Tugas baca buku pengantar perjanjian lam

LAPORAN BACA BUKU
“Pengantar Perjanjian Lama 1”

Nama
NPM
Prodi
Mata Kuliah
Tugas
Dosen Pengampu
Judul Buku
Penulis

: Samuel Agus setiawan
: 215179
: Teologi
: Tafsir Perjanjian Lama 1
: Laporan baca buku
: Pdt.Ganefosius P, M.Th
: Pengantar Perjanjian Lama 1
: Ws. Lasor - D.A Hubard - F.W Bush

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SYALOM
BANDAR LAMPUNG
2017

A. Identitas Buku
Judul
Penulis
Penerbit
Cetakan
Tebal

: Pengantar Perjanjian Lama 1
: Ws. Lasor - D.A Hubard - F.W Bush
: PT. BPK GUNUNG MULIA
: Kelima, 2000
: 457 halaman

B. Pendahuluan
Buku yang dilaporkan adalah buku yang berjudul Pengantar Perjanjian Lama 1 yang
ditulis oleh Ws. Lasor - D.A Hubard - F.W Bush. Buku ini diterbitkan pada tahun 2000 dan
dicetak di Jakarta oleh PT. BPK GUNUNG MULIA dengan tebal 457 halaman.
Buku ini menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan Kitab- kitab Taurat dan kitab
kitab sejarah lainnya.
Materi dalam buku ini disajikan dalam beberapa bab yang selalu didahului oleh
penjelasan isi bab dan tujuan instruksional yang dapat dijadikan patokan oleh pembaca untuk
memahami materi setiap subbab. Di akhir bab, dikemukakan pula pendalaman materi dalam
bentuk latihan dan atau tugas. Adapun cakupan materi secara umum yang dibentangkan
dalam buku ini antara lain: Sejarah Pertumbuhan, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia;
Bahasa Indonesia Baku; EYD; Penyusunan Kalimat Bahasa Indonesia Ragam Formal;
Penyusunan Paragraf dan Karangan; Penyusunan Karangan Ilmiah; Keterampilan Membaca
Sumber Ilmiah; Keterampilan Menyampaikan Gagasan dan Temuan Ilmiah; dan
Keterampilan Menulis Surat Resmi.
TAURAT
1. KELIMA KITAB TAURAT
Bagian ini Menjelaskan tetang Kelima kitab pertama Perjanjian Lama Kejadian, Keluaran,
Imamat,Bilangan dan Ulangan disebut Taurat. Kata itu berasal dari bahasaIbrani tora (hukum,
pengajaran, petunjuk) yang diterjemahkan dalamPerjanjian Baru oleh kata Yunani nomos
(misalnya Mat 5:17, Luk 16:17;Kis 7:53, 1 Kor 9:8). Taurat adalah bagian terpenting dari
kanon Yahudi.Wibawa dan kesuciannya jauh melebihi kitab Nabi-nabi atau kitabkitablainnya.
1.1. Kitab Kejadian 1
7.1. nama.isi dan struktur
Dalam bahasa Ibrani Kitab Kejadian disebut berésyit "pada mulanya,yaitu kata pembuka kitab
tersebut.
Berdasarkan isinya, kitab ini terbagi dalam dua bagian yang dapat dipisah dengan jelas:
Kejadian 1 11, sejarah zaman permulaan dan Kejadian 12 50, sejarah para bapak leluhur.
(Tepatnya, kedua bagian tersebut adalah: Kej 1:1 11:26 dan 11:27 50:26.).

Berdasarkan struktur sastranya, kitab ini terbagi dalam sepuluh bagian. Petunjuk untuk
pembagian ini adalah "rumusan toledot": "Dan inilah keturunan (atau riwayat; bahasa Ibrani
toledot).
7.2. jenis sastra
a.

Sifat sastra
Jenis sastra yang pertama (meliputi Kej 1; 5, 10; 11:10-26) mempunyai ciri khas, yaitu
susunan logis yang cermat dan bersifat skematisserta hampir mengikuti rumusan tertentu.
Jenis sastra yang kedua (Kejadian 2 3; 4; 6 9; 11:1-9) jelas berbeda. Di sini juga terdapat
keteraturan dan peningkatan tetapi yang dipergunakan adalah bentuk cerita. Kejadian 23
umpamanya, membentuk kisah yang sangat indah, suatu karya sastra yang hampir-hampir
merupakan suatu drama.
Hal-hal di atas memberi bahwa pengarang menulis sebagai kesan seorang seniman, seorang
pembawa cerita yang menggunakan gaya dan seluk-beluk sastra. Kita harus berusaha keras
untuk membedakan apa yang hendak diajarkan oleh pengarang dengan bentuk-bentuk sastra
yang digunakannya.

