MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN
MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1
PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU
KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh
SYAMSIYAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN
MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI KELAS V
SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU
KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh
SYAMSIYAH
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan
menggunakan Alat Peraga Gambar

di kelas V SDN 1 Pringsewu Timur,

Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu.
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus
digunakan 1 Metode pengumpulan data 2 Teknik penumpulan data. 3 Analisis
data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Alat Peraga Gambar pada
pembelajaran Matematika efektif untuk meningkatkan Aktivitas dan hasil belajar
siswa. Hal ini dapat dilihat: (1) Aktivitas Belajar siswa mengalami peningkatan
dari 67,65% di siklus I menjadi 84,31% di siklus II. (2) Hasil Belajar siswa
mengalami peningkatan dari rata-rata 66,23 pada silus I (satu) menjadi 72,18 pada
siklus II (dua).
Kata Kunci

: Aktivitas Belajar siswa, Hasil Belajar siswa, Alat Peraga Gambar.

PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama

: SYAMSIYAH

NPM

: 1013119212

Program Studi

: S.1 PGSD

Jurusan

: Ilmu Pendidikan

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

Judul Laporan

: Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran Matematika dengan Menggunakan
Alat Peraga Gambar di Kelas V
SDN 1 Pringsewu Timur Kecamatan Pringsewu
Kabupaten Pringsewu
Tahun Pelajaran 2011/2012

Menyatakan bahwa Laporan Penelitian ini adalah hasil pekerjaan Saya sendiri,
dan sepanjang pengetahuan saya tidak berisi materi yang telah dipublikasikan atau
ditulis oleh orang lain atau telah dipergunakan dan diterima sebagai persyaratan
penyelesaian studi pada Universitas atau Institut lain.
Demikian Surat Pernyataan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.
Bandar Lampung, Juli 2012
Yang Membuat Pernyataan,

SYAMSIYAH
NPM 1013119212

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pengayunan pada tanggal 16
September 1958 dari pasangan Bapak Muhammad
Nawawi dan Ibu Hindun.

Penulis merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri Sediamaju, diselesaikan pada tahun
1971. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Gading Rejo diselesaikan pada
tahun 1974. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Pringsewu, diselesaikan
tahun 1977. D2 PGSD diselesaikan pada tahun 1998. Pada tahun 2010 Penulis
mengikuti Program Pendidikan S1 PGSD dalam jabatan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk :
1. Allah SWT karena berkat kuasa dan KaruniaNya saya mampu menyusun
Tugas Akhir ini hingga selesai.
2. Bapak Dosen Pembimbing dan Ibu Pembahas yang telah memberi
pengarahan yang kami butuhkan sehingga saya bisa tahu hal-hal yang saya
belum tahu.
3. Rekan sejawat yang telah membantu dan mendukung penulis dalam
pelaksanaan Penelitian saya.
4. Anak-anak dan cucu-cucuku tersayang karena telah mendukung dan
menjadi motivatorku.
5. Sahabatku, semoga silaturahmi yang sudah baik ini akan tetap terjalin
selamnya.
6. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu pesatu
yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini.

MOTTO

 Tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu.

 Keberaniaan bertindak merupakan langkah awal menuju kesuksesan.
 Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.
 Jatuh itu biasa, bangkit itu luar biasa.
 Lebih baik mencoba lalu gagal, dari pada anda gagal untuk mencoba.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan

hidayahnya

sehingga

penulis

dapat

merencanakan,

melaksanakan,

memperbaiki serta menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan lancar dan sukses tidak
menemukan kendala apapun yang berat.
Selesainya penyususnan laporan ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh
karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd Sebagai Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung.
3. Bapak Dr.Hi. Darsono, M.Pd sebagai Ketua Program Studi PGSD Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
4. Bapak Dr. Riswandi. M.Pd Selaku pembimbing yang telah meluangkan
waktunya untuk memberikan bimbingan dan dukungan dalam penyelesaian
penulisan Tugas Akhir ini.
5. Ibu Dra. Cut Rohani Bitai, M.Pd. Sebagai

Dosen

Pembahas

yang

telah

memberikan banyak saran dan masukan dalam penyempurnaan penulisan
tugas akhir ini.
6. Bapak dan Ibu dosen selaku Tim pengajar dalam pelaksanaan Program S1
PGSD dalam jabatan yang telah memberikan banyak Ilmu Pengetahuan
selama penulis menyelesaikan studi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung.
7. Rekan Guru SD Negeri 1 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu,
Kabupaten Pringsewu yang ikut mendukung penyelesaian tugas Akhir ini.
8.
penelitian ini.
9. Rekan-rekan mahasiswa S1

PGSD Unila sebagai rekan diskusi dalam

pelaksanaan dan penyususnan Tugas Akhir ini.

10. Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan seperjuangan yang penulis
banggakan. Semoga Allah SWT, memberikan balasan atas kebaikan yang
telah diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik
dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diarapkan oleh penulis. Akhirnya
penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
berkompeten. Amin.

