training Center,
National Library of Indonesia. The development of e-learning in the National
Library has been initiated since 2007, but until now it has not been used as it faces
several obstacles. In 2010, the development of e-learning in Training Center
already reached the stage of development of learning management system (LMS)
that will be placed on Training Centre site. However, it is untested if it really
meets the criteria for the implementation of e-learning of Technical Library
Management Training. The constraints were associated with the absence of
standardized LMS for the implementation of e-learning for that training.
Therefore, the purpose of this research was to analyze and design e-learning for
the holding of Technical Library Management Training using Learning
Technology Systems Architecture standard (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28).
The approach used in this research was to examine the condition of existing
e-learning of Technical Library Management Training compared with the
Learning Technology System Architecture Standard (LTSA) document. Out of 5
layers that existed in LTSA system components, only layer 1 to 4 were analyzed
in this research. LTSA is a standard for learning technology system that provides
a framework to determine the existing and to be constructed system. Further
analysis of the layers in the LTSA document was used to make the design of
e-learning of Technical Library Management Training. The conclusions obtained
from this research was that e-learning of Technical Library Management Training
in Training Center, National Library of Indonesia did not meet LTSA standard.
Out of 16 LTSA system components (layer 3), only 5 components were met by
the e-learning of Technical Library Management Training. Those were entity
leaner, coach, evaluation, multimedia, and learning content. The components that
did not exist were delivery, learner record, learning resources, behavior,
assessment, learner information, query, catalog info, locator, interaction context,
and learning parameters. Based on this analysis, the web browser (web-based
LMS) was a good example to be used as reference in making the e-learning of
Technical Library Management Training design because it can map out all LTSA
system components.
Keywords: analysis, design, technical library management training, e-learning,
learning technology system architecture (LTSA), national library of Indonesia

RINGKASAN

SRI PALUPI. Analisis dan Desain E-learning Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture
(IEEE P1484.1). Dibimbing oleh MEUTHIA RACHMANIAH dan ABDUL
RAHMAN SALEH.
Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, maka
penerapannya juga telah merambah di berbagai bidang termasuk di bidang
pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang
berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan
untuk pelaksanaan pendidikan dan pelatihan akan dapat diatasi, karena kegiatan
akademik akan dapat disediakan secara online dan dapat diakses kapan saja.
Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis
Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang,
sedangkan jika melihat jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan yang masih
perlu mengikuti Diklat tersebut adalah sejumlah 16.965 orang. Melihat kenyataan
tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI merintis
pengembangan e-learning diklat tenaga perpustakaan yang akan dimulai dengan
Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.
Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI telah
dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan
karena menghadapi beberapa kendala.
Pada tahun 2010, pengembangan
e-learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan learning management
system (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat. Namun LMS ini
belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria penyelenggaraan
e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan karena belum pernah
dilakukan simulasi mulai dari pendaftaran peserta, kegiatan belajar mengajar
hingga peserta lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan.
Learning management system untuk penyelenggaraan e-learning khusus
untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diperlukan karena diharapkan
dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Selain itu, dengan
learning management system ini diharapkan dapat mengakomodasi target peserta
yang begitu banyak dan luas cakupannya yaitu meliputi seluruh wilayah Indonesia
bahkan jika dimungkinkan pesertanya dari luar negeri juga.
Terkait dengan kendala belum adanya learning management system yang
sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan e-learning bagi diklat
tersebut, maka penelitian ini akan mencoba untuk menganalisa dan mendesain elearning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis dan desain dilakukan
dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional.
Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar
untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja
untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah
arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi
sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA. Dokumen LTSA
yang akan digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE
P1484.1/D11, 2002-11-28. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan

desain e-learning bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan
menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE
P1484.1/D11, 2002-11-28).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat
kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini
untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada
dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1).
Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada
pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Selanjutnya
hasil analisis layer-layer pada dokumen LTSA akan digunakan untuk membuat
desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai standar.
Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan
setelah mendapatkan hasil dari analisa terhadap layer 1 s.d 4 dari LTSA
dibandingkan dengan kondisi yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah e-learning Diklat
Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan
Nasional RI belum sesuai dengan standar LTSA. Dari 16 komponen sistem
LTSA (layer 3) hanya 5 komponen saja yang terpenuhi oleh e-learning Diklat
Teknis Pengelolaan Perpustakaan, yaitu entitas siswa (leaner entity), instruktur
(coach), evaluasi (evaluation), multimedia, dan materi belajar (learning content).
Komponen yang belum ada yaitu pengiriman (delivery), data siswa (learner
record), sumber belajar (learning resources), perilaku (behavior), penilaian
(assessment), informasi siswa (learner information), kueri (query), informasi
katalog (catalog information), locator, konteks interaksi (interaction context), dan
parameter belajar (learning parameters).
Berdasarkan analisis tersebut
didapatkan hasil bahwa web browser (LMS berbasis web) merupakan contoh yang
tepat untuk dijadikan acuan dalam pembuatan desain e-learning Diklat ini karena
dapat memetakan seluruh komponen sistem LTSA.
Kata kunci: analisis, desain, diklat teknis pengelolaan perpustakaan, e-learning,
learning technology system architecture (LTSA), Perpustakaan Nasional RI

