Respons Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) Terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk P

RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) TERHADAP PEMBERIAN KOMPOS SAMPAH KOTA DAN PUPUK P SKRIPSI OLEH : RASI KASIM SAMOSIR 110301145 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015
Universitas Sumatera Utara

RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) TERHADAP PEMBERIAN KOMPOS SAMPAH KOTA DAN PUPUK P SKRIPSI OLEH : RASI KASIM SAMOSIR 110301145 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015
Universitas Sumatera Utara

Judul Skripsi
Nama NIM Prodi Minat

: Respons Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) Terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk P
: Rasi Kasim Samosir : 110301145 : Agroekoteknologi : Budidaya Pertanian dan Perkebunan

Ketua

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing
Anggota

(Ir. Ratna Rosanty Lahay, M.P.) NIP. 19631019 198903 2 002

(Ir. Revandy I. M. Damanik, M.Sc., Ph.D.) NIP. 19681119 199303 1 003

Mengetahui, Ketua Program Studi Agroekoteknologi

(Prof. Ir. T. Sabrina, M.Sc., Ph.D.) NIP. 19640620 199803 2 001

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK RASI KASIM SAMOSIR: Respons Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk P dibimbing oleh RATNA ROSANTY LAHAY dan REVANDY I. M. DAMANIK.
Rendahnya produksi kedelai Indonesia salah satunya dikarenakan masih menganggap kedelai sebagai tanaman sampingan sehingga mengakibatkan rendahnya tingkat teknologi budidaya untuk tanaman kedelai. Tujuan penelitian yakni untuk mengetahui respons pertumbuhan dan produksi kedelai terhadap pemberian kompos sampah kota dan pupuk P. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada April 2015 sampai Juli 2015, menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor yaitu kompos sampah kota (0, 15, 30, 45 g/tanaman) dan pupuk P (0, 1,5 , 3 g/tanaman).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos sampah kota meningkatkan diameter batang 2 MST, 4 MST, 5 MST, dan produksi biji per plot. Kompos sampah kota meningkatkan produksi biji per plot terdapat pada taraf pemberian 45 g/tanaman (K3) yaitu 173,36 g. Pemberian pupuk P meningkatkan jumlah polong berisi per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot biji per tanaman. Pemberian pupuk P meningkatkan jumlah biji per tanaman terdapat pada taraf pemberian 1,5 g/tanaman (P1) yaitu 46,06 biji. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter. Kata kunci : kedelai, kompos sampah kota, pupuk P
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT RASI KASIM SAMOSIR : The Effect Growth and Production of Municipal Waste Compost and P Fertilizer of Soybean (Glycine max (L.) Merrill) guided by RATNA ROSANTY LAHAY and REVANDY I. M. DAMANIK.
The low production of soybean in Indonesia one of them because of opinion soybean as side plant so low to use technology of cultivation for soybean. Of the research is to determine the response of growth and production of soybean on application municipal waste compost and fosfat fertilizer. The research was conducted in testing land, University of North Sumatera on April 2015 until July 2015, using a factorial randomized block design with two factors. The first factor was municipal waste compost (0, 15, 30, 45 g/plant). The second factor was P fertilizer (0, 1,5, 3 g/plant).
The results showed that application of municipal waste compost increased diameter of stem 2 MST, 4 MST, 5 MST, and seed production of plot. Municipal waste compost increased production seed per plant that showed by 45 g/plant (K3) was 173,36 g. P fertilizer increased the number of pods per plant lists, the number of seed per plant and seeds per plant dry weight. P fertilized increased the number of seed per plant that showed by 1,5 g/plant (P1) was 46,06 seeds. Interaction between treatments didn’t effect all parameter. Keywords: soybean, municipal waste compost and P fertilizer
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP RASI KASIM SAMOSIR, lahir di Medan, 25 Oktober 1993, anak kedua dari empat bersaudara dari Bapak J. B. Samosir dan Ibu S. br. Manullang. Tahun 2011, penulis lulus dari SMA Negeri 14 Medan dan pada tahun yang sama, penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tahun 2014/2015, penulis menjadi asisten Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian. Penulis juga aktif sebagai bagian Biro Kewirausahaan di Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK), sebagai bagian Biro Kerohanian periode 2012-2013 di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Komisariat Fakultas Pertanian USU, sebagai Wakil Ketua di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Komisariat Fakultas Pertanian USU periode 2013-2014, sebagai sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) HIMAGROTEK tahun 2014 dan sebagai ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Pertanian USU Tahun 2015. Penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT PAN Sumatera Agri Plants., Aceh pada bulan Juli – Agustus 2014.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Rasa kebanggaan yang terdalam dihanturkan kepada orang tua Ayahanda J.B. Samosir dan Ibunda S. br. Manullang beserta kakak dan adik atas doa, kasih sayang, dukungan dan kepercayaan yang selalu mengiringi langkah penulis yang telah mendukung penulis selama perkuliahan hingga sampai saat ini. Judul dari skripsi ini adalah “Respons Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) Terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk P”, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di program studi Agroekoteknologi minat Budidaya Pertanian dan Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing skripsi yaitu, Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP., selaku ketua komisi pembimbing dan Ir. Revandy I. M. Damanik, M.Sc., Ph.D., selaku anggota komisi pembimbing skripsi yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman – teman Agroekoteknologi 2011 dan teman – teman NHKBP Kasih Setia yang turut membantu secara moral maupun tenaga dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca untuk meningkatkan produksi kedelai dan ilmu pengetahuan, Amin.
Medan, Agustus 2015 Penulis
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK .....................................................................................................

i

ABSTRACT................................................................................................... ii

RIWAYAT HIDUP........................................................................................ iii

KATA PENGANTAR ................................................................................... iv

DAFTAR ISI.................................................................................................. v

DAFTAR TABEL.......................................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... vii

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. viii

PENDAHULUAN Latar Belakang ........................................................................................ Tujuan Penelitian .................................................................................... Hipotesis Penelitian ................................................................................ Kegunaan Penelitian ...............................................................................