Bandar Lampung, Juli 2012
Penulis,

SYAMSIYAH
NPM 1013119212

Judul Skripsi

: MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN
MATEMATIKA DENGAN
MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR
DI KELAS V SDN 1 PRINGSEWU TIMUR
KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN

PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN
PELAJARAN 2011/2012

Nama Mahasiswa

: SYAMSIYAH

Nomor Pokok Mahasiswa

: 1013119212

Program Studi

: S.1 PGSD Dalam Jabatan

Jurusan

: Ilmu Pendidikan

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI

Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan

Dosen Pembimbing

Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd.
Dr. Riswandi, M.Pd.
NIP. 19510507 198103 1 002
NIP. 19760808 200912 1 001
MENGESAHKAN

1. Tim Penguji
Penguji

: Dr. Riswandi, M.Pd.

Penguji
Bukan Pembimbing

: Dra. Cut Rohani Bitai, M.Pd.

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si
NIP 19600315 198503 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi :

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak
perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha
pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan semakin
mengalami kemajuan.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di
sekolah-sekolah

telah

menunjukkan

perkembangan

yang

sangat

pesat.

Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut,
sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan
peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa.
Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem
pendidi kan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan dibidang
pendidikan barulah ada artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang
membangun.
Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi
atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran.
Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar merupakan
pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai
materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral
pembelajaran.

Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah
yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena
itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga
menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa
senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan
nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang
beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri,
cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu
menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal
semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu
pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan
dan rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor di
antaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena
guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan
kecerdasan serta keterampilan siswa.
Pembelajaran Matematika di SDN 1 Pringsewu Timur dirasakan kurang
berhasil. Dikarenakan Mata Pelejaran Matematika diangap sulit oleh para siswa
dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Disamping itu juga guru dalam
menyampaikan pembelajaran Matematika dalam praktiknya selalu monoton.
Sebagian besar guru menggunakan metode Ceramah, Tanya Jawab, dan Latihan
Soal yang digunakan dalam proses pembelajaran Matematika.

Pemahaman siswa untuk materi yang diterangkan oleh guru dirasa masih
banyak belum dipahami. Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa
yang kurang baik pada saat pembelajaran Matematika berlangsung, sehingga pada
saat guru mengajukan pertanyaan siswa banyak yang tidak dapat menjawab
pertanyaan tersebut.
Sebagian kecil dari seluruh jumlah siswa kelas V SDN 1 Pringsewu Timur
yang dapat aktif dalam proses pembelajaran Matematika. Berikut ini data aktivitas
belajar siswa kelas V SDN 1 Pringsewu Timur.
Tabel1.1 Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur
No
1
2
3
4

%
Kategori Aktivitas Belajar
Siswa
5,9
Baik Sekali
1
29,4
Baik
5
23,5
Cukup
4
41,2
Kurang
7
100
Jumlah Siswa
17
Sumber: Data Keaktivan Siswa Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur Pada
Mata Pelajaran Matematika Semester 2 Tahun Pelajaran 2011-2012

Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa sebesar 41,17% dari jumlah siswa
masuk kedalamn kategori aktivitas belajar kurang. Sisanya masuk kedalam
kategori aktivitas belajar cukup, baik, dan baik sekali.
Hasil evaluasi belajar siswa untuk Mata Pelajaran Matematika, banyak
siswa yang masih belum memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Untuk lebih jelas mengenai nilai hasil belajar siswa dapat dilihat pada table
berikut.
Tabel 1.2 Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika
Kelas V di SDN 1 Pringsewu Timur
No
1
2
3

Nilai
40 49
50 59
60 69

Jumlah Siswa
5
4
5

%
29,4
23,5
29,4

4
5

11,8
70 79
2
5,9
80 89
1
100
Jumlah Siswa
17
Sumber: Data Nilai Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur Pada Mata
Pelajaran Matematika Semester 2 Tahun Pelajaran 2011-2012

Tabel di atas menunjukan bahwa siswa yang memperoleh nilai dibawah
enam puluh ada sembilan orang siswa, sedangkan yang mendapatkan nilai enam
puluh keatas hanya delapan orang. Sebagian besar siswa mendapatkan hasil
belajar dengan nilai enam puluh kebawah.
Dari data

di atas menunjukan bahwa perlu adanya upaya untuk

meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan
menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga gambar. Penggunaan alat
peraga gambar dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dapat
memperbaiki kondisi yang selayaknya untuk memperoleh peningkatan dalam hal
aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu penelitian tindakan kelas dengan
eningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran
Matematika Kelas V Dengan Menggunakan Alat Peraga Gambar Di SDN 1
Pringsewu Timur Kecamatan Pringsewu

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas maka Permasalahan tersebut dapat
diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Penyampaian

pembelajaran Matematika dalam praktiknya selalu monoton

karena sebagian besar guru menyajikan pembelajaran dengan menggunakan
metode

ceramah, tanya

siswa
menjadi kurang.

jawab, dan

latihan

soal

sehingga aktivitas

2. Kegiatan pembelajaran
Kreatifitas

siswa

pada mata pelajaran Matematika membutuhkan

dan

kemandirian

dalam

belajar

sehingga

memungkinkan
dengan menggunakan alat peraga gambar dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.
3. Kurangnya pencapaian hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan Identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut.
1.

