Ruang Terbuka Hijau Di Jakarta (2)

TUGAS ADMINISTRASI LINGKUNGAN
PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI JAKARTA
Disusun Oleh:
Ferdian Malik– 0906533902
DEPOK
APRIL 2012
ABSTRAK
Kebijakan pemerintah untuk menyediakan RTH bukanlah barang baru dan secara yuridis telah banyak
peraturan yang mengatur masalah tersebut. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1998 tentang Penatan Ruang Terbuka Hijau
di Wilayah Perkotaan misalnya, telah mengatur hal tersebut, namun belum secara eksplisit mengatur
standar minimal bentuk dan ukuran RTH yang wajib disediakan oleh suatu kota. UU No. 26/2007 tentang
Penataan Ruang secara tegas menentukan bahwa proporsi RTH kota minimal 30 % dari luas wilayah.
Sebelum undang-undang tersebut diberlakukan, sebenarnya sudah cukup banyak peraturan perundangan
yang terkait dengan pengaturan RTH, termasuk peraturan daerah (Perda). Di DKI Jakarta trend
penyempitan RTH dapat dilihat dari menurunnya kebijakan penyediaan RTH sebesar 27,6 % pada tahun
1965-1985 menjadi 13,94 % pada tahun 2000-2010. Realisasi pembangunan RTH (sementara) tahun
2002, tercatat 148,35 luas RTH 2002; hingga realisasi RTH (sementara tahun 2002) tercatat 7.394,98 ha,
terdiri atas RTH Lindung (340,80 ha); RTH Budidaya Pertanian (3.656,91 ha) RTH Pertamanan
(2.206,27 ha), RTH Pemakaman (666,48 ha); dan RTH Kehutanan (524,52 ha). Hingga pemenuhan target
RTH (RTRW 2010), selama 8 tahun rata-rata 268,72 ha/tahun.

Kata Kunci: Kebijakan pemerintah, RTH ( ruang terbuka hijau ), trend penyempitan RTH, RTH (RTRW
2010).
Pendahuluan
Fenomena yang terjadi selama tiga puluh tahun terakhir adalah adanya kecenderungan terjadinya
penurunan kualitas ruang terbuka publik secara signifikan, terutama ruang terbuka hijau (RTH). Di kotakota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35 % pada
awal tahun 1970an menjadi kurang dari 10 % pada saat ini. RTH yang ada banyak dikonversi menjadi
infrastruktur perkotaan seperti jaringan jalan, gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan dan kawasan
permukiman baru. Jakarta dengan luas RTH sekitar 9 %, saat ini memiliki rasio RTH per kapita sekitar
7,08 m2, relatif masih lebih rendah dari kota-kota lain di dunia (http://www.penataanruang.net/taru/nspm,
19 Februari 2009).
Definisi RTH sendiri dalam pasal 1 UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang adalah area
memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh
tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Pada pasal 29 disebutkan
bahwa ruang terbuka hijau terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat, dimana
proporsi ruang terbuka hijau kota paling sedikit 30 % dari luas wilayah kota, sedangkan proporsi ruang
terbuka hijau publik paling sedikit 20 % dari luas wilayah kota.
Ditambahkan dalam pasal 30 bahwa distribusi ruang terbuka disesuaikan dengan sebaran penduduk
dan hirarki pelayanan dengan memperhatikan rencana struktur dan pola ruang. Jika kondisi ideal di atas
dapat terwujud, maka banyak manfaat yang dapat kita rasakan yaitu keamanan, kenyamanan,
kesejahteraan dan keindahan wilayah perkotaan. Dalam konteks pencemaran udara, RTH dapat

menyeimbangkan antara penyediaan kebutuhan O2 dengan penyerapan CO2. Kadar CO2 di udara dalam
jumlah yang normal sangat bermanfaat sekali untuk melindungi kehidupan di bumi, namun dalam jumlah
yang berlebihan sangat membahayakan. Kandungan CO2 di udara saat ini dianggap menjadi penyebab
efek rumah kaca (50 %). Sebagai gambaran kadar CO2 sebelum masa pra-industialisasi sebesar 280 ppm,

kemudian meningkat sebesar 345 ppm pada tahun 1984 dan diperkirakan akan mencapai 560 ppm pada
pertengahan abad ini (Kantor Meneg KLH: 1990).
Masalah yang terjadi adalah bahwa penyediaan RTH jika dilihat dengan kaca mata ekonomi tidak
akan mendatangkan keuntungan finansial, kecuali keuntungan ekologi yang bersifat jangka panjang dan
tidak tampak. Hal ini tidak cukup menarik perhatian para ekonom, politisi dan komponen masyarakat
lainnya untuk mengelolanya dengan baik. Oleh karena itu kesadaran akan hal ini lambat atau cepat harus
ditumbuhkan pada kelompok masyarakat tersebut jika katastropi lingkungan yang lebih serius tidak ingin
terjadi dimana-mana.
Daerah khusus Ibukota (DKI) Jakarta, seperti halnya kota-kota besar di negaranegara lain, dalam
pertumbuhannya menghadapi dua fenomena yaitu menurunnya lingkungan fisik kritis perkotaan, dan
masalah sosial seperti urbanisasi, tumbuh berkembangnya permukiman kumuh, lunturnya budaya asli serta
gejala sosial lainnya.
Penduduk DKI Jakarta akhir tahun 2000 ± 11,2 juta jiwa pada siang hari dan ± 9,2 juta jiwa pada
malam hari (Waryono, 2001), dan cenderung semakin meningkat seiring dan sejalan dengan tumbuh
berkembangnya wilayah perkota-an. Kondisi ini nampaknya memacu terhadap luas kawasan kumuh yang