7.3. Teologi
Jadi, jelaslah bahwa maksud utama kisah zaman permulaan adalah bersifat teologis, sehingga
kita perlu memperhatikan beritanya lebih jelas. Penulis menjalin empat tema teologis utama
dalam pola yang berulang-ulang dan berkesinambungan: pertama, hakikat dan dampakdampak dari kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta; kedua, akibat dosa yang men- dalam;
ketiga cara Allah menjatuhkan hukuman atas dosa manusia dalam segala hal; dan keempat,
anugerah-Nya yang mengherankan yang memelihara ciptaan-Nya.
8. Kitab Kejadian II
Sejarah bapak-bapak laluhur
8.1. Latar belakang historis
a. Zaman prasejarah
Sejarah dalam arti sebenarnya dimulai kirs-kira tahun 3000 sM di Timur Tengah kuno.
b. Timur Tengah kuno, sebelum tahun 200 sM
Mesopotamia
Bangsa sumer adalah pencipta kebudayaan yang telah mencapai puncaknya ketika sejarah
dimulai di Mesopotamia. Mesopotamia terdiri dari kota-kota merdeka dengan pola
kehidupan yang terpadu.
Mesir
Didirikan oleh raja-raja selatan dan mencapai puncaknya dibawah Dinasti III dan IV
(kira-kira 2600 – 2400 sM).
Siria-palestina

Yang menjadi ciri utama dari palestina adalah perkembangan kota-kota kecil yang
dibangun dengan baik dan diperkuat dengan benteng
c. Zaman bapak leluhur sekitar tahun 2000 – 1500 sM
Mesopotamia
Tahun 1950 sM, Ur III baru saja kehilangan kekuasaanya antara lain karena masuknya
orang-orang Semit barat yang dikenal sebagai orang Amori.
Mesir
Kerajaan tengah adalah masa perkembangan kedua bagi kebudayaan dan stabilitas Mesir.
Kerajaan itu mencapai puncaknya pada Dinasti XII yang memerintah Mesir selama dua
ratus tahun dengan Memfis sebagai ibu kotanya.
Siria-palestina
8.2. Waktu dan historis bapak leluhur
semua tradisi Perjanjian Lama sama-sama menempatkan kisah bapak leluhur sebelum
peristiwa keluaran Israel dari Mesir.
Garis besarnya adalah
1. Nama – nama bapak leluhur
2. Perjalanan Abraham dari mesopotamia ke kanaan
3. Cara hidup para bapak leluhur
4. Berbagai adat istiadat dan hukum yang terdapat dalam kisah bapak leluhur
5. Gambaean umum tentang agama bapak – bapak leluhur
8.3. Jenis sastra kisah bapak-bapak leluhur
Penemuan kembali dunia kuno telah memperlihatkan bahwa kisah para bapak leluhur
secara otentik mencerminkan zaman di mana mereka hidup sebagaimana diriwayatkan
Alkitab. Namun, apakah hal ini berarti bahwa kisah tersebut adalah "sejarah" dalam
pengertian modern? Di balik segala penulisan sejarah terletak peristiwa yang benar-benar
terjadi dalam ruang dan waktu. Ada dua masalah pokok dalam kaitan antara peristiwaperistiwa ini dengan apa yang disebut "sejarah".
8.4. agama bapak bapak leluhur
Tentang kehidupan keagamaan dan ibadat bapak-bapak leluhurAlkitab hanya memberikan
sedikit keterangan. Mereka berdoa (25:21 acap kali dengan bersujud, suatu adat yang
lazim di Timur Tengah (17:324:52), Mereka membuat mezbah dan mengadakan
persembahan-persembahan (12:7; 22:13; 31:54), tetapi tidak pada tempat yang khusus
dan tanpa imam yang resmi. Ibadat bukanlah soal upacara dan ritus yang tepat tetapi soal

hubungan antara Allah dan manusia. Jadi, bentuk lahiriah agama bapak-bapak leluhur
tidak jauh berbeda dengan bentuk yang lazim pada zaman mereka, tetapi berbeda dalam
pengertian mereka tentang Allah dan hubungan pribadi yang erat antara Allah dan orang
orang yang dipanggil-Nya.