Penggunaan alat peraga gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar
siswa pada mata pelajaran matematika kelas V SDN 1 Pringsewu timur
semester genap tahun pelajaran 2011/2012

2. Apakah penggunaan alat peraga gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN 1 Pringsewu Timur semester
genap tahun pelajaran 2011-2012.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana telah dikemukakan di atas
maka tujuan penelitian adalah untuk:
1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Matematika
kelas V SDN 1 Pringsewu Timur dengan menggunakan alat peraga gambar.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V
SDN 1 Pringsewu Timur dengan mengunakan alat peraga gambar.

E. Manfaat Penelitian
Bagi Siswa
Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Matematika
Kelas V di SDN 1 Pringsewu Timur.
Bagi Guru
Memberikan informasi tentang penggunaan alat peraga yang sesuai dengan mata
pelajaran Matematika Kelas V SD.
Bagi Sekolah
Memberikan masukan bagi sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan
di sekolah tersebut.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Teori Belajar
1. Teori Belajar Konstruktivisme
Teori konstruktivis menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri
dan mentrasformasikan informasi komplek, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.
Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,
mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk
dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari
kerja Pieget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi
kognitif yang lain seperti teori menurut Bruner ( Slavin dalam Nur, 2002:8 ).
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam
psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya memberikan pengetahuan
kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya.
Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi
kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan
mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka
sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa
siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus
memanjat anak tangga tersebut.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler
dalam Nabisi

(2009:29) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan

rancangan pembelajaran, sebagai berikut : (1) memberi kesempatan pada peserta

didik untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi
kesempatan pada peserta didik untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga
menjadi kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan pada peserta didik untuk
mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan
gagasan yang telah dimiliki peserta didik, (5) mendorong peserta didik untuk
memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkunga belajar
yang kondusif.
2. Teori Pengembangan Kognitif
Teori perkembangan Pieget mewakili konstruktivisme, yang memandang
perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif
membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalamanpengalaman dan interaksi-interaksi mereka.
Menurut teori Pieget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi
yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat
perkembangan kognitif, yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional kongkrit,
dan operasional formal. Lebih lanjut Pieget menyatakan bahwa perkembangan
kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi
dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Implikasinya dalam proses
pembelajaran adalah saat guru memperkenalkan informasi yang melibatkan siswa
menggunakan konsep-konsep, memberikan waktu yang cukup untuk menemukan
ide-ide dengan menggunakan pola-pola berfikir formal.
Berdasarkan dua teori

belajar

diatas dapat

disimpulkan bahwa

keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh sejauh mana guru dapat
menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan siswa terlibat aktif dalam
proses pembelajaran. Disamping itu tingkat perkembangan kognitif siswa perlu

diperhatikan sehingga guru dapat secara tepat menyuguhkan lingkungan belajar
yang kondusif. Lingkugan belajar yang kondusif dapat berupa ruangan belajar
yang baik, suasana yang menarik, pengaturan kelas alat-alat peraga yang
mendukung, dan lain-lain.
3. Teori Belajar Behaviorisme
Menurut Prof. Dr udin. S. Winata Putra dkk (2008:2.16), belajar
merupakan suatu proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi,
keterampilan, dan sikap. Teori Behavioristik lahir sebagai upaya penyempurnaan
terhadap presvektif tentang cara manusia belajar. Menurut teori belajar
Behavioristik belajar merupakan perubahan prilaku manusia yang sangat
dipengaruhi oleh lingkungan.
Premis dasar teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara
stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar
behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku
yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang
muncul terhadap stimulus yang bervariasi.
Salah satu teori belajar behavioristik adalah teori classical conditioning
dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem takterkondisi dalam diri seseorang
serta gerak refleks setelah menerima stimulus menurut Pavlov, penguatan
berperan penting dalam mengkondisikan mnculnya respons yang diharapkan. Jika
penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka
respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons
tersebut dapat muncul kembali.
Sementara itu, connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar
merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang

benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara
respons yang tidak benar akan menghilang akibat munculnya respons. Respons
yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang dapat terjadi hanya jika
siswa dalam keadaan siap.
Teori behaviorism dari Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons
yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku
yang dapat diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses
pengkondisian yang akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup
kompleks.

B. Proses Pembelajaran
1.

Pengertian Pembelajaran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1995:14 ), pembelajaran berasal

dari kata ajar yang artinya petunjuk yang diberikan agar dipahami. Maka
pembelajaran dapat diartikan sebagai mengajarkan atau memberi pelajaran. Hal
ini sejalan dengan pendapat Dengeng dalam Sobry Sutikno ( 2007:50 ), yang
menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa, dan
Sobry Sutikno sendiri ( 2007:50 ), berpendapat bahwa pembelajaran adalah segala
upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa.
Sedangkan Gagne dalam Sidik dkk. ( 2008:6 ) mengungkapkan bahwa,
pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses

penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/alat peraga tertentu ke
penerima pesan.
Menurut paradigma konstruktivistik, seperti yang ditawarkan dalam
Quantum Teaching oleh Bobbi De Porter dkk. (2003:10 ) pembelajaran lebih
diutamakan untuk membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali
, atau mentransformasi informasi baru. Untuk menginternalisasi serta dapat
menerapkan pembelajaran menurut paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru
diharapkan dapat merubah pikiran sesuai dengan pandangan konstruktivistik.
Untuk itu dibutuhkan guru yang mampu merancang pembelajaran secara dinamis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan
suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur-unsur tujuan, strategi
pembelajaran, metode, siswa, dan guru. Pembelajaran adalah suatu upaya yang
dilakukan oleh seseorang (guru atau yang lain) untuk membelajarkan siswa yang
belajar. Kegiatan pembelajaran bukan lagi

sekedar kegiatan

mengajar

(pengajaran) yang mengabaikan kegiatan belajar, yaitu sekedar menyiapkan
pengajaran dan melaksanakan prosedur mengajar, akan tetapi pembelajaran lebih
kompleks lagi dan dilaksanakan dengan pola-pola pembelajaran yang bervariasi.
Menurut Mudhofir dalam sungkono (2008:19) secara garis besar ada
empat pola pembelajaran yaitu:
a. Pola pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu. Pola ini
sangat

tergantung

pada

kemampuan

guru

dalam

mengingat

dan

menyampaikan bahan pembelajaran.
b. Pola pembelajaran guru, alat bantu, dan siswa. Dengan pola ini guru dibantu
oleh berbagai bahan pembelajaran/alat peraga dalam menjelaskan dan
memperagakan suatu pesan yang bersifat abstrak.

c. Pola pembelajaran guru, alat peraga, dan siswa. Guru memanfaatkan berbagai
alat peraga pembelajaran sebagi sumber belajar.
Berdasarkan dari pendapat para ahli yang diuraikan diatas, maka
keberhasilan pembelajaran di pengaruhi oleh peran serta guru, alat peraga, metode
pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan karakteristik peserta didik.

2. Belajar dan Pembelajaran
Kata belajar lebih sering diartikan dalam pengertian yang sempit, yaitu
belajar hanya dikaitkan dengan belajar formal disekolah, misalnya mempelajari
IPA, matematika dan sebagainya, sehingga hasil yang berupa prestasi dalam
bentuk angka-angka atau nilai ujian. Tapi pada dasarnya belajar berarti berusaha
mengubah tingkah laku, jadi belajar akan membawa sesuatu perubahan pada
individu-individu yang belajar. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan
penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan,

demikian, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian dari kegiatan jiwa
raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan pribadi seutuhnya, yang berarti
menyangkut unsur cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dilihat dalam belajar praktek, perubahan tingkah laku seseorang dapat
dilihat secara konkrit atau dapat diamati. Pengamatan ini dapat diwujudkan dalam
bentuk gerakan yang dilakukan terhadap suatu objek yang dikerjakannya. Seorang
guru memberikan perintah kepada siswa untuk melakukan kegiatan praktek

ung dapat
diamati.

Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh
pengalaman dan latihan.
Untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik
kondisi internal maupun kondisi eksternal. Hal ini penting karena agar siswa
memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, sebaiknya
memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan
memori siswa yang sesai agar informasi yang baru dapat dipahami. Belajar
merupakan proses perubahan yang menetap dalam setiap individu. Belajar adalah
sikap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Dari pengertian belajar tersebut maka
untuk dapat dianggap belajar, perubahan itu harus relatif menetap. Periode waktu
itu dapat berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan
yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan
pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses
pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia sertadapat berlaku di
manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan
pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks
pendidikan , guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi
pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga
dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek
psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai

pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga
menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1961162belajar/#ixzz1qIVupCMR.

3. Pembelajaran Matematika di SD
Gatot Muhsetyo, dkk (2008:1.26) mengungkapkan bahwa, pembelajaran
matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik
melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh
kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.
Salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah
penggunaan strategi pembelajaran matematika, yang sesuai dengan (1) topik yang
sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual peserta didik, (3)
prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan aktif peserta didik, (5) keterkaitan
dengan kehidupan peserta didik sehari-hari, dan (6) pengembangan dan
pemahaman penalaran matematis.
Beberapa strategi pembelajaran matematika yang konstruktivistik dan
dianggap sesuai pada saat ini antara lain (1) problems solving (2) problems
pasing, (3) open-anded problems, (4) mathematical investigation, (5) guided
discovery, (6) contextual learning, dan (7) cooperative learning.
1. Pemecahan Masalah ( Problem solving )
Ciri utama problem solving (pemecahan masalah) dalam matematika adalah
adanya masalah yang tidak rutin (non-routine problem). Masalah seperti ini
dirancang atau dibuat agar siswa tertantang untuk menyelesaikan.meskipun

peserta didik pada awalnya mengalami kesulitan mengerjakan pemecahan
masalah karena tidak ada aturan, prosedur atau langkah-langkah yang segera dapat
digunakan, mereka menjadi terbiasa dan cerdas memecahkan masalah setelah
mereka memperoleh banyak latihan. Banyak manfaat dari pengalaman
memecahkan masalah, antara lain adalah peserta didik menjadi (1) kreatif dalam
berpikir, (2) kritis dalam menganalisis data, fakta, dan informasi, (3) mandiri
dalamb bertindak dan bekerja.

