GADAI SEBAGAI JAMINAN HUTANG Yang diamp

TUGAS KELOMPOK
HUKUM PERDATA

“GADAI SEBAGAI JAMINAN HUTANG”
Yang diampuh oleh
Dharu Triasih, S.H., M.H

Disusun Oleh :
Fatma Nyara Yunita

A.111.16.0085

Dwi Intan

A.111.16.0089

Arselia Choleta Devi

A.111.16.0096

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEMARANG

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat perlu dana maupun modal.
Misalnya untuk membuka suatu lapangan usaha tidak hanya dibutuhkan bakat dan
kemauan keras untuk berusaha, tetapi juga diperlukan adanya modal dalam bentuk uang
tunai. Hal itulah yang menjadi potensi perlu adanya lembaga perkreditan yang
menyediakan dana pinjaman. Untuk mendapatkan modal usaha melalui kredit
masyarakat membutuhkan adanya sarana dan prasarana. Maka pemerintah memberikan
sarana berupa lembaga perbankkan dan lembaga non perbankkan.
Salah satu lembaga non perbankan yang menyediakan kredit adalah Pegadaian.
Pegadaian merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia yang
usaha intinya adalah bidang jasa penyaluran kredit kepada masyarakat atas dasar
hukum gadai. Lembaga pegadaian menawarkan peminjaman dengan system gadai. Jadi
masyarakat tidak perlu takut kehilangan barang-barangnya. Lembaga pegadaian
memiliki kemudahan antara lain prosedur dan syarat-syarat administrasi yang mudah
dan sederhana, dimana nasabah cukup memberikan keterangan-keterangan singkat
tentang identitasnya dan tujuan penggunaan kredit, waktu yang relatif singkat dana
pinjaman sudah cair dan bunga relatif rendah.
Masalah jaminan utang berkaitan dengan gadai yang timbul dari sebuah
perjanjian utang-piutang, yang mana barang jaminan tersebut merupakan perjanjian
tambahan guna menjamin dilunasinya kewajiban debitur pada waktu yang telah
ditentukan dan disepakati sebelumnya diantara kreditur dan debitur
Adanya perjanjian gadai tersebut, maka diperlukan juga adanya barang sebagai
jaminan.

1.2 Rumusan masalah
1. apa yang di maksud dengan gadai dan objek gadai ?
2. peningkatan gadai dan eksekusi gadai ?
3. gadai melalui rumah gadai atau pajak gadai ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN GADAI
1

Gadai adalah suatu hak kebendaan yang bersifat assessoir yang di
berikan oleh pihak pemberi gadai (debitor) kepada pemengang gadai (kreditor)
sebagai jaminan atas pembayaran utang. Caranya adalah dengan menyerahkan
benda objek gadai yang dapat berupa benda bergerak, bertubuh maupun tidak
bertubuh, kedalam kekuasaan pemegang gadai (kreditor) atau kedalam
kekuasaan seorang pihak ketiga yang di setujui oleh kedua belah pihak. Jadi,
pemegang gadai (kreditor) atau pihak ketiga yang di setujui oleh kedua belah
pihak memegang hak untuk memakai dan/atau menikmati hasil atas benda
objek gadai tersebut. Gadai juga memberikan hak prioritas bagi pemegang
gadai(kreditor) untuk mendapat pembayaran terlebih dahulu dari pada kreditor
lainnya atas tagihan-tagihan dari kreditor pemengang gadai khusus nya yang
bersangkutan dengan hasil eksekusi objek gadai tersebut-dengan kekecualian
biaya-biaya yang harus di dahulukan, misalnya biaya untuk melelang barang
tersebut dan biaya yang telah di keluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu di gadaikan.
Di samping barang-barang bergerak, gadai dapat juga di berikan atas
tanah dengan atau tanpa segala sesuatu yang ada di atas tanah tersebut.
Penetapan hak gadai atas benda-benda bergerak dan piutang-piutang di
lakukan dengan cara membawa barang gadaiannya kebawah kekuasaan si
berpiutang atau pihak ketiga yang telah di setujui oleh kedua pihak penetapan
inilah yang membedakan lembaga gadai derngan lembaga hipote, hak
tanggungan, atau pun fidusia.

