Tebal kulit bumi tidak merata (1)

Tebal kulit bumi tidak merata. Kulit bumi di bagian benua/daratan lebih tebal daripada di bawah
samudera. Bumi tersusun atas beberapa lapisan :
1. Barisfer, yaitu lapisan inti bumi merupakan bahan padat yang tersusun ataslapisan
nife (niccolum = nikel dan ferrum = besi). Jari2nya ± 3.470 km dan batas luarnya ± 2.900 km di
bawah permukaan bumi.
2. Asthenosfer (Mantle), adalah lapisan pengantara yaitu lapisan yang terdapat di atas barisfer
setebal ± 1.700 km. berat jenisnya rata2 5 gr/cm3, merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan
berpijar.
3. Litosfer, yaitu lapisan yang terletak di atas asthenosfer, dengan ketebalan ± 1.200 km. berat
jenisnya rata2 2,8 gr/cm3. Litosfer terdiri atas 2 bagian :
a)
Lapisan Sial, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan aluminium,
senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3. Dalam lapisan ini terdapat batuan antara lain batuan
sedimen, granit, andesit, dan batuan metamorf. Lapisan sial disebut juga lapisan kerak bersifat padat
dan kaku memiliki ketebalan ± 35 km. kerak ini dibagi menjadi dua bagian yakni :
 Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri dari batuan beku granit pada bagian atasnya
dan batuan beku basalt pada bagian bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagai benua.
 Kerak samudera, merupakan benda padat yang terdiri atas endapan di laut pada bagian atas,
kemudian di bawahnya terdapat batu2an vulkanik dan lapisan yang paling bawah tersusun atas
batuan beku gabro dan peridotit. Kerak ini menempati sebagai samudera.
b) Lapisan Sima, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan magnesium dalam

bentuk senyawa SiO2 dan MgO. Lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada lapisan
sial karena mengandung besi dan magnesium, yaitu mineral ferromagnesium dan batuan basalt.
Lapisan sima merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata2 65 km.
Batuan kulit bumi dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1)
Batuan Beku.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma pijar yang mendingin menjadi padat.
Berdasarkan tempat pendinginannya ada 3 macam batuan beku, yaitu :
a)
Batuan Beku Dalam.
Batuan ini disebut juga batuan beku plutonis (batuan beku abyssis), terjadinya jauh di bawah
permukaan bumi, berasal dari magma yang mendingin. Pendinginan sangat lambat, sehingga
berlangsungnya proses kristalisasi sangat leluasa. Oleh karena itu, batuan beku dalam terdiri atas
kristal2 penuh, mempunyai struktur (susunan) holokristalin atau granitis. Contohnya : batu garanit,
diorite, gabro dan seynit.
b)
Batuan Korok.
Batuan ini terbentuk di dalam korok2 atau gang2 di dalam kulit bumi. Karena tempatnya dekat
permukaan, pendinginannya lebih cepat. Itulah sebabnya batuan ini terdiri dari Kristal besar, Kristal
kecil, dan bahkan ada yang tidak mengkristal, yaitu bahan amorf. Contohnya : granit porfir dan diorite

porfirit.
c) Batuan Leleran/Beku Luar.
Batuan ini terbentuknya di luar kulit bumi, sehingga turunnya temperatur cepat sekali. Zat2 dari magma
hanya dapat membentuk kristal2 kecil, dan sebagian ada yang sama sekali tidak dapat mengkristal.
Contohnya : liparit dan batu apung.
2)
Batuan Sedimen atau Batuan Endapan.
Bila batuan beku lapuk, bagian2nya yang lepas mudah diangkut oleh air, angin, atau es dan diendapkan
di tempat lain. Batuan yang mengendap ini disebut batuan sedimen. Batuan ini mula2 lunak, tetapi
lama-kelamaan menjadi keras karena proses pembatuan.
Dilihat dari perantaranya batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
a. Batuan Sedimen Aeris atau Aeolis.
Pengangkut batuan ini adalah angin, contohnya : tanah los, tanah turf, dan tanah pasir di gurun.
b. Batuan Sedimen Glasial.
Pengangkutan batuan ini adalah es. Contohnya : moraine (moraine).

c. Batuan Sedimen Aquatis.
Pegangkutan batuan ini adalah air. Contohnya :
 Breksi (Brecci) adalah batuan sedimen yang terdiri dari batu2an yang bersudut tajam yang
sudah melekat satu sama lain.

 Konglomerat adalah batuan sedimen yang terdiri dari batu2an yang bulat2 yang sudah melekat
satu dengan yang lainnya.
 Batu Pasir adalah batuan sedimen yang berbutir-butir dan melekat satu sama lain.
Dilihat dari tempat pengendapannya ada 3 macam batuan sedimen, yaitu :
1. Batuan Sedimen Lakustre.
Adalah batuan sedimen yang diendapkan di danau. Contohnya : turf danau, tanah liat danau.
2. Batuan Sedimen Kontinental.
Adalah batuan batuan sedimen yang diendapkan di daratan. Contohnya : tanah los, tanah gurun pasir.
3. Batuan Sedimen Marine.
Adalah batuan sedimen yang diendapkan di laut. Contohnya : lumpur biru di pantai, endapan
radiolarian di laut dalam dan lumpur merah.
3)
Batuan Metamorf (Batuan Malihan).
Batuan ini merupakan batuan yang telah mengalami perubahan yang dahsyat secara kimiawi. Asalnya
dapat dari batuan beku atau batuan sedimen.
Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Batuan Metamorf Kontak
Batuan ini terjadi akibat suhu yang sangat tinggi. Biasanya terletak dekat dengan dapur magma.
Contohnya : marmer, dan batu bara.
b. Batuan Metamorf Dynamo.

Batuan ini terjadi karena tekanan yang tinggi dan dalam waktu yang lama, disebut juga metamorf
kinetis. Contohnya: batu asbak, antrasit, schist dan shale.
c. Batuan Metamorf Pneumatolitis Kontak.
Terjadi karena pengaruh suhu yang tinggi dan mendapat tambahan gas lain pada waktu terbentuknya
batuan tersebut. Contohnya, batu permata dan topas.

Unsur2 yang Terdapat dalam kerak Dan Kulit Bumi :
NAMA UNSUR
OksigenSilikonAluminium
Ferrum (besi)
Kalsium
Natrium
Kalium

BANYAKNYA (%)
46,60
27,72
8,13
5,00
3,63


Magnesium

2,83
2,59
2,09

JUMLAH

98,59

Untuk mengetahui jenis mineral yang terkandung di dalam suatu batuan dipergunakan 2 cara, yaitu :
1. Mengenal mineral secara fisik.
Dalam hali ini dipergunakan sifat2 fisik mineral tersebut, diantaranya
 Warna
 Kilap
 Tembusnya cahaya
 Bentuk Kristal
 Bentuk belahan
 Kekerasan

 Berat jenis
 Reaksi terhadap zat yang asam
 Kemagnetan
2. Mengenal mineral secara kimia.
Secara kimia ini mempergunakan pedoman pada unsur2 yang terkandung pada batuan, seperti :
 Mineral murni
 Logam yaitu emas, perak, besi
 Bukan logam yaitu belerang, intan, grafit
 Setengah logam yaitu bismuth.
 Senyawa dengan sulfida
 Senyawa dengan oksida
 Senyawa dengan halida
 Senyawa dengan karbonat
 Senyawa dengan fosfat
 Senyawa dengan silikat
Tanah (Pedosfer) yaitu suatu benda alam yang menempati lapisan kulit bumi yang teratas dan terdiri
atas butir tanah, air, udara, sisa tumbuh2an dan hewan, yang merupakan tempat tumbuhnya tanaman.
Sebagai tempat tumbuhnya tanaman, perananan tanah yaitu sebagai tempat tegaknya tanaman, tempat
menyediakan unsur2 makanan, air, dan tempat menyediakan udara bagi pernapasan akar. Kehidupan
tanaman sangat ditentukan oleh sifat2 tanah, yang merupakan lingkungan hidup sistem perakarannya.