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

ANALISIS DAN DESAIN E-LEARNING DIKLAT TEKNIS
PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MENGGUNAKAN
STANDAR LEARNING TECHNOLOGY SYSTEM ARCHITECTURE
(IEEE P1484.1)

SRI PALUPI

Tugas Akhir
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Profesional pada
Program Studi Teknologi Informasi untuk Perpustakaan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tugas Akhir: Drs. Badollahi Mustafa, M.Lib

Judul Tugas Akhir : Analisis dan Desain E-Learning Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology
System Architecture (IEEE P1484.1)
Nama
: Sri Palupi
NRP
: G652080115

Disetujui
Komisi Pembimbing

Ir. Meuthia Rachmaniah, M.Sc
Ketua

Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc
Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi
Magister Teknologi Informasi
untuk Perpustakaan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Aziz Kustiyo, S.Si, M.Kom

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian: 17 Maret 2012

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam
penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 ini ialah e-learning dengan
judul Analisis dan Desain E-Learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan
Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1).
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Ir. Meuthia Rachmaniah, M.Sc
dan Bapak Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc selaku pembimbing, serta Bapak Aziz
Kustiyo, S.Si., M.Kom selaku ketua Program Studi Magister Teknologi Informasi
untuk Perpustakaan yang telah banyak memberi saran dan motivasi. Disamping
itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Gardjito, M.Sc selaku
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI yang telah
memberi penulis kesempatan untuk mengikuti program beasiswa S2. Ungkapan
terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Opong Sumiati, M.Si,
Bapak Drs. Ahmad Masykuri, SS, MM, Bapak Drs. Deni Kurniadi, M.Hum,
Bapak Markus Tendean, S.Sos dan Bapak Drs. M. Sugiyanto serta para pejabat
dan kolega di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional
RI. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak, Ibu, kakak dan
adik serta seluruh keluarga dan sahabat atas do’a dan dukungan moril sehingga
penulis dapat menyelesaikan studi S2 ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2012

Sri Palupi

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 30 Oktober 1974 dari Ayah
Wakiman dan Ibu Kotidjah. Penulis merupakan anak keempat dari delapan
bersaudara. Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Sastra
Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (dahulu Fakultas Sastra), Universitas
Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Sastra. Pada tahun 2003 penulis bekerja
sebagai Pegawai Negeri Sipil di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Penulis mendapat beasiswa dari institusi tempat penulis bekerja untuk
melanjutkan pendidikan S2 pada program studi Magister Teknologi Informasi
untuk Perpustakaan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada tahun
2008. Hingga tugas akhir ini selesai penulis bekerja pada Pusat Pendidikan dan
Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI.

xiv

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..........................................................................................

xvi

DAFTAR GAMBAR .....................................................................................

xvii

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xviii

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ..........................................................................
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ...............................................................

1
4
4
4
5

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Basis Teori ......................................................................................
2.1.1 E-learning .............................................................................
2.1.2 Learning Management System (LMS) ..................................
2.1.3 Learning Technology System Architecture (LTSA) .............
2.1.4 Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ..............................
2.1.5 Pusat Pendidikan dan Pelatihan ............................................
2.2 Penelitian Terdahulu .......................................................................

6
6
7
8
16
17
18

METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Kerangka Pemikiran ........................................................................
3.2 Pendekatan ......................................................................................
3.3 Kerangka Penelitian ........................................................................
3.4 Prosedur Penelitian .........................................................................
3.4.1 Studi Pustaka .........................................................................
3.4.2 Pengumpulan Data ................................................................
3.4.3 Analisis E-learning Berdasar Standar LTSA ........................
3.4.4 Pembuatan Desain E-learning ..............................................

20
20
21
21
21
21
22
22

1.

2.

3.

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Observasi Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara
klasikal di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan
Nasional RI ....................................................................................
4.2 Hasil Observasi Kondisi Saat Ini Mengenai Penyelenggaraan
Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan .......................................
4.3 Analisis E-learning Berdasar Standar LTSA .................................
4.3.1 Layer 1: Interaksi learner dengan lingkungannya ................
4.3.2 Layer 2: Desain fitur-fitur yang berfokus pada siswa ...........
4.3.3 Layer 3: Komponen-komponen sistem .................................
4.3.4 Layer 4: Stakeholder perspective and priorities ...................
4.3.5 Pembuatan Desain E-learning Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan ........................................................................

24
31
36
37
38
39
65
67

xv

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .....................................................................................
5.2 Saran ................................................................................................

73
73

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

75

LAMPIRAN ...................................................................................................

76

5.

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman
1 Kurikulum diklat teknis pengelolaan perpustakaan .............................
2 Daftar instruktur dan mata ajar diklat teknis pengelolaan
perpustakaan .........................................................................................
3 Daerah asal peserta diklat tahun 2009 – 2011 ......................................
4 Daftar sarana di ruang administrator e-learning pusdiklat ...................
5 Daftar sarana di laboratorium komputer Pusdiklat ...............................
6 Daftar mata ajar dalam format multimedia ...........................................
7 Pemetaan komponen LTSA terhadap e-learning diklat teknis
pengelolaan perpustakaan .....................................................................
8 Pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA ..................