1 3 3 3

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ...................................................................................... Syarat Tumbuh........................................................................................ Iklim ................................................................................................... Tanah .................................................................................................. Kompos Sampah Kota ............................................................................ Pupuk P ...................................................................................................

4 6 6 7 7 10

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................. Bahan dan Alat........................................................................................ Metode Penelitian ...................................................................................

13 13 13

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan ...................................................................................... Penanaman .............................................................................................. Aplikasi Kompos Sampah Kota.............................................................. Aplikasi Pupuk P..................................................................................... Aplikasi Pupuk N dan K ......................................................................... Pemeliharaan Tanaman ........................................................................... Penyiraman ......................................................................................... Penjarangan ........................................................................................ Penyulaman ........................................................................................

16 16 16 16 16 17 17 17 17

Universitas Sumatera Utara

Pembumbunan .................................................................................... Penyiangan ......................................................................................... Pengendalian Hama dan Penyakit ...................................................... Pemanenan .............................................................................................. Pengamatan Parameter............................................................................ Tinggi Tanaman (cm)......................................................................... Diameter Batang (mm)....................................................................... Jumlah Buku Per Tanaman (buku) .................................................... Jumlah Cabang Produktif (cabang) .................................................... Jumlah Polong Per Tanaman (polong) ............................................... Jumlah Polong Berisi Per Tanaman (polong) .................................... Jumlah Biji Per Tanaman (biji) .......................................................... Bobot Biji Per Tanaman (g) ............................................................... Produksi Biji Per Plot (g) ................................................................... Bobot 100 Biji (g) ..............................................................................
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ........................................................................................................ Pembahasan.............................................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ............................................................................................. Saran .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................
LAMPIRAN ...................................................................................................

17 17 17 18 18 18 18 19 19 19 19 19 19 19 20
21 36
39 39
40
42

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Tinggi tanaman (cm) 2-6 MST pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P ........................................................................... ......
2. Diameter batang (mm) 2-6 MST pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P ..................................................................................
3. Jumlah buku per tanaman (buku) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P ..................................................................................
4. Jumlah cabang produktif (cabang) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P ....................................................................
5. Jumlah polong per tanaman (polong) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P .....................................................................
6. Jumlah polong berisi per tanaman (polong) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P .....................................................................
7. Jumlah biji per tanaman (biji) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P ..........................................................................................
8. Bobot biji per tanaman (g) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P .................................................................................................
9. Produksi biji per plot (g) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P .................................................................................................
10. Bobot 100 biji (g) pada pemberian kompos sampah kota dan pupuk P

22 24 26 27 27 28 30 31 33 35

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Hubungan jumlah polong berisi per tanaman dengan pemberian pupuk P .................................................................................................
2. Hubungan jumlah biji per tanaman dengan pemberian pupuk P .......... 3. Hubungan bobot biji per tanaman dengan pemberian pupuk P ............ 4. Hubungan produksi biji per plot dengan pemberian kompos sampah
kota .......................................................................................................

29 30 32
34

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Deskripsi kedelai varietas grobogan..................................................... 2. Bagan penanaman pada plot ................................................................. 3. Bagan plot penelitian ............................................................................ 4. Jadwal kegiatan pelaksanaan penelitian ............................................... 5. Hasil analisis tanah ............................................................................... 6. Hasil analisis kompos sampah kota ...................................................... 7. Perhitungan pupuk ................................................................................ 8. Data curah hujan dan kelembaban udara .............................................. 9. Data pengamatan tinggi tanaman 2 MST (cm)..................................... 10. Sidik ragam tinggi tanaman 2 MST...................................................... 11. Data pengamatan tinggi tanaman 3 MST (cm)..................................... 12. Sidik ragam tinggi tanaman 3 MST...................................................... 13. Data pengamatan tinggi tanaman 4 MST (cm)..................................... 14. Sidik ragam tinggi tanaman 4 MST...................................................... 15. Data pengamatan tinggi tanaman 5 MST (cm)..................................... 16. Sidik ragam tinggi tanaman 5 MST...................................................... 17. Data pengamatan tinggi tanaman 6 MST (cm)..................................... 18. Sidik ragam tinggi tanaman 6 MST...................................................... 19. Data pengamatan diameter batang 2 MST (mm).................................. 20. Sidik ragam diameter batang 2 MST .................................................... 21. Data pengamatan diameter batang 3 MST (mm).................................. 22. Sidik ragam diameter batang 3 MST .................................................... 23. Data pengamatan diameter batang 4 MST (mm).................................. 24. Sidik ragam diameter batang 4 MST .................................................... 25. Data pengamatan diameter batang 5 MST (mm).................................. 26. Sidik ragam diameter batang 5 MST .................................................... 27. Data pengamatan diameter batang 6 MST (mm).................................. 28. Sidik ragam diameter batang 6 MST .................................................... 29. Data pengamatan jumlah buku per tanaman 3 MST (buku)................. 30. Sidik ragam jumlah buku per tanaman 3 MST..................................... 31. Data pengamatan jumlah buku per tanaman 4 MST (buku)................. 32. Sidik ragam jumlah buku per tanaman 4 MST..................................... 33. Data pengamatan jumlah buku per tanaman 5 MST (buku)................. 34. Sidik ragam jumlah buku per tanaman 5 MST..................................... 35. Data pengamatan jumlah buku per tanaman 6 MST (buku)................. 36. Sidik ragam jumlah buku per tanaman 6 MST..................................... 37. Data pengamatan jumlah cabang produksi (cabang) ............................ 38. Sidik ragam jumlah cabang produksi ................................................... 39. Data pengamatan jumlah polong per tanaman (polong)....................... 40. Sidik ragam jumlah polong per tanaman .............................................. 41. Data pengamatan jumlah polong berisi per tanaman (polong)............. 42. Sidik ragam jumlah polong berisi per tanaman .................................... 43. Data pengamatan jumlah biji per tanaman (biji) .................................. 44. Sidik ragam jumlah biji per tanaman....................................................