Hal2 yang berhubungan dengan tanah sebagai berikut :
LAPISAN TANAH
Dalam garis besarnya lapisan tanah itu dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
1. Lapisan Tanah Atas.
Lapisan ini tebalnya antara 10 cm – 30 cm, warnanya cokelat sampai kehitam-hitaman, lebih gembur,
yang disebut tanah olah atau tanah pertanian. Di sini hidup dan berkembang biak semua jasad hidup
tanah dan merupakan lapisan tanah yang tersubur sebagai tempat hidupnya tanaman. Warna
hitam/cokelat dan suburnya tanah disebabkan oleh bunga tanah.
2. Lapisan Tanah Bawah.
Lapisan tanah kedua ini tebalnya antara 50 cm – 60 cm, lebih tebal daripada lapisan atas, warnanya
kemerah-merahan. Lebih terang atau lebih muda, dan lebih padat. Lapisan tanah ini sering disebut
dengan tanah cadas atau tanah keras. Di sini kegiatan jasad hidup berkurang. Tanaman berumur
panjang, yang mempunyai akar tunggang yang dalam dapat mencapai lapisan tanah ini.
3. Lapisan Bahan Induk Tanah.
Lapisan tanah ketiga ini warnanya kemerah-merahan atau kelabu, keputih-putihan. Lapisan ini dapat
pecah dan diubah dengan mudah, tetapi sukar ditembus oleh akar. Di lereng2 gunung lapisan ini sering

kelihatan dengan jelas, dimana lapisan di atasnya telah hanyut oleh hujan.
4. Lapisan Batuan Induk.
Lapisan yang keempat ini disebut batuan induk. Masih merupakan batuan pejal, belum mengalami

proses pemecahan. Inilah merupakan bahan induk tanah yang mengalami perubahan beberapa proses
dan memakan waktu yang lama. Di pegunungan2 sering kelihatan, tetapi tumbuh2an tak dapat hidup.

TERJADINYA TANAH
Tanah terjadi dari batuan induk, kemudian berubah menjadi bahan induk tanah, dan berangsur-angsur
menjadi lapisan tanah bawah, yang akhirnya membentuk tanah atas dalam waktu yang lama sekali. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah, yaitu :
1. Sinar matahari
2. Air
3. Udara
4. Tumbuh-tumbuhan
5. Makhluk hidup
6. Jasad hidup dalam tanah.
Tingkatan-tingkatan dalam Proses Perubahan Tanah :
1)
Stadium Embrional : tanah yang masih berupa batuan segar.
2)
Stadium Yuvernil : tanah muda remaja yang belum begitu produktif.
3)
Stadium Veriil : tanah dewasa yang produktif

4)
Stadium Seriil : tanah sudah tua dan kurang produktif.
Macam-macam jenis tanah, yaitu :
1. Tanah Vulkanis, yaitu tanah yang berasal dari bahan2 yang dikeluarkan oleh letusan gunung
berapi. Tanah ini terdapat banyak di sekitar gunung berapi.
2. Tanah Kapur, yaitu tanah yang tembus air, tanah ini kurang subur, dan banyak terdapat di
pegunungan kapur.
3. Tanah Laterit, yaitu tanah vulkanis yang telah kena proses pelarutan karena hujan yang banyak
serta suhu yang tinggi, sehingga warnanya dari kelabu berubah menjadi kemerah-merahan.
4. Tanah Padzol, yaitu tanah vulkanis yang terkena hujan banyak, tetapi dengan suhu yang
rendah, dan banyak terdapat di daerah pegunungan. Warnaya kekuning-kuningan.
5. Tanah Margalit, yaitu tanah yang terjadi dari batuan yang banyak mengandung kapur dengan
pengaruh hujan yang tidak merata sepanjang tahun, sehingga warnanya berubah menjadi hitam.
6. Tanah Terrarosa, yaitu tanah yang terbentuk karena hasil pelarutan batuan kapur, tanah ini
banyak ditemukan di dasar2 lembah dan dolina2 pegunungan kapur.
7. Tanah Liat, yaitu jenis tanah yang memiliki butiran2 yang halus, dan bentuknya berupa
lempeng sifat dari tanah ini, bila kena air sangat lekat dan jika kering menjadi keras dan pecah2.
8. Tanah Napal, yaitu tanah liat yang tercampur dengan batu kapur.

9. Tanah Kaolin, yaitu jenis tanah liat yang baik untuk membuat barang2 keramik.

10. Tanah Rawang (organosol), yaitu tanah yang terbentuk dari sisa tumbuh2an dan terdapat di
daerah yang berpaya-paya dan selalu tergenang air.
11. Tanah Padas, yaitu tanah yang padat, akibat mineral2 yang dikeluarkan oleh air dari lapisan
bagian atas tanah.
12. Tanah Aluvival, yaitu tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai2.
Tanah ini bersifat subur sehingga baik untuk pertanian.
13. Tanah Pasir, yaitu tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk. Tanah ini sangat
miskin dan kadar air di dalamnya sangat sedikit. Tanah pasir yang terdapat di pantai2 pasir
disebut sand dune. Contohnya pantai parangtirtis, Yogyakarta.
14. Tanah Humus (Bunga Tanah), yaitu tanah yang terjadi dari tumbuh2an yang telah membusuk.
Tanah yang mengandung humus bersifat sangat subur dan umumnya berwarna hitam.
15. Tanah Lempung (debu), Yaitu tanah yang tidak mudah merembaskan air. Tanah lempung lebih
berat daripada tanah pasir, tetapi lebih ringan daripada tanah liat. Butir2nya lebih halus daripada
tanah pasir, tetapai lebih longgar daripada tanah liat.

SIFAT-SIFAT TANAH
Memperhatikan dari sifat2 tanah sangat penting sekali, terutama bila tanah itu akan digunakan sebagai
areal tumbuhnya tumbuh2an. Sifat2 yang penting dari tanah terdiri atas unsur :
1. Warna Tanah
Warna tanah dipengaruhi oleh kandungan organik atau kimiawi. Pada umumnya tanah yang banyak

kandungan organiknya akan berwarna gelap, dan memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi.
2. Tekstur Tanah.
Yang dimaksud dengan tekstur tanah yaitu besar kecilnya butiran2 tanah, dimana tekstur ini dapat kita
bedakan jadi 3 kelas yaitu tanah pasir, lempung dan tanah liat. Tekstur tanah yang baik adalah tanah
lempung dengan perbandingan antara pasir, debu dan tanah liat harus sama, sehingga tanah tidak terlalu
lepas dan tidak terlalu lekat.