25
27
28
33
33
35
65
68

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Hasil penelitian Graf dan List .......................................................
Lima layer LTSA ..........................................................................
Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar ......................
Cara pandang sistem dari learner-environment interaction .......
Komponen-komponen sistem LTSA ...........................................
Langkah-langkah penelitian .........................................................
Daerah asal peserta diklat tahun 2009 – 2011 ..............................
Model pola interaksi antara siswa dengan lingkungan pelatihan..
Abstraksi proses entitas siswa ......................................................
Abstraksi data flow multimedia ...................................................
Abstraksi data flow parameter belajar ..........................................
Abstraksi data flow perilaku ........................................................
Abstraksi proses evaluasi ..............................................................
Abstraksi data flow informasi siswa .............................................
Abstraksi data store data siswa (learner records) ........................
Abstraksi data flow informasi siswa yang diterima oleh sistem
instruktur .......................................................................................
Abstraksi data flow informasi siswa yang disimpan oleh sistem
instruktur .......................................................................................
Abstraksi data store informasi penilaian ......................................
Abstraksi proses instruktur (langkah 1) ........................................
Abstraksi proses instruktur (langkah 2 dan 3) ..............................
Abstraksi proses instruktur (langkah 4) ........................................
Abstraksi proses instruktur (langkah 5) ........................................
Abstraksi control flow kueri .........................................................
Abstraksi data store sumber belajar .............................................
Abstraksi data flow informasi katalog ..........................................
Abstraksi data flow locator yang dikirim oleh instruktur ............
Abstraksi control flow locator yang dikirim oleh proses delivery
Abstraksi data flow learning content ............................................
Abstraksi proses delivery ..............................................................
Abstraksi data flow konteks interaksi ...........................................
Abstraksi komponen sistem LTSA diimplementasikan ke dalam
berbagai perspektif stakeholder (layer 4) .....................................
Pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA ..........
Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan
mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen
sistem LTSA .................................................................................

8
11
12
13
16
21
29
38
42
44
44
45
46
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
57
59
60
60
61
62
64
66
67

68

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

GBPP Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan .
GBPP Pengantar Ilmu Perpustakaan ..................................................
GBPP Pengembangan Koleksi ...........................................................
GBPP Katalogisasi .............................................................................
GBPP Klasifikasi dan Tajuk Subyek ..................................................
GBPP Layanan Perpustakaan .............................................................
GBPP Perawatan Bahan Pustaka ........................................................
GBPP Pengantar Teknologi Informasi ...............................................
GBPP Promosi Perpustakaan .............................................................
GBPP Praktik Kerja Perpustakaan .....................................................
GBPP Studi Banding ..........................................................................
GBPP Diskusi .....................................................................................
GBPP Evaluasi ...................................................................................
Data bibliografis modul bahan ajar Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan ......................................................................................
Format evaluasi terhadap pengajar .....................................................
Format evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan .............................................................................................
Format evaluasi terhadap sikap dan perilaku peserta .........................
Format evaluasi nilai tugas/praktek dan tes formatif peserta .............
Format evaluasi seminar .....................................................................
Kondisi sarana dan prasarana di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI
Pedoman penjaminan mutu e-learning ...............................................

77
78
81
83
86
88
91
93
95
97
99
101
103
105
106
107
108
109
110
111
114

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, maka

penerapannya juga telah merambah di berbagai bidang termasuk di bidang
pendidikan dan pelatihan (diklat). Penerapan teknologi informasi di bidang
pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan
memeratakan mutu pendidikan, terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di
berbagai daerah yang sangat berjauhan. Penyelenggaraan pendidikan nasional
yang bersifat konvensional, mengalami banyak kendala ketika dituntut untuk
memberikan pelayanannya bagi masyarakat luas yang tersebar di seluruh
Nusantara. Kendala tersebut antara lain keterbatasan finansial, jauhnya lokasi, dan
keterbatasan jumlah institusi (Tafiardi, 2005).
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi
berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan
adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka
ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan diklat
akan dapat diatasi, karena kegiatan akademik akan dapat disediakan secara online
dan dapat diakses kapan saja.
Sehubungan dengan hal tersebut, kebutuhan akan suatu konsep dan
mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis teknologi informasi menjadi
tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning
ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional
kedalam bentuk digital, baik isi maupun sistemnya. Saat ini konsep e-learning
sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya
implementasi e-learning di lembaga pendidikan (sekolah, training centre, dan
universitas) maupun industri dan perusahaan (Effendy & Zhuang, 2005).
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI sesuai dengan
visinya “Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terdepan di Bidang Diklat
Tenaga Perpustakaan” saat ini sedang merintis usaha ke arah pengembangan
e-learning bagi Diklat Tenaga Perpustakaan.