42 43 44 45 46 46 47 49 50 50 51 51 52 52 53 53 54 54 55 55 56 56 57 57 58 58 59 59 60 60 61 61 62 62 63 63 64 64 65 65 66 66 67 67

Universitas Sumatera Utara

45. Data pengamatan bobot biji per tanaman (g)........................................ 46. Sidik ragam bobot biji per tanaman...................................................... 47. Data pengamatan produksi biji per plot (g) .......................................... 48. Sidik ragam produksi biji per plot (g)................................................... 49. Data pengamatan bobot 100 biji (g) ..................................................... 50. Sidik ragam bobot 100 biji ................................................................... 51. Rekapitulasi hasil penelitian ................................................................. 52. Foto jumlah polong per sampel ............................................................ 53. Foto jumlah biji per plot .......................................................................

68 68 69 69 70 70 71 72 74

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK RASI KASIM SAMOSIR: Respons Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk P dibimbing oleh RATNA ROSANTY LAHAY dan REVANDY I. M. DAMANIK.
Rendahnya produksi kedelai Indonesia salah satunya dikarenakan masih menganggap kedelai sebagai tanaman sampingan sehingga mengakibatkan rendahnya tingkat teknologi budidaya untuk tanaman kedelai. Tujuan penelitian yakni untuk mengetahui respons pertumbuhan dan produksi kedelai terhadap pemberian kompos sampah kota dan pupuk P. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada April 2015 sampai Juli 2015, menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor yaitu kompos sampah kota (0, 15, 30, 45 g/tanaman) dan pupuk P (0, 1,5 , 3 g/tanaman).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos sampah kota meningkatkan diameter batang 2 MST, 4 MST, 5 MST, dan produksi biji per plot. Kompos sampah kota meningkatkan produksi biji per plot terdapat pada taraf pemberian 45 g/tanaman (K3) yaitu 173,36 g. Pemberian pupuk P meningkatkan jumlah polong berisi per tanaman, jumlah biji per tanaman, dan bobot biji per tanaman. Pemberian pupuk P meningkatkan jumlah biji per tanaman terdapat pada taraf pemberian 1,5 g/tanaman (P1) yaitu 46,06 biji. Interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter. Kata kunci : kedelai, kompos sampah kota, pupuk P
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT RASI KASIM SAMOSIR : The Effect Growth and Production of Municipal Waste Compost and P Fertilizer of Soybean (Glycine max (L.) Merrill) guided by RATNA ROSANTY LAHAY and REVANDY I. M. DAMANIK.
The low production of soybean in Indonesia one of them because of opinion soybean as side plant so low to use technology of cultivation for soybean. Of the research is to determine the response of growth and production of soybean on application municipal waste compost and fosfat fertilizer. The research was conducted in testing land, University of North Sumatera on April 2015 until July 2015, using a factorial randomized block design with two factors. The first factor was municipal waste compost (0, 15, 30, 45 g/plant). The second factor was P fertilizer (0, 1,5, 3 g/plant).
The results showed that application of municipal waste compost increased diameter of stem 2 MST, 4 MST, 5 MST, and seed production of plot. Municipal waste compost increased production seed per plant that showed by 45 g/plant (K3) was 173,36 g. P fertilizer increased the number of pods per plant lists, the number of seed per plant and seeds per plant dry weight. P fertilized increased the number of seed per plant that showed by 1,5 g/plant (P1) was 46,06 seeds. Interaction between treatments didn’t effect all parameter. Keywords: soybean, municipal waste compost and P fertilizer
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kedelai merupakan komoditas terpenting ketiga setelah padi dan

jagung. Selain itu juga merupakan komoditas palawija yang kaya akan

protein. Kedelai segar sangat dibutuhkan dalam industri pangan dan

bungkil kedelai dibutuhkan untuk industri pakan. Kebutuhan kedelai

terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan

bahan baku olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, dan

sebagainya (Badan Litbang Pertanian, 2012).

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan produksi kedelai tahun 2014

sebanyak 953,96 ribu ton biji kering, meningkat sebanyak 173,96 ribu ton (22,30

persen) dibandingkan tahun 2013. Peningkatan produksi kedelai tersebut terjadi di

Pulau Jawa sebanyak 100,20 ribu ton dan di luar Pulau Jawa sebanyak 73,76 ribu

ton. Peningkatan produksi kedelai terjadi karena kenaikan luas panen seluas 64,23

ribu hektar (11,66 persen) dan kenaikan produktivitas sebesar 1,35 kuintal/hektar

(9,53 persen)

(BPS, 2014).

