PENGARUH PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP SISA HASIL USAHA PADA KOPERASI SAMUDERA SEJAHTERA SAMARINDA TAHUN BUKU 2009-2013 Oleh: Hasnawati ABSTRAK - Pengaruh Partisipasi Anggota Terhadap SHU Koperasi

PENGARUH PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP SISA HASIL USAHA PADA KOPERASI SAMUDERA SEJAHTERA SAMARINDA TAHUN BUKU 2009-2013

Oleh:

H a s n aw a t i ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui partisipasi anggota, sisa hasil usaha (SHU) dan pengaruh partisipasi anggota terhadap sisa hasil usaha Koperasi Samudera Sejahtera (KOMURA) Samarinda tahun buku 2009 – 2013.

Sampel dalam penelitian ini adalah partisipasi anggota dan sisa hasil usaha untuk tahun buku 1999 – 2003 (jangka waktu 5 tahun), dalam pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Sebagai alat analisis adalah menggunakan statistik regresi dan koefisien korelasi Product Moment.

Berdasarkan analisis data diperoleh persamaan regresi Y ˆ   96399071  0 , 416 X ,

serta r hitung sebesar 0,897 dengan interpretasi “tinggi”. Korelasi yang positif menunjukkan adanya hubungan antara variabel X dengan variabel Y. Berdasarkan uji F diperoleh F hitung=12,38 yang menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara variabel X terhadap variabel Y. Jadi hipotesis yang penulis ajukan yang dinyatakan diterima. Besarnya sumbangan 2 relatif partisipasi anggota terhadap sisa hasil usaha (SHU) adalah sebesar r = 0,805 (80,5%), sedang sisanya 19,5% di sebabkan oleh faktor lain yaitu partisipasi dari bukan anggota (masyarakat sekitar).

Ada keaktifan para anggota dalam berpartisipasi melalui simpanan pokok, simpanan wajib serta dalam melakukan transaksi pada koperasi mengakibatkan pendapatan koperasi naik. Hal ini dapat mempengaruhi kenaikan laba/sisa hasil uaha (SHU). Disarankan agar partisipasi anggota semakin ditingkatkan lagi tetapi pengurus mencatatnya dengan teliti, serta adanya pencatatan tersendiri bagi pembelian di luar anggota, di samping itu agar pihak Dinas Koperasi Pembinaan Usaha Kecil kota Samarinda dapat melakukan membimbing terus-menerus misalnya dengan membantu peminjaman modal.

Kata kunci : partisipasi anggota, SHU koperasi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-perorangan atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat dan sebagai suatu badan usaha mempunyai peran dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur, maju, sejahtera. Diharapkan Koperasi dapat membangun dirinya sendiri agar kuat dan mandiri sehingga dapat berperan sebagai soko guru perekonomian Indonesia.

Perkoperasian adalah segala sesuatu yang menyangkut kehidupan Koperasi. Gerakan Koperasi adalah keseluruhan organisasi Koperasi dan kegiatan perkoperasian yang bersifat terpadu menuju tercapainya cita-cita bersama Koperasi. Perkoperasian di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, dan bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur . Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian disebutkan bahwa tujuan koperasi adalah untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, ikut serta membangun tatanan perekonomian Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Anggota adalah pemilik sekaligus pengguna pelayanan koperasi. Kesadaran dan penghayatan anggota terhadap koperasinya sangat diperlukan dengan tujuan akhirnya adalah meningkatnya partisipasi anggota dalam usaha koperasinya. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan perkoperasian yang standar, terprogram, dan berkelanjutan bagi anggota.

Keaktifan anggota berpartisipasi dalam pembiayaan koperasi berupa simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela serta pemanfaatan berbagai potensi pelayanan yang disediakan koperasi akan meningkatkan modal koperasi, terutama modal kerja dan omzet usaha koperasi. Hal ini tentu akan membuat koperasi akan menjadi berkembang lebih baik dan akan menguntungkan anggota terutama dengan adanya kenaikan perolehan sisa hasil usaha koperasi.

Dengan keaktifan partisipasi para anggota dalam berkoperasi maka kegiatan koperasi dapat berjalan dengan lancar. Semakin banyak transaksi-transaksi pada koperasi oleh anggota maupun bukan anggota akan semakin meningkat pula pendapatan koperasi, sehingga modal kerja koperasi akan semakin meningkat pula. Modal kerja inilah yang perlu diperhatikan oleh para pengurus koperasi untuk mengelolanya dengan baik, sehingga modal kerja itu dapat digunakan secara ekonomis dan efektif untuk pembiayaan operasional koperasi sehari-hari.

Modal kerja merupakan jumlah dana yang terus menerus harus menghubungkan antara saat pengeluaran uang untuk memperoleh barang, dengan saat penerimaan penjualan. Koperasi harus tetap melakukan pembelian bahan, membayar upah pegawai, membayar rekening listrik, air, telepon dan sebagainya tanpa harus menunggu sampai diterimanya penjualan. Hal ini dilakukan agar koperasi masih bisa berjalan dengan lancar. Modal kerja di samping untuk pembiayaan operasional juga untuk pembayaran yang tidak ada kaitannya dengan produksi seperti cicilan pembelian harta tetap, membayar pajak, membayar Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada anggota, dan sebagainya.