Ketentuan untuk menyerahkan barang gadai kedalam kekuasaan
kreditor pemegang gadai atau pihak ketiga merupakan unsur mutlak dari suatu
1 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,152

gadai, sehingga menjadi hukum memaksa (mandatori rule). Apabila unsur ini
tidak ada, maka gadai di anggap toidak ada sehingga oleh undang-undang
gadai dianggap batal (null and void) demi hukum. Demikian juga, mana kala
barang gadai bera;ih ketangan pemberi gadai (debitor) sewaktu gadai msih
berlangsung, maka gadai itupun di anggap batal (null and void) demi hukum
dengan sendirinya (by the opration of law) . dalam kontek ini, pasal 1152
KUH perdata dengan tegas menyatakan
Tak sah adalah hak gadai atas segala benda yang di biarkan tetap
dalam kekuasaan si berutang atau si pemberi gadai, atapun yang kembali
atas kemauan si berpiutang .
hak gadai hapus apabila barang gadainya keluar dari kekuasaan si
penerima gadai. Namun, apabila barang tersebut hilang dari tangan penerima
gadai atau di curi darinya, maka ia berhak menuntutnya kembali sebagai mana
di sebutkan dalam pasal 1977 ayat 2 KUHperda. Setelah barang gadai di
dapatkannya kembali, hsk gadai di anggap tidak pernah hilang.
Karena yang beralih kepada pemegang gadai adalah penguasaan atas
benda dan bukan pemiliknya, gadai menurut hukum indonesia (yaitu menurut
KUH perdata maupun hukum adat) mirip dengan “pledge” atas barang
bergerak yang ada di dalam sistem hukum anglo-saxon, seperti yang ada di
inggris atau amerika serikat. Dalam istilah hukum anglo-saxon, lembaga gadai
ini sering juga di sebut dengan istilah “pawn”
2

B. OBJEK GADAI
Ada dua faktor yang membedakan jaminan gadai di banding jamiana lainnya
misalnya, hak tanggungan atau hipotek : pertama , yaitu faktor benda objek jamina
uang: dan kedua berupa penguasaan atas benda objek jamian utang tersebut.
3

2 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,153
3 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,153

Perbedaan antara gadai dan hak tanggungan terletak pada benda objek
jamianannya.objek hak tanggungan adalah benda tidak bergerak (tanah), sedangkan
objek gadai pada prinsipnya adalah benda gerak (movables). Sementara itu, yang
membedakan lembaga gadai dengan lembaga fidusia adalah faktor penguasaanfisik
atas bendanya. Pada gadai, fisik benda tersebut harus di serahkan kepada pemegang
gadai; sedangkan pada fidusia, fisik benda tersebut masih tetap berada dalam
kekuasaan pemberi fidusia . gadai maupun fidusia sama-sama dapat di letakan atas
benda bergerak . akan tetapi, dalam sistem hukum adat yang masih berlku dan masih
banyak di peraktekan di pedesaan, tanah pun dapat di gadaikan di samping barang
bergerak – ini di sebut dengan gadai tanah. Dalam gadai tanah, tanah objek gadai juga
harus di alihkan kekuasaannya kepada kreditor. Dalam kontek ini, pihak kreditor
dapat memmungut hasil atas tanah tersebut. Bahkan dalam sistem gadai tanah
menurut hukum adat,hasil yang di pungut dari tanah tersebut merupakan prestasi atau
imbalan jasa bagi kreditor,
4
Selanjutnya, brang bergerak menjadi objek gadai adalah batrang bergerak
bertumbuh maupuntidak bertumbu. Hanya saja, gadai atas benda2 bergerak yang tak
bertubuh (kecuali surat-surat tunjuk atau surat-surat bawah) harus di beritahukn
kepada orang yang harus menerima pelaksanaan hak yang di gadaikan itu (pemilik
barang). Dalam kondisi ini, orang itu dapat meminta bukti tertulis tentang
pemberitahuan tersebut serta tentang izin si pemberi gadai, vide pasal 1153 KUH
perdata.
Di samping itu, barang yang di gadaikan tidak dapat di bagi-bagi, sekalipun
utangnya dapat di bagi-bagi di antara para waris si sebutang ataupun para warisnya si
berpiutang . demikia juga sebaliknya, debitor yang telah membayar sebagian utangnya
belum dapatmenuntut pengembalian bagiannya dalam barang gadai selama utangnya
belum di bayar lunas keseluruhan.