Faktor – faktor yang sering menyebabkan rendahnya hasil kedelai

di Indonesia antara lain : kekeringan, banjir, hujan terlalu besar pada saat panen,

serangan hama, dan persaingan dengan rerumputan (gulma). Pandangan petani

yang masih menganggap kedelai sebagai tanaman sampingan juga mengakibatkan

rendahnya tingkat teknologi budidaya seperti pemupukan, pemberian mulsa untuk

tanaman kedelai. Kedelai merupakan tanaman tanah kering, sehingga banyak

mendapat gangguan gulma. Bila pemeliharaannya kurang intensif, tanaman

Universitas Sumatera Utara

kedelai akan disaingi oleh gulma, akibatnya hasil panen akan menurun (Suprapto, 2001).
Untuk mempertahankan komoditas pertanian yang dibudidayakan agar tetap produktif dan sehat, maka jumlah hara yang hilang dari dalam tanah tidak melebihi hara yang ditambahkan, atau harus terjadi keseimbangan hara di dalam tanah setiap waktu. Apabila hara yang diekstrak dari dalam tanah lebih banyak daripada yang ditambahkan melalui proses alami : melalui debu dan air hujan, pelapukan batuan dan penambatan nitrogen udara, maka teknik pemupukan organik, mendaur ulang limbah organik yang dikombinasikan dengan pemupukan kimia sangat diperlukan untuk mempertahankan aras kesuburan tanah (Sutanto, 2002).
Fosfor (P), yang penting untuk mempercepat pertumbuhan akar, mempercepat pendewasaan tanaman, dan mempercepat pembentukan buah dan biji serta meningkatkan produksi. Sumber fosfat yang di dalam tanah sebagai fosfat mineral yaitu batu kapur fosfat, sisa – sisa tanaman dan bahan organik lainnya, pupuk buatan (double fosfat, super fosfat dan lainnya). Perubahan fosfor organik menjadi fosfor anorganik dilakukan oleh mikroorganisme. Penyerapan fosfor selain dilakukan oleh mikroorganisme juga dapat dilakukan oleh liat dan silikat (Isnaini, 2006).
Keuntungan dari penggunaan pupuk organik dan anorganik secara seimbang sudah lama dipahami dan telah dilaksanakan dalam praktek pertanian. Pemupukan dengan cara ini akan memberikan keuntungan, antara lain: menambah kandungan hara yang tersedia dan siap diserap tanaman selama periode pertumbuhan tanaman, menyediakan semua unsur hara dalam
Universitas Sumatera Utara

jumlah yang seimbang dengan demikian akan memperbaiki persentase penyerapan hara oleh tanaman yang ditambahkan dalam bentuk pupuk, mencegah kehilangan hara karena bahan organik mempunyai kapasitas pertukaran ion yang tinggi, membantu dalam mempertahankan kandungan bahan organik tanah pada aras tertentu sehingga mempunyai pengaruh yang baik terhadap sifat fisik tanah dan status kesuburan tanah, residu bahan organik akan berpengaruh baik pada pertanaman berikutnya maupun dalam mempertahankan produktivitas tanah (Sutanto, 2002).
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang respons pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max L. (Merill)) terhadap pemberian kompos sampah kota dan pupuk fosfat. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui respons pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max L. (Merill)) terhadap pemberian kompos sampah kota dan pupuk P. Hipotesis Penelitian
Pemberian kompos sampah kota dan pupuk P pada dosis tertentu serta interaksi keduanya nyata dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai (Glycine max L. (Merill)). Kegunaan Penelitian
Sebagai bahan penulisan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Menurut Van Steenis (2003), tanaman kedelai diklasifikasikan ke dalam Kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Polypetales, famili Papilionaceae (Leguminosae), genus Glycine, spesies Glycine max ((L.) Merill).
Kedelai berakar tunggang. Pada tanah gembur akar kedelai dapat sampai kedalaman 150 cm. Pada akarnya terdapat bintil-bintil akar, berupa koloni dari bakteri Rhizobium japonikum. Pada tanah yang telah mengandung bakteri Rhizobium, bintil akar mulai terbentuk sekitar 15 - 20 hari setelah tanam. Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai bakteri Rhizobium tidak terdapat dalam tanah, sehingga bintil akar tidak terbentuk (Suprapto, 2001).
Kedelai adalah tanaman setahun yang tumbuh tegak (70 - 150 cm), menyemak, berbulu halus (pubescens), dengan sistem perakaran luas. Tipe pertumbuhan batang dapat dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah terbatas (semi-indeterminate). Tipe terbatas memiliki ciri khas yaitu berbunga hampir serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi. Tanaman pendek sampai sedang, ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian tengah, daun teratas sama besar dengan daun pada batang tengah. Tipe tidak terbatas memiliki ciri berbunga secara bertahap dari bawah ke atas. Tanaman berpostur sedang sampai tinggi, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe setengah terbatas memiliki karakteristik antara kedua tipe lainnya (Hidayat, 1985).
Universitas Sumatera Utara