Sisa hasil usaha koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya penyusutan, dan kewajiban lainya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan. Sisa Hasil Usaha (SHU) setelah dikurangi dana cadangan dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan lain dari koperasi sesuai dengan

keputusan Rapat Anggota . Oleh karena Anggota koperasi dituntut kesadarannya untuk aktif dalam memenuhi kewajibannya, karena kesadaran dalam memenuhi hak dan kewajiban anggota sangat diperlukan untuk pengembangan koperasi. Kesadaran yang tinggi anggota itu dimanifestasikan dalam bentuk adanya partisipasi aktif anggota koperasi yang diharapkan usaha yang dilaksanakan akan mendatangkan laba usaha. Dengan laba usaha (Sisa Hasil Usaha) yang diperoleh setiap periode tahun buku yang sebagian dicadangkan sebagai dana dan sebagian digunakan untuk memupuk modal keputusan Rapat Anggota . Oleh karena Anggota koperasi dituntut kesadarannya untuk aktif dalam memenuhi kewajibannya, karena kesadaran dalam memenuhi hak dan kewajiban anggota sangat diperlukan untuk pengembangan koperasi. Kesadaran yang tinggi anggota itu dimanifestasikan dalam bentuk adanya partisipasi aktif anggota koperasi yang diharapkan usaha yang dilaksanakan akan mendatangkan laba usaha. Dengan laba usaha (Sisa Hasil Usaha) yang diperoleh setiap periode tahun buku yang sebagian dicadangkan sebagai dana dan sebagian digunakan untuk memupuk modal

Koperasi Samudra Sejahtera (KOMURA) Samarinda merupakan koperasi yang mempunyai usaha jasa-jasa angkutan, bongkar muat barang dari kapal, telekomunikasi, simpan pinjam dan pertokoan. Saat ini koperasi telah memiliki anggota sebanyak 1.140 orang adalah salah satu dari koperasi-koperasi di Indonesia yang merupakan wadah ekonomi yang berbasis ekonomi kerakyatan. Koperasi yang berdiri sejak tahun 1990 berdasarkan hasil laporan neraca keuangan telah telah meningkat omzetnya dari tahun ke tahun sehingga meningkat pula Sisa Hasil Usaha (SHU) dan mampu membagi Sisa Hasil Usaha (SHU) secara proporsional berdasarkan transaksi dan partisipasi modal, semakin besar jasa anggota melakukan transaksi pada koperasi maka semakin besar pula perolehan Sisa hasil Usaha (SHU).

Disamping melayani anggota Koperasi Samudera Sejahtera juga memberi pelayanan kepada bukan anggota, namun kelihatan proporsi transaksi dari anggota lebih besar daripada transaksi dari bukan anggota. Hal ini menunjukkan jati diri koperasi tersebut betul-betul merupakan koperasi sejati, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada koperasi tersebut.

Berdasarkan atas latar belakang yang telah di uraikan di atas maka judul peneilitian ini adalah : “Pengaruh Partisipasi Anggota Terhadap Sisa Hasil Usaha Pada Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian di atas, maka permasalahanan dalam penelitian ini adalah apakah partisipasi anggota mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi ?.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui partisipasi anggota Koperasi .

2. Untuk mengetahui besarnya Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi .

3. Untuk mengetahui pengaruh partisipasi anggota terhadap Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi.

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk pengurus koperasi Samudra Sejahtera Samarinda agar dapat memahami pentingnya partisipasi anggota untuk memupuk modal kerja dalam rangka pengembangan koperasi, sehingga dapat meningkatkan langkah-langkah terutama pendidikan anggota dalam kesadaran berkoperasi.

2. Untuk Dinas Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil agar dapat selalu membina dan mengembangkan koperasi terutama berkaitan dengan masalah partisipasi anggota terhadap permodalan dalam rangka meningkatkan Sisa Hasil Usaha (SHU).

3. Untuk semua anggota Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda agar mempunyai kesadaran yang tinggi dalam berpartisipasi aktif di koperasi agar koperasi masih tetap eksis di lingkungan kerjanya.

4. Untuk peneliti yang akan meneliti dengan judul yang sama agar dapat mempertimbangkan hasil penelitian ini sebagai bahan perbandingan dan telaahan.

BAB II LANDASAN TEORETIS

A. Hakikat Koperasi

Istilah koperasi menurut etimologi berasal dari bahasa Inggris, co = bersama, operation = usaha, koperasi berarti usaha bersama. Pendapat mengenai definisi koperasi sebagaimana dikutip dalam situs rullyindrawan.tripod.com dikemukakan Hanel oleh para pendukung pendekatan esensialis, institusional, maupun nominalis. Sementara Abrahamsen menjelaskan pendekatan esensialis, memandang koperasi atas dasar suatu daftar prinsip yang membedakan koperasi dengan organisasi lainnya. Prinsip-prinsip ini di satu pihak memuat sejumlah nilai, norma, serta tujuan nyata yang tidak harus sama ditemukan pada semua koperasi. Dari pendekatan esensialis ini, International Cooperative Alliance (ICA) dalam kutipan rullyindrawantripod.com (2003) telah merumuskan pengertian koperasi atas dasar enam prinsip pokok, antara lain:

1. Voluntary membership without restrictions as to race, political views and religious beliefs;

2. Democratic Control;

3. Limited interest or no interest on shares of stock; Earnings to belong to members, and method of distribution to be decided by them;

4. Education of members, advisors, employees, and the public at large;

5. Cooperation among cooperatives on local, national, and international levels.

Pendekatan institusional, dalam mendefinisikan koperasi berangkat dari kriteria formal (legal). Menurut pendekatan ini: "Semua organisasi disebut koperasi jika secara hukum dinyatakan sebagai koperasi, jika dapat diawasi secara teratur dan jika dapat mengikuti prinsip-prinsip koperasi".

Pendekatan nominalis, dengan pelopornya para ahli ekonomi koperasi dari Universitas Philipps-Marburg, merumuskan pengertian koperasi atas dasar sifat khusus dari struktur dasar tipe sosial-ekonominya. Menurut pendekatan nominalis, koperasi dipandang sebagai organisasi yang memiliki empat unsur utama, yaitu:

1. Individual are united in a group by-at least one common interest or goal (COOPERATIVE GROUP);

2. The individual members of the cooperative group intend to pursue throught joint actions and mutual support, among other, the goal of improving their economic and social situation (SELF-HELP OF THE COOPERA- TIVE GROUP);

3. The use as an instrument for that purpose a jointly owned and maintained enterprise (COOPERATIVE ENTERPRISE);

4. The cooperative enterprise is charged with the perfomance of the (formal) goal or task to promote the members of the cooperative group through offering them directly such goods and services, which the members need for their individual economics - i.e. their household (CHARGE OR

PRINCIPLE OF MEMBER PROMOTION).