3. Struktur Tanah.
Yang dimaksud dengan struktur tanah yaitu susunan dari butiran2 tanah, dimana struktur ini dapat kita
bedakan menjadi 3 macam yaitu struktur lepas butir, struktur remah, dan struktur gumpal. Tanah
dikatakan memiliki struktur lepas butir, bila butir2 tanah letaknya berderai atau terlepas satu sama
lainnya, sedangkan tanah berstruktur remah bila butir2 tanah berkumpul membentuk semacam kerak
roti. Dan struktur remah merupakan struktru tanah yang paling baik untuk dijadikan sebagai tanah
pertanian. Tanah yang berstruktur gumpal ditandai dengan butir2 tanah melekat sangat rapat satu sama
lain.
4. Derajat Keasaman ( pH ) Tanah.
Bila dilihat dari derajat keasamannya, tanah ada yang bersifat asam, dan ada yang alkalis/basa serta ada
yang bersifat netral. Keasaman ini bisa terjadi karena tanah selalu tergenang air. Dan umumnya akar
tanaman akan rusak bila tanah terlalu asam maupun terlalu basa. Umumnya tanaman memerlukan pH
tanah yang netral.
Dipermukaan bumi, lahan atau tanah mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1. Tekstur tanah
2. Permeabilitas tanah
3. Ketebalan atau solum tanah
4. Kemiringan lereng
5. Tingkat erosi
6. Penyaluran air.
Berkenaan dengan warna pada tanah yang berbeda-beda, maka adapun asal-usul dari warna2 tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Kuning,berasal dari mineral limonit (2Fe2O33H3O).
2. Cokelat, berasal dari bahan 2 organis asam yang lapuk sebagian.
3. Putih, berasal dari mineral2 silika-kuarsa (SiO2), kapur (CaCO3), kaolin, bauksit, aluminium
dan silikat, gypsum (CaCO42H2O), nitrat, garam2 yang sudah larut serta koloida2 organis
tertentu.
4. Hitam, berasal dari bahan2 organis yang telah terurai dengan hebat, dan biasanya ada
hubungannya dengan unsur2 karbon (C), magnesium (Mg), serta beleran (S).
5. Merah, berasal dari mineral hematite (Fe2O3) atau turgit (2Fe2O3H2O).
6. Hijau, berasal dari oksida ferrous.
7. Biru, berasal dari mineral lilianit.
Untuk menjaga kesuburan tanah dan mengurangi dampak erosi terhadap tanah, maka dapat dilakukan
beberapa langkah berikut :
1. Terassering, yaitu menanam tanaman dengan sistem berteras-teras untuk mencegah erosi tanah

2. Contour Farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga perakaran dapat
menahan tanah.
3. Pemupukan
4. Pembuatan Tanggul Pasangan untuk menahan hasil erosi.
5. Contour Plowing, yaitu membajak searah garis kontur sehingga terjadilah alur2 horisontal.
6. Contour Strip Cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang2 tanah itu dalam
bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kontur sehingga bentuknya berbelokbelok.
7. Crop Rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak kehabisan salah satu
unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis tanaman.
8. Reboisasi, yaitu menanami kembali hutan2 yang gundul.
9. Drainase, yaitu pengaturan sirkulasi air untuk kesuburan tanah.
MACAM-MACAM BENTUK MUKA BUMI
Sebagai akibat dari tenaga eksogen dan endogen, maka terbentuklah perbedaan ketinggian
permukaan bumi, yang dikenal dengan sebutan relief. Relier permukaan bumi terdiri atas dua
macam, yaitu :
a. Relief daratan, terdiri atas :
1. Gunung, yaitu daerah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dan ditandai dengan adanya
puncak, lereng, dan kaki gunung.
2. Lembah, yaitu daerah ledokan/lebih rendah dari tempat sekitarnya dan berda di bawah kaki
gunung.
3. Pegunungan, yaitu rangkaian beberapa gunung, bentuknya memanjang. Contohnya pegunungan
bukit barisan di pulau sumatera.
4. Bukit, yaitu sejenis pegunungan yang tingginya antara 200 sampai 300 meter. Bukit yang
berkelompok disebut perbukitan.
5. Pematang, yaitu suatu perbukitan atau pegunungan yang puncaknya berderet apabila didaki dari
puncak yang satu ke puncakyang lain tidak perlu sampai ke kakinya.
6. Cekungan, yaitu bentuk muka bumi yang cekung yang umumnya dikelilingi oleh gunung atau
pegnungan .
7. Lereng, yaitu suatu medan atau daerah permukaan tanah yang letaknya miring, tidak horizontal
dan tidak vertikal.
8. Plato atau Plateau, bentuk permukaan bumi ini merupakan dataran tinggi dengan bagian atas
relative rata dan telah mengalami erosi. Misalnya, Plato Dieng di Jawa Tengah, dan Plato Madi
di Kalimantan.
9. Dataran Rendah, yaitu daerah datar yang berada pada ketinggian kurang dari 200 m dari
permukaan laut.
10. Dataran Tinggi, yaitu daerah datar yang berada pada ketinggian lebih dari 200 m dan berciri
sejuk.
11. Depresi, adalah bagian permukaan bumi yang mengalami penurunan. Bentuk depresi yang
memanjang disebut slenk, sedangkan yang membulat disebutbasin. Misalnya, Depresi Jawa
Tengah dan Lembah Semangka.
12. Ngarai (Canyon), yaitu lembah yang dalam dan sempit dengan lereng yang curam, misalnya
ngarai sianok di Sumatera Barat.
13. Pantai, adalah bagian dari darat yang terdekat dengan laut. Garis pantai adalah garis batas
antara laut dan darat. Tepi pasir atau pesisir adalah bagian dari darat yang tergenang air ketika
pasang naik dan kering ketika surut. Daratan yang terletak di tepi laut disebut pantai. Di daerah
pantai dikenal berbagai bentuk muka bumi sebagai berikut :
1)
Teluk, yaitu laut yang menjorok ke daratan.
2)
Tanjung atau ujung, yaitu daratan yang menjorok ke laut. Ujung yang sangat panjang dinamakan
jazirah atau semenanjung.
3)
Delta, tanah endapan di muara sungai.
4)
Gosong, pulau yang tergenang ketika laut pasang dan muncul ke permukaan ketika air laut surut

disebut gosong (gosong pasir).

b. Relief Dasar Laut, terdiri atas :
1. Palung Laut (trog), yaitu ledokan atau celah yang sangat dalam, berada di dasar laut. Contoh :
PalungMindano di Filipina.
2. Lubuk Laut (basin atau bekken), merupakan celah yang sangat dalam di dasar laut dan
bentuknya agak bulat. Terjadi karena tenaga tektonik, sehingga dasar laut turun. Contoh : lubuk
laut sulu di Sulawesi.
3. Punggung Laut, merupakan bukit yang terdapat di dasar laut dan sebagian yang ada di atas
permukaan air laut merupakan pulau. Contoh : punggung laut siboga, Snellius, obi, dammar,
nila, dan seram.
4. Ambang Laut (drempel), yaitu dasar laut yang mencuat memisahkan satu perairan dengan
perairan lain, contoh : ambang laut Sulawesi.
5. Gunung Laut, yaitu gunung yang muncul dari dasar laut, contoh : gunung Krakatau.
6. Shelf (laut dangkal/paparan), yaitu laut dangkal yang kedalamannya kurang dari 200 m.
contohnya : paparan sahul, paparan sunda.
7. Laut Dalam, yaitu laut yang kedalamannya lebih dari 200 m, misalnya laut banda.
8. Pulau Koral/Pulau Karang (Terumbu), adalah dasar laut yang sebagian atau semuanya terdiri
atas karang.
Tenaga yang mengubah bentuk permukaan bumi terdiri dari tenaga endogen daneksogen.
A. Tenaga Endogen

merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga ini dapat memberi bentuk relief di permukaan
bumi. Tenaga endogen ada yang mempunyai sifat membangun dan ada yang mempunyai sifat merusak.
Tetapi secara umum tenaga endogen bersifat membangun. Tenaga endogen merupakan kekuatan yang
mendorong terjadinya pergerakan kerak bumi. Pergerakan ini disebut diastropisme. Adanya tenaga
endogen menyebabkan terjadinya pergeseran kerak bumi. Pergeseran kerak bumi akan menjadikan
permukaan bumi berbentuk cembung, seperti pegunungan atau gunung berapi, serta berbentuk cekung,
seperti laut dan danau. Adapun yang termasuk tenaga endogen meliputi :
1. Vulkanisme
Yang dimaksud dengan vulaknisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari
dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu2an dalam keadaan cair, liat serta sangat panas.
Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di
dalamnya. Magma ini dapat berbentuk gas, padat dan cair.

Intrusi magma, adalah aktivitas magma di dalam lapisan litosfera, memotong atau menyisip litosfer
dan tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma disebut jugaplutonisme. Ekstrusi magma adalah
kegiatan magma yang mencapai permuakaan bumi. Ekstrusi magma merupakan kelanjutan dari intrusi
magma.
Dilihat dari bentuk dan terjadinya, ada 3 macam gunung api, yaitu :
a)
Gunung Api Maar.
Bentuknya seperti danau kecil (danau kawah). Terjadi karena letusan eksplosif. Bahannya terdiri dari
efflata. Contohnya gunung lamongan di Jawa Timur.

b)
Gunung Api Kerucut (Strato).
Bentuknya seperti kerucut, terjadi karena letusan dan lelehan effusif, secara bergantian. Bahannya
berlapis-lapis, sehingga disebut lava gunung api strato. Jenis ini yang terbanyak terdapat di Indonesia.
c)
Gunung Api Perisai (Tameng).
Bentuknya seperti perisai, terjadi karena lelehan maupun cairan yang keluar dan membentuk lereng
yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair sekali. Sudut kemiringan lereng antara 1o – 10o.
contohnya Gunung Maona Loa dan Kilanca di Hawaii.

Kuat atau lemahnya ledakan gunung api tergantung dari : tekanan gas, kedalaman dapur magma,
luasnya sumber/dapur magma, dan sifat magma (cair/kental).
Menurut aktivitasnya, gunung api dapat dibagi menjadi 3 gologan, yaitu :
1. Gunung Api Aktif, yaitu gunung api yang masih bekerja yang kawahnya selalu mengeluarkan
asap, gempa, dan letusan. Misalnya gunung Stromboli.
2. Gunung Api Mati, yaitu gunung api yang sejak tahun 1600 sudah tidak meletus lagi. Misalnya
gunung patuha, gunung sumbing, dan sebagainya.
3. Gunung Api Istirahat, yaitu gunung api yang sewaktu-waktu meletus dan kemudian istirahat
kembali, misalnya gunung ciremai, gunung kelud, dan sebagainya.

Bagian2 dari gunung berapi terdiri atas :
1. Kaldera, ialah kawah kepundan yang amat besar, luas, dan bertebing curam yang ada di puncak
gunung berapi. Kaldera terjadi sewaktu gunung api meletus dengan hebat dan sebagian dari
puncak gunung api itu terbang/gugur ke dalam pipa kawah.
2. Saluran Diaterma (Saluran Kepundan), yaitu lubang besar yang berbentuk pipa panjang dari
puncak ke sumber magma tempat mengalirnya magma keluar permuakaan bumi.

3. Dapur Magma, yaitu tempat/pusat/sumber dari kumpulan magma yang merupakan panas dari
kerak bumi berada.
4. Sill, adalah magma yang masuk diantara dua lapisan bahan sedimen dan membeku (intrusi
datar).
5. Lakolit, adalah magma yang masuk diantara batuan sedimen dan menekan ke atas sampai
bagian atas cembung dan bagian bawah datar.
6. Batolit, adalah magma yang menembus lapisan batu2an dan membeku di tengah jalan.
7. Gang, yaitu batuan dari intrusi magma yang memotong lapisan batuan yang berbentuk pipih
atau lempeng.
8. Apofisa, yaitu cabang dari erupsi korok (gang).

Bahan2 yang dikeluarkan oleh gunung berapi, antara lain :
1. Efflata (Benda Padat).
Menuru asalnya efflata dibagi 2 yakni : efflata allogen : berasal dari batu2an sekitar pipa kawah yang
ikut terlempar, dan efflata antogen: berasal dari magma sendiri atau disebut juga pyroclastic. Menurut
ukuran, efflata dibedakan atas : bom yaitu batu2an besar, lapili yaitu batu2an sebesar kacang/kerikil,
pasir, debu, dan batu apung.
2. Bahan Cair.
Terdiri atas :
a)
Lava, yaitu magma yang telah sampai di luar.
b)
Lahar Panas, berupa lumpur panas mengalir yang terjadi dari magma yang bercampur air.
c)
Lahar Dingin, yaitu lumpur magma yang telah mendingin.
3. Ekshalasi (Bahan Gas).
Terdir atas :
a)
Solfatar, yaitu gas belerang (H2S) yang keluar dari dalam lubang.
b)
Fumarol, yaitu uap air.
c)
Mofet, yaitu gas asam arang (CO2).
Gunung merapi yang sedang meletus sangat berbahaya karena mengeluarkan :
a)
Banjir lahar.
b)
Banjir lava
c)
Gelombang pasang.
d)
Awan emulsi.
Manfaat2 gunung api, antara lain :
1. Menyuburkan tanah.
2. Dapat mendatangkan hujan.

3. Memperluas daerah pertanian karena semburan dan vulkanik
4. Memperbanyak jenis tanaman budi daya.
5. Menyebabkan letak mineral (barang tambang) dekat dengan permukaan tanah.
6. Menjadi tempat pariwisata dan sanatorium, karena udaranya yang sejuk.
7. Dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembangkit tenaga listrik (geothermal).
Peristiwa post vulkanis adalah peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau yang
telah meletus. Yang termasuk perisitiwa pos vulkanis adalah :
1. Makdani, adalah mata air mineral yang biasanya panas. Mata air ini biasanya dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan, khususnya penyakit kulit.
2. Geyser, adalah mata air yang memancarkan air panas secara periodik. Ada yang memancar
setiap jam, satu hari, sampai satu minggu. Tinggi pancarannya dapat mencapai 10 – 100 meter.
Peristiwa mengalirnya magma keluar permukaan bumi disebut dengan erupsi. Berdasarkan kekuatan
letusannya, erupsi gunung berapi dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu :
1. Erupsi Effusif, yaitu erupsi yang terjadi dengan sangat lemah, tidak menimbulkan ledakan2.
2. Erupsi Eksplosif, yaitu erupsi yang erjadi dengan sangat kuat, disertai dengan ledakan2
dahsyat.
3. Erupsi Campuran, kekuatan erupsi campuran tidak sekuat erupsi eksplosif, namun lebih kuat
dari erupsi effusif.