2. Penyelidikan Matematis (mathematical investigation)
Penyelidikan matematis adalah penyelidikan tentang masalah yang dapat
dikembangkan menjadi model matematika, berpusat pada tema tertentu,
berorientasi pada kajian atau eksplorasi mendalam, dan bersifat open-ended.
Kegiatan belajar yang dilaksanakan dapat berupa cooperative learning.
3. Penemuan Terbimbing
Penemuan terbimbing adalah suatu kegiatan pembelajaran yang mana guru
membimbing siswa-siswanya dengan menggunakan langkah-langkah yang
sistematis sehingga mereka merasa menemukan sesuatu. Apa yang diperoleh
siswa bukanlah temuan-temuan baru bagi guru, tetapi bagi siswa dapat mereka
rasakan sebagai temuan baru.
Agar siswa-siswa dapat mengetahui dan memahami proses penemuan, mereka
perlu dibimbing antara lain dengan menggunakan pengamatan dan pengukuran
langsung atau
bekerja secara induktif berdasarkan fakta-fakta khusus untuk memperoleh aturan
umum.

4. Contextual Learning
Contextual learning adalah pengelolaan suasana belajar yang mengaitkan
bahan pelajaran dengan situasi dan/atau kehidupan sehari-hari, hal-hal yang
faktual atau keadaan nyata yang dialami siswa.

C. Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan siswa dalam
pembelajaran untuk mencapai tujuan atau yang dicita-citakan (Nasution,
2008:88). Sedangkan menurut Sardiman bahwa aktivitas belajar adalah kegiatan
yang bersifat fisik atau mental dalam usaha memenuhi kebutuhan yang telah
direncanakan (2007:95).
Dari kedua pendapat ahli di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa
aktivitas belajar adalah merupakan suatu kegiatan belajar siswa yang
menimbulkan perubahan-perubahan kecakapan, suatu kegiatan yang dilakukan
seseorang/siswa dan diikuti dengan pikiran dan bekerja untuk memenui kebutuhan
sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
Jenis-jenis aktivitas menurut Paul B. Diedrich dalam Sardiman (
2006.100) indikator yang menyatakan aktivitas siswa dalam belajar mengajar,
yaitu:

1. Visual activities: Misalnya membaca, melihat gambar, memperhatikan
percobaan dan pekerjaan orang lain.
2. Oral activities: Seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, member saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interuksi.
3. Listening activities: Sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan,
diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities: Seperti menulis cerita, karangan laporan, angket, menyalin.
5. Drawing activities: Misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities: Yang termasuk di dalamnya antara lain melakukan
percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun,
beternak.
7. Mental activities: Sebagai contoh: menanggapi, mengingat, memecahkan
masalah menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities: Seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Berdasarkan uraian di atas bahwa semua kegiatan tersebut merupakan
aktivitas siswa. Siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam mencari suatu
informasi guna memecahkan suatu permasalahan. Banyak cara yang dapat
dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang kondisif, dimana para peserta
didik dapat mengembangkan aktivitas belajarnya secara optimal, sesuai dengan
kemampuannya masing-masing. Keaktivan siswa tentu juga dipengaruhi oleh
guru dalam memberikan pembelajaran, keaktivan tersebut dapat dilihat saat proses
pembelajaran berlangsung. Guru tidak hanya mengajarkan materi saja namun juga
mempunyai tugas sebagai pembimbing siswa dalam belajar, seprti mengusahakan
agar siswanya aktif jasmani maupun rohani.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2012/3/20-jenis aktivitas
dalam pembelajaran/#ixzz1VOqFLzDL

Keberhasilan peserta didik dalam belajar tergantung dari aktivitas yang
dilakukannya dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar adalah segenap
rangkaian atau kegiatan secara sadar yang dilakukan seseorang yang
mengakibatkan perubahan pada dirinya, baik berupa perubahan atau kemahiran
yang sifatnya tergantung pada sedikit banyaknya perubahan.

aktivitas. Dan aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi

belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu
aturan atau kesimpulan.
Banyak macam-macam kegitan (aktivitas belajar) yang dapat dilakukan
anak-anak dikelas, tidak hanya mendengar atau mencatat tetapi dengan
pembelajaran mengunakan media gambar siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan
belajar karna siswa mencari, memahami, mencerna dan menganalisis sendiri
pengetahuan atau pengalaman baru yang didapat, melakukan diskusi dengan
teman satu kelas dan juga dapat menyimpulkan dan membaca hasil dari diskusi
sehingga siswa dapat berinteraksi dengan baik. Sehingga siswa dapat mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan
segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan peserta didik).
Dengan pembelajaran menggunakan media gambar siswa dituntut harus lebih

aktif dan kreatif dalam mengumpulkan data, tanya jawab, berdiskusi, dan
mencatat atau menulis serta membacakan kesimpulan hasil diskusi yang didapat
dari informasi baru dan dapat menyelsaikan soal dengan benar sehingga terjadi
perubahan pada diri siswa baik perubahan dalam pengetahuan maupun perbuatan.
Dalam penelitian ini penulis akan mengobservasi aktivitas belajar siswa selama
proses pembelajaran Matematika. Aktivitas

belajar Matematika yang dinilai

sebagai berikut:
1. Bertanya tentang materi yang dibahas
2. Menjawab pertanyaan guru atau teman sekelompoknya
3. Memperhatikan materi yang sedang dibahas
4. Terlibat aktif dalam diskusi kelompok
5. Mengemukakan pendapatnya dengan baik dan sopan
6. Mengerjakan tugas kelompok

D. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola pembuatan, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
apresiasi dan keterampilan. Hasil belajar yang diharapkan bukan hanya
penguasaan hasil latihan saja, melainkan mengalami perubahan pengetahuan
(kognitif), sikap (afektif) dan prilaku (psikomotor) yang dicapai siswa setelah
pembelajaran matematika dengan menggunakan media gambar. Hasil belajar
adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari
mata pelajaran yang berupa data kuantitatif. Menurut Nana Sudjana (2005), hasil
belajar adalah suatu akibat dari suatu proses belajar dengan menggunakan alat
pengukur, yaitu berupa tes yang tersusun secara terencana. Sedangkan pendapat
lain bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak

hanya mengenai pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan dan penghayatan
dalam diri pribadi individu yang belajar.
Untuk melihat hasil belajar dilakukan penilaian terhadap siswa yang
bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi atau

institusi pendidikan yang bertujuan untuk menjamin tercapainya kualitas
kemampuan peserta didik sesuai dengan
Penilaian dilakukan oleh guru terterhadap hasil pembelajaran untuk
mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai
bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses
pembelajaran.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar adalah
suatu puncak proses belajar, hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi
guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengejaran dan dampak pengiring. Untuk
mengetahui seberapa jauh keberhasilan belajar yang telah dicapai adalah dengan
melalui tes. Tes hasil belajar merupakan butir tes yang digunakan untuk
mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti belajar. Tes hasil belajar
meliputi tes hasil belajar produk (kognitif), tes hasil belajar proses (afektif), dan
tes hasil belajar keterampilan (psikomotor).

E. Alat Peraga Gambar
1. Pengertian Alat Peraga Gambar
Menurut Piaget dalam Hudoyo (2007:4), perkembangan kognitif peserta
didik SD berada pada tahap berpikir konkrit, sehingga dalam proses pembelajaran

sangat diperlukan alat peraga untuk mempermudah pemahaman peserta didik.
Alat peraga adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang menyebarkan ide,
sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima. Alat peraga adalah segala
jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara untuk mencapai tujuan.
Kemudian menurut Arsyad ( 1997:5 ), mengemukakan bahwa alat peraga
adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi
instraksional dilingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
Media gambar adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan
titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual yang lain
dengan maksud untuk mengihtisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu
ide, data atau kejadian. Media gambar untuk mengkomunikasikan suatu pesan
kepada siswa (audience) biasanya digunakan untuk menarik perhatian,
memperjelas sajian ide, dan mengilustrasikan fakta-fakta sehingga menarik dan
diingat orang.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa alat peraga gambar adalah alat atau sarana yang digunakan sebagai
perantara untuk menyampaikan pesan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dengan demikian alat peraga gambar di samping sebagai sarana atau perantara
juga dapat menjadi sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk lebih giat
dalam belajar.

2. Fungsi alat peraga
Alat peraga dalam pembelajaran mempunyai fungsi sebagai sumber
belajar, dan sebagai alat bantu. Maksudnya bahwa alat peraga mempunyai fungsi

untuk membantu guru dalam menyampaikan materi supaya lebih menarik dan
bagi siswa akan lebih mudah memahami materi yang dipelajari.
Menurut Gagne dalam Sungkono (2008:6), guru yang mengajar tanpa
Menggunakan alat peraga/media tentu akan kurang merangsang/menantang siswa
untuk belajar. Apalagi bagi siswa SD yang perkembangan intelektualnya masih
membutuhkan alat peraga.
Selain mempunyai fungsi, alat peraga juga mempunyai manfaat. Adapun
manfaat media menurut Sudjana dan Rifai dalam Arsyad ( 1997:25 ), adalah
bahwa pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar. Dengan demikian penggunaan alat peraga dalam
pembelajaran sangat memberikan kontribusi dalam meningkatkan aktivitas siswa
dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Kelebihan Alat Peraga
Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika mempunyai
kelebihan sebagai berikut:
a. Pembelajaran akan lebih menarik
b. Membangkitkan motivasi belajar siswa
c. Mencegah terjadinya verbalisme
d. Materi pembelajaran akan lebih mudah dipahami siswa
4. Kelemahan Alat Peraga
Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika mempunyai
kelemahan sebagai berikut:
a. Membutuhkan kemampuan guru dalam membuat alat peraga
b. Membutuhkan sarana dan prasarana
c. Membutuhkan pengawasan dalam menggunakan alat peraga

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, ada beberapa hal yang dapat
ditempuh yaitu:
a. Guru berusaha mengembangkan kemampuannya untuk membuat alat
peraga
b. Guru bekerja sama dengan pihak sekolah dan komite sekolah untuk
pengadaan alat peraga.
Guru bekerja sama dengan kepala sekolah, teman sejawat dan siswa untuk
meningkatkan pengawasan dan perawatan alat peraga yang ada.