9. KITAB KELUARAN
Isi dan teologi
9.1. Nama dan isi
Kata "Keluaran" adalah terjemahan dari bahasa Yunani exodus 'keluar (Kel 19:1), nama
yang diberikan kepada kitab itu dalam septuaginta. Meskipun tidak seluruhnya
menggambarkan isinya, namun nama ini tepat untuk kitab itu, karena salah satu bagian
terpenting adalah peristiwa "keluaran dari Mesir". Dalam Alkitab Ibrani, kitab itu dikenal
dari dua kata pertamanya we'éllé syemot 'inilah nama-nama(acapkali hanya syemot namanama) mengikuti kebiasaan kuno dalam menamai suatu naskah. Kitab ini berpusatkan
pada dua peristiwa penting, yaitu pembebasan orang Israel dari perbudakan di Mesir
melalui karya penyelamatan Allah yang penuh kuasa di Laut Teberau (Kel 1 18) dan
pengukuhan diri-Nya sebagai Tuhan mereka melalui perjanjian di Gunung Sinai (Kcl 19
40).
9.2. Peranan Musa
Banyak yang dikatakan mengenai Musa dalam kisah-kisah kelima kitab Taurat, mulai dari
pasal kedua Kitab Keluaran hingga pasal terakhir Kitab Ulangan. Di dalam Perjanjian
Lama ia digambarkan sebagai pendiri agama Israel, orang yang mengumumkan undangundang secara resmi, organisator suku-suku bangsa itu dalam bekerja dan beribadat,
pemimpin kharismatik mereka dalam peristiwa pembebasan, perjanjian di Sinai dan
pengembaraan di padang gurun, sampai Israel siap memasuki tanah perjanjian dari
Dataran Moab. Bila Musa dihilangkan dari tradisi tersebut dan dipandang bukan sebagai
tokoh sejarah, melainkan sebagai tokoh yang ditambahkan kemudian maka agama dan
bahkan keberadaan Israel tidak dapat dijelaskan lagi (de Vaux 1978: hlm. 327-330; Bright
1981: hlm. 124).
a. Nama, asal usul dan masa kecil

Putri Firaun nama Musa Musa karena aku telah memberi nama aku telah menariknya dari
air" (2:10), suatu permainan kata antara nama Ibrani Mosyé dan kata kerja masya 'menarik
dari'. Banyak ahli merasa bahwa nama itu sebenarnya nama Mesir seperti halnya namanama seperti Tutmosis atau Ahmosis. Jika demikian halnya keterangan dalam Keluaran
2:10 harus dianggap sebagai nama yang lazim waktu itu, yang acapkali terdapat dalam
Perjanjian Lama.
b. Panggilan Musa
Sambil menggembalakan domba-domba Yitro, Musa sampai ke Horeb gunung Allah Di
sana ia mendapat penglihatan luar biasa, yaitu semak duri yang menyala namun tidak
dimakan api (3:2). Ketika ia mendekat untuk melihat keadaan sebenarnya, ia dipanggil
oleh Allah yang memperkenalkan diri sebagai "Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak
dan Allah Yakub" (ay 6a), sebutan yang berkaitan dengan tradisi bangsanya Musa segera
sadar siapa yang berbicara kepadanya dan ia menyembunyikan wajahnya, sebab ia takut
memandang Allah" (ay 6b). Setelah Musa, sang nabi Sesudah pengungkapan nama Allah,
Musa masih terus menyampaikankeberatan terhadap panggilannya. Dalam Keluaran 4:10
dan berikutnya, ia mengakui bahwa ia tidak pandai berpidato dan berat lidah. Allah
berjanji untuk menyertai "lidahnya" dan mengajarkan kepadanya apa yang harus
diucapkannya. Ketika semua keberatannya dijawab dengan janji-janji penyertaan dan
kuasa Allah yang penuh kemurahan, Musa harus mengambil keputusan. Ia menyatakan
penolakannya dan memohon agar Allah mengutus orang lain saja (ay 13). Allah tidak mau
menerima permohonan utusan-Nya yang keras kepala itu namun Ia memberi kelonggaran.
Harun akan ditugaskan sebagai juru bicara Musa dan Musa akan berperan seperti Allah,
memberi tugas dan pesan pada Harun untuk disampaikan (Kel 4:15-16; lihat juga 7:1-2).
Contoh ini memperlihatkan dengan jelas bahwa tugas utama seorang nabi (dan Musa)
adalah membawa pesan dan untuk itu ia harus menempatkan gagasan, kepentingan dan
kehendaknya di bawah gagasan, kepentingan dan kehendak Dia yang menyuruhnya.