kini tercatat 11.340 ha, atau (17,3% dari luas daratan DKI Jakarta).
Menurunnya daya dukung lingkungan hidup kota Jakarta, seperti laporan hasil penelusuran (Waryono,
2000), cenderung disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut;
(a). Jumlah kendaraan bermotor ± 6,3 juta buah, menyebabkan meningkatnya tingkat polusi udara.
Pencemaran udara selama jangka waktu 3 tahun (1997-2000) seperti Karbon dioksida (Co2) dari
274,3 menjadi 307,0 mg/m2; kadar debu rata-rata dari 279,7 menjadi 461,0 mg/m2 ; Kadar timbal
(Pb) dari rata-rata 261,6 meningkat menjadi 411 mg/m2; demikian halnya dengan kadar kebisingan
dari rata-rata 38,9 dan kini meningkat menjadi 43,6 dB (BPLHD, 2000).
(b). Meningkatnya luas bangunan beton dan aspal ± 18.798,5 ha (28,7% luas daratan DKI Jakarta), hingga
menyebabkan tingginya laju limpasan air hujan. Tingginya tingkat laju erosi (wilayah kikisan) ± 82,3
ton/ha/tahun dan meluasnya wilayah pengendapan, sebagai akibat hasil sedimentasi, yang
memberikan pengaruh bahkan dampak terhadap semakin meluasnya wilayah genangan musiman dan
kawasan kumuh perkotaan ± 19.540 ha, atau 29,8% dari luas daratan DKI Jakarta (PPST, 2000).
(c). Meningkatnya bangunan berdinding kaca ± 4.061 ha (6,2% dari luas daratan DKI Jakarta),
menyebabkan meningkatnya kutub-kutub panas kota; dari suhu udara rata-rata dari 28,3 menjadi
30,70C (BPLHD, 2000).
(d). Terdesaknya luasan kawasan hijau akibat lajunya pembangunan fisik wilayah baik untuk kepentingan
permukiman, maupun pusat-pusat kegiatan kota, hingga menyebabkan tidak berfungsinya kawasan
hijau, dan kawasan tandon air ± 5.765 ha, serta terganggunya habitat dan sangtuari satwa liar (Dinas
Kehutanan DKI Jakarta, 1999).

(e). Lajunya pemanfaatan air tanah dangkal dan penerapan teknologi pancang bangunan tinggi,hingga
menyebabkan terganggunya sirkulasi dan sistem tata air tanah (hidrologis), serta menyusupnya intrusi
air laut yang kini telah mencapai 7.210 ha atau 11% dari luas daratan DKI Jakarta (PPST, 1997).
LANDASAN TEORI
Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka hijau dan
ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka
(open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun
introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan arsitektural yang dapat memberikan
manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi masyarakatnya (Lokakarya RTH, 30 November 2005).
Secara aritmetik kebutuhan luas lahan minimum untuk RTH di perkotaan sebagaimana dinyatakan
dalam Undang-Undang Penataan Ruang (UUPR) Nomor 26 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Pekerjaan

Umum Nomor: 05/Prt/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di
Kawasan Perkotaan sebesar 30 %. Perhitungan proporsi RTH untuk masing-masing jenis ruang terbuka
dapat dilihat pada gambar 1.

Ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang
terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan sebagai
genangan retensi. Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami yang berupa habitat liar alami,
kawasan lindung dan taman-taman nasional, maupun RTH non alami atau binaan seperti taman, lapangan

olahraga dan kebun bunga. Dilihat aspek fungsinya, RTH bisa saja berfungsi ekologis, sosial budaya,
estetika dan ekonomi. Secara struktur ruang, RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok,
memanjang, tersebar) maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. Dari
sisi aspek kepemilikan, RTH terdiri atas RTH publik dan RTH privat. Baik RTH publik maupun privat
mempunyai beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis dan tambahan, yaitu sosial budaya, ekonomi,
serta estetika/ arsitektural. Untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat, sarana olahraga dan
atau area bermain, maka RTH harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang, termasuk
aksesibilitas bagi penyandang cacat.
Fungsi ekologis yang dimiliki komponen memperlihatkan bagaimana peranan komponen RTH
terhadap daya tampung dan daya dukung lingkungan ekologis. Fungsi sosial yang dimiliki memperlihatkan
bagaimana peranan komponen RTH terhadap daya tampung dan daya dukung lingkungan social. RTH
merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan fungsinya. Sebagai patokan, bila pada lahan seluas
1.600 meter persegi, yang terdapat 16 pohon berdiameter tajuk 10 m mampu menyuplai oksigen (O2)
sebesar 14.000 liter per orang. Setiap jam, satu hektar daun-daun hijau dapat menyerap delapan kilogram
CO2 yang setara dengan CO2 yang dihembuskan oleh nafas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang
sama. Jika satu liter O2 hanya dihargai Rp 100, maka sebatang pohon menghemat biaya oksigen sebesar
Rp 1.400.000 per hari, Rp 42 juta per bulan dan Rp 511 juta per tahun per orang (ibid).
Menelaah fungsi RTH di perkotaan khususnya, memperlihatkan bahwa RTH tidak hanya dapat
berfungsi sebagai self purification bagi udara kota, tetapi juga menjadi supplier oksigen bagi makhluk
hidup kota. Disamping itu RTH juga berperan dalam menjaga keseimbangan siklus hidrologi bagi kota