Diklat Teknis Pengelolaan

2

Perpustakaan adalah diklat pertama yang saat ini sedang disiapkan untuk
dijadikan e-learning.
Banyaknya perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik itu
merupakan

badan-badan

kabupaten/kota,

perpustakaan

perpustakaan

sekolah,

dari

tingkat

perpustakaan

provinsi

sampai

khusus,

maupun

perpustakaan perguruan tinggi menuntut adanya SDM pengelola perpustakaan
yang mempunyai pengetahuan dasar-dasar mengelola perpustakaan yang baik
sesuai dengan kaidah ilmu perpustakaan serta berkompeten dibidangnya. Hal ini
sesuai dengan UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 1 ayat 8 yang
berbunyi: pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh
melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas
dan

tanggung

perpustakaan.

jawab

untuk

melaksanakan

pengelolaan

dan

pelayanan

Selanjutnya, pendidikan tenaga perpustakaan dilakukan oleh

penyelenggara perpustakaan sesuai dengan pasal 33 ayat 1 – 3 yang berbunyi: (1)
Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan tenaga perpustakaan merupakan
tanggung jawab penyelenggara perpustakaan; (2) Pendidikan untuk pembinaan
dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui
pendidikan formal dan/atau nonformal; (3) Pendidikan untuk pembinaan dan
pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kerja
sama Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum provinsi, dan/atau perpustakaan
umum kabupaten/kota dengan organisasi profesi, atau dengan lembaga pendidikan
dan pelatihan.
Namun demikian, untuk memenuhi sumber daya manusia (SDM) pengelola
perpustakaan yang memenuhi kriteria tersebut tidaklah dapat dicapai jika hanya
mengandalkan lulusan Pendidikan dan Pelatihan yang terbatas jumlahnya. Dalam
hal ini Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengelolaan Perpustakaan
diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI.
Menurut data statistik yang dikumpulkan oleh Pusat Pengembangan
Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional RI pada tahun
2011, jumlah berbagai jenis perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia
adalah 24.080 perpustakaan, yang terdiri dari 20.920 perpustakaan sekolah, 922
perpustakaan perguruan tinggi, 1.074 perpustakaan umum dan 1.164 perpustakaan

3

khusus.

Jika 24.080 perpustakaan tersebut dikelola oleh satu orang tenaga

pengelola perpustakaan saja, maka jumlah tenaga pengelola perpustakaan yang
dibutuhkan adalah sesuai dengan jumlah perpustakaan yang ada tersebut yaitu
24.080 orang.
Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis
Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang,
sedangkan jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan, dengan asumsi seperti
tersebut di atas, yang masih perlu mengikuti diklat tersebut adalah sejumlah
24.080 orang. Melihat kenyataan tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Perpustakaan Nasional RI merintis pengembangan e-learning diklat tenaga
perpustakaan yang akan dimulai dengan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.
Manfaat e-learning bagi tersedianya SDM pengelola perpustakaan sangat
besar.

Peserta pelatihan yang tersebar di seluruh Indonesia dapat mengikuti

pelatihan tanpa harus datang ke pusat, sehingga mereka dapat menghemat biaya
perjalanan dan waktu.

Jika e-learning dapat berjalan dengan baik maka

pemenuhan kebutuhan akan SDM pengelola perpustakaan tidak sulit untuk
dilakukan.
Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI telah
dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan
karena menghadapi beberapa kendala.

Pada tahun 2010, pengembangan e-

learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan learning management
system (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat. Namun
demikian, LMS ini belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria
penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan
karena belum pernah dilakukan simulasi mulai dari pendaftaran peserta, kegiatan
belajar mengajar hingga peserta lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan.
Learning management system untuk penyelenggaraan e-learning khusus
untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diperlukan karena diharapkan
dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Selain itu, dengan
learning management system ini diharapkan dapat mengakomodasi target peserta
yang begitu banyak dan luas cakupannya yaitu meliputi seluruh wilayah Indonesia
bahkan jika dimungkinkan pesertanya dari luar negeri juga.

4

Terkait dengan kendala belum adanya learning management system yang
sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan e-learning bagi diklat
tersebut, maka penelitian ini akan mencoba untuk menganalisa dan mendesain
e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis dan desain
dilakukan dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional.
Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar
untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja
untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah
arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi
sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA. Dokumen LTSA
yang akan digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE
P1484.1/D11, 2002-11-28.

1.2

Perumusan Masalah
Pada penelitian ini dirumuskan permasalahan yang harus diselesaikan untuk

mencapai tujuan yaitu:
“Bagaimana hasil analisis e-learning yang menggunakan standar Learning
Technology System Architecture dapat menghasilkan desain e-learning yang
sesuai standar bagi penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan
Perpustakaan?”

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan desain e-learning bagi

penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menggunakan Standar
Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28).

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1)

Jangka pendek: memberikan rekomendasi kepada Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Perpustakaan Nasional RI dalam menyelenggarakan e-learning
Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.

5

(2)

Jangka

menengah:

menjadi

acuan/pedoman

bagi

penyelenggaraan

e-learning diklat tenaga perpustakaan lainnya.
(3)

Jangka panjang:

memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu

pengetahuan khususnya Ilmu Perpustakaan dengan semakin banyaknya
orang yang dapat mempelajari Ilmu Perpustakaan melalui e-learning.

1.5

Ruang Lingkup Penelitian
Dalam tesis ini penelitian dibatasi dengan cakupan sebagai berikut:

(1)

Melakukan analisis

terhadap

standar Learning Technology System

Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28).
(2)

Analisis Learning Technology System Architecture (LTSA) dibatasi hanya
pada layer 1 s.d. layer 4 dari 5 layer yang ada pada dokumen LTSA
tersebut.