Tanaman kedelai mempunyai dua bentuk daun yang dominan, yaitustadia kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk kecambah dengan dua helai daun tunggal dan daun bertangkai tiga (trifoliate leaves)yang tumbuh selepas masa pertumbuhan. Umumnya, bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat (oval) dan lancip (lanceolate). Kedua bentuk daun tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik. Bentuk daun diperkirakan mempunyai korelasi yang sangat erat dengan potensi produksi biji (Irwan, 2006).
Periode berbunga pada tanaman kedelai cukup lama yaitu 3 - 5 minggu untuk daerah subtropik dan 2 - 3 minggu di daerah tropik. Jumlah bunga pada tipe batang determinate umumnya lebih sedikit dibandingkan dengan tipe indeterminate. Warna bunga yang umum pada berbagai varietas kedelai hanya dua, yaitu putih dan ungu (Irwan, 2006).
Buah kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman mampu menghasilkan 50 - 100 polong. Polong kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah menjadi kehitaman (Sugeno, 2008).
Biji kedelai berkeping dua yang terbungkus oleh kulit biji. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji bermacam-macam, ada yang kuning, hitam, hijau atau coklat. Pusar biji atau hilum, adalah jaringan bekas biji kedelai yang menempel pada dinding buah. Bentuk biji kedelai pada umumnya bulat lonjong, ada yang bundar atau bulat agak pipih. Besar biji bervariasi, tergantung varietas. Di Indonesia besar biji sering diukur dari bobot per 100 biji kering dan bervariasi dari 6 gram sampai 30 gram. Kedelai digolongkan berbiji kecil bila bobot 100
Universitas Sumatera Utara

bijinya antara 6 - 10 gram ; berbiji sedang bila bobot 100 biji 13 gram dan lebih dari 13 gram termasuk berbiji besar. Di Amerika dan Jepang kedelai yang bobot 100 bijinya kurang dari 15 gram masih dianggap kedelai kecil (Suprapto, 2001). Syarat Tumbuh Iklim
Indonesia mempunyai iklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan kedelai karena kedelai menghendaki hawa yang cukup panas. Pada umumnya pertumbuhan kedelai sangat ditentukan oleh ketinggian tempat dan biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 meter di atas permukaan air laut (Suprapto, 2001).
Pada awalnya kedelai merupakan tanaman subtropika hari pendek, namun setelah didomestikasi dapat menghasilkan banyak kultivar yang dapat beradaptasi terhadap lintang yang berbeda. Kemampuannya dapat ditanam pada semua tempat adalah keunggulan utama tanaman ini. Pertumbuhan optimum tercapai pada suhu 20 - 250C. Suhu 12 - 200C adalah suhu yang sesuai bagi sebagian besar proses pertumbuhan tanaman, tetapi dapat menunda proses perkecambahan benih dan pemunculan biji. Pada suhu yang lebih tinggi dari 300C, fotorespirasi cenderung mengurangi hasil fotosintesis (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0,5 - 300 m dpl. Sedangkan varietas kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 200 - 500 m dpl. Kedelai biasanya akan tumbuh baik pada ketinggian tidak lebih dari 500 m dpl sehingga tanaman
Universitas Sumatera Utara

kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis (Bappenas, 2007). Tanah
Tanaman kedelai pada umumnya dapat beradaptasi terhadap berbagai jenis tanah dan menyukai tanah yang bertekstur ringan hingga sedang, dan berdrainase baik. Tanaman ini peka terhadap kondisi salin (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Kedelai dapat tumbuh di tanah yang agak masam akan tetapi pada pH yang terlalu rendah bisa menimbulkan keracunan Al dan Fe. Nilai pH tanah yang cocok berkisar antara 5,8 - 7,0. Pada pH di bawah 5,0 pertumbuhan bakteri bintil dan proses nitrifikasi akan berjalan kurang baik (Suprapto, 2001).
Pada pH kurang dari 5,5 pertumbuhannya sangat terlambat karena keracunan alumunium. Pertumbuhan bakteri bintil dan proses nitrifikasi (proses oksidasi amoniak menjadi nitrit atau proses pembusukan) akan berjalan kurang baik (Bappenas, 2007). Kompos Sampah Kota
Bahan organik berfungsi sebagai penyimpanan unsur hara yang secara perlahan akan dilepaskan ke dalam larutan air tanah dan disediakan bagi tanaman. Bahan organik di dalam atau di atas tanah juga melindungi dan membantu mengatur suhu dan kelembaban tanah. Seringkali pemanfaatan bahan organik digabungkan dengan teknik-teknik lain dengan fungsi yang saling melengkapi, misalnya pemanfaatan pupuk buatan, pengolahan tanah, pengumpulan air, penaungan, dan pembuatan pematang. Pengelolaan bahan organik berbeda sesuai dengan situasi dan tanamannya. Pengelolaan yang tidak memadai dapat
Universitas Sumatera Utara

menyebabkan pemanfaatan unsur hara yang tidak efisien, hilangnya unsur hara, pengikatan unsur hara atau pengasaman (Reijntjes, et al., 1999).
Kompos merupakan hasil pelapukan dari berbagai bahan yang berasal dari makhluk hidup, seperti dedaunan, cabang tanaman, kotoran hewan, dan sampah. Proses pembuatan kompos dipercepat dengan bantuan manusia. Akhir-akhir ini orang lebih banyak menggunakan kompos dibandingkan pupuk kandang karena kompos lebih mudah dibuat (Prihmantoro, 2003).
Kompos ibarat multivitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat. Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui jika diketahui dapat membantu tanaman mengadapi serangan penyakit (Berutu, 2009).
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective Microorganism) atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri (Gani,2009).
Universitas Sumatera Utara

Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah di antaranya adalah merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi Nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga mempengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gani, 2009).
Selain itu, pengomposan pun bertujuan untuk menurunkan rasio C/N. Tergantung jenis tanamannya, rasio C/N sisa tanaman yang masih segar umumnya tinggi sehingga mendekati rasio C/N tanah. Rasio C/N adalah perbandingan C (karbon) dan N (nitrogen). Bila bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi dikomposkan terlebih dahulu (langsung diberikan ke tanah) maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah. Ini tentu kurang baik karena proses penguraian bahan segar dala tanah biasanya berjalan cepat karena kandungan air dan udaranya cukup. Akibatnya, CO2 dalam tanah meningkat sehingga dapat berpengaruh buruk bagi pertumbuhan tanaman. Bahkan, untuk tanah ringan dapat mengakibatkan daya ikatnya terhadap air menjadi kecil serta struktur tanahnya menjadi kasar dan berserat (Lingga dan Marsono, 2008).
Kandungan hara dan sifat fisik kompos dari limbah pabrik lebih standar atau konsisten dibandingkan dengan kompos dari bahan baku yang sangat beragam. Kompos yang dihasilkan dengan bahan baku sampah kota dari tempat pembuatan yang satu dengan tempat pembuatan yang lain dipastikan berbeda. Penyebabnya adalah terlalu sulit memilah bahan baku menjadi suatu jumlah dengan komposisi yang sama dan standar. Oleh karena itu, kompos konvensional
Universitas Sumatera Utara

yang dijual di pasaran sering tidak mencantumkan besarnya kandungan unsur hara (Musnamar, 2002).
Kompos sampah kota yang digunakan pada penelitian ini berasal dari Medan Tuntungan dengan analisis kandungan terlampir pada Lampiran 6. Pupuk P
Pupuk buatan merupakan pupuk yang dibuat di dalam pabrik. Bahannya dari bahan anorganik dan dibentuk dengan proses kimia sehingga pupuk ini lebih dikenal dengan nama pupuk anorganik. Pupuk anorganik umumnya diberi kandungan zat hara tinggi. Pupuk ini tidak diperoleh di alam, tetapi merupakan hasil ramuan di pabrik. Oleh karena pupuk anorganik dibuat manusia maka kandungan haranya dapat beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman (Prihmantoro, 2003).
Fosfor sangat sukar larut dalam air dan selalu berikatan dengan unsur lain sehingga ketersediaannya juga dipengaruhi oleh banyak faktor, utamanya pH karena derajat keasaman menentukan jenis ikatan fosfor dengan unsur lain. Misalnya pada pH rendah fosfor mudah berikatan dengan besi sehingga membentuk besi fosfat yang sukar larut di air sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Pada suhu yang relatif hangat ketersediaan fosfor meningkat dan proses perombakan bahan organik lebih cepat (Isnaini, 2006).
Pada pemupukan fosfor bersamaan dengan amonium NH4+ dalam larikan tanaman akan menyebabkan tanaman tumbuh pesat. Kekurangan fosfor mengakibatkan pertumbuhan akar terhambat, pematangan buah terhambat biji menjadi tidak normal (Isnaini, 2006).
Universitas Sumatera Utara

Fosfor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42-, dan PO42-, atau tergantung dari nilai pH tanah. Fosfor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya berasal dari pelapukan bahan organik. Walaupun sumber fosfor di dalam tanah mineral cukup banyak, tanaman masih bisa mengalami kekurangan fosfor. Pasalnya, sebagian fosfor terikat secara kimia oleh unsur lain sehingga menjadi senyawa yang sukar larut di dalam air (Novizan, 2005).
Di samping ada keuntungannya, pupuk ini juga mempunyai kelemahan, yaitu tidak semua pupuk anorganik mengandung unsur yang lengkap (makro dan mikro). Bahkan, ada yang hanya mengandung 1 unsur saja. Oleh karenanya, pemberiannya harus dibarengi dengan pupuk mikro dan pupuk kandang atau kompos. Selain itu, pemakaian pupuk anorganik harus sesuai dengan yang dianjurkan karena bila berlebihan dapat menyebabkan tanaman mati. Pemberian pupuk anorganik secara terus-menerus umumnya berakibat buruk pada kondisi tanah. Tanah menjadi cepat mengeras, kurang mampu menyimpan air, dan cepat menjadi asam (Prihmantoro, 2003).
Fosfor berpengaruh menguntungkan pada hal-hal sebagai berikut : pembelahan sel serta pembentukan lemak serta albumin, pembangunan dan pembuahan termasuk pembuahan biji. Apabila tanaman berbuah pengaruh akibat pemberian nitrogen yang berlebihan akan hilang, perkembangan akar, khusus lateral, dan akar halus berserabut. Kekuatan batang pada tanaman serealia, membantu menghindari tumbangnya tanaman, mutu tanaman (Rukmi, 2009).
Pupuk fosfat merupakan salah satu pupuk yang mempunyai peranan penting untuk tanaman yang menghasilkan biji seperti kedelai, guna mencapai
Universitas Sumatera Utara

kuantitas dan kualitas benih yang maksimal. Pupuk fosfat sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanaman terutama awal pertumbuhan, meningkatkan pembentukan polong, dan mempercepat matangnya polong (Thoyyibah, et al dalam Cahyono., 2014).
Jika terjadi kekurangan fosfor, tanaman menunjukkan gejala pertumbuhan sebagai berikut : lambat dan kerdil, perkembangan akar terhambat, gejala pada daun sangat beragam, beberapa tanaman menunjukkan warna hijau tua mengilap yang tidak normal, pematangan buah terhambat, perkembangan bentuk dan warna buah buruk, dan biji berkembang tidak normal (Novizan,2005).
Pemupukan yang cukup dan seimbang sesuai kebutuhan tanaman akan mendorong pertumbuhan menjadi lebih subur dan dapat berproduksi optimal. Rekomendasi pemupukan pada tanaman kedelai yaitu 75 - 100 kg /ha urea, 100 - 150 kg/ha SP-36, 100 - 150 kg/ha KCl, dan 4 ton/ha pupuk organik ( Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi, 2011 ).
Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian + 25 meter di atas

permukaan laut, mulai bulan April sampai Juli 2015.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kedelai varietas

Grobogan, kompos sampah kota dengan merek dagang Ramosdo,

pupuk P (SP-36), pupuk N (Urea) dan K (KCl), air untuk menyiram tanaman, dan

pestisida berbahan aktif mankozeb untuk mengendalikan hama dan penyakit

kedelai, dan bahan lain yang mendukung penelitian ini.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul dan garu untuk

membuka lahan dan membersihkan lahan dari gulma dan sampah, pacak sampel

untuk tanda dari tanaman yang merupakan sampel, gembor untuk menyiram

tanaman, meteran untuk mengukur luas lahan dan tinggi tanaman,

timbangan analitik untuk menimbang produksi tanaman, kalkulator untuk

menghitung data, jangka sorong digital untuk mengukur diameter batang, alat tulis

dan alat-alat lain yang mendukung pelaksanaan penelitian ini.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2

faktor perlakuan yaitu :

Faktor I : Pemberian Kompos Sampah Kota (K) dengan 4 taraf, yaitu :

K0 = 0 gram/tanaman

K2= 30 gram/tanaman

K1= 15 gram/tanaman

K3= 45 gram/tanaman

Universitas Sumatera Utara

Faktor II : Pupuk P (P) yang terdiri atas 3 taraf, yaitu :

P0 = 0 gram/tanaman P1 = 1,5 gram/tanaman

P2 = 3 gram/tanaman Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 12 kombinasi, yaitu :

K0P0

K1P0

K2P0

K3P0

K0P1

K1P1

K0P2

K1P2

Jumlah ulangan (Blok)

K2P1

K3P1

K2P2

K3P2

: 3 ulangan

Jumlah plot

: 36 plot

Jarak antar plot

: 50 cm

Jarak antar blok

: 50 cm

Jarak tanam

: 40 cm x 20 cm

Ukuran plot

: 160 cm x 140 cm

Jumlah tanaman/plot

: 28 tanaman

jumlah sampel/plot

: 4 tanaman

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan

model linear aditif sebagai berikut :

Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk

i = 1,2,3

j = 1,2,3,4 k = 1,2,3

Dimana:

Yijk :

Hasil pengamatan pada blok ke-i akibat perlakuan kompos sampah kota taraf ke-j dan pupuk P pada taraf ke-k

µ: ρi :

Nilai tengah Efek dari blok ke-i

Universitas Sumatera Utara

αj : βk : (αβ)jk :

Efek perlakuan kompos sampah kota pada taraf ke-j Efek pemberian pupuk P pada taraf ke-k Interaksi antara kompos sampah kota taraf ke-j dan pemberian

εijk :

pupuk P taraf ke-k Galat dari blok ke-i, kompos sampah kota ke-j dan pemberian pupuk P ke- k

Terhadap sidik ragam yang nyata, maka dilanjutkan analisis lanjutan

dengan menggunakan Uji Beda Rata-Rata Duncan Berjarak Ganda dengan

taraf 5 % (Steel dan Torrie, 1993).

Universitas Sumatera Utara

Persiapan Lahan

PELAKSANAAN PENELITIAN

Areal dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman yang ada, tanah dicangkul

dengan kedalaman 30 cm. Kemudian diratakan tanah tersebut lalu dibuat plot-plot

dengan ukuran 160 cm x 140 cm dengan jarak antar plot 50 cm dan jarak antar

ulangan 50 cm dengan kedalaman drainase 30 cm. Terlampir pada Lampiran 3.

Penanaman

Penanaman benih dilakukan pada saat 1 minggu setelah penyiapan lahan.

Benih ditanam secara tugal dengan 2 benih per lubang tanam dengan kedalaman

3 cm. Jarak tanam yang digunakan 40 cm x 20 cm dengan jumlah tanaman per

plot 28 tanaman. Terlampir pada Lampiran 2.

Aplikasi Kompos Sampah Kota

Aplikasi kompos sampah kota dilakukan pada saat 2 MST dengan cara

ditugal dari total taraf perlakuan. Perhitungan kebutuhan pupuk terlampir pada

Lampiran 7.

Aplikasi Pupuk P

Aplikasi pupuk P dilakukan pada saat 2 MST dengan cara ditugal dari total

taraf perlakuan. Perhitungan kebutuhan pupuk terlampir pada Lampiran 7.

Aplikasi Pupuk N dan K

Aplikasi Pupuk N masing - masing dilakukan pada saat 2 MST dengan

cara ditugal dari ½ total dosis dan pupuk susulan dengan cara ditugal pada saat

berumur 30 HST dari ½ total dosis. Aplikasi Pupuk K masing - masing dilakukan

pada saat 2 MST dengan cara ditugal dari total dosis. Perhitungan kebutuhan

pupuk terlampir pada Lampiran 7.