Berdasarkan bentuk dan lokasi dari tempat keluarnya magma, erupsi dapat dibedakan menjadi :
1. Erupsi Vent (Erupsi Sentral).
Pada erupsi jenis ini, magma keluar melalui pipa kepundan gunung api dan jangka waktu erupsinya
pendek.
2. Erupsi Linear (Fissure Eruption).
Erupsi jenis ini tidak melalui lubang kepundan gunung berapi, melainkan keluar meleleh lewat
retakan2 kerak bumi.
3.
Erupsi Areal.
Yaitu magma keluar melalui lubang yang besar, karena magma terletak sangat dekat dengan permukaan
bumi sehingga magma menghancurkan dapur magma yang menyebabkan magma meleleh keluar ke
permukaan bumi. Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya 10.000 km2.
Di Indonesia terdapat beberapa deretan pegunungan, yaitu:
1. Deretan pegunungan Sunda, yaitu deretan pegunungan yang berjajar dari Pulau Sumatera,
Jawa, Nusatenggara, Maluku Selatan dan berakhir di Pulau Banda.
2. Deretan Sirkum Australia, yaitu deretan pegunungan yang berjajar dari Australia, ujung timur
Pulau Irian, masuk melalui bagian tengah Irian dengan puncak tertinggi Jayawijaya.
3. Deretan pegunungan Sangihe, yaitu deretan pegunungan yang membujur dari Kepulauan
Sangihe (Sulawesi Utara), masuk ke Minahasa, Teluk Gorontalo (dengan Gunung Una-Una
yang sering meletus) hingga Sulawesi Selatan.

4. Deretan Pegunungan Halmahera, yaitu deretan pegunungan yang berderet mulai dari Pulau
Talaut, Pulau Maju dan Tifor di Maluku Utara, masuk ke Halmahera serta Pulau Ternate dan
Tidore, berbelok ke timur hingga Kepala Burung
5. Deretan Pegunungan Kalimantan, deretan ini bermula dari Pulau Palawan (Filipina) kemudian
masuk ke Kalimantan.

2. Seisme (Gempa Bumi)
Gempa bumi adalah getaran pada permukaan kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan2 dari dalam
bumi. Timbulnya getaran ini dikarenakan adanya retakan atau dislokasi pada kulit bumi. Jika terjadinya
getaran karena adanya retakan di dasar laut, yang kemudian merambat melalui air laut, maka terjadilah
gempa laut yang dapat menggoncangkan kapal2 dan menimbulkan gelombang pasang yang mencapai
puluhan meter tingginya. Peristiwa ini disebut dengan tsunami.
Dilihat dari intensitasnya ada 2 macam jenis gempa yaitu :
1. Macroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa menggunakan
alat.
2. Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan hanya dpat diketahui dengan
menggunkan alat perekam.
Hal ikhwal mengenai gempa bumi perlu diselidiki agar akibat yang ditimbulkannya dapat diramalkan
dan upaya penanggulangannya dapat dilakukan. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombang2
seismik serta perambatannya disebutseismologi.
Dalam kajian seismologi di perluakan berbagai alat. Salah satu alat yang terpenting
adalah seismograf atau alat untuk mencatat gempa. Ada 2 macam seismograf, yaitu :
1. Seismograf Horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah horizontal.
2. Seismograf Vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah vertikal.

Gambar : Seismograf

Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo gelombang tektonik dicatat oleh
seismograf dengan menggunakan skal Richter. Skala ini ini dibuat olehCharles F. Richter pada tahun
1935.
Sumber gempa di dalam bumi disebut dengan Hiposentrum. Dari hiposentrum ini di teruskan ke segala
arah. Tempat hiposentrum ini ada yang dalam sekali, dan ada yang dangkal. Di Indonesia terdapat
hiposentrum yang dalamnya lebih dari 500 km, contohnya di bawah laut Flores ± 720 km.
Pusat gempa pada permukaan kulit bumi di atas hiposentrum disebut denganEpisentrum. Kerusakan
yang terbesar terdapat di sekitar episentrum.

Daerah2 yang mengalami gempa dapat dibuat peta. Pada peta tersebut ada beberapa macam
garis,yaitu :
1. Homoseiste, yaitu garis yang menghubungkan tempat2 yang pada saat yang sama mengalami
getaran gempa.
2. Isoseiste, yaitu garis yang menghubungkan tempat2 yang dilalui oleh gempa yang sama
intensitasnya.
3. Pleistoseiste, yaitu garis yang menggelilingi daerah yang mendapat kerusakan terhebat dari
gempa bumi.
Gempa bumi merambat melalui 3 macam getaran, yaitu :
1. Getaran Longitudinal (Merapat Merenggang).
Getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi, kecepatan getarannnya sangat
cepat, hingga mencapai 7 sampai 14 km per jam. Getaran ini datangnya paling awal da merupakan
getaran pendahuluan yang pertama, itulah sebabnya disebut juga getaran primer. Getaran ini belum
menimbulkan kerusakan.
2. Getaran Transversal (Naik-Turun)
Getaran ini asalnya juga dari hiposentrum dan bergerak juga melalui dalam bumi. Kecepatan getaran
ini antara 4 sampai 7 km per jam. Getaran ini datang setelah getaran longitudinal dan merupakan
getaran pendahuluan kedua yang disebut getaran sekunder.
3. Getaran Gelombang Panjang.
Getaran ini asalnya dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi. Kecepatan getaran ini
antara 3,8 sampai 3,9 km per jam. Getaran ini datangnya paling akhir, tetapi merupakan getaran pokok.
Getaran ini yang menimbulkan kerusakan.

KLASIFIKASI GEMPA
Kita dapat membedakan macam2 gempa bumi berdasarkan :
1. Hiposentrum gempa atau jarak pusat gempa yaitu :
 Gempa Dalam, jika hiposentrumnya terletak antara 300-700 km di bawah permukaan bumi.
 Gempa Intermidier, jika hiposentrumnya terletak antara 100-300 km di bawah permukaan bumi.
 Gempa Dangkal, jika hiposntrumnya terletak dari 100 km di bawah permukaan bumi.
2. Atas dasar bentuk episentrumnya, dibedakan :
 Gempa Linier, jika episentrumnya berbentuk garis. Contohnya gempa tektonik karena
bentuknya bisa berupa daerah patahan.
 Gempa Sentral, jika episentrumya berbentuk titik. Contohnya gempa vulkanik atau gempa
runtuhan.
3. Atas dasar letak episentrum gempa, dibedakan atas :
 Gempa Laut, jika episentrumnya terletak di dasar laut.
 Gempa Daratan, jika episentrumnya di daratan.
4. Atas dasar jarak episentral, gempa dibedakan atas :
 Gempa Setempat, jika jarak tempat gempa terasa sampai ke episentralnya kurang dari 10.000
km.
 Gempa Jauh, jika episentral dan tempat gempa terasa berjarak sekitar 10.000 km
 Gempa Sangat Jauh, jika episentral dan tempat gempa terasa lebih dari 10.000 km.
5. Atas dasar peristiwa yang menyebabkan gempa, dapat dibedakan atas :
 Gempa Tektonik atau Gempa Dislokasi, yaitu gempa yang terjadi setelah terjadinya dislokasi
atau karena gerakan lempeng. Gempa inilah yang dapat berakibat parah, terutama jika jarak
hiposentrumnya dangkal.
 Gempa Vulkanik, yaitu gempa yang terjadi sebelum, pada saat dan sesudah peristiwa letusan
gunung api.
 Gempa Runtuhan, gempa yang terjadi akibat runtuhya bagian atas litosfer, karena bagian
sebelah dalam bumi berongga. Misalnya gempa di daerah kapur.
 Gempa Buatan, yaitu gempa yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Misalnya gempa yang
terjadi akibat ledakan dinamit yg di gunakan untuk membuat gua/lubang untuk kegunaan
penggalian atau pertambangan.
Untuk menentukan letak episentrum caranya sebagai berikut :
1. Dengan menggunakan hasil pencatatan seismograf. Cara ini dengan menggunakan 3
seismograf, yaitu satu seismograf vertikal, atu seismograf horizontal yang berarah utara dan
selatan sedang satu lagi seismograf berarah timur dan barat.
2. Dengan menggunakan 3 tempat yang terletak satu homoseiste. Cara ini dengan menggunakan
seismograf di 3 tempat yang merasakan getaran gempa pada saat yang sama. Pertama-tama kita
hubungkan tempat seismograf yang satu homoseiste. Karena 3 seismograf maka didapat 2 garis.
Dua garis itu dibuat garis sumbu, sehingga episentrum terletak pada pertemuan dua garis
sumbu.
3. Dengan menggunakan 3 tempat yang mencatat jarak episentrum. Untuk menentukan jarak
episentrum digunakan rumus Laska :