F. Kerangka Pikir
Alat peraga gambar merupakan sarana atau media yang digunakan dalam
suatu proses pembelajaran. Informasi dalam gambar tesebut berfungsi untuk
merangsang atau menstimulus kognitif siswa untuk mengembangkan ide gagasan
yang ada dalam pikiran kedalam suatu pemahaman mengenai sifat-sifat bangun
datar. Dengan media tersebut peserta dapat menangkap setiap informasi yang ada
dalam gambar untuk memahami sifat-sifat bangun datar. Jadi secara tidak
langsung alat praga gambar menyuruh siswa untuk mengaktifkan otak kiri dan
kanannya agar berfikir keritis pada setiap imformasi yang ada dalam alat praga
gambar untuk memahami sifat-sifat bangun datar.
Penelitian mengenai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
Matematika Kelas V dengan menggunakan alat peraga gambar, memerlukan suatu

kerangka pikir yang akan menuntun dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas
seperti yang digambarkan dalam gambar berikut ini:

KONDIS
I AWAL

TINDAKA

Guru:
Belum memanfaatkan
alat praga gambar dalam
pembelajaran
matematika

Memanfaatkan alat
praga gambar dalam
pembelajaran
matematika

Diduga dengan alat praga
gambar dapat meningkatkan

KONDISI
AKHIR

aktivitas dan hasil belajar
matematika Kelas V pada
semester genap tahun
pelajaran 2011-2012

Siswa:
Aktivitas dan hasil
belajar siswa mengenai
sifat-sifat bangun datar
rendah
Siklus I
Memanfaatkan alat praga
gambar secara
berkelompok besar dalam
pembelajaran matematika

Siklus II
Memanfaatkan alat praga
gambar secara
berkelompok kecil dalam
pembelajaran matematika

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka pikir diatas, diduga bahwa
dengan menggunakan alat praga gambar dalam proses pembelajaran matematika
dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
matematika kelas V semester genap tahun pelajaran 2011-2012.

G.

Hipotesis Tindakan
Hipotesis Tindakan dalam PTK ini adalah jika pembelajaran Matematika

dilaksanakan dengan menggunakan alat peraga gambar, maka dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam Mata Pelajaran Matematika kelas V SDN 1
Pringsewu Timur semester genap Tahun Pelajaran 2011-2012.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan
keprofesionalan guru. Dalam pelaksanaanya guru perlu melakukan segala langkah
penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal hingga akhir. Ciri khas
peneliti ini ialah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan
masalah ini. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Refleksi merupakan
pemaknaan dari hasil tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan
masalah.
Penelitian yang dilakukan dalam

laporan

ini

berupa

penelitian

pengembangan media dan tindakan dengan menggunakan metode kerja
kelompok/diskusi.

B. Subjek Penelitian
1) Subjek penelitian

Subjek penelitian ini adalah:
Nama Sekolah

Kelas

Jml Siswa

Mata
Pelajaran

Waktu
Penelitian

Tahun
Pelajaran

SDN 1
Pringsewu Timur

V

17 Siswa

Matematika

Maret-Mei

2011/2012

2) Lokasi/Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Pringsewu Timur beralamat di jalan Pelita
Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu.

C. Metode Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu:
1. Lembar observasi, untuk mendapatkan data tentang aktivitas belajar.
2. Tes untuk mendapatkan data tentang hasil belajar
Pengumpulan data untuk penelitian ini meminta bantuan teman sejawat yang
bertugas sebagai observer dan mengisi lembar observasi tentang Penilaian
Aktivitas Belajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Dalam mempermudah pengambilan data, alat bantu yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
1. Observasi, dilakukan untuk mengamati kegiatan pembelajaran yaitu
aktivitas peserta didik selama penelitian sebagai upaya mengetahui
kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan. Dan aktivitas peserta didik
diperoleh dengan menggunakan lembar observasi aktivitas peserta didik.
Penilaian lembar observasi dengan menggunakan nilai / point 1 (satu)
setiap kriteria YA memang aktivitas tersebut benar-benar dilakukan siswa
pada proses pembelajaran matematika.

2. Catatan lapangan dimaksud untuk memperoleh data secara objektif yang
tidak terekam dalam lembar observasi, mengenai hal-hal yang terjadi
selama pemberian tindakan. Catatan lapangan ini dapat berupa catatan
prilaku peserta didik, maupun permasalahan yang dapat dijadikan
pertimbangan bagi pelaksanaan langkah berikutnya ataupun masukan
terhadap keberhasilan yang sudah dicapai.
3. Lembar tes, diberikan pada setiap akhir siklus untuk mengetahui hasil
belajar peserta didik setelah diterapkannya pembelajaran matematika
menggunakan media gambar.

D. Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan Dalam Pengambilan Kesimpulan Peneliti ini
adalah menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas
yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan maslah-masalah pembelajaran
yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran.
Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat
berbentuk individual dan kolaboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK
kolaboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya
sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kolaboratif beberapa orang guru
secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota
melakukan kunjungan antar kelas.
Tujuan PTK sebagai berikut:
1. Memperbaiki

dan

meningkatkan

mutu

praktik

dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.

pembelajaran

yang

2. Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi maslah pembelajaran
dikelas agar pembelajaran bermutu.
3. Meningkatkan, memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan
kelas yang diajarnya.
4. Mengeksplorasi

dan

membuahkan

kreasi-kreasi

dan

inovasi-inovasi

pembelajaran ( misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat
dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
5. Mencobakan gagasan, pikiran,kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran
untuk meningkatkan mutu selain kemampuan inovatif guru.
6. Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis
penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas,
bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.

Pelaksanaan PTK
1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok,
yaitu:(1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai
metode dan cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan
pendekatan, strategi, media atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan
masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pertanyaan sesuai dengan masalah
dan cara pemecahannya, (4) Menerapkan tujuan masalah PTK sesuai dengan
masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun perspektif, konsep, dan
perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6)
menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini
dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan

cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrument yang diperlukan
untuk menjaring data PTK,(8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis
data PTK.
2. Melaksanakan siklus (rencana tindakan) didalam kelas. Dalam kegiatan ini
diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai
dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan
pula pengamatan dan repleksi, baik pelaksanan tindakan, pengamatan maupun
repleksi dapat dilakukan secara beriringan, bukan bersamaan. Semua hal yang
berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.
3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data perencanaan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus di
sesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data
ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan
rumusan saran.
4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan
menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan
hasil hasil PTK. Paparan hasil hasil PTK ini disatukan dalam deskripsi
masalah, rumusan masalah, tujuan dan kajian konsep atau teortis. Inilah
Laporan PTK.
Prosedur penelitian ini akan dilakukan melalui 2 (dua) siklus, setiap siklus
dilakukan selama 2 x 35 menit yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan refleksi.

Refleksi

Siklus I
Observasi

Rencana
Tindakan

Pelaksanaan
Tindakan

Refleksi

Siklus II
Observasi

Rencana
Tindakan
Pelaksanaan
Tindakan

dst

Gambar: Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Hopkins (dalam Arikunto, 2006)

a. Siklus I
1) Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan dalam penelitian ini sebagai berikut.
a) Identifikasi permasalahan pada kondisi awal melalui pengamatan, wawancara,
dan dokumentasi. Sedangkan identifikasi permasalahn pada kondisi setelah
pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II menggunakan lembar pengamatan
dan penilaian.
b) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
c) Membuat scenario pembelajaran sesuai dengan strategi yang akan
dilaksanakan.
d) Menyiapkan alat bantu pembelajaran berupa media gambar
e) Membuat lembar observasi dalam pelaksanaan pembelajaran untuk siswa dan
guru.

f) Menyiapkan soal-soal yang diperlukan untuk melaksanakan latihan.

2) Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah merujuk pada sekenario
pembelajaran yang telah dirancang yaitu melalui pembelajaran dengan
menggunakan media gambar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen.
b) Guru menyajikan materi dengan mendemonstrasikan contoh media gambar
dan menjelaskan cara membuat media gambar tersebut
c) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota
kelompok. Anggotanya tahu cara menjelaskan pada anggota lainnya sampai
semua anggota kelompok itu mengerti.
d) Guru memberi tugas soal kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab atau
mengerjakan soal tidak boleh saling membantu.
e) Memberi evaluasi
f) Kesimpulan

3) Observasi
Observasi dilakukan pelaksanaan tindakan pembelajaran oleh guru
dilaksanakan dengan bantuan rekan guru lainnya atau dengan teman sejawat untuk
mengidentifikasi kegiatan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan lembar
observasi yang telah disiapkan, yang dilakukan oleh observer mengenai (a).
Perhatian siswa mendengarkan penjelasan guru (b). Keaktifan siswa dalam
bertanya pada guru (c). Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan guru. (d)

Keaktifan siswa dalam bekerja sama

atau diskusi dalam kelompok. (e)

Kemampuan dan ketepatan siswa dalam mengerjakan tugas soal.

4) Refleksi
Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi dan analisis yang
didiskusikan dengan rekan kerja atau teman sejawat. Refleksi dilakukan untuk
mengkaji apakah pelaksanan tindakan sudah dapat meningkatkan aktivitas siswa
dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa pada penyelesaian soal dengan
menggunakan gambar, bangun datar persegi panjang dan segitiga meningkat atau
belum. Refleksi hasil a

Dokumen yang terkait

ENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012

1 12 144

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012

0 21 55

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN

2 16 63

UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012

23 110 52

UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 5 53

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

1 6 61

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GRAFIS DI KELAS VI SDN 1 PAREREJOKECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU T.P 2011/2012

0 3 48

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GRAFIS DI KELAS VI SDN 1 PAREREJOKECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU T.P 2011/2012

0 5 63

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA BUATAN PADA SISWA KELAS III SDN I LUGUSARI KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2011/2012

0 6 46

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA BUATAN PADA SISWA KELAS III SDN I LUGUSARI KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2011/2012

0 9 40