Menurut situs koperindo.com, Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-perorangan atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Pengertian ini sesuai dengan apa yang tercantum Menurut situs koperindo.com, Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-perorangan atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Pengertian ini sesuai dengan apa yang tercantum

Perkoperasian di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, dan bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur .

Jadi koperasi itu merupakan bentuk kerjasama orang-seorang atau badan yang bersamaan kepentingan, dan bukanlah kumpulan modal yang bertujuan memajukan kesejahteraan material anggotanya dengan memberi pelayanan kepada anggota seadil- adilnya. Pengelolaan koperasi dilakukan secara terbuka yang senantiasa mengalami koordinasi antara koperasi satu dengan koperasi lainnya, jadi tidak ada persaingan dalam koperasi.

Dari penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa koperasi memiliki ciri-ciri yang khas sebagai sebuah organisasi. Koperasi lahir dengan memiliki tiga unsur pokok yakni, (a) kerjasama dua orang atau lebih, (b) tujuan yang akan dicapai, (c) kegiatan yang dikoordinir secara sadar.

Koperasi tidak sama dengan Badan Hukum lainnya semacam Perseroan Terbatas, Firma, CV atau juga dengan perusahaan perseorangan. Untuk itu Amin Widjaja Tunggal (1995:3-4), telah menentukan ciri-ciri dari koperasi sebagai berikut:

1. Perkumpulan orang

2. Pembagian keuntungan menurut perbandingan jasa. Jasa modal dibatasi

3. Tujuannya meringankan beban ekonomi anggotanya, memperbaiki kesejahteraan anggotanya pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

4. Modal tidak tetap, berubah menurut banyaknya simpanan anggota.

5. Tidak mementingkan pemasukan modal/pekerjaan usaha tetapi keanggotaan pribadi dengan prinsip kebersamaan.

6. Dalam rapat anggota, tiap anggota masing-masing satu suara tanpa memperhatikan jumlah modal masing-masing.

7. Setiap anggota bebas untuk masuk/keluar (anggota berganti) sehingga dalam koperasi tidak ada modal permanen.

8. Seperti halnya perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) maka Koperasi mempunyai Badan Hukum.

9. Menjalankan suatu usaha

10. Penanggungjawab koperasi adalah pengurus.

11. Koperasi bukan kumpulan modal beberapa orang yang bertujuan mencari laba sebesar-besarnya.

12. Koperasi adalah usaha bersama, kekeluargaan dan kegotongroyongan. Setiap anggota berkewajiban bekerjasama untuk mencapai tujuan yaitu kesejahteraan para anggota.

13. Kerugian dipikul bersama antara anggota. Jika koperasi menderita kerugian, maka para anggota memikul bersama. Anggota yang tidak mampu dibebaskan atas beban/tanggungan kerugian. Kerugian dipikul oleh anggota yang mampu.

Dari rincian tersebut jelas terdapat perbedaan yang sangat prinsip antara koperasi dengan badan usaha lainnya. Badan usaha selain koperasi merupakan Dari rincian tersebut jelas terdapat perbedaan yang sangat prinsip antara koperasi dengan badan usaha lainnya. Badan usaha selain koperasi merupakan

Menurut Maman dalam kutipan rullyindarawan.tripod.com membedakan koperasi dengan organisasi usaha non-koperasi, dengan melihat lima (5) hal yakni: (a) sifat keanggotaan, (b) pembagian keuntungan, (c) hubungan personal antara organisasi dan manajer, (d) keterlibatan pemerintah dalam penciptaan stabilitas dan operasi, dan (e) hubungan organisasi dan masyarakat

Oleh karena itu para anggota koperasi harus tahu tentang prinsip dasar Koperasi agar mereka tidak terkecoh antara keberadaan Koperasi dengan Badan Usaha lain (CV, PT dan Firma). Menurut situs koperindo.com (2003) merinci prinsip koperasi yaitu:

a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka

b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis

c. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besar jasa usaha anggota

d. Pemberian balas jasa terbatas terhadap modal

e. Mandiri, tidak tergantung kepada pihak lain

f. Pendidikan perkoperasian untuk mewujudkan tujuan koperasi

g. Kerjasama antarkoperasi Prinsip-prinsip koperasi tersebut sesuai Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992,

pasal 5 ayat 1 dan 2 . Dengan adanya landasan kerja koperasi, maka dalam melaksanakan kegiatan- kegiatannya tidak boleh menyimpang dari apa yang telah ditentukan di dalamnya. Setiap bertindak hendaknya mencerminkan jiwa Pancasila, karena hal ini sudah menjadi falsafah bangsa dan negara Indonesia. Di samping itu dalam gerak dan langkahnya, koperasi harus sesuai dengan pasal 33 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan.

Pasal di atas mencerminkan adanya demokrasi ekonomi yang berarti produksi dikerjakan oleh setiap orang di bawah pimpinan atau pemilikan anggota pada suatu masyarakat. Oleh karena itu koperasi Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Karena kemakmuran bukanlah untuk orang seorang melainkan untuk semua masyarakat. Di samping itu koperasi adalah unsur pendidikan yang baik untuk memperkuat ekonomi dan moral.

Tentang peranan koperasi dalam kehidupan suatu perekonomian oleh Amin Widjaja Tunggal (1995:5) dirinci sebagai berikut:

a. Membantu anggota untuk peningkatan pendapatan/penghasilan.

b. Menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan.

c. Meningkatkan taraf hidup masyarakat.

d. Turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

e. Mempersatukan dan mengembangkan daya usaha dari orang, baik perseorangan maupun warga masyarakat.

f. Menyelenggarakan kehidupan ekonomi secara demokrasi.