∆ = { (S – P ) } – 1′ x 1.000 km
∆ = delta = jarak episentrum
S – P = selisih waktu pencatatan gelombang primer dengan gelombang sekunder dalam satuan menit.
1′ = satu menit.
Contoh :
Gelombang S tiba pada pukul 10.29’44”, sedang gelombang P tiba pada pukul 10.25’14”. berapakah
jarak episentrum sebuah seismograf dari daerah Z ?
Jawab :
{ ( 10.29’44” – 10.25’14” ) } – 1′ x 1.000 km
= ( 4 1/2 – 1′ ) x 1.000 km = 3.500 km.
Sekarang misalnya letak episentrum dari 3 tempat, yaitu Z = 3.500 km, Y= 5.250 km, dan X = 3.750
km.
Maka cara membuatnya :
1. Dibuat perbandingan skala horizontal 1 cm = 1000 km. maka Z = 3,5 cm, Y = 5,25 cm, X =
3,75 cm.
2. Buat lingkaran sesuai jari2 Z,Y,X.
3. Ketiga lingkaran akan berpotongan pada satu titik E (episentrum).
4. Dengan menggunakan lingkaran isoseiste. Dari laporan secara visual dapat dibuat tanda2 pada
peta yang kemudian dapat ditentukan beberapa isoseiste di daerah bencana gempa. Dengan
mengetahui lingkaran atau elips isoseiste itu dari luar kea rah dalam, dapat ditentukan tempat
episentrum.
3. Tektonisme

Tektonisme adalah perubahan/pergeseran letak lapisan kulit bumi secara mendatar atau vertikal. Jadi
yang dimaksud dengan gerak tektonik adalah semua gerak naik dan turun yang menyebabkan
perubahan bentuk kulit bumi. Gerak ini dibedakan lagi menjadi :
1. Gerak Epirogenetik, adalalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lambat,
berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi daerah yang luas. Ada dua macam gerak
epirogenetik, yaitu :
a)
Epirogenetik Positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat seakan permukaan air laut
naik.
b)
Epirogenetk Negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga terlihat seakan permukaan air laut
turun.

2. Gerak Orogenetik, adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lebih cepat dan
meliputi daerah yang tidak begitu luas. Gerak ini disebut juga gerakan pembentuk pegunungan. Bentuk
gerakan orogenetik dapat dibedakan menjadi :
a)
Wraping (Pelengkungan)

Pada muka bumi yang terdapat bentukan jenis ini, dataran akan melengkung ke atas sehingga terbentuk
suatu kubah atau yang disebut juga dengan Dome. Hal ini disebabkan gerak vertikal yang tidak merata
di suatu daerah, khususnya di daerah yang berbatuan sedimen. Selain kubah, ada juga yang mengarah
ke bawah hingga membentuk cekungan atau basin, diameternya dapat mencapai beberapa mil.
b)
Folding (Pelipatan)

Pelipatan akan terjadi apabila struktur batuan pada suatu daerah menderita suatu tekanan yang lemah.
Namun, berlangsung lama dan belum melampaui titik patah batuan sehingga hanya membentuk lipatan.
Bagian puncak suatu lipatan disebut dengan antiklin, sedangkan lembahnya disebut dengan sinklin.
c)
Jointing (Retakan).
Retakan pada muka bumi terbentuk karena adanya pengaruh gaya regangan yang mengarah ke dua arah
yang berlawanan pada muka bumi sehingga terjadi retakan2, tetapi masih bersambung.
Retakan biasanya terjadi pada batuan yang rapuh sehingga tenaga yang kecil saja sudah dapat membuat
muka bumi retak2. Pada umumnya retakan ini ditemukan pada puncak antiklinal, yang
disebut tektonik joint.
d) Faulting (Patahan).

Jika folding atau pelipatan membentuk muka bumi dalam waktu yang berlangsung lama maka faulting
atau patahan terjadi karena tekanan yang kuat dan berlangsung sangat cepat. Batuan tidak hanya

mengalami retakan, juga mengalami displacementatau sudah terpisah satu dengan lainnnya.
Pada umumnya, daerah sepanjang patahan merupakan daerah pusat gempa bumi karena selalu
mengalami pergeseran batuan kerak bumi. Patahan dapat menyebabkan turunnya bagian kulit bumi
atau yang disebut dengan graben, atau yang sering disebut juga dengan slenk.
Selain menyebabkan turunnya bagian kulit bumi, patahan juga dapat menyebabkan naiknya kulit bumi.
Hal ini terjadi apabila bagian diantara dua patahan mengalami pengangkatan sehingga menjadi lebih
tinggi dari daerah sekitarnya, atau yang biasa disebut dengan horst.
Prinsip-Prinsip Pergeseran Lempeng Litosfer
Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa litosfer yang tipis berada di atas asthenosfer yang bersifat
cair (plastis). Menurut para ahli geologi litosfer tersebut terkoyak-koyak disana-sini sehingga terpecahpecah membentuk suatu kepingan yang disebut lempeng litosfer dan bergerak akibat adanya arus
konveksi di asthenosfer. Jadi, tanah yang kita injak sebetulnya bergerak rata2 sejauh 1 – 10 cm per
tahun. Dengan adanya gerakan tersebut maka lempeng litosfer saling berdesakan dan bertumbukan,
maka timbul prinsip2 pergeseran lempeng litosfer, yaitu :
1. Lempeng litosfer saling bertumbukan (divergensi) dimana salah satunya sampai menyusup di
bawah lempeng litosfer lainnya.
2. Lempeng litosfer saling berpapasan, yang membentuk sesar mendatar.
3. Lempeng litosfer saling memisah (konvergensi), yang membentuk punggungan di tengah
samudera.
B. Tenaga Eksogen
adalah tenaga yang berasal dari luar bumi, antara lain berasal dari hujan, panas matahari, angin, aliran
air, dan luncuran gletser serta makhluk hidup. Tenaga eksogen dapat mengubah bentuk permukaan
bumi menjadi berlubang, berbukit dan bentuk lainnya. Tenaga eksogen ini bersifat merusak. Artinya
menyebabkan terjadinya kikiksan atau erosi, pelapukan, dan pengangkutan material (mass wasting).
Pada prosesnya menghasilkan bentuk sisa (residual) dan bentuk endapan (depositional). Tenaga
eksogen dapat di bagi menjadi :
1. Weathering (Pelapukan).
Pelapukan adalah segala perubahan dalam batuan karena pengaruh keadaan cuaca (misalnya air, suhu).
Adanya perbedaan temperatur yang tinggi dan rendah, sangat besar pengaruhnya terhadap batu2an.
Macam2 jenis pelapukan antara lain :
1)
Pelapukan Fisis (Pelapukan Mekanik).
Pelapukan mekanik merupakan pelapukan batuan yang tidak disertai dengan perubahan susunan kimia,
seperti batuan yang besar pecah dan berubah menjadi semakin kecil, selanjutnya sampai halus, tetapi
susunan kimianya sama dengan batuan induknya. Sebab2 pelapukan mekanis antara lain :
 Insolasi (pengaruh sinar matahari) dan perubahan suhu.
 Pembekuan.
 Pengerjaan garam.
 Daya erosi
 Gelombang laut yang memukul pantai.