(3)

Komponen-komponen yang dianalisis berdasarkan standar dari LTSA
diantaranya adalah: learner entity, coach, evaluation dan delivery.

(4)

Mendesain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sesuai
dengan hasil analisis layer 1 s.d. 4 dari standar LTSA.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Basis Teori

2.1.1 E-learning
The

American

Society

for

Training

and

Development

(ASTD)

mendefinisikan e-learning sebagai:
a broad set of applications and processes which include web-based
learning, computer-based learning, virtual classrooms, and digital.
Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio- and
videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM.
Selanjutnya Soekartawi et.al (2002) mendefinisikan e-learning sebagai
berikut:
“E-learning is a generic term for all technologically supported
learning using on array of teaching and learning tools as phone
bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite
transmissions and the more recognized web based training or
computer aided instruction also commonly reffered to as online
courses”
Definisi lain menurut Clark dan Meyer (2008), e-learning didefinisikan
sebagai berikut:
E-learning adalah salah satu dari model training yang berisi content
(informasi) dan metode instruksi (teknik) yang disampaikan melalui
komputer (termasuk didalamnya CD-ROM, Internet ataupun Intranet)
dalam bentuk teks, gambar, animasi, atau video, yang didesain untuk
membantu pembelajar mencapai tujuan pembelajaran pribadi atau
performa kerja yang sejalan dengan tujuan suatu organisasi.
Berdasarkan beberapa definisi di atas maka e-learning juga dapat diartikan
sebagai pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jaringan elektronik
seperti telepon, audio, video tape, transmisi satelit atau komputer. Walaupun
didefinisikan dengan berbagai versi yang mungkin satu sama lain berbeda, namun
satu hal yang sama tentang e-learning atau electronic learning adalah
pembelajaran melalui saluran “e” atau elektronik.

7

2.1.2 Learning Management System (LMS)
Ada dua bagian utama e-learning, yaitu learning management system dan
e-learning content atau materi pelajaran e-learning yang akan dipelajari oleh
pemakai. Learning management system (LMS) adalah sistem yang membantu
administrasi dan berfungsi sebagai platform e-learning content (Effendy &
Zhuang, 2005). Sejalan dengan Effendy & Zhuang (2005), Mason & Rennie
(2009) menyatakan LMS adalah perangkat lunak yang menyediakan sarana untuk
administrasi e-learning dengan menyediakan sistem akses serta sistem pelacakan
bagi kemajuan siswa.
Beberapa fungsi dasar LMS (Effendy & Zhuang, 2005) adalah: a) katalog,
b) registrasi dan persetujuan, c) menjalankan dan memonitor e-learning, d)
evaluasi, e) komunikasi, f) laporan, g) rencana pelatihan, dan h) integrasi.
LMS ada yang bersifat proprietary (komersial), ada yang open source.
Contoh LMS proprietary adalah Saba Software, Apex Learning, Blackboard Inc.,
ANGEL Learning, dan Desire2Learn. LMS yang open source misalnya Tutor,
Claroline, Dokeos, ILIAS, LON-CAPA, Moodle, dan Online Learning And
Training (OLAT), dan Sakai Project. Pemilihan LMS disesuaikan dengan
kebutuhan dan proses bisnis yang ada di institusi masing-masing.
Graf dan List (2005) dibiayai oleh European Social Fund (ESF) meneliti
tentang evaluasi dan komparasi LMS berbasis open source. Graf menggunakan
satu metode evaluasi produk software bernama Qualitative Weight and Sum
(QWS). QWS menghitung bobot (weight) menggunakan enam simbol kualitatif
berdasarkan tingkat kepentingannya (importance level). Simbol-simbol dimaksud
diurutkan dari yang paling penting ialah: E (essential), * (extremely valuable), #
(very valuable), + (valuable), | (marginally valuable), 0 (not valuable). QWS
memungkinkan penetapan maximum value sendiri, jadi tidak harus “E (essential)”
yang paling tinggi, bisa juga “# (very valuable)” misalnya. Sistem pengukuran
kualitas software seperti Graf ini adalah berdasarkan “product” dan bukan
“process“.
Ada delapan kategori yang dievaluasi oleh Graf yaitu: communication tools,
learning objects, management of user data, usability, adaptation, technical
aspect, administration, dan course management. Masing-masing kategori

8

memiliki subkategori, misalnya di communication tools akan dilihat fitur forum,
chat,

mail/message,

announcements,

conferences,

collaboration,

dan

synchronous/asynchronous tools. Subkategori lain bisa dilihat pada gambar 1 di
bawah.
Communication tools