Dalam situs koperindo.com fungsi dan peranan koperasi adalah :

a. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.

b. Berperan serta aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

c. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional.

d. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Peranan koperasi yang telah dirinci tersebut merupakan suatu cita-cita yang luhur dan pantas untuk di laksanakan terutama untuk membangun perekonomian Indonesia yang terpuruk. Dengan adanya koperasi yang kokoh maka banyak kemanfaatan yang diperoleh disana, seperti menyediakan lapangan pekerjaan, membantu penambahan pendapatan keluarga, menimbulkan rasa kebersamaan diantara anggota jadi koperasi merupakan alat untuk mempererat persatuan, dan tentu keberadaan koperasi telah turut andil dalam pembangunan perekonomian Indonesia dan membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengenai bentuk koperasi pada umumnya dibagi dua, menurut situs koperindo. com antara lain :

a. Koperasi Primer yaitu koperasi yang didirikan oleh dan ber -anggotakan orang-perorangan.

b. Koperasi Sekunder yaitu koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan koperasi Dalam penelitian ini, Koperasi Samudra Sejahtera termasuk jenis koperasi primer karena anggotanya adalah orang-perorangan, yakni para pegawai pekerja bongkar muat barang dari kapal.

Organisasi sebuah koperasi mempunyai perangkat yang terdiri dari rapat anggota, pengurus dan pengawas. Pengelola dalam sebuah koperasi merupakan pemegang kuasa dari pengurus koperasi yang diberi wewenang untuk mengelola usaha dan merupakan hubungan kerja atas dasar perikatan, sedangkan tanggung jawab pengurus mengenai segala kegiatan pengelolaan koperasi dan usahanya kepada rapat anggota tidak menjadi berkurang. Pengurus dan pengawas koperasi dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota.

Pengurus mempunyai masa jabatan paling lama 5 (lima) tahun, dan merupakan pemegang kuasa rapat anggota. Untuk pertama kali, susunan pengurus dicantumkan dalam Akta Pendirian Koperasi. Pengurus koperasi, baik secara bersama-sama, maupun sendiri-sendiri, menanggung kerugian yang diderita koperasi, karena tindakan yang dilakukan dengan kesengajaan dan kelalaiannya, dan apabila dilakukan dengan kesengajaan, tidak menutup kemungkinan bagi penuntut umum untuk melakukan penuntutan.

Tugas dari pengawas koperasi adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi serta membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya, dan Pengawas berwenang meneliti catatan yang ada pada koperasi serta mendapatkan segala keterangan yang diperlukan. Koperasi dapat meminta jasa audit kepada akuntan publik dalam rangka peningkatan efisiensi, pengelolaan yang bersifat terbuka, dan melindungi pihak yang berkepentingan. Pengelola koperasi diangkat untuk mewujudkan profesionalisme dalam pengelolaan Tugas dari pengawas koperasi adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi serta membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya, dan Pengawas berwenang meneliti catatan yang ada pada koperasi serta mendapatkan segala keterangan yang diperlukan. Koperasi dapat meminta jasa audit kepada akuntan publik dalam rangka peningkatan efisiensi, pengelolaan yang bersifat terbuka, dan melindungi pihak yang berkepentingan. Pengelola koperasi diangkat untuk mewujudkan profesionalisme dalam pengelolaan

Modal koperasi terdiri dari modal sendiri, berupa simpanan pokok dan wajib, dana cadangan, serta hibah, dan modal pinjaman dari anggota, koperasi lainnya, Bank atau lembaga keuangan lain, penerbitan obligasi, serta sumber lain yang sah, dan koperasi dapat pula melakukan pemupukan modal yang berasal dari penyertaan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992, bab VII pasal 41 dan

42 (Anonim, 2002):

1) Modal koperasi terdiri modal sendiri dan modal pinjaman

2) Modal sendiri dapat berasal dari:

a. Simpanan pokok

b. Simpanan wajib

c. Dana cadangan

d. Hibah

3) Modal pinjaman dapat berasal dari:

a. Anggota

b. Koperasi lainnnya dan anggotanya

c. Bank dan lembaga keuangan lainnya

d. Penerbitan obligasi dan syarat utang lainnya.

e. Sumber lain yang syah.

Jadi dapat ditarik kesimpulan modal koperasi adalah kekayaan yang dapat digunakan dalam suatu proses produksi/perdagangan untuk menghasilkan suatu barang/jasa guna untuk kesejahteraan para anggota koperasi.

Lapangan usaha koperasi adalah usaha-usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraan anggota. Kelebihan kemampuan pelayanan koperasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang bukan anggota koperasi. dengan demikian koperasi dapat berperan utama di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat.

B. Partisipasi Anggota

Kata partisipasi diserap dari bahasa Inggris participation yang artinya mengikutsertakan pihak lain. Seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsinya akan berhasil jika mengikutsertakan partisipasi semua komponen dan unsur yang ada dalam organisasi.

Demikian pula untuk koperasi, koperasi akan berfungsi dengan baik dan berhasil jika mengikut sertakan partisipasi anggota, tanpa adanya partisipasi anggota mustahil koperasi dapat berhasil dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sagimun MD (1965:17) :

Koperasi adalah suatu alat untuk memperbaiki kehidupan berdasarkan tolong menolong diri sendiri dan auto activitieit dalam bentuk kerja sama. Hal ini menunjukkan koperasi itu diperlukan partisipasi anggota itu sendiri, artinya anggota itu berpartisipasi untuk anggota itu sendiri.

Dari pendapat tersebut bahwa koperasi hanyalah suatu alat untuk mencapai tujuan bersama, alat tersebut dapat berjalan bila orang-orang bisa bekerjasama. Dengan demikian yang bisa menghidupkan sarana untuk memperbaiki kehdupan yang berdasar atas kegotong royongan atau kekeluargaan tidak lain adalah partisipasi anggota.

Sejalan dengan pendapat di atas dikemukakan pula oleh Ninik Widiyanti (1994:65) bahwa:

Partisipasi anggota diukur dari kesediaan anggota itu untuk memikul kewajiban dan menjalankan hak keanggotaan serta bertanggungjawab jika sebagian besar anggota koperasi sudah menunaikan kewajiban dan melaksanakan hak serta bertanggung jawab, maka partisipasi anggota koperasi yang bersangkutan sudah dikatakan baik. Akan tetapi jika ternyata hanya sedikit yang demikian, maka partisipasi anggota koperasi dimaksud dikatakan buruk atau rendah.