C. PENGIKAT GADAI
Tidak ada ketentuan mengenai dengan apa suatu perjanjian gadai di buat.
Karena itu, gadai (sebagai suatu perjanjian) dapat di buat secara otentik,
tertulis di bawah tangan, bahkan (meskipu sulit di pembuktian) gadai secra
lisan pun sbenernya iak di larang. Akan tetapi, menurut pasal 1151 KUH
5

4 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,154
5 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,155

perdata, persetujuan gadai di buktikan dengan segala alat yang di perbolehkn
bagi pembuktian persetujuan pokoknya . jadi, model pengikat gadai mengikuti
model yang di perbolehkan terhadap perjanjin pokoknya. Jika misalnya ada
keharusan untuk membuat perjanjian pokok(perjsnjian yang menerbitkan
utang-piutang) dengan akte otentik, maka perjanjia gadain pun harus di buat
dengan akte otentik.
Karena itu,urutan-urutan proses pengikat gadai secara hukum adalah :
1. Pembuatan perjanjian pokok, yakni perjanjian yang menrbitkan utang
piutang;
2. Pembuatan perjanjian gadai(pengikatan gadai);
3. Penyerahan barang kedalam kekuasaan pihak kreditor.
Selanjutnya, seperti telah di sebutkan bahwa penyerhan kekuasaan atas barang
objek gadai kepada keditor(atau kepada orang lain yang di setujui) menurut
hukum adalah syarat yang merupakan hukum memaksa(dwingend recht,
mandatori law), sehingga tidak dapat di kesampingkan oleh para pihak. Sebab,
jika kekuasaan atas barang objek gadai tidak di serahkan kepada pemegang
gadai ( kreditor), mka perjnjian tersebut menjadi fidusia, yang tunduk kepada
hukum tentang fidusia. Pasal-pasal KUH Perdata yang termasuk dalam kontek
ini yaitu pasal 1152 dan pasal 1152 bis :

Pasal 1152
Hak gadai atas barang bergerak yang berwujud dan atas piutang bawa timbul dengan cara
menyerahkan gadai itu kepada kekuasaan kreditur atau orang yang memberikan gadai atau
yang dikembalikan atas kehendak kreditur. Hak gadai hapus bila gadai itu lepas dari
kekuasaan pemegang gadai. Namun bila barang itu hilang, atau diambil dari kekuasaannya,
maka ia berhak untuk menuntutnya kembali menurut Pasal 1977 alinea kedua, dan bila gadai
itu telah kembali, maka hak gadai itu dianggap tidak pernah hilang.

Hal tidak adanya wewenang pemberi gadai untuk bertindak bebas atas barang itu, tidak dapat
dipertanggungjawabkan kepada kreditur, tanpa mengurangi hak orang yang telah kehilangan
atau kecurigaan barang itu untuk menuntutnya kembali.
Pasal 1152 bis.
Untuk melahirkan hak gadai atas surat tunjuk, selain penyerahan endosemennya, juga
dipersyaratkan penyerahan suratnya.
Adapun cara meneyrahkan barang gadai ke dalam kekuasaan pihak kreditor
adalah:








Terhadap barang bergerak bertubuh dilakukan penyerahan fisik oleh
debitor kepada kreditor.
Terhadap barang bergerak berupa surat tunjuk atau surat bawa
dibuatkan endosemen dan juga diserahkan fisik surat-surat tersebut.
Terhadap gadai atas benda-benda bergerak yang tak bertubuh (kecuali
surat tunjuk atau surat bawa) dibuat endosemen dan diberitahukan
prihal penggadaian kepada orang yang harus menerima pelaksanaan
hak yang di gadaikan itu.
Gadai atas tanah menurut hukum adat Indonesia di anggap sebagai
suatu transaksi tanah, sehingga dapat dibuat secara terang dan tunai,
artinya dibuat didepan pemangku adat.
Akan tetapi, gadai atas tanah menurut hukum adat Indonesia sering
juga dibuat dengan akta bawah tanah (dibuah di atas surat bermaterai)
ini dapat dibenarkan dalam praktek hukum adat.

D. EKSEKUSI GADAI
Eksekusi terhadap barang objek gadai haruslah dilakukan sesuai ketentuan yang
berlaku, sebagai berikut :
6