2)
Pelapukan Kimia
Pelapukan kimi merupakan pelapukan batuan melalui proses kimia yang disertai dengan perubahan
susunan zat dari mineral batuan induknya. Contohnya : hancurnya batuan karena larutan batuan kapur
yang dicampur oleh air hujan yang banyak mengandung CO2.
3)
Pelapukan Biologis (Pelapukan Organik)
Pelapukan organik merupakan pelapukan batuan yang disebabkan oleh oraganisme2 (tumbuh2an,
hewan, dan manusia). Manusia dapat merusak ekosistem yang lebih besar lagi, tetapi dapat juga
memelihara ekosistem yang sudah rusak dan memperbaharui lagi. Pelapukan organis sebagian masuk
pelapukan fisik dan sebagian masuk pelapukan kimia.
Pelapukan bioligis dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :
 Pelapukan biologis fisik, misalnya tekanan akar, merayapnya cacing, dan sebagainya.
 Pelapukan biologis kimia, misalnya pelapukan bunga tanah (humus), pengerjaan jasad2 hidup
pada batuan, yaitu dengan jalan mengeluarkan zat2 tertentu.

2. Erosi (Pengikisan).
Erosi adalah proses pengikisan permukaan bumi oleh tenaga yang melibatkan pengangkatan benda2
seperti air, es, angin, dan gelombang arus.
Macam2 jenis erosi, yaitu :
1)
Erosi Air
Air yang mengangkut batu2an yang hancur mempunyai kekuatan mengikis lebih besar. Peristiwa
gesekan pada erosi air tergantung pada : kecepatan gerak, daya angkut air, dan keaadan permukaan.

2)
Abrasi, adalah pengikisan batuan yang disebabkan oleh pengerjaan air laut. Besar kecilnya
gelombang atau kecepatan angin, dapat menimbulkan perubahan bentuk di sepanjang pantai disebut
abrasi platform.

3)
Gletser, yaitu pegikisan yang disebabkan oleh pengerjaan es . pengikisan oleh es disebut juga
glacial/eksarasi. Di daerah pegunungan yang tinggi sering terdapat salju abadi atau es. Es bergerak
turun melalui lereng dan mengikis dasar lereng gunung serta mendorongnya ke lembah.

4)

Korasi, yaitu pengikisan yang disebabkan oleh pengerjaan angin.

Erosi yang disebabkan oleh tenaga air, misalnya :
1)
Erosi percikan, yaitu erosi yang disebabkan oleh tetesan air hujan yang memecahkan butir-butir
tanah.
2)
Erosi lembar, yaitu pengikisan dan pengangkutan lapisan tanah permukaan, yang disebabkan
oleh aliran air di permukaan tanah.
3)
Erosi Alur, yaitu pengikisan lapisan tanah yang sudah membentuk alur-alur dengan lebar < 40
cm dan kedalaman < 25 cm.
4)
Erosi Parit, yaitu pengikisan lapisan tanah yang mebentuk alur-alur yang lebih besar,sehingga
sering disebut parit m ukuran lebar > 40 cm dan kedalaman > 25 cm. Erosi tebing sungai, yaitu aliran
air sungai mengikis tebing sungai.

3. Sedimentasi (Pengendapan)
Lapisan hasil pelapukan yang terjadi dipermukaan bumi, baik di daratan yang rata maupun di lereng2
bukit, pegunungan atau gunung dipengaruhi oleh bermacam-macam kekuatan. Daerah yang terkena

pelapukan maupun yang menerima hasil pelapukan menghasilkan struktur morfologi yang berbedabeda.
Bentukan2 dalam proses pengendapan/sedimentasi di daerah pantai antara lain :
1)
Pesisir (Beach).
Adalah pantai yang terdiri atas endapan pasir sebagai hasil erosi.
2)
Dune
Adalah bukit pasir di daerah pedalaman yang terjadi sebagai akibat hembusan angin di daerah pasir
yang luas.
3)
Spit dan Bar.
Spit adalah material pasir sebagai proses pengendapan yang terdapat di muka teluk, berbentuk
memanjang, dan salah satu ujungnya menyatu dengan daratan. Sedangkan ujung lain terdapat di laut.
Bar adalah punggungan pasir dan kerikil yang diendapkan tepat diseberang teluk. Bila bar ini
menghubungkan dua pulau disebut tambolo.
4)
Delta.
Adalah bentukan dari proses pengendapan erosi yang di bawa oleh aliran sungai di daerah pantai.
Dalam proses sedimentasi/pengendapan ini akan menghasilkan batuan sedimentasi. Batuan sedimen
juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tenaga alam yang mengangkut dan tempat sedimen.

Berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya ada empat macam sedimen yaitu :
1. Sedimen Akuatis : pengendapan oleh air
2. Sedimen Aeris (Aeolis) : pengendapan oleh angin
3. Sedimen Glasial : pengendapan oleh es
4. Sedimen Marine : pengendapan oleh air laut.
Berdasarkan tempatnya ada 5 macam sedimen, yaitu :
1. Teristris : pengendapan di darat
2. Sedimen Fluvial : pengendapan di sungai
3. Sedimen Limnis : pengendapan di rawa2 atau danau
4. Sedimen Marine : pengendapan di laut
5. Sedimen Glasial : pengendapan di daerah es.
4. Pengangkutan Material (Mass Wasting).
Pengangkutan material (mass wasting) terjadi karena adanya gaya gravitasi bumi sehingga terjadi
pengangkutan atau perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain. Proses mass
wasting berlangsung dalam empat jenis pergerakan material.
1)
Jenis pergerakan pelan (lambat).
Rayapan merupakan bentuk dari jenis pergerakan lambat pada proses mass wasting. Rayapan adalah
gerakan tanah dan puing batuan yang menuruni lereng secara pelan, dan biasanya sulit untuk diamati
kecuali dengan pengamatan yang cermat. Rayapan terbagi menjadi beberapa jenis.
a)
Rayapan tanah. Yaitu gerakan tanah menuruni lereng.
b)
Rayapan halus. Yaitu gerakan puing batuan hasil pelapukan pada lereng curam yang menuruni
lereng.
c)
Rayapan batuan. Yaitu gerakan blok-blok secara individual yang menuruni lereng.

d)
Rayapan batuan gletser (rock glatsyer creep). Yaitu gerakan lidah-lidah batuan yang
tercampak menuruni lereng.
e)
Solifluksi (solifluction). Yaitu aliran pelan masa batuan yang banyak mengandung air menuruni
lereng di dalam saluran tertentu.
2)
Jenis pergerakan cepat.
Jenis pergerakan ini dapat dibagi sebagai berikut :
a)
Aliran tanah. Yaitu gerakan berlempung atau berlumpur yang banyak mengandung air menuruni
teras atau lereng perbukitan yang kemiringannya kecil.
b)
Aliran lumpur. Yaitu gerak puing batuan yang banyak mengandung air menuruni saluran
tertentu secara pelan hingga sangat cepat.
c)
Gugur puing. Yaitu puing-puing batuan yang meluncur di dalam saluran sempit menuruni
lereng curam.
3)
Longsor lahan (landslide).
Gerakan yang termasuk dalam kategori ini merupakan jenis yang mudah diamati, dan biasanya berupa
puing massa batuan. Gerakan tersebut dapat dibagi menjadi :
a)
Luncur. Yaitu gerakan penggelinciran dari satu atau beberapa unit puing batuan, atau biasanya
disertai suatu putaran ke belakang pada lereng atas di tempat gerakan tersebut terjadi.
b)
Lonsor puing. Yaitu peluncuran puing batuan yang tidak terpadatkan, dan berlangsung cepat
tanpa putaran ke belakang.
c)
Jatuh puing. Yaitu puing batuan yang jatuh hampir bebas dari suatu permukaan yang vertikal
atau menggantung.
d)
Lonsor batu. Yaitu massa batuan yang secara individu meluncur atau jatuh menuruni permukaan
lapisan atau sesaran.
e)
Jatuh batu. Yaitu blok-blok batuan yang jatuh secara bebas dari lereng curam,
4)
Amblesan (subsidensi).
Amblesan yaitu pergeseran tempat ke arah bawah tanpa permukaan bebas dan tidak menimbulkan
pergeseran horizontal. Hal ini umumnya terjadi karena perpindahan material secara pelan-pelan di
daerah massa yang ambles.
5. Denudasi.
Adalah proses yang mengakibatkan perendahan relief daratan akibat longsor, pengerjaan manusia dan
lain sebagainya.
Hidrosfer berasal dari kata hidros = air dan sphere = daerah atau bulatan. Hidrosfer dapat diartikan
daerah perairan yang mengikuti bentuk bumi yang bulat. Daerah perairan ini meliputi samudera, laut,
danau, sungai, gletser, air tanah, dan uap air yang terdapat di atmosfer. Diperkirakan hampir tiga
perempat atau 75 % muka bumi tertutup oleh air. Jadi dapat dikatakan bumi kita ini adalah planet air.
Air di bumi memiliki jumlah yang tetap dan senantiasa bergerak dalam suatu lingkaran
peredaran yang disebut dengan siklus hidrologi, siklus air ataudaur hidrologi.
Persentase luas permukaan laut dan luas permukaan daratan
Di belahan bumi utara dan selatan.
BELAHAN BUMI

LUAS LAUTAN (%)

LUAS DARATAN (%)

Utara
Selatan

61
81

39
19

Untuk keperluan pemahaman praktis dalam mempelajari tentang air diperlukan beberapa cabang ilmu,
antara lain sebagai berikut :
1. Hidrometeorologi, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara unsur2 meteorologi dan
siklus hidrologi yang ditekankan kepada hubungan timbal balik.
2. Potamologi, yaitu ilmu yang mempelajari air yang mengalir di permukaan tanah, baik yang
melalui saluran, maupun yang tidak melalui saluran.
3. Geohidrologi, yaitu ilmu yang mempelajari keberadaan, persebaran, dan gerak air di bawah
permukaan tanah.
4. Limnologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk air yang berada di danau.

5. Oseanologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang keadaan air di lautan.
Siklus air dibedakan menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut :
1. Siklus Air Kecil, yaitu air laut menguap, mengalami kondensasi menjadi awan dan hujan, lalu
jatuh ke laut.

2. Siklus Air Sedang, yaitu air laut menguap, mengalami kondensasi dan dibawa angin, membentuk
awan di atas daratan, jatuh sebagai hujan, lalu masuk ke tanah, selokan, sungai, dan ke laut lagi.

3. Siklus Air Besar, yaitu air laut menguap menjadi gas kemudian membentuk kristal2 es di atas laut,
dibawa angin ke daratan (pegunungan tinggi), jatuh sebagai salju, membentuk gletser (lapisan es yang
mencair), masuk ke sungai, lalu kembali ke laut.

Terjadinya siklus air tersebut disebabkan oleh adanya proses2 yang mengikuti gejala meteorologis dan
klimatologis, antara lain :
1. Evaporasi, yaitu penguapan benda2 abiotik dan merupakan proses perubahan wujud air
menjadi gas. Penguapan di bumi 80 % berasal dari penguapan air laut.
2. Transpirasi, yaitu proses pelepasan uap air dari tumbuh2an melalui stomata atau mulut daun.
3. Evapotranspirasi, yaitu proses gabungan antara evaporasi dan transpirasi.
4. Kondensasi, yaitu proses perubahan wujud uap air menjadi air akibat pendinginan.
5. Adveksi, yaitu transportasi air pada gerakan horizontal seperti transportasi panas dan uap air
dari satu lokasi ke lokasi yang lain oleh gerakan udara mendatar.
6. Presipitasi, yaitu segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan
air, hujan es, dan hujan salju.
7. Run Off (Aliran Permukaan), yaitu pergerakan aliran air di permukaan tanah melalui sungai
dan anak sungai.
8. Infiltrasi, yaitu perembesan atau pergerakan air ke dalam tanah melalui pori tanah.
Di dalam siklus hidrologi terjadi proses kondensasi dan sublemasi. Kondensasi adalah proses
berubahnya uap air menjadi butir2 air, sedangkan sublemasi adalah proses berubahnya uap air menjadi
butir2 es atau salju. Menurut perkiraan, air yang ada dipermukaan bumi seluruhnya mencapai
1.360.000.000 km3. Sekitar 1.320.000.000 km3 berada di lautan/samudera dan sisanya terjadi sirkulasi
pada atmosfer ke daratan dan kembali ke laut atau samudera.
Air yang ada dipermukaan bumi dan di udara berada dalam bentuk cair, gas dan padat (es
atau salju). Perubahan air dalam tiga bentuk ini memang sangat menakjubkan. Jika terjadi perubahan
temperatur, air dapat berubah menjadi es yang disebut membeku (freezing), atau sebaliknya es akan
berubah menjadi air yang disebut mencair (melting), dan air yang mencair tersebut dapat pula berubah
menjadi gas melalui proses penguapan (evaporation).
Dalam setahun tidak kurang dari 500.000 km3 air di muka bumi berubah menjadi gas ke
dalam atmosfer. Kurang lebih 430.000 km3 air laut berubah menjadi uap air atau sekitar 1.000
km3 setiap hari, dan sisanya 70.000 km3 menguap dari daratan (termasuk penguapan dari tanaman yang
disebut dengan Transpiration).

Uap air yang terdapat dalam udara da