Musa, sang nabi
Sesudah pengungkapan nama Allah, Musa masih terus menyampaikan keberatan terhadap
panggilannya. Dalam Keluaran 4:10 dan berikutnya, ia mengakui bahwa ia tidak pandai
berpidato dan berat lidah. Allah berjanji untuk menyertai "lidahnya" dan mengajarkan
kepadanya apa yang harus diucapkannya.
Di sini peranan Musa dicirikan dengan "rumusan utusan" di mana firman nabi diberi
otoritas sebagai firman Allah, "Beginilah firman Tuhan'. Meskipun nubuatan dalam sejarah

Israel belum mencapai puncaknya sampai masa kerajaan, namun bentuknya muncul secara
penuh di dalam panggilan dan pengutusan Musa, nabi Allah yang terkemuka itu (lihat Ul
18: 15-20; Hos 12:13).
9.3. Tulah dan Paskah
Jawaban Firaun terhadap tuntutan Allah untuk melepaskan umat Israel secara terus terang
adalah "tidak".
"Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firmanNya untuk membiarkan orang
Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang
Israel pergi" (5:2).
Kemudian terjadi konfrontasi dramatis antara kuasa dan wibawa Allah dengan kekerasan
hati dan kemauan Firaun. Kuasa dan wibawa Allah menjadi nyata melalui sepuluh
bencana atau tulah (9:14) yang menimpa Mesir dengan perantaraan Musa dan Harun.
Melalui tulah-tulah ini Israel (6:7) dan Firaun (7:5) melihat siapa Allah itu dan akhirnya
Firaun membiarkan orang Israel pergi (7:8-13:16)
9.4. Pembebasan di Laut Teberau
Dalam peristiwa keluaran, Musa berperan sebagai nabi, seorang utusanAllah. Pesannya
"Beginilah firman TUHAN "Biarkan umatku pergi
adalah tuntutan yang berulang-ulang dan mendasar dari konfrontasi nya dengan Firaun
selama tulah-tulah terjadi. Seusai kematian anak sulungnya, Firaun akhirnya
mengabulkan tuntutan itu (12:29-32), dan setelah diteguhkan dan dipersatukan oleh
perjamuan Paskah yang khidmat, orang Israel berangkatdari tanah Mesir (ay 37-42).
Kendati rute per jalanan mereka yang tepat tidak diketahui (lihat di atas: ps 9.4), mereka
akhirnya tiba di tepi "Laut Teberau" yang menghambat perjalanan lebih

9.5. Perjanjian dan pemberian Dasa Titah di Sinai
Setelah pembebasan di Laut Teberau, Israel melakukan perjalanan langsung ke Sinai (lihat
di atas: ps 9.4), yang memerlukan waktu tiga bulan (19:1). Beberapa peristiwa dalam
perjalanan itu diceritakan dalam Keluaran 15 18, khususnya pemberian air di Mara (15:2225) danRafidim tempat Musa memukul batu (17:1-7) serta pemberian burungpuyuh dan
manna (16:1-36). Di Rafidim mereka juga memerangi orangAmalek (17:8-16)
9.6. Kemah Suci