yang bersangkutan. Sebagai perbandingan, satu hektar RTH mampu: menetralisasi 736.000 liter limbah
cair hasil buangan 16.355 penduduk; menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk per
hari; menyimpan 900 m3 air tanah per tahun; mentransfer air 4.000 liter per hari atau setara dengan
pengurangan suhu empat sampai delapan derajat Celsius, setara dengan kemampuan lima unit alat
pendingin udara berkapasitas 2.500 Kcal/20jam; meredam kebisingan 25-80 persen; mengurangi kekuatan
angin sebanyak 75-80 persen.
Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan ditentukan secara komposit
oleh tiga komponen berikut ini, yaitu: kapasitas atau daya dukung alami wilayah; kebutuhan per kapita
(kenyamanan, kesehatan dan bentuk pelayanan lainnya) arah dan tujuan pembangunan kota. RTH berluas

minimum merupakan RTH berfungsi ekologis yang berlokasi, berukuran dan berbentuk pasti, yang
melingkup RTH publik dan RTH privat. Dalam suatu wilayah perkotaan maka RTH publik harus
berukuran sama atau lebih luas dari RTH luas minimal dan RTH privat merupakan RTH pendukung dan
penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota.
Menurut Lancashire Country: kebutuhan taman bagi warga kota dengan rasio ideal adalah 0,43 m2
per orang. Rasio ini dapat juga digunakan dalam menghitung kebutuhan luas lahan yang berfungsi sebagai
RTH. Sedangkan secara aritmetik kebutuhan luas lahan minimum untuk RTH di perkotaan sebagaimana
dinyatakan dalam UUPR Nomor 26 Tahun 2007, sebesar 30 % dari luas kota.
Penetapan luasan RTH Kawasan Perkotaan (RTHKP) ini ternyata juga diatur dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan pada

pasal 9. Disebutkan bahwa:
(1) Luas ideal RTHKP minimal 20 % dari luas kawasan perkotaan.
(2) Luas RTHKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup RTHKP publik dan privat.
(3) Luas RTHKP publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) penyediaannya menjadi tanggungjawab
pemerintah kabupaten/ kota yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing
daerah.
(4) RTHKP privat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) penyediaannya menjadi tanggung jawab pihak/
lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh
Pemerintah Kabupaten/ Kota, kecuali Provinsi DKI Jakarta oleh Pemerintah Provinsi.
Dengan demikian kota-kota yang telah menyiapkan kawasan RTH dengan luasan 20 % pun harus
menyesuaikan diri dengan luasan yang baru (30 %) karena hirarki hukum peraturan yang mengaturnya
lebih tinggi, yakni “undang-undang”. Namun demikian, kalaupun luasan 20 % tersebut dipenuhi, maka
sebenarnya 70 % RTH dengan fungsi-fungsinya sudah terpenuhi.
Terdapat peraturan dan pustaka lain yang mengatur sub komponen RTH, yakni hutan kota. Hutan kota
ini jika ditelaah lebih jauh maka dia lebih mewakili kedudukannya sebagai penjaga ekologi perkotaan.
Secara ekosistem, hutan dan perkebunan mempunyai potensi dan fungsi ekologis menurunkan kadar CO2
atau rosot, sink pada saat melakukan aktivitas fotosintesis. Pohon dan tumbuh-tumbuhan menyerap CO2
dan menghasilkan oksigen (Sabilal Fahri: 2004). Sebenarnya masih banyak pendapat tentang luas ruang
terbuka hijau ideal yang dibutuhkan oleh suatu kota. Bianpoen (1989) menyatakan dari sudut kesehatan
seorang penduduk kota maksimal memerlukan ruang terbuka seluas 15 m2, kebutuhan normal 7 m2 dan

minimal harus tersedia 3 m2. Pendapat lain dari Simond (1961) bahwa ruang terbuka yang dibutuhkan oleh
4.320 orang atau 1.200 keluarga adalah 3 are (30.000 m2). Laurie (1979) menyatakan ruang terbuka yang
dibutuhkan oleh 40.000 orang adalah 1 are. Namun menurut Ecko (1964) penduduk yang berjumlah 100
sampai dengan 300 orang membutuhkan ruang terbuka hijau seluas 1 are.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui World Development Report (1984) menyatakan bahwa
persentase ruang terbuka hijau yang harus ada di kota adalah 50 % dari luas kota atau kalau kondisi sudah
sangat kritis minimal 15 % dari luas kota.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, menyatakan bahwa luas ruang terbuka
hijau yang dibutuhkan untuk satu orang adalah 1,8 m2. Jadi ruang terbuka hijau walaupun hanya sempit
atau dalam bentuk tanaman dalam pot tetap harus ada di sekitar individu. Lain halnya jika ruang terbuka
hijau akan dimanfaatkan secara fungsional, maka luasannya harus benar-benar diperhitungkan secara
proporsional.
Masalah yang paling krusial dari pendekatan-pendekatan di atas adalah bahwa sifat kota adalah
dinamis dimana jumlah penduduk dan kegiatan senantiasa bergerak naik dan untuk negara sedang
berkembang sangat jarang bergerak turun. Hal ini berarti kebutuhan luasan hutan kota juga akan semakin
meningkat. Bukan hal yang tidak mungkin bahwa suatu saat kebutuhan hutan kota akan melebihi luas
admisnistrasi kota itu sendiri.