Learning objects

Management of

Usability

Adaptation

Subcategories

Technical

Adminis-

Course

aspects

tration

management

Forum
Chat
Mail/Messages
Announcements
Conferences
Collaboration
Synchronous & asynch. Tools
Tests
Learning Material
Exercises
Other creatable Los
Importable Los
Tracking
Statistics
Identification of online users
Personal user profile
User -friendliness
Support
Documentation
Assistance
Adaptability
Personalization
Extensibility
Adaptivity
Standards
System requirement
Security
Scalability
User management
Authorization management
Installation of the problem
Administration of courses
Assessment of tests
Organization of course object

user data

Maximum values

*

*

|

+

+

+

*

*

*

#

+

*

*

+

+

#

#

#

+

+

*

#

*

*

#

+

*

+

#

*

|

+

#

#

Atutor

|

#

|

|

0

0

*

|

*

0

+

*

*

+

|

|

+

|

+

+

|

#

#

|

+

+

0

0

0

|

|

|

|

#

Dokeos

+

*

0

|

+

0

*

*

*

0

+

*

+

|

0

|

+

#

+

+

|

0

*

+

+

+

0

0

#

0

|

|

|

#

dotLRN

#

0

|

+

0

0

0

|

0

0

+

|

0

0

+

|

|

|

+

0

+

+

*

0

+

+

*

+

|

#

0

+

0

+

ILIAS

+

*

|

0

0

0

*

*

|

0

+

*

|

|

+

+

|

|

+

0

+

#

*

0

#

+

*

0

#

*

|

+

+

+

LON-CAPA

+

*

|

|

0

0

*

+

|

|

|

*

|

|

0

+

0

#

0

+

+

#

#

|

0

+

+

0

+

+

0

|

#

#

Moodle

*

*

0

+

0

0

*

*

*

#

+

*

*

|

+

+

#

#

+

+

#

+

*

*

#

+

+

+

|

|

|

|

|

|

OpenUSS

#

*

0

+

0

|

*

0

|

0

+

#

0

0

+

+

+

+

|

+

#

#

#

0

0

+

|

+

0

0

0

0

|

#

Sakai

#

*

0

|

0

0

*

0

*

#

|

*

*

0

|

|

#

|

|

0

0

0

*

0

0

+

+

+

0

+

|

+

0

0

Spaghettilearning

|

*

|

|

0

0

*

+

0

0

|

*

*

+

+

|

+

+

|

+

+

#

+

0

0

+

+

0

|

0

|

|

|

0

Gambar 1 Hasil penelitian Graf & List (2005)
Hasil dari penelitian ini yaitu secara umum Moodle dapat dikatakan merajai
kompetisi ini, unggul terutama di kategori communication tools, learning objects,
management of user data, usability, dan adaptation. ILIAS dan Dokeos di urutan
kedua dan ketiga, sedangkan urutan keempat adalah Atutor, LON-CAPA,
Spaghettilearning dan Open USS. Sakai dan dotLRN ada di posisi terakhir.

2.1.3 Learning Technology System Architecture (LTSA)
Dalam dokumen draft standar (IEEE, 2002) Learning Technology System
Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28) disebutkan bahwa LTSA adalah
suatu standar internasional sistem pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan
IEEE 1484.1 Learning Technology Standards Committee (LTSC). LTSA adalah
sebuah arsitektur yang berbasis pada komponen abstrak. Tingkat abstraksi yang
lebih tinggi dapat “diterapkan” pada tingkat yang lebih rendah: baik sebagai
abstraksi tingkat yang lebih rendah, atau sebagai implementasi aktual. Sistem
teknologi pembelajaran (implementasinya) dapat dipetakan dari/ke LTSA. Batas-

9

batas, fungsi, dan dekomposisi aktual atau sistem teknologi pembelajaran abstrak
mungkin tidak memiliki struktur yang sama dengan LTSA, artinya pemetaan
untuk LTSA tidak mungkin “satu-ke-satu”.
Tidak semua sistem teknologi pembelajaran akan memiliki semua
komponen LTSA atau dengan kata lain pemetaan untuk LTSA tidak mungkin
persis sama.

LTSA dimaksudkan untuk memiliki penerapan yang luas atas

sistem teknologi pembelajaran. Tidak ada teknologi suatu generasi tertentu tersirat
dengan LTSA, jadi mungkin LTSA berlaku pada masa lalu (misalnya pada kurun
waktu 10, 30 dan 100 tahun yang lalu), masa kini (misalnya pada sistem yang
sudah ada), dan masa depan (misalnya pada sistem 10 tahun dari sekarang).
Standar ini menetapkan arsitektur level tinggi untuk pembelajaran yang
didukung

teknologi

informasi,

pendidikan,

dan

sistem

pelatihan

yang

menggambarkan desain sistem tingkat tinggi beserta komponen-komponennya.
Standar ini mencakup berbagai sistem secara luas, umumnya dikenal sebagai
teknologi pembelajaran, teknologi pendidikan dan pelatihan, pelatihan berbasis
komputer, instruksi berbantuan komputer, dan intelligent tutoring. Standar ini
bersifat netral terhadap aspek pedagogis, konten, budaya, implementasi, dan
platform. Standar ini (IEEE, 2002): (1) menyediakan kerangka bagi pemahaman
sistem yang sudah ada dan yang akan dibangun, (2) mempromosikan
interoperabilitas dan mudah dibawa (portable) dengan mengidentifikasi abstrak
dan antarmuka sistem tingkat tinggi, serta (3) menggabungkan berbagai teknis
(penerapan) minimal 5-10 tahun sambil tetap mudah beradaptasi dengan teknologi
baru dan sistem teknologi pembelajaran. Standar ini akan memfasilitasi
pengembangan pedoman konfigurasi (misalnya profil) untuk sistem teknologi
pembelajaran umum. Standar ini tidak bersifat preskriptif maupun eksklusif.
Selanjutnya, dalam standar tersebut juga dikatakan bahwa secara umum,
tujuan pengembangan arsitektur sistem adalah untuk menciptakan kerangka kerja
tingkat tinggi untuk memahami jenis sistem tertentu, subsistemnya, dan interaksi
mereka dengan sistem yang terkait, atau dengan kata lain dimungkinkan untuk
lebih dari satu arsitektur (IEEE, 2002). Suatu arsitektur bukanlah suatu cetak biru
untuk merancang sebuah sistem tunggal, tetapi suatu kerangka kerja untuk
merancang berbagai sistem dari waktu ke waktu, dan untuk analisis dan

10

perbandingan sistem-sistem, atau dapat dikatakan arsitektur digunakan untuk
analisis dan komunikasi. Dengan mengungkapkan komponen bersama atas sistem
yang berbeda pada tingkat yang tepat secara umum, arsitektur mempromosikan
desain dan implementasi komponen dan subsistem yang dapat digunakan kembali,
dengan biaya yang efektif dan mudah beradaptasi, atau dengan kata lain bersifat
abstrak, antarmuka interoperabilitas tingkat tinggi dan layanan yang dapat
diidentifikasi. Kerangka arsitektur yang dikembangkan dalam standar ini tidak
dimaksudkan memberikan rincian implementasi spesifik yang diperlukan untuk
membuat komponen sistem teknologi pembelajaran.
2.1.3.1 Learning Technology System Architecture (LTSA) Layer
LTSA menspesifikasikan lima lapisan (layer), tetapi hanya layer 3 yang
bersifat normatif sedangkan layer lainnya bersifat informatif. Normatif adalah
istilah yang digunakan dalam LTSA sebagai petunjuk pada spesifikasi sistem
secara teknis pada implementasi yang akan dilakukan. Informatif adalah istilah
pada LTSA yang cukup membantu dalam perancangan arsitekturnya, namun
bukan merupakan hal yang diperlukan untuk mengerti isi dari standar LTSA. Hal
ini tidak termasuk spesifikasi teknis dan bukan berasal dari bagian terintegrasi
dari standar LTSA (IEEE, 2002).
Setiap layer menggambarkan sebuah sistem pada level yang berbeda.
Layer yang lebih tinggi memiliki prioritas yang lebih besar dan berpengaruh
dalam analisis dan perancangan sistem. Berikut ini adalah lima layer yang
dispesifikasikan LTSA (IEEE, 2002):
(1)

Layer 1: Learner and Environment Interaction
Layer ini berfokus kepada akuisisi learner, transfer, pertukaran, formulasi
dan penemuan pengetahuan dan atau informasi melalui interaksi dengan
lingkungan.

(2)

Layer 2: Learner-Related Design Features
Layer ini berfokus kepada pengaruh yang dimiliki learner pada perancangan
sistem teknologi pembelajaran.

(3)

Layer 3: System Components
Layer ini mendeskripsikan arsitektur berbasis komponen yang diidentifikasi
pada layer 2.

11

(4)

Layer 4: Stakeholder Perspective and Priorities
Layer ini mendeskripsikan sistem teknologi pembelajaran dari berbagai
perspektif dengan mengacu pada layer 3. Setiap stakeholder memiliki
perspektif yang berbeda terhadap sistem pembelajaran. Analisis terhadap
perspektif dapat menghasilkan:
a. Verifikasi dan validasi komponen LTSA pada sistem.
b. Penentuan komponen LTSA yang tidak perlu dan perlu ditekankan pada
sistem.
c. Indikasi berbagai prioritas perancangan level tinggi dan level rendah.

(5)

Layer 5: Operational Components and Interoperability (codings, APIs,
protocols)
Layer ini mendeskripsikan komponen dan antar muka yang bersifat generik
dari arsitektur pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti yang
diidentifikasi pada layer 4.
Kelima spesifikasi layer arsitektur dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Lima layer LTSA (IEEE, 2002)
Keterangan notasi pada gambar:
LE
C
D
E
LR
R
M
IC

: Learner Entity
: Coach
: Delivery
: Evaluation
: Learning Resources
: Learner Records
: Multimedia
: Interaction Context

B
LP
A
LI
L
LC
CI
Q

: Behavior
: Learning Parameters
: Assessment
: Learner Info
: Locator
: Learning Content
: Catalog Info
: Query

Lima layer abstrak ini mengidentifikasi prioritas desain, atau urutan desain
dari yang paling penting sampai ke paling tidak penting. Pengembang akan
mengerti bahwa, misalnya, fitur manusia pada sistem teknologi pembelajaran

12

(layer 2) memiliki efek yang lebih luas pada desain sistem daripada, misalnya,
format multimedia (layer 5). Format multimedia mempunyai lingkup kecil.
Lima layer mewakili lima bidang independen analisis teknis. Sebagai
contoh, adalah mungkin untuk mendiskusikan sebuah abstraksi (misalnya,
komponen sistem LTSA atau layer 3), terlepas dari implementasi (misalnya,
coding, API, dan protocols yang merupakan implementasi aktual/layer 5).
Dengan kata lain, meskipun layer 3 berisi komponen seperti “evaluasi” dan
“pelatih”, komponen-komponen ini adalah “konseptual” dalam arti tidak ada
keharusan bagi komponen-komponen tersebut disebut sebagai “evaluasi” dan
“pelatih” dalam implementasi aktual.
Lima layer LTSA membantu memisahkan “gambar besar” dari “rincian”.
Penggunaan beberapa layer membantu pembaca memahami struktur “langkah
demi langkah”. Layer 3 (komponen sistem) dapat digunakan untuk menganalisis
kebutuhan interoperabilitas antar subsistem utama dalam sistem teknologi
pembelajaran. Berikut penjelasan lebih rinci mengenai layer pada LTSA (IEEE,
2002):
(1)

Layer 1 learner-environment interaction (Interaksi antara learner dengan
lingkungannya)
Layer 1 atau layer atas LTSA adalah layer arsitektur yang sangat
umum yang disebut “learner-environment interaction”.
Internet/Web
Mentor
Books

Lab

Teacher
Television

Employer
Library
Other Employees*

Parent
Coach

Collaboration*
School

Computers
Other Learners*
Multimedia
Newspaper
*Collaboration is
Internal to Learner

Gambar 3 Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar (IEEE, 2002)

Layer ini berfokus pada fungsi tingkat tertinggi (yang paling umum)
dari perspektif teknologi informasi: learner memiliki pengetahuan baru
atau berbeda setelah mendapatkan pengalaman belajar. Dalam teknologi

13

informasi, ini adalah diagram salah satu subsistem (lingkungan) yang
mentransfer informasi ke subsistem (learner), yang disebut suatu interaksi.
Diagram learner-environment interaction tidak dimaksudkan untuk
mewakili teori belajar yang ada atau proses pembelajaran. Ini merupakan
isu yang ada dalam teknologi informasi pada sistem teknologi pembelajaran
dan berguna untuk analisis dan teknik desain rekayasa perangkat lunak
secara umum dan mudah dipahami. Untuk keperluan standar ini, fokus
utama adalah teknologi informasi.
Sebagai catatan, pada layer ini seringkali ditemukan kebingungan atau
salah tafsir. Tujuan dari layer ini adalah untuk melihat sistem dari perspektif
teknologi informasi (terutama dalam hal aliran informasinya). Banyak yang
salah mengartikan layer ini sehingga memahaminya sebagai deskripsi
beberapa teori belajar. Perlu ditegaskan bahwa deskripsi ini bukanlah
sebuah diagram dari teori belajar apapun. Tujuan dari deskripsi teknologi
pembelajaran pada layer ini adalah untuk menghubungkannya dengan
metodologi rekayasa perangkat lunak sehingga dapat menciptakan abstraksi
pada layer yang lebih rendah.

Learner
Entity

Environment

Learning
Interactions

Learner

Learner Collaboration
Learner

Gambar 4 Cara pandang sistem dari learner-environment interaction (IEEE,
2002)
Diagram interaksi learner-environment interaction (Gambar 4) hanya
mewakili learner entity dan lingkungan mereka dari perspektif rekayasa
sistem teknologi informasi, artinya diagram ini tidak menggambarkan
penelitian terkini tentang teori belajar. Diagram ini sama dengan diagram
pada Gambar 3. Kolaborasi antara learner bersifat internal bagi learner
entity kolektif.

14

Alasan

untuk

menggunakan

teknik

diagram

adalah

untuk

menyederhanakan suatu aspek rekayasa desain teknologi: fokusnya adalah
pada cara pandang keseluruhan terhadap arus informasi dan sistem tersebut
digambarkan sebagai panah satu arah (aliran) interaksi dari lingkungan bagi
learner entity. Implementasi konsep (abstraksi tingkat yang lebih rendah
atau sistem itu sendiri) dapat berfokus pada isu-isu pedagogis atau masalah
teknis lainnya.
Notasi LTSA pada kolaborasi learner adalah untuk menyederhanakan
fitur LTSA sehingga dalam hal ini kolaborasi learner bersifat internal pada
learner entity dan bukan merupakan komponen yang terpisah. Learner
entity (proses) mewakili abstraksi learner, yang dapat berupa seorang
individu, beberapa learner yang bekerjasama, atau para anggota sebuah tim
yang mempunyai tugas yang berbeda-beda. Analoginya dapat dilihat pada
sistem database yang terbagi yaitu beberapa database berkolaborasi untuk
menampilkan sebuah database.
Environment (proses) mewakili lingkungan dimana learner entity
berinteraksi.

Learning interactions atau interaksi pembelajaran yang

merupakan aliran data dapat dikolaborasikan menjadi pengalaman belajar.
(2)

Layer 2 Learner-related design features (Desain yang berfokus pada
learner)
Layer ini memfokuskan pada pengaruh learner terhadap desain sistem
teknologi pembelajaran.

Desain yang lebih rendah dari layer arsitektur

dipengaruhi oleh kebutuhan learner, khususnya, sifat manusia (yang
berbeda dengan mesin) dalam belajar. Rincian dari pengaruh learner pada
desain sistem berada di luar lingkup standar ini.
(3)

Layer 3 System Components (Komponen Sistem) dibahas tersendiri pada
sub-bab 2.1.3.2

(4)

Layer 4 Stakeholder perspective/priorities (perspektif/priotitas stakeholder)
Layer perspekti

Dokumen yang terkait

Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1).