Ada dua bagian yang panjang dalam Kitab Keluaran yang melukiskan tentang Kemah
Suci.Dalam Keluaran 25-31 Allah mengungkapkankepada Musa tentang pola, bahanbahan serta isi Kemah Suci. Musamelaksanakan perintah Allah, sebagaimana tertulis
dalam Keluaran35-40 yang kata-katanya sama dengan Keluaran 25 31.30Kemah Suci
adalah tempat suci yang dapat dibawa-bawa, terdiri darirangka kisi-kisi persegi dari kayu
akasia yang ditutupi dua tabir yangbesar dari kain lenan. Salah satu tabir itu membentuk
ruang utama,Ruang Kudus, sedangkan tabir kedua menutupi Ruang Mahakudus,
suaturuang yang lebih kecil di balik ruang utama dan dipisahkan oleh sebuahtabir. Ruang
Kudus itu berukuran 10 m x 5 m x 5 m, sedangkan RuangMaha Kudus berukuran 5 m tiap
sisi. Di dalam Ruang Mahakudus hanyaterdapat Tabut Perjanjian, sebuah peti kayu berisi
loh batu yang ditulisiDasa Titah. Dalam Ruang Kudus terdapat mezbah kemenyan, kandil
danmeja untuk roti sajian. Kemah Suci ditempatkan dalam pelataran yangberukuran 50 m
x 25 m dan dipagari dari bagian perkemahan lainnya olehtabir putih setinggi 5 m. Dalam
pelataran di muka kemah suci terdapatmezbah kurban bakaran dan antara mezbah dan
kemah suci terdapattempat pembasuhan.terangan yang panjang lebar dan terinci tentang
Kemah Suci dankonstruksinya tidak hegitu mudah dimengerti oleh para pembaca
10. KITAB IMAMAT
Di perkemahan dekat Gunung Sinai, umat Israel mengingat pengalamanmereka akan
penyelamatan Allah yang dashyat pembebasan merekadari perbudakan Mesir yang tetap menjadi
inti kepercayaan mereka dalam generasi seterusnya. Mereka telah melihat kilatdan
mendengarguntur di gunung Allah (Kel 19:16-19). Allah telah memberikanperintah-perintah-Nya
(Kel 20:1-17). Ia telah menyatakan diri sebagaiAllah mereka dan mereka sebagai umat-Nya. Allah
adalah Maharaja yangmengikat mereka dengan Dia dalam perjanjian
10.1.

Nama dan isi

a. Nama
Karena buku-buku kuno biasanya dinamai menurut kata-kata pertamanya, maka judul
Kitab Imamat dalam bahasa Ibrani adalah wayyiara 'dan la memanggil (Im 1:1). Nama
"Imamat" berasal dari Septuaginta melalui teriemahan Alkitab dalam bahasa Latin, yang
memberikan judul lengkap kitab) mengenai imam-imam". Tokoh utama dalam Kitab
Imamat adalah Harun dan tugas keimaman yang dilukiskan dalam kitab ini ter batas pada
putra-putranya. Kepada mereka diberikan tugas untuk melaksanakan pelayanan imam.
Tentunya Harun (seperti halnya dengan saudaranya, Musa) adalah salah seorang dari suku
Lewi. Meskipun demikian, diadakan pembedaan antara "keimaman Harun'' yang adalah
keturunan Lewi melalui Harun dan "orang Lewi" yang bukan keturunanHarun.
b. Isi

Kadang-kadang dikatakan bahwa Kitab Imamat mengemukakan hukumhukum upacara
keagamaan Israel. Pernyataan semacam itu biasanya didampingi penelitian terhadap Kitab
Imamat sebagai kumpulan saja, tanpa usaha untuk memahami makna dasar kata Ibrani
tora (dalam bahasa Indonesia "Taurat"). Dalam bahasa Ibrani kata itu berarti pengajaran,
hukum yang mencakup melatih murid dan kalau perlu menghajarnya. Jadi, kata itu
melukiskan pengajaran dari ayah atau ibu (Ams 1:8, 3:1). Prinsip-prinsip yang berasal
dari pengamatan ilmiah dapat pula disebut "hukum Dalam arti demikian, prinsip-prinsip
yang memerintah kehidupan umat perjanjian Allah mungkin dapat disebut "hukum". Lagi
pula, dalam Perjanjian Lama "hukum mencakup peraturan, pengadilan, perintah dan
ajaran. Karena itu, tepatlah jika tora diterjemahkan dengan 'hukum'.
10.2.

Konsep kekudusan

a. Pengertian dasar
Semula gadosy berarti 'dipisahkan' atau 'dikhususkan', yaitu untuk maksud keagamaan.
Sebidang tanah, sebuah bangunan, peralatan dalam tem atau bahkan seekor kuda dapat
dianggap kudus, yakni dikhususkan untuk maksud keagamaan atau peribadatan.
10.3.