Pemeliharaan Tanaman

Universitas Sumatera Utara

Pemeliharan meliputi penyiraman, penjarangan, penyulaman, pembumbunan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada saat pagi hari dan sore hari. Penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi lahan, jika terjadi hujan maka tidak perlu adanya penyiraman. Penjarangan
Penjarangan dilakukan pada saat tanaman berumur satu minggu dengan menyisakan satu tanaman yang baik. Pemotongan tanaman menggunakan gunting dengan memotong pangkal batang tanaman kedelai. Penyulaman
Penyulaman dilakukan seawal mungkin, yaitu satu minggu setelah tanam untuk mengganti tanaman yang sudah mati. Pembumbunan
Agar tanaman berdiri tegak dan kokoh dilakukan pembumbunan dengan cara meletakkan tanah di sekeliling tanaman yang diambil dari sekitar tanaman sampai tanaman berdiri tegak dan kokoh. Pembumbunan dilakukan sesuai dengan kondisi lapangan. Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan cara manual yakni mencabut gulma yang ada di sekitar tanaman dan menggunakan cangkul kecil.
Universitas Sumatera Utara

Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan gejala
yang terdapat di lapangan. Pengendalian dilakukan secara manual yaitu dengan mengambil hama seperti ulat grayak yang terdapat di bagian tanaman dan secara kimia dengan pestisida berbahan aktif mankozeb sesuai dengan rekomendasi pestisida yang digunakan sesuai dengan gejala yang terdapat di lapangan. Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman sudah menunjukan matang fisiologis yaitu polong bewarna kuning kecoklatan dan berumur sekitar ± 76 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik polong yang sudah masak. Pengamatan Parameter Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 2 minggu sampai 6 minggu. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan penggaris dengan membuat tanda 2 cm dari pangkal batang pada setiap tanaman sampel. Diameter Batang (mm)
Pengukuran diameter batang dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang diberi tanda 2 cm dari pangkal batang agar mempermudah dalam pengambilan data selanjutnya. Pengambilan diameter ini pada saat tanaman berumur 2 minggu sampai 6 minggu.
Universitas Sumatera Utara

Jumlah Buku Per Tanaman (buku) Jumlah buku dihitung pada saat tanaman berumur 3 minggu sampai 6
minggu dengan pengambilan data interval satu minggu pada setiap tanaman sampel. Jumlah Cabang Produksi (cabang)
Jumlah cabang produksi dihitung pada saat panen. Pengukuran cabang produksi dilakukan dengan menghitung cabang yang keluar dari batang utama yang diambil pada saat panen dari setiap tanaman sampel. Jumlah Polong Per Tanaman (polong)
Jumlah polong per tanaman dihitung pada saat panen dari setiap tanaman sampel. Jumlah Polong Berisi Per Tanaman (polong)
Jumlah polong berisi dihitung pada saat panen dengan banyaknya polong berisi yang terdapat pada tanaman sampel. Jumlah Biji Per Tanaman (biji)
Jumlah biji yang dihitung setelah panen dan dikering anginkan selama 1minggu. Caranya polong dibuka dan biji di dalamnya dihitung pada tanaman sampel. Bobot Biji Per Tanaman (g)
Pengamatan dilakukan setelah polong dibuka dan bobot biji per tanaman sampel ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik. Produksi Biji Per Plot (g)
Biji yang dipanen ditimbang keseluruhan sesuai perlakukan dengan menggunakan timbangan analitik.
Universitas Sumatera Utara

Bobot 100 Biji (g) Pengamatan dilakukan setelah tanaman dipanen, bobot 100 biji kering
ditimbang dari setiap perlakuan.
Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Berdasarkan hasil sidik ragam (Lampiran 9 - 50) diketahui bahwa pemberian kompos sampah kota berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang pada umur 2 MST, 4 MST, 5 MST, dan produksi biji per plot. Pemberian pupuk P berpengaruh nyata terhadap jumlah polong berisi per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan produksi biji per plot. Interaksi antara pemberian kompos sampah kota dan pupuk P berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter Tinggi Tanaman (cm)
Berdasarkan hasil sidik ragam (Lampiran 9 - 18), diketahui bahwa pemberian kompos sampah kota dan pemberian pupuk P serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman yang diamati.
Rataan tinggi tanaman kedelai umur 2 - 6 MST pada perlakuan pemberian kompos sampah kota dan pemberian pupuk P dapat dilihat pada tabel 1.
Universitas Sumatera Utara

Tabel 1. Rataan tinggi tanaman (cm) tanaman kedelai pada perlakuan pemberian kompos sampah kota dan pupuk P Pupuk P

Umur

Kompos Sampah Kota

P0
(0 g/tnmn)

P1
(1,5 g/tnmn)

P2 Rataan (3 g/tnmn)

2 MST

K0 (0 g/tanaman) K1 (15 g/tanaman) K2 (30 g/tanaman) K3 (45 g/tanaman) Rataan

9,77 9,68 9,53 9,45 9,61

10,43 9,38 10,28 10,06 10,04

10,60 9,34 9,65 10,02 9,90

10,26 9,47 9,82 9,84

3 MST

K0 (0 g/tanaman) K1 (15 g/tanaman) K2 (30 g/tanama

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3864 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1026 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 924 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 617 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 772 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1320 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1214 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 803 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1084 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1315 23