1. Eksekusi Swcara Menjual Di Lelang Umum

6 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,156-157

Hukum yang umum berlaku terhadap gadai adalah bahwa barang objek gadai
harus di jual di depan lelang umum jika pihak debitor lalai dalam membayar, dan
hsil jual lelang tersebut di serajkan kepada kreditor sebesar sisa utang yang belum
terbayar, di tambah biaya dan / atau bunga.
2. Eksekusi Secara Mendaku
Mendaku adalah menjadi “akupunya”. Jadi, yang di maksudkan dengan eksekusi
barang objek gadai secara mendaku ketika menjadi wanprestasi adalah bahwa
barang gadai yang semua hanya di kuasai (belum di miliki) oleh kreditor langsung
beralih menjadi milik kreditor tanpa perlu di jual lagi. Pada prinsipnya, eksekusi
secara mendaku ini di larang oleh undang-undang dengan ancaman batal dmi
hukum (null and void). KUH perdata Indonesia melalui Pasal 1155 dengan tegas
melarang ekseekusi secara mendaku:
Apabila si berutang atau si pemberi gadai tidak memenuhi kewajibankewajibannya, maka tak di perkenankanlah si berpiutang memiliki barang yang
di gadaikan
Segala janji yang bertentangan dengan ini adalah batal demi hukum.
Akan tetapi, sebagai pengecualian eksekusi secara mendaku masih dapat di
benarkan apabila memenuhi syarat-syarat :
1. Atas persetujuan hakim ;
2. Kreditor hanya boleh menahan barang sebesar jumlah piutang yang belum
terbayarkan di tambah bunga /atau ganti rugi.
3. Eksekusi Secara Menjual Di Bawah Tangan
Ketika utang sudah tidak terbayarkan, maka eksekusi dengan jalan menjual di
bawah tangan(tidak melalui lelang umum) pada prinsipnya tidak di benarkan.
Eksekusi dengan jalan menjual di bawah tangan hanya mungkin di lakukan
apabila memenuhi syarat berikit:
 Jika di perjanjikan oleh kedua belah pihak ;
 Atas persetuan hakim.

4. Eksekusi Dengan Jalan Menjual Menurut Cara Yang Di Tentukan Oleh
Hakim
Dapat juga suatu eksekusi di lakukan dengan jalan menjual menurut cara yang
di tentukan oleh hakim. Dalam hal ini, hakim akan mempertimbangkan

berbagai hal yang dapat menjustifikasikan caraa penjualan yang layak.
Misalnya, makelar profesional, atau menjual di atas harga yang di tetapkan
appraiser propesional.

5. Eksekusi Melalui Bursa
Jika barang objek gadai berupa barang-barang atau surat berharga yang dapat
di perdagangkan di bursa, maka eksekusi dapat di lakukan do bursa2 tersebut,
dengan syarat penjualan itu di lakukan melalui dua orang broker yang ahli itu.

E. GADAI MELALUI RUMAH GADAI ATAU PAJAK GADAI
Di samping gadai yang di lakukan oleh probadi atau perusahaan swasta umum,
jaminan utang dalam benytuk gadai ini juga di tawarkan oelh sebuah perusahaan milik
negara yang khusus menjalankan kegiatan gadai(memberi pinjaman uang dengan
jaminan gadai) – di kalangan masyarakat populer dengan istilah pajak gadai atau
rumah gadai. Istilah pajak dalam pajak gadai memiliki makna pasar, jadi bukan pajak
dalam arti pungutan pajak oelh pemerintah.
Ternyata keberadaa rumah gadai berkembang pesat dan merupakan sarana
yang ampuh untuk mengurangi parah lintah darat yang senang membunga bungan
uang dalam masyarakat. dewasa ini, operasional rumah gadai ini terus berkembang,
7

7 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,158

dengan odel-model operasional, dan produknya semaki beragam, mengikuti
perkembangan bisnis saat ini.

F. KETENTUAN DALAM KUH PERDATA YANG BERKITAN DENGAN
LEMBAGA GADAI
8
Ketentuan-ketentuan hukum yang berlkaku terhadao gadai yaitu:
 Ketentuan yang mengatur tentang gadai(terhadap barang bergerak) secara
umum terdapat dalam KUH perdata ;
 Ketentuan perundang-undangan yangbmengatur tentang gadai yang di lakukan
oleh perusahaan pergadaiian negara, yang dahulunya di sebut dengan istilah
pajak gadai, atau rumah gadai;
 Pengaturan yang menyangkut gadai tanah ( versi hukum adat) terdapat dalam
peraturan per undang-undangan tentang agraria dan ketentua dalam hukum
adat.
Adapun ketentuan dala KUH perdata indonesia yang berkaitan dengan lembaga jaminan
gadai ini adalah sebagai berikut:
Pasal 1150
8 Munirfuady,HukumJaminanUtang,2013,Hal,159-162

Suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan
kepadanya oleh seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang
memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang
tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya, dengan kekecualian
biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.
Pasal 1151
Perjanjian gadai harus dibuktikan dengan alat yang diperkenankan untuk membuktikan
perjanjian pokoknya.
Pasal 1152
Hak gadai atas barang bergerak yang berwujud dan atas piutang bawa timbul dengan cara
menyerahkan gadai itu kepada kekuasaan kreditur atau orang yang memberikan gadai atau
yang dikembalikan atas kehendak kreditur. Hak gadai hapus bila gadai itu lepas dari
kekuasaan pemegang gadai. Namun bila barang itu hilang, atau diambil dari kekuasaannya,
maka ia berhak untuk menuntutnya kembali menurut Pasal 1977 alinea kedua, dan bila gadai
itu telah kembali, maka hak gadai itu dianggap tidak pernah hilang.
Hal tidak adanya wewenang pemberi gadai untuk bertindak bebas atas barang itu, tidak dapat
dipertanggungjawabkan kepada kreditur, tanpa mengurangi hak orang yang telah kehilangan
atau kecurigaan barang itu untuk menuntutnya kembali.

Pasal 1152 bis.
Untuk melahirkan hak gadai atas surat tunjuk, selain penyerahan endosemennya, juga
dipersyaratkan penyerahan suratnya.
Pasal 1153
Hak gadai atas barang bergerak yang tak berwujud, kecuali surat tunjuk dan surat bawa lahir
dengan pemberitahuan mengenai penggadaian itu kepada orang yang kepadanya hak gadai itu
harus dilaksanakan. Orang ini dapat menuntut bukti tertulis mengenai pemberitahuan itu, dan
mengenai izin dan pemberian gadainya.
Pasal 1154
Dalam hal debitur atau pemberi gadai tidak memenuhi kewajiban-kewajiban, kreditur tidak
diperkenankan mengalihkan barang yang digadaikan itu menjadi miliknya. Segala
persyaratan perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan ini adalah batal.
Pasal 1155

Bila oleh pihak-pihak yang berjanji tidak disepakati lain, maka jika debitur atau pemberi
gadai tidak memenuhi kewajibannya, setelah lampaunya jangka waktu yang ditentukan, atau
setelah dilakukan peringatan untuk pemenuhan perjanjian dalam hal tidak ada ketentuan
tentang jangka waktu yang pasti, kreditur berhak untuk menjual barang gadainya dihadapan
umum menurut kebiasaankebiasaan setempat dan dengan persyaratan yang lazim berlaku,
dengan tujuan agar jumlah utang itu dengan bunga dan biaya dapat dilunasi dengan hasil
penjualan itu. Bila gadai itu terdiri dan barang dagangan atau dan efek-efek yang dapat
diperdagangkan dalam bursa, maka penjualannya dapat dilakukan di tempat itu juga, asalkan
dengan perantaraan dua orang makelar yang ahli dalam bidang itu.
Pasal 1156
Dalam segala hal, bila debitur atau pemberi gadai Ialai untuk melakukan kewajibannya, maka
kreditur dapat menuntut lewat pengadilan agar barang gadai itu dijual untuk melunasi
utangnya beserta bunga dan biayanya, menurut cara yang akan ditentukan oleh Hakim, atau
agar hakim mengizinkan barang gadai itu tetap berada pada kreditur untuk menutup suatu
jumlah yang akan ditentukan oleh hakim dalam suatu keputusan, sampai sebesar utang
beserta bunga dan biayanya.
Tentang pemindahtanganan barang gadai yang dimaksud dalam pasal ini dan pasal yang
lampau, kreditur wajib untuk memberitahukannya kepada pemberi gadai, selambat-lambatnya
pada hari berikutnya bila setiap hari ada hubungan pos atau telegrap, atau jika tidak begitu
halnya, dengan pos yang berangkat pertama. Berita dengan telegrap atau dengan surat tercatat
dianggap sebagai berita yang pantas.

Pasal 1157
Kreditur bertanggung jawab atas kerugian atau susutnya barang gadai itu, sejauh hal itu
terjadi akibat kelalaiannya. Di pihak lain debitur wajib mengganti kepada kreditur itu biaya
yang berguna dan perlu dikeluarkan oleh kreditur itu untuk penyelamatan barang gadai itu.