Kurban dan persembahan

a. Persembahan
Menurut Imamat 7:37, ada lima kurban yang termasuk dalam hukumyang dinyatakan
Tuhan Allah kepada Musa di Gunung Sinai. Salah satu di antaranya kurban keselamatan
dibagi menjadi tiga jenis, sehingga jumlah jenis kurban ada tujuh. Semuanya kecuali
"kurban sajian" mencakup penyembelihan hewan. Perkataan Ibrani yang diterjemahkan
persembahan berarti 'penyajian' atau "barang-barang yang dibawa dekat" Ada beberapa
istilah tentang kurban yang perlu diperhatikan secara khusus. "Kurban penghapus dosa
mudah dikacaukan dengan "kurban penebus salah", karena keduanya sama, kecuali bahwa
kurban penebus salah menuntut ganti rugi kepada orang yang dirugikan oleh dosa tersebut.
Dalam Ulangan 12:27 kurban bakaran dibedakan dengan "kurban sembelihan (zévakh),
karena kurban bakaran seluruhnya dimakan api di atas mezbah, sedangkan sebagian
kurban orang yang boleh dimakan oleh imam dan dalam keadaan tertentu oleh
mempersembahkannya juga.
b. Peranan imam
Imam diwajibkan menjaga agar api tetap menyala di atas mezbah (1:7;6:12-13).
Tampaknya ada upacara penerimaan kurban, mungkin sebagian terlihat dalam kata-kata
"sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya"
(1:4). Ketika pembawa persembahan menyembelih hewan, imam menampung darahnya
dalam wadah memercikkan sebagian ke sekeliling mezbah dan menempatkan selebihnya

di bagian bawah mezbah (ay 5). Upacara kurban penghapus dosa sedikit lebih rumit (bnd.
4:4-7). Bagian yang harus dibakar, setelah dicuci, diletakkan di atas mezbah. Untuk kurban
bakaran seluruh hewan (kecuali kulitnya) harus dibakar; tetapi untuk kurban-kurban lain,
sebagian kurban itu menjadi bagian imam dan boleh dimakan olehnya. lagi, pembedaan
yang teliti harus dilakukan. Dalam hal kurban penghapus dosa, baik yang dipersembahkan
imam untuk dosanya sendiri
c. Pentingnya darah
Dalam seluruh peraturan mengenai kurban, darah ditekankan. Hal itutidak menyenangkan
banyak orang pada masa kini dan upacara pengurbanan pernah diejek sebagai agama
jagal". Meskipun demikian, faktamaupun lambang kurban darah harus dipahami. Ini
merupakan inti imanKristen pula, baik dalam pengurbanan Kristus di atas kayu salib
maupundalam lambang lambang Perjamuan Kudus. Arti harfiahnya sederhanasaja:
penumpahan darah berarti kematian kurban. Arti simbolisnya terletak dalam identifikasi
(penyamaan diri) si pembawa kurban dengan kurban itu sendiri, karena kematian kurban
melambangkan kematian orangyang berdosa. Hukuman atas dosa ialah kematian, tetapi
hewan matisebagai ganti orang yang berbuat dosa.

11. KITAB BILANGAN
orang Israel meninggalkan Mesir pada hari ke-15 bulan pertama (Bil33:3; bnd. Kel 12:2,5) dan
tiba di padang gurun Sinai pada hari pertama(bulan baru) bulan ke-3 (Kel 19:1). Pada hari ke-3,
Allah menyatakandiri-Nya di gunung (ay 16). Kemah suci didirikan pada hari pertama
bulanpertama tahun ke-2 (40:17). Kitab Bilangan berawal dengan perintahAllah kepada Musa
pada hari pertama bulan ke-2 tahun ke-2. Pada harike-20 bulan yang sama, naiklah tiang awan itu
dari atas Kemah Suci,tempat hukum Allah. Lalu berangkatlah orang Israel dari padang gurunSinai
menurut aturan keberangkatan mereka" (Bil 10:11-12). KitabUlangan dimulai dengan mengacu
pada hari pertama bulan ke-11 tahunke-40 atau kira-kira 38 tahun, 8 bulan dan 10 hari sesudah
keberangkatandari Sinai. Dengan kata lain, Kitab Bilangan mencakup masa selama 38tahun 9
bulan yang disebut sebagai masa pengembaraan di padang gurun.
11.1.

Nama dan isi

"Bilangan" adalah nama yang aneh untuk kitab semacam ini. Judulnyadalam Kitab suci Ibrani
diambil dari kata-kata dalam ayat pertama, yaitu "Di padang gurun Sinail". Judul ini sangat
cocok. Para penerjemah Septuaginta memberi nama "Bilangan'' karena daftar angka yang
dicatat dalam kitab itu, dan judul itu diteruskan melalui Vulgata kepada kita. Kitab ini dapat

dibagi dalam tiga bagian utama, yang dipisahkan oleh catatan mengenai perjalanan orang
Israel. Pelbagai hal yang tidak erat kaitannya ditambahkan pada bagian penutup.
11.2.

Masalah kritis

Pernah diyakini bahwa Kitab Bilangan, seperti kitab Taurat lainnya ditulis oleh Musa
seluruhnya. Dengan munculnya kritik sastra, masalah masalah yang timbul dengan teori ini
diperlihatkan Dalam bentuk ekstremnya, kritik itu menolak kebenaran sejarah kitab itu sama
sekali Tetapi, kini ada cukup banyak dukungan terhadap pandangan bahwa Kitab Bilangan
mengandung banyak bahan sejarah, meskipun bahan itu terdapat dalam berbagai bentuk dan
diolah kembali. Beberapa unsur masalah ini adalah sebagai berikut: (1) Penulis kitab itu tidak
ditulis namanya. Menurut Bilangan 33:2 "Musa menuliskan perjalanan mereka sesuai dengan
titah TUHAN" inilah satu-satunya catatan tentang kegiatan Musa sebagai penulis. Dalam
kitab ini, ia disebut dengan kata ganti orang ketiga.
11.3.

Angka-angka dalam Kitab Bilangan

Menurut Bilangan 1:45-46, "Jadi semua orang Israel yang dicatat menurutsuku-suku mereka,
yaitu orang-orang yang berumur dua puluh tahun keatas yang sanggup berperang di antara
orang Israel, berjumlah enamratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang". Ini adalah hasil
sensus pertama yang dilakukan di Sinai pada "tanggal satu bulan yang keduasesudah mereka
keluar dari tanahMesirCay 1). Jika jumlah laki-lakiyang tahu berperang berkisar antara 20 25
dari jumlah penduduk seperti yang terdapat pada bangsa-bangsa lai maka jumlah seluruh
orang Israel adalah 2,5 sampai 3 juta jiwa. Bagaimanapun cara menghitungnya, jumlah itu
tidak kurang dari 2 juta.

12. Kitab ulangan
12.1.

Struktur dan isi

Usaha untuk membuat garis besar Kitab Ulangan kebanyakan dimulaidengan ketiga amanat
tadi. Gaya pidato atau khotbah dalam kitab ini sering diperhatikan. Tetapi, ketiga amanat itu
berturut-turut terdiri dari4 pasal, 24 pasal dan 2 pasal, suatu pembagian yang tidak
seimbang.Selain itu, penempatan sejumlah hukum dalam pidato itu tanpa urutan

12.2.

Penulisan

Kitab Ulangan acapkali dinamakan kunci dari teori sumber-sumber tentang asal usul Taurat.
tu penulisan kitab itu telah dikemukakansebagai salah satu hasil kritik historis yang paling
pasti. Tetapi, dalamtahun-tahun terakhir ini teori itu dalam bentuk aslinya hampir ditinggalkan
seluruhnya oleh ahli-ahli modern yang mempelajari KitabUlangan. Karena itu, penelitian
tentang pandangan kritis atas penulisanKitab Ulangan mungkin dapat dilakukan.
a. Teori sumber-sumber klasik
Menurutteori Graf wellhausen tentang komposisi Pentateukh, ada empat sumber yang
disebut J. E, D dan P. Sumber D adalah bagian utama Kitab Ulangan. Pada tahun ke-18
pemerintahan Raja Yosia dari Yehuda (612 sM), para pekerja yang memperbaiki Rumah
Allah menemukan "kitab Taurat". Ketika kitab itu dibacakan di hadapan raja, ia
mengoyakkan pakaiannya, mengakui bahwa rakyatnya tidak menaati firman Allah yang
terdapat dalam kitab itu, lalu mulailah pembaruan agama (2 Raj 22 23). Sejak zaman
Hieronimus (abad ke-4 sM), kitab yang ditemukan itu sudah diduga sebagai Kitab
Ulangan. Pada tahun

Dokumen yang terkait

Dokumen baru