Jadi partisipasi anggota sebagai anggota koperasi yang dijadikan ukuran adalah kesediaan dan kepatuhan anggota dalam memenuhi kewajiban dan menjalankan hak keanggotaan. Sedangkan kewajiban anggota adalah melakukan simpanan di koperasi baik simpanan pokok dan simpanan wajib maupun simpanan sukarela. Kemudian hak anggota koperasi adalah mendapatkan pelayanan fasilitas dari koperasi.

Apa yang dijelaskan di atas sejalan dengan pendapat Hendar dan Kusnadi (1999:61) yang menyatakan:

Partisipasi pada koperasi dapat berupa partisipasi kontribusi dan dapat pula partisipasi intensif. Kedua jenis partisipasi tersebut timbul sebagai akibat peran ganda anggota sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelanggan. Dalam kedudukannya sebagai pemilik :

a. Para anggota memberikan kontribusinya terhadap pembentukan dan pertumbuhan perusahaan koperasi dalam bentuk kontribusi keuangan (penyerahan simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela), dan

b. Mengambil bagian dalam penetapan tujuan, pembuatan keputusan, dan proses pengawasan terhadap jalannya perusahaan koperasi. Partisipasi semacam ini disebut partisipasi kontributif. Kemudian dalam kedudukannya

para anggota memanfaatkan berbagai potensi pelayanan yang disediakan oleh perusahaan koperasi dalam menunjang kepentingannya. Partisipasi ini disebut partisipasi intensif.

sebagai

pelanggan/pemakai,

Kegiatan koperasi ini digalakkan dalam upaya menanamkan rasa kebersamaan dalam bidang sosial ekonomi, karena koperasi merupakan implementasi dari sistem ekonomi Pancasila. Di samping itu sebagai bentuk dari partisipasi anggota dalam program-program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Jadi partisipasi anggota dalam koperasi ini sekaligus sebagai partisipasi terhadap program pemerintah. Oleh karena itu, partisipasi ini harus dijaga oleh pengurus atau badan pengawas suatu koperasi.

Menurut Harsoyono Subyako dalam kutipan Sri Edi Swasono (1983:270) menyatakan:

Dengan berasumsi bahwa partisipasi anggota masih cukup baik, maka pengawasan yang seharusnya dilaksanakan oleh badan pemeriksa supaya baik, sebab seringkali rendahnya partisipasi anggota koperasi karena badan pemeriksa masih terdiri dari orang-orang yang percaya dengan pengurus, sementara pengurusnya kurang jujur. Oleh karena itu badan pemeriksa benar-benar menjalankan tugas dan fungsinya supaya anggota yakin koperasi berjalan sebagaimana mestinya dan hal ini dapat meningkatkan partisipasi anggota.

Dengan demikian partisipasi anggota dalam kegiatan koperasi sangat diharapkan peran aktif setiap anggota koperasi, dalam arti anggota tidak hanya selalu percaya kepada pengurus terutama dengan laporan-laporan yang diberikan pengurus, tetapi benar-benar diperiksa dan diawasi mekanisme jalannya usaha koperasi.

Partisipasi anggota yang terdiri partisipasi kontributif dan partisipasi insentif mempunyai hubungan yang erat, sebagaimana dijelaskan oleh Hendar dan Kusnadi (1996:61) :

a. Dalam rangka membiayai pertumbuhan koperasi, kontribusi keuangan baik yang berupa simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela maupun yang berasal dari usaha sendiri para anggota (partisipasi kontribusi keuangan) sangat diperlukan.

b. Setelah dana yang terkumpul tersebut digunakan oleh perusahaan koperasi, proses pengambilan keputusan mengenai penetapan tujuan dan kebijaksanaan serta proses pengawasan jalannya perusahaan koperasi harus melibatkan anggota karena anggota sebagai pemilik perusahaan koperasi (partisipasi kontributif anggota dalam pengambilan keputusan).

c. Tetapi untuk mendukung pertumbuhan koperasi, anggota sebagai pelanggan/pemakai memanfaatkan setiap pelayanan koperasi, manfaat yang diperoleh anggota tersebut akan semakin banyak, dan bila ini terjadi, kesadaran dalam pelaksanaan partisipasi kontributif akan semakin meningkat. Oleh karena itu anggota perlu dirangsang dengan pelayanan-pelayanan yang menarik dan sesuai kebutuhan anggota.

Berdasarkan uraian di atas maka partisipasi anggota koperasi, terutama pada Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda mempunyai ciri-ciri anggota yang berpartisipasi baik dapatlah dirumuskan sebagai berikut:

1. Melunasi simpanan pokok dan simpanan wajib secara tertib.

2. Menghadiri rapat-rapat dan pertemuan anggota secara aktif.

3. Menggunakan hak untuk mengawasi jalannya usaha koperasi, mengetahui anggaran dasar dan rumah tangga, peraturan-peraturan lainnya dan keputusan bersama lainnya.

4. Aktif dalam melakukan transaksi yang dilayani koperasi baik unit simpan pinjam maupun unit toko dan jasa-jasa bongkar muat kapal.

5. Aktif dalam melunasi iuran pokok, iuran wajib dan iuran sukarela Agar koperasi tetap eksis maka partisipasi anggota selalu ditingkatkan dari hari – hari ke hari dan tahun ke tahun, Untuk itu, dibutuhkan pendidikan perkoperasian yang standar, terprogram, dan berkelanjutan bagi anggota. Dalam situs lapenkopnas.com tujuan pendidikan anggota adalah meningkatkan :

a. Kontribusi modal anggota

b. Kesadaran anggota untuk memanfaatkan pelayanan usaha koperasi

c. Keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan

d. Pengawasan anggota terhadap koperasinya Sementara itu dalam lapenkopnas (2002:8) menyiratkan tentang partisipasi anggota yang berkaitan dengan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi adalah partisipasi anggota dalam melakukan transaksi di koperasi dan partispasi modal (jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib). Dengan demikian beradasarkan uraian tersebut maka yang dimaksud dengan partisipasi anggota adalah kontribusi anggota koperasi d. Pengawasan anggota terhadap koperasinya Sementara itu dalam lapenkopnas (2002:8) menyiratkan tentang partisipasi anggota yang berkaitan dengan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi adalah partisipasi anggota dalam melakukan transaksi di koperasi dan partispasi modal (jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib). Dengan demikian beradasarkan uraian tersebut maka yang dimaksud dengan partisipasi anggota adalah kontribusi anggota koperasi

C. Sisa Hasil Usaha

Koperasi yang telah berjalan dengan baik dimana mampu memupuk modal dan mampu menutupi kerugian maka koperasi telah mampu menghasilkan laba atau disebut dengan SHU (Sisa Hasil Usaha). Sisa Hasil Usaha penting diketahui oleh anggota karena SHU bagian anggota ditentukan secara proporsional berdasarkan besarnya transaksi dan kontribusi modal anggota, disamping itu SHU juga dapat digunakan untuk memperkuat struktur modal. Dalam neraca disebutkan dana cadangan (modal bersama). Bisanya, dana cadangan ini disisihkan dari SHU yang dipakai untuk memperkuat modal koperasi.

Pengertian Sisa Hasil Usaha (SHU) menurut UU RI No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian menyatakan : SHU koperasi merupakan pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya penyusutan, dan kewajiban lainya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

SHU bagian anggota adalah uang yang akan diperoleh kembali oleh anggota setelah dikurangi dana cadangan dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan perkoperasian dan keperluan lain dari koperasi sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.

Menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 bab IX pasal 45 memberi aturan tentang Sisa Hasil Usaha sebagai berikut:

1) Sisa Hasil Usaha Koperasi merupakan pendapatan Koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan, dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

2) Sisa Hasil Usaha setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota dengan Koperasi, serta digunakan untuk keperluan pendidikan, perkoperasian dan keperluan lain dari Koperasi, sesuai dengan keputusan Rapat Anggota.

3) Besarnya pemupukan dana cadangan ditetapkan dalam Rapat Anggota.

Jadi dari penjelasan tersebut Sisa Hasil Usaha adalah pendapatan koperasi yang dikurangi biaya, penyusutan, dan kewajiban yang diperoleh dalam satu tahun buku.

Transaksi sangat erat kaitannya dengan SHU, karena SHU dihitung secara proporsional berdasarkan jumlah transaksi dan partisipasi modal. artinya, semakin besar transaksi, maka semakin besar pula peluang seorang anggota untuk mendapatkan SHU. Hal ini terjadi jika transaksi anggota tercatat dengan baik dan benar.

Menurut Lapenkop (2002:5-7) yang dimaksud dengan transaksi adalah kegiatan ekonomi dalam bentuk jual beli barang atau jasa. Transaksi di koperasi merupakan pemanfaatan pelayanan oleh anggotannya, tetapi tidak hanya terbatas pada pemindahan barang atau jasa, juga ada fungsi kontrol di dalamnya. Hal ini terjadi, karena status anggota tidak hanya sebagai pamilik, tetapi pengguna pelayanan koperasi juga. Sementara itu yang dimaksud dengan partisipasi modal adalah kontribusi anngota dalam memodali koperasinya. Ini akibat dari peran anggota sebagai pemilik koperasi. Bentuk partisipasi modal adalah simpanan pokok dan simpanan wajib. Simpanan pokok dibayarkan hanya sekali selama menjadi anggota, simpanan wajib dibayarkan secara Menurut Lapenkop (2002:5-7) yang dimaksud dengan transaksi adalah kegiatan ekonomi dalam bentuk jual beli barang atau jasa. Transaksi di koperasi merupakan pemanfaatan pelayanan oleh anggotannya, tetapi tidak hanya terbatas pada pemindahan barang atau jasa, juga ada fungsi kontrol di dalamnya. Hal ini terjadi, karena status anggota tidak hanya sebagai pamilik, tetapi pengguna pelayanan koperasi juga. Sementara itu yang dimaksud dengan partisipasi modal adalah kontribusi anngota dalam memodali koperasinya. Ini akibat dari peran anggota sebagai pemilik koperasi. Bentuk partisipasi modal adalah simpanan pokok dan simpanan wajib. Simpanan pokok dibayarkan hanya sekali selama menjadi anggota, simpanan wajib dibayarkan secara

SHU dibagi berdasarkan Anggaran Dasar Koperasi yang akan diadakan pembagian yang adil berdasarkan kesepakatan rapat anggota. Misalnya untuk Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda prosentase pembagian SHU dibagi dana-dana : 40% untuk cadangan, 40% untuk untuk jasa anggota, 5% untuk dana pengurus, 5% untuk dana karyawan, 5% untuk dana pendidikan, 2,5% untuk dana sosial dan 2,5% untuk dana pembangunan.

Menurur Lapenkop (2002:6) menyatakan SHU yang dibagikan kepada anggota berasal dari transaki dengan anggota. SHU yang berasal dari transaksi bukan anggota boleh tidak dibagikan kepada anggota. Ini bisa dijadikan modal bersama untuk memperkuat struktur modal koperasi. Ketentuan mengenai ini dapat diputuskan dari Rapat Anggota.

Adapun cara menghitung SHU bagian anggota, berdasarkan pedoman dari Lapenkop (2002:13-18) dijelaskan sebagai berikut:

Perhitungan SHU bagian anggota dapat dilakukan bila beberapa informasi di bawah ini diketahui:

1. Total SHU koperasi

2. Persentase (%) SHU bagian anggota

3. Persentase (%) SHU bagian partisipasi modal

4. Persentase (%) SHU bagian transaksi

5. Modal (simpanan pokok dan wajib) anggota yang bersangkutan

6. Jumlah modal (simpanan pokok dan wajib) semua anggota

7. Transaksi anggota yang bersangkutan

8. Jumlah transaksi semua anggota

1.SHU dari transaksi. Jumlah transaksi anggota yang bersangkutan dibagi jumlah transaksi semua anggota. Kemudian hasilnya dikalikan dengan perkalian antara SHU koperasi dengan persentase SHU bagian anggota dan persentase bagian transaksi. Atau dalam rumus matematikanya menjadi :

SHU anggota = xa

Dimana : t = jumlah transaksi anggota yang bersangkutan T = Jumlah transaki semua anggota koperasi

a = [(SHU koperasi x % SHU yang dibagikan ke anggota) x % SHU bagian transaski].

Contoh cara menghitung SHU Mardiah: Diketahui:

1. Total SHU koperasi = Rp 1.000.000,-

2. Persentase (%) SHU bagian anggota = 40%

3. Persentase (%) SHU bagian transaksi = 75% dari SHU bagian anggota

4. Jumlah transaksi Mardiah = Rp 100.000,-

5. Jumlah transaksi seluruh anggota = Rp 10.000.000,-

Maka:

Rp 100 . 000

SHU Mardiah =

x [( Rp 1 . 000 . 000 x 40 %) x 75 %]

Rp 10 . 000 . 000

(dari transaksi)

= Rp 3.000,- Jadi berasrnya SHU Mardiah yang diperoleh dari transaksi sebesar Rp 3.000,-

2. SHU dari partisipasi modal. Jumlah setoran modal anggota yang bersangkutan dibagi jumlah setoran modal semua anggota. Kemudian hasilnya dikalikan dengan perkalian antara SHU koperasi dengan persentase SHU bagian anggota dan persentase SHU bagian partisipasi modal. Atau dalam rumus matematikanya menjadi:

SHU anggota =

xb

(dari partisipasi modal)

Dimana : m= Jumlah modal anggota (simpanan pokok & wajib) yang bersangkutan M = jumlah modal (simpanan pokok& wajib) semua anggota koperasi

b = [(SHU koperasi x % SHU yang dibagikan ke anggota) X % SHU bagian

partisipasi modal].

Contoh diketahui:

1. Total SHU koperasi = Rp 1.000.000,-

2. Persentase (%) SHU bagian anggota = 40%

3. Persentase (%) SHU bagian partisipasi modal = 25% dari SHU bagian anggota

4. Jumlah simpanan pokok dan wajib = Rp 150.000

5. Jumlah simpanan seluruh anggota = Rp 15.000.000,-

Maka

Rp 150 . 000

SHU Mardiah =

x [( Rp 1 . 000 . 000 x 40 %) x 25 %]

Rp 15 . 000 . 000

(dari modal)

= Rp 1.000.000 Jadi besarnya SHU Mardiah yang diperoleh dari partisipasi modal sebesar Rp 1.000 Dengan demikian, total SHU yang diperolah Mardiah sebesar: Rp 3.000,- + Rp 1.000,- = Rp 4.000,- Apabila rumus lengkapnya ditulis, maka menjadi :

SHU =[{ xa }  { xb }] T

(anggota)

Catatan: t = Jumlah transaksi anggota yang bersangkutan T = Jumlah transaksi semua anggota koperasi.

a = SHU koperasi x %SHU bagian anggota)x %SHU bagian transaksi]. m= Jumlah modal (simpanan poko & wajib) anggota yang bersangkutan M = Jumlah modal (simpanan pokok & wajib) semua anggota koperasi

b = [(SHU koperasi x %SHU bagian anggota) x %SHU bagian partisipasi

modal.

D. Hipotesis

Berdasarkan atas landasan teoretis maka hipotesis penelitian adalah : “Terdapat pengaruh yang signifikan antara partisipasi anggota dengan sisa hasil usaha Koperasi

Samudera Sejahtera Samarinda”.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Definsi Konsepsional

Dalam penulisan penelitian ini terdiri dari dua variabel yakni variabel bebas (X) berupa partisipasi anggota dan variabel terikat (Y) berupa sisa hasil usaha (SHU).

1. Partisipasi anggota adalah kontribusi anggota koperasi dalam melakukan transaksi dan dalam memodali koperasi berupa simpanan sukarela

2. Sisa Hasil Usaha adalah pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya operasional, penyusutan, dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun yang bersangkutan yang merupakan milik anggota.

B. Definisi Operasional

Definisi operasional memaparkan mengenai variabel-variabel yang diteliti dan sekaligus pembatasan karakteristik dari variabel tersebut. Variabel partisipasi anggota dikatakan sebagai variabel bebas (X) sedangkan sisa hasil usaha (SHU) ditetapkan sebagai variabel terikat (Y).

Dalam definisi operasional ini akan dikemukakan indikator-indikator yang ada sehingga memudahkan di dalam memahami permasalahan yang ada. Indikator-indikator tersebut adalah:

1. Partisipasi anggota diukur adalah kontribusi anggota dalam memberikan sumbangan nyata baik keuangan maupun penggunaan layanan koperasi tahun dari tahun buku 1999 sampai dengan 2003. Adapun indikator-indikator dari partisipasi anggota adalah:

a. Simpanan sukarela yaitu simpanan anggota yang dilakukan secara sukarela dan jumlahnya tidak di tentukan oleh pengurus koperasi

b. Aktivitas pembelian oleh anggota kepada koperasi.

c. Aktivitas kredit (pinjaman) oleh anggota kepada koperasi.

d. Aktivitas jasa lainnya

2. Sisa Hasil Usaha adalah pendapatan koperasi yang telah dikurangi biaya, penyusutan, dan kewajiban yang diperoleh dalam satu tahun buku dari tahun buku 1999 sampai dengan 2003 berdasarkan laporan Rugi Laba. Adapun indikator adalah Sisa Hasil Usaha (SHU) 2. Sisa Hasil Usaha adalah pendapatan koperasi yang telah dikurangi biaya, penyusutan, dan kewajiban yang diperoleh dalam satu tahun buku dari tahun buku 1999 sampai dengan 2003 berdasarkan laporan Rugi Laba. Adapun indikator adalah Sisa Hasil Usaha (SHU)

b. SHU yang bearsal dari pendapatan jasa simpan pinjam

c. SHU berasal dari pendapatan jasa-jasa bongkar muat barang.

C. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini mengambil lokasi di Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda. Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah dimulai dari tanggal Pebruari 2004 – Juni 2004.

D. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah jumlah obyek yang akan diteliti dalam hal ini seluruh jumlah simpanan pokok, simpanan wajib dan besarnya transaksi anggota serta Sisa Hasil Usaha Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda, sejak koperasi berdiri tahun 1987 hingga sekarang (2004). Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Ali (1983:54), memberikan pengertian populasi dalam penelitian sebagai berikut:

Dalam melakukan penelitian, adakalanya peneliti menjadikan keseluruhan unit obyek untuk diteliti; adakalanya dia hanya mengambil sebagian saja dari seluruh obyek yang diteliti, sebagai dasar untuk menarik kesimpulan, oleh sebabnya banyak anggota obyek yang diteliti atau berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lain yang logis. Meskipun demikian kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap sebagian obyek tersebut dapat mencakup dan berlaku bagi seluruh obyek. Keseluruhan obyek dalam pene litian disebut “Populasi Penelitian”.

2. Sampel

Penulis mengambil sebagian saja yang diteliti sebagai sampel, jadi sempel dari penelitian ini adalah seluruh jumlah simpanan pokok, simpanan wajib dan besarnya transaksi anggota serta Sisa Hasil Usaha Koperasi Samudra Sejahtera Samarinda, tahun buku 1999 – 2003 (selama jangka waktu 5 tahun).

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk pengumpulan data sebagai bahan penelitian oleh penulis digunakan teknik pengumpulan berupa teknik dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data mengenai jumlah anggota, besarnya simpanan pokok dan wajib yang terdapat di neraca, catatan hasil transaksi anggota pada koperasi, serta laporan Sisa Hasil Usaha dari tahun buku 1999 – 2003.

Alasan penggunaan teknik dokumentasi karena penelitian surut berlakunya adalah surut kebelakang artinya penulis melakukan penelitian setelah kejadian telah berlangsung sehingga hanya terdapat bukti-bukti dokumen yang dijadikan obyek penelitian.

E. Teknik Analisis Data

1. Regresi Sederhana

Regresi digunakan untuk memprediksi berubahnya nilai variabel tertentu bila nilai variabel yang lain berubah.

Persamaan regresi sederhana menurut Sugiyono(2000:171), sebagai berikut :

Yˆ = a + bX dimana :

Yˆ = subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan (baca Y topi)

a = konstanta (harga Y bila X =0)

b = angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan atau penurunan variabel dependen yang didasarkan pada hubungan nilai variabel independen. Bila b (+) maka naik, bila b (-) maka terjadi penurunan

X = Subyek variabel independen yang mempunyai nilai tertentu Harga a dan b dicari dengan rumus :

Y 1 )( X 1 )  (  X 1 )(

a=

b=   

n X 1 Y 1  ( X 1 )( Y 1 )

Selanjutnya dari hasil persamaan regresi sederhana tersebut dapat kita tentukan garis regresi

2. Uji F

Untuk mengetahui pengaruh varibel X terhadap Y menggunakan uji F dengan rumus menurut J. Supranto (2000:114) adalah :

R 2 /( k  1 )

1  R /( n  k ) Selanjutnya hasil F hitung dikonsultasikan dengan F tabel, dengan pada taraf

kesalahan ditetapkan 5% (taraf kepercayaan 95%), dengan ketentuan : 1). Jika F hitung > F tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti ada

pengaruh yang signifikan antara variabel X dengan Y; 2). Jika F hitung < F tabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima yang berarti tidak

ada pengaruh yang signifikan antara variabel X dengan Y.

3. Korelasi Product Moment

Untuk mengetahui hubungan partisipasi anggota terhadap sisa hasil usaha (SHU) penulis mempergunakan analisis penulis akan menganalisis data menggunakan tehnik analisis statistik korelasi Product Moment dari Karl Pearson menurut kutipan Sugijono (2000:213) :

n  xy  (  x)(  y)

r xy 

 2   2  2 {n 2 x ( x) }{n y  (  y) }

r xy =

Koefisien korelasi antara gejala x dan gejala y

Partisipasi anggota

Sisa Hasil Usaha

Jumlah Tahun Buku

Selanjutnya hasil r hitung dikonsultasikan dengan r tabel korelasi product moment, dengan n =5, pada taraf kesalahan ditetapkan 5% (taraf kepercayaan 95%), dengan ketentuan :

1). Jika r hitung > r tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti ada hubungan yang signifikan antara variabel X dengan Y;

2). Jika r hitung < r tabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel X dengan Y.

4. Uji t

Sesudah diketahui harga r dengan rumus korelasi, maka untuk membuktikan kebenarannya hipotesis untuk sampel penelitian maka dilakukan pengujian dengan rumus uji t (t – tes) menurut Sugijono (2000:214) sebagai berikut :

Harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingan dengan harga t tabel. Untuk kesalahan 5% dengan derajat kebebasan (dk) = n - 2. Hasil uji t di atas akan terlihat apabila t hitung lebih besar dari t tabel maka hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) diterima yang berarti hubungan kedua variabel signifikan namun apabila t hitung lebih kecil dari t tabel maka hipotesis alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nol (Ho) diterima yang berarti hubungan kedua variabel tidak signifikan (tidak mempunyai keberartian).

5. Koefisien Determinasi

Untuk mengetahui besarnya kontribusi partisipasi anggota terhadap Sisa Hasil Usaha (SHU) dapat diketahui dengan mencari koefisien determinasi dengan rumus menurut Sri Mulyono (2000:105) :

2  n  XY    X   Y  

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Sejarah Berdirinya Koperasi Samudera Sejahtera

Dengan dikeluarkannnya Keputusan Bersama Menteri perhubungan Dan menteri Tenaga kerja nomor : KM. 130/KP. 803/PHB/1986 dan KP. 837/MEN/1986, maka dibubarkanlah Yayasan Usaha Karya (YUKA) sebagai tempat pengelola Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di seluruh pelabuhan Indonesia. Untuk dasar hukumnya

dikeluarkanlah: “Instruksi Bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Tenaga Kerja, Nomor : IM. 02/HK. 601/PHB-1980 dan Nomor: INS.03/ MEN/1989, tanggal 14 Januari