Pembahasan dan Analisis
Pada saat ini luas RTH publik di Provinsi DKI Jakarta kurang lebih telah mencapai 10% dari luas

DKI Jakarta atau seluas kurang lebih 6.874,06 ha. Selama lima tahun terakhir ini, berbagai upaya telah
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan RTH.
RTH dalam RTRW 2010
Dengan jumlah penduduk 8,9 juta jiwa pada malam hari dan penduduk siang berkisar 10,2 juta
pada siang hari dengan kepadatan 13.000-15.000 jiwa / km 2 serta pertumbuhan penduduk sekitar 1.11%
per tahun, Jakarta membutuhkan RTH yang tidak saja berfungsi estetika dan edukatif tetapi juga sebagai
sarana yang mempunyai fungsi sosial. Penting bagi Jakarta memiliki taman dan hutan kota yang dapat
dijadikan tempat interaksi sosial dan tempat wisata murah bagi warganya, selain berfungsi estetika dan
edukatif.
Bagi Jakarta, fungsi RTH juga sangat penting dilihat dari aspek perlindungannya. Jakarta dilalui
oleh 13 sungai dan terdapat kurang lebih 44 waduk dan situ yang memerlukan perlindungan dari
penyempitan akibat penggunaan tepiannya. Dalam kaitannya dengan ini, RTH dapat berfungsi untuk
melindungi badan-badan air tersebut. Fungsi perlindungan ini juga diperlukan mengingat semakin
berkurangnya cadangan air tanah di DKI Jakarta, dimana RTH dapat berfungsi sebagai kawasan resapan
untuk air tanah tersebut.
Terakhir, dengan semakin tingginya pemanfaatan bahan bakar fosil, RTH dapat berfungsi sebagai
penetralisir pencemaran udara di Jakarta. Pentingnya fungsi RTH untuk paru-paru kota dimaksudkan untuk
mengantisipasi makin tingginya jumlah kendaraan bermotor saat ini yang telah berjumlah 5,7 juta unit
dengan laju pertumbuhan 9.5% per tahun.
Kesadaran akan pentingnya fungsi RTH bagi Kota Jakarta tersebut dijabarkan dalam aturan daerah

mengenai tata ruang yaitu Perda nomor 6 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI
Jakarta atau dikenal dengan RTRW 2010. Dalam perda tersebut, RTH diistilahkan sebagai “kawasan hijau”
yang dibagi ke dalam kawasan hijau lindung dan kawasan hijau binaan dengan prosentase keseluruhan
kedua kawasan tersebut hingga tahun 2010 ditetapkan sebanyak 13.94% dari luas keseluruhan DKI Jakarta
(lihat gambar 1).

Arahan pengembangan kawasan hijau di Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut (Lihat Gambar 2):

-

Hutan Lindung dan Hutan Kota diarahkan pada beberapa pulau di Kepulauan Seribu terutama pada zona
inti dan pelindung, serta Hutan Angke Kapuk, Hutan Kamal Muara, dan Hutan Muara Angke.
Hijau pengaman air diarahkan pada sempadan sungai dan sempadan situ atau danau
Hijau rekreasi/taman kota diarahkan pada beberapa spot di setiap wilayah Kota
Kawasan pertanian diarahkan pada beberapa kawasan yang saat ini masih merupakan kawasan atau areal
pertanian.
Kawasan daerah resapan air diarahkan pada Kawasan Bagian Selatan Kota Jakarta yang dilakukan melalui
pembatasan intensitas pembangunan fisik.

Jika klasifikasi tersebut disesuaikan dengan UU nomor 26/2007, maka terlihat bahwa sebagian besar

arahan RTH di DKI Jakarta adalah RTH private (lihat gambar 1). Bagian terbesar kawasan hijau
sebagaimana tercantum dalam RTRW 2010 adalah pada Bagian Selatan, yang berfungsi sebagai kawasan
resapan air, dimana dalam pemanfaatannya masih dimungkinkan untuk kegiatan lain tetapi dengan
intensitas rendah (KDB bekisar 20%-40%). Hal ini yang sering menimbulkan kesalahpahaman yang
berbutut pada tuduhan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengizinkan pembangunan pada
kawasan RTH. Pembahasan mengenai hal ini akan diuraikan lebih dalam pada bagian selanjutnya dari
tulisan ini.
Pada RTRW 2010 tersebut juga telah mencantumkan bahwa kawasan hijau lindung dan kawasan
hijau binaan tidak dapat dirubah fungsi dan peruntukannya terutama untuk Penyempurna Hijau Umum
(dalam terminologi UU nomor 26/2007 adalah RTH publik). Dengan demikian, walaupun secara
prosentase target RTH pada RTRW 2010 lebih rendah dari target RTH sebagaimana tercantum dalam UU
nomor 26 tahun 2007, tetapi dapat dikatakan bahwa telah ada komitmen untuk menjaga ketersedian RTH
di Provinsi DKI Jakarta.
Pada saat ini RTRW 2010 sedang dalam proses evaluasi secara komprehensif dan diharapkan pada
tahun 2010 nanti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan Perda baru mengenai RTRW 20102030 yang antara lain akan mengadopsi aturan-aturan baru sebagai mana tercantum dalam Undang-undang
Nomor 26/2007. Akan tetapi sambil menunggu RTRW baru tersebut, RTRW 2010 masih digunakan
sebagai acuan sementara, walaupun dalam pelaksanaannya di lapangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
sudah dan akan mencoba mengacu pada Undang-undang Penataan Ruang yang baru.

Evaluasi Pembangunan Kawasan Hijau
A. RTH Eksis Tahun 2002
RTH DKI Jakarta tercatat 9.544,79 ha, realisasi tahun 2000 tercatat 7.246,63 ha, terdiri atas RTH Lindung
(340,80 ha). RTH Budidaya Pertanian (3.656,91 ha); RTH Pertamanan (2.193,62 ha), RTH Pemakaman
(666,48 ha), dan RTH Kehutanan (388,82 ha). Kekurangan target atas dasar realisasi tahun 2000 tercatat
2.298,16 ha. Realisasi pembangunan RTH (sementara) tahun 2002, tercatat 148,35 ha, luas RTH 2002
hingga realisasi RTH (sementara tahun 2002) tercatat 7.394,98 ha, terdiri atas RTH Lindung (340,80 ha),
RTH Budidaya Pertanian (3.656,91 ha), RTH Pertamanan (2.206,27 ha), RTH Pemakaman (666,48 ha);
dan RTH Kehutanan (524,52 ha). Mencermati hasil perhitungan realisasi pembangunan kawasan hijau
hingga tahun 2002; maka target RTH (RTRW 2010) seluas 9.544,79 - 7.394,98 = 2149,81 ha. Hingga
kebutuhan areal selama 8 tahun rata-rata 268,72 ha/tahun.

Evaluasi Pembangunan Kawasan Hijau (RTH)
Evaluasi terhadap hasil-hasil pembangunan kawasan hijau di DKI Jakarta, secara rinci dapat dirangkum
sebagai berikut;
1. Kualitas jenis masih terbatas, hingga bentuk-bentuk RTH yang dibangun sulit dibedakan.
2. Kualitas bentuk kawasan hijau (Taman, Hutan kota dan hijau penyangga), masih belum memperlihatkan
kriteria yang jelas atas makna masing-masing RTH terbangun.
3. Belum terciptanya koridor hijau yang mampu menghubungkan antar pulau-pulau habitat hijau, sebagai
wahana wilayah jelajah satwa liar.
4. Belum tersosialisakannya pagar hidup sebagai pengaman kawasan hijau terbangun.
5. Pepohonan yang dibudidayakan tidak memenuhi persyaratan teknikultur (silvikultur), karena
keterbatasan sistem perakarannya.
6. Pengembangan jenis pepohonan tidak didasarkan atas kesesuaian lahan dan jenis; dan kecenderungan
untuk mengembangkan jenis-jenis introduksi.
7. Masih rendahnya sistem pemeliharaan yang praktis dan efisien. Mencermati hasil evaluasi terhadap
hasil-hasil pembangunan kawasan hijau;
Alokasi Pembangunan Kawasan Hijau
Berdasarkan hasil perhitungan alokasi pembangunan kawasan hijau selama 8 tahun (2003 s/d 2010),
kawasan dan pembangunan RTH yang harus dipenuhi seluas 2.149,98 ha, atau rata-rata (dibulatkan)
268,73 ha/tahun, dengan alokasi sebagai berikut:
1. RTH Kehutanan 65% (1.397,377 ha), atau rata-rata 174,67 ha/tahun yang dimplementasikan di bantaran
sungai, penyangga situ-situ, dan habitat mangrove.
2. RTH Pertamanan 15% (322,47 ha), atau rata-rata 40,31 ha pembangunan taman termasuk penyediaan
lahannya, dan dialokasikan pada jalur hijau jalan, tegangan tinggi dan jalur rel kereta api.
3. Sisanya 20% (429,96 ha), atau rata-rata 53,75 ha dialokasikan sebagai pengembangan RTH Fasos
Fasum dan hijauan privat. Dalam implementasinya dibebankan kepada (a) kawasan industri, dan (b)
pengembangan perumahan; dan minimal menyediakan areal seluas 1% dari luas kawasannya secara utuh
(satu lokasi), sebagai wahana pembangunan kawasan hijau dan atau kawasan tandon air.

-

Dari pengalaman peyedian dan pemanfaatan RTH sampai saat ini terdapat berbagai permasalahan
dan kendala yang dihadapi. Permasalahan dan kendala tersebut antara lain adalah:
Masih adanya peruntukan RTH yang dimanfaatkan untuk kegiatan non RTH secara illegal
Ketersediaan lahan yang semakin menipis ditambah peningkatan aktivitas ekonomi Jakarta menyebabkan
harga tanah semakin tinggi dan diatas NJOP.

-

Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap keberadaan taman, jalur-jalur hijau dan tanaman – tanaman
penghijauan yang ada; misalnya dalam Pengembangan Taman Monas dan Taman Stadion Menteng;
Terbatasnya Sumber Daya Pemerintah dan masih belum terselesaikannya permasalahan transportasi dan
banjir di Jakarta yang membutuhkan anggaran biaya yang sangat besar
Belum optimalnya sistem pendataan dan informasi mengenai RTH
Kurangnya koordinasi antar instansi terkait dalam penataan RTH
Masih terdapatnya mis-persepsi dan mis-informasi mengenai RTH yang mengakibatkan partisipasi
masyarakat tidak optimal
Kurang efektifnya penegakan hukum.
Rendahnya pengendalian kewajiban penyediaan fasos fasum untuk RTH
Distribusi RTH yang kurang merata di Wilayah Provinsi DKI Jakarta.
Khusus mengenai adanya RTH yang dimanfaatkan untuk kegiatan non RTH secara illegal, dapat
disampaikan bahwa anggapan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pembedaan perlakukan
terhadap pengusaha besar dan masyarakat kecil yang menempati RTH adalah tidak berdasar dan
merupakan kesalahpahaman. Walaupun masih diperlukan upaya penyempurnaan, akan tetapi kebijakan
yang ada adalah tegas yaitu tidak mengijinkan perorangan ataupun kelompok untuk memanfaatkan
peruntukan kawasan hijau lindung dan hijau binaan untuk kegiatan lain ataupun mengalihfungsikan RTH,
baik untuk kegiatan komersial seperti perumahan mewah, apartement, mall, SPBU, ataupun kegiatan
informal dan ilegal lainnya.
Untuk beberapa kasus yang dituduhkan dapat disampaikan bahwa pembangunan pada “kawasan
yang sepertinya adalah merupakan kawasan RTH” pada dasarnya adalah bukan merupakan kawasan RTH
sepenuhnya, tetapi merupakan kawasan yang didominasi oleh RTH tetapi masih diberbolehkan dengan
intensitas ruang yang kecil digunakan untuk kegiatan non RTH, seperti yang terjadi di Kawasan Senayan.
Kawasan Senayan merupakan kawasan dengan intensitas ruang yang rendah, sehingga jika intensitas
tersebut belum terlampaui masih dimungkinkan untuk pembangunan.
Untuk peruntukan RTH yang telah terlanjur beralih fungsi ataupun untuk sementara digunakan
untuk kegiatan lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan upaya refungsionalisasi taman dengan
memprioritaskan pembebasan dan pengembalian fungsi peruntukannya dari non RTH menjadi RTH. Salah
satu bentuk program ini adalah melakukan refungsi SPBU yang beroperasi di jalur hijau/ruang terbuka
hijau. Target untuk refungsi SBPU ini sebanyak 32 SPBU, dimana 4 SPBU telah direfungsikan sedangkan
sisanya sedang dalam proses refungsionalisasi. Sementara itu, RTH yang digunakan untuk permukiman
illegal, seperti disepanjang tepian air, jalur kereta api, dan kolong tol, pada saat ini terdapat kurang lebih
73.673 keluarga yang menempati kawasan tersebut. Upaya menguranginya antara lain dengan melakukan
relokasi ke rumah susun sewa sederhana yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bagi
penduduk ber-KTP DKI dan memulangkan ke kampung halamannya bagi yang bukan penduduk DKI
Jakarta.
Untuk pedagang kaki lima yang menempati RTH maupun ruang terbuka non RTH di Provinsi DKI
Jakarta jumlahnya cenderung menurun dimana pada tahun 2005 terdapat sebanyak kurang lebih 92.750
usaha kaki lima dengan tenaga kerja kurang lebih sebanyak 139.390 jiwa. Pedagang kaki lima yang
menempati lokasi tidak resmi (illegal) telah berkurang dari 83.8% menjadi 78.4% dalam lima tahun ini.
Pengurangan ini juga tampak dari berkurangnya usaha kaki lima yang menempati trotoar dan badan jalan
yang berkurang dari 66.85% menjadi 59.7 % dalam lima tahun ini.
Kebijakan yang berat sebelah dan mendukung pemodal kuat, pada kenyataannya juga berpotensi
merusak lingkungan. Termasuk keberadaan pemukiman mewah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jakarta,
yang sepertinya luput dari penegakan hukum. Setidaknya terdapat 44 bangunan berupa hotel, wisma, villa,
perumahan mewah, pusat perbelanjaan, lapangan golf berdiri di area terbuka hijau Jakarta,” Data itu
sendiri di dapat dalam penghitungan Walhi selama 20 tahun ini (1988-2008). Dimana terdapat nama-nama
seperti Senayan City, Ratu Plaza, Sudirman Place, Depdiknas, Wisma Fajar, Hotel Mulia, Hotel Sultan,
Simprug Golf. Pantai indah kapuk (PIK), serta Senayan Residen Apartement yang merupakan pemukiman
mewah yang dibuat diatas lahan hijau. Dari hitungan ini juga berarti telah terjadi penyimpangan sampai 70

persen, dari Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta tahun 2010, yang ditetapkan dalam Perda no. 6
tahun 1999 lalu. Saat ini luas RTH di DKI hanya 9,6 persen dari target 13,94 persen. Padahal dengan
wilayah Jakarta yang mencapai 66.152 hektare, nilai impian RTH setinggi 13,94 persen tersebut adalah
harga minimal bila ingin dikategorikankota sehat.
Pantai Indah Kapuk merupakan salah satu permukiman mewah yang terletak di Jakarta. Pada
awalnya area ini merupakan rawa yang terletak di bagian utara Jakarta yang berfungsi sebagai daerah
peresapan air. Bahkan di dalam area ini terdapat hutan konservasi yang seharusnya dilindungi, Margasatwa
Muara Angke tempat kawasan hutan mangrove. Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan bagian dari
hutan Angke Kapuk yang total luasnya 1.154,88 hektar. Sebagian besar hutan Angke Kapuk sudah dikuasai
PT Mandara Permai, pengembang yang membangun kawasan permukiman Pantai Indah Kapuk.
Dari 1.154,88 hektar hutan yang ada di kawasan hutan Angke Kapuk, 827,18 hektar di antaranya
diambil alih untuk permukiman, lapangan golf, tempat rekreasi dan olahraga, bangunan umum, olahraga
air, cottage, hotel, dan kondominium. Menurut data Dinas Kehutanan Provinsi DKI, luas kawasan hutan
yang dipertahankan tinggal 327,7 hektar, terdiri atas hutan lindung (44,76 hektar), hutan wisata (99,82
hektar), suaka margasatwa (25,02 hektar), kebun pembibitan (10,5 hektar), transmisi PLN (23,70 hektar),
Cengkareng Drain (28,39 hektar), serta untuk keperluan jalan tol dan jalur hijau (95,50 hektar). Sebelum
dikembangkan kawasan permukiman, Suaka Margasatwa Muara Angke juga tempat atau habitat satwasatwa liar. Beberapa jenis satwa liar seperti burung kareo padi (Amaurrornis phoenicurus), kuntul (Egretta
spp), pecuk (Phalacrocorax spp), belibis (Dendrocygna spp), dan raja udang (Todirhampus spp). Di
kawasan ini juga terdapat jenis burung endemik Pulau Jawa, yaitu bubut jawa (Centropus nigrorufus).
Selain dilindungi undang-undang, burung ini juga dilindungi oleh aturan internasional karena termasuk
dalam kategori rentan. Banyak peneliti dari luar negeri datang ke kawasan Suaka Margasatwa Muara
Angke untuk meneliti jenis burung tersebut. Selain itu juga banyak terdapat satwa lain seperti biawak
(Varanus salvator) dan berbagai jenis ular seperti sanca (Python reticulatus) dan kobra (Naja sputatrix). Di
tempat itu juga ada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang saat ini jumlahnya lebih kurang 60
ekor, serta berang-berang (Aonix cinnerea).
Dalam pembangunan kawasan rumah elite PIK, Gubernur DKI setuju saja karena peningkatan nilai
ekonomi kawasan itu lebih menggiurkan. Dalam bentuk rawa-rawa dan tambak nelayan, saat itu Ipeda
(Iuran Pembangunan Daerah) yang bisa ditarik hanya Rp 2.000/ha/tahun. Begitu menjadi perumahan, DKI
bisa mendapat Rp 2.000.000/ha/tahun. Kalau kawasan yang berubah fungsi 831,63 ha, maka dana yang
dihimpun mendekati Rp 2 miliar setiap tahun. Tidak heran bila Gubernur segera mengeluarkan keputusan
tanggal 15 Agustus 1984. Isinya menetapkan areal pengembangan hutan Angke-Kapuk. Gubernur merasa
tidak melanggar RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dan RBWK (Rencana Bagian Wilayah Kota).
Padahal, dalam master plan itu, jelas disebutkan kawasan itu hanyalah untuk hutan lindung dan hutan
wisata, sekaligus mencegah banjir di bandara Soekarno-Hatta. Dengan pertimbangan tersebut, proyek
pengembangan Pantai Indah Kapuk dianggap dapat meningkatkan pendapatan daerah propinsi DKI
Jakarta. Sehingga pemprov DKI Jakarta merasa sah-sah saja menyetujui proyek tersebut.
ANALISIS DAN KESIMPULAN
Ruang terbuka hijau merupakan hal yang sangat krusial bagi kelangsungan kelestarian alam kita.
Di perkotaan ruang terbuka hijau membantu peningkatan kualitas udara bersih di perkotaan yang terkenal
udara yang kurang baik bahkan jelek dikarenakan banyaknya kendaraan bermotor di perkotaan yang
membuang emisi gas yang merusak lingkungan. Khususnya seperti di paparkan di atas, daerah ibu kota
Jakarta merupakan salah satu kota dengan polusi udara terparah di Indonesia. Hal ini dengan di perparah
kondisi ruang terbuka hijau di Jakarta yang sangat minim. Pada peraturan yang berlaku kawasan terbuka
hijau di perkotaan adalah 30% dari seluruh luas kota, tetapi di Jakarta kurang dari 10% ruang terbuka
hijau. Agenda ruang terbuka hijau sebesar 13% pun sampai saat ini hanya isapan jempol belaka atau hanya
sekedar agenda saja. Trend penyempitan ruang terbuka hijau tentu saja lagi-lagi masalah uang. Pendapatan
daerah menjadi alih-alih untuk mengesampingkan lahan hijau untuk di jadikan lahan komersil. Memang
ruang terbuka hijau tidak mendatangkan keuntungan dalam bentuk uang atau dana segar seperti lahan
komersil tetapi ruang terbuka hijau merupakan surplus pada kesehatan masyarakat pada khususnya dan
mengurangi kadar polusi gas carbon yang di buang kendaraan bermotor yang membuat efek rumah kaca

pada umumnya. Mau di bilang lingkungan penting tetapi tetap saja uang berbicara lebih. Hal ini terlihat
pada pembangunan perumahan elite di kawsan pantai indah kapuk (PIK), kawasan pantai indah kapuk
yang merupakan kawasan yang dilindungi karena merupakan kawasan mangrove besar yang menjadi
habitat banyak flora dan fauna serta berfungsi sebagai daerah resapan dan pencegah abrasi laut. Dilihat
dari sisi topografinya Pantai Indah Kapuk berada satu meter dibawah permukaan laut hal ini
mengakibatkan apabila laut pasang maka yang akan terjadi adalah daerah ini akan tergenang bahkan
terendam air laut. Ditambah lagi air yang ada tidak dapat digunakan untuk minum. Masalah banjir yang
kini menjadi ancaman di ibukota turut menuai berbagai pernyataan dan pertanyaan tentang pembangunan
proyek Pantai Indah Kapuk yang telah mengkonversi fungsi lahan yang tadinya sebagai tempat
berkoloninya air menjadi tempat berkoloninya rumah-rumah mewah dengan berbagai fasilitas yang ada.
Pihak pengembang menolak tudingan bahwa dengan dibangunnya kawasan Pantai Indah Kapuklah yang
membuat Ibukota terutama wilayah Jakarta Utara dilanda Banjir. Pihak lain menyebutkan bahwa dengan
adanya pembangunan di wilayah yang merupakan tempat resapan air menyebabkan Jakarta tidak
mempunyai penyangga dari air laut. Vegetasi pesisir yang merupakan pelindung kini telah berubah fungsi
menjadi gedung-gedung pencakar langit. Selain dampak pada manusia maka yang justru mengalami
kerusakan akibat pembangunan pemukiman ini adalah ekosistem lingkungan yang mengalami
ketimpangan. Contohnya kini akibat pantai-pantai dan fungsi hutan bakau dan mangrove yang telah
berganti fungsi maka akibatnya ratusan burung migran dan burung air yang mendatangi wilayah pantai
kini musnah akibatnya mata rantai kehidupan air dan lingkunagan hidup terputus dan mengalami
ketidakseimbangan.
Oleh karena itu ruang terbuka hijau sangat penting adanya bukan hanya sebagai penyeimbang
udara bersih melainkan tempat resapan air dan juga habitat flora dan fauna. Jikalau ruang terbuka hijau ini
sangat minim bahkan di rusak dan di rubah menjadi kawasan komersil dan perumahan elite dengan segala
fasilitas-fasilitas umum yang begitu mewah tetapi merusak lingkungan, apakah tetap dapat di banggakan?.
Hal ini balik lagi pada kepedulian dan keinginan pemerintah daerah DKI Jakarta dalam menyediakan dan
menjaga ruang terbuka hijau yang sudah ada demi kelangsungan kebaikan alam. Memang manfaat tidak
dapat dirasakan langsung tetapi di masa akan datang baru terasa, tapi kerugian dari minim serta di
rubahnya ruang terbuka hijau dapat di rasakan langsung seperti banjir dan punahnya flora dan fauna. Di
bawah ini penulis mendapatkan sedikit masukan bagi pemerintah daerah DKI Jakarta dalam membangung
ruang terbuka hijau.
Aspek Pemberdayaan Kemitraan DalamPembangunan Kawasan Hijau
Mencermati atas kepedulian Pemda DKI Jakarta terhadap perlunya pembangunan hutan kota, lebih
cenderung disebabkan oleh dua faktor, yaitu semakin meningkatnya lingkungan fisik kritis, dan kebutuhan
masyarakat akan kenyamanan lingkungan. Pemahaman tersebut, dalam kaitannya dengan upaya
pengendalian terhadap lingkungan fisik kritis, mengundang pengertian keikutsertaan: (a) masyarakat yang
menginginkan kenyamanan lingkungan, dan (b) keperdulian semua pihak terkait, dengan faktor penyebab
terjadinya lingkungan fisik kritis, serta pengelolan yang berwewenang menanganinya. Pengertian semua
pihak terkait, dalam mewujudkan pembangunan kawasan hijau kota, pada hakekatnya merupakan unsur
institusi dan atau lembaga baik dari unsur pemerintah, swasta maupun perorangan sebagai pemrakarsa
“stake holder” untuk berperan aktif dan berkiprah dalam mengendalikan dan mengatasi fenomena
permasalahan lingkungan fisik kritis perkotaan. Sumber lingkungan fisik kritis terbesar adalah kendaraan
bermotor yang berarti terkait langsung dengan pemberdaya bahan bakar gas (BBG), produksen kendaraan
bermotor, dan pengguna (pemilik). Demikian halnya dengan faktor penyebab lainnya seperti industri,
pemilik gedung berdinding kaca serta masyarakat perkotaan itu sendiri. Keterpaduan bagi semua pihak
dalam hal memahami, perduli dan perlunya penanganan lingkungan, nampaknya merupakan langkah awal
terciptanya kenyamanan lingkungan di wilayah DKI Jakarta. Aspek strategis pembangunan kawasan hijau
dan peranannya dalam RTH DKI Jakarta, secara konseptual memberikan pengertian atas aspek konservasi
dan rehabilitasi lahan. Konservasi memberikan pengertian atas upaya penyelamatan, pelestarian, dan
pemanfaatan optimal secara terkendali dan berkelanjutan, atas dasar peranan fungsi kawasan hijau
perkotaan. Rehabilitasi lahan, merupakan upaya penanganan untuk tujuan pemulihan, melalui peningkatan
dan atau perbaikan mutu peranan fungsi kawasan hijau, agar terciptanya keseimbangan yang berarti dalam
mengatasi fenomena lingkungan fisik kritis. Membangun kawasan hijau, memberi pengertian
mendayagunakan sumberdaya lahan (tapak) menjadi lebih potensial dan produktif, bahkan bermanfaat
sesuai dengan peranan fungsinya, berdasarkan kaidah-kaidah konservasi. Pengembangan jenis sesuai

dengan kesesuaian tapaknya, merupakan cara-cara yang harus ditempuh, karena keberhasilan
pembangunan kawasan hijau kota di DKI Jakarta sangat ditentukan oleh strategi dan aplikasi
penyelenggaraannya, termasuk pemrakarsa (stake holder).
nampaknya hal-hal yang perlu diperhatikan mencakup.
1. Penetapan kriteria baku jenis tanaman yang dikembangkan pada masing-masing wahana RTH (Taman,
Hutan kota, hijau penyangga).
2. Pemantapan kriteria desain bentuk masing-masing bentuk RTH.
3. Pengembangan teknik budidaya penyiapan bahan tanaman (bibit) berkualitas berdasarkan kesesuaian
tapak kawasan RTH.
4. Kriteria desain penunjang pemeliharaan (sarana air), dan pengaman taman (pagar hidup),
5. Efektifitas evaluasi dan monitoring hasil-hasil pembangunan kawasan hijau.

DAFTAR PUSTAKA
URGENSI PEMULIHAN TARGET RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DALAM RTRW 2010 DKI
JAKARTA *)
Oleh: Tarsoen Waryono **)
PERMASALAHAN KONVERSI LAHAN DI PANTAI INDAH KAPUK, DEPARTEMEN EKONOMI
SUMBER DAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN 2007, ITB
EVALUASI PEMBANGUNAN WILAYAH PENGEMBANGAN SELATAN DKI JAKARTA SEBAGAI
KAWASAN RESAPAN AIR
Oleh : Sutopo Purwo Nugroho*)
PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) MENURUT UU NO. 26/2007 TENTANG
PENATAAN RUANG DAN FENOMENA KEBIJAKAN PENYEDIAAN RTH DI DAERAH
Oleh : Aris Prihandono
Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Makassar
POLA PENATAAN ZONA, MASSA, DAN RUANG TERBUKAPADA PERUMAHAN WATERFRONT
(Studi Kasus : Perumahan Pantai Indah Kapuk)
Hendra Rahman
Alumni Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan
www.kompas.com
http://metro.vivanews.com/news/read/250331-jakarta-dan-problematika-kota-hijau
www.jakarta.go.id
IMPLIKASI UU NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG TERHADAP
PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DAN RUANG TERBUKA NON HIJAU DI PROVINSI
DKI JAKARTA
Oleh: Ir. Sarwo Handayani, M.Si (Kepala Dinas Pertamanan Provinsi DKI Jakarta)