Pasal 1158
Bila suatu piutang digadaikan, dan piutang ini menghasilkan bunga, maka kreditur boleh
memperhitungkan bunga itu dengan bunga yang terutang kepadanya.
Bila utang yang dijamin dengan piutang yang digadaikan itu tidak menghasilkan bunga, maka
bunga yang diterima pemegang gadai itu dikurangkan dari jumlah pokok utang.
Pasal 1159
Selama pemegang gadai itu tidak menyalahgunakan barang yang diberikan kepadanya
sebagai gadai, debitur tidak berwenang untuk menuntut kembali barang itu sebelum ía

membayar penuh, baik jumlah utang pokok maupun bunga dan biaya utang yang dijamin
dengan gadai itu, beserta biaya yang dikeluarkan untuk penyelamatan barang gadai itu.
Bila antara kreditur dan debitur terjadi utang kedua, yan g diadakan antara mereka berdua
setelah saat pemberian gadai dan dapat ditagih sebelum pembayaran utang yang pertama atau
pada hari pembayaran itu sendiri, maka kreditur tidak wajib untuk melepaskan barang gadai
itu sebelum ia menerima pembayaran penuh kedua utang itu, walaupun tidak diadakan
perjanjian untuk mengikatkan barang gadai itu bagi pembayaran utang yang kedua.
Pasal 1160
Gadai itu tidak dapat dibagi-bagi, meskipun utang itu dapat dibagi antara para ahli waris
debitur atau para ahli waris kreditur. Ahli waris debitur yang telah membayar bagiannya tidak
dapat menuntut kembali bagiannya dalam barang gadai itu, sebelum utang itu dilunasi
sepenuhnya. Di lain pihak, ahli waris kreditur yang telah menerima bagiannya dan piutang
itu, tidak boleh mengembalikan barang gadai itu atas kerugian sesama ahli warisnya yang
belum menerima pembayaran.

Terjadinya Hak Gadai
Hak Gadai terjadi dengan memperjanjikannya terlebih dahulu, hal ini berarti
terjadinya hak gadai tersebut baru ada setelah proses perjanjian gadai dilaksanakan.
Di dalam perjanjian gadai, ada asas-asas hukum perjanjian yang dipakai dan berlaku
yaitu :
a. Asas kebebasan membuat perjanjian
Asas ini mengandung arti bahwa para pihak dalam perjanjian bebas menentukan hak dan
kewajibannya. Asas ini disebut juga dengan asas kebebasan berkontrak, yaitu semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya (Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata). Asas kebebasan berkontrak ini tidak boleh
bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan undang-undang.
b. Asas Konsensualitas

c.

1.
2.
3.
4.

Asas ini mempunyai arti bahwa suatu perjanjian lahir sejak detik tercapainya kesepakatan
antara kedua belah pihak . Hal ini sesuai dengan salah satu syarat sahnya suatu perjanjian
(Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata)
Asas Kepatutan/Itikad baik
Asas ini lebih mengutamakan kepatutan atau kesesuaian antara debitur dan kreditur untuk
melakukan dan melaksanakan perjanjian dengan itikad baik. Hal ini terdapat dalam Pasal
1338 ayat (3) KUH Perdata.
Selanjutnya untuk sahnya persetujuan pemberian gadai, maka haruslah memenuhi
syarat-syarat sah suatu perjanjian yang di atur dalam Pasal 1320 KUH Perdata yaitu :
Sepakat mereka yang membuat perjanjian.
Cakap untuk membuat perjanjian.
Mengenai suatu hal tertentu.
Suatu sebab yang halal.
Dua syarat yaitu yang pertama serta kedua dikatakan syarat subjektif, karena
mengenai orang atau subjek yang mengadakan perjanjian sedangkan dua syarat yang ketiga
serta keempat dikatakan syarat objektif karena mengenai isi perjanjiannya sendiri oleh objek
dari perbuatan hukum yang di lakukan itu.

BAB III
KESIMPULAN
Dari makalah tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa gadai terjadi karena adanya
unsur-unsur timbulnya hak debitur yang disebabkan perikatan utang-piutang, dan adanya
penyerahan benda bergerak baik berwujud maupun tidak berwujud sebagai jaminan yang
diberikan oleh kriditur.
Obyek dari gadai adalah benda bergerak berwujud dan tidak berwujud dan yang menjadi
subyek dari hak gadai adalah penerima hak gadai (debitur) dan pemberi hak gadai (kreditur),
dan secara hukum orang yang tidak cakap dalam perbuatan hukum tentu saja tidak bisa
melakukan hubungan hukum gadai.
Untuk menjaminnya agar gadai bisa dilaksanakan secara benar, sehingga tidak terjadi
sengketa dikemudian hari tentu saja si penerima gadai harus memahami dan melaksanakan

kewajibannya, dan sipemberi gadai harus juga mengerti apa yang manjadi hak si penerima
gadai.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru