Pertumbuhan Beberapa Genotipe Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) di Tanah Masam

PERTUMBUHA
HAN BEBERAPA GENOTIPE JARA
AK PAGAR
(Jatro
tropha curcas L.) DI TANAH MASAM
M

INDAH RETNOWATI
A24070179

DEPARTEM
TEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTU
KULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
IN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2012

PERTUMBUHAN BEBERAPA GENOTIPE JARAK PAGAR
(Jatropha curcas L.) DI TANAH MASAM
Growth of Physic Nut (Jatropha curcas L.) Genotypes on Acid Land
Indah Retnowati1, Memen Surahman2
1
2

Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB

Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB

Abstract
Indonesia have many acid lands, but their usefullness were still a bit
because the nutrient content in acid land is low. Meanwhile, Jatropha is a plant
which can grow on various types of lands (includes on marginal land) and has
used as raw material for biodiesel. Therefore, the growth of Jatropha need to be
study on acid land as an effort for developing Jatropha and usefullness of acid
land in Indonesia. To initiate that effort, the research about growing various
genotypes Jatropha in acid land was done. The objectives of this research was
obtained a potential genotype-tolerant for acid land. The research was conducted
at UPTD Technology Development Dryland Singabraja Village, Tenjo
Subdistrict, Bogor, West Java, from November 2010 - August 2011. This research
using Randomized Complete Design Group (RKLT) with one factor, ie genotype.
The result showed that there were differences in growth between the genotypes
Jatropha. Generally, there are five genotypes of Jatropha with the best growth in
acid land (pH 5.0), ie Medan I-5-1, Dompu, IP-2P-3-4-1, Sulawesi, and Bima M.

Keywords: Physic Nut, Genotypes, Jatropha curcas L., Acid Land

RINGKASAN

INDAH RETNOWATI. Pertumbuhan Beberapa Genotipe Jarak Pagar
(Jatropha curcas L.) di Tanah Masam. MEMEN SURAHMAN.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pertumbuhan enam belas
genotipe jarak pagar di tanah masam (pH 5.0). Penelitian dilaksanakan di UPTD
Pengembangan Teknologi Lahan Kering Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada bulan November 2010 – Agustus 2011.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak
(RKLT) satu faktor. Penelitian dilaksanakan menggunakan 16 genotipe jarak
pagar, yaitu Banten I-3-1, Banten I-4-1, Banten I-5-1, Banten-III-2-1, Parung
Panjang 4, Bima F, Bima M, Dompu, Gunung Tambora, Lombok, Aceh Besar,
Medan-I-5-1, Sulawesi, Thailand, IP-1M, dan IP-2P-3-4-1.

Keenam belas

genotipe tersebut merupakan perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini.
Setiap perlakuan terdiri atas tiga ulangan sehingga terdapat 48 satuan percobaan.
Karena keterbatasan jumlah tanaman, terdapat perbedaan jumlah tanaman yang
digunakan untuk setiap ulangan, yaitu 13 genotipe jarak pagar menggunakan 3
tanaman, 1 genotipe menggunakan 2 tanaman, dan 2 genotipe lainnya
menggunakan 1 tanaman per ulangan. Oleh karena itu terdapat 129 tanaman jarak
pagar yang digunakan dalam penelitian ini. Bahan tanam yang digunakan berasal
dari biji.
Pengamatan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu fase pembibitan, fase
vegetatif di lapang, dan fase generatif. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan
diolah menggunakan analisis ragam (ANOVA), nilai rata-rata, dan nilai
persentase (%).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan

pertumbuhan antar genotipe jarak pagar pada seluruh peubah pengamatan, baik
peubah vegetatif maupun generatif, kecuali peubah tinggi tanaman tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata. Perbedaan pertumbuhan dari 16 genotipe
jarak pagar disebabkan oleh faktor genetik, faktor lingkungan, dan interaksi
keduanya.

3
Jarak pagar yang memiliki pertumbuhan terbaik dipilih sebagai genotipe
potensial untuk ditanam dan dikembangkan di tanah masam. Pemilihan genotipe
ini berdasarkan delapan peubah pengamatan vegetatif dan generatif yang
menunjukkan adanya perbedaan nyata dengan uji DMRT pada taraf 5%, yaitu
jumlah daun, jumlah cabang primer, jumlah cabang produktif, jumlah bunga
betina, jumlah malai, jumlah buah per malai, jumlah buah per tanaman, dan bobot
biji kering per tanaman. Hasil seleksi berdasarkan delapan peubah tersebut
didapatkan lima genotipe jarak pagar yang potensial untuk ditanam dan
dikembangkan di tanah masam, yaitu Medan I-5-1, Dompu, IP-2P-3-4-1,
Sulawesi, dan Bima M.

PERTUMBUHAN BEBERAPA GENOTIPE JARAK PAGAR
(Jatropha curcas L.) DI TANAH MASAM

Skripsi sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

INDAH RETNOWATI
A24070179

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Judul

: PERTUMBUHAN BEBERAPA GENOTIPE
JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DI TANAH
MASAM

Nama

: INDAH RETNOWATI

NIM

: A24070179

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Memen Surahman, MSc. Agr.
NIP. 19630628 199002 1 002

Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura
Fakultas Pertanian IPB

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc. Agr.
NIP. 19611101 198703 1 003

Tanggal lulus : ……………

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, Propinsi Lampung pada tanggal 16
Mei 1989. Penulis merupakan anak keempat dari Bapak Sunariyanto dan Ibu
Yoyoh Syamsiah.
Tahun 2001 penulis lulus dari SD Negeri 1 Tanjung Baru, kemudian pada
tahun 2004 penulis menyelesaikan studi di SMP Negeri 5 Bandar Lampung.
Selanjutnya penulis lulus dari SMA Negeri 1 Bandar Lampung pada tahun 2007.
Tahun 2007 penulis diterima di IPB sebagai mahasiswa Departemen Agronomi
dan Hortikultura melalui SPMB.
Tahun 2009 hingga 2010 penulis menjadi asisten mata kuliah Biologi
(TPB), Ilmu Tanaman Perkebunan, dan Dasar Ilmu dan Teknologi Benih. Penulis
juga aktif di berbagai kepanitiaan kampus. Tahun 2008 sebagai panitia Open
House Asrama IPB TPB, tahun 2009 menjadi panitia Semai 45. Selanjutnya
penulis pada tahun 2010 menjadi panitia Festival Tanaman XXXI dan Field Day
2010. Tahun 2010 penulis juga bergabung dengan Badan Usaha Mahasiswa
Agronomi dan Hortikultura sebagai anggota.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas nikmat dan karunia Allah SWT
sehingga penelitian yang berjudul Pertumbuhan Beberapa Genotipe Jarak Pagar
(Jatropha curcas L.) di Tanah Masam ini dapat diselesaikan.

Penelitian ini

dilaksanakan terdorong oleh keinginan untuk mengetahui proses pertumbuhan
jarak pagar, baik secara vegetatif maupun generatif, yang ditanam di tanah
masam.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. Ir. Memen Surahman,
MSc. Agr. selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan dan
bimbingan selama kegiatan penelitian dan penulisan skripsi ini, kepada Dr. Ir.
Endang Murniati, MS dan Dr. Tatiek Kartika Suharsi, MS selaku dosen penguji
yang telah memberikan saran kepada penulis. Ucapan terima kasih juga penulis
sampaikan kepada pihak UPTD Pengembangan Teknologi Lahan Kering Desa
Singabraja dan Mbak Fifin Nashirotun Nisya yang telah memberikan bantuan
selama pelaksanaan penelitian. Kepada Dr. Dwi Guntoro, SP, Msi selaku
pembimbing akademik, kedua orang tua dan keluarga besar, serta teman-teman
yang telah memberikan dorongan, motivasi, dan bantuan selama ini, penulis
mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Semoga hasil penelitian ini dapat
bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Bogor,

Februari 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

vii

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

viii

PENDAHULUAN ......................................................................................
Latar Belakang ........................................................................................
Tujuan Penelitian ....................................................................................
Hipotesis .................................................................................................

1
1
2
2

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................
Deskripsi Tanaman Jarak Pagar ..............................................................
Syarat Tumbuh Jarak Pagar ....................................................................
Karakteristik Tanah Masam ....................................................................
Pertumbuhan Tanaman di Tanah Masam ...............................................
Pertumbuhan Jarak Pagar di Berbagai Jenis Lahan ................................

3
3
5
6
7
8

BAHAN DAN METODE ...........................................................................
Waktu dan Tempat ..................................................................................
Bahan dan Alat ........................................................................................
Metode Penelitian ...................................................................................
Analisis Data ...........................................................................................
Pelaksanaan Penelitian ............................................................................
Pengamatan .............................................................................................

9
9
9
10
10
11
12

HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................
Kondisi Umum ........................................................................................
Pembibitan ..............................................................................................
Daya Berkecambah .............................................................................
Tinggi Bibit dan Jumlah Daun ............................................................
Tinggi dan Bobot Tajuk ......................................................................
Panjang dan Bobot Akar .....................................................................
Fase Vegetatif .........................................................................................
Fase Generatif .........................................................................................
Pembungaan ........................................................................................
Produksi Buah .....................................................................................
Seleksi Genotipe Jarak Pagar ..................................................................
Genotipe Toleran Tanah Masam .............................................................

15
15
18
20
20
21
22
23
28
29
36
41
43

KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................
Kesimpulan .............................................................................................
Saran .......................................................................................................

45
45
45

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

46

LAMPIRAN ................................................................................................

51

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Kode Genotipe, Asal Daerah, dan Jumlah Tanaman Jarak Pagar yang
Digunakan dalam Penelitian .................................................................

9

2. Nilai Rataan Pertumbuhan Vegetatif Jarak Pagar di Pembibitan Saat
Dua Bulan Setelah Semai.......................................................................

19

3. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Peubah Pengamatan Vegetatif.......

23

4. Pengaruh Genotipe Terhadap Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, dan
Jumlah Cabang Primer Jarak Pagar di Tanah Masam............................

24

5. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Peubah Pengamatan Generatif ......

29

6. Persentase Jumlah Tanaman Berbunga dan Berbuah serta Waktu
Berbunga dan Waktu Bunga Mekar Pertama 16 Genotipe Jarak
Pagar ......................................................................................................

30

7. Jumlah Bunga Betina/Hermaprodit, Jumlah Malai, dan Jumlah
Cabang Produktif 16 Genotipe Jarak Pagar di Tanah Masam ...............

34

8. Jumlah Buah per Malai, Jumlah Buah per Tanaman, dan Bobot Biji
per Tanaman 16 Genotipe Jarak Pagar di Tanah Masam.......................

37

9. Seleksi 16 Genotipe Jarak Pagar Berdasarkan Delapan Peubah
Terpilih ...................................................................................................

43

10. Pengaruh Lima Genotipe Jarak Pagar Terseleksi Terhadap Tujuh
Peubah Terpilih yang Ditanam pada Dua pH Tanah Berbeda ...............

44

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Curah Hujan Selama November 2010 – Juli 2011 di UPTD
Pengembangan Teknologi Lahan Kering Tenjo .....................................

16

2. Hama yang Menyerang Jarak Pagar Selama Penelitian. .........................

17

3. Penyakit yang Menyerang Jarak Pagar Selama Penelitian. ....................

18

4. Gejala Defisiensi Hara pada Jarak Pagar. ...............................................

18

5. Tinggi Tanaman 16 Genotipe Jarak Pagar Selama 14 MST ...................

25

6. Peningkatan Jumlah Daun 16 Genotipe Jarak Pagar (0-14 MST) ..........

26

7. Tipe Bunga pada Jarak Pagar. .................................................................

31

8. Jumlah Buah Panen 16 Genotipe Jarak Pagar Selama 4 Bulan ..............

39

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1. Segitiga Kelas Tekstur Tanah UPTD Lahan Kering Desa Singabraja,
Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ................................

52

2. Hasil Analisis Tanah UPTD Lahan Kering Tenjo dan Kebun
Percobaan Indocement Bogor ...............................................................

52

3. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam 16 Genotipe Jarak Pagar
Terhadap Peubah Pengamatan Vegetatif dan Generatif .......................

53

4. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Terhadap Tinggi Tanaman ...........

54

5. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Daun ................

55

6. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Cabang Primer
(Hasil Transformasi Akar (x+0.5)) .......................................................

56

7. Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Cabang Produktif pada 19
MSB (Hasil Transformasi Akar (x+0.5)) ..............................................

56

8. Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Malai pada 19 MSB (Hasil
Transformasi Akar (x+0.5)) ..................................................................

57

9. Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Bunga Betina per Malai ........

57

10. Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Buah per Malai .....................

57

11. Hasil Analisis Ragam Terhadap Jumlah Buah per Tanaman (Hasil
Transformasi Akar (x+0.5)) ..................................................................

57

12. Hasil Analisis Ragam Terhadap Bobot Biji Kering per Tanaman
(Hasil Transformasi Akar (x+0.5)) .......................................................

57

13. Lay Out Percobaan di UPTD Lahan Kering Desa Singabraja,
Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ................................

58

14. Kondisi Lahan Percobaan di UPTD Lahan Kering Desa Singabraja,
Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ................................

58

15. Keragaan Tanaman 16 Genotipe Jarak Pagar .......................................

59

16. Keragaan Buah 8 Genotipe Jarak Pagar ................................................

59

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Konsumsi energi global saat ini mencapai sekitar 400 EJ per tahun.
Konsumsi ini akan terus meningkat hingga tahun-tahun mendatang seiring dengan
peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan ekonomi global. Upaya
pemenuhan kebutuhan energi tersebut tidak akan efektif bila hanya menumpukan
pada suplai bahan bakar fosil yang persediannya makin hari makin menipis.
Konsumsi BBM yang mencapai 1.3 juta barel/hari tidak seimbang dengan
produksi yang nilainya sekitar 1 juta barel/hari sehingga terdapat defisit yang
harus dipenuhi melalui impor (Pambudi, 2008).
Upaya untuk memenuhi kebutuhan energi dan mengatasi krisis bahan
bakar minyak fosil mendorong terhadap pencarian sumber bahan bakar alternatif.
Salah satu sumber bahan bakar alternatif yang diminati adalah tanaman. Jenis
bahan bakar yang berasal dari tanaman disebut juga biofuel. Contoh biofuel
adalah biodiesel, bioetanol (gasohol), dan bio-oil. Biodiesel dapat dibuat dari
minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), minyak biji jarak pagar,
minyak kelapa, dan tanaman lainnya.
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) menjadi salah satu sumber biofuel yang
cukup diminati saat ini karena minyaknya merupakan energi alternatif yang ramah
lingkungan dan lebih fleksibel dibandingkan dengan kelapa sawit dari segi biaya,
perawatan, dan produksi (Giwangkara, 2006). Produksi buah jarak pagar berkisar
7.5 – 10 ton/ha/tahun (Pambudi, 2008). Jarak pagar juga merupakan tanaman yang
mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan dapat ditanam di berbagai jenis
lahan, termasuk lahan kritis (Sumpena, 2007). Potensi-potensi ini belum bisa
menjadikan jarak pagar sebagai primadona tanaman penghasil biofuel karena
biaya produksi yang tinggi dan secara komersil minyak jarak pagar belum bisa
bersaing dengan bahan bakar fosil bersubsidi (Anonim, 2012).
Jarak pagar sebagai tanaman penghasil biofuel yang ramah lingkungan
mampu tumbuh di berbagai jenis lahan. Mahmud (2006b) menyatakan jarak pagar
dapat tumbuh pada tanah dengan ketersediaan air dan unsur hara yang terbatas
(marjinal), bahkan jika kondisi perakarannya telah berkembang dengan baik, jarak

2
pagar dapat tumbuh (toleran) pada lahan yang masam. Jarak pagar juga dapat
ditanam pada daerah berbatu, berlereng, dan berbukit, atau sepanjang saluran air
dan batas kebun.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak lahan
masam. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara beriklim tropika basah.
Menurut Nursanti dan Rohim (2009) lahan kering tergolong jenis tanah yang
suboptimal untuk usaha pertanian karena kurang subur, bereaksi masam, serta
mengandung Al, Fe, atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni
tanaman. Lahan masam juga pada umumnya miskin bahan organik dan hara
makro, seperti N, P, K, Ca, dan Mg.
Kondisi tanah yang masam dapat diperbaiki kesuburannya dengan
pemberian bahan ameliorasi, seperti kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P,
dan K (Nursanti dan Rohim, 2009). Cara itu dapat dilakukan jika lahan masam
yang akan diperbaiki dalam kisaran yang tidak terlalu luas. Mengingat lahan
dengan karakter tanah masam cukup luas dan banyak dijumpai di Indonesia, cara
itu cukup sulit untuk dilakukan.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan agar lahan masam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian adalah dengan menanam tanaman yang toleran
terhadap tanah masam. Jarak pagar sebagai tanaman yang berpotensi untuk bahan
baku biofuel dan dapat ditanam di berbagai jenis lahan dapat menjadi salah satu
pilihan untuk dicoba ditanam di lahan masam. Pada penelitian ini akan dilakukan
pengamatan pertumbuhan berbagai genotipe jarak pagar di tanah masam agar
diketahui genotipe yang toleran untuk dikembangkan di lahan masam.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan enam belas
genotipe jarak pagar di tanah masam.

Hipotesis
Hipotesis yang diajukan adalah terdapat genotipe jarak pagar dengan
pertumbuhan yang baik di tanah masam.

TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi Tanaman Jarak Pagar
Jarak

pagar

merupakan

tanaman

yang

telah

lama

dikenal

di

Indonesia. Tanaman asal Amerika Tengah ini diperkenalkan oleh bangsa Jepang
kepada masyarakat Indonesia sebagai pagar pekarangan. Jarak pagar memiliki
nama lokal yang telah dikenal umum oleh masyarakat Indonesia. Menurut
Hariyadi (2005) nama lokal jarak pagar mengikuti daerah tempat tanaman ini
tumbuh, seperti jarak kosta, jarak budeg (Sunda), jarak gundul, jarak pager (Bali
dan Jawa), kalekhe paghar (Madura), lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa
Tenggara), kuman nema (Alor), jarak kosata, jarak wolanda, bindalo, bintalo,
tondo utomene (Sulawesi), serta ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku).
Jarak pagar tergolong tanaman tahunan yang berbentuk pohon kecil
(perdu). Pohon kecil ini memiliki kisaran tinggi 1 – 7 meter dengan percabangan
yang tidak teratur (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Pertanian, 2009) dengan ranting yang bulat dan tebal (Nurcholis dan Sumarsih,
2007). Sebagai tanaman perdu yang pembungaannya terbentuk secara terminal,
percabangan jarak pagar termasuk unik karena setelah tandan bunga mekar akan
tumbuh sepasang tunas yang akan tumbuh menjadi cabang berikutnya (Mahmud,
2006a).
Waktu berbunga jarak pagar umumnya setelah umur 3 – 4 bulan,
sedangkan pembentukan buah dimulai pada umur 4 – 5 bulan. Pemanenan
dilakukan jika buah telah masak, dicirikan kulit buah berwarna kuning dan
kemudian mulai mengering. Biasanya buah masak setelah berumur 5 – 6 bulan.
Jarak pagar dapat hidup lebih dari 20 tahun jika pemeliharaannya baik (Direktorat
Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2009). Menurut Nurcholis
dan Sumarsih (2007) tanaman ini bahkan dapat hidup mencapai umur lima puluh
tahun. Sepanjang masa hidupnya itu jarak pagar akan memiliki produksi yang
stabil setelah berusia satu tahun.
Bunga jarak pagar tersusun dalam rangkaian (inflorescense) yang biasanya
terdiri atas 100 bunga atau lebih dengan persentase bunga betina 5 – 10 %
(Hasnam, 2006). Rangkaian (malai) jarak pagar terdiri atas malai utama yang

4
umumnya memiliki ukuran lebih pendek dan dua cabang. Jumlah bunga pada
malai utama selalu lebih sedikit dari cabang malai karena malai utama tumbuhnya
terbatas sehingga kuncup yang muncul di malai ini tidak sebanyak di cabang
malai (Utomo, 2008). Berdasarkan jenis bunga yang menyusun malai, terdapat
kecenderungan jenis malai bunga yang dibedakan menjadi dua tipe, yaitu malai
yang tersusun atas bunga jantan dan bunga betina (Tipe I) dan malai yang
tersusun atas bunga jantan dan bunga hermaprodit (Tipe II) (Ahmad, 2009).
Buah jarak pagar adalah buah kapsul akan masak 40 – 50 hari setelah
pembuahan. Buah jarak pagar sedikit berdaging (fleshy) waktu muda, berwarna
hijau kemudian kuning dan mengering lalu pecah waktu masak. Biasanya buah
jarak pagar berisi tiga biji berwarna hitam (Hasnam, 2006). Buah jarak pagar
yang telah masak dapat dipanen pada 52 – 57 hari setelah anthesis (HSA) (Utomo,
2008), namun juga bisa lebih cepat dipanen pada 48 – 52 HSA (Afandi, 2009).
Produksi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) berkisar 7.5 – 10
ton/ha/tahun.

Kandungan minyak yang terdapat dalam biji jarak pagar, baik

cangkang maupun buah, berkisar 25 – 35 % berat biji kering. Hasil ekstraksi 25%
kandungan minyak/biji kering tersebut dapat menghasilkan 1.875 – 2.5 ton
minyak/ha/tahun (Pambudi, 2008). Tingkat produktivitas tanaman akan mencapai
kisaran 6 – 10 ton/ha setelah tanaman berumur lima tahun (Hariyadi, 2005).
Tanaman yang berasal dari famili Euphorbiaceae memiliki ciri-ciri, seperti
berbentuk perdu, berbatang besar, sangat sukulen, namun terkadang berkayu,
memiliki duri di sepanjang bagian tanaman, tergolong tanaman gurun, tetapi dapat
hidup di daerah tropis basah (Lingga, 2006). Tanaman dengan nama latin
Jatropha curcas Linn. ini memiliki sebagian ciri-ciri dan berasal dari famili
Euphorbiaceae.

Oleh

karena

itu

tanaman

ini

tidak

disarankan

untuk

ditumpangsarikan dengan tanaman dari famili yang sama, misalnya karet atau ubi
kayu. Hal itu untuk menghindari kerentanan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Jarak pagar memiliki banyak manfaat selain sebagai sumber penghasil
biodiesel. Jarak pagar dapat digunakan untuk mereklamasi lahan-lahan tererosi
karena akarnya mampu menahan air dalam tanah sehingga sering juga disebut
sebagai tanaman pioneer, sedangkan tajuknya dapat mengurangi kecepatan angin.
Manfaat lainnya adalah kemampuan jarak pagar yang dapat menyerap gas

5
pencemar udara yang disebabkan oleh gas CO2 (karbondioksida), NOx, dan SOx.
Kemampuan Jarak pagar menyerap gas CO2 dari atmosfer cukup tinggi, sebesar
1.8 kg/kg bagian kering tanaman (Astuti, 2009).

Syarat Tumbuh Jarak Pagar
Jarak pagar merupakan tanaman yang dapat tumbuh di berbagai kondisi
lahan dan lingkungan, tetapi tanaman ini membutuhkan kondisi yang optimal
untuk tumbuh dan berkembang. Nurcholis dan Sumarsih (2007) menjelaskan
bahwa tanaman jarak pagar dapat tumbuh antara 0 – 800 meter dpl.

Pada

ketinggian tersebut, suhu yang mendukung berkisar 20 – 350C, dimana pada fase
vegetatif tanaman menghendaki suhu rendah dan pada fase generatif menghendaki
suhu tinggi. Menurut Wahid (2006) ketinggian yang optimum bagi produksi buah
jarak adalah di bawah 500 meter dpl, lebih dari itu tanaman tidak akan
berproduksi optimum.
Tanaman jarak pagar dapat tumbuh pada daerah kering maupun basah.
Pada daerah kering selama kelembaban tetap tinggi, tanaman masih mampu
tumbuh dengan baik. Jarak pagar dapat bertahan terhadap kondisi kering, bahkan
kadar minyak jarak pagar dapat meningkat pada kondisi kering (Mulyani et al.,
2009), namun musim kering/kemarau yang cukup panjang dapat menurunkan
produktivitas tanaman karena terjadinya gugur bunga (Ardana et al., 2008) serta
mengakibatkan

proses

pembentukan

bunga

terhambat

dan

menurunkan

keberhasilan pembentukan buah jarak pagar (Hartati et al., 2009).
Jarak pagar mampu tumbuh dengan baik di daerah basah selama sistem
drainase terjaga baik. Drainase menjadi syarat penting karena tanaman tidak tahan
terhadap genangan. Mahmud (2006b) menjelaskan curah hujan yang optimal bagi
pertumbuhan jarak pagar antara 900 - 1 200 mm/tahun. Wahid (2006) juga
menyatakan bahwa curah hujan yang tepat untuk produksi jarak pagar di
Indonesia antara 500 – 1 500 mm/tahun dengan hari hujan antara 100 – 120
hari/tahun atau berdasarkan klasifikasi Oldemann dengan tipe iklim C, D, dan E.
Hasil peninjauan Mulyani et al. (2009) menunjukkan jarak pagar di Indonesia

6
dapat tumbuh di daerah-daerah dengan curah hujan lebih dari 3 000 mm/tahun,
seperti di Bogor, Sumatera Barat, dan Minahasa.
Kondisi lahan tempat tanaman tumbuh akan mempengaruhi pertumbuhan
dan produktivitas tanaman. Jarak pagar dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan,
mulai dari lahan subur hingga pada lahan kritis atau marjinal. Penanaman jarak
pagar

di

lahan

marjinal

dapat

ditingkatkan

produktivitasnya

dengan

memanfaatkan kacang tanah sebagai tanaman tumpang sari (Prasetyo et al.,
2007). Lahan dengan drainase yang baik merupakan tempat yang ideal bagi jarak
pagar untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal (Mahmud, 2006b). Jarak
pagar umumnya tumbuh dan berproduksi optimum pada lahan dengan keasaman
antara 5.0 – 6.5 (Hariyadi, 2005) dan jika kondisi perakaran tanaman telah
berkembang baik jarak pagar juga dapat tumbuh (toleran) pada lahan yang masam
atau alkalin (Mahmud, 2006b).

Karakteristik Tanah Masam
Tanah berkarakter masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika
basah, termasuk Indonesia.

Kemasaman tanah ditentukan oleh kadar atau

kepekatan ion hidrogen di dalam tanah, bila kepekatan ion hidrogen di dalam
tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam (Madura, 2010). Jenis-jenis
tanah di Indonesia yang bereaksi asam, seperti podsolik, ultisol, oxisols, dan
spodosol. Di antara jenis-jenis tanah tersebut, tanah masam terluas dan yang
paling bermasalah di Indonesia adalah ultisol dan podsolik merah kuning
(Anonim, 2009). Di Indonesia sendiri tanah masam dibedakan menjadi lahan
masam kering dan lahan masam basah.
Tanah masam umumnya memiliki sifat-sifat kimia yang kurang baik untuk
tanaman karena memiliki kendala-kendala berupa kapasitas tukar kation (KTK),
kejenuhan basa (KB), dan kadar unsur hara (P, K, Ca) yang rendah serta kadar
alumunium (Al) yang tinggi, hingga pada tingkat meracuni tanaman (Wigena et
al., 1998). Menurut Hartatik et al. (1998) kekahatan hara P merupakan salah satu
kendala utama kesuburan kimia pada lahan kering masam sehingga pemanfaatan
lahan untuk perluasan tanaman pangan harus disertai dengan masukan pupuk yang

7
tinggi, sementara menurut Subiksa et al. (1998), penggunaan pupuk buatan,
khususnya TSP atau SP-36, yang relatif mudah larut pada tanah masam seringkali
tidak efisien karena fiksasi yang tinggi atau tercuci.
Lahan kering umumnya lebih berpotensi untuk dikembangkan sebagai
lahan pertanian dibandingkan lahan basah. Apalagi saat ini lahan-lahan subur
mulai sulit ditemukan sehingga pengembangan pertanian di lahan yang kurang
subur, seperti lahan masam mulai perlu dilakukan. Luas lahan kering yang ada di
Indonesia ± 148 juta ha, dimana 69.4% laham kering atau sekitar 102.8 juta ha
termasuk ke dalam lahan kering yang memiliki sifat masam. Lahan kering masam
itu umumnya tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, dan Papua yang memiliki
iklim basah (Mulyani, 2006).

Pertumbuhan Tanaman di Tanah Masam
Tanaman yang ditanam di lahan masam umumnya memiliki pertumbuhan
yang kurang baik dan memerlukan perlakuan khusus untuk meningkatkan
pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Hasil penelitian di tanah masam

menunjukkan bahwa brangkasan kering tanaman padi yang di tanam pada lahan
kering masam (Jasinga) tanpa perlakuan memiliki bobot brangkasan yang lebih
rendah (24.3 ku brangkasan/ha) dibandingkan dengan perlakuan TSP 135 kg/ha
yang menghasilkan 52.8 ku brangkasan/ha, begitu pula dengan hasil gabah kering,
tanaman tanpa perlakuan hanya mampu menghasilkan 15 % dari hasil gabah
kering yang diperoleh dari perlakuan TSP 135 kg/ha, yaitu 61.7 kg gabah
kering/ha (Hartatik et al., 1998). Hasil yang serupa juga didapat oleh Wigena et
al. (1998), hasil biji kacang tanah, kacang hijau, dan gabah kering pada perlakuan
pupuk rendah hanya menghasilkan sepertiga dari hasil yang diperoleh pada
perlakuan pupuk tinggi. Menurut Putu (dalam Babas, 2010) gejala yang timbul
pada kedelai yang ditanam

pada tanah masam ultisol akan tumbuh lambat,

menyebabkan kekerdilan, daun berwarna kuning, timbul klorosis pada tulang
daun, serta pada fase awal (vegetatif) pertumbuhan akar terhambat dan bintil akar
sedikit.
Penanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) di lahan masam umumnya
dilakukan untuk tujuan reklamasi dan rehabilitasi tanah.

Jarak pagar pernah

8
ditanam pada tanah berkarakter masam yang merupakan tanah yang diambil dari
bekas penambangan timah. Pada penelitian tersebut jarak pagar mampu tumbuh
dalam kondisi masam, namun dengan berbagai perlakuan untuk meningkatkan
kesuburan tanah (Khodijah, 2008). Jarak Pagar sebenarnya dapat tumbuh pada
daerah yang derajat kemasamannya antara 5.0 – 6.5 dan kurang subur, tetapi
drainase baik dan tidak tergenang (Astuti, 2009). Penambahan masukan, seperti
pupuk, kapur, dan bahan organik, diperlukan untuk meningkatkan produktivitas
tanah mineral masam (Wigena et al., 1998).

Pertumbuhan Jarak Pagar di Berbagai Jenis Lahan
Penelitian yang dilakukan oleh Hartati et al. (2009) terhadap 60 genotipe
jarak pagar di KP Pakuwon dengan jenis tanah latosol (cukup subur dan baik
untuk pertanian) menunjukkan bahwa tanaman tumbuh beragam sesuai genotipe
di lahan tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan rataan tinggi tanaman yang
dievaluasi mencapai 143.0 cm dengan kisaran tinggi 90 – 191 cm tergantung
genotipe. Rataan jumlah cabang total mencapai 11.5 cabang, yang berkisar 5 – 34
cabang/tanaman, sedangkan rataan jumlah cabang produktif mencapai 9.7 cabang
dengan kisaran 0 – 20 cabang produktif/tanaman tergantung genotipe. Waktu
berbunga jarak pagar pun beragam sesuai genotipenya, tetapi 28 dari 60 genotipe
yang diamati berbunga pada kisaran 97 – 122 hari, yang merupakan waktu ideal
untuk pembungaan jarak pagar. Hartati (2010) menyatakan bahwa dua faktor yang
sangat mempengaruhi pertumbuhan jarak pagar adalah faktor genetik dan kondisi
lingkungan.
Hasil yang beragam juga terlihat pada pertumbuhan jarak pagar di Kebun
Percobaan Sidondo di Sulawesi Tengah dengan tekstur tanah berpasir. Setiap blok
pertanaman menghasilkan rataan hasil panen (jumlah biji) yang beragam, yaitu 49
– 65 biji per pohon, tetapi secara umum, baik pertumbuhan maupun produksi
jarak pagar yang ditanam di lahan tersebut menunjukkan hasil yang kurang baik.
Pertumbuhan jarak pagar yang tidak sesuai harapan tersebut dikarenakan tanaman
kekurangan air sehingga tanaman tampak layu, tetapi tidak mati (Lembaga
Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, 2009).

BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Pengembangan Teknologi Lahan
Kering Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Waktu
pelaksanaan penelitian mulai bulan November 2010 sampai Agustus 2011.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan terdiri atas benih 16 genotipe jarak pagar, pupuk,
dan insektisida. Nama-nama genotipe dan jumlah tanaman jarak pagar yang
digunakan disajikan pada Tabel 1. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia
berupa Urea, SP-36, dan KCl dengan masing-masing dosis 50 kg, 250 kg, dan 50
kg per hektar, sementara insektisida yang digunakan adalah Dursban (pembibitan)
dan furadan (penanaman) secukupnya. Alat yang digunakan berupa polybag 10
cm dan 15 cm, alat ukur tinggi (penggaris, meteran), timbangan, plastik, plang
bambu, label, dan alat budidaya yang biasa digunakan.
Tabel 1. Kode Genotipe, Asal Daerah, dan Jumlah Tanaman Jarak Pagar
yang Digunakan dalam Penelitian
No.

Kode Genotipe

Asal daerah

Jumlah Tanaman

1

1

Banten-III-2-1

9

2

4

Medan-I-5-1

9

3

5

Banten I-3-1

9

4

6 (5)

Banten I-4-1

9

5

8

Banten I-5-1

9

6

15 (1)

IP-2P-3-4-1

9

7

50 (1)

Thailand

6

8

59-1-2

Lombok

9

9

61-2-1

Parung Panjang 4

3

10

64-1-1

Bima F

9

11

A7

Gunung Tambora

9

12

E1

Sulawesi

3

13

K1A1 (2)

Bima M

9

14

K2A9 (III,1)

Aceh Besar

9

15

K3A4 (III,2)

IP-1M

9

16

K4A8 (2)

Dompu

9

Total Tanaman

129

10
Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan
kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan satu faktor, yaitu genotipe jarak pagar.
Genotipe yang digunakan sebanyak 16 genotipe dan diamati pertumbuhannya di
lahan dengan pH 5.0 (tanah masam). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali
sehingga percobaan ini terdiri dari 48 satuan percobaan. Karena keterbatasan
jumlah tanaman, terdapat perbedaan jumlah tanaman yang digunakan untuk setiap
ulangan sehingga jumlah tanaman yang digunakan dalam penelitin ini sebanyak
129 tanaman. Model linier dari rancangan kelompok lengkap teracak adalah :
Yij = µ + αi + βj + εij
dimana, i = 1, 2, …, t
Yij = Pengamatan pada perlakuan genotipe ke-i, ulangan ke-j
µ = Rataan umum
αi = Pengaruh perlakuan genotipe ke-i
βj = Pengaruh kelompok ke-j
εij = Pengaruh acak pada perlakuan genotipe ke-i dan ulangan ke-j
Pengaruh dari perlakuan diketahui melalui analisis ragam (uji F). Apabila
hasil dari analisis ragam (uji F) menunjukkan perbedaan yang nyata, maka
dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada
taraf nyata 5%. Selanjutnya seluruh peubah yang berbeda nyata diurutkan untuk
diambil lima genotipe terbaik.

Analisis Data
Data hasil pengamatan merupakan data kuantitatif yang diperoleh
berdasarkan hasil pengamatan pada seluruh peubah pertumbuhan 16 genotipe
jarak pagar. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis ragam (ANOVA),
nilai rata-rata, dan nilai persentase (%). Jika hasil analisis ragam menunjukkan
pengaruh yang nyata, dilakukan uji lanjut menggunakan DMRT pada taraf 5%.
1.

Analisis Ragam (Uji F), digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan
genotipe terhadap peubah yang diamati.

11
2.

Analisis DMRT, merupakan uji lanjut dari hasil analisis ragam terhadap
perlakuan

genotipe

yang

berpengaruh

nyata

terhadap

peubah

pertumbuhan, vegetatif dan generatif, dan untuk melihat perbandingan
antara masing-masing genotipe.
3.

Nilai Rata-Rata, digunakan untuk membandingkan hasil pengamatan antar
genotipe yang diamati untuk peubah tinggi bibit, jumlah daun, tinggi tajuk
dan akar, bobot tajuk dan akar, dan waktu bunga mekar pertama kali.

4.

Nilai Persentase, digunakan untuk membandingkan hasil pengamatan antar
genotipe yang diamati untuk peubah daya berkecambah, jumlah tanaman
berbunga, waktu 50% berbunga, dan jumlah tanaman berbuah.

Pelaksanaan Penelitian
Percobaan dimulai dengan melakukan pemilihan terhadap 16 genotipe
jarak pagar yang memiliki produktivitas tinggi pada penelitian-penelitian
sebelumnya. Genotipe yang terpilih disemai dalam polybag berdiameter ± 10
cm, dimana jumlah benih yang disemai sebanyak 25 benih per genotipe.
Kecambah yang telah siap dipindahkan ke pembibitan menggunakan media
campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 dalam polybag
berdiameter 15 cm dipelihara selama ± 2 bulan.
Bibit jarak pagar siap dipindahkan ke lapang pada usia ± 2 bulan. Bibit
diseleksi hingga diperoleh 9 tanaman terbaik untuk setiap genotipe. Bibit-bibit
tersebut ditanam dengan jarak 2 m x 1 m. Penanaman diawali dengan pemberian
pupuk SP-36 dan KCL pada lubang tanam dengan dosis masing-masing pupuk
sebanyak 50 g dan 10 g per tanaman.

Insektisida (furadan) ditaburkan juga

secukupnya pada lubang tanam untuk mencegah gangguan serangga dalam tanah.
Pemupukan Urea dilakukan setelah usia tanaman satu bulan di lapang dengan
dosis pupuk 10 g/tanaman dan diulang lagi dengan dosis yang sama setelah dua
minggu.
Tanaman-tanaman jarak pagar diamati setiap dua minggu sekali dengan
peubah-peubah yang menggambarkan pertumbuhan tanaman. Peubah-peubah
tersebut meliputi pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif.

12
Pertumbuhan vegetatif diamati di akhir pembibitan dan di lapang.
Pengamatan di akhir pembibitan meliputi daya berkecambah, tinggi bibit, jumlah
daun, tinggi tajuk, panjang akar, serta bobot kering akar dan tajuk. Pengamatan
vegetatif di lapang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang
primer.
Pertumbuhan generatif diamati saat tanaman berada di lapang. Peubahpeubah yang diamati untuk pertumbuhan generatif meliputi waktu 50% berbunga,
waktu bunga mekar pertama, jumlah tanaman berbunga, jumlah bunga betina per
malai, jumlah malai per tanaman, jumlah tanaman berbuah, jumlah buah per
malai, jumlah buah per tanaman, jumlah buah per bulan, jumlah cabang produktif,
dan produksi biji per tanaman. Tanaman berbunga diamati saat tanaman mulai
menghasilkan kuncup bunga, sementara waktu bunga mekar pertama diamati saat
kuncup bunga jantan atau betina telah membuka sempurna (terlihat jelas benang
sari dan putik).
Pemeliharaan

tanaman

terdiri

atas

kegiatan

penyiangan

gulma,

penyiraman, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiangan
gulma dilakukan secara semi-mekanik setelah satu bulan penanaman, selanjutnya
dilakukan tiga bulan sekali. Pemupukan dilakukan pada bulan pertama, saat
penanaman dan setiap dua minggu, sementara penyiraman hanya dilakukan saat
pembibitan.
Pengendalian hama dilakukan secara manual dan kimia. Pengendalian
kimia dengan penyemprotan Dursban untuk mengurangi gangguan uret dan ulat
saat pembibitan, serta furadan untuk mencegah gangguan serangga tanah saat
awal penanaman. Pengendalian manual dengan menangkap hama (imago dan
telur) yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Pengendalian manual

tersebut dilakukan karena gangguan hama di lapang masih dalam skala kecil.
Pengendalian penyakit juga dilakukan secara manual, yaitu dengan membuang
bagian tanaman yang sakit agar tidak menyebar.

Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap dua minggu sekali sejak tanaman
dipindahkan dari pembibitan ke lapang. Kegiatan pengamatan terdiri atas :

13
a. Pengamatan di akhir pembibitan :
1. Daya berkecambah, dengan menghitung persentase kecambah normal
terhadap jumlah benih yang ditanam per genotipe;
2. Tinggi bibit, pengamatan dilakukan pada 3 bibit contoh dengan
mengukur bibit dari permukaan tanah sampai titik tumbuh;
3. Jumlah daun, menghitung jumlah daun pada 3 bibit contoh per
genotipe;
4. Panjang akar (cm), mengukur dari pangkal sampai ujung akar pada 3
bibit contoh per genotipe yang dibongkar dari media tanam;
5. Tinggi tajuk (cm), mengukur dari pangkal batang sampai ujung batang
pada 3 bibit contoh per genotipe yang dibongkar dari media tanam;
6. Bobot kering akar (g), dilakukan dengan cara menimbang akar yang
telah dioven pada suhu 60oc selama empat hari pada 3 bibit contoh per
genotipe;
7. Bobot kering tajuk (g), dilakukan dengan cara menimbang tajuk yang
telah dioven pada suhu 60oC selama empat hari pada 3 bibit contoh per
genotipe.
b. Pengamatan di lapangan :
1. Tinggi tanaman (cm), diukur pada batang utama mulai dari permukaan
tanah sampai ujung tanaman setiap dua minggu;
2. Jumlah daun, dengan menghitung jumlah daun pada tanaman setiap
dua minggu;
3. Jumlah cabang primer, menghitung cabang primer tanaman setiap dua
minggu;
4. Jumlah cabang produktif, menghitung cabang primer tanaman yang
menghasilkan buah;
5. Jumlah malai per tanaman, menghitung jumlah malai pada setiap
tanaman;
6. Waktu 50% berbunga, mencatat waktu (minggu) tanaman jarak pagar
berbunga 50% untuk setiap genotipe;

14
7. Waktu bunga mekar pertama, mencatat waktu (hari) saat bunga
tanaman jarak pagar (betina atau jantan) mekar pertama kali untuk
setiap genotipe;
8. Jumlah bunga betina/hermaprodit per malai, menghitung jumlah bunga
betina/hermaprodit yang dihasilkan oleh setiap tanaman pada tiga
malai yang terbentuk pertama kali;
9. Jumlah tanaman berbunga, menghitung jumlah tanaman jarak pagar
yang berbunga untuk setiap genotipe;
10. Jumlah tanaman berbuah, menghitung jumlah tanaman jarak pagar
yang berbuah untuk setiap genotipe;
11. Jumlah buah per malai, menghitung jumlah buah yang dihasilkan oleh
setiap tanaman pada tiga malai pertama;
12. Jumlah buah per tanaman, menghitung jumlah buah yang diproduksi
oleh setiap tanaman;
13. Jumlah buah per bulan, menghitung jumlah buah yang dipanen setiap
bulan untuk tiap genotipe;
14. Produksi biji kering per tanaman, menimbang biji kering yang
diproduksi oleh setiap tanaman.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum
Penelitian dilaksanakan di UPTD Pengembangan Teknologi Lahan Kering
Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi ini
berada pada ketinggian 57 meter di atas permukaan laut (dpl). Menurut Wahid
(2006), daerah di Indonesia yang diperkirakan optimal untuk pertumbuhan dan
produksi dalam rangka pengembangan jarak pagar sebagai bahan baku biofuel
adalah daerah dengan ketinggian 0 – 600 mdpl atau dataran rendah.
Lokasi yang digunakan untuk penanaman jarak pagar memiliki tekstur
tanah liat (Lampiran 2). Tekstur tanah yang tergolong lempung, liat, dan lempung
liat berdebu tidak akan memberikan hasil yang optimal bagi pengembangan
tanaman jarak pagar (Ardana et al., 2008) yang menghendaki lahan berpasir
(Allerorung et al., 2007).
Lahan penanaman jarak pagar memiliki pH (H20) 5.0 yang menurut
Hardjowigeno (1995) tanah dengan kisaran pH (H20) 4.5 – 5.5 tergolong masam.
Kejenuhan Al dalam tanah tergolong rendah, yaitu 2.11 cmol/kg. Tekstur tanah
tergolong liat dengan kandungan C-organik dan N-organik dalam tanah sebesar
0.82 % dan 0.06 %. Kandungan C-organik dalam tanah dengan kisaran 0.85 –
1.08 % tergolong rendah (Al-Jabri, 2008), begitu pula dengan kandungan Norganik di bawah 0.15 % (Maryam et al., 1998). Hara P potensial tergolong
sedang dengan nilai 30 mg P2O5, sementara P-tersedia (Bray-1) sangat tinggi,
yaitu 47.9 ppm P2O5. Kalium potensial pada lahan penanaman yang diekstrak
menggunakan HCl 25% adalah sangat rendah, yaitu 3 mg K2O per 100 g tanah
dengan K-tersedia (Morgan) sebesar 27 ppm K2O. Kapasitas tukar kation dengan
nilai 11.98cmol(+)/kg tergolong rendah dengan didominasi oleh kation Ca.
Kejenuhan basa yang mencapai 78% sangat tinggi, hal ini mencerminkan
tingginya kandungan garam tanah terlarut (Lampiran 2).
Curah hujan selama penelitian dari bulan November 2010 sampai Juli
2011 disajikan pada Gambar 1. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson,
lokasi penelitian lebih banyak mengalami bulan basah (>100 mm) dengan jumlah
curah hujan sebesar 1145.3 mm dan jumlah hari hujan sebanyak 69 hari selama

16
penelitian. Pada awal pertumbuhan tanaman, penyebaran curah hujan cukup
merata antara 150 – 160 mm/bulan. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April,
dimana pada bulan ini pembungaan jarak pagar terjadi, sementara curah hujan
terendah terjadi pada bulan Juli saat masa pemasakan buah. Menurut Wahid
(2006) curah hujan yang tepat untuk produksi jarak pagar di Indonesia antara 500
– 1 500 mm/tahun dengan jumlah hari hujan antara 100 – 120 hari/tahun.
250
209,9

Curah Hujan (mm)

200
164,6

150
100

110,4

180,2
151,8

125,6
77,2

70,4

50

55,2

0

Sumber : Stasiun Hujan UPTD Pengembangan Teknologi Lahan Kering Tenjo

Gambar 1. Curah Hujan Selama November 2010 – Juli 2011 di UPTD
Pengembangan Teknologi Lahan Kering Tenjo
Berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman jarak pagar, UPTD
Pengembangan Lahan Kering Tenjo termasuk ke dalam kriteria kurang sesuai
karena bersifat masam, bertekstur liat, dan berkandungan hara yang cukup rendah.
Unsur iklim yang menjadi pembatas adalah ketersediaan air pada bulan Juni –
Agustus yang merupakan musim kemarau dan waktu pemasakan buah jarak
pagar.

Menurut Ardana et al. (2008) kekeringan yang terjadi pada musim

kemarau dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap proses pembuahan, hal itu ditandai dengan pengguguran
daun tanaman.
Selama penelitian berlangsung terjadi gangguan hama dan penyakit, baik
saat pembibitan, penanaman di lapang, maupun penyimpanan.

Hama yang

menyerang jarak pagar saat pembibitan adalah ulat tanah, uret, belalang (Valanga
nigicornis), Spodoptera litura, ulat jengkal (Plusia sp.), dan ulat bulu. Gangguan
hama yang sama juga terjadi setelah tanaman dipindahtanamkan ke lapang, selain

17
itu rayap, belalang pedang (Neoconocephalus ensiger), kepik hijau (Nezara
viridula), kutu bertepung putih (Ferrisia virgata Cockerell), tungau, kambing,
kepik lembing (Chrysochorus javanus Westw), dan walang sangit (Leptocorisa
oratorius) juga menyerang ketika fase vegetatif maupun fase generatif. Saat
penyimpanan biji jarak pagar juga terserang hama gudang, yaitu tikus.
Pengendalian yang dilakukan terhadap gangguan hama-hama tersebut adalah
penyemprotan insektisida Dursban saat pembibitan, penaburan furadan saat
penanaman, penangkapan hama, dan penyalaan lampu gudang saat malam untuk
menghindari gangguan tikus. Gambar beberapa hama yang menyerang selama
penelitian disajikan pada Gambar 2.

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

(f)

Gambar 2. Hama yang Menyerang Jarak Pagar Selama Penelitian.
Hama kutu bertepung putih (a), uret (b), ulat bulu (c), belalang
pedang (d), kepik lembing (e), dan walang sangit (f).
Jarak pagar juga mengalami gangguan penyakit dan gulma. Gangguan
penyakit terjadi di pembibitan dan di lapang, seperti busuk batang, daun
melepuh/terbakar, layu bakteri, dan antraknosa. Gangguan penyakit dikendalikan
dengan cara membuang bagian tanaman yang terserang agar tidak menyebar.
Pengendalian ini dilakukan karena skala gangguan penyakit dianggap masih
rendah. Gulma yang dominan selama penelitian adalah Cleome rutidosperma,
Axonopus compressus, Imperata cylindrica, dan Mimosa invisa. Pengendalian
gulma dilakukan secara semi-mekanik menggunakan cangkul dan parang setelah
satu bulan pindah tanam kemudian setiap tiga bulan sekali. Hewan penyerbuk
juga terlihat selama penelitian, seperti lebah, lalat, dan semut. Gambar gejala
gangguan penyakit selama penelitian disajikan pada Gambar 3.

18

(b)

(a)

(c)

(d)

Gambar 3. Penyakit yang Menyerang Jarak Pagar Selama Penelitian.
Penyakit busuk batang (a), daun melepuh/terbakar (b), layu
bakteri (c), dan antraknosa (d).
Pada fase vegetatif tanaman jarak pagar menunjukkan gejala kekurangan
unsur hara. Gejala defisiensi hara yang tampak pada tanaman, yaitu daun tua
menguning (defisiensi N), bercak kuning pada daun (defisiensi K), daun
menguning di sekitar tulang daun (defisiensi Mg), daun mengilap keputih-putihan
(defisiensi S), dan warna ranting menjadi cokelat (defisiensi Cu). Gambar gejala
defisiensi hara selama penelitian disajikan pada Gambar 4.

(a)

(b)

(c)

(e)

(d)

Gambar 4. Gejala Defisiensi Hara pada Jarak Pagar.
Gejala defisiensi N (a), defisiensi K (b), defisiensi Mg (c),
defisiensi S (d), dan defisiensi Cu (e).

Pembibitan
Pembibitan atau persemaian didefinisikan sebagai tempat yang digunakan
untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman dengan perlakuan tertentu dan

19
selama periode waktu yang telah ditentukan (Hartini dan Widyastuti, 2010).
Salah satu tujuan pembibitan adalah menyiapkan bahan pertanaman di lapang
(Bina UKM, 2010). Pembibitan merupakan tahapan awal dari penelitian untuk
mengurangi resiko kematian benih di lapang dan mempersiapkan jarak pagar agar
cukup toleran terhadap kondisi tanah masam. Jarak pagar dapat toleran pada lahan
masam jika kondisi perakaran tanaman telah berkembang baik (Mahmud, 2006b).
Kondisi perakaran yang baik dapat diperoleh melalui kegiatan pembibitan yang
dilakukan selama dua bulan karena pada usia ini jarak pagar telah siap ditanam di
lapang (Tajuddin et al., 2006).

Kegiatan pembibitan juga memberikan bibit

peluang tumbuh dan berkembang menjadi bibit siap tanam (Santoso et al., 2009).
Pengamatan pada akhir pembibitan dilakukan untuk mengetahui
pertumbuhan bibit jarak pagar berdasarkan tujuh peubah. Pengamatan ini
dilakukan untuk memilih bibit-bibit yang siap pindah tanam dan mengetahui
kondisi awal bibit jarak pagar ketika dipindahkan ke lapang. Hasil pengamatan
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Rataan Pertumbuhan Vegetatif Jarak Pagar di Pembibitan
Saat Dua Bulan Setelah Semai
DB
(%)

Tinggi
Bibit (cm)

Jumlah
Daun

Tinggi
Tajuk (cm)

Bobot
Tajuk (g)

Panjang
Akar (cm)

Bobot
Akar (g)

Banten I-3-1

56

18.6

6

23.7

2.01

15.8

0.19

Banten I-4-1

84

17.2

6

23.6

4.27

12.0

0.17

Banten I-5-1

64

15.3

6

22.4

1.58

11.2

0.29

Banten III-2-1

56

16.0

6

20.0

1.56

16.8

0.19

Parung Panjang 4

20

10.7

5

15.5

0.99

12.5

0.11

Genotipe

Bima F

48

16.1

7

21.4

0.58

16.4

0.15

Dokumen yang terkait

Dokumen baru